Oleh Encep Abdullah
Sejak akhir 2025, saya seperti orang gila, kerasukan bin kesetanan membeli buku. Menu beranda media sosial saya saat ini yang muncul 80% orang jualan buku. HP saya pun saat ini disesaki nomor kontak penjual buku. Dalam seminggu, saya bisa beli online 2--3 kali dengan pengeluaran yang bervariasi bergantung seberapa banyak saldo di rekening saya. Makin banyak saldonya, makin banyak pula yang saya beli, padahal tidak butuh-butuh amat. Saya tidak tahu, apakah kejiwaan saya ini sedang terganggu atau tidak. Tapi, kenyataannya begitu.
Gejala ini belum pernah saya alami sebelumnya. Satu habit baru dalam hidup saya: kecanduan beli buku online! Biasanya
saya beli buku saat liburan atau mudik ke rumah istri—ke toko Gramedia BSD. Itu pun mungkin 3--5 bulan sekali. Kali ini, saya tak
perlu menunggu liburan. Asal ada saldo di rekening, pasti langsung checkout buku.
Kali ini saya kerasukan buku-buku bekas (ori) atau buku terbitan lawas yang
sudah berdebu, menguning, bahkan sebagian sobek atau dimakan rayap. Seorang penjual
bilang bahwa buku yang saya pesan itu sebagiannya sudah disantap rayap. Saya bilang, ”Makin
ada bekas gigitan rayap, makin otentik.” Mungkin penjual buku itu bilang saya
kurang waras. Ah, biarkan! Memang faktanya begitu. Saya sedang senang meraba
dan menghidu buku-buku lawas. Imajinasi saya jadi melanglang buana.
Biasanya, kalau saya punya uang, saya memilih jalan-jalan, makan-makan,
atau foya-foya traktir orang. Bahkan, untuk iseng membeli rokok saja, rasanya
eman (sayang)—saya bukan perokok aktif, sekadar iseng-iseng saja kalau nongkrong.
Dulu, kalo nongkrong-nongkrong, tak perlu pikir panjang beli rokok, ini dan
itu. Sekarang mikir, lebih baik buat beli buku. Imbasnya adalah kepala saya
jadi makin pusing. Tiap minggu nongol buku baru. Rak buku makin penuh.
Ujung-ujungnya harus mengeluarkan duit lagi buat beli rak buku. Terus saja
begitu. Bisa jadi, per 2--3 bulan kalau begini terus, rumah saya lemari buku
semua. Tapi, bukannya itu yang saya mau?
Saya memang punya rencana punya perpustakaan pribadi yang kelak bisa dibuka
untuk umum. Saya termasuk orang yang anti minta-minta sumbangan buku. Saya
lebih senang membeli pakai duit sendiri. Lebih puas. Tapi, tidak menolak juga
bila ada yang mau donasi buku, silakan. Namun, pilihan untuk menabung-membeli
buku sendiri masih saya pertahankan. Toh, buku tidak basi. Bila nanti saya bosan
dan mau saya jual, tinggal jual saja. Bahkan, beberapa bisa dijual lebih dari
harga aslinya—terutama buku-buku langka.
Yang jadi masalah--bahkan saya khawatirkan--mental saya pelan-pelan berubah
menjadi tukang timbun buku yang sedikit-sedikit berpikir kelak buku-buku langka, bekas, atau
lawas itu jadi duit lagi. Jadi, pikiran materialistis, bukan sebagai pembaca
atau penggali ilmu. Ada pikiran semacam itu. Tapi, menimbun buku, sepertinya
berbeda dengan menimbun benda lain. Buku-buku bisa bermanfaat untuk siapa pun. Mungkin
keluarga saya, tetangga saya, murid-murid saya, atau siapa pun yang mau membaca
buku. Hanya, pikiran membeli buku untuk menjualnya kembali itu menjadi satu pantangan
besar saya sebenarnya. Saya membeli buku untuk dibaca bukan untuk dijual. Saya
pun sangat selektif. Tidak semua buku saya beli. Ada buku yang saya beli karena
kangen dengan buku lama yang hilang, ada yang karena memang langka, ada juga
karena saudara saya ingin pinjam buku tertentu tapi saya belum punya dan
terpaksa saya harus beli—sebagai bentuk dukungan bagi mereka yang ingin
meningkatkan minat baca bukunya, sekaligus menjaga harga diri saya, masa buku
seterkenal itu misalnya saya tidak punya.
Saya beruntung. Istri saya tidak ngoceh-ngoceh saya suka borong buku. Ia
tahu, urusan dapur, kosmetik, itu nomor satu. Saya penuhi dulu semua itu. Jadi,
tidak ada diskriminasi antara kebutuhan dapur (perut) dan otak--untuk tidak menyebut "nafsu". Malah, kemarin
istri saya dan anak-anak menemani saya ke bazar buku yang diselenggarakan oleh Perpusda Banten. Lucu sih, ya borong buku online, ya borong buku offline juga. Dan, sekali beli buku offline minimal keluar 500 ribu.
Sampai akhirnya saya mikir, Kenapa saya cuma beli buku di tempat bazar begini? Kenapa tidak
coba dijualin ke orang-orang, mumpung diskon gede-gedean! Otak penjual saya
tiba-tiba muncul. Saya merasa tidak mau rugi kalau datang ke bazar buku cuma buat beli buku pribadi doang.
Sepulang dari bazar, saya bilang ke istri saya bahwa besok saya mau balik
ke bazar lagi. Istri saya bilang, "Mau ngapain?" Saya jawab, "Mau jualan buku." Tapi, saya tidak mau borong semua bukunya dulu, belum tentu ada yang mau beli. Istri
saya memberi saran, kenapa tidak difoto saja, kirim ke media sosial atau grup
WA, siapa yang mau beli, ada jasa titip (jastip). Ini agak konyol buat saya
karena belum pernah saya lakukan—eh, pernah sih kayaknya dulu zaman kuliah, mungkin
semangat masa lalu ini yang muncul kembali. Akhirnya, saya foto dan saya kirim
ke beberapa grup WA dan media sosial. Ada beberapa yang kecantol.
Alhamdulillah, dapat 200—250 ribu dalam sehari itu lewat jasa titip. Tetap saja
belinya saya talangi dulu pakai duit pribadi—karena mereka tidak transfer lebih
dulu. Seru juga memanfaatkan waktu kosong hari itu dengan jastip buku macam
ini. Malamnya, saya lihat lemari buku, ada beberapa buku yang saya punya ternyata dobel.
Saya kepikiran dijual saja. Saya posting, tak lama laku juga. Dapat lagi 250 ribu.
Saya punya pikiran "jahat". Bagaimana kalau semua buku yang saya punya saya
jual? Kalau saya jual kayaknya—setelah saya hitung-hitung—saya bisa dapat duit
50 juta. Wah, sebenarnya saya banyak duit juga ya. Saya mikir, ternyata ini aset masa
depan saya buat dijual. Pikiran macam itu
muncul lagi dalam kepala saya. No! No! Niat saya
punya perpustakaan yang bisa dinikmati banyak orang.
Ah, soal buku memang tak bisa lepas dari persoalan ilmu, duit, manfaat, dan masa depan. Hidup
saya mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi, melototin buku. Di sisi lain, yang lebih esensi, buku-buku itu menjadi terapi tersendiri bagi saya sebagaimana orang lain yang mungkin terapi dengan
ikan dan bunyi air di akuarium.
Suatu hari, saya coba cek-cek lagi lemari buku saya, ternyata memang banyak buku yang saya beli karena
nafsu, bukan karena butuh. Akhirnya, saya lihat jadi seperti "sampah" juga. Ada niat mau saya
jual lagi dan saya belikan buku-buku lain yang memang punya dampak buat saya, atau
yang lebih sesuai dengan passion saya atau kebutuhan banyak pembaca. Beberapa buku ini memang
buku terjemahan yang sepertinya agak susah dibaca (diminati) oleh pembaca awan maupun
pembaca serius. Pantas saja orang tersebut menjualnya borongan dan murah.
Ternyata ini yang saya rasakan: tidak terlalu dibutuhkan. Kamu mau? Mungkin ada 50 buku (novel
terjemahan, dewasa) bekas, bisa saja jual 5--7 ribu per buku.
Kalau dipikir-pikir lagi, untuk apa saya pusing jualan buku? Toh, saya ini kan CEO Penerbit #Komentar. Haha! Setiap
ada yang cetak buku, ya esensinya sama saja saya sedang jualan buku. Malah "lebih banyak" duitnya ketimbang harus beli buku orang, terus dijual lagi. Menurut
saya, sekadar jualan buku (termasuk jualan buku karya sendiri), kok, saya merasa kurang gereget ya. Seperti tidak
ada kerja intelektual karena sekadar posting tanpa harus ribet ini
dan itu—padahal mungkin ada ilmu marketing-nya dan saya tidak terlalu menekuni dunia itu secara jalur "akademis"—, sedangkan
saat saya mengurusi proses penerbitan buku, di sana jauh lebih menantang, merasa
ada kerja intelektual (edit naskah, dll.). Dan,
ini soal skill. Skill itu didapatkan dari pengalaman dan belajar yang
terus-menerus. Membaca buku terus-menerus juga mungkin bisa melahirkan skill. Begitu juga dengan terus-menerus jualan buku--tentu yang jualan serius, ya. Bisa jadi skill yang terlatih itu yang akan
menghidupimu. Manusia tanpa skill, ia akan mati dibunuh ketidakberdayaannya
sendiri.
Apakah Anda termasuk manusia seperti saya? Kayaknya tidak! Mungkin ini terkesan "sombong". Skill saya mungkin segmented, tidak semua orang bisa. Dan, itu skill yang mungkin sudah terlatih belasan tahun. Untuk bisa menjadi seperti saya hingga di titik ini, mungkin Anda butuh waktu belajar selama itu juga, malah bisa jadi lebih lama. Skill di luar proses kerja keras saya, dengan segala kemudahannya, tentu saja adalah giving/karunia dari Tuhan semata. Oleh sebab itu, saya jadi mempertimbangkan lagi dengan judul tulisan ini, harusnya bukan "Kesetanan Membeli Buku", mungkin bisa kita ganti menjadi "Kemalaikatan Membeli Buku" atau "Keilahian Membeli Buku"? Si "setannya" biar hilang. Namanya "setan", Anda tahu sendiri!
Kiara, 16 Juni 2026
________
Penulis
Encep Abdullah, Dewan Redaksi NGEWIYAK. Kolom ini adalah [harusnya menjadi] tempat curhatnya tiap pekan walau sering kali banyak alpanya sejak Indonesia ganti presiden. Buku proses kreatifnya yang sudah terbit antara lain Ihwal Menulis dan Menjadi Penulis (2024) dan buku esai terbarunya Orang Gila Sebelum Menulis Esai (2026).
redaksingewiyak@gmail.com


