Pendaftaran #Komentar Masuk Sekolah/Kampus
View AllProses Kreatif
Dakwah
Redaksi
Latest News
Saturday, February 14, 2026
Resensi Kabut | Pelajaran di Halaman
Monday, February 9, 2026
Karya Siswa | Puisi Azreen Faeyza Khaireen Nisa
Puisi Azreen Faeyza Khaireen Nisa
Titik Nol
Hampa
Seakan tak ada makna
Tak kunjung menemukannya
Kosong
Aku tertawa walau tak bersuka
Aku marah walau tak terbakar
Semua perasaan itu sepi
Seperti hati
Akankah aku menemukan jawaban?
Akankah aku menemukan jalan?
Teman, keluarga
Semua itu kosong
Seperti bayang yang tak mempunyai rupa
Seperti tamparan yang tak terasa sakit
Hampa yang mendalam, tak terobati
Semua terasa sunyi
Semua nihil
Tuhan, pantaskah aku menemukannya?
Film Sandiwara
Film kita berakhir di tikungan jalan
Panggungku kosong setelah pertunjukan
Awan putihku lenyap di langit mendung
Kita hanyalah hujan yang salah musim
Datang lalu membanjiri kenangan
Sungai terus mengalir membawa ingatan tentangmu
Musim hujan berlalu
Namun kenangan tetap membasuh
Kau hanya angin yang mendorong layarku
Anginmu seperti angin malam
Dingin
Air mataku seperti hujan yang lupa cara berhenti
Kini kusadari kau hanyalah pelajaran
Bukan tujuan akhir dalam perjalananku
______
Penulis
Azreen Faeyza Khaireennisa dilahirkan di Serang, 7 Januari 2014. Saat ini duduk di kelas 6 Ibnu Sina SD El Fatih yang beralamat di Kompleks Permata Banjar Sari Asri, Cipocok Jaya, Kota Serang.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com
Sunday, February 8, 2026
Resensi Kabut | Sakti dan Garam
Thursday, February 5, 2026
Berita | SMP Islam Al Ikhlas Jaksel Gelar Worksop Karturema, Undang Tim #Komentar dari Serang
NGEWIYAK.com, JAKSEL -- Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa (#Komentar) dari Serang Banten yang dinakhodai Encep Abdullah mengisi pelatian menulis di SMP Islam Al Ikhlas yang berada di Jalan Cipete III, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan, selama tiga hari, Selasa--Kamis (3--5 Februari 2026).
Dalam pelatihan yang bertajuk Workshop Karturema (Karya Tulis Remaja), para peserta terdiri dari Encep Abdullah yang mengisi materi karya tulis ilmiah, Nurhadi karya ilmiah populer, Ma'rifat Bayhaki menggali ide, dan Ahmad Wayang menjelaskan tentang cerita pendek dan premis.
Encep menjelaskan, membuat karya tulis ilmiah itu butuh latihan disiplin. "Tema yang bisa kita tulis beragam. Bisa dari mengkritisi isu yang sedang berkembang atau dari hal-hal lain yang ingin digali dan diteliti," kata Encep saat mengisi materi.
Sedangkan hari kedua diisi oleh Ahmad Wayang tentang cerpen atau cerita pendek. Dalam kesempatan tersebut Wayang juga menjelaskan mengenai pentingnya membuat premis, sebelum menuliskan cerita yang panjang. Menurutnya premis adalah rancangan dasar dalam menulis cerita. "Jangan lupa tuliskan dulu premisnya. Sebab dari premis, kita bisa tahu dan melihat bagaimana cerita kita bergerak. Apakah menarik atau sebaliknya," kata Wayang.
Selama kegiatan tersebut, peserta workshop juga dilatih dan dibimbing dalam menuliskan cerita mereka hingga jadi oleh para mentor.
Penanggung jawab acara workshop Hawin Maulana mengatakan, kegiatan ini merupakan kegiatan tahunan yang digelar sekolah dalam rangka meningkatkan literasi menulis pada siswa. "Gol dari workshop ini adalah agar anak-anak semakin mahir menulis dan nanti karya mereka akan dibukukan," kata Hawin.
Encep juga menjelaskan bahwa kerja sama antara Tim #Komentar dengan SMP Islam Al Ikhlas sudah terjalin sejak tahun lalu. "Alhamdulillah tahun ini tim #Komentar kembali dipercaya oleh pihak sekolah untuk mengisi kegiatan workshop menulis. Sebelumnya tahun lalu juga kami mengisi kegiatan yang sama, untuk kelas VIII," jelas Encep.
Kirani, salah satu peserta workshop, mengaku senang bisa mengikuti kegiatan ini. "Kegiatan ini seru dan menambah wawasan. Semoga bisa berjumpa lagi di tahun depan," kata Kirani. (Rin/red)
Esai Uwais Qorni | Masalah Krusial Pembuatan Judul Esai
Esai Uwais Qorni
Sebenarnya ilmu membuat judul esai itu dapat ditemui banyak di internet dan di buku. Kita juga bisa mendapatkannya dengan berdiskusi dengan ChatGPT. Tapi, kesannya akan lain kalau kita mikirin judul tulisan itu sendirian dibandingkan dengan, misalnya, dibantu oleh AI. AI tidak mengajak kita berpikir. AI malah menghambat kita berpikir secara mandiri.
Seringnya pengetahuan yang disampaikan melalui esai mudah untuk kita mencernanya. Di dalam esai berisi subjektivitas penulisnya. Lewat esai, penulis bisa mengutarakan apa pun yang ada di otak dan di hatinya. Bahasan yang pemantiknya berupa quotes jika diniatkan untuk diesaikan itu bisa panjang.
Tidak mustahil esai bentuknya itu pengalaman-pengalaman penulis dengan penyampaian yang terkesan bercandaan, gak niat, bahkan blak-blakan tanpa khawatir dicemooh pembacanya nanti. Dimungkinkan juga bentuk esai begitu kaku semacamnya ketikan robot. Gampangnya, esai merupakan bacotan penulis.
Esai gak melulu menaruh solusi di dalamnya. Kadang ada esai yang ngajak mikir.
Saya suka menulis esai baru-baru ini. Sebab saya merasa gagal latihan menulis cerpen, saya fokuskan saja kepenulisan saya dalam bentuk esai dan puisi. Saya juga merasa gagal dalam menulis judul apa pun genre tulisannya itu. Tapi, saya merasa tidak perlu memusingkan itu.
