View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Latest News

Sunday, May 10, 2026

Cerpen Khairul A. El Maliky | Pak Tua Sang Pemilik Cincin

Cerpen Khairul A. El Maliky




Hujan musim penghujan di Kansas City mengguyur Jalan Broadway dengan deras, membuat genangan air menyebar seperti cermin hampa di antara trotoar yang aus. Cahaya neon dari kedai kopi di seberang jalan bergoyang-goyang di permukaan air, menari bersama percikan yang menghantam kaca jendela. Di sudut jalan, di bawah perlindungan kanopi kecil yang hampir tidak berfungsi lagi, seorang pria berjanggut putih keriting duduk dengan badan membungkuk, matanya menatap jalanan yang sepi dengan tatapan penuh harap.

Pak Robert Morrison, atau yang akrab disapa Pak Tua oleh tetangga di rumahnya di distrik Country Club Plaza, sudah hampir tiga jam mencari. Tangan yang keriput menggapai kantong jasnya untuk kesekian kalinya, hanya untuk menemukan celah kecil di bagian bawah kantong kiri—tempat ia selalu menyimpan cincin tunangan istrinya yang sudah tiada, Maryam.

“Tuhan, tolong berikan petunjuk,” bisiknya dengan suara lemah, sementara uap napasnya membeku di udara dingin. Cincin itu bukan sekadar logam dan batu permata berharga senilai lebih dari tiga ribu dolar Amerika—atau sekitar enam puluh juta rupiah jika dihitung saat itu. Cincin itu adalah satu-satunya kenang-kenangan dari Maryam, yang meninggal lima tahun lalu setelah bertempur melawan penyakit jantung selama dua tahun penuh.

Pada sore itu, Pak Robert sedang berjalan pulang dari klinik dokter setelah melakukan pemeriksaan rutin. Ia berhenti sebentar di sudut jalan untuk memberikan beberapa koin kepada seorang tunawisma yang duduk dengan gelas receh di depannya. Pria muda itu mengenakan jaket kulit yang lusuh dan topi rajut yang sudah tidak jelas warnanya. Matanya yang cerah, namun penuh kesusahan, mengucapkan terima kasih dengan senyuman hangat, meskipun bibirnya bergetar karena dingin.

Pak Robert hanya tersenyum balik sebelum melanjutkan langkahnya, tidak menyadari bahwa saat ia menarik tangan dari kantong jasnya untuk menyapu air mata yang tiba-tiba muncul—karena ia mendadak merindukan senyuman Maryam—cincin itu tergelincir keluar melalui celah kantong yang sudah sobek.

Ketika malam semakin larut dan hujan mulai sedikit reda, Pak Robert merasa harapannya mulai sirna. Ia sudah mencari di setiap sudut yang pernah dilaluinya, bertanya kepada setiap pedagang kaki lima yang masih buka, bahkan memeriksa setiap tong sampah di sepanjang jalan. Namun, tidak ada jejak cincin itu. Ia merenungkan betapa bodohnya dirinya karena tidak menyadari kantong jasnya telah sobek selama beberapa minggu terakhir. Bagaimana mungkin ia bisa kehilangan satu-satunya benda yang masih menghubungkannya dengan Maryam?

Pada akhirnya, ia memutuskan untuk kembali ke tempat ia memberikan uang kepada tunawisma itu. Mungkin saja pria itu melihat cincinnya jatuh. Meskipun harapannya sangat tipis—apa yang bisa dilakukan seorang tunawisma dengan cincin mahal selain menjualnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari?—Pak Robert merasa tidak punya pilihan lain selain mencoba.


***

Ketika ia tiba di sudut jalan, ia melihat pria muda itu masih ada di sana. Gelas recehnya masih berada di depannya, tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Pria itu tidak lagi melihat ke arah orang yang lewat dengan harapan mendapatkan sedekah. Sebaliknya, tangannya memegang sesuatu dengan hati-hati di pangkuannya, dan matanya terus-menerus melihat ke arah jalan yang sama—jalan yang Pak Robert lewati beberapa jam sebelumnya.

“Permisi,” ucap Pak Robert dengan suara gemetar. “Saya... saya sedang mencari sesuatu yang hilang. Sebuah cincin kecil, dengan batu berlian di tengahnya.”

Pria muda itu mengangkat kepalanya, dan wajahnya yang penuh kotoran serta kelelahan langsung menyala dengan ekspresi lega. Ia perlahan membuka tangannya yang sudah lama tidak terurus, memperlihatkan cincin yang bersinar meskipun sedikit berdebu.

“Apakah ini milik Anda, Pak?” tanyanya dengan suara lembut, tetapi tegas.

Pak Robert merasa seperti ada beban besar yang tiba-tiba terangkat dari dadanya. Ia mengangguk kuat, matanya mulai berkaca-kaca lagi.

“Ya, itu... itu milik istri saya yang sudah tiada. Saya tidak bisa membayangkan kehilangannya.”

Tanpa ragu sedikit pun, pria muda itu memberikan cincin tersebut kepada Pak Robert.

“Saya melihatnya jatuh ke dalam gelas saya ketika Anda memberi saya uang tadi sore, Pak,” jelasnya. “Saya tahu ini pasti sangat berharga bagi Anda. Saya tidak bisa mengambilnya atau menjualnya. Itu tidak benar.”

Pak Robert mengangkat cincin itu dengan hati-hati, menyentuh batu berlian yang pernah dipakai Maryam saat mereka berdiri di depan altar gereja lima puluh tahun lalu. Ia menatap wajah pria muda itu—yang kemudian ia ketahui bernama Billy Ray Harris—dan merasa tertegun oleh kedalaman kejujuran yang terpancar dari matanya.

Di saat Billy bisa dengan mudah menjual cincin itu dan mengubah hidupnya secara drastis—meninggalkan jalanan, mendapatkan makanan yang cukup, bahkan memiliki tempat tinggal yang layak—ia justru memilih untuk menyimpannya dan menunggu pemiliknya datang.

“Saya tidak punya apa-apa untuk membayar Anda,” ucap Pak Robert dengan suara penuh rasa hormat. “Namun, saya berjanji akan melakukan apa pun yang bisa saya lakukan untuk membantu Anda.”


Billy hanya tersenyum lembut.

“Anda sudah membantu saya, Pak. Anda berhenti dan memberikan saya uang ketika banyak orang hanya melihat saya lalu berpaling. Itu sudah cukup bagi saya.”

Namun, Pak Robert tidak bisa tinggal diam. Ia pulang dengan hati penuh rasa syukur, tetapi juga merasa memiliki kewajiban untuk membalas kebaikan yang telah diterimanya.

Keesokan harinya, ia berbicara dengan tunangannya, Lisa—seorang wanita muda yang telah hadir dalam hidupnya satu tahun terakhir dan dengan sabar menerima kenangan Maryam yang selalu ada di rumahnya. Bersama-sama, mereka memutuskan untuk membuat halaman donasi kecil di internet, menceritakan tentang kejujuran Billy dan harapan mereka untuk membantu pria itu mendapatkan kesempatan baru dalam hidup.


***

Respons yang mereka terima benar-benar di luar dugaan. Awalnya hanya teman dan keluarga yang memberikan donasi, tetapi cerita tentang Billy dan cincin itu cepat menyebar melalui media sosial dan koran lokal. Tidak lama kemudian, berita itu mencapai seluruh negeri, bahkan hingga berbagai penjuru dunia—termasuk Indonesia, ketika seseorang yang membaca cerita itu merasa tergerak dan mengirimkan donasi dari Kota Pasuruan, Jawa Timur.

Dalam waktu hanya beberapa minggu, total donasi yang terkumpul mencapai lebih dari dua ratus tujuh puluh ribu dolar Amerika—atau sekitar dua poin tujuh miliar rupiah. Billy tidak bisa mempercayainya ketika Pak Robert memberitahukan kabar itu kepadanya. Air mata kebahagiaan mengalir di wajahnya yang biasanya keras karena kehidupan jalanan. Ia tidak pernah membayangkan bahwa satu keputusan untuk jujur bisa membawa perubahan begitu besar dalam hidupnya.

Dengan uang donasi itu, Billy bisa mendapatkan perawatan medis yang sudah lama diperlukannya, membeli pakaian yang layak, dan menyewa sebuah apartemen kecil yang nyaman. Lebih dari itu, ia mendapatkan kesempatan mengikuti kursus pelatihan kerja dan akhirnya memperoleh pekerjaan sebagai teknisi komputer di sebuah perusahaan lokal. Hidupnya yang dahulu penuh kesusahan dan ketidakpastian mulai berubah menjadi sesuatu yang penuh harapan dan makna.

Beberapa bulan kemudian, pada hari ulang tahun Pak Robert yang ke-75, Billy datang mengunjunginya di rumah. Ia mengenakan jas baru yang rapi dan membawa sebuah kotak kecil.

Setelah acara ulang tahun berlangsung meriah dan para tamu mulai pulang, Billy menghampiri Pak Robert dan memberikan kotak itu kepadanya.

