View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Latest News

Tuesday, June 16, 2026

Proses Kreatif | Kesetanan Membeli Buku

Oleh Encep Abdullah



Sejak akhir 2025, saya seperti orang gila, kerasukan bin kesetanan membeli buku. Menu beranda media sosial saya saat ini yang muncul 80% orang jualan buku. HP saya pun saat ini disesaki nomor kontak penjual buku. Dalam seminggu, saya bisa beli online 2--3 kali dengan pengeluaran yang bervariasi bergantung seberapa banyak saldo di rekening saya. Makin banyak saldonya, makin banyak pula yang saya beli, padahal tidak butuh-butuh amat. Saya tidak tahu, apakah kejiwaan saya ini sedang terganggu atau tidak. Tapi, kenyataannya begitu.


Gejala ini belum pernah saya alami sebelumnya. Satu habit baru dalam hidup saya: kecanduan beli buku online! Biasanya saya beli buku saat liburan atau mudik ke rumah istri—ke toko Gramedia BSD. Itu pun mungkin 3--5 bulan sekali. Kali ini, saya tak perlu menunggu liburan. Asal ada saldo di rekening, pasti langsung checkout buku. Kali ini saya kerasukan buku-buku bekas (ori) atau buku terbitan lawas yang sudah berdebu, menguning, bahkan sebagian sobek atau dimakan rayap. Seorang penjual bilang bahwa buku yang saya pesan itu sebagiannya sudah disantap rayap. Saya bilang, ”Makin ada bekas gigitan rayap, makin otentik.” Mungkin penjual buku itu bilang saya kurang waras. Ah, biarkan! Memang faktanya begitu. Saya sedang senang meraba dan menghidu buku-buku lawas. Imajinasi saya jadi melanglang buana.

Biasanya, kalau saya punya uang, saya memilih jalan-jalan, makan-makan, atau foya-foya traktir orang. Bahkan, untuk iseng membeli rokok saja, rasanya eman (sayang)—saya bukan perokok aktif, sekadar iseng-iseng saja kalau nongkrong. Dulu, kalo nongkrong-nongkrong, tak perlu pikir panjang beli rokok, ini dan itu. Sekarang mikir, lebih baik buat beli buku. Imbasnya adalah kepala saya jadi makin pusing. Tiap minggu nongol buku baru. Rak buku makin penuh. Ujung-ujungnya harus mengeluarkan duit lagi buat beli rak buku. Terus saja begitu. Bisa jadi, per 2--3 bulan kalau begini terus, rumah saya lemari buku semua. Tapi, bukannya itu yang saya mau?

Saya memang punya rencana punya perpustakaan pribadi yang kelak bisa dibuka untuk umum. Saya termasuk orang yang anti minta-minta sumbangan buku. Saya lebih senang membeli pakai duit sendiri. Lebih puas. Tapi, tidak menolak juga bila ada yang mau donasi buku, silakan. Namun, pilihan untuk menabung-membeli buku sendiri masih saya pertahankan. Toh, buku tidak basi. Bila nanti saya bosan dan mau saya jual, tinggal jual saja. Bahkan, beberapa bisa dijual lebih dari harga aslinya—terutama buku-buku langka.

Yang jadi masalah--bahkan saya khawatirkan--mental saya pelan-pelan berubah menjadi tukang timbun buku yang sedikit-sedikit berpikir kelak buku-buku langka, bekas, atau lawas itu jadi duit lagi. Jadi, pikiran materialistis, bukan sebagai pembaca atau penggali ilmu. Ada pikiran semacam itu. Tapi, menimbun buku, sepertinya berbeda dengan menimbun benda lain. Buku-buku bisa bermanfaat untuk siapa pun. Mungkin keluarga saya, tetangga saya, murid-murid saya, atau siapa pun yang mau membaca buku. Hanya, pikiran membeli buku untuk menjualnya kembali itu menjadi satu pantangan besar saya sebenarnya. Saya membeli buku untuk dibaca bukan untuk dijual. Saya pun sangat selektif. Tidak semua buku saya beli. Ada buku yang saya beli karena kangen dengan buku lama yang hilang, ada yang karena memang langka, ada juga karena saudara saya ingin pinjam buku tertentu tapi saya belum punya dan terpaksa saya harus beli—sebagai bentuk dukungan bagi mereka yang ingin meningkatkan minat baca bukunya, sekaligus menjaga harga diri saya, masa buku seterkenal itu misalnya saya tidak punya.

