View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Latest News

Saturday, September 19, 2026

Resensi Kabut | Sepakbola dan Omong Kosong

Oleh Kabut



Pada masa sekarang, anak-anak yang suka sepakbola atau balbalan bisa dengan gampang menontonnya di televisi. Banyak siaran langsung pertandingan sepakbola Indonesia dan Eropa, yang memiliki jutaan penggemar. Yang menonton di depan televisi biasanya menyiapkan minuman dan jajanan. Liga-liga penting yang mereka tonton memberi hiburan sekaligus adukan emosional. Para penonton biasa berteriak untuk gol dan pelanggaran-pelanggaran. Mereka pun berdoa demi kemenangan klub pujaan. Yang penting lagi berharap pemain idolanya mencetak gol, sebanyak-banyaknya.


Yang mulai fanatik balbalan menambahi kesibukan dengan gawai. Ia akan menonton beragam cuplikan pertandingan di Indonesia, Inggris, Spanyol, Italia, Turki, Arab Saudi, Amerika Serikat, dan lain-lain. Tontonan yang gampang menimbulkan kecanduan. Anak-anak betah bergawai demi menghabiskan jam-jam sepakbola. Maka, pengetahuan mereka mengenai balbalan makin meriah. Rekaman-rekaman lawas bisa mereka lacak dan ditonton. Anak-anak terpuaskan saat tangan rajin bergerak di gawai. 


Anak-anak yang memiliki fanatisme dengan tim lokal atau nasional bisa memenuhi hasratnya dengan membeli tiket. Mereka berhak menjadi penonton di stadion. Pengalaman yang seru dan terkenang sepanjang masa. Peran menjadi penonton tidak mudah. Anak-anak belajar keuangan, yel, lagu, sikap, dan lain-lain. Yang memilih tetap berada di kampung, mereka cukup menonton pertandingan cap kampung di lapangan yang sederhana. Pokoknya, anak-anak dan sepakbola tetap tema yang bergulir sampai sekarang.


Anak-anak terus mencari pengalaman-pengalaman imbuhan. Mereka menjadi penonton film-film tentang sepakbola, buatan Jepang atau Eropa. Ada pula beberapa film bertema balbalan buatan Indonesia. Film menjadi referensi. Namun, kita mengingat bahwa film buatan Jepang sangat memukau, yang membuat anak-anak makin menggandrungi sepakbola. Mereka pun menyaksikan perkembangan pesat sepakbola di Jepang, yang mungkin disokong propaganda film.


Dulu, anak-anak yang suka balbalan memiliki kepentingan menjadi pembaca koran, tabloid, atau majalah. Rubrik olahraga (sepakbola) menjadi keutamaan, disusul beragam olahraga. Yang rajin membaca mendapat tumpukan informasi. Pembeli koran, tabloid, atau majalah kadang mendapatkan hadiah stiker atau poster pemain terkenal. Masa lalu menjadi pembaca itu tidak mendapat kelanjutan pada masa sekarang. Kita menduga “pembaca” sepakbola terus berkurang.


Ingatan tentang bacaan membawa kita pada buku berjudul Kapten Bola. Novel untuk anak-anak yang ditulis oleh Arswendo Atmowiloto. Buku yang tipis terbitan Pustaka Jaya (1977) itu turut mengiringi imajinasi dan pengetahuan sepakbola anak-anak di Indonesia, berlatar Orde Baru. Kita tidak menemukan kepastian bahwa sepakbola itu berdasarkan GBHN atau harus ikut menyukseskan pembangunan nasional. Yang jelas, jutaan orang di Indonesia suka sepakbola. Maka, penulisan cerita bertema sepakbola pantas digemari anak-anak. Artinya, mereka membacanya saat urusan sepakbola masih terbatas dalam siaran radio dan jarang dimunculkan di TVRI.


Adegan awal yang pantas tampil dalam film. Anak-anak berada di lapangan. Mereka menanti kedatangan lawan tanding. Menit-menit menunggu yang menimbulkan ragu. Yang diceritakan Arswendo Atmowiloto adalah percakapan anak-anak yang ingin segera bertanding tapi lawan tidak muncul. Tokoh yang bernama Edi berkata: “Agaknya PS Harimau Buas sekarang sudah tidak buas lagi. Perkumpulan sepakbola itu mulai kini kita sebut saja Harimau Jinak. Mereka takut melawan kita.”


Yang meminta perhatian bukan cuma perkataan Edi. Di kumpulan anak itu kita menyimak omongan Kunti dan Sumba, yang sering berbeda pendapat. Kunti, tokoh utama yang diajukan pengarang dalam memahami dunia anak, sekolah, sepakbola, keluarga, dan lain-lain. Kunti adalah anak bungsu. Ia memiliki empat saudara, yang semuanya lelaki. Ia pantang dimanja dan diistimewakan.


Di sekolah, ia akrab dengan teman-teman lelaki. Ia malah memiliki kelebihan. Kunti tidak mau diremehkan dan menanggungkan diskriminasi. Maka, ia memiliki sikap dan bahasa, yang membuatnya disegani teman-teman di sekolah. Kunti tampak sebagai murid istimewa. Yang membuatnya makin istimewa, Kunti adalah penjaga gawang. Perempuan yang paham sepakbola. Ia pun memimpin perkumpulan sepakbola. Sebutan yang mentereng miliknya: kapten bola. Ia hadir dalam perkumpulan yang para pemainnya adalah lelaki.


Mereka adalah murid-murid kelas enam di sekolah dasar. Kemauan bergabung dan bermain sepakbola dimulai dari pertandingan di sekolah dalam perayaan Hari Kemerdekaan. Mereka lanjutkan dengan perkumpulan sepakbola, yang rutin berlatih dan bertanding. Kesebelasan di kelas mereka istimewa. Ada satu pemain yang perempuan: Kunti. Yang terjadi, mereka menang! Kunti dianggap penjaga gawang yang sakti.


