Pendaftaran #Komentar Masuk Sekolah/Kampus
View AllProses Kreatif
Dakwah
Redaksi
Latest News
Saturday, June 20, 2026
Resensi Kabut | Kerbau dan Taubat
Resensi Yuditeha | Sejarah yang Membunuh Berkali-kali
Resensi Yuditeha
Judul Buku: Kebaya Merah di Tebing Kanal
Penulis: Martin Aleida
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
(BPK)
Cetakan: 2025
Halaman: xxiv + 88 hlm, 13x19 cm
ISBN: 978-623-523-762-6
Martin Aleida termasuk jenis penulis yang menulis tidak untuk menyenangkan,
melainkan untuk mengganggu. Sejak lama, karyanya bukan ruang hiburan, melainkan
ruang sidang: tempat korban dihadirkan, pelaku tidak tampak, dan pembaca
dipaksa menjadi juri tanpa palu. Ia konsisten berpihak pada yang kalah, tahanan
politik, buruh, perempuan yang dilumat sejarah, orang-orang yang hidupnya hanya
menjadi catatan kaki dalam buku negara.
Aleida (saya lebih suka menyebut nama belakangnya), menulis bukan untuk
meromantisasi penderitaan, tetapi untuk membongkar bagaimana penderitaan itu
dibuat, diwariskan, akhirnya dinormalkan. Ia tidak percaya pada sejarah resmi.
Dalam dunia Aleida, sejarah selalu berantakan, berdarah, dan meninggalkan bau busuk
yang tak mudah hilang. Dan Kebaya Merah
di Tebing Kanal adalah salah satu buktinya.
Kumpulan cerpen ini seperti museum luka, tetapi tanpa kaca pengaman.
Pembaca tidak diajak melihat dari jauh, melainkan diseret masuk, dipaksa
menyentuh, dan mencium bau lembap trauma yang belum kering. Yang menarik,
Aleida tidak menjual tragedi sebagai tontonan. Ia justru menulisnya dengan nada
tenang, nyaris datar, seolah berkata: beginilah hidup bekerja, kejam tanpa
perlu teriak.
Cerpen “Kebaya Merah di Tebing Kanal”, yang menjadi judul buku, bisa dibaca
sebagai pintu masuk paling representatif. Di sana, kebaya merah bukan sekadar
busana, tetapi simbol tubuh yang menolak lupa. Rubiah tidak mati karena sedih
semata, tetapi karena ingatan yang tidak diberi tempat dalam sejarah resmi.
Ayahnya dibunuh, ibunya dipenjara, hidupnya terombang-ambing sampai Eropa.
Kanal menjadi semacam metafora sejarah modern: tampak tenang di permukaan, tapi
menyimpan arus kematian di bawahnya.
Aleida seolah ingin mengatakan: migrasi tidak selalu berarti penyelamatan.
Suaka politik bukan jaminan kesembuhan. Trauma tidak mengenal paspor. Ia bisa
menyeberangi benua, menyusup ke rumah-rumah, dan tetap membunuh dari dalam.
Benang merahnya terasa di hampir semua cerita: tokoh-tokohnya hidup, tapi
sekarat. Mereka bernapas, bekerja, menikah, bahkan bercinta, tetapi selalu
membawa sesuatu yang belum selesai. Dalam “Lelakiku”, misalnya, kekerasan tidak
datang dari musuh, melainkan dari rumah sendiri. Bapak yang memukul, suami yang
tampaknya memang baik, negara yang membuang, semuanya seakan bersekongkol
membentuk satu pesan, perempuan tidak pernah punya ruang aman.
Yang menarik, Aleida tidak membuat tokoh suami sebagai penjahat
karikatural. Ia justru digambarkan tulus, halus, dan rasional. Di sinilah ironi
bekerja: kebaikan bisa menjadi bentuk kekerasan baru ketika ia membela sistem
yang membunuh. Kalimat suami dalam cerita itu seperti ringkasan moral buku ini,
kejahatan negara selalu datang dengan dalih hukum, ketertiban, dan logika
waras.
Dalam cerpen-cerpen lain, Aleida memperluas medan luka, dunia kerja yang
dingin (Perkenalkan, Uno), masa pensiun yang hampa (Tukang Urut di Tepi Danau),
hingga kamp tahanan yang menjadikan tubuh perempuan sebagai barang rampasan (Segulung
Kertas Kecil di Ubi Rebus). Semuanya berbicara dalam satu bahasa, sejarah tidak
pernah netral, ia selalu punya korban yang namanya kadang sengaja
disembunyikan.
Yang membuat buku ini tidak jatuh menjadi arsip penderitaan adalah sikap
Aleida terhadap tokohnya. Ia tidak mengasihani mereka secara murahan. Ia
memberi mereka martabat, kemampuan memilih, menolak, bertahan, bahkan mencintai
di tengah reruntuhan. Tokoh-tokoh Aleida bukan pahlawan, tetapi juga bukan
korban pasif. Mereka adalah manusia yang mencoba hidup di dunia yang secara
sistematis menolak kemanusiaan mereka.
Di titik ini, Kebaya Merah di Tebing
Kanal bisa dibaca sebagai kritik terhadap cara kita memperlakukan masa
lalu. Di Indonesia, sejarah sering didandani seperti ruang tamu, bersih, rapi,
dan penuh foto resmi. Aleida justru membuka toilet, tempat darah menetes, air
mata mengering, dan bau busuk yang tak bisa disembunyikan.
Yang tajam dari buku ini adalah kesadarannya bahwa tragedi politik bukan
hanya soal tahun dan peristiwa, tetapi soal dampak jangka panjang terhadap
relasi manusia. Kekerasan negara tidak berhenti saat senjata diturunkan. Ia
menjelma menjadi keluarga yang retak, tubuh yang trauma, cinta yang cacat, dan
ingatan yang menolak lenyap.
