View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Postingan Terbaru

Wednesday, November 29, 2023

Puisi Jawa Banten Encep Abdullah | Gare-gare Bacot

Puisi Jawa Banten (Jaseng) Encep Abdullah



Gare-gare Bacot


Awal mulane adem mayem 

Keuripan ning sebuah kampung 

Puguh-puguh Rojali ngebacot

Akune Jupri selingkuh kelawan Munah


Rabine Jupri ngerungu

Balik-balik Jupri digeletok centong

Pawone awur-awuran kaye tai jaran


Jupri ore weruh ape-ape

Ore weruh salahe ape

Rabine uring-uringan jaluk pegatan

Jupri kukur-kukur endas lan silit


"Iki kayane ulahe Munah," jereh Jupri

Wadon sing bengen pernah ditolak deweke

Laju Jupri marani dukun

Rai-raine ning baskom kedelenge mirip si Munah

"Wis ore salah maning," jereh Jupri.


Cangkem uwong meladar-melider gelati kuping

Sampe ning kuping Munah

"Kurang asem si Jupri, wismah nolak kite,

nuduh kite gune-gune rabine maning. 

Ore terima kite. Kaye wong iku saking gagahe bae.

Ules kaye silit kebo bae akeh lagane!" jerehe.


Sekampung teriwuh

Cangkem uwong ore kedeleng sumber asline

Nguyab merana-merene 

Kaye laron-laron mabur ning musim penghujan


Jupri lan Siti masih tetukaran

Rojali khusyuk maen kerambol ning gardu 

Wong edan lan kucing akur 

Mangan sekul basi ning sor wiwitan


November, 2023


_________


Penulis


Encep Abdullah, penulis sing doyan mangan endog ayam setengah mateng.



Kirim naskah ning

redaksingewiyak@gmail.com


Monday, November 27, 2023

Karya Siswa | Pelukan sang Maut | Cerpen Maria Valentine

Cerpen Maria Valentine



Deburan ombak menerjang sang tebing curam di bawah langit malam itu. Seorang gadis berumur 16 tahun berdiri tegak di pinggir tebing sambil menatap kosong sang lautan terjal dibawahnya. Ia sudah berada di tempat itu selama 6 jam bersama dengan lamunan kosongnya. Esok adalah hari ulang tahunnya yang ke-17. Walau umurnya belum genap 17 tahun, ia ingin meminta sesuatu kepada Tuhan sebagai hadiah ulang tahun. Tepat pukul 23.59, ia memohon kepada Tuhan, dengan keras ia berteriak, 


“Tuhan sang penguasa, jikalau kau masih menyayangiku, izinkan aku untuk bertemu ayah dan ibuku kembali.”


Ombak dan lautan adalah saksi bisu dari teriakan terakhirnya. Tepat pukul 00.00, tubuh seorang gadis bernama Alea Alinka jatuh ke dalam pelukan perairan asin di bawah tebing curam itu. Minggu, 16 Juli 2023, pukul 00.00, sang bumi kehilangan salah satu penduduknya, sang kakak kehilangan adik perempuannya, sang teman kehilangan tempat berceritanya, mirisnya, sang ayah dan ibu mendapatkan kembali pelukan putri kecil mereka.


Seorang pria berumur 23 tahun dengan bahu tegap memasuki pekarangan rumah besar, ia mengetuk pintu sambil memanggil nama Alea, adik kecilnya, namun tak ada jawaban dari dalam rumah itu. Ia berpikir, "apa dia belum bangun?" Akhirnya pria bernama Noeh Khiaro itu mencari kunci rumah di tempat yang biasa Alea taruh kunci itu, apabila ia pulang telat dan tidak ada orang di rumah. Ia mendapat kunci itu dan membuka pintu rumahnya. Kosong, batinnya. Ia meletakkan tas dan memanggil nama Alea, namun tetap tidak ada jawaban dari adiknya. Akhirnya ia mengecek semua ruangan yang ada di rumah itu, namun nihil, tak ada adiknya, padahal ia sudah mengecek seluruh sudut rumah itu. Mungkin dia lagi ngambek dan merayakan ulang tahun dengan temannya. Ya, salahku juga meninggalkannya selama satu minggu tanpa kabar apa pun, pikir Noeh. 


Akhirnya ia membersihkan tubuhnya dan merapikan barang bawaannya. Saat mulai membongkar isi tasnya, ia menemukan suatu kotak musik yang ia beli dari perjalanan kerjanya selama satu minggu itu, benda itu ingin ia berikan sebagai hadiah ulang tahun ke-17 adiknya. Karena Alea sedang tak di rumah, ia akan memberi kotak musik itu nanti. Ketika ia sudah selesai merapikan barang bawaannya, ia merasa lelah dan tertidur di atas kasur empuk di dalam kamarnya. Ia tidak tahu bahwa tubuh sang adik sekarang sudah tertidur di dalam pelukan laut yang ganas.


Sudah 5 jam terlewat semenjak ia pulang ke rumah. Sekarang jarum pendek jam menunjuk ke angka 3 menuju 4. Noeh terbangun dari tidur dengan keringat di tubuhnya, padahal pendingin ruangan saat itu masih menyala.

 “Hanya mimpi buruk,” ucap Noeh. Ternyata ia telah mengalami mimpi buruk di tidurnya. Di mimpi itu, seseorang memanggil-manggil namanya, namun ia tak tau dari manakah suara itu berasal. Karena rasa penasarannya mencuak dari dalam benaknya, ia pun mempercayai dan mengikuti instingnya, sampailah ia di suatu tempat yang asing. Tempat itu aneh, terasa lembab, kosong dan hampa. Ia melihat sesuatu terbaring di atas tanah di depan sana, hal itu membuatnya rasa penasarannya semakin besar dan berjalan ke arah tempat itu. 


Tak disangka, Noeh malah melihat tubuh adiknya yang pucat. Tubuh Alea tampak seperti mayat. Adiknya terbaring tenang di tempat itu dengan senyuman yang paling indah yang pernah Noeh lihat. Mata Alea memiliki kantung mata yang tebal, mukanya terlihat lelah namun tenang. Ia pun berjongkok di samping tubuh adiknya itu. Noeh menyentuh tangan Alea, tangan itu sangat dingin. Rasa khawatirnya muncul. Jarinya diarahkan ke lubang hidung Alea. 


“Tak ada nafas yang mengembus,” ucapnya. Ia pun langsung mengecek denyut nadi di tangan kiri Alea. Sayang sekali, denyut nadi Alea telah berhenti. Alea telah meninggal dunia. Seketika bayangannya pudar dan terbangun dari alam bawah sadarnya. 


Nafas Noeh tersenggal-senggal, ia duduk di pinggir kasur dan kemudian melihat notifikasi di handphonen-nya, hanya ada notifikasi berita, iklan dan beberapa pesan dari teman kerjanya. 


“Padahal lagi hari Minggu, tapi banyak sekali pesan yang mereka kirimkan, mengganggu waktu liburku saja.” ucap Noeh dengan nada menyebalkan. Saat sedang menghapus notifikasi pesan itu, atensinya tertarik dengan pesan yang terkirim dari 3 jam yang lalu. Pesan itu dikirim oleh Arbey, teman Alea. Ia pun membaca isi pesan itu melalui notifikasi yang muncul di layar handphone.


Arbey:


“Halo Kak, Alea sedang bersama Kakak, bukan? Kalau iya, tolong sampaikan kepadanya untuk membaca pesanku ya. Soalnya dari jam 7 pagi tadi pesanku sama sekali ga dibaca sama dia. Kalau sudah kakak sampaikan, makasih banyak ya Kak.”  


Isi pesan Arbey membuat Noeh bingung. Bukannya Alea harusnya sedang bersama dengan Arbey untuk merayakan ulang tahunnya? Pikir Noeh. Ia pun membuka pesan itu dan membalasnya.


Noeh:


“Halo juga Arbey, aku lagi ga sama Alea nih, bahkan dari saat aku pulang, dia udah ga ada di rumah. Aku mikirnya dia lagi ngerayain ulang tahunnya bersama kamu dan teman lainnya. Kamu boleh bantu aku buat tanya ke teman-temannya ga? barang kali ada yang lagi bersama dengan dia.”


Noeh mulai gusar. Pikirannya mulai ke mana-mana karena pesan dari Arbey. Balasan dari Arbey pun muncul. Ia mulai membaca dengan pelan-pelan, berharap jawabannya yang ia inginkan muncul.


Arbey:


“Waduh Kak, tadi sebelum aku bertanya ke kakak, aku sudah duluan bertanya ke teman-teman Alea lainnya, tapi ga ada yang lagi bersama Alea Kak, bahkan mereka juga ga melihat Alea di jalan. Makanya itu, aku bertanya ke Kakak. Kalau aku ada informasi baru tentang Alea, bakalan langsung aku kasih tau ke Kakak deh.” 


Noeh semakin gusar, ia pun mengambil kunci motor dan jaketnya. Sebelum ia pergi mencari Alea, ia membalas pesan Rachel dan berterima kasih atas informasi yang diberikan perempuan itu.


Noeh mengendarai motor dengan kecepatan kencang. Ia membelah jalanan sore yang untungnya sedang sepi. Hanya ada beberapa toko dan kios yang buka, bahkan jalanan yang ia ingat sekali sering didatangi banyak orang tiba-tiba menjadi sepi dan kosong. Langit mulai menggelap, padahal jam tangannya masih memperlihatkan pukul 4 lewat, mungkin mendung ini datang untuk menggambarkan perasaan dan keberadaan adiknya yang yang belum jelas itu. Ia mendatangi toko kue, toko buku, taman, dan beberapa rumah teman adiknya, serta tempat lain yang sering Alea datangi untuk memastikan keberadaan Alea. Namun sayangnya, ia tak menemukan Alea ataupun jejak keberadaannya sedikit pun. 


Langit mulai meneteskan air matanya. Noeh kesal, langit seperti ingin mengejek Noeh yang memang ingin menangis dari tadi karena ia sudah melewati 2 jam untuk menemukan Alea, namun hasilnya tetap saja nihil. 


“Padahal hari ini ulang tahunnya yang ke-17, tapi entah kemana dia pergi,” ucap Noeh dengan lesu. 


Ia memang sudah mengunjungi semua tempat yang sering adiknya singgahi. 


