View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Latest News

Thursday, August 20, 2026

Esai Uwais Korni | Cara Menulis yang Paling Benar

Esai Uwais Korni




Barusan saya hampir terpengaruh sama metode menulis yang tidak nyaman untuk saya terapkan. Metode menulisnya begini. Pertama, saya harus buat premis tulisan terlebih dahulu. Buat premis ini yang susah. Jadi saya skip. Kedua, saya harus buat ranting-ranting paragraf apa yang mau saya tulis. Kalau buat beginian, saya tahu sedikit. Ketiga, saya harus menulis menyesuaikan premis dan kerangka tulisan tersebut. Nah, ini yang saya gak suka. Dengan ini saya jadi burung di dalam sarang. Gak bebas terbang ke mana-mana. Gak punya imajinasi lagi mau nulis apa.


Saya coba menerapkannya sedikit. Habis itu jijik sendiri sama tulisan yang saya buat itu. Saya memang ditakdirkan untuk menjadi penulis yang asal menulis kayaknya.


Coba kita baca bareng-bareng empat paragraf yang saya buat dengan metode penulisan tadi itu. Di bawah ini.


“Istilahnya, semakin padi berisi semakin condong ke bawah tubuhnya. Mereka yang berpengalaman dan mempunyai pengetahuan yang luas akan terlihat seperti padi yang matang, siap panen, dan yang pasti isinya banyak. Cenderung merendahkan hati merupakan kebiasaan dari mereka yang bijaksana.


Mereka paham bahwa semakin banyak ilmu semakin merasa bodoh sekali dirinya. Bodoh disebabkan bukan mereka yang benar-benar bodoh, melainkan saking banyaknya pengetahuan yang lain yang belum mereka pahami lagi. Orang-orang seperti ini diumpamakan seperti kita yang kehausan tapi yang diminum adalah air laut. Bukan hilang dahaganya, malah bertambah haus jadinya.


Ilmu sedikit dicari kemudian diperoleh dan dipraktekkan lebih mengesankan dibandingkan langsung ilmu banyak yang diidam-idamkan namun tidak satu pun yang dipraktekkannya. Saya menyadari hal ini ketika saya mulai suka dunia literasi. Pas awal saya belajar menulis dulu, saya terburu-buru untuk cepat-cepatan mendapatkan materi penulisan sebanyak-banyaknya. Saya baca semuanya tanpa jeda. Saya melahapnya tanpa satu pun didiskusikan. Ujung-ujungnya semua itu lenyap tak tersisa.


Ilmu sedikit ingin diketahuinya, dicari-cari, ditanyakan satu persatu, dan dipraktekkan secara bertahap, lebih berkesan dibandingkan langsung banyak ilmu yang dibaca namun tidak ada penerapan. Dalam contoh materi kepenulisan, jika materi kepenulisan, metode atau cara menulisnya, dan/atau pengetahuan-pengetahuan lainnya itu masuk semuanya ke otak kita sekaligus, maka yang terjadi bukan kita langsung sanggup produktif menulis, melainkan kita akan pusing sendiri oleh ilmu yang luas tersebut. Sedikit demi sedikit saja belajar caranya menulis agar kita mampu menahan bobotnya praktek menulis yang susah-susah gampang itu. Ibaratnya bayi, mustahil baru lahir langsung bisa berlari. Ibaratnya tumbuhan yang berbuah, mustahil baru menanam besoknya langsung panen. Semuanya bertahap.”


Sumpah, itu paragraf yang kaku banget. Jelas-jelas itu bukan tulisan yang gue banget.


Malam 17 Agustus 2026 saya bertamu ke rumah guru mendiskusikan tentang bagaimana caranya cowok mendapatkan jodohnya. Ini konteksnya teman saya bingung nyari jodoh kok gagal mulu. Ada satu quotes yang terlontar dari diskusi semalam itu yang kurang lebihnya seperti ini: (translate dari bahasa Madura) “Yang penting ikhtiar menjemput jodoh. Tidak malu ngomong secara jujur dan tidak gengsi mengakui kalau suka sama perempuan calon pasangan hidup itu. Seperti apa ikhtiarnya, itu bukan yang utama. Yang utama kan, yang penting kamu punya jodoh”.


Quotes singkat itu memantik daya berpikir saya untuk membelokkannya ke arah dunia kepenulisan. Seperti ini “Yang penting jadi tulisannya. Seperti apa metode menulisnya, itu bukan yang utama. Yang utama kan, yang penting kamu sudah buat tulisan”.


Yang sering terjadi, saya bingung bagaimana caranya saya memulai menulis dan dengan metode apa saya menulis. Saking banyaknya metode menulis yang saya cari-cari di internet sampai saya kebingungan sendiri. Kok banyak, gitu loh. Jadi nge-blank ini otak.


Padahal ilmu tentang bagaimana caranya menulis itu tidak harus semuanya diterapkan dalam sekali duduk. Gak wajib juga untuk mempraktikkannya, gitu loh. Meskipun saya misalnya bikin-bikin sendiri metode menulis yang nyaman bagi saya, itu gak papa. Lagi pula tidak ada siapa pun yang memaksa saya untuk menulis pakai cara ini atau cara itu. Toh sebenarnya saat saya sedang menulis tidak ada siapa pun yang peduli sama saya ini lagi ngapain.


Begitu juga dengan pembaca. Pembaca maunya saya menulis, bukan maunya saya curhat tentang bagaimana caranya saya menulis. Pembaca bodo amat sama usaha saya ketika saya menulis. Pembaca maunya saya berhasil menulis. Dan ketika saya gagal menulis, pembaca juga bodo amat.


Pembaca butuh bukti bahwa saya mampu menulis, dengan apa? Yaitu dengan cara saya menyelesaikan sebuah tulisan. Bukan cuman bisanya omong kosong doang ngomongnya bisa menulis tapi gak nulis-nulis.


Jadi, saya atau juga kalian yang bercita-cita menjadi penulis yang produktif, gak usah berkoar-koar “saya nulisnya begini, saya nulisnya begitu”. Kecuali jika ditanya. Gak perlu juga menyombongkan diri “saya nulisnya pakai metode ini nih, dan ini metode menulis yang paling baik dan paling benar”. Atau curhat “ini saya nulisnya dah capek banget loh, berbulan-bulan loh, bertahun-tahun loh, baru selesai sekarang”. Taik kucing itu. Toh pembaca juga bodo amat sama curhatan dan keluh-kesah kita.