Saya beruntung. Istri saya tidak ngoceh-ngoceh saya suka borong buku. Ia tahu, urusan dapur, kosmetik, itu nomor satu. Saya penuhi dulu semua itu. Jadi, tidak ada diskriminasi antara kebutuhan dapur (perut) dan otak--untuk tidak menyebut "nafsu". Malah, kemarin istri saya dan anak-anak menemani saya ke bazar buku yang diselenggarakan oleh Perpusda Banten. Lucu sih, ya borong buku online, ya borong buku offline juga. Dan, sekali beli buku offline minimal keluar 500 ribu. Sampai akhirnya saya mikir, Kenapa saya cuma beli buku di tempat bazar begini? Kenapa tidak coba dijualin ke orang-orang, mumpung diskon gede-gedean! Otak penjual saya tiba-tiba muncul. Saya merasa tidak mau rugi kalau datang ke bazar buku cuma buat beli buku pribadi doang. 

Sepulang dari bazar, saya bilang ke istri saya bahwa besok saya mau balik ke bazar lagi. Istri saya bilang, "Mau ngapain?" Saya jawab, "Mau jualan buku." Tapi, saya tidak mau borong semua bukunya dulu, belum tentu ada yang mau beli. Istri saya memberi saran, kenapa tidak difoto saja, kirim ke media sosial atau grup WA, siapa yang mau beli, ada jasa titip (jastip). Ini agak konyol buat saya karena belum pernah saya lakukan—eh, pernah sih kayaknya dulu zaman kuliah, mungkin semangat masa lalu ini yang muncul kembali. Akhirnya, saya foto dan saya kirim ke beberapa grup WA dan media sosial. Ada beberapa yang kecantol. Alhamdulillah, dapat 200—250 ribu dalam sehari itu lewat jasa titip. Tetap saja belinya saya talangi dulu pakai duit pribadi—karena mereka tidak transfer lebih dulu. Seru juga memanfaatkan waktu kosong hari itu dengan jastip buku macam ini. Malamnya, saya lihat lemari buku, ada beberapa buku yang saya punya ternyata dobel. Saya kepikiran dijual saja. Saya posting, tak lama laku juga. Dapat lagi  250 ribu.

Saya punya pikiran "jahat". Bagaimana kalau semua buku yang saya punya saya jual? Kalau saya jual kayaknya—setelah saya hitung-hitung—saya bisa dapat duit 50 juta. Wah, sebenarnya saya banyak duit juga ya. Saya mikir, ternyata ini aset masa depan saya buat dijual. Pikiran macam itu muncul lagi dalam kepala saya. No! No! Niat saya punya perpustakaan yang bisa dinikmati banyak orang. 

Ah, soal buku memang tak bisa lepas dari persoalan ilmu, duit, manfaat, dan masa depan. Hidup saya mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi, melototin buku. Di sisi lain, yang lebih esensi, buku-buku itu menjadi terapi tersendiri bagi saya sebagaimana orang lain yang mungkin terapi dengan ikan dan bunyi air di akuarium.

Suatu hari, saya coba cek-cek lagi lemari buku saya, ternyata memang banyak buku yang saya beli karena nafsu, bukan karena butuh. Akhirnya, saya lihat jadi seperti "sampah" juga. Ada niat mau saya jual lagi dan saya belikan buku-buku lain yang memang punya dampak buat saya, atau yang lebih sesuai dengan passion saya atau kebutuhan banyak pembaca. Beberapa buku ini memang buku terjemahan yang sepertinya agak susah dibaca (diminati) oleh pembaca awan maupun pembaca serius. Pantas saja orang tersebut menjualnya borongan dan murah. Ternyata ini yang saya rasakan: tidak terlalu dibutuhkan. Kamu mau? Mungkin ada 50 buku (novel terjemahan, dewasa) bekas, bisa saja jual 5--7 ribu per buku.

Kalau dipikir-pikir lagi, untuk apa saya pusing jualan buku? Toh, saya ini kan CEO Penerbit #Komentar. Haha! Setiap ada yang cetak buku, ya esensinya sama saja saya sedang jualan buku. Malah "lebih banyak" duitnya ketimbang harus beli buku orang, terus dijual lagi. Menurut saya, sekadar jualan buku (termasuk jualan buku karya sendiri), kok, saya merasa kurang gereget ya. Seperti tidak ada kerja intelektual karena sekadar posting tanpa harus ribet ini dan itu—padahal mungkin ada ilmu marketing-nya dan saya tidak terlalu menekuni dunia itu secara jalur "akademis"—, sedangkan saat saya mengurusi proses penerbitan buku, di sana jauh lebih menantang, merasa ada kerja intelektual (edit naskah, dll.). Dan, ini soal skill. Skill itu didapatkan dari pengalaman dan belajar yang terus-menerus. Membaca buku terus-menerus juga mungkin bisa melahirkan skill. Begitu juga dengan terus-menerus jualan buku--tentu yang jualan serius, ya. Bisa jadi skill yang terlatih itu yang akan menghidupimu. Manusia tanpa skill, ia akan mati dibunuh ketidakberdayaannya sendiri.

