View AllProses Kreatif

Dakwah

Cerpen

Postingan Terbaru

Senin, 24 Januari 2022

Puisi-Puisi Hendri

 Puisi-Puisi Hendri




Balada Secangkir Kopi


Ada bayang-bayangmu

Pada secangkir kopi

Tersenyum manis

Menyatu dengan dedaknya

Hangat dan nikmat


Ada ciumanmu

Saat seruput pertama

Disajikan oleh pagi

Dan aku membayangkan rasa

Seperti kita bersetubuh dengan gula


Kopi adalah bait-bait puisi

Tempat berlabuh para pujangga

Kemudian diungkapkan lewat kata-kata

Dan aku memahaminya

Tentang kopi. Tentang cinta


Kota Serang, 22 Januari 2022



Lagu Malam


Lekuk-lekuk indah di tubuhmu

Telah kupintal menjadi lagu

Irama erangan dan bisikan

Masih tersimpan dalam khayalan


Hujan masih setia membasahi bumi

Waktu pun larut 

Bersama lenguh azan subuh

Bertalu mengiring simfoni pagi


Dan suaramu masih tertinggal

Di kamar yang dulu pernah bergetar

Hujan akan membawamu kembali

Melantunkan irama kenikmatan


Kota Serang, 2 Desember 2021



Menunggumu


Berapa lama aku menghitung

Detak jam. Duduk di antara sunyi

Membeku dalam kaku. Pilu


Aku seolah terjerat oleh waktu

Di bibir subuh yang jauh

Tubuh sudah hampir rapuh


Kusaksikan tembok ruangan

Seperti menceritakan orang-orang sakit

Kursi-kursi yang pernah mencatat luka


Hampir lima jam aku dipasung

Di bawah suhu dingin yang mengapung

Dan cuaca tak menggema di ujung mega


Sudahlah Hendri. Cintamu kembali dejavu

Jangan kau paksakan hatimu untuk berlayar

Karena perasaan adalah selera


Ber-uzlah bersama Tuhanmu

Dalam zikir dan ayat-ayat cinta

Insyaallah cintamu seindah bintang di surga


Kota Serang, 13 Januari 2022



Berkawin dengan Puisi


Aku tulis puisi ini pada daun

pada batu, dan pada alis matamu


Kuleburkan kau ke dalam

hamparan sunyi


Bersama kertas

kusapa khayalan, imaji, dan bahasa


Namamu kurangkai dari hujan

menyusup ke dalam ruang-ruang dingin


Kau begitu cantik dengan metafora

personifikasi, dan hiperbola


Walau kau tak mencintaiku

setidaknya tubuhmu bisa kunikmati


dalam bentuk puisi


Kota Serang, 12 Januari 2022



____

Penulis

Hendri, alumnnus FKIP Diksatrasia Untirta 2005. Kini mengajar sebagai guru Bahasa Indonesia di SMPN 6 Kota Serang.






Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Sabtu, 22 Januari 2022

Resensi Ilham Romadhan | Nina Bobo Bahasa Indonesia

 Resensi Ilham Romadhan



Judul: Kata yang Rapuh

Penulis: Ahmad Sahidah

Penerbit: DIVA Press

Tahun Terbit: 2019

Tebal: 184 hlm.



Status manusia sebagai makhluk sosial turut mengait anasir-anasir lain di luar dirinya. Dari rambatan ini kemudian lahir proses interaksi antara manusia satu dengan liyan lewat perantara bahasa. Tentu, bahasa yang dipakai lumrah menyesuaikan lingkungan dimana interaksi berlangsung.

 

Bahasa adalah soal kesepakatan, demikian yang sering disitir. Satu kelompok masyarakat sah-sah saja berdialog dengan mitranya menggunakan simbol-simbol tertentu yang saling dipahami sebagai konsep yang diinginkan. Suatu kota di Turki, misalnya, hampir seluruh penduduknya menggunakan bahasa siul untuk menyambung komunikasi jarak jauh karena letak geografi tidak mendukung mereka berinteraksi antar tebing.

 

Dalam Islam, yakni Al-Qur'an, sejarah lahirnya bahasa tidak hanya berdasar dari konsesus masyarakat, melainkan sebuah paket matang dari langit untuk bekal manusia hidup di bumi atau disebut tawqīfi. Kata al-asmā (bentuk plural ism, nama) dalam al-Baqarah ayat 31 adalah konsep mengenai pernak-pernik ciptaan yang dihadiahkan kepada Adam dalam wujud yang "siap saji", taken for granted.

 

Menjenguk Bahasa Indonesia


Membaca Kata Yang Rapuh anggitan Ahmad Sahidah dalam kumpulan tulisan yang pernah tersiar di beberapa media seperti Majalah Tempo, Jawa Pos dan Suara Merdeka, rasanya seperti sedang menjalani pijat refleksi sambil menyimak kegundahan si tukang menghadapi otot-otot bahasa yang kaku karena lama tak digerakkan.

 

Sebagai anak yang lahir-tumbuh di Indonesia, kita sepatutnya bangga dengan ragam buminya. Mirip pertanyaan klise yang acapkali dilontarkan, jika bukan kita, siapa? Tetapi apakah kebanggaan itu terus kita rawat atau tidak, adalah persoalan menantang. Hidup di zaman serba canggih, beberapa bidang kita telah ditindih produk asing.

 

Termasuk kaitannya dengan bahasa yang lumrah menandai dari mana ia bermuasal. Bahasa Indonesia, sebagai lingua franca, bahasa pengantar kita, dewasa ini bernasib kurang menguntungkan.

 

Kondisi itu dapat dengan mudah kita amati di beberapa masyarakat di kota besar, di mana terjadi ragam interaksi yang kompleks baik secara verbal atau perantara gawai. Di sana, bahasa Indonesia bertaruh eksistensi dengan bahasa asing.