“Pak Robert,” ucapnya dengan suara penuh rasa hormat, “tanpa Anda dan kesediaan Anda untuk memercayai saya, hidup saya tidak akan pernah berubah seperti sekarang. Saya tidak bisa membayar utang saya kepada Anda dengan uang, jadi saya ingin Anda memiliki ini.”

Pak Robert membuka kotak itu dan melihat sebuah cincin perak dengan batu zamrud kecil di tengahnya.

“Ini adalah cincin yang saya pesan khusus,” jelas Billy. “Zamrud adalah batu kelahiran istri Anda, bukan? Saya ingin Anda memiliki sesuatu yang bisa mengingatkan Anda bahwa kebaikan selalu kembali kepada orang yang melakukannya. Anda memberi saya kesempatan kedua dalam hidup, dan saya akan selalu berterima kasih untuk itu.”

Pak Robert merasa tangannya bergetar saat mengambil cincin tersebut. Ia melihat cincin Maryam yang terpasang di jari kirinya, lalu melihat cincin baru dari Billy di tangan kanannya. Di dalam hatinya, ia tahu bahwa Maryam pasti akan bangga dengan apa yang telah terjadi. Kejujuran seorang tunawisma yang tidak memiliki apa-apa telah membuktikan bahwa nilai-nilai sejati tidak pernah diukur dengan uang atau benda berharga.


***

Malam itu, ketika mereka duduk bersama di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi hangat, Pak Robert menoleh ke arah Billy dan berkata,

“Kau tahu, Anak Muda? Kadang-kadang Tuhan bekerja dengan cara yang luar biasa. Cincin itu bukan hanya kenang-kenangan dari Maryam. Itu adalah jembatan yang menghubungkan kita berdua, dan saya bersyukur setiap hari karena saya kehilangannya di tempat yang tepat—di depanmu.”

Billy hanya tersenyum dan mengangguk. Ia tahu bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi, dan itu semua berawal dari satu keputusan sederhana: memilih kebaikan, bahkan pada saat-saat paling sulit dalam hidupnya.

______

Penulis


Khairul A. El Maliky, pengarang novel, lahir dan besar di Kota Probolinggo, 5 Oktober 1986. Pernah belajar di kota Pekanbaru, Riau. Bukunya yang telah terbit berjudul Akad, Pintu Tauhid, dan Kalam Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024). Di sela kesibukannya mengarang novel, ia juga aktif sebagai guru Sastra Indonesia. Untuk pembelian buku bisa melalui: mejaredaksiimajinasiku@yahoo.com.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Saturday, May 9, 2026

Resensi Kabut | Melancong dan Cerita

Oleh Kabut




Dolan ke Solo, pelancong bisa mengunjungi Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat atau Mangkunegaran. Konon, dua tempat itu mengisahkan dan menjelaskan Jawa. Apakah para pelancong mendatanginya untuk mengerti sejarah dan Jawa? Yang pasti, ada gegeran belum selesai di keraton. Menteri yang berulang datang ingin menyelesaikan masalah justru menimbulkan polemik. Artinya, perselisihan di keraton berakibat buruk dalam imajinasi sejarah dan imajinasi pariwisata.

Siapa-siapa pernah mengunjungi Mangkunegaran? Nasib dan situasi berbeda dirasakan di Mangkunegaran. Di situ, ribuan orang berdatangan dengan beragam misi: piknik, ilmu, hiburan, dan lain-lain. Mangkunegaran tampak apik dan anggun. Cerita-cerita indah terus bermunculan. Yang gemar musik, konser-konser biasa diselenggarakan di lingkungan Mangkunegaran. Yang suka ilmu, diskusi-diskusi biasa digelar di sana.

Para turis masih di Solo. Mereka memiliki pilihan-pilihan tempat agar merasa terpuaskan dan mencipta kangen. Jadi, mereka kelak datang lagi ke Solo. Ada yang memilih mengunjungi Taman Balekambang. Tempat itu dekat Stadion Manahan. Apa yang diperoleh di sana. Pelancong bakal melihat kolam dan patung. Mereka kadang bisa mengikuti acar-acara kebudayaan.

Di ingatan publik, Taman Balekambang dibuat Mangkunegara VI untuk dua putrinya yang kembar: Partini dan Partinah. Pada masa lalu, tempat itu teringat dengan pentas ketoprak. Kini, Taman Balekambang mulai berdandan indah. Tempat itu masih menyisakan sejarah meski pengunjung hampir tidak mengetahuinya. Di situ, ada patung yang mengingatkan sastra. Di penerbitan buku, nama yang dicantumkan sebagai pengarang adalah Arti Purbani. Yang membaca buku-bukunya dan melacak biografinya bakal diarahkan ke Mangkunegaran. Arti Purbani itu nama samara dari putri yang berasal dari Mangkunegaran. Novelnya yang terkenal diterbitkan oleh Balai Pustaka.

Yang ada di hadapan kita adalah buku yang diniatkan menjadi bacaan bagi anak dan remaja. Buku yang berjudul Hasta Tjerita diterbitkan PT Pembangunan. Buku yang tipis dan manis. Buku itu tidak bakal ditemukan orang-orang yang mengunjungi Taman Balekambang. Di beberapa perpustakaan di Solo, buku itu tidak menjadi koleksi. Jadi, yang belum berkunjung ke Solo (Mangkunegaran dan Taman Balekambang) mendingan menjadi pelancong dalam buku.

Pengarang memiliki bekal berupa warisan dongeng-dongeng silam. Ia pun akrab dengan masyarakat yang bergelimang cerita, dari masa ke masa. Maka, yang membaca cerita berjudul “Si Melati” tidak terlalu sulit dalam memahaminya. Anehnya, cerita silam yang dinikmati anak dan remaja lazim memasalahkan pernikahan. Tema yang terlalu besar dan belum tiba waktunya.

Diceritakan pedagang yang mau pergi ke kota. Ia meninggalkan tiga putrinya yang bernama Kenanga, Kantil, dan Melati. Tiga putri yang berbeda sifat dan peruntungan. Pedagang itu berharap dagangannya laku, yang nantinya dapat membeli hadiah yang diberikan kepada putri-putrinya.

Yang ditulis Arti Purbani: “Si Kenanga meminta sebuah gelang emas. Si Kantil mengharapkan sebuah kalung berlian jang bagus. Si Melati lain dari kakak-kakaknya. Ia meminta setangkai bunga tjengkeh jang djika dipetik tak dapat terpisah dengan pot tempat tumbuhnja. Djadi bung aitu tak dapat dipetik begitu sadja, melainkan harus dibawa bersama-sama potnja.”

Apa yang terjadi? Pedagang mendapatkan untung berhasil. Ia membelikan hadiah untuk Kenanga dan Kantil. Yang menyulitkan adalah memenuhi permintaan Melati. Kegigihan membuatnya sampai pada keterangan yang diperlukan dalam memenuhi permintaan putri bungsu. Yang memiliki tanaman itu berkata kepada pedagang: “Bungaku tak kudjual, tetapi djika anak bapak sendiri datang kesini, kembang ini akan saja berikan padanja.” Hari berganti hari. Putri itu datang. Keberuntungan diperolehnya saat memenuhi permintaan pemilik bunga cengkeh agar ia menjadi permaisuri. Cerita yang indah, yang tidak usah dituntut masuk akal. Melati yang tidak meminta perhiasan mahal malah mendapatkan kebahagiaan.

Apakah ceritanya selesai? Kenang dan Melati yang memiliki sifat-sifat buruk iri dengan kebahagiaan Melati. Maka, yang dilakukan adalah mencelakakan Melati. Para pembaca belum perlu tergesa merampungkan cerita. Pola itu sering terkandung dalam cerita-cerita di Nusantara dan dunia. Wajar saja jika Melati menderita akibat ulah Kenangan dan Kantil. Apakah ia akan terpuruk dan sengsara? Percayalah bahwa Melati masih beruntung dan bahagia. Cerita itu punya cara dan arah agar Melati tetap “menang”. Yang kalah dan tersingkir adalah Kenanga dan Kantil. Kita agak senewen menebak motif pemberian nama para tokoh, yang merujuk bunga-bunga.

Buku yang tipis memuat sembilan cerita. Arti Purbani punya misi mengajarkan kebijaksanaan atau nasihat melalui cerita-cerita. Namun, anak atau remaja yang membacanya pada masa sekarang mungkin “kesulitan”. Struktur cerita “lama” jarang membuat pembacanya terpesona. Cerita seolah tiada tantangan. Padahal, para pembaca masa sekarang biasa “dijerat” dalam kerumitan dan kejutan dalam cerita. 

Yang agak menyulitkan adalah upaya para pembaca dalam menikmati cerita-cerita sambil membayangkannya sebagai film. Cerita-cerita dari masa lalu sebenarnya mudah digarap menjadi komik atau film. Yang mesti dimengerti adalah warisan silam gampang disingkirkan oleh cerita-cerita baru yang bermunculan dan menyerbu dengan pola-pola “mutakhir”.