Dalam cerpen “Tukang Urut di Tepi
Danau”, misalnya, pilihan tokoh Aku untuk membantu penyintas kusta dan
menolak jenderal bukan sekadar moral personal, tetapi pernyataan politik sunyi,
di dunia yang dikuasai kekerasan struktural, kebaikan kecil adalah bentuk
perlawanan paling radikal. Bukan heroisme, melainkan keteguhan sehari-hari
untuk tidak ikut menjadi algojo.
Sementara itu, “Segulung Kertas Kecil di Ubi Rebus” mungkin adalah cerita
paling telanjang dalam menampilkan tubuh sebagai medan politik. Cinta, seks,
penjara, pengkhianatan, dan harapan bercampur tanpa romantisme. Ubi rebus yang
diselipi surat menjadi simbol yang sangat Aleida, bahwa harapan selalu datang
dalam bentuk paling sederhana, tapi sering disampaikan di tempat paling kejam.
Jika harus ditarik satu simpulan besar, maka buku ini bisa diringkas dalam
satu kalimat: Sejarah tidak membunuh kita
sekali, tetapi berkali-kali, melalui ingatan yang tidak pernah diberi hak untuk
sembuh.
Aleida seolah menertawakan gagasan move
on yang sering kita banggakan. Dalam dunia cerpen-cerpen ini, move on adalah kemewahan kelas menengah.
Bagi korban sejarah, yang ada hanyalah bertahan, menyimpan, dan kadang
menenggelamkan diri, secara harfiah maupun simbolik.
Yang membuat buku ini tetap relevan, meski berbicara tentang masa lalu,
adalah keberaniannya menunjukkan bahwa pola kekuasaan tidak banyak berubah.
Hari ini kita mungkin tidak lagi menyebut PKI, Kamp Gandhi, atau Bukit Duri,
tetapi mekanismenya tetap sama: siapa yang menguasai narasi, dia yang
menentukan siapa korban dan siapa penjahat.
Membaca Kebaya Merah di Tebing Kanal
bukan sekadar membaca kumpulan cerpen, melainkan membaca ulang cara kita
memahami sejarah. Ini bukan buku nostalgia, melainkan buku peringatan. Ia tidak
menawarkan rekonsiliasi manis, apalagi penebusan. Yang ia tawarkan hanyalah
satu hal yang jarang kita sukai, yaitu ingatan yang jujur.
Dan mungkin di situlah posisi paling berbahaya dari buku ini, ia menolak
memberi kenyamanan. Ia membuat pembaca sadar bahwa banyak luka yang belum
sembuh. Seperti Rubiah, Halawiyah, dan tokoh-tokoh lain dalam buku ini, kita
semua hidup di tepi kanal sejarah, mengenakan kebaya masing-masing, mencoba
terlihat baik-baik saja, padahal air di bawah terus mengalir membawa mayat.
______
Penulis
Yuditeha
Menjadi lebih mudah membaca ketika hati sedang berantakan.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com
Tuesday, June 16, 2026
Proses Kreatif | Kesetanan Membeli Buku
Oleh Encep Abdullah
Sejak akhir 2025, saya seperti orang gila, kerasukan bin kesetanan membeli buku. Menu beranda media sosial saya saat ini yang muncul 80% orang jualan buku. HP saya pun saat ini disesaki nomor kontak penjual buku. Dalam seminggu, saya bisa beli online 2--3 kali dengan pengeluaran yang bervariasi bergantung seberapa banyak saldo di rekening saya. Makin banyak saldonya, makin banyak pula yang saya beli, padahal tidak butuh-butuh amat. Saya tidak tahu, apakah kejiwaan saya ini sedang terganggu atau tidak. Tapi, kenyataannya begitu.
Gejala ini belum pernah saya alami sebelumnya. Satu habit baru dalam hidup saya: kecanduan beli buku online! Biasanya
saya beli buku saat liburan atau mudik ke rumah istri—ke toko Gramedia BSD. Itu pun mungkin 3--5 bulan sekali. Kali ini, saya tak
perlu menunggu liburan. Asal ada saldo di rekening, pasti langsung checkout buku.
Kali ini saya kerasukan buku-buku bekas (ori) atau buku terbitan lawas yang
sudah berdebu, menguning, bahkan sebagian sobek atau dimakan rayap. Seorang penjual
bilang bahwa buku yang saya pesan itu sebagiannya sudah disantap rayap. Saya bilang, ”Makin
ada bekas gigitan rayap, makin otentik.” Mungkin penjual buku itu bilang saya
kurang waras. Ah, biarkan! Memang faktanya begitu. Saya sedang senang meraba
dan menghidu buku-buku lawas. Imajinasi saya jadi melanglang buana.
Biasanya, kalau saya punya uang, saya memilih jalan-jalan, makan-makan,
atau foya-foya traktir orang. Bahkan, untuk iseng membeli rokok saja, rasanya
eman (sayang)—saya bukan perokok aktif, sekadar iseng-iseng saja kalau nongkrong.
Dulu, kalo nongkrong-nongkrong, tak perlu pikir panjang beli rokok, ini dan
itu. Sekarang mikir, lebih baik buat beli buku. Imbasnya adalah kepala saya
jadi makin pusing. Tiap minggu nongol buku baru. Rak buku makin penuh.
Ujung-ujungnya harus mengeluarkan duit lagi buat beli rak buku. Terus saja
begitu. Bisa jadi, per 2--3 bulan kalau begini terus, rumah saya lemari buku
semua. Tapi, bukannya itu yang saya mau?