 

Bahasa Indonesia tidak lagi megah di mulut-mulut pejabat yang merasa lebih berwibawa bicara dengan bahasa asing. Virus ini, agaknya, telah merembes ke ruang-ruang televisi publik. Dari penamaan program tayangan, misalnya, memilih judul "Talk Show" dirasa lebih gagah ketimbang "Dialog Muka". Sematan presenter, host, terdengar lebih mewah (meski tidak terdaftar dalam KBBI) ketimbang penyampai. Padahal sekitar tahun 2000-an, kita menyaksikan program Televisi Rakyat Indonesia (TVRI) dimulai oleh pembawa acara (bukan MC) wanita bersanggul yang menyampaikan agenda tayangan beberapa jam ke depan.

 

Kecenderungan kita memakai istilah kebarat-baratan patut dibatasi hanya pada kebutuhan teknis, yakni ketika pengandaian makna bahasa asal tidak sepenuhnya ditangkap oleh bahasa Indonesia. Meminjam misal Ahmad Sahidah, being-in-the-world (atau Dasein)-nya Martin Heideger yang dalam bahasa Indonesia artinya "mengada di dunia", semata dimakfu untuk kebutuhan membeber hakikat istilah itu.

 

Tetapi dalam istilah lain yang dapat ditemukan padanannya, alangkah baik padanan itu digunakan senyampang tidak mereduksi makna awal. Seperti dekonstruksi dalam wacana Filsuf Jacques Derrida yang mengandaikan arti proses menjadi hancur, bisa menggunakan pola pe -an dalam bahasa Indonesia. Malangnya, elit kita tendensius mengatakan dekonstruksi alih-alih penghancuran. Jika narsis semacam ini terus berlanjut, bahkan tak pelak diwarisi golongan muda, bahasa Indonesia tidak diharapkan bernapas lebih panjang.

 

Dengan laju teknologi demikian dahsyat, agaknya sulit membendung ragam bahasa yang melingkar dalam jejaring dumay (dunia maya). Dalam banyak judul tulisannya di buku yang terbit 2019 ini, Ahmad Sahidah mencatat hasil pengamatannya dari ruang Twitter, bahwa jutaan pengguna aplikasi berlogo burung itu, terutama warga Indonesia, senang mencampurkan bahasa pengantar dengan bahasa Inggris. Dikarenakan Twitter membatasi jumlah karakter pada kicauan yang akan diunggah, pengicau merasa harus berhemat kata karenanya mengimpor bahasa Inggris atas pertimbangan jumlah huruf lebih pendek.

 

Pola semacam ini, jika dilepas tangan, akan semakin membengkak dan rumit. Ahmad Sahidah, yang juga pernah mengajar di Universitas Sains Malaysia, kerap menyandingkan realitas kesadaran berbahasa di dua negara serumpun. Ia menilai, semangat berbahasa di Indonesia masih loyo terbukti dengan nomenklatur acara-acara televisi dengan nama asing atau selebriti yang suka menghambur-hamburkan kata Inggris sepanjang wawancara. Entah karena malas mencari kata kembaran yang tercantum di KBBI, atau karena lidahnya merasa pas mengucap kata-kata asing, atau demikian ini besar dipengaruhi tradisi setempat?

 

Apa pun itu, merasa gagah sewaktu melontarkan bahasa asing dan mengerdil saat berbahasa Indonesia, menyitir kiasan Ahmad Sahidah, adalah upaya penguburan khazanah kita. Bahwa mewujudkan Saya-Indonesia dimulai dengan menata kata.



____

Penulis

Ilham Romadhan, alumnus Ma'had Aly An-Nur II. Suka memasak, kadang menerjemah. Sekarang mengambil studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir di UNUJA Probolinggo.






Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Jumat, 21 Januari 2022

Puisi-Puisi Verilla Sari Purba



Ke Mana Harus Kujemput


Ke mana harus kujemput metafor-metafor itu?

Apa mereka masih di sekolah atau sedang bermain di rumah tetangga, mencuri-curi ikan teri campur kacang yang baru saja siap di goreng?

Ke mana harus kujemput metafor-metafor itu?

Apa di kantor polisi sebab melanggar lampu merah di persimpangan Jalan Sudirman-Tuanku Tambusai karena mau belok kanan tapi matanya tak lepas dari gedung Gramedia pusat?

Ke mana harus kujemput metafor-metafor itu?

Apa mereka sedang melihat topeng monyet di Pasar Kaget sambil makan es krim potong yang dilumuri cokelat?

Ke mana harus kujemput metafor-metafor itu?

Apa mereka sedang leyeh-leyeh pada sampul buku-buku cerita Enny Arrow? Ditemani sejoli cinta terlarang yang kini semakin nyata dan membabi buta.

Metafor-metafor terus kucari

Di bawah kasur

Di kamar mandi

Di dapur

Di garasi

Tak kunjung datang agak sekelebat di dalam pikiranku, pikiranmu?

Ternyata saat aku diam-diam menggambar sambil telanjang.

Seekor metafor diam-diam intip aku dari belakang.


Pekanbaru, 2021




Skeptis


Sebentar lagi tanggal delapan

tapi belum juga lahir puisi baru.

Sekali-kali aku ingin buat puisi lucu

karena hidup tidak tentang sendu melulu.

Iya... iya... semua juga tahu.


Ada hubungan apa Joko Pinurbo dan celana

atau Eka Kurniawan dengan payung cap logo bumbu masak.

Benar dua dari beberapa penulis andalanku


Aku tidak nafsu membaca yang panjang-panjang

apa mungkin karena sifat yang tidak sabaran?

Aneh, aku pernah membaca novel dari belakang.


Wanita itu harus sabar

seperti memasak rendang untuk lebaran

karena tidak boleh api besar.

Katanya ingin jadi ibu,

apa masih pikir-pikir dulu?


Bekasi, 2020




Gara-gara Hujan 


Hujan menujam aspal,

kilat datang,

aku terjebak di grosiran.

Sial! Mana mati lampu.

Syukur aku tidak sendirian.


Mau kenalan gak?

Mau dong

Mau yuk!

Tapi hujan berisik amat.

Yang ada nanti malah Hah? Hah? (tukang keong).

Jadi aku diam saja,

sambil jongkok,

sambil bikin puisi dalam nota telepon genggam.


