View AllProses Kreatif

Dakwah

Cerpen

Postingan Terbaru

Jumat, 24 Juni 2022

Cerpen Akhmad Sekhu | Nabi Khidir Singgah di Warteg Barokah

 Cerpen Akhmad Sekhu



Tak biasanya persediaan ikan hari ini cepat sekali habisnya. Hal itu tentu membuat Rastam, juragan warteg, jadi curiga sekali. Padahal ia sudah menambah anggaran lebih untuk membeli kebutuhan stok ikan di dapur. Sebenarnya kecurigaan sang juragan mengerucut pada satu orang. Hanif namanya. Tapi, tentu tak elok mencurigai pekerja di wartegnya itu karena Hanif adalah pilihan Kiai Bahtiar, guru spiritualnya. 


"Turuti saja kemauan Hanif. Meski tingkahnya kadang sering aneh, justru ia sering benar di luar pemikiran kita yang awam," pesan Kiai Bahtiar yang selalu diingat Rastam. Meski dirinya sering dibuat jengkel dengan tingkah aneh Hanif, selang beberapa hari kemudian ucapan Hanif memang sering terbukti.


Rastam juga ingat nasihat Kiai Bahtiar, "Sabar saja, yang penting kau tidak dirugikan karena semua toh yang dilakukan tentu demi kebaikanmu. " 


Menurut Kiai Bahtiar, ia tak menyesatkan. "Ingat, sebagai gurumu, aku tentu tidak akan menyesatkan kamu, tapi justru membimbingmu dari kehidupanmu yang dulunya hanya melirik bisnis oriented, sekarang kamu mulai membuka ladang amal demi bekal untuk dunia yang kekal, " papar sang kiai panjang lebar.


“Kamu menerima Hanif kerja di wartegmu termasuk ladang amal juga,” tegas Kiai Bahtiar, kemudian menerangkan, “Karena Hanif anak yatim piatu yang tentu butuh pertolongan orang seperti kamu yang memang hidup berkecukupan.”


***


Rastam tercenung beberapa saat mengingat pesan-pesan bijak dari Kiai Bahtiar. Memang, menerima Hanif kerja di wartegnya termasuk ladang amal juga. Setelah itu, ia membayangkan awal pertama kali menerima Hanif kerja di wartegnya. Betapa Hanif adalah sosok anak yang pintar, sederhana, dan bersahaja. Ia masih ingat sekali bagaimana Hanif saat awal bekerja tampak begitu amat senangnya bekerja di warteg. Bahkan terlihat begitu sangat bersemangat mengerjakan berbagai pekerjaan, mulai dari mencuci gelas-piring, menyapu, hingga melayani pembeli. Sungguh ia sangat terharu melihat semua itu.


Tapi, Hanif lambat laun mulai memperlihatkan tingkah-tingkah anehnya. Seperti di antaranya, memberi uang pada pengemis yang tampangnya kurang menyakinkan sebagai pengemis dengan pakaian yang masih bagus dan bersih. Sedangkan, pada pengemis yang pakaiannya kotor dan compang-camping, ia tak memberi uang sama-sekali, bahkan mengusirnya pergi.  


“Saya memberi uang pada pengemis yang berpakaian masih bagus dan bersih karena saya tahu kalau ia benar-benar butuh bantuan kita,” kata Hanif penuh percaya diri dengan gaya sok tahunya itu. “Ia menghargai orang dengan berpakaian masih bagus dan bersih dan saya tahu kalau pakaian itu satu-satunya pakaian terbaiknya dan sangat menjaga kebersihan pakaian.”


Sedangkan, lanjut Hanif, ia tak memberi uang sama-sekali, bahkan mengusir pergi pengemis yang pakaiannya kotor dan compang-camping karena katanya ia tahu kalau pengemis itu hanya pura-pura miskin. “Padahal rumah pengemis itu di kampungnya begitu paling besar, terlihat megah dan mewah, dibanding rumah-rumah tetangga di kampungnya,” papar Hanif masih dengan gaya sok tahunya.


Rekan-rekan sesama pekerja warteg tampak takjub mendengar penuturan Hanif yang begitu menyakinkan dan penuh percaya diri, meski tampak dengan gaya sok tahunya.


“Benar itu apa yang diucapkan Mas Hanif,” terdengar salah seorang yang makan di warteg angkat bicara. “Kita memang tidak bisa menilai yang hanya tampak mata saja, tapi juga dengan mata batin yang jernih. Hanya orang tertentu dan punya kemampuan khusus yang bisa melakukan itu.”


“Hahaha, Bapak ini bisa aja,” Hanif tergelak menanggapinya. “Saya hanya orang biasa kok,” ujar Hanif merendah. 


“Mas Hanif hebat!” 


“Ah, saya bukan orang hebat.”


“Mas Hanif ini orangnya suka merendah.”


Rekan-rekan sesama pekerja warteg jadi lebih takjub lagi mendengar penuturan Hanif yang tak mau dianggap hebat itu. Bahkan, kemudian mereka sering minta Hanif cerita berbagai kisah unik dan ajaib yang di mata masyarakat awam aneh. Hal itu tentu membuat semua orang jadi penasaran. 


Tapi ,Hanif selalu punya cara agar dirinya tak harus cerita terus kalau ceritanya nanti kalau warteg sudah tutup karena kalau cerita pada saat warteg buka itu sangat mengganggu kerja. Ia menjunjung tinggi profesionalitas dalam bekerja. Begitu warteg tutup, Hanif bukannya melanjutkan cerita, tapi langsung tidur lebih cepat dari rekan-rekan sesama pekerja warteg. Tapi, saat semua orang terlelap dengan mimpi-mimpi indah, Hanif selalu bangun untuk menegakkan salat di sepertiga malam.


***


Terkait persediaan ikan hari ini cepat sekali habisnya, Rastam masih belum tahu apa sebabnya. Ia tak enak hati kalau kejadian itu harus ditanyakan pada Hanif. Saat warteg tutup, ia memeriksa lauk, di mana lauk-lauk yang habis segera dicatat untuk kemudian dimasukkan ke daftar belanjaan. 


“Ijah, apa benar persediaan ikan hari ini cepat sekali habisnya?” tanya Rastam pada Ijah yang tampak sedang nonton Tiktok di HP-nya. 


“Benar, Gan,” jawab Ijah masih tetap asyik menatap layar HP-nya.