Pengakuan teman-teman: “Kunti mempunyai mata yang tajam dan pandai menempatkan orang-orang dalam susunan pemain.” Cara bicara Kunti membuat teman-temannya sering patuh, susah memberi bantahan. Kunti memang pemimpin tegas. Ia mengelola para pemain yang laki-laki dengan cara yang terhormat dan sulit diremehkan. Kata-kata yang diucap Kunti: “Semua sama: mempunyai tugas menyerang dan memasukkan bola, dan membantu bek jika diserang. Ini sepakbola total, namanya.” Para pembaca tidak mendapat keterangan tentang referensi-referensi yang digunakan Kunti dalam memimpin perkumpulan sepakbola dan membuat taktik dalam pertandingan. 


Yang khas dalam cara bicara Kunti adalah memenangkan perdebatan. Ia biasa mengucapkan “omong kosong” untuk mematuhkan dan mengalahkan pendapat teman-teman. Kita mengikuti sikapnya mengenai hal-hal yang diperlukan dalam Perkumpulan Sepakbola Layang-Layang: “Bola kulit dan pakaian dapat kita pikirkan kemudian. Yang penting adalah hari latihannya dan kesanggupan kalian untuk berlatih sungguh-sungguh dan teratur. Tanpa itu semua adalah omong kosong.” Biasanya, teman-teman sadar pesona dan kekuatan Kunti bila berucap “omong kosong”. Mereka tidak kepikiran kesopanan atau pembedaan gaya bicara antara lelaki dan perempuan. 


Padahal, ada temannya yang bernama Sumba (penyerang) pernah menyindir: “Aku sudah memberi peringatan kepada kalian semua. Kalau ada seorang anak perempuan di antara kita, maka perkumpulan ini akan menjadi perkumpulan adu mulut. Perempuan selalu banyak cing…” Kalimat yang belum selesai, mendapat balasan yang keras dari Kunti: “Sekali lagi kau berani bermulut besar, kau akan kukeluarkan dari perkumpulan ini, Sumba! Aku adalah ketuanya. Ketua yang sah berdasarkan pemilihan. Seorang ketua berhak menghukum atau mengeluarkan salah seorang anggotanya bila berbuat salah. Jangan kaulupakan itu!”


Anak-anak yang membaca novel buatan Arswendo Atmowiloto itu bisa tertawa. Novel yang mengandung humor. Di situ, ada perempuan yang sulit dikalahkan. Kunti menjadi tokoh idaman bagi para pembacanya. Perannya (terlalu) besar dan menentukan nasib Perkumpulan Sepakbola Layang-Layang. Perkumpulan itu memang dibuat dengan pendanaan melalui membuat dan menjual layang-layang. Sebelumnya, ada beberapa usulan nama: PS Cenderawasih, PS Rajawali Muda, PS Singa Sakti, PS Semut, PS Burung Gereja, dan PS Sederhana.


Di beberapa pertandingan, mereka sering menang. PS Layang-Layang telah mendapatkan nama dan “ditakuti”. Namun, mereka juga pernah mengalami kekalahan tapi secara terhormat. Semuanya dipengaruhi sikap Kunti. Perempuan yang memiliki keberanian dalam berucap dan tindakan. Kita ambil contoh saat ia memberi petunjuk dalam pertandingan: “Omong kosong. Kau seharusnya jangan berkata demikian. Seharusnya kau sadar pada waktu turun minum. Kau dapat mengubah cara penyeranganmu.” Di halaman-halaman novel, tidak ada upaya memberi sebutan Kunti adalah “penguasa omong kosong” gara-gara keseringan mengucap dengan awalan atau akhiran: “omong kosong”.


Kita mengutip lagi: “Omong kosong… Kau jangan terlalu berlebih-lebihan menganggap mereka. Semangat kita bisa runtuh sebelum bertanding. Semangat berjuang untuk menang harus tetap kita jaga. Kalau semangat kita berkobar-kobar, maka separuh dari pertandingan ini telah kita menangkan. Mengerti kalian?” Kita membayangkan sosok Kunti itu berwibawa.


Novel yang bisa dicetak ulang bagi pengajaran sastra dan olahraga. Di sastra Indonesia, kita memerlukan bacaan anak dan remaja yang sanggup memberi rangsang untuk perkembangan pelbagai olahraga. Arswendo Atmowiloto telah membuktikan menceritakan balbalan. Pada suatu masa, ia pun menulis novel mengenai bulutangkis. Kita pun tidak sungkan memberi pujian pada Arswendo Atmowiloto yang tekun mengembangkan sastra-olahraga di Indonesia.


_______


Biodata Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Sunday, September 6, 2026

Puisi-Puisi Ahad Sore

Puisi Ahad Sore



 

Mesin Tik Pemberian Ayah

 

Dengan mesin tik pemberian ayah

aku menuangkan segala gundah

dari A sampai Z

dari Z kembali ke A

 

berkat mesin tik pemberian ayah

aku punya buku warnanya merah

yang kutik susah payah

menjelma rangkaian kisah

 

dari A sampai aduh

Dari aduh sampai aduhai

 

mesin tik itu kini teman terbaikku

yang menemaniku menghirup aroma sabtu

ia mendengarkan cerita-ceritaku

menuliskan keluh-keluhku

 

aku pun mendengarkan selalu

kata-katanya yang syahdu

tik-tik-tik-ting!

tik-tik-tik-ting!

 

2025

 

  

Tik Tanpa Tok

 

Jariku menari-nari

di atas kibor

dan cangkir kopi

lahirlah puisi-puisi

 

Jarimu menggulir-gulir

di layar pintar

dan gelas matcha

lahirlah kicau mania.

