View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Latest News

Saturday, March 14, 2026

Berita | Peluncuran dan Diskusi Buku “Suara dari Alaska” Warnai Nyenyore dan Kado Lebaran 2026 Rumah Dunia


NGEWIYAK.com, KOTA SERANG -- Sabtu sore, 14 Maret 2026, suasana Teater Terbuka Rumah Dunia, Ciloang, Kota Serang, terasa hangat dan hidup. Sekitar lima puluh orang berkumpul dalam acara Nyenyore dan Kado Lebaran 2026 Rumah Dunia yang dirangkai dengan peluncuran serta diskusi buku Suara dari Alaska. Para peserta datang dari berbagai latar belakang: mahasiswa, pegiat literasi, atlet BMX freestyle, hingga masyarakat umum.


Buku Suara dari Alaska ditulis oleh Heru Anwari, seorang atlet BMX freestyle yang menapaki dunia literasi dari pengalaman hidupnya sendiri. Dalam diskusi yang dipandu Ade Ubaidil sebagai moderator, Heru menceritakan bagaimana tulisan-tulisannya lahir dari pengalaman tubuhnya berhadapan langsung dengan kehidupan.


Menurutnya, menulis adalah cara untuk membuka kesadaran baru. Ia sering memulai dari peristiwa-peristiwa sederhana: obrolan tentang buaya, pertemuan tak terduga dengan seseorang di pesawat, hingga pengalaman perjalanan yang memantik refleksi.


“Sebagai penulis, hidup seperti memiliki misi untuk mencari jalan suci, jalan literasi. Masih ada kebahagiaan di atas kebahagiaan, dan mungkin salah satunya melalui menulis,” ungkap Heru.


Dalam diskusi tersebut, Wahyu Arya, jurnalis Banten yang menjadi narasumber, menyoroti potensi Heru sebagai penulis yang lahir dari luar dunia akademik. Menurutnya, hal ini justru menjadi peluang besar.


“Ketika buku pertama muncul lalu dipuji, itu bisa menjadi bahaya bagi penulis. Tetapi karena Heru tidak lahir dari dunia akademik kampus, justru ini peluang. Mereka yang tidak dibentuk oleh tradisi akademik juga punya kesempatan melahirkan tulisan-tulisan segar,” kata Wahyu. Ia meyakini kisah-kisah Heru tidak berhenti pada satu buku, tetapi berpotensi berkembang menjadi cerpen maupun karya lain.


Sementara itu, moderator Ade Ubaidil menyoroti sisi religius dalam tulisan-tulisan Heru. Ia menduga hal tersebut berkaitan dengan latar belakang Heru sebagai anak pesantren yang mempengaruhi cara pandangnya terhadap kehidupan.


Pendiri Klinik Menulis, Encep, dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa kemunculan Heru menjadi angin segar bagi dunia literasi di Banten.


“Selama ini tantangan penulis di Banten adalah orangnya itu-itu saja. Dalam diskusi ini kita sudah membuktikan bahwa ada sosok baru yang hadir dalam dunia literasi Banten. Kita harus menyambutnya dengan baik,” ujarnya.


Encep juga menyinggung bahwa kegelisahan adalah fitrah manusia. Karena itu, seorang penulis membutuhkan mentor atau guru agar kegelisahan tersebut tidak berubah menjadi kegilaan dalam hidup.


“Saya melihat banyak kegelisahan dalam diri Heru. Ia sangat membutuhkan guru untuk membimbingnya menulis,” tambahnya.


Apresiasi juga datang dari Gol A Gong, Pendiri Rumah Dunia dan Duta Baca Indonesia periode 2021–2025. Ia menantang Heru untuk terus mengeksplorasi pengalaman hidupnya menjadi tulisan yang lebih luas.


“Pengalaman Heru bisa dikembangkan menjadi tulisan perjalanan atau travel writing. Buku ini adalah awal yang sangat bagus,” kata Gol A Gong. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Encep yang dianggap berhasil menemukan “mutiara baru” dalam dunia literasi Banten, sekaligus menantangnya untuk menemukan penulis perempuan edisi berikutnya.



Pandangan lain datang dari Arip Senjaya, dosen Filsafat Ilmu Universitas Sultan Ageng Tirtayasa sekaligus penulis kata pengantar buku tersebut. Menurutnya, “Alaska” dalam buku ini bukanlah tempat geografis, melainkan metafora tentang kisah-kisah dari pinggiran.


“Esai-esai Heru sangat reflektif. Banyak pengalaman yang hanya tubuhnya sendiri yang mengalami. Itu membuat narasinya terasa personal dan autentik,” jelas Arip. Meski demikian, ia mengingatkan agar penulis tidak terjebak pada gaya esai yang terlalu menggurui.


Dukungan juga disampaikan Firman Venayaksa, penggerak Motor Literasi (Moli). Ia menilai buku ini menjadi bukti bahwa siapa pun, dari profesi apa pun, memiliki kesempatan untuk menulis.


“Ini bukan sekadar menulis, tetapi menulis secara reflektif. Selamat untuk Heru. Bahkan kalau memungkinkan, buku ini bisa dibedah di kampus sebagai bahan diskusi akademik,” ujarnya.


Menjelang senja, diskusi berakhir dengan suasana akrab. Para peserta kemudian melanjutkan kegiatan dengan sesi foto bersama dan diakhiri dengan buka puasa bersama. 



(Red/Encep)


Resensi Kabut | Di Hadapan Sejarah Berwajah Puisi

Oleh Kabut



Pemberian mata pelajaran sejarah di SD pernah mencipta keruwetan. Yang belajar sejarah melalui PSPB dan PMP menemukan pengulangan atau tumpang tindih. Beberapa hal bermunculan tanpa ada janji kesepakatan untuk sama. Murid akan bingung bila menemukan perbedaan, yang semuanya tercantum dalam buku pelajaran. Keinginan mengetahui sejarah ditambah “berat” dan “samar” saat belajar IPS.


Soeharto ingin jutaan anak di seantero Indonesia melek atau mengerti sejarah. Maksudnya, sejarah membekali mereka agar menjadi manusia-Pancasila atau manusia-pembangunan nasional. Maka, sejarah yang dipelajari diharuskan sesuai kepentingan penguasa. Murid-murid yang belajar sejarah bertujuan makin cinta tanah air, selain kebiasaan mendoakan arwah para pahlawan saat upacara di halaman sekolah. Sejarah tidak cukup hanya dengan gambar atau poster pahlawan di dinding kelas. 


Anak-anak yang sedang menyusun masa depannya alias cita-cita diharapkan mengetahui masa lalu. Artinya, masa lalu yang tokoh-tokohnya dewasa. Mereka belajar sejarah bukan bertemu tokoh yang masih anak-anak atau remaja. Babak-babak sejarah di Nusantara memberi ruang terbesar untuk kaum dewasa yang berani bersenjata dan berdiplomasi. Sejarah yang berat itu dipelajari anak-anak dengan ingatan yang menggumpal tanpa ada jaminan sedang merawat kebenaran.


Yang mengingat masa Orde Baru mengetahui bahwa buku-buku pelajaran yang digunakan di sekolah-sekolah membawa misi ideologis. Di pelajaran sejarah, penguasa berhak menentukan hal-hal yang dipelajari dan hal-hal yang dihilangkan atau disembunyikan. Pokoknya, sejarah sangat penting dan berguna dalam menentukan persatuan dan kesatuan, yang ujung-ujungnya membenarkan demokrasi Pancasila dan pembangunan nasional. Murid-murid belajar sejarah memberi bobot atas martabat penguasa dan stabilitas politik, yang kadang mendapat gangguan dari pihak-pihak yang menggugat sejarah dan ingin melakukan pelurusan sejarah. Apakah itu mengartikan penguasa main-main dan berani membuat kebohongan dalam pelajaran sejarah?


Kita masih dapat menemukan buku mengajarkan sejarah tapi bukan buku pelajaran. Apa yang ingin kita simak dari buku lawas? Buku itu memuat sejarah dalam bentuk puisi. Murid-murid SD mendapat suguhan yang berbeda dalam bahasa dan cara ungkap dalam usaha mengerti sejarah. Bagaimana bila yang membaca sejarah itu malah terpeleset dalam imajinasi?


Pembuktian dengan membuka buku berjudul Sejarah Indonesia dalam Puisi susunan M Badari Tamam dan kawan-kawan. Ingat, yang menyusun bukan cuma satu orang tapi beberapa orang. Anehnya, nama-nama yang lain tidak dicantumkan. Kerja penulisan yang kolektif, mengesankan pengajaran sejarah lewat puisi mengandung keseriusan ketimbang halaman-halaman buku pelajaran sesuai kurikulum buatan pemerintah.