Saya memang punya rencana punya perpustakaan pribadi yang kelak bisa dibuka
untuk umum. Saya termasuk orang yang anti minta-minta sumbangan buku. Saya
lebih senang membeli pakai duit sendiri. Lebih puas. Tapi, tidak menolak juga
bila ada yang mau donasi buku, silakan. Namun, pilihan untuk menabung-membeli
buku sendiri masih saya pertahankan. Toh, buku tidak basi. Bila nanti saya bosan
dan mau saya jual, tinggal jual saja. Bahkan, beberapa bisa dijual lebih dari
harga aslinya—terutama buku-buku langka.
Yang jadi masalah--bahkan saya khawatirkan--mental saya pelan-pelan berubah
menjadi tukang timbun buku yang sedikit-sedikit berpikir kelak buku-buku langka, bekas, atau
lawas itu jadi duit lagi. Jadi, pikiran materialistis, bukan sebagai pembaca
atau penggali ilmu. Ada pikiran semacam itu. Tapi, menimbun buku, sepertinya
berbeda dengan menimbun benda lain. Buku-buku bisa bermanfaat untuk siapa pun. Mungkin
keluarga saya, tetangga saya, murid-murid saya, atau siapa pun yang mau membaca
buku. Hanya, pikiran membeli buku untuk menjualnya kembali itu menjadi satu pantangan
besar saya sebenarnya. Saya membeli buku untuk dibaca bukan untuk dijual. Saya
pun sangat selektif. Tidak semua buku saya beli. Ada buku yang saya beli karena
kangen dengan buku lama yang hilang, ada yang karena memang langka, ada juga
karena saudara saya ingin pinjam buku tertentu tapi saya belum punya dan
terpaksa saya harus beli—sebagai bentuk dukungan bagi mereka yang ingin
meningkatkan minat baca bukunya, sekaligus menjaga harga diri saya, masa buku
seterkenal itu misalnya saya tidak punya.
Saya beruntung. Istri saya tidak ngoceh-ngoceh saya suka borong buku. Ia
tahu, urusan dapur, kosmetik, itu nomor satu. Saya penuhi dulu semua itu. Jadi,
tidak ada diskriminasi antara kebutuhan dapur (perut) dan otak--untuk tidak menyebut "nafsu". Malah, kemarin
istri saya dan anak-anak menemani saya ke bazar buku yang diselenggarakan oleh Perpusda Banten. Lucu sih, ya borong buku online, ya borong buku offline juga. Dan, sekali beli buku offline minimal keluar 500 ribu.
Sampai akhirnya saya mikir, Kenapa saya cuma beli buku di tempat bazar begini? Kenapa tidak
coba dijualin ke orang-orang, mumpung diskon gede-gedean! Otak penjual saya
tiba-tiba muncul. Saya merasa tidak mau rugi kalau datang ke bazar buku cuma buat beli buku pribadi doang.
Sepulang dari bazar, saya bilang ke istri saya bahwa besok saya mau balik
ke bazar lagi. Istri saya bilang, "Mau ngapain?" Saya jawab, "Mau jualan buku." Tapi, saya tidak mau borong semua bukunya dulu, belum tentu ada yang mau beli. Istri
saya memberi saran, kenapa tidak difoto saja, kirim ke media sosial atau grup
WA, siapa yang mau beli, ada jasa titip (jastip). Ini agak konyol buat saya
karena belum pernah saya lakukan—eh, pernah sih kayaknya dulu zaman kuliah, mungkin
semangat masa lalu ini yang muncul kembali. Akhirnya, saya foto dan saya kirim
ke beberapa grup WA dan media sosial. Ada beberapa yang kecantol.
Alhamdulillah, dapat 200—250 ribu dalam sehari itu lewat jasa titip. Tetap saja
belinya saya talangi dulu pakai duit pribadi—karena mereka tidak transfer lebih
dulu. Seru juga memanfaatkan waktu kosong hari itu dengan jastip buku macam
ini. Malamnya, saya lihat lemari buku, ada beberapa buku yang saya punya ternyata dobel.
Saya kepikiran dijual saja. Saya posting, tak lama laku juga. Dapat lagi 250 ribu.
Saya punya pikiran "jahat". Bagaimana kalau semua buku yang saya punya saya
jual? Kalau saya jual kayaknya—setelah saya hitung-hitung—saya bisa dapat duit
50 juta. Wah, sebenarnya saya banyak duit juga ya. Saya mikir, ternyata ini aset masa
depan saya buat dijual. Pikiran macam itu
muncul lagi dalam kepala saya. No! No! Niat saya
punya perpustakaan yang bisa dinikmati banyak orang.
Ah, soal buku memang tak bisa lepas dari persoalan ilmu, duit, manfaat, dan masa depan. Hidup
saya mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi, melototin buku. Di sisi lain, yang lebih esensi, buku-buku itu menjadi terapi tersendiri bagi saya sebagaimana orang lain yang mungkin terapi dengan
ikan dan bunyi air di akuarium.
Suatu hari, saya coba cek-cek lagi lemari buku saya, ternyata memang banyak buku yang saya beli karena
nafsu, bukan karena butuh. Akhirnya, saya lihat jadi seperti "sampah" juga. Ada niat mau saya
jual lagi dan saya belikan buku-buku lain yang memang punya dampak buat saya, atau
yang lebih sesuai dengan passion saya atau kebutuhan banyak pembaca. Beberapa buku ini memang
buku terjemahan yang sepertinya agak susah dibaca (diminati) oleh pembaca awan maupun
pembaca serius. Pantas saja orang tersebut menjualnya borongan dan murah.
Ternyata ini yang saya rasakan: tidak terlalu dibutuhkan. Kamu mau? Mungkin ada 50 buku (novel
terjemahan, dewasa) bekas, bisa saja jual 5--7 ribu per buku.
