Oleh Ust. Izzatullah Abduh, M.Pd.
Bismillah walhamdulillah washsholatu wassalamu la rasulillah.
Ibadah puasa adalah jargonnya amalan di bulan Ramadhan. Ia bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan ibadah paling prioritas yang wajib kita beri perhatian besar.
Tidak ada puasa yang Allah wajibkan atas umat ini selain puasa di bulan Ramadhan. Bahkan Allah menjadikannya sebagai salah satu rukun, pondasi utama bangunan Islam.
Perintah Puasa dalam Al-Qur’an
Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Yaitu) beberapa hari yang tertentu (hari-hari Ramadhan).” (QS. Al-Baqarah: 183–184)
Dan Allah tegaskan lagi:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang haq dan batil). Maka barangsiapa di antara kamu menyaksikan bulan itu, hendaklah ia berpuasa.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Bahkan Rasulullah ﷺ menegaskan kedudukannya sebagai rukun Islam:
بُنِيَ الإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الْبَيْتِ
“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu, jamaah sekalian, jadikanlah puasa kita sebagai ibadah yang berkualitas. Bukan hanya menghasilkan pahala besar, tetapi juga mendatangkan cinta Allah.
Dalam hadits qudsi Allah berfirman:
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ
“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan atasnya.” (HR. Bukhari)
Bayangkan… ketika kita berpuasa kurang lebih 12 jam setiap hari, kita sedang mengerjakan ibadah yang paling Allah cintai—karena ia adalah kewajiban.
Artinya, selama itu pula kita berada dalam suasana ibadah, dalam limpahan rahmat dan dicintai Allah.
Lebih dahsyat lagi, bahwa jika Allah telah mencintai seorang hamba, cinta itu diumumkan di langit.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ: إِني أحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ، فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، ثُمَّ يُنَادِي فِي أَهْلِ السَّمَاءِ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ
“Sesungguhnya jika Allah mencintai seorang hamba, Allah memanggil Jibril: ‘Sesungguhnya Aku mencintai si Fulan, maka cintailah dia.’ Maka Jibril pun mencintainya. Lalu Jibril menyeru kepada penduduk langit: ‘Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah dia.’ Maka penduduk langit pun mencintainya. Kemudian diletakkanlah baginya penerimaan di bumi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Subhanallah… berita cinta Allah itu menjadi “headline” di langit.
Kemudian secara normal, Ramadhan berlangsung 29 atau 30 hari. Jika kita berpuasa penuh, maka kita mendapatkan pahala sebanyak hari yang kita jalani.
Namun ternyata, ada orang-orang yang “menang banyak” — yaitu mereka yang dermawan, yang berbagi buka puasa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
“Barangsiapa memberi makan untuk berbuka kepada orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)
Bayangkan jika seseorang memberi makan 10 orang setiap hari, maka 30 hari ... betapa berlipat-lipat pahala puasanya.
Benarlah dahulu para sahabat berkata:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ وَالدَّرَجَاتِ الْعُلَى
“Wahai Rasulullah, orang-orang yang memiliki harta telah pergi dengan membawa pahala dan derajat yang tinggi.” (HR. Muslim)
Rasulullah ﷺ kemudian bersabda:
ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ
“Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki.” (HR. Muslim)
Artinya karunia Allah itu tidak bisa digugat oleh makhluq. Allah berikan sesuai kehendak-Nya kepada siapa yang Dia mau. Dan Allah Maha Luas Pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.
Jika belum mampu berbagi, maka jangan berkecil hati. Niatkanlah. Perbanyaklah niat kebaikan di bulan Ramadhan. Karena sungguh Allah Maha Pemurah. Niat baik itu dicatat dan dinilai sebagai suatu ibadah yang berpahala kebaikan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً
“Barangsiapa berniat melakukan kebaikan namun belum melakukannya, maka Allah mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka jangan pernah meremehkan niat baik.
Ahirnya... Ramadhan bukanlah sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah momentum meraih cinta Allah.
Puasa adalah ibadah wajib — dan kewajiban adalah amalan yang paling Allah cintai.
Maka mari kita jalani Ramadhan dengan:
- Puasa yang berkualitas
- Hati yang penuh niat baik
- Semangat berbagi sesuai kemampuan
- Harapan besar untuk dicintai Allah
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang dicintai-Nya, yang namanya disebut di langit, dan diterima di bumi. Aamiin.
Barakallahu fikum.
________
Penulis
Izzatullah Abduh, M.Pd., Kepsek Imam Nawawi Islamic School & Mudir TAFISA Boardingschool Pondok Cabe Tangerang Selatan.
redaksingewiyak@gmail.com










.jpg)