Buku yang dipersembahkan Arti Purbani tetap penting dalam arus cerita yang dicetak menjadi buku di Indonesia. Kita mengandaikan buku itu dibacakan saat para pelancong mengunjungi Mangkunegaran atau Taman Balekambang. Anehnya, orang-orang di Solo jarang mengetahui bahwa putri dari Mangkunegaran adalah pengarang. Buku-bukunya diterbitkan Balai Pustaka dan Pembangunan. Semestinya, buku-buku itu cetak ulang, yang bisa dijadikan cenderamata dalam kunjungan di Mangkunegaran atau Taman Balekambang. Yang bikin kita meragu, pihak-pihak yang berkepentingan dalam memajukan pariwisata di Solo kemungkinan kecil mengetahui buku-buku buatan putri dari Mangkunegaran.

_______


Penulis


Kabut, penulis lepas.


Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com 

Monday, May 4, 2026

Karya Siswa | Cerpen Aufa Almer Dzaky Zahran | Matinya Ondel-ondel Terakhir

Cerpen Aufa Almer Dzaky Zahran


Pagi itu, Rojali tersentak melihat mata berukuran besar yang menatap tajam ke arahnya dari onggokan sampah yang sedang ia pungut.

“Rojak, lihatlah apa yang kutemukan!”

Rojak yang penasaran dengan temuan tersebut dengan sigap bergerak lincah melompati tumpukan sampah yang menggunung, menghampiri rekan pengepul sampahnya itu.

“Astaga, mengapa ada ondel-ondel di sini?”

Mereka terkejut bukan main ketika mengetahui bahwa boneka raksasa berkumis hitam yang tampak seperti busur panah dengan taring putih itu berada di tumpukan sampah.

“Boneka raksasa itu seperti menangis, Jak.”

“Hahaha. Bagaimana mungkin benda mati itu menangis?”

“Mungkin dia sedih karena sudah tidak dibutuhkan lagi.”

“Atau mungkin dia sedih sebab tidak ada lagi yang memainkannya?”

“Kau benar, Jal. Alangkah menyedihkannya jika warisan budaya leluhur ini tak ada lagi yang ingin melestarikannya.”

Sekejap mereka termenung dengan raut wajah iba. Tak lama, secarik harapan indah itu terpikirkan begitu saja oleh Rojali.

“Jak, bagaimana jika kita menjadi pengarak ondel-ondel? Kita tak perlu susah payah menjadi pengepul sampah. Kita bisa melestarikan budaya ini sekaligus mencari uang!”

Rojali tampak seperti orang miskin yang baru saja mendapatkan emas batangan dari tumpukan sampah.

“Kau benar, Jal. Sepertinya tidak akan bosan jika kita mengamen menjadi pengarak ondel-ondel, menyusuri perkampungan dan melihat wajah anak-anak kecil yang menangis ketakutan, dibanding kita harus melihat gunungan sampah dengan bau busuk yang khas dan membosankan ini.”

Senyum terukir penuh harapan pada wajah mereka berdua. Mereka pun sontak mengeluarkan boneka raksasa itu dari onggokan sampah dengan raut wajah semringah.

***

Suara desing mesin dari ular besi yang berlalu-lalang di sekitaran Kota Jakarta itu terdengar memekakkan telinga. Di balik deretan gedung-gedung tinggi yang menjulang, tersembunyi perkampungan padat yang dikelilingi aliran air hitam dengan sampah-sampah yang berlalu-lalang terbawa arus.

“Bagaimana di dalam sana, Jak?”

“Sialan, lebih baik aku mengangkat tumpukan sampah dibanding menjelma menjadi boneka raksasa yang pengap dan berat ini.”

“Tenanglah, Rojak. Ini adalah pekerjaan baru kita sebagai pengarak ondel-ondel. Lambat laun pasti kau akan terbiasa.”

Rojali tertawa sambil mendorong gerobak yang berisi kotak uang dan pengeras suara dengan alunan irama musik gambang kromong dan tanjidor.

Nyok kita nonton ondel-ondel
Nyok kita ngarak ondel-ondel
Ondel-ondel ade anaknye
Anaknye nandak gel igelan

Mereka berjalan menyusuri perkampungan, bertemu dengan warga kampung yang tampak ketakutan dan terkejut dengan kehadiran mereka.

“Jak, mengapa mereka terlihat marah melihat kita?”

Mereka berdua tampak kebingungan. Hingga pada akhirnya mereka berhenti ketika mendengar seseorang berteriak,

“Lihatlah! Ada ondel-ondel berkeliaran! Berani-beraninya mereka memakai warisan budaya untuk mengemis!”

Ujar seorang pria bertubuh tinggi, kurus, dengan raut wajah yang tampak tak bersahabat. Suara itu berhasil mencuri perhatian warga sekitar.

“Bang, lihat noh di depan gang. Masa ondel-ondel dipakai ngamen. Kagak ada adabnya pisan!” ujar salah satu warga.

“Iya, Bang. Ane juga perhatiin dari tadi. Mana musiknya cuma pakai kaset kusut, gerakannya juga asal-asalan benar. Kagak ada seninya.”

Warga pun mulai tersulut emosi.

“Harus kita kasih pelajaran ini!” teriak warga lainnya.

Tak lama, suara derap kaki terdengar menghampiri mereka berdua. Seorang pria bertubuh tinggi kurus, pemicu keributan itu, tetap pada posisinya, diam tak ikut menghampiri. Namun, tatapan setajam pisau itu menusuk ke arah mereka berdua.

“Astaga, Jak, mereka mengejar kita!”

“Lari, bodoh!”

Seketika suasana berubah mencekam. Mereka berdua berlari kencang.

“Tangkap mereka!”

Teriakan itu terdengar lantang, mengerikan, bak raungan seribu hewan buas yang marah. Jantung mereka berdegup kencang. Mereka berdua terus berlari dengan lincah, melewati kerumunan pasar, meliuk-liuk, menjatuhkan beberapa dagangan warga yang menghalang.

“Bujug buset, sialan lu!” umpat pedagang yang dagangannya baru saja disenggol hingga sayur-mayur berserakan di jalanan.

Sayur-mayur itu hancur lebur terinjak-injak kerumunan warga yang masih buas mengejar mereka. Pedagang itu merasa kesal dan ikut mengejar.

Mereka terus berlari tanpa arah pasti dengan gerobak dan boneka raksasa itu.

“Astaga, Jal! Ada turunan curam menuju tempat pembuangan akhir!”

“Masuk ke dalam gerobak, Jak!”

“Bagaimana bisa, bodoh!”

“Masuk saja, Jak!”

Dengan pikiran dan degup jantung yang tak terkendali, Rojak melompat tergesa-gesa ke dalam gerobak dengan ondel-ondel yang masih ia kenakan. Rojali mendorong gerobak dengan kencang menuju jalanan curam itu, lalu menyusul masuk ke dalam gerobak yang ukurannya tak seberapa.

Gerobak itu meluncur cepat tak terkendali, bagai ikan marlin hitam yang berusaha membebaskan diri dari mata pancing yang tersangkut di langit-langit mulutnya.

“Rojak, hentikan!”

“Bagaimana caranya?”

Tak lama, gerobak itu menabrak gunungan sampah. Gerobak itu menghancurkan tumpukan sampah di depannya. Mereka berdua terpental keluar dari gerobak dan masuk ke dalam gunungan sampah yang berbau busuk.

“Rojak, keluarlah dari boneka kayu ini! Kita harus segera sembunyi sekarang juga!”

Sontak mereka berdua lari terbirit-birit meninggalkan gerobak serta ondel-ondel itu. Mereka menemukan dan menaiki gunungan sampah lain, lalu bersembunyi di baliknya. Sesekali mereka mengintip ke arah orang-orang murka itu.

“Itu mereka, tangkap mereka!”

Kerumunan warga kini terlihat bertambah banyak dengan membawa balok dan barang-barang lain yang mereka temukan di jalan.

“Apakah ini hari terakhir kita, Jak?”

“Maafkan aku telah membawamu dalam situasi bahaya seperti ini.”

“Tidak masalah, Jak. Aku sudah pasrah jika nasib kita harus berakhir di tumpukan sampah ini. Setidaknya kita pernah merasakan menjadi pengarak ondel-ondel dan pernah ikut melestarikan warisan budaya.”

Di bawah sana, amarah warga masih belum mereda.

“Ondel-ondel itu kosong! Mereka berhasil kabur!”

Kerumunan warga yang kecewa dan tidak terima itu semakin beringas.

“Mereka bakar saja ondel-ondel itu! Tidak ada seorang pun yang dapat mengotori warisan leluhur kita!”

Kerumunan warga yang lain berteriak setuju dengan umpatan itu.

“Kita harus cari pengarak ondel-ondel itu! Mereka harus menerima akibatnya!”

“Ya, setuju!”

Sebagian warga langsung bergerak berlari dengan buas mencari keberadaan para pengarak ondel-ondel itu. Rojak dan Rojali semakin ketakutan setelah mendengar ucapan bernada tinggi tersebut.

“Jak, bagaimana ini?” Jali berbisik.