Selama masa-masa setoran cerpen di grup latihan menulis asuhan Kang Encep "Klinik Menulis", saya sangat terganggu dengan pembuatan judul. Berkali-kali revisi karya. Tetap yang paling bikin overthinking adalah kenapa judulnya tidak meningkat ke arah yang lebih bagus. Sudahlah tulisan saya sedengan dan di bawah standar, ditambah pula dengan judulnya yang jelek.
Kalau mikirin seperti ini terus mungkin saya pensiun dari kegiatan menulis. Menulis dengan perasaan gembira baru sekarang tumbuhnya. Ini malah mau disusahkan lagi dengan masalah pemilihan judul. Jika saya gak bahagia lewat menulis, lalu buat apa saya betah-betahan menulis? Kayak gak ada kerjaan saja yang lebih menggiurkan, misalnya nyari duit.
Tapi, tidak sampai di sini. Saya menulis biar ngebacot aja. Ngebacot yang dikit-dikit berbobot. Daripada ngebacot tapi ngerecokin urusan orang lain. Daripada ngebacot malah menambah down mental lebih baik saya nulis begini.
Menulis itu butuh modal. Ini saya minim modal sebenarnya. Materi kepenulisan saya dikit banget. Banyak yang belum saya kuasai. Menghafalkan nama-nama sastrawan, saya gak mau. Soalnya saya bisa dibilang gak nyaman kalau bahas sejarah macam itu. Bukan artinya saya buta total terhadap sejarah. Saya hanya gak suka menghafalkan nama-nama dan penanggalannya itu. Untuk ngedengerin sejarah, asalkan seru dan gak ngebosin, oke saja buat saya.
Saya nyaris minder menulis sok-sokan seperti ini. Denger-denger di dunia literasi itu ada perpolitikannya. Bodo amatlah saya masalah itu. Asalkan saya mampu menuntaskan satu tulisan itu sudah lebih dari cukup. Daripada ngomong doang pengen nulis ini pengen nulis itu, tapi gak pernah dikerjain. Lebih baik senyap, tapi gerak maju.
Omong-omong, gak ada motivasi saya menulis itu lewat support orang-orang terdekat saya. Jadi merupakan pencapaian jika saya masih bertahan menulis sampai sekarang. Ditarik tali benangnya adalah rasa penasaran saya tinggi. Mimpi saya ini, andaikan saya berada di lingkungan yang kutu buku niscaya saya ajak semuanya itu untuk mendiskusikan buku-buku.
Omong-omong lagi, beberapa tahun yang lalu saya bermukim di asrama yang tepat. Saya mondok di pesantren yang tepat. Di sana gak ada istilahnya senioritas. Semua belajar. Semua saling mendukung untuk jadi lebih pintar lagi. Ada kebiasaan saya di sana yang pengen banget sekarang ini saya hidupkan kembali di rumah, yaitu kebiasaan berdiskusi.
Dulu sukanya saya mendiskusikan ilmu nahwu atau sintaksis Arab. Yang sering saya ajak berdebat itu adik kelas, soalnya biar saya tahu seberapa bodohnya sih saya ini kok bisa sampai "kalah" berdebat dengan adik kelas? Sedangkan bersama sekumpulan kakak kelas di forum seringnya saya oleh mereka didorong untuk menjadi moderator. Sebab semua itu bobot omongan saya meningkat. Hasilnya saya sekarang gak suka basa-basi.
Tepat setahun sebelum kelulusan, saya boyong. Hijrah lagi ke dua tempat yang berbeda dalam hitungan waktu dua tahunan di luar sebelum akhirnya saya menetap di kampung halaman. Dan sekarang saya sudah ada di rumah.
Kenyataan pahit menimpa saya. Apa yang saya impikan tidak terpenuhi. Saya jadi pengangguran di sini. Di sini saya gak jadi apa-apa. Jadi guru, saya merasa bukan pakarnya. Dan saya tidak lulus di pondok mana pun. Saya yakin kelulusan saya cuma satu, yaitu lulus MI di pondok milik keluarga sendiri.
Kecewa ya kecewa. Soalnya gini, jika saya tahu di lingkungan rumah ilmu debat itu gak penting sebab umur dan posisi seseorang bisa mengangkat dan mengultuskan apa pun ucapannya meskipun gak selalu ada benarnya. Maka, buat apa saya selama itu pura-pura berani ngomong di forum diskusi hanya demi melatih keberanian diri dan memompa kemampuan bernalar?
Lanjutan bahas esainya mana nih?
Yaitu pada kesamaan berdiskusi dengan menulis esai. Bagi saya menulis esai itu mudah sebab saya bisa berdebat. Kalau bisa berdebat seringnya bisa menulis esai. Menulis esai itu ngebacot versi tulisan, sedangkan diskusi itu ngebacot dengan "menjagokan" ilmu-ilmu. Permasalahan timbul ketika saya sadar kalau di forum debat gak ada judul saat memulai debat. Saat saya bertukar pikiran dengan teman-teman, ya sudah jadi debat itu. Itu langsung mulai saja.
Sebelumnya memang tema ditentukan, persiapannya yang matang, juga kudu siap mental menghadapi "lawan" debatnya. Ketika berdiskusi sudah semacamnya, dua ayam jago diadu di tengah-tengah kandang terbuka.Saat itu juga kelihatan siapa yang gaya penyampaiannya masih seperti di awal yang santai dan siapa yang kepanasan dan terpojok. Apa yang dibahas itu jadi seru ketika semuanya sama-sama tahu kalau hal semacam ini menambah ilmu dan bukan menambah musuh. Jika dengan debat malah musuh-musuhan, ya jangan debat sekalian.
Esai, gampangannya ya begitu. Esai itu diskusi versi tulisan. Keduanya sama-sama mengumpulkan gagasan. Keduanya membenturkan perspektif dan menghasilkan kesimpulan akhir yang meskipun gak selalu memuaskan semua pihak, tapi setidaknya ada sudut pandang baru yang dapat ditelaah lebih mendalam. Dan kadang esai dan diskusi itu menyisipkan perasaan pelontarnya, juga sesekali menayangkan pengalamannya dalam berhubungan dengan permasalahan tersebut. Tapi, yang membedakan keduanya adalah judul. Esai punya judul, sedangkan berdebat itu langsung ke isi.
