View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Latest News

Sunday, July 12, 2026

Cerpen Rianda Akbari | Pantulan Dendam Penjaga Sekolah yang Percaya Jalan Pintas

Cerpen Rianda Akbari


Saban pagi, ia getol berdiri di tengah jalan. Rutinitasnya menghadang setiap laju kendaraan yang lewat. Perannya seperti melerai kendaraan yang berselisih pada dua arah berbeda. Ramai. Meski tidak terlalu lebar sebagaimana di kota, jalan ini mampu membuat jantung diuji nyali. Bukannya berkurang, sebaliknya korban nyawa malah melipatgandakan kengerian. Entah, siapa yang melakukan kesalahan. Jalan-jalan bopeng di sana-sini ataukah pengemudi yang dikeker oleh jarum jam. Atau ulah dedemit pun ia tak tahu.

Hari ini ia amat bersemangat daripada sebelumnya. Kelas sudah masuk tahun pelajaran baru. Artinya, tiba waktunya bekerja lagi setelah melewati dua minggu bulukan. Baginya libur panjang adalah puasa tanpa niat.

Selagi matanya awas dan sesekali mulut tersimpul senyum. Ia tak segan sekadar melontarkan sapa, meski orang tersebut tidak dikenalnya. Semisal, “Pagi, Pak!” atau “Berangkat kerja ya, Neng? Hati-hati!” Perilaku itulah yang membuatnya tidak pudar dalam ingatan siapa pun. Terutama di lingkungan sekolah—tempatnya bekerja sekaligus tinggal.

Ia adalah Darman, si penjaga sekolah.

Saat kendaraan muncul di kejauhan, lengannya mengibas memberi sebuah tanda perintah. Sederhana, tongkat diacungkan ke atas seperti menunjuk langit diikuti kerelaan pengemudi mengendurkan tali gas barang sebentar. Kalau tidak, para bocah seragam merah-putih yang bergabung dengannya itu takkan tampak ceria lagi.

Setelah menyeberangkan anak-anak, ia akan beralih memeriksa jamban. Bau jadah menyengat, tahi mengambang sudah timbul tenggelam menunggunya. Selain membaca dan melarang bersin sembarangan ke wajah teman sebangku. Sekolah pun mewanti-wanti agar anak-anak selalu membuang kotoran tubuhnya di lubang yang tepat. Tentu, ditutup dengan menyiram bekasnya hingga tak bersisa. Namun, begitulah anak-anak.

Darman harus mati-matian meladeni si kuning dan bau amonia dengan menyiram segentong dua gentong berulang kali. Jelas bagian itu kerap membuat pekerjaannya terasa lebih berat. Sebetulnya ia sudah bosan mengadu ke para guru sampai kepala sekolah agar sepiteng itu buru-buru diperbaiki. Bagaimanapun menurutnya, mengatasi kotoran yang meluber harus mendahului dari segala masalah yang lain. Hebatnya, mereka akan mengabulkan andaikan uang bos sudah cair, katanya.

Sejak tadi guru-guru sudah berdatangan. Bel velg ban bertalu nyaring. Sembari menenteng sapu lidi, Darman pergi ke arah selasar kelas. Di sana ia berpapasan dengan dua orang guru. Tanpa sapa, tanpa tolehan. Mereka tak berhenti. Seolah menganggapnya orang sinting. Tak seperti biasa guru-guru bersikap cuek bebek. Tiba-tiba kuping terasa rebing. Membuatnya sensitif menangkap kalimat yang mengekor pelan.

“Siapa lagi kalau bukan dia.”

Saat itu Darman tak pernah menaruh firasat apa pun. Ia hanya menganggap kedua orang tersebut sedang bergosip belaka. Membincangkan token listrik yang bersiul sedari subuh atau memamerkan honor yang mungil. Tentu yang tidak berhubungan dengan dirinya.

“Man, nanti sudah bersih-bersih datang ke ruang guru ya,” seru Ayep.

“Baik, Pak.“

Darman mengangguk, seketika ia beranjak dari pekerjaannya. Perlahan pikirannya menghimpun pertanyaan sekaligus agak ragu. Apakah ia melakukan kesalahan atau ada sesuatu yang penting. Hari ini serba janggal, para guru bersikap cuek dan sekarang dipanggil sepagi ini ke ruangan mereka. Apalagi yang menyuruhnya  adalah Ayep. Pengajar paling senior di sekolah ini.

Setibanya di ambang pintu, ia menarik napas. Di dalam, guru senior itu telah menunggu di meja kerjanya. Darman melangkah masuk.

“Kembalikan tabung gas itu!” sontak Ayep memberang.

“Punten, tabung gas apa, Pak?”

“Tak usah berlagak bodoh, tabung gas yang kau jual  itu, bawa balik!”

Darman terperanjat, matanya menatap lekat-lekat, “Bapak sudah menuduh saya.”

Dua minggu lalu, sehari sebelum libur panjang, pintu kayu itu sedikit menganga, seperti sengaja tidak ditutup rapat. Dari celahnya terlihat sesuatu yang asing.

Ia melongok sebentar ke arah ruangan gudang dekat jamban. Di dalam, dua tabung gas tergeletak. Satu di antaranya tampak baru. Catnya belum mengelupas dan segelnya masih utuh. Darman mengerutkan dahi. Ia ingat betul, gudang ini hanya ada tumpukan meja, kursi bersama papan tulis yang sudah rusak.

“Siapa yang simpan tabung gas di sini?” gumamnya.

Langkah kaki terdengar dari kejauhan. Darman buru-buru menutup pintu, tapi tidak sampai rapat. Tangannya sempat menyentuh badan tabung itu, mulus dan sedikit berdebu. Ia menarik kembali tangannya, takut meninggalkan jejak tak kasatmata.

“Pak Darman!”

Suara itu memantul dari arah kantin. Seorang guru honorer melambai, meminta tolong membuka gerbang samping. Darman menyahut cepat, seakan ingin menjauh dari gudang. Sejak itu gerak-geriknya berubah. Ia beberapa kali menoleh ke belakang saat berjalan.

Menjelang bel istirahat, Ayep sempat lewat di dekat gudang. Ia berhenti. Menatap pintu yang tidak tertutup sempurna. Darman yang melihat dari kejauhan, spontan mempercepat langkahnya.

“Biar saya saja, Pak,” katanya, sedikit terengah.

Ayep tidak menjawab. Ia hanya melirik sekilas ke tangan Darman, lalu ke arah pintu gudang, kemudian kembali ke wajahnya. Tatapan itu tidak lama, tapi cukup untuk menaruh pesan.

“Omong kosong! Saya tidak asal menuduh ya! Dengar, takkan ada garong yang mengaku!” bentak Ayep.

Sementara guru-guru yang lainnya terlihat tak acuh. Seolah sependapat dengan tuduhan Ayep. Satu di antaranya mengangguk dengan kacamata yang melorot.  Selanjutnya dia melemparkan pertanyaan ke orang-orang di hadapannya. Lalu mendesak agar mereka bersepakat mengganti penjaga sekolah secepatnya. Lantaran kejadian ini akan menjadi aib yang kelak merembet ke mana-mana. Sejurus itu, pandangan mereka terbagi rata menerjang ke arah Darman. Kecurigaan serasa menyorong ke depan wajahnya.

“Sejak kemarin tabung gas itu hilang. Orang luar tidak mungkin masuk. Tinggal kau yang pegang kunci.”

“Tapi, Pak ,bisa saja ada orang asing menyelinap masuk.”

“Sudah sering kejadian begini. Jauh hari, tabung gas di pojok kantin juga raib.”

“Demi Tuhan! Soal itu tidak ada hubungannya dengan saya,” sanggah Darman.

“Sudahlah Man, tak perlu bawa-bawa Tuhan,” suara Ayep merendah, “Kita tidak perlu memperpanjang lagi, biar impas lebih baik kau keluar.”

“Saya tidak terima, tunggu saja akan saya buktikan semua!” teriak Darman sembari melengos ke luar. Sedangkan Ayep dan para guru tampak terheran melihat reaksinya yang amat ngotot.

Sejak keributan di ruang guru, suasana tak lagi sama. Setiap pekerjaan yang disentuh Darman serba disergap kikuk. Ditambah picingan mata dan bisik-bisik yang terus menguntitnya. Lama-lama, kecurigaan mereka ikut menular kepadanya.

Apakah betul aku mencuri tabung gas? Barangkali saat itu aku tidak sadar melakukannya? Pertanyaan itu silih berputar-putar di benaknya sepanjang waktu hingga membuatnya terjaga di waktu malam. Semakin lama ia bertanya, semakin yakin dirinya sebagai pelaku. Pikiran macam apa ini. Beberapa kali dirinya menyangkal. Mengelak dari pengakuan yang tiba-tiba begitu saja timbul. Agaknya kegelisahan kini turut menjalar ke tubuhnya seperti serigala yang mencabik-cabik dari dalam.

Sekarang Darman terpaku di depan cermin. Memandang nanap benda yang menerakan kemalangannya. Begitu pula pertanyaan-pertanyaan dan ketakutan. Bayangan-bayangan muncul semakin terpancang dalam muara keyakinannya hari ini. Keyakinan untuk memulai satu pembalasan yang ia yakini sebuah kejantanan. Pembalasan yang akan membuat si senior itu morat-marit seumur hidupnya.