“Tenang saja, Jal. Mereka tidak akan bisa menemukan kita.”

Seketika Rojak terpaku. Tatapan matanya kosong. Ia hanya mematung.

“Jak, lu kenapa, Jak?”

Rojali memastikan bahwa ia baik-baik saja.

“Lihatlah, Jal, pria bertubuh kurus tinggi itu. Dia melihat kita!”

“Astaga! Lu benar, Jak!”

“Kita kudu ngapain sekarang, Jal?”

Mereka berdua tercengang hingga akhirnya salah satu warga terlihat membanjiri boneka raksasa itu dengan bensin. Korek api dinyalakan. Sekejap kobaran api merambat ke seluruh badan boneka raksasa itu.

Setelah ondel-ondel itu terbakar, sayup-sayup terdengar suara anak kecil yang menangis.

“Ibu, aku takut.”

Amukan warga itu hilang sejenak. Suara anak kecil yang ketakutan sambil ditimang oleh ibunya itu berhasil mengambil alih perhatian kerumunan warga.

Terdengar suara ringkikan tawa berat seorang pria dari belakang kerumunan itu.

“Astaga, Jak, apa kamu lihat pria bertubuh tinggi besar itu? Ia memiliki sayap hitam?”

“Jal, aku tidak yakin itu manusia.”

Sontak mereka berdua tersentak dari tempat persembunyian. Kerumunan warga itu mendadak chaos. Semua warga lari kocar-kacir ketakutan melihat penampakan manusia yang menyerupai burung gagak.

Terdengar suara eraman yang begitu mencengkam, membuat kerumunan warga porak-poranda. Mereka sadar, kampung itu dalam kondisi tidak baik-baik saja.

_______

Penulis


Aufa Almer Dzaky Zahran
, pelajar di SMA Pesantren Unggul Al Bayan Anyer. Ia merupakan pemenang Juara 2 FLS3N 2026 Kabupaten Serang yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional. 


Kirim naskah ke 

redaksingewiyak@gmail.com


Karya Siswa | Puisi-Puisi Hanif Putra Arbain

Puisi Hanif Putra Arbain


Tak Ingin


Tak ingin aku menjadi dokter

Tak ingin aku menyembuhkan luka

Aku hanya ingin menghibur yang terluka 

Di depan pc gaming aku bisa berkarya


Nasib menjadi streamer

Mendapat beras dari belas kasih penggemar

Akulah yang membusukkan otak generasi muda

Yang aku sebut gen alpha


Ayah, maafkan anakmu

Yang gagal memenuhi gengsimu

Yang selalu kau sebut pengangguran

Tapi percayalah akan aku beli mobil yang dahulu kau impikan


Ibu, maafkan putramu

Yang membuat malu

Yang menjadi topik dialog tetangga

Tapi percayalah akan aku beli omongan mereka


Ingin rasanya menjadi uang

Di buang waktu ayah hanya untukku

Ingin rasanya menjadi saham

Pertumbuhannya rajin di pantau ibu


Mimpiku sederhana

Setiap kali kalian melihat layar kaca

Ada aku berdiri di sana

Menjadi bintang utama


Waktu berbeda

Aku tetap sama

Tetap menjadi anak durhaka

Karena mengerjakan apa yang disuka


28 April 2026



Jejak dalam Kegelapan


Dalam sunyi yang tak pernah benar-benar diam

Aku menemukan diriku tumbuh perlahan

Dari tanya yang tak kunjung usai

Dirakit dari serpih pengalaman


Dari gagal yang diam, hingga mimpi yang berteriak

Kadang hancur oleh ekspektasi

Kadang runtuh oleh suara sendiri

Namun dari retakan itulah imajinasi menemukan jalannya


Jalan pulang yang berliku

Menantang fobia, mengikis kegelapan

Menyalakan cahayanya sendiri

Ketika yang lain padam


Cahaya yang berkuasa

Menciptakan bayangan kekuatan

Melangkah maju dan berteriak

Takutlah wahai ketakutan

Karena kali ini bukan aku yang mundur

Kau hanya gema dari ragu

Kau boleh berteriak lebih keras

Dan perlahan kehilangan tempat di dalam diriku


Anyer, 20 April 2026



Pohon


Dari benih kegagalan

Tumbuh keyakinan yang kokoh

Setiap kegagalan adalah bukti

Daun yang gugur bukan berarti kalah

Tapi siap berbuah


Daun jatuh perlahan

Namun tak pernah ia sesali

Tak berlari mengejar musim

Diam siap menerima


Kumbang menjadi saksi

Tentang petir yang pernah menyambar

Batang mengirim pesan cerita

Tentang hujan, panas dan luka


Burung menghasut pelan

Dijawabnya dengan diam

Menjadi guru tanpa kata

Bahwa kuat tak selalu tentang melawan dunia


Anyer, 21 April 2026



Kisah Tak Kasih


Di bawah langit yang sama

Dunia yang berbeda

Dunia pangung pilih kasih

Pada hati yang rapuh


Ingin rasanya kupungut harapan

Tapi harapan itu fana

Patah sebelum sempat tumbuh

Hanya akan menjadi rapuh


Saat mimpi terasa sunyi

Yang kulihat hanya pintu yang tertutup

Tanpa ada jeda yang cukup

Karena keadilan tidak datang dari luar

Melainkan hati yang sabar

Meski dunia terasa tak berpihak 

Masih ada langkah kecil yang perlu diinjak


Anyer, 22 April 2026



Bengkel Kehidupan


Di bengkel kehidupan yang riuh dan panas

Hidup ditempa di atas landasan yang keras

Bukan untuk menjadi pedang pemalas

Namun untuk menjadi baja yang terbentuk


Disiplin adalah palu yang menghantam

Dan kreatif adalah api yang tak pernah padam

Menciptakan pedang yang tajam

Yang dilapisi oleh karakter


Di bengkel kehidupan yang riuh dan panas

Tersisanya luka-luka lama

Demi merajut mimpi indah

Meskipun sudah kepala dua


Tak ada cerita hidup berwarna

Hanya dalam diam tungku kepada pedang

Membuatnya kuat saat bertarung

Dan siap digunakan pejuang


Bengkel ini bukan sekedar tempat

Ia adalah jeda bagi yang hampir menyerah

Di antara serpihan logam dan debu

Keyakinan yang tersimpan; segala sesuatu yang rusak mungkin masih utuh


Anyer, 25 April 2026

 

______

Penulis


Hanif Putra Arbain, siswa kelas 11 di SMA Pesantren Unggul Al Bayan Anyer. Menetap di Tangerang. Ia meraih juara 3 pada ajang FLS3N Cipta Puisi 2026 Kab. Serang. Instagram: Hanif_Arbain.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com



Sunday, May 3, 2026

Cerpen Rosul Jaya Raya | Apokaliptik Seorang Pengarang

Cerpen Rosul Jaya Raya



Lelaki itu sadar bahwa dia tokoh di dunia apokaliptik ciptaanku. Aku, pengarang yang menciptakan lelaki itu, juga adalah tokoh dalam cerita pengarang lain. Pengarang lain yang menciptakanku, juga adalah tokoh dalam cerita pengarang lainnya. Sampai seterusnya dan seterusnya. Sampai pada pengarang tunggal yang (disebut Tuhan dan) jadi sumber segala penciptaan. 

Mustahil kalau pola penciptaan itu bagai rantai makanan makhluk hidup: maksudnya, lelaki yang terjebak sebagai tokoh cerita di dunia apokaliptik ciptaanku itu adalah pencipta dari pengarang tunggal yang pertama kali menciptakan sesuatu. Seandainya begitu, maka pengarang tunggal ini bukan entitas awal yang menciptakan sesuatu. Adakah perkara yang tak ada permulaan? 

Mustahil kalau pola penciptaan itu tanpa garis finis sebuah ujung: maksudnya, tak ada pengarang tunggal yang pertama kali menciptakan sesuatu karena saban pengarang terus sambung-menyambung diciptakan oleh pengarang lainnya. Bukankah tiap yang punya permulaan sudah tentu punya akhir? Adakah perkara yang tasalsul begini?

*** 

“Anjing! Keluarkan aku dari dunia ini.” Tentu tertebak bahwa lelaki itu mengumpatiku, pengarangnya sendiri. Meski pada dasarnya, Frankenstein ciptaanku itu punya kehendak bebas, sebenarnya tingkah-lakunya di bawah kendaliku. Tabir pengetahuannya yang terbuka bahwa dia adalah tokoh cerita yang aku ciptakan adalah takdir yang aku berikan padanya. 

Aku juga tahu kedumelan yang terus berdenyaran di hatinya. Dia berharap hidup di masa ketika dunia tak kacau-balau. Padahal tak ada masa di mana dunia akan terus damai. Manusia akan terus membentuk kubu-kubu untuk saling berak-memberaki. Mereka akan menang ketika berhasil memampuskan saudaranya sendiri, lalu jongkok di atas mayat saudaranya lalu meloloskan tahi ke jasad itu. Secara tak langsung, manusia adalah kloset di mata manusia lainnya. 