Duh, jadi kepengin beol.

Duh, apa kabar barang di angkringan?

Duh, apa aku kirim pesan kepada seseorang?

Cie bingung,

Cie ketelan buah simalakama.

Cie, cuma kamu yang bisa ini yang bisa itu.

Blah,

Muntah.

Basi,

Basi,

Sambal bau masam,

Basi!

Bim, salabim.

Prang teng tong.

Prang teng tong.

Sekarang aku sudah ada di kasur.

Digendong afirmasi aku sampai pada tempat ternyaman.

Sekarang aku mau tidur dulu, sambil peluk hujan dan dipeluk sayang.


Grosiran Pak Kahar, 2021



___

Penulis

Verilla Sari Purba, lahir di Pekanbaru pada tanggal 8 Juni 1996. Sehari-hari bekerja sebagai Pengusaha. Alamat di Rumbai Pesisir, Pekanbaru. Hobi menyanyi dan membaca cerpen. Konsisten menulis puisi mulai tahun 2017 pada tidakuntukditerka.blogspot.com

Membaca karya-karya Eka Kurniawan, Joko Pinurbo, dan Sapardi Djoko Damono. Aktif bertukar pikiran dalam Komunitas Suku Seni Riau. Bercita-cita menjadi penulis hingga akhir hayat, entah kesampaian entah tidak.





Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Rabu, 19 Januari 2022

Puisi-Puisi Jawa Banten Nursiyah

 Puisi Jawa Banten Nursiyah



CERITE NING PINGGIR GALENG


Subuh ike kerungu suare

Diimplo lake rupe

Merinding wulu segulu-gulu

Ape kite ure kelingan jejalukan

Welas asih atine Pengeran


Ape iki sing ngegelontong

Aih Gusti iki anak menuse!


Beberakan kite ning jagat alam

Kualat sire!


Lian dinane teke

Lindu ngekan tande


Serang, 15 Januari 2022



JALAN SEKARAT


Kerungu suare lake rupe

Ning bengi sing peteng rumpeng

Cahye ilang ketutup awan ireng

Ape ike sing sesautan?

Geludug sing jegar-jeger

Ape ati sing ngederegdeg

Ngadepi urip ning pinggir wewaton


Keringet ngucur tekang kekuyup

Ngeringkel kite kaye pitik kudanan

Nyosob lalahan ketinggal babon

Ibu. Pernah tak colong duit sekeping

Kebite ning cepit kupu-kupu sing elare bening

Durung ngerti kite hal pedaringan

Sebab mun ngelih kari nangis gegeluntungan


Ape ike sing padang?

Nyorot ning tengah dermage tegal

Suarane enteng cecelukan

Aih Ibu

Kite teke

Rangkul kite sing lake daye


Serang, 17 Januari 2022



ASIH


Ape sing ketunggon ning ati

Ure peragat diejani

Hal demen iku 

Mulane ning mate

Melayune ning ati

Kemate-mate rai fulan

ah keimpen-impen


Serang, 18 Januari 2022



_____

Penulis

Nursiyah kuli pabrik yang kadang menulis puisi.






Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Undangan Menulis Puisi | Komunitas Sastra Krajan

 



Undangan Menulis Puisi Bersama

Perayaan Hari Puisi Dunia (Komunitas Sastra Krajan)

Syarat dan Ketentuan:

1. Warga negara Indonesia;

2. Mengirimkan maksimal 3 (tiga) puisi terbaik;

3. Tema puisi bebas;

4. Puisi asli karya sendiri (tidak plagiat), boleh yang sudah pernah dimuat di media massa, namun belum pernah dibukukan;

5. Puisi diketik dalam format MS Word (bukan PDF) dengan jenis huruf Times New Roman/Arial, ukuran font 12, satu spasi;

6. Puisi berbahasa Indonesia dengan susunan penulisan:

-nama penulis

-judul (HURUF KAPITAL)

-isi (maksimal 20 baris)

-titimangsa

-bionarasi penulis (maksimal 10 kata) dan menyertakan foto diri format JPG/PNG

7. Batas akhir (deadline) pengiriman puisi tanggal 15 Feb 2022 dan dikirim ke email

 sastrakrajan@gmail.com dengan subjek hpd2022 – nama penulis

8. Peserta yang puisinya dibukukan siap mengganti uang produksi sekitar Rp50.000;

9. Puisi yang lolos kurasi akan diterbitkan dalam sebuah Antologi Puisi;

10. Hal-hal yang belum jelas dalam info ini, akan diumumkan kemudian.


Kontak: 0822-1182-2722


____
Sumber info: Muhammad Lefand

Selasa, 18 Januari 2022

Proses Kreatif | Penulis yang Cuma Tahu Buku, Tapi Tidak Tahu Mana Kemiri dan Ketumbar

 Oleh Encep Abdullah



"Buat apa banyak berkata-kata, pintar menulis, kalau cucian piring dan baju numpuk, rumah berantakan," ujar istri saya.


Dia membalas begitu karena sebelumnya saya bilang kepadanya bahwa ada anak cewek, anak sekolah pandai sekali berkata-kata di status WA-nya. Tak usah saya sebutkan namanya. Intinya dia masih sekolah. Lalu, spontan istri saya menjawab begitu. Dia tidak terima karena dia memang merasa tak pandai berkata-kata walaupun sebenarnya sudah punya tiga buku, duet bersama saya. Itu pun saya paksa. Tidak menulis, tidak dapat jatah uang dapur dan jalan-jalan. Untungnya, istri tidak bilang "Kalau maksa nyuruh aku nulis, aku nggak akan kasih jatah malam Jumat dan malam Minggu" Haha.


Lalu, apa yang sedang dipermasalahkan di sini sebenarnya? Saya juga tidak tahu. Karena sejak pagi saya kebingungan mau menulis apa, mendadak percakapan dengan istri ini menjadi inspirasi untuk menulis.


Menurut Saudara, apa hubungannya cucian piring yang numpuk, cucian baju yang numpuk, rumah yang berantakan dengan urusan pandai berkata-kata dan menulis?