Kalau dipikir-pikir lagi, untuk apa saya pusing jualan buku? Toh, saya ini kan CEO Penerbit #Komentar. Haha! Setiap
ada yang cetak buku, ya esensinya sama saja saya sedang jualan buku. Malah "lebih banyak" duitnya ketimbang harus beli buku orang, terus dijual lagi. Menurut
saya, sekadar jualan buku (termasuk jualan buku karya sendiri), kok, saya merasa kurang gereget ya. Seperti tidak
ada kerja intelektual karena sekadar posting tanpa harus ribet ini
dan itu—padahal mungkin ada ilmu marketing-nya dan saya tidak terlalu menekuni dunia itu secara jalur "akademis"—, sedangkan
saat saya mengurusi proses penerbitan buku, di sana jauh lebih menantang, merasa
ada kerja intelektual (edit naskah, dll.). Dan,
ini soal skill. Skill itu didapatkan dari pengalaman dan belajar yang
terus-menerus. Membaca buku terus-menerus juga mungkin bisa melahirkan skill. Begitu juga dengan terus-menerus jualan buku--tentu yang jualan serius, ya. Bisa jadi skill yang terlatih itu yang akan
menghidupimu. Manusia tanpa skill, ia akan mati dibunuh ketidakberdayaannya
sendiri.
Apakah Anda termasuk manusia seperti saya? Kayaknya tidak! Mungkin ini terkesan "sombong". Skill saya mungkin segmented, tidak semua orang bisa. Dan, itu skill yang mungkin sudah terlatih belasan tahun. Untuk bisa menjadi seperti saya hingga di titik ini, mungkin Anda butuh waktu belajar selama itu juga, malah bisa jadi lebih lama. Skill di luar proses kerja keras saya, dengan segala kemudahannya, tentu saja adalah giving/karunia dari Tuhan semata. Oleh sebab itu, saya jadi mempertimbangkan lagi dengan judul tulisan ini, harusnya bukan "Kesetanan Membeli Buku", mungkin bisa kita ganti menjadi "Kemalaikatan Membeli Buku" atau "Keilahian Membeli Buku"? Si "setannya" biar hilang. Namanya "setan", Anda tahu sendiri!
Kiara, 16 Juni 2026
________
Penulis
Encep Abdullah, Dewan Redaksi NGEWIYAK. Kolom ini adalah [harusnya menjadi] tempat curhatnya tiap pekan walau sering kali banyak alpanya sejak Indonesia ganti presiden. Buku proses kreatifnya yang sudah terbit antara lain Ihwal Menulis dan Menjadi Penulis (2024) dan buku esai terbarunya Orang Gila Sebelum Menulis Esai (2026).
redaksingewiyak@gmail.com
Sunday, June 14, 2026
Cerpen Indri Anisa | Tanjung Horn Bersaksi
Cerpen Indri Anisa
Mengarungi samudera luas dari
Miami, Florida, ke Valparaiso, Chili, dan pemberhentian akhir ke Buenos Aires, Argentina.
Berlayar dengan kapal pesiar megah bernama Fortezza dibangun
pada tahun 2005 oleh galangan Italia. Disebut sebagai keajaiban dunia karena
rekam jejak pelayaran fantastis dengan rute-rute panjang dan berbahaya.
Salah satunya Tanjung Horn—rute mengerikan yang membuat banyak kapal berputar balik karena badai kematian—bahkan tumbang ke dasar karang, ditelan derasnya gelombang laut, atau juga kabut yang membutakan navigasi kapten hingga batu raksasa itu menghantam tubuh kapal. Banyak diantaranya tidak pernah kembali—abadi di Tanjung Horn yang memiliki keindahan bak surga dunia. Namun, Fortezza milik Cuore dell’Oceano tidak pernah gagal dalam pelayaran ... tidak sampai mereka melanggar sisi kemanusiaan.
***
“Paloma Dove,
kau berjanji dalam perjalanan kali ini akan mendapatkan inspirasi brilian. Jika
kau kembali tanpa membawa berita yang luar biasa maka saya pastikan ini menjadi
perjalanan terakhir dalam hidupmu.” Tuan Redaksi melempar boarding pass dan tiket ke dada Paloma kasar.
Paloma tak
bersuara selain mengangguk datar. Tungkai panjangnya melangkah sambil menggeret
koper menuju gangway dan masuk
melalui geladak utama. Ia disambut seorang kru kapal berwajah tampan dengan
lengkungan bibir hampir setengah wajah.
“Hallo, Tuan.
Selamat datang di kapal Fortezza milik Cuore dell’Oceano. Saya Luca akan
mengantar Anda, Sebelumnya boleh saya lihat tiketnya?” Luca mengulurkan tangan.
“Baik terima kasih. Anda berada di mid-decks
dengan fasilitas yang cukup baik dan nyaman,” Ia menjelaskan sepanjang langkah
dari mulai sejarah hingga fasilitas.
Paloma
sekadar mangangguk dan tersenyum kaku, sedangkan jarinya sibuk mencatat melalui
tabletnya setiap informasi yang diberikan.
***
Paloma sudah
menelusuri setiap geladak. Banyak tangga, ruangan, dan tatanan yang terbagi
sesuai harta. Atas, tengah, dan bawah menandakan struktur kerangka kapal megah
itu.
“Di atas Anda mendengar gemuruh angin segar, tawa elegan dan dentingan
gelas-gelas kaca. Di bawah Anda mendengar rintihan meraung panas, pengap maraup
udara segar, dan sesekali tangis balita yang pecah. Bagimana dengan yang di
tengah? Ouh itu hanya orang-orang yang tidak bisa merangkak ke atas sekuat
apa pun bekerja dan tidak pula menjadi bagian bawah karena cukup mampu membayar
pajak-pajak negara.”—catatan Paloma Dove.