“Anjing tai! Enyahlah!” lelaki itu mengumpati orang gila yang melempari (dan tepat mengenai) bagian belakang kepalanya dengan botol kaleng bekas minuman 250 ml. Orang gila itu terpingkal-pingkal.


Alangkah asyik-masyuknya turut terpapar wabah gila seperti mereka, pikir lelaki itu. Dia merasa seperti dikelilingi zombi yang tak memangsa dirinya. Zombi-zombi gila itu, kendati tak membahayakan, tapi cukup menyebalkan. Dan lelaki itu justru ingin berubah jadi zombi seperti mereka. Dia yakin kalau orang-orang gila itu hidup bahagia di dunia halusinasinya di kepala masing-masing, kendati tampak dari luar bagai orang paling mengenaskan—lihatlah orang gila yang ke mana-mana dengan penis menantang dunia, alias dalam kondisi telanjang. 

Mulanya, mendapati diri—sejauh yang lelaki itu temui selama ini—satu-satunya orang yang tak terinfeksi wabah gila itu, dia sangat sumringah. Merasa jadi pemimpin dunia karena punya kendali penuh atas orang-orang gila itu. Serasa hidup di Taman Eden, taman segala-puncak kenikmatan berada, karena bisa melakukan apapun sesukanya termasuk kencing atau merancap di tengah jalan. 

Suatu pagi, lelaki itu terjaga di dunia yang tak pernah dibayangkan ketika matahari pagi menampar tubuhnya. Dia baru sadar kalau semalaman tidur di emper toko yang tutup. Tiga bulan kemudian dia akan sadar kalau dirinya subjek eksperimen seseorang: pengarang yang dia bayangkan sebagai lelaki yang punya muka selalu ngantuk dan hobi merancap dan bukan rekan yang cocok untuk diajak ngobrol berlama-lama karena pasti lelaki itu membosankan—anjing, dia meledekku. 

“Anjing lapar, perutku bunyi.” 

Dia beranjak dari sana, membawa badannya dengan malas untuk menatap dunia yang, pikirnya, pasti dikuasai kaum kapitalis pemilik modal yang lebih cocok ditendang ke alam baka. Mana mungkin kere sepertinya akan dimakmurkan oleh mereka? Sampai dia menatap keanehan-keanehan itu menumpuk di depan matanya. Dunia ini mampat seperti air comberan yang alirannya dipenuhi sampah-sampah, yang dimaksud sampah-sampah itu adalah orang-orang yang telah berubah jadi gila.
 

Lelaki itu menuju Indomaret. Tepat ketika dia sudah melewati pintu kaca, dia menatap pegawai perempuan Indomaret yang bertelanjang dada sedang tertawa-tawa sendiri. Sebenarnya dia ngeri, tapi pada saat yang sama timbul hasrat iblis ketika menatap payudara mengilat. Senoktah liur menetes dari bibirnya. Perutnya bunyi, dan sekonyong-konyong senyumnya mengembang sangat lebar seolah bisa merobek sudut bibirnya. 

“Aku bebas mengganyang semua yang ada di sini, hahaha!” suaranya cukup nyaring. 

Dia menyantap beberapa panganan di sana sampai kenyang: Sosis Yummy Choice, Dimsum, Onigiri, Nasi Goreng Hongkong, Bakpau, dan minum dua botol Coca-Cola. Lalu dia mendekati perempuan pegawai Indomaret itu. 

“Apa? Mau apa kau? Hahaha.” 

“Bolehkah aku menidurimu?”

“Hahaha.” Hanya tertawaan yang selanjutnya muncul dari sang perempuan. Bahkan ketika tubuhnya ditindih berkali-kali oleh lelaki itu. Tanpa sejumput pun mendedahkan perlawanan. Meski mulanya, lelaki itu ngeri terpapar jadi gila juga, tapi payudara dan leher dan wajah cantik perempuan itu demikian menggoda. Sebelum aku tak bisa merasakan kebahagiaan surgawi begini dalam kondisi sadar, barangkali esok atau satu jam ke depan aku sudah terinfeksi jadi gila lalu habis riwayatku, maka kesempatan tak boleh dianggurin, batin lelaki itu. 

Nyatanya, esoknya dan keesokannya lagi, lelaki itu masih waras. Senyumnya terus mengembang sepanjang hari. Dua malam dia tidur di kasur empuk (yang fungsi pegasnya dia manfaatkan sebaik mungkin dengan cara melompat-lompatkan badan, termasuk dalam posisi tiduran), di dalam ruangan berpendingin di hotel bintang lima. Busana yang dikenakannya kaos dan celana seharga puluhan juta yang dia comot dari toko busana elite di mal (andaikan dunia baik-baik saja dan dia tetap seorang kere, mustahil penghasilannya seumur hidup yang sehari-harinya habis untuk urusan perut, bisa membeli pakaian itu). Tak lupa juga, sebelum mengatupkan matanya untuk pindah ke semesta mimpi, dia meniduri resepsionis dan tamu hotel yang montok. 

“Apakah aku pernah punya idola?” tanyanya pada diri sendiri ketika dia sudah hidup selama sebulan lebih lima hari. Karena pemuda sinting di sisinya yang sedang menjilati bola sepak dan punya cita-cita menjadi Ronaldinho, tak akan mungkin menyahuti omongannya. Aneh sekali hidupku, aku tak tahu dari mana aku berasal, bagaimana masa laluku, dan tak ada seorang pun yang bisa aku ajak ngobrol, gerutunya. Kala itu, dia belum sadar bahwa dirinya terjebak di dunia apokaliptik ciptaanku. 

Syahdan, dia ingat tiga hari yang lalu, matanya terpikat pada spanduk yang terentang di sisi jembatan layang penyeberangan orang, sebab menampilkan potret artis cantik yang memegang wadah bedak padat. Perempuan yang kulitnya seputih bubur sumsum dan bentukan wajahnya, dengan mata sipit, mirip-mirip wajah perempuan dari negeri Cina. Lantas, di bawah jembatan layang penyeberangan orang itu, dia membuka celananya lalu merancap dan mengerang senyaring-nyaringnya secara sengaja seperti erangan aktor dan aktris bokep. 

“Aku akan meniduri artis itu, hahaha.”

Mata lelaki itu menembak motor Honda Scoopy yang terparkir di sisi lapangan. Ada mobil Toyota Avanza yang terparkir di sebelah motor itu. Andai aku bisa menyetir mobil, sudah pasti aku akan gonta-ganti memakai mobil ke mana-mana tiap harinya, celetuknya. Beberapa hari belakangan, dia telah mencoba mengendarai motor dan berhasil karena punya bekal bisa mengendarai sepeda. Lain kali dia berpikir hendak belajar mengendarai mobil.

Lelaki itu membuka iPhone Pro Max terbaru yang dia dapatkan dari rumah orang kaya sinting yang dua minggu lalu jadi tempatnya bermalam. Betapa terperanjatnya dia di sana, keesokan paginya, bangun tidur dengan kondisi basah kuyup sehabis disiram pemilik rumah yang selalu nyengir. Anjing kudis! Umpatnya. Dan ketika dia tengah berjalan menuju motornya, sekonyong-konyong wanita sinting yang diperkirakan sudah hidup separuh abad, terbirit-birit menujunya sambil berteriak-teriak: “Putraku! Putraku! Putraku!” lantas memeluk dia dari belakang. Anjing gila! Umpatnya. 

“Lepaskan aku anjing gila! Aku bukan anakmu.” Dia mendorong wanita itu sampai terjengkang lalu sang wanita meraung-raung, “mengapa kau tega sekali pada Ibu! Putraku!” dia membiarkan wanita itu menangis histeris sendirian. 

Selepas kelar berurusan dengan wanita itu, dia membuka Google Chrome lalu mengetik nama artis cantik, yang potretnya terpampang di spanduk jembatan penyeberangan jalan orang, pada laman pencarian. Tapi yang muncul justru kisah soal Ring of Gyges, Plato. Lelucon apa ini? Web Browser ini sudah eror? Muncul tanda tanya di atas kepalanya. Dia menyadari dirinya tak tolol-tolol amat. Buktinya dia bisa membaca dan mengoperasikan ponsel. Dia membayangkan: mungkin dulu aku pernah sekolah SD sampai SMP, lalu putus sekolah ketika SMA karena ayahku, yang seorang preman pasar, ditemukan mampus keracunan, lantas ibuku jadi pelacur untuk menyambung hidup lalu ibuku juga mampus di tangan seorang klien, yang adalah aparat negara, hingga sang pelaku dilindungi dari jerat hukum. Anjing tai!

Pada akhirnya dia membanting ponsel itu lalu menginjak-injaknya. Urung niat udiknya menuju kediaman sang artis untuk menidurinya. Dia ngeri membayangkan, mesin-mesin yang sudah tak dioperasikan oleh manusia (karena semua manusia sudah gila kecuali lelaki itu), mengevolusi dirinya sendiri lalu membasmi umat manusia karena sudah tak berguna. Atau umat manusia akan dijadikan budak untuk membangun peradaban baru: peradaban robotik, lantas beberapa manusia unik akan didepak ke kebun manusia—sebagai ganti dari kebun binatang—lantas para manusia ini juga bisa diperjualbelikan layaknya hewan peliharaan atau budak belian. 