“Aku lupa mengunjungi tempat itu, mungkin saja ia sedang di situ,” ucap Noeh. Ia melupakan satu tempat, yaitu kedai makan di pinggir sungai yang sering didatangi keluarganya dulu, yang setiap harinya masih terdapat kejadian menyenangkan. Kini tinggal kenangan yang menghantui dirinya. Selama 2 tahun, ia tidak pernah mengunjungi kedai makan tersebut, hanya adiknya saja yang datang. Ia malas untuk mengingat kenangan tentang masa lalu keluarganya lagi. Karena setiap kenangan itu muncul, fakta tentang orang tuanya yang telah meninggal 2 tahun yang lalu juga ikut muncul. Kini ia hanya ingin fokus dengan adiknya. Jika adiknya sudah hidup bahagia dan tenang, artinya ia sudah menepati janji 2 tahun lalunya pada kedua orang tuanya itu. Tak ingin membuang waktunya lebih lama, ia menancapkan kunci motor dan memakai helmnya kembali. Ia mengendarai motor dengan kencang, berharap menemukan adiknya di sana.


Ia telah sampai di kedai makan itu. Tempatnya tidak jauh berbeda dari 2 tahun sebelumnya. Ia memarkirkan motornya dan melepas helm yang dari tadi ia pakai selama berkendara. Ia melangkahkan kakinya, wangi harum makanannya tetap sama, pelanggan kedai itu sudah mulai berkurang karena hari sudah mulai menggelap. Sebagian pekerja ia kenal, sebagiannya lagi tidak. Dalam waktu kurun dua tahun, beberapa hal telah berubah. Ia memejamkan mata selama 5 detik dan menghela nafas, berharap kebiasaan emosionalnya itu tidak datang lagi.


Matanya mulai mengitari bagian dalam kedai itu, mencari sosok adiknya, namun ia tetap tidak mendapati adiknya di situ. Ia berjalan ke bagian kasir. Kebetulan sekali, yang sedang memegang bagian kasir adalah pemilik langsung dari kedai itu, pemilik kedai itu masih mengingat Noeh. 


“Halo Nak, sudah lama kita tidak bertemu, bagaimana kabarmu?" tanya Bill, pemilik kedai makan itu. Paman Bill menepuk bahu kanan Noeh sembari mengatakan hal itu. 


“Halo paman, maaf baru mengunjungi kedaimu lagi setelah 2 tahun, kabarku baik-baik saja,” jawab Noeh. 


“Hm, tidak apa-apa. Oh ya, ada apa kedatanganmu secara tiba-tiba kemari? Tidak mungkin hanya untuk makan kan? hahaha,” ucap paman Bill sambil tertawa. Tebakan Paman Bill benar, ia datang dengan maksud tertentu. 


“Paman, apakah Alea mengunjungi kedai hari ini?” tanya Noeh. 


“Hm...  sepertinya tidak, dari pagi aku berada di kasir, Alea tidak datang ke sini,” ucap Paman Bill. Noeh semakin khawatir, ia pun berterima kasih kepada Paman Bill dan izin pamit pergi kepadanya.


Noeh meninggalkan kedai itu dengan perasaan frustrasi. Ia bingung harus melakukan apa lagi untuk menemukan adiknya itu. Tak pikir lama, ia mulai bertanya kepada pejalan kaki yang ada di sekitar sungai dekat kedai itu. Semua orang mengatakan tidak pernah melihat Alea hari ini, bagaikan keberadaan sang gadis telah lenyap dari muka bumi. Sampai seseorang datang dan mengatakan “Kalau sedang mencari orang hilang, lebih baik minta bantuan kepada polisi saja. Hm... kemarin sekitar jam 8 malam aku melihat seseorang di dekat tebing curam itu, kalau mau cari di daerah situ saja, jangan membuang waktumu dengan bertanya kepada pejalan kaki yang statusnya hanya sebagai wisatawan,” ucap orang asing itu. 


Noeh berterima kasih kepada orang itu. Ia memang berniat melapor kepada polisi, namun kasus hilangnya Alea belum 24 jam. Akan susah untuk melapornya. 


“Tebing curam itu ya, untuk apa Alea ke sana? Itu pasti bukan dia kan?" ucap Noeh dengan lirih.


Ia berusaha menyampingkan pikiran buruknya itu. Kunci motor sudah tertancap di motornya. Helm pun sudah ia pakai, namun perasaan aneh di hati masih menahan dirinya untuk bergerak. Otaknya sangat penasaran, tubuhnya memaksa untuk bergerak, namun hatinya belum siap. Rasanya masih ada yang menjanggal. Akhirnya, ia memantapkan perasaannya, ia yakin bahwa ia sudah siap untuk menerima kenyataan apa pun nantinya. Ia menyalakan motor dan berkendaraan dengan kecepatan sedang. Langit yang mulai malam itu menemani dirinya yang telah dirusak oleh pikirannya sendiri. Hawa dingin mulai memeluknya dari depan, namun tidak ia hiraukan. Ia membelah jalanan sepi di malam itu dengan kekhawatiran yang menghantuinya.


Noeh memarkirkan motornya di parkiran dekat tebing itu. Ia menatap lautan lepas di depannya. Suara ombak mulai menyapa indera pendengarannya. Tak tunggu lama, ia meninggalkan parkiran yang hanya diisi motornya itu. Ia menaiki anak tangga satu per satu. Tiba di anak tangga terakhir, pemandangan di atas tebing itu sudah terlihat. Deburan ombak semakin terdengar jelas. Noeh menutup matanya dan menghela nafas. Ia menaiki anak tangga terakhir itu, dan sampai pada puncak tebing curam itu.


Matanya menatap tajam ke segala sisi tebing, dan berhenti ketika menemukan sesuatu di pinggir tebing itu. Langkah kaki membawanya ke sisi tepi tebing, semakin mendekat semakin jelas bayangannya. Kini terlihat jelas, ada sepatu berwarna hitam di sana. Tak hanya sepatu, di sana juga ada dompet kecil berwarna biru. Barang-barang itu tak asing baginya. Ia mengambil dompet itu. 


“Dompetnya seperti pernah kulihat,” ucap Noeh. Ia membuka dompet itu, beberapa kartu terpajang di dalamnya. Salah satunya ialah kartu pelajar. Noeh mengambil kartu pelajar itu, berniat untuk melihatnya, ia penasaran siapa yang membiarkan dompet dan sepatunya tergeletak di sini.


Saat mulai membaca data diri pelajar itu, matanya seperti ingin keluar. Betapa kagetnya ia, kartu pelajar itu milik dari adiknya sendiri. Ia mengecek ulang data diri pelajar itu, dan benar memang itu adalah milik adiknya. Tak kuat dengan kenyataan yang baru ia terima, tangannya gemetar dan menjatuhkan dompet beserta isinya. Ia takut, takut jika pikiran buruknya itu benar. 


“Alea, Alea, kamu di mana? Kamu dengar suara kakak, kan? Alea!” seru Noeh, suaranya gemetaran, mencerminkan ketakutan yang sedang ia alami. Ia mengambil sepatu itu, ternyata dibawahnya ada kertas kotor kecil yang sudah terkena noda dari debu sepatu itu. Ia mengambil surat itu, dan membacanya. 


Kalau ada yang udah menemukan kertas ini, artinya aku udah pulang.


Jangan cari aku, aku sudah tertidur dipelukan sang laut.


Air mata yang menetes mulai membasahi kertas kecil itu. Noeh meremas kertas itu dalam tangannya. Teriakan pilu dan tangisan keras terdengar dari atas tebing curam itu. Adik kecil yang selama ini bersikap seperti lautan lepas yang menghasilkan deburan ombak yang besar dan megah, ternyata sebuah sebuah danau yang sunyi dan tenang. Saking tenangnya, tidak ada yang tau kemana perginya ia sekarang.


Noeh hancur, jiwanya seperti sudah pergi ketika membaca isi kertas itu. Kakinya tak lagi kuat untuk menopang badannya. Tubuhnya duduk di pinggir tebing itu, membayangkan serapuh apa adiknya sampai harus menghilangkan nyawanya sendiri. Ia kecewa dengan adiknya, namun ia lebih kecewa dengan dirinya. 


“Kakak macam apa aku ini,” lirih Noeh. Noeh menatap ke arah lautan, tatapannya kosong, tetesan air masih mengalir dari matanya. Kini ia telah ditinggalkan sendirian oleh keluarganya.


Deburan ombak dan hawa dingin menjadi pendengar setia tangisannya. Pikirannya kacau balau, bisikan-bisikan memenuhi telinganya. Ia berdiri tegak dan melepas sepatunya, menyisakan kaos kaki di telapak kakinya. Ia tak sanggup lagi untuk hidup sendirian. 


“Maaf karena menyerah, aku mau bertemu dengan kalian juga” lirih Noeh. Tubuhnya terjatuh kedalam pelukan sang laut. Kini sang laut telah menyimpan tubuh kakak beradik di pelukannya. Malam itu, seorang jiwa laki-laki pergi berkumpul dengan keluarganya. Minggu, 16 Juli 2023, pukul 20.00, sang bumi kehilangan salah satu penduduknya lagi, sang teman kehilangan tempat berceritanya, mirisnya, sang ayah, ibu dan adik mendapatkan kembali pelukan dari anak laki-laki pertama keluarga mereka. 


Sang laut menjadi tempat dan alasan berkumpulnya kembali keluarga kecil itu. Kita harus menyalahkan laut atas kepergian dari Alea Alinka dan Noeh Khiaro? Atau malah berterima kasih kepada laut karena sudah mempertemukan kembali keluarga mereka? Laut yang terkadang dipandang tempat tenang dan damai, bisa menjadi tempat yang ganas dan lepas. Danau yang dikira tempat menakutkan dan dalam, bisa menjadi tempat yang damai dan tenang. Semuanya itu tergantung dari cara kalian memandang masalahnya. 


_________


Penulis


Maria Valentine, siswa SMPN 1 Kota Serang kelas VIII B.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Friday, November 24, 2023

Berita | Prof. Dr. K.H. Din Syamsuddin, M.A. Hadiri Undangan "Milad Muhammadiyah ke-111" di Pontang


NGEWIYAK.com, KAB. SERANG -- Masjid Darul Arqom pada Jumat (24/11) disesaki jamaah pengajian. Jamaah yang datang berasal dari berbagai penjuru kecamatan se-Kabupaten Serang, baik dari unsur pengurus/anggota Muhammadiyah maupun dari masyarakat umum. Mereka datang untuk memenuhi undangan Kegiatan Silaturahim dan Pengajian Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kab. Serang dalam rangka Milad Muhammadiyah ke-111. 


Pada tahun ini PDM Kab. Serang tidak tanggung-tanggung mengundang sosok tamu penceramah. Panitia mengundang tokoh besar Muhammadiyah, Prof. Dr. K.H. Din Syamsuddin yang merupakan Ketua Umum PP Muhammadiyah 2005-2010 dan 2010-2015.


Kegiatan akbar ini diawali pada pagi hari dengan Pawai Milad oleh 'Aisyiyah PCM Pontang dan PDM Kab. Serang, juga lembaga pendidikan Muhammadiyah mulai dari tingkat TK, MI, SMP, hingga SMK yang ada di Kec. Pontang. Dilanjut dengan silaturahim pimpinan dan anggota majlis/lembaga Muhammadiyah, serta pengukuhan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) periode 2022-2027 yang dimulai menjelang Jumatan. 