Apakah Anda termasuk manusia seperti saya? Kayaknya tidak! Mungkin ini terkesan "sombong". Skill saya mungkin segmented, tidak semua orang bisa. Dan, itu skill yang mungkin sudah terlatih belasan tahun. Untuk bisa menjadi seperti saya hingga di titik ini, mungkin Anda butuh waktu belajar selama itu juga, malah bisa jadi lebih lama. Skill di luar proses kerja keras saya, dengan segala kemudahannya, tentu saja adalah giving/karunia dari Tuhan semata. Oleh sebab itu, saya jadi mempertimbangkan lagi dengan judul tulisan ini, harusnya bukan "Kesetanan Membeli Buku", mungkin bisa kita ganti menjadi "Kemalaikatan Membeli Buku" atau "Keilahian Membeli Buku"?  Si "setannya" biar hilang. Namanya "setan", Anda tahu sendiri!


Kiara, 16 Juni 2026

 

 ________


Penulis


Encep Abdullah, Dewan Redaksi NGEWIYAK. Kolom ini adalah [harusnya menjadi] tempat curhatnya tiap pekan walau sering kali banyak alpanya sejak Indonesia ganti presiden. Buku proses kreatifnya yang sudah terbit antara lain Ihwal Menulis dan Menjadi Penulis (2024) dan buku esai terbarunya Orang Gila Sebelum Menulis Esai (2026). 


redaksingewiyak@gmail.com

 

 

Sunday, June 14, 2026

Cerpen Indri Anisa | Tanjung Horn Bersaksi

Cerpen Indri Anisa

 

Mengarungi samudera luas dari Miami, Florida, ke Valparaiso, Chili, dan pemberhentian akhir ke Buenos Aires, Argentina. Berlayar dengan kapal pesiar megah bernama Fortezza dibangun pada tahun 2005 oleh galangan Italia. Disebut sebagai keajaiban dunia karena rekam jejak pelayaran fantastis dengan rute-rute panjang dan berbahaya.

 

Salah satunya Tanjung Horn—rute mengerikan yang membuat banyak kapal berputar balik karena badai kematian—bahkan tumbang ke dasar karang, ditelan derasnya gelombang laut, atau juga kabut yang membutakan navigasi kapten hingga batu raksasa itu menghantam tubuh kapal. Banyak diantaranya tidak pernah kembali—abadi di Tanjung Horn yang memiliki keindahan bak surga dunia. Namun, Fortezza milik Cuore dell’Oceano tidak pernah gagal dalam pelayaran ... tidak sampai mereka melanggar sisi kemanusiaan.

 

***

 

“Paloma Dove, kau berjanji dalam perjalanan kali ini akan mendapatkan inspirasi brilian. Jika kau kembali tanpa membawa berita yang luar biasa maka saya pastikan ini menjadi perjalanan terakhir dalam hidupmu.” Tuan Redaksi melempar boarding pass dan tiket ke dada Paloma kasar.

 

Paloma tak bersuara selain mengangguk datar. Tungkai panjangnya melangkah sambil menggeret koper menuju gangway dan masuk melalui geladak utama. Ia disambut seorang kru kapal berwajah tampan dengan lengkungan bibir hampir setengah wajah.

 

“Hallo, Tuan. Selamat datang di kapal Fortezza milik Cuore dell’Oceano. Saya Luca akan mengantar Anda, Sebelumnya boleh saya lihat tiketnya?” Luca mengulurkan tangan. “Baik terima kasih. Anda berada di mid-decks dengan fasilitas yang cukup baik dan nyaman,” Ia menjelaskan sepanjang langkah dari mulai sejarah hingga fasilitas.

 

Paloma sekadar mangangguk dan tersenyum kaku, sedangkan jarinya sibuk mencatat melalui tabletnya setiap informasi yang diberikan.

 

***

 

Paloma sudah menelusuri setiap geladak. Banyak tangga, ruangan, dan tatanan yang terbagi sesuai harta. Atas, tengah, dan bawah menandakan struktur kerangka kapal megah itu.

 

“Di atas Anda mendengar gemuruh angin segar, tawa elegan dan dentingan gelas-gelas kaca. Di bawah Anda mendengar rintihan meraung panas, pengap maraup udara segar, dan sesekali tangis balita yang pecah. Bagimana dengan yang di tengah? Ouh itu hanya orang-orang yang tidak bisa merangkak ke atas sekuat apa pun bekerja dan tidak pula menjadi bagian bawah karena cukup mampu membayar pajak-pajak negara.”—catatan Paloma Dove.