***

Selepas tiga bulan lamanya hidup begitu-begitu saja, sekonyong-konyong lelaki itu bagai nabi yang menerima wahyu dari malaikat. Dia dapat pencerahan dan menyadari, kalau dirinya hanyalah subjek eksperimen seseorang. Tak mungkin kiamat seperti ini. Kiamat wabah gila ini tak seperti kiamat yang dia ketahui dari ceramah guru ngaji yang pernah dia dengarkan ketika kecil. Sekonyong-konyong mencuat sekelumit ingatan masa kecilnya menginap di masjid dan tidur di dalam beduk agar menghindari salat subuh. Tapi kemudian dia mulai meragukan keyakinannya. Jangan-jangan guru ngajinya membual soal kiamat. Jangan-jangan guru ngajinya yang menerangkan kedetailan terjadinya kiamat diperoleh referensinya bukan dari kitab suci, tapi buku stensilan bergambar—seperti buku-buku siksa neraka dan nikmat surga. 

“Hidup tanpa seorang pun sebagai teman, sebagai kekasih, sebagai keluarga, sebagai saudara, begini membosankan.” 

Sekonyong-konyong dia teringat kisah yang pernah disampaikan guru ngajinya dulu, tentang manusia pertama yang diciptakan Tuhan. Adalah Adam yang tampak murung selepas beberapa masa di Taman Eden, karena didera kesepian. Lantas Tuhan menciptakan Hawa sebagai teman sekaligus kekasih baginya. Tak ada bedanya denganku: manusia waras di samudera zombi-zombi gila, pikirnya. 

Dia sering gabut mengajak ngobrol zombi-zombi gila itu. Menanyai mereka dengan ragam pertanyaan, dan sebagian besar, akan dijawab mereka dengan jawaban ngelantur tak nyambung. “Apa kau bahagia dengan hidupmu sekarang?”

“Bahagia sekali, hihihi. Sekarang aku akan bangun pagi bukan untuk pergi kerja, jaga hotel ini, jadi satpam, tapi bangun pagi untuk menaiki naga tiap hari keliling dunia, hihihi.” Jawab seorang satpam sinting di depan hotel. 

Kali lain dia bertanya ke manusia gila lain. “Apa bagimu hidup ini membosankan?”

“Tidak tidak tidak. Selama pacarku ini masih menemaniku, hidupku akan baik-baik saja.” Dia melongo, karena pacar yang dimaksud pemuda sinting yang ditanyainya adalah seekor anjing peliharaan yang lehernya terikat tali tuntun hewan. 

Dan seterusnya dan seterusnya. Lalu tabir pengetahuannya terbuka bahwa dia sekadar tokoh yang terjebak di cerita seorang pengarang—aku pengarang yang dimaksud. Maka muncullah perkataan sebagaimana di paragraf keempat: “Anjing! Keluarkan aku dari dunia ini.” Lalu muncul juga kedumelan-kedumelan sebagaimana di paragraf-paragraf selanjutnya—apalagi selepas mendapati kepalanya dilempar botol kaleng bekas 250 ml. 

Syahdan, aku iba juga dengan kondisi Frankenstein yang aku ciptakan itu. Justru sekarang dia ingin turut menjadi gila seperti manusia-manusia lainnya. Pikirnya, menjadi gila artinya menjadi bahagia, karena manusia yang waras artinya menjadi hampa di samudera zombi-zombi gila. Dia ingin menjadi Gyges yang melepas cincinnya. Maka, pada akhirnya aku menemuinya serupa Tuhan menemui Musa di Gunung Sinai. Aku menghampirinya yang tengah jalan-jalan bosan di sebuah taman—lokasi yang sebentar lagi berakhir mengenaskan seperti tempat-tempat lainnya karena tak ada yang urus. 

“Siapa kau?” 

“Duhai ciptaanku, ketahuilah aku pengarang yang menciptakanmu.” 

Anjing kocak, dari gelagatnya, dia menganggap aku juga orang gila. Dia menyangka, sebelum aku jadi gila begini, aku adalah sesosok penyair yang menulis puisi-puisi dan sama miskinnya dengannya. “Apa buktinya, hah?” dia menyeringai. 

“Lihatlah ini.” Sekonyong-konyong di tangan kananku muncul roti. Lalu tangan kiriku bergerak di udara: mengendalikan orang gila di dekat kami agar menuju ke arahku. Orang gila itu lantas memakan roti di tanganku. Selepas roti itu tak bersisa, tangan kananku mengeluarkan cahaya lalu memukul perut sang orang gila. Cahaya yang lebih tajam dari pedang mana pun itu bikin perut sang orang gila bolong—cahaya itu menembus pinggang belakang. Ketika sang orang gila sudah berkalang tanah, aku mengusap-usap bagian bolong itu, sekonyong-konyong abrakadabra perutnya kembali seperti semula: tak ada bagian yang bolong. Lalu aku menghidupkan kembali orang gila yang sudah mampus itu. 

“Mengapa matamu tak picek sebelah?”

Anjing kunyuk. Dia pikir aku Dajjal. “Hahaha, kurang ajar juga kau dengan pengarangmu sendiri.” 

“Nah begini dong. Enak. Ngomong itu biasa saja, tak usah dibuat-buat sok puitis. Pokoknya aku masih belum percaya katamu barusan.”
 

“Aku bisa melakukan hal yang sama padamu. Bahkan aku bisa melenyapkan dunia ini.”

Sekonyong-konyong di atas kepalanya muncul lampu kuning terang. Dia menatapku seperti tengah bercermin diri. “Hahaha. Aku senang sekali. Akhirnya aku akan jadi gila seperti mereka.”

“Apa maksudmu?”

“Kau masih tak paham ya? Hahaha.”

Aku terheran-heran. Tak ada sahutan keluar dari lisanku. Lalu dia melanjutkan ucapannya.

“Kau tak nyata. Kau halusinasi di kepalaku. Kau adalah aku. Aku adalah kau. Bukan kau yang menciptakanku tapi aku yang menciptakanmu. Hahaha.” 

Bagaimana mungkin omongan idiot itu benar? Tapi, apa iya kalau lelaki di depanku itu bukan Frankenstein yang aku ciptaan? Apa iya dunia apokaliptik ini, yang saban manusia di tiap penjurunya telah terpapar wabah gila, bukan dunia ciptaanku? Selepas aku renungkan dalam-dalam, satu-satunya alasan kalau omongannya boleh jadi benar karena aku pun tak tahu apa penyebab terjadinya wabah gila ini. Apa iya aku hanya halusinasi di kepala lelaki itu karena sekadar berkisah dari sudut pandangnya? Apa iya dunia ciptaanku bergeliat di luar kendaliku? Apa iya wabah gila ini awalnya proyek penghancur yang gagal, buatan Negara Adikuasa yang doyan perang dan hobi mengancam-ngancam negara lain supaya tunduk di bawah tiraninya? 

Pada akhirnya aku dan lelaki itu sepakat menanti pengarang yang menciptakan kami. Barangkali dia akan datang sekejap lagi. Kami terus menanti sampai matahari tenggelam. Esok sampai keesokannya lagi. Terus sampai seterusnya. Sampai matahari benar-benar terbit di barat, pengarang itu tak datang. Mendapati fenomena mengerikan itu, kami bergidik mampus lalu terkencing-kencing di celana. 

Surabaya, 04 Februari 2026

Persembahan untuk Mengenang Kurt Vonnegut


______

Penulis


Rosul Jaya Raya, penulis kelahiran Bekasi 2002, berdarah Madura, kini berdomisili di Surabaya. Masuk daftar 10 Emerging Writers Ubud Writers and Readers Festival 2025. Beberapa cerpennya memenangkan lomba kepenulisan cerpen. Bisa dihubungi di Instagram @rosuljayaraya24.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com



Puisi-Puisi Diana Rustam

Puisi Diana Rustam 




Epitaf


Di sini 

telah terbaring dengan gelisah

tubuh keadilan;

wajahnya babak belur

dihajar kepentingan

dan sumpah jabatan yang dilanggar.



Korupsi


Korupsi itu rajin olahraga:

setiap hari lompat pagar

dan lari dari tanggung jawab. 


Korupsi itu pandai sulap:

mengubah uang rakyat

jadi rumah megah

jadi mobil mewah.


Korupsi itu setia:

pejabat datang berganti-ganti

tapi ia tidak pernah beranjak pergi. 


Korupsi itu gemar selfie:

muncul di setiap berita

dengan pupur dan gincu

tapi tidak secuil pun membawa malu. 


Korupsi itu punya hobi unik:

mengoleksi tanda tangan rakyat

yang tak pernah merasa 

menandatangani apa-apa.