Siang hari bada Jumatan dilanjut acara inti, yakni pengajian akbar oleh Prof. K.H. Din Syamsuddin, M.A., tepatnya di Aula Masjid Darul Arqom Pusdam Pontang, Kp. Pasar Sore (Begog Arqom), RT/RW 004/001, Ds. Singarajan, Kec. Pontang, Kab. Serang.


Ketua Pimpinan Daerah (PDM) Kab. Serang, Mabrur, Ams., dalam sambutannya mengatakan bahwa agenda ini adalah murni pengajian akbar dan bukan untuk ajang kampanye atau politik praktis. 


"Meskipun tidak sedang berpolitik praktis, kami juga bukan antipolitik. Bahkan di sini juga kami mengundang beberapa politikus atau caleg dari kader Muhammadiyah. Silakan pilih yang paling baik. Kami serahkan kepada Anda. Tapi, intinya di sini, diingatkan lagi adalah memperingati kegiatan Milad Muhammadiyah ke-111, yakni pengajian akbar," tambah Mabrur.


Senada dengan Sekretaris Umum PWM Banten, Prof. Dr. K.H. Zakaria Syafei, M.Pd., mengatakan bahwa dalam kegiatan pengajian akbar ini adalah tempat saling silaturahmi. 


"Berbicara masalah milad, tentunya kita ingin kembali melihat atau melakukan muhasabah, terutama untuk Muhammadiyah ini. Apa yang sudah dikerjakan dan belum dikerjakan. Momentum ini untuk melakukan penilaian kinerja kita selama ini yang masih banyak kekurangan. Kita harus meningkatkan kualitas. Terutama kualitas pribadi, istiqamah, menjadi manusia yang bernilai dan kuat. Mari kita tunjukkan keteladanan. Kita harus menunjukkan bahwa kita bisa berkarya ketimbang banyak berbicara. Upaya ini harus terus digelorakan," jelas Zakaria.


Menurutnya lagi, secara organisasi, terutama para pimpinan Muhammadiyah, harus lebih progresif. 


"Saya berbangga hati, terutama PDM Kab. Serang yang mulai berkembang sejauh ini di bawah pimpinan Pak Mabrur. Harapan saya di setiap wilayah Kabupaten Serang ini, banyak pimpinan cabang Muhammadiyah yang terbentuk," ungkap Zakaria lagi.


Pengajian Umum Milad ke-111 Muhammadiyah ini bertemakan "Dari Muhammadiyah untuk Rakyat Palestina". Sesuai dengan tema kegiatan ini, panitia juga menggalang dana untuk Palestina. Dalam kesempatan ini panitia memberikan secara simbolis kepada LAZISMU. Dana yang terkumpul sebanyak 22 juta rupiah.


Prof. Dr. K.H. Din Syamsuddin, M.A., selaku tamu penceramah, mengatakan bahwa ia sangat berbahagia bisa hadir di Kec. Pontang, Kab. Serang. Terkait dengan tema Palestina, ia mengatakan bahwa sebagai umat Islam harus memandangmya sebagai masalah keagamaan. Yang terjadi di sana menurutnya adalah ancaman terhadap umat Islam, khususnya terhadap kiblat pertama umat Islam.



"Yerussalem adalah kota suci umat Islam. Solidaritas kepada Palestina adalah membela umat Islam. Masalah Palestina adalah masalah Islam. Tiga alasan saya pribadi mendukung Palestina, yakni karena keagamaan, kemanusian, dan terakhir perlu diketahui bahwa bangsa pertama yg mengakui kemerdekaan Indonesia adalah Palestina, tepatnya setahun sebelum Indonesia merdeka, yakni 6 Sept 1944, Palestina sudah mengakui Indonesia merdeka," jelas Din Syamsuddin.


Para tamu undangan begitu antusias mendengar tausiyah dari Ketua Umum PP Muhammadiyah yang pernah menjabat dua periode itu. Sesekali jamaah juga diajak tertawa oleh tokoh besar Muhammadiyah tersebut.




(Red/Encep)


Tuesday, November 21, 2023

Proses Kreatif | Catatan Harian dan Kematian

Oleh Encep Abdullah



Sebulan terakhir ini, saya bermesraan dengan peristiwa kematian. Ada 6 orang yang meninggal: 1 istri rekan guru, 1 ayah seorang murid, 2 tetangga, 2 murid. Satu di antaranya saya ikuti prosesnya dari awal hingga mengantarkan jenazahnya ke pemakaman (malam Jumat Kliwon pula, dimakamkan pukul 23.00 hingga tengah malam teng!). Tak banyak kata-kata, tapi semuanya berbicara. 


"Ada suara yang tidak menggunakan kata-kata. Dengarkanlah." (Rumi)


Dalam buku Makrifat Sakit dan Kematian, Haidar Bagir menulis, "Mati sebenarnya adalah realisasi-puncak kerinduan primordial anak manusia untuk kembali ke asalnya." Rindu, ya, rindu, bahasa yang barangkali lebih syahdu ketimbang menyebutnya dengan "mati". Tentu, kita semua akan mengalami apa yang disebut "rindu" itu. 


Dua bulan yang lalu, saya juga mengalami "rindu" itu dalam mimpi. Di sana, seluruh kisah hidup saya dinarasikan dengan sangat detail. Saya tidak tahu dari mana sumber suara itu. Terdengar, tapi tak tampak siapa yang mengatakannya. Lamat-lamat, saya diseret hingga mendekati sumber suara itu, semakin dekat. Narasi-narasi itu terus digaungkan dan tubuh saya makin lama makin panas. Saat tubuh saya memanas, saya melihat ada sesosok manusia di sebelah kanan saya, ia sedang salat. Tapi, berbentuk cahaya. Saya tidak tahu itu siapa. Lalu, cahaya itu menerangi sekitar hingga saya pun terbangun. Saya gelagapan. Saya berasa berada di alam lain. Mata saya pelan-pelan terbuka, yang saya lihat pertama kali adalah gambar (poster belajar anak-anak saya) yang tertempel di tembok, rukun iman dan rukun Islam. Lalu, saya melihat wajah anak saya, Hamka. Langsung saja saya ciumi ia. Artinya, saya masih berada di alam dunia. Saya berucap syukur masih diberikan kesempatan hidup. Oke, itu cerita saya. Bukan ini yang mau saya ceritakan dalam catatan ini. 


Saya akan bercerita tentang anak murid saya, Adilah. Ia meninggal karena DBD yang sudah menyerang syaraf kepala. Ketika di perjalanan menuju rumahnya, tepatnya di mobil, rekan saya menyodorkan buku catatan anak ini yang diambil dari lemari almarhumah di asrama. Ada tiga buku catatan. Sebenarnya saya tidak mau baca karena saya yakin pasti akan bikin sedih. Tapi, saya coba kuatkan. Saya baca satu per satu. Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, saya baca sampai tuntas hingga kepala saya pusing dan agak mual karena fokus baca di mobil. 


Di awal catatan Adilah menulis


"Umi, Dilah pengen pulang, tapi ... jangan dibawa ribet, terkadang mulut salah berucap."


Ada frasa "pengen pulang" di situ yang maknanya ambigu. Dalam beberapa catatan lainnya, terutama menjelang kepergiannya, Adilah juga menulis 


"Pengen pulang, kapan pulang, kapan Dirga Zicco ke Bekasi, kapan pulang, kapan pulang, kapan pulang, ...."


Dirga ini teman dekatnya waktu SD yang mungkin dirindukannya. Tapi, konteks "kapan pulang" dalam tulisan terus diulang. Juga pada beberapa tulisannya yang lain. Sebagian lagi tulisannya berisi kondisi batinnya terhadap sebagian temannya yang kurang suka kepadanya. Sedangkan ia tak punya teman cerita untuk mengungkapkan semuanya. 


Dalam salah satu tulisan Adilah, ia bilang bahwa ia sangat menikmati menulis catatan hariannya itu. Sebagian lagi ia bilang ingin teriak, tapi tidak bisa. Ingin memaki, tapi tidak bisa. Ia terkontrol oleh motivasi dirinya yang ingin selalu dekat dengan Allah. Ia menahan semuanya. Ia sudah membatin luar biasa. Luapan-luapan dalam tulisannya mengisyaratkan kelelahan jiwa yang teramat dalam. Bahkan ada 3-4 catatan yang terus ia tulis, katanya apakah lebih baik harus mati saja agar teman-teman yang tak suka kepadanya itu senang. Begitu seterusnya. Dalam satu kondisi ia ingin bertahan, di satu sisi ia tak kuat menahan. Tubuhnya ada di tempat, tapi jiwanya meluap dan terperangkap.


"Gak boleh nyerah, ingat ada orang yang harus kamu banggain yaitu orang tuamu. Jadi harus semangat, oke. Orang tua anti (baca: kamu) aja semangat nyari uang, masa anti (baca: kamu) nggak."


Menulis bagi Adilah menjadi ruang meditasi untuk meminimalisi rasa sakit yang begitu dalam baginya. Hanya itu cara satu-satunya ketika ia tak percaya kepada siapa pun manusia di dunia ini selain Tuhan dan catatan hariannya. 


Saya teringat dengan diri saya, zaman SMA, di mana rasa sakit itu saya tuangkan ke dalam catatan harian saya. Karena saat itu, hanya medium itu yang bisa saya tulis. Batin saya rusak begitu parah. Saya tak bisa meluapkan kepada manusia, bahkan orang tua. Catatan harian itulah yang melegakkan batin saya. Barangkali sejak saya berkenalan dengan diary, lalu beranjak kepada sastra dan musik, segala unek-unek bisa saya tumpahkan semua ke arah sana. Unek-unek menjadi bentuk lain: seni. Dan beban saya "yang terparah itu" kian terlampiaskan. Menulis memang tidak menyelesaikan masalah, tapi ia bisa menjadi pereda nyeri segala masalah. Seperti mungkin juga surat-surat R.A. Kartini yang pernah kita baca itu. Begitu berharganya luapan-luapan dalam diri saat dituangkan dalam tulisan. Begitulah yang saya rasakan saat membaca catatan anak murid saya itu.


Lalu, saya juga teringat catatan Rainer Maria Rilke kepada Franz Kappus.