Perihal ilmu membuat judul, saya pernah baca buku dan nonton edukasi di YouTube. Saya tidak mencantumkan referensi di sini. Tinggal cari istilahnya itu "Efek Halo". Persamaannya antara "Efek Halo" dan dalam pembuatan judul esai maupun judul karya lainnya, yaitu sama-sama diarahkan kepada kesan pertama bagi konsumen. Pembaca adalah konsumen tulisan dan apa yang pertama kali dinilainya adalah judul tulisan tersebut.
Ini sebenarnya masalah pelik dan penuh abu-abu. Ada sebagian judul yang menipu. Lewat judulnya saja kesannya itu bagus. Kayak bagian setelahnya itu berupa isi tulisan yang wajib dibaca sekali seumur hidup. Benar-benar pencitraannya itu seratus persen dikerahkannya untuk mengelabui calon pembaca. Padahal cuma judul, bukan fakta. Kenyataannya adalah kita tidak tahu seberapa bagus atau jeleknya sebuah tulisan sebelum kita membacanya sampai selesai. Alhasil, untuk pembuatan judul sendiri mungkin saya pribadi cocoknya dikesampingkan. Menulis selesai dulu baru overthinking tentang judulnya apa. Atau membaca sampai tuntas terlebih dahulu dan jangan menghiraukan bagus atau jelek judulnya.
Referensi:
1. Fahruddin Faiz dalam buku Ihwal Sesat Pikir dan Cacat Logika.
2. Pengarahan Diklat Jurnalistik.
3. Beberapa video tentang "Logical Fallacy".
Monday, February 2, 2026
Lapak Buku | "Suara dari Alaska dan Sejumlah Esai Lainnya" Karya Heru Anwari
Judul: Suara dari Alaska dan Sejumlah Esai Lainnya
Penulis: Heru Anwari
Penerbit: #Komentar
Terbit: Maret 2026
Tebal: viii+95 hlm.
Harga: Rp65.000
Buku Suara dari Alaska dan Sejumlah Esai Lainnya karya Heru Anwari merupakan kumpulan esai reflektif yang lahir dari perjalanan lintas negara, terutama Amerika Serikat dan Alaska. Melalui pengalaman sebagai atlet BMX dan seniman pertunjukan, penulis mengajak pembaca menelusuri sisi lain peradaban modern: gemerlap kapitalisme, kebebasan yang menyesakkan, serta krisis nilai kemanusiaan. Setiap esai merekam perjumpaan personal dengan isu materialisme, korupsi, kerja, kebahagiaan, hingga spiritualitas, yang dipertautkan dengan realitas Indonesia sebagai “tanah surga” yang kerap terlupa. Dengan bahasa jujur dan narasi kontemplatif, buku ini menjadi catatan batin seorang pengelana yang mempertanyakan makna hidup, harga diri, dan iman di tengah dunia yang menjadikan uang sebagai pusat segalanya.
Kontak:
087771480255 (Penerbit)
Saturday, January 31, 2026
Resensi Kabut | Ubi: Panen dan Memasak
Oleh Kabut
Indonesia tidak hanya padi. Indonesia pun bukan cuma jagung. Di tanah Indonesia yang subur, orang-orang menanam dan memanen ubi. Sejak ratusan tahun lalu, penduduk di Nusantara memiliki beragam olahan dengan bahan baku ubi. Penamaan makanan macam-macam memberi khazanah kuliner yang punya banyak cerita. Jadi, Indonesia pun ubi.
Pada zaman berlimpah (jenis) makanan, yang berdatangan dari Barat, ubi sering diremehkan. Konon, ubi adalah makanan kelas bawah. Ada yang mengecap ubi itu “desa” atau “kampungan”. Artinya, ubi sangat sulit bersaing dengan makanan-makanan baru atau modern. Namun, ubi adalah tanaman yang mudah berkembang di Indonesia, yang hasilnya melimpah. Pada masa lalu, biografi dan sejarah memuat ubi dalam hal-hal yang penting dan sepele.
Di hadapan anak-anak, ubi mungkin sulit berarti. Mereka telanjur mendapat godaan-godaan kemodernan, yang mengajarkan selera baru. Mereka menyantap makanan-makanan yang tampilannya melampaui sajian tradisional. Mereka dibuat percaya dengan nama-nama asing, yang menjadikan makanan naik martabatnya.
Pada masa Orde Baru, ubi biasa berada di tingkat bawah. Anak-anak mengetahuinya tapi belum tentu menggemari dan mau menyantapnya. Di pelbagai desa, segala olahan ubi adalah santapan kaum tua. Olahan-olahan ubi menjadi nostalgia atau kenangan, yang perlahan terpinggirkan.
Namun, ada usaha agar anak-anak di Indonesia tidak melupakan ubi. Yang dilakukan adalah mengarang cerita untuk anak. Soedharma KD menggubah cerita berjudul Hantjurnja Ketjurangan. Buku yang tipis diterbitkan oleh Pustaka Jaya, 1972. Judulnya tidak menggunakan diksi ubi tapi pembaca disuguhi cerita dan penjelasan mengenai ubi. Yang agak membantu imajinasi adalah gambar di sampul depan yang dibuat oleh Ipe Ma’aruf.
Buku itu masuk babak awal dari keseriusan Pustaka Jaya menerbitkan buku cerit anak. Banyak judul yang terbit tapi mengalami kesulitan dalam pemasaran. Pada masa 1970-an, kita mencatat bahwa Pustaka Jaya berhasil “membujuk” pemerintah melakukan pembelian buku cerita anak ribuan eksemplar, yang dibagikan ke banyak perpustakaan. Kerja atas nama buku kelak dikenal sebagai “Inpres”. Proyek buku Inpres memicu ratusan pengarang menghasilkan banyak cerita anak yang berstempel “milik negara” atau “tidak diperdagangkan”. Artinya, pemerintah membeli buku dari penerbit-penerbit, yang disediakan untuk anak-anak dan kaum remaja agar gemar membaca.