Saya ulangi lagi perkataan istri saya, "Buat apa banyak berkata-kata, pintar menulis, kalau cucian piring dan baju numpuk, rumah berantakan".


Saya mau menafsirkan, barangkali maksudnya begini. Kecerdasanmu dalam menulis (juga membaca) rasanya tak berfaedah kalau urusan sepele di sekitarmu, seremeh itu, diabaikan.


Mungkin begini. Banyak orang yang merasa pintar berkata-kata, menulis buku, tapi saat melihat sampah bungkus permen di sampingnya saja abai. Ada hal yang seharusnya kau beresi dan benahi, tidak segera kau selesaikan. Lebih jauh lagi, ada kemudaratan di sekitarmu kau malah tak peduli. Kau hanya peduli pada dirimu, tidak pada lingkunganmu.


Menyandang status sebagai penulis dan penggila buku, saya merasa sangat gagah, tampak aura-aura manusia serbabisa, multitalenta. Seperti yang pernah disampaikan Mbak Helvy Tiana Rosa waktu di Bali bahwa ia disuruh begini dan begitu oleh masyarakat karena menyandang sebagai penulis ngetop. Orang-orang menganggapnya bisa melakukan apa pun. Mbak Helvy tertawa. Katanya bahwa banyak orang yang menganggap semua penulis itu serbabisa, serbatahu, jadi apa saja bisa, padahal tidak begitu.


Itu pun saya alami. Kalau anak saya sakit, atau katakan saya sendiri sakit, saya tidak tahu obat apa yang harus saya beli ke apotek. Istri saya ngomel "tahunya buku doang sih!" atau apa pun terkait hal lain selain urusan buku, saya sering tidak tahu. Apalagi kalau suruh beli bumbu-bumbu dapur. Kepala saya ngebul. Bahkan kalau boleh cerita, saya tidak tahu mana bedanya kencur laos, lengkoas, dan apalah lagi namanya itu. Pusing sekali membedakan mana kemiri dan ketumbar. Wis pokoke, sayamah tahu matengnya. 


"Makanya contoh tuh si anu, cowok juga paham bumbu dapur, merek obat-obatan," ujar istri saya.


Saya terngiang kata-kata itu. Akhirnya saya punya kesimpulan sendiri, "Buat apa banyak berkata-kata, pintar menulis, kalau tidak tahu nama bumbu dapur, tidak tahu merek obat-obatan".


Sebenarnya batin saya tidak terima dikatakan begitu. Saya tidak tahu nama-nama itu bukan berarti saya bodoh. Kapasitas dan waktu luang saya tidak terfokuskan ke situ. Toh, saya tetap merasa tampan saat berhasil memasang perangkat tabung gas sampai bisa menyala. Dan ingat, hal itu pun tidak semua laki-laki bisa. Saya dianugerahi Allah dengan bakat itu. Istri saya sering lari terbirit-birit kalau disuruh ngurusi per-LPG-an. Kalau saya, malah saya main-mainin gasnya, dia malah teriak-teriak.


Seorang penulis yang hidup dalam lingkungan yang semraut, dengan cucian yang numpuk, bekas kopi dan puntung rokok yang aduhai berserakan, belum tentu pikirannya juga semrawut. Bisa jadi pikirannya terstruktur, cuma dia bukan tipe orang yang rajin beberes rumah atau lingkungan di sekitarnya. Siapa tahu, diamnya penulis adalah pergerakan untuk membuat orang lain diam (mengutip Danar). Atau jangan-jangan sebaliknya, orang yang tubuhnya sering bergerak dan merasa perfeksionis dan paling sebagainya itu sebenarnya dia mati. Mati tak punya ide, tak punya gagasan, tak punya karya, tak punya kata-kata untuk disumbangkan kepada dunia dan seisinya. Mampus dikoyak-koyak kesibukan dan keriuahannya sendiri. Bukan begitu?


Saya tutup saja tulisan ini dengan larik pertama puisi W.S. Rendra "Hai, Ma!"


Ma, bukan maut yang menggetarkan hatiku, 

tetapi hidup yang tidak hidup ...


Kiara, 18 Jan 2022



____

Penulis

Encep Abdullah, penulis yang maksa bikin kolom ini khusus untuknya ngecaprak. Sebagai Dewan Redaksi, ia butuh tempat curhat yang layak, tak cukup hanya bercerita kepada rumput yang bergoyang atau kepada jaring laba-laba di kamar mandinya. Tak menutup kemungkinan, ia juga menerima curhatan penulis yang batinnya tersiksa untuk dimuat di NGEWIYAK. 


Berita | bank bjb Siap Tingkatkan Sinergitas dan Kolaborasi Bersama Pemerintah Daerah Provinsi Banten

 


NGEWIYAK.com, SERANG - Memasuki tahun 2022, bank bjb kembali dipercaya oleh Pemerintah Daerah sebagai Bank Persepsi untuk mengelola Keuangan Daerah (RKUD) di 7 (tujuh) Kota/Kabupaten di Provinsi Banten: Kota Serang, Kabupaten Serang, Kota Cilegon, Kabupaten Lebak, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, dan Kabupaten Tangerang. Atas kepercayaan yang diberikan oleh Pemerintah Daerah tersebut, bank bjb berkomitmen untuk terus mendukung dan meningkatkan layanan kepada Pemerintah Daerah dengan fokus utama di tahun 2022 ini adalah Digitalisasi Daerah.


Hal itu sejalan dengan peran dan tanggung jawab bank bjb yang telah dikukuhkan dalam SK Kepala Daerah sebagai Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) se-Provinsi Banten. bank bjb siap mendukung dan meningkatkan Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD), baik dari sisi belanja/pengeluaran Pemerintah Daerah maupun Optimalisasi Pendapatan Daerah dengan membawa konsep Go Smart City dalam mewujudkan Pemerintah Daerah Berbasis Digital. Konsep Go Smart City ini terdari dari  6 (enam) pilar utama, yaitu Go Government, Go Branding, Go Economy, Go Society, Go Living, dan Go Environment.


Salah satu bukti nyata komitmen bank bjb dalam membantu elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah adalah dengan memperluas kerja sama layanan E-Tax dan juga E-Retribusi untuk penerimaan Pajak dan Retribusi Daerah. Masyarakat Banten dapat melakukan pembayaran pajak melalui seluruh Jaringan Kantor dan Jaringan Elektronik (e-channel) bank bjb yang tersebar luas di seluruh wilayah Indonesia, jaringan ATM dan EDC, Mobile Banking BJB DIGI, Dompet Digital Digi Cash, Uang Elektronik/e-wallet berbasis QRIS, e-commerce, serta modern channel seperti Alfamart dan Indomaret. Dengan demikian, bank bjb dapat membantu Optimalisasi Penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan cepat, efektif, dan efisien.


Selain itu untuk mendukung transaksi keuangan Pemerintah Daerah, bank bjb telah memberikan fasilitas layanan SP2D Online, Internet Banking Corporate (IBC), dan Sistem Keuangan Desa (SISKEUDES) Online. Adapun untuk meningkatkan inklusi keuangan kepada masyarakat melalui Digitalisasi Layanan Perbankan, bank bjb hadir melalui layanan Agen bjb BiSA LAKU PANDAI dan Payment Point Online Bank (PPOB) yang dapat menjangkau masyarakat sampai ke pedesaan.


Di tahun 2021 bank bjb kembali melakukan Perjanjian Kerja Sama dengan Pemerintah Provinsi Banten perihal Layanan Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor melalui Aplikasi SAMBAT (Samsat Banten Hebat) dan SIGNAL (Samsat Digital Nasional) serta Kerja Sama Pengelolaan Retribusi Daerah melalui Aplikasi SIREDA (Sistem Retribusi Daerah). Begitu pula bersama Pemerintah Kabupaten Pandeglang bank bjb telah melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman Perihal Jasa & Layanan Perbankan serta Perjanjian Kerja Sama Layanan Penerimaan Pajak Daerah Pemerintah Kabupaten Pandeglang.


bank bjb selalu hadir untuk membantu Pemerintah Daerah mulai dari penyaluran gaji ASN, pemberian benefit employee ASN, hingga pengelolaan Layanan Keuangan dan Pendapatan Daerah dengan Pemerintah Daerah Provinsi Banten dan delapan Kota/Kabupaten yang ada di Provinsi Banten.


Di samping itu, bank bjb senantiasa membantu Pemerintah Provinsi Banten dalam hal Penyaluran Bantuan Sosial Jamsosratu, sebagaimana telah dituangkan dalam Perjanjian Kerja Sama yang ditandatangani oleh CEO Regional IV bank bjb bersama Pemerintah Provinsi Banten melalui Dinas Sosial Pemprov Banten untuk penyaluran Bantuan Sosial Jamsosratu kepada 31.115 penerima dari total 50.000 penerima bantuan atau lebih dari 60% penyaluran bantuan.


bank bjb merupakan satu-satunya Bank milik masyarakat Banten dan Jawa Barat, sejak awal didirikan sampai dengan saat ini terus tumbuh dan berhasil mencetak perolehan laba yang terus meningkat setiap tahun, memberikan dividen serta dana CSR (Corporate Social Responsibility) kepada Pemerintah Daerah selaku pemegang saham bank bjb, serta oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dinyatakan sebagai “Bank Sehat”. 


"Bank bjb bahkan berkomitmen untuk selalu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat Banten secara luas. Atas dasar itulah, bank bjb memiliki kapasitas untuk tetap menjadi mitra bisnis strategis Pemerintah Kota dan Kabupaten di Provinsi Banten," ujar Corporate Secretary bank bjb Widi Hartoto.


bank bjb telah memiliki infrastruktur dan produk yang lengkap untuk memenuhi kebutuhan transaksi Pemerintah Daerah, didukung dengan kinerja yang baik, infrastruktur produk yang sudah in place, kerja sama yang dilakukan pun memberikan value bagi kedua belah pihak, baik bank bjb maupun Pemerintah Daerah. 



(Redaksi)


Senin, 17 Januari 2022

Berita | Terjadi Pergerakan Tanah di Kecamatan Bojonegara

 


Sumber foto: Grup WhatApp SIBAT (Siaga Bencana Berbasis Masyarakat) Kec. Pontang


NGEWIYAK.com, KAB. SERANG -- Telah terjadi pergerakan tanah di Kp. Tanjakan, Ds. Pakuncen, Kec. Bojonegara pada Kamis (17/1). Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 03.00. Kemudian, terjadi pergerakan susulan sekitar pukul 08.35.

Curah hujan dengan intensitas tinggi diduga menjadi penyebab tanah longsor. Intensitas ini mengakibatkan akses jalan antardesa tertutup sehingga tidak bisa dilalui pengguna jalan atau masyarakat setempat. 

Peristiwa ini langsung direspons oleh petugas setempat, di antaranya BPBD Kab. Serang, Koramil, Polsek Bojonegara, Pemerintah Desa Pakuncen, Tagana Kab. Serang, ORARI, RAPI, dan masyarakat sekitar.



“Longsor terjadi diperkirakan menjelang azan subuh. Peristiwa ini mengakibatkan jalan antardesa tidak bisa dilalui oleh masyarakat," ujar Kepala BPBD Kab. Serang.

 

Untuk kondisi terakhir saat ini, sebagian jalan masih tertutup dan hanya dapat dilalui oleh kendaraan roda dua. Beruntungnya, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

 

Menurut penuturan warga Desa Pakuncen, Rahmatullah, saat terjadi longsor kondisi jalan sedang sepi. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.


“Hujannya cukup deras, jadi tanahnya longsor.  Apalagi jalan menuju kampung saya itu banyak tebing-tebing," tutup Rahmatullah.



(Redaksi)

 

 


Sabtu, 15 Januari 2022

Bab 3 | Samsiah & Jaidi | Sul Ikhsan

 Jaidi Kependak Samsiah





***


Subuh-subuh, umah Jaidi kebek wong nangis. Jaidi lan Marfuah nangis gegeluntungan ning esor tivi cecelukan aran ibune sing lagi ngeberesi kelambi ning koper. Ibune ora sanggup ngomong apa-apa. Ning atine ripuh. Lamun diibarataken atine bi Royanah kaya ombak laut sing nerajang watu.  Dulur bi Royanah pada meluan ketuon lan nangis ngedeleng Jaidi lan Marfuah. Mang Mujidi dodok ning korsi. Deweke ora nangis, tapi raine abang. Sebenere ning atine, mang Mujidi nangis ngegerung-gerung. Geludug jegar-jegur, kekilat ceprat-cepret, udan bedebuh, angin puting beliung kebek ning atine. Cuma karena deweke wong lanang, ditambah uis tua lan ngerasa dadi kepala keluarga, deweke isin arep nangise. Tetangga pada ketuon ngedeleng kejadian iku. Walaupun kejadian mekonon iku sering terjadi ning kampung iku lan bakale ora berlangsung sue, tapi tetep bae, laka sing bisa kuat ngelepas lungane wong sing paling disayang.


Dina iki, bi Royanah, ibune Jaidi arep berangkat ning Arab Saudi dadi pembantu. Cuma nonggoni rong wulan doang, bi Royanah ulih panggilan sing calon majikane. Wayah mubil jemputane teka, umah Jaidi sing rombeng iku nyangkin kebek diisi tetangga lan dulur-dulure. Bi Royanah, Jaidi, Marfuah, lan mang Mujidi lelangkuran sembari nangis kemesesegen ragem-ragem.


“Menai eman majikane, Nong. Aja ora kelingan gai kabar ning umah. Kekirim telung wulan sepisan mah gena bayar sekola bocah-bocah,” jere mang Mujidi elon-elon. Bi Royanah nyangkin keket ngelangkure.


“Bu, nong melu be ya. Nong pengen weruh Arab,” jere Marfuah.


“Aja. Nong ning kene bae. Baturi bapak. Ngko gede nong lunga ya ndah weruh Arab,” jere mang Mujidi.


Jaidi ora ngomong apa-apa. Deweke nungkluk bae sembari nangis sejero-jerone.


 Ora ketinggalan, bi Royanah ngelangkuri dulur wadon, dulur lanang, lan tetanggane sembari nitip Jaidi lan Marfuah. Bi Royanah nyered-nyered koper, dadah-dadah ning sekabeh uong sing ana ning kono baranganu manjing mubil. Suara wong nangis nyangkin kenceng wayah mubil sing ngegawa bi Royanah jalan ninggalaken gang RT 06.


Sedurung lunga, bi Royanah uis nyiapaken segala-galane. Jaidi uis didaftaraken ning sekola negeri lan uis ditukukaken pekakas sekolane. Duit komisi sing liane, gena ngebeneri umah. Ditukukaken welit anyar, bide anyar, keramik, mesin cuci, lan kasur anyar. Jaidi dewek due motor, wokmen, lan hp nokia. Bapane, mang Mujidi, tuku piyama, sarung wadimor, lan sandal carvil. Adine, Marfuah, tuku kelambi inul, boneka berbi, lan pertelot 2B. Keluarga mang Mujidi kedeleng sing jaba mah uis rada mendingan. Sing ora kedeleng ning wong lian iku jero atine. Jero atine bi Royanah, jero atine mang Mujidi, jero atine Jaidi, jero atine Marfuah. Umah mang Mujidi emang uis kedeleng rapi lan akeh pekakas anyar, tapi suasana sing bengen kaya kumpul-kumpul keluarga, susah-seneng ragem-ragem, lan keangetan keluarga iku ilang, lan laka sisane setitik-titik acan. Sing ana kari ketuone doang. Premen-premen gah, mending mangan uyah karo keluarga dibanding mangan ayam pedewek-dewek. Mending ketiban kelapa ning negara dewek, daripada ketiban duren ning negara uong.

 

2

“Kang, tangi, Kang?! Ditonggoni Kang Sariman ning jaba kih, sekola ora jigah!”


Jaidi jenggelak tangi lan ngedeleng adine uis rapih nggo kelambi sekola.


“Jam pira ikine, Fuah?” Jaidi tetakon sembari ucek-ucek mata sing kebek belek lan pepered lambe sing kebek iler.


“Jam 7. Kitane lunga sekola dimin. Memuluke ning duhur meja. Bapane uis lunga megawe. Sangune ning pinggir tivi,” jere Marfuah bari ngeloyong.


Jaidi pelanga-pelongo. Setiap tangi turu deweke masih kekatonen suara ibune lamun nangekaken. Pemberasane kaya masih ana ibune ning umah iku. Uis seminggu deweke ditinggal ibune. Dina iki manjing sekola pertama.


“Man, panasaken be motor kitane dimin. Kita arep memuluk lan adus dimin,” Jaidi ngebeker sing kamare.


“Setor gagi gah, upacara iki dih!”


Jaidi langsung melayu marani pawon. Nyampe pawon, deweke ngedeleng pawon acak-acakan. Piring numpuk durung dikumbahi, kelambi pada nyantol ning ndi-ndi, pendil lan kenceng ngegelempang, sesewet celekcekan. Persis kaya kapal ajur. Wayah matane ngedeleng meja, ana sekul goreng rong piring. Sing sepiring bekas Marfuah ora entek, sing sepiring masih kebek. Jaidi ngejajal sekul goreng iku, baranganu langsung ngelepehaken sekule wonganan rasane asin, pait, lan rada kecut.


Jaidi lan Sariman akhire disetrap gara-gara Jaidi kendo lan terlambat limang menit. Dudu cuma deweke, ana wong limelas sing terlambat wayah upacara iku. Kelas sijine ana Jaidi lan Sariman doang. Sing wong telulas kelas roro lan telu. Jadigah limelas uong iku barise sejen dewek karo murid liane. Murid liane mah ning bagian tengah lapangan upacara, sing terlambat iku dibarisaken ning arep gerbang lan didokoni pepatok ning arepe “MURID TERLAMBAT”. Ning barisan wong terlambat iku, ana wong roro anggota OSIS sing ditugasaken nyeramahi wong-wong sing terlambat.