Ia telah merancang segala sesuatu agar hari ini berjalan mulus. Mula-mula, ia sumpal rapat celah-celah di sekeliling pintu dengan jejalan kain lap. Ia tekan sekuat tenaga demi tidak meloloskan seupil celah udara di kamar sempit ini. Setelah itu, ia raih tabung gas dan mendekapnya.

Kemudian sebatang paku yang telah dimodifikasi sedemikian rupa ditancap pada mulut tabung agar menahan katupnya tetap terbuka.

Tampak ia agak membusungkan dadanya. Memberi jatah ruang bernapas lebih leluasa. Seakan memberi penghormatan terakhir bagi kemalangan yang ia kutuki itu. Desis gas terdengar nyaring. Seolah saling terburai dari gerbang yang telah lama menahannya. Sekarang, ia memulai sebuah pengakhiran dengan berancang menarik napas sedalam-dalamnya. Berulang kali. Lekat-lekat ia hirup hingga sesak.

Penglihatannya berangsur kabur. Ia yakin pilihannya ini akan berjalan mudah mengundang maut. Sejauh ini ia tidak pernah merasakan keyakinan yang begitu besar seperti sekarang. Keyakinan itu dikerek pula oleh sebuah tulisan “HANYA UNTUK MASYARAKAT MISKIN” yang kian samar dipandangnya.

“Aku bakalan mampus,” gumamnya.

Tubuhnya seketika diserang rasa lemas luar biasa. Tulangnya seolah tak mampu lagi menopang berat badan. Sontak ia terkulai ke arah samping. Rubuh. Bola matanya mengitari ke penjuru ruang. Seperti berputar-putar dalam tong setan.

Desisan gas yang mendesak keluar itu perlahan melemah. Kuping terasa berdenging bukan kepalang. Dinding-dinding bergerak menyempit. Ia menduga nyawanya sudah meninggalkan organ pendengaran. Giliran organ-organ lain yang mesti gesit dituntaskan. Meski sekarang lebih bersusah payah, ia tampak semakin bersikeras menarik napas sedalam mungkin. Berulang kali. Sebelum si kurang ajar itu sempat memanggilnya, ia harus segera mati. Paling tidak sekarat. Bayang-bayang gelap nyaris menindih erat. Megap-megap begitu hebat. Ia mengira tiba saatnya menuju kerongkongan dan kemudian lepas dari tubuhnya.

Beberapa menit kemudian, tubuhnya menggeliat. Kelopak matanya terbuka. Celingak-celinguk menjelajah ke sekeliling. Apakah ia sudah berada di dunia lain? Pikirnya. Jarinya menggisik-gisik agar kesadarannya segera pulih. Perhatiannya tertuju pada paku yang tergeletak.

“Bajingan! Untuk mati saja aku tak mampu.”

Terdengar ketukan pintu dari luar. Ia hanya mendongak. Semakin lama suaranya semakin menggedor “Man, Man, Darman buka!” Darman masih terdiam. Ia tidak beranjak dari tempatnya berbaring. Teriakan dan gedoran kembali menyusul.

Gerendel pintu berputar, lalu pintu berderit terbuka. Seseorang masuk melewati pintu seiring cahaya yang ikut menerobos.

“Man, sudah seminggu kau tak tidur. Dari tiga hari lalu kau meracau. Sebelum makin parah, kita periksa saja,” ucap Ayep berusaha merangkul Darman.

Mendengar ajakan itu, Darman memalingkan wajah. Tampak ia cengar-cengir dan memilit-milit kerah baju. Sesekali ia bergumam tanpa sebab, “Lucu sekali mereka.”

Di luar, anak-anak bergumul di dekat mobil putih yang sedang menunggunya. Mereka berdua berjalan ke arah mobil. Lengan Darman melambai seakan hendak menyapa anak-anak. Setiap kali ia menyapa, mereka membalas dengan menjaga jarak dan tersenyum kecut. Sementara para guru hanya berdiri membisu dari kejauhan.

Pintu mobil terbuka, “Masuk Man,” kata Ayep akhirnya.

Kini, mobil putih itu bertolak dari sekolah membawanya menuju bangsal. Dari balik kaca, lengan itu masih melambai tak berhenti.

 

______

Penulis

 

Rianda Akbari lahir di Sukabumi. Aktif menulis tentang satwa liar dan lingkungan hidup. Dua karya puisi “Aku Rempang” dan “Bebaskan!” dimuat dalam antologi puisi Bela Rempang (2024). Karya lainnya dapat ditemukan di beberapa situs. Tinggal di Kp. Sukaharja RT/RW 001/007, Des. Sukaharja, Kec. Warungkiara, Kab. Sukabumi – Jawa Barat. Akun media sosial: @rianda_akbari (Instagram)

 

Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 

 


Puisi-Puisi Rafif Abbas Pradana

Puisi Rafif Abbas




Perhitungan


Lelahnya aku menghitung jarak

antara lahir dan pulang,

yang tak pernah bersua

dalam satu lintasan.


Masing-masing memiliki ejaannya sendiri.

Kucoba mengejanya

sepanjang perjalanan hitung,

yang mungkin takkan usai,

meski sebuah jembatan

terus ingin dibangun.


Jembatan itu membentangkan

seluruh tubuhnya,

dari satu tepi

menuju tepi paling sunyi.


Jalan-jalan pun terhubung

menuju pulang,

sementara hitungan

tetap belum selesai.



Puisiku


Puisiku, kubagi setengah persen

dari tubuhku yang merana,

karena salah ditakdirkan mengisi spasi

antarbait puisiku yang saling menolak,

saling memberontak untuk mengeja pulang.


Sudah sebaiknya bait-bait puisiku

kusalingkalikan dengan kata-kata

yang membesar melebihi tubuhnya,

kukalikan lagi dengan bayang-bayang

yang saling meminjam wajah,

hingga menjadi baris berujung jarum

yang menusuk tubuhku dan terbaring.


Sementara judul puisiku

tak pernah mewakili

tubuh-tubuh puisiku,

apalagi hasil perhitungannya.



Terlalu Matematik


Aku terlalu matematik

Buat kamu yang tak sanggup

Menjadi penyebut

Di dalam doa seperempat malam

Sebelum ibu menawar harga

Dan aku menghitung

Sisa-sisa pembagian.



Aku Lirik 


Aku menghitung

Berapa senjaku akan datang,

Padahal tali telah diikatkan

Di antara kepala dan tubuhku.


Sampai aku menjerit dalam perhitungan,

Atas semua yang telah dilalui.

Hitam memutih dalam kekaburan,

Yang tak sempat menyebut bilangan

Di sela-sela puisi terakhirku.


Akhirnya bait terakhir dibanjiri

Darah yang menempel di lantai,

Sebagai artefak

Yang mengingatku

Sebagai aku lirik.



Demi 


Demi puisiku, aku bersumpah

Tidak ada Tuhan selain aku.

Bahkan dewa pun sulit mengeja namaku,

Apalagi umatku yang rajin berdzikir

Sepanjang puisiku terbentang,

Dari neraka sampai surga yang dijanjikan.


Hitunglah berapa bilangan yang kuberikan,

Kalikan apa yang telah kaudapatkan,

Bagikan kepada mereka yang mengemis,

Yang selalu memohon pecahan pujian.

Lalu hitung kembali

Apa yang telah kudustakan

Kepada umatku.



Aku Ingin 


Aku ingin bunuh diri

Biar menjadi pecahan

Dari hasil perhitungan

Sejak lahir

Sampai pulang.



Puisiku Ketujuh 


Setelah semua hitungan selesai,

ternyata aku

masih menjadi sisanya.



______


Penulis


Rafif Abbas Pradana, lahir di Bekasi pada 25 Oktober 2004. Ia merupakan mahasiswa Pendidikan Sejarah di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta). Aktif menulis esai, puisi, serta artikel kesejarahan. Saat ini, ia menjabat sebagai Kepala Divisi Kajian Unit Kegiatan Mahasiswa Bengkel Menulis dan Sastra (Belistra) periode 2026.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com




Esai Nurhadi | Hidup Ini Kurang Asyik Tanpa Mistisisme

Esai Nurhadi 

 


Harusnya saya sudah di rumah sore itu melanjutkan series Renegade Immortal, Tales Of Herding Gods, dan Tomb Of Fallen Gods S3. Tapi seakan tarikan gravitasi sangat kuat di rumah teman saya itu. Atau mungkin itu kodam penunggu yang menarik pantat saya dari bawah karena kebetulan kami sedang menyinggung mereka. Konon katanya kalau mereka sering disebut akan semakin mendekat.


Saya sendiri termasuk orang yang kurang percaya kalau ngomongin hal mistis, tapi juga bukan yang skeptis. Saya nyaman-nyaman saja kalau ngobrolin soal gaib. Dan memang begitulah obrolan sore itu berjalan. Dari yang tadinya cuma basa-basi soal keseharian, perlahan geser ke topik yang lebih mistis.


Teman saya mulai cerita soal pengalaman, katanya dia pernah ditembak jin saat menyaksikan orang kesurupan saat menyetel musik lengser wengi. Bayangkan bagaimana rasanya ditembak jin. Katanya seperti ditekan organ dalamnya dan menjadi sesak. Mungkin pengalaman teman saya itu kalau diceritakan kepada orang lain bakal dikira dia habis makan kecubung. Tapi entah mengapa, di ruang sepetak itu cerita-ceritanya kedengaran masuk akal. Atau minimal masuk ke rasa penasaran saya yang bertanya-tanya tentang dunia gaib itu sendiri.