Novel tipis berjudul Hantjurnja Ketjurangan membuktikan selera Pustaka Jaya. Novel yang mengandung nasihat dan keilmuan. Yang dimaksud keilmuan adalah biologi atau pertanian. Pengarang memiliki pemahaman mengenai ubi, yang disampaikannya kepada anak-anak melalui cerita, bukan makalah ilmiah.
Yang menjadi tokoh dalam cerita atau murid-murid di SD, yang beralamat di desa. Pembaca diminta meresmikan bahwa ubi itu khas desa. Shoedarma bercerita kegembiraan anak-anak, berangkat dari sekolah menuju sawah untuk panen ubi.
Peristiwa yang seru: “Sepandjang djalan mereka selalu menjanji. Diselingi dengan bertepuk tangan dan bersorak-sorai. Bahkan kelakar terdengar djuga, bertjampur dengan gelak tertawa. Mereka bukan semua tjalon pradjurit. Tetapi mereka panda djuga berbaris tertib.” Pasukan itu mau merayakan sukacita: panen ubi. Sekolah menjadi pihak yang memberi pelajaran dan membimbing murid-muridnya paham ubi.
Cerita sengaja menghendaki memberi ajaran baik kepada para pembaca. Kita yang membacanya menyadari adanya propaganda: “Kira-kira enam bulan jang lalu oleh Lembaga Sosial Desa, SD Sukaredja mendapat pindjaman sawah kira-kira seperempat hektar luasnja. Separo dari sawah itu ditanami padi, sedang separo lagi dibuat ladang. Musim ini mereka panen ubi pohon. Sebentar lagi mereka akan panen padi.” Kita kagum mengetahui pihak sekolah tidak sekadar melelahkan anak-anak dengan beragam mata pelajaran. Pada hari-hari tertentu, anak-anak diajak dalam pelajaran dan pengalaman bertani. Ingat, mereka adalah murid-murid kelas 4 dan 5.
Kerja bersama menjadikan panen ubi penuh kegembiraan. Anak-anak lelah tapi senang. Mereka membuktikan kerja yang membutuhkan kesungguhan dan kesabaran. Yang ditanam adalah ubi “mukibat”. Penjelasan disampaikan pengarang: “Adapun ibu mukibat ialah hasil okulasi ubi karet dan ubi biasa, hasil pertjobaan Pak Mukibat. Ubi biasa sebagai pokok batang jang nantinja menghasilkan ubi, sedangkan ubi karet sebagai batang dan tjabang-tjabang jang bertugas memasak makanan dengan daun-daun jang lebat.” Pelajaran penting agar anak-anak menghargai ilmu pertanian dan tokoh di Indonesia.
Mereka beruntung dan bahagia: “Adapun hasil panen mereka kira-kira empat kwintal. Dua kwintal dimasak dan dua kwintal lagi dilelangkan. Hasilnja untuk mentjukupi kebutuhan alat-alat sekolah. Sedangkan ketela hasil okulasi itu dibagi-bagikan kepada pak lurah, pak penilik sekolah, pak ketua lembaga sosial desa, djuga kepada pak mantri kesehatan dan pak mantri pertanian. Sisanja dilelang.” Cerita yang terlalu apik. Guru dan murid dalam keberhasilan. Para pembaca geleng-geleng kepala: kagum dan sulit percaya.
Cerita yang akhirnya kekurangan pikat. Keberhasilan kadang kurang memberi gejolak bagi pembaca. Pengarang malah menambahi “keberhasilan” dengan pidato saat upacara di sekolah: “Keistimewaan negeri merdeka. Kita harus pandai bekerdja. Supaja apabila kalian sudah besar kelak, kalian dapat bekerdja sendiri. Kita harus selalu bekerdja dan selalu membangun.” Kalimat-kalimat biasa diproduksi oleh pemerintah. Jadi, novel itu menginginkan anak-anak mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah, yang saat itu dipimpin Soeharto.
Hasil panen membuat anak-anak kerja bakti lagi untuk memasak. Mereka memberi kontribusi macam-macam. Sekolah menjadi tempat terindah, bukan hanya untuk membuka buku pelajaran dan mengerjakan tugas di buku tulis. Kita mengikuti nasihat dalam upacara: “Untuk memasak ubi sadja dibutuhkan kerukunan jang erat. Ada jang mempunjai sebutir kelapa, tetapi ada djuga jang tidak mempunjai apa-apa. Ada jang mempunjai lima gandu gula djawa, tetapi ada jang hanja mempunjai selembar daun pisang. Semuanja dikumpulkan untuk mentjiptakan suatu masakan jang lezat. Dan, kita sama-sama telah merasakan masakan itu.”
Sekali lagi, pengarang hendak mencipta cerita yang sempurna. SD di desa menjadi contoh kebahagiaan bukan gara-gara pelajaran saja tapi mengikutkan bekerja di pertanian. Kesempurnaan itu makin kentara dengan memasak bersama dan menikmati beragam makanan berbahan ubi. Jadi, novel bisa dijadikan referensi agar murid-murid di seantero Indonesia memuliakan ubi.
Apakah sekolah seperti itu masih bisa ditemukan di abad XXI? Kita malah bingung dengan kebijakan-kebijakan pemerintah, yang membuat sekolah menjadi tempat yang banyak perintah atau tanda seru. Sekolah mendapat beragam petunjuk agar menyukseskan segala program buatan pemerintah. Rekayasa terjadi menimbulkan kekonyolan. Kita mendingan tersesat dalam novel gubahan Soedharma ketimbang memikirkan pemerintah dan sekolah masa sekarang.
______
Penulis
Kabut, penulis lepas.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com
Saturday, January 24, 2026
Resensi Kabut | Tebu dan Padi
Oleh Kabut
Di Indonesia banyak cerita rakyat atau cerita anak mengenai pertanian. Cerita itu memikat. Yang mendengar mudah mengingatnya. Yang membaca dapat membuat catatan dan renungan. Pertanian menjadikan anak-anak mengerti Indonesia.
Konon, Indonesia itu memiliki tanah yang subuh. Indonesia bisa makmur. Anak-anak perlahan agak meragukan bila Indonesia makmur. Pernyataan bahwa “bisa” itu malah sering gagal. Apa yang menyebabkan Indonesia belum makmur? Anak-anak tidak mendapat jawaban yang jujur dari penguasa. Mereka kadang menanyakan kepada guru atau orang dewasa. Pertanyaan yang mudah tapi sangat sulit dijawab.
