View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Latest News

Saturday, February 14, 2026

Resensi Kabut | Pelajaran di Halaman

Oleh Kabut




Berbahagialah keluarga yang tinggal di rumah dengan memiliki lahan di depan, samping, dan belakang. Ada yang menyebut halaman atau pekarangan. Maka, rumah itu memenuhi beberapa kaidah sehat, indah, dan sejuk. Mengapa rumah itu selalu diimajinasikan berada di desa? Konon, lahan di desa masih luas. Gagasan tanah dan rumah masih mengikuti petunjuk-petunjuk leluhur, berbeda dengan nalar di kota. Konon, rumah-rumah di kota telah meninggalkan ajaran lama. Akibatnya, banyak rumah tanpa pekarangan.

Di desa, kebun-kebun kosong pun masih ada, yang membuat suasana kehidupan mengesankan hijau dan tenteram. Maka, rumah-rumah berpekarangan mengartikan anugerah tanaman atau pohon. Rumah memiliki pengertian yang “bertumbuh”. Yang menghuni memiliki kaitan-kaitan dekat dengan alam, tak sekadar tanaman atau pohon. Di situ, ada pula beragam binatang. 

Yang sedang kita pikirkan adalah rumah, belum masalah arsitekturnya. Cerita yang dibaca berjudul Mengatur Taman, bukan Mengatur Pekarangan atau Mengatur Halaman. Apakah itu cerita? Kita yang membaca judul dapat tersesat menganggapnya makalah atau buku berisi petunjuk-petunjuk. Yang jelek adalah pilihan kata: “mengatur”. Dulu, rezim Orde Baru mencipta tata kehidupan sering menggunakan istilah: aturan, peraturan, mengatur, dan lain-lain. Jadi, pembuatan judul adalah “kesalahan” yang sulit dimaafkan oleh para pembaca.

Penulis cerita bernama Nilasartika. Yang menerbitkan adalah Cypress, Jakarta, 1985. Yang membuat gambar-gambar bernama Ipe Maaruf. Ingat, yang kita baca adalah cerita. Anak-anak yang membacanya mudah menyelesaikan. Cerita yang singkat, cuma 39 halaman. Artinya, tidak semua halaman berisi kata-kata. Beberapa halaman, dipasang gambar-gambar yang besar. Pada suatu masa, buku menjadi koleksi di perpustakaan yang berada di Solo. Buku yang hanya menghuni sebentar, berlanjut menjadi barang rongsokan dan dagangan di pasar buku bekas. Namun, kita yang membaca masih berhak memberinya arti meski tidak terlalu penting bagi Indonesia abad XXI, yang sedang mendapat beragam perintah dari rezim Prabowo-Gibran.

Pada mulanya, pembaca ikut merasakan yang dialami tokoh bernama Ina. Pulang dari sekolah saat siang. Sewajarnya sinar matahari terasa panas. Ina pulang berjalan kaki. Yang ditulis pengarang: “Peluhnya mengalir. Baju seragamnya basah.” Matahari memberi kesan panas. Apakah di pinggir jalan tidak ada pohon-pohon seperti kekhasan desa? Pengarang mungkin lupa dalam meyakinkan pembaca mengenai latar tempat. 

Ina pulang sendirian. Pembaca tidak usah mencari-cari kalimat bahwa Ina mengobrol bersama teman-teman. Yang suka menuntut boleh menanyakan: “Sekolah seperti apa?” Kita biasanya mengetahui anak-anak SD yang pulang sekolah berbarengan jalan kaki atau naik sepeda onthel. Di cerita, SD itu pasti istimewa, yang muridnya sangat sedikit. Namun, kitab oleh menduga pengarang tidak mau bertambah repot bila memiliki banyak tokoh dalam cerita.

Di jalan, Ina melamun. Jalan itu tidak dilewati mobil, truk, atau bis. Yang diceritakan adalah suasana di desa. Maka, kita membayangkan jalan desa yang belum dihajar modernisasi. Jalan itu sepi. Ina bisa melamun tandanya ia tidak menjadi gangguan bagi pengguna jalan yang lain. Pembaca mendingan berimajinasi bahwa selama berjalan, Ina tidak bertemu siapa-siapa, termasuk teman atau tetangga.

Pengarang bercerita: “Ia teringat sudut halaman rumahnya yang sejuk. Tempat ia bermain bersama bonekanya. Ia selalu bermain di bawah pohon ceri. Pohon itu tumbuh rimbuh di sudut halaman rumah.” Lamunan yang indah saat Ina merasakan panas matahari. Yang sejuk cuma di halaman rumahnya? Jalan yang dilaluinya tidak sejuk. Sekali lagi, pembaca jangan suka menyalah-nyalahkan pengarang. Yang sering menyalahkan dan mengejek berdampak sulitnya kemajuan dalam kesusastraan anak di Indonesia.

Sampai di depan rumah, Ina terkejut, tidak melamun lagi. Mengapa? Yang dilihatnya adalah Pak Amat menebas pohon ceri. Padahal, adegan sebelumnya adalah Ina ingin cepat sampai rumah dan bermain sekaligus berteduh di bawah pohon ceri. Pengarang sengaja ingin menciptakan “tiba-tiba”. Pembaca mengira Ina sedih dan timbul konflik.

Cerita yang ditulis justru menolak konflik-konflik. Ibunya berhasil memberi keterangan, yang mudah dimengerti. Ibu yang berpengetahuan dan sabar: “Ina, pohon ceri itu tumbuh makin lama makin besar. Akarnya akan membahayakan rumah kita.” Ina mendengarkan, tergoda bertanya. Ina masih murid SD, boleh bertanya macam-macam: “Mengapa, Ibu? Bukankah rumah kita akan bertambah teduh seperti rumah nenek?” Ia mendapatkan pengalaman, yang digunakan dalam membuat pertanyaan.

Ibu tidak kehabisan kata-kata. Ibu pun tampil seperti guru: “Tapi kau ingat, ubin rumah nenek retak-retak oleh akar pohon ceri. Jika pohon itu dibiarkan bertambah besar, akarnya akan membongkar rumah kita. Lagi pula daun-daunnya yang kering selalu mengotori halaman. Halaman muka rumah kita sempit. Ibu ingin mengatur halaman itu menjadi taman bunga yang indah dan mungil.” Pembaca yang usil menuduh tokoh ibu dalam cerita tergabung dalam Dharma Wanita atau PKK, yang memiliki misi mulia bertema pekarangan atau taman di lingkungan rumah.

Ibu bercerita secara jelas dan apik mengenai beragam tanaman di taman: cabai, terung, tomat, kacang, dan bumbu-bumbuan. Ada pula pohon pepaya. Keuntungan: “Pohon pepaya itu dapat dipetik hasilnya jika telah berbuah. Sekarang pohon itu sedang berbunga. Pucuk daunnya yang muda dapat dimakan untuk lalap.” Ibu yang bertanggung jawab dalam mengurusi rumah dan merawat pengetahuan. Ina sangat beruntung memiliki ibu yang cerdas sekaligus bijak.

Ina berusaha mengerti tapi sedikit kecewa: “Aku tak akan mendengar lagi kicau burung ketilang dan pipit di pohon ceri.” Jawaban tetap ada berdasarkan fakta dan pengalaman. Kecewa itu ditumpas: “Burung-burung itu akan pindah  ke pohon jambu di muka jendela kamarmu, Ina. Burung-burung itu akan menikmati buah salam yang masak di belakang rumah kita. Sebentar lagi, pohon mangga kita berbuah.” Pembaca sangat penasaran dengan rumah dan lingkungannya. Rumah itu “impian” bagi orang-orang yang hidup di Kawasan permukiman padat di pelbagai kota.

Percakapan itu mengingatkan Ina dengan pelajaran IPA di sekolah. Di rumah, ia tetap saja kepikiran pelajaran. Ina terduga murid yang pintar, santun, dan patriotik. Di rumah, ibunya adalah guru, selain bapak dan tetangga yang diminta membantu mengurus halaman. Ina tidak melulu berhadapan buku pelajaran.
Pada saat mengurus taman, yang digunakan adalah pupuk kendang, bukan pupuk yang dibuat di pabrik. Pupuk itu mendapat penjelasan, yang membuat Ina bertambah pintar. Jadi, Ina mendapat pelajaran banyak: tanaman, binatang, pupuk, dan lain-lain. 

Apakah pembaca harus kagum dengan pengetahuan ibu? Kita membaca yang disampaikan pengarang: “Bangsa kita memiliki pertanian yang sangat luas. Ibu kira ternak di negara kita tidak cukup banyak untuk menghasilkan pupuk kendang bagi tanah pertanian kita yang luas di negeri ini. Oleh sebab itu pemerintah mendirikan pabrik Pusri (Pupuk Sriwijaya). Kau tahu, Ina, di mana letak pabrik itu?” Akhirnya, kesempurnaan terjadi: Ina teringat pelajaran IPS. Ina berhasil menjawab: “Di Palembang.” Jawaban diperoleh dari buku pelajaran. 