Namun, malam itu berbeda. Angin darat yang biasanya dingin dan kering berubah drastis karena pusaran laut yang terbentuk. Angin berputar kencang disertai gerimis hingga kapal berguncang—terombang-ambing dan lepas kendali. Meninggalkan jalur navigasi yang biasa dilalui. Walau bulan purnama terang benderang dan bintang-bintang sedang berpedar, namun kabut tebal tetap membatasi pandangan. Hebatnya semua masih tenang karena bagi para kru kapal dan kapten ini tantangan baru dan pengalaman fantastis. Jalan cerita yang akan membuat mereka melambung tinggi dan kian dipercaya mengendalikan kapal megah itu. Kesombongan yang nyata. Sampai dentuman kasar, keras dan penuh amarah itu terlepas ke tubuh kapal bagian depan sebelah kiri.
Jerit
histeris, tangis yang pecah dan umpatan bersatu—bunyi melodi gelas-gelas kaca,
guci-guci cantik dan segala peralatan mahal lainnya pecah menjadi beling-beling
tak berharga. Di ambang kehancuran itu tidak ada yang peduli selain nyawa
masing-masing. Berlarian kocar-kacir menuju geladak teratas. Berharap tak ikut
tenggelam jika berada di puncak.
Ketika air
mulai merambak naik memasuki bagian kapal yang bocor akibat benturan, semua kru
berusaha mencari solusinya. Namun itu mustahil karena kerusakan lebih parah
dari apa yang mereka bayangkan, dari apa yang pernah mereka hadapi.
“Semuanya
dengarkan! kapal ini bisa saja tenggelam.“ Sang Kapten meraup wajah kasar kala
keributan terus pecah. “Namun kami sedang berusaha mencari celah yang
bermasalah itu untuk memperbaikinya secepat mungkin, kami juga sudah meminta
bala bantuan. Tapi, itu butuh waktu dan kami ingin setiap orang di kapal ini
membantu mengurangi beban pada kapal agar memperlambat tenggelamnya kapal ini.”
“Tidak usah
bertele-tele, Kapten. Apa yang bisa kami bantu, hah? kau tidak akan membiarkan
kami mati konyol di laut lepas dan menjadi santapan paus, kan?” ucap Necis,
seorang pria dengan penampilan apik, modis dan elegan khas konglomerat generasi
ketiga.
“Ya, tentu
tidak, Tuan Necis Walles. Jadi, kami menghimbau agar seluruh penumpang bisa
membuang barang-barangnya dan hanya menyisakan yang terpenting sepeti kartu
penduduk dan uang. Selebihnya buang ke dasar laut,” Kapten menjelaskan
hati-hati.
Mendengar hal
tersebut kumpulan orang-orang dengan gaya glamor itu saling pandang, alis
mereka berkerut tajam, mata sinis dan bibir yang mencibir.
“Kapten ...
kau tahu bukan nilai barang kami? jika seluruhnya dibuang ke dasar laut, maka
bagaimana kami akan membantu ‘berdonasi’ untuk kapal yang hampir tenggelam ini.
Barang kami begitu berharga. Jadi, lupakan untuk membuang barang kami,”
Maximilian berucap sinis. Dia salah satu penumpang VIP.
“Dengar Kapten! saya bahkan tidak sudi melemparkan jarum peninggalan nenek saya, Anda tahu kenapa, kan? benar, jarumnya terbuat dari emas. Saya juga tidak tega melempar boneka pinguin putri saya karena dia tidak akan bisa tidur tanpa itu. Jadi lupakan tentang membuang barang kami. Biarkan saja para orang dari geladak bawah yang melakukannya. Toh barang mereka tidak ada bedanya dengan tumpukan barang bekas.” Cassandra melengos menyisahkan aroma parfum mahal. Di sisi lain orang-orang dari geladak tengah dan bawah telah berbondong-bondong membuang barang mereka.
“Apa arti sebuah barang berharga? Apakah materialnya? Sejarahnya? Atau
pemiliknya? Ketika si jelata memilik emas 10 gram dengan kadar 24 karat dan si
kaya memiliki emas yang sama pula, namun milik si jelatalah yang harus
dikorbankan. Ketika si jelata memiliki sirkam turun temurun dari keluarganya,
dan si kaya memiliki sapu tangan yang ditanda tangani artis dunia, maka milik
si jelatalah yang harus dikorbankan. Bukankan ini tandanya tidak penting apa
bendanya, tapi siapa pemiliknya.”—catatan Paloma Dove.
“Apanya yang
kapal megah, kapal paling aman sedunia dan kapal yang disebut sebagai keajaiban
dunia. Pada akhirnya bolong dan akan tenggelam hanya karena benturan. Saya
mempercayai Anda akan mengatarkan kami dengan selamat, saya menghabiskan semua
tabungan hanya untuk bisa menyeberang ke Argentina untuk mempertemukan anak-anak
saya dengan ayahnya. Namun sekarang berharap selamat pun kami takut. Selamatkan
kami dan kembalikan uang saya!” wanita tua itu meraung. Kedua tangannya memeluk
kedua putra putrinya yang masih berusia tujuh atau delapan tahun. Rambutnya
berantakan dan tatapan putus asa.
“Mohon
tenang, Nyonya. Kami pasti akan menyelamatkan Anda dan memberikan kompensasi.
Jadi, harap tenang,” mohon Kapten tegas. Pria paruh bayah itu memandang geladak
atas yang penuh, padat dan sesak. Semua penumpang dialihkan ke atas karena
geladak bawah sudah terendam.
Luca yang
sudah basah kuyub datang berbisik dengan bibir yang bergetar pada Kapten.
Wajahnya risau, matanya memerah dan tangan yang pucat karena terlalu lama
memperbaiki kapal yang terendam air laut dengan suhu minus 1,4 derajat celcius.
