Esai Afrian Rahardyaning Pangestu
Ada sebuah pertanyaan yang semakin sering terdengar di
tengah masyarakat: “Kapan menikah?” Pertanyaan itu terdengar sederhana, bahkan
sering dianggap sebagai bentuk perhatian. Namun, bagi sebagian orang,
pertanyaan tersebut bisa berubah menjadi tekanan. Apalagi ketika teman sebaya
satu per satu mengunggah foto lamaran, akad, pesta pernikahan, hingga kehidupan
rumah tangga di media sosial. Masalahnya, hidup bukan kereta yang akan
meninggalkan kita hanya karena belum menikah. Namun, tanpa sadar, banyak orang
mulai melihat pernikahan sebagai sebuah perlombaan. Bukan lagi bertanya,
“Apakah saya sudah siap menikah?”, tetapi, “Mengapa orang lain sudah menikah
sementara saya belum?” Di titik inilah sebuah pertanyaan menjadi penting: kita
menikah karena ibadah atau karena takut tertinggal?
Pernikahan memang merupakan ladang ibadah. Membangun
keluarga, menjaga kehormatan diri, saling mencintai, menjalankan tanggung
jawab, dan membesarkan generasi merupakan bagian dari kehidupan yang bernilai.
Tetapi niat baik tidak otomatis membuat seseorang siap menjalani pernikahan.
Menikah itu mudah. Yang sulit adalah menjadi pasangan
yang baik setelah akad selesai. Akad mungkin hanya berlangsung beberapa menit,
tetapi setelah itu ada tagihan ini itu, perbedaan kebiasaan, ego, sikap
keluarga besar dari pihak kita dan mertua, pekerjaan, masalah keuangan,
konflik, dan berbagai tanggung jawab yang tidak bisa diselesaikan dengan satu
kalimat, “Kan kita menikah karena ibadah.”
Oleh karena itu, kalimat “Saya ingin menikah karena
ibadah” memang indah bahkan mulia banget, tetapi harus diikuti pertanyaan yang
lebih jujur: apakah kita siap beribadah melalui kesabaran, akhlak, tanggung
jawab, kompromi, dan pengorbanan yang tidak selalu terlihat indah? Jangan
sampai kita ingin mendapatkan pahala dari pernikahan, tetapi kita malah belum
siap menjalankan kewajiban di dalamnya. Jangan sampai ingin menikah segera,
tetapi masih suka berkata kasar, mudah terpancing emosi, mudah berprasangka
buruk, dan gemar menghakimi orang lain. Coba pikirkan hal itu.
Kita juga perlu berhenti menganggap bahwa calon pasangan
yang baik hanya bisa dinilai dari seberapa “alim” penampilannya. Tentu, ilmu
agama adalah sesuatu yang sangat penting. Tetapi ilmu tanpa akhlak, itu
bagaikan AK-47 yang dipegang oleh pelajar SMA yang sedang tawuran.
Sebab banyak banget kasus di mana orang-orang yang bisa hafal
Al-Qur'an sekian juz, hafal banyak hadits, rajin ikut pengajian ke mana-mana,
lulusan pesantren atau sekolah agama, bahkan pandai berbicara tentang agama,
tetapi itu belum menjadi jaminan bahwa dia mampu menjadi pasangan yang baik.
Ingat, kita ini sedang cari suami, bukan cari imam masjid. Kita ini sedang cari
istri, bukan sedang cari ustazah untuk mengisi pengajian atau ngajar di
pesantren. Mencari imam masjid atau ustazah untuk ngajar di pesantren, kita
harus tahu seperti apa akhlaknya, sikapnya, karakternya. Apalagi untuk mencari
suami atau istri? Betul atau benar?
Kita juga harus mengetahui bagaimana sikapnya ketika
marah? Apakah lisannya dan perbuatannya tetap terjaga? Apakah dia mampu
menghormati orang yang berbeda pendapat? Bagaimana sikap dia ketika bertemu
dengan orang yang tidak sesuai harapannya? Apakah dia mampu meminta maaf?
Apakah dia menjaga batas dengan lawan jenis? Sebab pada akhirnya, yang akan
hidup bersama kita bukan jumlah hafalannya, bukan gelarnya, dan bukan citra
religiusnya, tetapi karakternya. Kita tidak sedang mencari manusia
sempurna, tetapi kita perlu mencari manusia yang mau memperbaiki diri dan
memiliki akhlak yang bisa dipertanggungjawabkan.