Buku diterbitkan Tiga Serangkai, Solo, 1984. Buku disusun dan diterbitkan untuk dibaca murid-murid kelas V di SD. Bagaimana bila murid-murid kelas 1, 2, dan 3 ingin membacanya? Maka, mereka akan menemukan kesulitan meski mengusung penasaran. Apakah murid kelas IV dan VI boleh membacanya? Para penyusun sudah mempertimbangkan puisi-puisi dapat dimengerti bagi murid-murid yang lancar membaca dan mulai tergoda imajinasi. Pada saat membaca, mereka dianjurkan mencari keterangan lanjutan di buku pelajaran atau meminta penjelasan guru. Bagi yang berminat sejarah, beberapa hal dalam puisi dapat disokong dengan bacaan-bacaan yang tersedia di perpustakaan. 


Penerbitan buku bisa untuk dibaca saja atau digunakan sebagai bahan saat mengikuti lomba deklamasi. Kita menduganya melalui gambar di sampul depan. Lihatlah, murid SD yang rambutnya berpita sedang beradegan membaca puisi. Di belakang, kita melihat gambar candi, yang disebut sebagai peninggalan sejarah. Ada juga gunung dan kibaran bendera merah-putih.


Yang disampaikan oleh para penyusun buku: Dengan membaca buku ini/ Berarti membaca dan menghayati puisi/ Sekaligus mengkaji budaya bangsa/ Budaya agung sepanjang masa// Buku ini kami persembahkan/ Kepada seluruh bangsa Indonesia/ Apalagi dalam masa pembangunan/ Ikut membantu mencerdaskan bangsa. Pengantar itu mengandung kutipan-kutipan dari UUD 1945 dan GBHN. Jadi, anak-anak yang membaca jangan mengira dapat hiburan. Puisi-puisi yang dibacanya serius, yang menjelaskan Indonesia, dari masa ke masa. Yang tidak diremehkan adalah kemampuan membumbui imajinasi, yang membedakannya dari buku pelajaran.


Kita mulai mengingat sejarah melalui bait-bait yang mengisahkan Sultan Agung. Kita membayangkan murid-murid masa lalu mudah membacanya dan sedikit demi sedikit mengerti setelah membandingkan dengan isi dalam buku pelajaran sejarah. Yang terbaca: Mataram Islam di Jawa/ Dipimpin oleh Sultan Agung/ Melawan Kompeni di Batavia/ Yang dipimpin JP Coen// Tahun seribu enam ratus dua delapan/ Sultan Agung mengirim pasukan/ Untuk menumpas Kompeni-Belanda/ Yang berada di Batavia… Terjadilah pertempuran seru/ Korban jatuh satu per satu/ Para pejuang kita/ Tidak takut menghadapi Belanda// Tentara Mataram/ Bersenjatakan golok, tombak, dan pedang/ Belanda menggunakan senapan dan Meriam/ Tentu saja tidak seimbang// Setelah Bahu Reksa gugur/ Pasukan Mataram mundur/ Turunlah semangat pasukan Mataram/ Mereka mundur dari pertempuran/ Atas kekalahan ini/ Sultan Agung tidak putus asa/ Dipersiapkannya pasukan yang memadai/ Untuk menggempur Batavia. 


Bait-bait itu bisa dimengerti murid sebagai perang. Sejak dulu, sejarah adalah perang dan perang. Sejarah tanpa perang berarti tidak seru dan heroik. Sejarah tanpa pengorbanan dan kematian rasanya hambar. Murid-murid yang membaca puisi menyadari bahwa menang dan kalah ditentukan persenjataan. Di Jawa atau Nusantara, teknologi persenjataan masih sederhana. Kekalahan itu lumrah. Senjata yang dibawa Eropa sangat mematikan dan membingungkan bagi yang terbiasa menggunakan senjata tradisional dengan kekuatan-kekuatan gaib. Artinya, sejarah bisa dipelajari dalam pengertian teknologi Barat yang mengalahkan warisan para leluhur di Nusantara. Padahal, murid-murid bisa mendapat cerita bahwa persenjataan tradisional di Nusantara dibuat melalui upacara dan pantangan-pantangan.


Kita melanjutkan membaca puisi mengenai Barat yang datang, akhirnya berkuasa di Indonesia, selama ratusan tahun. Ingat, kita membayangkan seperti murid SD sedang membaca sejarah yang menimbulkan kekaguman atas kekuatan Barat tanpa meremehkan perlawanan-perlawanan bumiputra. Yang pasti, Barat memang mencipta kolonialisme yang menyebabkan sejarah memerlukan heroisme, yang biasanya tampak melalui pembuatan taman makam pahlawan dan penamaan jalan-jalan. 


Sejarah yang dimulai di Maluku. Anak-anak yang membaca wajib melihat peta jika tidak ingin tersesat. Sejarah yang ruwet tapi menantang imajinasi: Selanjutnya/ Tahun seribu lima ratus dua puluh satu/ Bangsa Spanyol tiba di Maluku/ Dari Philipina melalui Kalimantan Utara// Kemudian/ Tahun seribu lima ratus sembilan enam/ Belanda mengadakan pendaratan/ Dipimpin oleh Cornelis de Houtman// Sejak saat itu/ Orang-orang Eropa/ Berdatangan ke Indonesia/ Khususnya ke Maluku// Bangsa Barat/ Menanamkan pengaruhnya/ Kepada masyarakat/ Yang kebudayaannya berbeda// Agama Kristen dan Katolik mereka sebarkan/ Di beberapa tempat di Indonesia/ Akibatnya agama itu mulai berkembang/ Ke pelosok negara// Dari bangsa Barat itulah/ Huruf latin dikenal oleh bangs akita/ Masyarakat kita mengenal sekolah/ Yang mengajarkan ilmu yang berguna. 

Babak sejarah itu tidak sepenuhnya berisi kesalahan Barat yang mengadakan kolonialisme. Mengapa penjajahan masih memungkinkan memberi “berkah” bagi Nusantara? Anak-anak disadarkan tentang adanya sekolah dan penggunaan huruf latin, akibat dari kolonialisme. Artinya, sejarah itu sulit dilihat sekadar hitam dan putih. Artinya, murid-murid yang selesai membaca buku dianjurkan membuat obrolan bareng guru atau ahli sejarah agar mereka memiliki petunjuk yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.


Buku agak tebal yang diterbitkan Tiga Serangkai mengajarkan sejarah dengan bentuk puisi, yang diberi penomoran. Murid-murid sebaiknya membaca pelan-pelan atau dicicil, tidak perlu langsung menyelesaikan 462 nomor atau bait. Yang nekat membacanya akan kelelahan, belum tentu mengerti sejarah dan mampu membuat ingatan-ingatan. Di beberapa halaman, para pembaca sempat melihat gambar-gambar yang ikut merayakan imajinasi sejarah walau mutunya jelek. 


Murid-murid SD yang berhasil khatam buku Sejarah Indonesia dalam Puisi agaknya beruntung ketimbang yang terpaksa membaca buku-buku IPS, PSPB, dan PMP yang sering membosankan dan membebani gara-gara dihajar oleh ujian. Sejarah yang dipuisikan itu seru ketimbang sejarah yang diukur dengan nilai dan kenaikan kelas.


_________


Penulis


Kabut, penulis lepas.



redaksingewiyak@gmail.com

Thursday, March 12, 2026

Esai Ayrin Widya Mustika Sari | Fenomena Mekap

Esai Ayrin Widya Mustika Sari 



Sebagai perempuan pasti tidak akan jauh dari yang namanya mekap, walaupun hanya lipstik saja. Bagi saya lipstik salah satu mekap yang paling penting. Karena lipstik dapat menambah rasa percaya diri. Walaupun belum mandi, jika pakai lipstik pasti dianggap sudah mandi. Lipstik penyelamat saya dalam hal itu.  Warna lipstik dapat mempengaruhi karakter dan tampilan wajah. Saya lebih suka warna lipstik yang diombre atau kombinasi dua warna dibandingkan dengan hanya satu warna lipstik yang tebal, karena menurut saya lebih natural.


Lipstik disebut dengan istilah lipstick yang berasal dari kata lip yang berarti 'bibir' dan stick yang berarti 'batang'. Umumnya lipstik berbentuk batang padat di dalam wadah silinder. Selain lipstik terdapat produk lain yang dapat digunakan pada bibir, seperti lip balm produk melembabkan bibir, lip gloss produk memberikan efek glow pada bibir, lip tint produk pewarna bibir cair atau gel, dan lip cream produk pewarna bibir tekstur cream. Sedangkan kata mekap berasal dari penyerapan bahasa Inggris yaitu make-up yang merujuk pada tata rias atau kosmetik untuk mempercantik wajah.