Sejak dulu, Nusantara itu padi. Yang diimajinasikan banyak orang memang kesuburan adalah padi. Padahal, yang ditanam di seantero Nusantara tidak hanya padi. Beragam tanaman dapat bertumbuh subur di Indonesia, menghasilkan daun, buah, bunga, dan lain-lain. Mengapa yang sering muncul adalah padi?
Pada akhir abad XIX, tanah jajahan berubah gara-gara pendirian pabrik-pabrik gula. Lahan-lahan luas dan subur ditanami tebu. Pesta keuntungan terjadi. Gula adalah industri yang sangat manis. Banyak pihak yang berebutan laba. Akibatnya, konflik dan kehancuran terjadi akibat tebu. Di Jawa, lakon pertanian tampak menggembirakan gara-gara tebu. Namun, akhirnya, muncul petaka-petaka.
Pada awal abad XX, manisnya industri gula masih terasa. Gula sangat dibutuhkan di pasar dunia. Jawa turut menjadi pemasok yang besar. Semuanya menjadi lesu pada masa 1930-an. Penyebabnya adalah depresi ekonomi. Yang terjadi adalah kebingungan, kehancuran, dan impian yang tersisa. Di Indonesia, industri gula tidak mati. Pertanian tebu masih berlaku di pelbagai tempat. Keuntungan masih diharapkan meski tidak sefantastis masa lalu.
Kita kembali teringat padi dan tebu saat membaca buku cerita anak berjudul Bunga-Bunga Tebu gubahan Bung Smas, yang diterbitkan Gramedia, 1983. Buku yang dicetak apik dalam pilihan kertas, huruf, dan garapan sampul. Gambar itu mudah membuka nostalgia Orde Baru saat pertanian tebu masih ikut menjadi andalan pembangunan nasional. Yang sukses memang swasembada beras. Namun, masalah tebu dan gula juga mendapat perhatian besar dari pemerintah dan penguasaha. Lakon itu seolah menganjurkan para petani menanam tebu ketimbang padi.
Yang diceritakan Bung Smas bukan sejarah. Pembaca akan mengetahui perbedaan nasib petani di desa. Banyak yang meraup untuk setelah menanam tebu di sawah. Sedikit orang yang tetap menanam padi dengan gagal panen atau hasil yang sangat sedikit. Maka, kemiskinan terjadi. Desa bercerita perbedaan nasib gara-gara tebu dan padi.
Beno, anak yang masih murid SD, lahir dan tumbuh dalam keluarga miskin. Bapaknya adalah petani, yang selalu memilih padi. Bapaknya berbeda pendapat dengan para tetangga yang memilih menanam tebu. Kemiskinan menimpa sambil melihat tetangga-tetangga yang sejahtera dari pertanian tebu. Beno menentukan sikap atas nasibnya.
Di sekolah, Beno sulit menjadi murid pintar. Ia terbiasa gagal dalam mata pelajaran Matematika. Di rumah, ia sering dianggap salah oleh bapaknya, yang biasa memberi pertanyaan tapi sulit terjawab. Pengarang mengisahkan nasib Beno yang dimarahi bapak gara-gara suka bermain. Bapaknya bertanya tentang pentingnya melakukan sesuatu yang bermanfaat ketimbang bermain. Maka, bapaknya bertanya: “Apa lagi kerjamu, Ben?”
Yang terjadi: “Pertanyaan itu mudah sekali. Jawabannya yang sulit. Seperti soal Matematika pagi tadi. Soalnya mudah. Jawabannya sukar didapat karena semalam Beno tidak belajar. Akibatnya, Pak Tom, guru kelas empat itu, menghukumnya. Disuruh berdiri dengan sebelah kaki di depan kelas!” Beno menyadari kesalahan dan kelemahannya. Hiburannya adalah bermain atau membuat mainan.
Di desanya sedang musim tebu. Beno memanfaatkan gelagah untuk membuat mainan. Hari-harinya adalah membuat mainan sambil mengasuh adiknya yang masih kecil dan suka mengompol. Beno menyadari bapaknya dalam kemiskinan dan ibunya menjadi buruh penumbuk padi agar keluarga bisa makan. Beno yang suka bermain membuat bapaknya jengkel.
Bapaknya dianggap bersalah oleh para tetangga. Mereka mengajaknya menanam tebu tapi bapaknya tetap memilih padi. Para pembaca yang paham sejarah dan pertanian sebenarnya dapat membahas secara kritis kehidupan agraris. Padi tidak selalu menjanjikan keluarga petani bisa makan dan sejahtera. Namun, pertanian tebu tidak selamanya hanya bercerita keuntungan. Ada hal-hal yang merugikan. Yang kita baca adalah cerita anak, yang belum mengharuskan memikirkan masalah-masalah besar.
Beno tidak selalu bernasib buruk. Pada suatu hari, ia diminta temannya membuatkan mainan berupa mobil-mobilan dari gelagah tebu. Yang terjadi di luar pikiran Beno, teman itu menjuual mainan mobil dengan harga lumayan. Akhirnya, berdua melakukan kerja bareng dalam membuat dan memasakan mobil-mobilan dari gelagah. Beno mendapatkan uang. Ia belum terlalu mengerti uang tapi menyadari kemiskinannya tidak terlalu fatal.
Kemahirannya membuat mainan sedikit menjadi jawaban atas masalah-masalah yang menimpanya. Yang disuguhkan pengarang agar pembaca mengagumi Beno: “Dalam hatinya, Beno bersyukur diam-diam. Tuhan tak pernah melupakannya. Lewat kecerdikan sahabatnya, ia memperoleh rezeki dari Tuhan. Meskipun cukup berat juga kerjanya. Selama empat hari harus membuat lima buah mobil gelagah!” Hari-hari bekerja tapi rasanya bermain. Yang membahagiakan adalah dapat rezeki.
Akibatnya, Beno makin emoh belajar. Ia malah sudah pasrah gagal dalam mengerjakan tugas Matematika. Pilihannya adalah dihukum. Matematika adalah pelajaran yang sangat sulit. Di kelas, ia mengantuk. Penentuan sikap sudah jelas. Beno memilih membuat mobil-mobilan dari gelagah. Rezeki yang diperolehnya bisa untuk membahagiakan adik dan membantu kebutuhan keluarga.