Masalahnya, generasi hari ini hidup di tengah budaya
membandingkan dan budaya validasi. Instagram dan TikTok membuat kita setiap
hari melihat siapa yang baru lamaran, siapa yang menikah, siapa yang honeymoon,
siapa yang membeli rumah, dan siapa yang sudah memiliki anak. Yang tidak kita
lihat adalah apa yang terjadi setelah kamera dimatikan.
Kita melihat foto pasangan tersenyum di pelaminan, tetapi
tidak melihat pertengkaran mereka malam sebelumnya. Kita melihat caption “my
forever”, tetapi tidak tahu bagaimana mereka menyelesaikan konflik. Kita
melihat kehidupan orang lain dari potongan terbaiknya, kemudian
membandingkannya dengan kehidupan kita secara keseluruhan. Akhirnya muncul
perasaan, “Semua orang sudah maju, kok saya masih di sini?” Padahal belum tentu
mereka lebih bahagia, belum tentu pernikahannya lebih sehat, dan belum tentu
jalan hidup mereka mulus-mulus saja. Media sosial akhirnya bukan hanya tempat
berbagi kebahagiaan, tetapi juga bisa menjadi pabrik kecemasan sosial.
Di sinilah penyakit takut tertinggal mulai bekerja. Teman
menikah, kita panik. Adik kelas menikah, kita merasa tertinggal. Teman sekolah
sudah punya anak, orang tua mulai bertanya, “Kamu kapan nikah? Papa dan Mama
pengen punya cucu."
Akhirnya keputusan sebesar pernikahan malah dibuat hanya
karena kita tidak tahan dengan suara-suara sumbang dari orang lain. Lucunya,
masyarakat sering menganggap belum menikah sebagai masalah, tetapi jarang
bertanya apakah seseorang sudah mempersiapkan diri menjadi pasangan yang baik.
Kita sibuk menghitung umur, tetapi lupa menghitung kedewasaan. Sebab kedewasaan
sikap seseorang, tidak ditentukan oleh umur kita. Masih banyak orang yang
umurnya dewasa, fisiknya dewasa, tapi sikapnya seperti bocah.
Jangan sampai kita memilih menikah karena sudah dikejar
oleh umur yang makin menua. Lebih baik menikah muda, tetapi siap secara mental,
karakter, dan ilmu, daripada menikah tua tapi belum siap secara mental,
karakter, dan ilmu. Kalau umur 18 tahun sudah siap menikah, ya menikahlah.
Kalau umur 40 tahun belum siap menikah, ya jangan dulu menikah.
Ada pula anggapan bahwa seseorang sudah siap menikah
hanya karena sudah bekerja. Memang, kemampuan finansial penting. Rumah tangga
membutuhkan nafkah, perencanaan, dan pengelolaan uang yang baik. Tetapi mari
jujur: menikah bukan transaksi antara gaji dan buku nikah. Banyak orang merasa
sudah siap menikah hanya karena sudah memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap
yang terbilang besar. Padahal kesiapan menikah bukan soal duit doang. Ada orang
yang gajinya besar, tetapi akhlaknya buruk; pemarah, masih suka cengengesan
dengan lawan jenis yang bukan mahrom, masih nyaman terlalu akrab dengan lawan
jenis yang bukan mahrom, bahkan masih suka bersikap kasar. Lalu dengan mudahnya
mengatakan, “Saya sudah siap menikah.”
Hei, kamu siap yang kayak gimana!? Siap menafkahi,
tetapi belum siap menjaga diri? Siap membayar kebutuhan rumah tangga, tetapi
belum siap mengendalikan emosi dan menjaga lisan?
Punya pekerjaan saja, tidak otomatis membuat seseorang
menjadi dewasa. Punya gaji besar, tidak otomatis membuat seseorang berakhlak
baik. Bahkan jabatan tinggi pun tidak menjamin seseorang mampu menjadi pasangan
yang aman. Kita terlalu sering bertanya, “Kerjanya apa?” dan “Gajinya berapa?”,
tetapi lupa bertanya, “Kalau dia marah, dia menjadi manusia seperti apa? Apakah
dia tetap menjadi manusia atau berubah menjadi Hulk?” Sebab bisa saja seseorang
terlihat baik di luar rumah, tetapi sangat kasar kepada orang terdekat. Bisa
memiliki rekening yang sehat, tetapi emosinya tidak sehat. Bisa punya mobil
bagus, tetapi lisannya menyakiti. Oleh sebab itu, menikah bukan hanya soal
mampu membawa uang ke rumah, tetapi juga mampu membawa ketenangan ke dalam
rumah.