 

Namun, malam itu berbeda. Angin darat yang biasanya dingin dan kering berubah drastis karena pusaran laut yang terbentuk. Angin berputar kencang disertai gerimis hingga kapal berguncang—terombang-ambing dan lepas kendali. Meninggalkan jalur navigasi yang biasa dilalui. Walau bulan purnama terang benderang dan bintang-bintang sedang berpedar, namun kabut tebal tetap membatasi pandangan. Hebatnya semua masih tenang karena bagi para kru kapal dan kapten ini tantangan baru dan pengalaman fantastis. Jalan cerita yang akan membuat mereka melambung tinggi dan kian dipercaya mengendalikan kapal megah itu. Kesombongan yang nyata. Sampai dentuman kasar, keras dan penuh amarah itu terlepas ke tubuh kapal bagian depan sebelah kiri.

 

Jerit histeris, tangis yang pecah dan umpatan bersatu—bunyi melodi gelas-gelas kaca, guci-guci cantik dan segala peralatan mahal lainnya pecah menjadi beling-beling tak berharga. Di ambang kehancuran itu tidak ada yang peduli selain nyawa masing-masing. Berlarian kocar-kacir menuju geladak teratas. Berharap tak ikut tenggelam jika berada di puncak.

 

Ketika air mulai merambak naik memasuki bagian kapal yang bocor akibat benturan, semua kru berusaha mencari solusinya. Namun itu mustahil karena kerusakan lebih parah dari apa yang mereka bayangkan, dari apa yang pernah mereka hadapi.

 

“Semuanya dengarkan! kapal ini bisa saja tenggelam.“ Sang Kapten meraup wajah kasar kala keributan terus pecah. “Namun kami sedang berusaha mencari celah yang bermasalah itu untuk memperbaikinya secepat mungkin, kami juga sudah meminta bala bantuan. Tapi, itu butuh waktu dan kami ingin setiap orang di kapal ini membantu mengurangi beban pada kapal agar memperlambat tenggelamnya kapal ini.”

 

“Tidak usah bertele-tele, Kapten. Apa yang bisa kami bantu, hah? kau tidak akan membiarkan kami mati konyol di laut lepas dan menjadi santapan paus, kan?” ucap Necis, seorang pria dengan penampilan apik, modis dan elegan khas konglomerat generasi ketiga.

 

“Ya, tentu tidak, Tuan Necis Walles. Jadi, kami menghimbau agar seluruh penumpang bisa membuang barang-barangnya dan hanya menyisakan yang terpenting sepeti kartu penduduk dan uang. Selebihnya buang ke dasar laut,” Kapten menjelaskan hati-hati.

 

Mendengar hal tersebut kumpulan orang-orang dengan gaya glamor itu saling pandang, alis mereka berkerut tajam, mata sinis dan bibir yang mencibir.

 

“Kapten ... kau tahu bukan nilai barang kami? jika seluruhnya dibuang ke dasar laut, maka bagaimana kami akan membantu ‘berdonasi’ untuk kapal yang hampir tenggelam ini. Barang kami begitu berharga. Jadi, lupakan untuk membuang barang kami,” Maximilian berucap sinis. Dia salah satu penumpang VIP.

 

“Dengar Kapten! saya bahkan tidak sudi melemparkan jarum peninggalan nenek saya, Anda tahu kenapa, kan? benar, jarumnya terbuat dari emas. Saya juga tidak tega melempar boneka pinguin putri saya karena dia tidak akan bisa tidur tanpa itu. Jadi lupakan tentang membuang barang kami. Biarkan saja para orang dari geladak bawah yang melakukannya. Toh barang mereka tidak ada bedanya dengan tumpukan barang bekas.” Cassandra melengos menyisahkan aroma parfum mahal. Di sisi lain orang-orang dari geladak tengah dan bawah telah berbondong-bondong membuang barang mereka.

 

“Apa arti sebuah barang berharga? Apakah materialnya? Sejarahnya? Atau pemiliknya? Ketika si jelata memilik emas 10 gram dengan kadar 24 karat dan si kaya memiliki emas yang sama pula, namun milik si jelatalah yang harus dikorbankan. Ketika si jelata memiliki sirkam turun temurun dari keluarganya, dan si kaya memiliki sapu tangan yang ditanda tangani artis dunia, maka milik si jelatalah yang harus dikorbankan. Bukankan ini tandanya tidak penting apa bendanya, tapi siapa pemiliknya.”—catatan Paloma Dove.

