Esai Ma'rifat Bayhaki
Kemahiran berbahasa adalah satu dari sekian modal yang mesti dimiliki oleh pengarang. Kendati penting, justru ia kerap diabaikan. Banyak pengarang lebih terobsesi pada persoalan pesan yang ingin disampaikan, alih-alih memperhatikan konstruksi—bentuk cerita yang akan disajikan. Sebuah cerita tidak dikenang semata karena suaranya, melainkan bagaimana cara ia menyuarakannya. Saya tentu tidak ingin menyaksikan sebuah naskah yang penuh dengan pesan moral, tetapi kehilangan daya estetiknya bernasib tragis di tangan pembaca kritis.
Barangkali kepekaan semacam ini mesti dijadikan
pijakan ketika membaca novel YUKI. Pada halaman awal kita disodorkan
dengan kegelisahan yang nyata. Narator ingin berbicara tentang manusia modern
yang terjebak dalam rutinitas, ketakutan, dan keterbatasan. Dari hal itu ia menawarkan
gagasan sederhana, manusia harus “naik kelas”. Tentunya frasa ini lebih dari perpindahan
status sosial di permukaan, ia juga menyimpan pergulatan dan pendalaman batin
yang berlapis—kokoh.
Namun, sayangnya sang narator dalam
cerita “Yuki” tampak terjebak untuk memastikan gagasan “naik kelas” ini bersarang
di benak pembaca. Hasrat tersebut demikian dominan sehingga hampir setiap bab
lebih berhungsi sebagai medium penyampaian pesan daripada ruang bagi cerita untuk
tumbuh secara organik. Akibatnya, pembaca lebih sering dihadapkan pada
penegasan ide dibanding pengalaman estetik yang lahir dari perkembangan cerita.
Jumlah tokoh yang relatif sedikit
sesungguhnya bisa diolah sedemikian rupa untuk membangun karakter yang utuh dan
dinamis . Alih-alih melakukan itu, tokoh Yuki
lebih sering hadir sebagai corong gagasan pengarang daripada menjadi
manusia fiksional yang hidup, memiliki kehendak, konflik, dan perkembangan
psikologisnya sendiri. Yuki lebih sering tampil sebagai figur yang telah
mengetahui jawaban atas persoalannya ketimbang menjadi manusia yang sedang
berproses.
Hal itu juga berlaku pada tokoh lain dalam novel ini.
Misalnya tokoh Pak Arif—mentor Yuki yang perannya sentral dalam cerita ini. Lagi-lagi
narator berperan terlalu dominan. Sehingga tokoh Pak Arif menjadi terkesan ajaib.
Ia bisa tiba-tiba hadir di momen penting hidup Yuki bahkan mampu mengetahui
segala hal dan permasalahan yang dialami Yuki. Hal itu nampak jelas saat Pak
Arif mengetahui jika Danu memberikan kunci berkarat pada Yuki. Bahkan dengan
hafalnya ia menjabarkan manfaat dari kunci berkarat itu pada Yuki, kendati Pak
Arif tidak benar-benar hadir dalam peristiwa itu. Pada persoalan ini sepertinya
sang naraotor harus berhati-hati.
Pergulatan batin yang seharusnya menjadi jantung
sebuah novel justru berlangsung singkat. Proses sebab akibat yang diharapkan
cair, luwes, dinamis, dramatis, dan memukau menjadi terkesan ajaib. Pemaknaan
setiap tokoh luput dari pandangan sang narator. Saya kehilangan jejak dalam
usaha menggali sebab Yuki memaknai lorong tempat kerjanya mengerikan, pemaknaan
kunci berkarat dari masing-masing tokoh. Bahkan tokoh Pak Arif terkesan sangat bijaksana
tanpa celah. Barangkali hal ini mesti dijelaskan, tidak digantung begitu saja.
Beralih pada persoalan alur, novel ini bergerak dengan
tempo yang terlampau tergesa-gesa. Perpindahan antarruang berlangsung begitu
cepat sehingga setiap tempat kehilangan kesempatan untuk meninggalkan jejak
dalam ingatan pembaca. Adegan demi adegan silih berganti, tetapi tidak memberi
cukup waktu bagi suasana untuk mengendap ataupun bagi konflik untuk memperoleh
bobot emosional. Alur akhirnya lebih menyerupai rangkaian perpindahan peristiwa
daripada perjalanan batin yang tumbuh secara perlahan.
Barangkali, apabila diolah dengan
kepengrajinan yang lebih tekun, ruang dalam YUKI tidak hanya berfungsi sebagai latar tempat
peristiwa berlangsung. Ruang memiliki kemungkinan estetik yang jauh lebih luas.
