Jumat, 17 September 2021

Cerpen Ade Mulyono | Rimba

 Cerpen Ade Mulyono



 
***


Hujan deras seharian mengakibatkan longsor dan beberapa pohon tumbang. Rimba terlihat panik bersembunyi di ketiak ibunya. Sementara ibunya juga tak kalah paniknya. Seumur hidupnya baru kali ini ia melihat kemarahan alam yang begitu ngeri. Mengingat sebelumnya tidak pernah terjadi. Ia kembali mengingat waktu itu, hutan tempat mereka tinggal begitu indah, lebat, asri, dan bersahabat. Namun, sejak mesin-mesin dari kota datang untuk menghancurkan hutan, semuanya berubah seketika.



Dalam ketakutan, sesekali Rimba menyesap dada ibunya yang kering, sambil berharap menemukan sesuatu untuk dapat menenangkan perutnya yang terus memberontak sejak kemarin.


“Ibu, aku lapar,” ujar Rimba lirih, hampir tak terdengar.


“Rimba, anak Ibu sayang, jika hujan sudah berhenti nanti kita teruskan berjalan ke Selatan. Setelah semua yang kita punya telah dirampas, sekarang hanya harapan dan doa yang tersisa. Mudah-mudahan masih ada makanan di sana untuk kita.”


“Tapi aku lapar sekali, sudah dua hari Rimba belum makan,” protes Rimba tidak puas mendengar jawaban ibunya.


“Ya, Ibu juga lapar dan sangat lelah. Tapi Tuhan Maha Pemurah. Tidak seperti hamba-Nya yang maha pemarah. Pasti ada makanan untuk kita.”


“Bu, kenapa monster itu jahat sama kita? Membunuh Ayah dan membunuh teman-teman Rimba.”


Cukup lama Ibu Rimba terdiam mendengar pertanyaan anaknya yang polos itu. Terlihat kesedihan mengembang di roman mukanya. Kembali ia harus memamah kepedihan tak terperi. Kini matanya merah bagai nyala api. Barang kali anaknya tidak mengetahui, bahwa bentuk kehidupan begitu ngeri: ganas dan kejam.


“Ceritakan kenapa monster itu jahat sama kita, Bu,” lagi-lagi Rimba memprotes ibunya yang hanya membisu. Sementara di langit suara petir masih sahut-menyahut.


“Baiklah sayang."


Ibu Rimba menuruti permintaan anaknya. Mungkin dengan cara itu, anaknya bisa lupa dengan urusan perutnya.


Sebelum memulai bercerita, Ibu Rimba melepaskan napasnya yang berat. Karena baginya, kata-kata bagai duri yang menyangkut di tenggorokan.


“Monster itu bernama manusia. Mereka serakah dan jahat karena urusan perut. Mereka kelaparan sama seperti kita, Nak. Lapar membuat mereka menjadi beringas. Segalanya akan dilakukan demi hasratnya itu. Menebang pohon dan membakar hutan untuk membuka lahan ialah salah satunya. Semua itu dilakukan untuk mengenyangkan perutnya sendiri. Makhluk lain tidak boleh memakannya. Akibatnya kita diburu, dibunuh, dan diusir seperti keadaan kita sekarang ini. Makanan manusia adalah bumi dan air minumnya adalah laut.”


“Oh, jadi monster itu bernama manusia. Apakah itu sebabnya Ayah dibunuh?”


Ibu Rimba terdiam.


“Perut mereka kecil, kenapa makannya banyak sekali, Bu?”


“Itulah watak manusia. Mereka serakah, rakus, dan tak pernah puas. Jika langit bisa mereka sentuh, tentu mereka akan saling berebut untuk menguasainya. Semua yang menghalanginya akan dibunuh. Mereka tidak segan untuk saling membunuh.”


“Rimba takut sama monster manusia, Bu.”


“Jangan takut sayang, kan ada Ibu.”


“Nanti kalau monster manusia melihat kita, apakah kita akan dibunuh?” 