Setelah menikah, lawan jenis tetap ada, media sosial
tetap ada, godaan tetap ada, rasa bosan tetap mungkin muncul, dan konflik tetap
akan terjadi. Yang membuat seseorang setia bukan karena setelah menikah seluruh
godaan menghilang, melainkan karena ia memiliki integritas ketika tidak ada
yang melihat.
Begitu pula dengan kemarahan. Jangan berharap akad nikah
menjadi tombol reset kepribadian. Orang yang kasar sebelum menikah, maka
tidak otomatis menjadi lembut setelah menikah. Orang yang egois tidak akan tiba-tiba
menjadi dewasa, hanya karena memakai cincin. Orang yang tidak mampu menjaga
batas dengan lawan jenis, tidak otomatis menjadi setia hanya karena sudah
memiliki pasangan. Akad nikah bukan tombol reset. Pernikahan justru
sering menjadi tempat karakter seseorang terlihat semakin jelas.
Pesta hanya berlangsung sehari, sedangkan kehidupan rumah
tangga berlangsung bertahun-tahun. Cincin mungkin dipamerkan di media sosial,
tetapi akhlak pasangan akan kita temui setiap hari. Yang menentukan kualitas
rumah tangga bukan seberapa mahal pesta pernikahan, tetapi bagaimana dua orang
berbicara ketika sedang marah, bagaimana mereka menyelesaikan masalah ketika
uang sedang sempit, bagaimana mereka meminta maaf ketika salah, dan bagaimana
mereka tetap saling menghormati ketika tidak ada yang melihat.
Mungkin sudah waktunya kita mengubah pertanyaan. Bukan
lagi, “Kapan kamu menikah?”, tetapi “Untuk apa kamu menikah?” Bukan lagi,
“Kenapa belum punya pasangan?”, tetapi, “Sudahkah kamu siap menjadi pasangan?”
Dan bukan lagi, “Takut tidak kebagian jodoh?”, tetapi, “Apakah kamu benar-benar
ingin menikah, atau hanya takut hidupmu terlihat tertinggal?”
Jika keputusan sebesar pernikahan hanya dibuat untuk
membungkam pertanyaan keluarga, memenuhi standar lingkungan, atau mengejar
kehidupan yang terlihat indah di media sosial, kita sebenarnya sedang
menyerahkan masa depan kepada orang-orang yang tidak akan menjalani rumah
tangga itu bersama kita. Mereka mungkin hadir di pesta, memberi selamat, makan-makan,
dan mengunggah foto. Tetapi ketika rumah tangga sedang berantakan, yang harus
jungkir balik adalah kita, bukan mereka.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan paling penting bukan
“Kapan menikah?”, tetapi “Ketika aku menikah nanti, apakah aku benar-benar siap
menjadi pasangan yang baik?”
Dan sebelum mencari seseorang untuk dinikahi, kita
mungkin perlu bertanya lebih jujur kepada diri sendiri: “Kalau tidak ada
seorang pun yang bertanya : kapan nikah, apakah aku tetap ingin menikah
sekarang?”
Jika jawabannya adalah ingin menikah sekarang karena kita
sadar dengan tanggung jawab, selalu memperbaiki sikap serta karakter, dan ingin
menjalani pernikahan sebagai bagian dari ibadah, maka silakan menikah.
Tetapi, jika kita menjawab : ingin menikah karena takut
tertinggal, takut umur makin tua, fisik makin tua, mungkin kita jangan dulu
menikah. Kita harus mendewasakan sikap kita terlebih dahulu. Sebab, bisa jadi
selama ini kita bukan takut kehilangan jodoh. Kita hanya takut terlihat kalah
cepat.
______
Penulis
Afrian Rahardyaning Pangestu, penulis adalah guru Matematika dan Bahasa Inggris untuk
SMP serta SMA. Pernah juga menjadi guru IPA dan guru IPS.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com