"Selama ini Anda hanya melihat keluar, dan pada saat ini hal itu adalah satu-satunya yang mengganggu kreativitas Anda. Tidak ada orang yang bisa menasihati Anda atau membantu Anda untuk menjadi penulis yang lebih baik—tidak seorangpun. Hanya ada satu cara bagi Anda untuk melakukannya: Anda harus melihat ke dalam diri Anda sendiri. Carilah alasan kenapa Anda ingin menulis; rasakan apakah alasan itu telah menanamkan akarnya jauh ke dalam diri Anda, hati Anda, hingga Anda lebih baik mati daripada diharuskan berhenti menulis. Di atas semua itu, Anda perlu memberanikan diri untuk bertanya kepada diri Anda sendiri: haruskah Anda menulis? Carilah jawabannya di dalam diri Anda. Jika jawaban dari pertanyaan itu sifatnya positif; atau bila Anda menjawab pertanyaan itu dengan lugas dan sederhana: 'Saya harus menulis,' maka saya sarankan bagi Anda untuk mulai membangun hidup Anda sesuai dengan jawaban tersebut. Setiap momen dalam hidup Anda harus Anda dedikasikan untuk menulis. Ini adalah kesaksian Anda."


Adila punya alasan kuat kenapa ia harus menulis, yakni sebagai kesaksian. Saya menyaksikan, malaikat menyaksikan, dan Allah juga menyaksikan. Semua ini pasti untuk diambil pelajaran. Kita jangan berpikir bahwa orang lain sekuat itu saat menghadapi masalah, tapi kita juga jangan berpikir bahwa kita selemah itu dalam menghadapi masalah. Manusia, siapa pun, di mana pun, butuh tempat meluapkan emosi. Kadang, kita lebih memilih bercerita kepada buku ketimbang kepada manusia. Menulis dengan surat dan kata-kata, karena dengan cara itu kita bisa bebas meluapkan perasaan seperti halnya luapan dalam sebuah roman, kisah Hayati dan Zaenudin yang masyhur itu. Dan, terakhir, dengan menuliskannya, kita abadi. Semoga kisah almarhumah bisa abadi dan menebar kebermanfaatan. Semoga Allah menempatkan almarhumah di jannah-Nya. Amin.


"Perpisahan hanya untuk orang-orang yang mencintai dengan matanya. Karena untuk orang yang mencintai dengan hati dan jiwanya, tidak ada kata perpisahan." (Rumi)


Kiara, 21 Nov 2023


_______

Penulis


Encep Abdullah, penulis yang memaksa bikin kolom ini khusus untuknya ngecaprak. Sebagai Dewan Redaksi, ia butuh tempat curhat yang layak, tak cukup hanya bercerita kepada rumput yang bergoyang atau kepada jaring laba-laba di kamar mandinya. Buku proses kreatif terbarunya berjudul Diet Membaca, Ketiban Inspirasi (Maret 2023). 

Friday, November 17, 2023

Puisi-Puisi Muhammad Dzunnurain

Puisi Muhammad Dzunnurain




Meja Redaksi


di atas meja redaksi

kutulis sebuah puisi

bisikan cerita dalam lautan tinta

kutuangkan dalam lembaran doa


ketika pena merayap di permukaannya

menunggu dinginnya kopi robusta

menyuntingnya dengan hati

sebelum redaksi mengkurasi


editor berkejaran

di mana pemikirannya berpadu dalam penantian

kata demi kata disusun

menyeberang lautan, gunung, hutan, dan padang gurun


di atas meja redaksi

kertas tetap setia menyimpan rahasia

dalam setiap barisnya

abadi dalam karyanya


Malang 2023



Penulis yang Sedang Kesepian


cahaya bulan yang pucat

seorang penulis duduk di sudut kamarnya yang sunyi

sepi menghampirinya seperti teman lama yang setia


di meja kayu yang penuh dengan tumpukan buku, pena, dan kertas kosong

ia merenung dalam pikirannya

kata-kata yang telah terlupakan


sekarang berusaha keras untuk kembali dalam kehidupannya

dalam heningnya, ia menjalani perjalanan melalui kenangan

menciptakan dunia-dunia baru yang hanya ada dalam tulisannya


meskipun sepi menghampiri

penulis itu menemukan kekayaan dalam setiap kata

ia menjelma menjadi penyair yang menari dengan kalimat-kalimat indah

menciptakan keindahan dari kesepian yang menemaninya


Malang 2023



Elegi Sebuah Buku


dalam lembaran halaman buku itu

kita adalah karakter utama yang tak terpisahkan

cerita tentang perjalanan yang penuh dengan warna kebahagiaan


dalam lembaran pertama

kita adalah dua jiwa yang belum bersentuhan

tapi dunia akan segera mempertemukan


di tengah-tengah bab berikutnya

di sinilah kisah bermula

percakapan panjang,

senyum bermain di bibir,

mata memancarkan cahaya yang tak terlupakan


setiap halaman kita telah lewati bersama

menghadapi rintangan

mengejar impian

merakit masa depan


namun,

sepertinya halaman terakhir yang tak terelakkan

meninggalkan kenangan dalam kalimat yang tertulis

kita adalah “cerita yang tak akan pernah berakhir”, meski halaman terakhir buku ini telah benar-benar berpisah


Malang, 2023



Titik Kebahagiaan


perjalanan hidup ini

kita semua memiliki kekurangan dan kelebihan

namun, sesungguhnya dari kesempurnaan itulah tujuan yang sulit dicapai


ketidaksempurnaanlah yang membuat kita memberi ruang untuk tumbuh, belajar, dan berkembang

janganlah terlalu keras pada dirimu karena dalam keunikanmu

karena engkau telah menemukan suatu keistimewaan


mungkin, di sisi lain ada yang melihat kelebihan di dalam dirimu yang mereka idamkan

ingatlah, kehidupan adalah perjalanan yang panjang

semua terus berusaha menjadi versi terbaik dari diri sendiri

semoga engkau selalu menemukan kebahagiaan dalam setiap perjalanan


Malang, 2023


________

Penulis


Muhammad Dzunnurain, mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unisma. Aktif di beberapa organisasi intra dan ekstra kampus, salah satunya di Himpunan Mahasiswa Jurusan (English Student Association), LPM Fenomena (FKIP), Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) Malang Raya, PMII Rayon Al-Kindi, Forum Komunikasi Mahasiswa Sumenep (FKMS). Beberapa karyanya telah puisinya telah di muat di media online dan cetak, di antaranya majalah Sidogiri Edisi 179, antologi nulis bareng (Mahir Nulis) Patah (2022), Warta Universitas Surabaya Edisi 335, 338, dan 339, koran harian Bhirawa (2022), Nolesa “Berimbang dan Mencerdaskan” (2022), Negeri Kertas "Jurnal Sastra dan Seni Budaya”(2022), Gerakan “Sadar Membaca” Rumah Baca.id (2022), Rumah Literasi Sumenep (2022), Tiras Times (2022), Riau Sastra (2023), Terminal Mojok (2023), Ngewiyak (2023), koran Suara Merdeka (2023), Jawa Pos Radar Banyuwangi (2023), Times Indonesia (2023), Laman Riau (2023). 



Kirim naskah ke 

redaksingewiyak@gmail.com



Dakwah | Kami Bersamamu Palestina (Membela Kehormatan Al Aqsha dan Kaum Muslimin Palestina)

Oleh Ust. Izzatullah Abduh, M.Pd.



Setiap manusia yang hidup di dunia ini, pasti memiliki amarah. Apalagi ketika kehormatan dan nama baiknya dicemari. Ia akan bereaksi untuk membela dan mempertahankan kehormatannya. Amarah merupakan tabiat sifat bawaan manusia. Disebut sebagai pangkal keburukan apabila diletakkan bukan pada tempatnya atau diletakkan tidak dengan proposional. Maka yang seperti ini adalah amarah yang tercela. Namun amarah menjadi ketegasan, menjadi kewibawaan, menjadi 'izzah (kemuliaan) apabila diletakkan pada tempatnya dan diekspresikan sesuai dengan tuntunan. Maka inilah amarah yang terpuji.


'Aisyah radiyallahu 'anha pernah berkata,


ما رأيتُ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ منتَصِرًا مِن مظلِمةٍ ظُلِمَها قَطُّ ما لم تُنتَهك محارمُ اللَّهِ فإذا انتُهكَ من محارمِ اللَّهِ شيءٌ كانَ أشدَّهم في ذلِك غضبًا


"Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membela diri atas kezhaliman yang beliau terima (yang menyangkut hak pribadi beliau), selagi bukan dalam perkara yang melanggar aturan Allah. Tapi apabila aturan (kehormatan) agama Allah dilanggar (diterjang), maka beliau menjadi orang yang paling marah (tegas dan komitmen)." (Abu Nu'aim, Hilayah Auliya)


Dan saat ini kita sebagai umat Islam, marahlah! Di manakah amarahmu? Ekspresikanlah amarahmu! Jangan diam seolah tak terjadi apa-apa. Jangan diam seolah tak peduli dengan apa yang terjadi dengan saudara-saudara Muslimin di Palestina. Jangan berpura-pura buta mata, tuli telinga, bisu lisan, dan lumpuh tangan. Marahlah! Lakukanlah pembelaan! Kerahkanlah apa yang sanggup dikerahkan untuk bisa men-support saudara-saudara Muslimin di Palestina; suara kita, pikiran kita, jemari kita, harta kita dan seterusnya yang bisa dan sanggup kita lakukan untuk mereka.


Apakah ghirah (kecemburuan) beragama kita telah hilang? Ketika terjadi pelanggaran dan pelecehan terhadap agama, kita hanya diam saja.


Buya Hamka rahimahullah pernah bertutur, "orang yang tidak memiliki ghirah beragama, maka pakaikanlah ia tiga lapis kain kafan. Sebab ia telah mati."


I. Kehormatan Masjidil Aqsha


Saudara-saudara Muslimin kita di Palestina, mereka merupakan garda terdepan di dalam memperjuangkan kehormatan Masjidil Aqsha. Masjid yang menjadi simbol aqidah dan keimanan bagi umat Islam. Warisan turun temurun dari para nabi dan rasul. Kiblat pertama umat Islam. Dan di sanalah pernah terjadi mukjizat Isra-Mi'raj Nabi Muhammad shallallahu alaih wasallam. Dan di sanalah pula beliau mengerjakan shalat memimpin para nabi dan rasul yang atas kuasa Allah, Allah hadirkan menjadi makmum beliau.


{سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلٗا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِي بَٰرَكۡنَا حَوۡلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنۡ ءَايَٰتِنَآۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ }


"Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat." (QS. Al-Isra : 1)


Masjidil Aqsha merupakan tempat pilihan yang padanya terkandung banyak kebaikan dan keberkahan. Disebut sebagai bumi risalah-risalah para nabi dan rasul. (Tafsir Hidayat Quran)


Masjidil Aqsha atau Baitul Maqdis adalah tempat yang diberkahi sekelilingnya dengan tanaman-tanaman, buah-buahan dan yang lainnya. Dan keberkahan lainnya bahwa ia dipilih oleh Allah menjadi tempat untuk banyak nabi dan rasul. Dan menjadi tempat di mana umat Islam dianjurkan untuk melakukan safar menghabiskan harta dan tenaga berkunjung ke Masjidil Aqsha dalam rangka ibadah dan untuk menegakkan shalat. (Tafsir As-Sa'di)


لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِي هَذَا وَمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى 


"Janganlah kalian bersusah payah melakukan perjalanan jauh, kecuali ke tiga masjid. Yaitu: Masjidku ini (Masjid Madinah), Masjidil Haram (di Makkah) dan Masjid Aqsha." (HR. Muslim)


Masjidil Aqsha adalah masjid kedua setelah Masjidil Haram yang dibangun di atas bumi. Sebagaimana dalam hadits yang shahih dari Abu Dzar radiyallahu 'anhu, bahwa beliau pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,


"Masjid apakah yang pertama kali dibangun di atas bumi?"