Mendengar kecemasan anaknya itu, Ibu Rimba hanya mematung. Yang terdengar hanya guntur petir. Dalam pikirannya timbul berbagai tanya: apakah hendak melanjutkan perjalanan menuju kampung di area kebun sawit atau membatalkannya? Pertanyaan anaknya menghantam nyalinya. Ibu Rimba tahu risiko yang harus ditanggung jika ditangkap oleh manusia: dicincang.


Kembali Ibu Rimba teringat kebengisan manusia. Mula-mula manusia datang dengan bara api: membakar hutan. Barulah mesin-mesin besar datang menghancurkan keindahan surga kecil yang ada di bumi itu. Tidak itu saja kekejian manusia; mereka yang kuat akan menginjak yang lemah, yang pintar memanipulasi yang bodoh, mengadu domba satu sama lain. Kerakusan lainnya dari manusia yakni gemar memburu binatang: macan, buaya, gajah, burung dan semuanya jika perlu. Dengan matanya ia melihat sendiri bagaimana manusia membunuh kawanannya dengan biadab.


Namun, Ibu Rimba tak sampai hati melihat anaknya mati dalam pelukan setelah berhari-hari tak ada sesuatu yang dapat dimakan. Para monster telah merusak tempat tinggalnya dan menghancurkan segalanya. Tidak ada yang tersisa kecuali gelak tawa para monster dan raut kesedihan bagi mereka yang terusir. Mengertilah ia kini, bahwa iblis telah memenangkan pertempuran melawan malaikat di hati manusia.


Malaikat tidak berdaya menghadapi konglomerasi perusahaan raksasa K yang membumihanguskan hutan—rimba tempat tinggalnya. Sampai di sini, bukan hanya Ibu Rimba yang menangis, melainkan juga mereka sesama manusia, tetapi bernasib sial: miskin dan lemah. Kelembutan dan kebersihan hati penghuni rimba diringkus siasat busuk monster dari kota. Modernitas telah mengajari bagaimana seharusnya menjadi manusia bahagia yang tolak ukurnya ialah materiil: kekayaan dan kekuasaan.


Hari mulai gelap. Malam mengundang sepi. Dengan sigap Ibu Rimba memetik daun dan menyodorkan ke mulut anaknya. Hanya air tawar dari langit yang mereka peroleh untuk memenuhi perutnya dalam beberapa hari ini. Setelah memantapkan niatnya dengan satu gerakan cepat ibunya langsung menggendong anaknya dan bergegas menyusuri jalan becek sambil sesekali mengendap dan meloncat dari satu pohon ke batang pohon lainnya.


Setelah sepanjang malam berjalan tanpa henti melawan arus dingin, gelap, dan serangan rasa lapar, akhirnya mereka telah tiba di perkampungan kebun sawit. Tidak mudah sampai di tempat itu, mengingat mereka harus menempuh perjalanan puluhan kilometer jauhnya.


Napas Ibu Rimba masih naik-turun saat membangunkan anaknya yang terlelap. Rasa lelah dan lapar telah menyerangnya sehingga rasanya tak kuat lagi untuk melangkah. Namun, rasa lapar dan lelah hilang seketika saat melihat wajah anaknya yang manis—dari matanya melahirkan mentari yang hangat.


“Rimba, bangun, kita sudah sampai. Lihat ada makanan kesukaanmu.”


Mula-mula Rimba mengucek matanya karena sengatan cahaya mentari pagi yang terbit di Timur Papua. Setelah itu betapa girangnya Rimba saat melihat pisang di depan keningnya.


“Ibu, Rimba mau si kuning,” pintanya merengek.


“Tunggu di sini, Ibu akan memetiknya.”


“Hati-hati, Bu.”


Setelah mengumpulkan tenaga, Ibu Rimba meloncat untuk memetik pisang. Rimba tersenyum puas melihat ibunya berhasil menggondolnya. 


"Cepat Ibu, Rimba sangat lapar,” Rimba tersenyum lebar.


Mendengar seruan anaknya, Ibu Rimba hanya tersenyum melihat kegembiraan di wajahnya. Tiba-tiba sesuatu telah terjadi dengan cepat. Dari arah belakang terdengar bunyi letupan senapan. 


Dor! Dor! Dor!