 

“Apanya yang kapal megah, kapal paling aman sedunia dan kapal yang disebut sebagai keajaiban dunia. Pada akhirnya bolong dan akan tenggelam hanya karena benturan. Saya mempercayai Anda akan mengatarkan kami dengan selamat, saya menghabiskan semua tabungan hanya untuk bisa menyeberang ke Argentina untuk mempertemukan anak-anak saya dengan ayahnya. Namun sekarang berharap selamat pun kami takut. Selamatkan kami dan kembalikan uang saya!” wanita tua itu meraung. Kedua tangannya memeluk kedua putra putrinya yang masih berusia tujuh atau delapan tahun. Rambutnya berantakan dan tatapan putus asa.

 

“Mohon tenang, Nyonya. Kami pasti akan menyelamatkan Anda dan memberikan kompensasi. Jadi, harap tenang,” mohon Kapten tegas. Pria paruh bayah itu memandang geladak atas yang penuh, padat dan sesak. Semua penumpang dialihkan ke atas karena geladak bawah sudah terendam.


Luca yang sudah basah kuyub datang berbisik dengan bibir yang bergetar pada Kapten. Wajahnya risau, matanya memerah dan tangan yang pucat karena terlalu lama memperbaiki kapal yang terendam air laut dengan suhu minus 1,4 derajat celcius.

 

Kapten mengangguk paham, “Perhatikan semuanya! Keadaan kita tidak baik-baik saja. Air telah mencapai geladak tengah, dan tinggal menunggu waktu geladak ini juga akan terendam.”

 

“Sial! Kami sudah mengorbankan harta benda, tetapi hal itu tidak banyak membantu. Bagaimana dengan bala bantuan?” Pemuda bernama George bertanya dengan frustrasi.

 

“Tunggu dulu! Mengapa dari tadi hanya kami yang sibuk menyingkirkan barang-barang di kapal, sedangkan mereka tidak?” Sofia menunjuk kumpulan orang geladak atas yang bahkan tidak terpengaruh dengan situasi yang makin parah.

 

“Haruskah kami seperti itu? yang membuat beban kapal ini berat adalah kalian. Jumlah kalian seperti ... entahlah, seharunya kalian sadar diri,” Maximilian berdecak malas.

 

“Kalimat yang baru saja diucapkan Maximilian mendapat protes dari orang-orang geladak bawah, sedangkan lainnya justru terdiam merenung. Mereka tidak menyanggah atau membela, tetapi keterdiaman itu menjadi tanda tanya besar. Apakah mereka setuju dengan pernyataan pria VIP tersebut?” –catatan Paloma Dove.

 

Sampai deburan gelombang laut memercik menyapa kulit orang-orang di atas kapal. Meninggalkan jejak merinding yang menusuk hingga tulang. Mereka menjerit ketika badai menerjang dan volume air yang naik meningkat.

 

Tidak ada pilihan selain mengorbankan beberapanya untuk menyelamatkan beberapanya. Geladak bawah menjadi sasaran intimidasi. Satu demi satu hilang dari atas kapal. Tanpa bisa melawan, hanya pemaksaan sunyi yang mendorong mereka ke laut dilahap ganasnya dasar biru. Sampai tak tersisa, raungan yang ditelan gelombang pasang, tangisan yang terurai dalam asinnya lautan dan tujuan sampai yang hanya menjadi angan-angan. Mereka sirnah untuk orang-orang yang menganggap diri mereka layak selamat dan hidup sejahtera.

 

Beberapa saat berikutnya perahu-perahu kecil datang sebagai penyelamat. Namun ironi. Bukan anak-anak, wanita atau orang tua, melainkan geladak atas menjadi prioritas. Menyisahkan geladak tengan yang harus menunggu di kapal yang terombang-ambing dalam pusaran kematian. Di tengah dinginnya udara yang membekukan darah mereka. Bibir membiru, mata memerah dan kulit yang hampir mati rasa. Mereka tak mendapat pertolongan pertama, selain kata-kata ‘tunggu sejenak saja dan kami segera kembali'.

 

“Tetapi itu bohong. Demi detik, menit, dan jam yang mereka lalui dalam keputusasaan tak ada hilal perahu penyelamat. Sampai fajar menyingsing dan menjadi hembusan napas terakhir orang-orang yang tersisa di bangkai kapal.”—catatan Paloma Dove.

 

***

 

“Tuan Redaksi, ini ditemukan ditubuh Paloma.” Seorang pegawainya menyerahkan botol kaca yang berisi alat rekam.

 

“Ahh … tentu saja, setidaknya perjalanan terakhirnya membuahkan hasil. Ini akan jadi berita besar.”