Kapten
mengangguk paham, “Perhatikan semuanya! Keadaan kita tidak baik-baik saja. Air
telah mencapai geladak tengah, dan tinggal menunggu waktu geladak ini juga akan
terendam.”
“Sial! Kami
sudah mengorbankan harta benda, tetapi hal itu tidak banyak membantu. Bagaimana
dengan bala bantuan?” Pemuda bernama George bertanya dengan frustrasi.
“Tunggu dulu! Mengapa dari tadi hanya kami yang sibuk menyingkirkan barang-barang di kapal,
sedangkan mereka tidak?” Sofia menunjuk kumpulan orang geladak atas yang bahkan
tidak terpengaruh dengan situasi yang makin parah.
“Haruskah
kami seperti itu? yang membuat beban kapal ini berat adalah kalian. Jumlah
kalian seperti ... entahlah, seharunya kalian sadar diri,” Maximilian berdecak
malas.
“Kalimat yang baru saja diucapkan Maximilian mendapat protes dari
orang-orang geladak bawah, sedangkan lainnya justru terdiam merenung. Mereka
tidak menyanggah atau membela, tetapi keterdiaman itu menjadi tanda tanya
besar. Apakah mereka setuju dengan pernyataan pria VIP tersebut?” –catatan
Paloma Dove.
Sampai
deburan gelombang laut memercik menyapa kulit orang-orang di atas kapal.
Meninggalkan jejak merinding yang menusuk hingga tulang. Mereka menjerit ketika
badai menerjang dan volume air yang naik meningkat.
Tidak ada pilihan selain mengorbankan beberapanya untuk menyelamatkan beberapanya. Geladak bawah menjadi sasaran intimidasi. Satu demi satu hilang dari atas kapal. Tanpa bisa melawan, hanya pemaksaan sunyi yang mendorong mereka ke laut dilahap ganasnya dasar biru. Sampai tak tersisa, raungan yang ditelan gelombang pasang, tangisan yang terurai dalam asinnya lautan dan tujuan sampai yang hanya menjadi angan-angan. Mereka sirnah untuk orang-orang yang menganggap diri mereka layak selamat dan hidup sejahtera.
Beberapa saat
berikutnya perahu-perahu kecil datang sebagai penyelamat. Namun ironi. Bukan
anak-anak, wanita atau orang tua, melainkan geladak atas menjadi prioritas.
Menyisahkan geladak tengan yang harus menunggu di kapal yang terombang-ambing
dalam pusaran kematian. Di tengah dinginnya udara yang membekukan darah mereka.
Bibir membiru, mata memerah dan kulit yang hampir mati rasa. Mereka tak
mendapat pertolongan pertama, selain kata-kata ‘tunggu sejenak saja dan kami
segera kembali'.
“Tetapi itu bohong. Demi detik, menit, dan jam yang mereka lalui dalam
keputusasaan tak ada hilal perahu penyelamat. Sampai fajar menyingsing dan
menjadi hembusan napas terakhir orang-orang yang tersisa di bangkai
kapal.”—catatan Paloma Dove.
***
“Tuan
Redaksi, ini ditemukan ditubuh Paloma.” Seorang pegawainya menyerahkan botol
kaca yang berisi alat rekam.
“Ahh … tentu
saja, setidaknya perjalanan terakhirnya membuahkan hasil. Ini akan jadi berita
besar.”
_______
Penulis
Indri Anisa, mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Lampung. Menulis cerpen menjadi salah satu cara untuk healing karena menulis dan membaca selalu membuka kesempatan untuk menemukan pengalaman serta perspektif baru. Ketertarikan pada dunia sastra mendorongnya untuk terus berkarya dan mengembangkan kemampuan menulis. Beberapa karyanya yang pernah dimuat di media maupun diikutsertakan dalam perlombaan antara lain Mulut Besar Toro, Badai yang Mendorong Kapal, serta Anak Perempuan dan Pisang Goreng.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com
Cerpen Santama | Bapuk (Sebuah Fiksionalisasi)
Cerpen Santama
Beberapa hari
yang lalu, sepulang dari mengantar teman ke Disdukcapil Kab. Pandeglang, saya
menemukan sebuah buku lawas cetakan pertama, di satu lapak loakan (tadinya
saya, mahasiswa yang diharuskan mempelajari sastra di Untirta, ingin mencari
buku kumpulan sajak untuk objek kajian). Judulnya Ensiklopedia
Bromocorah-Bromocorah. Agak bombastis pikir saya dan, dengan segera saya
duga, judul tersebut pastilah peniruan terhadap judul salah satu fiksi luar
biasa Danilo Kiš, penulis Serbia-Yugoslavia, yakni The Ensyclopedia of the
Dead[¹] (anggapan yang
gegabah, tentu saja, yang saya sadari secara terlambat, mengingat tahun
masuknya karya-karya Kiš ke Indonesia).
Dan hal
demikianlah yang, tanpa tahu terlebih dulu apa tema maupun genrenya (tapi saya
sempat meyakininya sebagai novel), membikin saya tertarik terhadap buku yang
kondisinya sudah mengenaskan itu. Ia kusam, penuh bercak dan coretan, hampir
buyar, pinggiran sedikit sobek-sobek, dan huruf-huruf dalam beberapa halaman
susah terbaca.
Tanpa ragu, saya
merogoh kocek untuk membawanya pulang, tapi sebelum itu saya berasumsi lagi
(setelah tahu buku ini merupakan nonfiksi) bahwa Ensiklopedia
Bromocorah-Bromocorah mengetengahkan
para "bramacorah"[²] yang, mungkin sekali, punya suatu andil
signifikan namun termarjinalkan[³].