Kita membuktikan bahwa buku cerita itu bergelimang pelajaran. Beruntunglah anak-anak yang membaca buku cerita. Mereka sebenarnya sedang membaca buku pelajaran yang menyamar.

_______

Penulis


Kabut, penulis lepas.


Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Monday, February 9, 2026

Karya Siswa | Puisi Azreen Faeyza Khaireen Nisa

Puisi Azreen Faeyza Khaireen Nisa



Titik Nol


Hampa

Seakan tak ada makna

Tak kunjung menemukannya

Kosong


Aku tertawa walau tak bersuka

Aku marah walau tak terbakar

Semua perasaan itu sepi  

Seperti hati


Akankah aku menemukan jawaban?

Akankah aku menemukan jalan?


Teman, keluarga

Semua itu kosong

Seperti bayang yang tak mempunyai rupa

Seperti tamparan yang tak terasa sakit 


Hampa yang mendalam, tak terobati

Semua terasa sunyi 

Semua nihil

Tuhan, pantaskah aku menemukannya?


Film Sandiwara

Film kita berakhir di tikungan jalan

Panggungku kosong setelah pertunjukan


Awan putihku lenyap di langit mendung

Kita hanyalah hujan yang salah musim

Datang lalu membanjiri kenangan


Sungai terus mengalir membawa ingatan tentangmu

Musim hujan berlalu

Namun kenangan tetap membasuh


Kau hanya angin yang mendorong layarku

Anginmu seperti angin malam

Dingin


Air mataku seperti hujan yang lupa cara berhenti

Kini kusadari kau hanyalah pelajaran

Bukan tujuan akhir dalam perjalananku


______


Penulis


Azreen Faeyza Khaireennisa dilahirkan di Serang, 7 Januari 2014. Saat ini duduk di kelas 6 Ibnu Sina SD El Fatih yang beralamat di Kompleks Permata Banjar Sari Asri, Cipocok Jaya, Kota Serang.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Sunday, February 8, 2026

Resensi Kabut | Sakti dan Garam

Resensi Kabut


Cerita anak kadang dituntut turut menebar sains. Namun, tuntutan itu berlebihan bila kita menilik persembahan cerita anak di Indonesia, dari masa ke masa. Yang membuat cerita anak jarang berkepentingan mengajak anak-anak (pembaca) memasuki pengalaman, petualangan, atau pendalaman sains. Cerita-cerita disuguhkan untuk memberi ajaran-ajaran moral ketimbang memicu imajinasi mengarah sains.

Apakah berlimpahnya cerita anak di Indonesia menampilkan pengabaian atas ilmu (pengetahuan), yang berkaitan beragam mata pelajaran di sekolah? Kita belum wajib ikut menjawab. Yang dipelajari anak-anak di sekolah sering menjemukan dan “permukaan”. Wajarlah anak-anak yang belajar tidak ingin meraih pengetahuan-pengetahuan melebihi yang tercantum di puluhan buku pelajaran. Mereka cukup berbekal buku pelajaran agar dianggap berilmu. 

Anak-anak yang mau menikmati waktu senggang atau melawan kebosanan dengan membaca cerita anak tidak diharuskan menemukan asupan-asupan agar bergaiah dalam memikirkan sains. Cerita, yang sejatinya adalah khayal atau berpijak imajinasi, telanjur dianggap sumber hiburan atau mencari ajaran-ajaran moral.

Di Indonesia, pembakuan cerita anak yang digunakan mengajarkan kebaikan, kesantunan, kerukunan, keadilan, dan lain-lain sudah “membebani” para pembacanya. Artinya, membaca cerita anak seperti mengikuti penyuluhan atau “pembinaan”. Yang rajin membaca cerita anak semestinya menjadi panutan dalam usaha menjadi manusia yang “utama”. Dampak “cerdas” atau “melek pengetahuan” belum dijanjikan dalam perayaan cerita anak di Indonesia, dari masa ke masa. Beberapa orang malah menyatakan bahwa anak-anak yang pingtar bukanlah anak-anak yang gandrung bacaan fiksi. Mereka adalah penegak keampuhan buku-buku pelajaran.

Pada abad XXI, kita mulai mengetahui terjadi pergeseran selesai dalam perkembangan bacaan anak. Penerjemahan cerita-cerita anak dari pelbagai negara ikut berpengaruh dalam mengagungkan sains. Maksudnya, cerita-cerita yang dibaca mengarahkan anak menekuni botani, astronomi, fisika, matematika, dan lain-lain. Cerita anak bukan “pengganti” buku pelajaran tapi referensi dalam selebrasi imajinasi yang tidak melulu moral.

Mengapa yang terkandung dalam pelbagai cerita anak asal negara-negara asing memikat anak-anak di Indonesia? Yang bikin iri adalah cerita-cerita itu sulit tersaingi oleh gubahan para pengarang Indonesia. Akhirnya, bermunculan cerita mengandung sains, yang ditulis oleh pengarang Indonesia dengan pertimbangan dibaca anak-anak Indonesia. Maka, yang diperlukan adalah patokan yang tidak mengikuti gejolak sastra anak dan sains di dunia.

Kita belum mampu membuat amatan yang serius mengenai sastra anak Indonesia abad XXI, yang gelagatnya sudah memuliakan sains. Kita mundur saja ke masa lalu untuk menyibak pemenuhan hasrat pengetahuan dalam sajian cerita anak. Yang terbaca sebenarnya tidak sepenuhnya hanya moral. Namun, kita yang ikut membaca meski bukan anak-anak lagi menganggap terjadi peminggiran imajinasi berpatokan sains.

Pilihannya adalah membaca buku cerita bergambar yang berjudul Lesung Jimat. Cerita ditulis oleh Adikusumah. Gambar-gambar dibuat oleh A Wakidjan. Buku tipis itu diterbitkan oleh Pustaka Jaya. Anak-anak yang membacanya tidak bakal lelah dan cemberut dalam menyelesaikan cerita dan menikmati gambar. Buku di tangan yang cuma 40 halaman dapat dikhatamkan beberapa menit saja, tidak perlu 3 hari atau seminggu. 

Buku diterbitkan pada tahun 1975. Para pembaca tidak usah berharap hasil cetaknya apik. Gambar-gambar pun sederhana dalam tampilan tiga warna. Penggarapan buku sudah serius meski keterbatasan desain dan mesin cetak belum memungkinkan suguhan yang artistik. Pada masa 1970-an, anak-anak yang membacanya mungkin sudah terpukau. Pembagian oleh penata letak membuat anak-anak terbujuk membaca: satu halaman berisi kata-kata dan satu halaman untuk gambar. Penceritaan dibuat bernomor. Susunan mirip puisi tapi bahasanya gampang dimengerti.

Judul cerita adalah Lesung Jimat. Lesung, benda yang diakrabi anak-anak di Indonesia, terutama yang hidup di desa. Lesung itu benda berkaitan dalam pengadaan pangan. Lesung terbuat dari kayu, yang menghasilkan suara merdu dan mengaitkan anak-anak dengan kultur pangan. Konon, lesung dan alu itu benda khas dalam peradaban agraris. Penyebutan “jimat” dalam cerita lekas membimbing anak-anak dalam keyakinan tradisional di Indonesia. Jimat itu istimewa, ajaib, ampuh, atau sakti.

Pembuka yang membenarkan itu khayalan: “Tersebutlah kono dahulu kala, sebelum air laut asin rasanya, dua orang laki-laki bersaudara.” Masalah yang terpenting? Air laut atau manusia? Pembaca akan mengetahuinya bila membaca 20 nomor dalam buku. 

Yang diceritakan adalah dua bersaudara, tidak mengikutkan bapak dan ibunya. Yang tua bernama Kikir. Yang muda dinamakan Budiman. Dua nama itu pilihan pengarang, yang menggampangkan pembaca dalam mengetahui sifat-sifat tokoh. Anak-anak paham bahwa kikir itu sifat yang jelek, tidak boleh ditiru. Pemberian nama Kikir mungkin memastikan sisi hitam tokoh. Sebalinya, anak-anak mengartikan Budiman adalah sifat-sifat yang baik, yang biasanya dianjukan untuk ditiru. Pada masa lalu, sebutan “budiman” digunakan dalam lirik lagi, yang mengarahkan terwujudnya “murid yang budiman”. Pada kesempatan berbeda, cerita anak menganjurkan menjadi manusia yang budiman.