Kejutan demi kejutan terjadi. Bapaknya membantu mencarikan gelagah. Beno sempat tidak percaya saat mengetahui gurunya yang biasa memberi hukuman malah memberi bantuan berupa lem. Pokoknya, Beno menyadari gelagah (tebu) menjawab kesulitan-kesulitan hidup. Namun, ia belajar memahami bapaknya yang tetap memilih bertanam padi, tidak mau seperti tetangga menanam tebu.
Cerita anak yang digubah Bung Smas sebenarnya menantang anak-anak yang membacanya untuk “berdiskusi”. Cerita yang sederhana tapi menyimpan banyak masalah pertanian. Ada pula masalah pendidikan. Pokoknya, cerita yang seru bila dijadikan sumber diskusi di kelas. Di Indonesia, kebiasaan berdiskusi setelah anak-anak membaca buku sangat jarang terjadi. Tugas yang sering adalah membuat sinopsis atau resensi.
Di sekolah, Beno bukan anak yang pintar. Ia tersiksa oleh Matematika. Gurunya tidak mengecapnya bodoh. Beno tetap anak istimewa. Yang menentukan adalah kemahirannya dalam membuat mainan. Buku cerita yang memberi penghargaan tidak melulu ilmu dari beragam mata pelajaran.
Gurunya malah memberi anjuran untuk mendukung Beno: “Coba kaubuat kerajinan lainnya selain mobil-mobilan. Misalnya rumah Minangkabau atau masjid, gereja, rumah joglo, dan yang lainnya. Barang-barang seperti itu sangat laku di kota. Bawa saja ke toko kerajinan. Pasti akan laku. Ingat, jangan terlalu murah memberi harga. Perhitungkan harga bahan bakunya, waktu dan tenaga penggarapanmu. Kalau perhitunganmu cermat, usahamu akan maju.” Nasihat itu diberikan kepada Beno yang masih murid SD, yang bermimpi bisa melanjutkan belajar di SMP meski bapaknya sudah menyatakan tidak ada anggaran. Cerita yang apik!
_________
Pemulis
Kabut, penulis lepas.
Kirim naskah ke
redakksingewiyak@gmail.com
Saturday, January 17, 2026
Resensi Kabut | Pemancing dan Kesopanan
Resensi Kabut
Beberapa orang mengaku susah menulis cerita anak. Beberapa orang mudah membaca cerita anak. Kita tidak bermaksud membuat perbandingan sembrono mengenai peran pengarang dan pembaca. Yang kita urusi adalah cerita anak, terutama di Indonesia.
Apa-apa yang menjadi masalah dalam penulisan cerita anak? Yang paling menyulitkan adalah menghindari masalah sekolah. Para tokoh yang diceritakan sering masih murid di SD atau SMP. Bagaimana caranya agar tokoh yang dihadirkan dalam cerita “terpisah” dari sekolah? Susah. Pengarang yang membuat dongeng berlatar masa kerajaan masih bisa mengelak. Pengarang yang menaruh para tokoh dalam zaman modern mengenali (lembaga) pendidikan pasti kerepotan jika mengabsenkan sekolah.
Bercerita anak-anak yang belajar di sekolah itu membosankan! Anak-anak yang berseragam. Mereka yang membuka buku pelajaran. Guru yang mengajar di depan kelas. Pokoknya, cerita yang mengandung sekolah itu sudah bikin bosan yang sulit ditanggulangi. Kita sangat paham lakon menjadi murid. Kita menyadari peran sekolah, pengaruh guru, dan wajib belajar. Cerita anak yang masih berkaitan sekolah terus saja ditulis di Indonesia, menghasilkan ratusan atau ribuan judul.
Yang menulis cerita anak, yang tokohnya murid dan latarnya sekolah masih berlaku sampai sekarang. Kita sulit menolak. Buku-buku baru yang diterbitkan masih “mementingkan” sekolah. Pengecualian hanya beberapa cerita saja yang berani menjauh atau “mengharamkan” sekolah. Apakah itu terjadi dalam penulisan cerita anak-anak di pelbagai negara? Benar. Ratusan novel anak yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia membawa sekolah. Ada beberapa yang berusaha mengurangi kadar sekolah atau memilih latar masa silam yang “terlalu” khayal. Yang main-main fantasi masih memungkinkan abai sekolah.
Pengarang menjelaskan: “Anak-anak Indonesia dewasa ini telah semakin pandai. Mereka cerdas dan banyak akalnya. Saya kira, anak-anak pembaca buku ini juga demikian. Si Oton dan kawan-kawannya yang diceritakan dalam buku ini adalah anak-anak masa kini. Mereka rajin bersekolah dan senang bergaul dengan sesamanya.”
Yang kita baca adalah keterangan yang diberikan E Siswoyo dalam buku berjudul Si Oton 2: Warisan. Buku cerita anak yang diterbitkan Gramedia, 1985. Pengarang gamblang mementingkan anak yang belajar di sekolah. Ia berani menyatakan anak-anak Indonesia pandai. Apakah itu dampak dari kebijakan-kebijakan rezim Orde Baru yang mengaku ingin “mencerdaskan” anak-anak di seantero Indonesia?
Sejak mula, pengarang sudah menginginkan ceritanya dibaca oleh anak-anak. Artinya, cocok dibaca agar anak-anak mendapat hikmah. Misi yang terbesar adalah buku masuk sekolah, menjadi koleksi di perpustakaan. Buku yang bakal direstui kepala sekolah dan guru gara-gara isinya memberi hal-hal penting dalam perkembangan anak.
Yang menulis cerita mengaku tetap berurusan sekolah. Ia bisa mengelak sejenak dengan pengisahan selama liburan. Sekolah tetap penting. Maka, sejak awal, ia memberi pujian kepada anak-anak yang rajin belajar dan sadar makna pendidikan. Pada babak akhir, pengarang makin mementingkan sekolah, yang membuktikan anak-anak belajar secara sungguh-sungguh setelah menikmati liburan.