Rasululullah bersabda, "Masjidil Haram (Ka'bah)."


Abu Dzar bertanya lagi, "kemudian masjid apa?"


Rasulullah bersabda, "Masjidil Aqsha."


Abu Dzar bertanya lagi, "berapa jarak (jeda pembangunan) antara keduanya?"


Rasulullah bersabda, "40 tahun." (HR. Bukhari-Muslim)


Dan dalam shahih Ibnu Majah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengabarkan tentang keutamaan lain tentang Masjidil Aqsha, bahwa Nabi Sulaiman 'alaihissalam pernah berdoa berkaitan dengan orang yang shalat di Masjidil Aqsha,


وأنه لا يأتي هذا المسجد أحدٌ لا يريد إلا الصلاة فيه إلا خرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه


"Dan bahwasanya tidaklah seseorang mendatangi Masjid ini, ia tidak mengingankan apa-apa kecuali untuk shalat di dalamnya, melainkan ketika ia keluar, ia menjadi orang yang bersih dari dosa layaknya bayi yang baru dilahirkan ibunya."


Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda mengaminkan doa Nabi Sulaiman 'alaihissalam, "aku berharap itu telah diberikan (dikabulkan)." (HR. Ibnu Majah)


Dalam riwayat yang lainnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,


فضل الصلاة في المسجد الحرام على غيره مائة ألف صلاة، وفي مسجدي هذا ألف صلاة وفي مسجد بيت المقدس خمسمائة صلاة


“Shalat di Masjidil Haram lebih baik daripada 100.000 shalat di tempat lain, shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik daripada 1000 shalat (di tempat lain), shalat di Masjid Baitul Maqdis (Al-Aqsha) (lebih baik daripada) 500 shalat (di tempat lain).” (HR. Baihaqi)


صلاة في مسجدي هذا أفضل من أربع صلوات في بيت المقدس


"Shalat di Masjid-ku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada empat kali shalat di Baitil Maqdis." (HR. Hakim, Daruquthni)


Dari dalil-dalil di atas, maka menjadi jelaslah bahwa Masjidil Aqsha yang berada di Palestina memiliki kedudukan besar di dalam agama Islam. Ia merupakan kemuliaan dan kehormatan bagi umat Islam yang wajib untuk dijaga dan dibela dengan harta dan jiwa raga kita.


Tengoklah perjuangan pendahulu kita yang pernah membebaskan Masjidil Aqsha dari tangan-tangan kaum kuffar (orang-orang kafir). Disana ada 'Umar ibn Khattab radiyallahu 'anhu yang pernah membebaskan Masjidil Aqsha dari Romawi setelah sebelumnya berperang di Perang Yarmuk melawan kerajaan Romawi Timur (byzantium), termasuk perang terbesar dalam sejarah umat Islam.


Dan ketika Masjidil Aqsha jatuh lagi di tangan kaum kuffar, maka di sana ada Shalahuddin al Ayyubi rahimahullah yang kemudian membebaskannya kembali dari cengkraman Pasukan Salib atau Kristen Eropa yang keji kala itu.


Maka ini menjadi jelas, bahwa umat Islam tidak boleh berdiam diri dan termakan oleh isu-isu propaganda yang seolah umat Islam tidak memiliki kepentingan di sana. Jelas sangat jelas bahwa di sana ada simbol kehormatan kita dan juga kehormatan saudara-saudara Muslimin kita yang sedang berjuang mengorbankan harta dan nyawa untuk kemerdekaan bangsa mereka dan untuk mengembalikan kehormatan Masjidil Aqsha.


II. Kehormatan Kaum Muslimin


Apa yang kita saksikan dan dengar saat ini tentang kekejian Zionis Israel sungguh membuat hati pilu dan tersayat. Mereka laknatullah 'alaihim menyerang secara membabi-buta tanpa pandang bulu, warga sipil; anak-anak, wanita-wanita, orang tua, bahkan rumah sakit yang di dalamnya ada pasien-pasien, mereka serang dengan bengis. Ribuan nyawa melayang dan ribuan korban berjatuhan. Darah mengalir di mana-mana dan air mata berlinang tak kunjung habis. Semoga Allah subhanahu wata'ala catatkan sebagai syahid bagi yang gugur dan memberikan ketabahan, kesabaran dan keteguhan bagi yang masih hidup dan berjuang.


Lalu bagaimana dengan kita? Apa peran kita?


Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda,


لَزوالُ الدُّنيا أهونُ على اللهِ من قتلِ رجلٍ مسلمٍ


"Sungguh hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang Muslim." (HR. Tirmidzi, Nasai)


Sebelumnya di atas kita telah membahas kehormatan Masjidil Aqsha dan sekarang kita membahas tentang kehormatan seorang Muslim.


Subhanallaah, perhatikan hadits di atas yang menunjukkan betapa bernilai dan berharganya kehormatan nyawa seorang Muslim.


Dan perlu diketahui, bahwa kehormatan seorang Muslim yang beriman itu jauh lebih berharga bahkan sekalipun dari Ka'bah. Sebagaimana hal ini dituturkan oleh Ibnu 'Umar radiyallahu 'anhuma bahwa beliau pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam thawaf mengelilingi Ka'bah seraya bersabda berujar ke Ka'bah,


مَا أَطْيَبَكِ وَأَطْيَبَ رِيحَكِ مَا أَعْظَمَكِ وَأَعْظَمَ حُرْمَتَكِ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَحُرْمَةُ الْمُؤْمِنِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ حُرْمَةً مِنْكِ مَالِهِ وَدَمِهِ وَأَنْ نَظُنَّ بِهِ إِلَّا خَيْرًا


"Alangkah indahnya kamu, alangkah harumnya aromamu, alangkah agungnya dirimu dan alangkah agungnya kehormatanmu. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh kehormatan seorang mukmin, hartanya, darahnya itu lebih agung di sisi Allah darimu, dan kami tidak berprasangka kepadanya kecuali dengan yang baik-baik." (HR. Ibnu Majah)


Hadits ini mengisyaratkan akan wajibnya menjaga kehormatan seorang mukmin. Tidak boleh melecehkannya, merampas hartanya, terlebih menumpahkan darahnya. 


Juga isyarat bahwa sesama Muslim wajib saling menjaga dan melindungi. Bahkan umat Islam itu diibaratkan selayaknya tubuh yang satu.


مثلُ المؤمنين في تَوادِّهم ، وتَرَاحُمِهِم ، وتعاطُفِهِمْ مثلُ الجسَدِ إذا اشتكَى منْهُ عضوٌ تدَاعَى لَهُ سائِرُ الجسَدِ بالسَّهَرِ والْحمى


"Perumpamaan kaum mukminin dalam kesetiaan mereka, kasih sayang mereka dan kelembutan mereka itu seperti satu jasad (tubuh), apabila ada anggota jasad yang sakit, maka seluruh anggota tubuh lainnya turut merasakan dengan begadang dan demam." (HR. Bukhari-Muslim)


Sebagai seorang Muslim, seorang mukmin, maka wajib atas kita untuk berempati terhadap apa yang dialami dan dirasakan oleh saudara-saudara Muslimin kita yang ada di Palestina. Dalam Islam, menjunjung nilai-nilai kemanusiaan itu adalah ibadah, bahkan besar pahalanya. Apalagi ini kepada sesama Muslim saudara seiman.


{وَمَنۡ أَحۡيَاهَا فَكَأَنَّمَآ أَحۡيَا ٱلنَّاسَ جَمِيعٗا}


"Barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia." (QS. Al-Maidah : 32)


Sesama Muslim kita tidak boleh saling cuek dan mengabaikan. Apalagi membiarkannya ditangkap, dijerat, dianiaya dan atau dibunuh oleh musuh,


المُسْلِمُ أخُو المُسْلِمِ لا يَظْلِمُهُ ولَا يُسْلِمُهُ


"Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, tidak boleh menzhaliminya dan menelantarkannya (membiarkannya disakiti orang lain)." (HR. Bukhari-Muslim)


Sesama Muslim saling berperan untuk menjaga dan melindungi. Tidak boleh saling menzhalimi. Dan juga tidak boleh membiarkannya dizhalimi dan disakiti oleh pihak lain, sedangkan kita diam saja tidak menolongnya. Justru wajib atas kita untuk menolongnya sesuai kadar kesanggupan kita.


Maka demikianlah tulisan yang bisa kami sajikan ini, semoga menyadarkan kita dan membuka hati serta pandangan kita, bahwa Palestina adalah bagian dari kita dan kita adalah bagian dari Palestina.


Mari kita bersama bersatu padu semampu dan sesanggup yang kita bisa, kita berikan support untuk mereka dengan harta, suara, tenaga, media, dan sebagainya.


Maimunah radiyallahu 'anha pernah berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam seraya meminta fatwa mengenai Baitul Maqdis atau Masjidil Aqsha. Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,


"Itu adalah bumi dibangkitkannya dan dikumpulkannya manusia kelak. Datanglah ke sana dan shalatlah di sana."


Maimunah lalu bertanya, "lantas bagaimana bagi orang yang tidak bisa ke sana?!"


Rasulullah bersabda, "hendaknya ia mengirim hadiah berupa minyak yang bisa digunakan untuk penerangan di sana. Karena siapa yang mengirim hadiah ke sana, itu sama selayaknya orang yang shalat di sana." (HR. Ibnu Majah)


Hadits ini secara sanad dinilai munkar dan lemah. Tapi secara makna bisa menjadi motivasi bagi kita untuk semakin gencar menginfakkan harta ke Palestina supaya kaum Muslimin di sana terbantu dan terpenuhi kebutuhan serta sarana-prasarananya, sehingga kita tercatat turut andil dalam menjaga Masjidil Aqsha.


Dan dalam riwayat yang shahih, justru lebih hebat lagi motivasinya, bahwa bagi sesiapa yang mampu memiliki tanah dekat Baitul Maqdis meski sebidang seukuran panjang cemeti atau busur panah, maka lakukanlah.


Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,


وليأتين على الناس زمان، ولقيد سوط ـ أو قال: قوس ـ الرجل حيث يرى منه بيت المقدس؛ خير له، أو أحب إليه من الدنيا


"Dan sungguh akan datang masa atas manusia, di mana memiliki tanah seukuran cemeti atau busur panah yang mana dari tanah tersebut ia berdiri bisa melihat Baitul Maqdis, maka itu lebih baik baginya, dan lebih ia cintai daripada dunia." (Shahih Targhib Al Albani)


Demikian, semoga bermanfaat dan semoga Allah berikan taufiq-Nya untuk kita semua dan kaum muslimin.


Hadanallahu waiyyakum wa barakallahu fikum jami'an.


________

Penulis 


Izzatullah Abduh, M.Pd., Pengisi Kajian Kitab At-Tazkiyah Masjid Ar-Rauf Green Andara Residence, Depok.


Tuesday, November 14, 2023

Sosok Inspiratif | Ariansyah | Pejuang Masyarakat di PDK

 


Ariansyah, terlahir dari keluarga sederhana di sebuah perkampungan, tepatnya di Ds. Ujan Mas, Kec. Bukit Kemuning, Kab. Lampung Utara pada 24 Agustus 1990 malam Jumat Kliwon. Anak kedua dari empat bersaudara, pasangan dari Ibu Asnawati & Alm. Bapak Nendi. Saat ini, beliau tinggal di Perumahan Puri Delta Kiara (PDK) Blok DH 18 Gang Sultan Maulana Yusuf sebagai sosok yang aktif bermasyarakat.


Sosok yang biasa akrab disapa Mas Ari ini adalah mantan Ketua RT 02 PDK, juga pernah menjadi Panitia Pembangunan Masjid PDK, tentunya banyak sekali pengalaman dan kiprahnya di masyarakat.


Pengin tahu lebih jauh tentang beliau, yuk ikuti! Cekidot!


________


1. Sebagai orang yang paling aktif di masyarakat, khususnya di Perumahan Puri Delta Kiara, Walantaka, Kota Serang, apa sih yang Mas Ari rasakan dan dapatkan? 


Diri pribadi ini merasa bukanlah menjadi orang yang aktif, tapi lebih ke ingin menjadi orang yang bermanfaat. Untuk menjadi orang baik, cukuplah kita perbanyak diam. Tapi untuk menjadi orang yang bermanfaat, kita harus aktif dan mau bergerak bersama masyarakat. Yang dirasakan tentu capek & lelah. Karena ketika kita sudah mempunyai niat ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat, kita harus sudah siap memberikan waktu, tenaga, pikiran, bahkan materi kita untuk kebutuhan masyarakat sesuai kemampuan kita. Padahal tidak ada uang/materi yang kita dapatkan, tapi kebahagiaannya adalah ketika kita bisa melihat dampak positif atas apa yang kita lakukan dan kita berikan untuk masyarakat. Hal itu tidak terhitung dengan sesuatu apa pun.



2. Sejak kapan Mas Ari berkecimpung aktif hidup bermasyarakat dan jabatan apa saja yang pernah Mas Ari emban atau kegiatan apa saja yang pernah Mas Ari kerjakan? Beratkah menjalani amanah tersebut?


Saya aktif di kemasyarakatan ketika saya melihat seorang sosok Pak Ustaz Saefudin Zuhri yang sudah saya anggap sebagai orang tua saya, sebagai guru saya, sebagai kakak saya, sebagai rekan saya. Dengan kapasitas keilmuan yang beliau miliki terlihat tampak jelas betapa bermanfaatnya hidup beliau di masyarakat, membuat saya iri dengan beliau. Lalu saya memberanikan diri untuk berbicara ke beliau bahwa saya ingin menjadi murid beliau dan ingin hidup bermanfaat seperti beliau. Hari demi hari beliau mendidik saya, melatih saya, tanpa saya sadari bahwa beliau sedang membentuk karakter saya dan mengenalkan dunia kemasyarakatan kepada saya di mana ketika menjadi seorang tokoh masyarakat kita harus melihat sesuatunya dari semua sudut, bukan hanya dari sudut orang terdekat kita, kelompok kita dsb. 


Jabatan/amanah yang pernah saya emban, yaitu 


(1) Ketua Pembangunan Masjid Al-Hidayah PDK. Di mana pada masa itu masjid mempunyai hutang ke toko material sebesar kurang lebih Rp91 jt-an ex pembangunan masjid tahap 1 & 2. Tentu itu menjadi tantangan tersendiri di mana saya dan tim yang menjadi panitia pembangunan masjid harus melunasi hutang masjid dan juga harus terus melakukan pembangunan masjid. Alhamdulillah dengan support para tokoh masyarakat, para guru, para pemangku jabatan & masyarakat PDK, hutang dan pembangunan masjid selama di kepengurusan kami berjalan dengan baik dan lancar. Dengan waktu kurang lebih 1 tahun, hutang masjid lunas dan pembangunan masjid berjalan dengan baik. 


(2) Sebagai Ketua Dana Duka sekaligus Ketua RT 02 PDK. Semua amanah tsb. mulai dari ketua pembangunan masjid, ketua dana duka dan ketua RT, saya jalani dari hati dan saya pasrahkan semuanya kepada Allah Swt. Karena bagi saya, apa pun amanah yang diemban baik itu sebagai ketua RW, ketua RT, ketua DKM, ketua dana duka, ketua muslimah dsb. adalah pekerjaan sosial. Di mana kita ikut berkecimpung di situ karena panggilan sosial dari dalam hati, tanpa memikirkan apa yang akan kita dapatkan baik itu berupa gaji, berupa pujian dsb. Karena semuanya dijalankan dari hari maka tidak ada sedikit pun amanah yang dirasa berat. Kalaupun selama mengemban amanah terdapat halangan rintangan dan cobaan, hal itu merupakan hal yang biasa, dan hal itu selalu ada solusinya ketika kita mau mendengarkan arahan para guru, para tokoh kasepuhan, para pemangku jabatan terkait, dll.





3. Menurut Mas Ari, apa sih arti hidup buat Mas Ari? 


Bagi saya yang terlahir dari keluarga yang merupakan bukan ahli ilmu, bukan ahli ibadah, yang lahir dari keluarga tidak mampu dan dari perkampungan kecil yang jauh dari kemewahan, maka arti hidup bagi saya adalah bagaimana menjadi seorang hamba yang bisa menghambakan diri di setiap waktu kepada Sang Pencipta yaitu Ilahi Rabbi. Berusaha semaksimal mungkin menjadi seorang hamba yang baik dan bermanfaat, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama.



4. Oh, iya katanya Mas Ari sedang mencalonkan diri menjadi Ketua RW di Puri Delta Kiara ya? Wah, seru sekali ya kayaknya. Kapan itu pencoblosannya dan di mana? Seandainya Mas Ari menang, apa yang pertama kali Mas Ari lakukan dan benahi? Begitu juga kalau kalah?


Pencoblosannya dilaksanakan pada 03 Desember 2023. Tempat TPS-nya di posyandu dan Balai Riung Warga RW 06.


Bila saya menang, yang pertama kali akan saya lakukan adalah mengucap "innalilahi wainna ilaihi raajiuun". Dan yang pertama kali akan saya benahi adalah mengenai kepengurusan, khususnya di kepengurusan inti tim ke-RW-an dan semua sistem yang sudah ada yang dirasa kurang baik dan butuh perbaikan. Karena dalam mengurus suatu organisasi, yang terpenting adalah support system. Ketika suatu organisasi sudah diberikan support system yang bagus dan juga diisi oleh SDM yang mempunyai pola pikir maju, maka kemungkinan besar untuk menuju keberhasilan terbuka lebar.


Kalau saya kalah, saya akan saya mengucapkan "syukur alhamdulillah" karena saya yakin hal itu adalah takdir terbaik yang Allah berikan kepada saya. Saya akan mengajak diri pribadi saya dan para pendukung untuk memberikan support system terbaik kepada calon ketua RW terpilih.



5. Pertanyaan terakhir nih Mas Ari, apa pesan Mas Ari untuk para lawan dan umumnya untuk masyarakat terkait pemilihan RW dan kemajuan Puri Delta Kiara?


Saya berpesan kepada diri saya pribadi, kepada para pendukung saya, dan juga kepada tim lawan serta seluruh warga PDK, mari kita berpolitik yang santun. Kita tidak perlu menjelek-jelekkan dan merendahkan calon lawan baik calon ketua RW-nya maupun pendukungnya. Kita hanyalah lawan sebatas di kontestasi saja, selebihnya kita adalah kawan. Tetap kondusif, tetap jaga silaturahmi.


Ayo, kita sukseskan Pemilihan Ketua RW 06 PDK, jangan lupa tanggal 03 Desember untuk datang ke TPS. Cobloslah calon pemimpin ketua RW 06 PDK sesuai hati nurani, gunakan hak suara Anda dengan bijak karena 1 suara anda berpengaruh untuk masa depan PDK 5 tahun ke depan.



___________


(Redaksi, Encep)


Monday, November 13, 2023

Karya Guru | Dalam Sebuah Perjamuan | Puisi Rohilah

Puisi Rohilah




Dalam Sebuah Perjamuan


Tentu kamu paham

Apa yang telah kau ujarkan

Pada saat itu dalam sebuah perjamuan 

Perjamuan yang sengaja disajikan

Dengan komposisi racikan kekeluargaan  

Dalam lingkar segitiga 

Dalam sebuah perjamuan itu

Fasih tutur katamu

Mengiyakan 

Bahkan mengaminkan

Lepas dari lubang mulutmu seolah tak berbisa

Bahkan nyaris tak tampak dusta 

Tapi, dalam binar bola matanya

Terlintas pesan mendusta

Nyaris tak terlihat oleh kasat mata

Karena terbalut topeng mempesona dalam binaran ambisi 

Bentuk yang agung tersepakati sudah dalam perjamuan itu

Pantang untuk diingkari

Pantang untuk dikhianati 

Yang Khalik akan murka karenanya

Almalik telah menggariskan dalam pedoman umat-Nya

Menggolongkan baginya

Munafik 

Ingkar 

Khianat 

Tak ada yang sanggup menolak bila Sang Pencipta murka

Bukan karena amnesia

Bukan juga hilang ingatan

Bisa duniawi

Bisa pula empuknya singgasana 

Pura-pura lupa sebagai perisai jurus pamungkas 

Sesaat demi tahta singgasana 

Tanpa memandang siapa yang berjasa dan bersabar

Kau lupakan kulitmu 

Bahkan tanah yang telah memberikan kesuburan

Kau bagai seonggok kayu yang bersandar

Kau ciptakan kehinaan untuk jiwa dan ruhmu sendiri

Kami hanya cukup bersyukur dan ikhlas atas karunia-Nya


Jakarta, Oktober 2023

     

__________


Penulis


Rohilah, M.Pd. adalah guru di SMPN 14 Kota Serang.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com



Saturday, November 11, 2023

Cerpen Fatah Malangare | Panggil Saja Sugeng

Cerpen oleh Fatah Malangare



Tidak ada yang tidak mengenal Sugeng. Murid paling bodoh yang namanya dikenal seluruh desa. Usianya yang setua bapak-bapak, wajahnya yang lugu dan lusuh membuat semua orang desa Malengen cepat mengingatnya. 


