View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Latest News

Tuesday, May 12, 2026

Lapak Buku | "Dunia dalam Kurung" Karya Erni Febriyani

 


Judul: Dunia dalam Kurung

Penulis: Erni Febriyani

Penerbit: #Komentar

Terbit: Mei 2026

Tebal: vi + 71 hlm.
Ukuran: 14 x 20 

QRCBN: 62-157-3991-720

Harga: Rp45.000


Dunia dalam Kurung adalah kumpulan cerita pendek yang merangkum suara-suara yang kerap terabaikan dalam kehidupan sehari-hari. Buku ini menghadirkan kisah tentang luka keluarga, perjuangan hidup, kehilangan, ketimpangan sosial, cinta yang tak selalu berpihak, hingga pengalaman-pengalaman ganjil yang berada di batas logika. Tokoh-tokohnya adalah orang-orang biasa: anak yang haus kasih sayang, pekerja keras yang memendam mimpi, perempuan yang berusaha bertahan, hingga mereka yang berhadapan dengan rahasia hidup yang gelap. Setiap cerita menyingkap sisi sunyi manusia, tentang harapan yang patah, keberanian untuk tetap hidup, dan makna yang tersembunyi di balik diam. Buku ini mengajak pembaca mendengar suara dari dunia yang selama ini terkurung dalam sunyi.



Kontak:


081387305300 (Penulis)


Monday, May 11, 2026

Karya Siswa | Raja yang Sombong | Cerpen Ahmad Farzan Ahza

Cerpen Ahmad Farzan Ahza




Pada suatu hari, di sebuah kerajaan di Padang Mesir yang memiliki piramida besar berbentuk segitiga, hiduplah seorang raja yang sombong bernama Shadum. Raja Shadum memiliki tiga anggota keluarga yang kuat, yaitu Hudi, Shadam, dan Shadum. Mereka juga memiliki pasukan yang sangat banyak, sekitar seribu orang, serta makanan yang melimpah.


Di dekat kerajaan itu, hiduplah seorang anak yang baik dan saleh bernama Bilal. Suatu hari, Bilal berjalan-jalan di Padang Mesir. Ia melihat sebuah piramida besar. Bilal sangat penasaran dan ingin masuk ke dalam piramida itu. Namun, ia tidak diizinkan masuk. Akhirnya, Bilal pun pulang ke rumah.


Di rumah, Bilal bertemu dengan ibunya yang bernama Hudan dan ayahnya yang bernama Guni.


Bilal berkata,

“Bunda, Bilal lapar.”


Ibu berkata dengan lembut,

“Baik, Bilal. Ayo makan nasi dan daging.”


Ayah Bilal berkata,

“Ayo kita makan bersama.”


Bilal pun senang dan berkata,

“Yeay, makan bersama!”


Setelah makan, Bilal bertanya,

“Bunda, setelah makan kita ngapain?”


Ibu menjawab,

“Setelah makan, Bilal tidur ya.”


Bilal berkata,

“Baik, Bu. Bilal mau tidur.”


Ibunya tersenyum dan berkata,

“Ibu temani ya. Selamat tidur, Bilal.”


Bilal pun tertidur dengan nyenyak.


“Zzzzz…”


Namun, pada malam hari, sekitar jam tiga. Raja Shadum memerintahkan pasukannya.


“Pasukan! Bakar desa itu!” kata raja.


“Baik, Raja!” jawab pasukan.


Tak lama kemudian, rumah-rumah di desa mulai terbakar. Asap dan api terlihat di mana-mana.

Ibu Bilal mencium bau asap.


“Bilal, bangun! Ada kebakaran!” kata ibu.


Bilal pun dibangunkan. Ayahnya juga bangun.


“Apa yang terjadi?” tanya ayah.


“Ada bau asap! Kita harus pergi!” kata ibu.


Mereka segera keluar dari rumah dan berlari menyelamatkan diri. Warga desa juga membangunkan kepala desa.


“Ayo, Kepala Desa! Kita harus pergi! Rumah-rumah sudah terbakar!”


Semua orang berlari mencari tempat yang aman. Akhirnya, keluarga Bilal bertemu dengan kepala desa dan beberapa warga yang selamat.


Kepala desa berkata,

“Kita harus membuat rencana. Bagaimana kalau kita pergi ke desa lain?”


Warga desa menjawab,

“Baik, Kepala Desa. Tapi kita harus hati-hati.”


Mereka berjalan pelan-pelan agar tidak terlihat oleh pasukan raja. Di tengah perjalanan, mereka menemukan sebuah gua yang agak terang. Mereka pun beristirahat dan tidur di dalam gua itu.


Keesokan paginya, mereka melanjutkan perjalanan. Tidak lama kemudian, mereka melihat sebuah desa yang jaraknya sekitar sepuluh meter lagi.


Mereka bertemu dengan warga desa tersebut. Kepala desa lama memperkenalkan diri.


“Halo, saya kepala desa. Nama saya Hid.”


Kepala Desa dari desa itu menjawab,

“Salam kenal. Nama saya Mai.”


Mereka pun berbicara bersama. Kepala desa Hid berkata,

“Kami ingin menghentikan raja yang sombong itu.”


Bilal berkata,

“Aku tahu tempat piramida raja itu.”


Semua orang setuju untuk membuat rencana.


Pada malam hari, mereka pergi bersama-sama sambil membawa obor. Mereka menuju piramida tempat Raja Shadum tinggal.


Kemudian mereka menyalakan api dan membakar piramida itu. Piramida pun terbakar, dan Raja Shadum akhirnya terluka. Setelah itu, raja tidak lagi menyakiti orang-orang.


Akhirnya, semua desa hidup dengan damai. Warga desa kembali hidup dengan tenang dan bahagia.


______


Punulis


Ahmad Farzan Ahza, lahir di Serang, 21 September 2014. Saat ini ia duduk di kelas 5 SD Elfatih Kota Serang. Hobi main catur. Alamat rumah di Mayabon Village Blok F No. 4 Kelurahan Banjarsari Kecamatan Cipocok Jaya Kota Serang. 


Kirim naskah ke

redaksningewiyak@gmail.com


Karya Siswa | Aku dan Terucuk | Cerpen Rifqi Maulana

Cerpen Rifqi Maulana



Aku memiliki saudara yang bernama Hafiz, ia tinggal di Anyar bersama orang tuanya. Pada minggu lalu aku beserta orang tua mengunjungi nenek yang juga tinggal di Anyer. Rumah nenekku bersebalehan dengan rumah saudaraku Hafiz.

Aku berangkat ke Anyer pada pukul 09.00 WIB dan tiba di sana pada pukul 11.00 WIB. Di Anyer aku biasa bermain bersama Hafiz dan juga beberapa teman yang lain, seperti Irza, Faris, Rasya, Gege, dan Ardian.


Berkunjung ke Anyer merupakan kegiatan rutin keluargaku karena selain bermain ke Pantai juga sekalian menjenguk kakek dan nenekku yang tinggal di sana. Beberapa tahun yang lalu kakekku memelihara jenis burung, di antaranya: Murai Batum Kenari, Beo, Perkutut, Jalak dan Love Bird.  Dari beberapa burung tersebut, kakek mengembangbiakkan dua jenis burung, yaitu burung kenari dan burung murai batu. 


Karena kakek seorang pencinta burung, maka sepertinya hobi tersebut menurun padaku dan juga pada saudara sepupuku yang bernama Hafiz.


Pada kunjunganku di hari minggu lalu, aku melihat saudaraku memiliki burung peliharaan berjenis burung Sagon, melihat saudaraku memiliki kegiatan yang positif dengan memelihara burung, maka terbesit di benakku ingin juga memelihara burung. Hal ini dikarenakan ketika saya mendengar bunyi kicauan burung suasana hatiku merasa menjadi tenang.


Karena alasan itulah akhirnya ketika aku dan orang tuaku kembali ke Serang, aku meminta kepada ayahku untuk dibelikan seeokor burung, yaitu burung Kenari.


Aku menyampaikan permintaan untuk bisa merawat burung kepada ayahku, bahwa aku mampu merawat burung yang aku minta. Setelah ayahku mendengar permintaanku untuk dibelikan seekor burung kenari, ayahku tidak langsung membelikannya, namun aku ditanya beberapa pertanyaan, yaitu: (1) Kenapa ingin memelihara burung? (2) Apakah nanti bisa merawatnya? (3) Mengapa yang dipilih adalah burung kenari?


Setelah ayahku melemparkan tiga pertanyaan, akhirnya ayahku memberikan pendapat tentang jenis burung yang cocok untuk aku pelihara. Ayahku menyampaikan bahwa burung yang cocok untuk aku pelihara adalah burung Terucuk, alasan ayahku memilih burung Terucuk sebagai peliharaannku yaitu karena pemeliharaan burung Terucuk lebih mudah dibandingkan dengan burung Kenari. Mendengar penjelasan ayahku tentang hal tersebut akhirnya akupun mengikuti pendapat ayahku untuk memelihara burung Terucuk.


Pencarian burung Terucuk pun dimulai pada keesokan harinya, yaitu di Hari Senin, 12 Januari 2026. 


Selepas pulang kerja ayah mengajakku untuk mengecek burung Terucuk yang akan dibeli. Rasanya
senang bercampur haru menyelimuti perasaanku pada saat itu. 


Sore itu ayah memintaku untuk ikut bersamanya menaiki sepeda motor menuju sang pemilik burung Terucuk yang berlokasi di belakang RS Sari Asih, Kota Serang. 


Setelah bertemu sang pemilik burung dan terjadi kesepakatan harga, maka sore itupun langsung ayahku membayarnnya dan burung Terucuk itupun menjadi milikku.


Kegiatanku tiap pagi setelah salat Subuh adalah membersihkan kandang burung Terucuk dari kotorannya, mengganti air minumnya, dan memastikan pakannya tersedia. Hanya dalam waktu seminggu burung Terucuk miliku yang semula masih belum berbunyi sekarang sudah berbunyi gacor. Setiap pagi dan sore burung Terucuk di rumahku selalu berbunyi.


______


Penulis


Rifqi Maulana, lahir di Serang,  5 Mei 2015. Saat ini ia duduk di kelas 5 SD Elfatih Kota Serang. Alamat rumah di Komp. Permata Banjar Asri Blok D5 No.18 Banjar Sari Cipocok Jaya Serang.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com



Karya Siswa | Gedung Tua | Cerpen Revina Aulia Febiyani

Cerpen Revina Aulia Febiyani



Pada suatu hari pukul 15.00 . Ada tiga anak yang bernama Dito, Nisa dan Aldi. Mereka sekolah SD Nusantara. Sore itu hujan sangat deras. Dito, Nisa dan Aldi belum dijemput. Karena hujan angin bertiup kencang sampai pintu kelas mereka bergoyang.


 Draaakkk! Suara pintu tertutup yang tertiup angin.


"Aaaaaaaa" teriak Dito, Nisa dan Aldi. 


"Aduuhhh kaget banget" kata Nisa. 

"Iya. Jantungku sampai mau copot!" kata Dito terkejut. 


"Nanti kita sampaikan ke Pak Satpam saja," kata Aldi.


"Loh loh loh. Kok tiba tiba Pak Satpam?" tanya Dito.


 Setelah beberapa menit, hujan pun mereda. Mereka berjalan mendekati Pak Satpam. 


"Loh, kok kalian masih di sini?" kata Pak Satpam dengan bingung.


"Iya Pak. Kita belum dijemput orang tua kita," kata Nisa pelan.


"Pak Satpam ingin kasih tahu sesuatu kepada kalian," Pak Satpam membisikan suatu hal kepada Dito, Nisa, Aldi. "Kalau kalian melewati gudang tua itu. Hati hati. Karena ada sesuatu  yang menakutkan," kata Pak Satpam dengan serius.


"Alaahhhh... palingan juga Pak Satpam cuma nakut-nakutin kita," kata Dito sambil berbisik ke Nisa dan Aldi.


"Sudah Pak, kita kembali ke kelas dulu," kata Aldi. 


"Ya sudah. Tapi jangan mengeyel tentang gudang tua itu, ya," kata Pak Satpam. 


"Iya Pak, kita tidak akan memasuki gudang tua itu kok," kata Dito sambil tersenyum tipis.


Setelah itu mereka pun menuju kelas. Dan percakapan panjang. Hujan turun deras lagi, baju mereka sedikit basah.


"Ayoo, Dito, Nisa cepaatttt! Hujan turun lagi," kata Aldi.


Sesampainya mereka di kelas. Mereka langsung kedinginan karna hujan membasahi baju mereka.


"Aaduuhh, dingin banget" kata Nisa sambil menggigil.


Tak lama kemudian, ada yang mengetok pintu kelas mereka.


"Eeeehhh, siapa itu?" kata Aldi yang sedang membuka pintu kelas.


"Eeh Pak Satpam, ngapain ke sini?" kata Aldi. 


"Nisa, kemari Nak. Ibumu menjemputmu."


 "Ooh iya Pak," kata Nisa sambil menggendong tas.


"Dito, Aldi, aku duluan, yah. Byee!" kata Nisa sambil tersenyum.


"Pak Satpam, tadi aku bertanya Pak Satpam ngapain ke sini, kok Bapak langsung bilang ke Nisa dulu? kan aku yang nanya," kata Aldi kesal.


"Hayo loh... Aldinya merajuk," kata Dito.


"Hehe, iya, iya, maaf," kata Pak Satpam. 


"Ya sudah, Bapak kembali ke pos dulu," kata Pak Satpam.


Setelah beberapa menit, Dito dan Aldi mulai mengantuk dan bosan.


 "Ehh, kita ngintip dikit yuk ke gudang itu!" kata Dito. 


"Kamu sudah gila, ya? kita kan gak boleh ke sana," kata Aldi.


"Biar gak bosen," kata Dito.

"Ya sudah. Jangan lama lama, ya" kata Aldi.


Mereka pun mendekati dan mengintip gudang tua itu


"Ih, geseran dikit dong! Aku juga mau liat" kata Aldi.


Tiba tiba pintu terbuka.


"Kok, pintunya terbuka?" kata Aldi.


"Masuk bentar yuk! Aku penasaran nih" kata Dito.


Mereka pun memasuki gudang tua  yang sudah berusia 10 tahun. Dinding mengelupas, gorden robek, kertas kertas berhamburan, meja yang sudah dimakan rayap, dan hawa yang panas.


 "Kok, aku ngerasa ada yang jalan," kata Dito. 


"Cuma perasaan kamu doang kali," kata Aldi.


Tiba tiba pintu tertutup hujan lebat dan ada petir.

 

Jedderrrr! Suara petir dari luar.


"Aaaaaaa!" Aldi dan Dito berteriak ketakutan.


Tiba-tiba ada perempuan yang berwajah pucat dan rambut panjang.


"S-siapa k-kamu?" kata Dito.


"Aku penjaga gudang tua ini. Kalian temani aku saja di sini. Hahaha," hantu itu tertawa lebar. 


Dito dan Aldi pun berlari ketakutan. Mereka menuju kelas.


 "A-aldi, tadi itu sangat menakutkan," kata Dito dengan wajah pucat.


 "Betul betul betuuull" kata Aldi.


 Setelah beberapa menit terdengar suara ketukan 


Tok tok tok. Pak satpam mengetuk pintu kelas. 


"Aldi, Dito, orang tua kalian sudah menjemput. Harap segera ke sana, ya" Kata Pak Satpam.


"Akhirnya kita dijemput," kata Dito sambil menghela napas.


"Syukurlah," kata Aldi sambil tersenyum. Sesampainya mereka kepada orang tua masing masing dan pulang dengan keadaan selamat.


______


Penulis


Revina Aulia Febbryani,  lahir di Pandeglang 2 Februari 2015. Saat ini ia duduk di kelas 5 SD Elfatih Kota Serang. Alamat rumah di  Ciruasland Walantaka, Kota Serang.


Kirim nasksh ke 

redaksingewiyak@gmail,com


Sunday, May 10, 2026

Puisi-Puisi M. Najibur Rohman

Puisi Najibur Rohman

 



Ciremai

 

adalah ilusi yang menyentuh rel

dalam acak kerikil dan debu, batang-batang pohon tumbuh

setelah rantas, menghijau

pada jendela kaca dhuha

 

apa yang tertangkap oleh gerbong ini

hanyalah solilokui bunyi besi

dan tempaan angin lembap,

seakan-akan jarak begitu jauh

mengiringi kangen yang menembus atap

 

aku datang, katamu, seperti lengkung

yang menari di atas jembatan tua,

rumah-rumah dusun dalam monokrom,

persinggahan burung atau belalang

sebelum ke bebukitan

 

di Cikampek, suara telah pulang dari tepi

langit menyampaikan pesan

tentang kemana perjalanan dilanjutkan

dan di halte mana kita bisa sejenak berhenti

untuk melindungi punggung dari tetes hujan

 

di rute terakhir,

ketika peron-peron mulai ditinggalkan  

derai kisah perlahan raib

ke selatan.

 

 

Fort Willem I


yang tersisa dari barak ingatan ialah kue putih

yang dihidangkan di meja makan residen

untuk seorang noni cantik yang menggerutu

karena pesta dansa diadakan mendadak

sementara ia bermimpi dalam anggun Waltz

 

tembakan yang menjulang dengan iringan bariton

mematahkan gerimis hari itu, dan peperangan

telah dimenangkan sekali lagi.

 

tapi nasib tak pernah konstan.

peluru bisa lepas kendali

dan seluruh jendela tertutup

selamanya.

 

di antara lorong-lorong merah bata

sebuah volkswegen terparkir lama

 

pada jam ke-17

cuaca menjadi sentimentil.

 

lalu gerbang seperti berdetak:

"bagaimanapun luka lama masih tersimpan di sana".

 

 

Pati Ayam


ketika laut melemparnya ke pegunungan

kijing-kijing itu beterbangan

dan mesin waktu menemukannya terkapar

di antara sulur palawija

 

di atas tungku pembaringan

saat teluk sudah mengeram

para tabib mengiris-iris tulang naga

sebagai persembahan kepada kehidupan

 

bagi fajar yang berulangkali melintang

sebongkah batu menjadi penuntun pengetahuan

dan mungkin kita telah menerima

jejak rumah yang tiada kekal

            untuk seekor moluska terakhir

            yang meresap ke tanah, menggali panas,

            dan lalu keluar sebagai prasejarah

 

hari setelah bumi menulis puisi

kita hadir sebagai tamu abadi.

 

 

Ninja Pelarian


            - Itachi

 

sekilas kau teringat

tentang kasih manja ibumu sepulang akademi

dan kata-kata bajik ayahmu

sebelum tebasan pamungkas

pada malam itu

 

tak ada pengampunan yang tersisa

dari kilatan kusanagi

dan pusaran merah sharingan

menelan dosa seorang diri

           

            kecuali pada adikmu tersayang

            yang kau simpan sebagai musuh

            dalam pertarungan terakhir

 

('Sasuke, Tuhan memberkati

persaudaraan kita', katamu,

dan sebelum ajal datang

kau lepaskan amaterasu

untuk menjadi miliknya

sebagai gejolak api hitam

yang tak bisa dipadamkan)

           

saat gagak-gagak pergi

kebenaran masih saja tersembunyi

 

dalam perjalanan hidup ini,

berjalan sendiri sedemikian sunyi.

 


Deforestasi


daun terbakar, duri berjatuhan

tersungkur dalam galian

bukit kehijauan, terhapus

dalam potret kamera

air gemericik, pergi

            ke luar jendela

tanah kering, cacing merambat

            ke pipa-pipa baja

ikan meloncat dari lumpur 

            meninggalkan telur-telur

musim memukul angin

            berkejaran dalam cuaca

simfoni pudar, mesin berputar

            membelah kasar

jutaan biji, menanti basah

            dalam ribuan bulan.

 

 

Siang Hari di Bus Kota

 

ada paras karam

disiram debu jalanan

dan poster-poster kampanye jadi benalu

di tubuh pepohonan

 

di sepanjang perjalanan

jarak menjadi jejak

beringsut dalam isi dompet

di tanggal pungkasan

 

Baratayudha

 

di Kurusetra, pasir pekat darah

teriakan-teriakan merayap

dalam gemeretak dendam

dan janji setia

semenjak panah pertama

 

setiap siang adalah kengerian

setiap malam adalah kecemasan

perjamuan dan kutukan silih berganti

dan angin begitu tua

di akhir cerita

 

 

Proposal

 

pada latar belakang

kau tak perlu tertipu masa lalu

sebab masa kini adalah kehidupan baru

 

pada rumusan masalah,

pertanyaan datang

dengan penuh pertimbangan

memaksamu pergi

mencari jawaban

 

pada pustaka lama,

kau melihat masa lalu sebagai kebajikan

yang menjadi pedoman

dan sebuah metode memandumu

menemukan arah samar

 

dalam hipotesis, terimalah

bahwa mungkin kau benar

dan mungkin kau salah

karena segala dugaan

hanya bisa luruh

dengan tatap mata.

 

 

Menjelang Vonis

 

sebelum palu terakhir menyentuh meja

hakim mendapati tersangka

bersimpuh dan bertanya:

apakah keadilan sudah diperiksa?

 

______


Penulis


M. Najibur Rohman, lahir di Rembang, 1986, dan kini bermukim di Semarang. Sejumlah puisinya terbit di media cetak dan daring serta tergabung dalam antologi bersama, antara lain, Surga di Kepala Menjadi Ombak (2025), Antologi Puisi Progo 9 (2024), Gambang Semarang (2020), Sesapa Mesra Selinting Cinta (2019), dan When the Days were Raining (2019).


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Cerpen Khairul A. El Maliky | Pak Tua Sang Pemilik Cincin

Cerpen Khairul A. El Maliky




Hujan musim penghujan di Kansas City mengguyur Jalan Broadway dengan deras, membuat genangan air menyebar seperti cermin hampa di antara trotoar yang aus. Cahaya neon dari kedai kopi di seberang jalan bergoyang-goyang di permukaan air, menari bersama percikan yang menghantam kaca jendela. Di sudut jalan, di bawah perlindungan kanopi kecil yang hampir tidak berfungsi lagi, seorang pria berjanggut putih keriting duduk dengan badan membungkuk, matanya menatap jalanan yang sepi dengan tatapan penuh harap.

Pak Robert Morrison, atau yang akrab disapa Pak Tua oleh tetangga di rumahnya di distrik Country Club Plaza, sudah hampir tiga jam mencari. Tangan yang keriput menggapai kantong jasnya untuk kesekian kalinya, hanya untuk menemukan celah kecil di bagian bawah kantong kiri—tempat ia selalu menyimpan cincin tunangan istrinya yang sudah tiada, Maryam.

“Tuhan, tolong berikan petunjuk,” bisiknya dengan suara lemah, sementara uap napasnya membeku di udara dingin. Cincin itu bukan sekadar logam dan batu permata berharga senilai lebih dari tiga ribu dolar Amerika—atau sekitar enam puluh juta rupiah jika dihitung saat itu. Cincin itu adalah satu-satunya kenang-kenangan dari Maryam, yang meninggal lima tahun lalu setelah bertempur melawan penyakit jantung selama dua tahun penuh.

Pada sore itu, Pak Robert sedang berjalan pulang dari klinik dokter setelah melakukan pemeriksaan rutin. Ia berhenti sebentar di sudut jalan untuk memberikan beberapa koin kepada seorang tunawisma yang duduk dengan gelas receh di depannya. Pria muda itu mengenakan jaket kulit yang lusuh dan topi rajut yang sudah tidak jelas warnanya. Matanya yang cerah, namun penuh kesusahan, mengucapkan terima kasih dengan senyuman hangat, meskipun bibirnya bergetar karena dingin.

Pak Robert hanya tersenyum balik sebelum melanjutkan langkahnya, tidak menyadari bahwa saat ia menarik tangan dari kantong jasnya untuk menyapu air mata yang tiba-tiba muncul—karena ia mendadak merindukan senyuman Maryam—cincin itu tergelincir keluar melalui celah kantong yang sudah sobek.

Ketika malam semakin larut dan hujan mulai sedikit reda, Pak Robert merasa harapannya mulai sirna. Ia sudah mencari di setiap sudut yang pernah dilaluinya, bertanya kepada setiap pedagang kaki lima yang masih buka, bahkan memeriksa setiap tong sampah di sepanjang jalan. Namun, tidak ada jejak cincin itu. Ia merenungkan betapa bodohnya dirinya karena tidak menyadari kantong jasnya telah sobek selama beberapa minggu terakhir. Bagaimana mungkin ia bisa kehilangan satu-satunya benda yang masih menghubungkannya dengan Maryam?

Pada akhirnya, ia memutuskan untuk kembali ke tempat ia memberikan uang kepada tunawisma itu. Mungkin saja pria itu melihat cincinnya jatuh. Meskipun harapannya sangat tipis—apa yang bisa dilakukan seorang tunawisma dengan cincin mahal selain menjualnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari?—Pak Robert merasa tidak punya pilihan lain selain mencoba.


***

Ketika ia tiba di sudut jalan, ia melihat pria muda itu masih ada di sana. Gelas recehnya masih berada di depannya, tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Pria itu tidak lagi melihat ke arah orang yang lewat dengan harapan mendapatkan sedekah. Sebaliknya, tangannya memegang sesuatu dengan hati-hati di pangkuannya, dan matanya terus-menerus melihat ke arah jalan yang sama—jalan yang Pak Robert lewati beberapa jam sebelumnya.

“Permisi,” ucap Pak Robert dengan suara gemetar. “Saya... saya sedang mencari sesuatu yang hilang. Sebuah cincin kecil, dengan batu berlian di tengahnya.”

Pria muda itu mengangkat kepalanya, dan wajahnya yang penuh kotoran serta kelelahan langsung menyala dengan ekspresi lega. Ia perlahan membuka tangannya yang sudah lama tidak terurus, memperlihatkan cincin yang bersinar meskipun sedikit berdebu.

“Apakah ini milik Anda, Pak?” tanyanya dengan suara lembut, tetapi tegas.

Pak Robert merasa seperti ada beban besar yang tiba-tiba terangkat dari dadanya. Ia mengangguk kuat, matanya mulai berkaca-kaca lagi.

“Ya, itu... itu milik istri saya yang sudah tiada. Saya tidak bisa membayangkan kehilangannya.”

Tanpa ragu sedikit pun, pria muda itu memberikan cincin tersebut kepada Pak Robert.

“Saya melihatnya jatuh ke dalam gelas saya ketika Anda memberi saya uang tadi sore, Pak,” jelasnya. “Saya tahu ini pasti sangat berharga bagi Anda. Saya tidak bisa mengambilnya atau menjualnya. Itu tidak benar.”

Pak Robert mengangkat cincin itu dengan hati-hati, menyentuh batu berlian yang pernah dipakai Maryam saat mereka berdiri di depan altar gereja lima puluh tahun lalu. Ia menatap wajah pria muda itu—yang kemudian ia ketahui bernama Billy Ray Harris—dan merasa tertegun oleh kedalaman kejujuran yang terpancar dari matanya.

Di saat Billy bisa dengan mudah menjual cincin itu dan mengubah hidupnya secara drastis—meninggalkan jalanan, mendapatkan makanan yang cukup, bahkan memiliki tempat tinggal yang layak—ia justru memilih untuk menyimpannya dan menunggu pemiliknya datang.

“Saya tidak punya apa-apa untuk membayar Anda,” ucap Pak Robert dengan suara penuh rasa hormat. “Namun, saya berjanji akan melakukan apa pun yang bisa saya lakukan untuk membantu Anda.”


Billy hanya tersenyum lembut.

“Anda sudah membantu saya, Pak. Anda berhenti dan memberikan saya uang ketika banyak orang hanya melihat saya lalu berpaling. Itu sudah cukup bagi saya.”

Namun, Pak Robert tidak bisa tinggal diam. Ia pulang dengan hati penuh rasa syukur, tetapi juga merasa memiliki kewajiban untuk membalas kebaikan yang telah diterimanya.

Keesokan harinya, ia berbicara dengan tunangannya, Lisa—seorang wanita muda yang telah hadir dalam hidupnya satu tahun terakhir dan dengan sabar menerima kenangan Maryam yang selalu ada di rumahnya. Bersama-sama, mereka memutuskan untuk membuat halaman donasi kecil di internet, menceritakan tentang kejujuran Billy dan harapan mereka untuk membantu pria itu mendapatkan kesempatan baru dalam hidup.


***

Respons yang mereka terima benar-benar di luar dugaan. Awalnya hanya teman dan keluarga yang memberikan donasi, tetapi cerita tentang Billy dan cincin itu cepat menyebar melalui media sosial dan koran lokal. Tidak lama kemudian, berita itu mencapai seluruh negeri, bahkan hingga berbagai penjuru dunia—termasuk Indonesia, ketika seseorang yang membaca cerita itu merasa tergerak dan mengirimkan donasi dari Kota Pasuruan, Jawa Timur.

Dalam waktu hanya beberapa minggu, total donasi yang terkumpul mencapai lebih dari dua ratus tujuh puluh ribu dolar Amerika—atau sekitar dua poin tujuh miliar rupiah. Billy tidak bisa mempercayainya ketika Pak Robert memberitahukan kabar itu kepadanya. Air mata kebahagiaan mengalir di wajahnya yang biasanya keras karena kehidupan jalanan. Ia tidak pernah membayangkan bahwa satu keputusan untuk jujur bisa membawa perubahan begitu besar dalam hidupnya.

Dengan uang donasi itu, Billy bisa mendapatkan perawatan medis yang sudah lama diperlukannya, membeli pakaian yang layak, dan menyewa sebuah apartemen kecil yang nyaman. Lebih dari itu, ia mendapatkan kesempatan mengikuti kursus pelatihan kerja dan akhirnya memperoleh pekerjaan sebagai teknisi komputer di sebuah perusahaan lokal. Hidupnya yang dahulu penuh kesusahan dan ketidakpastian mulai berubah menjadi sesuatu yang penuh harapan dan makna.

Beberapa bulan kemudian, pada hari ulang tahun Pak Robert yang ke-75, Billy datang mengunjunginya di rumah. Ia mengenakan jas baru yang rapi dan membawa sebuah kotak kecil.

Setelah acara ulang tahun berlangsung meriah dan para tamu mulai pulang, Billy menghampiri Pak Robert dan memberikan kotak itu kepadanya.

“Pak Robert,” ucapnya dengan suara penuh rasa hormat, “tanpa Anda dan kesediaan Anda untuk memercayai saya, hidup saya tidak akan pernah berubah seperti sekarang. Saya tidak bisa membayar utang saya kepada Anda dengan uang, jadi saya ingin Anda memiliki ini.”

Pak Robert membuka kotak itu dan melihat sebuah cincin perak dengan batu zamrud kecil di tengahnya.

“Ini adalah cincin yang saya pesan khusus,” jelas Billy. “Zamrud adalah batu kelahiran istri Anda, bukan? Saya ingin Anda memiliki sesuatu yang bisa mengingatkan Anda bahwa kebaikan selalu kembali kepada orang yang melakukannya. Anda memberi saya kesempatan kedua dalam hidup, dan saya akan selalu berterima kasih untuk itu.”

Pak Robert merasa tangannya bergetar saat mengambil cincin tersebut. Ia melihat cincin Maryam yang terpasang di jari kirinya, lalu melihat cincin baru dari Billy di tangan kanannya. Di dalam hatinya, ia tahu bahwa Maryam pasti akan bangga dengan apa yang telah terjadi. Kejujuran seorang tunawisma yang tidak memiliki apa-apa telah membuktikan bahwa nilai-nilai sejati tidak pernah diukur dengan uang atau benda berharga.


***

Malam itu, ketika mereka duduk bersama di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi hangat, Pak Robert menoleh ke arah Billy dan berkata,

“Kau tahu, Anak Muda? Kadang-kadang Tuhan bekerja dengan cara yang luar biasa. Cincin itu bukan hanya kenang-kenangan dari Maryam. Itu adalah jembatan yang menghubungkan kita berdua, dan saya bersyukur setiap hari karena saya kehilangannya di tempat yang tepat—di depanmu.”

Billy hanya tersenyum dan mengangguk. Ia tahu bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi, dan itu semua berawal dari satu keputusan sederhana: memilih kebaikan, bahkan pada saat-saat paling sulit dalam hidupnya.

______

Penulis


Khairul A. El Maliky, pengarang novel, lahir dan besar di Kota Probolinggo, 5 Oktober 1986. Pernah belajar di kota Pekanbaru, Riau. Bukunya yang telah terbit berjudul Akad, Pintu Tauhid, dan Kalam Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024). Di sela kesibukannya mengarang novel, ia juga aktif sebagai guru Sastra Indonesia. Untuk pembelian buku bisa melalui: mejaredaksiimajinasiku@yahoo.com.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Saturday, May 9, 2026

Resensi Kabut | Melancong dan Cerita

Oleh Kabut




Dolan ke Solo, pelancong bisa mengunjungi Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat atau Mangkunegaran. Konon, dua tempat itu mengisahkan dan menjelaskan Jawa. Apakah para pelancong mendatanginya untuk mengerti sejarah dan Jawa? Yang pasti, ada gegeran belum selesai di keraton. Menteri yang berulang datang ingin menyelesaikan masalah justru menimbulkan polemik. Artinya, perselisihan di keraton berakibat buruk dalam imajinasi sejarah dan imajinasi pariwisata.

Siapa-siapa pernah mengunjungi Mangkunegaran? Nasib dan situasi berbeda dirasakan di Mangkunegaran. Di situ, ribuan orang berdatangan dengan beragam misi: piknik, ilmu, hiburan, dan lain-lain. Mangkunegaran tampak apik dan anggun. Cerita-cerita indah terus bermunculan. Yang gemar musik, konser-konser biasa diselenggarakan di lingkungan Mangkunegaran. Yang suka ilmu, diskusi-diskusi biasa digelar di sana.

Para turis masih di Solo. Mereka memiliki pilihan-pilihan tempat agar merasa terpuaskan dan mencipta kangen. Jadi, mereka kelak datang lagi ke Solo. Ada yang memilih mengunjungi Taman Balekambang. Tempat itu dekat Stadion Manahan. Apa yang diperoleh di sana. Pelancong bakal melihat kolam dan patung. Mereka kadang bisa mengikuti acar-acara kebudayaan.

Di ingatan publik, Taman Balekambang dibuat Mangkunegara VI untuk dua putrinya yang kembar: Partini dan Partinah. Pada masa lalu, tempat itu teringat dengan pentas ketoprak. Kini, Taman Balekambang mulai berdandan indah. Tempat itu masih menyisakan sejarah meski pengunjung hampir tidak mengetahuinya. Di situ, ada patung yang mengingatkan sastra. Di penerbitan buku, nama yang dicantumkan sebagai pengarang adalah Arti Purbani. Yang membaca buku-bukunya dan melacak biografinya bakal diarahkan ke Mangkunegaran. Arti Purbani itu nama samara dari putri yang berasal dari Mangkunegaran. Novelnya yang terkenal diterbitkan oleh Balai Pustaka.

Yang ada di hadapan kita adalah buku yang diniatkan menjadi bacaan bagi anak dan remaja. Buku yang berjudul Hasta Tjerita diterbitkan PT Pembangunan. Buku yang tipis dan manis. Buku itu tidak bakal ditemukan orang-orang yang mengunjungi Taman Balekambang. Di beberapa perpustakaan di Solo, buku itu tidak menjadi koleksi. Jadi, yang belum berkunjung ke Solo (Mangkunegaran dan Taman Balekambang) mendingan menjadi pelancong dalam buku.

Pengarang memiliki bekal berupa warisan dongeng-dongeng silam. Ia pun akrab dengan masyarakat yang bergelimang cerita, dari masa ke masa. Maka, yang membaca cerita berjudul “Si Melati” tidak terlalu sulit dalam memahaminya. Anehnya, cerita silam yang dinikmati anak dan remaja lazim memasalahkan pernikahan. Tema yang terlalu besar dan belum tiba waktunya.

Diceritakan pedagang yang mau pergi ke kota. Ia meninggalkan tiga putrinya yang bernama Kenanga, Kantil, dan Melati. Tiga putri yang berbeda sifat dan peruntungan. Pedagang itu berharap dagangannya laku, yang nantinya dapat membeli hadiah yang diberikan kepada putri-putrinya.

Yang ditulis Arti Purbani: “Si Kenanga meminta sebuah gelang emas. Si Kantil mengharapkan sebuah kalung berlian jang bagus. Si Melati lain dari kakak-kakaknya. Ia meminta setangkai bunga tjengkeh jang djika dipetik tak dapat terpisah dengan pot tempat tumbuhnja. Djadi bung aitu tak dapat dipetik begitu sadja, melainkan harus dibawa bersama-sama potnja.”

Apa yang terjadi? Pedagang mendapatkan untung berhasil. Ia membelikan hadiah untuk Kenanga dan Kantil. Yang menyulitkan adalah memenuhi permintaan Melati. Kegigihan membuatnya sampai pada keterangan yang diperlukan dalam memenuhi permintaan putri bungsu. Yang memiliki tanaman itu berkata kepada pedagang: “Bungaku tak kudjual, tetapi djika anak bapak sendiri datang kesini, kembang ini akan saja berikan padanja.” Hari berganti hari. Putri itu datang. Keberuntungan diperolehnya saat memenuhi permintaan pemilik bunga cengkeh agar ia menjadi permaisuri. Cerita yang indah, yang tidak usah dituntut masuk akal. Melati yang tidak meminta perhiasan mahal malah mendapatkan kebahagiaan.

Apakah ceritanya selesai? Kenang dan Melati yang memiliki sifat-sifat buruk iri dengan kebahagiaan Melati. Maka, yang dilakukan adalah mencelakakan Melati. Para pembaca belum perlu tergesa merampungkan cerita. Pola itu sering terkandung dalam cerita-cerita di Nusantara dan dunia. Wajar saja jika Melati menderita akibat ulah Kenangan dan Kantil. Apakah ia akan terpuruk dan sengsara? Percayalah bahwa Melati masih beruntung dan bahagia. Cerita itu punya cara dan arah agar Melati tetap “menang”. Yang kalah dan tersingkir adalah Kenanga dan Kantil. Kita agak senewen menebak motif pemberian nama para tokoh, yang merujuk bunga-bunga.

Buku yang tipis memuat sembilan cerita. Arti Purbani punya misi mengajarkan kebijaksanaan atau nasihat melalui cerita-cerita. Namun, anak atau remaja yang membacanya pada masa sekarang mungkin “kesulitan”. Struktur cerita “lama” jarang membuat pembacanya terpesona. Cerita seolah tiada tantangan. Padahal, para pembaca masa sekarang biasa “dijerat” dalam kerumitan dan kejutan dalam cerita. 

Yang agak menyulitkan adalah upaya para pembaca dalam menikmati cerita-cerita sambil membayangkannya sebagai film. Cerita-cerita dari masa lalu sebenarnya mudah digarap menjadi komik atau film. Yang mesti dimengerti adalah warisan silam gampang disingkirkan oleh cerita-cerita baru yang bermunculan dan menyerbu dengan pola-pola “mutakhir”.

Buku yang dipersembahkan Arti Purbani tetap penting dalam arus cerita yang dicetak menjadi buku di Indonesia. Kita mengandaikan buku itu dibacakan saat para pelancong mengunjungi Mangkunegaran atau Taman Balekambang. Anehnya, orang-orang di Solo jarang mengetahui bahwa putri dari Mangkunegaran adalah pengarang. Buku-bukunya diterbitkan Balai Pustaka dan Pembangunan. Semestinya, buku-buku itu cetak ulang, yang bisa dijadikan cenderamata dalam kunjungan di Mangkunegaran atau Taman Balekambang. Yang bikin kita meragu, pihak-pihak yang berkepentingan dalam memajukan pariwisata di Solo kemungkinan kecil mengetahui buku-buku buatan putri dari Mangkunegaran.

_______


Penulis


Kabut, penulis lepas.


Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com 

Monday, May 4, 2026

Karya Siswa | Cerpen Aufa Almer Dzaky Zahran | Matinya Ondel-ondel Terakhir

Cerpen Aufa Almer Dzaky Zahran


Pagi itu, Rojali tersentak melihat mata berukuran besar yang menatap tajam ke arahnya dari onggokan sampah yang sedang ia pungut.

“Rojak, lihatlah apa yang kutemukan!”

Rojak yang penasaran dengan temuan tersebut dengan sigap bergerak lincah melompati tumpukan sampah yang menggunung, menghampiri rekan pengepul sampahnya itu.

“Astaga, mengapa ada ondel-ondel di sini?”

Mereka terkejut bukan main ketika mengetahui bahwa boneka raksasa berkumis hitam yang tampak seperti busur panah dengan taring putih itu berada di tumpukan sampah.

“Boneka raksasa itu seperti menangis, Jak.”

“Hahaha. Bagaimana mungkin benda mati itu menangis?”

“Mungkin dia sedih karena sudah tidak dibutuhkan lagi.”

“Atau mungkin dia sedih sebab tidak ada lagi yang memainkannya?”

“Kau benar, Jal. Alangkah menyedihkannya jika warisan budaya leluhur ini tak ada lagi yang ingin melestarikannya.”

Sekejap mereka termenung dengan raut wajah iba. Tak lama, secarik harapan indah itu terpikirkan begitu saja oleh Rojali.

“Jak, bagaimana jika kita menjadi pengarak ondel-ondel? Kita tak perlu susah payah menjadi pengepul sampah. Kita bisa melestarikan budaya ini sekaligus mencari uang!”

Rojali tampak seperti orang miskin yang baru saja mendapatkan emas batangan dari tumpukan sampah.

“Kau benar, Jal. Sepertinya tidak akan bosan jika kita mengamen menjadi pengarak ondel-ondel, menyusuri perkampungan dan melihat wajah anak-anak kecil yang menangis ketakutan, dibanding kita harus melihat gunungan sampah dengan bau busuk yang khas dan membosankan ini.”

Senyum terukir penuh harapan pada wajah mereka berdua. Mereka pun sontak mengeluarkan boneka raksasa itu dari onggokan sampah dengan raut wajah semringah.

***

Suara desing mesin dari ular besi yang berlalu-lalang di sekitaran Kota Jakarta itu terdengar memekakkan telinga. Di balik deretan gedung-gedung tinggi yang menjulang, tersembunyi perkampungan padat yang dikelilingi aliran air hitam dengan sampah-sampah yang berlalu-lalang terbawa arus.

“Bagaimana di dalam sana, Jak?”

“Sialan, lebih baik aku mengangkat tumpukan sampah dibanding menjelma menjadi boneka raksasa yang pengap dan berat ini.”

“Tenanglah, Rojak. Ini adalah pekerjaan baru kita sebagai pengarak ondel-ondel. Lambat laun pasti kau akan terbiasa.”

Rojali tertawa sambil mendorong gerobak yang berisi kotak uang dan pengeras suara dengan alunan irama musik gambang kromong dan tanjidor.

Nyok kita nonton ondel-ondel
Nyok kita ngarak ondel-ondel
Ondel-ondel ade anaknye
Anaknye nandak gel igelan

Mereka berjalan menyusuri perkampungan, bertemu dengan warga kampung yang tampak ketakutan dan terkejut dengan kehadiran mereka.

“Jak, mengapa mereka terlihat marah melihat kita?”

Mereka berdua tampak kebingungan. Hingga pada akhirnya mereka berhenti ketika mendengar seseorang berteriak,

“Lihatlah! Ada ondel-ondel berkeliaran! Berani-beraninya mereka memakai warisan budaya untuk mengemis!”

Ujar seorang pria bertubuh tinggi, kurus, dengan raut wajah yang tampak tak bersahabat. Suara itu berhasil mencuri perhatian warga sekitar.

“Bang, lihat noh di depan gang. Masa ondel-ondel dipakai ngamen. Kagak ada adabnya pisan!” ujar salah satu warga.

“Iya, Bang. Ane juga perhatiin dari tadi. Mana musiknya cuma pakai kaset kusut, gerakannya juga asal-asalan benar. Kagak ada seninya.”

Warga pun mulai tersulut emosi.

“Harus kita kasih pelajaran ini!” teriak warga lainnya.

Tak lama, suara derap kaki terdengar menghampiri mereka berdua. Seorang pria bertubuh tinggi kurus, pemicu keributan itu, tetap pada posisinya, diam tak ikut menghampiri. Namun, tatapan setajam pisau itu menusuk ke arah mereka berdua.

“Astaga, Jak, mereka mengejar kita!”

“Lari, bodoh!”

Seketika suasana berubah mencekam. Mereka berdua berlari kencang.

“Tangkap mereka!”

Teriakan itu terdengar lantang, mengerikan, bak raungan seribu hewan buas yang marah. Jantung mereka berdegup kencang. Mereka berdua terus berlari dengan lincah, melewati kerumunan pasar, meliuk-liuk, menjatuhkan beberapa dagangan warga yang menghalang.

“Bujug buset, sialan lu!” umpat pedagang yang dagangannya baru saja disenggol hingga sayur-mayur berserakan di jalanan.

Sayur-mayur itu hancur lebur terinjak-injak kerumunan warga yang masih buas mengejar mereka. Pedagang itu merasa kesal dan ikut mengejar.

Mereka terus berlari tanpa arah pasti dengan gerobak dan boneka raksasa itu.

“Astaga, Jal! Ada turunan curam menuju tempat pembuangan akhir!”

“Masuk ke dalam gerobak, Jak!”

“Bagaimana bisa, bodoh!”

“Masuk saja, Jak!”

Dengan pikiran dan degup jantung yang tak terkendali, Rojak melompat tergesa-gesa ke dalam gerobak dengan ondel-ondel yang masih ia kenakan. Rojali mendorong gerobak dengan kencang menuju jalanan curam itu, lalu menyusul masuk ke dalam gerobak yang ukurannya tak seberapa.

Gerobak itu meluncur cepat tak terkendali, bagai ikan marlin hitam yang berusaha membebaskan diri dari mata pancing yang tersangkut di langit-langit mulutnya.

“Rojak, hentikan!”

“Bagaimana caranya?”

Tak lama, gerobak itu menabrak gunungan sampah. Gerobak itu menghancurkan tumpukan sampah di depannya. Mereka berdua terpental keluar dari gerobak dan masuk ke dalam gunungan sampah yang berbau busuk.

“Rojak, keluarlah dari boneka kayu ini! Kita harus segera sembunyi sekarang juga!”

Sontak mereka berdua lari terbirit-birit meninggalkan gerobak serta ondel-ondel itu. Mereka menemukan dan menaiki gunungan sampah lain, lalu bersembunyi di baliknya. Sesekali mereka mengintip ke arah orang-orang murka itu.

“Itu mereka, tangkap mereka!”

Kerumunan warga kini terlihat bertambah banyak dengan membawa balok dan barang-barang lain yang mereka temukan di jalan.

“Apakah ini hari terakhir kita, Jak?”

“Maafkan aku telah membawamu dalam situasi bahaya seperti ini.”

“Tidak masalah, Jak. Aku sudah pasrah jika nasib kita harus berakhir di tumpukan sampah ini. Setidaknya kita pernah merasakan menjadi pengarak ondel-ondel dan pernah ikut melestarikan warisan budaya.”

Di bawah sana, amarah warga masih belum mereda.

“Ondel-ondel itu kosong! Mereka berhasil kabur!”

Kerumunan warga yang kecewa dan tidak terima itu semakin beringas.

“Mereka bakar saja ondel-ondel itu! Tidak ada seorang pun yang dapat mengotori warisan leluhur kita!”

Kerumunan warga yang lain berteriak setuju dengan umpatan itu.

“Kita harus cari pengarak ondel-ondel itu! Mereka harus menerima akibatnya!”

“Ya, setuju!”

Sebagian warga langsung bergerak berlari dengan buas mencari keberadaan para pengarak ondel-ondel itu. Rojak dan Rojali semakin ketakutan setelah mendengar ucapan bernada tinggi tersebut.

“Jak, bagaimana ini?” Jali berbisik.

“Tenang saja, Jal. Mereka tidak akan bisa menemukan kita.”

Seketika Rojak terpaku. Tatapan matanya kosong. Ia hanya mematung.

“Jak, lu kenapa, Jak?”

Rojali memastikan bahwa ia baik-baik saja.

“Lihatlah, Jal, pria bertubuh kurus tinggi itu. Dia melihat kita!”

“Astaga! Lu benar, Jak!”

“Kita kudu ngapain sekarang, Jal?”

Mereka berdua tercengang hingga akhirnya salah satu warga terlihat membanjiri boneka raksasa itu dengan bensin. Korek api dinyalakan. Sekejap kobaran api merambat ke seluruh badan boneka raksasa itu.

Setelah ondel-ondel itu terbakar, sayup-sayup terdengar suara anak kecil yang menangis.

“Ibu, aku takut.”

Amukan warga itu hilang sejenak. Suara anak kecil yang ketakutan sambil ditimang oleh ibunya itu berhasil mengambil alih perhatian kerumunan warga.

Terdengar suara ringkikan tawa berat seorang pria dari belakang kerumunan itu.

“Astaga, Jak, apa kamu lihat pria bertubuh tinggi besar itu? Ia memiliki sayap hitam?”

“Jal, aku tidak yakin itu manusia.”

Sontak mereka berdua tersentak dari tempat persembunyian. Kerumunan warga itu mendadak chaos. Semua warga lari kocar-kacir ketakutan melihat penampakan manusia yang menyerupai burung gagak.

Terdengar suara eraman yang begitu mencengkam, membuat kerumunan warga porak-poranda. Mereka sadar, kampung itu dalam kondisi tidak baik-baik saja.

_______

Penulis


Aufa Almer Dzaky Zahran
, pelajar di SMA Pesantren Unggul Al Bayan Anyer. Ia merupakan pemenang Juara 2 FLS3N 2026 Kabupaten Serang yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional. 


Kirim naskah ke 

redaksingewiyak@gmail.com