Beberapa monster melepaskan peluru. Mereka sudah menduga akan kedatangan makhluk yang paling mereka cari. Nahas, satu di antara peluru yang dilepaskan berhasil mengenai punggung Ibu Rimba. Seketika itu juga ia tersungkur ke tanah. Dengan sisa tenaga, ia berusaha meloncat untuk melarikan diri. Tepat di langkah ke lima, bongkahan batu besar menghantam kepalanya. Darah pun mengalir di bawah telapak kaki tiga monster yang sudah berdiri di hadapannya.


“Bunuh saja. Sini biar sekali lagi kutembak kepalanya,” hardik salah satu di antara mereka setelah berhasil mengikat tangan Ibu Rimba.


“Ini biang kerok yang suka merusak tanaman kita,” sahutnya yang lainnya.


Melihat ibunya tertangkap dan terluka parah, Rimba menangis dan berlari kemudian memeluknya erat. Tangis pun pecah. 


“Ibu, Rimba takut...! Ibu, Rimba takut...!”


Ibu Rimba tak menjawab. Yang bisa dilakukannya hanyalah memeluk anaknya dengan kakinya. 


“Ibu, Rimba takut,” ujarnya lagi.


“Oh, ini anaknya.”


“Kita jual saja.”


“Jangan, kita bakar sambil minum arak nanti malam. Ah, pasti mantap.”


Begitulah para monster bersilang pendapat sebelum satu di antara mereka langsung menarik lengan Ibu Rimba, sedangkan yang lainnya menggondol Rimba yang meronta. Ibu Rimba masih berusaha sekuat tenaga menolak para monster memisahkan dirinya dengan anaknya.


“Ibu, Rimba takut...!” 


Hanya itu yang terus menerus diteriakkan Rimba. Setelah Rimba terlepas dari peluknya, barulah ibunya diseret sepanjang jalan.


***


Sudah dua jam Rimba dan ibunya menjadi tontonan. Rimba dikerangkeng, sementara ibunya digantung. Tidak cukup sampai di situ, berulang kali pukulan mendarat di tubuhnya. Darah mengucur dari hidung dan telinganya. Tapi tidak ada tanda-tanda kematian akan segera tiba. Napasnya kembang kempis: naik-turun.


Entah karena kesal atau karena sudah tak ada belas kasihan di hatinya, salah satu dari monster itu melemparkan Ibu Rimba ke kubangan air yang cukup dalam. Berulang kali Ibu Rimba ditenggelamkan. Tak ada ronta, tangis, atau kata, kecuali tangisan Rimba yang terdengar di telinga ibunya.


Setelah puas, monster itu melemparkan Ibu Rimba ke tanah. Dalam kerangkeng Rimba terus menerus meronta sebelum akhirnya dilepas untuk terakhir kali memeluk ibunya. Dengan cepat Rimba meraih tubuh ibunya yang lemah. Sambil menangis, Rimba berusaha melepaskan tali yang mengikat tangan ibunya penuh dengan keputusasaan.


“Ibu jangan tinggalkan Rimba. Rimba takut....”


Kini apa yang ditanyakan Rimba ketika dalam perjalanan, yang ditakuti ibunya menjadi kenyataan. Ibu Rimba tampak sangat lemah. Napasnya sudah di tenggorokan karena banyaknya air yang masuk ke paru-parunya. Dengan satu tarikan napas ibunya berujar, 


“Inilah yang terjadi jika monster menangkap kita, Nak. siapa sesungguhnya yang lebih binatang di antara kita?” 


Kalimat itu pun sekaligus menjadi penutup riwayat hidupnya. Ia tak akan tahu lagi akan nasib anaknya setelah ini.


___


*Cerita ini terinspirasi dari kisah orang utan yang disiksa dan dibunuh di kebun sawit di daerah luar Jawa.


 


Biodata


Ade Mulyono, lahir di Tegal. Menulis fiksi dan nonfiksi. Novel perdananya Lautan Cinta Tak Bertepi (2018). Kini sedangkan menyiapkan novel kedua Namaku Bunga.


 


 


Kirim naskahmu ke

redaksingewiyak@gmail.com