Apakah sepenuhnya tokoh itu dapat menjadi panutan? Yang diceritakan oleh Adikusumah: Yang muda, Budiman Namanya. Ia orang miskin, tapi rajin, senang bekerja. Di samping itu hatinya mulia, ia senang sekali menolong orang. Yang memerlukan tenaga, dibantunya bekerja, yang kelaparan, diberinya makan. Karena itu ia dicintai oleh semua orang.” Pemberian definisi yang tidak bisa dibantah. Anak-anak sepakat saja. Budiman adalah tokoh yang menunjukkan kebaikan-kebaikan. 

Pada saat membaca cerita, perhatian anak-anak condong mengarah kepada tokoh Kikir atau Budiman? Mereka boleh membuat perbandingan sambil mencari “contoh” dalam kehidupan keseharian. Bagi pembaca yang hanya ingin menikmati cerita, belum ada kebutuhan mengaitkan dengan lakon hidup yang lazim menyajikan sisi hitam dan sisi putih.

Di halaman bernomor 4 dan 5, anak-anak gampang membuat simpulan: “Pada suatu hari, karena kehabisan bekal, Budiman datang ke rumah kakaknya, hendak meminjam beras sedikit untuk makannya. Tapi, si kakak yang kaya marah, katanya kesal: ‘Kau hanya pandai menyusahkan orang!’ sambil pergi meninggalkan adiknya. Budian tunduk. Air matanya meleleh ke pipi karena sedih dan pedih oleh perkataan kakanya yang menusuk hati.” Dua nasib yang sangat berbeda. Anak-anak kasihan kepada Budiman. Namun, kecengengan si tokoh membuat anak-anak bertanya-tanya tentang kesabaran atau ketabahan. Mengapa ia menangis?

Yang mengejutkan: “Istri si Kikir iba hatinya melihat Budiman yang sedih dan putus asa. Karena merasa kasihan diberinya Budiman: beras sebatok dan sepotong ikan. Budiman terharu menerima pemberian itu. Sesudah mengucapkan terima kasih ia pun bermohon diri lalu pergi dari situ.” Istri yang memiliki sifat-sifat berbeda dari Kikir. Pembaca yang tidak menyukai Kikir agak memuji istrinya. Bagaimana kehidupan suami-istri dalam mengelola kekayaan dan pergaulan dengan sesama?

Bantuan atau pemberian itu akhirnya tidak dinikmati sendirian oleh Budiman. Ingat, ia adalah tokoh yang suka berbuat baik. Beras dan ikan asin diolahnya untuk dimakan bersama lelaki tua (merana) yang ditemuinya di jalan. Lelaki yang tua dan kelaparan itu diajak ke rumah. Malam menjadi saksi mereka makan dan membuktikan kebaikan. Pembaca bisa menebak. Budiman mendapat balasan dari lelaki tua. Balasannya adalah lesung dan alu. 

Anehnya, benda yang diberikan tidak terbuat dari kayu tapi perak. Jadi, lelaki itu pastinya menyamar saat tampil dalam ringkih dan kelaparan. Ia adalah sosok yang istimewa, yang sengaja datang untuk menguji dan membantu Budiman. Pesan yang diberikan saat menyerahkan lesung dan alu: “Mintalah apa yang kauingini kepadanya, dan ia akan berbukti. Taruhlah sedikit tanag ke lesung ini bila kau mengingini ia berhenti.” Terjadilah, apa-apa yang diminta Budiman terwujud, dimulai dengan permintaan beras. Akhirnya, Budiman menjadi tokoh yang makmur-sejahtera tapi tetap baik dan suka menolong sesama. Budiman tidak berubah menjadi sombong dan kikir.

Yang selanjutnya terjadi adalah ulah Kikir untuk menguasai lesung dan alu milik adiknya. Berhasil melalui pencurian. Ia membawanya ke pelabuhan, berlanjut naik ke kapal. Yang diinginkannya adalah emas, intan, dan berlian. Pada saat di kapal, ia mendengar juru masak ribut-ribut disebabkan saat mau memasak kehabisan garam. 

Maka, yang diinginkan dari alu dan lesung adalah garam. Akibatnya, garam terus dihasilkan dalam jumlah yang banyak, yang mengakibatkan kapal itu karam. Kikir tidak mengetahui cara menghentikannya. Akhir dari cerita: “… sehingga laut jadi asin semua, sekarang dan di masa yang akan datang.” Buku cerita itu ditutup, anak-anak membuka buku pelajaran sambil menyimak penjelasan guru. Mereka mendapat bahasan mengenai ait laut yang asin dan air sungai yang tawar. Anak-anak juga belajar tentang garam dan kegunaan dalam kehidupan sehari-hari. Buku cerita bergambar yang disusun oleh Adikusumah dan A Wakidjan menjadikan anak-anak tersenyum menandakan “bingung” dan “ragu”. Mereka dalam ketegangan cerita dan sains.


__________

Penulis

Kabut, penulis lepas. 



Kirim naskah ke 
redaksingewiyak@gmail.com

Thursday, February 5, 2026

Berita | SMP Islam Al Ikhlas Jaksel Gelar Worksop Karturema, Undang Tim #Komentar dari Serang


NGEWIYAK.com, JAKSEL -- Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa (#Komentar) dari Serang Banten yang dinakhodai Encep Abdullah mengisi pelatian menulis di SMP Islam Al Ikhlas yang berada di Jalan Cipete III, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan, selama tiga hari, Selasa--Kamis (3--5 Februari 2026). 


Dalam pelatihan yang bertajuk Workshop Karturema (Karya Tulis Remaja), para peserta terdiri dari Encep Abdullah yang mengisi materi karya tulis ilmiah, Nurhadi karya ilmiah populer, Ma'rifat Bayhaki menggali ide, dan Ahmad Wayang menjelaskan tentang cerita pendek dan premis. 


Encep menjelaskan, membuat karya tulis ilmiah itu butuh latihan disiplin. "Tema yang bisa kita tulis beragam. Bisa dari mengkritisi isu yang sedang berkembang atau dari hal-hal lain yang ingin digali dan diteliti," kata Encep saat mengisi materi. 


Sedangkan hari kedua diisi oleh Ahmad Wayang tentang cerpen atau cerita pendek. Dalam kesempatan tersebut Wayang juga menjelaskan mengenai pentingnya membuat premis, sebelum menuliskan cerita yang panjang. Menurutnya premis adalah rancangan dasar dalam menulis cerita. "Jangan lupa tuliskan dulu premisnya. Sebab dari premis, kita bisa tahu dan melihat bagaimana cerita kita bergerak. Apakah menarik atau sebaliknya," kata Wayang. 


Selama kegiatan tersebut, peserta workshop juga dilatih dan dibimbing dalam menuliskan cerita mereka hingga jadi oleh para mentor. 


Penanggung jawab acara workshop Hawin Maulana mengatakan, kegiatan ini merupakan kegiatan tahunan yang digelar sekolah dalam rangka meningkatkan literasi menulis pada siswa. "Gol dari workshop ini adalah agar anak-anak semakin mahir menulis dan nanti karya mereka akan dibukukan," kata Hawin. 


Encep juga menjelaskan bahwa kerja sama antara Tim #Komentar dengan SMP Islam Al Ikhlas sudah terjalin sejak tahun lalu. "Alhamdulillah tahun ini tim #Komentar kembali dipercaya oleh pihak sekolah untuk mengisi kegiatan workshop menulis. Sebelumnya tahun lalu juga kami mengisi kegiatan yang sama, untuk kelas VIII," jelas Encep. 


Kirani, salah satu peserta workshop, mengaku senang bisa mengikuti kegiatan ini. "Kegiatan ini seru dan menambah wawasan. Semoga bisa berjumpa lagi di tahun depan," kata Kirani. (Rin/red)



Esai Uwais Qorni | Masalah Krusial Pembuatan Judul Esai

Esai Uwais Qorni



Sebenarnya ilmu membuat judul esai itu dapat ditemui banyak di internet dan di buku. Kita juga bisa mendapatkannya dengan berdiskusi dengan ChatGPT. Tapi, kesannya akan lain kalau kita mikirin judul tulisan itu sendirian dibandingkan dengan, misalnya, dibantu oleh AI. AI tidak mengajak kita berpikir. AI malah menghambat kita berpikir secara mandiri.


Seringnya pengetahuan yang disampaikan melalui esai mudah untuk kita mencernanya. Di dalam esai berisi subjektivitas penulisnya. Lewat esai, penulis bisa mengutarakan apa pun yang ada di otak dan di hatinya. Bahasan yang pemantiknya berupa quotes jika diniatkan untuk diesaikan itu bisa panjang.


Tidak mustahil esai bentuknya itu pengalaman-pengalaman penulis dengan penyampaian yang terkesan bercandaan, gak niat, bahkan blak-blakan tanpa khawatir dicemooh pembacanya nanti. Dimungkinkan juga bentuk esai begitu kaku semacamnya ketikan robot. Gampangnya, esai merupakan bacotan penulis.


Esai gak melulu menaruh solusi di dalamnya. Kadang ada esai yang ngajak mikir.