Kemudian teman saya juga pernah diberi batu oleh tetangganya. Batu bukan sembarang batu—mungkin begitu pikirnya. Setibanya di rumah  dia penasaran sesosok apa penjaga atau kodam batu tersebut. Lantas menantangnya. Dan sesuai harapan. Katanya sesosok kakek tua tiba-tiba duduk di di belakangnya dengan kondisi tubuh yang sangat kurus dan perangainya menyeramkan.


Masih banyak lagi cerita mistis lainnya yang saya dengar dari obrolan sore itu. Tapi setelah dipikir-pikir hidup ini sebenarnya kurang asyik, apalagi era modern ini kalau cuma rasional-rasional saja. Makanya waktu obrolan soal kodam, soal energi yang mendekat kalau dibahas, atau soal firasat yang ternyata beneran kejadian—ada semacam kelegaan. Kelegaan karena dunia ini tidak se-flat itu.


Justru itu alasan kenapa saya—mungkin kebanyakan orang lainnya juga—menyukai atau sekadar penasaran, seperti cerita-cerita pada kultivasi Wang Lin dalam series Renegade Immortal tadi. Tapi minimal lewat cerita itu—atau obrolan sore kami yang mistisisme—saya masih diberi ruang untuk berpikir bahwa hidup ini ternyata misterius; ada kebenaran yang tak dapat dijelaskan oleh bahasa dan angka.


Jadi pada sore itu sementara series-series saya harus tertunda. Bukan karena enggan menonton, tapi mungkin karena saya lagi menyaksikan series dalam versi nyata. Dan entah mengapa hal itu terasa lebih hidup dan menyenangkan. Bagi saya cerita itu sebagai pengingat kecil bahwa hidup ini memang kurang asyik kalau dijalani serba logis. Sesekali, biarkan diri kita merebahkan pada obrolan yang hangat dan ringan. Toh, kalau ternyata itu cuma perasaan akan adanya jin, kodam, dan hantu-hantu lainnya, minimal jadi bahan obrolan seru buat sore-sore berikutnya.


________


Penulis


Nurhadi
 atau biasa dipanggil Albert. Sekarang masih pura-pura belajar di #Komentar. Karyanya pernah dimuat di koran harian Kabar Banten dan Majalah Sastra Kandaga Provinsi Banten. Selebihnya insyallah.

 


Saturday, July 11, 2026

Resensi Kabut | Matematika dan Puisi

Oleh Kabut




Murid-murid di seantero sekolah sebentar lagi masuk sekolah. Mereka belajar lagi di kelas-kelas dalam hitungan ratusan hari. Masa liburan telah berakhir, yang membuat mereka terhibur dan terbebas dari seribu perintah pendidikan. Apakah mereka memilih libur atau mengalami hari-hari disibukkan beragam mata pelajaran atas nama ilmu? Mereka berada dalam situasi yang tidak keruan berkaitan kebijakan pemerintah, kemauan keluarga, hasrat pribadi, dan lain-lain. Namun, lakon belajar di sekolah terus dilanggengkan di Indonesia. Kita tidak pernah mengetahui terjadi pelarangan belajar atau “mengharamkan” sekolah.


Pada 2026, kita berpikiran tentang mutu pendidikan di Indonesia. Konon, mutu (sangat) menurun akibat pelbagai kebijakan. Ada yang menuduh guru-guru belum mampu membuktikan tanggung jawab. Ada yang sinis bahwa murid-murid memang tidak lagi berminat belajar. Pihak berbeda prihatin atas kegagalan keluarga-keluarga dalam merayakan pendidikan yang menyenangkan. Artinya, urusan belajar atau sekolah tetap mengandung ribuan masalah, yang kita hanya mampu sedikit memberi jawaban belum tentu benar.


Apakah situasi mutakhir berbeda dengan masa lalu? Kita dapat mengetahui dari biografi-biografi yang mengungkan masa belajar di sekolah. Sejak masa kolonial sampai Orde Baru, kita memiliki bab-bab yang pasang dan surut mengenai segala capaian dalam pendidikan di Indonesia. Ada pula yang rontok dan mampet, berakibat pendidikan di Indonesia mustahil berkembang atau maju.


Yang bersabar ingin mengetahui lakon pendidikan kadang memilih membaca novel. Kita tidak wajib melulu membaca Laskar Pelangi atau Negeri 5 Menara. Ada ratusan novel di Indonesia yang bercerita pendidikan. Bagi yang membaca sastra anak pasti menemukan ratusan judul novel yang membawa kita kembali ke masa lalu, yang menguak masalah pendidikan. Di situ, kita membaca biografi anak, mutu sekolah, pribadi guru, peran keluarga, dan lain-lain.


Kini, kita ingin mengenang yang silam melalui novel berjudul Astrid: Rumah Pohon gubahan Djokolelono. Buku berukuran kecil diterbitkan Gramedia, 1987. Artinya, novel mengisahkan anak dan sekolah berlatar masa Orde Baru. Judul yang dibuat tidak mengesankan pendidikan tapi pembaca yang membuka halaman awal sampai akhir mengetahui bahwa pengarang sedang mencipta “percakapan” tentang pendidikan. Yang diceritakan mengaitkan rumah dan sekolah.


Dua tokoh penting yang diceritakan adalah Astrid dan Anto. Mereka masih menjadi murid kelas 6 di SD. Anak-anak yang sudah menghadapi banyak masalah, tidak hanya dipusingkan oleh pelajaran-pelajaran di kelas. Yang pasti, pengarang mementingkan pendidikan. Sorotan yang serius untuk mata pelajaran matematika. Kita pun memiliki pengalaman bahwa matematika itu pelajarang yang sulit. Beberapa murid malah memutuskan membenci dan melawan dengan segala cara. Pokoknya, matematika adalah penderitaan meski beberapa murid sangat menggandrungi gara-gara menyadari kenikmatan dan faedahnya dalam hidup, terutama pada masa depan.


Astrid dan teman-teman kesulitan dalam memahami matematika. Di kelas, ada murid bernama Anto yang dianggap pintar matematika. Padahal, mereka tidak mengetahui bahwa Anto mengalami derita dalam matematika. Maka, cerita yang paling seru adalah murid-murid menanggungkan harapan dan penyesalan disebabkan matematika. Maka, pelajaran di kelas tidak mencukupi. Anak-anak memerlukan mengikuti les agar mengerti matematika. Pengisahan itu mengesankan bahwa matematika memang pelajaran sangat utama dalam pendidikan di Indonesia sekaligus dunia.  


“Les matematika yang diadakan di sekolah Astrid memang berlangsung dari jam empat sore sampai setengah tujuh,” tulis Djokolelono. Kita membayangkan anak-anak menyadari waktu untuk bermain atau bersungguh-sungguh belajar matematika. Astrid mengalami kebingungan dalam memutuskan ikut les atau melakukan yang lain. Ia sadar bahwa pengetahuan matematikanya rendah. Ikut les dapat membuatnya tidak terlalu bodoh. Namun, ikut les matematika tetap memberi siksa dan bertumbuhnya masalah-masalah.


Di mata guru dan teman-teman, Anto diakui pintar matematika. Mereka tidak mengetahui bahwa pengetahuan matematika Anto itu diremehkan oleh bapaknya. Anto dianggap masih bodoh, belum mampu menguasai hal-hal terpenting dalam matematika. Jadi, keributan dan salah paham terjadi gara-gara matematika. Bapak sangat menuntut Anto agar pintar matematika. Tuntutan berdasarkan keinginan bapak agar kelak Anto menjadi ahli dalam elektorinika. Yang sangat menuntut adalah bapak, bukan guru atau kurikulum. Anto merasakan penderitaan berbarengan teman-teman mengakuinya yang terpintar matematika di kelas.


Pada mulanya, Astrid kesulitan berakraban dengan Anto. Masalah matematika perlahan mampu membuat mereka berteman yang akrab. Astrid ingin paham matematika. Anto diminta menjadi “pengajar”. Anto yang disangka “sombong” perlahan terungkap sedang mengalami penderitaan. Matematika membuat dua murid saling mengerti kehidupan, yang merujuk sekolah dan rumah. Astrid menjadi anak yang memiliki penasaran dan berusaha membuktikan tanggung jawab. Anto ingin memiliki kepribadian tapi selalu kesulitan dalam aturan keluarga dan pergaulan di sekolah.


Di sela berpusing matematika dan menghadapi masalah keseharian, Astrid dan Anto sama-sama menyukai sastra, terutama puisi. Astrid mampu menggubah puisi. Kita mengutip seperti yang terdapat dalam novel: rumah pohon/ rumah di atas pohon/ di atas pohon ada rumah/ pohon di atas rumah/ kami memohonkan rumah/ kami merumahkan pohon/ pohon kami rumahkan/ rumah kami pohonkan. Puisi ditulis berkaitan dengan pengalaman mengetahui kebiasaan Anton berada di rumah pohon. Astrid menjadi saksi sekaligus turut dalam pengalaman di rumah pohon.


Anto mengaku kesulitan dalam matematika. Ia takut kepada keinginan dan perintah bapak. Anto sebenarnya menyukai sastra, ingin menjadi penulis, bukan ahli elektronika. Maka, ia membuktikan selera dan kepekaan sastra dengan menulis puisi. Mutunya berbeda dari tulisan Astrid. Pembaca menduga bahwa puisi dapat menjadi pembebasan atau hiburan ketimbang selalu menderita.