Mekap memiliki banyak jenis produk. Selain lipstik produk mekap lainnya adalah bedak, foundation (alas bedak), cushion (foundation mengandung skincare), concealer, blush on (perona pipi), pensil alis, eyeshadow, eyeliner, maskara dan lain sebagainya. Mekap lengkap biasanya saya gunakan hanya untuk momen tertentu saja seperti menghadiri undangan atau acara penting lainnya. Namun, mekap bagi saya memerlukan banyak waktu. Saya tidak pandai memakai mekap. Bagian tersulit menurut saya adalah menggunakan pensil alis dan eyesliner. Penggunaan pensil alis dan eyesliner lebih lama prosesnya dibandingkan dengan produk mekap lainnya. Mungkin itulah kenapa ada yang pernah mengatakan bahwa orang yang pintar mekap merupakan orang yang memiliki jiwa seni dan bakat terpendam.


Ribuan kali saya belajar mekap, namun masih belum pandai mengukir alis. Apakah artinya saya tidak memiliki jiwa seni dan tidak berbakat dalam mekap? Namun, sebagai perempuan tentunya tidak akan kapok, banyak jalan menuju roma. Selain pensil alis, ada produk lain yang dapat membuat alis menjadi rapih seperti browcara. Browcara bentuknya menyerupai maskara bulu mata, namun dengan sikat yang lebih kecil. 


Penggunaan mekap biasanya bertujuan untuk menutupi kekurangan pada wajah agar lebih percaya diri. Namun, karena membutuhkan waktu yang lama, jadi saya lebih memilih skincare dan lisptik untuk penggunaan sehari-hari dalam bekerja. Adapun skincare yang saya gunakan hanya skincare dasar seperti sabun cuci muka, pelembab, dan sunscreen. Terlebih jenis kulit saya adalah jenis wajah berminyak dan berjerawat sehingga penggunaan mekap jarang saya gunakan. 


Pertama kali saya mengenal mekap tentunya dari ibu saya. Saat kecil saya sering bermain mekap milik ibu. Tentu ibu saya pasti marah saat itu. Waktu kecil saya tidak tahu fungsi mekap itu apa, sebagai anak-anak, dulu saya hanya meniru apa yang dilakukan oleh ibu saya. Saya mulai pakai mekap lagi saat saya lulus kuliah, tepatnya saat saya sudah punya penghasilan sendiri. Sebelumnya hanya pakai lipsglos dan skincare saja.


Saat kuliah jurusan pendidikan matematika, di angkatan saya hanya terhitung satu atau dua orang saja yang berani tampil sehari-hari dengan mekap tebal, lengkap dengan bulu mata yang cetar melebihi artis. Waktu itu saya ingat pernah bertemu dengan salah satu dosen dari jurusan lain. Dosen tersebut langsung menebak dari jurusan matematika ya. Karena menurutnya, hanya jurusan matematika yang jarang mekap. Saat kuliah dulu saya tidak terpikirkan untuk mekap, seperti tidak ada waktu. 


Berbeda dengan zaman sekarang, banyak para pelajar perempuan khususnya sekolah menengah atas yang pipinya pada merah-merah seperti habis ditampar. Kalau zaman saya sekolah, saya berpikir murid yang pipinya merah pasti berbuat ulah sehingga ditampar oleh gurunya, atau tangannya merah bukan karena kutek, tapi karena disabet akibat tidak hapal perkalian. Itulah sebabnya murid zaman saya-- tepatnya angkatan sembilan puluh, masih "didikan VOC"-- lebih hafal perkalian dibandingkan dengan anak sekarang yang lebih hapal merek mekap. 


Selain pipi yang merah, bibir juga merah bahkan ada murid perempuan yang berani ke sekolah dengan menggunakan lengkap full mekap. Mengalahkan mekap gurunya. Sebagai guru hanya bisa ingatkan untuk menghapus mekapnya. "Didikan VOC" sudah tidak belaku lagi di zaman ini, bahkan menegur murid dengan nada tinggi saja sudah dipermasalahkan. Setelah ditegur, biasanya murid tersebut langsung menghapus mekapnya, namun setelah itu digunakan kembali seperti tidak ada rasa bersalah. 


Penggunaan mekap tidaklah salah, hanya waktu dan tempatnya yang belum tepat. Menurut saya rasanya tidak pantas jika seorang pelajar menggunakan mekap di lingkungan sekolah. Sekolah sudah memberi aturan tegas untuk tidak menggunakan mekap di lingkungan sekolah. Namun, sayangnya peraturan dibuat hanya untuk dilanggar bukan dipatuhi. 


Biasanya anggota OSIS melakukan razia mekap, banyak murid perempuan yang membawa mekap seperti bedak, blushon, lipstik, lipcream, lip tint, pensil alis, eyeliner sampai penjepit bulu mata. Uniknya mereka jadi kreatif, supaya tidak terkena razia mereka sembunyikan. Ada yang simpan perlengkapan mekap di mukena, di tupperware, atau dibuang ke jendela lalu diambil saat selesai razia. Kadang kreativitas anak muncul saat keadaan terdesak, seandainya muncul saat pembelajaran mungkin akan lebih bermanfaat. 


Saat ini media sosial sangat berpengaruh pada kehidupan anak-anak remaja. Banyak konten kreator mekap bertebaran di dunia maya sehingga remaja saat ini sudah pandai bermekap, bahkan bisa dikatakan berbakat dalam bermekap. Saat ini mekap sangat mudah didapat dan dengan harga yang terjangkau dikantong pelajar berbeda dengan zaman saya dulu harganya lebih mahal dan pilihan produknya juga terbatas.


Saya sempat berdiskusi dengan murid saya mengenai alasan menggunakan mekap di sekolah dan estimasi waktu yang dibutuhkan untuk menggunakan mekap. Salah satu alasan mereka karena mereka merasa lebih cantik dan percaya diri jika menggunakan mekap. Sampai saya heran mereka bisa membuat alis dengan sempurna hanya dalam waktu kurang dari lima menit. Mereka sangat cepat mengukir alis dibandingkan dengan menyelesaikan satu soal Matematika yang membutuhkan waktu 30 menit. Persiapan mereka untuk bermekap hanya sepuluh menit sebelum berangkat ke sekolah, bahkan sampai ada yang melewatkan waktu sarapannya. Mereka yang bermekap rata-rata ingin menjadi penata rias atau istilah kerenya saat ini adalah MUA (Make-Up Artist). Artinya mereka sudah menyadari benar akan memiliki bakat seni itu.


Adik saya seorang mahasiswi, sehari-hari setiap kuliah full mekap, persiapan mekapnya satu jam. Jarak dari rumah ke kampusnya butuh waktu perjalanan satu jam. Saat kondisi terlambat bangun pagi dengan kondisi tidak sempat bermekap, ia rela selama kuliah menggunakan masker karena insecure. Padahal hanya menggunakan liptint atau lipbalm sudah aman menurut saya, tapi harus full mekap bagi adik saya yang membuat ia percaya diri. Menurut adik saya, zaman sekarang beda dengan zaman dulu, dulu yang mekap dianggap aneh, sekarang yang tidak mekap yang dianggap aneh. Teman-teman bahkan semua mahasiswi di kelasnya pakai full mekap. 


Beda zaman beda generasi beda karakter. Saya rasa skincare jauh labih penting dibandingkan dengan mekap. Mekap hanya bisa menutupi kekurangan kita sementara, tetapi skincare dapat merawat wajah kita jadi lebih sehat. Memang tidak ada yang salah dalam menggunakan mekap, asalkan mekap yang dipakai tidak berlebihan atau tipis natural dan sesuai dengan situasi serta kondisi sehingga pantas untuk dipandang. Seperti artis Korea yang bermekap sangat natural tetapi tetap cantik. Intinya mau menerima diri ini apa adanya sehinga pakai mekap atau tidak pun, bisa membuat percaya diri. 


Serang, 5 Maret 2026


_______


Penulis

Ayrin Widya Mustika Sari, lahir di Serang, 12 April 1992. Hobi menulis diary. Belum memiliki karya apa pun, tapi sering mendampingi anak berkarya dalam ajang lomba komik, sebagai pembuat cerita. Keseharian sebagai ibu rumah tangga dan pendidik.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Esai Ummu Mafruhah | Fase Golden Age dan Tantangannya

Esai Ummu Mafruhah



Masa anak- anak usia 0-5 tahun sering disebut sebagai masa keemasan atau golden age. Otak, fisik, dan emosi anak berkembang dengan pesat dan membentuk fondasi bagi potensi masa depannya. Pada fase ini, otak anak sangat responsif terhadap stimulasi dan pengalaman. Menjadi krusial untuk memenuhi nutrisi, kasih sayang, dan stimulasi yang tepat agar anak berkembang optimal. 