Ia dapat menjadi penanda zaman, penyimpan ingatan, bahkan menghadirkan gema
batin para tokohnya. Dalam karya sastra yang matang, ruang tidak pernah
benar-benar diam. Ia ikut mengarahkan suasana, membangun ketegangan, dan
sesekali berbicara melalui kesunyian yang diciptakannya.
Kita dapat belajar dari Robohnya
Surau Kami. Cerpen itu tidak semata-mata berkisah tentang sebuah
surau, melainkan menjadikan surau sebagai pusat kesadaran cerita. Bangunan itu
bukan lagi sekadar lokasi, tetapi sebuah simbol yang memanggul sejarah,
keyakinan, kegelisahan, sekaligus ironi manusia. Surau memperoleh “suara”
karena pengarang berhasil menanamkan pengalaman batin ke dalam ruang tersebut.
Pembaca tidak hanya melihat sebuah bangunan, melainkan merasakan denyut
kehidupan yang bersemayam di dalamnya.
Kemungkinan semacam itu sesungguhnya
juga terbuka bagi YUKI.
Sayangnya, ruang-ruang yang dihadirkan masih cenderung bersifat fungsional.
Kantor, rumah, jalan, atau tempat-tempat yang disinggahi tokoh lebih sering
menjadi wadah berlangsungnya peristiwa daripada turut membentuk kesadaran tokoh
dan menghidupkan atmosfer cerita. Padahal, apabila ruang diberi kedalaman
simbolik dan psikologis, ia akan menjadi unsur naratif yang bekerja secara
diam-diam, memperkaya makna tanpa perlu dijelaskan secara panjang lebar oleh
narator. Di situlah sastra menunjukkan kekuatannya, bukan melalui banyaknya
penjelasan, melainkan melalui kemampuan membuat benda-benda yang bisu menjadi
fasih berbicara.
Pada bagian lain narator memilih
mendeskripsikan tindakan-tindakan Yuki alih-alih membiarkan pembaca menyaksikan
tindakan itu berlangsung di hadapan mereka. Kecenderungan ini muncul berulang
kali dalam beberapa bab sehingga perlahan mengikis daya hidup cerita. Alih-alih
menghadirkan pengalaman, narator justru menyajikan kesimpulan. Pembaca diberi
tahu apa yang dirasakan, dipikirkan, dan dilakukan Yuki, tetapi jarang diberi
kesempatan untuk menemukan semua itu melalui peristiwa yang berkembang secara
organik.
Bagi saya, pilihan semacam ini
merupakan salah satu kelemahan paling mendasar dalam novel ini. Sebab, hakikat
fiksi bukanlah menyampaikan gagasan secara langsung, melainkan membiarkan
gagasan itu lahir dari benturan antartokoh, dari gestur yang sederhana, dari
dialog yang ritmis, bahkan dari kesunyian yang sengaja dibiarkan bekerja. Seperti
yang dikatakan Ernest Hemingway mengenai show, don't tell. Seorang pengarang tidak dituntut
menjelaskan segala sesuatu kepada pembaca, melainkan menghadirkan dunia yang memungkinkan
pembaca sampai pada kesimpulannya sendiri.
Sastra kehilangan daya estetiknya
ketika terlalu bernafsu menjelaskan. Setiap penjelasan yang berlebihan
sesungguhnya adalah bentuk ketidakpercayaan pengarang terhadap kekuatan cerita
yang sedang dibangunnya. Padahal, cerita yang baik selalu memiliki keberanian
untuk menyembunyikan sebagian maknanya, sebab sastra tidak bekerja dengan
cara menggurui, melainkan dengan cara
menggerakkan pengalaman batin pembacanya. Ia tidak berkhotbah dari atas mimbar,
tetapi mengajak pembaca berjalan perlahan memasuki ruang-ruang makna yang
sengaja tidak seluruhnya diterangi. Justru dalam ruang yang remang-remang
itulah sastra menemukan daya pikatnya.
Kausalitas yang berupaya dibangun
narator belum sepenuhnya memperoleh kedalaman dramatik. Penjelajahan Yuki
terhadap krisis eksistensialnya berlangsung terlalu tergesa-gesa sehingga
perkembangan psikologis tokoh terasa lebih sebagai pernyataan daripada pengalaman.
Pembaca diberi tahu bahwa Yuki hidup dalam ketakutan dan merasa tidak bahagia,
tetapi cerita tidak menyediakan rangkaian peristiwa yang cukup untuk
membenarkan perasaan tersebut.
Sepanjang novel, Yuki justru tampil
sebagai pribadi yang relatif utuh. Ia mampu menjalankan pekerjaannya dengan
baik, berani mengemukakan pendapat di hadapan kolega, bahkan beberapa kali
menjadi sosok yang menawarkan solusi bagi orang lain. Kegagalan yang dialaminya
pun tidak pernah benar-benar menjelma menjadi titik balik yang mengguncang
kesadarannya. Setiap hambatan segera dilewati tanpa meninggalkan bekas
psikologis yang berarti. Akibatnya, jarak antara apa yang dikatakan narator
mengenai Yuki dan apa yang benar-benar diperlihatkan cerita menjadi semakin
lebar.
Pada akhirnya, persoalan Yuki terasa
lebih banyak hidup di dalam bahasa narator daripada di dalam dunia yang sedang
dibangun novel ini. Kecemasan itu disebutkan berulang kali, tetapi jarang
memperoleh bentuk konkret melalui tindakan, konflik, atau pengalaman traumatik
yang mampu mengendap dalam ingatan pembaca. Padahal, luka batin dalam sastra
tidak selalu harus hadir sebagai tragedi besar. Rutinitas yang berulang, ruang
kerja yang menyesakkan, relasi sosial yang dingin, atau kegagalan-kegagalan
kecil yang terus menumpuk pun dapat berubah menjadi teror eksistensial apabila
diolah dengan kesabaran estetik.
Di sinilah kelemahan paling mencolok
novel ini. Rutinitas yang semestinya menjadi sumber kecemasan manusia modern
tidak pernah benar-benar menjelma sebagai ancaman yang menghimpit kehidupan
Yuki. Ia hanya hadir sebagai gagasan yang diucapkan narator, bukan sebagai
pengalaman yang dialami pembaca. Ketika rasa takut lebih banyak dikatakan
daripada dihadirkan, konflik kehilangan bobot dramatiknya, dan perjalanan
eksistensial Yuki pun berakhir sebagai konsep yang menarik, tetapi belum
sepenuhnya meyakinkan secara artistik.
Kendati demikian, YUKI tetap layak
diapresiasi sebagai karya perdana yang berhasil diselesaikan. Bukankah, naskah yang
baik adalah naskah yang selesai ditulis. Mekipun penyelesaian sebuah karya
bukanlah akhir dari proses kreatif, melainkan awal bagi pengarang untuk
mengasah kepengrajinan estetiknya. Pada percobaan berikutnya, tentu kelonggaran
semacam ini tidak berlaku.
Salah satu hal yang paling menarik dari novel ini
ialah keberanian pengarang bereksperimen dengan bahasa yang puitis, liris, dan
berirama. Kalimat seperti, “Rambut hitamnya bergelombang, menebar
bayang-bayang gelap di atas bahu, sementara mata cokelatnya menahan kilau api
kecil yang tak pernah padam,” memperlihatkan ikhtiar pengarang menghadirkan
keindahan melalui pilihan kata yang imajinatif. Cara bertutur semacam ini
menjadi strategi yang efektif untuk membangun suasana sekaligus memperhalus
pengalaman emosional pembaca sehingga narasi tidak sekadar menyampaikan
peristiwa, melainkan juga menghadirkan rasa
Namun, bahasa puitis selalu
menuntut kedisiplinan estetik. Keindahan tidak lahir semata-mata dari limpahan
metafora atau rangkaian kata-kata yang indah, melainkan dari ketepatan memilih
diksi dan kecermatan menempatkannya dalam konteks. Demikian pula dengan
penggunaan tanda baca yang bukan sekadar perangkat gramatikal yang mengatur
jeda. Ia merupakan bagian dari estetika yang membentuk ritme, mengatur tempo,
memberi tekanan, bahkan mengarahkan emosi pembaca. Perpaduan antara diksi yang
cermat akan melahirkan kalimat yang tidak hanya enak dibaca, tetapi juga
memiliki daya pukau yang bertahan lebih lama dalam ingatan.
Pada beberapa bagian, YUKI berhasil
memperlihatkan potensi tersebut. Meskipun belum sepenuhnya konsisten, tampak
bahwa narator memiliki kepekaan terhadap musikalitas bahasa dan keberanian
untuk tidak sekadar bercerita, melainkan juga menciptakan pengalaman membaca
yang estetis. Potensi inilah yang, apabila terus diasah melalui pembacaan yang
luas dan latihan menulis yang tekun, dapat menjadi kekuatan utama pengarang
pada karya-karya berikutnya. Tabik.
Tanara, 28
Juni 2026
_______
Penulis
Ma'rifat Bayhaki,
redaktur pelaksana NGEWIYAK.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com