 

2026

 

 

Rumah Singgah

 

Kubuatkan sebuah rumah yang bisa

menjadi tempatmu rebahkan lelah

atau bersantai dari segala marah

 

rumah ini dindingnya begitu hangat

tapi saat cuaca panas ia akan berubah

menjadi dingin, kau akan merasa

nyaman beristirahat dan pulang

 

di pekarangan yang sedikit luas

aku menanam bunga-bunga yang

harumnya akan sampai ke depan

pintu kamarmu; yang sejuk

dan dilengkapi seperangkat

alat tidur nyenyak

 

kita memang singgah di sini

sekarang, besok, lusa, bahkan

selama yang kamu mau.

 

2026

 

 

Kalibrasi, Kalibrasi!

 

Kurentangkan kembali isi kepalaku

di hadapanmu, berharap kau mengerti

segala yang ada di kepalaku

 

ternyata isi kepalamu jauh lebih

banyak dan rumit dan menyebalkan

 

kita bertemu di satu titik

kita berhadapan di titik lain

 

aku menghitungnya kembali

hingga kau dan aku benar-benar

berada dalam satu frekuensi.

 

2026

 


Tik Tuk Tik Tuk

 

Mengetik

   mengetuk

mengetik

    memeluk

mengetik

    merasuk.

Ting!

 

2026

 

 

 _______

Penulis


Ahad Sore adalah penulis puisi yang bermukim di Kota Depok. Ia merupakan dosen creative writing di sebuah kampus swasta di Jakarta. Ia juga mendirikan penerbitan buku di Kota Depok dan menerbitkan sejumlah buku puisi. Ia aktif di Instagram, TikTok, dan Thread dengan akun @ahadsore.

 

Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Cerpen Serayu Gendis Ruhani | Satu Pekan Sebelum Kau Mati

Cerpen Serayu Gendis Ruhani

 


 Apakah di surga nanti, pekarangannya akan dilimpahi bunga kamelia dan penjaga-penjaga gagah semacam pohon cedar dengan jalur kerikil ke sepanjang aula doa? Ah, aku lupa, orang-orang di surga tidak peru repot berdoa. Tidak seperti aku. Amat tidak tahu diri bagi seseorang yang lupa caranya berdoa untuk bicara soal surga.

 

Aku pergi ke Jepang berkat harta gono-gini selepas perceraian kami satu bulan yang lalu. Kemungkinan besar dia masih mencintaiku sewaktu ia mengantarku ke bandara, ciuman perpisahan itu mendarat di pipiku dan aku hanya membalasnya dengan senyuman. Aku memutuskan untuk pergi ke kuil, menjalankan misi, satu pekan sebelum aku mati. Tentu saja aku tidak mengatakan niatku yang sesungguhnya, ketika ia bertanya, mengapa aku harus pergi ke Jepang, aku bilang, “aku akan menghabiskan uangmu dengan caraku sendiri.”

 

Jadi, mari kita pikirkan bagaimana cara terbaik untuk mengakhiri hidup. Aku berencana membicarakannya dengan pendeta kuil hari ini. Opsi pertama yang ada di kepalaku adalah, aku akan menulis ribuan papan doa selama satu pekan penuh, dan dengan sedikit katalis, aku akan mati kelelahan.

 

Sembilan puluh jam perjalanan dari Nagoya menuju Prefektur Mie, aku belum lelah sama sekali, ketika aku tiba di depan Torii, pria dengan hakama biru gelap sampai dengan mata kaki itu sedang menyapu tanah, entah dari apa karena daun belum ingin gugur. Aku tidak yakin dia lancar berbahasa Inggris, atau aku yang tidak percaya diri dengan kemampuanku dalam berbahasa Jepang, jadi, aku melewatinya begitu saja.

 

“Permisi.”

 

Aku tersenyum getir, ia berdiri tepat di hadapanku, tampak dari mataku giginya berjajar rapi semacam pagar yang sudah kekuningan, kepalanya botak dan berkacamata. Tidak kusadari kapan tepatnya angin menerbangkan jubah putihnya. Dia membawaku masuk ke dalam kuil seperti sudah mengetahui kedatanganku jauh-jauh hari. Dan saat aku masuk, kerap pula kupikirkan kemungkinan bahwa aku akan diusir, ternyata tidak. Dia menyuguhkan aku secangkir teh, dan memintaku duduk. Dia pikir aku seperti turis lainnya, bagaimana jika dia tahu aku kesini untuk mati.

 

Kendati aku sudah menunggu selama lima belas menit, teh dalam porselen itu tidak kunjung dituangkan. Aku sudah merasa kesemutan ketika aku menoleh dan mendapati pria penyapu halaman itu sudah duduk di belakangku. Tidak ada yang mulai bicara, aku merasa keheningan benar-benar besar serupa raksasa.

 

Jadi, aku berinisiatif memperkenalkan namaku, asal negaraku dan tujuanku kemari dengan bahasa Jepang yang gagap. Mendengar itu, pendeta mengangguk-angguk seperti burung perkutut. Lantas ia mulai menuangkan teh sampai cangkir itu penuh. Aku akan menganggap ini sebagai sebuah tanda bahwa aku telah diterima

 

“Sial, pahit sekali!”

 

Rupanya mereka sudah menduga bahwa aku akan memuntahkannya. Aku masih merasakan langit-langit mulutku meninggalkan rasa sepat yang tidak terkira. “Kau belum siap mati,” katanya. Sesungguhnya, aku tidak sedang dirasuki perasaan-perasaan muram. Perceraianku sama sekali tidak memerangiku, hanya saja untuk tetap hidup, harus kujelaskan arti kekalahan ini, dan aku belum menemukannya.