Mengingat pentingnya fase  tersebut, banyak orang tua yang memberikan stimulus terbaik untuk anaknya. Ada yang dengan hafalan Al-Qur'an, musik, olahraga dan masih banyak lagi. Namun di lain hal, di era saat ini, orang tua digempur dengan tantangan dari berbagai sisi, baik itu lingkungan keluarga, sosial maupun teknologi. Dan pada masa emas ini,  ketiga faktor tersebut sangat berpengaruh dalam tumbuh kembang dan pembentukan karakter anak.


Anak-anak yang lahir dari lingkungan keluarga dan sosial yang baik adalah impian setiap orang tua,  namun keadaan tersebut sangat jarang ditemui. Kenyataannya sering kali kita sulit menemukan lingkungan sosial yang baik untuk anak,sehingga stimulus positif yang kita berikan tidak optimal. 


Begitupun dengan apa yang saya alami. Karena kami punya banyak anak, rupanya menjadi sebuah magnet untuk anak-anak lain datang dan bermain ke rumah kami. Anak-anak kami pun senang karena punya banyak teman.


Awalnya terlihat biasa saja, namun tak lama muncul kata-kata tak pantas yang diucapkan oleh teman anak saya, seperti bahasa binatang (anjing) begitu ringannya terucap dari mulut anak tersebut. Sontak saya pun kaget mendengarnya. Saya berusaha mengingatkannya dengan bahasa yang baik.


Hampir setiap hari anak-anak bermain bersama--karena sulit juga bagi saya untuk melarang anak bermain bersama. Akhirnya, anak saya yang saat itu masih berusia di bawah lima tahun, meniru ucapan temannya. Apabila keinginannya tidak terpenuhi, ia akan marah dan lantas mengucapkan kata "anjing". Sungguh hal itu membuat saya sedih. Saya berusaha memberikan penjelasan bahwa apa yang diucapkan itu tidak baik, tapi rupanya itu tidak berpengaruh.


Di tengah rasa sedih itu, saya berusaha mencari sumber dari buku-buku parenting yang saya miliki, membolak-balikkan lembar demi lembar kertasnya, mencari solusi bagaimana mengatasi permasalahan anak saya. Akhirnya, saya menemukan tulisan Ayah Edi dalam sebuah buku yang berjudul Ayah Edi Menjawab. Buku itu berisi seratus pertanyaan orang tua beserta solusinya. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa bisa jadi anak yang mengucapkan kata-kata kasar atau semacamnya, sebenarnya mereka tidak mengetahui arti dari ucapannya itu sehingga anak harus diberikan pemahaman terlebih dahulu tentang apa yang diucapkannya.


Saya merasa sedikit lega dan berusaha menerapkan kepada anak saya dengan memberikan penjelasan: "Anjing itu nama binatang. Kita boleh ngomong anjing kalau ada anjingnya, kalau kita (saya menyebutnya semua anggota keluarga) namanya manusia".  Berulang kali saya menjelaskan hal tersebut saat anak mengulangi kebiasaannya berkata "anjing". Namun, ternyata hal itu juga belum berpengaruh. Saya agak kesal kepada anak saya karena bingung harus bagaimana lagi.


Sayapun teringat saat dulu pernah mengikuti seminar parenting. Pemateri bercerita bahwa ada satu keluarga yang tinggal di lingkungan yang kurang baik, namun karena pondasi lingkungan keluarganya bagus, anak-anaknya tidak terpengaruh dengan paparan negatif di lingkungan bermainnya. Kemudian pemateri menyimpulkan bahwa ada satu kekuatan yang bisa membantu semua kesulitan orang tua, selain ikhtiar yang harus terus diusahakan untuk mendidik anak dengan baik, ada doa orang tua yang harus selalu dilangitkan.


Dengan perasaan sedih dan merasa gagal menjadi orang tua, di atas sajadah itu saya menangis sesenggukan, memohon ampunan atas kelalayan kami sebagai orang tua serta meminta pertolongan agar anak kami berhenti berkata kasar. Setelah hari itu, hati yang sebelumnya sesak perlahan menjadi lapang. Saat saya pulang dari sekolah, saya melihat seekor anjing di "matrial", dan terlintas di pikiran saya untuk mengajak anak saya ke tempat ini.


Dan benar saja, saat anak saya mengulangi ucapan "anjing", saya bilang saya akan membawanya ke "matrial", supaya anak saya tahu seperti apa anjing itu. Ia pun menolak, dan menangis, tapi saya tetap melakukannya. Berulang kali saya membawanya ke "matrial". Saya berhenti lama di seberang jalan, sambil bercerita tentang karakter hewan tersebut. Perlahan perubahan itu mulai terasa, alhamdulillah anak saya sudah tidak berkata "anjing" lagi, meskipun tantrumnya masih berlanjut, tapi setidaknya itu membuat kami bersyukur. 


Dalam hal ini sungguh kami menjadi banyak belajar bahwa pentingnya fase golden age ini, masa yang membutuhkan pendampingan ekstra dan penanaman nilai-nilai kebaikan. Meskipun kita juga tidak bisa 24 jam menjaganya dan kita tidak bisa membuat anak steril dari hal-hal negatif. Karena kalau kita terlalu steril pun, boleh jadi saat anak dewasa nanti ia akan kesulitan beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.


Satu hal yang saya yakini masa golden age itu memang sangat berpengaruh untuk masa depannya, tapi bukan berarti ia tidak bisa berubah. Yang sudah bagus, bisa jadi menjadi anak yang semakin bagus, kalau perkembangannya sesuai dengan bakat dan minatnya, bukan karena paksaan orang tuannya. Kita juga sempat dikagetkan dengan pemberitaan seorang anak berprestasi yang selalu mengikuti arahan orang tuanya, malah ia tega membunuh keluarganya. Ternyata motifnya karena anak merasa tertekan dan tidak diberikan ruang untuk berpendapat tentang kehidupannya.


Begitu juga dengan anak yang mungkin masa golden age-nya kurang optimal. Ia bisa saja tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik karena adanya dorongan motivasi dari dalam dirinya dan kesadaran dari orang tuanya untuk menata kembali setiap kesalahan masa lalunya.


Serang, 4 Maret 2026


__________


Penulis


Ummu Mafruhah, lahir di Serang, 19 Mei 1991. Sehari-hari menjadi ibu rumah tangga dari 6 anak yang setiap hari berjibaku dengan waktu untuk bisa mengondisikan pekerjaan rumah dan kegiatan sekolah. 


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Wednesday, March 11, 2026

Puisi Jawa Banten | Encep Abdullah

Puisi Jawa Banten Encep Abdullah




Laila (1)


Laila, ning endi sire ngumpete nong

Kakang wis gegelati unggal bengi

Akune lamun pengen kependake si nong

Kakang kudu tafakur


Mun jereh Kamad mah siremah dudu uwong 

Lah, terus ape? Memedi?


Laila, wong lake mendane 

Ngomongi sire bae nong

Kakange kerok ules asline si nong kaye ape


Kakang mah percaye bae

Lamun Kakang bakal kependak nong Laila

Seyakin-yakine


Gusti Allah, tulung buke mate batin kite!


Kiara, Maret 2026



Laila (2)


Barang Kakang ngedeleng si nong

Ore seumpame temen

Kakange minder 

Ore pantes ngulihaken si nong


Kakang mah wong belingsatan

Berenges maning

Si nong mah ayu menyor kaye sewu bulan

Ngegeter ati kakang kerane ore kuat


"Lamun Kakang wis siap, Laila gah siap," 

jereh Laila


Kakang nyangkin ngederedet 

Kaye wong kesetrum 

Premen iki ngejawabe


"Iki udu masalah Kakang berenges 

atawe ape. Iki soal yakin. 

Lamun Kakang yakin, 

Laila bakal teke, ore mustahil. 

Saiki Laila wis ning arepan Kakang," 

jereh Laila


Tapi, suwe-suwe mate Kakang rade lamur

Si nong nyangkin ore kedeleng 


Rasane nong Laila kaye manjing

Ning jero badan Kakang


Kakang ngegublag!


Kiara, Maret 2026


________


Penulis


Encep Abdullah, penulis asal Pontang sing doyan mangan dadar endog lan oreg tempe.


redaksingewiyak@gmail.com

Sunday, March 8, 2026

Setetes Embun yang Menyegarkan Iman: Bedah Buku Dakwah Karya Ust. Drs. Abu Bakar di Pontang

 


NGEWIYAK.com, KAB. SERANG -- Suasana Aula Masjid Darul Arqom, Kampung Pasar Sore, Desa Singarajan, Pontang, terasa hangat pada Minggu sore (8/3). Sekitar tiga puluh peserta dari berbagai kalangan, termasuk akademisi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Dr. H. Muhyi Mohas, S.H., M.H. berkumpul untuk mengikuti Launching dan Bedah Buku Setetes Embun Pagi karya Drs. Abu Bakar. Kegiatan yang digelar oleh Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Pontang ini berlangsung hingga waktu berbuka puasa bersama.