Puisi yang ditulis Anto: Saat air matamu menitik meniti pipi/ pipi yang sepi dari sinar ceria/ kulihat di beningnya yang bagai berlian/ sejuta cerita duka sejuta cerita duka/ kulihat di beningnya yang bagai berlian/ bekunya sejuta tawa bekunya sejuta tawa/ kulihat di beningnya yang bagai berlian/ berlalu pelan perjalanan usia di awal senja/ kulihat di beningnya/ kau menangis bukan buat dirimu/ kisah yang terpampang bukan kisahmu/ iba di hatimu bukan ibamu/ kulihat di beningnya/ bayang-bayang wajahku/ sendiri. Puisi yang apik, bersumber dari pengalaman dalam keluarga.


Matematika menjadikan Astrid dan Anto akrab. Puisi sempat memicu salah paham tapi memberi harapan bagi mereka dalam menikmati hari-hari yang tidak selalu cerah. Maka, Anto memutuskan tekun menulis puisi dan menuruti hasrat menjadi pengarang. Sikap yang berlawanan dengan tuntutan bapak. Astrid tampil menjadi saksi dan berani membuktikan tanggung jawab atas masalah yang menimpa keluarga Anto. Pembaca diajak mengagumi kepribadian Astrid. Perhatian terhadap Anto memunculkan dilema-dilema pendidikan yang menautkan rumah dan sekolah. Jadi, kita yang membaca novel gubahan Djokolelono sedikit mengerti mengenai anak-anak yang tidak harus dipaksa pintar matematika dan memiliki hak merayakan hidup melalui puisi.


_______


Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Thursday, July 9, 2026

Esai Sulaiman Djaya | Kuasa dan Media

Esai Sulaiman Djaya



Di zaman mutakhir kita saat ini adalah sangat penting untuk memahami sejumlah praktik media yang tak dapat dilepaskan dari interest kekuasaan, politik, dan korporasi, utamanya media-media yang dimiliki dan dikendalikan kaum multinasionalis-imperialis saat ini. 


Media dan opini yang melayani suatu kepentingan dan kekuasaan, pada akhirnya akan melakukan diskriminasi dan penyingkiran atau eksclusi terhadap hal-hal yang tidak menjadi kepentingannya.


Sebagai contoh, ketika suatu kekuasaan dan imperium hendak membentuk suatu citra publik, seketika itu pula, mereka akan mengerahkan media-media yang dimilikinya untuk membentuk ‘keberpihakan’ publik untuk mereka (para elite global). 


Era kita sekarang adalah suatu abad atau sebuah zaman, bila meminjam istilahnya Jacques Derrida saat berbincang dengan Giovanna Borradori, di mana publik yang tidak kritis dan malas berpikir akan sangat rentan dimanipulasi dan dihasut oleh media-media yang mengabdi pada kekuasaan dan tirani demi suatu tujuan strategis dan politis, utamanya dalam kancah politik global.


Jaringan media yang kebetulan dikuasai dan dimiliki suatu kelompok tertentu atau suatu rezim bersama yang bekerja berdasarkan kepentingan yang sama akan tak sungkan-sungkan menjadikan media sebagai instrumen ‘penaklukkan’, di mana opini, keberpihakan, atau sikap massa (publik) digiring sesuai dengan kehendak para pemilik media, entah para pemilik media itu adalah suatu korporasi, kekuasaan, aliansi, atau suatu rezim kekuasaan dan politik.


Kita dapat memberikan contoh kasusnya adalah ketika media-media sosial seperti YouTube, Instagram, Facebook dan lain-lainnya mengangkat (dan atau meng-create) citra publik (simpati bersama) bagi insiden Paris beberapa waktu yang silam, namun pada saat bersamaan mereka ‘tidak mengangkat’ atau meng-create citra publik (simpati bersama) bagi tragedi-tragedi yang lebih parah, semisal agressi terhadap Yaman, Suriah dan apartheid serta kekejian Israel di Palestina.


Salah-satu pemikir kontemporer yang konsen dengan soal ini adalah Noam Chomsky. Dalam salah-satu analisisnya, di antara strategi yang mengabdi pada kekuasaan dan korporasi adalah dengan memasifkan opini atau pun diskursus untuk menyembunyikan ‘masalah’ yang sesungguhnya. 


Noam Chomsky juga menegaskan bahwa media memiliki arti yang sangat penting dalam proses politik, di mana dalam artian negatifnya adalah dalam rangka ‘menguasai’ opini dan sikap publik (massa).


Kita bisa memberikan contoh untuk apa yang dikemukakan Noam Chomsky tersebut, yaitu ketika rezim dan aliansi Zionisme Internasional atau Zion Global (Amerika, Israel dkk) yang kebetulan menguasai lembaga-lembaga penyiaran dan hiburan banyak memasukkan muatan-muatan dan unsur-unsur ideologis yang menjadi kepentingan strategis dan politis mereka melalui media-media yang mereka miliki dan yang mereka siarkan ke seluruh dunia.


Pada tingkatan yang lebih rumit (canggih), media juga sering mereka gunakan sebagai elemen utama dari kontrol sosial yang salah-satu strateginya adalah strategi gangguan, dalam rangka untuk mengalihkan perhatian publik dari isu-isu yang justru penting, yang mana dalam bahasa Noam Chomsky sendiri dicontohkan ketika media “mempertahankan perhatian publik yang dialihkan jauh dari masalah sosial yang nyata yang lebih penting, sehingga terpikat oleh hal-hal yang sebenarnya tidak penting.” 


Apa yang dikemukakan Noam Chomsky tersebut yang menjadi salah satu unsur terpenting dari kontrol sosial yaitu strategi penebaran gangguan yang bertujuan untuk mengalihkan perhatian publik dari isu-isu penting.


Strategi penebaran gangguan ini memang dilakukan tirani atau rezim kekuasaan untuk menjaga agar masyarakat lebih berfokus pada isu-isu “kacangan” (demi pengalihan isu) sehingga melupakan isu-isu krusial yang berhubungan dengan hidup dan kehidupan mereka, yang justru lebih riil dan lebih mendesak bagi kehidupan sehari-hari mereka.


Strategi yang lainnya adalah Strategi Buat Masalah, Kemudian Tawarkan Solusi atau Manajemen Konflik. Metode ini juga disebut “masalah-reaksi-solusi.” Strategi dan metode ini tak lain adalah menciptakan masalah, “sebuah situasi” yang disebut menyebabkan beberapa reaksi pada penonton. 


Contoh dari praktik rezim atau kekuasaan itu adalah: Mengintensifkan kekerasan di perkotaan atau dalam masyarakat urban, atau mengatur serangan berdarah agar masyarakat menjadi para pemohon hukum keamanan dan kebijakan yang merugikan kebebasan. 


Sebenarnya, menciptakan masalah yang dapat menyebabkan rakyat “mengemis” dan memohon pertolongan pada pemerintah sudah tidak menjadi hal baru, karena hampir semua pemerintahan di dunia melakukan hal seperti ini, yang mana dengan strategi dan metode ini, pemerintah menjadi “sinterklas” bagi masalah yang dibuatnya sendiri.


Strategi selanjutnya yang lain adalah Strategi Bertahap, yaitu sebentuk ‘pemaksaan’ penerimaan pada tingkatan yang tidak dapat ‘diterima’, hanya dengan menerapkannya secara bertahap, yang dilakukan secara simultan selama bertahun-tahun dan berturut-turut. 


Kita bisa menyebutkan contohnya yaitu ketika mereka (para elite global) memberlakukan kondisi sosial ekonomi baru (neoliberalisme), sepanjang era 1980-an dan 1990-an, yaitu dengan ‘memaksakan’ penerimaan bagi konsep negara minimal, privatisasi, kerawanan, fleksibilitas, pengangguran besar-besaran, upah, dan tidak menjamin pendapatan yang layak, sehingga tampak begitu banyak perubahan yang telah membawa revolusi jika mereka telah diterapkan sekaligus.


Yang juga acapkali dimainkan adalah teknik dan metode Strategi Menunda atau cara lain untuk dapat menerima keputusan yang tidak populer, agar mendapatkan penerimaan atau persetujuan publik (massa), pada saat penerapannya di masa depan (sesuai dengan target waktu yang mereka rencanakan).


Sementara itu, bila kita lebih jauh mencermati permainan reklame, iklan, dan yang sejenisnya, sebagian besar iklan untuk masyarakat umum menggunakan pidato, argumen, orang dan khususnya intonasi anak-anak, yang seringkali dekat dengan ‘kelemahan’, seakan-akan penonton (publik atau pemirsa) adalah anak kecil atau cacat mental. 


Anak-anak adalah simbol pihak yang lemah, rentan disakiti dan senantiasa menjadi korban. Strategi seperti inilah yang sangat sering diterapkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono, sebagai contohnya, ketika menjadi presiden, dalam rangka mencari simpati rakyat, di mana ia seringkali muncul dan mencitrakan diri seakan-akan sebagai figur lemah dan teraniaya, padahal yang sesungguhnya yang sedang dia (SBY) lakukan adalah menjalankan program peningkatan citra dan simpati rakyat. 


Strategi lain yang sebenarnya klasik tapi masih sering digunakan adalah teknik dan strategi emosional dengan memanfaatkan aspek emosional publik.