Suatu Rabu di bulan sembilan, kenanganku tentang siang itu adalah yang paling getir dan terasa lebih lengkap ketika ia pulang ke apartemen pada hari yang mendung. Dengan penampilan paling berantakan ia bilang, “Aku ingin kita bercerai.”

 

Awalnya aku mengira ia bercanda dan memberinya secangkir kopi. “Daripada itu, kau lebih perlu mandi dibandingkan dengan perceraian.” Dia menggeleng serius, “bagaimana dengan pizza? Mau? Keju? Dia menggeleng untuk sekian banyak opsi yang biasa aku tawarkan ketika kami tengah bertengkar.

 

“Aku serius.”

 

Seperti pasangan kebanyakan, aku bertanya soal apa yang membuat ia begitu murka. Dia bilang, tidak ada yang salah dengan diriku. Ini aneh, jika kesalahan manusia dianggap seperti sebuah gigi berlubang yang mengerogotimu dari dalam, barangkali seperti itulah kenyataan yang ingin dia ungkapkan padaku. Setelah beberapa lama aku lelah dengan pertanyaanku sendiri. Aku mulai curiga bahwa ia menghukumku tanpa berpikir panjang.

 

Jadi kami sepakat bercerai.

 

Keesokan harinya, kepalaku masih pusing dan tidak mendapati seseorang untuk dicium di pagi hari. Aku hampir lupa apa yang kami obrolkan, tapi aku ingat dia membawa koper untuk kembali ke rumah orang tuanya. Saat aku membuka jendela untuk meredakan mabuk, aku merasa angin benar-benar menamparku. Bagus, itu membuatku sadar.

 

Sepanjang proses perceraian kami, aku merasa dia mulai menyukai perangaiku yang putus asa. Kendati aku menatapnya dengan gemetar, ia sama sekali tidak mengizinkan aku untuk membawanya pulang. “Sudah, cukup. Aku benar-benar tidak bisa bersamamu lagi.” Kalimat itu seperti menarikku ke masa-masa awal pernikahan kami. Saat aku merasa tidak ada perbedaan yang menghalangi dua manusia untuk jatuh cinta. Memilikinya sebagai pasangan seperti sebuah persyaratan hidup bagiku, atau ia adalah hidup itu sendiri, hidup yang begitu memuaskan.

 

“Semoga kau bahagia,” imbuhnya sembari memberikan akta cerai.

 

Aku kembali menyesap teh yang semula kumuntahkan. Entah karena haus sebab sudah bercerita panjang lebar dengan susah payah, atau karena aku sudah siap mati, rasa sepatnya tidak terlalu menusuk lidah seperti pertama kali aku mencicipinya.

 

“Sekarang tidak terlalu pahit, apa aku sudah boleh mati?”

 

Pendeta lagi-lagi mengangguk. Ia mengisyaratkan pria penyapu halaman dengan menaikan satu tangan lewat jubah putihnya. Aku celingukan karena tidak tahu hal apa yang selanjutnya akan terjadi, tetapi aku berusaha untuk menurut. Mereka memberikan aku Miko untuk dikenakan. Sebuah hakama merah dengan atasan seputih tulang.

 

“Bawa ia berkeliling.”

 

Kami menjaga jarak hampir setengah meter, aku membiarkan dia untuk berjalan di depan. Pria penyapu halaman itu mengenalkan dirinya dengan nama Tsurukawa. Aku mengangguk, dia sudah tahu namanku. “Jadi sebenarnya, apa yang membuatmu ingin mati? Apakah kematian akan memuaskan hasratmu?”


“Barangkali begitu.”

 

Aku tidak memiliki jawaban yang memusakan, oleh karena itu aku berada di sini. Berharap beberapa ceramah dari pendeta akan membuatku lebih rela menuju kematian. Sekonyong-konyong aku memperlihatkan kepasrahanku. Kami bersandar pada terali di bagian belakang kuil. Di depannya ada kolam yang memantulkan wajah bulan. Dan Tsurukawa mulai membaca sutra yang tidak aku mengerti artinya.

 

Perasaan kecewa mau tidak mau menghampiriku. Hari ini, aku masih hidup, dan bukan itu tujuanku. Sambil menatap atap-atap yang kosong, aku memikirkan rencana bunuh diri. Pilihan pertama untuk gantung diri sudah harus gugur melihat sama sekali tidak ada penyangga apa pun di sini, aku tidak bisa membuat simpul. Dapur? Pisau? Bagaimana dengan memotong nadi?

 

Jadi, aku beregas ke dapur dengan jalan yang Tsurukawa beri tahu kemarin. Aku mendapatinya sedang menanak bubur dengan peluh menetes dari dahi. “Selamat pagi, kau sudah lapar?” Aku menggeleng malu. Dari balik punggung Tsurukawa aku mencuri pandang ke sekitar dapur, hampir tidak ada benda tajam. “Ada yang bisa aku bantu?” kataku, karena tidak mendapat apapun.

 

Aku memergokinya menatapku terlalu lama ketika kami sarapan di pelataran aula. Ia memberikan aku semangkuk bubur hambar yang tidak enak sehingga mungkin saja Tsurukawa akan marah kepadaku karena cara makanku yang tidak berselera. Tsurukawa punya mata gelap yang mengintimidasi dengan rambut yang dipangkas pendek. Tubuhnya bersih dan putih seperti hampir tidak pernah tersengat matahari. Aku mencoba tersenyum ketika lagi-lagi mata kami bertemu, saat aku mencoba menelan bubur masakannya.

 

“Aku selalu menyukai seseorang ketika sedang makan. Kau tau, manusia tidak bisa berbohong jika di depan makanan,” kataku sambil mensejajarkan langkahnya.