 

_______

 

Penulis


Indri Anisa, mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Lampung. Menulis cerpen menjadi salah satu cara untuk healing karena menulis dan membaca selalu membuka kesempatan untuk menemukan pengalaman serta perspektif baru. Ketertarikan pada dunia sastra mendorongnya untuk terus berkarya dan mengembangkan kemampuan menulis. Beberapa karyanya yang pernah dimuat di media maupun diikutsertakan dalam perlombaan antara lain Mulut Besar Toro, Badai yang Mendorong Kapal, serta Anak Perempuan dan Pisang Goreng.

 

Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Cerpen Santama | Bapuk (Sebuah Fiksionalisasi)

Cerpen Santama




Beberapa hari yang lalu, sepulang dari mengantar teman ke Disdukcapil Kab. Pandeglang, saya menemukan sebuah buku lawas cetakan pertama, di satu lapak loakan (tadinya saya, mahasiswa yang diharuskan mempelajari sastra di Untirta, ingin mencari buku kumpulan sajak untuk objek kajian). Judulnya Ensiklopedia Bromocorah-Bromocorah. Agak bombastis pikir saya dan, dengan segera saya duga, judul tersebut pastilah peniruan terhadap judul salah satu fiksi luar biasa Danilo Kiš, penulis Serbia-Yugoslavia, yakni The Ensyclopedia of the Dead[¹] (anggapan yang gegabah, tentu saja, yang saya sadari secara terlambat, mengingat tahun masuknya karya-karya Kiš ke Indonesia).

 

Dan hal demikianlah yang, tanpa tahu terlebih dulu apa tema maupun genrenya (tapi saya sempat meyakininya sebagai novel), membikin saya tertarik terhadap buku yang kondisinya sudah mengenaskan itu. Ia kusam, penuh bercak dan coretan, hampir buyar, pinggiran sedikit sobek-sobek, dan huruf-huruf dalam beberapa halaman susah terbaca.

 

Tanpa ragu, saya merogoh kocek untuk membawanya pulang, tapi sebelum itu saya berasumsi lagi (setelah tahu buku ini merupakan nonfiksi) bahwa Ensiklopedia Bromocorah-Bromocorah  mengetengahkan para "bramacorah"[²] yang, mungkin sekali, punya suatu andil signifikan namun termarjinalkan[³].

 

Saya kira pastilah mereka, para "bramacorah", lebih dari layak untuk diabadikan dalam sebuah karya tulis. Dan saya tak meleset: Ensiklopedia Bromocorah-Bromocorah memang mengetengahkan para "bramacorah" yang kiprahnya bisa dibayangkan dalam suatu konteks sejarah, yakni revolusi, wabilkhusus Revolusi Indonesia.

 

Penulis buku tersebut adalah Hadna Rojim dan penerbitnya adalah Longit, yang menerbitkannya tahun 1994. Sayangnya, setelah saya cari berjam-jam di internet, informasi tentang penulis maupun penerbitnya sama sekali nihil, entah masih eksis atau tidak (kenapa selalu demikian nasib penerbit-penerbit kecil, lokal, pinggiran?). Saya sangat penasaran terhadap sang penulis, dan membaca pengantar dari Dr. Ahmad Mustaqim berikut ini membikin saya membayangkan bagaimana sosoknya, dan betapa pelik proses yang ia tempuh.

 

Hadna Rojim, seraya terasa cermat-terampil memperlakukan sumber primer dan berusaha kritis terhadap segala mistifikasi dalam sumber-sumber lisan, membentangkan riwayat hidup sosok-sosok di buku ini sebelum, semasa, dan sesudah Revolusi Indonesia. Mereka, seyogianya para antihero, dia tampilkan apa adanya, sebagai makhluk profan di tengah sengkarut sosial-politik, sepak terjang mereka dikemukakan di antara hasrat primordial, anekdot, dan mitos. (Hal. V)

 

Para antihero yang dimaksud, dibandingkan dengan tokoh historis lain semisal Si Pitung (dalam rentang zaman yang berlainan), saya pikir jarang dikenal, jika bukan tidak. Dan salah satunya adalah ia yang berjuluk Bapuk.

 

Akan sedikit (sekadar mengenalkan, sebagai ancang-ancang dari serial yang sedang saya garap) saya sampaikan ulang biografi Bapuk di sini, tepatnya gerak-geriknya sebagai saksi peristiwa historis, menjumput satu episode dalam hidupnya (di awal masa Pendudukan Jepang). Dengan sentuhan fiksi akan disajikan dalam cara saya sendiri yang saya pastikan tidak melenceng dari fakta-fakta dalam Ensiklopedia Bromocorah-Bromocorah.

 

Sisanya adalah sastra[⁴].

