View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Latest News

Monday, June 1, 2026

Karya Siswa | Langkah Haru di Bulan Juni | Cerpen Resti

Cerpen Resti


Segalanya bermula dari seorang gadis belia yang tumbuh di antara reruntuhan harapan. Dunia menempanya terlalu dini; memaksanya menelan getir sebelum sempat mengecap manis kehidupan. Namanya Chyla, seorang remaja yang terbiasa berjalan di atas pecahan luka demi mempertahankan kehormatan keluarganya yang kerap dijadikan permainan oleh manusia-manusia berhati jelaga.


Mereka adalah para perapal dusta yang gemar menjadikan keluarganya boneka tanpa nyawa. Seenaknya menusukkan hinaan tanpa pernah peduli seberapa dalam robekan yang tertinggal. Tatapan merendahkan telah menjadi santapan hariannya. Lebih menyakitkan lagi ketika racun itu justru menetes dari bibir orang-orang yang memiliki darah serupa dengannya.


Pada suatu pagi yang pucat, Chyla terjaga oleh seberkas cahaya yang menyelinap melalui celah jendela reyot kamarnya. Cahaya itu jatuh tepat di wajahnya, seolah langit sedang mengirimkan jawaban atas doa-doa panjang yang selama ini ia sematkan di setiap sujud malam.


Dalam diam, Chyla bertanya kepada semesta, mungkinkah Tuhan baru saja mengirim seorang malaikat untuk menuntunnya keluar dari lorong kelam ini? Namun, pikirannya tak sempat lama mengembara. Ada satu hal yang terus memburu dadanya: membawa keluarganya pergi sejauh mungkin dari para penyihir kehidupan yang menjadikan kemiskinan sebagai bahan tertawaan. Mimpinya melesat jauh ke angkasa.


Bertengger di sisi gugusan bintang yang tak pernah letih menjaga malam. Akan tetapi, Chyla tidak ingin menjadi bintang. Ia ingin menjadi bulan, tetap bercahaya meski dikelilingi gelap paling pekat. Sebab baginya, bulan tidak pernah meminta langit untuk berhenti malam demi tetap bersinar.


Dan siapa yang mampu meredupkan bulan? Bahkan bintang-bintang pun tak pernah benar-benar mampu mengalahkan cahayanya.


“Itulah aku nanti,” bisiknya lirih pada pantulan cermin tua yang mulai keropos dimakan usia.


Baginya, rumah tetaplah tempat paling teduh di muka bumi selama ibunya masih berada di dalamnya. Tidak penting seberapa rapuh dindingnya atau seberapa hina mata manusia memandangnya. Sebab, di tempat itulah mimpinya tumbuh, mengepakkan sayap di atas lembaran-lembaran kertas lusuh yang selalu ia tulisi dengan harapan.


Malam menjadi waktu paling kejam bagi pikirannya. Di saat dunia terlelap, ribuan pertanyaan datang mengetuk kepalanya tanpa ampun. Tentang masa depan. Tentang ibunya. Tentang dirinya sendiri yang merasa hanya akan menjadi batu tambahan di pundak perempuan paling berjasa dalam hidupnya itu.


Ibunya tidak pernah menganggapnya beban. Namun, Chyla pada masa itu memandang dirinya berbeda. Ia merasa keberadaannya hanyalah penghabis tenaga dan air mata. Sampai akhirnya hujan di bulan Juni membawa langkahnya pergi. Bukan untuk menjadi buruh nasib, melainkan kembali menjadi seorang pelajar, seorang gadis penuh ambisi yang memikul mimpi setinggi langit, meski diam-diam masih takut pada gelap yang mungkin menelannya kapan saja.


Malam keberangkatan itu terasa dingin hingga menusuk tulang. Angin menampar lembut wajahnya yang sedari tadi diam memandangi jalanan dari balik kaca mobil yang terbuka sedikit. Perlahan, kota kelahirannya tertinggal di belakang. Pedih sekali rasanya. Hatinya ingin menetap, tetapi takdir justru menarik langkahnya pergi jauh meninggalkan rumah. Dan manusia mana yang rela berpisah dari orang yang paling dicintainya?


Kenangan di sepanjang jalan berputar di kepalanya seperti lagu lama yang enggan berhenti diputar semesta. Ia yakin, ibunya pun sama hancurnya. Begitulah hidup bekerja, ketika kecil manusia sibuk ingin segera dewasa, tetapi setelah dewasa justru masa kecil menjadi tempat pulang yang paling dirindukan.


Chyla menatap wajah lelah ibunya dalam remang cahaya kendaraan. Di sanalah alasannya berada. Tak ada paksaan. Semua ini adalah pilihannya sendiri. Biarlah orang-orang menertawakan langkahnya. Sebab, jika suatu hari ia berhasil, tak satu pun dari mereka akan ikut menikmati hasil perjuangannya. Kalimat ibunya selalu tinggal di kepalanya:


“Biarkan manusia berbicara sesuka hati. Selama kita tidak merugikan siapa pun, hidup akan tetap berjalan.”


Tepat pukul 20.49, kendaraan itu berhenti di hadapan sebuah gerbang besar berwarna keemasan. Orang-orang menyebutnya gerbang kematian. Megah. Sunyi. Menegangkan. Chyla menelan ludah saat memasuki bangunan bertingkat itu. Di dalamnya, ia hanya melihat wajah-wajah asing yang sibuk tenggelam dalam layar gawai masing-masing. Katanya, mereka adalah calon pembimbing dan guru bagi para penghuni baru tempat itu.


Salah seorang lelaki menghampiri mereka. Usianya mungkin sekitar dua puluh lima tahun. Pembawaannya teduh seperti langit selepas hujan. Sorot matanya hangat dan tutur katanya begitu santun hingga berhasil menenangkan hati ibunya.


“Selamat beristirahat, Bu. Jika belum mengantuk, boleh bergabung menonton di lantai bawah.”


Chyla nyaris tidak mampu mencerna percakapan itu. Pikirannya telah melayang jauh membayangkan bagaimana rasanya hidup tanpa ibu di sisinya. Dan benar saja. Hari-hari pertama terasa seperti neraka kecil yang dipenuhi sesak dan air mata.


Tangisan menjadi pemandangan biasa di tempat itu. Ada yang menangis diam-diam saat malam, ada yang meraung meminta pulang ketika pagi, bahkan ada yang memilih keluar masuk ruang kesehatan karena tak sanggup menanggung rindunya sendiri.


Namun, Chyla tidak pernah benar-benar berpikir untuk menyerah. Menurutnya, hanya orang paling bodoh yang menyia-nyiakan kesempatan berharga seperti ini. Meski begitu, ia tetaplah gadis seusianya, rapuh dan belum pandai mengendalikan badai di dalam kepala. Ia kerap merasa dirinya hanyalah seekor berudu kecil di tengah katak-katak yang telah pandai melompat jauh.


Saat apel pagi berlangsung, matanya sering diam-diam menatap bulan yang perlahan tenggelam bersama datangnya fajar. Bukan karena ia mengagumi bulan, melainkan karena ia sedang berjuang menahan air mata agar tidak jatuh ke bumi. Ia takut kesedihannya membuat rerumputan ikut layu.


Orang-orang mengenalnya sebagai gadis ceria. Padahal, keceriaan itu bukan sesuatu yang sengaja ia ciptakan. Itu hanyalah topeng agar tak seorang pun tahu betapa kacau isi kepalanya. Ia mencoba keluar dari cangkang, membuka diri pada banyak manusia. Namun, justru di situlah petaka kecil datang menghampirinya.


Seseorang yang ia anggap tempat pulang ternyata hanya singgah untuk mengetahui titik lemahnya. Pengakuan yang seharusnya tak pernah terucap justru menjadi jarak di antara mereka. Dan sejak hari itu, perempuan yang dulu ia kagumi perlahan berubah menjadi sosok asing yang menakutkan.


Barangkali beginilah cara Tuhan membuka mata manusia. Ia tidak pernah datang sambil berkata bahwa seseorang itu buruk. Ia hanya memperlihatkan wajah aslinya sedikit demi sedikit sampai akhirnya kenyataan sendiri yang berbicara.


Waktu berjalan. Asrama tetap sama, dindingnya, lorongnya, aroma pagi, dan dinginnya malam. Yang berubah hanyalah cara pandang Chyla terhadap hidup.


Kini ia mulai berdamai dengan takdir. Pada tempat yang dulu terasa seperti penjara, perlahan ia menemukan dirinya sendiri. Harapan yang sempat mati kini tumbuh kembali seperti bunga liar setelah hujan panjang.


Dan akhirnya Chyla mengerti, barangkali musuh paling menakutkan selama ini bukanlah manusia lain. Melainkan pikiran-pikiran gelap yang terus memburunya di tengah sunyi.


______

Penulis

Resti, siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 34 Lebak, Banten.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Karya Siswa | Perpisahan | Cerpen Kayla Herbiyani

Cerpen Kayla Herbiyani



“Vin, kamu serius mau meninggalkan kota ini?” tanya Naraya.


Naraya adalah sahabat dekat Vino. Mereka bersahabat sejak kecil. Nama lengkap Naraya adalah Naraya Alaska Baskara, sedangkan Vino bernama Narendra Vino Alex Saputra.


“Iya, Nay. Aku harus ikut ayah dan ibuku,” kata Vino.


“Berapa lama, Vin? Kamu akan ke sini lagi, kan? Aku akan jadi sahabatmu selamanya, kan, Vin?” rentetan pertanyaan keluar dari mulut Naraya.


“Enggak tahu, Nay. Ayah sama ibu enggak ngasih tahu aku. Iya, Nay, kamu akan jadi sahabatku selamanya,” ucap Vino sambil menatap Naraya yang sedang menangis.


Lalu Vino berdiri dan berkata, “Aku harus pergi sekarang, Nay. Jaga kesehatan kamu, ya. Tunggu aku pulang ke sini lagi.”


Naraya hanya menundukkan kepalanya.


***

Pukul 00.00 menunjukkan pergantian tahun telah dimulai. Ketika orang lain sedang merayakan malam tahun baru dengan cara membakar makanan dan berkumpul bersama keluarga, berbeda dengan Naraya. Ia sedang menangis di kamarnya karena merindukan sahabatnya, Vino.


“Vin, kamu kapan ke sini lagi? Aku kangen sama kamu, Vin,” kata Naraya.


Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Suara itu mengagetkan Naraya yang sedang melamun.


“Tuk... tuk... tuk...”


Naraya pun beranjak dari kasurnya dan berjalan menuju pintu kamarnya. Lalu ia membuka pintu dan terkejut saat melihat seorang lelaki tinggi dan tampan. Bukan ayahnya, bukan adiknya, melainkan sosok yang sangat ia kenali, yaitu Narendra Vino Alex Saputra, sahabat dekatnya.


“Vino!” teriak Naraya sambil berlari ke arahnya. “Aku kangen banget sama kamu, Vin!”


“Iya, Nay. Aku juga kangen banget sama kamu,” ucap Vino sambil memeluk Naraya.


Setelah itu, mereka berdua menangis melepaskan rindu yang sudah sekian lama mereka pendam. Keluarga Naraya menyaksikan betapa berharganya Vino di mata Naraya hingga mereka menganggap Vino sebagai anak mereka sendiri.


“Nay, ikut aku dulu sebentar,” kata Vino.


“Mau ke mana, Vin?” tanya Naraya yang kebingungan dengan sikap Vino.


“Bentar.”


Vino berhenti sejenak, lalu menutup mata Naraya dengan sehelai kain yang sudah ia siapkan. Entah apa yang ingin ia lakukan.


“Kenapa, Vin? Kok mata aku ditutup sih?” Naraya semakin bingung.


“Enggak apa-apa, Nay. Nah, sudah. Yuk lanjut jalan, bentar lagi sampai,” ucap Vino.


“Aku mau dibawa ke mana sebenarnya, Vin? Jangan buat aku penasaran.”


“Nanti juga kamu tahu, Nay,” jawab Vino.


Akhirnya, Vino dan Naraya sampai di tempat tujuan. Di sana sudah ada ayah, ibu, kakak, dan adik Naraya. Vino pun membuka kain yang menutupi mata Naraya.


“Tadaa... Happy Birthday, Naraya Alaska Baskara! Semoga kamu sehat selalu, bahagia selalu, dan semoga kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan. Doa terbaik untukmu, Nay,” ucap Vino bersama keluarga Naraya.


Naraya pun terharu dengan kejutan yang telah dibuat oleh keluarganya dan sahabatnya.


“Makasih, Ayah, Ibu, Kakak, Adik, dan juga Vino,” ucap Naraya sambil mengusap air matanya.


“Iya, Nay. Sama-sama,” jawab Vino.


Keesokan harinya, Vino mendapat kabar bahwa ayahnya jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit Asan Medical Center. Vino pun pergi bersama keluarga Naraya ke rumah sakit tempat ayahnya dirawat.


Namun sayangnya, Vino tidak sempat melihat ayahnya untuk terakhir kali. Ia sangat terpukul dengan kenyataan itu.


Setelah pemakaman selesai dan para warga satu per satu meninggalkan lokasi, yang tersisa hanya Vino dan keluarga Naraya.


Naraya berusaha menenangkan Vino dan mengajaknya pulang karena cuaca sudah mulai gelap. Sesampainya di rumah Vino, mereka melihat bahwa Vino kini tinggal sendirian. Akhirnya, Naraya dan keluarganya berencana menginap di rumah Vino sampai ia benar-benar mengikhlaskan kepergian ayahnya.


Sejak kepergian ayahnya, Vino menjadi suka menyendiri dan tidak pernah tertawa lagi seperti dulu. Naraya yang menyadari perubahan sikap sahabatnya langsung mencari cara untuk membuat Vino kembali ceria dengan menceritakan hal-hal lucu.


“Aku tahu kamu sedih ditinggal Om Niko, tapi kamu jangan berlarut-larut dalam kesedihan itu, Vin. Ini bukan Vino yang aku kenal dulu,” kata Naraya yang berusaha menguatkan hati Vino.


Om Niko adalah ayah Vino.


Akhirnya, Vino menyadari bahwa ia tidak boleh terus terjebak dalam kesedihan tanpa akhir. Ia kembali ceria seperti dulu dan mulai membuka diri lagi.


Pagi harinya, Vino kembali masuk kampus, begitu juga dengan Naraya. Kampus mereka berbeda. Naraya berkuliah di Fakultas Kedokteran, sedangkan Vino berkuliah di Akademi TNI.


Keduanya lulus dengan nilai terbaik dan berhasil meraih cita-cita mereka.


“Vin, besok boleh ketemu sebentar? Ada yang mau aku omongin sama kamu,” kata Naraya melalui telepon.


“Boleh kok, Nay. Nanti kamu kirim lokasi saja tempatnya,” jawab Vino.


Keesokan harinya, Vino berangkat ke tempat yang telah dikirimkan Naraya. Sesampainya di sana, ia melihat Naraya sedang duduk di tepi danau.


“Maaf, Nay. Aku telat,” kata Vino.


“Iya, enggak apa-apa, Vin,” jawab Naraya.


Vino lalu duduk di sebelah Naraya. Ia kebingungan karena Naraya sejak tadi hanya diam.


Naraya kemudian mulai bercerita tentang masalah yang selama ini ia hadapi. Vino terkejut dengan apa yang dialami sahabatnya. Ternyata di balik keceriaannya, Naraya menyimpan begitu banyak beban yang bahkan sulit dibayangkan oleh Vino.


Vino tidak marah, tetapi ia sedikit kecewa karena Naraya belum sepenuhnya terbuka kepadanya. Namun, Vino mengerti bahwa setiap orang berhak menyimpan sebagian hal tentang dirinya sendiri. Ia memahami bahwa Naraya juga membutuhkan privasi.


Setelah Naraya menceritakan semua keluh kesahnya, tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat dan hari mulai gelap.


“Nay, sebaiknya kita pulang dulu. Hari sudah mulai gelap. Takutnya mamah kamu mencari,” kata Vino.


“Baiklah, Vin. Aku juga sudah lelah,” jawab Naraya.


Sesampainya di rumah, mereka disambut oleh ibu Naraya yang sudah menunggu di teras. Naraya masuk lebih dahulu, sedangkan Vino diajak berbicara oleh ibunya.


Vino mendapat beberapa pertanyaan yang cukup mengejutkan.


Setelah kejadian itu, Vino tidak pernah berkomunikasi lagi dengan Naraya. Namun, ia tetap mendapatkan kabar tentang Naraya melalui kakaknya. Vino harus bertugas di luar provinsi sehingga ia dan Naraya harus berpisah lagi.


Naraya yang tidak mengetahui bahwa Vino bertugas di luar provinsi kembali merasakan kesedihan yang pernah ia alami dulu.


Suatu hari, saat Naraya sedang bertugas di salah satu rumah sakit di luar provinsi, ia tidak menyangka bahwa tempat kerjanya adalah tempat Vino bekerja sekarang.


Mereka dipertemukan kembali dan bertugas di tempat yang sama.


Setelah kembali dari tempat kerjanya, Vino memutuskan untuk melamar Naraya ke rumahnya. Sesampainya di sana, Vino memberanikan diri meminta Naraya menjadi istrinya.


Akhirnya, Vino mendapatkan restu dari kedua orang tua Naraya.


Tanggal pernikahan pun ditetapkan, dan hari yang telah lama ditunggu-tunggu oleh Vino dan Naraya akhirnya tiba.


Mereka pun hidup penuh kebahagiaan dan keharmonisan.


______

Penulis

Kayla Herbiyani, siswa kelas X-3 Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 34 Lebak, Banten.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Sunday, May 31, 2026

Cerpen Andria Septy | Tato Geg

Cerpen Andria Septy

 

 

Pada hari suci Saraswati tahun lalu, perempuan itu bertekad meningkatkan kemampuan berbahasa asing. Sependek ingatannya, ia paling benci mata pelajaran Bahasa Inggris. Seorang pemuda mengenalnya, sewaktu mengenyam pendidikan menengah pertama di Desa K. Bahkan, ia akui keahliannya dalam menyontek yang dipersiapkan semalam suntuk. Ia bangga dengan masa muda yang mendebarkan ketika mulai mendeteksi kata-kata busuk dari orang-orang busuk. Kenakalan remaja paling berani yang dilakukannya; merajah lengan mulus nan ranum ketika libur semesteran. Betul. Ia berpura-pura menjadi anak kuliahan. Kala itu, tidak begitu ketat pengawalan dalam dunia pertatoan. Telah terwakilkan dengan tinggi dan wajahnya yang amat matang. Mulanya, perempuan itu bertato demi sok gaul, tanpa benar-benar tahu makna. Perempuan Bali kelahiran Kalimantan itu kerap disapa Metha.

      

Beberapa kawan meledek dan merecoki pikiran Metha. Ia menjawab dengan tanpa bersikap dongkol, kenapa mesti cari makna? Toh, tato ini sebenarnya untuk meningkatkan rasa percaya diriku. Beberapa kawan cowoknya tak sanggup berkata apa.

 

Semuanya serba pertama, ketika Metha jatuh cinta dengan tato dan (kelak) menjadi amor (anak motor). Termasuk pengenalannya pada dunia maya yang fana. Dunia ketika ia getol menjadi sesosok berkepala batu. Lingkungan sekitar Maya membentuk tabiatnya menjadi liar.

 

Di hari ulang tahunnya, perempuan itu menambah tato serigala pada lengan kiri atas. Pemuda itu tahu betul, tato Casper di lengan kanan telah menemani masa-masa remaja. Ide soal tato serigala muncul, lantaran hewan itu dipercaya membawa keberuntungan. Ia berkontemplasi, ingin berhasil dalam perkuliahan, pekerjaan dan berpenghidupan. Itulah hari terakhir, ia menjadi agak filosofis. Lantas beralih identitas menjadi amor (anak motor-red).

 

***

      

Ini kejujuran hati si pemuda Desa K.

 

Si amor Metha kerap membuatnya gelisah dengan foto-foto diri bak supermodel. Si pemuda betah berjam-jam demi memantau Metha pamer paha, bahu mulus dan bibir merah jambu. Ia rajin mengunggah foto di Story Instagram per dua jam. Si pemuda merasakan perubahan dalam hidup gara-gara kecanduan dengan Meta dan Metha. Pertanyaan demi pertanyaan berdansa riang di kepala pemuda itu. Mengapa ia tak mencoba berkenalan ulang? Terkait respons dan segala macam urusan belakang. Hal terpenting keberanian, tukasnya dalam hati.

 

Si pemuda itu pun dilanda kecemasan menahun. Ia menyempatkan diri ke puncak bukit belakang rumah sepulang dari seremonial foto keluarga. Ia memperoleh gelar "Sarjana Pendidikan" dan wisuda siang tadi. Biasanya, ia bermenung di bukit kunang-kunang itu sambil membawa tumblr berisi kopi. Desir alamiah yang dinanti; sepoi angin menyapa ilalang. Gigitan nyamuk membuatnya tersadar, ia seperti pungguk merindukan bulan. Namun, lembayung senja membikin kecemasan pudar. Seharusnya, ia berkarya bikin konten yang tadinya sebagai pekerjaan sampingan.

 

Ah, otaknya buntusebuntu-buntunya. Ia gundah akan ketiadaan ide meracik karya mutakhir dan pikirannya tertuju selalu ke Si Geg.

 

Batu kerikil dan partikel debu membersamai si pemuda sewaktu bekerja paruh waktu sebagai pengemudi perjalanan. Ia mesti setangguh Si Geg yang tidak dapat berbahasa Bali itu. Ia terpana ketika Si Geg berucap gamblang di sosial media, duit-lah agamanya sekarang. Perempuan itu berangkat ke kota demi sesuap nasi. Tahu-tahu, menjadi pemaki tulen. Curhatan Metha di sosial media itu dicatat oleh si pemuda.

 

***

 

Hari ini, pemuda itu bertandang ke usaha lampau di pusat keramaian. Lebih tepatnya, menyengajakan diri melamar pekerjaan di kafe bekas milik Ayah Geg. Di sisi lain, semacam perasaan heroik teruntuk kata-kata pengangguran yang bakal hilang segera. Barista semacam cita-cita masa kecil yang semenyenangkan roti gandum dan teh manis hangat pagi hari. Setibanya di skena kafe ia mendadak loyo. Perempuan fotogenik itu terlihat sedang asyik bercakap mesra dengan sosok berkumis tipis. Si kemayu bersandar di lengan lelaki itu sewaktu di depan elevator. Sang pemuda tercekat seraya membatin, optimis saja, barangkali menemui pemilik kafe di lantai atas. Sungguh. Wangi lembut parfumnya itu, membuat kami para cowok menjadi kepayang. Ia tahu betul. Metha dikenal sebagai sosok bergaya elite, di tengah ekonomi sulit.

 

Tersiar kabar, ia siap disewa menemani pria-pria kesepian. Perempuan yang fasih berbahasa Banjar itu tak pernah menampik. Ia mengikuti saja arah kehidupan membawanya. Hingga berbulan-bulan, si pemuda mencari celah bertemu. Tetapi belum ada perubahan signifikan karena Metha sok ‘pura-pura tak kenal’. Pemuda itu Metha anggap hanya ‘Maya’.

 

Sependek ingatannya, Metha sejak dulu lumayan berkepribadian keras. Terutama soal suara-suara perempuan yang diacuhtakacuhkan. Metha berang bukan main, ketika pendapat para perempuan, apa pun latar belakangnya, disepelekan bahkan tak dianggap.

 

“Ah, perempuan itu cuma pemanis. Sudah jelas dari gestur tubuhnya, simpanan pejabat.”

 

Kala itu, kepalanya seperti akan meledak. Hidungnya kembang kempis ingin segera menimpali. Namun sangking kesalnya, ia hanya menangis. Si Geg berusaha santai di kafe terselubung yang menjual miras. Lagu Mirasantika-Rhoma Irama mengalun deras. Sederas cinta Geg pada kariernya yang penuh ketidakpastian.

 

***

 

Si pemuda memperoleh pekerjaan sebagai asisten barista. Gaji pertama telah ia belikan gaun merah jambu untuk Metha. Ia bermaksud mengirim gaun itu, ke kafe tempat Geg menjadi pramusaji. Sedihnya, si hitam manis itu dimutasi menjadi kasir. Tepatnya, kasir salah satu kafe rekanan dari kafe tempat si pemuda bekerja. Konon, si perempuan rantau ini membikin seorang pelanggan keracunan makanan. Bahkan, berhembus kabar, ia sudah menjadi isteri kedua pejabat birokrat. Jadi, semacam harus dalam pengawasan intensif. Kafe yang serupa restoran bintang lima itulah tempat cuci uang.

 

Kurang dari sepuluh menit, jam menunjukkan pukul tujuh belas. Jam di mana biasanya Metha berada di belakang meja kasir. Selama tiga bulan ini, si pemuda sudah cukup punya informasi terkait manungsa itu. Manungsa cantik yang pembawaannya elegan. Pengikut sosial media menjuluki ia Angsa Cantik. Seharusnya seekor angsa yang ia jadikan tato, bukan serigala atau Casper. Metha gemar mengenakan pakaian-pakaian minimalis. Si pemuda pastikan, perasaan yang ia miliki bukan semata instan. Apalagi berahi. Ia tahu sejak lama, Metha bekerja sebagai pemandu hiburan malam. Tadinya, Si Geg sosok yang polos dan lempeng. Bahkan si pemuda mengikuti tulisan-tulisannya terkait soal ekologis. Bagi Metha; sungai, laut, hutan, sawah dan gunung diibaratkan sesosok perempuan. Lelaki mana yang bisa hidup tanpa wanita? Bahkan jikalau terasing dan diasingkan, perempuan masih bisa bertahan. Namun, keberadaan perempuan terlampau diperlakukan tak semestinya. Tulis Metha dalam blog yang si pemuda ingat betul. Kata-kata itu beririsan dengan ucapan neneknya dulu sewaktu kecil.

 

Semasa kecil, si pemuda memimpikan diri menjadi seperti Don Quixote, atau Pangeran Cilik yang terasing di planet. Semua impiannya dirayapi seribu satu pertanyaan. ‘Kau ini apa’ bertebaran di ranting pohon bunga Jakaranda dan Tabebuya.

 

Si pemuda tak punya senjata apa-apa, selain keahlian menyeduh kopi dan menyetir mobil. Seduhannya pun termasuk kategori junior di kancah dunia perbaristaan. Sejak lulus sekolah, si pemuda mencari tahu, apa gerangan kekhawatiran dan kegemaran perempuan itu. Ia suka foto, kopi dan kafe. Ia benci belajar tata bahasa. Suka jatuh cinta sama orang yang membuat kopi enak. Pria idaman Metha, maksimal seperti Mikael Jasin, atau minimal kayak Ayahnya yang militan.

 

Makanya, pemuda itu nyemplung sebagai barista karena ingin menaklukkan Metha.

 

Perempuan pecinta rupiah dan dolar itu bersimbah darah di bawah pohon Tabebuya. Iblis mana yang melakukan ini! Si Geg terakhir kali terlihat bersama si pria berkumis tipis. Si pemuda yakin betul, si rakus gembul itulah pembunuhnya! Tinta di atas kertas itu masih basah dan bercampur darah segar. Semua kertas-kertas bertuliskan bahasa Prancis. Identitas barunya terkuak lewat kertas surat, yang barangkali seribu lembar. Si pemuda menyusunnya satu persatu dan ia kumpul dalam stopmap plastik. Betapa pohon itu pohon yang kami rawat bersama sosok yang ia yakini sebagai kembaran Metha. Ada nama si pemuda tertera di pohon yang penuh bercak darah. Bahkan masih sedikit basah disamping bau anyir yang menyerebak.

 

Asisten barista itu tak paham mengapa semacam diarahkan ke tempat kejadian perkara. Ia yakin perempuan ini hanya doppelganger Metha. Simpel. Mayat itu tak bertato Casper. Si pemuda gagal paham, mengapa semua mata elang mereka tertuju padanya. Mereka tak percaya kata-katanya satu pun. Ah, kesaksiannya hanya dianggap angin lalu. Padahal, si pemuda mengantongi beberapa bukti yang mengarah ke manusia bau tanah, suami siri sendiri.

 

Gn. Kelua, April 2026

  

______

 

Penulis

 

Andria Septy, lahir di Samarinda, Kalimantan Timur. Ia adalah satu dari 7 Emerging Writers di Makassar International Writers Festival tahun 2022. Pada tahun 2024, residensi dan pameran ‘Youth of Today’ Jogja Fotografis Festival di Yogyakarta. Ia penulis puisi, novel dan tutor. Menerbitkan novel Calista’s Conflict (Stiletto Indie Book, 2016). Buku kumpulan puisinya Tata Laras Gema Rima (Basabasi, 2025).

 

Instagram: @senoritaandriasepty_

Facebook: Andria Septy

Blog Pribadi: www.theasenorita.blogspot.com

Tautan karya-karya saya: linktr.ee/karyaandriasepty

 

Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com

 

 

 

 

 

Puisi-Puisi Muhammad Gibrant Aryoseno

Puisi Muhammad Gibrant Aryoseno


Besok


Langit sedang dirundung rindu,

rindu yang tak pernah dibalas waktu.

Sementara anak-anak sedang menghabiskan waktu,

aku tertidur pulas di dekapan hantu.

Itulah hantu masa lalu, hantu

perempuan yang mengejar-ngejarku.


Semasa hidupnya, ia tidak pernah berhenti berdandan,

bicara teori konspirasi bahwa bumi hanya percobaan.

Aku inginkan dia berhenti untuk takut pada masa depan.

“Besok kau harus menghilang dan tidak kelihatan.”


Keesokan harinya, segala ketakutan padam begitu saja.

Aku tidak lagi mendengar racau perempuan itu.

Tapi kadang kulihat dia di cermin, di kaca spionku, atau

ikut tertidur saat aku sedang memimpikan masa depan.


“Sudah tidur saja,” bisiknya.

Aku tidak gidik ngeri.

Tidak ada yang lebih ngeri dari

tubuh yang dirundung nyeri,

nyeri yang hinggap setiap hari.


“Besok aku akan membisikimu lagi.”

Aku peduli setan. Besok akan sama

dengan kemarin: hari-hari yang melelahkan,

hujan rindu yang dibawa pergi hantu

melewati langit yang masih malu menatapku.



Menjelma Tanah


Kubuka kitab suci dan kubaca agar mulia jiwaku

dan kutenggak gelas berisi malu 

agar tetap jujur pribadiku

dan kumakan sepotong bodoh dari balik jendela 

agar terarah jalanku

dan bermandikan rindu tubuhku

agar hati ini senantiasa mengingatmu

dan bersetubuh kata lidahku

agar ia tetap menggema di dalam pilu

dan terkubur batinku yang ringkih

lagi syahdu dalam lagu

dan kudekap air hujan di dalam pelukku

meski tertatih-tatih dalam ragu

agar nanti ketika aku menjelma tanah abadi

bunga yang harum bisa tumbuh dan mengabdi.



Dari Balik Jendela Maya


Dari balik jendela maya

kita saling memberi dukungan

meski tak tahu bunga siapa

atau burung siapa

sedang bertengger di sana.


Dari balik jendela maya

kita saling menipu dan meniru

untuk mendapatkan dukungan

meski tak tahu suara siapa

atau indra siapa yang kena.


Dari balik jendela maya,

dunia kita yang kedua,

kita merasa hidup seutuhnya.


______


Penulis

Muhammad Gibrant Aryoseno, lahir di Kulon Progo, DIY. Karya-karyanya dapat dijumpai di berbagai media daring, termasuk di laman Instagram-nya (@gibrantha). Cerpennya yang berjudul “Tempat Kejadian Perkara” berhasil menjadi juara ketiga dalam Parmawijaya Dendasasmita Literary Awards 2025. “Ketika Kata Tiada” merupakan 10 Naskah Terpilih dalam Pitching Naskah Novel Bentang Pustaka x Suku Sastra 2025. Pemenang Wattys Indonesia 2022 kategori fiksi ilmiah lewat novelnya “Machine with a Heart”.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Lapak Buku "Siapa yang Terluka?" Karya Astini Uyun


Judul: Siapa yang Terluka?

Penulis: Astini Uyun
Penerbit: #Komentar

Terbit: Juni 2026

Tebal: vi + 133 halaman
Ukuran: 14 x 20 
Harga: Rp78.000


Siapa yang Terluka? mengisahkan perjalanan hidup Fanny Clarissa Putri, seorang mahasiswi yang menjalani kuliah sambil mengajar di sekolah dasar. Dalam proses bertumbuh, ia belajar tentang tanggung jawab, pendidikan, organisasi, persahabatan, dan arti ketulusan. Kehadiran Pak Basma, rekan kerja yang perhatian, serta Kak Dion, senior kampus yang selalu mendukungnya, membuat Fanny berada di persimpangan perasaan yang rumit. Di tengah kesibukan mengajar, mengikuti lomba, kegiatan organisasi, dan berbagai perjalanan yang membentuk dirinya, Fanny harus memahami makna cinta, kepercayaan, serta luka yang lahir dari harapan dan pilihan. Novel ini menghadirkan kisah hangat tentang keluarga, perjuangan meraih mimpi, dan pencarian jawaban atas satu pertanyaan sederhana namun mendalam: siapakah sebenarnya yang terluka?


Kontak Penulis:

0896-5090-3319


Saturday, May 30, 2026

Resensi Kabut | Bocah Menulis Indonesia

Oleh Kabut


Indonesia yang penuh kejutan setiap hari dipicu oleh beragam omongan yang disampaikan presiden, menteri, dan para pejabat (sangat) penting. Kita mula-mula terkejut tapi perlahan mulai terbiasa. Apakah terkejut masih akan terus terjadi? Yang masih berdebar mendingan berdoa. Yang takut boleh sembunyi di gua-gua terpencil.

Kejutan-kejutan itu mendapat tanggapan dari para tokoh melalui tayangan-tayangan di media sosial. Anehnya, keramaian yang tercipta tidak menjamin berkurangnya kejutan di Indonesia. Yang bikin geleng-geleng kepala, anak-anak mulai ikutan mengomentari kejutan-kejutan di Indonesia. Mereka bermunculan di beragam tayangan, yang membuat kita tertawa. Artinya, tanggapan terhadap kebijakan-kebijakan disajikan melalui omongan bersifat humor atau lagu-lagu yang bergelimang tawa. Anak-anak mengerti lakon Indonesia. Mereka tidak membuat esai untuk dimuat di koran atau majalah. Yang mereka lakukan adalah bersikap di depan kamera, lantas disuguhkan di media sosial. 

Kita kadang berharap anak-anak mengisahkan hal-hal lain saja ketimbang bersinggungan politik. Namun, kesadaran politik telah menular. Akibatnya, anak-anaknya yang suka membuat tayangan tergoda ikut membuat tanggapan atau mencipta hiburan yang mengingatkan publik bahwa Indonesia itu “negara seribu kejutan”.   

Pada masa lalu, anak-anak yang melek politik atau situasi sosial bisa bercakap bareng keluarga atau teman-teman. Di situ, mereka berharap terus memuliakan Indonesia meski bersedih atas hal-hal buruk. Anak-anak menggunakan bahasa yang sederhana, belum dicampuri istilah-istilah asing seperti yang biasa diucapkan para pengamat politik dan kaum intelektual. Pada saat anak-anak tidak berkata-kata, garapan gambar bisa menyatakan yang dipikirkannya tentang Indonesia. 

Apakah anak-anak di seantero di Indonesia tetap percaya bahwa puisi bakal ikut mengubah nasib Indonesia? Dulu, kita mengingat puisi-puisi gubahan M Yamin, Sutan Takdir Alisjahbana, Chairil Anwar, Rendra, Taufiq Ismail, Wiji Thukul, dan lain-lain memberi warna dalam arus pembentukan dan pemuliaan Indonesia. Puisi-puisi memang tak kentara bila menjadikan Indonesia berharap terang dan girang. Yang biasa bermunculan adalah puisi-puisi yang ingin menyelamatkan Indonesia. Kita punya catatan tentang puisi-puisi gubahan anak, yang mengalir dalam pemaknaan Indonesia, dari masa ke masa? Jawaban yang susah.

Pada 2004, terbit buku berjudul Untuk Bunda dan Dunia. Buku terbitan DAR! Mizan itu berisi puisi-puisi gubahan Abdurahman Faiz. Pada saat terbit, penggubah puisi berumur 8 tahun. Indonesia mendapat persembahan buku puisi dari anak. Pada masa-masa sebelumnya, terbit beberapa “puisi anak” tapi yang menulis adalah orang-orang dewasa. Mereka membuat puisi untuk dibaca anak-anak. Faiz muncul sebagai penggubah puisi anak, yang dibaca oleh anak. Kaum dewasa pun boleh membaca sambil melacak tautan-tautan puisi dan kondisi Indonesia.

Judul buku terbaca sederhana. Para pembaca tidak mengira bakal bertemu puisi-puisi yang membuktikan anak berhak menanggapi masalah-masalah besar dan mengejutkan di Indonesia. Ia dalam keluguan sekaligus keberanian. Bagaimana ia mampu menulis puisi yang mendokumentasi dan mengiringi lakon Indonesia? Ia mungkin rajin membaca koran, menonton televisi, atau mendengar omongan dari kaum dewasa. Yang pasti, ia melihat dan merasakan Indonesia yang belum membahagiakan. Bagi yang penasaran atas puisi-puisinya sedikit mendapat keterangan. Faiz itu anak dari pengarang yang terkenal di Indonesia: Helvy Tiana Rosa.

Penjelasan tercantum dalam buku: “Dari dua puluh sajak Faiz yang ditulisnya mulai Juli 2001 hingga November 2003 ini, 8 mengenai ibu dan ayahnya, 7 tentang situasi sosial, dan 5 tentang tokoh masyarakat.” Yang menulis puisi dilahirkan di Jakarta, 15 November 1995. Ia hadir dalam suasana setengah abad Indonesia merdeka. Anak itu bertumbuh dengan rangsang sastra dalam keluarga. Yang dilakukannya adalah membuat tulisan: “Tapi, kalau menulis sajak, ia memilih layer telepon genggam yang kecil untuk menaruh larik-larik sajaknya.” Cara yang berbeda dari nostalgia kita mengenai penggubah puisi: yang menulis di kertas atau menggunakan mesin tik. Faiz mengalami zaman yang bergerak cepat dengan beragam benda-benda ajaib.

Kita membaca puisi yang berjudul “Tujuh Luka di Hari Ulangtahunku”. Faiz menulisnya pada tanggal 15 November 2003. Apa yang bisa kita ingat tentang 2003? Faiz memberi dokumentasi melalui puisi: Sehari sebelum ulangtahunku/ aku terjatuh di selokan besar/ ada tujuh luka membekas, berdarah/ aku mencoba tertawa, malah meringis// Sehari sebelum ulangtahunku/ negeriku masih juga begitu/ lebih dari tujuh luka membekas/ kemiskinan, kejahatan/ korupsi di mana-mana/ pengangguran, pengungsi/ jadi pemandangan yang meletihkan mata/ menyakitkan hati. Kita kagum mengetahui anak yang semestinya berbahagia dalam ulang tahun malah membuat renungan Indonesia. Ia terbukti peka dan berani menyatakan pendapat, yang termaktub dalam UUD 1945. 

Ia membahasakan Indonesia terluka, sama dengan tubuhnya yang terluka. Namun, luka Indonesia itu lebih menyakitkan. Bagaimana cara menyembuhkan luka Indonesia. Faiz percaya bahwa luka di tubuhnya akan bisa sembuh. Yang dipikirkannya adalah Indonesia akan terus terluka, sakit yang tidak pernah sembuh. Tragis!

Bait-bait yang bisa membuat kita merinding membayangkan anak mengisahkan Indonesia: Tapi ada yang seperti lucu/ di negeriku/ orang yang ketahuan berbuat jahat/ tidak selalu dihukum/ namun orang baik bisa dipenjara// Pada ulang tahunku yang kedelapan/ aku berdiri di sini dengan tujuh luka/ sambil membayangkan Indonesia Raya/ dan selokan besar itu// Tiba-tiba aku ingin menangis. Kita menduga ia menangis untuk Indonesia, tidak sekadar menangisi tubuh yang terluka. Ia sangat mencintai Indonesia. Diri yang bertambah umur bukan meraih bahagia sepenuhnya tapi dibikin mewek oleh kenyataan-kenyataan di Indonesia. Faiz yang menangis mungkin agak terhibur bila mendapat hadiah dari keluarga dan teman. Apakah ia menginginkan hadiah itu Indonesia yang makmur dan demokratis?

Faiz tidak memikirkan dirinya sendiri. Pada masa bertumbuh, ia belajar mengerti orang lain. Di keluarga, ia pasti sudah mengetahui peran dan dampak. Di Indonesia, ia mulai mengerti perbedaan peran yang “diperebutkan” demi pelbagai misi. Maka, ia menulis puisi yang berjudul; “Siapa Mau Jadi Presiden?” Puisi ditulis pada 2003. Siapa yang sedang berkuasa di Indonesia?

Puisi buatan Faiz bisa menjadi rekaman silam sekaligus kita baca berulang setiap hajatan demokrasi, yang biasanya dijanjikan setiap lima tahun. Faiz menulis: menjadi presiden itu/ berarti melayani/ dengan segenap hati/ rakyat yang meminta suka/ dan menyerahkan jutaan/ keranjang dukanya/ padamu. Ingatlah, yang menulis adalah anak. Ia ingin mengenali presiden. Yang dipikiran adalah tugas, bukan seribu cara untuk menjadi presiden. Faiz belum memasalahkan hajatan demokrasi yang boros duit, pamer kebohongan, bersaing curang, dan membodohkan rakyat. 

Yang sedang rajin mengungkapkan protes dan kritik kepada presiden dengan masa jabatan 2024-2029 boleh mengutip puisi gubahan Faiz. Puisi yang sangat cocok bila dibaca lagi. Kita boleh merekam saat membaca puisi, yang nantinya diunggah di media sosial. Kita mungkin hanya mengetik ulang, diedarkan ke pelbagai saluran agar mendapatkan pembaca. Apakah kita menanti Faiz yang sudah bertambah umur untuk membaca puisinya? Puisi ini memberi sentuhan berbeda dari arus kritik yang bermunculan di Indonesia. Puisi yang lugu dan lugas tapi mengadung keberanian.

Pada 2003, Faiz menulis puisi yang berjudul “Kepada Koruptor”. Puisi yang akan awet, bertahan lama di Indonesia. Pada saat korupsi masih terus terjadi, puisi tetap penting dibaca meski tidak menyelesaikan masalah. Puisi yang semestinya dibaca para koruptor: Gantilah makanan bapak/ dengan nasi putih, sayur dan daging/ jangan makan uang kami. Ia mengetahui pelaku korupsi sering bapak-bapak ketimbang ibu-ibu. Padahal, jumlah koruptor di Indonesia terus meningkat. Ibu-ibu yang masuk daftar koruptor pun bertambah. 

Apa yang diingatkan Faiz? Pemahaman korupsi melalui makanan. Faiz saat menulis puisi belum digegerkan MBG. Maka, ia memberi ajakan yang sopan agar koruptor makan nasi putih, sayur, dan daging. Perbuatan “makan uang rakyat” dianggap jahat. Perbuatan yang menghancurkan Indonesia. Peringatan yang lain: Telah bapak saksikan/ orang-orang miskin memenuhi/ seluruh negeri/ tidakkan menggetarkan bapak? Kita membayangkan puisi ini sering dibaca di KPK atau Kejaksaan Agung. Kita pun menanti Faiz yang sudah dewasa membuat puisi-puisi bertema korupsi mumpung Indonesia sulit bahagia.


____


Penulis


Kabut, penulis lepas.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Friday, May 29, 2026

Lapak Buku | Yuki (Bebaskan Diri, Naik Kelas) Karya Sukron

 


Judul: Yuki (Bebaskan Diri, Naik Kelas)

Penulis: Sukron
Penerbit: #Komentar

Terbit: Juni 2026

Tebal: vi + 87 halaman
Ukuran: 14,8 x 21 
Harga: 59.000


Novel Yuki (Bebaskan Diri, Naik Kelas) karya Sukron mengisahkan perjalanan seorang perempuan muda bernama Yuki yang berjuang keluar dari tekanan hidup, rasa takut, dan belenggu rutinitas. Di tengah dunia kerja, pendidikan, dan tuntutan sosial yang melelahkan, Yuki perlahan belajar memahami dirinya sendiri, melepaskan penyesalan masa lalu, serta membangun keberanian untuk menentukan arah hidupnya. Melalui pertemuan dengan orang-orang yang mengubah cara pandangnya, Yuki menyadari bahwa “naik kelas” bukan sekadar jabatan, nilai, atau status, melainkan proses membebaskan diri dari ketakutan dan menemukan makna hidup yang lebih utuh. Dengan gaya bahasa puitis dan reflektif, novel ini menghadirkan kisah tentang keberanian, pertumbuhan diri, harapan, dan perjuangan menjadi manusia yang lebih bebas, kuat, serta berdamai dengan diri sendiri.


Kontak:

087771480255 (Penerbit)


Monday, May 25, 2026

Karya Siswa | Humaira Fakhiratur Rofifah | Ke Mana Ayah Pergi?

Cerpen Humaira Fakhiratur Rofifah



Aku melangkah ke sekolah seperti biasa, menyusuri jalan dengan lelah yang diam-diam kupendam. Langkah kakiku akhirnya sampai di gerbang sekolah. Pagi menyapa dengan riuh suara yang hangat. Aku duduk di bangku, menyusun harap di antara buku-buku, menyimak pelajaran yang perlahan tersimpan di memori. Menurutku, sekolah bukan sekadar tempat belajar, melainkan ruang kecil tempat kenangan tumbuh diam-diam.

Waktu terus berputar tanpa suara, hingga tak terasa dentang pulang pun tiba menggema di udara. Langkahku menyusuri jalan bersama teman-teman, disisipi cerita ringan yang mengalir tanpa jeda. Sesampainya di rumah, sebuah kabar tak terduga datang dari ayahku, bahwa aku dan keluarga kecilku akan jalan-jalan ke Pantai Anyer.


Besok pun akhirnya tiba.


“Ayah, kita jadi ke pantai hari ini?” tanyaku sambil berlari kecil menghampiri ayah yang sedang menyiapkan tas.


Ayah tersenyum. “Tentu jadi. Hari ini ayah mau mengajak kalian liburan kecil.”


Ibu keluar dari dapur sambil membawa bekal. “Jangan lupa bawa tikar. Nanti kita akan makan bersama di sana.”


Di perjalanan, suasana mobil penuh tawa.


“Ayah, pantainya masih jauh?” tanyaku sembari melihat ke luar jendela.


“Sebentar lagi,” jawab ayah. “Sabar, tak akan lama kalian lihat laut yang biru dan indah.”


Sesampainya di Anyer, ombak terdengar bergulung pelan.


“Masyaallah, indah sekali …” kata ibu kagum.


Aku dan kedua adikku langsung berlari mendekati air.


“Ayah, lihat! Ombaknya besar!”


Ayah tertawa kecil. “Hati-hati, jangan terlalu jauh.”


Lalu ayah pun mengajak kami membangun istana pasir bersama, sementara ibu menata makanan di atas tikar.


“Ayo makan dulu,” panggil ibu.


Akhirnya kami menikmati makanan sambil bercerita dan tertawa riang. Aku memandang mereka dan merasa hangat di hati. Hari itu bukan hanya tentang liburan ke pantai, tetapi tentang kebersamaan keluarga yang terasa begitu indah.


Senja telah tiba, kami kembali pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, ayah langsung berpamitan untuk kembali ke tempat kerja.


“Tidak semuanya bertahan lama.”


Kata-kata itu ternyata benar adanya. Suasana rumah yang dulu hangat kini mulai berubah. Ayahku mulai bangkrut, ekonomi keluarga tumbang. Rumah ini tidak lagi menenangkan, melainkan ruang yang saling melukai.


“Ayah capek, Bu! Usaha ayah bangkrut!” bentak ayah.


“Lalu kenapa semua dilampiaskan ke kami?” suara ibu mulai bergetar.


Aku keluar perlahan dari kamar.


“Bu … Yah … jangan bertengkar lagi …” kataku pelan.


Ayah mengusap wajahnya kasar. “Kamu belum mengerti keadaan kita sekarang.”


Ibu menunduk. Matanya merah karena menangis.


“Dulu kita makan bersama sambil tertawa,” ucap ibu. “Sekarang tiap hari hanya ada amarah.”


Ayah terdiam beberapa saat. Namun akhirnya, ia mengambil jaketnya.


“Ayah mau keluar dulu.”


“Pergi lagi?” tanya ibu kecewa.


Ayah tidak menjawab. Pintu rumah ditutup keras hingga membuatku tersentak. Aku memandang ibu yang tertunduk lemas di kursi.


“Bu … apa semuanya akan kembali seperti dulu?”


Ibu tersenyum tipis sambil mengusap kepalaku.


“Ibu juga berharap begitu, Nak. Tapi kadang hidup berubah tanpa izin.”


Sebulan sudah ayah pergi meninggalkan kami entah ke mana. Kini, ibulah yang menjadi tulang punggung keluarga. Setiap hari ibu pergi mengajar dan menitipkan kedua adikku kepadaku. Di sela-sela kesibukannya, ibu berusaha menelepon nomor ayahku, berharap notifikasi panggilan berubah menjadi dering dan dijawab. Tak hanya itu, ibu bertanya kepada teman kerja, teman nongkrong, bahkan keluarga pun ikut mencari keberadaan ayahku. Namun, belum juga ada hasil yang menenangkan hatiku, ibu, dan kedua adikku.


“Bu, Ibu tahu ayah sekarang di mana?” tanyaku lirih.


Ibu menghentikan aktivitas di depan laptopnya lalu menggeleng pelan. “Belum ada kabar, Nak.”


“Sudah lama sekali ayah menghilang …”


Ibu tersenyum kecil meski matanya sembab. “Iya … ibu juga terus menunggu.”


“Aku kangen ayah, Bu.”


Ibu memelukku erat. “Ibu juga. Tapi ibu selalu berdoa semoga nanti pintu rumah ini diketuk oleh orang yang kita tunggu selama ini.”


Aku menggenggam erat tangan ibu.


Keesokan harinya, aku kembali ke sekolah. Pagi itu udara masih dingin, tetapi peluh sudah terasa di tengkukku. Namun, ketika di sekolah, aku mendapatkan tambahan beban berupa selembar kertas tunggakan sekolah.


“Nanda, ini surat tunggakan SPP. Berikan ke orang tuamu,” kata Bu Guru.


Aku menerima surat itu dengan tangan gemetar. Dadaku sesak.


Sepulang sekolah, aku hanya diam memandangi kertas itu di teras rumah.


“Kenapa melamun, Nak?” tanya ibu.


Aku ragu menyerahkan suratnya.


“Bu … sekolah menagih SPP lagi.”


Ibu membaca surat itu perlahan lalu menunduk.


“Maaf … ibu belum bisa bayar.”


Aku menggigit bibir menahan tangis. Sejak ayah pergi, ibu bekerja sendiri untuk memenuhi kebutuhanku dan kedua adikku.


Ibu pun memelukku sambil menahan air mata.


“Ibu akan usahakan, Nak.”


Aku hanya mengangguk.


Malam pun tiba. Rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Suara jangkrik terdengar jelas dari halaman belakang. Aku melamun. Aku teringat besok sekolah kembali menagih uang SPP. Aku merasa tidak tega terus melihat ibu memikul semuanya sendiri.


Tiba-tiba aku teringat pada Bibi Ona yang membuat emping di kampung sebelah. Emping buatan bibi terkenal enak, tetapi biasanya hanya dititipkan di warung kecil.


Lamunanku terhenti karena kehadiran ibu.


“Ibu belum tidur?” tanyaku pelan saat melihat ibu keluar membawa segelas teh hangat.


“Belum, Nak. Kenapa masih di luar?”


“Bu, kalau aku bantu jualan emping punya Bibi gimana?”


Ibu langsung menatapku.


“Kamu mau jualan emping sepulang sekolah?”


Aku mengangguk. “Aku ingin bantu ibu. Sejak ayah pergi, ibu kerja keras sendirian.”


Ibu menunduk, matanya mulai berkaca-kaca.


“Kamu enggak perlu memikirkan semua ini, Nak. Kamu fokus belajar saja …”


Ibu menggenggam erat tanganku.


“Maaf … kamu jadi dewasa lebih cepat.”


Aku tersenyum kecil.


“Enggak apa-apa, Bu. Asalkan kita tetap sama-sama.”


“Ibu mengizinkan kamu berjualan, Nak. Tetapi, kamu harus ingat tugas utamamu belajar,” kata ibu dengan tegas.


Setelah mendapatkan izin dari ibu, keesokan harinya sepulang sekolah aku segera pergi ke rumah Bibi Ona dengan penuh harapan.


Aku duduk perlahan. Mataku melihat tumpukan emping yang sedang dijemur di tampah besar. Aku memulai maksud kedatanganku.


“Aku mau bantu jualan emping Bibi keliling kampung setelah pulang sekolah.”


Bibi Ona tampak terkejut.


“Lho, memangnya buat apa? Kamu fokus sekolah saja.”


Aku menarik napas panjang.


“Aku kasihan sama ibu, Bi. Sejak ayah pergi, ibu kerja sendirian. Kadang aku lihat ibu diam-diam nangis kalau malam.”


Suasana mendadak hening. Hingga akhirnya Bibi Ona mengizinkanku untuk berjualan emping miliknya.


“Baiklah. Kalau memang itu keinginanmu, Bibi izinkan. Tapi kamu harus tetap sekolah.”


Aku berpamitan kepada Bibi dan membawa emping yang sudah dikemas.


Di pundakku, sebuah tas kain besar berisi plastik-plastik bening bergoyang seirama langkah kakiku.


“Emping! Emping melinjo asli, Bu! Masih renyah!” teriakku dengan suara nyaring, memecah kesunyian gang.


Setiap hari rutinitasku menjajakan emping dari satu gang ke gang lain di kampung ternyata sudah berlangsung selama satu bulan. Akan tetapi, hari ini berbeda dari biasanya. Saat aku sedang berteduh di bawah pohon melinjo untuk menghitung lembaran ribuan yang lecek, ponselku berdering. Nama ibu muncul di layar. Suaranya terdengar tergesa dan gemetar.


“Assalamualaikum, Nak … cepat pulang,” suara ibu terdengar gemetar di telepon.


“Ada apa, Bu?”


“Ibu … baru dapat kabar tentang ayah.”


Aku terdiam sejenak.


“Ayah kenapa?”


Di seberang telepon, ibu menangis pelan.


Aku menggenggam tas erat-erat.


“Tunggu aku pulang, Bu. Jangan menangis sendirian.”


“Iya … hati-hati di jalan.”


Suara burung yang bersahutan dan deru lalu lalang orang lewat biasanya hanya dianggap angin lalu, tetapi siang itu semuanya terdengar seperti dentum peringatan. Ibu baru saja menelepon dengan suara yang hampir tidak dikenali, gemetar.


Matahari tepat berada di atas kepala, memancarkan panas yang membakar. Namun, keringat yang mengucur di pelipis bukan karena suhu yang menyengat, melainkan karena aku takut berita buruk menimpa ayahku.


Sampai di rumah …


“Aku pulang, Bu …” kataku pelan sambil menerobos pintu rumah.


Namun suasana rumah ramai. Beberapa keluarga dari pihak ayah duduk di ruang tamu sambil berbisik-bisik. Aku melangkah pelan melewati mereka. Tatapan mereka terasa asing dan membuat dadaku sesak. Di sudut ruangan, ibu hanya diam menunduk sambil menggenggam ujung bajunya erat-erat.


“Ada apa, Bu?”


Ibu hanya diam menunduk.


Bibi mendekat perlahan.


“Nak … kamu harus sabar, ya.”


“Memang ada apa?” tanyaku cemas.


Bibi menarik napas panjang.


“Ayahmu … menikah lagi.”


Aku langsung terdiam.


“Apa …?”


“Iya …” jawab bibi lirih.


Aku menatap ibu yang matanya sembab karena menangis.


“Jadi … semua ini benar, Bu?”


Ibu mengangguk pelan tanpa berkata-kata.


“Ayah keterlaluan!” bentakku dengan mata berkaca-kaca. “Tega sama ibu, aku, dan adik-adikku!”


Ibu langsung memelukku.


“Sudah, Nak … ini adalah jawaban dari doa-doa kita, meskipun pahit.”


Akhirnya aku mengerti. Ayah tidak sedang membangun keluarga baru. Ia hanya sedang mengganti kami dengan versi yang menurutnya lebih baik.


Aku mengeluarkan ponsel, menghapus kontak bernama “Ayah”. Setelah menarik napas panjang, perlahan aku menekan tombol hapus. 


_____

Penulis

Humaira Fakhiratur Rofifah, lahir di Pandeglang, 16 Maret 2012. Hobi menggambar & menulis. Siswa SMPIT Syifa Fikriya.


Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com



Saturday, May 23, 2026

Resensi Kabut | Minggu Bertanda Seru

Oleh Kabut



Di sebaran sastra dunia, yang dibaca anak dan remaja, muncul nama para tokoh. Nama-nama yang akan selalu dikenang sepanjang masa. Semua itu nama asing. Soalnya, kita membaca cerita anak yang memukau berasal dari negara-negera di Eropa dan Amerika Serikat. Sastra anak mereka mendunia cepat melalui pelbagai cara. Yang terpenting melalui kolonialisme. Artinya, Eropa yang datang ke Asia atau Indonesia turut “mengenalkan” sastra yang bertumbuh di Eropa selama ratusan tahun. Datanglah cerita-cerita anak di Nusantara, yang semula berbahasa asing. Beberapa diterjemahkan dalam bahasa Melayu, Sunda, Jawa, dan lain-lain.


Nama-nama para tokoh terus teringat. Buku-buku cerita anak dari Eropa dan Amerika Serikat yang terpenting terbit dan laku, sampai sekarang. Bagaimana sastra anak yang bertumbuh di Indonesia? Kita saja tidak mampu membuat daftar 100 pengarang, yang meramaikan sastra anak di Indonesia. Usaha menyebut judul buku-buku pun sangat sulit. Lantas, nama para tokoh yang dibuat pengarang dalam bukunya gampang dilupakan. Nama-nama yang sulit tenar dan menjadi referensi bagi anak-anak. Pengecualian tentu terjadi. 


Di majalah Bobo, 5 Agustus 1989, tersaji iklan yang mengembalikan ingatan kita kepada tokoh yang hidup dalam cerita. Tokoh yang sempat berkuasa pada masanya. Siapa? Yang hidup pada masa 1980-an dan 1990-an mengingat tokoh cerita itu bernama Lupus.


Yang ditulis dalam iklan: “Oom dan tante butuh teman buat si kecil? Dan, oom dan tante sebegitu sibuk sampai tak ada waktu mencarikan teman buat si kecil? Atau, tak sempat lagi mendongeng kala si kecil menjelang tidur?” Iklan yang berlagak pintar. Buktinya, pengajuan tiga pertanyaan, yang sudah disiapkan jawabannya. Jawaban yang benar, tidak mungkin salah. Iklan yang berisi pertanyaan dan jawaban. Kita membaca kalimat jangan dianggap memerintah, boleh disebut jawaban: “Hadirkan ‘Lupus Kecil’ saat ini juga.” Iklan buku yang tidak lucu. Iklan untuk kaum dewasa, yang diminta beli buku untuk anak kecil. Pada babak sebelumnya, Lupus ditampilkan sebagai remaja. Lantas, dihidupkanlah Lupus yang masih kecil.


Apa keunggulan dari cerita yang dibuat oleh Hilman dan Boim? Iklan di majalah Bobo diupayakan mujarab. Penerbit ingin seri Lupus saat masih kecil laris seperti seri Lupus sebelumnya. Jadi, keterangan yang mengandung kebenaran dan kesejatian diberikan: “Lupus Kecil adalah cerita Lupus yang masih kelas satu SD. Berisikan pengalaman dan kejadian yang pasti dialami pula oleh putra-putri anda. Tentu si kecil senang berteman dengan lupus. Mereka tak berjarak. Mereka punya hobi yang sama, seperti nonton TV, main sepeda, makan siomai, atau sembunyi di kolong tempat tidur.” Ingatlah, yang diceritakan adalah bocah-bocah masa 1980-an atau berlatar Orde Baru. Jangan membayangkan bocah-bocah dalam cerita itu masih bisa ditemukan dalam abad XXI.


Kita buktikan dengan membuka buku berjudul Lupus Kecil: Pingsan Together. Hilman dan Boim Lebon belum kapok menghibur pembaca. Buku diterbitkan Gramedia, 2003. Namun, Lupus bukan lagi murid kelas satu SD. Ia menjadi tokoh yang bertumbuh. Yang harus diperhatikan: Lupus adalah murid kelas empat SD dan Lulu berada di kelas tiga.


Kita menikmati satu cerita yang mengakibatkan tawa selama belasan menit. Apa yang dipilih dalam buku berukuran kecil dan tipis, yang dihiasi ilustrasi apik? Kita memilih yang berjudul “Kerja di Hari Minggu? Oh, No!” Judul yang sangat tidak menarik tapi dijamin lucunya.


Mami, Lupus, dan Lulu di rumah. Mereka mau mendefinisikan Minggu yang berbeda dari biasanya. Kebetulan, Papi tidak ada di rumah. Maka, rumah itu nasibnya ditentukan tiga orang. Minggu bukan untuk bermalas-malasan atau mencari hiburan sepuasnya. Apa yang terjadi? Kita membaca sambil capek tertawa.


Lupus dan Lulu protes, tidak ingin hari Minggu hancur maknanya sebagai hari libur. Namun, setiap protes mendapat jawaban paling benar dari Mami, yang sulit banget digugat meski mendatangkan seribu jin. Kita mengutip omongan Mami yang dahsyat: “Ingat, sekali Mami canangkan wajib belajar sembilan tahun, eh sori, jadi ngaco deh. Sekali Mami canangkan kerja hari ini, ya kalian harus kerja. Titik!” Aneh, Mami bilang titik tapi yang terlihat adalah tanda seru. 


Mami yang tidak mungkin kejam tapi tidak berniat menjadi komedian. Yang dikatakan: “Kalo menolak, kalian akan dihukum cambuk! Bukan, kalian dihukum untuk bikin cambuk sebanyak-banyaknya, lalu dijual ke pasar!” Mami yang mahir berlogika dan berbahasa. Tujuannya ketertiban dan kepatuhan dalam rumah.


Mereka berhasil kerja bakti, membersihkan beberapa ruangan. Tugas paling penting adalah menyingkirkan dan membuang barang-barang yang menyesaki beberapa ruang. Barang-barang itu dianggap tidak berguna, tidak boleh menjadikan rumah terasa sempit. Membuang hukumnya wajib sesuai ketentuan yang dibuat Mami. Kita membayangkan tiga orang itu benar-benar merusak makna libur pada hari Minggu. Mereka malah menggerakkan tubuh, berdebat, dan pesta keringat. Apakah itu masih bisa terjadi pada masa sekarang?


Yang dikatakan Mami cocok dengan yang terjadi di banyak rumah. Mami menjelaskan secara tegas: “Tapi, kalian pernah nggak merasa, kadang kita susah mencari sesuatu, misalnya mencari martil, gunting kuku, silet, atau benda-benda kecil lainnya? Kenapa? Karena di tempat-tempat yang semestinya berisi barang-barang itu, kini sudah terisi benda-benda lain. Di dapur saja, yang mestinya cuma ada perabot dapur, sekarang juga diisi barang-barang bekas. Rantai sepeda, kursi patah, kaleng bekas oli. Nah, tujuan kita ini adalah mengenyahkan semua benda-benda yang tidak pada tempatnya, dan semua benda yang kita anggap tidak penting lagi bagi kita!” Pidato itu ditambahi janji bahwa Lupus dan Lulu bila berhasil dalam pengenyahan itu bakal mendapat ganjaran yang menarik.


Jam-jam berlalu. Beberapa ruang berhasil dibersihkan dari barang-barang. Yang tampak, ruang-ruang menjadi longgar, tidak sesak dan berantakan lagi. Namun, kerja belum selesai. Sore, Papi pulang bawa cerita. Mereka bakal mendapat rezeki asal Papi bisa mengambil sertifikat tanah. Pokoknya, Papi sedang berbisnis yang menguntungkan. Syaratnya harus ada sertifikat. Di rumah, ia berusaha mengambilnya. Suasana yang berubah di rumah membuatnya kagum sekaligus khawatir. Rumah dalam kondisi rapi, bersih, dan indah. Minggu yang unik.


Di kamar, Mami mengatakan bahwa tidak mungkin ada sertifikat. Papi menjawab enteng: “Memang karena Papi nggak menyimpannya di sana. Di kamar kita sudah penuh barang. Sempit. Baju di mana-mana. Bedak-bedak Mami bertebaran. Jadinya, surat-surat itu Papi simpan di rak dapur. Di sana kan kosong.” Omongan itu menimbulkan gegeran. Minggu menjadi panik.


Papi gagal menemukan. Yang terjadi: “Hei, ke mana surat-surat itu? Dan, ke mana barang-barang koleksi Papi lainnya? Setang sepeda tua, mesin tik tua, oh, itu semua barang-barang yang nanti bakalan mahal…. Bundel-bundel majalah pada ke mana? Rak sepatu peninggalan zaman revolusi. Itu kan kenang-kenangan dari seorang pahlawan yang tak dikenal?”


Panik. Mami segera memerintah Lupus dan Lulu bekerja lagi. Mereka dipaksa mengambil lagi barang-barang yang dibuang di bak sampah. Barang-barang itu punya Papi, koleksi untuk kelak dijual. Lupus dan Lulu yang lelah berani protes. Mami tidak bisa disalahkan dan dikalahkan. Iming-iming yang diberikan agar patuh: “Nanti hadiahnya dobel.” Keluarga yang bikin pembaca tertawa. Kalimat yang terindah sebagai penutup cerita: “Akhirnya, rumah Lupus kembali seperti sedia kala.” 


Cerita yang mengesankan. Kita memang tidak memberi perhatian besar kepada Lupus dan Lulu gara-gara ocehan yang seru itu milik Mami dan Papi. Tetap saja cerita bisa dinikmati anak-anak yang membutuhkan tawa agar hari-harinya tidak menyiksa dan menjemukan.


_______


Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Friday, May 22, 2026

Berita | Pelatihan Menulis Cerpen SRMA 34 Lebak Bangun Semangat Literasi Siswa


NGEWIYAK.com, LEBAK -- Sekolah Rakyat Menengah Atas 34 Lebak menggelar kegiatan pelatihan menulis cerpen pada Jumat, 22 Mei 2026 pukul 13.30 WIB di Auditorium BPMP Banten. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 100 peserta didik kelas X serta dihadiri oleh 9 guru pendamping.


Pelatihan tersebut menghadirkan Encep Abdullah (pegiat literasi Banten) sebagai narasumber. Ketua pelaksana kegiatan, Ahmad Falih, menyampaikan bahwa kegiatan ini diselenggarakan sebagai upaya meningkatkan kemampuan literasi peserta didik di Sekolah Rakyat.


“Dalam upaya meningkatkan kemampuan literasi peserta didik di Sekolah Rakyat, kami menyelenggarakan kegiatan pelatihan menulis cerpen sebagai wadah pengembangan kreativitas, imajinasi, dan kemampuan menulis cerpen,” ujarnya.


Ia juga berharap kegiatan tersebut dapat memberikan motivasi, wawasan, serta pengalaman berharga bagi para siswa melalui karya-karya narasumber yang telah dimuat di berbagai media nasional. Menurutnya, pelatihan ini menjadi langkah positif dalam membangun semangat literasi sekaligus melahirkan karya-karya tulis inspiratif dari siswa-siswi SRMA 34 Lebak.


Dalam penyampaian materinya, Encep Abdullah mengawali kegiatan dengan membacakan dua cerpen sebagai contoh. Satu cerpen dibacakan oleh seorang siswa, sedangkan satu cerpen lainnya dibacakan langsung oleh narasumber. Peserta tampak antusias menyimak cerita yang disajikan.


Salah satu cerpen yang dibahas adalah Dia Bertanya tentang Tuhan karya Febi Indirani. Menurut Encep, cerpen tersebut memiliki penyajian yang unik dan menarik karena disampaikan sepenuhnya dalam bentuk dialog antara seorang ibu dan anak. Keluguan cerita yang disampaikan membuat peserta beberapa kali tertawa saat menyimaknya.



Selain itu, Encep juga menekankan pentingnya keunikan dalam menulis cerpen. Ia menjelaskan bahwa cerpen harus berbeda dengan jurnal harian. Salah satu caranya ialah menghadirkan pembuka cerita yang menarik serta menggunakan sudut pandang yang tepat agar cerita terasa lebih hidup.


Pada sesi diskusi, beberapa peserta aktif mengajukan pertanyaan. Nur Aulia Putri bertanya tentang cara membuat kalimat yang tepat dan menarik, Kayla Herbiyani menanyakan mengenai pengembangan tokoh dalam cerita, sedangkan Wahyu bertanya tentang penggunaan bahasa dalam penulisan cerpen.


Panitia berharap kegiatan ini tidak berhenti sampai pelatihan saja. Sebagai tindak lanjut, pihak penyelenggara akan menyeleksi siswa-siswi yang memiliki minat dan bakat dalam menulis untuk kemudian mengikuti pertemuan rutin setiap minggu guna mengasah kemampuan serta mengembangkan potensi mereka lebih dalam lagi.


Sementara itu, Novita Sulistyorini selaku guru Bahasa Indonesia sekaligus moderator acara, memberikan kesan positif terhadap pelaksanaan kegiatan yang berlangsung dengan tertib, interaktif, dan mampu membangkitkan semangat siswa dalam dunia literasi dan kepenulisan.



(Redaksi)