Sugeng bagi masyarakat Malengen adalah  kebodohan. Nyaris setiap ibu-ibu memberikan nasihat kepada anaknya mengganti kata bodoh dengan Sugeng. Bahkan bapak-bapak kadang menggunakan nama Sugeng untuk mengejek temannya yang bodoh.


”Dasar Sugeng!”  


Sugeng seakan kebodohan yang disulap berbentuk manusia. Wajahnya yang lusuh dan sorot matanya yang menampung kesedihan tak jarang mendapat tatapan iba. Rasa iba pada Sugeng kadang berganti rasa jijik karena tingkah lakunya. 


Tidak jarang orang iba pada nasib Sugeng bercampur rasa benci dengan kebodohannya yang kelewat sangat. Seakan-akan Sugeng menampung semua jenis kebodohan di dunia.


Setiap waktu istirahat sekolah, nama Sugeng selalu menjadi topik hangat di ruang guru.


“Bu, kepalaku sungguh ingin pecah saat ngajar kelas enam,” ucap Bu Sri sambil membolak-balik buku tugas murid-muridnya.


“Ya, sama. Satu jam sebelum masuk kelas, hati saya sudah kalut kalau mau ngajar kelas enam,” ujar Bu Ariani air muka yang tampak menyimpan beban.


“Rata-rata muridnya cerdas si Bu, terutama anak Bu Risma. Maklum dia kan lahir dari keluarga berpendidikan,” perkataan Bu Sri terhenti oleh salam kepala sekolah yang masuk ruangan. Tak lama kemudian ia melanjutkan, “tapi Sugeng itu lho, Bu..! sungguh bikin kepala saya ingin pecah.” 


“Kemarin saja saya mengulang hampir seribu kali hanya untuk mengajarinya cara menulis huruf A yang benar,” suara Bu Arini agak kesal.


“Tadi saya mengenalkan gambar Singa saja sampai berkali-kali juga mengulangnya, Bu.”


“Kenapa juga kepala sekolah menaikkan dia ke kelas enam?”


“Mungkin kasihan kali, Bu,” kata Bu Sri dengan senyum kecut. 


Percakapan mereka terhenti oleh bel tanda waktu istirahat habis. Tanpa aba-aba mereka berdiri menuju kelas masing-masing.


***


Malam-malam Mak Sukina adalah malam kesedihan. Hidup miskin dan anak yang bodoh membuatnya tidak pernah merasa bahagia. Suara binatang malam di pematang sawah, bulan yang tergantung sendu di atas halaman, seakan menjadi hiasan kesedihan jiwa Mak Sukina.


Setiap malam Mak Sukina selalu berdoa. Baginya kebodohan Sugeng bukanlah sesuatu yang membuatnya malu. Ia tidak terlalu ambil pusing dengan cerita kobodohan anaknya di kelas. Yang membuat hatinya bersedih adalah cemoohan orang-orang pada anaknya.


“Semoga kamu kuat menanggung beban ini, Sugeng,” batin Mak Sukina dengan beban kesedihan yang sangat.


“Ibu …,” suara Sugeng memecah keheningan rumah. Ia berlari dengan kedua tangan terentang serupa burung. Dengan tubuh meliuk ke kanan dan ke kiri Sugeng berlari menuju Mak Sukina yang duduk melamun di kursi depan rumah. 


Melihat ulah Sugeng Mak Sukina mengerti, ia rentangkan kedua tangan, siap merangkul Sugeng. Tak lama kemudian adegan pelukan antara ibu dan anak menjadi hiasan kesunyian malam di rumah itu.


Tidak ada kata-kata yang mampu menjelaskan adegan Mak Sukina berpelukan dengan Sugeng di malam itu. Dengan lanskap rumah yang atapnya dari rumbia dan dindingnya dari anyaman bambu menjadi kebahagiaan  dan  kesedihan bersatu. Pemandangan yang bila dilukis di atas kanvas akan menjadi lukisan terpilu di dunia.


“Nak, ingat kata Ibu, ya ...,” suara Mak Sukina pelan, nyaris serupa rintihan.


Sugeng mengamininya dengan anggukan di dalam pelukan Mak Sakina.


“Kamu tidak masalah bodoh sebodoh-bodohnya. Tapi ingat, tetap hormati gurumu dan jangan sekali pun menyimpan benci padanya.”


Sugeng pun mengangguk berkali-kali. Meski tak satu pun perkataan ibunya itu ia mengerti.


“Saya ngaji dulu ya, Mak,” potong Sugeng seperti rengekan anak kecil.


Mak Sukina menyodorkan tangannya. Sugeng pun menciumnya dengan khidmat. Di tatapnya kepergian Sugeng dengan derai air mata yang tak henti membahasi pipi. Jelas terbayang dalam benaknya, beban Sugeng menanggung cemoohan teman-temannya. Selentingan orang-orang di jalan, pasar dan pelabuhan jelas terekam dalam kepala Mak Sukina.


“Semoga kau kuat menanggung beban hidup ini Sugeng,” batin Mak Sukina, bergema dalam jiwanya yang sepi sedih, serupa tangis gua paling purba di dunia. 


***


Wajah marah bercampur bosan terpancar pada setiap orang yang melingkar. Anak-anak yang usianya masih enam sampai tujuh tahun tampak sangat tidak bisa tenang. Dicuilnya teman yang duduk berdekatan. Saling lempar kertas dan sajadah pun tidak bisa dihindari. Satu-satunya hal yang membuat mereka tidak saling kejar adalah Ki Mantri. 


Sudah lebih tiga jam anak-anak itu menunggu. Lelaki setengah baya, yang sebagian anak-anak melihat usianya setua bapak mereka, menjadi pusat kebosanan di tengah lingkaran. Ia duduk nyaris beradu lutut dengan Ki Mantri. Berkali-kali, berulang-ulang setiap malam Ki Mantri menjelaskan tentang bentuk huruf alif. 


Saking seringnya, hampir semua anak yang mengaji di musala Ki Mantri  hafal dengan intonasi, gerak tangan, dan cara Ki Mantri menjelaskan. 


“Alif itu,” kata Ki Mantri yang kemudian diikuti oleh semua anak yang melingkar di sekitarannya, “bentunya tegak, serupa tiang listrik. Yang bila atasnya ada kabel yang panjang dibaca ‘a’ jika di bawah di baca ‘bi’, ingat,” tangan anak-anak tanpa aba-aba menunjuk pada lelaki setengah baya di tengah lingkaran.


“Ingat, Sugeng ...!” kata Ki Mantri dengan suara santun.


Sugeng mengangguk. Azan isya pun berkumandang. Anak-anak yang sedari tadi duduk dengan kebosanan yang sangat lari berhamburan. Dengan teriakan dan wajah gembira mereka saling kejar sekan hendak membayar kebosanannya yang ditampung dari magrib.


Di tengah hiruk-pikut anak-anak saling kejar, Sugeng masih enggan beranjak dari duduknya. Ia menunduk dalam-dalam. Matanya tak sekalipun berani menatap Ki Mantri. Ki Mantri mengelus punggung Sugeng. Dari Matanya jelas kasih sayang terpancar sangat dalam.


“Sugeng, tidak ada kebodohan di dunia ini. Yang ada hanya orang yang malas belajar. Meski usiamu sudah tua, kamu jangan malu, karena tugas mencari ilmu adalah sejak lahir hingga kita dikubur di liang lahat,” kata Ki Mantri sambil terus mengelus pundak Sugeng.


Dengan wajah tertunduk Sugeng mengangguk. Meski jelas dari rona wajahnya ia berusaha mengerti perkataan Ki Mantri.  


***


Pagi masih utuh ketika guru wara-wiri di halaman sekolah. Wajah gelisah dan tegang terpacak pada setiap orang. Sudah tinggal sepuluh menit lagi upacara akan dimulai. Tapi bendera dan petugas upacara belum juga datang. Mereka sangat khawatir upacara pagi ini tidak maksimal. Bukan karena ini upacara 17 Agustus, tapi upacara kali ini akan dihadiri langsung oleh bupati dari kota.


Momen langkah Desa Malengen kehadiran bupati dari kota. Kepala sekolah sudah jauh hari menyiapkan semua rangkaian upacara. Mereka tidak mau mengecewakan bupati. Mereka sangat ingin upacara 17 Agustus tahun ini berkesan di hati bupati. 


Halaman yang sudah bersih masih disuruh bersihkan kembali oleh kepala sekolah. Tanaman yang rapi disuruh dilihat-lihat lagi.  Kelas, jendela dan semua bangunan sekolah disuruh bersihkan lagi.


Para guru berdiri terpaku dengan wajah tegang menunggu bendera dan petugas upacara. Angin pagi itu terasa lebih dingin dari hari biasanya. Awan yang biasa cerah tampak agak kelabu. Kecamuk hati semua orang di sekolah pagi itu sungguh tidak tentu. Ketakutan akan kegagalan upacara menyelimuti hati semua orang.


Tak lama berselang, segerombolan anak-anak berlari dari pintu gerbang sekolah. Dua anak yang paling depan tampak berlari sambil mengibarkan bendera. Kepala sekolah yang sedari tadi berwajah muram tiba-tiba terbit senyum di wajahnya. Alangkah bahagianya ia, karena yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Kepala sekolah seakan ketiban emas segunung.


Menyusul semua murid sekolah di belakang anak-anak petugas upacara. Mereka pun langsung disuruh menempati posisi yang sudah diatur guru. Para anak-anak yang punya tugas mengibarkan bendera, MC, pembaca proklamasi ditempatkan di depan, sedangkan anak-anak yang lain di suruh berbaris sekitar tiga meter dari guru dan petugas upacara. 


Ketika matahari mulai naik sepenggalan upacara pun di mulai. Tak lama kemudian bupati datang. Seremoni upacara terhenti sebentar. Mereka dengan wajah semringah menyambut bupati dengan sorak dan tangan melambai-lambaikan bendera merah putih kecil. Saat suasana anteng kembali, upacara kembali dilanjutkan.


Matahari kian menyengat kulit saat bupati sambutan. Keringat dan dengungan suara bosan menghiasi tiap anak-anak. Setelah bupati membuka dengan salam. Terdengar kernyit gerbang sekolah terbuka. Sontak satpam melongoh diikuti semua orang yang hadir pada upacara pagi itu.