___

 

[¹]Fiksi-fiksi Danilo Kiš diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Slamat P. Sinambela, dan The Ensyclopedia of the Dead yang diterjemahkan menjadi Ensiklopedia Orang-Orang Mati dijadikan sebagai judul buku (diterbitkan oleh penerbit Basabasi, 2019).

 

[²]Saya mengapit istilah ini dengan tanda petik berdasarkan pertimbangan bahwa signifikasi istilahnya bersifat khusus, terutama yang terjadi pada sebagian tokoh dalam buku ini, yang dalam kasus tertentu istilah tersebut, saya pikir, politis dan stereotipikal.

 

[³]Tentu saja kehidupan, di luar prinsip-prinsip teks memoar konvensional, lebih dari apa pun, sangat-sangat berharga, sehingga tanpa prasyarat linuhung atau pertimbangan bobot pengaruh pun, bukankah tiap orang memang tak ada salahnya dikenang?

 

[⁴]Dipinjam dari Alejandro Zambra dalam Bonsai (terjemahan bahasa Indonesia oleh Gita Nanda, diterbitkan Labirin Buku, 2022).

 

Kisah Sepasang Bramacorah dan Prajurit Jepang yang Mengamuk di Gedongan Nyamuk

 

Dua tahun setelah Hitler mengangkangi negeri Kincir Angin dan mengirim malam-malam insomnia kepada Ratu Wilhelmina: di Hindia Belanda Bapuk terbangun, gara-gara dari atas atap rumbia gubuknya terdengar suara mesin-mesin meraung. Membuatnya lekas bangkit bagai zombie. Dengan gontai ia melangkah keluar. Kemudian dilihatnya orang-orang tak beralas kaki ada tertegun di tanah jalan.

 

Perempuan-perempuan berkemban berkebaya menggendong bakul menggendong bocah kerempeng, lelaki-lelaki telanjang dada dengan tulang-tulang rusuk mencuat yang terbungkuk membawa hasil bumi yang bukan kepunyaan mereka, yang memanggul kayu api memanggul pacul, yang menenteng arit menenteng parang berkilauan; selengkapnya tampak mendongak, dengan tangan bertelapak kasar memayungi mata menghalau ganasnya cahaya surya.

 

Suara mesin-mesin yang meraung itu adalah Curtiss P-40 Kittyhawk, Curtiss P-36 Hawk, dan Brewster F2A Buffalo: pesawat-pesawat tempur kepunyaan ML-KNIL.

 

Dan sementara para tentara kolonial saling menatap ngeri, gemetar di siang bolong, sekujur terasa dingin di bawah cuaca gerah, dan muka-muka mereka berubah pucat mayat: Bapuk dan yang lainnya di desanya belum mengerti apa yang sedang terjadi.

 

Setelah menguap panjang dengan mulut menganga sempurna, Bapuk hanya kembali masuk. Meneruskan kewajiban yang tak dapat diganggu gugat.

 

Siang baginya adalah waktu molor dan malam adalah waktu melakoni peruntungan, menghadapi centeng dan peronda dan polisi dalam merampok harta para pejabat jawatan pemerintah, menggondol padi di lumbung bumiputra-bumiputra makmur dan menjagal ternak mereka, mencopet di pasar-pasar dan stasiun-stasiun. Apa pun ia lakukan demi bertahan hidup. Kecuali menjadi jongos orang-orang Belanda dan raja-raja kecil. Ia tak ingin lagi.

 

Tergolek di balai-balai, dan dibuai fantasi liar, demikianlah Bapuk kembali terlelap. Mungkin kau berpikir hanya tank baja yang akan sanggup membangunkannya, tapi tidak.

 

***

 

"Dengar, ada datang serdadu-serdadu, memecundangi Belanda konon tak hanya di sini, tapi juga di daerah-daerah seberang!" Sero membawa berita untuk Bapuk, menyampaikannya dalam keriangan melimpah-limpah, seolah-olah lusa ia dilantik jadi Residen. "Ini kesempatan kita!"

 

Bapuk dongkol lantaran Sero, yang lama raib entah ke mana, tiba-tiba datang mengguncang-guncang tubuhnya. Membetotnya dari mimpi basah yang sinambung.

 

"Kau menemuiku hanya buat kasih cakap angin alih-alih candu barang setahi kuku?" timpal Bapuk sekenanya dengan mulut seharum gorong-gorong Batavia.

 

"Kau mana bisa tahu dengan mengorok di ini kandang!"

 

"Orang-orang yang kauceritakan barang tentu setali tiga uang dengan Belanda. Untung matamu!" Bapuk belum terkumpul sempurna nyawanya. "Bila saja yang menggusah Belanda itu orang-orang kita sendiri, tentulah kesempatan boleh dikata."