“Mbeke dina pertama manjing be uis pada mekenen iki. Apa maning seteruse. Sira-sira iki pada niat arep sekola ora sih?!” getak anggota OSIS.


“Iya,” jawab ragem-ragem memalesan. Sariman kewedenen. Kelas roro lan telu cengar-cengir doang. Jaidi ora ngerongokaken lan malah nungkluk. Atine melayu-melayu mikiri umah, mikiri Marfuah, mikiri bapane, mikiri ibune.


“Coba ana kelas sijine laka?!” takon anggota OSIS iku bari ngegetak.


“Kita, Kang,” Sariman ngacung. Jaidi masih meneng bae.


“Sapa arane?”


“Sariman, Kang,” suara Sariman ngegeter.


“Wong siji doang?”


Jaidi masih ngelamun durung ngacung-ngacung. Sariman nyenggol-nyenggol Jaidi. Baranganu Jaidi ngangkat raine lan ngangkat tangan tengene. Jaidi kaget waktu deweke ngangkat raine, Jaidi ngedeleng wong wadon sing pernah dideleng waktu deweke tuku uduk ana ning barisan paling pinggir sing langsung bisa dideleng Jaidi. Jaidi ora nyangka wadon iku sekolane ragem karo deweke. Jaidi berag.


“Sapa arane sira?!” getak anggota OSIS ning Jaidi.


Jaidi ora ngeladeni lan masih mesem-mesem fokus ngedelengi wadon iku. Anggota OSIS sing ngedeleng Jaidi mesem-mesem dewek iku ngerasa diledek. Anggota OSIS iku ngeberek ning parek kupinge Jaidi.


“Woy! Sapa aran sira?!”


Jaidi kaget lan reflek ngejorogaken anggota OSIS iku sampe kedupruk. Barisan wong-wong sing terlambat iku jadine geger lan pada ngekek ngedeleng kejadian iku. Sariman nyangkin keweden-weden.


“Woy masih kelas siji be wanten sira iki!” anggota OSIS sing sijine langsung nyekel badane Jaidi. Anggota OSIS sing kedupruk kaen tangi melu nyekel lan nyered badane Jaidi.


“Gawa bocah iki ning ruangan!”


“Ampura, Kang, ora sengaja. Kakange iku bebekeran ning kuping kita,” jere Jaidi santai ora gelem digawa ning ruangan karena ora ngerasa salah.


“Sirane arep jadi jagoan tah? Sirane wanten tah ning kita heh!” jere anggota OSIS sing kedupruk iku bari ngejorog-jorogaken Jaidi.


Wong-wong sing ning barisan pada ngompori Jaidi gena ngelawan. Sariman meneng bae.


“Dudu wantene, Kang, ora sengaja,” jere Jaidi bari mesem.


“Tarik, Kang, gawa ning kantor be!” jere anggota OSIS liane sing pada marek.


Murid-murid lan guru-guru sing ana ning barisan lapangan upacara pada nyelingok ngedeleng keributan sing ana ning arep gerbang iku. Jaidi akhire gelem digawa ning ruangan. Waktu Jaidi melaku disered ning OSIS, deweke nyangkin didelengi ning murid-murid lan guru-guru karo tatapan sing kesel. Jaidi langsung nungkluk. Barang deweke ngangkat raine, wadon sing pernah dipendaki deweke kebeneran lagi ngedeleng Jaidi disered. Mata Jaidi lan mata bocah wadon iku kependak sedelet. 

  

3

 

Ning duhur perahu, mang Mujidi ngambat jaring. Tangane mah narik jaring, tapi matane mah natep kosong ning laut sing amba. Ati lan ndase ngelayab mikiri Royanah rabine sing uis seminggu durung ana kabar. Lamun jere wong enom mah, deweke ngerasa kangen. Mang Mujidi  jadi bidak ning Juragan Yanto sing due perahu karo mang Alimin bidak sijine sing ngebaturi. Juragan Yanto lan mang Alimin ngedeleng kerunya ning mang Mujidi. Mang Alimin dewek sing rabine pada bae lagi ning Arab akhire negor.


“Kang, Teh Royanahe uis ngabari tah?”


“Durung iki, Min. Arep dihubungi sing kene ora due nomore kakange. Tapi Royanah uis nyatet nomor Jaidi barangmah, tapi ora nelepon-nelepon uis seminggu luwih,” jere mang Mujidi. Mang Mujidi baranganu nyelingok ning mang Alimin, “Lagi rabi nira sih, Min, premen?”


“Pada bae, Kang, lagi ibune bocah-bocah mbeke lunga kuh, sewulan luih ora nelepon. Kita gah keketroken duh. Tapi baranganu nelepon nggo nomor Arab, nomor majikane jigah. Kan rabi kita mah ora diulih nyekel hp,” jere mang Alimin.


“Wis ditonggoni bae, Mang, sing sabar,” juragan Yanto nyaut.


“Iya kih, Juragan. Barangmah lagi kekatonen be doang.”


“Laiya iku mah wajar, Kang,” jere mang Alimin.


“Sing biasane balik miang, mangan uis disiapaken, segala-gala beres, kelonan kari kelonan, ikimah duh sepi tingtring umah gah. Bocah-bocah ngejelengut bae,”


“Wis menai lancar bae, Mang. Mamange sing kuat,” jere Juragan, “Aih ari si Jaidi sekola ning ndi?” sambung Juragan.


“SMA negeri ning Kecamatan kah, Juragan. Gati bocahe njuke ning kono bae. Ari jere kita mah ning desa bae ya ndah parek,” jere mang Mujidi.


“Wih arane gah wong enom pengen lelungan. Anak kita gah pada bae ning kono, Mang,” jere Juragan.


“Sapa kaen? Kudu tah Juragan iku anake lanang masih cilik ika tah, sapa arane, si Taolani lamun ora salah mah ya?”


“Dih premene mang Alimin mang Mujidi iki,” Juragan Yanto ngekek.


“Lah kudu due anak wadon gede tah Juragan Yanto iku, Kang. Seumuran karo si Jaidi. Sing bengen rasane digawa-gawa Juragan,” saut mang Alimin.


“Aih iya gale mah astagfirullah. Si Samsiah kaen tah ya? Wis gede kaen?” takon mang Mujidi bari mesem.


“Lah uis seumuran karo anak Mamang. Meleng Mamang iku mah,” jawab juragan Yanto.


“Lah ora ngedeleng-deleng temen tah bocahe, Juragan. Mendekaya nyangkin ayune ya? Wong lagi cilike gah sedep bocah ikumah,”


“Tak pondokaken sing SD. Maune mah niate arep tekang lulus SMA. Tapi gah ibune ora ngaweh,”


“Oh aman sote. Jadi ragem sikine sekolane karo si Jaidi?”


“Iya, Mang, njaluke merana bae.”


“Wih, tarik dih ngobrol bae,” mang Alimin nyamber.


“Wih lumayan kih ulihe. Tarik, Mang, tarik!” Juragan keberagen.


Serngenge ana ning tengah-tengah endas nyorot perahu-perahu sing lagi ampul-ampulan ning tengah laut. Perahune juragan Yanto kebeneran lagi ulih milik. Perahu juragan liane ana sing ora ulih pisan. Tengah-tengah laut iku kebek wong bebekeran. Urang…Urang….


4


Jaidi metu sing ruangan BK karo ekspresi sing rued. Jaidi rued ngegawa surat peringatan kesiji sing guru BK. Dewekw ketelimbeng bakale premen njaluk tanda tangan ning bapane. Deweke ulih poin mines roro gara-gara kejadian ngejorogaken salah siji anggota OSIS lan telat upacara. Aturan ning sekola iku setiap murid sing ora taat aturan atawa sing rajin iku digai poin. Lamun sing ora taat aturan digai poin mines, lamun sing rajin digai poin ples lan bakale ulih penghargaan pas perpisahan. Poin mines siji iku ulih teguran berupa omongan, lamun poin mines roro ulih teguran berupa surat peringatan kesiji sing bakale ditandatangani wong tua, poin mines telu ulih surat panggilan gena wong tua teka ning sekolahan, poin mines papat diskor, poin mines lima dikeluaraken sing sekolahan.

Sariman sing nonggoni ning arep lawang BK ngedeleng Jaidi metu langsung nyamperi. Ora sue, Rosinah, bature Jaidi lan Sariman sing pada bae sekampung nyamperi Jaidi lan Sariman.

“Ulih surat peringatan ya, Jai? Tak warahaken bapa nira lah. Sira mah gale murid baru nakal,” Rosinah nyerocos.

“Iki kih wong mah ora elok disaring lamun ngomong. Wis sih aja comel,” Sariman marah-marah. Jaidi meneng bae.

“Jorangan dih, Jai, Garan gah aja nakal haha. Weruh dewek bapa nira premen. Wis kebayang kita mah pasti sira ditempiling. Aritah dikon tanda tangan ya wong tuane? Haha,” Rosinah ngekek. Cangkeme mangap amba.

“Ora sengaja setor. Wisih meneng lah. Rued kitane,” Jaidi muring.

“Hahaha tuman. Jai, Man, gagah sira ya ketua OSISe? Sapa kah arane. Kang Wandi ya? Kelas roro je ya. Hebat ya jadi ketua OSIS, ” Rosinah nyerocos maning.

“Gagahan kita. Sira gah pernah demen ning kita bengen,” jere Jaidi sembari ngekek. Jaidi, Sariman, lan Rosinah melaku.

“Ndih ting bating ora sukaradi ika mah masih cilik. Lamun waktu bisa diulang mah, ora kesed kitamah demen sira iku. Wis lah kita amah bakale arep gelati pacar ning sekolahan iki. Lanange gagah-gagah sira,”

“Arep sekola tah arep gelati pacar sira iku?” Sariman nyahut.

“Sohor bae sira iku Sariman. Ora payu wonganan sira mah ya?! Hahaha.” Rosinah ngekek kejekak-jekak. Jaidi peluan ngekek.

“Sial!” Sariman keisinen.

“Manjing kelas pira, Man? Kita mah sepuluh lima. Dela maning manjing kelas arep perkenalan,” jere Rosinah.

“Kita kelas sepuluh telu,” Sariman nyaut.

“Kita kelas pira ya?” Takon Jaidi.

“Sira kelas sepuluh roro. Mau kita ngedeleng,” jere Rosinah.

“Coba yu deleng maning. Kita pengen ngedeleng sapa-sapa aran batur kita.”

“Yu!”

Seketelune marani kelas sepuluh roro. Wayah tekang kana, Jaidi langsung ngedeleng kertas selembar sing ditempel ning jendela kelas. Tangan deweke meripidi aran sing ana ning kono. Aran deweke ana ning abjad J. Baranganu, seketelune, lan murid-murid sing lagi ana ning sekitaran kono langsung kaget ngerungu muni bola futsal kenang endas wong ning sebelahe. Barang Jaidi nyelingok, Jaidi ngedeleng wong wadon sing pernah diketemuni deweke ngegeletak pingsan kenang bola.

“Siah, tangi! Duh, pingsan! Tolong sih tolong!”

“Samsiah, sadar, Samsiah!” jere bature

“Arane bocah wadon iku Samsiah?! Rasane mau kita ngebaca aran Samsiah,” jere Jaidi ning jero atine. Jaidi langsung ngedeleng maning kertas pengumuman aran-aran murid kelas sepuluh roro. Deweke mau ngedeleng ana aran Samsiah ning kertas iku. Barang uis kependak aran Samsiah ning abjad S, deweke langsung ora nyangka lan ora mikir-mikir maning, Jaidi langsung marani wadon iku.

“Awas, ampura, langsung bae digawa ning UKS ya!”

Jaidi ngebopong-bopong wadon sing arane Samsiah iku didelengi sekabeh murid sing ana ning kono termasuk Sariman lan Rosinah. Sariman lan Rosinah ketelimbeng ngedeleng tingkah  Jaidi.  

 

Bersambung.....