Lelaki setengah baya, dengan napas ngos-ngosan berdiri sambil memegang perutnya. Di keningnya keringat berlarian. Kepala sekolah menatapnya dengan geram. Anak-anak serempak melemparnya dengan tawa. Lelaki setengah baya itu menyambutnya dengan wajah polos tanpa dosa. 


“Sugeng…,” serempat anak-anak itu memanggilnya sambil diselingi tawa.


“Maa … af, ter ... ter ... lambat,” jawab Sugeng terbata-bata.


Bupati tersenyum kecut. Tidak ada yang bisa menebak suasana hati bupati saat itu. Wajahnya masih terlihat anteng, dengan gestur tubuh yang masih sama dengan saat ia sampai di tempat itu. 


Kepala sekolah tampak geram sangat. Giginya gemeletupan dengan kedua tangan terkepal. Kemarahannya ditahan oleh Bu Sri yang berada di sampingnya,”Pak tenang. Nggak enak ada bupati.”


Kepala sekolah membalasnya dengan anggukan kecil.


“Nama kamu siapa?” tanya bupati dengan suara yang menggema lewat pengeras suara. Membuat hati semua anak-anak ciut.


“Sugeng ...,” jawab anak-anak yang hadir saat itu dengan tawa cengengesan.


“Benar?” suara Pak Bupati minta kejelasan.


“Iya, Pak, panggil saya Sugeng,” suara Sugeng serupa rengekan anak kecil.


Kemudian kepala sekolah memanggilnya ke depan.

“Sugeng, kamu tahu siapa yang disebut pahlawan?” tanya Pak Bupati sambil mengelus pundak Sugeng berkeringat.


Sugeng mengangguk berkali-kali dengan senyum dan wajah polos yang terus terpancar di wajahnya.


“Oke..!” kata Bupati, ”anak-anak sebelum saya bertanya pada Sugeng saya mau bertanya kepada kalian dulu. Ayo siapa yang disebut pahlawan ...?”


Mereka menyebutkan sederat nama tokoh pahlawan besar: Soekarno, Tuan Iman Bonjol, Pangeran Diponegoro dan Raden Ajeng Kartini. Bupati pun menanggapinya dengan dua jempol.


“Sekarang saya tanya Sugeng. Siapa itu pahlawan? Jangan menyebutkan nama yang sudah disebut teman-temanmu, ya ..!” kata bupati sambil tersenyum.


Tanpa berpikir panjang Sugeng menjawab,”Ki Mantri ….”


Bupati sontak mengernyitkan dahi. Ia menatap guru seakan minta penjelasan. Guru hanya mengangguk. Ketika bupati menatap anak-anak, mereka hanya meresponsnya dengan tawa. Makin bingung bupati.


“Siapa itu,” tanya Pak Bupati minta penjelasan.


Serempak anak-anak menjawab, “guru ngaji kami, Pak.”

 

Yogyakarta, 2022

  

________

Penulis


Khairul Fatah, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Jurusan Studi Agama-Agama. Aktif di Komunitas Kutub. Sekarang menghabiskan hidup di Forum Taman Anak-anak Yogyakarta (FTAY).


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Puisi-Puisi Yuris Julian

Puisi Yuris Julian


Kaana Wa Akhwatuha


Setelah i'rab nashab

memasukan raja yang udzur

seketika aktivitas kalimat

mengubah susunan republik

dengan tangan-tangan 

yang mencekik kerah bajumu.


Bagaimana jadinya

jika fi'il dimaknai tugas? 

toh kita selalu

menemui dengus berat

dan hidup hanya untuk bertaruh

kepada apa yang sebentar.


Orang-orang akan kembali

keluar masuk pintu

membuat segalanya tak tertib

saling mengekalkan diri di udara.


Dalam kitab sucinya 

orang-orang serakah

tak dapat sebatang pohon,

udara bersih, lapangan kerja,

cuma lubang cahaya, 

yang setengah padam.


Termasuk amil nawasikh

nama lain dari penjahat itu

adalah penghancur mimpi

dan penyebar sampah-sampah

yang membangkai

dalam ilmu pengetahuan

"Di mana tempat duduk atau berdiri?" 

Katamu, sambil memasuki ruang 

tak bernama itu. 


Indonesia bukan subur firdaus lagi

satu-satunya pertahanan

mungkin tumbuh, menjadi jembatan

yang tak menjangkau apa pun.


2023



Sepanjang Jalur Orang Lalu


Di abad ke-12 

kota berkubu dari peluhmu

seperti konsensus kekuasaan 

dapat dipecah-pecah 

menjadi argumen 

yang membosankan.


Tanpa menguras tenaga

serta mengusut pertanyaan

yang tak ada kaitannya

dengan sepasang badut Batavia.


Maka untuk memperagakan 

suatu konfrontasi yang dramatik

perlu berdoa dengan irama ganjil

agar warna dan jumlah kejahatan 

dapat ditekan populasinya.


Lewat transportasi trem

jejak 1869 yang terus menjauh

pulang satu demi satu

menulis sejarahnya

dengan bahasa Indonesia yang lelah.


Sebuah kemerdekaan

dibangun agak lebih kelit

dari sebab apa yang bermula

sebagai masa lalu, 

di tangan keriputmu.


2023



Para Kafilah dalam Serial Animasi


Berhentilah 

menjadi seorang Valkyrie

ketika kursi kerajaan 

yang berlumpur itu

membuat umat manusia

tenggelam dan masuk 

ke dimensi lain.


Bermula dari buzzer

mengadaptasi sebuah dongeng 

yang dilampirkan 

di kolom-kolom komentar:

Facebook, Instagram, Twitter,

Tiktok dan YouTube.


Demi menegakkan nilai-nilai luhur

sesekali berceritalah 

tentang seorang bocah lapar

agar dunia bisa bertindak adil 

di masa depan.


Mengingat perampok rempah-rempah 

telah disumpahi nenek moyang 

dan dikutuk menjadi semangkuk cemas

di altar kayu.


Kembali ke era ini

hal yang paling mustahil dilakukan 

adalah menghapus percintaan 

dari romantisme sejarah

yang menolak jadi hantu.


2023



Sebuah Nisan untuk Slavoj Zizek


Ketika matinya subyek

nampak lebih telanjang

akan ada teks-teks lain

barangkali 

seperti itulah puisi

di bawah sihir eksistensi

yang selalu lahir kembali.


Lihatlah, sepenggal siang

masih sangat bergetah.


Sementara itu,

bayang-bayang 1945

menemui kembali poster

dan tetek-bengek 

instalasi dalam bentuk

parodi di masa depan.


Sekali datang

seorang tua yang letih

menancapkan beribu-ribu bendera

tapi niscaya 

misalnya keadilan,

menenggelamkan antusiasme

yang tak lazim.


Dari sulur ingatan

setiap letupan bahkan desis

dan pekik burung-burung

belum juga diberi nama

tapi seolah memahami 

garis cuaca.


Setidaknya, jalan zig-zag 

yang menciptakan firdaus

akan bilang "tidak"

saat langit masih berdarah!


2023


_______

Penulis 


Yuris Julian, lahir di Sukabumi, Jawa Barat. Ia menulis puisi yang disiarkan di beberapa media cetak dan elektronik serta termaktub dalam sejumlah buku antologi bersama. Kini, bekerja dan menetap di Jakarta.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com



Thursday, November 9, 2023

Esai Puspita Sari | Problematika Dapur dan Wanita

Esai Puspita Sari



Dimulai dari tempat tidur, awal munculnya problematika yang membuat saya berpikir, kemudian lahir berbagai asumsi yang agak keras kepala ini. Sebenarnya tidur tidak hanya sebagai upaya istirahat dari aktivitas fisik ataupun pikiran, ternyata tidur juga bisa menjadi perantara timbulnya perkara. Tidur setelah subuh dari pandangan Islam maupun medis memang kurang baik. Apalagi perempuan, kata ibu saya. Di lain sisi pernah dibahas juga dalam kajian kitab Ta'limul-Muta’allim oleh kiai, sejak saya masih mondok dulu, bahwa tidur setelah subuh menyebabkan fakir. Tapi, lambat laun saya abai menerapkan ilmu tersebut dalam keseharian karena beberapa alasan. 


Saat kuliah memasuki semester tua, saya baru tinggal di kos, dan inilah awal dari kebiasaan tidur di waktu-waktu yang sangat diharamkan oleh ibu saya itu. Alasan pertama karena teman kamar yang membudayakan tidur selepas subuh sehingga saya ikut-ikutan kemudian menjadi kebiasaan. Alasan kedua, kalau pagi tidak tidur, pasti selalu terganggu dengan reaksi asam lambung, jadi harus makan sesuatu. Karena jarang ada sesuatu untuk dimakan, penanggulangannya adalah dengan cara tidur--kalaupun masak nasi mesti siang agak mepet zuhur. Bagi saya, tidur adalah hal paling ampuh untuk meminimalisisasi pengeluaran karena tidak hanya menjadi abai terhadap perkara fakir saja, tetapi juga akan abai terhadap rasa lapar dan asam lambung yang kurang ajar. Lebih-lebih bisa hemat uang.


Akhirnya, kebiasaan buruk itu dibawa ke rumah, ketika tengah menjalani proses skripsian yang kebetulan teori feminisme radikal menjadi pilihan sebagai pembidik sasaran objek penelitian saya. Tentu saja buku feminisme banyak dikonsumsi pada saat itu. Padahal sebelumnya senior saya sudah berpesan bahwa jangan membaca buku-buku itu selama di rumah, bahaya, bisa-bisa kamu dikeluarkan dari KK, ujarnya sambil tertawa. Saya menanggapinya dengan bercandaan pula. 


Kemudian tidak lama dari itu, saya merasakan pengaruh dari bacaan tersebut, akibat kontra dengan pernyataan ibu yang pada saat itu tengah marah mendapati saya tidur setelah subuh. Saya jengkel karena ada bahasa yang pada intinya mengatakan bahwa perempuan tidak pantas tidur pagi, kalau laki-laki boleh dan sah-sah saja. Loh ... loh ...  kan .... Ditangkap dengan Pemikiran rasional saja tentu tidak bisa diterima, kecuali pemikiran yang memang dibonsai dari akar patriarki.


Jelas saya tidak mau menggantikan peran Jora dalam sebuah novel Geni Jora, perempuan diletakkan pada posisi yang lebih rendah daripada laki-laki oleh neneknya sebagai tokoh patriarki. Sehingga pengarang mempertanyakan kembali ikhwal ideologi patriarki yang justru membuat laki-laki tak lebih dari sekadar parasit dan menempatkan perempuan pada posisi sebagai pembantu bagi laki-laki (dalam Yulianeta, 2021:87). Tapi saya tidak mau jauh-jauh membawa lari ke konsep itu karena saya telah menyisakan seperempat pemakluman di hati dalam menyikapi hal tersebut. