View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Postingan Terbaru

Friday, July 19, 2024

Puisi-Puisi Denok Ayu Uni Aisandi

Puisi Denok Ayu Uni Aisandi




Bekasi dan Hujan Awal Juli


hari ini ia datang menyerupa rindu

perciknya lalu lalang sepanjang hari

memecah sunyi, menggeliat

di lubang istirahat 


nyaman ini mungkin sarang,

dibangun sejak musim kemarau kemarin


mimpi panjang di liang-liang usang

dari nada tentram pengantar tidur

yang diputar lebih awal


bersama dingin

menyelimuti kulit kering

pejuang target

beringsut sejenak dari bilangan

yang menempel dan berputar-putar

sepanjang malam


Bekasi, 7 Juli 2024



Bulan KO di Bekasi


malam ini mungkin

terjemahan harapan paling indah

di bawah tugu penari langit yang

sengit bertarung, berebut sarung kembang

alamak! Bekasi cantik sekali

saat termometer ketiaknya berhenti

di 24 derajat celcius


biar kuhiasi pujian

agar lupa japit matahari cantik

di rambut yang menjadikanya kejam

dan sedikit kusam


burung-burung betina bulunya hampir senja

bertengger di kebun bayam

kerbau-kerbau kekar sedikit ngopi, sedikit kerja,

sedikit juga upahnya

cangcorang kerempeng melahap angin jalanan

dengan otak kosong


mereka juri unisono, berteriak “setuju!”

bahwa Bekasi cantik sekali malam ini

bulan kalah telak

beringsut malu di balik mendung


Bekasi, 30 Juni 2024



Ladang Sunyi


sepetak remah bahan induk

di bawah jaring-jaring dengan tulang coklat

dan lembar hijau yang kutancap di tabah mata

saat menatap segaris merah, menempel di wajahmu

mirip bercak panu saat cahaya pagi bebal menerobos

ruang kosong di antaranya


aku serupa ulat bulu (kluget-klugat)

menggeliat panas di laut lepas 

yang kau semat di lingkaran bulat 

tempatmu menghardik sepat


adakah sedikit suar 

dari suaramu yang merdu 

memancar dari cekikan

esofagus yang kau kunci rapat

tanpa aroma lambung sekarat


Bekasi, 3 Juli 2024



Polinasi


kumbang, kupu, kunang sepakat

menerima bantuan cuaca berangin, mufakat

menyerbuki putik-putik perawan,

supaya mekar menunggu hujan


kunasehati angin, agar

tidak melarang awan hitam

saling bercumbu di atas sana,

menjaring amin yang

dicipta di awal mula


sebab bunga adalah kekasih tabah,

menanti rintik-

rintik cinta, lahir dari langit-

langit yang digagahi gelap,

memaksa waktu, menumpahkan rindu,

pada matahari yang menjadikannya ada


Bekasi, 27 Juni 2024


________


Penulis


Denok Ayu Uni Aisandi, lahir di Surabaya, 3 Juni 1992. Hobi travelling, bernyanyi dan menonton film. Alumnus Pertanian, Angkatan 47 – Institut Pertanian Bogor (IPB). Mulai masuk ke dunia literasi pada bulan Mei 2024. Karyanya sudah dimuat di beberapa media serta masuk dalam antologi puisi bersama nasional. Bergabung di Asqa Imagination School dan Kelas Puisi Bekasi. IG: @denokaisandi


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com

Cerpen Emroni Sianturi | Sebuah Pertaruhan

Cerpen Emroni Sianturi



Kekalahan yang diterima seorang lelaki berkepala plontos dengan jambang tipis enam hari lalu adalah cerminan bagi setiap petarung lainnya untuk tidak meremehkan orang berbaju kusut dan celana lama. Lelaki dengan perawakan yang sayu, rambut panjangnya yang terurai lebat memang tampak seperti lelaki biasa. Bila diperhatikan lagi dari gerak tubuhnya saat bermain biliar, serta obrolannya yang singkat dan seperlunya, ia cukup menarik perhatian atas dugaan bagi kemampuannya. Selain jarang didapati bermain bersama komplotan gang kelas kakap, juga hanya seminggu sekali ia datang ke tempat yang dirahasiakan.

Dan malam ini, tempat biliar lebih ramai dari minggu-minggu sebelumnya. Di ruang yang terpisah, disekat dinding tebal adalah tempat bagi petarung yang haus akan pertaruhan. Tak hanya uang puluhan juta, hal-hal yang mewah di pertaruhkan di ruang yang akan kita kenal dengan ruang penghabisan. Tak jarang yang keluar dari sana akan bernasib mujur atau sial seperti kepala plontos yang mempertaruhkan satu miliar uangnya dengan harga diri lelaki yang akan kita kenal dengan sebutan Gamba’.

Dulu pernah terjadi, seorang lelaki, mungkin terlampau ambisi mempertaruhkan segalanya tidak terkecuali permatanya Dan hari ini ia datang kembali, persis seperti film laga yang berhasrat tinggi untuk membalas dendam dengan cara paling tak terduga. Ia melakukannya setelah menghilang selama enam tahun. Kedatangannya ditunggu-tunggu penjudi kelas kakap di ruang rahasia itu. Rasanya pertaruhan malam ini bakal lebih gila. Mungkin melebihi kekalahan seorang lelaki yang terdesak mempertaruhkan permatanya yang entah berada di mana? Besar kemungkinan permatanya itu menjadi simpanan, atau yang lebih ngeri menjadi pemuas nafsu lelaki hidung belang.


Di sana, di ruang yang rahasia, lelaki berkepala plontos kali ini datang dengan seluruh yang ia punya. Perasaan dendam berkumpul di dada, mengalir melalui darahnya seolah membara. Semua tahu, lelaki yang mengalahkannya bakal datang seperti pada waktu biasa dan seolah-olah tepat pada pukul sembilan malam. Ia akan datang, tetapi dengan dandanan pada waktu enam tahun lalu.


Lelaki berkepala plontos itu terkejut dengan kedatangannya. Sebab, ia adalah saksi kekalahan lelaki itu bersama kawan karibnya. Seorang lelaki dengan setelan jas abu-abu, yang bila dilepaskan kemeja mewahnya, yang berwarna hitam jelas tampak mengkilap. Kemudian ia akan menarik kedua ujung baju menekuk siku. Sambil merapikan rambutnya yang klimis, ia sudah siap untuk memulai pertarungan di meja biliar. Lelaki itu masih mengingat kejadian awal pertarungannya sebelum menenggak beribu kali wine yang diolesi anestesi di permukaannya. Selalu ada yang mengganjal di setiap pertarungan, dan kali ini ia akan lebih berhati-hati membawa dendam masa silamnya.


"Kau rupanya," lelaki berkepala plontos tersenyum sinis sembari memberi isyarat dengan sedikit mengangkat kepala pada kawan karibnya bernama Sambas. Lelaki yang membawa dendam masa silam membalas ucapannya dengan satu senyuman. Sebentar sekali. Kemudian ia melangkah mendekatinya. Hampir dekat, meski jarak di antara mereka seolah tinggallah maut. 


"Siapa yang akan saya lawan lebih dulu?" 


Sorot mata lelaki yang mulai dikenal dengan sebutan Gamba’ seakan menunjuk satu per satu lawannya dengan tatapan mata yang tajam. Musuhnya tertawa, diikuti lelaki kepala plontos sambil menambahkan, 


"Baru sekali menang, sudah jemawa!" 


Mereka kembali tertawa, kecuali beberapa orang di dalam ruangan menyaksikan mereka dengan serius, meski ada pula yang terpaksa tertawa.


"Saya yang akan mengalahkanmu lebih dulu," lelaki berkepala plontos maju selangkah. Gamba’ menutup badan. Wajahnya sedikit menoleh. Sorot matanya tertuju langsung pada musuhnya. "Saya tidak akan bermain dengan orang yang sudah saya kalahkan," lelaki berkepala plontos hendak menyerang, namun ditahan oleh Sambas.


"Aku menunggumu untuk kekalahan terakhir."


Keduanya saling menatap tajam, bahkan tapapan keduanya membuat seisi ruangan jadi ikut tegang. Sementara waktu terus berjalan hingga menuai langkah keduanya untuk berjabat tangan seraya mulai mengeluarkan nilai pertaruhan.


“Segalanya?”


“Bagaimana?”


Sambas berpura memberi jeda.


"Deal?"


"Ya, deal."


Di antara meja biliar dengan sorot lampu yang cukup terang. Lima belas bola angka disusun rapi oleh perempuan muda. Sedang keduanya sama-sama menggenggam erat bola putih, meletakkannya di garis meja. Mereka bersiap menyodok untuk menentukan siapa yang akan lebih dulu memulai permainan. Saat hendak menyodok, Gamba’ tersadar pada trik awal musuhnya. Dan ia terlambat di langkah awal.


***


Biji matanya seolah tak berkedip melihat bola putih yang memantul kembali menuju garis meja, seolah sama dengan ingatannya pada enam tahun lalu. Musuhnya yang akan memulai permainan lebih dulu, kemudian ia duduk sembari meratap dan menduga-duga. Lelaki berkepala plontos datang menghampiri membawa sebotol wine dengan dua gelas sloki. Si kepala plontos berbasi kata menyodorkan sloki yang sudah terisi wine. Tak ada yang tahu, satu gelas sloki telah dioleskan anestesi di permukaannya.


Ia terus menenggak tanpa menyadari luka akan tercipta dari ketidakmampuannya menahan hasrat dan kesadarannya mulai melemah. Sampai harta untuk pertaruhannya habis, takhta yang dimilikinya seakan lepas dari kepala, dan akhirnya permatanya menjadi taruhannya.


Adegan enam tahun lalu kembali terulang, tetapi ia telah menyiapkan sebelumnya. Ia menerima permainan waktu, kedatangan si kepala plontos serta taruhan edannya. Ia akan berhati-hati untuk menuntaskan dendamnya sebagaimana dalam film laga. Ia datang sendirian dan akan berhasil membalaskan dendamnya yang terasa sia.


Hingga keesokan harinya. Matahari yang mulai beranjak naik, memamerkan keindahan sinarnya. Ramai orang-orang bergunjing tentang sesosok tubuh yang tergeletak kedinginan di area tak jauh dari tempat yang hanya dikira tempat bermain biliar saja.


Kalibuntu, 2022 – 14 Juli 2024



Catatan :

Gamba’ atau Ghambha’ dalam bahasa Madura artinya seseorang yang berambut panjang dan lebat.


______

Penulis 

Emroni Sianturi kelahiran Probolinggo, Jawa Timur. Keseharian menjaga kios pulsa. Menulis puisi, cerpen, kadang esai yang tersebar di berbagai media masa. Saat ini masih aktif mengelola perpustakaan untuk masyarakat di desa Kalibuntu dan sekitarnya di @kamianakpantai. Dan buku terbarunya kumpulan cerita pendek yang berjudul Sebuah Pilihan (2022).


Wednesday, July 17, 2024

Puisi Jawa Banten | Oki Khaeri Rojab

Puisi Jawa Banten Oki Khaeri Rojab



Brokbok


Tengah wulan

Jejake ngobong menyan

Nambe ati ngarep wirang

Mace jampi -- melet rangde pirang


Tengah wulan si jake beruhun merang

Ngobong dami saking salang

Ngengace rai ning lembedang

Mirit rambut dadi lanang

Dumadi-kem  

Pati-lungguh Sri


Wong Lanang ngelindur 

Tengah wengi 

Cengar - cengir madep Etan 


Teritih 7 Muharam 1446H



Along


Mulih miyang 

Wong Empang ngangkat wuwu

Saking lawang banyu 

Sesipeng boten turu 


Mulih miyang 

Wong mancing masang teger 

Manjer walesan ning pojok rawe

Sesipeng boten turu


Mulih miyang

Wong laut manek bagan

Ngale iwak tengah laut

Sesipeng boten turu


Mulih miyang 

Wong pesisir nguace langit

Sesipeng boten turu

Badan kuru -- endas cemplu

Mangan angin -- gati ngentut

Along kok brut 


Teritih, 7 Muharam 1446H



Madep


Lumaku saking Etan 

Gegancangan ngudag bedug

Ngarah ingkang 

Nadah wirang 

Pepelayon ati ning jero Pati

Pati lemah -- Pati bumi

Patine lintang tanggal lanang 

ngambung lemah ngunduh jejeg

Nampi - nadah naktos lampah

Ngarah pajleg atawis kasrah 


Eeeeeeiiiii wong kang lali

Wong kang unjar-unjaran ming banyu kali

Waktos mulih sampun pedek 

Bedug magrib sampun rauh 

Waktose ngederes urung sepuh 


Teritih, 7 Muharam 1446 


Catatan:

Deres = ngederes layangan


________


Penulis


Oki Khaeri Rojab, salah siji jejake kasep saking Pontang. Demen kelayaban sambil gelati pengurip-urip pikiran. Geremasem lan apem Legon dadi pepanganan kedoyan. Masih bujang lan demen nandur kembang. Lagi belajar rajin nulis, salah siji lan embeke bise nulis puisi.


Kirim naskah 

redaksingewiyak@gmail.com 


Friday, July 12, 2024

Puisi-Puisi-Puisi Selendang Sulaiman

Puisi Selendang Sulaiman




Leher Rianda


kalau kau lihat

daun jatuh kala hujan

dan mata tak berkedip

pada tetes gerimis terakhir

lalu bibir bicara pada alir

berarti ciumku tiba di lehermu.


kalau kau terpana

pada hujan november

yang memusik nada kita

sampailah sentuh di kalbu

dan kukalungkan nafas dunia

di lehermu yang ranum dan harum


kalau aku kembali padamu

dan terus kembali pada harum

lehermu yang parfum murni

di bawah rindang rindu

bagai bulan sepi menepi ke balik awan

aku berlindung ke dalam hidupmu.


2024



Ballada Anak Sungai


desir angin sejuk

berdesau di daun-daun

memetik usia di matanya

zaman berlari-lari nakal

sambil membuka baju waktu


ia mencebur ke sungai

bermain ketipak-ketipung

: musik imajiner anak kencur


dalam selam dangkal

ia melihat sebongkah batu

dipeluk alir sepanjang arus


”aku tak mau jadi batu

hanya diam dan kelam”

ucapnya melawan arus

lalu berdiri di atas batu


angin lirih di atas air

ia berenang ke tepi

di atas hamparan kerikil

ia tantang matahari!


2024



Hujan Rianda


sore itu hujan membuat genangan kecil

pada lesung pipimu yang mungil

aku ingin berenang di atasnya

biar puas aku menciuminya.


bibirmu basah menyesap hujan

aku ingin jadi tetes terakhir

biar kecupku paripurna


“aku ingin sebening hujan

yang hening dan segar,” 

ucapmu menepis akut inginku.


selembar daun jatuh bawa isyarat 

“cinta, tak lebih selesat cahaya 

lebur dalam hidup yang nikmat!”


2024


_______


Penulis


Selendang Sulaiman, penyair.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Cerpen Armin Karam | Mata Kaca

Cerpen Armin Karam


“Hei, ini Aku ...,” ujarku melalui gawai mungil ini. Para pijar sepanjang lorong memalingkan kenyataan dari angka tertera di arlojiku. Angka 21:02 terpampang jelas mencerminkan betapa temaram bumantara kini. Meskipun begitu, penghuni stasiun transit ini masih berlalu-lalang, baik mereka yang berbusana necis maupun peron-peron yang saling membalap di tiap lajur bajanya. Lumrahnya, keramaian ini mampu bersanding dengan semarak pesta yang akhir-akhir ini rutin digelar. Nyatanya, Aku justru menekan pilu di keramaian yang bungkam.


“ .... “ 


Tiada satu pun jawaban dari seberang sana, persis dengan yang Aku duga. Memang betul jika di sekitarku amatlah bising. Di satu sisi, kumpulan manusia saling berpapasan berikut seribu satu macam ulah dari seluruh tubuhnya, entah dari derap langkah maupun dari jerit histeris. Di sisi lain, para kencana dalam kota saling beradu bunyi sumbang kala rodanya bergesek dengan rel baja secara berulang. Hanya saja, sesekali terdengar bunyi dengung berulang dari layar penuh cela menyimpulkan nihilnya pesan yang mampu tersampaikan.    


“Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi ....” 


Balasan yang kuterima justru dari program milik penyedia layanan. Sayup-sayup yang terdengar bukanlah manusia. Di beberapa kesempatan, terselip suara bising khas mesin algoritma bersembunyi di balik ucapan nan syahdu. Mungkin Aku akan jatuh hati namun mendapati sambungan yang berulang bak kaset rusak rasanya begitu nahas. Aku menunggu satu huruf saja darinya, tetapi berakhir dikasihani oleh piranti lunak yang memohon untuk mengakhiri panggilan. 


Sepanjang langkah lunglai ini, Aku memalingkan muka terhadap sekitaranku. Nihil perubahan suasana yang Aku harapkan. Sering kali hanya para insan yang berlalu lalang demi waktu mereka sendiri sembari dua hingga empat kencana baja melintas dan singgah sejenak dengan acuhnya. Kencana cepat itu memang tidak peduli satu pun pada Kami hingga terlelapnya satu atau beberapa saja kala ia melintas sepanjang jalurnya sudah menjadi asupan bulanan mereka. Menjadi saksi ironi nyata secara kontinu membentuk sukmaku kian remuk redam.


“Apakah Aku kembali menjadi seseorang?” 


Pikiranku merenungi dua sisi mata uang yang sering disebut sebagai “kehidupan”. Baru satu bulan silam, Aku mendekap pujaan hati dua atau tiga hari lamanya sebelum perantauanku di ranah ini, ranah Sunda Kelapa. Hari pertama dan kedua yang Kami jalani membekas di jiwaku dengan amat hangatnya. Kala bulan Desember bersambut, Dia lekas membantuku berbenah sembari bertukar ragam barang penanda kenangan nan indah. Kami bertukar cerita kala saling menerima barang yang menjadi saksi bisu tiap momen tertentu bagi Kami saling berbagi rasa dan kasih. Sesekali wajah meronanya disusul dengan tawa riang, kemudian munculah mata kaca yang tertahan di sudut pelupuk kelopak nan indah. 


Akan tetapi, hari ketiga menjadi titik balik bagiku. Keteguhan batin dirinya menerima perjalananku runtuh berantakan setibanya di Bandara. Dekapannya berguncang begitu dahsyat. Kehangatan yang kuerima dari kening dan telapak tangannya lenyap begitu saja. Tangisnya yang sempat tertunda dilantunkan demikian hebatnya. Pintanya meronta-ronta untuk tidak mengambil satu langkah pun berpaling menuju perantauan. Segala yang terkunci di bilik sanubari dirobohkan sembari meracau tentang mimpi, kenangan, hingga nasib yang Aku dan Dia pertaruhkan di masa kini. 


Adapun diriku hanya mengulang keyakinanku yang hampir ikut jatuh, persis seperti jawaban telepon tadi. 


“Aku akan berjuang, bersabarlah sejenak.” 


Itulah balasku sembari mendekap jua pada raganya yang kian mendingin. Dekapnya amat menyesakkan, tetapi sahutan petugas dengan datarnya menyeret kembali dirinya kepada kenyataan. 


Aku mengalungkan manik-manik kerang sembari berkata, “Sampai nanti!”


Adapun dirinya, sembari menatap kosong kepadaku, hanya membalas, “Selamat tinggal!”


“Nomor yang Anda Tuju tidak dapat dihubungi  ....” 


Balasan itu mencuat lagi dengan setengah hati. Entah terlupa atau memang diulang kembali, rupanya gawai ini masih berupaya menggapai dirinya yang entah di manakah keberadaannya. Mendapat sambutan berulang dengan rasa yang patah amat menjemukan hingga kupilih balon telepon merah untuk mengakhirinya. 


Betapa jejalkah dirimu menerima pesanku?


Bisikan itu selalu terselip dengan kejamnya tanpa mengenal waktu. Tiap jemariku gemetar dibuatnya kala ia muncul di tengah agenda besar bersama atasan. Kerongkongan seketika mengering bila ia menyisip di tengah pesta pora sesame kolega. Perutku berguncang amat pedihnya tiap kali hasutan lembut itu terselip bersamaan kala ada wanita menaruh duduknya berdampingan denganku. Kalaupun bias tertahan, Aku tetap menanggung malu kala disangka menderita penyakit berkepanjangan. Namun, bukankah Aku memang merasa sakit sejak lama?


Sapuan angin lembut berhias lampion warna-warni yang menjadi idaman banyak manusia justru memantik hadirnya rasa takut yang tiada terjadi di masa lalu. Di beberapa kesempatan, aroma getir maupun rasa hampa menjangkit amat gesit kala sayup-sayup mereka mulai bergosip atas perjuanganku seorang diri. Bahkan, sambutan bunga jalanan yang merekah bergandengan dengan naungan hangat mentari justru membuatku menggigil kedinginan. Jika segala perasaan itu bermunculan dan mengalun amat dahsyat, bukankah aku memang menderita sakit yang begitu kerasnya?


“Hei, ini Aku ...,” dengan nada serak nan sumbang, Aku meracau asal. Sia-sia saja rupanya. Berapa pun mereka yang berpapasan sambil lalu, tidak satu pun yang menanggapi. Meskipun si layar mungil sama modelnya, Tidak ada yang dapat tersambung. Betapa mengherankannya ketika aku jatuh tersenggol, tiada yang sadar kalau aku di sini. Sesamaku rasanya jauh lebih tak-acuh ketimbang program milik penyedia layanan yang masih mau untuk terhubung. Segala rasa yang kucurahkan pada jiwa-jiwa ini hanyalah sambil lalu. Pengabaian ini menusuk inti hati ini.


Aku hanya berpasrah kala memandangi gawai dan membuka riwayat panggilan. Sudah dua tahun aku berpijak di ranah asing ini, tetapi sapaan basa-basi pun tidak pernah kudapatkan dari Engkau. Di tengah lorong dengan pijar jalan yang remang, tidak dapat lagi kupahami keberadaanmu kini. Aneh rasanya kala jarak malah tidak lagi terjangkau di saat memiliki gawai yang bahkan menjangkau belahan dunia yang lain. Aku hanya ingin berbicara berdua namun berjuang seorang diri. Yang tersisa hanya harapan terakhir yang tersembunyi di balik mata kaca ini sembari memandang rembulan di waktu yang amat larut.


Bukalah ponselmu sejenak. Berilah Aku kejelasan ....


_______


Penulis


Armin Karam adalah nama pena Akram Irman. Ia lulusan Hubungan Internasional di salah satu universitas di Sumatera Bara. Lahir di Jakarta, 27 November 1999. Kini tinggal di Pasie Sebelah, Kelurahan Pasie nan Tigo, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang. Kegemaran penulis terhadap karya sastra bermula dari membaca tiga karya yang masing-masing berasal dari Jepang, Turki, dan Britania Raya. Perkenalannya dengan sastra sejalan dengan ketertarikan penulis terhadap budaya dan relasi antarbangsa yang menjadi alasan penulis menempuh pendidikan tinggi hingga tahun 2023. Ketertarikan penulis tidak terbatas pada karya sastra, melainkan juga pada artikel ilmiah di mana pernah menyusun makalah ilmiah dan menjadi pembicara pada Webinar tentang Masa Depan Uni Eropa yang diselenggarakan 2021 oleh Komunitas Indonesia Kajian Eropa (KIKE). Jika ingin bertukar pikiran soal sastra atau fenomena internasional lainnya, Anda dapat menghubungi e-mail akram27111999@gmail.com.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Friday, July 5, 2024

Cerpen Erna Wiyono | Sayzi Labu Bintang Timur

Cerpen Erna Wiyono


Ilustrasi: Nana Wiyono 


"Ia berbeda dengan naga-naga lainnya, tubuhnya paling pendek, ujung ekornya berbunyi saat berputar, sepasang matanya memuat peta baru, memberi ingatan bahwa kita adalah bagian dari lompatan waktu." 

Aku Sayzi punggawa ke-delapan yang membawa pedang biru dengan tugas melindungi tanah Yeruza dari angkara murka, lalu cahaya membawaku berpindah waktu kepada patahan Bimasakti, tempat di mana aku diangkat menjadi Jenderal Yarman. 

Maha Guru memberiku sembilan puluh sembilan naga pendamping. Mereka adalah pasukan untuk mendampingiku bertugas. 

Sembilan puluh sembilan naga itu membuat barisan penghormatan padaku tatkala Armeiz menyematkan tanda pangkat padaku.

"Sayzi, wanita terkuat dari Timur, pada masa delapan puluh dua purnama, tugasmu datang, menuju pangkal udara Bimasakti, gunakan pedang biru sebagai pusakamu."

"Baik Al Amin," ujarku kepada ayahanda yang memimpin penobatan resmiku sebagai Jenderal Bintang Timur pada tanah Bimasakti.

Sayzi, dengan hati penuh tekad, melangkah maju menuju pangkal udara Bimasakti.

Di sana, angin berembus lembut membelai rambut panjangnya yang hitam legam. Ditemani oleh sembilan puluh sembilan naga yang setia. Dia merasa kuat dan siap menghadapi segala rintangan yang akan dihadapinya.

Dengan langkah tegap, Sayzi memegang erat pedang biru pusakanya. Cahaya biru yang memancar dari pedang itu memberi kesan magis dan kuat.

Pedang itu bukan hanya senjata, tetapi juga menjadi bagian dari dirinya, menguatkan tekadnya untuk melindungi tanah Yeruza dari segala ancaman.

Saat tiba di pangkal udara Bimasakti, Sayzi merasakan energi yang begitu kuat memancar dari tempat itu. Dia tahu bahwa inilah awal dari tugas besarnya sebagai Jenderal Yarman.

Dengan penuh keberanian, dia mengangkat pedang birunya ke langit, memancarkan cahaya yang memenuhi langit malam. Al Amin, ayahanda yang bijaksana, tersenyum bangga melihat langkah-langkah Sayzi yang penuh keyakinan. Dia tahu bahwa Sayzi adalah wanita terkuat dari Timur, yang akan menjaga kehormatan dan melindungi tanah Bimasakti dengan setia. Dengan penuh semangat, Sayzi melangkah maju, siap menghadapi petualangan dan tantangan yang menantinya.

Bersama sembilan puluh sembilan naga pendampingnya, dia siap menjalankan tugasnya sebagai Jenderal Bintang Timur, menjaga kedamaian dan keadilan di tanah Bimasakti.

Saat langit malam mulai dipenuhi oleh cahaya kebiruan dari pedang Sayzi, Al Amin mendekatinya dengan langkah perlahan. Sorot matanya penuh kebanggaan saat melihat putrinya yang tangguh dan siap mengemban tugas besar.

"Sayzi, wanita terkuat dari Timur, saat ini tibalah saat yang telah lama kita tunggu. Kamu akan menjadi Jenderal Yarman yang akan membawa kedamaian dan keadilan bagi tanah Bimasakti," ucap Al Amin dengan suara penuh keyakinan.

Sayzi menatap ayahandanya dengan mata penuh semangat.

"Terima kasih, Ayahanda. Saya akan menjalankan tugas ini dengan segenap hati dan jiwa. Bersama sembilan puluh sembilan naga pendampingku, saya siap melindungi tanah ini dari segala ancaman," jawab Sayzi mantap. 

Armeiz, yang juga hadir dalam upacara penobatan, tersenyum lembut melihat keberanian Sayzi.

"Sayzi, wanita pemberani, ingatlah bahwa kekuatan sejati bukan hanya berasal dari pedangmu, tetapi juga dari hatimu yang tulus dan tekad yang kokoh. Jadilah cahaya yang membawa harapan bagi semua yang membutuhkan," ucap Armeiz dengan penuh kebijaksanaan.

Dengan semangat yang berkobar-kobar, Sayzi dan pasukan sembilan puluh sembilan naga bersiap untuk memulai petualangan baru mereka sebagai pelindung tanah Bimasakti.

Mereka siap menghadapi segala rintangan dan bahaya demi menjaga kedamaian dan keadilan bagi semua yang tinggal di tanah tersebut.

Saat Sayzi dan pasukan sembilan puluh sembilan naga bersiap-siap untuk memulai petualangan baru, tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang menggetarkan bumi Bimasakti. Langit yang tadinya cerah menjadi gelap, dan angin kencang mulai bertiup dengan keras, menandakan kedatangan ancaman yang belum pernah mereka alami sebelumnya.

Dari kegelapan itu muncul sosok yang menyeramkan, Suya, penyihir mengerikan yang dikenal akan kekuatan magisnya yang mematikan. Suya memiliki mahkota ular di kepalanya, kuku-kuku panjang yang mengeluarkan sulur akar hitam, dan matanya yang memancarkan aura kegelapan.

Suya tertawa dengan nada merendahkan,

"Hahaha, Sayzi, Jendral Bintang Timur. Kau dan pasukan naga tidak akan mampu menghadapi kegelapan yang aku bawa."

Sayzi menatap Suya dengan tatapan tajam,

"Suya, kejahatanmu tidak akan bisa mengalahkan kebaikan yang kami bawa. Kami akan melawan dengan segenap kekuatan dan tekad yang kami miliki."

Suya menggeram, 

"Kalian, hamba-hamba cahaya, terlalu naif jika kalian berpikir bisa menghentikan rencanaku. Aku akan mengubur kalian di dalam kegelapan abadi!"

Dengan gerakan cepat, Suya melepaskan sihir-sihir gelapnya, memanggil kekuatan-kekuatan jahat yang mengancam kehidupan di Bimasakti. Sayzi dan pasukan naga berdiri tegak, siap menghadapi serangan yang ganas dari penyihir mengerikan itu.

"Kita tidak akan mundur! Kita akan melawan bersama, demi kedamaian dan keadilan!" 
seru Sayzi, membangkitkan semangat juang pasukannya.

Pertempuran pun tak terhindarkan, sihir-sihir gelap beradu dengan kekuatan pedang dan nafas api naga. Suasana menjadi tegang, namun semangat keberanian dan persatuan terus membara di hati Sayzi dan pasukannya.

Dalam pertempuran yang sengit itu, suara gemuruh dan sorak sorai terdengar di langit Bimasakti, mencerminkan tekad dan keberanian mereka untuk melawan kegelapan dan mempertahankan kebaikan. 

Meskipun tantangan besar menghadang, Sayzi dan pasukan naga tidak akan menyerah, karena mereka tahu bahwa bersama, mereka adalah satu kekuatan yang tak terkalahkan melawan kejahatan yang diwakili oleh Suya, penyihir mengerikan dengan kekuatan magis yang mematikan.

Suya terpekik kesakitan ketika satu per satu ular di kepalanya ditebas oleh pedang biru Sayzi. Desingan pedang yang memancarkan cahaya biru memotong ular-ular hitam yang melingkari mahkota Suya, melemahkan kekuatan gelap yang membelenggu penyihir mengerikan itu.

Saat ular-ular itu terputus, Suya merintih kesakitan, suaranya melolong memohon agar Sayzi menghentikan pertempuran ini. Matanya yang dulunya memancarkan aura kegelapan kini dipenuhi dengan rasa sakit dan penyesalan.

Sayzi, dengan hati yang penuh belas kasihan, melihat ke dalam mata Suya yang kini terlihat lemah dan terluka. 

"Suya, kekuatan gelap tidak akan pernah membawa kebahagiaan. Biarkan kebaikan menyelimuti hatimu, biarkan cahaya memperbaiki yang telah rusak," ucap Sayzi dengan suara lembut namun penuh kekuatan.

Suya menatap Sayzi dengan penuh kebingungan dan penyesalan. 

"Aku... aku tersesat dalam kegelapan yang kuciptakan sendiri. Aku merindukan cahaya yang telah lama terlupakan," ucapnya lirih.

Dengan penuh kebaikan, Sayzi meraih tangan Suya yang gemetar. 

"Sudahlah, Suya. Mari kita bersama-sama mengembalikan kedamaian dan kebaikan ke tanah Bimasakti. Kita bisa memperbaiki kesalahan yang telah terjadi," ucap Sayzi sambil menawarkan bantuan untuk membimbing Suya kembali ke jalan yang benar.

Saat itulah, Suya merasakan sentuhan hangat dan kebaikan dari Sayzi. Perlahan namun pasti, kegelapan di hati Suya mulai memudar, digantikan oleh cahaya harapan dan kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya. Bersama-sama, Sayzi dan Suya berjanji untuk melindungi tanah Bimasakti dan menjaga kedamaian serta keadilan bagi semua makhluk yang tinggal di sana.

Pertempuran yang awalnya dipenuhi kegelapan dan kekerasan, kini berubah menjadi cerita tentang kebaikan, pengampunan, dan kesempatan untuk memulai kembali. Dengan kekuatan pedang biru dan hati yang tulus, Sayzi dan Suya bersama-sama menghadapi masa depan yang penuh harapan dan perdamaian untuk tanah yang mereka cintai, Bimasakti.

Suya terpukul mundur di pertempuran itu. Kekuatannya kembali ke waktu dan Suya menjadi orang biasa tanpa kekuatan seperti sebelumnya. Tubuhnya mulai lunglai dan tangannya berusaha menggapai Sayzi dengan tatapan penuh penyesalan dan harapan.

"Saya... saya minta maaf, Sayzi. Aku telah tersesat dalam kegelapan dan kekuasaan yang salah. Terima kasih telah membuka mataku dan memberiku kesempatan untuk memperbaiki kesalahan," ucap Suya dengan suara yang lemah namun penuh dengan rasa penyesalan.

Sayzi menatap Suya dengan penuh empati, 

"Suya, setiap makhluk memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan mengubah nasibnya. Ayo kita berdamai dan bersama-sama membangun masa depan yang lebih baik untuk Bimasakti."

Saat Suya berusaha menggapai tangan Sayzi, kehadiran seorang hakim semesta yang memancarkan cahaya keemasan tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka. Suara lembut namun penuh hikmah terdengar, 

"Suya, kamu telah melakukan kesalahan besar dengan menggunakan kekuatan gelap untuk kepentingan pribadi. Kini saatnya kamu mempertanggungjawabkan perbuatanmu."

Suya menundukkan kepala dengan penuh penyesalan, 

"Saya siap menerima hukuman yang pantas, Hakim Semesta. Saya berjanji untuk belajar dari kesalahan ini dan menjalani hidup dengan kebaikan dan kejujuran."

Hakim Semesta menganggukkan kepala,

"Kamu telah menunjukkan niat yang tulus untuk memperbaiki diri, Suya. Aku memberikanmu kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dan menjalani hidup yang lebih baik. Jadilah cahaya yang membawa kebaikan bagi alam semesta ini."

Dengan penuh kelegaan, Suya mengangguk dan bersumpah untuk menjalani hidup yang lebih baik. Pertempuran yang awalnya dipenuhi kegelapan dan kekerasan, kini berubah menjadi kisah tentang kesempatan untuk memperbaiki diri, belajar dari kesalahan, dan menjalani hidup dengan kebaikan dan kejujuran. 

Sayzi dan Suya bersama-sama membuktikan bahwa kebaikan selalu bisa mengalahkan kegelapan, dan bahwa setiap makhluk memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan menjalani hidup yang lebih baik.

Saat tubuh Suya mulai berubah menjadi debu dan terbakar oleh sinar mentari, Hakim Semesta dengan lembut mengangkat debu-debu tersebut. Dengan kekuatan yang luar biasa, Hakim Semesta melemparkan debu-debu Suya ke dalam pusaran waktu, tempat di mana roh Suya akan menjalani proses reinkarnasi.

Pusaran waktu berputar dengan cepat, membawa debu-debu Suya ke dalam dimensi yang tak terjangkau oleh manusia biasa. Di sana, roh Suya akan menjalani proses penjernihan dan pembelajaran, untuk kemudian terlahir kembali dalam wujud yang baru dan murni.

Sayzi dan pasukan naga melihat dengan penuh haru dan rasa lega saat Suya dihantarkan oleh Hakim Semesta menuju takdir barunya. Mereka mengucapkan doa-doa untuk keselamatan dan kesucian roh Suya, serta harapan agar Suya dapat menemukan jalan yang benar dan hidup dengan kebaikan di reinkarnasinya yang baru.

Hakim Semesta kemudian menghadap Sayzi dan pasukan naga dengan senyum penuh kebijaksanaan. 

"Kalian telah menunjukkan kebaikan, keberanian, dan kebijaksanaan dalam menghadapi cobaan ini. Terima kasih atas dedikasi dan tekad kalian untuk menjaga kedamaian dan keadilan di Bimasakti."

Sayzi dan pasukan naga bersyukur atas keputusan yang diambil oleh Hakim Semesta. Mereka siap melanjutkan perjalanan mereka sebagai pelindung tanah Bimasakti, siap menghadapi segala tantangan dan menjaga kebaikan di dalam hati mereka.

Dengan cahaya mentari yang memancar cerah, Sayzi dan pasukan naga melangkah maju, siap menjalani petualangan baru yang penuh dengan kebaikan, keberanian, dan keadilan. Mereka yakin bahwa dengan tekad yang kokoh dan hati yang tulus, mereka dapat menjaga kedamaian dan keharmonisan di tanah yang mereka cintai, Bimasakti.

Ramaifa, ketua koordinasi pasukan sembilan puluh sembilan naga, merespons dengan serius,

 "Zarel, naga paling pendek itu terakhir kali terlihat di hutan terlarang, dekat sungai yang mengalir ke arah timur. Saya akan segera mengirim beberapa anggota pasukan untuk mencari Zarel."

Sayzi pun mengangguk,

"Terima kasih, Ramaifa. Segera lakukan pencarian, kita tidak boleh kehilangan naga kita begitu saja." 

Dengan tekad bulat, Sayzi pun bersiap untuk memimpin pasukannya dalam pencarian Zarel, naga paling pendek yang hilang. Semoga mereka dapat menemukan Zarel dengan selamat dan membawa kembali ke dalam pasukan.

Saat Zarel sedang berdiam di gua dekat telaga, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat. Zarel membuka mata dan melihat sekelompok prajurit dari pasukan sembilan puluh sembilan naga yang dipimpin oleh Ramaifa. Mereka datang untuk mencarinya.

Ramaifa dengan lembut memanggil, 

"Zarel, kami datang mencarimu. Kami khawatir dengan kepergianmu yang tiba-tiba. Apakah ada yang terjadi?"

Zarel tersenyum, 

"Maafkan aku, Ramaifa. Aku hanya butuh waktu untuk bermeditasi dan merenungkan kehidupan ini. Sisik-sisikku yang berjatuhan adalah tanda pertumbuhan dan perubahan yang aku alami."

Ramaifa mengangguk mengerti, 

"Kami menghormati waktu meditasimu, Zarel. Namun, bersama-sama kita lebih kuat. Mari kembali ke pasukan dan teruslah bersama kami."

Zarel pun bangkit dari meditasinya, siap untuk kembali bersama pasukan sembilan puluh sembilan naga dan melanjutkan perjalanan bersama mereka. Dengan kehadiran Zarel yang kembali, semangat pasukan pun semakin membara, siap menghadapi petualangan baru yang menanti.

Zarel terus mendalami meditasinya dengan harapan untuk bereinkarnasi ulang dan melompat waktu bersama Sayzi, Sang Jendral. Dalam meditasi yang mendalam, Zarel merasakan energi yang mengalir di sekitarnya, membawa kedamaian dan kekuatan yang luar biasa.

Saat Zarel tenggelam dalam meditasi, ia mulai merasakan perasaan aneh dan luar biasa. Tubuhnya terasa ringan dan pikirannya melintasi batas-batas waktu dan ruang. Zarel merasa seperti melayang di alam semesta, melihat kilatan cahaya yang memesona dan memikat.

Di tengah meditasinya yang mendalam, Zarel merasakan kehadiran Sayzi, Sang Jenderal. Mereka berdua saling terhubung melalui energi yang tak terlihat namun kuat. Mereka berharap untuk bisa melompat waktu bersama-sama, menjelajahi masa lalu dan masa depan dengan kekuatan yang mereka miliki.

Dengan tekad yang kuat dan keyakinan yang dalam, Zarel dan Sayzi siap untuk menghadapi perjalanan spiritual yang luar biasa ini. Mereka bersiap untuk melompat waktu dan menjelajahi dimensi yang tak terduga, sambil menjaga kekuatan dan persahabatan mereka tetap kokoh. 

Semoga perjalanan ini membawa mereka pada pemahaman yang lebih dalam tentang diri mereka dan alam semesta.

Bimasakti sepeninggal Zarel yang lebih dulu melompati pusaran waktu menuju misi berikutnya, pada planet baru bernama bumi. Pasukan naga lainnya tetap berada dalam Bimasakti. 

Abad yang berbeda diiringi kecanggihan teknologi. Zarel tiba di tanah budaya, Bumi. Ia beradaptasi dengan semua yang ada di dalamnya.

Nun jauh di beda tempat namun masih di tanah budaya, Bumi Seorang perempuan berlari mengejar kereta, hari itu hari senin, padat penumpang, deadline yang menumpuk, seseorang menyapanya;

“Hari ini kau meliput?”

Di tengah hiruk pikuk kehidupan sehari-hari di tanah budaya Bumi, Sayzi dan Zarel, yang kini telah berganti identitas, merasakan getaran energi yang menghubungkan keduanya.

Vibrasi energi mereka saling bertaut, meski keduanya berperan dalam lakon kehidupan masing-masing.

“Ragamu beda namun isimu sama, seperti mengenalmu sedari lama.”

Perempuan itu menyapanya dalam wajah kesibukan kota.


Jakarta, Juni 2024


_______

Penulis


Erna Wiyono, seorang Visual Artist, Penulis, Jurnalis, Creative Designer Program, dan Penari Tradisional. Bisa ditemui di e-mail : ernawinarsihwiyonomeetup@gmail.com.
FB : Erna Winarsih Wiyono (Nana), IG : @na_wiyono


Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com 

Puisi-Puisi Yenni Reslaini

Puisi Yenni Reslaini



Se-pot Syair di Kandang Nyamuk


terkisah

pada segudang raung lapar

dalam kandang-kandang mangsa

serbu gelegar bunga 

dalam pot sajak-sajak kesurupan 

dihunus tajamnya lirik malam

ditikam kejemuan penantian


paksa setubuhi lapuk kata-kata

busuk di awang-awang pulang

jeritan seringai terbakar

sambut kemalangan-kemalangan duri-duri jalan berlari

sujud di sepanjang pekan kebekuan


ngiung,

ngiung,

ngiung,


bermandikan kali-kali bahari

kembalikan lekuk jahitan rumah

tabal sampah-sampah purba 

sejarah berkisah

jalar kembang ditinggal tanah

ranum untuk kecap minum

aliran diksi-diksi yang digembala

bariskan ratapan nyamuk-nyamuk 

menuju kandang yang kehilangan kembang


Rantauprapat, 14 Mei 2024



Jarak Planet Doa


jarak antar darah-darah mengalir

berkejaran dalam bilik tak sadar

embus napas-napas tegar

ribuan pecut sakit 

berlomba ikat gulir air mata

jarum-jarum saling berkompetisi

tusuk pori-pori lemah berdegup


di lintasan orbit akut

kau tegar bersama doa-doa

tak takut ditenggelamkan

ke dasar ranjang pesakitan

Tuhanmu menyusup

sedalam kau kenal rasa cukup

tiada sekat 

terkabul atas pinta-pinta planet keramat

bermohon diberi sehat


Rantauprapat, 14 Mei 2024



________


Penulis


Yenni Reslaini, lahir di Merbau, 14 Juni 1990. Alumnus Pendidikan Bahasa Inggris Univa Labuhanbatu. Anggota FLP Cabang Labuhanbatu sejak 2015. Menulis novel Takdir Ilalang (Ahsyara, 2020). Menulis buku puisi Membatas Luka Mengikat Lara (2023). Buku solo ke-3 Mak, Yak Aku Pulang dan ke-4 Kita, Bagian Chapter-Chapter Bisu dalam Buku Tabu sedang proses cetak. Mengikuti kelas puisi di Asqa Imagination School (AIS) angkatan 43, 44, 45, dan 47. Salah satu Fasilitator di SDIT Alam Arrozaq Rantauprapat. Sangat termotivasi dalam dunia penulisan terkhusus dunia puisi. Info kontak via FB: Yenni Reslaini Ritonga, Instagram: @MeoxiJ.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Puisi-Puisi Terjemahan Eka Ugi Sutikno

Puisi Terjemahan Eka Ugi Sutikno



Perawan

(Puisi Kathleen Tankersley Young)


untuk Lois


Kau memenuhi hasrat ganasmu

Dari bibirku yang berkobar bebas.


Tapi aku tak punya kunci

Untuk membuka misteri aneh ini.


Mengapa kau mendesak dan tekan

Di wajah cantikku yang rapuh ini?


Tapi aku tak punya kunci

Untuk membuka misteri ini.



Keperawanan

(Puisi Anna Swir)


Seseorang harus berani hidup untuk melewati 

hari. Yang tersisa

hanyalah sirna tapi kenikmatan rindu ini sangat berharga.


Rindu 

yang sucinya membuncah, seerat upaya,

membentuk jiwa  

seperti karya

yang melengkung perut.


Keperawanan merupa atlet, pelari,

Yang takkan pernah

Menghentikan kaki. Inilah yang 

Memacunya.


Rindu

Adalah gizi bagi si keras hati.

Keperawanan seperti jendela

Di tingginya menara, yang anginnya 

bertiup kencang.


Rindu 

adalah perawan suka cita.



Ini Perawan

(Puisi Virginia Berry)


... c'est bien pour Dieu que la pensée chrétienne garde jalousement cette vierge, dont la présence veille sur l'intelligibilit? du monde, alors m?me qu'elle n'engendre pour l'homme aucun de ces résultats pratiques ... Reprocher au finalisme sa stérilité scientifique ... c'est méconnaître ... le primat de la contemplation … 

Étienne Gilson


Terkadang mandul adalah istilah cinta.

Di mana penghabisan menyembunyikan dirinya

Jauh dari semua yang ada

Segala hal itu akan menjadi: lihat, menunduk dan katakanlah

“Inilah perawan kasih itu.” Berlutut dan berdoalah,


Mengetahui ia berdoa bersamamu di balik jeruji,

Mengetahui tafakurnya yang memutar

Pikiran Tuhan yang membutakan dan memekakkan telinga, hingga

Tak ada ia atas jawaban berupa surya maupun suara – 

Tak ada ia yang sirna. Satu-satunya anjing hound


Yang pernah melacak perempuan itu adalah pikiran manusia

Yang merasakan doanya berdetak mengikuti gelombang air maupun Bintang

Dan menjaga haknya untuk menjelaskan sebaik mungkin

Atas jalan mahabah ini. (Semua perawan 

Memang untuk menjelaskan dirinya.) Ketika kau terlampau jauh


Menuju padanya, maka kau tidak akan menemukannya,

Tuhan sudah cukup baginya;

Kau hanya akan menemukan teka-teki masa lalu yang serupa

Bersama banyaknya jawaban – hingga kau belajar rahasia apa 

Yang berada di dirinya. Banyaknya rahasia dari mempelai perempuan

Inilah yang menjadi istilah cinta dari sebuah kemandulan.



Lalu Perawan

(Puisi Carl Bode)


Kau tertawa? Cahaya pekat yang meratakan menara hijau 

Bersama taburan susu yang serupa

Buih yang berada di pintu air berubah asam

Dan riaknya sehalus sutra.


Rasakanlah: polanya mengalir melalui jari

Tapi gerak lengkung itu

Segera terlupakan: tak ada kehidupan

Di sisi putihnya susumu.


Rahim dunia ini tidaklah panas, melainkan pahit dan dingin.

Dalam rangkaian setan ini

Terdapat alur yang membeku bersama alur tandingan yang busuk

Di sepasang paha putihmu yang susu.


Dinamo, arus air yang memutar kincir angin, adalah air terjun 

Yang tingginya untuk memecah batu yang menjulang.

Haruskah kau memperolok agar saluran itu terlupa,

Laki-laki itu akan menyangkal kalian

Wahai pencinta hinaan.



Perawan

(Puisi William Wordsworth)


Ibu! Dada perawanmu tak tertutup 

Oleh sedikit keinginan untuk bersekutu dengan dosa.

Perempuan! Perempuan dimuliakan atas segala hal,

Tapi sifat buruk kita menjadi sumbar;

Ia lebih murni dari buih di tengah laut;

Lebih cerah dari angkasa timur saat fajar menebar

Bersama mawar yang memesona, juga daripada bulan yang matang

Sebelum ia memudar di surga pantai biru;

Rupamu turun ke bumi. Tapi, kupikir, ada beberapa

Yang tak bisa dimaafkan dari pemohon yang mungkin saja akan berlutut,

Seperti Kekuatan yang tampak dan memadu

Semua yang bercampur lalu didamaikan olehmu

Cinta kasih ibu yang mengumpama perawan,

Yang tinggi juga rendah dan surga duniawi!


________


Penulis


Kathleen Tankersley Young (15 Agustus 1902 - 9 April 1933) adalah penyair Amerika Serikat. Puisi ini diterjemahkan dari judul “Virgin” yang pernah dipublikasi di Southwest Review, Vol. 13, No. 4, July 1928.


Anna Świrszczyńska atau Anna Swir (7 Februari 1909 - 30 September 1984) adalah penyair Polandia. Puisi di atas diterjemahkan dari versi Bahasa Inggris Czeslaw Milosz dan Leonard Nathandi di buku ‘Talking to My Body’.


Virginia Berry adalah penyair Amerika Serikat. Puisi ini diterjemahkan dari judul ‘This Virgin’ yang diterbitkan di majalah Poetry Foundation Vol. 79, No. 1, 1951.


Carl Bode (14 Maret 1911 - 5 Januari 1993) adalah penyair Amerika Serikat. Puisi di atas diterjemahkan dari judul ‘And the Virgin’ yang diterbitkan di majalah Poetry Foundation Vol. 91, No. 5, 1958.


William Wordsworth (7 April 1770 - 23 April 1850) adalah penyair periode Romantik Amerika Serikat. Puisi di atas diterjemahkan dari judul ‘The Virgin’ di buku ‘William Wordsworth Complete Works.’


____________

Penerjemah


Eka Ugi Sutikno. Ia tinggal di Kota Serang dan mengajar di beberapa universitas dan dapat dihubungi di https://www.instagram.com/ekaugisutikno/



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Lapak Buku | "Golok Banten (Sejarah, Budaya, dan Metalurgi)" Karya Kombes Pol. Dr. H. Agus Rasyid, S.H., M.H.

 


Judul: Golok Banten (Sejarah, Budaya, dan Metalurgi)

Penulis: Kombes Pol. Dr. H. Agus Rasyid, S.H., M.H.

Penerbit: #Komentar

Terbit: Juli 2024

Tebal: viii + 183 hlm.

Ukuran: 18,2 cm x 25,71 cm

Harga: Rp125.000



Banten sebagai daerah yang memiliki perjalanan sejarah panjang, yakni bekas kekuasaan Kerajaan Sunda, kemudian membentuk Kesultanan Banten yang jaya, serta kemudian menjadi wilayah kekuasaan kolonial, tentu memiliki berbagai peninggalan yang dahulu merupakan tradisi pembesar kerajaan, pusat kekuasaan, maupun kebiasaan masyarakatnya. Setiap kekuasaan memiliki tradisi memepertahankan diri, memperluas wilayah, dan kebesaran kekuasaannya. Hal tersebut tidak terlebas dari perkakas yang  berguna untuk secara fisik memenuhi kebutuhan itu. Selain kebutuhan secara fisik, maka dibutuhkan pula perkakas-perkakas yang dianggap memberikan kekuatan di luar nilai prakstis untuk digunakan sebagaimana disebutkan terdahulu.

Buku karya Komisaris Besar Polisi Dr. H. Agus Rasyid, S.H., M.H. ini hadir untuk mengangkat sejarah Golok Banten yang mungkin referensinya masih minim. Pembaca diajak untuk menghargai, menjaga, merawat, dan melestarikan peninggalan Golok Pusaka Banten yang merupakan bagian dari tradisi budaya adiluhung. Di dalamnya juga dijelaskan nama, jenis, dan filosofi yang terkandung dalam Golok Banten. Juga dijelaskan tentang uji laboratorium metalurgi yang mencakup komposisi, material, tingkat kekerasan besi dan potomikro sesuai dengan hasil penelitian, serta berdasarkan literatur dan catatan sejarah, baik di dalam maupun di luar negeri. Semoga buku Golok Banten ini bisa menjadi koleksi di berbagai perpustakaan dalam maupun luar negeri, sehingga Golok Banten sebagai warisan leluhur bangsa Indonesia bisa lebih dikenal 



Kontak:
087771480255 (Penerbit)

Wednesday, July 3, 2024

Puisi Jawa Banten | Ki Arjuna

Puisi Jawa Banten Ki Arjuna



Ketelimbeng


Wong enom tapi tua

Wong tua tapi enom

Ulese enom kelakuane tua

Ulese tua kelakuane enom


Rabi mateni laki

Laki mateni rabi

Wong tua ngebuang anak

Anak ngebuang wong tua


Sedulur ora akur

Sing akur dadi dulur

Waktu susah gelatine batur

Waktu senang turu ning kasur


Pekaya akeh dadi ukuran kemulyaan

Wong mesakat ora keopenan

Statusemah gegayaan

Nyatanemah lagi kepayahan


Wakeh wong sing ketelimbeng

Ora due duit jerehe paleng

Diajak ibadah ngakune durung seumpama

Ari maksiyat sedina-sedina.


Pipitan, Juli 2024



Nonggoni Malaikat Lewat


Ngejentul ora puguh

Wonge meneng atine mabur

Jerehe gelati inspirasi

Sing ngegantung ning lelangit sore


Gegodan sing hape seliwar seliwer

Ngeganggu pikiran sing pengen anteng

Atimeh pengen ora kegoda

Ari tanganmah reflek ngebuka 


Laju bareng inget iku gegodan 

Balik maning ngejaluk ning pengeran

Ngejajal lewih khusu karo rokok sebatang

Endah jol langsung dingean


Sing ditonggoni ora gelem teka

Sing dienteni laka gelagate

Ngegerunek dewek ning jero ati

Kapan malaikat nyamper ngean inspirasi


Pipitan, Juli 2024


______


Penulis


Ki Arjuna, pendidik saking Ponpes Darussalam Pipitan. 



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Cerpen Jawa Banten Umiyati | Telung Wengi ning Hotel

Cerpen Jawa Banten Umiyati



Wenten salah sios guru utusan saking sekolahan SMP Cilegon, ayun milet acare bimbingan teknis pengajar utama SMP, tempate ning hotel Serang, namine Ibu Lisa, guru niku uwonge wedosan. 


Persiapan kangge linggar ning hotel niku segale-gale dibaktani kados dedaharan cemilan, sepertos cokolatos, keripik dangder pedes, reroten lan dedaharan bocah alit sing namine Siip, niku dibakte sedanten.


Awal mula keberangkatan Ibu Lisa dianter sereng rayate sampe simpang, seterase di pesenaken mobil Maxim sampe hotel. Ibu Lisa ning perjalanan ngenda screenshoot bukti pembayaran ning Mamang Maxim.


“Mang, kule ayun ngende bukti pembayaran Maxim, bangkit boten?” cepe Bu Lisa.


"Bangkit Bu, tapi mengkin yah namun sampun nyampe,” cepe Mamang Maxim.


Seterase nyampe, HP Mamang Maxim malah lowbet lan mati


“Mang pundi bukti pembayarane.”


“Duh, ampurane Bu, HP kulane mati. Wau kulane nyetel lagu boten kelingan lamun baterene tinggal semit.”


“Oh, yowislah tak screenshoot dewek be.” 


“Enggih Bu, ampurane ya.”


Medal saking mobil Maxim, Ibu Lisa langsung ngisi registrasi ning lantai kalih sereng rencang-rencang sing laine. Ibu Lisa  diisungi uning nomor kamare niku sepuluh limalas, lan bahwa kuncine niku sampun di bakte sereng batur sekamare namine Ibu Lail. Ibu Lisa ngilari Ibu Lail tapi boten gegemboran. Naken ning bature sing lagi linggih ning bebancik jaba pinggir lawang, cepene lagi nenggeni mobil antar-jemput kamar. 


“Bu, punten, uning sing namine Ibu Lail, sing pundi niku ya?”


“Kule Ibu Lail, nomor kamar kule sepuluh limalas," cepe Ibu Lail.


“Aih pas amat Bu, sereng kule berarti sekamare, kule diisungi uning nomor kamare sepuluh limalas,” cepe Bu Lisa.


Semenjak niku, ibu guru kalih niku mulai kenalan ngobrol sampe manek mobil anter-jemput geh dedempetan. Nyampe adep kamar sing ngebuka niku Ibu Lail. Ibu Lail ngebuke lawang sampe ngeblak wayah magrib pisan, Ibu Lisa mulai ngerasa aneh hawa kamar niku kados sunyi lan ngedamel merinding. 


Ibu lail ngucapaken salam sembari ngelebet ning jero kamar “Assalamu’alaina wa’ala ibadillahissholihin.”


Disusul sereng Ibu Lisa “Assalamu’alaina wa’ala ibadillahissholihin.”


Seterase Ibu Lail langsung mendet banyu wudu kangge salat magrib.


Ibu Lisa nyusul wudu lan ngilari arah kiblat, rupane boten nemu arah kiblate.


“Wis sih ngadep ning endi bae, sing pentingmah ngadep ning gusti Allah,” cepe Ibu Lail.


Akhire Ibu Lisa ngadep tembok pinggir kasur, lan Ibu Lail ngadep tembok pinggir kasur sebelahe niku kamar adus. Saking atise Ibu Lail pengen pindah, mengkin namun salat malih ayun salat ning tempate Bu Lisa, ngenda tukeran soale atis jerehe.


Sesampune nerima materi ke sios, Ibu Lisa lan Ibu Lail mantuk ning kamar malih jam setengah sepuluh sipeng, nyampe adep kamar, kuncine di kantong sereng Ibu Lisa, pas dibuke boten bangkit kebuke lawange, lami boten bangkit manjing. Akhire ngenda tulung ning Mamang Supir.


“Mang ende tulung kule kih lawange boten bangkit kebuke,” Cepe Ibu Lail.


“Nggih sih Bu, pundi kuncine,” cepe Mamang Supir.


Seterase diisungilah kunci niku saking Ibu Lisa  ning Mamang Supir. pPinten-pinten balen dibukakaken sereng kunci niku tetep boten bangkit. 


“Biasanemah bangkit niki Bu, kadosemah niki keni radiasi HP niki, dados kartune niki boten bangkit ngebuka lawang. Niki kula bukakaken kerihin sereng kunci pribadi kule, mengkin di gantos sing baru nggih Bu.”


Akhire Ibu Lisa lan Ibu Lail manjing ning jero jam sepuluh sipeng. Seterase Ibu Lail pengen nonton tipi. Pas nyetel ning kamar, tipi ruang tamu tandang-tandang urip, Ibu Lisa langsung jelingkat sing wau lagi selonjoran.


“aAstagfirulloh Bu ... peripun niki galih tipi ruang tamu urip dewek.”


Ibu lail langsung jelingkat peparekan sereng Bu Lisa. 


“Nggih Bu, padahal remote masing-masing, wis Bu sareh saos yuk, sampun sipeng.”


Seterase Ibu Lail pengen nyiliki volume AC. 


“Bu Lisa, kule ciliki volume AC nggih.”


“Nggih sih Bu katuran,” cepe Bu Lisa.


Ibu lail akhire nyiliki volume AC sing waune selawe, dados telung puluh. Masing-masing ibu guru sampun ning tempat sareh lan ningali HP masing-masing. 


Wenten semenit volume AC balik malih ning angka selawe, Ibu Lail ngerasa atis kebina-bina, lan tetaken ning Ibu Lisa.


“Digedeni malih tah AC ne niku?”


Ibu lisa langsung jawab sembari ngerangkul Bu Lail, “Boten Bu, kulemah boten pernah nyekel remot AC”.


Sewengi niku suasana ning kamar sepuluh limalas nambah mencekam, guru kalih niku boten bangkit sareh, merem melek wong kalihan.


Seterase sekitaran jam siosan wenten suara ting nong... ting nong....


Guru kalih niku gegederan, masing-masing nyenyebut “Asyhadu alla ilaaha illallah wa asyahadu anna muhammadarrosulullah,”. 


Ibu lail boten bangkit sareh sampe subuh, antanapi Ibu Lisa turu-turu ayam.


Jam tengah enem bu lail tangi langsung mendet banyu wudu salat subuh. Disusul Ibu Lisa melayu-melayu pengen nguyuh. Sesampune nguyuh, Ibu Lisa ningali ning jero kloset, banyune warna ireng, langsung jejeritan nyeluk Bu Lail, “Bu, Ibu... niki banyu kloset ko warnane ireng.”


“Nggih tah? Wau kula ningalimah boten, maler warna bening.”


“Wedos amat yah Bu kulane,” cepe Bu Lisa.


“Wis sing inget bae ning gusti Allah, mugi-mugi Allah ngejage.”


Bengi sing terakhir niku bengi ke telu, tibe-tibe Bu lail ning ruang tamu, cepe bu lail “kadosemah tipi ruang tamu niki pengen disetel.”


“Nggih tah Bu?” cepe Bu Lisa.


Seterase Bu Lisa sereng Bu Lail nonton tipi, tibe-tibe foto golek ning tembok rigel, brug!


Langsung kaget ngegeder-geder ibu guru kalih niku. Akhire Ibu Lisa mutusaken foto golek niku dipendet lan dibuang ning jaba, ning tong sampah. Lan sesampune niku, bu guru kalih niku sesarehan ning kasur, tibe-tibe Bu Lail ningali foto golek niku sampun nempel malih ning tempate. Seterase Bu Lail sereng Bu Lisa ngebuang ning dalanan.


Sesampune niku ditutup lawange, seterase rawuh si Mamang Mobil Antar-jemput, “kedebeg… kedebeg… kedebeg ting nong-ting nong”. Bu Lisa lan Bu Lail medal keringet atis, saking wedine, kinten-kinten sinten sing mencet bel.


Wong kalihan ngewanikaken ngebuka lawang, ternyata niku Mamang Antar-jemput kamar, langsung lega ati guru kalih niku. 


“Bu punten foto golek niki napik dibuang nggih, niki sing derebe bos gede hotel niki, uwonge sampun ninggal.”


“Oh nggih ari kotenmah tak pasang malih,” cepe Bu Lisa lan Bu Lail.


Pas bebalik linggar saking tempat mamang niku langsung ngilang, ternyata mamang niku arwah bos gede hotel niku.


________


Penulis


Umiyati, S.Sy., guru SMP Uswatun Hasanah Cilegon.



Kirim naskah
redaksingewiyak@gmail.com

Tuesday, July 2, 2024

Proses Kreatif | Menulis dengan AI

Oleh Encep Abdullah



Di sini, saya tidak sedang mengajari teman-teman ber-AI, tetapi saya akan menunjukkan bagaimana hasil kerja AI. Saya merasa terpukau dengan kecerdasan AI yang bisa menjawabi apa yang kita mau, misalnya membuat cerpen, puisi, esai, novel, skenario film, dan apa pun itu. Saya tak habis pikir, bagaimana dengan anak-anak sekolah dan mahasiswa. Bagaimana cara kita tahu karyanya dari AI atau bukan, atau karya yang dimodifikasi dari AI atau bukan. Mungkin saya perlu waktu untuk memahami itu dari AI atau bukan, perlu keahlian tersendiri. Bahkan, di g-mail NGEWIYAK juga ada beberapa yang hampir mirip model-model cerpen AI, yang diawali dengan Di sebuah desa kecil, hiduplah ....


Jawaban AI bisa ngaco, bisa juga cukup akurat, bahkan sangat akurat. Semua bergantung kata kunci yang kita tulis/katakan. Juga bergantung data yang ada di Google tentang apa yang dicari. Kalau untuk fiksi, apa pun bisa tertulis, kecuali kata kunci yang kita tulis sangat sensitif, contoh kontol dsb. atau hal-hal lain yang AI tidak bisa rekomendasikan. AI juga kadang tidak konsisten menjawab walaupun kita pakai kata kunci yang sama, juga pemakaian di waktu yang berbeda. Hasilnya bisa berbeda. Misalnya saya mencari data tentang diri saya, dengan kata kunci: Siapa Encep Abdullah Penulis. AI menjawab



Encep Abdullah, atau lebih dikenal dengan nama lengkapnya, Encep Abdullah Pontang, tidak dikenal sebagai seorang penulis terkenal dalam konteks sastra atau tulisan formal. la lebih dikenal sebagai seorang pejuang kemerdekaan Indonesia yang aktif dalam perlawanan terhadap penjajah Belanda di awal abad ke-20, khususnya di daerah Sukabumi, Jawa Barat. Kegiatannya lebih fokus pada perjuangan politik dan militer daripada menulis karya sastra atau tulisan.



Besoknya saya coba lagi dengan kata kunci lain dan jawabannya menakjubkan.


Kata Kunci: Encep Abdullah dan Komunitas


Jawaban AI:


Encep Abdullah dikenal sebagai sosok yang aktif dalam berbagai komunitas, terutama komunitas literasi di Banten. Berikut beberapa komunitas yang didirikan dan diikuti oleh Encep Abdullah:


1. Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa (#Komentar)


• Pendiri: Encep Abdullah

• Tahun Berdiri: 2016

• Lokasi: Pontang, Serang, Banten

• Kegiatan: 

- Workshop menulis

- Diskusi buku

- Bedah buku

- Penerbitan buku antologi

- Pelatihan jurnalistik


• Website: https://www.ngewiyak.com/

• Media sosial: Facebook, Instagram


2. Klinik Menulis


• Pendiri: Encep Abdullah

• Kegiatan: 

- Konsultasi menulis

- Kelas menulis online

- Mentoring menulis


3. NGEWIYAK.com


• Peran: Dewan Redaksi

• Website: https://www.ngewiyak.com/


4. Komunitas Lainnya


Encep Abdullah juga aktif dalam berbagai komunitas lain, seperti:


• Dewan Kesenian Banten

• Forum Lingkar Pena (FLP) Banten

• Rumah Dunia


Kontribusi Encep Abdullah dalam Komunitas:


• Mengembangkan budaya literasi: Encep Abdullah aktif dalam berbagai kegiatan literasi di komunitas-komunitas yang dia ikuti. Dia ingin menumbuhkan minat baca dan tulis di masyarakat, khususnya di Banten.


• Membina penulis muda: Encep Abdullah sering memberikan bimbingan dan pelatihan kepada penulis muda di komunitas-komunitas yang dia ikuti. Dia ingin membantu para penulis muda untuk mengembangkan bakat mereka dan menghasilkan karya-karya yang berkualitas.


• Membangun jaringan: Encep Abdullah aktif dalam membangun jaringan dengan para penulis dan budayawan di berbagai daerah. Dia ingin memperluas cakupan komunitas literasi dan memperkuat kerjasama antar komunitas.


Encep Abdullah adalah sosok yang inspiratif bagi para pegiat literasi di Banten. Dedikasi dan kiprahnya dalam komunitas patut diapresiasi. Dia telah banyak berkontribusi dalam mengembangkan budaya literasi dan membina penulis-penulis muda di Banten.



Saya geleng-geleng membaca hasilnya. Lalu, beberapa jam kemudian saya coba lagi dengan kata kunci yang sama, jawabannya beda lagi. Malah makin kacau. 



Berikut hasil kerja AI untuk cerpen dan puisi.


Kata kunci: Buatlah cerpen Lelaki yang Disunat Malaikat


Lelaki yang Disunat Malaikat


Di sebuah desa kecil yang terletak di kaki gunung, hiduplah seorang lelaki bernama Arif. Arif dikenal sebagai sosok yang baik hati dan dermawan, namun ada satu hal yang selalu membuatnya berbeda dari orang-orang di desanya. Sejak kecil, Arif selalu diceritakan oleh orang tuanya bahwa ia disunat oleh malaikat.


Cerita itu dimulai ketika Arif masih bayi. Saat itu, keluarganya hidup dalam kemiskinan yang luar biasa. Mereka tidak mampu untuk mengadakan upacara sunat yang lazim dilakukan di desanya. Namun, suatu malam, ibunya bermimpi didatangi oleh sosok bersinar yang berkata bahwa ia akan membantu mereka. Keesokan harinya, saat ibunya bangun, ia mendapati Arif sudah disunat dengan sempurna. Tak ada luka, tak ada tangisan. Hanya ketenangan yang aneh dan keajaiban yang menggetarkan hati mereka.


Kabar ini menyebar dengan cepat di desa, menimbulkan berbagai reaksi. Ada yang percaya, ada yang meragukan, namun yang pasti, Arif tumbuh menjadi anak yang istimewa. Ia selalu merasa ada yang mengawasi dan melindunginya. Keajaiban ini membuatnya tumbuh dengan rasa syukur yang mendalam dan dorongan kuat untuk membantu sesama.


Suatu hari, ketika Arif telah dewasa, desa mereka dilanda kemarau panjang. Tanaman mati, ternak banyak yang mati kehausan, dan penduduk desa mulai putus asa. Arif tidak tinggal diam. Ia mengajak penduduk desa berdoa dan bekerja keras mencari sumber air.


Pada malam yang tenang, ketika semua penduduk desa tengah terlelap dalam kelelahan, Arif pergi ke puncak gunung. Ia berdoa dengan sungguh-sungguh, memohon pertolongan kepada Tuhan. Di saat yang sama, tiba-tiba langit yang gelap mulai bercahaya, dan sosok bersinar yang pernah muncul dalam mimpi ibunya kini hadir di hadapannya.


“Mengapa kau begitu ingin membantu desamu, Arif?” tanya sosok itu.


“Karena mereka adalah keluargaku. Kami telah melalui banyak hal bersama, dan aku tak ingin melihat mereka menderita,” jawab Arif dengan tulus.


Malaikat itu tersenyum. “Kau telah menunjukkan bahwa hatimu penuh dengan kasih sayang dan ketulusan. Karena itu, aku akan memberimu petunjuk.”


Sosok itu kemudian menunjukkan sebuah batu besar di puncak gunung. Di balik batu itu, terdapat sumber air yang melimpah. Arif segera kembali ke desa dan memberitahu semua orang. Bersama-sama, mereka memindahkan batu tersebut dan menemukan mata air yang telah lama tersembunyi.


Air itu menyelamatkan desa mereka. Tanaman kembali tumbuh subur, ternak sehat, dan penduduk desa hidup dengan damai. Mereka semua bersyukur kepada Tuhan dan kepada Arif yang telah menjadi penyelamat mereka.


Arif selalu mengingatkan desanya bahwa keajaiban itu bukanlah karena dirinya semata, melainkan karena kasih sayang dan pertolongan Tuhan. Ia terus hidup dengan rendah hati dan selalu siap membantu siapa saja yang membutuhkan. Lelaki yang disunat malaikat itu akhirnya menjadi simbol kebaikan dan pengingat bahwa keajaiban bisa terjadi di mana saja dan kapan saja, selama kita memiliki iman dan kasih sayang yang tulus.


Di usianya yang telah lanjut, Arif sering menceritakan kisah hidupnya kepada anak-anak di desa, mengajarkan mereka tentang pentingnya berbuat baik dan menjaga iman. Desanya kini dikenal sebagai desa yang penuh berkah, tempat di mana cerita tentang lelaki yang disunat malaikat selalu dikenang dan dihormati.



Kata kunci: Buatlah puisi bertema sunat


Ritual Lelaki


Dalam pelukan senja yang temaram, 

Terdengar nyanyian alam nan lembut, 

Di bawah pohon beringin tua, 

Ritual suci dimulai.


Darah pertama yang mengalir, 

Simbol keberanian tak ternilai, 

Menjadi lelaki di hadapan dunia, 

Meninggalkan masa kecil yang memudar.


Di ujung pisau yang tajam, 

Tertoreh jejak tradisi lama, 

Air mata bercampur senyum, 

Sebuah perjalanan menuju dewasa.


Sunat, bukan sekadar luka, 

Namun tanda kekuatan jiwa, 

Menghadapi hidup dengan tegar, 

Mengukir langkah di tanah leluhur.


Dalam doa dan harapan, 

Tercipta ikatan yang kuat, 

Antara tubuh dan semangat, 

Menuju masa depan penuh harapan.


Bersama deru angin malam, 

Cerita ini akan terus dikenang, 

Bahwa dalam setiap luka kecil, 

Tersembunyi kekuatan yang besar.



Kata kunci: Buatlah esai tentang sunat dan mitos


Sunat dan Mitos: Tradisi, Kepercayaan, dan Realitas


Pendahuluan


Sunat, atau khitan, adalah praktik yang telah lama dilakukan oleh berbagai budaya di seluruh dunia. Tradisi ini, yang melibatkan pengangkatan sebagian atau seluruh kulit penutup kepala penis, memiliki akar sejarah yang dalam dan sering kali diselimuti oleh berbagai mitos. Meskipun sunat memiliki basis medis dan religius yang kuat, mitos yang mengelilinginya sering kali mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap praktik ini. Esai ini akan mengeksplorasi tradisi sunat, kepercayaan yang terkait, dan realitas yang melatarinya.


Sejarah dan Tradisi


Sunat telah menjadi bagian dari ritual keagamaan dan budaya selama ribuan tahun. Di banyak masyarakat, sunat dilakukan sebagai bagian dari upacara peralihan menuju kedewasaan. Di agama Islam dan Yahudi, sunat adalah perintah agama yang dilaksanakan sebagai tanda ketaatan kepada Tuhan. Dalam Islam, sunat dilakukan pada masa kanak-kanak sebagai bagian dari fitrah, sementara dalam Yudaisme, sunat dilakukan pada hari kedelapan setelah kelahiran sebagai bagian dari Brit Milah, perjanjian antara Tuhan dan Abraham.


Di beberapa budaya Afrika dan suku-suku pribumi Amerika, sunat dilakukan sebagai bagian dari ritual inisiasi yang lebih luas yang menandai peralihan dari masa kanak-kanak ke dewasa. Dalam konteks ini, sunat bukan hanya tindakan fisik, tetapi juga simbolik, mencerminkan kematangan, tanggung jawab, dan kesiapan untuk mengambil peran dewasa dalam masyarakat.


Mitos yang Mengelilingi Sunat


Mitos dan kepercayaan tentang sunat beragam, mulai dari yang bersifat positif hingga negatif. Beberapa mitos umum meliputi:


1. Sunat Meningkatkan Kebersihan: Salah satu mitos yang sering terdengar adalah bahwa sunat secara signifikan meningkatkan kebersihan pribadi dan mengurangi risiko infeksi. Meskipun benar bahwa sunat dapat mengurangi risiko infeksi tertentu, seperti infeksi saluran kemih dan HIV, praktik kebersihan yang baik tetap merupakan faktor kunci dalam menjaga kesehatan.


2. Sunat Mengurangi Sensitivitas Seksual: Ada kepercayaan bahwa sunat dapat mengurangi sensitivitas seksual dan kepuasan. Penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan dalam sensitivitas, tetapi efeknya pada kepuasan seksual bervariasi di antara individu.


3. Sunat adalah Praktik yang Tidak Diperlukan: Beberapa kelompok berpendapat bahwa sunat adalah praktik kuno yang tidak lagi relevan dan dapat digantikan oleh praktik medis modern. Namun, bagi banyak komunitas, sunat memiliki makna religius dan budaya yang dalam, yang tidak dapat diabaikan begitu saja.


4. Sunat oleh Makhluk Supranatural: Seperti dalam cerita rakyat dan legenda, beberapa mitos menceritakan tentang anak-anak yang disunat oleh makhluk supranatural, seperti malaikat. Mitos ini sering kali digunakan untuk menjelaskan peristiwa luar biasa atau untuk menegaskan status istimewa dari individu tertentu.


Realitas dan Pertimbangan Medis


Secara medis, sunat memiliki manfaat dan risiko yang perlu dipertimbangkan. Manfaat medis dari sunat termasuk pengurangan risiko infeksi saluran kemih, penurunan risiko penularan beberapa penyakit menular seksual, dan pencegahan kondisi medis tertentu seperti phimosis dan paraphimosis. Namun, sunat juga memiliki risiko, termasuk komplikasi dari prosedur seperti infeksi, perdarahan, dan masalah penyembuhan luka.


Keputusan untuk melakukan sunat sering kali didasarkan pada kombinasi faktor agama, budaya, dan medis. Dalam konteks modern, penting bagi orang tua dan individu untuk mendapatkan informasi yang akurat dan seimbang tentang manfaat dan risiko sunat, sehingga mereka dapat membuat keputusan yang tepat.


Kesimpulan


Sunat adalah praktik kuno yang memiliki makna religius, budaya, dan medis yang mendalam. Meskipun banyak mitos yang mengelilingi sunat, penting untuk memahami realitas di balik praktik ini dan mempertimbangkan bukti medis yang ada. Dalam dunia yang semakin modern dan terinformasi, pendidikan dan diskusi terbuka tentang sunat dapat membantu menghilangkan mitos dan memastikan bahwa keputusan yang diambil adalah yang terbaik bagi individu dan komunitas.



Kata Kunci: Proses Kreatif Encep Abdullah dan Karya-Karyanya


Encep Abdullah: Menyingkap Proses Kreatif di Balik Karya-karyanya yang Memukau


Encep Abdullah, seorang penulis, budayawan, dan aktivis literasi asal Banten, tak hanya dikenal dengan karya-karyanya yang sarat makna dan inspiratif, tetapi juga dengan proses kreatifnya yang unik dan menarik. Bagi para pecinta sastra dan penulis pemula, memahami proses kreatif Encep Abdullah dapat membuka wawasan baru dan memberikan inspirasi dalam berkarya.


Menemukan Inspirasi dari Kehidupan Sehari-hari:


Encep Abdullah seringkali menemukan inspirasi untuk menulis dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitarnya, baik dalam kehidupan pribadinya maupun di lingkungan masyarakat. Ia memiliki kemampuan untuk menangkap esensi kehidupan dan menuangkannya ke dalam karya tulis yang menyentuh dan membangkitkan rasa empati.


Kebiasaan Mencatat dan Mengamati:


Encep Abdullah memiliki kebiasaan untuk selalu membawa buku catatan kecil dan pulpen. Ia selalu siap sedia untuk mencatat ide-ide, kalimat menarik, atau pengamatannya terhadap berbagai hal yang ia temui. Kebiasaan ini membantunya untuk selalu memiliki bahan baku untuk berkarya.


Membaca Karya Penulis Lain:


Encep Abdullah gemar membaca karya penulis lain, baik dari dalam maupun luar negeri. Ia meyakini bahwa dengan membaca, ia dapat memperkaya khazanah pengetahuannya dan meningkatkan kemampuannya dalam menulis.


Menulis Tanpa Batasan Waktu:


Encep Abdullah tidak memiliki aturan khusus tentang waktu menulis. Ia dapat menulis kapanpun dan dimanapun, saat inspirasi datang kepadanya. Baginya, yang terpenting adalah konsistensi dalam menuangkan ide-idenya ke dalam tulisan.


Merevisi dan Menyempurnakan Karya:


Encep Abdullah selalu meluangkan waktu untuk merevisi dan menyempurnakan karyanya sebelum dipublikasikan. Ia ingin memastikan bahwa karyanya tersaji dengan kualitas terbaik dan dapat memberikan makna bagi para pembacanya.


Proses Kreatif yang Unik dan Personal:


Proses kreatif Encep Abdullah adalah proses yang unik dan personal. Ia tidak terpaku pada satu formula tertentu, tetapi selalu terbuka untuk mencoba berbagai cara baru dalam berkarya. Hal inilah yang membuat karyanya selalu segar dan menarik untuk dibaca.


Tips untuk Menulis Kreatif:


Berdasarkan proses kreatifnya, Encep Abdullah memberikan beberapa tips bagi para penulis yang ingin meningkatkan kemampuan mereka:


• Selalu membawa buku catatan dan pulpen.

• Membaca karya penulis lain.

• Menulis tanpa batasan waktu.

• Merevisi dan menyempurnakan karya.

• Terbuka untuk mencoba berbagai cara baru dalam berkarya.

• Berani bereksperimen dan keluar dari zona nyaman.

• Yang terpenting, teruslah menulis dan jangan pernah menyerah.


Encep Abdullah adalah sosok inspiratif bagi para penulis dan pecinta sastra. Karya-karyanya dan proses kreatifnya menjadi bukti bahwa dengan ketekunan, dedikasi, dan semangat yang tinggi, siapapun dapat mencapai kesuksesan dalam berkarya.



Gila, bukan? Bahkan tulisannya sangat tertata rapi. Namun, sehebat-hebatnya AI, seperti kata seorang kawan saya, Dani Maulana, mengatakan bahwa AI hanya dapat bekerja dengan optimal saat penggunanya memberikan perintah dan informasi yang tepat .... Mungkin hasilnya akan lebih baik dibandingkan dengan penulis pemula, tapi emosinya tidak setara dengan manusia. Itu yang membedakan manusia dengan mesin.


Ya, kecerdasan otak manusia bisa dibantu/diganti dengan AI. Tapi, tidak dengan rasa, batin manusia itu sendiri. Apakah AI tahu kalau saya sedang jatuh cinta?


Mau coba pakai AI, silakan buka chatgpt.com atau gemini.google.com.


Tapi ingat, tahu batasan!



Tangerang, 2 Juli 2024


______


Penulis


Encep Abdullah, penulis yang memaksa bikin kolom ini khusus untuknya ngecaprak. Sebagai Dewan Redaksi, ia butuh tempat curhat yang layak, tak cukup hanya bercerita kepada rumput yang bergoyang atau kepada jaring laba-laba di kamar mandinya. Buku proses kreatifnya yang sudah terbit berjudul Diet Membaca, Ketiban Inspirasi (Maret 2023).


Monday, July 1, 2024

Karya Guru | Puisi-Puisi Muh. Husen Arifin

Puisi Muh. Husen Arifin 



Negeri Air


apabila engkau bangun dari tidurmu 

tak menemukan air untuk memandikan tubuhmu

lalu engkau menggali tanah di kamarmu 

sampai air matamu menggenangi seisinya 


tersadar bahwa kamarmu berisi kesedihan 

panjang dari perjalanan hidup di negeri pemerasan 

bola matamu membengkak bagai bulan tak bercahaya 


tanganmu sudah berupaya, memanjang

walau bukan seperti koruptor memenggal uang

rakyat cuma-cuma, engkau tak 

menjelma laiknya mereka yang bergerak 


membakar impian anak-anak 

negeri yang berulang-ulang mencari air tak 

sampai-sampai, tak ada yang membantu sejak 

dahulu sebelum pemilihan sampai ke pemilihan 


Bandung, 2024



Negeri Api


pohon-pohon tersisa kenangan 

tak selembar daunan berkelindan 

tiada yang terselematkan 

pada setiap tangisan-tangisan 

mereka yang menunggu kesia-siaan

seperti kehidupan yang terbakar 

oleh isu-isu negeri tanpa kabar 

tiba-tiba memungut iuran 

berbaju pekerjaan 


Bandung, 2024



Aku Berlindung  


aku berlindung lagi

setelah datang erupsi 

menghantam rumah ini 


aku berlindung lagi 

setelah berita korupsi 

tersiar di televisi 


aku berlindung lagi 

setelah nasib rakyat 

terombang-ambing 

antara ukt, bpjs, dan tapera


ke mana lagi aku berlindung

jika di negeri ini harga sembako 

selalu diputar-putar bagai lagu koplo

dan perutku terbalut sarung 


Bandung, 2024



Sebatas Luka di Negeri Culas 


cita-cita kami kandas

gaji pekerja terus terkuras

program baru negeri tiba-tiba

mengikat leher dan kami tak berdaya


andai kami turun ke jalan 

menyuarakan hak hidup 

terngiang nasib marsinah di pikiran

lantas kami menghirup 

kesakitan yang tak berujung 


kami tak mampu melenggang

ke ruang ramai dengan tegak 

kami memasuki lorong kehampaan 

pengap dan petaka


di bawah hujan sia-sia umpatan 

sebab kami lelah berlindung 

di ketiak demokrasi nan murung 


Bandung, 2024 



Negeri Sehat 


Sebab kami dilarang sakit 

Kami dilarang kuliah tinggi 

Kami dilarang membeli rumah sendiri 

Kami dilarang membeli emas asli

Kami dilarang kaya di negeri sendiri


Bandung, 2024



Skandal Getir


Di antara menonton televisi 

Dan membaca berita di gawai 

Aku menghabiskan segelas kopi 

Di dalam renungan diri 


Korupsi mantan menteri berkali-kali 

Tak ada jera dan sungguh-sungguh ngeri 

Muncul 300 triliun karena timah

Muncul 109 ton emas palsu 

Muncul tafsiran-tafsiran baru

Mereka nakal karena menyatu dalam aturan

berselimut nepotisme dengan matang 


ternyata mereka punya celah 

bersiasat pura-pura dan berbohong

lalu sakit perut dan muntah-muntah

duh, ternyata gelasku sudah kosong 


esok akan muncul kegetiran apalagi

aku ingin menyeduh kopi 

sebelum berlama-lama mandi 

di hari menjelang terbenam matahari 


Bandung, 2024 



_______


Penulis


Muh. Husen Arifin, aktif sebagai tenaga pengajar di Kota Bandung. Buku puisinya Pangandaran Kopi Perjalanan (2023).



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Friday, June 28, 2024

Cerpen Rosyidatul Munawaroh | Marinka Ingin Pulang

Cerpen Rosyidatul Munawaroh



Jakarta tak pernah menjanjikan apa-apa. Manusianya saja yang terlalu berharap banyak.

—Rinrin Eka.


“Kau yakin pulang? Malam-malam begini?”


Mungkin sudah kali kesembilan Madam Beka bertanya. Mengulang pertanyaan yang itu-itu terus. Marinka baru saja selesai menalikan sepatunya lantas berdiri dan tersenyum. Ia hanya mengangguk sekali tanpa berkata apa-apa lagi selain salam perpisahan.


Dengan penuh drama, akhirnya ia berhasil meringankan langkah. Melambaikan tangan di bawah lampu neon tepat di atas pagar. Madam Beka berada di baliknya dengan ekspresi sedih.


Marinka akan pulang, hanya karena ia memang ingin pulang.


***


“Apa yang ingin kamu cari, Nak?” tanya Umi masih penuh khawatir.


“Kehidupan yang lebih baik. Umi, semua yang Rinrin lakukan ini demi keluarga kita.”


Mata Umi sempurna basah. Tak rela melepas anak gadis satu-satunya merantau ke Jakarta. Sementara Abah sempurna mengerti dari mana sikap keras kepala anaknya itu diturunkan. Maka dari itu, Abah hanya diam. Duduk di kursi ruang tamu. Menunggu. Barangkali anaknya berubah pikiran. Selebihnya ia hanya pasrah dan berdoa. Benar. Hanya sebuah doa untuk keselamatan putrinya.


Nyatanya air mata Umi pun tak mampu membuat Rinrin mengubah tekad. Ia tetap pergi ke Jakarta dengan menumpang mobil kol bak sayuran milik tengkulak dari kampung sebelah. Hanya empat bulan. Rinrin kembali pulang. Tidak sendirian. Ia membawa serta seorang pria yang diperkenalkan sebagai calon suaminya. Rinrin pulang untuk meminta restu mereka.


Laki-laki kekar, tinggi, dengan celana jeans belel yang robek di sana sini. Kemeja polos hitam yang dikenakan tidak dikancingkannya dengan sempurna. Membuat tato naga di dadanya menyembul keluar. Umi berkali-kali membuang muka setiap melihatnya. Ditambah sikap kurang sopan yang ditunjukkan laki-laki itu terhadap calon mertua, jelas membuat Abah menolak mentah-mentah.


***


Siapa yang tak kenal Agus Kuncir? Semua orang-orang di terminal mengenalnya. Hingga saat lelaki itu menenteng dua gembolan tas milik seorang gadis yang baru saja tiba dari kampung, tak ada yang berani mengusik meski gadis itu nyaris menangis meminta tolong.


“Sssstt. Jangan takut!” katanya. “Neng mau ke mana? Biar Abang antar,” tanyanya kemudian dengan suara yang lebih lembut.


Rinrin pasrah jika barang-barangnya harus raib saat itu. Asal nyawanya selamat. Alih-alih menjawab alamat tujuannya di Jakarta, Rinrin hendak berlari setelah mengumpulkan banyak tenaga dan keberanian saat diamnya tadi. Namun nahas, Blbaru saja balik badan, tubuhnya melayang; berpindah ke salah satu bahu preman itu. Rinrin sudah tidak pasrah kepada barang-barangnya saja; juga kepada nyawanya.


Namun perkiraannya salah. Lelaki itu benar-benar mengantar Rinrin dengan motornya setelah merampas selembar kertas bertuliskan alamat rumah di saku celana perempuan berparas manis itu. Fatma sahabatnya sampai terbengong-bengong saat melihat kedatangan Rinrin yang tak sendirian.


Bergidik ngeri, Rinrin berdoa agar tak dipertemukan dengan lelaki itu lagi. Namun harapannya justru berbalik. Entah mengapa, Rinrin merasa sering bertemu dengannya setelah itu. Dia ada di mana-mana, membuat Rinrin kadang merasa bahwa ia sedang dibuntuti setiap hari.


***


“Tolong dipertimbangkan lagi, Rin. Aku yang bawa kamu ke Jakarta. Bagaimana tanggapan Umi sama Abah nanti sama aku?” Fatma mulai frustrasi ketika Rinrin mulai mengutarakan niatnya untuk kawin lari.

 

“Lagian apa kamu yakin bahagia sama begundal itu?”


“Cukup, Fat. Dengar! Orang-orang jomlo kayak kamu mana ngerti soal cinta, sih?” Rinrin tersenyum mengejek, setengah dongkol saat Fatma mengatai kekasihnya sebagai begundal. Fatma berbalik marah. Keduanya terlibat adu mulut dengan durasi waktu yang teramat panjang, membuat Rinrin akhirnya mengemasi semua pakaian dan pergi dari kontrakan mereka.


Malam itu Rinrin pulang ke kontrakan Agus Kuncir.


***


Acara sakral itu hanya dihadiri seorang penghulu, wali hakim, dan teman-teman Agus Kuncir yang semuanya laki-laki. Rasa takut dan cemas berganti nyaman dan tenang setiap kali Agus Kuncir merangkul seluruh dirinya.


Resmi menjadi istri Agus Kuncir, Rinrin mendapat banyak penghormatan termasuk salah satunya sebutan "Mak" sebagai panggilan hormat anak buah Agus Kuncir kepadanya. Nama Marinka akhirnya tercetus dari salah satu anak buah Agus Kuncir.


Sejak saat itu tidak ada lagi Rinrin Eka, melainkan Marinka, istri Agus Kuncir.


***


Semenjak menjadi istri Agus Kuncir, Marinka lebih sering menghabiskan waktunya di terminal untuk menemani sang suami bekerja. Pekerjaan yang dimaksud adalah nongkrong, merokok, atau bahkan berjudi ketika semua bus tengah berangkat dan bus selanjutnya sedang menunggu penumpang penuh di pangkalan. Tak jarang ia melihat suaminya ribut. Pemandangan yang semula membuat ngeri seorang Marinka yang polos dan penuh ketakutan, menjadi hal biasa yang tak aneh lagi. Sementara Agus Kuncir bekerja, Marinka akan duduk di basecamp (baca: tumpukkan jok mobil yang sudah tak terpakai).


Siang itu begitu terik. Marinka beranjak membeli sekantong es berperisa jeruk lalu duduk kembali di singgasananya. Hiruk-pikuk keadaan terminal seolah menjadi dingin sejuk setiap kali aliran es mengalir ke kerongkongan. Semuanya tetap setenang itu sebelum tiba-tiba seseorang datang merampas kantong es yang tengah dinikmati Marinka dengan paksa.


“Heh!” seorang perempuan hamil melotot sembari berkacak pinggang di depannya. Marinka nyaris iba melihat kepayahan perempuan kecil membawa bayi di dalam perutnya. Tetapi sedetik kemudian ia kembali memasang tampang garang.


“Gak ada sopan-sopannya pisan, maneh!” Marinka berdiri dengan marah.


“Elu yang kagak sopan. Dasar pelakor!”


“Pelakor?”


Sedikit terkesima dengan satu kata itu yang langsung menembus ulu hatinya. Marinka lengah saat sebuah tas jinjing wanita itu mendarat di kepala.


Bingung berganti marah, Marinka membalas seperti orang kesetanan. Peduli apa bahwa perempuan yang tengah duel dengannya ini dalam kondisi hamil. Ia tengah marah, sedih, kecewa, apalagi saat beberapa orang mulai datang melerai; termasuk Agus Kuncir yang ternyata lebih memilih memeluk perempuan hamil itu daripada ia yang baru beberapa minggu ini resmi menjadi istrinya.


Marinka marah, sedih, kecewa, ditambah lagi frustrasi. Setelah kejadian itu, ia tak bisa menemukan Agus Kuncir lagi di mana pun. Bahkan lelaki itu tak pulang ke rumah kontrakan mereka. Ia menjadi sepenuhnya mengerti, mengapa Agus Kuncir tak pernah absen menyuruhnya meminum pil pencegah kehamilan semenjak di awal pernikahan mereka yang begitu penuh cinta.


***


“Tak ada pulang rupanya kutengok suamimu itu?” Atu Miru—tetangga kontrakkannya—menyongsong pertanyaan ketika Marinka lewat di depan kamar kontrakan perempuan nyaris paruh baya itu. Tak ada lagi daya yang tersisa. Marinka hanya melewati begitu saja tanpa menanggapi apa-apa.


Dipikir, Atu Miru hanya satu-satunya pengganggu. Selang beberapa menit saat Marinka berhasil merebahkan punggungnya di kasur lantai, suara ketukan pintu—yang lebih mirip gedoran—mengganggu istirahatnya.


“Tidak pulang si Agus kampret itu?” Paijo—pemilik kontakan—bertanya dengan membusungkan dada angkuh. Hanya jika berhadapan dengan Agus Kuncir, nyalinya akan menciut. “Bagus! Biar tak usah pulang saja dia itu. Sekalian kau pun angkat kaki di rumahku ini. Sekarang!” lanjutnya lagi.


“Pergi sana! Kampret betul kalian berdua ini. Kalian pikir bangun kontrakan ini pakai uang bapak kalian? Main numpang-numpang tidur gratis saja.”


Marinka diam. Bukan tak ingin membela diri, hanya saja tubuhnya terasa sangat lemah. Ia tak bergerak sama sekali bahkan ketika kepalanya membentur lantai dan tiga kali tendangan mendarat di perutnya dengan keras. Dunianya berhenti. Marinka sepenuhnya tak sadarkan diri.


***


“Ini teh Rin-rin? Duh gusti, lama nggak pulang. Bikin pangling.”


Marinka tersenyum sembari mengingat-ingat siapa lelaki tua yang menyapanya tadi. Di tengah-tengah kebuntuan ingatannya, seseorang datang menghampiri. Marinka merasa sedikit beruntung.


“Assalamualaikum. Sudah lama, Teh?”


“Waalaikumsalam. Nggak, Wan.”


“Mang Ading, saya duluan ya,” pamit Wawan yang akhirnya membuat Marinka mengingat sosok lelaki tua itu.


Marinka berjalan mengikuti lelaki muda bernama Wawan yang tak lain adalah adiknya sendiri. Di kaki gunung Bubut, Marinka berasal dan ke sini pula, Marinka pulang. Lama tak saling bertukar kabar, perjalanan menuju jalan desa menuju rumahnya yang lumayan jauh hanya diisi dengan keheningan. Tak ada yang berinisiatif memecah keheningan di antara keduanya.


“Istirahat dulu, Teh. Habis itu kita makan. Wawan sudah masak sejak pagi tadi.”


Marinka menengok jam yang hampir menunjukkan angka sebelas. Ia ingat belum makan apa-apa sejak perjelanan semalam, tetapi aneh, perutnya tak merasakan lapar sedikit pun.


“Umi sama Abah ke mana?” tanya Marinka tanpa menggubris kalimat Adiknya tadi.


Wawan tak menjawab. Ia pergi ke dapur lalu kembali ke ruang tamu dengan membawa segelas air. Marinka merasa asing. Baru kali ini ia merasa menjadi tamu di rumahnya sendiri. Ralat. Di rumah orang tuanya.


“Diminum dulu. Teteh kelihatan capek sekali.”


“Umi sama Abah ke kebon?”


Wawan tak menjawab, hanya mengembuskan napasnya keras-keras. Marinka bingung, sedikit ngeri melihat perubahan ekspresi Adiknya.


“Kenapa?” tanyanya lagi hati-hati.


“Ayo, Wawan antar Teteh ketemu Umi sama Abah.”


Seketika Marinka bangkit dan bergegas memasang kembali sepatu dan mengikuti Wawan berjalan menuju ke arah ladang yang dipenuhi alang-alang.


“Kenapa berhenti? Abah lagi garap sawah orang?” tanyanya ketika Wawan berhenti di sebuah pemakaman warga. Seingat Marinka, kebun sepetak milik abahnya masih di depan sana.


“Nggak, Teh. Abah sama Umi di sini.”


Marinka menegang di tempat. Tubuhnya mendadak terasa dingin. Teramat dingin. Ia merasa kepalanya dipukul oleh sesuatu yang membuat kakinya tiba-tiba menjadi selemas agar-agar. Sedetik kemudian, Marinka menjerit histeris.


_______

Penulis


Rosyidatul Munawaroh lahir di Cianjur tahun 1995. Aktifitas sehari-harinya bekerja sebagai karwayan di perusahaan multinasional yang bergerak di bidang manufaktur. Suka membaca cerpen dan sesekali menulis satu dua buah walaupun lebih seringnya jadi arsip pribadi. Saat ini sedang melanjutkan Pendidikan Magisternya di Universitas Suryakancana Cianjur Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com