 

“Benarkah? Kalau begitu, aku menyukai cara makanmu, kau terlihat jujur ketika memakan buburku yang hambar.” Tsurukawa tertawa. Mendengar kalimatnya, jantungku seperti tertusuk sebilah pisau, yang langsung berdarah saat itu juga.

 

“Ada apa?” Tanyanya.

 

“Jawabanmu, sama persis seperti apa yang pernah Isabela katakan padaku.”


“Isabela?”

 

“Mantan istriku.”

 

Tsurukawa terlihat terkejut, aku tahu, itu bukan kesalahannya. Butuh keberanian bagiku mengatakan bahwa aku adalah seorang lesbian. Sepanjang perjalanan aku mengenal diriku sendiri, aku tidak pernah bisa tertarik dengan laki-laki. Sesaat setelah Isabela meninggalkanku karena ia berhasil ‘sembuh’ dan jatuh cinta dengan laki-laki, aku merasa kalah. Kekalahan yang tidak bisa aku terima hingga aku ingin mati.

 

“Tsurukawa dengar, kau harus membantuku untuk mati hari ini juga.”

 

Kali pertama aku menatap laki-laki dengan jarak yang begitu dekat. Bau badan Tsurukawa yang sangit seperti menyatu dengan wangi kuil yang lantas menenggelamkan aku lebih dalam pada keputusasaan.


 “Izinkan aku mati dalam satu pekan.”

 

______

 

Penulis

 

Serayu G. Ruhani, dua puluh enam tahun yang lalu lahir di Depok. Saat ini tidak memiliki kesibukan lain selain menjadi Ibu rumah tangga. Beberapa kali sering membunuh waktu dengan menulis. Beberapa tulisan bosannya dapat ditemukan di akun instagram pribadinya @lynxamandaa. Saat ini ia aktif tergabung di komunitas Area Penjelajah Sastra.

Email : veniaamanda25@gmail.com


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com



Saturday, September 5, 2026

Resensi Kabut | Pernikahan dan Kekuasaan

Oleh Kabut




Takdir dalam kesusastraan anak tetap berlaku sampai sekarang: cerita kerajaan. Maksudnya, cerita-cerita mengenai raja, permaisuri, pangeran, dan puteri masih terus dilestarikan dan dibuat. Kita mengetahui cerita-cerita itu condong mengenai “pernikahan” dan “kekuasaan”. Anak-anak yang menikmati ceritanya secara lisan dan tulisan seolah tidak merasakan jemu. Konon, imajinasi berpusat kerajaan tetap memikat, belum ada tandingannya.


Pesona itu makin kuat bila dibuat film-film di perusahaan-perusahaan besar Amerika Serikat, yang ditonton jutaan anak di pelbagai negara. Cerita mengenai kerajaan dengan segala hal yang megah tetap menggiring imajinasi yang meriah. Di hadapan buku, anak-anak mengetahui nasib para tokoh dan suasana kerajaan melalui kata-kata dan ilustrasi. Pada saat menonton film, mereka makin merayakan imajinasi silam yang tampak dari busana, makanan, kereta kuda, senjata. Arsitektur, dan lain-lain.


Kita kadang bingung dengan fanatisme cerita anak yang selalu memunculkan para tokoh di kerajaan atau istana. Anehnya, masalah pernikahan dianggan sangat penting dan menentukan dalam alur. Yang menyimak cerita kerajaan pun memiliki daftar fitnah, kebohongan, pengkhianatan, pembunuhan, kutukan, dan lain-lain. Pokoknya segala hal itu dianggap seru. Buktinya, cerita mengenai kerajaan awet selama berabad-abad. Di Indonesia, anak-anak tetap menggemari cerita kerajaan, yang berlatar di Nusantara atau tempat-tempat asing.


Pada 1976, terbit buku berjudul Puteri Berwajah Buruk gubahan M Poppy Donggo Hutagalung. Judul yang tidak salah. Judul yang tidak buruk. Sejak judul, pembaca sudah dibujuk membayangkan gadis yang wajahnya buruk. Gadis yang berada di istana tapi berwajah buruk. Pembaca memikirkan sikap raja dan permaisuri yang putrinya berwajah buruk. Padahal, kita sering menetapkan bahwa puteri harus cantik-jelita atau anggun.


Anak-anak cepat paham bila pengarang memberi judul menggunakan penyebutan “puteri”. Percayalah bahwa yang diceritakan adalah pernikahan dan kerajaan. Kita sangat mudah membuktikannya dengan membuka halaman-halaman buku. 


Dulunya, buku yang diterbitkan Pustaka Jaya itu ditempeli keterangan yang dibuat oleh Tate Sere. Di balik sampul depan, tercantum keterangan menggunakan mesin tik: “Selamat membaca cerita ini dan semoga Zippy senang dan puas.” Buku sebagai hadiah dari tante. Zippy diharapkan bisa khatam. Yang terpenting anak itu mendapatkan kesan atas cerita yang digubah M Poppy Donggo Hutagalung. Kita menduga buku cerita itu mengena pada pembaca perempuan ketimbang lelaki. Penentunya adalah tokoh-tokoh yang “terpenting” adalah perempuan.


Yang dikenalkan awal adalah Puteri Mawar. Sosok yang “sempurna” bila mengikuti pengisahan dari pengarang: “Puteri Mawar menjadi mawar di istana, bahkan dalam kerajaan ayahandanya. Bila ia berlari-lari kecil di dalam tamannya yang indah di depan istana, maka akan merunduklah sekalian bunga, seakan-akan tak kuasa menentang kemolekannya.” Penjelasan yang belum cukup. Kita melanjutkan mengikuti pengakuan Puteri Mawar saat berada di depan cermin: “Alangkah bagus mataku, bersinar bagai bintang kejora. Alangkah indah mulutku, merah bagai mawar merekah. Alangkah mungil hidungku, alangkah lentik alisku. alangkah legam rambutku, berkilau bagai ombak tertimpa sinar matahari.” Putri yang membuat raja dan permaisuri bahagia. 


Para pembaca gampang tergoda untuk memuja Puteri Mawar. Ia masih memiliki pelbagai keistimewaan. Kita makin mengerti bahwa cerita mengenai kerajaan memang mengharuskan kesempurnaan, yang melampaui batas-batas kewajaran. Maka, imajinasi pembaca (sangat) boleh berlebihan. Puteri Mawar itu idaman. Para pembaca ingin menjadi seperti Puteri Mawar meski tidak lagi hidup di zaman kerajaan. 


Perbedaan mulai disajikan melalui adik Puteri Mawar. Sosok yang berkebalikan. Anak itu dinamakan Puteri Melur. Pembaca dibuat terkejut, dikenalkan dengan sosok yang bertentangan setelah memuja Puteri Mawar. Yang ditulis pengarang mengenai Puteri Melur: “Ia mempunyai wajah yang teramat buruk. Matanya kecil tak bersinar, hidungnya besar, bibirnya hitam tebal, rambutnya pendek dan jarang.” Namun, ia tetap anak dari raja dan permaisuri, yang sebelumnya memiliki Puteri Mawar. Artinya, dua puteri yang hadir dalam perbedaan. Buruk itu ditanggapi raja dan permaisuri dengan menghilangkan semua cermin yang pernah ada di istana. Maksudnya, Puteri Melur tidak perlu melihat dirinya di cermin. 


Dua putri bertumbuh dewasa, yang berbeda nasib. Raja dan permaisuri bingung dalam mengasihi dua putri. Diskriminasi pun terjadi. Kita ingat lagi bahwa cerita mengenai kerajaan pasti berurusan pernikahan. Puteri Mawar akhirnya menikah. Ia mendapatkan pangeran yang istimewa. Raja berbahagia sekaligus menampilkan diri sebagai sosok yang “memerintah” secara buruk. Yang disampaikannya kepada Puteri Melur: “Dengar, Melur. Sebentar lagi kakakmu akan melangsungkan perkawinan. Pada hari itu, engkau tidak boleh menampakkan diri di ruang pesta. Hanya ada satu tempat bagimu, dan tempat itu adalah belakang tirai. Jangan beranjak dari situ, kalau engkau tak mau didera.” Cerita yang membuat pembacanya menaruh kasihan pada Puteri Melur. Raja yang tidak adil. Raja yang diskriminatif. Raja yang melakukan pelanggaran hak asasi manusia.


Pada situasi berbeda yang mentiksa, Puteri Melur menyadari dirinya buruk. Ia minggat dari istana. Perjalanan yang mengandung sedih, kecewa, marah, dan bingung. Di suatu desa, ia bertemu dengan ibu yang pengasih. Puteri Melur bernasib mujur. Ia diajak hidup di rumah Ibu Anik yang kesehariannya berdagang. Di situ, Puteri Melur belajar menjadi manusia biasa. Ia melakukan pekerjaan sehari-hari. Kenyataan yang membuatnya sadar perbedaan lakon hidup para penghuni istana dan rakyat. 


Puteri Melur menyadari kehidupan rakyat yang bekerja keras. Desa yang tidak sejahtera. Makanan yang (sangat) sederhana. Busana yang sepatutnya saja. Ia mengingat di istana sering diadakan pesta, yang memamerkan busana dan makanan. Di desa, Puteri Melur belajar hidup pada Ibu Anik dan rakyat. Pengarang seperti sedang mengumumkan pada pembaca mengenai kegagalan raja dalam mencipta kemakmuran dan kebahagiaan rakyatnya. 


Puteri Melur, perempuan yang berwajah buruk memiliki kepekaaan atas nasib rakyat. Ia ingin mengubahnya tapi mesti melalui kekuasaan. Anak-anak yang membaca cerita berjudul Puteri Berwajah Buruk perlahan belajar tema kekuasaan, selain pernikahan. Jadi, para pembaca mungkin memihak keberanian Puteri Melur dalam mengalami hidup sebagai rakyat. Ia tidak berada dalam kemewahan. Setiap hari, yang dipelajarinya adalah hidup yang merakyat meski dirinya berasal dari istana. Ia tetap saja keturunan raja dan permaisuri tapi sikapnya menembus tembok istana, mengerti dan mengasihi rakyat.


_______


Penulis


Kabut, penulis lepas.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com



Thursday, September 3, 2026

Esai Afrian Rahardyaning Pangestu | Secangkir Kopi Cinta: Menikah karena Ibadah atau karena Takut Tertinggal?

Esai Afrian Rahardyaning Pangestu



Ada sebuah pertanyaan yang semakin sering terdengar di tengah masyarakat: “Kapan menikah?” Pertanyaan itu terdengar sederhana, bahkan sering dianggap sebagai bentuk perhatian. Namun, bagi sebagian orang, pertanyaan tersebut bisa berubah menjadi tekanan. Apalagi ketika teman sebaya satu per satu mengunggah foto lamaran, akad, pesta pernikahan, hingga kehidupan rumah tangga di media sosial. Masalahnya, hidup bukan kereta yang akan meninggalkan kita hanya karena belum menikah. Namun, tanpa sadar, banyak orang mulai melihat pernikahan sebagai sebuah perlombaan. Bukan lagi bertanya, “Apakah saya sudah siap menikah?”, tetapi, “Mengapa orang lain sudah menikah sementara saya belum?” Di titik inilah sebuah pertanyaan menjadi penting: kita menikah karena ibadah atau karena takut tertinggal?

 

Pernikahan memang merupakan ladang ibadah. Membangun keluarga, menjaga kehormatan diri, saling mencintai, menjalankan tanggung jawab, dan membesarkan generasi merupakan bagian dari kehidupan yang bernilai. Tetapi niat baik tidak otomatis membuat seseorang siap menjalani pernikahan.