Saya kira
pastilah mereka, para "bramacorah", lebih dari layak untuk diabadikan
dalam sebuah karya tulis. Dan saya tak meleset: Ensiklopedia
Bromocorah-Bromocorah memang mengetengahkan para "bramacorah"
yang kiprahnya bisa dibayangkan dalam suatu konteks sejarah, yakni revolusi,
wabilkhusus Revolusi Indonesia.
Penulis buku
tersebut adalah Hadna Rojim dan penerbitnya adalah Longit, yang menerbitkannya
tahun 1994. Sayangnya, setelah saya cari berjam-jam di internet, informasi
tentang penulis maupun penerbitnya sama sekali nihil, entah masih eksis atau
tidak (kenapa selalu demikian nasib penerbit-penerbit kecil, lokal,
pinggiran?). Saya sangat penasaran terhadap sang penulis, dan membaca pengantar
dari Dr. Ahmad Mustaqim berikut ini membikin saya membayangkan bagaimana
sosoknya, dan betapa pelik proses yang ia tempuh.
Hadna Rojim,
seraya terasa cermat-terampil memperlakukan sumber primer dan berusaha kritis
terhadap segala mistifikasi dalam sumber-sumber lisan, membentangkan riwayat
hidup sosok-sosok di buku ini sebelum, semasa, dan sesudah Revolusi Indonesia.
Mereka, seyogianya para antihero, dia tampilkan apa adanya, sebagai makhluk
profan di tengah sengkarut sosial-politik, sepak terjang mereka dikemukakan di
antara hasrat primordial, anekdot, dan mitos. (Hal. V)
Para antihero
yang dimaksud, dibandingkan dengan tokoh historis lain semisal Si Pitung (dalam
rentang zaman yang berlainan), saya pikir jarang dikenal, jika bukan tidak. Dan
salah satunya adalah ia yang berjuluk Bapuk.
Akan sedikit
(sekadar mengenalkan, sebagai ancang-ancang dari serial yang sedang saya garap)
saya sampaikan ulang biografi Bapuk di sini, tepatnya gerak-geriknya sebagai
saksi peristiwa historis, menjumput satu episode dalam hidupnya (di awal masa
Pendudukan Jepang). Dengan sentuhan fiksi akan disajikan dalam cara saya
sendiri yang saya pastikan tidak melenceng dari fakta-fakta dalam Ensiklopedia
Bromocorah-Bromocorah.
Sisanya adalah
sastra[⁴].
___
[¹]Fiksi-fiksi
Danilo Kiš diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Slamat P. Sinambela, dan The
Ensyclopedia of the Dead yang diterjemahkan menjadi Ensiklopedia
Orang-Orang Mati dijadikan sebagai judul buku (diterbitkan oleh penerbit
Basabasi, 2019).
[²]Saya mengapit
istilah ini dengan tanda petik berdasarkan pertimbangan bahwa signifikasi
istilahnya bersifat khusus, terutama yang terjadi pada sebagian tokoh dalam
buku ini, yang dalam kasus tertentu istilah tersebut, saya pikir, politis dan
stereotipikal.
[³]Tentu saja
kehidupan, di luar prinsip-prinsip teks memoar konvensional, lebih dari apa
pun, sangat-sangat berharga, sehingga tanpa prasyarat linuhung atau
pertimbangan bobot pengaruh pun, bukankah tiap orang memang tak ada salahnya
dikenang?
[⁴]Dipinjam dari
Alejandro Zambra dalam Bonsai (terjemahan bahasa Indonesia oleh Gita
Nanda, diterbitkan Labirin Buku, 2022).
Kisah Sepasang Bramacorah dan Prajurit Jepang yang
Mengamuk di Gedongan Nyamuk
Dua tahun setelah
Hitler mengangkangi negeri Kincir Angin dan mengirim malam-malam insomnia
kepada Ratu Wilhelmina: di Hindia Belanda Bapuk terbangun, gara-gara dari atas
atap rumbia gubuknya terdengar suara mesin-mesin meraung. Membuatnya lekas
bangkit bagai zombie. Dengan gontai ia melangkah keluar. Kemudian dilihatnya
orang-orang tak beralas kaki ada tertegun di tanah jalan.
Perempuan-perempuan
berkemban berkebaya menggendong bakul menggendong bocah kerempeng,
lelaki-lelaki telanjang dada dengan tulang-tulang rusuk mencuat yang terbungkuk
membawa hasil bumi yang bukan kepunyaan mereka, yang memanggul kayu api
memanggul pacul, yang menenteng arit menenteng parang berkilauan; selengkapnya
tampak mendongak, dengan tangan bertelapak kasar memayungi mata menghalau
ganasnya cahaya surya.
Suara mesin-mesin
yang meraung itu adalah Curtiss P-40 Kittyhawk, Curtiss P-36 Hawk, dan Brewster
F2A Buffalo: pesawat-pesawat tempur kepunyaan ML-KNIL.
Dan sementara
para tentara kolonial saling menatap ngeri, gemetar di siang bolong, sekujur
terasa dingin di bawah cuaca gerah, dan muka-muka mereka berubah pucat mayat:
Bapuk dan yang lainnya di desanya belum mengerti apa yang sedang terjadi.
Setelah menguap
panjang dengan mulut menganga sempurna, Bapuk hanya kembali masuk. Meneruskan
kewajiban yang tak dapat diganggu gugat.
Siang baginya
adalah waktu molor dan malam adalah waktu melakoni peruntungan, menghadapi
centeng dan peronda dan polisi dalam merampok harta para pejabat jawatan
pemerintah, menggondol padi di lumbung bumiputra-bumiputra makmur dan menjagal
ternak mereka, mencopet di pasar-pasar dan stasiun-stasiun. Apa pun ia lakukan
demi bertahan hidup. Kecuali menjadi jongos orang-orang Belanda dan raja-raja
kecil. Ia tak ingin lagi.
Tergolek di
balai-balai, dan dibuai fantasi liar, demikianlah Bapuk kembali terlelap.
Mungkin kau berpikir hanya tank baja yang akan sanggup membangunkannya, tapi
tidak.
***
"Dengar, ada
datang serdadu-serdadu, memecundangi Belanda konon tak hanya di sini, tapi juga
di daerah-daerah seberang!" Sero membawa berita untuk Bapuk,
menyampaikannya dalam keriangan melimpah-limpah, seolah-olah lusa ia dilantik
jadi Residen. "Ini kesempatan kita!"
Bapuk dongkol
lantaran Sero, yang lama raib entah ke mana, tiba-tiba datang
mengguncang-guncang tubuhnya. Membetotnya dari mimpi basah yang sinambung.
"Kau
menemuiku hanya buat kasih cakap angin alih-alih candu barang setahi
kuku?" timpal Bapuk sekenanya dengan mulut seharum gorong-gorong Batavia.
"Kau mana
bisa tahu dengan mengorok di ini kandang!"
"Orang-orang
yang kauceritakan barang tentu setali tiga uang dengan Belanda. Untung
matamu!" Bapuk belum terkumpul sempurna nyawanya. "Bila saja yang
menggusah Belanda itu orang-orang kita sendiri, tentulah kesempatan boleh
dikata."
"Mereka
lebih digdaya, dan rakyat bertepuk girang ada menyambut konon Jenderal yang
kepalanya macam pentol korek, senyum-senyum laiknya orok mengantuk. Para
serdadunya tampak bertampang mes—"
"Kesempatan
kita yang bagaimana?"
***
Dalam pertempuran
sepekan saja Belanda takluk penuh tanpa syarat, setelah kehilangan Tarakan
sebagai mula. Hindia Belanda jatuh ke tangan besi Imamura.
Tentara, pejabat,
pemilik perusahaan partikelir, orang-orang sipil dan loyalis kolonial, yang
sebelumnya begitu tak tahu malu, congkak, bergembira di atas rakyat bumiputra
yang ditindas dan dihinakan berabad-abad sejak genosida Banda di bawah
kekejaman Jan Pieterszoon Coen yang dipertuan, kini digelandang Tentara ke-16
Jepang. Dijejalkan bagai ternak di kamp-kamp interniran.
Malam itu,
truk-truk dan pasukan-pasukan tentara Saudara Tua merayap di jalan raya.
Berpapasan dengan bramacorah sepasang, yang berkelit di antara bayang-bayang.
***
Apes, di kediaman
van Moek—atau yang Bapuk sembarang sebut Nyamuk, telah terparkir dua truk. Di
berandanya beberapa prajurit Jepang tampak sedang bersitegang dengan centeng
dan jongos. Di dalam terdengar ricuh.
"Nyamuk
pasti sudah berkemas," kata Bapuk agak putus harap, "di gedongan itu
hanya tahi yang disisakannya."
"Berharaplah
tahinya intan permata," sahut Sero.
Tak lama mereka
mendengar teriakan bini Nyamuk. Kemudian melengking tangisannya.
Dua prajurit
menyeret seorang sinyo—anak tunggal di keluarga Belanda totok itu.
Sinyo yang
terbungkus piama meringkuk bagai cacing, digasak di pekarangan, mengerang,
persis sang jongos yang pernah diperlakukan serupa oleh yang bersangkutan.
Sang jongos
berusaha tak kelihatan gembira.
Si centeng
dicegat. Batal berbuat.
Orang bilang itu
si centeng pernah kena kurung di Nusa Kambangan. Minggat dari sana, kian
menjadi-jadi kebolehannya. Sila Menir bawa selawe macan Sumatra, dapat diadu
dengan sahaya, konon demikian ia menawar diri kepada Nyamuk dahulu kala, dan
kemudian terus dipasang ketika banyak centeng telah tak bertuan.
Sang jongos
berpikir tentang itu orang: ia tentulah sengaja bergeming dalam gertak ancam
para tentara, tahu-menahu bahwasanya kalap berarti celakalah sudah. Pedang
panjang boleh sebatang lidi dan pelor boleh getah karet baginya, tapi tidak
sekali-kali bagi famili gedongan ini.
Tak
disangka-sangka Nyamuk memburu keluar, menengkar sedapatnya, tapi terkapar
sekali tepuk, salah satu prajurit nyaris menyabetkan samurai ketika komandannya
melerai, yang kemudian mencak-mencak, dalam bahasa yang belum diakrabi
anjing-anjing liar di Nusantara.
Bapuk dan Sero
tersentak mendengar letusan.
Satu betis
dilubangi malam itu.
Di tengah jerit
lakinya, bini Nyamuk menyongsong tergopoh. Ambruklah ia.
Dalam bahasa
leluhurnya ia memaki-maki sang Komandan galak beserta kolega, juga memaki-maki
lakinya sendiri.
Ia telah kasih
nasihat bahwa lebih baik lakinya mengalah secara kesatria, ini hanya sementara,
katanya, Ratu amat sayang negeri koloni—seperti balita yang direbut mainannya:
Yang Mulia pasti ingin merebutnya lagi, merengek-rengek ke paman sekutu.
Tapi lakinya
berkepala batu Kali Bekasi.
Demikianlah
anak-beranak itu akhirnya diangkut menggunakan truk, menjalani tamasya singkat,
dan berharap itu bukan awal nostalgia akan surga yang jauh dari ujung Terusan
Suez.
"Dari tanah
kembali ke tanah," gumam Bapuk sekenanya, "dari neraka kembali ke
neraka."
Dan Sero saat itu
belum bisa ia yakinkan bahwa makhluk-makhluk yang baru saja mendarat tidak
kalah bangsat.[]
Pandeglang, 2025
______
Penulis
Santama, Bisa disapa di
@san.ta.ma.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com