Pembaca juga gak papa tajam mulutnya dan bukan cuman mengomentari tulisan kita, bahkan menghujatnya juga hak-hak mereka kok. Soalnya kan memang menjadi penulis harus siap dan menerima atas kritik, saran yang membangun, dan hujatan yang merusak mental penulisnya. Tulisan kita disebarluaskan untuk dikomentari. Pasti pembaca punya unek-unek atas bacaannya itu. Sebagian mendiamkannya. Yang lain ada yang sampai buat resensi buku-buku yang telah dibacanya itu. Kemudian dengan resensi itu adakalanya apa yang dikomentari tersebut jadi naik daun. Bahkan ada juga yang terjun payung.


Saya pribadi tidak akan peduli sama omongan pembaca. Itu hak mereka untuk ngomongin tulisan-tulisan saya. Dan saya tidak akan pernah tersinggung atas semua itu. Biarkan yang menanggung malunya adalah tulisan-tulisan saya sendiri. Saya anggap saja tulisan-tulisan saya itu punya jiwa dan mereka mau serang balik atau diam saja, ya terserah yang dihujat itu.


Kan gini. Nulis saja capek, kok malah ngeladenin pembaca. Tambah capek nantinya. Saya pribadi lebih fokus saja sih sama apa yang mau saya kerjakan. Jika misalnya saya ingin menjadi penulis, maka yang perlu saya perhatikan adalah pendisiplinan diri di dalam bidang yang saya geluti ini. Disiplin adalah kunci.


Beberapa minggu ini saya tidak menulis. Memang saya tidak menulis, tapi saya fokus merevisi tulisan-tulisan yang ada di draf yang kemudian ingin saya cetak insyaallah akhir tahun. Belum lagi saya bukan hanya jualan es teh, tapi juga nyambi sebagai penjaga konter. Pastinya saya sedikit waktu untuk menulis dan membaca. Seakan-akan cukup dengan dua alasan ini saya boleh pensiun dini dari dunia kepenulisan. Tapi kenyataannya saya malah semangat untuk membaca dan menulis. Apalagi sekarang internet sudah ada di mana-mana otomatis pengetahuan ada di mana-mana. Jadinya, di sela-sela saya bekerja, saya sesekali baca di Ipusnas. Grup FB kepenulisan juga saya buka mana tahu dapat ilmu baru dari sana.


Saya omongin diri saya sendiri dengan baik-baik, “sesibuk apa sih kamu sampai gak mau baca buku dan gak mau belajar menulis?”. Akhirnya hati saya luluh dan mau belajar menulis dengan lebih semangat lagi.


Bagi saya, sesusah apa pun pekerjaannya pasti gampang jika di-training dan disistem. Pertama kali saya jaga konter, saya gak tahu bagaimana caranya melayani pembeli, bagaimana caranya memasukkan vocer, dan lain sebagainya. Saya juga tidak tahu dompet mana saja untuk uang ini dan itu, dan dompet mana saja untuk uang itu dan ini. Tapi berkat training selama tiga hari, saya bisa kok menjadi karyawan yang disiplin dan lurus.


Apa saja jika tersistem itu enak. Gak ada drama di sana.


Menulis juga sama. Jika menulis itu disistem kapan mulainya dan kapan selesainya, maka gak drama di sana. Gak ada tuh nantinya capek menulis, bosen menulis, bingung mau menulis apa, dan lain sebagainya. Itu cuman banyak alasan bagi penulis yang malas.


Capek menulis kan bisa berhenti dulu. Bosen menulis, ya cari hiburan di luar. Bingung mau menulis apa, ya belajar hal baru.


Dengan sistem seperti ini, saya baru tahu bahwa selama ini saya penulis yang pemalas. Soalnya saya menulis ya menulis saja. Tidak ada sistem tertentu ketika saya belum menulis. Tidak ada sistem tertentu ketika saya sedang menulis. Tidak ada sistem tertentu ketika saya sudah menulis. Sebab, kembali ke paragraf di awal tadi, saya orangnya tidak enakan kalau fokus ke satu metode.


_______


Penulis


Uwais Korni lahir di kawasan YPPRN dengan nama panggilan Mas Didin. Mulai latihan menulis sejak 2014 sampai seterusnya.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com

Wednesday, August 19, 2026

Cerdek Rois Rinaldi | Dibakta Mabur Sèwu Kêlawa

Cerdek Rois Rinaldi



Mêsin bor tua karatan milikakên banyu ngêbêbicaki bêbancik. Rêmbês niku banyu mêlêbêt ming lêmah ngêdamêl kobakan alit. Kados aboté dunia ing pêningal kula, langit ngêgantung èndèp, kêlawu lan abot, anggané ayun mêlêdogakên mèga, sêmêntawis botên gèrèk dados udan gêmêrêcêk; kados utahé banyu mata wong wadon sing lara ati.


Tindak kula abot, ngan awak mayêng lumaku kados wèntên sêwiji-wiji sing narik saking lor, damêl kula mingo ming arah niku.


“Galèmah kolêm niku,” kula ngêhulêng sêmbari murugi dêdalan bècèké kolêm gêde gênah kula lan rèncang-rèncang siram dan wudu.


Ngênani banyu jêriji-jêriji kula, kêrasa atis kêbina-bina tumêka ngêrambat ming jatiné balung. Luwih atis malih waktos mungup sios wayangan saking banyu lêbah tumibané cahya bolham limang watt.


“Marsyad?” ringrang lan mangmang pêningal kula kari-kari kêkatonên wong sing sampun kirangan sêkini ning pundi wèntêné.  


Marsyad mêlayu gêdabrusan, ampir botên ambêkan dèwèkè, kari-kari Bunyai ngawé-ngawé tangan têngêné saking pêpaga griyan. Pupu Marsyad sêgêdé gêdêbong niku nabrak lêlinggir balok sing ngêlonjor. Badan buntêké kêbangbing ming kolêm.


Kêpuyuh-puyuh kula ning riku ngatonakên.


Sarung irêngé sing kêlinyar lan kandêl mêlêndung kados layar kapal gêdé ahèng.  Ning riku, dèwèkané anggané buta sêgara.


Kula ngèkèk ulêng.


“Marsyad?” ngêhuleng malih kula. “Gusti Pêngéran! Niku kêdadosan sêngèn.”