Narapidana


Pada suatu tengah malam 

sebuah buku diringkus

halaman-halamannya diborgol


Buku duduk di kursi pesakitan

dituduh meledakkan bom

di kepala seorang pemuda


Yang mulia hakim mengetuk palu:

“Buku ini berbisa,

karena mengajarkan cara berpikir

tanpa izin negara.”



Pemakaman Sejuta Followers


Ibumu wafat dengan tenang

dan kau sibuk memikirkan caption:

"Selamat jalan, Mamaku tercinta

yang kini trending di surga."


Ambulans menjelma studio berjalan

sirenenya cocok sekali untuk sound effect

para pelayat berebut layar ponsel

doa-doa diganti selfie 

yang asyik masyuk di samping nisan.


Penggali kubur tak sengaja masuk frame

langsung kautandai: #influencerkubur

bunga-bunga yang menutup liang

tak kalah harum dari notifikasi

yang datang bertubi-tubi.


Kini ibumu dalam perjalanan panjang

sementara kau sibuk begadang

menjawab komentar

menghitung like

dan menyiapkan konten baru:

"Tips bikin duka jadi peluang cuan."



Diseduh Notifikasi


Kaududuk di teras

mendengar derit waktu dari notifikasi ponsel

ada pesta di kota lain

ada tawa di kamar orang lain

ada bahagia yang tidak sempat kupinjam. 


Kau coba menulis puisi

tapi huruf-huruf tergesa

lari ke layar seberang

menjadi status orang asing

yang tampak lebih indah

dari nasibmu sendiri.


Sementara itu,

kopi di cangkirmu tetap hitam

direnangi lalat diam-diam

dan roti bakarmu, mendingin pelan-pelan.


Katamu hidup ini sederhana:

bernapas, makan, tidur, mencinta,

tapi kau selalu takut terlambat

seperti mengejar kereta yang

bahkan belum pernah kautumpangi.


Kausenyapkan notifikasi

kaupadamkan mata

lalu tiba-tiba, 

kau merasa paling sendirian

di tengah keramaian

yang bahkan tidak sempat

mengenalmu.


________

Penulis


Diana Rustam, menulis puisi dan cerpen. Beberapa  karyanya telah dimuat media daring. Saat ini penulis tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan. Instagram: dianarustam_


Kirim naskah ke 

redaksingewiyak@gmail.com



Saturday, May 2, 2026

Resensi Kabut | Pembuktian Bapak

Oleh Kabut




Yang menonton lagu, yang sendu atau terharu. Pada masa tua, Iwan Fals dan Ebiet G Ade berduet, membawakan lagu berjudul “Ibu”. Di situ, kita melihat bapak dan ibu uang usianya tua. Mereka tinggal di rumah dalam kesepian dan penantian. Anaknya yang sudah dewasa pergi. Hari-hari yang tanpa kabar. Bapak merasa bersalah atas sikapnya terhadap anak yang bergitar. Ibu dengan ketabahannya terus mengasihi anaknya. Ibu yang sangat menantikan anaknya pulang atau kembali.


Hari yang dinantikan tiba. Anak itu pulang. Kangen yang ditebus dengan makanan di atas meja. Bapak pun kembali ke rumah. Detik-detik ia bertemu lagi dengan anaknya membuat penonton cengeng. Keluarga itu utuh, setelah hari-hari yang menegangkan dan merindukan. Yang menikmati lagu berjudul “Ibu” mungkin ingin membuat cerita yang lain. Namun, film yang digarap untuk lagu itu membuat kita berpikir serius tentang keluarga.


Yang menyimak berita-berita dari Jogjakarta mengaku marah dan sedih. Kaum balita dalam derita para pengasuh yang memilih keuntungan ketimbang menaburi kasih. Berita itu melukai. Kita tentu tidak hanya berpikiran lembaga dan para pengasuhnya. Yang mesti dipikirkan adalah para ibu, yang semula menitipkan anak-anak di situ. Ibu yang sedih. Ibu yang mungkin berpikiran lagi atas perannya dalam mengasuh anak, tidak diserahkan kepada orang lain dengan cara memberi upah. 


Berita yang menyita pikiran atas makna keluarga abad XXI. Konon, orang-orang takut atau enggan menikah. Yang berani menikah memutuskan tidak mau punya momongan. Pasangan yang berjanji sebagai bapak dan ibu hanya ingin memiliki satu anak. Kita yang mengetahui situasi mutakhir mulai ikut goyah dalam pemaknaan keluarga. 


Apakah pemerintah boleh turut campur dalam urusan keluarga? Di Indonesia, ada kementerian-kementerian yang menerapkan beragam kewenangan untuk keluarga. Kita tidak mampu membuat rincian dan dampak-dampaknya. Keluarga masih urusan penting bagi negara, yang ingin maju dan terhormat di dunia.


Pada masa lalu, penguasa memiliki kepentingan terhadap keluarga-keluarga di seantero Indonesia. Yang dilakukan adalah menyediakan restu dan anggaran dalam penerbitan buku-buku cerita untuk anak. Tema yang menjadi andalan adalah keluarga. Mengapa penguasa memikirkan keluarga dalam arus keaksaraan di Indonesia? Yang pasti kita mengingat jargon pemerintah yang ingin menciptakan keluarga kecil dan bahagia. Dulu, yang dikehendaki rezim Orde Baru adalah dua anak, bukan memiliki banyak anak yang menjadi beban negara.


Pada 1975, terbit buku yang sangat tipis berjudul Ibu, Lekaslah Pulang yang ditulis oleh Bu Ati. Buku diterbitkan oleh Indrapress, yang mendapat anggaran dari pemerintah. Maka, buku tidak diperdagangkan melainkan dibagi ke ribuan perpustakaan. Apakah buku yang tipis menemukan pembacanya? Apakah buku itu diam selama bertahun-tahun?


Kita membaca (lagi) pada 2026. Yang terbaca adalah cerita yang semestinya dinikmati orang-orang pada masa 1970-an. Bu Ati mengisahkan keluarga (ibu, bapak, dan anak). Yang hadir cuma satu anak, namanya Neni. Keluarga yang berada di desa. Neni diasuh oleh bapak dan ibu, tidak perlu merepotkan pengasuh atau pembantu. Di situ, tidak ada kakek dan neneknya.


Cerita yang inginnya sederhana tapi seleranya tidak kental Indonesia. Yang membaca akan menemukan pengaruh dari sastra dunia. Yang ditulis adalah cerita pengasuhan dan kasih. Apakah pengarang sebelumnya sering membaca sastra dunia dalam mengawali penulisan cerita untuk anak-anak di Indonesia?


Pada suatu hari, ibu berpamitan pergi ke kota. Mengapa ia pergi? Yang dijelaskan pengarang: “Ibu perlu membeli baju, taplak meja, dan keperluan dapur di kota. Kau tunggu rumah dengan bapak.” Pesan yang diberikan kepada Neni. Padahal, Neni ingin ikut, ingin merasakan kenikmatan bepergian dan berbelanja. Ibu sudah memutuskan bahwa Neni di rumah. Yang bertanggung jawab adalah bapak dalam masalah-masalah di rumah.


Bapak menunaikan misi pengasuhan. Peristiwa yang tercipta pada pagi hari: “Neni sudah cantik sekarang. Memakai rok kembang berwarna kuning. Rambutnya diikat menjadi dua. Pitanya berwarna kuning.” Neni diajak bapaknya naik sepeda. Mereka berkeliling desa melihat pemandangan. Neni merasa senang. Kita mendapat bukti awal bahwa bapak mampu bertanggung jawab.


Peristiwa yang dipentingkan oleh pengarang: makan malam. Bapak mengajak Neni untuk makan. Nasi dan lauk sudah tersedia di lemari. Berdua menikmati makanan tanpa kehadiran ibu. Mengapa ibu belum pulang? Yang pasti jarak desa dan kota sangat jauh. Maka, yang terjadi pada anak: “Ia murung dan hilang seleranya. Ia ingat ibu yang sedang pergi. Biasanya makan dengan ibu lebih gembira.” Para pembaca disadarkan bahwa pengaruh ibu lebih besar ketimbang bapak. Yang terpenting bapak sudah membuktikan tanggung jawab bahwa anaknya makan, tidak kelaparan. 


Yang harus dibuktikan saat malam adalah menjadikan Neni nyaman dalam tidurnya. Namun, harapan itu susah terwujud. Neni masih kepikiran ibunya. Yang diharapkan, ibu lekas pulang. Susah tidur, Neni malah melihat bintang-bintang di langit. Neni pasti berada di desa yang masih jarang penduduknya. Artinya, pemandangan langit atau alam tidak terhalang oleh banyak bangunan. Neni merasakan ketakjuban. Bintang-bintang yang memberikan keindahaan saat dirinya menanti ibunya. Apa yang dilakukan bapak?


Anjuran agar Neni lekas tidur tidak manjur. Sehingga, bapak harus mencari cara agar malam itu terasa indah, bukan sedih dan penantian. Peran terakhir ayah adalah memberikan cerita atau dongeng. Berhasil! Neni terlena cerita, akhirnya dapat tidur meski telat.


Bu Ati mungkin berpesan bahwa ibu perannya sangat besar. Ibu yang tidak berada di rumah sehari saja dapat menimbulkan kebingungan, kesalahan, keraguan, kerinduan, dan kegagalan. Beruntungnya, bapak yang diceritakan mampu mengganti peran ibu. Kita semestinya meralat: “mengganti”. Apakah yang benar saling melengkapi agar tidak terjadi diskriminasi? Cerita yang ditulis Bu Ati diniatkan menjadi bacaan anak-anak Indonesia. Namun, yang selesai membacanya akan merasakan pengaruh sastra asing atau dunia. Artinya, cerita itu tidak dekat dengan kenyataan-kenyataan di Indonesia


______


Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Resensi Yuditeha | Luka-Luka yang Dihasilkan

 
Oleh Yuditeha


Judul Buku : Silsilah Luka Perempuan

Penulis : Yulita Putri

Penerbit : Press Mesin

Cetakan : November 2025

Halaman : VI+102 hlm, 12x18 cm

ISBN : 978-623-693-780-8

 

Tragedi perempuan bukan pada satu peristiwa dramatis, melainkan pada kebiasaan. Pada rutinitas yang dianggap biasa. Pada kalimat-kalimat kecil yang diucapkan tanpa rasa bersalah. Pada keputusan-keputusan yang tampak masuk akal, padahal sedang menanam bom.

 

Kumpulan cerpen Silsilah Luka Perempuan karya Yulita Putri (diterbitkan oleh Press Mesin, November 2025) seperti membuka album yang tak pernah dipajang di meja tamu. Sebelas cerpen di dalamnya bukan sekadar cerita perempuan tersakiti, melainkan tentang bagaimana luka dihasilkan, dirawat, diwariskan, dan dibenarkan. Buku ini memang tidak menawarkan reaksi yang membuat dada pembaca sesak, atau mata berkaca-kaca. Ia membuat kita terdiam, lalu pelan-pelan merasa bersalah.

 

Dalam "Dipermainkan Takdir", kita tidak sedang diajak menghakimi seorang ibu yang hilang kendali, tapi lebih melanjangi kesepian mental perempuan lelah, yang tidak pernah diberi ruang untuk mengaku ringkih. Di sana, depresi tidak dianggap penting. Ia hanya dikomentari kurang bersyukur atau ibu lain biasa saja. Kalimat-kalimat yang akrab di telinga masyarakat. Cerpen ini memberi kejut, betapa mudahnya kita memuja ibu simbol pengorbanan, tapi enggan mengakui bahwa ibu juga bisa remuk.

 

Keremukan itu tidak berhenti di satu tempat. Dalam "Anak-Anak dari Rumah Retak", kekerasan hadir seperti warisan. Seorang anak lelaki menganggap kekerasan kepada teman perempuannya sebagai permainan, karena sejak kecil menyaksikan ayah memukul ibu. Kekerasan adalah tontonan sehari-hari. Cerpen ini terasa dakwaan sosial yang sulit disangkal. Ada sesuatu mengendap di sana, jika seorang anak bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa menyakiti perempuan adalah wajar, maka ada sistem nilai tertentu  di sana, rumah menjadi sekolah pertama patriarki.

 

Cerpen "Sebelum Segalanya Jadi Penyesalan", bergerak di antara kertas dan keberanian jujur. Surat Ningsing adalah usaha menolong adiknya, tetapi juga bermakna sebagai sarana membuka luka rumah tangganya. Penderitaan, pengkhianatan, dan poligami yang lama disembunyikan. Surat menjadi saksi pahit. Ketika selesai, yang tertinggal bukan sekadar harapan agar sejarah tak terulang, melainkan getir bahwa kejujuran lahir saat penyesalan sudah mengintip.

 

Dalam cerpen "Warisan Api dari Tangan Ibu", luka yang muncul jelas dari tindakan, sebuah rahasia, manipulasi, dan moral ganda. Ia bukan sekadar warisan, tetapi hasil dari pilihan yang disembunyikan. Ketika kebenaran terbongkar, rupanya yang muncul adalah kesadaran bahwa luka itu dibuat, dipelihara, dan diturunkan.

 

Yulita tidak berhenti pada relasi suami-istri atau orangtua-anak. Ia juga menyusup ke wilayah lebih intim dan tabu. "Malam, Biarkan Sekali Saja Aku Bernapas", memperlihatkan bagaimana perkawinan dapat menjadi ruang legitimasi pemaksaan. Tidak ada adegan sensasional. Justru karena itu terasa nyata. Di banyak rumah, tubuh perempuan masih dianggap fasilitas. Persetujuan sering kali tidak sungguh-sungguh ditanyakan. Hanya ada kewajiban. Cerpen itu terasa bisikan getir di tengah wacana terkait kekerasan seksual. Yulita menulis hal itu diibaratkan kejadian biasa, bahkan mungkin rutinitas. Dan rutinitas jauh lebih menakutkan daripada ledakan.

 

Dalam "Perempuan yang Dilahirkan Luka dan Janji Lela", pilihan menjadi pekerja seks tidak ditempatkan sebagai jatuhnya moral, melainkan simpul dari banyak kebuntuan. Ekonomi minim, keluarga retak, janji dan utang menumpuk, semuanya membawa ke lorong gelap hingga mendorong perempuan mengambil keputusan yang sebelumnya ia kutuk. Yulita tidak mendramatisir, ia hanya menunjukkan bahwa dalam ketimpangan sistem, tubuh perempuan sering menjadi mata uang terakhir. Sementara itu, masyarakat gemar menghakimi perempuan yang menjual tubuhnya, tapi jarang bertanya siapa pembelinya.

 

Cerpen "Mengapa Tuhan Tak Menjadi Mama" terasa lembut di permukaan, namun menyimpan kritik tajam. Seorang anak kecil baru mengalami haid pertama kali menulis surat kepada Tuhan karena ibunya tak mampu menjawab pertanyaannya. Cerpen ini sederhana, polos, dan hampir lugu. Tetapi di situlah letak gugatnya. Mengapa pendidikan tentang tubuh perempuan masih dibungkus rapi? Mengapa darah dianggap aib? Dan mengapa perempuan kecil harus belajar sendirian tentang sesuatu yang akan ia alami seumur hidup? Yulita seolah ingin mengatakan, luka tidak selalu lahir dari hal besar. Ia bisa muncul dari ketidaktahuan yang diturunkan.

 

Ada pula "Poetri Mardika". Menghadirkan sosok seniman perempuan cerdas dan progresif. Ia bicara tentang empati, kekerasan seksual, dan kesenjangan sosial. Namun ia juga mengakui bahwa banyak karyanya meminjam pengalaman orang lain. Cerpen sindiran terhadap dunia intelektual dan kesenian yang kerap menjadikan luka sebagai bahan estetika. Apakah empati cukup, atau kita sedang mengarsipkan derita demi reputasi?

 

Di bagian akhir, Menghapus Masa Lalu, membawa pembaca pada wilayah yang nyaris surealis. Sosok peri menawarkan jasa menghapus ingatan paling menyakitkan. Ketika tokoh ingin menghapus peristiwa pelecehan oleh figur berkuasa di kampus, kita tiba-tiba sadar bahwa masalahnya bukan sekadar ingatan. Menghapus masa lalu mungkin mengurangi beban korban, tetapi tidak menghapus pelaku dan sistem yang melindunginya. Cerpen ini menyentuh denyut zaman, ketika banyak korban mulai bersuara, apakah keadilan berarti melupakan, atau justru mengingat dengan keras kepala?

 

Keterkaitan dari kesebelas cerpen ini terasa jelas. Luka perempuan di dalamnya bukan insiden tunggal. Ia berlapis, berulang, dan sering disamarkan oleh kata-kata seperti sabar, ikhlas, atau kewajiban. Buku ini memperlihatkan bagaimana keluarga bisa menjadi ruang perlindungan sekaligus ruang produksi trauma. Bagaimana ibu bisa menjadi penyelamat sekaligus bagian dari skema reproduksi. Bagaimana cinta bisa bercampur dengan batasan, dan bagaimana agama, moral, serta tradisi kerap dipakai untuk merapikan ketimpangan.

 

Tidak ada usulan pahlawan. Tidak ada tokoh yang benar-benar menang. Bahkan ketika ada perlawanan, ia diiringi rasa salah dan bingung. Seakan perlawanan perempuan tetap harus membayar harga emosional. Buku ini tidak menawarkan harapan, Yulita hanya mengajak pembaca duduk lebih lama bersama ketidaknyamanan.


Dan setelah kita menutup halaman terakhir, mungkin bisa jadi sadar bahwa silsilah luka bukan hanya milik tokoh. Ia milik kita. Luka itu tidak jatuh dari langit. Ia lahir dari keputusan-keputusan kecil yang dianggap normal. Luka-luka itu dihasilkan.

 

________

Penulis

 

Yuditeha,

Menjadi lebih mudah membaca ketika hati sedang berantakan.

 

Kirim naskah ke redaksingewiyak@gmail.com