Acara dibuka dengan penuh semangat oleh moderator sekaligus Sekretaris PCM Pontang, Farid Supriadi. Diskusi buku ini menghadirkan Kiai Manar MAS, Founder Manar Institute Foundation, sebagai pembedah buku.

Ketua PCM Pontang, Amrullah Aftah, S.Pd.I., turut memberikan apresiasi atas terbitnya buku tersebut. Ia menilai karya ini sebagai langkah baik dalam memperkaya literasi dakwah di lingkungan Muhammadiyah. Namun, ia juga memberi masukan sederhana namun penting.


“Kalau bisa tulisan dalam bukunya diperbesar, jangan terlalu kecil,” ujarnya sambil tersenyum.


Dalam pemaparannya, Kiai Manar MAS menggambarkan proses menulis buku dakwah sebagai sebuah ikhtiar yang penuh niat baik. Ia mengibaratkan hubungan antara penulis dan pembaca dengan sebuah perumpamaan sederhana.


“Menulis buku dakwah itu seperti gentong yang mencari gayung-gayung. Gentong itu penulisnya, sedangkan gayung-gayungnya adalah jamaah atau para pembacanya,” jelasnya.


Menurutnya, kehadiran buku seperti Setetes Embun Pagi menjadi penting karena kebutuhan utama umat, termasuk warga Muhammadiyah, adalah ilmu. Ia bahkan menyebut karya tersebut sebagai salah satu bentuk kelanjutan dari tradisi keilmuan para ulama terdahulu.


Namun demikian, ia juga memberikan beberapa catatan agar buku tersebut semakin mudah diterima masyarakat luas. Misalnya dengan memperbesar ukuran huruf dan menambahkan unsur visual seperti warna agar lebih nyaman dibaca, terutama bagi kalangan awam.


Sementara itu, penulis buku Drs. Abu Bakar membagikan cerita di balik proses kreatif lahirnya buku tersebut. Ia menjelaskan bahwa judul Setetes Embun Pagi memiliki makna filosofis yang dekat dengan perjalanan batinnya.


Menurutnya, embun melambangkan keikhlasan, ketenangan, dan kesederhanaan hidup.


Menariknya, sebagian besar tulisan dalam buku tersebut sebenarnya berawal dari pesan-pesan singkat yang ia bagikan di grup WhatsApp sejak sekitar tahun 2017, ketika penggunaan Android mulai marak.


“Tulisan-tulisan itu saya kirim ke grup-grup WA, dan ternyata mendapat sambutan hangat dari pembaca,” tuturnya.


Dari sanalah ia terus melanjutkan menulis. Bahkan, beberapa jamaah kemudian menggunakan tulisan-tulisan tersebut sebagai bahan kultum dan materi pengajian.


Diskusi buku sore itu pun berlangsung hangat, santai, dan penuh refleksi. Bagi sebagian peserta, buku Setetes Embun Pagi terasa seperti namanya: sebuah embun kecil yang menyegarkan hati di pagi hari, sederhana, tetapi memberi makna.


Acara kemudian ditutup dengan kebersamaan berbuka puasa, menambah keakraban di antara para peserta yang hadir.


(Redaksi/Encep)


Cerpen Tin Miswary | Raibnya Piring Raja di Batee Raya

Cerpen Tin Miswary 




Andai pun ada seseorang yang mengaku baru turun dari langit, tetap saja dia tidak akan mampu membuka pintu itu lagi. Gua itu sudah tertutup rapat. Tidak ada lagi piring, gelas, talam, cerek dan perlengkapan lainnya yang bisa kami ambil untuk kenduri. Yang tersisa hanyalah batu besar di pinggir gua, bertengger pada lubang yang dulunya selalu terbuka setelah dibaca doa-doa. Sekarang, jangankan dibaca doa-doa, ditarik ekskavator pun, batu itu akan tetap bergeming.

Dulu, sebelum peristiwa itu terjadi, aku menyaksikan sendiri bagaimana orang-orang Batee Raya berkumpul di sana, menggelar tikar pandan, membaca doa-doa, dan lalu batu besar itu akan bergeser ke barat. Lalu beberapa laki-laki memasuki gua seraya salah satu tangan mereka memegang suwa, diikuti kaum perempuan dari belakang, membawa ija sawak. Kaum perempuan akan keluar lebih dulu seraya menggendong piring, gelas dan alat-alat kenduri lainnya yang sudah dibungkus ija sawak

Sebagian warga yang menunggu di luar menyambut barang-barang itu untuk kemudian mereka angkut ke meunasah. Di sana, barang-barang itu dibersihkan sekadarnya dan lalu  diantar ke alamat tuan rumah yang hendak menggelar kenduri kawin atau pun kenduri mati. 

Begitulah. Setiap kenduri-kenduri itu akan digelar, orang-orang Batee Raya akan berbondong-bondong menuju gua yang terletak di selatan kampung dengan dipimpin seorang tetua. Gua itu menghadap ke utara dan membelakangi tumpukan batu-batu besar di belakangnya yang memanjang ke arah rimba maha lebat di Selatan, tempat orang-orang tak dikenal menebang pohon-pohon besar untuk dijual pada penadah berseragam. Orang-orang Batee Raya sendiri menganggap penebangan pohon-pohon itu sebagai pantangan. Namun, apalah daya. Membendung kedatangan orang-orang asing itu sama saja dengan menggali kuburan sendiri.

***

Tiga puluh tahun lalu, ketika usiaku baru menginjak 12 tahun, kampung Batee Raya selalu saja ramai dengan kedatangan orang-orang dari kampung sekitar. Mereka adalah orang-orang miskin yang hendak menggelar kenduri, akan tetapi tidak memiliki peralatan. Kepada para tetua, mereka mengajukan permohonan untuk bisa meminjam barang-barang peninggalan raja di dalam gua. Para tetua kemudian mencatat jadwal-jadwal kenduri yang mereka rencanakan agar tidak berbenturan dengan kenduri yang sudah direncanakan jauh-jauh hari oleh warga Batee Raya.

Seingatku, sebenarnya bukan cuma orang-orang miskin yang sering meminjam peralatan kenduri milik raja yang tersimpan dalam gua, tapi orang-orang kaya juga melakukan hal yang sama. Aku pikir itu wajar, sebab barang-barang peninggalan raja itu memang terbilang sangat mewah dan mahal harganya. Boleh dibilang, tidak ada orang kaya di Batee Raya yang memiliki barang-barang semewah itu, seperti piring keramik bercorak Tiongkok, cerek dan talam yang terbuat dari perak dan juga gelas-gelas kecil yang dilapisi emas.

“Setelah dipakai barang-barang ini harus dikembalikan lagi seperti semula, tidak boleh ada yang rusak atau pun hilang. Siapa pun yang meminjam harus mampu menjaganya seperti ia menjaga anak gadisnya dari gangguan lelaki,” demikian pesan tetua setiap barang-barang itu dikeluarkan dari gua. Semua orang menurut dan menjaga nasihat itu selama puluhan tahun.

Satu lagi yang kuingat, bahwa para peminjam barang-barang raja itu haruslah seorang yang saleh, yang rajin mengaji di meunasah, tidak pernah meninggalkan salat dan juga puasa.

Pernah satu kali, aku melihat sendiri pintu gua tidak mau terbuka saat Bang Baka ingin menggelar kenduri pernikahan anak gadisnya. Saat itu, usiaku mungkin sekitar 25 tahun. Aku dimintai Bang Baka untuk menjumpai Leube Yusuf guna menyampaikan keinginannya untuk meminjam barang-barang tersebut.

“Kenapa dia tidak datang sendiri?” tanya Leube Yusuf saat itu.

“Dia harus menyampaikan undangan kepada kerabat-kerabatnya yang jauh. Dia meminta bantuan saya menemui Leube,” jawabku dengan wajah menunduk.  

“Permintaan Baka tak mungkin bisa kupenuhi. Tak pernah sekali pun aku lihat dia salat dan puasa. Kerjanya hanya bermain catur seharian penuh. Jangankan untuk meminjam peralatan kenduri, menjadi wali nikah saja dia tidak pantas, tak cukup syarat. Dia tergolong orang fasik, jadi tak layak memakai piring raja.”

Mendengar jawaban Leube Yusuf, aku terkesiap. Mulutku seperti dibekap beuno, tak mampu berkata-kata lagi. Aku benar-benar terdiam. Bang Baka adalah sepupuku yang paling baik, yang sering membantu keluargaku di saat-saat genting. Seperti umumnya orang-orang di Batee Raya, dia terbilang miskin. 