Demikian sejumlah contoh strategi ‘manipulasi’, sebagaimana didadar Noam Chomsky dan para analis dan pengkaji media, yang acapkali dimainkan media-media yang menjalankan kepentingan suatu korporasi, rezim kekuasaan dan politik, aliansi, dan yang sejenisnya. 


Mudah-mudahan media yang mendedikasikan dirinya bagi pendidikan dan pencerahan publik lebih setia bekerja sebagai pemberi informasi yang sehat dan sahih, ketimbang sebagai ‘mesin propaganda’ yang menyesatkan dan membodohi rakyat atau masyarakat.


_______


Penulis


Sulaiman Djaya, Peminat Kajian Kebudayaan.



Kirim naskah ke redaksingewiyak@gmail.com


Esai Mela Sri Ayuni | POV Gen Z: Kerja Sambil Cari Kerja

Esai Mela Sri Ayuni




Dewasa ini, waktu membawa anak kelahiran 1997 sampai 2012 menginjak usia produktif. Di mana, kami sudah melalui seuprit perjalanan hidup yang kata mereka, baca: orang kaya, menyenangkan. Ya, menyenangkan. Saking menyenangkannya saya sampai pening, kenapa dari banyak pilihan saya pilih jawab “iya” pada saat malaikat bertanya 77x sebelum saya lahir ke dunia riuh dengan huruf tanpa jiwa. Selang beberapa fase kehidupan, waktu membawa saya untuk bertanggung jawab atas jawaban tersebut. Saya sadar, mungkin ini yang disebut “menyenangkan” kata mereka.


Generasi Z saat ini sedang merajai pasar kerja. Hampir di semua sektor kerja Gen Z berkontribusi di dalamnya. Mulai dari sektor hiburan, perdagangan, instansi pemerintahan, sampai ada yang jadi anggota DPR, contohnya Annisa Mahesa. 


Anak kepala dua ini sedang eksis di dunia kerja. Laman cerita WhatsApp saya pun banjir dengan pemandangan di tempat kerja masing-masing. Yang paling nyentrik status video di depan komputer sembari ditemani minuman dan camilan kesukaan dengan backsound, “Akh, hari yang mantap”. Ada juga yang pakai tulisan “Hasil berangkat jam 7 pulang jam 9 malam”. Namun, ada satu postingan yang membuat saya tertarik untuk menuliskan topik ini, yaitu dengan caption “Udah kerja kerjaannya cari kerja”.


Sebenarnya apa pun yang kamu unggah ke media sosial ini merupakan sepotong dari ceritamu yang kamu izinkan untuk diketahui orang lain. Artinya, sudah hasil sortir sendiri. Tapi tidak bisa berbohong juga, tulisan-tulisan seperti itu menggambarkan kalau dunia kerja sudah menyita waktu Gen Z untuk terus bekerja.


Fenomena Gen Z kerja sambil cari kerja ternyata bukan hal yang baru. Ternyata ini sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Banyak dari mereka yang sudah memiliki pekerjaan tetapi di HP-nya memiliki aplikasi pencari kerja seperti LinkedIn, Glints, Jobstreet, dan lainnya. Tidak berhenti sampai di situ, sosial media yang Gen Z miliki tetap follow akun informasi lowongan kerja. Agar tidak tertinggal unggahan terbaru pekerjaan yang sedang dibuka. Tetap apply secara online.


Sesuai pengalaman saya pada tahun lalu, saya sudah memiliki pekerjaan. Namun di belakang itu saya terus saja lamar di beberapa tempat kerja lain. Sering ada panggilan wawancara langsung. Pada satu waktu di daerah Tangerang, saya mendapatkan panggilan kerja. Dikarenakan saya datang sendiri, saya memberanikan diri untuk berkenalan dengan pelamar lain, sesama Gen Z. Sambil menunggu panggilan masuk ruangan tes, kami sedikit mengobrol lebih jauh. Dua orang tersebut perempuan dari daerah berbeda. Setelah diketahui, ternyata mereka berstatus karyawan di tempat lain. 

(1) Perempuan bekerja di pabrik makanan. 

(2) Sedang bekerja di minimarket.


Pada saat itu, saya tidak memberi tahu latar belakang saya. Saya cukup menyimak sedikit dari mereka, sesekali saya melemparkan pertanyaan di sela obrolan, “Kamu udah kerja. Kenapa cari kerja?” Dia menjawab, 

(1) “Pekerjaanku yang sekarang capek. Berangkat pagi buta pulang malam.” 

“Oh, iya ya. Gak bisa lihat matahari terbit atau tenggelam.” 

“Kalo kamu?” 

(2) “Gue mau dipindahin ke cabang baru di Bali. Gue gak mau jauh sama ibu.”


Tidak sedikit manusia seperti perempuan-perempuan di atas. Terkadang kebutuhan menjadi alasan terbesar untuk bertahan. Walau sambil berbohong izin tidak masuk kerja karena sakit atau ada keperluan keluarga. Padahal mau interviu kerja di belakang. Karena Gen Z cukup percaya diri dengan kemampuannya. Dan berpikir kalau Gen Z bisa mendapatkan yang lebih baik dari ini. Keluar dari kebijakan perusahaan yang tidak masuk akal, atasan yang tidak manusiawi yang bikin gak betah berlama-lama. Lalu mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik. Ini hanya sampel, saya yakin masih banyak karyawan-karyawan lainnya di luar sana yang merasakan seperti kejadian tersebut. Gen Z mah simpel, kalau tidak bisa mengubah dari dalam, maka kita yang keluar “Jalan-jalan”. Hidup Gen Z!


Budaya kerja menentukan sejauh mana karyawan bertahan dalam pekerjaan. Maka dari itu, banyak dari Gen Z mencari side job. Mereka bekerja paruh waktu. Dari pagi sampai sore di pekerjaan utama, sore sampai malam menjadi pekerja part time. Ini antisipasi untuk pekerjaan utama. Apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti pemutusan hubungan kerja, PHK secara sepihak. Dari situ, Gen Z butuh cadangan pekerjaan untuk tetap stabil dalam mengurus keuangan.


Kalau berbicara tentang mencari kerja walau sudah memiliki pekerjaan, saya jadi teringat kalam dari Gus Baha, seorang ulama dari kalangan Islam tradisional. Beliau berkata, “Sebanyak apa pun gaji yang kalian miliki, tak akan mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupmu. Karena yang akan mencukupi kebutuhanmu itu hanya rahmat Allah.” Tentu, saya sepakat dengan pernyataan tersebut. Sebanting tulang apa pun kita mencari uang, tetap yang akan mencukupi kebutuhan kita itu rahmat Allah. Misalnya saya, seorang fasilitator anak. Kata teman saya gaji saya tidak cukup untuk mencukupi hidup sebulan. Tapi yang sebenarnya terjadi, dia pun sering meminjam uang kepada saya. Dalam hati saya bergumam, “Katanya gaji gue kecil, gak cukup buat hidup sebulan. Tapi lu tetap minjem duit ke gue.” Justru di sini ada peran Allah di dalamnya. Yang membuat tidak mungkin di mata manusia, sehingga mungkin di mata Allah.


Dari kejadian di atas, hal yang bisa kita pelajari yaitu: Gen Z selain mengejar uang, ia juga fokus kepada kenyamanan lingkungan kerja dan kehidupan pribadi. Sesuai dengan slogan kerja Gen Z yang berbunyi “Work life balance”. Di samping membutuhkan uang buat ngopi, Gen Z juga butuh menjaga kesehatan mental agar tetap waras. Datang di tempat kerja sebelum waktunya dan pulang tepat waktu. Tenggo: jarum panjang ke angka dua belas pas, teng langsung go, pulang. 


Buat orang-orang yang gak pulang tenggo jangan tanya “Kenapa pulang awal?” Ya jelas. Gen Z capek. Mau pulang. Istirahat. Lagian kerjaan Gen Z sudah selesai. Gak kayak Anda, jam kerja malah dipake makan. Jam kerja malah dipake ngobrol. Giliran jam pulang dipake kerja. Biar apa? Biar keliatan kerja, hah? Dasar Anda kolot!


________


Penulis


Mela Sri Ayuni, penulis lepas.



redaksingewiyak@gmail.com 

Esai Uwais Korni | Fans Karbit Ronaldo

Esai Uwais Korni



Nasi sudah menjadi bubur. Biar enak bubur itu ditambah tempe goreng dipotong kecil-kecil sama tahu bumbu Bali. Saya benar-benar menikmati kedukaan tersebut dengan bentuk ketololan saya yang impulsif.


Jemari tiba-tiba membuat SW tanpa setting privasi terlebih dahulu. Keluarga tahu. Teman tahu. Semua tahu. Saya mendeklarasikan diri bahwa saya sedang berduka atas kekalahan CR7 di laga akbar Piala Dunia terakhirnya melawan Spanyol.


Janji sudah tertulis jelas. Laki-laki dipegang janjinya. Mulai detik ini sampai sebulan kemudian saya tidak boleh buat SW dan PS-an. Itu janji saya.


Pertanda manusia berzakar kemungkinan besar sudah coplok telurnya adalah saat apa yang diucapkannya sebatas tong kosong nyaring bunyinya. Omong kosong tersebut dielu-elukannya. Dia bingung atas jalan pembicaraannya sendiri. Tidak jelas. Mencla-mencle.


Sudah maklum ini tanda kemunafikan. Di mana saat berbicara dia akan penuh dengan tipu muslihat. Dia pembohong. Dia seperti koruptor yang awalnya manis lisan namun akhir-akhirnya seringnya blunder.


Dia penipu. Dia mengkhianati janjinya sendiri. Dia pupuskan harapan orang lain. Amanah sudah menjadi akar yang berpisah dari buminya. Memang pantaslah orang-orang seperti ini diinjak-injak di neraka.


Membaca SW saya sendiri yang blunder itu, saya jadi parno sama bagaimana nanti pandangan teman WA saya terhadap saya. Apalagi ini tentang kejujuran seseorang.


Apakah saya akan membohongi diri sendiri dan orang lain?


Apakah saya akan mengerdilkan janji yang agung itu?


Apakah saya akan mengkhianati amanah tersebut?


Saya sudah pendosa sejak kecil, bahkan mungkin sampai tua nanti. Namun saya sadar diri. Pola pikir bertumbuh, saya rawat semaksimal mungkin. Sampai pada satu kesimpulan, saya tidak akan pernah mengecewakan diri saya sendiri dengan mempunyai tiga sifat kemunafikan di atas.


Saya anti dengan kebohongan. Jika berjanji, betul-betul akan saya laksanakan. Dan amanah yang dibebankan kepada saya, tidak akan saya berkhianat kepada siapa pun itu.


Hasilnya, dalam konteks ini saya akan puasa buat SW selama sebulan. Saya juga puasa main PS selama sebulan.


FOMO atas berita-berita yang saya lihat di reels FB, akhirnya saya putuskan untuk berduka lewat esai singkat ini. Di sana terpajang Neymar kalah melawan Norwegia. Erling Haaland melaju pesat menuju puncaknya. Neymar menangis tersedu-sedu dibuatnya.


Luca Modric tersungkur dijegal Portugal, sedangkan Ronaldo kalah melawan Lamine Yamal.


Dan masih banyak lagi pemain bintang lainnya yang diadu, seperti Messi, Vozinha, Mbappe, dll.


Saya FOMO sebab informasi semua ini bersifat seketika. Saya tidak kenal semua pemain itu secara detail. Saya memainkannya di PS bukan sebab menjadi pendukung fanatik klub. Saya hanya main-main saja. Main terus tahunya.


Saat saya lihat sepak bola di televisi, saya mendukung tim yang lebih dominan. Atau lebih tertarik kepada tim yang banyak pemain bintangnya. Saya fans karbit. Tidak mengenal semua itu secara berlebihan. Hanya suka menonton pertandingan secara keseluruhan, bukan sedetail-detailnya.


Tapi kali ini berbeda.


Ronaldo yang sekarang jauh berbeda dengan Ronaldo yang dulu. Di zaman saya ngerental PS, sudut pandang saya terhadap Ronaldo adalah sosok pemain yang gesit lagi tajam tembakannya. Dia dimainkan. Bukan dicari tahu siapa dia.


Saya fans karbit kagum akhir-akhir ini. Sungguh telat dalam mengidolakannya. Benar-benar telat.


Saya tidak tahu perjalanan karirnya di dalam sepak bola seperti apa. Susahnya dia menghadapi pemain-pemain liga Inggris yang ganas itu, yang seakan-akan berambisi untuk mematahkan kedua kakinya itu.


Di klub yang lain juga sama.


Saya tidak mengikuti satu-satu pertandingannya. Saya, sekali lagi, fans yang FOMO hanya karena Ronaldo sering nongol di beranda reels FB yang menampilkan keteguhan hatinya menerima kekalahan yang tipis itu saat melawan Spanyol di piala dunia tahun ini.


Setidaknya saya tidak akan pernah kecewa atas janji saya tersebut. Janji yang dadakan berjanji. Janji yang benar-benar harus ditepati. Itu disebabkan pura-pura gila di dalam mengidolakan sosok CR7.


Saya sungguhan stop buat SW lagi sebulan penuh. Saya dilarang main PS sebulan penuh. Sekali lagi, laki-laki memang harus diperhatikan betul-betul atas apa yang telah dan akan diucapkannya itu. Saya blunder parah.


Namun meskipun begitu, saya tidak akan merasa kecewa mengidolakannya sekalipun baru-baru ini juga saya mengidolakannya. Mengidolakan seseorang, apakah harus memang dari awal perjuangan?


Ada hikmah di balik itu semua. Adakalanya hal-hal normal di masa kecil akan terasa agung saat kita sudah dewasa. Seperti Ronaldo ini, adalah hal yang biasa-biasa saja di rental PS bagi anak kecil. Namun akan jauh berbeda saat dilihat dari sudut pandang penggemarnya yang dewasa.


Seperti ini pula, hikmahnya adalah jika Portugal memenangkan melawan Spanyol, apakah akan ada esai ini?


Mungkin ini yang dimaksud bahwa apa pun itu pasti ada hikmahnya. Tinggal kita sendiri mau mencari tahu atau mau tidur berselimut tahi. Ah, sudahlah. Fans karbit tak perlu banyak bicara. Nanti blunder lagi.


_______


Penulis


Uwais Korni lahir di kawasan YPPRN dengan nama panggilan Mas Didin. Mulai latihan menulis sejak 2014 sampai seterusnya.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com

Monday, July 6, 2026

Lapak Buku | "Matek Edan" Karya Ihya Dinul Alas dkk.

 



Judul: Matek Edan

Penulis: Ihya Dinul Alas dkk.

Penerbit: #Komentar

Terbit: Agustus 2026

Tebal: 181 hlm.

Ukuran: 14 x 21

Harga: Rp75.000


Matek Edan merupakan antologi puisi dan cerita pendek berbahasa Jawa Banten yang menghimpun karya para penulis yang karyanya terhimpun dalam NGEWIYAK.com periode 2021 s.d. 2026. Buku ini merekam denyut kehidupan masyarakat melalui bahasa daerah yang khas, mengangkat tema kematian, cinta, keluarga, religiusitas, politik, kemiskinan, perempuan, masa kecil, hingga kritik sosial. Setiap karya menghadirkan renungan tentang perjalanan hidup manusia, hubungan dengan Tuhan, serta realitas yang sering luput dari perhatian. Dengan gaya tutur yang puitis, lugas, dan sarat kearifan lokal, buku ini menjadi ruang pelestarian bahasa Jawa Banten sekaligus media penyampaian nilai-nilai kemanusiaan. Matek Edan bukan sekadar kumpulan karya sastra, melainkan cermin kehidupan yang mengajak pembaca merenungkan makna hidup, kematian, cinta, keadilan, dan harapan dalam setiap langkah kehidupan.


Kontak Penerbit:

087771480255 


Karya Siswa | Cerpen Nayla Alhusna | Antara Cinta dan Menunggu

Cerpen Nayla Alhusna



Nayla Alhusna selalu percaya bahwa hidupnya sudah cukup sibuk tanpa perlu memikirkan urusan cinta. Sebagai ketua OSIS, juara olimpiade sains, langganan juara penelitian, pembawa acara dengan suara yang mampu membuat orang-orang terpesona dan murid yang hampir tidak pernah mendapat nilai jelek.


Waktu Nayla biasanya habis untuk rapat, belajar, dan kegiatan sekolah. Bahkan Keysha, sahabatnya sejak kelas sepuluh, sering mengatakan kalau Nayla kemungkinan besar akan menikah dengan buku pelajaran.


"Kalau suatu hari lo pacaran, gue traktir satu kantin." Keysha mengucapkan kalimat tersebut sembari memainkan alisnya. Matanya terlihat menantang Nayla. "Itu ga bakal kejadian." Nayla menghembuskan nafas dengan pelan. Nayla menutup matanya karena merasa ngantuk. 


Keysha memutarkan bola matanya, "Kenapa?" Pertanyaan singkat yang Nayla rasa tak harus ia jawab. "Hey, ketos, gua bertanya loh, jawab dong!" Keysha mengguncangkan bahu Nayla. Nayla membuka matanya, "Gue males." 


"Atau ga ada yang berani?" Keysha tertawa terbahak-bahak setelah mengatakan kalimat yang terdengar sangat jahil. Nafas Nayla memburu. Sekarang, ia terlihat ingin melahap Keysha dengan ganas, "Pergi sana." Keysha pergi dengan tawa yang sangat menggema. Nayla hanya terdiam melihat punggung Keysha. Saat itu Nayla benar-benar yakin bahwa Keysha salah.


Sampai suatu siang, ketika ia berdiri di depan wastafel dekat aula sekolah sambil mencuci stroberi yang dibawanya dari rumah. Jam istirahat pertama baru saja dimulai. Tempat itu cukup sepi. Nayla mematikan keran lalu berbalik badan.Dan hampir menabrak seseorang. 


Jarak mereka begitu dekat hingga Nayla refleks mundur satu langkah. "Oh, maaf." Suara itu membuat Nayla mendongak. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, otak Nayla seperti mengalami error.


Nama yang terletak pada name tag baju seragamnya adalah Panorama Jingga. Satu kata dalam pikiran Nayla, unik. 


Ia langsung ingat tentang rumor atas nama Panorama Jingga. Yang ia ketahui bahwa Panorama Jingga adalah anak basket, anggota paskibra, vokalis band sekolah. Dan pemilik wajah yang terlalu sempurna untuk ukuran manusia biasa. Nala baru pertama kali melihat wajah Panorama secara langsung. Panorama terlihat sedikit bersalah. "Maaf, gua kira wastafelnya kosong." Nayla terdiam sebentar. 


"Oh... engga kok." Tangan Nayla terlihat memegang stroberi dengan erat. Kentara sekali, bahwa ia terlihat sangat gugup. Bagus, sangat bagus. Ketua OSIS kebanggaan sekolah. Pembawa acara handal yang jago improvisasi. Pengisi siaran podcast peserta didik berprestasi, baru saja menjawab seperti NPC. Panorama tersenyum kecil. Ia menunduk sedikit, "Gapapa kan?"


"Iya." Nayla mengalihkan pandangan ke arah lain. "Oke. Maaf ya." Lalu ia pergi begitu saja. Sementara Nayla masih berdiri mematung. Ia terdiam cukup lama. 


"NAYLAAA!" Suara Keysha membuat Nayla tersadar. "Kenapa lo?" Nayla menunjuk ke arah Panorama yang berjalan menjauh. "Itu." Kening Keysha mengernyit keheranan, "Panorama?"


"Iya." Nayla mengangguk pelan. "Kenapa dengan dia? " Keysha terlihat bingung. Sangat bingung. Nayla diam beberapa detik, "Ganteng." Satu kata. Singkat, tapi mampu membuat Keysha terdiam. Mencerna ucapan Nayla. Si Ketos cantik, berprestasi, tidak ada riwayat dekat dengan lelaki manapun. Hari ini sedang memuji seorang lelaki. 


"HAH??" Keysha langsung tertawa sampai hampir jatuh. Hari itu seharusnya menjadi akhir dari cerita. Sayangnya, justru menjadi awal.


Seminggu kemudian sekolah sedang sibuk mempersiapkan pentas seni tahunan. Sebagai ketua OSIS, Nayla jadi orang yang sangat sibuk dan bertugas mengawasi daftar ulang seluruh peserta. Satu per satu siswa datang ke mejanya. Sampai seseorang berhenti tepat di depan kursinya.


"Permisi." Suara itu... Jantung Nayla langsung salah tingkah. Ia kenal. Itu suara Panorama. Datang dengan map berisi formulir peserta. "Oh..." Nayla hanya mengucapkan sepatah kata dengan wajah tersipu malu. 


Panorama terlihat menahan senyum. "Oh doang?" Nayla langsung ingin menghilang. Menghela nafas perlahan. "Maksudnya... silakan."


Panorama menyerahkan formulir. Saat tangan mereka hampir bersentuhan, Nayla refleks menarik tangannya. Panorama mengangkat alis. "Gue nyetrum?"


"Hah?" Nayla memutar otak. Maksud si ganteng ini, apa ya gitu kan. "Refleks banget." Panorama menyilangkan tangan di dada. "Engga kok." Mata sinis nan indah itu, langsung menjawab dengan nada ketus. 


"Syukur." Panorama terlihat acuh tak acuh, namun terdapat senyum tipis di wajahnya. Lalu lagi-lagi senyum itu muncul. Dan ya, lagi-lagi Nayla lupa cara bernapas.


Malam pentas seni akhirnya tiba. Aula sekolah penuh sesak. Sebagian besar murid perempuan tampaknya datang bukan karena acara sekolah, melainkan karena Panorama Jingga.


Saat band Panorama naik ke panggung, teriakan langsung memenuhi ruangan. "PANORAMAAAA!" Teriakkan seorang gadis berambut pendek mampu membuat telinga sakit. 


"I LOVE YOU!" Nah, lagi-lagi ada perempuan berambut panjang, yang teriak disamping Nayla. Tak ayal, ia menutup telinganya. 


"NIKAH SAMA AKU YA!" Nayla langsung menoleh kearah suara dan mengucap sebuah kalimat dalam hatinya, "Aih, nih cewe mimpi banget." Keysha langsung menoleh ke arah Nayla. "Saingan lo banyak."


"Diam." Nayla menyilangkan kedua tangannya di dada, terlihat sinis kepada sang sahabat. Keysha terkekeh pelan, lalu menggelengkan kepala. 


Band mereka mulai bermain. Lampu panggung menyorot Panorama yang berdiri di tengah sambil memegang gitar. Suara penonton perlahan mereda. Lagu pertama selesai. Lagu kedua dimulai.


Lagu yang belum pernah didengar Nayla sebelumnya. "Kalau mata bisa bicara, mungkin hati sudah ketahuan..." Suara Panorama memenuhi aula. "Dari ramai dunia, aku cuma mencari satu tujuan..." Awalnya Nayla hanya menikmati lagu. Sampai ia sadar. Panorama sedang melihat ke arahnya. Bukan sekali, bukan juga hanya dua kali. Melainkan hampir sepanjang bagian lagu itu. Jantung Nayla langsung kacau. Ia buru-buru membuang muka.


"Keysha." Nayla memanggil sahabatnya dengan histeris. "Hm?" Keysha tetap fokus menonton penampilan keren dari band kebanggaan sekolah itu. "Gue mau pulang." Nayla mencolek lengan baju Keysha. 


Keysha memutarkan kedua bola matanya, "Heh, inget ya, lo itu ketua OSIS nya, ketua penyelenggara, lagian belum selesai Nay." Keysha terlihat kesal. "Gue malu." Nala menutup wajahnya dengan gusar. "Kenapa?" Keysha menatap Nayla dengan aneh. 


"Dia liatin gue." Nayla menunjuk kearah panggung. Keysha juga langsung menoleh ke panggung. Lalu menoleh lagi ke Nayla. Lalu menoleh lagi ke panggung. "Nay."


"Apa." Nayla menaikkan wajahnya yang semula tertunduk. "Kayaknya bener deh." Keysha mengucapkan kalimat dengan ambigu. "HAH? MAKSUD LO?" Nayla kebingungan, tak mengerti maksud Keysha. Keysha terlihat tak tertarik untuk menjelaskan. 


Sejak malam itu, sesuatu mulai berubah. Bukan hanya pada Nayla. Tapi juga pada Panorama. Karena tanpa sadar, mereka mulai saling mencari.


Awalnya lewat tatapan. Lalu lewat senyuman. Lalu lewat hal-hal kecil yang tidak pernah mereka akui. Sampai akhirnya rasa penasaran mengalahkan gengsi.


Suatu siang Nayla menghampiri Andika, sahabat Panorama. "Dik." Nayla duduk disamping kursi yang sedang diduduki oleh Andika. Tak ada pemiliknya. Tak masalah kan, kalau ia langsung duduk begitu saja. "Hm?" Andika menjawab sambil membaca buku. "Panorama punya pacar ga?"


Berjingkat kaget. Buku yang sedang dibaca, langsung ditutup. Andika tersenyum seperti menemukan gosip nasional. "Nanya buat siapa?" Alisnya di naik turunkan. Sangat menyebalkan di mata Nayla. "Penelitian."


Andika tak mampu menahan tawanya yang meledak, "Lo kira gue orang bodoh?" Andika terkekeh pelan. 


"Nanya doang." Nayla mengalihkan pandangan. Mukanya merah. Seperti tomat. "Gapunya." Andika menaruh bukunya di meja. Tangannya dilipat di atas meja. Jantung Nayla langsung sedikit lega. Namun Andika melanjutkan.


"Tapi katanya masih gagal move on sama mantannya." Bagaikan serangan petir disiang bolong. Perasaan Nayla langsung jatuh.


Di rumah. Setelah kejadian itu. Nayla terdiam. Ia menatap langit-langit kamar. Disela-sela telepon video dengan sang sahabat. Nayla memecah keheningan. "Key."


"Apa?" Keysha membalas panggilan Nayla dengan nada malas. "Gue mau nyerah." Nayla menghembuskan napas. "Kenapa?" Terlihat di sana, Keysha sangat bingung. Alisnya bertaut. 


"Dia masih gagal move on sama mantannya." Keysha menghela napas panjang. "Nay, Panorama yang bilang?"


"Engga." Nayla menggeleng dibalik ponselnya. "Terus?" Keysha menaikan sebelah alisnya. 


"Katanya." Nayla meringis pelan. "KATA SIAPA?" Nada bicara Keysha terlihat geram. "Andika, sahabatnya Panorama." Nayla langsung diam. "Ya Allah." Keysha pun ikut terdiam. 


Ucapan Andika terus menghantui pikirannya. Sejak saat itu, Nayla mulai menjaga jarak. Mulai menghindar. Mulai pura-pura tidak peduli. Sampai suatu malam ia iseng melihat Notes Instagram. Satu persatu. Mulai dari teman kelas, teman organisasi, teman lomba, dan dia. 


Lagu "Dari Mata".


Jantung Nayla langsung berdetak lebih cepat. Tiba-tiba salah tingkah, mendengar liriknya. "Dari mata, buatku jatuh, jatuh terus, jatuh ke hati." Sekelebat ide cemerlang muncul dalam pikirannya. 


Ting! 


Ia memasang Notes instagram, dengan lagu "Mata ke Hati". Tersenyum bak orang kesurupan. Tidak tahu kenapa ia bisa seperti ini. Sebenernya, ia sengaja memilih lagu itu. Karena lagu itu seolah-olah membalas Notes instagram Panorama. Ya, meskipun ia yakin, bahwa tidak mungkin Panorama akan sadar, bahwa Notes instagram itu Nayla khususkan untuk dirinya. 


Setelah menggunakan perawatan kecantikan. Nayla bersiap untuk tidur. Bahkan tubuhnya sudah menempel dengan kasur. Saat menaruh handphone di samping tubuhnya. 


Ting! 


Muncul notifikasi. Awalnya tak ingin ia gubris. Namun, kenapa tiba-tiba ada hasrat untuk membuka notifikasi tersebut. Tubuhnya terjungkal. Ia bangun dari posisi tidurnya. Duduk tegap. Menatap layar dan tak bergeming. Bola matanya membesar. Pikirannya penuh tanya. 


"HAH? DEMI APA, HAH?" Nayla mengusap kepalanya, mencubit hidung mancungnya. "Sumpah, ini yang DM gua, Panorama?" Nayla menggulirkan layar ponselnya. Berkali-kali ia memencet profil akun instagram Panorama. "Ah, tapi bener kok, ini akunnya Panorama. Masa dia salah kirim pesan sih?" Nayla membaca pesan yang dikirim oleh Panorama. 


"Kok, sorotannya sekilas mirip ya. Apa kebetulan doang?" Itulah isi pesan yang mampu membuat Nayla menjerit-jerit tak karuan. Melompat-lompat di lantai. Memeluk boneka yang ada di sekitarnya. Lalu, berkaca dan menampar pipinya sendiri. 


"Oh, no! Ini beneran kah cuy?" Nayla tersenyum penuh dengan mata berbinar. Kembali duduk di kasur. Dan membalas pesan dari Panorama. 


"Eh, iya, kayak saling bales gitu ya? Hehe." Setidaknya, begitulah pesan yang dikirim oleh Nayla. Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Masih tetap tak ada balasan. "Ah, kayaknya Panorama udah tidur deh. Aduh, aku malu banget." Tak hentinya ia tersenyum. Setelah berpikir bahwa pesannya mungkin akan dibalas besok hari. Nayla bersiap-siap untuk tidur lagi. Matanya sudah ingin tertutup. 


Ting! 


Ia tidak ragu untuk kembali membuka matanya. Dan ya, ternyata Panorama membalas pesannya. Akhirnya, malam itu, pukul sepuluh lewat, mereka melanjutkan obrolan sampai pukul satu dini hari. 


Keesokan harinya. Ia menceritakan  semua kejadian tersebut kepada Keysha. Keysha terlihat tidak percaya, namun setelah melihat chatnya sekilas, ia jadi senyum-senyum sendiri. 


Sejak saat itu perang Notes berlangsung hampir setiap malam. Mereka mulai mengobrol setiap hari. Tentang sekolah, basket, lomba, musik, dan hal-hal receh yang tidak penting. Namun selalu mereka tunggu, sebuah rahasia hati yang tak pernah terungkapkan. 


Sampai suatu malam. Panorama mengirim pesan. "Gue dulu takut sama lo." Nayla tertawa dibalik ponselnya. Lalu mengetikkan sesuatu, "Kenapa?"


"Lo terlalu sempurna." Jawaban Panorama membuat Nayla menautkan alisnya. "Apaan sih." Dengan cepat ia mengirimkan pesan itu kepada Panorama. "Serius." Jawaban singkat yang mampu membuat Nayla keheranan. 


"Terus sekarang?" Lama sekali Panorama mengetik balasan dari Nayla. Sangat lama. Sampai akhirnya muncul balasan. "Sekarang gue suka." Nayla menatap layar selama hampir satu menit. Lalu tersenyum sendiri seperti orang gila. Kemudian, Nayla membalas pesan Panorama dengan sebuah ungkapan juga. 


Dua bulan kemudian. Tepat setelah Nayla purna ketua OSIS, mereka resmi bersama. Dan seluruh sekolah heboh. Story Instagram penuh ucapan duka.


"Turut berduka cita untuk seluruh penggemar Panorama." Perempuan dengan baju motif bunga di profilnya, membuat cerita instagram seperti itu. 


"Aku kalah sama Ketua OSIS." Seorang perempuan dengan baju putih abu-abu, tampak sedang menatap jendela, memposting cerita seperti itu juga. 


"Gapapa, kalahnya sama Nayla." Sebuah komentar singkat dalam postingan perempuan dengan baju putih abu-abu tersebut, membuat Nayla tersenyum. Bukan sombong. Tapi heran saja. 


Bahkan Andika membuat postingan, dengan caption, "Panorama resmi tidak tersedia." Nayla yang melihatnya, tersenyum singkat. Hatinya terasa bahagia. Tak lama, ia membalas pesan dari Panorama. 


Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Suatu malam, Mama Nayla melihat notifikasi. Nama kontak yang tertera adalah kata "Panorama Sayangku" dengan emoji cinta berwarna putih. 


Malam itu juga Nayla dipanggil ke ruang tamu. "Nayla." Mamanya terlihat mengintimidasi Nayla. Nada bicaranya dingin. "Iya Ma." Nayla hanya menunduk saja. 


"Siapa Panorama?" Nayla langsung diam seribu bahasa. Mama menatapnya serius. "Pacar kamu?"


Air mata Nayla mulai menggenang. Tak mampu mengucapkan sepatah katapun. "Mama ga izinin." Mamanya menyilangkan tangan di depan dada. 


"Tapi Ma..." Nayla menatap mamanya penuh harap. "Kamu masih sekolah." Mamanya melihat Nayla dengan tatapan sinis. Pisau pun sepertinya kalah tajam dengan tatapan Mamanya. 


"Nayla tetap belajar." Nayla berusaha membela dirinya. "Mama tau."


"Terus kenapa?" Nayla menghela napas pelan. Menunggu jawaban Mamanya dengan perasaan cemas. Kedua tangannya ia kepal di depan badan. "Mama ga mau fokus kamu pecah." Nayla mulai menangis.


Namun Mama tetap tegas. "Kalau kamu masih lanjut hubungan ini..." Suara Mama terdengar berat. "Mama cabut semua fasilitas dan kegiatan kamu." Nayla membeku.


"Ponsel, les, kegiatan OSIS, lomba-lomba, dan kalau perlu Mama pindahkan sekolah kamu." Nayla terdiam membeku. Tak lagi mampu untuk membantah. Malam itu Nayla menangis sampai tertidur.


Keesokan harinya ia menemui Panorama di tribun basket. Panorama langsung tahu ada sesuatu yang salah. "Sayang."


Nayla tidak sanggup menjawab. "Sayang, kamu kenapa?" Nayla menghela napas. "Mama tau." Panorama langsung diam. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka dekat, tidak ada candaan. Tidak ada senyum. Hanya kesunyian. "Mama ga bolehin kita pacaran." Suara Nayla bergetar. Matanya menahan tangis. 


"Aku ga mau bikin Mama kecewa." Panorama menunduk. Lama. Sangat lama. Lalu mengangkat wajahnya dan tersenyum kecil. Senyum yang justru membuat Nayla semakin ingin menangis. "Gapapa." Panorama mengangguk sedikit untuk meyakinkan Nayla. 


"Sayang..." Nayla menatap inti bola mata Panorama. "Gapapa." Mata Panorama mulai memerah. "Kalau sekarang bukan waktunya" Ia menarik napas panjang. "Ya kita ga bisa maksa." Dan hari itu, mereka berpisah. Bukan karena tidak saling cinta. Bukan karena ada orang lain. Melainkan karena keadaan. Beberapa bulan berikutnya mereka kembali menjadi asing.


Masih satu sekolah. Masih satu koridor. Masih satu kantin. Namun tidak lagi saling menyapa. Kadang mata mereka bertemu. Lalu sama-sama membuang muka.


Sampai hari kelulusan tiba. Di tengah keramaian dan suara tawa teman-teman mereka, Panorama menghampiri Nayla untuk terakhir kalinya. "Semoga lo keterima di kampus impian lo." Nayla tersenyum kecil.


"Semoga band lo sukses." Panorama mengangguk. Lalu berbalik pergi. Namun sebelum benar-benar pergi, ia berhenti. Dan berkata pelan tanpa menoleh. "Kalau nanti kita ketemu lagi..." Nayla terdiam. "Semoga waktunya lebih baik."


Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nayla kembali menangis. Karena ada orang yang tepat. Hanya saja datang di waktu yang belum tepat. Dan mungkin, di suatu tempat, pada suatu waktu yang belum mereka ketahui. Mereka akan kembali, utuh, tanpa berpisah. 


Nayla menatap punggung Panorama yang hilang tertutup oleh tembok sekolah. Nayla tersenyum, "Tunggu aku hadir kembali dalam hidupmu." Nayla berlari menuju gerbang sekolah.


_______


Penulis


Nayla Alhusna adalah siswi berusia 15 tahun yang lahir di Pandeglang pada 22 Juni 2011. Ia memiliki kegemaran membaca buku, menulis, dan menari. Di sela aktivitasnya, Nayla menikmati lagu You're Still the One dari Shania Twain, menyukai warna merah muda, hitam, dan krem, serta menggemari dimsum, pancake, dan susu.

Di bidang akademik dan organisasi, Nayla telah menorehkan berbagai prestasi. Ia berhasil meraih Juara 1 OPSI IPS pada tahun 2024 dan 2025, Juara 2 Vlogger English Festival, serta menjadi Juara 1 seangkatan. Jiwa kepemimpinannya terlihat dari amanah sebagai Sekretaris OSIS SMPN 10 Kota Serang pada masa bakti 2024 dan Ketua OSIS pada masa bakti 2025. Kiprahnya juga mendapat apresiasi sebagai Siswi Inspiratif dalam Podcast Rumah Inspiratif. Dengan semangat untuk terus berkembang, Nayla memegang prinsip hidup, “Dream big, stay humble, and keep shining.”


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com