Saya suka menulis esai baru-baru ini. Sebab saya merasa gagal latihan menulis cerpen, saya fokuskan saja kepenulisan saya dalam bentuk esai dan puisi. Saya juga merasa gagal dalam menulis judul apa pun genre tulisannya itu. Tapi, saya merasa tidak perlu memusingkan itu.


Selama masa-masa setoran cerpen di grup latihan menulis asuhan Kang Encep "Klinik Menulis", saya sangat terganggu dengan pembuatan judul. Berkali-kali revisi karya. Tetap yang paling bikin overthinking adalah kenapa judulnya tidak meningkat ke arah yang lebih bagus. Sudahlah tulisan saya sedengan dan di bawah standar, ditambah pula dengan judulnya yang jelek.


Kalau mikirin seperti ini terus mungkin saya pensiun dari kegiatan menulis. Menulis dengan perasaan gembira baru sekarang tumbuhnya. Ini malah mau disusahkan lagi dengan masalah pemilihan judul. Jika saya gak bahagia lewat menulis, lalu buat apa saya betah-betahan menulis? Kayak gak ada kerjaan saja yang lebih menggiurkan, misalnya nyari duit.


Tapi, tidak sampai di sini. Saya menulis biar ngebacot aja. Ngebacot yang dikit-dikit berbobot. Daripada ngebacot tapi ngerecokin urusan orang lain. Daripada ngebacot malah menambah down mental lebih baik saya nulis begini.


Menulis itu butuh modal. Ini saya minim modal sebenarnya. Materi kepenulisan saya dikit banget. Banyak yang belum saya kuasai. Menghafalkan nama-nama sastrawan, saya gak mau. Soalnya saya bisa dibilang gak nyaman kalau bahas sejarah macam itu. Bukan artinya saya buta total terhadap sejarah. Saya hanya gak suka menghafalkan nama-nama dan penanggalannya itu. Untuk ngedengerin sejarah, asalkan seru dan gak ngebosin, oke saja buat saya.


Saya nyaris minder menulis sok-sokan seperti ini. Denger-denger di dunia literasi itu ada perpolitikannya. Bodo amatlah saya masalah itu. Asalkan saya mampu menuntaskan satu tulisan itu sudah lebih dari cukup. Daripada ngomong doang pengen nulis ini pengen nulis itu, tapi gak pernah dikerjain. Lebih baik senyap, tapi gerak maju.


Omong-omong, gak ada motivasi saya menulis itu lewat support orang-orang terdekat saya. Jadi merupakan pencapaian jika saya masih bertahan menulis sampai sekarang. Ditarik tali benangnya adalah rasa penasaran saya tinggi. Mimpi saya ini, andaikan saya berada di lingkungan yang kutu buku niscaya saya ajak semuanya itu untuk mendiskusikan buku-buku.


Omong-omong lagi, beberapa tahun yang lalu saya bermukim di asrama yang tepat. Saya mondok di pesantren yang tepat. Di sana gak ada istilahnya senioritas. Semua belajar. Semua saling mendukung untuk jadi lebih pintar lagi. Ada kebiasaan saya di sana yang pengen banget sekarang ini saya hidupkan kembali di rumah, yaitu kebiasaan berdiskusi.


Dulu sukanya saya mendiskusikan ilmu nahwu atau sintaksis Arab. Yang sering saya ajak berdebat itu adik kelas, soalnya biar saya tahu seberapa bodohnya sih saya ini kok bisa sampai "kalah" berdebat dengan adik kelas? Sedangkan bersama sekumpulan kakak kelas di forum seringnya saya oleh mereka didorong untuk menjadi moderator. Sebab semua itu bobot omongan saya meningkat. Hasilnya saya sekarang gak suka basa-basi.


Tepat setahun sebelum kelulusan, saya boyong. Hijrah lagi ke dua tempat yang berbeda dalam hitungan waktu dua tahunan di luar sebelum akhirnya saya menetap di kampung halaman. Dan sekarang saya sudah ada di rumah.


Kenyataan pahit menimpa saya. Apa yang saya impikan tidak terpenuhi. Saya jadi pengangguran di sini. Di sini saya gak jadi apa-apa. Jadi guru, saya merasa bukan pakarnya. Dan saya tidak lulus di pondok mana pun. Saya yakin kelulusan saya cuma satu, yaitu lulus MI di pondok milik keluarga sendiri.


Kecewa ya kecewa. Soalnya gini, jika saya tahu di lingkungan rumah ilmu debat itu gak penting sebab umur dan posisi seseorang bisa mengangkat dan mengultuskan apa pun ucapannya meskipun gak selalu ada benarnya. Maka, buat apa saya selama itu pura-pura berani ngomong di forum diskusi hanya demi melatih keberanian diri dan memompa kemampuan bernalar?


Lanjutan bahas esainya mana nih?


Yaitu pada kesamaan berdiskusi dengan menulis esai. Bagi saya menulis esai itu mudah sebab saya bisa berdebat. Kalau bisa berdebat seringnya bisa menulis esai. Menulis esai itu ngebacot versi tulisan, sedangkan diskusi itu ngebacot dengan "menjagokan" ilmu-ilmu. Permasalahan timbul ketika saya sadar kalau di forum debat gak ada judul saat memulai debat. Saat saya bertukar pikiran dengan teman-teman, ya sudah jadi debat itu. Itu langsung mulai saja.


Sebelumnya memang tema ditentukan, persiapannya yang matang, juga kudu siap mental menghadapi "lawan" debatnya. Ketika berdiskusi sudah semacamnya, dua ayam jago diadu di tengah-tengah kandang terbuka.Saat itu juga kelihatan siapa yang gaya penyampaiannya masih seperti di awal yang santai dan siapa yang kepanasan dan terpojok. Apa yang dibahas itu jadi seru ketika semuanya sama-sama tahu kalau hal semacam ini menambah ilmu dan bukan menambah musuh. Jika dengan debat malah musuh-musuhan, ya jangan debat sekalian.


Esai, gampangannya ya begitu. Esai itu diskusi versi tulisan. Keduanya sama-sama mengumpulkan gagasan. Keduanya membenturkan perspektif dan menghasilkan kesimpulan akhir yang meskipun gak selalu memuaskan semua pihak, tapi setidaknya ada sudut pandang baru yang dapat ditelaah lebih mendalam. Dan kadang esai dan diskusi itu menyisipkan perasaan pelontarnya, juga sesekali menayangkan pengalamannya dalam berhubungan dengan permasalahan tersebut. Tapi, yang membedakan keduanya adalah judul. Esai punya judul, sedangkan berdebat itu langsung ke isi.


Perihal ilmu membuat judul, saya pernah baca buku dan nonton edukasi di YouTube. Saya tidak mencantumkan referensi di sini. Tinggal cari istilahnya itu "Efek Halo". Persamaannya antara "Efek Halo" dan dalam pembuatan judul esai maupun judul karya lainnya, yaitu sama-sama diarahkan kepada kesan pertama bagi konsumen. Pembaca adalah konsumen tulisan dan apa yang pertama kali dinilainya adalah judul tulisan tersebut.


Ini sebenarnya masalah pelik dan penuh abu-abu. Ada sebagian judul yang menipu. Lewat judulnya saja kesannya itu bagus. Kayak bagian setelahnya itu berupa isi tulisan yang wajib dibaca sekali seumur hidup. Benar-benar pencitraannya itu seratus persen dikerahkannya untuk mengelabui calon pembaca. Padahal cuma judul, bukan fakta. Kenyataannya adalah kita tidak tahu seberapa bagus atau jeleknya sebuah tulisan sebelum kita membacanya sampai selesai. Alhasil, untuk pembuatan judul sendiri mungkin saya pribadi cocoknya dikesampingkan. Menulis selesai dulu baru overthinking tentang judulnya apa. Atau membaca sampai tuntas terlebih dahulu dan jangan menghiraukan bagus atau jelek judulnya.


Referensi:

1. Fahruddin Faiz dalam buku Ihwal Sesat Pikir dan Cacat Logika.

2. Pengarahan Diklat Jurnalistik.

3. Beberapa video tentang "Logical Fallacy".


Monday, February 2, 2026

Lapak Buku | "Suara dari Alaska dan Sejumlah Esai Lainnya" Karya Heru Anwari

 


Judul: Suara dari Alaska dan Sejumlah Esai Lainnya

Penulis: Heru Anwari
Penerbit: #Komentar

Terbit: Maret 2026

Tebal: viii+95 hlm.

Harga: Rp65.000



Buku Suara dari Alaska dan Sejumlah Esai Lainnya karya Heru Anwari merupakan kumpulan esai reflektif yang lahir dari perjalanan lintas negara, terutama Amerika Serikat dan Alaska. Melalui pengalaman sebagai atlet BMX dan seniman pertunjukan, penulis mengajak pembaca menelusuri sisi lain peradaban modern: gemerlap kapitalisme, kebebasan yang menyesakkan, serta krisis nilai kemanusiaan. Setiap esai merekam perjumpaan personal dengan isu materialisme, korupsi, kerja, kebahagiaan, hingga spiritualitas, yang dipertautkan dengan realitas Indonesia sebagai “tanah surga” yang kerap terlupa. Dengan bahasa jujur dan narasi kontemplatif, buku ini menjadi catatan batin seorang pengelana yang mempertanyakan makna hidup, harga diri, dan iman di tengah dunia yang menjadikan uang sebagai pusat segalanya.



Kontak:

087771480255 (Penerbit)


Saturday, January 31, 2026

Resensi Kabut | Ubi: Panen dan Memasak

Oleh Kabut



Indonesia tidak hanya padi. Indonesia pun bukan cuma jagung. Di tanah Indonesia yang subur, orang-orang menanam dan memanen ubi. Sejak ratusan tahun lalu, penduduk di Nusantara memiliki beragam olahan dengan bahan baku ubi. Penamaan makanan macam-macam memberi khazanah kuliner yang punya banyak cerita. Jadi, Indonesia pun ubi.


Pada zaman berlimpah (jenis) makanan, yang berdatangan dari Barat, ubi sering diremehkan. Konon, ubi adalah makanan kelas bawah. Ada yang mengecap ubi itu “desa” atau “kampungan”. Artinya, ubi sangat sulit bersaing dengan makanan-makanan baru atau modern. Namun, ubi adalah tanaman yang mudah berkembang di Indonesia, yang hasilnya melimpah. Pada masa lalu, biografi dan sejarah memuat ubi dalam hal-hal yang penting dan sepele. 


Di hadapan anak-anak, ubi mungkin sulit berarti. Mereka telanjur mendapat godaan-godaan kemodernan, yang mengajarkan selera baru. Mereka menyantap makanan-makanan yang tampilannya melampaui sajian tradisional. Mereka dibuat percaya dengan nama-nama asing, yang menjadikan makanan naik martabatnya. 


Pada masa Orde Baru, ubi biasa berada di tingkat bawah. Anak-anak mengetahuinya tapi belum tentu menggemari dan mau menyantapnya. Di pelbagai desa, segala olahan ubi adalah santapan kaum tua. Olahan-olahan ubi menjadi nostalgia atau kenangan, yang perlahan terpinggirkan.


Namun, ada usaha agar anak-anak di Indonesia tidak melupakan ubi. Yang dilakukan adalah mengarang cerita untuk anak. Soedharma KD menggubah cerita berjudul Hantjurnja Ketjurangan. Buku yang tipis diterbitkan oleh Pustaka Jaya, 1972. Judulnya tidak menggunakan diksi ubi tapi pembaca disuguhi cerita dan penjelasan mengenai ubi. Yang agak membantu imajinasi adalah gambar di sampul depan yang dibuat oleh Ipe Ma’aruf.


Buku itu masuk babak awal dari keseriusan Pustaka Jaya menerbitkan buku cerit anak. Banyak judul yang terbit tapi mengalami kesulitan dalam pemasaran. Pada masa 1970-an, kita mencatat bahwa Pustaka Jaya berhasil “membujuk” pemerintah melakukan pembelian buku cerita anak ribuan eksemplar, yang dibagikan ke banyak perpustakaan. Kerja atas nama buku kelak dikenal sebagai “Inpres”. Proyek buku Inpres memicu ratusan pengarang menghasilkan banyak cerita anak yang berstempel “milik negara” atau “tidak diperdagangkan”. Artinya, pemerintah membeli buku dari penerbit-penerbit, yang disediakan untuk anak-anak dan kaum remaja agar gemar membaca.


Novel tipis berjudul Hantjurnja Ketjurangan membuktikan selera Pustaka Jaya. Novel yang mengandung nasihat dan keilmuan. Yang dimaksud keilmuan adalah biologi atau pertanian. Pengarang memiliki pemahaman mengenai ubi, yang disampaikannya kepada anak-anak melalui cerita, bukan makalah ilmiah. 


Yang menjadi tokoh dalam cerita atau murid-murid di SD, yang beralamat di desa. Pembaca diminta meresmikan bahwa ubi itu khas desa. Shoedarma bercerita kegembiraan anak-anak, berangkat dari sekolah menuju sawah untuk panen ubi. 


Peristiwa yang seru: “Sepandjang djalan mereka selalu menjanji. Diselingi dengan bertepuk tangan dan bersorak-sorai. Bahkan kelakar terdengar djuga, bertjampur dengan gelak tertawa. Mereka bukan semua tjalon pradjurit. Tetapi mereka panda djuga berbaris tertib.” Pasukan itu mau merayakan sukacita: panen ubi. Sekolah menjadi pihak yang memberi pelajaran dan membimbing murid-muridnya paham ubi.


Cerita sengaja menghendaki memberi ajaran baik kepada para pembaca. Kita yang membacanya menyadari adanya propaganda: “Kira-kira enam bulan jang lalu oleh Lembaga Sosial Desa, SD Sukaredja mendapat pindjaman sawah kira-kira seperempat hektar luasnja. Separo dari sawah itu ditanami padi, sedang separo lagi dibuat ladang. Musim ini mereka panen ubi pohon. Sebentar lagi mereka akan panen padi.” Kita kagum mengetahui pihak sekolah tidak sekadar melelahkan anak-anak dengan beragam mata pelajaran. Pada hari-hari tertentu, anak-anak diajak dalam pelajaran dan pengalaman bertani. Ingat, mereka adalah murid-murid kelas 4 dan 5. 


Kerja bersama menjadikan panen ubi penuh kegembiraan. Anak-anak lelah tapi senang. Mereka membuktikan kerja yang membutuhkan kesungguhan dan kesabaran. Yang ditanam adalah ubi “mukibat”. Penjelasan disampaikan pengarang: “Adapun ibu mukibat ialah hasil okulasi ubi karet dan ubi biasa, hasil pertjobaan Pak Mukibat. Ubi biasa sebagai pokok batang jang nantinja menghasilkan ubi, sedangkan ubi karet sebagai batang dan tjabang-tjabang jang bertugas memasak makanan dengan daun-daun jang lebat.” Pelajaran penting agar anak-anak menghargai ilmu pertanian dan tokoh di Indonesia.


Mereka beruntung dan bahagia: “Adapun hasil panen mereka kira-kira empat kwintal. Dua kwintal dimasak dan dua kwintal lagi dilelangkan. Hasilnja untuk mentjukupi kebutuhan alat-alat sekolah. Sedangkan ketela hasil okulasi itu dibagi-bagikan kepada pak lurah, pak penilik sekolah, pak ketua lembaga sosial desa, djuga kepada pak mantri kesehatan dan pak mantri pertanian. Sisanja dilelang.” Cerita yang terlalu apik. Guru dan murid dalam keberhasilan. Para pembaca geleng-geleng kepala: kagum dan sulit percaya. 


Cerita yang akhirnya kekurangan pikat. Keberhasilan kadang kurang memberi gejolak bagi pembaca. Pengarang malah menambahi “keberhasilan” dengan pidato saat upacara di sekolah: “Keistimewaan negeri merdeka. Kita harus pandai bekerdja. Supaja apabila kalian sudah besar kelak, kalian dapat bekerdja sendiri. Kita harus selalu bekerdja dan selalu membangun.” Kalimat-kalimat biasa diproduksi oleh pemerintah. Jadi, novel itu menginginkan anak-anak mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah, yang saat itu dipimpin Soeharto.


Hasil panen membuat anak-anak kerja bakti lagi untuk memasak. Mereka memberi kontribusi macam-macam. Sekolah menjadi tempat terindah, bukan hanya untuk membuka buku pelajaran dan mengerjakan tugas di buku tulis. Kita mengikuti nasihat dalam upacara: “Untuk memasak ubi sadja dibutuhkan kerukunan jang erat. Ada jang mempunjai sebutir kelapa, tetapi ada djuga jang tidak mempunjai apa-apa. Ada jang mempunjai lima gandu gula djawa, tetapi ada jang hanja mempunjai selembar daun pisang. Semuanja dikumpulkan untuk mentjiptakan suatu masakan jang lezat. Dan, kita sama-sama telah merasakan masakan itu.”


Sekali lagi, pengarang hendak mencipta cerita yang sempurna. SD di desa menjadi contoh kebahagiaan bukan gara-gara pelajaran saja tapi mengikutkan bekerja di pertanian. Kesempurnaan itu makin kentara dengan memasak bersama dan menikmati beragam makanan berbahan ubi. Jadi, novel bisa dijadikan referensi agar murid-murid di seantero Indonesia memuliakan ubi.


Apakah sekolah seperti itu masih bisa ditemukan di abad XXI? Kita malah bingung dengan kebijakan-kebijakan pemerintah, yang membuat sekolah menjadi tempat yang banyak perintah atau tanda seru. Sekolah mendapat beragam petunjuk agar menyukseskan segala program buatan pemerintah. Rekayasa terjadi menimbulkan kekonyolan. Kita mendingan tersesat dalam novel gubahan Soedharma ketimbang memikirkan pemerintah dan sekolah masa sekarang.


______


Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 




Saturday, January 24, 2026

Resensi Kabut | Tebu dan Padi

Oleh Kabut



Di Indonesia banyak cerita rakyat atau cerita anak mengenai pertanian. Cerita itu memikat. Yang mendengar mudah mengingatnya. Yang membaca dapat membuat catatan dan renungan. Pertanian menjadikan anak-anak mengerti Indonesia. 


Konon, Indonesia itu memiliki tanah yang subuh. Indonesia bisa makmur. Anak-anak perlahan agak meragukan bila Indonesia makmur. Pernyataan bahwa “bisa” itu malah sering gagal. Apa yang menyebabkan Indonesia belum makmur? Anak-anak tidak mendapat jawaban yang jujur dari penguasa. Mereka kadang menanyakan kepada guru atau orang dewasa. Pertanyaan yang mudah tapi sangat sulit dijawab.


Sejak dulu, Nusantara itu padi. Yang diimajinasikan banyak orang memang kesuburan adalah padi. Padahal, yang ditanam di seantero Nusantara tidak hanya padi. Beragam tanaman dapat bertumbuh subur di Indonesia, menghasilkan daun, buah, bunga, dan lain-lain. Mengapa yang sering muncul adalah padi? 


Pada akhir abad XIX, tanah jajahan berubah gara-gara pendirian pabrik-pabrik gula. Lahan-lahan luas dan subur ditanami tebu. Pesta keuntungan terjadi. Gula adalah industri yang sangat manis. Banyak pihak yang berebutan laba. Akibatnya, konflik dan kehancuran terjadi akibat tebu. Di Jawa, lakon pertanian tampak menggembirakan gara-gara tebu. Namun, akhirnya, muncul petaka-petaka.


Pada awal abad XX, manisnya industri gula masih terasa. Gula sangat dibutuhkan di pasar dunia. Jawa turut menjadi pemasok yang besar. Semuanya menjadi lesu pada masa 1930-an. Penyebabnya adalah depresi ekonomi. Yang terjadi adalah kebingungan, kehancuran, dan impian yang tersisa. Di Indonesia, industri gula tidak mati. Pertanian tebu masih berlaku di pelbagai tempat. Keuntungan masih diharapkan meski tidak sefantastis masa lalu.


Kita kembali teringat padi dan tebu saat membaca buku cerita anak berjudul Bunga-Bunga Tebu gubahan Bung Smas, yang diterbitkan Gramedia, 1983. Buku yang dicetak apik dalam pilihan kertas, huruf, dan garapan sampul. Gambar itu mudah membuka nostalgia Orde Baru saat pertanian tebu masih ikut menjadi andalan pembangunan nasional. Yang sukses memang swasembada beras. Namun, masalah tebu dan gula juga mendapat perhatian besar dari pemerintah dan penguasaha. Lakon itu seolah menganjurkan para petani menanam tebu ketimbang padi.


Yang diceritakan Bung Smas bukan sejarah. Pembaca akan mengetahui perbedaan nasib petani di desa. Banyak yang meraup untuk setelah menanam tebu di sawah. Sedikit orang yang tetap menanam padi dengan gagal panen atau hasil yang sangat sedikit. Maka, kemiskinan terjadi. Desa bercerita perbedaan nasib gara-gara tebu dan padi.


Beno, anak yang masih murid SD, lahir dan tumbuh dalam keluarga miskin. Bapaknya adalah petani, yang selalu memilih padi. Bapaknya berbeda pendapat dengan para tetangga yang memilih menanam tebu. Kemiskinan menimpa sambil melihat tetangga-tetangga yang sejahtera dari pertanian tebu. Beno menentukan sikap atas nasibnya.


Di sekolah, Beno sulit menjadi murid pintar. Ia terbiasa gagal dalam mata pelajaran Matematika. Di rumah, ia sering dianggap salah oleh bapaknya, yang biasa memberi pertanyaan tapi sulit terjawab. Pengarang mengisahkan nasib Beno yang dimarahi bapak gara-gara suka bermain. Bapaknya bertanya tentang pentingnya melakukan sesuatu yang bermanfaat ketimbang bermain. Maka, bapaknya bertanya: “Apa lagi kerjamu, Ben?”


Yang terjadi: “Pertanyaan itu mudah sekali. Jawabannya yang sulit. Seperti soal Matematika pagi tadi. Soalnya mudah. Jawabannya sukar didapat karena semalam Beno tidak belajar. Akibatnya, Pak Tom, guru kelas empat itu, menghukumnya. Disuruh berdiri dengan sebelah kaki di depan kelas!” Beno menyadari kesalahan dan kelemahannya. Hiburannya adalah bermain atau membuat mainan.


Di desanya sedang musim tebu. Beno memanfaatkan gelagah untuk membuat mainan. Hari-harinya adalah membuat mainan sambil mengasuh adiknya yang masih kecil dan suka mengompol. Beno menyadari bapaknya dalam kemiskinan dan ibunya menjadi buruh penumbuk padi agar keluarga bisa makan. Beno yang suka bermain membuat bapaknya jengkel. 


Bapaknya dianggap bersalah oleh para tetangga. Mereka mengajaknya menanam tebu tapi bapaknya tetap memilih padi. Para pembaca yang paham sejarah dan pertanian sebenarnya dapat membahas secara kritis kehidupan agraris. Padi tidak selalu menjanjikan keluarga petani bisa makan dan sejahtera. Namun, pertanian tebu tidak selamanya hanya bercerita keuntungan. Ada hal-hal yang merugikan. Yang kita baca adalah cerita anak, yang belum mengharuskan memikirkan masalah-masalah besar.


Beno tidak selalu bernasib buruk. Pada suatu hari, ia diminta temannya membuatkan mainan berupa mobil-mobilan dari gelagah tebu. Yang terjadi di luar pikiran Beno, teman itu menjuual mainan mobil dengan harga lumayan. Akhirnya, berdua melakukan kerja bareng dalam membuat dan memasakan mobil-mobilan dari gelagah. Beno mendapatkan uang. Ia belum terlalu mengerti uang tapi menyadari kemiskinannya tidak terlalu fatal. 


Kemahirannya membuat mainan sedikit menjadi jawaban atas masalah-masalah yang menimpanya. Yang disuguhkan pengarang agar pembaca mengagumi Beno: “Dalam hatinya, Beno bersyukur diam-diam. Tuhan tak pernah melupakannya. Lewat kecerdikan sahabatnya, ia memperoleh rezeki dari Tuhan. Meskipun cukup berat juga kerjanya. Selama empat hari harus membuat lima buah mobil gelagah!” Hari-hari bekerja tapi rasanya bermain. Yang membahagiakan adalah dapat rezeki.


Akibatnya, Beno makin emoh belajar. Ia malah sudah pasrah gagal dalam mengerjakan tugas Matematika. Pilihannya adalah dihukum. Matematika adalah pelajaran yang sangat sulit. Di kelas, ia mengantuk. Penentuan sikap sudah jelas. Beno memilih membuat mobil-mobilan dari gelagah. Rezeki yang diperolehnya bisa untuk membahagiakan adik dan membantu kebutuhan keluarga. 


Kejutan demi kejutan terjadi. Bapaknya membantu mencarikan gelagah. Beno sempat tidak percaya saat mengetahui gurunya yang biasa memberi hukuman malah memberi bantuan berupa lem. Pokoknya, Beno menyadari gelagah (tebu) menjawab kesulitan-kesulitan hidup. Namun, ia belajar memahami bapaknya yang tetap memilih bertanam padi, tidak mau seperti tetangga menanam tebu.


Cerita anak yang digubah Bung Smas sebenarnya menantang anak-anak yang membacanya untuk “berdiskusi”. Cerita yang sederhana tapi menyimpan banyak masalah pertanian. Ada pula masalah pendidikan. Pokoknya, cerita yang seru bila dijadikan sumber diskusi di kelas. Di Indonesia, kebiasaan berdiskusi setelah anak-anak membaca buku sangat jarang terjadi. Tugas yang sering adalah membuat sinopsis atau resensi.


Di sekolah, Beno bukan anak yang pintar. Ia tersiksa oleh Matematika. Gurunya tidak mengecapnya bodoh. Beno tetap anak istimewa. Yang menentukan adalah kemahirannya dalam membuat mainan. Buku cerita yang memberi penghargaan tidak melulu ilmu dari beragam mata pelajaran. 


Gurunya malah memberi anjuran untuk mendukung Beno: “Coba kaubuat kerajinan lainnya selain mobil-mobilan. Misalnya rumah Minangkabau atau masjid, gereja, rumah joglo, dan yang lainnya. Barang-barang seperti itu sangat laku di kota. Bawa saja ke toko kerajinan. Pasti akan laku. Ingat, jangan terlalu murah memberi harga. Perhitungkan harga bahan bakunya, waktu dan tenaga penggarapanmu. Kalau perhitunganmu cermat, usahamu akan maju.” Nasihat itu diberikan kepada Beno yang masih murid SD, yang bermimpi bisa melanjutkan belajar di SMP meski bapaknya sudah menyatakan tidak ada anggaran. Cerita yang apik!


_________


Pemulis


Kabut, penulis lepas.


Kirim naskah ke

redakksingewiyak@gmail.com


Saturday, January 17, 2026

Resensi Kabut | Pemancing dan Kesopanan

Resensi Kabut



Beberapa orang mengaku susah menulis cerita anak. Beberapa orang mudah membaca cerita anak. Kita tidak bermaksud membuat perbandingan sembrono mengenai peran pengarang dan pembaca. Yang kita urusi adalah cerita anak, terutama di Indonesia.


Apa-apa yang menjadi masalah dalam penulisan cerita anak? Yang paling menyulitkan adalah menghindari masalah sekolah. Para tokoh yang diceritakan sering masih murid di SD atau SMP. Bagaimana caranya agar tokoh yang dihadirkan dalam cerita “terpisah” dari sekolah? Susah. Pengarang yang membuat dongeng berlatar masa kerajaan masih bisa mengelak. Pengarang yang menaruh para tokoh dalam zaman modern mengenali (lembaga) pendidikan pasti kerepotan jika mengabsenkan sekolah.


Bercerita anak-anak yang belajar di sekolah itu membosankan! Anak-anak yang berseragam. Mereka yang membuka buku pelajaran. Guru yang mengajar di depan kelas. Pokoknya, cerita yang mengandung sekolah itu sudah bikin bosan yang sulit ditanggulangi. Kita sangat paham lakon menjadi murid. Kita menyadari peran sekolah, pengaruh guru, dan wajib belajar. Cerita anak yang masih berkaitan sekolah terus saja ditulis di Indonesia, menghasilkan ratusan atau ribuan judul.


Yang menulis cerita anak, yang tokohnya murid dan latarnya sekolah masih berlaku sampai sekarang. Kita sulit menolak. Buku-buku baru yang diterbitkan masih “mementingkan” sekolah. Pengecualian hanya beberapa cerita saja yang berani menjauh atau “mengharamkan” sekolah. Apakah itu terjadi dalam penulisan cerita anak-anak di pelbagai negara? Benar. Ratusan novel anak yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia membawa sekolah. Ada beberapa yang berusaha mengurangi kadar sekolah atau memilih latar masa silam yang “terlalu” khayal. Yang main-main fantasi masih memungkinkan abai sekolah.


Pengarang menjelaskan: “Anak-anak Indonesia dewasa ini telah semakin pandai. Mereka cerdas dan banyak akalnya. Saya kira, anak-anak pembaca buku ini juga demikian. Si Oton dan kawan-kawannya yang diceritakan dalam buku ini adalah anak-anak masa kini. Mereka rajin bersekolah dan senang bergaul dengan sesamanya.”


Yang kita baca adalah keterangan yang diberikan E Siswoyo dalam buku berjudul Si Oton 2: Warisan. Buku cerita anak yang diterbitkan Gramedia, 1985. Pengarang gamblang mementingkan anak yang belajar di sekolah. Ia berani menyatakan anak-anak Indonesia pandai. Apakah itu dampak dari kebijakan-kebijakan rezim Orde Baru yang mengaku ingin “mencerdaskan” anak-anak di seantero Indonesia? 


Sejak mula, pengarang sudah menginginkan ceritanya dibaca oleh anak-anak. Artinya, cocok dibaca agar anak-anak mendapat hikmah. Misi yang terbesar adalah buku masuk sekolah, menjadi koleksi di perpustakaan. Buku yang bakal direstui kepala sekolah dan guru gara-gara isinya memberi hal-hal penting dalam perkembangan anak.


Yang menulis cerita mengaku tetap berurusan sekolah. Ia bisa mengelak sejenak dengan pengisahan selama liburan. Sekolah tetap penting. Maka, sejak awal, ia memberi pujian kepada anak-anak yang rajin belajar dan sadar makna pendidikan. Pada babak akhir, pengarang makin mementingkan sekolah, yang membuktikan anak-anak belajar secara sungguh-sungguh setelah menikmati liburan.


Kita tunda sebentar masalah cerita anak, belajar di sekolah, dan liburan. Yang istimewa dari buku berjudul Si Oton: Warisan adalah peran E Siswoyo. Kita mencatat ia adalah pengarang sekaligus pembuat gambar di sampul, disempurnakan dengan membuat ilustrasi di beberapa halaman. Di industri buku, ia memiliki tiga peran. Artinya, ia sangat paham kepustakaan anak. Jadi, pertimbangan isi cerita mendapat keselarasan di sampul dan ilustrasi saat pembaca membuka halaman demi halaman. Anggaplah itu capaian besar dalam biografi E Siswoyo.


Apa yang diceritakan? Ia mengisahkan anak-anak yang berlibur. Mereka sering berkumpul setiap hari, pergi menyusuri sungai. Di sana, mereka melihat para pemancing. Anak-anak penasaran dengan kenikmatan pemancing, tertarik dengan ikan-ikan. Ingatlah, yang diceritakan adalah hari-hari tanpa pelajaran di sekolah. Pergi ke sungai dirasakan anak-anak sebagai tamasya. Pengarang mengimbuhinya sebagai cara memuliakan alam. 


Pengalaman yang indah bagi Oton dan teman-teman: “Kami sering mandi di belik yang airnya sejuk dan jernih di tepian sungai. Sering pula kami hanya menyusuri tepian hingga jauh ke hulu, dan melihat orang yang sedang menjala ataupun memancing ikan.” Peristiwa yang sederhana tapi membahagiakan anak-anak yang terlalu lama diwajibkan belajar di sekolah.


Sosok penting dalam cerita adalah pemancing. Anak-anak berada dalam alam dan keinginan mengetahui lakon pemancing. Maka, mereka mendekat dan mengajak bicara. Pemancing itu disebut Pak Tua. Sebutan berdasarkan umur dan tampilan. Anak-anak cepat akrab dengan Pak Tua. Namun, ada keanehan gara-gara Agung meminta ikan milik pemancing. Oton mencoba memberi tahu cara yang sopan untuk meminta. Agung belum paham. Pokoknya, ia minta ikan dan berharap mendapatkan.


Pembaca mulai dikenalkan dengan Agung. Ia adalah anak dari pengusaha, yang terbiasa segala keinginannya terpenuhi. Sifat itu terbawa saat bersama orang lain. Oton tidak membencinya, berusaha memberi nasihat dan penyadaran. Anak-anak yang membaca buku cerita gubahan E Siswoyo perlahan mendapat pengajaran sopan santun atau tata krama. Pelajaran yang penting dalam pergaulan sosial, tidak kalah dengan beberapa mata pelajaran di sekolah. Oton menjadi panutan bagi teman-temannya dalam tata krama, yang semestinya dimiliki anak saat berada di rumah, sekolah, dan masyarakat. Artinya, novel tipis itu mengandung misi besar sesuai yang dikehendaki oleh kurikulum dan pengukuhan kepribadian Indonesia.


Perkataan Oton kepada Agung, yang sebenarnya nasihat kepada para pembaca: “Saya kira engkau bertindak kurang tepat, Agung. Siapa tahu ikan itu sangat bernilai bagi Pak Tua. Ia tukang memancing. Hidupnya mungkin tergantung dari hasil memancingnya. Tiba-tiba hasilnya kau ambil. Engkau yang enak, orang yang rugi.” Oton, sosok anak yang dibuat oleh pengarang memiliki banyak pengetahuan dan sadar segala perbuatan yang berpatokan kesopanan. Cara mengingatkan itu baik, tidak mutlak menyalahkan tapi memberi petunjuk sesuai pedoman dalam masyarakat.


Di rumah, Agung pun terlibat debat mengenai tata krama. Ikan yang dibawanya dari sungai, yang dimintanya dari pemancing, disantap di rumah. Ibunya menanyakan asal ikan, lalu berkata: “Jadi, Agung sudah menjadi peminta-minta ya?” Agung lugas menjawab: “Pak Tua itu sangat baik hati, Bu. Ia dengan rela memberikan ikan yang saya minta, kemarin maupun tadi.” Agung tetap belum mengetahui kesalahannya. Masalah inilah yang semestinya diperhatikan anak-anak selaku pembaca. Mereka diajak belajar melalui kata-kata dan perbuatan.


Bapaknya sebagai pengusaha ikut urun omongan: “Agung, tidak seharusnya kau begitu. Kamu tahu Pak Tua itu hidupnya miskin sehingga ia bekerja sebagai pemancing. Ikan hasil pancingannya itu mungkin sangat berguna bagi keluarganya. Jika tidak kauambil mungkin ikan itu dapat ia jual untuk membeli beras.” Kita bisa membedakan perkataan Oton sebagai teman dan perkataan bapak-ibu dalam posisi kaya. Pendapat bapak dan ibu Agung “berlebihan” seolah kasihan dengan nasib pemancing yang diduganya miskin. Padahal, pemancing itu pensiunan mantri guru. 


Di kesusastraan anak Indonesia, novel buatan E Siswoyo sangat patut menjadi contoh novel bergelimang ajaran moral. Percakapan dan debat yang bermunculan memasalahkan kesopanan atau tata krama. Yang dihadirkan adalah tokoh anak-anak dan tokoh yang sudah tua. Perbedaan umur dan status sosial mengajarkan perkara-perkara yang penting direnungkan para pembaca. Novel yang selaras hasrat Soeharto mencipta “masyarakat sopan” atau “masyarakat patuh”.


Yang agak menggelikan adalah usaha bapak Agung dalam membalas budi kebaikan Pak Tua. Ia menitip kepada Agung berupa korek api dan kotak tembakau yang apik agar diberikan kepada Pak Tua. Di situ, anak-anak mengerti bahwa pemancing yang sabar dalam waktu yang lama niscaya merokok. Yang dipelajari anak-anak adalah memancing, bukan merokok. Pak Tua itu mengajari anak-anak memancing meski diselingi merokok. Jadi, merokok bukan pesan yang terpenting dalam novel.


_______

Penulis 


Kabut, penulis lepas.



redaksingewiyak@gmail.com 


Friday, January 16, 2026

Dakwah | Seputar Isrā’-Mi‘rāj

Oleh Ust. Drs. Abu Bakar



Isrā’ dan Mi‘rāj merupakan peristiwa luar biasa dalam sejarah kenabian yang tidak dapat dijangkau oleh nalar akal manusia yang sangat terbatas. Peristiwa ini menempuh jarak yang amat jauh dalam waktu yang sangat singkat. Jarak antara Masjidil Haram di Makkah dan Masjidil Aqsha di Palestina kurang lebih 1.000 kilometer. Sementara perjalanan dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntahā, melewati tujuh lapis langit, berada pada jarak yang tidak terbayangkan oleh perhitungan manusia.


Ilmu astronomi modern baru mampu mengukur jarak antara bumi dan matahari, yakni sekitar 149.578.000 kilometer. Itupun seluruh benda langit tersebut masih berada di bawah langit pertama. Oleh karena itu, peristiwa Isrā’ dan Mi‘rāj hanya dapat diterima dengan pendekatan iman yang kokoh. Apabila Allah Swt. menghendaki sesuatu, maka tidak berlaku hukum alam bagi-Nya. Semua menjadi mudah dan tunduk kepada kehendak-Nya.


Menurut para sejarawan, peristiwa Isrā’ dan Mi‘rāj terjadi pada tahun ke-11 atau ke-12 sejak Nabi Muhammad ﷺ diangkat menjadi Rasul, bertepatan dengan tanggal 27 Rajab, sekitar tahun 621 Masehi. Setahun setelah peristiwa tersebut, Nabi ﷺ berhijrah ke Madinah.


Isrā’ secara bahasa berarti memperjalankan. Secara istilah tarikh, Isrā’ adalah diperjalankannya Nabi Muhammad ﷺ pada malam hari dari suatu tempat ke tempat yang lain, yaitu dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Palestina.


Peristiwa Isrā’ ini diabadikan oleh Allah Ta‘ālā dalam Al-Qur’an Surah Al-Isrā’ ayat 1:


سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ


Artinya:
"Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."


Mi‘rāj secara bahasa berarti naik atau tangga untuk naik. Secara istilah, Mi‘rāj adalah naiknya Nabi Muhammad ﷺ ke langit, menembus tujuh lapis langit hingga sampai ke Sidratul Muntahā di kawasan pusat kerajaan Allah ‘Azza wa Jalla. Setiap lapisan langit dijaga oleh para malaikat, dan jarak antar-lapisan tersebut berada di luar jangkauan perhitungan manusia.


Para ulama berbeda pendapat mengenai apakah Isrā’–Mi‘rāj terjadi dengan ruh saja atau dengan ruh dan jasad. Sebagian kecil ulama berpendapat bahwa peristiwa tersebut terjadi dengan ruh saja. Namun, jumhur ulama berpendapat bahwa Nabi Muhammad ﷺ diisrā’ dan dimi‘rājkan dengan ruh dan jasad sekaligus, dalam keadaan terjaga, bukan dalam mimpi.


Pendapat jumhur ini didasarkan pada firman Allah dalam Surah Al-Isrā’ ayat 1, khususnya pada dua kata kunci penting, yaitu سُبْحَانَ dan بِعَبْدِهِ. Kata سُبْحَانَ menunjukkan peristiwa yang sangat agung dan luar biasa. Jika peristiwa tersebut hanya berupa mimpi atau perjalanan ruh semata, maka tidaklah layak diawali dengan pengagungan sebesar itu.


Adapun kata بِعَبْدِهِ menunjukkan satu kesatuan antara ruh dan jasad. Dalam banyak ayat Al-Qur’an, kata ‘abd selalu merujuk pada manusia secara utuh, bukan ruh semata. Di antaranya:


أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَىٰ عَبْدًا إِذَا صَلَّىٰ

Artinya:

“Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang seorang hamba ketika ia mengerjakan shalat?” (QS. Al-‘Alaq: 10)


Dan firman Allah Swt.:


وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا


Artinya:

“Dan sesungguhnya ketika hamba Allah berdiri menyembah-Nya, hampir saja mereka berdesak-desakan mengerumuninya.” (QS. Al-Jinn: 19)


Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa istilah ‘abd mencakup ruh dan jasad secara utuh. Oleh karena itu, pendapat jumhur ulama bahwa Isrā’–Mi‘rāj terjadi dengan ruh dan jasad adalah pendapat yang paling kuat dan didukung oleh dalil Al-Qur’an, hadis, serta kajian tafsir dan sirah.


Peristiwa Mi‘rāj dijelaskan dalam banyak hadis, baik yang sahih, hasan, maupun yang lemah. Hadis yang paling sahih diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Anas bin Malik r.a. Rasulullah ﷺ bersabda:


أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ، وَهُوَ دَابَّةٌ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ...

(Hadis panjang)

Artinya:
"Aku didatangkan seekor Buraq, hewan yang lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari bagal. Setiap langkahnya sejauh pandangan mata. Aku menungganginya hingga sampai ke Baitul Maqdis, lalu aku menambatkannya pada tempat para nabi biasa menambatkan kendaraan mereka. Kemudian aku masuk ke Masjid Baitul Maqdis dan melaksanakan shalat dua rakaat di dalamnya…"


Inti dari peristiwa Isrā’ dan Mi‘rāj adalah diturunkannya perintah shalat lima waktu. Pada awalnya, Allah Swt. mewajibkan shalat sebanyak lima puluh waktu dalam sehari semalam. Atas saran Nabi Musa a.s., Nabi Muhammad ﷺ berulang kali kembali menghadap Allah Swt. untuk meminta keringanan, hingga akhirnya ditetapkan menjadi lima waktu.


Namun demikian, Allah Swt. memberikan jaminan bahwa shalat lima waktu tersebut tetap bernilai pahala lima puluh waktu. Hal ini karena setiap satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat.


Dengan demikian, peristiwa Isrā’ dan Mi‘rāj merupakan peristiwa akidah yang harus diyakini dengan keimanan yang teguh. Peristiwa ini terjadi dengan ruh dan jasad Nabi Muhammad ﷺ dalam keadaan terjaga, dan menjadi dasar diwajibkannya shalat lima waktu sebagai tiang agama Islam.

Semoga kajian ini bermanfaat dan menambah keteguhan iman kita.


Bārakallāhu fīkum.


Sumber Bacaan

  1. Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 3, hlm. 1.611 dan seterusnya.

  2. Tafsir Fathul Qadīr, Asy-Syaukani, Jilid 3, hlm. 285 dan seterusnya.

  3. Tafsir Kementerian Agama RI.

  4. Nūrul Yaqīn, Muhammad Hudari Bik, hlm. 69 dan seterusnya.

  5. Kapita Selekta Pengetahuan Agama Islam, Departemen Agama RI, dan sumber lainnya.



______

Penulis


Ust. Drs. Abu Bakar, Ketua MUI Kec. Pontang.



Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com