Sampun pating liwat pirang-pirang taun têbihé sêdantên sing wèntên ning riki, kula waruh malih diantêbakên kêlawan botên wèntên wong setugêl-tugêl acan. Sêsêk ambêkan kula. Kêlipun kula alok lan kêplok, sêmentawis Marsyad kêlaranên?


“Ning pundi Marsyad sêniki?” gêgêtun kula. “Malêr lêmutah dèwèkané?”


Rumasa kula maring salah antrah, linggar saking niku kôlêm noli ngintè lêlurung gênah kula sêngèn ngimbik-imbik ayun nonton Angling Dharma ning Tv Proyek lan nyawang kula maring têbihé dêdalan tonggoh kari-kari èling maring sios waktos kula nangis karna botên uning kêpêripun carané nyabut talês têlês.


Mêlaku lan mêlaku kula têkang gêgêdêr sikil noli lirèn linggih ning tragtag majlis. Wèntên kêkarèn uni adzân ngêgurat ning kuta. Wèntên arum pirang-pirang kitab kuning murag ning traso waktos jêlgêdêg wong katah ubar-abir dados wêwayang ning adêp kula, ning wit-witan, ning lawang griya Abahyai


“Mang Bustomi?” kula kados ngingali wong lanang niku malih ing antawise wayangan ubar-abir.


Kula noli ingêt siyos pêrkawis sing botên munasabah najan sêtuhuné kêdadosan napa-napa sing botên bangkit kula wani nyêtuhukakên.


Waktos niku, kula lagi kêtungkul ngumbah ning jogan Bunyai, alon tindaké Mang Bustomi mandêg ning arêp lawang. Rainé kados dibarèt mangmang, ngan saking jêjêg sikilé kêtingalan botên karsa kêpundur najan sêdêpa. Bunyai sing lagi ngêpé rêngginang ning têtampah gagé mêlêbêt ming soro sêsampuné mirêng Mang Bustomi ngênda izin kanggé mêtuki Abahyai. 


Abahyai noli medal, linggih ning ambèn gêdé. Mang Bustomi dikèn lungguh ning ambèn alit sing wènten ning sêbrang gênahé Abahyai. Gigiré rada ngêbungkuk, tangané dilêmpit kêdik ning pêpangkon.


Kula ngêbilas sios mangkok, nôli sios cèndok. Sêdantên kula damêl lambat, karna karsa ayun uning; ngêjantrêng kula mêndêt mirêng obrolan sêkaroné. 


“Ampura Abahyai, kula ngênda izin ayun ngalih mondok,” cépé Mang Bustomi kêliwat ètès, botên wèntên sêwijil timun acan kêpirêng gêtêr ing uni pêngucapé.


“Ning kéné baé. Bantôni Abah nguruk batur-baturira,” cépé Abahyai têtêg ajèr.


Mang Bustomi, santri 16 taun niku, kêliwat jlingêr, malah luwih jlingêr najan diadêpakên sèrèng santri-santri dawuk.
Mang Bustomi unggal dados badal lamun Abahyai wèntên hajat mêdal saking pondok. Botên sêmbrang-sêmbrang, cêcêpêngané Mang Bus niku Tafsîr al-Jalâlain. Unggal dèwèké ngêwiyak ilab tumêka ilab, nyurahé wong niku bèntès. Kitab tafsir al-Qur’an sing dipêdamêli Jalâluddîn al-Mahallî lan ditêrasakên sèrèng muridé, Jalâluddîn as-Suyûthî niku kados iqra dijabar-jèri piyambake sembari nèngglèngakên êndas lan nguyup kopi irêng.


Dados, munasabah Abahyai ngênda Mang Bus napik mêdal saking pondok.
Ngan malak-mandar, Mang Bus ngisungi jawab sing damêl ati ngêdêpêpês.


“Ampura...” dèwèkané narik ambêkan gêdé, “anggané dêdaharan, unggal dintên ning riki kula dahar tahu lan témpé. Sepisan-pisan kula karsa dahar daging ning liyan gênah.”


Sêmîngêb! Ngêjumbul kula mirêng niku omongan Mang Bus.


“Wantèn!” cépé kula ning jêro ati sêmbari
ngêrasa godong waru pada mandêg ambêkan lan angin cêp kinjêng ning pêpojok jogan. Rasané waktos kêliwat dawa lan têbih murugi liyan nasabé nasib kanggé bocah pondok sing luwih dawuk telung taun saking kula puniku.


“Lamun mêngkonon,” ngucap Abahyai, “lunganên!”


Mang Bustomi botên obah botên usik, têmungkul dèwèkané.


“Ngan ìngêtên,” cépé Abahyai malih, uniné luwih abot. “Ilmunira ora bakal bêrkah.”


“Nikutah sing naminé sêpata?” ngêdidisi kula maring sios omongan wong-wong sêngèn, sing cépéné lamun kênang sêpata, botên bakal sêlamêt uripé.


Pirang-pirang taun sêsampuné kêdadosan niku, Nadzi, rèncangan sêkamaré Mang Bus, botên wèntên udan botên wèntên angin, sanja ning griya kula. Sêdèrèngé Nadzi kêbujêng ngêjêjêgakên lêlungguh linggihé ning hambal, kula gèrèk nakèni kabar Mang Bus.


“Mang Bustomi saiki èdan. Ngamukan,” cépé Nadzi kêtingalan kêtuwon.


“Sêpata iku, sêkêcap mingkêm, ya, Zi?”


“Sêpata?”


Ingêtan ming Mang Bustomi mandêg ing pêmugasané pêrtakènan Nadzi, karna ing sor kobong baris kêtêlu saking ambing wètan, sios wayangan kados uwit cukul lan ngêgêdéni. Wayangan niku ngêrubuhakên sêsaka lan ngêgabrugakên gribig, kari-kari mata kula kêlilipan, wit niku ngêjinis dados bocah lanang sêsarungan sanglur ijo ngênggé kaos oblong putih lan kopyah irêng putur.


Ngêjumbul kula ayun mêlayu ngêlungani, ngan botên kuasa kados kênang oyod mingmang. Kadosé sampun têbih mêlayu kula, malah pêadêp-adêp kêlawan bocah niku.


“Sampun kula nyana, andika bakal rawuh,” cépéné, sêmbari mêlengos boten makul.


“Bakal rawuh?” têtakèn kula glagapên.


“Kêlalèn tah maring janjiné andika?” têtakèn bocah lanang niku.


Nindak sêtindak rongtindak dèwèkané, mȇdêki kula luwih pêdêk malih. “Kêlalèn?” taken bocah niku mindoni.


“Andika?” gȇgȇtun kula kȇpȇrusut tȇtaken karna wèntȇn sios tanda sing kula kȇnal. Niku bocah têlulas taun sing kêdahé sampun botên ning riki.


“Sampun tebih linggar andika? Sampun bungah ninggal kula piyambak ning riki?”


Kula kados kêtêlak ambêkan mirȇng omong bocah niku. Ringrang dadosé ningali mata lan alis sing sami irȇng lan marongé. Kula kêpundur rong tindak, kȇpundur malih tȇlung tindak. Langit plèas sanglur lan kêliré waktos angin kȇbȇk kêbul munggah saking lêmah anyȇb. Ningali kula maring langit ngilari dedalan kangge nuturi wayah, ngan kirangan sêniki subuh ijo, sipêng anta, atanapi magrib gȇdé. Kula botên bangkit ngêbêntênakên sing mêncorong niku sêrngéngé atanapi wulan.  


Bocah niku dèhèm kari-kari dèwèké dados
sêwu wayangan mawur ming angin dados sêwu kêlawa mabur ngidêri kula kados kêdung kali musêr. Pirang-pirang sêwîwi irêng ngêgulung kula ing sêpêlêbêté pusêran.


Kula dibakta mabur nêmbus saban-saban gênah sing kirangan napa naminé. Bot
ên wèntên kawitan sing bangkit ditutur lan botên wèntên pêmugasan sing bangkit dipurugi. Gênah-gênah niki mung liwat kados wayangan kabur ing sêpêlêbêt peningal. Lurung suwung cahya sing wau ngêrèncangi alon-alon ngiyêp, tumêka sing kari ngan bêrêrêt ngêwêngku kula.


Sewu kêlawa mabur nguculakên, kula piyambak mêlaku ning lêlurung waktus sios cahya ngêbêr saking sabêtan
sorban putih sing disampirakên ning pundak têngên sios lanang. Pundak niku nunduk lan matané nuju maring kitab sing kêwiyak ing pêpangkon. Pêngucapé kêlawan ngati-ati ngêlafadakên nadhom Alfiyah Ibnu Malik sing unggal kula aba waktos sêngèn ning pondok.


Bil jarri wat tanwini wan nida wa al

# wa musnadin lil ismi tamyizun hashal


Mântul uni nadzom niku ning lêlurung, ngêrambat maring saban-saban pênêjané ingêtan, ngêrangkul badan kula sing kêlawan gêgêdêr murugi.


Ngêjantrêng kula sêmbari lungguh waktos sampun ning adêpan wong lanang sing saking uwané mencorong cahya.


“Abahyai?”


Abahyai mésêm. “Bungah tâh urip sira, Mang?” têtakèn Abahyai nutup kitab noli nyawang maring kula kados nyawangé kurma atub maring Siti Maryam sing lagi mêtêng gêdé Nasi Isa.  


“Dunia sêjabané pondok iku kêrêng, ngarumas sing kuduné dikêduwèni sira.”


Pêngandikané Abahyai èmpêr kados gênah niki, botên jelas napa darat apa sêgara, botên ngêdêrêbèni watês tandês. Botên wèntên lawang, botên wèntên jêndêla. Kirangan unèn-unèn napa gêdabrusan, kirangan rawuh saking rêrungkad gunung atanapi ombak.  


Kula nunduk lan mêrêm, pira-pirang kula mirêng Abahyai tetakèn:

 
“Bungah tah urip sira, Mang?”


“Bungah tah urip sira, Mang?”


S
êwu kêlawa, sêwiwiné nêrungkub kula malih, mêlèk kula ngan Abahyai sampun botên wèntên ning gênah. Mabur sêwu kêlawa, mabur kula ing sêpêlêbêté. Layap-layap adzan kêpirêng waktos kilat lampu putih pucêt ngiyêp. Sewu kêlawa murag dados wayangan, noli ngêjinis dados bocah telulas taun.


Bocah niku ngadêg ajèr ning lêbah têngên ranjang kula.


“Mang, kula niki andika lan sêniki sampun wayah kanggé andika mantuk maring kula,” cépéné. “Têbih dêdalan sing Mamang lampahi botên damêl bungah.” 


Mêlèk mêrêm mata kula karna rai bocah niku wulah walih sèrèng rai Ibu. Pirang-pirang mêlèk mêrêm kula ningali, rupiné ênggih niku sêtuhuné Ibu, nguculakên tangané saking ngêrangkul badan kula sing ngêgojod ning ranjang rumah sakit. 


“Èdan tâh kula niki, Ibu?” têtakèn kula, ampir nyêrah. “Kula sampun pêgêl.”


Ibu gidêg bari mèsêm lan nyêcêpi banyu mili ning pojok sêkaro matané sing ngêdêliyêr.


“Kêlipun kulané, Bu?” tètakèn malih kula.


“Aja wêdi, sira ora kêlipèn-kêlipèn,” têgêsé pêngucap Ibu kêliwat ngimânakên.

 

Banten, 1439 Hijriyah

 

Saturday, August 8, 2026

Resensi Kabut | Penjelasan dan Akhir

Oleh Kabut



Yang bercokol lama adalah pemerintah kolonial Belanda. Lakon penjajahan berdurasi lama, yang menimbulkan keuntungan sebesa-besarnya bagi Belanda. Yang terjajah merugi. Ia dirampok habis-habisan, menanggungkan banyak penderitaan. Sejak lama, Nusantara atau Indonesia memang menggiurkan. Yang tamak dan menginginkan mencipta kemakmuran mengadakan lakon penjajahan. Maka, di halaman-halaman buku pelajaran sejarah, adanya pemerintah kolonial Belanda mendapat pembahasan yang panjang.


Kolonialisme itu gagasan, senjata, bahasa, dan lain-lain. Sejarah di Indonesia, sejarah yang memuat beragam perubahan akibat kolonialisme. Yang mula-mula dimengerti adalah kerakusan Barat atau Eropa. Di alur sejarah, Barat itu mendapat “segala” meski Indonesia juga terbentuk dan bergerak akibat pengaruh peradaban India, Tiongkok, Arab, dan lain-lain. Indonesia yang menderita ingin mulia. Perlawanan dilakukan atas nama merdeka.

Pada babak yang mengejutkan, masa 1940-an, Indonesia hampir berubah nasib. Namun, yang terjadi adalah tumpukan derita. Pada 1942, yang berkuasa adalah Jepang. Pemerintah kolonial Belanda keok atas keberanian balatentara Jepang. Indonesia bukan bergirang, tetap saja sengsara. 

Kini, kita menuju peringatan kemerdekaan Indonesia. Yang paling teringat, apakah Belanda atau Jepang? Di desa dan kota, jutaan orang mengungkapkan syukur atas kemerdekaan. Yang berkibar adalah bendera. Yang terucap adalah doa. Yang beredar adalah cerita. Yang diharapkan adalah Indonesia yang tidak digoncang “pidato” atau “kejutan-kejutan’ beragam kebijakan pemerintah, yang digerakkan Prabowo-Gibran. Yang diinginkan Indonesia terus mencipta sejarah indah, bukan kejatuhan, bimbang, dan sesalan.

Pada saat peringatan hari kemerdekaan, yang diadakan di pelbagai tempat adalah lomba-lomba. Kita mengandaikan anak-anak memilih perayaan dengan membaca buku-buku. Di perpustakaan sekolah dan umum, ratusan buku bisa menjadi pilihan. Yang beruang bisa mendatangi toko buku untuk memilih sesuai selerai dan berhitung harga. 

Pada misi memenuhi hasrat membaca anak-anak, pemerintah memberi tanggung jawab atas nama perbukuan diharapkan bermutu. Kita mencatat itu “diharapkan”, belum ada keniscayaan bermutu. Maka, usaha pemerintah diwujudkan melalui pengadaan dan penyebaran buku. Pada 2024, diterbitkan buku berjudul Hilangnya Bola Meriam Jepang gubahan Fathul Khair Tabri. Di sampul depan, terlihat logo dan nama: Departemen Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Buku yang tidak main-main. Bukan bukan diperdagangkan tapi disuguhkan pada anak-anak di seantero Indonesia. Novel untuk anak yang mendapat pengantar sehalaman dari pejabat Pusat Perbukuan. Artinya, buku direstui pemerintah, diedarkan agar anak-anak mau membaca dan mendapat makna-makna. Novel yang berjudul Hilangnya Bola Meriam Jepang diinginkan menyadarkan anak-anak dengan sejarah Indonesia. 

Cerita terjadi di Tarakan, tempat bersejarah saat pasukan Jepang datang ke Indonesia. Pengarang mengingatkan sejarah melalui tokoh remaja bernama Ibay dan Yayat. Ibay berkunjung ke rumah paman (Hanim) yang bekerja di Situs Cagar Budaya Peningki Lama. Percakapan Ibay dan paman menguak sejarah berdasarkan sumber lisan dan peninggalan-peninggalan yang masih ada. Sejak mula, novel menjadi pengajaran sejarah bagi pembaca. Novel yang cocok dengan misi pemerintah dalam pembentukan masyarakat melek sejarah.

Ibay melihat beberapa peninggalan masa perang dan paman berbagi pengetahuan. Cerita pun disisipi penjelasan: “Tahun 1942 menjadi tahun yang sangat membekas di ingatan sejarah Indonesia. Pada tahun itulah pertempuran Tarakan pecak antara Kekaisaran Jepang dan Belanda yang telah menduduki Tarakan. Pada masa itu Tarakan menjadi daerah penting bagi Belanda karena memiliki 700 sumur minyak, penyulingan minyak, dan lapangan udara. Sementara itu, Tarakan juga menjadi prioritas utama bagi Jepang karena lokasinya yang strategis. Sehingga, menjadi basis termudah dan terdekat bagi kekuatan Jepang di Pulau Mindanao, Filipina.”

Cerita yang dibaca oleh anak dan remaja bila mendapat penjelasan memudahkan pemahaman. Mereka tidak perlu tergesa membuka buku pelajaran sejarah. Yang menikmati halaman-halaman cerita mengenai sejarah cukup membayangkan masa lalu. Di cerita yang digubah Fathul Khair Tabri juga terdapat penjelasan garis khatulistiwa, yang biasanya dipelajari dalam geografi. Novel yang ceritanya sederhana tapi tampak menjejalkan beragam penjelasan.

Ibay sedikit memiliki pengetahuan sejarah. Namun, pamannya diberi peran besar dalam menjelaskan sejarah sekaligus memunculkan kehormatan sebagai pegawai pemerintah. Jadi, para pembaca ingin menikmati cerita yang seru bersama dua tokoh (Ibay dan Yayat) tapi kehadiran paman seolah merebut porsi cerita demi menegakkan sejarah. Pengarang dalam bercerita dan memberi penjelasan sejarah menggunakan beberapa referensi meski “kurang” meyakinkan.

Penjelasan lagi: “Perang Tarakan berakhir pada 12 Januari 1942 ketika pasukan Belanda banyak yang ditawan dan persenjataan mereka direbut Jepang. Dalam pertempuran ini, Jepang berhasil meraup kemenangan dan menguasai Tarakan.” Pada masa yang berbeda, Tarakan itu tempat bersejarah. Yang berkunjung bisa menilik sejarah. Di novel, keseruan dibuat oleh pengarang dengan hilangnya benda bersejarah. Pencurian itu berhasil dibongkar oleh Ibay dan Yayat. Benda yang bersejarah tidak boleh hilang, tidak boleh diperdagangkan demi keuntungan pihak-pihak yang menodai sejarah Indonesia. Peristiwa itu menggampangkan pengarang memberi pesan-pesan kepada para pembaca mengenai pentingnya museum dan peninggalan benda-benda bersejarah. Sekali lagi, novel sering disisipi penjelasan.

Akhir cerita adalah kebahagiaan dan kehormatan. Pengarang sengaja memanfaatkan cerita untuk kemunculan pesan-pesan gamblang yang sesuai kepentingan pemerintah. Yang terbaca dalam novel atas keberhasilan menggagalkan pencurian benda bersejarah dan bentuk perhatian pemerintah: “Walikota menyampirkan selempang dan ikat kepala khas Kalimantan di kepala kedua anak itu. Sedangkan Paman Hanim menjadi Pamong Budaya Kota Tarakan yang bekerja di bawah Direktorat Kebudayaan Republik Indonesia.” Cerita yang benar-benar khas kehendak pemerintah, yang mengurangi “mutu” dalam takaran kesusastraan anak.


_______



Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 

Saturday, August 1, 2026

Resensi Kabut | Tidak Pernah Belajar di Sekolah

Oleh Kabut


Sekolah-sekolah ramai lagi. Sejak bulan Juli, murid-murid rutin lagi belajar di kelas-kelas. Mereka yang mengesahkan pendidikan terjadi di Indonesia. Kehadiran mereka di sekolah mengesahkan kerja para menteri dan para kepala dinas yang mengurusi pendidikan. Konon, ada yang ikut bergirang. Pihak-pihak yang bernalar makan turut meramaikan tahun ajaran baru. Namun, masalah-masalah terus terjadi, belum ada jawaban dan tanggung jawab yang terang. Murid masuk sekolah. Makanan masuk sekolah. Murid meraih ilmu. Yang berurusan makanan sadar laba. Kita sekadar iseng mengikuti berita-berita mutakhir meski sering “salah paham” dan dikutuk bingung setiap hari.

Cerita tentang sekolah digelar lagi. Murid-murid membawa buku tulis yang baru. Pihak sekolah meragu dalam penggunaan buku-buku pelajaran. Beragam agenda lekas membikin sibuk sekolah, terutama lomba-lomba dan agustusan. Para orang tua juga repot dan diterpa masalah. Sekolah sama dengan uang. Artinya, uang yang digunakan untuk beragam kebutuhan. Yang tidak terlupa adalah jumlah ongkos untuk transportasi dan uang saku. Pokoknya, sekolah adalah himpunan masalah.


Kita terbiasa berpikir sebagai kaum dewasa. Jadi, sekolah bisa mudah mendapat kritik dan keluhan. Yang berpendapat macam-macam mengenai sekolah bisa pamer argumentasi atau asal-asalan saja agar dianggap mengerti pendidikan. Di Indonesia, serbuan pendapat bermunculan setiap hari di media sosial. Sekolah masuk daftar terpenting dalam tema-tema rancu dan ruwet di Indonesia, dari masa ke masa. 


Apakah kita mampu mengembalikan lagi ingatan dan pengandaian memahami sekolah sebagai anak? Ikhtiar itu dilakukan oleh Yus Rusyana melalui novel pendek berjudul Menempuh Jalan Sendiri. Novel diterbitkan Pustaka Jaya, 1975. Cerita rampung ditulis pada 1974. Kita yang membaca menempatkan cerita berlatar masa awal Orde Baru, yang punya janji besar dalam pemajuan pendidikan. Janji yang keramat meski presidennya tidak pernah belajar di universitas atau memiliki gelar mentereng. 


Wajib dimengerti bahwa novel bukan sumber pokok bagi yang ingin mengetahui kemajuan atau kemunduran pendidikan di Indonesia. Kita tetap memerlukan beragam data (resmi) atau pengisahan (lisan) yang memungkinkan untuk menilai pendidikan. 


Yang ditemukan dalam novel adalah cerita. Apakah itu terjadi dalam kenyataan? Konon, ada yang selalu beranggapan novel itu imajinasi. Hal terpenting, kita menemukan masalah pendidikan, keluarga, pekerjaan, dan lain-lain dalam novel berjudul Menempuh Jalan Sendiri.


Abih, bocah yang diceritakan gagal masuk sekolah. Ia sudah berusaha mendaftarkan dirinya di sekolah. Namun, bapak dan ibu tidak merestui. Alasan yang pokok: ketiadaan uang. Pada usia tujuh tahun, Abih melihat temannya yang bernama Tatan berhasil sekolah. Dua bocah dengan nasib berbeda. Mereka tetap berteman beralasan belajar. Pada sore dan malam, Tatang bertugas mengulangi pelajaran di sekolah, disampaikan pada Abih. Mereka belajar bareng, berupaya bisa lancar membaca dan menulis.


Yang dikatakan Tatang sambil membuka buku pelajaran: “Nah, Bih, lihatlah ini. Tadi di sekolah aku belajar dari buku ini. Kita lihat, di dalamnya banyak gambar yang bagus-bagus. Lihatlah ini gambar rumah. Di pekarangannya, ada bapa, ibu, dan Ida. Ini lagi gambar yang bagus. Kata pak guru, dalam buku ini banyak cerita.” Dua bocah seperti membuat janji mengelak dari kebodohan. Sekolah adalah jawaban agar bisa membaca dan menulis, dilanjutkan berhitung. Ilmu yang digunakan dalam membentuk masa depan.


Tahun-tahun berganti, Abih tetap tidak belajar di sekolah. Ia memang mampu membaca, menulis, dan berhitung. Hidupnya masih dalam kemiskinan. Maka, ia memilih bekerja. Keputusan agar mendapatkan penghasilan, tidak menjadi beban keluarga. Ia pun bekerja sebagai pedagang kerupuk. Abih bertambah umur, menjadi remaja yang bekerja dan mendapatkan penghasilan. Ia terus berteman dengan Tatang, berbagi cerita di dua jalan yang berbeda. Tatang berhasil melanjutkan sekolah ke kota. Abih berpikiran kota adalah tempat mencari pekerjaan yang pantas.


Gairah dalam bekerja diceritakan pengarang: “Ia selalu memperhatikan apa yang disukai dan dibutuhkan oleh para pembeli. Jika ada waktu terluang di rumah, ia membuat mainan anak-anak seperti baling-baling, kedok, burung-burungan dan sebagainya. Waktu ia sedang meladeni anak-anak sering ia memakai kedok, sehingga anak-anak menyukainya. Ada-ada saja yang dilakukannya untuk menyenangkan hati pembeli. Karena itulah langganannya bertambah banyak.”


Dulu, Abih ingin menjadi murid di sekolah. Kegagalan yang ditebusnya dengan berdagang. Ia masih memiliki hasrat belajar meski terbatas. Di pekerjaan, ia membuktikan hidup yang dipertaruhkan. Umurnya terus bertambah. Abih tidak ingin hanya menjadi pedagang. Masa depan ingin diraih dengan pekerjaan yang berbeda. Pekerjaan itu berada di kota. Yang diinginkkannya adalah pergi dari rumah, mengembara ke kota untuk bekerja. 


Novel yang dibaca anak-anak ini tidak kentara mengajak rajin belajar. Pengarang tidak menampilkan tokoh anak yang beranjak remaja sebagai murid. Ia bukan pembaca buku-buku pelajaran yang diharuskan mengikuti ujian. Nasibnya tidak ditentukan nilai-nilai di sekolah atau kenaikan kelas. Pengarang yang cukup paham dengan Indonesia masa 1970-an, negara yang masih memiliki jutaan orang miskin. Keluarga yang miskin gagal mengantarkan anak meraih ilmu-ilmu di sekolah. Yus Rusyana memilih mengisahkan Abih yang tidak pernah sekolah dalam menjawab pelbagai pertanyaan dalam hidup. Ia berada dalam ujian yang nyata. 


Usaha membentuk masa depan perlahan menemukan jalan. Abih dalam obrolan bareng bapaknya Tatang. Sejak lama, bapaknya Tatang bekerja sebagai penjahit. Rezeki menjahit digunakan untuk ongkos sekolah Tatang. Pada saat masih sering main ke rumah Tatang, Abih sebenarnya terpikat mesin jahit. Ia memberi perhatian besar saat melihat bapaknya Tatang sedang menjahit. 


Akhirnya, Abih dan bapaknya Tatang semangat pergi ke kota. Segala hal dipelajari dan dipertaruhkan. Di kota, Abih mula-mula menjadi pelayan bapaknya Tatang. Pada hari yang dinantikan, ia berhasil mahir menjahit. 


Yang diceritakan pengarang tentang Abih yang bakal dewasa: “Ia bercita-cita akan membuka perusahaan sendiri. Perusahaan yang akan dibukanya ialah perusahaan menjahit dan bertoko. Malah setelah mengetahui kotan itu penghasil kelapa, ia pun bercita-cita akan membuka pabrik minyak kelapa. Bekerja dengan cita-cita yang jelas sungguh menggembirakan. Ya, ia selalu hidup bersemangat.” Sekali lagi, yang diceritakan pengarang bukan tokoh yang belajar di sekolah. Ia memiliki masa depan tidak sesuram seperti pandangan buruk publik atas anak atau remaja yang tidak bersekolah.


_______



Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 

Thursday, July 30, 2026

Esai Afrian Rahardyaning Pangestu | Industri Majelis Taklim: Ketika Agama Menjadi Lahan Bisnis yang Manis

Esai Afrian Rahardyaning Pangestu



A. Ketika Ajaran Tuhan Dijual dalam Paket Premium dan VIP

Para pembaca yang baik hati.

Penulis mohon maaf jika judulnya terkesan tajam.

Penulis hanya ingin menyampaikan bahwa banyak fenomena yang patut membuat kita gelisah tentang wajah masyarakat hari ini. Pengajian tumbuh di mana-mana, majelis taklim semakin ramai, ceramah agama memenuhi media sosial nyaris tanpa jeda, tetapi dalam waktu yang sama, masyarakat justru tampak semakin rapuh menghadapi godaan zaman. Korupsi tetap merajalela, judi online menghancurkan keluarga, pinjaman berbunga mencekik rakyat kecil, budaya konsumtif makin liar, dan generasi muda semakin mudah kehilangan arah hidup.

Saat ini, kita hidup di tengah ledakan simbol agama, tapi kita malah mengalami krisis kedalaman iman. Di titik itulah muncul pertanyaan yang tidak nyaman, tapi penting diajukan, yaitu: jangan-jangan sebagian dakwah kita hari ini lebih sibuk memproduksi suasana religius daripada membangun keteguhan akidah dan akhlak umat.

Kita ketahui bersama bahwa majelis taklim yang dahulu identik dengan kesederhanaan, kemudian perlahan berubah menjadi industri spiritual modern.

Pengajian tidak hanya digelar di masjid atau musala, tapi pengajian dipindahkan ke ballroom hotel, aula pusat perbelanjaan, gedung mewah, atau kafe estetik dengan tata cahaya dramatis, musik lembut, kamera profesional, dan promosi media sosial yang sangat rapi. Sang ustaz, gus, atau habib tampil layaknya figur publik yang disambut gegap gempita. Jamaah berebut mengabadikan momen, panitia sibuk membangun citra acara, sementara isi dakwah sering kali dikalahkan oleh suasana emosional dan sensasional yang diciptakan oleh sang tokoh agama.

Yang paling mengkhawatirkan bukan soal tempat atau teknologinya, tetapi arah dakwah yang perlahan bergeser mengikuti keinginan pasar. Anak muda yang sedang patah hati, kehilangan arah hidup, mengalami masalah rumah tangga, atau sedang rapuh secara mental, semua itu menjadi sasaran empuk bagi industri majelis taklim ini.

Mereka datang mencari ketenangan, lalu disuguhi ceramah yang lembut, menyentuh, dan penuh kata-kata motivasi tentang hijrah, move on, asmara, jodoh, atau luka batin. Jamaah dibuat menangis bersama, merasa damai sesaat, lalu pulang dengan perasaan lega sementara. Minggu depan mereka datang lagi untuk mencari sensasi spiritual yang sama.

Agama akhirnya diperlakukan seperti obat penenang emosional, yang dikonsumsi untuk meredakan kegelisahan sesaat, bukan untuk membangun keteguhan hidup berdasarkan ilmu dan iman.


B. Dari Majelis Ilmu, Berubah Menjadi Panggung Euforia Keagamaan

Para pembaca yang baik hati.

Fenomena ini menjadi semakin problematis ketika ukuran keberhasilan dakwah mulai bergeser dari kualitas ilmu menuju popularitas. Sebagian ustaz, gus, habib lebih dikenal karena gaya bicara yang soft spoken, wajah teduh bahkan ganteng, penampilan good looking, atau potongan ceramah yang viral di medsos dan YouTube, dibanding kedalaman pemahaman agamanya.

Pengajian berubah menjadi atraksi pencitraan tokoh agama. Ada tokoh agama yang ceramah di hotel mewah dengan jenis-jenis tiket yang berjenjang mulai dari tiket reguler, tiket premium, hingga tiket VIP dan VVIP. Ada yang bicara tentang kesederhanaan sambil menikmati gemerlap cahaya popularitas yang sangat menguntungkan sekaligus menyilaukan.

Ada pula jamaah yang lebih sibuk mengejar foto bersama tokoh agama dibanding memahami dalil dan makna pengajian yang disampaikan. Ada pula tokoh agama yang “kejar setoran” dengan berfokus pada banyak-banyakan jamaah demi mendapatkan endorsement atau jadi brand ambassador suatu produk.

Di titik ini, budaya pengidolaan tokoh agama tumbuh sangat subur. Gelar “habib”, “gus”, atau “ustaz muda” sering kali membuat seseorang diperlakukan seolah tidak boleh dikritik. Padahal dalam Islam, ukuran kebenaran bukanlah popularitas, garis keturunan, jumlah pengikut di media sosial, dan jumlah subscriber YouTube, tetapi berlandaskan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Tidak ada manusia yang maksum selain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tapi sayangnya, masyarakat kita terlalu mudah silau oleh simbol kesalehan. Bahasa Arab dianggap sudah pasti alim. Tangisan di panggung dianggap sudah pasti tulus. Popularitas dianggap tanda keberkahan. Padahal semua itu belum tentu benar.

Akibatnya, dakwah menjadi kehilangan kekuatan ilmiah yang sehat. Jamaah tidak lagi didorong untuk memahami agama secara mendalam, tetapi cukup dibuat terharu dan dibuat seolah-olah merasa dekat dengan Tuhan. Padahal agama bukan soal suasana hati.

Dalam Islam, ibadah dan seluruh praktik keagamaan harus berdiri di atas petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah. Semangat beragama saja tidak cukup. Sebab sebesar apa pun antusiasme seseorang dalam beribadah, jika tidak sesuai tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka amal itu tertolak. Inilah yang mulai terlupakan ketika agama terlalu sibuk dipertontonkan sebagai hiburan emosional dan sensasional.


C. Dakwah yang Sibuk Mengurus Soal Asmara, tetapi Bungkam terhadap Akidah, Riba, dan Judi Online

Ironi terbesar dari sebagian majelis taklim modern adalah semangat banget membahas tema-tema ringan yang mudah viral, tetapi gugup dan gagap menyentuh persoalan mendasar yang sedang menghancurkan masyarakat. Ceramah tentang jodoh, move on, atau percintaan bisa dipenuhi ribuan anak muda dan pasangan muda. Tetapi, kajian tentang bahaya syirik, bahaya tahayul, bahaya riba, haramnya judi online, kerusakan moral akibat pinjaman online, fikih muamalah, atau pentingnya membangun ekonomi syariah, justru sangat sepi peminat dan minim publikasi.

Padahal kerusakan bangsa hari ini tidak lahir dari kurangnya seminar motivasi, tapi dari lemahnya aqidah dan rapuhnya tauhid. Korupsi tumbuh karena manusia tidak takut kepada Allah. Riba dinormalisasi karena masyarakat lebih percaya pada sistem ekonomi berbasis utang daripada keberkahan rezeki halal. Judi online merajalela karena manusia ingin kaya secara instan tanpa kerja keras. Pinjaman online menghancurkan keluarga karena budaya hidup konsumtif dibiarkan tumbuh tanpa kontrol iman.

Dakwah seharusnya hadir untuk membangun manusia yang kuat secara akidah dan akhlak. Umat perlu diajarkan bahwa tauhid bukan sekadar ucapan, tapi fondasi kehidupan. Orang yang benar imannya, maka dia tidak akan mudah korupsi meski punya kesempatan. Orang yang takut kepada Allah, maka dia tidak akan memakan riba walaupun terlihat menguntungkan. Orang yang memahami agama dengan benar, maka dia tidak akan mempertaruhkan keluarganya demi judi online serta gaya hidup palsu.

Sayangnya, sebagian pengajian hari ini justru lebih sibuk membangun suasana haru dan suasana nangis-nangisan daripada keberanian moral dan keteguhan iman. Jama’ah dibuat menangis, tetapi tidak diajak berpikir. Jamaah hafal kutipan ceramah viral, tapi tidak memahami prinsip dasar akidah. Jamaah rajin hadir kajian, tetapi tetap mudah tertipu oleh investasi bodong, tetap boros, tetap malas membaca, dan tetap lemah menghadapi tekanan hidup.

D. Mengembalikan Majelis Taklim kepada Pembahasan Akidah, Tauhid, dan Perbaikan Umat

Para pembaca yang baik hati.

Mungkin ini sudah saatnya majelis taklim kembali kepada fungsi utamanya, yaitu membangun umat yang berilmu, berakidah yang lurus, dan siap menghadapi perubahan zaman. Pengajian tidak boleh hanya menjadi ruang pelarian emosional bagi masyarakat perkotaan yang sedang lelah hidup. Dakwah harus kembali menguatkan fondasi akidah, mengajarkan pentingnya mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta membentuk manusia yang jujur, disiplin, serta bertanggung jawab.

Masjid dan majelis taklim harus lebih berani membahas persoalan nyata umat, yaitu bahaya syirik, bahaya tahayul, bahaya bidah, bahaya riba, bahaya zina, bahaya pacaran, bahaya judi online, pentingnya menutup aurat, kehancuran moral akibat pinjaman online, pentingnya ekonomi syariah, kesehatan masyarakat, pendidikan keluarga, etika bisnis secara Islam, hingga pentingnya membangun generasi yang kuat jasmani serta rohani. Anak muda perlu diajarkan bahwa hijrah bukan sekadar perubahan penampilan atau suasana hati, tetapi perubahan cara berpikir dan cara hidup sesuai syariat.

Masyarakat juga harus berhenti mengidolakan tokoh agama secara berlebihan. Ustaz harus dihormati karena ilmunya, bukan dipuja seperti selebritis. Dakwah yang sehat adalah dakwah yang menghidupkan ilmu, bukan menghidupkan fanatisme buta. Sebab, ketika agama terlalu sibuk mengejar popularitas, maka yang lahir hanyalah keramaian spiritual yang mudah viral, namun rontok dalam menghadapi ujian kehidupan.

Pada akhirnya, agama bukan sekedar merasa damai di dalam ruangan ber-AC sambil mendengarkan ceramah percintaan dan nangis-nangis manja. Agama adalah petunjuk hidup yang berisi ilmu, ketaatan, keberanian moral, dan keteguhan iman. Jika majelis taklim gagal membangun semua itu, maka yang tersisa hanyalah industri yang memperdagangkan kesalehan, yang terlihat ramai di permukaan, tapi miskin ilmu untuk mendidik umat.


______ 

Penulis

Afrian Rahardyaning Pangestu adalah guru Matematika dan Bahasa Inggris di sebuah pesantren. Pernah menjadi guru IPA dan IPS juga. Hobi membaca, menulis, menggambar, dan fotografi.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com