Saat aku sampaikan jawaban Leube Yusuf kepada Bang Baka, laki-laki itu hanya tersenyum. “Ya, sudahlah,” katanya. “Aku akan temui sendiri Leube Yusuf,” tegasnya. Maka berangkatlah kami ke rumah orang tua itu menjelang petang, ketika warna langit berubah redup.

Setelah memberi salam dan berbasa-basi sekadarnya, Bang Baka berkata pada orang tua itu, orang tua paling dihormati di Batee Raya, “Cobalah Teungku berdoa di pintu gua, Siapa tahu pintu itu terbuka.”
Leube Yusuf melirik tajam ke arah Bang Baka, “Mana bisa begitu. Itu memang sudah ketentuan sejak dulu-dulu.”

“Tugas Teungku hanya mencoba, kalau memang pintu tetap tertutup, ya sudahlah. Saya batalkan kenduri.”

Keesokan harinya, Leube Yusuf mengundang orang-orang untuk berdoa di pintu gua. Aku dan Bang Baka yang hadir di sana juga turut berdoa, mengangkat tangan tinggi-tinggi. Namun, pintu gua tetap bergeming, seperti mengejek kami yang berkumpul di sana. Aku melihat raut kecewa di wajah Bang Baka dan rona sinis di mata Leube Yusuf.

“Sudah kamu lihat sendiri?” sindir Leube Yusuf sambil mengakhiri doa siang itu.

Melihat kejadian itu dengan mata kepala sendiri, aku dipaksa untuk yakin kalau peninggalan raja itu hanya boleh dipakai oleh orang saleh. Tentu saja orang saleh yang kumaksud bukanlah wali yang bisa terbang atau berjalan di atas air, tapi sekurang-kurangnya dia rajin salat dan tidak suka menggoda perempuan. Namun, aku juga menyimpan sedikit keraguan yang terus mengerak, jangan-jangan doa Leube Yusuf kala itu tidak serius alias pura-pura. Itu sangat mungkin terjadi sebab dia memang menaruh dendam pada Bang Baka yang pernah mempermalukannya saat ia menilap jatah zakat milik Wak Bidin bertahun-tahun lalu. 

***
   
Saat mendengar ceritaku di awal tadi, kau pasti akan bertanya-tanya kenapa pintu gua Batee Raya tidak bisa dibuka lagi sampai sekarang. Sama seperti kau, pertanyaan itu juga pernah mengangguku selama beberapa waktu sampai kemudian ayahku menceritakan yang sebenarnya.

Pada penghujung Desember 1989, Leube Yusuf menyelenggarakan kenduri di rumahnya. Kenduri perkawinan putrinya dengan Kopral Jono yang digelar di musim penghujan tersebut dihadiri oleh banyak tamu, dan juga beberapa aparat militer berseragam lengkap dengan senapan tersangkut di bahu.
Leube Yusuf tidak menduga kalau biaya kenduri tiba-tiba saja membengkak karena tamu-tamu yang datang terlalu ramai. Hari itu, beberapa kali juru masak melaporkan kalau stok beras dan ikan sudah habis. Maka bingunglah Leube Yusuf. Cadangan uang belanja sudah benar-benar menipis dan tamu-tamu terus berdatangan. Lalu diperintahkanlah beberapa warga kampung untuk bergegas ke pasar, mencari beras dan ikan dengan cara mengutang terlebih dahulu. Atas bantuan Tauke Leman, akhirnya kebutuhan kenduri di rumah Leube Yusuf pun dapat tertutupi. Namun, utang kepada orang kaya itu harus segera dibayar begitu kenduri usai.

Leube Yusuf yang tak mau malu dengan keluarga mempelai laki-laki harus berpikir keras untuk melunasi utang-utangnya. Saat itulah ayahku menyarankan pada Leube untuk menyembunyikan beberapa piring raja, talam emas, gelas perak dan beberapa barang lainnya untuk dijual pada kolektor barang antik. Menurut pengakuan ayahku, dia mengusulkan demikian karena kasihan pada Leube Yusuf. 

Awalnya Leube Yusuf menolak. Ia memarahi ayahku. Namun, kemudian dia sadar, hanya itu satu-satunya pilihan. Maka dijalankanlah usul dari ayahku. Dia menjual beberapa barang peningggalan raja kepada Longwei, seorang kolektor Tionghoa. Saat dia menjual barang-barang itu, tak ada seorang pun warga yang tahu, kecuali ayahku, yang saat itu bekerja sebagai tukang bersih-bersih di toko Longwei.
Sejak saat itulah pintu gua Batee Raya tidak bisa lagi dibuka, dihalangi batu besar yang berdiri kekar di depan mulut gua. Sampai dengan Leube Yusuf meninggal, tak ada seorang pun yang tahu kalau dialah punca masalah di kampung kami, pembawa petaka yang membuat penjaga gua mengutuk kami seumur masa. Maka, kau tak perlu marah saat sesekali kau menemukan diriku mengencingi kuburannya. Aku kehabisan akal, sebab aku akan menggelar kenduri untuk perkawinan anakku beberapa hari lagi, sementara aku tak memiliki peralatan apa pun. Sialnya kampung kami juga tak memiliki barang-barang itu, sebab selama bertahun-tahun sudah terlanjur berharap pada barang-barang peninggalan raja yang kini terkunci dalam gua.

Catatan:
Suwa: obor.
Ija sawak; selendang Panjang.
Beuno: sejenis jin yang sering menindih orang yang sedang tidur.  

_______

Penulis

Tin Miswary, alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry, menulis cerpen, esai dan resensi buku di beberapa media lokal dan nasional. Berdomisili di Bireuen.



Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com


Puisi-Puisi Gimien Artekjursi

Puisi Gimien Artekjursi




Tentang Hari-Hari di Hidupku


hari-hari kemarin dan hari ini memang milikku

karena di hari kemarin aku masih bergulung di tengahnya

dan hari ini aku masih bisa memperjuangkan 

dan menikmatinya


entahlah esok

bisa jadi aku sudah pergi menjauhinya

tanpa meninggalkan apa-apa


atau hariku malah diambil orang lain

sampai sedikitpun tak ada lagi untukku


jangankan menikmati

bahkan sekedar tempat bermimpi tak lagi tersisa


masihkah aku bisa terus berharap menemukannya? 

tak lenyap seperti gelembung sabun yang tertiup angin?


bukannya aku tak yakin pada sang pemberi nyawa

tapi raga tua ini terlalu sering jatuh dan runtuh

terlalu lama memendam lelah dan payah

hampir lupa bagaimana rasanya berserah dan pasrah


sampai mantra pun serasa tak mengandung tuah

dan doa serasa tak diijabah


jika sudah seperti itu

masihkah ada harapan yang bisa dipercaya?


(di hidup ini tak ada yang pasti

selain kematian) 


Kumendung, 4 Januari 2026



Ketika Hari Itu Tiba


tak usah ditunggu 

hari itu pasti tiba tanpa kau minta


segala sudah jauh ditempuh:

peristiwa, kenangan, semua tahun dan pergantian musim

terlampaui sekian silam

datang dan pergi

seolah tak akan berhenti


akhirnya apa yang harus diingat, dievaluasi 

jika sesuatu tak terganti? 

adakah yang mesti ditimbang, ditakar

sesuatu yang tak bisa ditukar? 


waktu terus berputar tak akan pernah ingkar

bulan dan tahun berlalu dan tiba 

membawa serta suatu tak terduga 

—mimpi yang tak hendak berhenti

   bisa juga kenangan yang lama terlupa dan mati—


semua akhirnya akan sampai di penghabisan

tanpa harus saling kejar mengejar

tanpa pernah akan tertukar dari daftar

dan satupun tak akan bisa menghindar


Kaliwungu, 5 November 2025



Di Pemakaman


tua atau muda

tak ada beda


usia bukan lagi tanda


yang dikubur di sini

tak peduli pada waktu

tak hiraukan kenangan

apalagi mimpi


yang dikubur di sini

suatu yang pasti

dan sudah dipastikan

tanpa tunda

ketika tiba


Kumendung, 29 Desember 2025



Tentang Sebuah Kubur

(setelah pemakaman) 


di atas kubur

masih basah

aku melihat doa-doa berserakan 

seperti daun-daun berguguran

di sekelilingnya

bunga-bunga yang ditabur

tampak begitu tergesa-gesa dirapikan

 

tak ada yang menangis.

 

sekuntum kamboja gugur

sendiri

ketika sepi menjelma jadi dinding yang tak bisa ditembus

 

tak ada yang peduli


para pelayat sudah pergi

setelah mengantar doa-doa sampai ke ujung akhirat


hanya si mati

barangkali sedang diinterogasi malaikat 

dengan suara setipis angin

atau menunggu kiamat datang

yang melangkah lambat namun pasti

atau hanya diam tak berbuat apa-apa

  

kubur basah tinggal sepi

menunggu 

peziarah yang mungkin datang hanya ala kadar

seperti doa-doa yang hanya singgah sejenak

bahkan seperti embun yang hilang ketika matahari muncul


(tapi dalam kubur

aku rasa kau menikmati hari-harimu

jauh lebih baik daripada ketika bersama di dunia) 


Kumendung, 31 Desember 2025



Kematian: Kenyataan Sesungguhnya


isi dunia hanya mimpi dan halusinasi

tapi kematian yang kau terima adalah nyata 

dan abadi

kau lihatkah kerabat, sejawat atau teman dekat

berurai duka dan air mata? 

benarkah nyata atau ala kadarnya? 

apa bedanya? 

semua akan berlalu

seperti angin mengibaskan rambutmu

lalu mereka akan kembali terbenam dalam mimpi 

dan halusinasi masing-masing

sedang kau 

bahagia sesungguhnya mulai menikmati

selamanya

abadi

tanpa mimpi

karena kematian kenyataan sesungguhnya 


Kumendung, 11 Januari 2026



Demi Menghindari Kematian


demi menghindari kematian

kau bisa perjuangkan hidup

sekuat kemampuanmu

tapi tuhan punya batas

yang tak akan pernah bisa dilampaui siapapun

dengan cara apapun


Kumendung, 12 Januari 2026



Pada Akhirnya


begitulah pada akhirnya, kita tak perlu lagi bertikai 

tentang hari, tahun atau sekedar cuaca


setelah meninggalkan halaman

di manapun berada

mimpi, kenangan bahkan halusinasi

menyatu nyata jadi hidup kita


dan hari-hari akan selalu berlalu 

seperti burung-burung migrasi

menuju tempat baru 

melanjutkan hidup yang sudah dimulai hari-hari kemarin


tak ada lagi istimewa

semua akan jadi setara atau biasa

bisa jadi sia-sia


tak perlu lagi menentang waktu apalagi melawan 

sampai akhirnya kita akan sampai di titik pemberhentian

yang kita ingin atau tidak

tanpa bisa mengelak apalagi menolak


Kumendung, 1 Januari 2026


______


Penulis


Gimien Artekjursi, lahir pada 03 Agustus 1963. Tinggal di Desa Kumendung, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Puisi-puisinya tampil di media cetak dan online, juga di beberapa antologi bersama.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Saturday, March 7, 2026

Resensi Kabut | 16 Halaman

Oleh Kabut



Yang biasa diingat para pembaca buku anak-anak di Indonesia: cerita dan gambar (berwarna). Maka, mereka memilih buku-buku dari penerbit besar, yang memiliki kemampuan dana dan penggunaan mesin cetak yang ampuh. Pembuatan buku cerita anak menggunakan ilustrasi berwarna memang mahal. Konon, buku sesuai impian anak memang mengharuskan ilustrasi yang indah. Ukuran besar dan warna-warni menjadikan anak-anak terpikat. Buku pun disenangi anak-anak meski bapak dan ibunya mesti berani boros.

Apakah buku yang bermutu memang ditentukan ilustrasi berwarna, jenis kertas, dan model cetaknya? Di Indonesia, “kemewahan” buku untuk anak-anak masih terus diributkan berkaitan uang dan dampaknya. Kini, “kemewahan” makin bertambah gara-gara penerbit-penerbit besar berani bersaing. Akhirnya, anggaran yang besar lumrah dalam perayaan buku anak di Indonesia.


Namun, ada para pembaca yang memiliki memori sederhana (saja). Memori yang merujuk Pustaka Jaya. Apakah penerbit itu pantas diakui memenuhi keinginan anak atau selera pasar buku anak? Sejak masa 1970-an, ratusan judul buku anak sudah diterbitkan. Faktanya mendapat ribuan pembaca. Yang sedang kita masalahkan adalah Pustaka Jaya dan “kemewahan” buku cerita anak. Penerbit itu susah masuk golongan yang mau menuruti “kemewahan” walau tetap selalu menjaga mutu.


Pada masa 1983, Pustaka Jaya menerbitkan buku berjudul Putri Darma Ayu. Cerita ditulis oleh M Saribi Afn. Ilustrasi dibuat oleh Adam Brata. Tipis. Pembaca hanya mendapat 16 halaman. Istimewanya, gambar atau ilustrasinya warna-warni. Bagi penerbit, suguhan itu membedakan dengan terbitan masa 1970-an, yang seringnya ilustrasi cuma hitam dan putih. Apakah penerbit sudah punya kekuatan dana besar dan berani bersaing di industri buku anak yang dikuasai kelompok penerbit Gramedia? 


Yang pasti, perubahan-perubahan mulai terjadi. Pustaka Jaya tetap ingin mengadakan bacaan baru, bukan sekadar perlahan menjadi nostalgia. Namun, pihak-pihak yang bernostalgia dengan edisi-edisi lama lebih kuat ketimbang kemunculan pembaca baru untuk buku-buku terbitan masa 1990-an.


Di buku berjudul Putri Damar Ayu, ilustrasi-ilustrasi memang dicetak berukuran besar dan warna-warni. Apesnya, pemilihan huruf malah terjadi “kesalahan”. Huruf dalam buku tampak berukuran kecil dan rapat, yang akibatnya dapat menghambat anak-anak yang membaca. Mengapa “kecil” itu bermasalah? Penata letak buku mungkin sedang mengirit ruang. Pembaca boleh menuduhnya belum handal. 


Yang dibaca adalah cerita rakyat. Anak-anak membaca asal-usul (penamaan) tempat, yang biasanya disampaikan secara lisan, dari generasi ke generasi. Pada saat dikatakan, anak-anak yang mendengarnya perlu membayangkan warna pakaian, warna alam, warna benda, warna binatang, dan lain-lain. Kemampuannya berimajinasi mengesahkan “keterlibatan”, yang membuat cerita lisan memancarkan pesona dalam waktu yang lama.


Pada suatu saat, cerita rakyat dijadikan tulisan. Penerbit yang mengadakan bacaan anak hanya berisi tulisan saja berarti berani tidak laku. Terbitnya cerita anak secara tertulis yang digenapi ilustrasi berwarna menempatkan anak-anak sebagai pembaca yang (masih) berimajinasi tapi tetap membedakan kesan-kesan bila menikmatinya secara lisan.


Kita membaca perjalanan Pangeran Wiralodra dan Ki Tinggil. Mereka bergerak dari Bagelen. Cerita diupayakan ringkas, dimulai dengan pesan diperoleh dalam mimpi: “Cucuku, pergilah ke hutan di tepi Sungai Cimanuk. Bangunlah kampung di sana dengan segala tenaga. Jangan cepat putus asa. Engkau akan memperoleh kebahagiaan di hari depan.” Orang bermimpi mendapat pesan. Kalimat-kalimat yang keramat, yang menentukan nasib suatu tempat. Semua itu hanya dapat terwujud melalui perjalanan. Anak-anak membayangkan perjalanan para tokoh yang jauh dan penuh teka-teki. 


Dulu, perjalanan sangat membutuhkan keberanian, selain kekuatan yang besar. Ketabahan pun wajib dimiliki agar perjalanan tidak sia-sia dan ditimpa banyak masalah. Ilustrasi yang dicetak adalah dua tokoh berjalan kaki, bukan naik kuda. Artinya, mereka berjalan yang menghasilkan keringat. Lihatlah, tokoh-tokoh berjalan tanpa alas kaki. Konon, mereka belum mengenal sandal atau sepatu.


Di suatu tempat, Wiralodra bertemu sosok tua, berharap mendapat keterangan mengenai hutan di tepi sungai yang sedang dicarinya. Penjelasan yang diberikan malah menghasilkan ucapan sosok tua: “Kau orang asing di sini. Ini bukan daerahmu. Aku tak mau memberikan keterangan padamu. Kembalilah ke tanah asalmu. Kembalilah segera.” Kata-kata itu secara cepat memicu kemarahan. Yang terjadi, Wiralodra mengamuk yang menghancurkan tempat dan memaksa sosok tua melarikan diri. Anak-anak yang pembaca agak mendapat pelajaran: omongan dapat menimbulkan pertengkaran. Salah paham antara dua pihak berdampak kerusakan. Namun, yang aneh, Wiralodra mudah marah. Apakah itu gara-gara lelah selama perjalanan dan harapan yang terlalu besar. Pembaca diminta sepakat dengan ilustrasi tokoh yang marah, menampilkan wajah yang dikuasai kebencian dan permusuhan. Gambar yang sulit dikatakan apik. 