 

Menikah itu mudah. Yang sulit adalah menjadi pasangan yang baik setelah akad selesai. Akad mungkin hanya berlangsung beberapa menit, tetapi setelah itu ada tagihan ini itu, perbedaan kebiasaan, ego, sikap keluarga besar dari pihak kita dan mertua, pekerjaan, masalah keuangan, konflik, dan berbagai tanggung jawab yang tidak bisa diselesaikan dengan satu kalimat, “Kan kita menikah karena ibadah.”

 

Oleh karena itu, kalimat “Saya ingin menikah karena ibadah” memang indah bahkan mulia banget, tetapi harus diikuti pertanyaan yang lebih jujur: apakah kita siap beribadah melalui kesabaran, akhlak, tanggung jawab, kompromi, dan pengorbanan yang tidak selalu terlihat indah? Jangan sampai kita ingin mendapatkan pahala dari pernikahan, tetapi kita malah belum siap menjalankan kewajiban di dalamnya. Jangan sampai ingin menikah segera, tetapi masih suka berkata kasar, mudah terpancing emosi, mudah berprasangka buruk, dan gemar menghakimi orang lain. Coba pikirkan hal itu.

 

Kita juga perlu berhenti menganggap bahwa calon pasangan yang baik hanya bisa dinilai dari seberapa “alim” penampilannya. Tentu, ilmu agama adalah sesuatu yang sangat penting. Tetapi ilmu tanpa akhlak, itu bagaikan AK-47 yang dipegang oleh pelajar SMA yang sedang tawuran.

 

Sebab banyak banget kasus di mana orang-orang yang bisa hafal Al-Qur'an sekian juz, hafal banyak hadits, rajin ikut pengajian ke mana-mana, lulusan pesantren atau sekolah agama, bahkan pandai berbicara tentang agama, tetapi itu belum menjadi jaminan bahwa dia mampu menjadi pasangan yang baik. Ingat, kita ini sedang cari suami, bukan cari imam masjid. Kita ini sedang cari istri, bukan sedang cari ustazah untuk mengisi pengajian atau ngajar di pesantren. Mencari imam masjid atau ustazah untuk ngajar di pesantren, kita harus tahu seperti apa akhlaknya, sikapnya, karakternya. Apalagi untuk mencari suami atau istri? Betul atau benar?

 

Kita juga harus mengetahui bagaimana sikapnya ketika marah? Apakah lisannya dan perbuatannya tetap terjaga? Apakah dia mampu menghormati orang yang berbeda pendapat? Bagaimana sikap dia ketika bertemu dengan orang yang tidak sesuai harapannya? Apakah dia mampu meminta maaf? Apakah dia menjaga batas dengan lawan jenis? Sebab pada akhirnya, yang akan hidup bersama kita bukan jumlah hafalannya, bukan gelarnya, dan bukan citra religiusnya, tetapi karakternya. Kita tidak sedang mencari manusia sempurna, tetapi kita perlu mencari manusia yang mau memperbaiki diri dan memiliki akhlak yang bisa dipertanggungjawabkan.

 

Masalahnya, generasi hari ini hidup di tengah budaya membandingkan dan budaya validasi. Instagram dan TikTok membuat kita setiap hari melihat siapa yang baru lamaran, siapa yang menikah, siapa yang honeymoon, siapa yang membeli rumah, dan siapa yang sudah memiliki anak. Yang tidak kita lihat adalah apa yang terjadi setelah kamera dimatikan.

 

Kita melihat foto pasangan tersenyum di pelaminan, tetapi tidak melihat pertengkaran mereka malam sebelumnya. Kita melihat caption “my forever”, tetapi tidak tahu bagaimana mereka menyelesaikan konflik. Kita melihat kehidupan orang lain dari potongan terbaiknya, kemudian membandingkannya dengan kehidupan kita secara keseluruhan. Akhirnya muncul perasaan, “Semua orang sudah maju, kok saya masih di sini?” Padahal belum tentu mereka lebih bahagia, belum tentu pernikahannya lebih sehat, dan belum tentu jalan hidup mereka mulus-mulus saja. Media sosial akhirnya bukan hanya tempat berbagi kebahagiaan, tetapi juga bisa menjadi pabrik kecemasan sosial.

 

Di sinilah penyakit takut tertinggal mulai bekerja. Teman menikah, kita panik. Adik kelas menikah, kita merasa tertinggal. Teman sekolah sudah punya anak, orang tua mulai bertanya, “Kamu kapan nikah? Papa dan Mama pengen punya cucu."

 

Akhirnya keputusan sebesar pernikahan malah dibuat hanya karena kita tidak tahan dengan suara-suara sumbang dari orang lain. Lucunya, masyarakat sering menganggap belum menikah sebagai masalah, tetapi jarang bertanya apakah seseorang sudah mempersiapkan diri menjadi pasangan yang baik. Kita sibuk menghitung umur, tetapi lupa menghitung kedewasaan. Sebab kedewasaan sikap seseorang, tidak ditentukan oleh umur kita. Masih banyak orang yang umurnya dewasa, fisiknya dewasa, tapi sikapnya seperti bocah.

 

Jangan sampai kita memilih menikah karena sudah dikejar oleh umur yang makin menua. Lebih baik menikah muda, tetapi siap secara mental, karakter, dan ilmu, daripada menikah tua tapi belum siap secara mental, karakter, dan ilmu. Kalau umur 18 tahun sudah siap menikah, ya menikahlah. Kalau umur 40 tahun belum siap menikah, ya jangan dulu menikah.