Kita tunda sebentar masalah cerita anak, belajar di sekolah, dan liburan. Yang istimewa dari buku berjudul Si Oton: Warisan adalah peran E Siswoyo. Kita mencatat ia adalah pengarang sekaligus pembuat gambar di sampul, disempurnakan dengan membuat ilustrasi di beberapa halaman. Di industri buku, ia memiliki tiga peran. Artinya, ia sangat paham kepustakaan anak. Jadi, pertimbangan isi cerita mendapat keselarasan di sampul dan ilustrasi saat pembaca membuka halaman demi halaman. Anggaplah itu capaian besar dalam biografi E Siswoyo.
Apa yang diceritakan? Ia mengisahkan anak-anak yang berlibur. Mereka sering berkumpul setiap hari, pergi menyusuri sungai. Di sana, mereka melihat para pemancing. Anak-anak penasaran dengan kenikmatan pemancing, tertarik dengan ikan-ikan. Ingatlah, yang diceritakan adalah hari-hari tanpa pelajaran di sekolah. Pergi ke sungai dirasakan anak-anak sebagai tamasya. Pengarang mengimbuhinya sebagai cara memuliakan alam.
Pengalaman yang indah bagi Oton dan teman-teman: “Kami sering mandi di belik yang airnya sejuk dan jernih di tepian sungai. Sering pula kami hanya menyusuri tepian hingga jauh ke hulu, dan melihat orang yang sedang menjala ataupun memancing ikan.” Peristiwa yang sederhana tapi membahagiakan anak-anak yang terlalu lama diwajibkan belajar di sekolah.
Sosok penting dalam cerita adalah pemancing. Anak-anak berada dalam alam dan keinginan mengetahui lakon pemancing. Maka, mereka mendekat dan mengajak bicara. Pemancing itu disebut Pak Tua. Sebutan berdasarkan umur dan tampilan. Anak-anak cepat akrab dengan Pak Tua. Namun, ada keanehan gara-gara Agung meminta ikan milik pemancing. Oton mencoba memberi tahu cara yang sopan untuk meminta. Agung belum paham. Pokoknya, ia minta ikan dan berharap mendapatkan.
Pembaca mulai dikenalkan dengan Agung. Ia adalah anak dari pengusaha, yang terbiasa segala keinginannya terpenuhi. Sifat itu terbawa saat bersama orang lain. Oton tidak membencinya, berusaha memberi nasihat dan penyadaran. Anak-anak yang membaca buku cerita gubahan E Siswoyo perlahan mendapat pengajaran sopan santun atau tata krama. Pelajaran yang penting dalam pergaulan sosial, tidak kalah dengan beberapa mata pelajaran di sekolah. Oton menjadi panutan bagi teman-temannya dalam tata krama, yang semestinya dimiliki anak saat berada di rumah, sekolah, dan masyarakat. Artinya, novel tipis itu mengandung misi besar sesuai yang dikehendaki oleh kurikulum dan pengukuhan kepribadian Indonesia.
Perkataan Oton kepada Agung, yang sebenarnya nasihat kepada para pembaca: “Saya kira engkau bertindak kurang tepat, Agung. Siapa tahu ikan itu sangat bernilai bagi Pak Tua. Ia tukang memancing. Hidupnya mungkin tergantung dari hasil memancingnya. Tiba-tiba hasilnya kau ambil. Engkau yang enak, orang yang rugi.” Oton, sosok anak yang dibuat oleh pengarang memiliki banyak pengetahuan dan sadar segala perbuatan yang berpatokan kesopanan. Cara mengingatkan itu baik, tidak mutlak menyalahkan tapi memberi petunjuk sesuai pedoman dalam masyarakat.
Di rumah, Agung pun terlibat debat mengenai tata krama. Ikan yang dibawanya dari sungai, yang dimintanya dari pemancing, disantap di rumah. Ibunya menanyakan asal ikan, lalu berkata: “Jadi, Agung sudah menjadi peminta-minta ya?” Agung lugas menjawab: “Pak Tua itu sangat baik hati, Bu. Ia dengan rela memberikan ikan yang saya minta, kemarin maupun tadi.” Agung tetap belum mengetahui kesalahannya. Masalah inilah yang semestinya diperhatikan anak-anak selaku pembaca. Mereka diajak belajar melalui kata-kata dan perbuatan.
Bapaknya sebagai pengusaha ikut urun omongan: “Agung, tidak seharusnya kau begitu. Kamu tahu Pak Tua itu hidupnya miskin sehingga ia bekerja sebagai pemancing. Ikan hasil pancingannya itu mungkin sangat berguna bagi keluarganya. Jika tidak kauambil mungkin ikan itu dapat ia jual untuk membeli beras.” Kita bisa membedakan perkataan Oton sebagai teman dan perkataan bapak-ibu dalam posisi kaya. Pendapat bapak dan ibu Agung “berlebihan” seolah kasihan dengan nasib pemancing yang diduganya miskin. Padahal, pemancing itu pensiunan mantri guru.
Di kesusastraan anak Indonesia, novel buatan E Siswoyo sangat patut menjadi contoh novel bergelimang ajaran moral. Percakapan dan debat yang bermunculan memasalahkan kesopanan atau tata krama. Yang dihadirkan adalah tokoh anak-anak dan tokoh yang sudah tua. Perbedaan umur dan status sosial mengajarkan perkara-perkara yang penting direnungkan para pembaca. Novel yang selaras hasrat Soeharto mencipta “masyarakat sopan” atau “masyarakat patuh”.
Yang agak menggelikan adalah usaha bapak Agung dalam membalas budi kebaikan Pak Tua. Ia menitip kepada Agung berupa korek api dan kotak tembakau yang apik agar diberikan kepada Pak Tua. Di situ, anak-anak mengerti bahwa pemancing yang sabar dalam waktu yang lama niscaya merokok. Yang dipelajari anak-anak adalah memancing, bukan merokok. Pak Tua itu mengajari anak-anak memancing meski diselingi merokok. Jadi, merokok bukan pesan yang terpenting dalam novel.
_______
Penulis
Kabut, penulis lepas.
redaksingewiyak@gmail.com
Friday, January 16, 2026
Dakwah | Seputar Isrā’-Mi‘rāj
Oleh Ust. Drs. Abu Bakar
Isrā’ dan Mi‘rāj merupakan peristiwa luar biasa dalam sejarah kenabian yang tidak dapat dijangkau oleh nalar akal manusia yang sangat terbatas. Peristiwa ini menempuh jarak yang amat jauh dalam waktu yang sangat singkat. Jarak antara Masjidil Haram di Makkah dan Masjidil Aqsha di Palestina kurang lebih 1.000 kilometer. Sementara perjalanan dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntahā, melewati tujuh lapis langit, berada pada jarak yang tidak terbayangkan oleh perhitungan manusia.