Marah itu tidak baik. Maka, ada kesempatan memberi nasihat kepada Wiralodras sekaligus diharapkan dimengerti oleh anak-anak yang membacanya. Pesan yang jelas: jangan mudah marah.


Petunjuk baru diperoleh agar Wiralodra dan Ki Tinggil. Perjalanan dilanjutkan lagi. Akhirnya, tempat itu berhasil ditemukan. Yang disampaikan pengarang: “Mereka berdua segera bekerja keras membuka hutan. Berminggu-minggu, berbulan-bulan, tidak mengenal lelah.” Pada saat membaca kata-kata mengenai bekerja, anak-anak tidak melihat gambar para tokoh menggunakan alat. Bagaimana semuanya dapat diwujudkan? Pokoknya anak-anak dianjurkan mengandalkan imajinasi, bukan ilustrasi warna-warni.


Pekerjaan mereka dapat dianggap berhasil. Anak-anak membaca keterangan: “Dukuh kecil itu berkembang. Mula-mula sebagai tempat orang singgah melepaskan lelah. Lama-kelamaan, banyak orang yang tertarik pindah dan menetap di situ. Karena tanahnya subur, segala yang ditanam berhasil baik.” Perjalanan yang jauh. Perjalanan yang menuai kebaikan. Anehnya, ilustrasi yang terdapat dalam buku tidak menampilkan orang berjumlah banyak yang menetap di dukuh. Yang tampak bukanlah rumah atau perkebunan. Ilustrator mungkin tidak mampu atau melewatkannya. Para pembaca boleh kecewa.


Kejutan berada di akhir, tampilnya tokoh yang disebut putri yang cantik. Gambar yang ditampilkan memang sosok cantik berambut panjang. Anak-anak tidak diharuskan mengetahui asalnya atau kepentingannya. Sosok itu bernama Endang Darma Ayu yang dianggap “pintar, berilmu, dan sakti”. Pembaca dianjurkan mengaguminya.


Wiralodra tergoda untuk menantang kesaktian putri cantik. Yang dibaca anak-anak adalah cerita rakyat. Jadi, yang dibutuhkan bukan percakapan panjang dua tokoh. Mereka bersepakat untuk saling membuktikan kesaktian. Perlawanan antara lelaki dan perempuan. Apakah itu bakal imbang dan menguak kehormatan? Pertaruhannya: bila Wiralodra kalah maka menjadi hambar tapi bila menang berhak menjadikan Endang Darma Ayu sebagai istri. Anak-anak yang membaca tidak usha bingung bahwa adu kesaktian mengandung pertaruhan. 


Kemenangan diraih Wiralodra. Namun, apa yang didapatkannya? Suara yang terdengar: “Dinda akui, kesaktian kanda jauh melebihi saya. Saya menyerah. Tetapi, saya pun tidak mau menjadi istri kakanda. Jika kanda tetap mencintai saya, kenanglah nama saya.” Akhir yang kurang seru. 


Yang dipentingkan dalam buku cerita (16 halaman) memuat beberapa ilustrasi adalah paragraf nama: “Konon, itulah sebabnya daerah itu kemudian disebut Dermayu, untuk mengenang nama Endang Darma Ayu. Sekarang, Dermayu kita kenal sebagai Indramayu, di daerah Cirebon.” Anak-anak yang membacanya lega atau setengah kecewa? 


_________


Penulis


Kabut, penulis lepas.



redaksingewiyak@gmail.com



Tuesday, March 3, 2026

Proses Kreatif | Mengasuh Klinik Menulis #7 dan Nasihat-Nasihat Klise

Oleh Encep Abdullah



Saya perlu menghela napas panjang untuk kembali membuka kelas menulis online: WA dan ruang virtual. Meladeni orang-orang tersebut sudah saya sadari perlu waktu dan pelayanan khusus. Saya cek jadwal saya tiga bulan ke depan, sepertinya aman. Selain itu, keterdesakan saya untuk membuka kembali makin membuncah saat beberapa rekan WA saya dan meminta dibuka kembali kelas baru. Tak nyana peminat yang mendaftar lebih banyak dari biasanya. Kadang saya berpikir, mereka ini mencari apa sih? 


Pertanyaan yang saya ajukan di atas barangkali tak sepatutnya saya pertanyakan. Toh, harusnya saya tahu karena kalau dipikir-pikir, dulu saya juga begitu. Bedanya, saya belajar sebelum ada WA, sebelum ada AI. Zaman sekarang, banyak peserta kelas menulis yang nakal. Mentok menulis, ujung-ujungnya nyuruh AI. Mereka tidak komitmen dengan "kontrak kerja" yang sudah disepakati bersama di awal.


Oh, iya, saat saya bilang kepada istri kalau saya mau buka kelas menulis online lagi, ia manyun. Istri saya sudah tahu, pasti waktu saya akan terbagi-bagi. Mungkin yang biasanya malam saya ngelonin ia, malah berganti ngelonin HP (karena harus membaca dan membalasi WA teman-teman di grup, seringnya malam hari). Ah, ngurusin beginian kan tidak setiap waktu. Toh, sejak sepuluh tahun terakhir, saya melakoni ini, saya tetap baik-baik saja. Nyatanya istri saya juga tahu segala urusan yang memang menjadi tugas dan pengabdian saya untuk bangsa ini. Anjaaay!


Anda yang mungkin punya bakat dan minat lain pun barangkali akan berpikir sama. Berupaya mencari satu kesibukan lain dari kesibukan lain yang sudah ada. Tentu, semua butuh pertimbangan. Tidak mudah mengasuh orang banyak, beda kepala, bahkan di ruang online yang sebagian besar mungkin tidak tahu karakter aslinya (walaupun sebagian lagi orang yang ikut adalah orang-orang dekat saya).


Untuk awal tahun 2026, mungkin kali pertama peserta overlude. Biasanya saya hanya menampung sepuluh atau belasan peserta. Kali ini tiga puluhan peserta. Mereka saya bagi menjadi tiga kelompok grup: esai, cerpen, dan puisi. Baru kali ini, peserta saya bagi ke dalam grup khusus. Biasanya jadi satu grup, saling belajar bersama. Tapi, saya kira diskusi akan kacau bila tiga genre itu disatukan. 


Sebagaimana grup-grup pada umumnya. Ada orang yang aktif, hiperaktif, diam seribu bahasa. Nongol kalau ada maunya doang atau nongol saat jadwal posting karya doang. Ya, saya maklumi kita semua punya kesibukan, yang penting tidak merusak perjanjian dan kesepakatan di awal. 


Berkomentar di grup, itu menjadi salah satu latihan menulis. Sayangnya, mereka tak memahami itu. Padahal, sudah disclaimer bahwa kelas ini boleh buat gaya-gayaan berkomentar sok pintar, sok kritis, dan sok-sokan yang lain. Boleh juga menentang, tak setuju, bahkan harus. Anehnya, sebagian malas melakukan ini. Hanya orang-orang tertentu--untuk tidak mengatakan kurang waras--saja yang mau memanfaatkan peluang itu: belajar berdialektika. 


Esensi berkomentar, berdiskusi, bagi saya bukan menyoal benar tidaknya pendapat itu, melainkan menguji seberapa mampu kita mengolah, menyajikan, meyakinkan pikiran kepada orang lain. Justru di sana letak keseruannya. Ruang kelas menulis yang saya buat, baik di komunitas luring maupun daring, selalu memberikan ruang dialektika semacam itu. Ada keseruan yang tak bisa dinikmati oleh banyak orang. Hanya orang-orang yang satu frekuensi yang bisa menikmati itu.


Kepada siapa pun yang sedang berada di satu komunitas, khususnya komunitas menulis, manfaatkan ruang itu dengan sebaik-baiknya. Tidak semua orang punya kesempatan semacam itu. Waktu kalian terbatas di sana, ada masa akhir. Jangan menyesal bila masa itu tiba-tiba berakhir, dan teman-teman belum siap bertarung di dunia nyata, di dunia para penulis sebenarnya.


Ini mungkin nasihat yang klise dan mungkin agak menjijikkan. Tapi, toh, kita tetap butuh juga nasihat-nasihat "taik" kayak gini. Nasihat yang sok menggurui. 


Semua saya kembalikan kepada Anda yang saat ini sedang berada di medan pertempuran. Teruslah bertarung. Entah bertarung di ruang mana. Entah bersama siapa. Entah menjadi apa.


Sehat-sehat ya!


Kiara, 3 Maret 2026


______


Penulis


Encep Abdullah, Dewan Redaksi NGEWIYAK. Kolom ini adalah tempat curhatnya tiap pekan walau sering kali banyak alpanya sejak Indonesia ganti presiden. Buku proses kreatifnya yang sudah terbit antara lain Ihwal Menulis dan Menjadi Penulis (2024). 


redaksingewiyak@gmail.com