 

Ada pula anggapan bahwa seseorang sudah siap menikah hanya karena sudah bekerja. Memang, kemampuan finansial penting. Rumah tangga membutuhkan nafkah, perencanaan, dan pengelolaan uang yang baik. Tetapi mari jujur: menikah bukan transaksi antara gaji dan buku nikah. Banyak orang merasa sudah siap menikah hanya karena sudah memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap yang terbilang besar. Padahal kesiapan menikah bukan soal duit doang. Ada orang yang gajinya besar, tetapi akhlaknya buruk; pemarah, masih suka cengengesan dengan lawan jenis yang bukan mahrom, masih nyaman terlalu akrab dengan lawan jenis yang bukan mahrom, bahkan masih suka bersikap kasar. Lalu dengan mudahnya mengatakan, “Saya sudah siap menikah.”

 

Hei, kamu siap yang kayak gimana!? Siap menafkahi, tetapi belum siap menjaga diri? Siap membayar kebutuhan rumah tangga, tetapi belum siap mengendalikan emosi dan menjaga lisan?

 

Punya pekerjaan saja, tidak otomatis membuat seseorang menjadi dewasa. Punya gaji besar, tidak otomatis membuat seseorang berakhlak baik. Bahkan jabatan tinggi pun tidak menjamin seseorang mampu menjadi pasangan yang aman. Kita terlalu sering bertanya, “Kerjanya apa?” dan “Gajinya berapa?”, tetapi lupa bertanya, “Kalau dia marah, dia menjadi manusia seperti apa? Apakah dia tetap menjadi manusia atau berubah menjadi Hulk?” Sebab bisa saja seseorang terlihat baik di luar rumah, tetapi sangat kasar kepada orang terdekat. Bisa memiliki rekening yang sehat, tetapi emosinya tidak sehat. Bisa punya mobil bagus, tetapi lisannya menyakiti. Oleh sebab itu, menikah bukan hanya soal mampu membawa uang ke rumah, tetapi juga mampu membawa ketenangan ke dalam rumah.

 

Setelah menikah, lawan jenis tetap ada, media sosial tetap ada, godaan tetap ada, rasa bosan tetap mungkin muncul, dan konflik tetap akan terjadi. Yang membuat seseorang setia bukan karena setelah menikah seluruh godaan menghilang, melainkan karena ia memiliki integritas ketika tidak ada yang melihat.

 

Begitu pula dengan kemarahan. Jangan berharap akad nikah menjadi tombol reset kepribadian. Orang yang kasar sebelum menikah, maka tidak otomatis menjadi lembut setelah menikah. Orang yang egois tidak akan tiba-tiba menjadi dewasa, hanya karena memakai cincin. Orang yang tidak mampu menjaga batas dengan lawan jenis, tidak otomatis menjadi setia hanya karena sudah memiliki pasangan. Akad nikah bukan tombol reset. Pernikahan justru sering menjadi tempat karakter seseorang terlihat semakin jelas.

 

Pesta hanya berlangsung sehari, sedangkan kehidupan rumah tangga berlangsung bertahun-tahun. Cincin mungkin dipamerkan di media sosial, tetapi akhlak pasangan akan kita temui setiap hari. Yang menentukan kualitas rumah tangga bukan seberapa mahal pesta pernikahan, tetapi bagaimana dua orang berbicara ketika sedang marah, bagaimana mereka menyelesaikan masalah ketika uang sedang sempit, bagaimana mereka meminta maaf ketika salah, dan bagaimana mereka tetap saling menghormati ketika tidak ada yang melihat.

 

Mungkin sudah waktunya kita mengubah pertanyaan. Bukan lagi, “Kapan kamu menikah?”, tetapi “Untuk apa kamu menikah?” Bukan lagi, “Kenapa belum punya pasangan?”, tetapi, “Sudahkah kamu siap menjadi pasangan?” Dan bukan lagi, “Takut tidak kebagian jodoh?”, tetapi, “Apakah kamu benar-benar ingin menikah, atau hanya takut hidupmu terlihat tertinggal?”

 

Jika keputusan sebesar pernikahan hanya dibuat untuk membungkam pertanyaan keluarga, memenuhi standar lingkungan, atau mengejar kehidupan yang terlihat indah di media sosial, kita sebenarnya sedang menyerahkan masa depan kepada orang-orang yang tidak akan menjalani rumah tangga itu bersama kita. Mereka mungkin hadir di pesta, memberi selamat, makan-makan, dan mengunggah foto. Tetapi ketika rumah tangga sedang berantakan, yang harus jungkir balik adalah kita, bukan mereka.

 

Pada akhirnya, mungkin pertanyaan paling penting bukan “Kapan menikah?”, tetapi “Ketika aku menikah nanti, apakah aku benar-benar siap menjadi pasangan yang baik?”

 

Dan sebelum mencari seseorang untuk dinikahi, kita mungkin perlu bertanya lebih jujur kepada diri sendiri: “Kalau tidak ada seorang pun yang bertanya : kapan nikah, apakah aku tetap ingin menikah sekarang?”

 

Jika jawabannya adalah ingin menikah sekarang karena kita sadar dengan tanggung jawab, selalu memperbaiki sikap serta karakter, dan ingin menjalani pernikahan sebagai bagian dari ibadah, maka silakan menikah.

 

Tetapi, jika kita menjawab : ingin menikah karena takut tertinggal, takut umur makin tua, fisik makin tua, mungkin kita jangan dulu menikah. Kita harus mendewasakan sikap kita terlebih dahulu. Sebab, bisa jadi selama ini kita bukan takut kehilangan jodoh. Kita hanya takut terlihat kalah cepat.

 

______

Penulis

Afrian Rahardyaning Pangestu, penulis adalah guru Matematika dan Bahasa Inggris untuk SMP serta SMA. Pernah juga menjadi guru IPA dan guru IPS.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com