Ilmu astronomi modern baru mampu mengukur jarak antara bumi dan matahari, yakni sekitar 149.578.000 kilometer. Itupun seluruh benda langit tersebut masih berada di bawah langit pertama. Oleh karena itu, peristiwa Isrā’ dan Mi‘rāj hanya dapat diterima dengan pendekatan iman yang kokoh. Apabila Allah Swt. menghendaki sesuatu, maka tidak berlaku hukum alam bagi-Nya. Semua menjadi mudah dan tunduk kepada kehendak-Nya.
Menurut para sejarawan, peristiwa Isrā’ dan Mi‘rāj terjadi pada tahun ke-11 atau ke-12 sejak Nabi Muhammad ﷺ diangkat menjadi Rasul, bertepatan dengan tanggal 27 Rajab, sekitar tahun 621 Masehi. Setahun setelah peristiwa tersebut, Nabi ﷺ berhijrah ke Madinah.
Isrā’ secara bahasa berarti memperjalankan. Secara istilah tarikh, Isrā’ adalah diperjalankannya Nabi Muhammad ﷺ pada malam hari dari suatu tempat ke tempat yang lain, yaitu dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Palestina.
Peristiwa Isrā’ ini diabadikan oleh Allah Ta‘ālā dalam Al-Qur’an Surah Al-Isrā’ ayat 1:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Artinya:
"Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
Mi‘rāj secara bahasa berarti naik atau tangga untuk naik. Secara istilah, Mi‘rāj adalah naiknya Nabi Muhammad ﷺ ke langit, menembus tujuh lapis langit hingga sampai ke Sidratul Muntahā di kawasan pusat kerajaan Allah ‘Azza wa Jalla. Setiap lapisan langit dijaga oleh para malaikat, dan jarak antar-lapisan tersebut berada di luar jangkauan perhitungan manusia.
Para ulama berbeda pendapat mengenai apakah Isrā’–Mi‘rāj terjadi dengan ruh saja atau dengan ruh dan jasad. Sebagian kecil ulama berpendapat bahwa peristiwa tersebut terjadi dengan ruh saja. Namun, jumhur ulama berpendapat bahwa Nabi Muhammad ﷺ diisrā’ dan dimi‘rājkan dengan ruh dan jasad sekaligus, dalam keadaan terjaga, bukan dalam mimpi.
Pendapat jumhur ini didasarkan pada firman Allah dalam Surah Al-Isrā’ ayat 1, khususnya pada dua kata kunci penting, yaitu سُبْحَانَ dan بِعَبْدِهِ. Kata سُبْحَانَ menunjukkan peristiwa yang sangat agung dan luar biasa. Jika peristiwa tersebut hanya berupa mimpi atau perjalanan ruh semata, maka tidaklah layak diawali dengan pengagungan sebesar itu.
Adapun kata بِعَبْدِهِ menunjukkan satu kesatuan antara ruh dan jasad. Dalam banyak ayat Al-Qur’an, kata ‘abd selalu merujuk pada manusia secara utuh, bukan ruh semata. Di antaranya:
“Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang seorang hamba ketika ia mengerjakan shalat?” (QS. Al-‘Alaq: 10)
Dan firman Allah Swt.:
“Dan sesungguhnya ketika hamba Allah berdiri menyembah-Nya, hampir saja mereka berdesak-desakan mengerumuninya.” (QS. Al-Jinn: 19)
Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa istilah ‘abd mencakup ruh dan jasad secara utuh. Oleh karena itu, pendapat jumhur ulama bahwa Isrā’–Mi‘rāj terjadi dengan ruh dan jasad adalah pendapat yang paling kuat dan didukung oleh dalil Al-Qur’an, hadis, serta kajian tafsir dan sirah.
Peristiwa Mi‘rāj dijelaskan dalam banyak hadis, baik yang sahih, hasan, maupun yang lemah. Hadis yang paling sahih diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Anas bin Malik r.a. Rasulullah ﷺ bersabda:
(Hadis panjang)
Artinya:
"Aku didatangkan seekor Buraq, hewan yang lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari bagal. Setiap langkahnya sejauh pandangan mata. Aku menungganginya hingga sampai ke Baitul Maqdis, lalu aku menambatkannya pada tempat para nabi biasa menambatkan kendaraan mereka. Kemudian aku masuk ke Masjid Baitul Maqdis dan melaksanakan shalat dua rakaat di dalamnya…"
Inti dari peristiwa Isrā’ dan Mi‘rāj adalah diturunkannya perintah shalat lima waktu. Pada awalnya, Allah Swt. mewajibkan shalat sebanyak lima puluh waktu dalam sehari semalam. Atas saran Nabi Musa a.s., Nabi Muhammad ﷺ berulang kali kembali menghadap Allah Swt. untuk meminta keringanan, hingga akhirnya ditetapkan menjadi lima waktu.
Namun demikian, Allah Swt. memberikan jaminan bahwa shalat lima waktu tersebut tetap bernilai pahala lima puluh waktu. Hal ini karena setiap satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat.
Dengan demikian, peristiwa Isrā’ dan Mi‘rāj merupakan peristiwa akidah yang harus diyakini dengan keimanan yang teguh. Peristiwa ini terjadi dengan ruh dan jasad Nabi Muhammad ﷺ dalam keadaan terjaga, dan menjadi dasar diwajibkannya shalat lima waktu sebagai tiang agama Islam.
Semoga kajian ini bermanfaat dan menambah keteguhan iman kita.
Bārakallāhu fīkum.
Sumber Bacaan
-
Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 3, hlm. 1.611 dan seterusnya.
-
Tafsir Fathul Qadīr, Asy-Syaukani, Jilid 3, hlm. 285 dan seterusnya.
-
Tafsir Kementerian Agama RI.
-
Nūrul Yaqīn, Muhammad Hudari Bik, hlm. 69 dan seterusnya.
-
Kapita Selekta Pengetahuan Agama Islam, Departemen Agama RI, dan sumber lainnya.


.jpg)
.jpg)