Rastam geleng-geleng kepala, kemudian bergumam, “Kok aneh ya padahal saya sudah menambah anggaran lebih untuk membeli kebutuhan stok ikan di dapur.”


“Iya aneh Gan,” Ijah kembali menjawab dengan masih tetap asyik menatap layar HP-nya. Bahkan diselingi ketawa cekikikan karena tayangan Tiktok memang sering lucu-lucu dan begitu sangat menghibur. 


Rastam tercenung kali ini penuh kebingungan karena hampir semua pekerja warteg selalu membenarkan kalau persediaan ikan hari ini cepat sekali habisnya. Kecuali Hanif yang belum ditanya, tapi tentu seperti biasa begitu warteg tutup, pembantu pilihan Kiai Bahtiar itu langsung tidur. 


Benar juga, saat Rastam menyeret langkah ke lantai atas, tampak Hanif tidur pulas. Tapi, begitu ia akan berbalik pergi, sebuah suara menghentikan langkah. “Juragan ingin tahu perihal persediaan ikan hari ini cepat sekali habisnya?” tanya Hanif seketika bangun dari tidur.


“Maaf, Han, kalau kehadiran aku di lantai atas ini membangunkan tidurmu,” tutur Rastam tersipu-sipu.


“Jangan minta maaf, Gan, karena itu hak Juragan untuk bertanya,” kata Hanif, kemudian menerangkan, “Juragan jangan segan-segan bertanya tentang apa pun pada saya, karena saya bawahan Juragan tentu wajib hukumnya untuk menjawab pertanyaan Juragan, karena saya memang bekerja untuk Juragan.”


“Selama ini, Juragan segan bertanya pada saya karena saya tahu Juragan sangat hormat pada Kiai Bahtiar, “ imbuhnya.


Hanif mengaku kalau perlakuan itu tidak adil. “Saya merasa dibedakan dengan rekan-rekan pekerja warteg lainnya dan itu tidak adil. Mohon kiranya juragan memperlakukan saya sama dengan rekan-rekan pekerja warteg lainnya.”


Adapun, lanjut Hanif, mengenai persediaan ikan hari ini cepat sekali habisnya, ia membuka tabirnya. “Mungkin yang akan saya ceritakan ini terdengar aneh, tapi saya akan cerita sebatas pengetahuan saya yang sangat terbatas.”


Rastam mengangguk-angguk memakluminya.


Hanif menghela napas sejenak, setelah itu menceritakan, “Persediaan ikan hari ini cepat sekali habisnya karena beberapa ikan tiba-tiba hidup dan kemudian berloncatan keluar dari bak persediaan ikan. Rekan-rekan pekerja warteg tidak ada yang tahu. Kebetulan saya mengetahuinya dan itu sebuah isyarat yang saya tangkap, sepertinya Nabi Khidir singgah di Warteg Barokah ini.”


“Subhanallah alhamdulillah...” Rastam takjub menyebut-nyebut.


“Tapi, maaf saya tidak tahu persis kapan Nabi Khidir singgah di Warteg Barokah ini. Pagi, siang, atau malam, entah, saya tidak mengetahuinya, “ tutur Hanif begitu lembut penuh kebijakan. “Juga sosok persisnya Nabi Khidir seperti apa, mohon maaf, saya tidak mengetahuinya. Saya hanya menangkap sebuah isyarat saat beberapa ikan tiba-tiba hidup dan kemudian berloncatan keluar dari bak penampungan ikan, itulah mungkin saatnya Nabi Khidir singgah di Warteg Barokah ini.”


“Subhanallah alhamdulillah...” Rastam kembali menyebut-nyebut.


 “Oh, iya, saya jadi ingat tadi siang saat warteg sepi pembeli, datang seorang lelaki tua yang sekilas seperti seorang pengemis, namun hanya meminta minum. Saya menyuruh Ijah menyerahkan segelas air ke lelaki tua itu. Begitu selesai menegak air, lelaki tua itu mengucap alhamdulillah dan menyerahkan lagi gelas yang masih ada sisa airnya. Si lelaki tua mengucap terima kasih lalu mohon diri. Setelah lelaki tua itu pergi, pembeli begitu banyak berdatangan, saking banyaknya pembeli kita sampai kewalahan melayani. Alhamdulillah....” 


“Subhanallah alhamdulillah...” Rastam menyebut-nyebut terus tiada henti.


Pengadegan, Pancoran, Jakarta Selatan, 2022



_______


Penulis


Akhmad Sekhu, penulis kelahiran Desa Jatibogor, Suradadi, Tegal, 27 Mei 1971. Novelnya: Jejak Gelisah (2005), Chemistry (2018), Pocinta (2021). Kumpulan cerpennya Semangat Orang-Orang Jempolan (siap terbit).



Kirim naskah ke 

redaksingewiyak@gmail.com


Puisi-Puisi Sulaiman Djaya

Puisi Sulaiman Djaya



Tatabahasa 


Ketika hujan menyembunyikan senja 

Ada sepi yang teraduk bersama dedak kopi 

Dalam segelas waktu. Kenanganku 

Yang entah kenapa menolak 


Dihapus dari tatabahasa dan sajakku. 

Asap rokok kretekku mengepul 

Dan lalu hilang seperti maut dan kegaiban 

Yang kelak jadi takdirku. 


Pendar cahaya lampu-lampu 

Dan jalanan basah, seperti saling berkhianat 

Dalam rahasia. Antara ventilasi dan daun-daun 

Yang kedinginan, ricik memang terdengar 


Seperti kesedihan. Juga kegembiraan 

Saling berebut ingatan. Meski tak juga 

Kutemukan kata dan kalimat 

Untuk memberinya sebuah nama. 


(2016) 



Sajak Cinta 


Matamu danau dan aku sunyinya 

Yang terpanggang matahari. 

Ada cahaya juga nelayan 

Cakrawala menjaring hujan 

Dan burung-burung telah mencuri sepi. 


Waktu. 

Apa yang kau pahami tentang waktu, 

Sayangku? Manusia mati 

Dengan cara mereka masing-masing. 

Tapi aku masih tetap menulis puisi. 

Waktu adalah kerianganku 


Dan kegembiraanmu 

memindahkan kata-kata sesuka kita 

Pada kertas-kertas usia. 

Udara mengembara seperti pikiran 

Yang bertamasya ke masa silam.  


Langkah-langkahku mengundi nasib 

Terkadang harus rela terhenti 

Oleh sesuatu yang justru membuatmu 

Tertawa. Aku matahari 

Dan engkau rumput pagihari 

Di pematang masa kecil. 


(2019) 



Kecambah 


Engkau lahir dan tumbuh 

Seperti kata tak boleh ragu 

Untuk jadi suara dan lagu 

Bagiku dan bagimu 


Dari rahim sunyi dan sepi 

Seorang penyair. Misal 

Batang-batang dan ranting 

Adalah amsal diri dan takdir, 


Apakah bumi 

Ataukah langit yang mesti 

Kucintai? Dan puisi 

Masihkah harus ditulis? 


(2019)



Umur Kata


Aku rindu ricik air

Di batu-batu

Masa kanakku. Kapuk randu

Yang terhambur.


Matahari bermain

Dengan unggas

Ibundaku

Dan para serangga


Beterbangan di lalang

Yang hilang.

Aku rindu masa kecil

Ketika belum kukenal


Bahasa yang

Dijadikan senjata

Oleh mereka

Yang menganggap hidup


Sekedar benda-benda

Untuk dibeli

Dengan kertas bergambar.

Aku rindu pagi


Yang bernyanyi

Di ranting-ranting

Yang disentuh matahari

Setelah gerimis


Subuh hari.

Ketika kubaca dunia

Dari kata-kata doa

Yang didaras ibunda.


(2019)



Solilokui 


Masih kujumpai ragam kupu-kupu 

Tidak kunang-kunang 

Saat aku susuri pematang kering 

Dengan beberapa pohon cherri 

Bercabang ramping. 


Sudah lama aku tak berjalan sendiri 

Mencandai sepi 

Mencandai angin 

Menyentuh remah-remah matahari 

Dengan mata dan tanganku. 

 

Musim enggan untuk diramal 

Dan betapa panjang lelah 

Bahkan rumput pohonan jati 

Terhempas cuaca 

Seperti masa kecil 

Yang direnggut lupa. 

 

Mengingatkanku pada sorehari 

Yang kutinggalkan 

Pada kenangan ibuku 

Saat merapihkan batang-batang padi 

Yang diketam 

Dengan rasa letih. 


Debu-debu singgah 

Di jendela dan buku-buku. 

Tapi sudah tak ada kapuk randu 

Yang dulu hablur 

Di antara bunyi arus air 

Dan suara itik 

Akhir Agustus. 


Sudah lama tak kuakrabi 

Dan tak kurenungi 

Kanak-kanak matahari 

Di sela-sela ranting 


Membiarkan hatiku berkelana 

Memahami semesta 

Yang luas terhampar 

Dan yang ada 

Dalam diri. 


(2019)



Semesta Bahasa


Menjelajah semesta, betapa banyak 

yang tak kubaca. Ada kegembiraan yang bisu 

di rumbai tunas-tunas matahari 

serupa aku yang ingin menyentuh 

wajahmu. Mencat sepasang bibirmu. 

Menenun rambutmu dengan senja 

yang tak pernah menua 


sepanjang usia. 

Seperti baris-baris pohon ceri 

dan gugusan jati 

dalam buaian 

kemarau panjang. 


Ada hidup yang mengalir 

bersama arus air. 

Juga betapa mengagumkan 

setiap yang gugur 

bersama siklus. Doa-doa didaraskan 

mereka yang terusir 

dan dinyanyikan dalam sukacita. 


Tapi para penjual agama 

telah mencandu dusta. 

Tentu kau tak tertipu, sayang, 

kepada mereka yang mendaku 

para penyembah Tuhan 

sembari berjualan firman 

demi bursa saham. 


Lebih baik kau dengarkan 

betapa lirih serupa tasbih dalam sunyi 

para pemilik sayap 

menulis kata-kata 

di udara. Para peziarah 

dan pencumbu bunga-bunga 

selalu ikhlas untuk pergi dan datang 

mengurai bahasa. 


(2019)



_______

Penulis


Sulaiman Djaya lahir di Serang, Banten. Menulis esai dan fiksi. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di Tempo, Majalah Sastra Horison, Indo Pos, Media Indonesia, Majalah TRUST, Majalah AND, Majalah Sastra Pusat, Jurnal Sajak,  Tabloid Kaibon, Radar Banten, Kabar Banten, Banten Raya, Tangsel Pos, Majalah Banten Muda, Tabloid Cikal, Tabloid Ruang Rekonstruksi, Harian Siantar, Change Magazine, Banten Pos, dan lain-lain. Buku puisi tunggalnya Mazmur Musim Sunyi diterbitkan oleh Kubah Budaya pada tahun 2013. Esai dan puisinya tergabung dalam beberapa antologi, yakni Memasak Nasi Goreng Tanpa Nasi (Antologi Esai Pemenang Sayembara Kritik Sastra DKJ 2013), Antologi Puisi Indonesia-Malaysia, Tuah Tara No Ate (Antologi Cerpen dan Puisi Temu Sastra IV di Ternate, Maluku Utara Tahun 2011), Sauk Seloko (Bunga Rampai Puisi Pertemuan Penyair Nusantara VI di Jambi Tahun 2012), dan lain-lain. 



Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Kamis, 23 Juni 2022

Esai Bandung Mawardi | Peta: Nusantara dan Dunia

 Oleh Bandung Mawardi




Keluhan terlambat saat orang-orang ingin mengetahui Tiongkok. Adi Negoro dalam buku berjudul Tiongkok: Pusaran Asia (1951) menjelaskan: “Buku peladjaran ilmu bumi dizaman pendjadjahan biasanja dikarang oleh guru-guru Barat jang melihat dunia dengan pendirian jang Eropah-centris, artinja segala-galanja diukur dengan ukuran mereka sendiri, sedang perbandingan-perbandingannjapun diambilnja dari Eropah…” Penjelasan berkaitan sedikit pengetahuan termiliki tentang Tiongkok. 


Adi Negoro mengingat kedatangan orang-orang dari Tiongkok ke Nusantara sejak ratusan tahun lalu. Kedatangan mengubah dan memberi pengaruh dalam peradaban Nusantara. Dugaan dari Adi Negoro: “Bangsa Tionghoa telah semendjak zaman Djengis dan Kublai Khan mengenal Indonesia, mungkin djuga sebelum itu sudah ada orang Tionghoa berdagang dan tinggal menetap di Indonesia.” 


Hal terpenting mesti dipelajari pada masa 1950-an, Tiongkok itu negara besar. Murid-murid di Indonesia diberi pelajaran masih terbatas tapi memastikan Tiongkok adalah negara luas. Pelajaran memerlukan peta. Di Indonesia, peta-peta dari masa kolonial kadang diberlakukan dalam kepentingan-kepentingan politis dan kesejarahan. Adi Negoro telah mengajukan kritik atas muatan-muatan pengetahuan dalam mata pelajaran ilmu bumi. 


Buku susunan Adi Negoro ingin memberi pengertian berbeda. Di sampul buku, para pembaca melihat gambar peta Tiongkok. Di halaman awal, peta pun disajikan dengan keterangan: “Peta Tiongkok menurut kenegaraannja, watas-watas dengan negeri dikelilingnja.” Peta membuat pembaca bisa berpikiran dan berimajinasi jauh. Tiongkok memang pikat.


Pada 1952, terbit buku berjudul Dari Panggung Peristiwa Sedjarah Dunia I susunan HJ van den Berg, H Kroeskamp, dan IP Simandjuntak. Buku pelajaran sejarah di sekolah umum mengenai India, Tiongkok, Jepang, dan Indonesia. Halaman-halaman pelajaran itu memuat peta-peta. Murid-murid masa 1950-an dibuat takjub dengan peta. Di hadapan peta, mereka memikirkan sejarah dan dunia sedang berubah. 


Di halaman 9, peta itu memukau. Keterangan terbaca: “Kira-kira 400 tahun jang lalu, ‘Peta Baru Asia’ dibuat oleh Abraham Ortellius, seorang kartograf (penggambar peta) jang terkenal dari Antwerpen. Buku jang berisi peta itu mempunjai nama Latin. Arti nama itu ialah ‘Panggung Dunia’. Buku itu diterbitkan kira-kira dalam tahun 1575. Ketika itu perkataan ‘atlas’ belum dipakai orang.” Buku pelajaran mulai merangsang murid-murid penasaran peta. Mereka melihat dan membaca peta berarti berikhtiar mengerti dunia. Pada masa berbeda, murid-murid belajar dari buku berisi peta-peta biasa mendapat sebutan “buku atlas”.  


Adi Negoro menggunakan buku-buku garapan sarjana Eropa untuk menulis Tiongkok: Pusaran Asia. Ia tak menggunakan tulisan WP Groeneveldt (1888). Tulisan lama berkaitan buku Adi Negoro, tapi baru diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada 2009. Buku diberi judul Nusantara dalam Catatan Tionghoa. Kita membaca deskripsi berlatar abad VI: “Negara ini sangat membingungkan para ahli geografi Tiongkok. Namanya tidak dijelaskan di catatan lainnya, minimal dengan nama yang sama. Beberapa ahli geografi menempatkannya di Sri Langka dan nama itu bisa menunjuk ke pulau ini… Para ahli geografi Tiongkok lainnya, yang mempelajarinya secara mendalam, menempatkan negara ini di pantai utara Jawa.”


Pada suatu masa, kapal-kapal dari Tiongkok berdatangan ke Sumatra dan Jawa. Mereka singgah di pelbagai tempat. Catatan dari para ahli geografi menjadi petunjuk dan menantang untuk membuat lengkap. Kita berimajinasi peta-peta masa lalu mudah berubah meski dibuat dengan sulit. Peta menjadi acuan berhitung waktu, jarak, dan kondisi. Peta memerlukan nama-nama. 


Kedatangan orang-orang dari jauh menjadikan Nusantara perlahan tergarap dalam peta. Pulau-pulau bernama. Sekian tempat mendapatkan nama dan keterangan. Peta-peta ditatap dalam nalar-imajinasi perdagangan, kekuasaan, agama, dan lain-lain. 


Peta pun mengingatkan Portugis. “Ada banyak peta pulau ini yang digambar oleh orang Portugis,” tulis Antonio Pinto Da Franca dalam buku berjudul Pengaruh Portugis di Indonesia (2000). Pula dikmaksud bernama Sumatra. Pada 1598, dibuat peta Sumatra dengan nama-nama Portugis. Keterangan lain: “Pulau Jawa pun telah digambar oleh para kartografer Portugis pada abad XVI. Dugaan cukup mengejutkan: “Ada yang mengatakan bahwa nama pulau Celebes (Sulawesi) berasal dari bahasa Portugis. Menurut mereka, kartografer Nicholas Desliens dalam suatu peta yang digambarkannya pada 1541, memberikan nama ‘Ponta dos Celebres’ (Tanjung Orang-orang Termasyhur) pada bagian paling utara pulau ini.” Orang-orang Portugis datang ke Nusantara. Mereka berpeta, tak kalah dengan Tiongkok mendahului datang ke Nusantara. Peta terlalu penting untuk kapal-kapal membawa misi-misi besar.


Sejarah dengan peta-peta. Orang-orang berdatangan dari jauh membuat dan membawa peta dengan nama-nama. Bahasa mereka turut berpengaruh dalam arus peradaban. Sejarah tercatat dengan pilihan nama dan gambar-gambar peta mungkin berubah. Nusantara itu memikat selama ratusan tahun mungkin mula-mula dipengaruhi peta. 


“Perjalanan sejarah kartografi tidak sekadar mencerminkan perkembangan pikiran manusia,” tulis Nicholas Carr dalam buku berjudul The Sahllows (2011). Sejarah berpeta menentukan nasib dunia dalam perdagangan, perang, wabah, dakwah, dan lain-lain. Carr melanjutkan: “Peta adalah media yang tidak hanya menyimpan dan memindahkan informasi tapi juga mencerminkan cara melihat dan berpikir.” Ia menjelaskan peta-peta masa lalu saat mengalami hidup dalam situasi berbeda berlatar abad XXI. Peta masih penting. Peta tak lagi lembaran-lembaran digunakan di kapal-kapal atau istana. Teknologi pembuatan dan pembacaan peta telah berubah. Ratusan tahun dunia berpeta memunculkan konklusi: “Peta mengubah bahasa secara tidak langsung dengan melahirkan metafora baru untuk mendeskripsikan fenomena alam.” 


Kini, kita mengingat peta dari abad-abad berbeda tapi mulai meragu kemampuan membaca peta. Kita menganggap peta itu bagian mata pelajaran. Nostalgia bersekolah saja. Di tatapan mata membaca sejarah, kita mulai tergoda lagi mengerti peta-peta terbukti mengubah nasib umat manusia di pelbagai tempat. Peta itu berbahasa. Kita berimajinasi bahwa peta-peta itu penentuan hidup-mati atau menang-kalah. 


Peta pernah dibuat dan dibawa oleh orang-orang Tiongkok, Portugis, Belanda, dan lain-lain mungkin “pembenaran” untuk menghasilkan peta Indonesia terbiasa kita lihat dalam buku pelajaran, lembaran, iklan, logo, dan lain-lain. Peta itu bersejarah panjang, belum tentu kita mengerti dan memiliki penguasaan beragam bahasa untuk membaca perubahan-perubahan. Begitu.


____

Penulis


Bandung Mawardi, Kuncen Bilik Literasi. Penulis buku Silih Berganti (2021), Titik Membara (2021), Tulisan dan Kehormatan (2021), Bersekutu: Film, Majalah, Buku (2021), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020), Terbit dan Telat (2020), Pengisah dan Pengasih (2019).


Kirim naskah ke 

redaksingewiyak@gmail.com

Rabu, 22 Juni 2022

Dibuka Kelas Menulis #Komentar Angkatan ke-11


NGEWIYAK.com, SERANG -- Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa (#Komentar) resmi membuka pengumuman pendaftaran Kelas Menulis Angkatan ke-11, Rabu (22/6). Untuk menjadi peserta kelas menulis ini, syaratnya sangat mudah.


Daftarkan diri kawan-kawan dan unggah karya berupa puisi atau cerpen atau esai/artikel atau novel (potongan/draf), atau coretan apa saja ke pranala/link berikut: 


https://forms.gle/YVonk2wYqSrYVRny5


Komunitas menulis yang didirikan oleh Encep Abdullah pada 9 Juni 2016 ini menjadi tempat bernaung masyarakat Pontang-Tirtayasa dan sekitarnya, khususnya kalangan remaja, dalam menumbuh-kemembangkan potensi, minta, dan bakat literasi baca-tulis. Terbukti, sejak angkatan ke-1 hingga ke-10, #Komentar sudah berhasil mencetak penulis yang mampu bersaing dalam lomba kepenulisan, pemuatan di media massa, dan setiap angkatan punya bukti karya berupa buku, baik buku antologi maupun buku tunggal. 


Anggota Aktif dan Pengurus Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa (#Komentar) rutin bertemu setiap Minggu untuk mengkaji karya peserta angkatan terbaru. Sebulan-dua bulan sekali mengagendakan bedah buku atau diskusi keilmuan dan sering mengundang pembicara dari luar. #Komentar bermarkas di Kp. Pasar Sore/Burak, RT 004 RW 001, Ds. Singarajan, Kec. Pontang, Kab. Serang, Banten (tepatnya di belakang SDN Singarajan/Kelurahan Singarajan).


Berikut alur pendaftaran sampai dengan pertemuan perdana:


1. Pendaftaran (22--30 Juni 2022) 

2. Seleksi Karya (1--2 Juli 2022) 

3. Wawancara (3 Juli 2022) 

4. Pengumuman Peserta Terpilih (7 Juli 2022) 

5. Mulai Pertemuan Kelas (17 Juli 2022) 


Di #Komentar, kawan-kawan bisa mendapatkan fasilitas ini:


1. Bisa pinjam buku sepuasnya.

2. Dibimbing menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan jurnalistik. 

3. Dikasih WiFi dan makanan gratis sampai kenya.

4. Dibina hingga karyanya masuk media dan memenangi lomba kepenulisan baik tingkat lokal maupun nasional.

5. Disediakan teman baru, musuh baru, bahkan jodoh (kalau beruntung).

6. Di akhir kelas, karya peserta angkatan ke-11 dibukukan.

7. Setiap anggota #Komentar diprioritaskan bakal punya buku karya sendiri.


Semua fasilitas ini bisa didapatkan secara GRATIS!


Pengin tahu lebih jelasnya tentang #Komentar, klik SEJARAH #KOMENTAR. Atau pengin punya buku GRATIS karya anggota #Komentar, klik BUKU GRATIS #KOMENTAR.


"Diskusi Buku, Diskusi Karya, Diskusi Ilmu"


Narahubung: 

0895-3232-64416 (Sul Ikhsan)


Kenali #Komentar lebih dekat di

Instagram 

Facebook

YouTube

Blog



(Redaksi)

Selasa, 21 Juni 2022

Proses Kreatif | Kedatangan Inspirasi

 Oleh Encep Abdullah



Sekitar pukul sembilan malam, Mbak Anggun (admin NGEWIYAK) bertandang ke rumah saya, mengantarkan stand mic yang kemarin dipinjamnya untuk kegiatan sekolah. Sambil menunggu Mbak Anggun, dkk. datang itu, sebenarnya saya berniat menyelesaikan sebuah tulisan. Namun, anak-anak saya tak bisa diajak berkompromi. Mata kedua bocah itu masih 100 Watt dan mereka masih mengajak saya bermain. Istri saya sedang ada tugas nyetrika. 


Saya sih pengin merem sebentar sebenarnya atau telanjur tidur juga tidak apa-apa, malah lebih baik. Tapi, istri saya bakal marah kalau saya memang benar-benar sengaja tidur.


"Aku beresin nyetrika dulu. Anak-anak masih pada melek, jangan tidur," ujarnya dari dalam kamar.


Saya tetap pura-pura tidur. Bahkan, saya tahu anak saya yang kedua itu boker. Saya sengaja tidak bangun. Saya lanjutkan akting pura-pura tidur. Saya sedang malas sekali untuk bangun, nyebokin. 


"Hm, pantes, kirain anaknya dibawa ke kamar mandi," ujar istri yang keluar kamar dan nyeret bocah itu ke kamar mandi. Ia melihat saya sedang selonjoran. Saya pura-pura tidak mendengar apa yang ia katakan.


Mbak Anggun dkk. datang, seketika saya langsung bangun.


"Ada Anggun aja melek," ujar istri sambil mengenakan celana anak kedua.


Ya harus melek, masa ada tamu tidur, batin saya.


Mbak Anggun dkk. bertamu kisaran dua puluh menit di rumah saya. Sebelum pulang, Mbak Anggun mencoba membaca pikiran saya. 


"Kami pulang ya, Pak. Pasti Pak Encep mau nulis kolom buat hari ini, kan?" ujar Anggun.


"Kok, tahu?" jawab saya.


"Semoga kedatangan saya ini bisa menginspirasi Bapak. Kami pulang ya, Pak," Mbak Anggun, dkk. pamit.


Sepulang Mbak Anggun, dkk., saya membuka laptop. Sebenarnya saya mau merangkum materi "Menulis Esai" yang saya sampaikan siang tadi di Universitas Bina Bangsa (Uniba)-- undangan sebagai "dosen tamu" atau lebih tepatnya dikerjai Bapak Miftahul Ulum selaku Ketua Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Uniba. 


Materi "Menulis Esai" itu ada di laptop. Saya masih sanksi membuka laptop karena dua anak saya masih melek. Tapi, saya sudah tak tahan. Kalau tidak segera dituliskan, bisa-bisa kalau tidur, saya merem.


Saya paksa saja buka laptop. Anak saya malah mencabut petikus (mouse) dari laptop saya. Ia mainkan layaknya mobil-mobilan. Laptop saya wajib pakai alat itu karena petikus bawaan laptop tidak berfungsi. Anak saya malah membentur-benturkan petikus itu ke tembok. Akhirnya, saya paksa ambil. Ia menangis. Saya colok ke laptop. Petikus itu tidak berfungsi alias rusak. Sebagai manusia biasa, saya pasti kesal, dong. Tapi, mau bagaimana lagi, namanya juga anak-anak.


Saya langsung tutup laptop tanpa menekan tombol "off" karena papan tombol laptop juga ikut galat. Saya masih kepikiran kata-kata Mbak Anggun itu. 


Duh, boro-boro mau nulis, Gun. Energi saya ini sejak kemarin lumayan terkuras karena ngerjain penerbitan buku dan menyiapkan materi pelatihan menulis.


Pukul setengah sepuluh saya keluar rumah, saya mau beli petikus (mouse). Karena sudah cukup malam, saya hanya mencari benda itu di area dekat rumah. Tak ada yang jual. Saya balik lagi ke rumah. Ternyata, kondisi anak-anak sudah "melemah". Walaupun anak kedua saya masih nyerocos "babibu", saya sudah tak mau meladeninya karena saya juga sudah capek ngoceh sejak siang. Biarkan ia usik-usik sendiri, tidur sendiri. Kalau diladeni, malah ia tidak tidur-tidur. 


Saya kepengin buka laptop lagi, tapi percuma. Tidak bisa dioperasikan. Saya memang sudah berniat bahwa materi siang itu yang saya jadikan bahan tulisan kali ini. Sebagai penulis yang saleh, memaksakan diri kepada benda yang tak berdaya macam itu merupakan "dosa besar". Saya lihat HP, sedang pultenk. Baiklah saya menulis di HP saja. Lagian, jarang juga saya menulis di laptop. 


Saya masih terus kepikiran kata-kata Mbak Anggun sebelum pulang dari rumah saya itu. Kata-katanya berubah-ubah dipikiran saya, tapi masih seputar itu.


"Bapak belum nulis ya hari ini? Siapa tahu kedatangan saya ke sini jadi sumber inspirasi."


Kiara, 21 Juni 2022 (Pkl. 23.08)


_______

Penulis


Encep Abdullah, penulis yang maksa bikin kolom ini khusus untuknya ngecaprak. Sebagai Dewan Redaksi NGEWIYAK, ia butuh tempat curhat yang layak, tak cukup hanya bercerita kepada rumput yang bergoyang atau kepada jaring laba-laba di kamar mandinya. Buku kolom proses kreatifnya yang sudah terbit Buku Tanpa Endors dan Kata Pengantar (#Komentar, April 2022). 

Minggu, 19 Juni 2022

Info Menulis Puisi | Program Antologi Puisi Masyarakat Literasi Jember

 



Program Antologi Puisi Masyarakat Literasi Jember untuk memperingati Hari Puisi Indonesia 2022


Syarat dan Ketentuan:

1. Warga Negara Indonesia.

2. Mengirimkan maksimal tiga (3) puisi karya terbaiknya.

3. Tema dan genre puisi bebas.

4. Puisi asli karya sendiri (tidak plagiat), belum pernah dimuat di media apapun.

5. Puisi diketik dalam format microsoft word (bukan pdf) jenis huruf Times New Roman/arial, ukuran font 12, dan satu spasi.

6. Puisi berbahasa Indonesia dengan susunan penulisan: - Nama penulis - Judul (Huruf Kapital) - Isi (maks. 18 baris) - Bionarasi penulis (mak. 100 kata).

7. Batas akhir (deadline) pengiriman puisi tanggal 20 Juli  2022. 

____

Dikirim dalam 1 file ke email: masyarakatliterasi.hpi@gmail.com 

Subjek: hpi2022-nama penulis

____

8. Peserta tidak diwajibkan untuk membeli buku.

9. Puisi yang lolos kurasi akan diterbitkan berbentuk buku cetak dan elektronik.   

10. Hal-hal yang belum jelas dalam info ini, akan diumumkan kemudian.


Sumber: M. Lefand


Jumat, 17 Juni 2022

Puisi-Puisi Eri Setiawan

 Puisi Eri Setiawan 




Hati-hati di Jalan, Puan (1)


Hati-hati di jalan, Puan

Biar nanti kukarang surat untukmu

Ketika musim ini telah berganti baju

Dan aku ingin sedikit berkelakar denganmu 


Sementara, sunyi akan berbuah menjadi anak dan cucu dahulu

Dan aku menjadi gemar menari

Menghitung sejarah yang mudah kuayunkan

tetapi, sukar untuk kutakar 


Hati-hati di jalan, Puan

Biar nanti kukarang senyum untukmu

Ketika halaman musim ini telah dilipat waktu

Dan aku ingin sedikit mengurai senyummu 


Dan pada jalan menuju pintu rumahmu,

Aku akan menanam kenangan

yang kelak daun-daunnya akan menjelma wajahku. 



Hati-hati di Jalan, Puan (2) 


Hati-hati di jalan, Puan

Barangkali perjumpaan akan kembali

Maka, dalam doa-doa yang kusut ini,

Aku ingin menyematkan kerinduanku

pada bulan

yang mungkin kelak akan kaupandang secara tidak sengaja

pada malam yang tenggelam. 



____

Penulis


Eri Setiawan, lahir di Banjarnegara pada 23 Januari 1993.  Buku novel pertamanya berjudul Bujuk Dicinta, Kenangan Pun Tiba. Selain itu, Beberapa karya, seperti cerpen dan puisi, pernah dimuat beberapa kali di media koran, seperti Suara Merdeka, Satelit Post, Radar Banyumas, Riau Post, dan lain-lain. Pun, beberapa karya sastra saya termuat di media online


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Cerpen Suyat Aslah | Kaleng Biskuit

Cerpen Suyat Aslah 



Kukira dia orang gila yang acapkali kudapati mengais-ngais sampah sisa buangan, sambil mencicip tak peduli seberapa busuk dan menjijikannya segunung kotoran. Membiarkan nyamuk-nyamuk mengigitinya hingga gendut. Tak peduli pada hewan malam berbahaya, ular weling misalnya. Tak peduli pada orang-orang yang datang tengah malam hingga pagi menjelang, membawa seabrek sampah sisa dari restoran dan penjual pinggir jalan sekitar tempat penampungan sementara atau TPS di Damar. Bahkan tak peduli pada waktu yang melangkahi pundaknya karena asyik membungkuk menikmati sampah yang datang tiap hari bagai prasmanan yang bisa dipilih sesuka hati, tanpa harus memikirkan uang yang dimiliki. 


Aku masih tergolong baru dalam aksi buang sampah di TPS Damar, sering kali pukul satu atau dua dini hari. Masih belum lama bekerja di sebuah rumah makan dengan jam tutup sampai pukul 12 malam. Sudah pasti banyak sampah yang harus dibuang tiap harinya. 


Hingga sampai suatu kali mendengar cerita seorang teman, bahwa ada orang gila yang biasa mampir ke TPS saat tengah malam, mengais-ngais bahkan tiduran di tumpukan sampah. Namun, terkadang juga ada sesama pembuang sampah yang datang bersamaan, itu sedikit mengurangi rasa takutku.


“Rambut gimbal tak terurus, kulit hitam legam dan juga suka marah-marah tak jelas. Awas hati-hati!” katanya.


TPS itu cukup gelap jika malam hari. Pohon Beringin makin menambah kewingitan suasana tempat itu. Beberapa bak sampah besar teronggok diam. Terkadang ada beberapa pasang mata kucing liar menyala dalam gelap. Sedikit mengejutkanku.


Sementara aku melihat orang gila itu saat hari kelima mendapat giliran membuang sampah, dan akan berganti giliran jika sudah satu minggu. Dia terlihat tak banyak tingkah. Hanya kudengar suara cekikikan sendirian tak jelas darinya. Mengundang hawa yang membuat bulu kuduk merinding saja. Dan satu hal yang tak pernah temanku katakan padaku, tentang kaleng biskuit itu. 


Lalu keesokan harinya, hari keenam, aku membuang sampah. Seperti biasanya kupinjam motor teman karena aku sendiri belum punya motor. Kulihat seseorang duduk di depan pintu masuk TPS sambil merokok, menghadap sebuah kaleng biskuit yang diletakkan di atas kursi. Hingga tiap orang yang masuk pasti melihat kaleng itu. 


Sebelumnya, yang kutahu kaleng itu adalah camilan petugas kebersihan saat bekerja. Tapi sekilas kuperhatikan, itu adalah kaleng yang disediakan untuk para pembuang sampah. Terlihat dari lubang yang dibuat seperti kotak amal dan juga sebatang kayu kecil yang tipis, kemungkinan untuk mendorong uang agar bisa masuk ke dalam kaleng. 


Hampir tak bisa melihat sosoknya dalam kegelapan, ditambah pohon beringin yang menghalangi sinar bulan dan lampu di tiang listrik. Di belakangnya ada sebuah gubuk seadanya, menggunakan tripleks bekas sebagai pagar, juga atap dari sisa seng tak terpakai ditambah juga spanduk yang disampirkan begitu saja. Aku melewatinya begitu saja tanpa menyapa. Bahkan tak berpaling pun ke arahnya meski dia berdeham. Pikiranku seperti telah terkunci pada satu anggapan: mungkin dia orang gila yang lain.


Sepanjang perjalanan aku membatin, “Apa mungkin ada orang gila dengan pola semacam itu, menyediakan kaleng amal? Apa orang gila mengerti uang? Atau mungkin saja dia petugas TPS yang bekerja hingga larut malam?”


Ada rasa menyesal karena bertindak kurang ajar kepada orang tua. Tak bersapa meski dia berdeham karena kehadiranku. Mungkin saja dia ingin memancing suaraku. Sekadar mengambil perhatianku. Atau mungkin ada harapan di hatinya supaya aku menyisihkan sedikit uang ke dalam kaleng. Atau mungkin itu memang aturannya. Pemikiranku terus bermunculan dan bercabang sepanjang perjalanan.


Tiba-tiba kuingat Bapak Tua dengan gerobak sampahnya saat siang hari, menunggu lampu hijau saat akan menyeberang di perempatan jalan raya. Waktu itu aku baru pulang membawa seabrek belanjaan untuk jualan. Terlihat tubuh kurus dengan sepatu Boot yang terlihat membebani tubuhnya. Tatapannya tak lepas selayang pandang pun dari lampu lalu-lintas. Bahkan sudah dengan sikap kuda-kuda meski lampu masih merah. Mungkin menimbang beban yang dibawanya cukup berat, puluhan kilogram bahkan mungkin ratusan. 


Saat hijau menyala dia langsung tancap tenaga. Namun, mula-mula gerobak nyaris tak bergerak meski tenaganya habis-habisan. Hingga lampu berganti merah lagi, baru bisa menyeberang separuh jalan. Lalu klakson berbunyi sahut-sahutan. Bapak itu hanya tersenyum dengan anggukan sambil terburu-buru menarik gerobak. Setidaknya itu yang kulihat kemarin. 


Mungkin dia yang duduk sambil merokok di TPS Damar. Perawakannya tampak mirip dengannya. Otakku makin memusat pada keyakinan itu. Mungkin dia cuma salah satu, yang lain sudah pulang atau entah ke mana, aku tak tahu. Kadang-kadang kulihat juga ada pemulung yang berkeliling di jalanan hingga lewat tengah malam.


Saat masih di perjalanan pulang membuang sampah, kulihat seorang berambut gimbal tak teratur. Raut wajahnya tak peduli pada siapa pun atau apa pun, berjalan tegap dengan tubuh kuyup, hanya memakai celana pendek. Hujan memang baru reda sebelum aku berangkat ke TPS, namun sisa gerimis dan hawa dingin masih menusuki kulit.


Di jalan gelap, pikiranku masih merambah entah ke mana. Kesadaran tak sepenuhnya dalam genggaman, roda sepeda motor mendadak terperosok lubang yang biasa aku hindari. Dengkul dan siku tanganku bundas, karena hanya memakai celana pendek selutut dan kaos pendek. Helm yang tak sepenuhnya terkunci hampir lepas, namun masih bisa melindungi kepala yang terbentur lumayan keras. Hanya kepalaku terasa bergoyang dan pandangan terlihat meremang. Kaki kiriku juga tertindih sepeda motor. Tak ada kendaraan melintas. Aku berusaha untuk bangun sendiri namun tak bisa. Kepalaku makin terasa berputar-putar. Sementara gerimis perlahan mulai jadi hujan.


Tiba-tiba dari arah belakangku, seseorang berusaha membantu, memapahku ke tempat yang lebih teduh. Mendudukkanku di bawah pohon ketapang yang lebat di pinggir jalan. Sementara motor masih tergeletak dan menyala. Pandanganku masih meremang. Orang yang memapahku pergi begitu saja. Mataku berusaha menangkap sosok yang memapahku tanpa mengucap sepatah kata pun. Hanya samar kulihat sosok setengah telanjang, hanya memakai celana pendek, kulit hitam legam dan rambut kuyup juga tak memakai alas kaki. Sosok itu makin menghilang karena hujan makin menebal dan kegelapan seperti memakan tubuhnya.


Kucoba membenarkan posisi dudukku, sementara penglihatan mulai normal. Kulihat sepanjang jalan yang gelap, benar-benar sepi, tak ada seorang pun. Hanya beberapa lampu pinggir jalan yang terlihat redup karena hujan sangat lebat. Dengan terpincang, kuraih sepeda motor yang pecah lampu kiri.


Kusibak tirai hujan yang sangat tebal. Pikirku, hujan seperti ini tak perlu jalan cepat-cepat. Jalanan sangat licin dan pandangan terganggu karena lebatnya hujan. Jika kaca helm kututup, semakin tak bisa melihat. Akhirnya, kubuka saja. Namun, wajah terutama bibirku terasa sakit karena terhantam butiran air hujan. Sementara, luka di lutut cukup mengganggu saat duduk. 


Pada akhirnya aku yang bertanggung jawab atas kerusakan yang diderita motor. Luka itu sedikit mengganggu pekerjaanku. Badan pun terasa meriang karena kehujanan. Makin lengkap sudah deritaku di perantauan. 


***


Malam terlihat cerah saat terakhir kali giliranku membuang sampah. Meski temanku bersedia menggantikanku, melihat kondisiku yang belum pulih benar. Kaki dan bahkan hampir seluruh tubuhku terasa ngilu. Tapi, aku yang memaksa. Ketika sampai di TPS Damar, tak kulihat siapa pun. Hanya sisa asap yang mengepul dari bara yang terlihat kemerahan dalam kegelapan. Sampah yang kemarin menggunung, kini hanya tinggal sedikit. 


Kusapu pandang ke arah kegelapan bersemayam. Hanya keheningan yang ada. Kulihat gubuk itu diterangi lampu 5 watt yang menyala. Hanya terlihat jelas sejulur kaki orang tidur di sebuah dipan dalam gubuk itu. 


Mungkin dia lelah bekerja seharian, batinku. 


Aku sedikit lebih tenang. Kulangkahkan kaki pelan-pelan sambil menenteng sampah yang akan kubuang. Lalu kulempar sampah seberat sekitar 5 kg lebih ke dalam bak sampah yang lebih tinggi dari kepalaku. Secara mendadak orang gila itu keluar dari bak sampah, hingga membangunkan syaraf kejutku. Jantungku berdebar memburu. Dalam referensiku, orang semacam itu bisa saja melakukan hal di luar kebiasaan orang. Untungnya dia hanya melongok ke arahku. Segera aku berbalik arah menuju kaleng biskuit itu. Kurogoh saku celana, ada uang recehan logam sekitar tiga ribu. Kumasukkan koin pertama. Terdengar kelontang tanda kekosongan yang ada.


_____________

Penulis

Suyat Aslah, cerpenis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Rabu, 15 Juni 2022

Berita | Mengenal Teknik Penulisan Cerita Anak Bareng Tias Tatanka

 


NGEWIYAK.com, KOTA CILEGON -- Penulis Tias Tatanka memandu 40 pegiat literasi di Kota Cilegon untuk menulis cerita anak. Perempuan yang produktif menulis cerita anak ini berbagi kiat jitu menulis cerita anak. 


"Jangan malu untuk bertanya pada anak-anak tentang karya yang kita tulis. Bila anak masih belum mengerti, berarti masih ada yang kurang pada cerita kita," ujar Tias. 


Selain itu, Tias juga menekankan pentingnya riset pada cerita anak. "Riset di sini dalam arti kita mengamati tingkah laku anak-anak. Jangan sampai cerita anak dibuat dalam sudut pandang orang tua," tambah Tias.


Teknik-teknik menulis pun banyak dijabarkan oleh istri novelis Gol A Gong ini. 


"Ada premis dalam menulis cerita anak, apa yang menjadi keinginan anak, apa yang menjadi penghalang, dan bagaimana tokoh menemukan solusinya," tutur Tias. 




Peserta pun antusias dengan paparan Tias. Tak kurang beberapa pertanyaan pun meluncur dari peserta. Mulai dari teknik penulisan cerita anak hingga dunia penerbitan buku. Praktik penulisan cerita anak yang diadakan tanggal 15 Juni 2022 ini merupakan bagian kegiatan Pembinaan Komunitas Penggerak Literasi: Pemberdayaan Komunitas dalam Menulis Cerita Anak Berbahasa Daerah di Kota Cilegon yang diadakan oleh Kantor Bahasa Provinsi Banten di Hotel Gondang Cilegon. 


Selain Tias Tatanka, narasumber kegiatan ini adalah Achi TM dan M. Rois Rinaldi. Para peserta diharapkan dapat menghasilkan papan cerita (story board) cerita anak berbahasa daerah.





(Redaksi)