 

"Mereka lebih digdaya, dan rakyat bertepuk girang ada menyambut konon Jenderal yang kepalanya macam pentol korek, senyum-senyum laiknya orok mengantuk. Para serdadunya tampak bertampang mes—"

 

"Kesempatan kita yang bagaimana?"

 

***

 

Dalam pertempuran sepekan saja Belanda takluk penuh tanpa syarat, setelah kehilangan Tarakan sebagai mula. Hindia Belanda jatuh ke tangan besi Imamura.

 

Tentara, pejabat, pemilik perusahaan partikelir, orang-orang sipil dan loyalis kolonial, yang sebelumnya begitu tak tahu malu, congkak, bergembira di atas rakyat bumiputra yang ditindas dan dihinakan berabad-abad sejak genosida Banda di bawah kekejaman Jan Pieterszoon Coen yang dipertuan, kini digelandang Tentara ke-16 Jepang. Dijejalkan bagai ternak di kamp-kamp interniran.

 

Malam itu, truk-truk dan pasukan-pasukan tentara Saudara Tua merayap di jalan raya. Berpapasan dengan bramacorah sepasang, yang berkelit di antara bayang-bayang.

 

***

 

Apes, di kediaman van Moek—atau yang Bapuk sembarang sebut Nyamuk, telah terparkir dua truk. Di berandanya beberapa prajurit Jepang tampak sedang bersitegang dengan centeng dan jongos. Di dalam terdengar ricuh.

 

"Nyamuk pasti sudah berkemas," kata Bapuk agak putus harap, "di gedongan itu hanya tahi yang disisakannya."

 

"Berharaplah tahinya intan permata," sahut Sero.

 

Tak lama mereka mendengar teriakan bini Nyamuk. Kemudian melengking tangisannya.

 

Dua prajurit menyeret seorang sinyo—anak tunggal di keluarga Belanda totok itu.

 

Sinyo yang terbungkus piama meringkuk bagai cacing, digasak di pekarangan, mengerang, persis sang jongos yang pernah diperlakukan serupa oleh yang bersangkutan.

 

Sang jongos berusaha tak kelihatan gembira.

 

Si centeng dicegat. Batal berbuat.

 

Orang bilang itu si centeng pernah kena kurung di Nusa Kambangan. Minggat dari sana, kian menjadi-jadi kebolehannya. Sila Menir bawa selawe macan Sumatra, dapat diadu dengan sahaya, konon demikian ia menawar diri kepada Nyamuk dahulu kala, dan kemudian terus dipasang ketika banyak centeng telah tak bertuan.

 

Sang jongos berpikir tentang itu orang: ia tentulah sengaja bergeming dalam gertak ancam para tentara, tahu-menahu bahwasanya kalap berarti celakalah sudah. Pedang panjang boleh sebatang lidi dan pelor boleh getah karet baginya, tapi tidak sekali-kali bagi famili gedongan ini.

 

Tak disangka-sangka Nyamuk memburu keluar, menengkar sedapatnya, tapi terkapar sekali tepuk, salah satu prajurit nyaris menyabetkan samurai ketika komandannya melerai, yang kemudian mencak-mencak, dalam bahasa yang belum diakrabi anjing-anjing liar di Nusantara.

 

Bapuk dan Sero tersentak mendengar letusan.

 

Satu betis dilubangi malam itu.

 

Di tengah jerit lakinya, bini Nyamuk menyongsong tergopoh. Ambruklah ia.

 

Dalam bahasa leluhurnya ia memaki-maki sang Komandan galak beserta kolega, juga memaki-maki lakinya sendiri.

 

Ia telah kasih nasihat bahwa lebih baik lakinya mengalah secara kesatria, ini hanya sementara, katanya, Ratu amat sayang negeri koloni—seperti balita yang direbut mainannya: Yang Mulia pasti ingin merebutnya lagi, merengek-rengek ke paman sekutu.

 

Tapi lakinya berkepala batu Kali Bekasi.

 

Demikianlah anak-beranak itu akhirnya diangkut menggunakan truk, menjalani tamasya singkat, dan berharap itu bukan awal nostalgia akan surga yang jauh dari ujung Terusan Suez.

 

"Dari tanah kembali ke tanah," gumam Bapuk sekenanya, "dari neraka kembali ke neraka."

 

Dan Sero saat itu belum bisa ia yakinkan bahwa makhluk-makhluk yang baru saja mendarat tidak kalah bangsat.[]

 

Pandeglang, 2025

 

______

Penulis

 

Santama, Bisa disapa di @san.ta.ma.

 

 

Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com