Pendaftaran #Komentar Masuk Sekolah/Kampus
View AllProses Kreatif
Dakwah
Redaksi
Latest News
Monday, July 6, 2026
Karya Siswa | Cerpen Nayla Alhusna | Antara Cinta dan Menunggu
Cerpen Nayla Alhusna
Nayla Alhusna selalu percaya bahwa hidupnya sudah cukup sibuk tanpa perlu memikirkan urusan cinta. Sebagai ketua OSIS, juara olimpiade sains, langganan juara penelitian, pembawa acara dengan suara yang mampu membuat orang-orang terpesona dan murid yang hampir tidak pernah mendapat nilai jelek.
Waktu Nayla biasanya habis untuk rapat, belajar, dan kegiatan sekolah. Bahkan Keysha, sahabatnya sejak kelas sepuluh, sering mengatakan kalau Nayla kemungkinan besar akan menikah dengan buku pelajaran.
"Kalau suatu hari lo pacaran, gue traktir satu kantin." Keysha mengucapkan kalimat tersebut sembari memainkan alisnya. Matanya terlihat menantang Nayla. "Itu ga bakal kejadian." Nayla menghembuskan nafas dengan pelan. Nayla menutup matanya karena merasa ngantuk.
Keysha memutarkan bola matanya, "Kenapa?" Pertanyaan singkat yang Nayla rasa tak harus ia jawab. "Hey, ketos, gua bertanya loh, jawab dong!" Keysha mengguncangkan bahu Nayla. Nayla membuka matanya, "Gue males."
"Atau ga ada yang berani?" Keysha tertawa terbahak-bahak setelah mengatakan kalimat yang terdengar sangat jahil. Nafas Nayla memburu. Sekarang, ia terlihat ingin melahap Keysha dengan ganas, "Pergi sana." Keysha pergi dengan tawa yang sangat menggema. Nayla hanya terdiam melihat punggung Keysha. Saat itu Nayla benar-benar yakin bahwa Keysha salah.
Sampai suatu siang, ketika ia berdiri di depan wastafel dekat aula sekolah sambil mencuci stroberi yang dibawanya dari rumah. Jam istirahat pertama baru saja dimulai. Tempat itu cukup sepi. Nayla mematikan keran lalu berbalik badan.Dan hampir menabrak seseorang.
Jarak mereka begitu dekat hingga Nayla refleks mundur satu langkah. "Oh, maaf." Suara itu membuat Nayla mendongak. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, otak Nayla seperti mengalami error.
Nama yang terletak pada name tag baju seragamnya adalah Panorama Jingga. Satu kata dalam pikiran Nayla, unik.
Ia langsung ingat tentang rumor atas nama Panorama Jingga. Yang ia ketahui bahwa Panorama Jingga adalah anak basket, anggota paskibra, vokalis band sekolah. Dan pemilik wajah yang terlalu sempurna untuk ukuran manusia biasa. Nala baru pertama kali melihat wajah Panorama secara langsung. Panorama terlihat sedikit bersalah. "Maaf, gua kira wastafelnya kosong." Nayla terdiam sebentar.
"Oh... engga kok." Tangan Nayla terlihat memegang stroberi dengan erat. Kentara sekali, bahwa ia terlihat sangat gugup. Bagus, sangat bagus. Ketua OSIS kebanggaan sekolah. Pembawa acara handal yang jago improvisasi. Pengisi siaran podcast peserta didik berprestasi, baru saja menjawab seperti NPC. Panorama tersenyum kecil. Ia menunduk sedikit, "Gapapa kan?"
"Iya." Nayla mengalihkan pandangan ke arah lain. "Oke. Maaf ya." Lalu ia pergi begitu saja. Sementara Nayla masih berdiri mematung. Ia terdiam cukup lama.
"NAYLAAA!" Suara Keysha membuat Nayla tersadar. "Kenapa lo?" Nayla menunjuk ke arah Panorama yang berjalan menjauh. "Itu." Kening Keysha mengernyit keheranan, "Panorama?"
"Iya." Nayla mengangguk pelan. "Kenapa dengan dia? " Keysha terlihat bingung. Sangat bingung. Nayla diam beberapa detik, "Ganteng." Satu kata. Singkat, tapi mampu membuat Keysha terdiam. Mencerna ucapan Nayla. Si Ketos cantik, berprestasi, tidak ada riwayat dekat dengan lelaki manapun. Hari ini sedang memuji seorang lelaki.
"HAH??" Keysha langsung tertawa sampai hampir jatuh. Hari itu seharusnya menjadi akhir dari cerita. Sayangnya, justru menjadi awal.
Seminggu kemudian sekolah sedang sibuk mempersiapkan pentas seni tahunan. Sebagai ketua OSIS, Nayla jadi orang yang sangat sibuk dan bertugas mengawasi daftar ulang seluruh peserta. Satu per satu siswa datang ke mejanya. Sampai seseorang berhenti tepat di depan kursinya.
"Permisi." Suara itu... Jantung Nayla langsung salah tingkah. Ia kenal. Itu suara Panorama. Datang dengan map berisi formulir peserta. "Oh..." Nayla hanya mengucapkan sepatah kata dengan wajah tersipu malu.
Panorama terlihat menahan senyum. "Oh doang?" Nayla langsung ingin menghilang. Menghela nafas perlahan. "Maksudnya... silakan."
Panorama menyerahkan formulir. Saat tangan mereka hampir bersentuhan, Nayla refleks menarik tangannya. Panorama mengangkat alis. "Gue nyetrum?"
"Hah?" Nayla memutar otak. Maksud si ganteng ini, apa ya gitu kan. "Refleks banget." Panorama menyilangkan tangan di dada. "Engga kok." Mata sinis nan indah itu, langsung menjawab dengan nada ketus.
"Syukur." Panorama terlihat acuh tak acuh, namun terdapat senyum tipis di wajahnya. Lalu lagi-lagi senyum itu muncul. Dan ya, lagi-lagi Nayla lupa cara bernapas.
Malam pentas seni akhirnya tiba. Aula sekolah penuh sesak. Sebagian besar murid perempuan tampaknya datang bukan karena acara sekolah, melainkan karena Panorama Jingga.
Saat band Panorama naik ke panggung, teriakan langsung memenuhi ruangan. "PANORAMAAAA!" Teriakkan seorang gadis berambut pendek mampu membuat telinga sakit.
"I LOVE YOU!" Nah, lagi-lagi ada perempuan berambut panjang, yang teriak disamping Nayla. Tak ayal, ia menutup telinganya.
"NIKAH SAMA AKU YA!" Nayla langsung menoleh kearah suara dan mengucap sebuah kalimat dalam hatinya, "Aih, nih cewe mimpi banget." Keysha langsung menoleh ke arah Nayla. "Saingan lo banyak."
"Diam." Nayla menyilangkan kedua tangannya di dada, terlihat sinis kepada sang sahabat. Keysha terkekeh pelan, lalu menggelengkan kepala.
Band mereka mulai bermain. Lampu panggung menyorot Panorama yang berdiri di tengah sambil memegang gitar. Suara penonton perlahan mereda. Lagu pertama selesai. Lagu kedua dimulai.
Lagu yang belum pernah didengar Nayla sebelumnya. "Kalau mata bisa bicara, mungkin hati sudah ketahuan..." Suara Panorama memenuhi aula. "Dari ramai dunia, aku cuma mencari satu tujuan..." Awalnya Nayla hanya menikmati lagu. Sampai ia sadar. Panorama sedang melihat ke arahnya. Bukan sekali, bukan juga hanya dua kali. Melainkan hampir sepanjang bagian lagu itu. Jantung Nayla langsung kacau. Ia buru-buru membuang muka.
"Keysha." Nayla memanggil sahabatnya dengan histeris. "Hm?" Keysha tetap fokus menonton penampilan keren dari band kebanggaan sekolah itu. "Gue mau pulang." Nayla mencolek lengan baju Keysha.
Keysha memutarkan kedua bola matanya, "Heh, inget ya, lo itu ketua OSIS nya, ketua penyelenggara, lagian belum selesai Nay." Keysha terlihat kesal. "Gue malu." Nala menutup wajahnya dengan gusar. "Kenapa?" Keysha menatap Nayla dengan aneh.
"Dia liatin gue." Nayla menunjuk kearah panggung. Keysha juga langsung menoleh ke panggung. Lalu menoleh lagi ke Nayla. Lalu menoleh lagi ke panggung. "Nay."
"Apa." Nayla menaikkan wajahnya yang semula tertunduk. "Kayaknya bener deh." Keysha mengucapkan kalimat dengan ambigu. "HAH? MAKSUD LO?" Nayla kebingungan, tak mengerti maksud Keysha. Keysha terlihat tak tertarik untuk menjelaskan.
Sejak malam itu, sesuatu mulai berubah. Bukan hanya pada Nayla. Tapi juga pada Panorama. Karena tanpa sadar, mereka mulai saling mencari.
Awalnya lewat tatapan. Lalu lewat senyuman. Lalu lewat hal-hal kecil yang tidak pernah mereka akui. Sampai akhirnya rasa penasaran mengalahkan gengsi.
Suatu siang Nayla menghampiri Andika, sahabat Panorama. "Dik." Nayla duduk disamping kursi yang sedang diduduki oleh Andika. Tak ada pemiliknya. Tak masalah kan, kalau ia langsung duduk begitu saja. "Hm?" Andika menjawab sambil membaca buku. "Panorama punya pacar ga?"
Berjingkat kaget. Buku yang sedang dibaca, langsung ditutup. Andika tersenyum seperti menemukan gosip nasional. "Nanya buat siapa?" Alisnya di naik turunkan. Sangat menyebalkan di mata Nayla. "Penelitian."
Andika tak mampu menahan tawanya yang meledak, "Lo kira gue orang bodoh?" Andika terkekeh pelan.
"Nanya doang." Nayla mengalihkan pandangan. Mukanya merah. Seperti tomat. "Gapunya." Andika menaruh bukunya di meja. Tangannya dilipat di atas meja. Jantung Nayla langsung sedikit lega. Namun Andika melanjutkan.
"Tapi katanya masih gagal move on sama mantannya." Bagaikan serangan petir disiang bolong. Perasaan Nayla langsung jatuh.
Di rumah. Setelah kejadian itu. Nayla terdiam. Ia menatap langit-langit kamar. Disela-sela telepon video dengan sang sahabat. Nayla memecah keheningan. "Key."
"Apa?" Keysha membalas panggilan Nayla dengan nada malas. "Gue mau nyerah." Nayla menghembuskan napas. "Kenapa?" Terlihat di sana, Keysha sangat bingung. Alisnya bertaut.
"Dia masih gagal move on sama mantannya." Keysha menghela napas panjang. "Nay, Panorama yang bilang?"
"Engga." Nayla menggeleng dibalik ponselnya. "Terus?" Keysha menaikan sebelah alisnya.
"Katanya." Nayla meringis pelan. "KATA SIAPA?" Nada bicara Keysha terlihat geram. "Andika, sahabatnya Panorama." Nayla langsung diam. "Ya Allah." Keysha pun ikut terdiam.
Ucapan Andika terus menghantui pikirannya. Sejak saat itu, Nayla mulai menjaga jarak. Mulai menghindar. Mulai pura-pura tidak peduli. Sampai suatu malam ia iseng melihat Notes Instagram. Satu persatu. Mulai dari teman kelas, teman organisasi, teman lomba, dan dia.
Lagu "Dari Mata".
Jantung Nayla langsung berdetak lebih cepat. Tiba-tiba salah tingkah, mendengar liriknya. "Dari mata, buatku jatuh, jatuh terus, jatuh ke hati." Sekelebat ide cemerlang muncul dalam pikirannya.
Ting!
Ia memasang Notes instagram, dengan lagu "Mata ke Hati". Tersenyum bak orang kesurupan. Tidak tahu kenapa ia bisa seperti ini. Sebenernya, ia sengaja memilih lagu itu. Karena lagu itu seolah-olah membalas Notes instagram Panorama. Ya, meskipun ia yakin, bahwa tidak mungkin Panorama akan sadar, bahwa Notes instagram itu Nayla khususkan untuk dirinya.
Setelah menggunakan perawatan kecantikan. Nayla bersiap untuk tidur. Bahkan tubuhnya sudah menempel dengan kasur. Saat menaruh handphone di samping tubuhnya.
Ting!
Muncul notifikasi. Awalnya tak ingin ia gubris. Namun, kenapa tiba-tiba ada hasrat untuk membuka notifikasi tersebut. Tubuhnya terjungkal. Ia bangun dari posisi tidurnya. Duduk tegap. Menatap layar dan tak bergeming. Bola matanya membesar. Pikirannya penuh tanya.
"HAH? DEMI APA, HAH?" Nayla mengusap kepalanya, mencubit hidung mancungnya. "Sumpah, ini yang DM gua, Panorama?" Nayla menggulirkan layar ponselnya. Berkali-kali ia memencet profil akun instagram Panorama. "Ah, tapi bener kok, ini akunnya Panorama. Masa dia salah kirim pesan sih?" Nayla membaca pesan yang dikirim oleh Panorama.
"Kok, sorotannya sekilas mirip ya. Apa kebetulan doang?" Itulah isi pesan yang mampu membuat Nayla menjerit-jerit tak karuan. Melompat-lompat di lantai. Memeluk boneka yang ada di sekitarnya. Lalu, berkaca dan menampar pipinya sendiri.
"Oh, no! Ini beneran kah cuy?" Nayla tersenyum penuh dengan mata berbinar. Kembali duduk di kasur. Dan membalas pesan dari Panorama.
"Eh, iya, kayak saling bales gitu ya? Hehe." Setidaknya, begitulah pesan yang dikirim oleh Nayla. Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Masih tetap tak ada balasan. "Ah, kayaknya Panorama udah tidur deh. Aduh, aku malu banget." Tak hentinya ia tersenyum. Setelah berpikir bahwa pesannya mungkin akan dibalas besok hari. Nayla bersiap-siap untuk tidur lagi. Matanya sudah ingin tertutup.
Ting!
Ia tidak ragu untuk kembali membuka matanya. Dan ya, ternyata Panorama membalas pesannya. Akhirnya, malam itu, pukul sepuluh lewat, mereka melanjutkan obrolan sampai pukul satu dini hari.
Keesokan harinya. Ia menceritakan semua kejadian tersebut kepada Keysha. Keysha terlihat tidak percaya, namun setelah melihat chatnya sekilas, ia jadi senyum-senyum sendiri.
Sejak saat itu perang Notes berlangsung hampir setiap malam. Mereka mulai mengobrol setiap hari. Tentang sekolah, basket, lomba, musik, dan hal-hal receh yang tidak penting. Namun selalu mereka tunggu, sebuah rahasia hati yang tak pernah terungkapkan.
Sampai suatu malam. Panorama mengirim pesan. "Gue dulu takut sama lo." Nayla tertawa dibalik ponselnya. Lalu mengetikkan sesuatu, "Kenapa?"
"Lo terlalu sempurna." Jawaban Panorama membuat Nayla menautkan alisnya. "Apaan sih." Dengan cepat ia mengirimkan pesan itu kepada Panorama. "Serius." Jawaban singkat yang mampu membuat Nayla keheranan.
"Terus sekarang?" Lama sekali Panorama mengetik balasan dari Nayla. Sangat lama. Sampai akhirnya muncul balasan. "Sekarang gue suka." Nayla menatap layar selama hampir satu menit. Lalu tersenyum sendiri seperti orang gila. Kemudian, Nayla membalas pesan Panorama dengan sebuah ungkapan juga.
Dua bulan kemudian. Tepat setelah Nayla purna ketua OSIS, mereka resmi bersama. Dan seluruh sekolah heboh. Story Instagram penuh ucapan duka.
"Turut berduka cita untuk seluruh penggemar Panorama." Perempuan dengan baju motif bunga di profilnya, membuat cerita instagram seperti itu.
"Aku kalah sama Ketua OSIS." Seorang perempuan dengan baju putih abu-abu, tampak sedang menatap jendela, memposting cerita seperti itu juga.
"Gapapa, kalahnya sama Nayla." Sebuah komentar singkat dalam postingan perempuan dengan baju putih abu-abu tersebut, membuat Nayla tersenyum. Bukan sombong. Tapi heran saja.
Bahkan Andika membuat postingan, dengan caption, "Panorama resmi tidak tersedia." Nayla yang melihatnya, tersenyum singkat. Hatinya terasa bahagia. Tak lama, ia membalas pesan dari Panorama.
Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Suatu malam, Mama Nayla melihat notifikasi. Nama kontak yang tertera adalah kata "Panorama Sayangku" dengan emoji cinta berwarna putih.
Malam itu juga Nayla dipanggil ke ruang tamu. "Nayla." Mamanya terlihat mengintimidasi Nayla. Nada bicaranya dingin. "Iya Ma." Nayla hanya menunduk saja.
"Siapa Panorama?" Nayla langsung diam seribu bahasa. Mama menatapnya serius. "Pacar kamu?"
Air mata Nayla mulai menggenang. Tak mampu mengucapkan sepatah katapun. "Mama ga izinin." Mamanya menyilangkan tangan di depan dada.
"Tapi Ma..." Nayla menatap mamanya penuh harap. "Kamu masih sekolah." Mamanya melihat Nayla dengan tatapan sinis. Pisau pun sepertinya kalah tajam dengan tatapan Mamanya.
"Nayla tetap belajar." Nayla berusaha membela dirinya. "Mama tau."
"Terus kenapa?" Nayla menghela napas pelan. Menunggu jawaban Mamanya dengan perasaan cemas. Kedua tangannya ia kepal di depan badan. "Mama ga mau fokus kamu pecah." Nayla mulai menangis.
Namun Mama tetap tegas. "Kalau kamu masih lanjut hubungan ini..." Suara Mama terdengar berat. "Mama cabut semua fasilitas dan kegiatan kamu." Nayla membeku.
"Ponsel, les, kegiatan OSIS, lomba-lomba, dan kalau perlu Mama pindahkan sekolah kamu." Nayla terdiam membeku. Tak lagi mampu untuk membantah. Malam itu Nayla menangis sampai tertidur.
Keesokan harinya ia menemui Panorama di tribun basket. Panorama langsung tahu ada sesuatu yang salah. "Sayang."
Nayla tidak sanggup menjawab. "Sayang, kamu kenapa?" Nayla menghela napas. "Mama tau." Panorama langsung diam. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka dekat, tidak ada candaan. Tidak ada senyum. Hanya kesunyian. "Mama ga bolehin kita pacaran." Suara Nayla bergetar. Matanya menahan tangis.
"Aku ga mau bikin Mama kecewa." Panorama menunduk. Lama. Sangat lama. Lalu mengangkat wajahnya dan tersenyum kecil. Senyum yang justru membuat Nayla semakin ingin menangis. "Gapapa." Panorama mengangguk sedikit untuk meyakinkan Nayla.
"Sayang..." Nayla menatap inti bola mata Panorama. "Gapapa." Mata Panorama mulai memerah. "Kalau sekarang bukan waktunya" Ia menarik napas panjang. "Ya kita ga bisa maksa." Dan hari itu, mereka berpisah. Bukan karena tidak saling cinta. Bukan karena ada orang lain. Melainkan karena keadaan. Beberapa bulan berikutnya mereka kembali menjadi asing.
Masih satu sekolah. Masih satu koridor. Masih satu kantin. Namun tidak lagi saling menyapa. Kadang mata mereka bertemu. Lalu sama-sama membuang muka.
Sampai hari kelulusan tiba. Di tengah keramaian dan suara tawa teman-teman mereka, Panorama menghampiri Nayla untuk terakhir kalinya. "Semoga lo keterima di kampus impian lo." Nayla tersenyum kecil.
"Semoga band lo sukses." Panorama mengangguk. Lalu berbalik pergi. Namun sebelum benar-benar pergi, ia berhenti. Dan berkata pelan tanpa menoleh. "Kalau nanti kita ketemu lagi..." Nayla terdiam. "Semoga waktunya lebih baik."
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nayla kembali menangis. Karena ada orang yang tepat. Hanya saja datang di waktu yang belum tepat. Dan mungkin, di suatu tempat, pada suatu waktu yang belum mereka ketahui. Mereka akan kembali, utuh, tanpa berpisah.
Nayla menatap punggung Panorama yang hilang tertutup oleh tembok sekolah. Nayla tersenyum, "Tunggu aku hadir kembali dalam hidupmu." Nayla berlari menuju gerbang sekolah.
_______
Penulis
Nayla Alhusna adalah siswi berusia 15 tahun yang lahir di Pandeglang pada 22 Juni 2011. Ia memiliki kegemaran membaca buku, menulis, dan menari. Di sela aktivitasnya, Nayla menikmati lagu You're Still the One dari Shania Twain, menyukai warna merah muda, hitam, dan krem, serta menggemari dimsum, pancake, dan susu.
Di bidang akademik dan organisasi, Nayla telah menorehkan berbagai prestasi. Ia berhasil meraih Juara 1 OPSI IPS pada tahun 2024 dan 2025, Juara 2 Vlogger English Festival, serta menjadi Juara 1 seangkatan. Jiwa kepemimpinannya terlihat dari amanah sebagai Sekretaris OSIS SMPN 10 Kota Serang pada masa bakti 2024 dan Ketua OSIS pada masa bakti 2025. Kiprahnya juga mendapat apresiasi sebagai Siswi Inspiratif dalam Podcast Rumah Inspiratif. Dengan semangat untuk terus berkembang, Nayla memegang prinsip hidup, “Dream big, stay humble, and keep shining.”
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com
Sunday, July 5, 2026
Puisi-Puisi Ahmad Supena
Puisi Ahmad Supena
Pasar Lama Serang
Lentera kota mulai dinyalakan di simpang jalan
Namun di pasar lama,waktu seolah enggan berjalan
Bau arang membumbung, beradu dengan aroma malam
Para pedagang setia melarung harapan yang dalam
Dulu makodim berdiri kokoh di utara alun-alun, menjadi saksi
Kini berganti megah dinding mal yang menjanjikan ilusi
Serang bergerak maju, atau mungkin tergesa-gesa?
Meninggalkan jejak lama dalam ingatan yang mulai paksa
Anak-anak urban berkumpul di kafe-kafe bercahaya
Sementara di sudut lain angkot timur-barat masih mengejar biaya
Kota ini bertumbuh dalam dua wajah yang berbeda
Antara merawat warisan atau hanyut digilas roda dunia
Banten 2024-2025
Kasemen
Di bawah langit kasemen yang perlahan berawan
Aliran drainase tersumbat, membawa cemas bagi sang Kawan
Beton-beton jalan mulai dituang membelah desa
Berlomba dengan genangan yang kerap menyisakan siksa
Petani di pelamunan menatap sawah yang kian menjauh
Terhimpit bayang pabrik dan truk-truk yang menderu riuh
Bahasa Jawa Banten sayup-sayup terdengar di pos ronda
Menjadi benteng terakhir identitas yang mulai menua
“Aja klalen batur,” bisik angin di reruntuhan Banten Lama
Mengingatkan tanah ini pernah memimpin dunia utama
Kini, kasemen berjuang di antara debu dan Pembangunan
Mencari keseimbangan di tengah arus modernisasi zaman
Banten 2024-2025
Stasiun Serang
Jalur rel itu membenteng sejak tahun seribu Sembilan ratus
Membelah jantung kota, membawa cerita yang tak pernah putus
Stasiun serang berdiri kokoh dengan dinding tuanya
Menyaksikan ribuan pasang kaki datang dan pergi dari sisinya
Peluit lokomotif melengking memecah keheningan pagi
Membawa kaum komuter yang mengadu Nasib ke ibu kota lagi
Di dalam gerbong, wajah-wajah Lelah saling berhadapan
Memendam mimpi tentang hidup yang lebih berkecukupan
Kereta ini Adalah urat nadi yang menghubungkan masa lalu
Dari zaman colonial hingga serang menjadi provinsi yang baru
Ia melaju konstan, melintasi perlintasan sebidang yang riuh
Mengingatkan kita bahwa perubahan takkan bisa diteduh
Banten 2024-2025
_________
Penulis
Ahmad Supena, dosen di Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia (PBI) FKIP Untirta.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com
Puisi-Puisi Lukmannul Hakim
Puisi Lukmannul Hakim
Boneka Babi; Bersembunyilah!
Mereka bilang,
kepemimpinan harus diterima.
Kalau tidak,
berbicaralah.
Tetapi mereka memilih
mengirim boneka babi
di tengah malam.
Mereka memilih
membiarkan benda
menggantikan mulutnya.
Aku tidak sedang marah
kepada boneka itu.
Ia hanya kain,
kapas,
dan jahitan.
Yang kutanyakan adalah
siapa tangan
yang selesai meletakkannya
lalu berlari
lebih cepat
daripada nuraninya sendiri.
Katanya,
keputusan ini salah.
Baik.
Kalau salah,
datanglah.
Bawa alasanmu.
Benturkan pikiranmu.
Jangan sembunyikan keberanianmu
di balik pagar,
di balik akun,
di balik bisik-bisik
yang bahkan takut
mendengar suaranya sendiri.
Sebab intimidasi
selalu lahir
dari keberanian
yang kehilangan wajah.
Aku lebih menghormati
lawan
yang berdiri di depan pintu
dan berkata,
"Aku tidak setuju."
Daripada seribu orang
yang melempar simbol,
lalu menghilang
seolah sejarah
tidak punya ingatan.
Boneka babi itu
akan lapuk.
Kapasnya akan mengempis.
Warnanya akan pudar.
Tetapi pengecut
selalu punya cara
mengganti boneka
dengan simbol lain,
mengganti tangan
dengan tangan lain,
mengganti akun
dengan akun lain.
Yang tak pernah mereka ganti
adalah ketakutan.
Dan ketakutan
tidak pernah melahirkan
pemimpin.
Tidak pernah melahirkan
perubahan.
Ia hanya melahirkan
keramaian
yang sibuk bersembunyi.
Hari ini
mereka mengirim boneka.
Besok
mereka mungkin mengirim fitnah.
Lusa
mereka mengirim kebencian.
Tetapi selama mereka
tak berani mengirim
nama mereka sendiri,
maka yang sesungguhnya
sedang mereka kubur
bukan kehormatan orang lain
melainkan
harga diri mereka sendiri.
Sudah.
Tak semestinya ada boneka itu!
Sleman, 20 Mei 2026
Anak yang Membawa Rumah
Ibu
Kupanggil namamu
Ibu
Agar tembok-tembok
Berhenti menjadi suara.
Rumah
Rumah
Rumah-
Ternyata
Bukan dinding.
Ternyata
Amarah.
Aku lahir
Di panci yang mendidih,
Di kursi yang patah,
Di mata
Yang lupa memaafkan pagi.
Ayah.
Ayah?
Tak ada.
Yang ada
Hanya bayang
Yang berjalan
Lebih panjang
Daripada tubuhnya sendiri.
Ibu memungut hari.
Hari memungut luka.
Luka memungut ibu.
Lalu
Aku.
Aku di pungut
Oleh harapan.
“Kau saja.”
Kata itu
Terlalu kecil
Untuk Pundak
Yang belum selesai tumbuh.
Maka aku pergi.
Kota
Membuka mulutnya.
Aku masuk.
Menjadi debu
Di antara ribuan debu.
Keringat.
Keringat.
Keringat.
Upah.
Upah.
Upah.
Uang.
Uang bukan uang.
Uang
Adalah beras.
Uang
Adalah obat.
Uang adalah atap
Yang tak lagi bocor.
Tetapi-
Mengapa
Setiap lembar yang kukirim
Selalu Kembali
Menjadi sepi?
Ibu.
Siapa
Yang mencuri bahagiamu?
Aku mencari
Di dompet.
Tidak ada.
Aku mencari
Di rekening.
Tidak ada.
Aku mencari
Di koper
Yang kubawa pulang.
Tidak ada.
Barangkali
Bahagia
Tak pernah tinggal
Di benda.
Barangkali
Ia tersesat
Di masa lalu.
Ibu memanggilku.
Bukan namaku.
Harapannya.
Aku menjawab.
Bukan dengan kata.
Dengan kerja.
Kerja.
Kerja.
Kerja.
Hingga telapak tangan
Lebih tua
Daripada umurku.
Tetapi
Ibu masih berkata,
“Aku ingin Bahagia.”
Aku terdiam
Bahagia.
Bahagia.
Bahagia.
Kata itu
Berputar-putar
Seperti burung
Yang lupa
Di mana langitnya.
Ibu,
Jika aku menjelma rumah,
Apakah kau akan pulang?
Jika aku menjelma uang,
Apakah luka berhenti berbunga?
Jika aku menjelma ayah
Yang tak pernah kaudapat,
Apakah matamu
Akhirnya tertidur?
Atau-
Aku harus menjelma
Apa?
Aku?
Atau
bukan aku?
Ibu.
Aku anakmu.
Bukan masa lalumu.
Namun setiap kali
Kupeluk namamu,
Rumah ikut menangis.
Dan aku sadar-
Ada tangis
Yang diwariskan.
Ada sepi
Yang tidak selesai dilahirkan.
Aku merantau
Bukan mencari dunia.
Aku hanya mencari
Sebuah pagi
Yang Ketika pulang nanti
Tak lagi memanggilku
Dengan nama luka.
Sleman, 03 Juli 2026
________
Penulis
Lukmannul Hakim, akrab disapa Lukman atau Luckman. Ia sedang mencintai Fisioterapi persiapan masa depan. Pernah menulis puisi dan dimuat di majalah Kandaga Kantor Bahasa Provinsi Banten. ia juga menulis cerpen. Jangan lupa follow Instagram-nya @_Lukmannulhakim16.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com
Cerpen Sucipte Jamuhur | Rapat Keluarga
Cerpen Sucipte Jamuhur
Sudah menjadi impian Tar sejak dulu. Berada di
tengah-tengah sanak famili. Sebagai keluarga yang tak pernah utuh, mungkin hal
inilah yang dibutuhkan. Sangat harus di lakukan, manakala semua anggota pulang
kampung dari rantau. Kebetulan pula tidak ada aral melintang. Nah, di sanalah semua
anggota keluarga bertemu, entah karena hari raya idul fitri atau memang takdir malang
yang mempertemukan mereka_saat pemakaman Amaq.
“Kamu tau hewan apa yang terkuat?” Tanya Tar ke
istrinya.
“Pastilah gajah.” Jawab Iwet cepat.
“Salah! Gajah tidak mampu mengangkat beban
sepuluh kali lipat dari badannya.”
“Menyesal kujawab.” Iwet kesal sembari menerawang
jawaban sebenarnya, sampai ia bosan memeras isi kepalanya untuk berpikir.
Perempuan memang malas menggunakan otaknya. Lebih
suka menggunakan perasaan, pikir Tar. Pertanyaan tiba-tiba itu membuat mereka
bertengkar kecil. Tidak biasanya ia membangun obrolan dengan cara seprti itu.
Ia biasanya mengeluhkan beberapa hal yang tidak ia suka ke istrinya. Seperti
biasa, dengan tangkas istrinya malah menyalahkan Tar. Istrinya sejak dulu
sering mengulang-ulang sabdanya: leleki cerewet, semua serba dikerjakan, diurusi,
dibenahi, diluruskan, ditanggapi, dan lainnya. Laki-laki tidak boleh banyak
bicara, yang berbicara itu tindakannya.
“Yang banyak bicara itu perempuan. Di rapat
keluarga nanti, kamu harus sering menge-rem. Semua berhak berbicara.” Lanjut
Iwet tak mau kalah.
“Lebih baik kamu diam, kumbang tahi!” Cegat Tar.
“Astaga! Jadi menurutmu, aku ini kumbang tahi?” Iwet
keberatan dan tak sabar buat bertengkar.
“Iya, itu jawabannya. Hewan terkuat itu kamu.
Kamu mampu mengangkat beban sepuluh kali berat badanmu.”
“Maumu apa sebenarnya?”
“Aku bangga punya istri kuat, sayang.” Goda Tar.
Perasaan Iwet campur aduk antara tersanjung atau
hendak melepaskan marah yang tertahan. Ia lalu memalingkan wajah dan serta
merta terlihat tegang. Sehingga Tar menjawil lembut pipi Iwet yang kembali
cerah menahan senyum.
Mobil mereka hampir sampai di batas desa. Kedua
anaknya, Bagas dan Feri masih tertidur sebab kelelahan bermain. Sedari
berangkat kemarin banyak makan dan bermain. Mereka sudah tidak sabar bermain
lumpur di sawah Papuq.
Tahun kemarin, mereka membantu Kakek-nya menanam
padi. Bermain di sawah adalah pengalaman yang tidak pernah mereka dapatkan di
kota besar. Terlebih sudah ada sepupunya yang juga sesama laki-laki seumuran
dan tinggal di rumah Papuq. Mereka semakin antusias. Karena ada teman mereka
bermain layangan atau berkubang lumpur di sawah.
Tar juga senang, ada yang bisa mengelola sawah
sepeninggal Amaq. Ang kakaknya ada sudah hampir satu tahun lebih menemani Amaq
dan Inaq. Ang memutuskan tinggal di kampung setelah lama merantau di Jawa.
Bangkrut parah memaksanya menjalani hidup di kampung.
Semenjak menikah delapan tahun lalu, Ang tidak
pernah sekalipun pulang. Hanya berkabar melalui telpon. Tar juga senang bisa
mempertemukan Bagas dan Feri dengan anak-anak Ang. Juga anak-anak dari kedua adiknya Isne dan Nurme.
Meski tinggal di Kota yang hanya sejarak satu jam
perjalanan. Kedua adik perempuan Tar juga tak berat pulang kampung. Berikut
suami dan anak-anaknya. Untuk itulah, Tar merasa harus ikut serta pulang kampung
memenuhi impian Amaq semasa hidup, menggelar rapat keluarga. Ia ingin seperti
orang lain dalam bersaudara: mengobrol banyak, bertukar pikiran, tertawa-tawa,
berbagi cerita, makan bersama. Seperti keluarga besar pada umumnya.
Jika saja Amaq tidak meninggal sembilan puluh
sembilan hari lalu. Mereka tidak akan bisa bersua. Titah Amaq semasa hidup agar
urun rembuk dalam satu suasana, tidak pernah terlaksana.
Amaq sebagaimana orang tua lainnya, selalu berbesar
harapan, sekiranya ia bisa melihat anak-anaknya berkumpul dalam satu pandang. Ah,
waktu memang perkasa memisahkan kelurga. Anak-anak adalah hasil karya yang
menjadi penyejuk pandangan. Namun, harapan meliht merek dalam wujud dewasa tak
pernah kabul, impian itu di bawanya ke alam tidur abadi. Semasa hidup ia sering
menegur masing-masing mereka saat menelpon (sesekali) agar menyempatkan diri pulang
dan berkumpul. Meski hanya sekali.
“Mumpung Amaq masih hidup, nak. Meleng mayit-ku (mayat dengan mata terbelalak), kalau permintaan sederhana
Amaq ini, tak sanggup kalian penuhi.” Hal itu telah benar-benar terjadi saat
beliau nazak dan ruhnya telah pergi, seakan beliau tahu betul ayat maut dalam
laku hidup manusia.
Barangkali ucapan yang acap kali Amaq perdengarkan
itu menjadi buah penyesalan. Tidak pada Tar saja, juga pada Isne dan Nurme.
Terlebih Ang sebagai anak lelaki tertua. Buah bibir itu terbayar kontan. Konon,
perbuatan dan perkataan orang yang sudah tua telah dibisikkan malaikat maut.
Terlebih seratus hari sebelum meninggalnya.
Istri Ang seperti orang panik dengan persiapan acara
doa seratus hari Amaq. Ia tahu Ibu mertuanya tak banyak membantu selain duduk
dan berkomentar ini-itu. Meski Inaq telah pikun dan banyak lupa, istri Ang
tetap melempar obrolan dan menanggapi arahan Inaq saat masak. Sehingga beberapa
orang tetangga berduyun-duyun datang membantunya memasak di halaman samping
rumah.
Sedari pagi ia cekatan meracik bumbu dapur dan
rela memasak banyak sate pusut kesukaan adik iparnya Tar. Ia tak pedulikan asap
kayu bakar memengapkan badannya. Matanya berkali-kali kelilipan abu dan asap
tak ia pedulikan. Demi memenuhi harapan Amaq mertua (semasa hidup) dan menjamu
keluarga jauh saat rapat keluarga nanti.
Tar dan istrinya begitu menikmati sate pusut
buatan iparnya. Sampai-sampai ia tak sadar tusuk sate banyak bereserakan di
atas nampan. Acara doa seratus hari telah selesai, beberapa orang tentangga
yang hadir telah pulang dan beberapa orang masih duduk mengobrol di berugaq
depan.
Disuguhkan banyak makanan membuat Tar lega dan
lelahnya selama di perjalanan terbayarkan. Ia merasa layak dijamu seperti itu,
meski tak seperti yang ia harapkan. Sejak sampai, ia selalu tertawa oleh
tingkah Inaq. Tar cukup terhibur dengan kepikunannya. Ibunya masih
percaya_bahkan bersikeras kalau Tar adalah teman kecilnya di Sekolah Dasar dulu.
Tawa yang lama kelamaan menjadi kepedihan. Inaq
beberapa kali menyangkal kematian Amaq. Terkadang ia menunjuk Ang sebagai sosok
suami. Ang lebih banyak menutup mulut. Mengobrol dengan tamu atau bereramah
tamah dengan keluarga yang lain sudah diwakili oleh Tar. Adiknya memang selalu
menjadi tumpuan keluarga. Sementara Ang sibuk melakukan banyak hal remeh sejak
Tar tiba. Bukan sifatnya yang banyak bicara dan suka mengobrol seperti adiknya.
Sesekali Inaq menangis, sebab Tar terlalu serius menerangkan
kejadian sebenarnya. Tar juga sungguh-sungguh menjelaskan bahwa ia adalah
anaknya. Juga perihal Amaq-nya (suami kedua Inaq) telah meninggal seratus hari
lalu. Inaq berkilah tak kalah
bersikeras, bahwa sosok suaminya masih hidup dan sedang membantu tetangga cuci
piring. Di arahkan telunjuknya ke Ang.
Raut muka Tar berubah kesal dan putus asa. Diserahkan
Inaq ke istrinya Ang untuk ditemani. Tar lalu beranjak, mengajak beberapa orang
yang masih ada di tempat itu, untuk memulai acara inti: rapat keluarga.
“Langsung saja.” Ucap Tar memecah kesunyian.
“Terima kasih telah hadir Ustadz Saepul. Kak
Juhari Sarjana Hukum, Tuaq Geli sebagai Kadus, serta adik-adikku : Isne dan
Nurme. Juga tak kalah penting Ang, saudara tiri kami.” Ang menunduk tegang dan
berkeringat dingin. Bak pesakitan, kedua tangan Ang tersimpul di kempit kedua
dengkulnya.
“Sebagai orang beragama, kita tidak bisa menolak
keputusan Tuhan. Sebaiknya kita dalam hal ini sepakat dengan hukum agama.”
Jelas Tar dan semua terdiam tanda setuju.
“Kita sudah sama tahu, bahwa amaq sudah meninggal
seratus hari yang lalu dan ini kewajiban kita membagi warisan. Untuk itu ada
rapat keluarga ini. Kita juga tahu bersama bahwa harta benda: sawah dan halaman
rumah ini harus di bagi. Kepada siapa? Ya tentu saja kepada kita bereempat:
Ang, saya, Isne dan Nurme. Namun, sayangnya. Ang adalah anak tiri dari Bapak
kami bertiga, meski kami satu ibu.” Lagi Tar meminta persetujuan dan semuanya
terdiam.
“Sebagai saudara tiri, meski paling tua di antara
kami. Tapi tindakannya melampaui batas dengan menggadaikan sertifikat sawah dan
rumah untuk membayar hutang-hutangnya. Tanpa sepengetahuan saudara yang lain.
Ini kejahatan!”. Tar berteriak di kalimat terakhir, semua makin terdiam
terutama Ang.
“Harta orang tua kita memang di hasilkan oleh
Inaq di luar negeri bertahun-tahun. Tapi ingat. Ini harta gono-gini dari
pernikahan Inaq dengan Amaq kami. Bukan dari bapakmu, Ang! Bukan! Meski orang
tua setuju kamu cairkan sertifikat hartanya, tapi kamu melupakan kami bertiga.
Bukan kamu saja anaknya. Tindakan jahat ini melanggar hukum, terlebih hukum
agama, Ang!” Tar membius keadaan dan membuat dirinya satu-satunya yang
berbicara.
“Biar kita semua ingat. Bukan kamu saja yang
butuh uang, dan berhutang. Aku juga sangat butuh dan harus mengambil warisan
bagianku, untuk bayar hutang. Kujelaskan sekali lagi. Harta benda milik orang
tua kita, dalam hal ini Inaq. Adalah harta yang beliau dapatkan setelah menikah
dengan Amaq kami bertiga : Aku, Isne dan Nurme. Bukan harta yang dihasilkan
dari pernikahan Inaq dengan Bapakmu, Ang. Inaq tidak membawa harta apa-apa
selain seorang anak. Secara hukum, jatah warisku paling banyak, Isne dan Nurme
sedikit karena perempuan.” Semua tetap senyap sebagai tanda pembenaran atas
semua perkataan Tar.
“Kamu tau hewan apa yang terkuat?” Tanya Tar tiba-tiba
ke istrinya.
Dengan mata basah, dan raut muka ketakutan Iwet
menjawab ragu, “kumbang tahi.”
“Salah!” teriak Tar menggebrak meja, Iwet dan
beberapa orang terkejut dan semakin menunduk.
“Tar… tardigrada. Itu hewan terkuat di bumi. Dia
sanggup tidak makan-minum berbulan-bulan, itupun makannya cuma lumut! Lumut!
Hebatnya dia bahkan sanggup hidup di luar angkasa.” Tegas Tar. Beberapa orang
bertanya-tanya maksudnya. Kemampuan otak takkan mampu mencerna. Hanya hati dan
ingatan yang sanggup memahami maksudnya.
Selama ini Tar merantau di kota besar, bekerja
keras agar cekikan lapar bisa mereka tepis. Tar rela kelaparan, hanya makan
sayur yang berjatuhan dan terbuang di pasar demi agar kedua orang tuanya, Ang
dan kedua adiknya bisa hidup layak di kampung.
Perjalanan pahit itu berlangsung lama, Tar telah membantu
keluarganya mengatasi kemiskinan. Setidaknya sebelum Inaq bekerja di luar
negeri. Pada akhirnya hidup mereka sedikit lebih baik dan semua bisa menikah.
Dengannya Tar mendapat tempat kehormatan, menjadi seseorang yang paling
disegani dan perpengaruh dalam keluarga.
Jeda rapat keluarga. Di balik tembok, sembari
memegang pundak Ang, Ustadz Saepul mencoba memberikan pandangan supaya Tar
diberitahu saja. Sebab inilah waktu yang tepat bagi Tar. Bahwa tidak selayaknya
ia menentukan warisan. Sebab anak hasil hubungan tanpa nikah, secara hukum
agama tidak berhak menerima warisan sedikitpun.
Bima, Nisyfu Sya’ban
1447 H
_______
Penulis
Sucipte
Jamuhur, kelahiran Lombok Tengah dan menetap di
Kabupaten Bima sekitar tambak garam teluk Bima. Aktif di organisasi dan
komunitas literasi dan konservasi lingkungan hidup disamping mengajar di salah
satu SMP, ia juga berbisnis kedai kopi dan membangun entitas dan ruang
kreativitas bersama pemuda-pemudi di kedai kopi tersebut.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com
Sunday, June 28, 2026
Esai Ma’rifat Bayhaki | Kepengrajinan dalam Novel "Yuki": Ketika Pesan Berusaha Mengalahkan Cerita
Esai Ma'rifat Bayhaki
Kemahiran berbahasa adalah satu dari sekian modal yang mesti dimiliki oleh pengarang. Kendati penting, justru ia kerap diabaikan. Banyak pengarang lebih terobsesi pada persoalan pesan yang ingin disampaikan, alih-alih memperhatikan konstruksi—bentuk cerita yang akan disajikan. Sebuah cerita tidak dikenang semata karena suaranya, melainkan bagaimana cara ia menyuarakannya. Saya tentu tidak ingin menyaksikan sebuah naskah yang penuh dengan pesan moral, tetapi kehilangan daya estetiknya bernasib tragis di tangan pembaca kritis.
Barangkali kepekaan semacam ini mesti dijadikan
pijakan ketika membaca novel Yuki karya Sukron yang diterbitkan Penerbit #Komentar, Juni 2026. Pada halaman awal kita disodorkan
dengan kegelisahan yang nyata. Narator ingin berbicara tentang manusia modern
yang terjebak dalam rutinitas, ketakutan, dan keterbatasan. Dari hal itu ia menawarkan
gagasan sederhana, manusia harus “naik kelas”. Tentunya frasa ini lebih dari perpindahan
status sosial di permukaan, ia juga menyimpan pergulatan dan pendalaman batin
yang berlapis—kokoh.
Namun, sayangnya sang narator dalam
cerita Yuki tampak terjebak untuk memastikan gagasan “naik kelas” ini bersarang
di benak pembaca. Hasrat tersebut demikian dominan sehingga hampir setiap bab
lebih berfungsi sebagai medium penyampaian pesan daripada ruang berbagi cerita untuk
tumbuh secara organik. Akibatnya, pembaca lebih sering dihadapkan pada
penegasan ide dibandingkan dengam pengalaman estetik yang lahir dari perkembangan cerita.
Jumlah tokoh yang relatif sedikit
sesungguhnya bisa diolah sedemikian rupa untuk membangun karakter yang utuh dan
dinamis. Alih-alih melakukan itu, tokoh Yuki
lebih sering hadir sebagai corong gagasan pengarang daripada menjadi
manusia fiksional yang hidup, memiliki kehendak, konflik, dan perkembangan
psikologisnya sendiri. Yuki lebih sering tampil sebagai figur yang telah
mengetahui jawaban atas persoalannya ketimbang menjadi manusia yang sedang
berproses.
Hal itu juga berlaku pada tokoh lain dalam novel ini.
Misalnya tokoh Pak Arif—mentor Yuki yang perannya sentral dalam cerita ini. Lagi-lagi
narator berperan terlalu dominan sehingga tokoh Pak Arif menjadi terkesan ajaib.
Ia bisa tiba-tiba hadir di momen penting hidup Yuki bahkan mampu mengetahui
segala hal dan permasalahan yang dialami Yuki. Hal itu tampak jelas saat Pak
Arif mengetahui jika Danu memberikan kunci berkarat kepada Yuki, bahkan dengan
hafalnya ia menjabarkan manfaat dari kunci berkarat itu pada Yuki, kendati Pak
Arif tidak benar-benar hadir dalam peristiwa itu. Pada persoalan ini sepertinya
sang narator harus berhati-hati.
Pergulatan batin yang seharusnya menjadi jantung
sebuah novel justru berlangsung singkat. Proses sebab akibat yang diharapkan
cair, luwes, dinamis, dramatis, dan memukau menjadi terkesan ajaib. Pemaknaan
setiap tokoh luput dari pandangan sang narator. Saya kehilangan jejak dalam
usaha menggali sebab Yuki memaknai lorong tempat kerjanya mengerikan, pemaknaan
kunci berkarat dari masing-masing tokoh, bahkan tokoh Pak Arif terkesan sangat bijaksana
tanpa celah. Barangkali hal ini mesti dijelaskan, tidak digantung begitu saja.
Beralih pada persoalan alur. Novel Yuki bergerak dengan
tempo yang terlampau tergesa-gesa. Perpindahan antar-ruang berlangsung begitu
cepat sehingga setiap tempat kehilangan kesempatan untuk meninggalkan jejak
dalam ingatan pembaca. Adegan demi adegan silih berganti, tetapi tidak memberi
cukup waktu bagi suasana untuk mengendap ataupun bagi konflik untuk memperoleh
bobot emosional. Alur akhirnya lebih menyerupai rangkaian perpindahan peristiwa
daripada perjalanan batin yang tumbuh secara perlahan.
Barangkali, apabila diolah dengan kepengrajinan yang lebih tekun, ruang dalam Yuki tidak hanya berfungsi sebagai latar tempat peristiwa berlangsung. Ruang memiliki kemungkinan estetik yang jauh lebih luas. Ia dapat menjadi penanda zaman, penyimpan ingatan, bahkan menghadirkan gema batin para tokohnya. Dalam karya sastra yang matang, ruang tidak pernah benar-benar diam. Ia ikut mengarahkan suasana, membangun ketegangan, dan sesekali berbicara melalui kesunyian yang diciptakannya.
Kita dapat belajar dari cerpen Robohnya Surau Kami karya AA Navis. Ceritanya tidak semata-mata berkisah tentang sebuah surau, melainkan menjadikan surau sebagai pusat kesadaran cerita. Bangunan itu bukan lagi sekadar lokasi, tetapi sebuah simbol yang memanggul sejarah, keyakinan, kegelisahan, sekaligus ironi manusia. Surau memperoleh “suara” karena pengarang berhasil menanamkan pengalaman batin ke dalam ruang tersebut. Pembaca tidak hanya melihat sebuah bangunan, melainkan merasakan denyut kehidupan yang bersemayam di dalamnya.
Kemungkinan semacam itu sesungguhnya
juga terbuka bagi Yuki. Sayangnya, ruang-ruang yang dihadirkan masih cenderung bersifat fungsional.
Kantor, rumah, jalan, atau tempat-tempat yang disinggahi tokoh lebih sering
menjadi wadah berlangsungnya peristiwa daripada turut membentuk kesadaran tokoh
dan menghidupkan atmosfer cerita. Padahal, apabila ruang diberi kedalaman
simbolik dan psikologis, ia akan menjadi unsur naratif yang bekerja secara
diam-diam, memperkaya makna tanpa perlu dijelaskan secara panjang lebar oleh
narator. Di situlah sastra menunjukkan kekuatannya, bukan melalui banyaknya
penjelasan, melainkan melalui kemampuan membuat benda-benda yang bisu menjadi
fasih berbicara.
Pada bagian lain narator memilih
mendeskripsikan tindakan-tindakan Yuki alih-alih membiarkan pembaca menyaksikan
tindakan itu berlangsung di hadapan mereka. Kecenderungan ini muncul berulang
kali dalam beberapa bab sehingga perlahan mengikis daya hidup cerita. Alih-alih
menghadirkan pengalaman, narator justru menyajikan kesimpulan. Pembaca diberi
tahu apa yang dirasakan, dipikirkan, dan dilakukan Yuki, tetapi jarang diberi
kesempatan untuk menemukan semua itu melalui peristiwa yang berkembang secara
organik.
Bagi saya, pilihan semacam ini
merupakan salah satu kelemahan paling mendasar dalam novel ini. Sebab, hakikat
fiksi bukanlah menyampaikan gagasan secara langsung, melainkan membiarkan
gagasan itu lahir dari benturan antartokoh, dari gestur yang sederhana, dari
dialog yang ritmis, bahkan dari kesunyian yang sengaja dibiarkan bekerja. Seperti
yang dikatakan Ernest Hemingway mengenai show don't tell. Seorang pengarang tidak dituntut
menjelaskan segala sesuatu kepada pembaca, melainkan menghadirkan dunia yang memungkinkan
pembaca sampai pada kesimpulannya sendiri.
Sastra kehilangan daya estetiknya ketika terlalu bernafsu menjelaskan. Setiap penjelasan yang berlebihan sesungguhnya adalah bentuk ketidakpercayaan pengarang terhadap kekuatan cerita yang sedang dibangunnya. Padahal, cerita yang baik selalu memiliki keberanian untuk menyembunyikan sebagian maknanya, sebab sastra tidak bekerja dengan cara menggurui, melainkan dengan cara menggerakkan pengalaman batin pembacanya. Ia tidak berkhotbah dari atas mimbar, tetapi mengajak pembaca berjalan perlahan memasuki ruang-ruang makna yang sengaja tidak seluruhnya diterangi. Justru dalam ruang yang remang-remang itulah sastra menemukan daya pikatnya.
Kausalitas yang berupaya dibangun
narator belum sepenuhnya memperoleh kedalaman dramatik. Penjelajahan Yuki
terhadap krisis eksistensialnya berlangsung terlalu tergesa-gesa sehingga
perkembangan psikologis tokoh terasa lebih sebagai pernyataan daripada pengalaman.
Pembaca diberi tahu bahwa Yuki hidup dalam ketakutan dan merasa tidak bahagia,
tetapi cerita tidak menyediakan rangkaian peristiwa yang cukup untuk
membenarkan perasaan tersebut.
Sepanjang novel, Yuki justru tampil
sebagai pribadi yang relatif utuh. Ia mampu menjalankan pekerjaannya dengan
baik, berani mengemukakan pendapat di hadapan kolega, bahkan beberapa kali
menjadi sosok yang menawarkan solusi bagi orang lain. Kegagalan yang dialaminya
pun tidak pernah benar-benar menjelma menjadi titik balik yang mengguncang
kesadarannya. Setiap hambatan segera dilewati tanpa meninggalkan bekas
psikologis yang berarti. Akibatnya, jarak antara apa yang dikatakan narator
mengenai Yuki dan apa yang benar-benar diperlihatkan cerita menjadi semakin
lebar.
Pada akhirnya, persoalan Yuki terasa
lebih banyak hidup di dalam bahasa narator daripada di dalam dunia yang sedang
dibangun novel ini. Kecemasan itu disebutkan berulang kali, tetapi jarang
memperoleh bentuk konkret melalui tindakan, konflik, atau pengalaman traumatik
yang mampu mengendap dalam ingatan pembaca. Padahal, luka batin dalam sastra
tidak selalu harus hadir sebagai tragedi besar. Rutinitas yang berulang, ruang
kerja yang menyesakkan, relasi sosial yang dingin, atau kegagalan-kegagalan
kecil yang terus menumpuk pun dapat berubah menjadi teror eksistensial apabila
diolah dengan kesabaran estetik.
Di sinilah kelemahan paling mencolok
novel Yuki. Rutinitas yang semestinya menjadi sumber kecemasan manusia modern
tidak pernah benar-benar menjelma sebagai ancaman yang menghimpit kehidupan
Yuki. Ia hanya hadir sebagai gagasan yang diucapkan narator, bukan sebagai
pengalaman yang dialami pembaca. Ketika rasa takut lebih banyak dikatakan
daripada dihadirkan, konflik kehilangan bobot dramatiknya, dan perjalanan
eksistensial Yuki pun berakhir sebagai konsep yang menarik, tetapi belum
sepenuhnya meyakinkan secara artistik.
Kendati demikian, Yuki tetap layak
diapresiasi sebagai karya perdana yang berhasil diselesaikan oleh Sukron. Bukankah, naskah yang
baik adalah naskah yang selesai ditulis? Penyelesaian sebuah karya
bukanlah akhir dari proses kreatif, melainkan awal bagi pengarang untuk
mengasah kepengrajinan estetiknya. Pada percobaan berikutnya, tentu kelonggaran
semacam ini tidak berlaku.
Salah satu hal yang paling menarik dari novel ini
ialah keberanian Sukron sebagai pengarang bereksperimen dengan bahasa yang puitis, liris, dan
berirama. Kalimat seperti, “Rambut hitamnya bergelombang, menebar
bayang-bayang gelap di atas bahu, sementara mata cokelatnya menahan kilau api
kecil yang tak pernah padam,” memperlihatkan ikhtiar pengarang menghadirkan
keindahan melalui pilihan kata yang imajinatif. Cara bertutur semacam ini
menjadi strategi yang efektif untuk membangun suasana sekaligus memperhalus
pengalaman emosional pembaca sehingga narasi tidak sekadar menyampaikan
peristiwa, melainkan juga menghadirkan rasa
Namun, bahasa puitis selalu
menuntut kedisiplinan estetik. Keindahan tidak lahir semata-mata dari limpahan
metafora atau rangkaian kata-kata yang indah, melainkan dari ketepatan memilih
diksi dan kecermatan menempatkannya dalam konteks. Demikian pula dengan
penggunaan tanda baca yang bukan sekadar perangkat gramatikal yang mengatur
jeda. Ia merupakan bagian dari estetika yang membentuk ritme, mengatur tempo,
memberi tekanan, bahkan mengarahkan emosi pembaca. Perpaduan antara diksi yang
cermat akan melahirkan kalimat yang tidak hanya enak dibaca, tetapi juga
memiliki daya pukau yang bertahan lebih lama dalam ingatan.
Pada beberapa bagian, Yuki berhasil
memperlihatkan potensi tersebut. Meskipun belum sepenuhnya konsisten, tampak
bahwa Sukron memiliki kepekaan terhadap musikalitas bahasa dan keberanian
untuk tidak sekadar bercerita, melainkan juga menciptakan pengalaman membaca
yang estetis. Potensi inilah yang, apabila terus diasah melalui pembacaan yang
luas dan latihan menulis yang tekun, dapat menjadi kekuatan utama pengarang
pada karya-karya berikutnya. Tabik.
Tanara, 28
Juni 2026
_______
Penulis
Ma'rifat Bayhaki,
redaktur pelaksana NGEWIYAK.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com
Berita | Bedah Novel "Yuki" Jadi Ajang Silaturahmi dan Diskusi Sastra di Markas #Komentar
Selain membedah karya sastra, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi dan temu kangen para pengurus serta anggota Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa yang telah lama tidak berkumpul dan berdiskusi bersama.
Ketua #Komentar, Sul Ikhsan, mengaku bersyukur karena kegiatan diskusi akhirnya dapat kembali digelar setelah cukup lama vakum.
"Saya sangat senang, setelah sekian lama rumah yang bernama #Komentar ini hidup kembali dan mengadakan kegiatan diskusi. Namun yang paling penting, kita masih terus membaca dan menulis meskipun lama tidak berkumpul," ujarnya.
Sementara itu, pendiri sekaligus pengasuh #Komentar, Encep Abdullah, menyambut baik terbitnya novel Yuki. Menurutnya, Sukron menjadi salah satu penulis baru asal Pontang-Tirtayasa yang patut diapresiasi karyanya oleh kawan-kawan komunitas.
"Budaya diskusi sastra di Pontang-Tirtayasa harus kembali digalakkan, harus tetap ada, meskipun untuk saat ini agak susah dilakukan rutin tiap pekan. Namun, kehadiran Sukron dengan novel Yuki-nya, menjadi satu jembatan ruang diskusi ini hadir kembali. Semoga kegiatan ini bisa mengecas kembali motivasi kawan-kawan komunitas yang barangkali sudah lama tidak menulis," ujar Encep.
Novel Yuki mengisahkan perjalanan seorang perempuan muda yang berjuang melepaskan diri dari tekanan hidup, rasa takut, dan belenggu rutinitas. Di tengah tuntutan dunia kerja, pendidikan, dan lingkungan sosial, Yuki berusaha berdamai dengan masa lalunya serta menemukan keberanian menentukan arah hidupnya.
Pemantik diskusi, Ma'rifat Bayhaki, menilai novel ini memiliki bahasa yang puitis dan emosional, namun konflik psikologis tokoh Yuki belum tergambar kuat karena lebih banyak diceritakan daripada dihadirkan melalui pengalaman tokohnya.
"Kendati demikian, novel Yuki tetap layak diapresiasi sebagai karya perdana yang berhasil diselesaikan. Bukankah, naskah yang baik adalah naskah yang selesai ditulis? Penyelesaian sebuah karya bukanlah akhir dari proses kreatif, melainkan awal bagi pengarang untuk mengasah kepengrajinan estetiknya," tegas Bayhaki.
Tidak hanya berdiskusi tentang isi buku, isu penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam dunia kepenulisan pun tak luput dibahas. Narasumber dan peserta terlibat perdebatan hangat mengenai kebolehan, kemakruhan, hingga keharaman penggunaan AI dalam proses kreatif menulis.
Penulis novel, Sukron, sebenarnya dijadwalkan hadir dalam bedah buku tersebut. Namun, ia berhalangan datang karena agenda kampus yang mendadak. Ketidakhadirannya sempat menimbulkan kekecewaan di kalangan peserta, meski situasi tersebut berada di luar kendali penulis. Meski demikian, diskusi tetap berlangsung hangat, interaktif, dan berakhir dengan lancar hingga selesai.
Melalui kegiatan ini, Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa berharap tradisi membaca, menulis, dan berdiskusi sastra terus tumbuh sehingga mampu melahirkan semakin banyak penulis dan karya sastra dari wilayah Pontang-Tirtayasa.
(Redaksi)
Puisi-Puisi Rosul Jaya Raya
Puisi Rosul Jaya Raya
Perdamaian Perdamaian
Dia menjorokkanmu ke kolam penuh ikan-ikan tertawa, kamu basah oleh gelembung-gelembung tawa yang meletus
Dia menjemur tubuhmu sampai kering di sinar matahari.
Sebelum kamu keluar menyerang dari Kuda Troya, dia tahu kamu ada di dalam, "cilukba!" kamu terkejut sampai kencing di celana
Dia mengirim lindu ke dadamu dan dada Kuda Troyamu.
Betapa bahagianya ketika kamu dan dia menautkan jari kelingking; seribu matanya lenyap—mata yang mengintipmu ketika tengah tidur, makan, sampai berak—
Dia tetap menjorokkanmu ke kolam itu; bedanya kini kamu, dia, dan ikan-ikan tertawa sama-sama, kamu dan dia basah dan menjemur diri sama-sama
Kamu dan dia berada dalam Kuda Troya yang sama, menandatangani lindu yang akan dikirim sama-sama
Sama-sama mengasah pisau untuk menusuk seribu mata jahil yang nanti mengintipmu dan dia.
Juni 2026
Apa Iya Kita Adalah Tai?
Kamu yakin Tuhan menjahit hujan dan tanah sambil minum kopi. Prok prok prok simsalabim. Jadilah kamu.
Selalu ada kemungkinan lain bukan?
Mungkin saja Tuhan sedang buang hajat sehabis makan (maha) tahu pedas. Abrakadabra ngeden dikit. Keluarlah kamu.
Boleh jadi bukan? Dadamu bercerobong, memuntahkan asap polusi. “Tai kau!” hardikmu.
Kamu tak setuju imajinasiku. Kamu hanya setuju kemungkinan aku memang tai.
Bukankah hidup kita seperti tai di sungai hayat? Terombang-ambing ikut arus. Setiap ruang. Setiap waktu. Setiap Tuhan mengolah kita jadi pupuk.
Apa iya kita adalah tai?
Juni 2026
Tiada Mampus yang Lebih Indah Selain Mampus di Pelukanmu
Aku akan mencintaimu sampai mampus
Tak ada anjir di antara kami
Tak ada anjay untuk selain kamu
Rindu adalah bestie-ku
Puisi cinta emakku tercinta
Dana ngedate bapakku tersayang
Cincin kawin mimpi basahku
Banting badan pahlawanku kepagian
Gapapa saat-saatku goblok
Sampai aku mampus di pelukanmu
Juni 2026
Komedi
Di kantor pemerintahan, politisi menulis materi komedi tanpa terganggu kisruh-rusuh di luar.
Teriak orang-orang pakai toa masuk telinganya; keluar lewat pantat bersama kentut.
Kepalanya ngos-ngosan mencari punch line.
Komedi berangkat dari keresahan bukan? Sang politisi resah akan kursi yang ia duduki kakinya hampir patah. Ia ingin menaikkan pajak orang-orang yang teriak-teriak di luar untuk beli kursi baru.
Demi Negara! Akhirnya selesai juga.
Sang politisi stand up comedy di depan orang-orang. Ia melempar bit, tidak lucu. Melempar bit berkali-kali, tetap tidak lucu.
Orang-orang ngantuk.
Sampai sang politisi meleleh di atas panggung. Orang-orang tertawa sangat nyaring.
Juni 2026
Kenapa Kamu Nulis Puisi?
Lebih baik fokus jualan gorengan
kecuali puisi dibuat bungkus gorengan
Ini bukan soal keuntungan komersial
ini soal istana jiwa (kataku dengan
suara gelora sambil menahan bunyi
perut dan dompet)
Kenapa Kamu Nulis Puisi?
Puisi bisa menyeretmu diborgol polisi
puisi tak bisa dijadikan alat sogok
Yang penting kata-kata bangkit dari kubur
menghantui polisi (kataku bermuka masam di balik jeruji; aku kangen
kontrakan bobrok dan senyum pacar)
Kenapa Kamu Nulis Puisi?
Pacarmu lamat-lamat menjauhimu
puisi tak bisa ditukar dimsum mentai
Demi kebudayaan dan kemanusiaan
cinta nomor sekian (kataku sambil
meringkuk dan menangis di pojokan)
Kenapa Kamu Nulis Puisi?
Padahal puisimu jelek dan empuk
dilahap hulubalang-hulubalang sastra itu
Aku menulis puisi sambil minum kopi
untuk diri sendiri (kataku sambil
mengutuk makhluk-makhluk
rambut gondrong dan bau badan itu)
Kenapa Kamu Nulis Puisi?
Tanyaku pada diri sendiri
(tak ada habis-habisnya sampai
lupa aku belum mandi dan cukur rambut
sebelum menjual puisi yang tak laku-laku)
Juni 2026
______
Penulis
Rosul Jaya Raya, penulis kelahiran Bekasi 2002, berdarah Madura, kini berdomisili di Surabaya. Masuk daftar 10 Emerging Writers Ubud Writers and Readers Festival 2025. Beberapa cerpennya memenangkan lomba kepenulisan cerpen. Bisa dihubungi di Instagram @rosuljayaraya24.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com
Cerpen Yulizar Lubay | Kursi Roda
Cerpen Yulizar Lubay
A.
Aku suka rumah sakit. Dulu, rasa suka itu
muncul karena kusangka rumah sakit adalah tempat penyembuhan. "Ada lambang
ularnya," kataku kepada Bapak.
"Itu lambang kesehatan," Bapak
menjawab pasti tanpa mau ditanya lagi.
"Bukan. Itu lambang bahwa penggoda
Adam-Hawa masih berkeliaran di dunia," Ibu berkata datar dengan amarah
terpendam.
Bapak menampar ibu dengan tatapan yang tajam.
Dan seiring waktu berjalan, aku yakin bahwa
rumah sakit adalah tempat yang dimaksudkan dan diartikan ibuku.
B.
Bapak punya tiga istri. Ibu adalah istrinya
yang pertama dan aku adalah anak perempuan semata wayang mereka.
Aku tidak tahu bagaimana cara Bapak membagi
waktu dan kasih sayang. Kadang ia datang ke rumah membawa banyak uang, kadang
tidak datang sama sekali selama berbulan-bulan. Tapi setiap kali datang, Bapak
selalu tampak kelelahan. Wajahnya berminyak dan napasnya mudah sesak.
C.
Cara Bapak meninggal tidaklah aneh. Suatu
pagi, saat aku berumur dua puluh enam tahun, ia meninggal karena darah tinggi
dan serangan jantung. Aku tidak bisa mengingat hari itu dengan jelas. Rumah
sakit yang dulu kusukai, telah berubah menjadi tempat yang bau dan
menjengkelkan.
Aku melihat tubuh Bapak terbaring kaku di
ranjang rumah sakit. Mulut dan matanya terbuka lebar ke arah langit-langit
kamar seperti seseorang yang sedang telat sadar. Di sekelilingnya, tiga
perempuan berdiri sambil menangis dengan cara yang berbeda. Perempuan pertama, ibuku,
menangis tanpa suara. Perempuan kedua, menangis dengan bahu terguncang keras,
sedangkan perempuan ketiga menangis merdu seperti pelatih paduan suara. Aku
berdiri di antara mereka. Dan saat berdiri itulah, tanpa alasan yang jelas, aku
memutuskan untuk membenci rumah sakit dan meninggalkan ibuku, selamanya.
D.
Dua minggu setelah kematian Bapak, aku mulai
didatangi mimpi buruk. Dalam mimpiku, aku selalu berdiri di lorong panjang
rumah sakit. Kadang aku melihat diriku sendiri terbaring di ICU. Kadang aku
melihat diriku sendiri berubah menjadi sebatang pohon kamboja.
Di siang hari, aku mencoba melupakan mimpi
itu saat bekerja di perpustakaan daerah. Tapi di tengah mengetik laporan
mingguan, aroma rumah sakit tiba-tiba menguap dari sela-sela jariku. Aku
memejam. Punggung tanganku terasa dingin seperti ditempeli pecahan es batu.
Tiba-tiba aku teringat bapakku. Aku membuka mata, lalu melihat semua orang di
kantor perpustakaan seperti pasien rumah sakit. Di saat itu aku mulai percaya
bahwa setiap manusia adalah pasien rawat jalan. Mereka menolak diinfus, menolak
didiagnosa, dan berlebihan mengonsumsi obat bermerek Keinginan.
E.
Embusan angin Minggu sore meniupi wajah
Julani, kekasihku, yang sudah lama diterima sebagai pegawai negeri di Dinas
Kesehatan.
“Dunia adalah rumah sakit,” kataku kepadanya.
Julani menggeleng sambil tertawa. “Sepertinya
penyakit gilamu sedang kambuh.”
"Aku memang belum sembuh."
Kami berdua duduk di taman kota Pagar Bulan,
di bangku besi putih yang mungkin baru beberapa bulan dicat ulang. Julani, dengan
sepasang mata besar dan rambut hitam sedikit ikal, menatapku dengan pancaran
yang sulit diterka, antara rasa cinta dan keinginan untuk menghina.
“Coba pikir,” kataku, “Setiap orang mencari
kebahagiaan. Tapi
apa yang mereka temukan selain was-was, kesepian, hepatitis, diabetes, dan usus
buntu? Mereka sibuk menutupi luka, tapi tak pernah bertanya kenapa luka itu bisa
ada."
“Kamu sendiri mencari apa?” tanya Julani
dengan sepasang alis lebat terangkat.
“Makna ...” aku menjawab ragu. “Aku ingin tahu
kenapa kita harus sakit kalau hidup cuma sementara.”
Julani bungkam sambil meremas jari-jari
tangan. “Kamu tahu, dulu aku juga suka rumah sakit,” katanya pelan sebelum
menghela napas panjang. “Tapi setelah ibuku meninggal di sana, sekarang aku
membencinya.”
Aku memandang Julani. Entah kenapa, aku
merasa Julani terlambat memahami sesuatu yang sudah lama kumaknai.
Gerimis tipis turun perlahan. Julani
menggandengku pulang.
F.
Foto ibu dan bapak sudah lama kubuang. Foto
mereka sudah tidak ada lagi di rumahku.
Aku tidak ingin mengingat mereka lagi,
meskipun di kamar, dari pantulan cermin yang terpacak di dinding, wajah mereka
tercetak jelas di wajahku. Memandangi cermin itu, sepasang mataku jadi mirip
dua bohlam lampu kecil tanpa garansi yang mudah sekali mati.
Aku berbalik badan, melangkah, lalu mengambil buku
catatan yang tergeletak di ranjang. Sebatang pena biru melamun di dalamnya.
Kuambil pena dan mulai menuliskan tiga kalimat sungsang dan membingungkan: Manusia
adalah pasien yang menyamar jadi dokter. Cinta adalah kanker yang sulit
diobati. Tuhan adalah dokter yang sering membuat bingung pasiennya.
Suatu sore, aku memperlihatkan catatanku itu
kepada Julani. Setelah membacanya dengan mata berair, ia mengeluarkan
kalimat yang patut kukagumi, “Kamu harus tidur cukup dan segera minum obat
cacing.”
"Tapi bagaimana aku bisa tidur kalau
setiap kali memejam, aku selalu melihat ranjang-ranjang putih dan kursi
roda?" kataku protes. "Tapi baiklah ...." aku berdehem karena
tenggorakanku terasa gatal, "Aku akan segera minum obat cacing."
Julani tertawa puas. Ia memelukku, lalu mencium pipiku
dengan gemas.
G.
Gelisah dan cemas telah berhasil mendorongku
keluar rumah pada suatu malam yang gerah. Aku berjalan sendirian tanpa tujuan
dan berakhir di depan rumah sakit Cinta Kasih tempat bapakku dirawat dan
akhirnya meninggal. Aku masuk tanpa berpikir. Seorang satpam menatapku tanpa
menanyakan apa-apa.
Karena tidak ditanya, aku lantas berjalan
menuju lorong rumah sakit dan baru berhenti saat aku berdiri di depan pintu
kamar mayat. Di kaca pintunya yang sedikit buram, aku bisa melihat bayanganku
sendiri. Bayangan yang mengenakan jas dokter. Aku tersenyum, lalu mengangguk
kepada bayangan itu.
Aku membuka pintu kamar mayat yang mungkin
lupa dikunci. Maksudku, aku tidak ingat benar apakah pintunya dikunci atau aku
sendiri yang telah merusak kuncinya. Yang jelas, ruang kamar mayat itu nyaris
kosong kalau saja tidak ada satu meja dan secarik kain mori yang menutupi
sesuatu. Aku mendekat untuk menarik kain itu, dan aku menemukan kursi roda.
Kursi roda itu masih baru. Aku sempat
mendengar si kursi roda menghela napas dan memanggil namaku.
Aku tidak kaget, dan malah tersenyum senang,
menganggap hal itu lelucon yang buruk dari sejumput takdir yang digariskan
untukku.
Aku keluar dari kamar mayat dan memutuskan
pulang ke rumah dengan membawa kursi roda di kepala.
H.
Hari berikutnya, aku menceritakan kejadian di
rumah sakit itu kepada Julani. Ia berkata heran, “Berhentilah hidup dalam
mimpi, Sayangku.”
Aku menggeleng lemah. “Tapi kursi roda itu
nyata. Dia bisa bernapas dan memanggil namaku dengan jelas.”
Julani menatapku lama sebelum memegang
tanganku. “Kamu harus berhenti mengunjungi rumah sakit. Aku takut kamu berubah
...”
“Berubah jadi?”
“Hantu penasaran.”
"Kita semua memang penasaran."
Entah kenapa, kata penasaran, tiba-tiba
berhasil mendorongku untuk mencekik leher Julani.
Julani balas mencekik leherku.
I.
Ingatanku semakin buruk. Aku mulai kehilangan
batas antara tidur dan jaga. Kadang di kantor perpustakaan daerah tempatku
bekerja, aku mendengar bunyi monitor detak jantung. Kadang di rumah, aku merasa
tubuhku terikat selang infus.
Sementara itu di dalam mimpiku yang terakhir,
aku melihat Bapak duduk di sofa ruang tamu rumahku. Ia tersenyum mengejekku,
lalu berkata, “Tak lama lagi, kamu akan menjadi kursi roda.”
Aku terbangun dengan keringat dingin di dahi.
Kakiku terasa kaku. Aku melihat
sekeliling dan mendapati Julani sedang duduk di sampingku.
"Syukurlah kamu bangun. Sudah tiga hari
kamu dirawat di rumah sakit Cinta Kasih."
"Bukannya kamu sudah mati kucekik?"
"Tidak, Sayangku. Itu tidak pernah
terjadi."
Aku kaget, dan jatuh pingsan lagi.
J.
Jam sembilan pagi, dua minggu setelah keluar
dari rumah sakit, aku memutuskan untuk berhenti bekerja. Kusampaikan kepada
Kepala Dinas Perpustakaan bahwa aku ingin mencari makna. Ia menatapku seperti
menatap pasien yang baru keluar dari ruang psikiatri.
Sejak berhenti bekerja, terutama hari Minggu,
aku selalu menghabiskan waktu membaca atau menulis dengan banyak ditemani
Julani. Kami sering duduk di ruang tamu rumahku. Aku makin jarang bicara.
Julani yang sekarang lebih banyak bicara tentang buruknya cuaca, tentang makan
bergizi gratis, dan tentang cinta abadi.
“Kalau dunia adalah rumah sakit, maka apa
arti cinta menurutmu?” kata Julani sebelum tersenyum.
Aku berpikir agak lama. "Cinta menurutku
..." aku mencari kalimat yang pas untuk menjawabnya, "... Adalah
kanker stadium akhir,” kataku sebelum hidungku mimisan.
Julani tersenyum getir. “Dan siapa yang kamu
cintai dan mencintaimu?”
Aku tidak bisa menjawab. Dalam diam, sambil
membiarkan darah mengucur dari lubang hidung, aku merasa kanker di tubuhku
semakin mengganas.
K.
Ketika hujan reda, pada suatu malam, Julani
datang ke rumahku dengan memakai jeans biru gelap dan kaos putih yang ditutupi
jaket hitam. Kami duduk di sofa ruang tamu.
Julani membawakan sop daging sapi panas
kesukaanku. Ia bangkit, lalu berjalan ke dapur untuk mengambil mangkuk, sendok,
dan garpu.
“Nurani .... Sayangku ....” katanya, beberapa
menit kemudian sambil membawa sop daging sapi di dalam mangkuk.
Aku ingin menjawab, tapi lidahku sudah tidak
tersambung lagi ke otak.
“Kamu di mana?” suara Julani bergetar.
Di mana otakku? Aku menjawab dengan sedikit
bergerak.
Mangkuk menjatuhkan diri dari tangan Julani.
Sop daging sapi berceceran di lantai. Julani tercengang sebelum menatapku lama,
sampai aku tidak tahu lagi siapa yang lebih nyata di antara kami.
“Nurani?” Julani berbisik.
Aku bergerak maju mendekati Julani.
Setelah itu, tidak ada yang pasti mengenai ceritaku ini. Cerita
berkembang biak seperti cacing kremi. Ada cerita yang mengatakan bahwa Julani
menelepon polisi dan melaporkan bahwa aku hilang diculik orang. Polisi datang dan hanya menemukan kursi
roda di ruang tamu rumahku. Ada pula cerita lain yang mengatakan bahwa Julani
jatuh sakit setelah aku menghilang. Ia dirawat di Rumah Sakit Jiwa Purnama Dibelah Dua. Di
sana, setiap hari, Julani makan dan tidur di kursi roda.
Aku sendiri tidak tahu cerita mana yang
benar. Aku bahkan tidak tahu apakah aku masih ada, ataukah aku hanya sebuah
kursi roda yang banyak bicara?
Entahlah. Roda berderit. Aku membenci rumah
sakit.
Lampung, 2026
________
Yulizar Lubay, fiksionis dan
aktor teater di Komunitas Berkat Yakin Lampung.
Instagram: @yulizarlubay
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com











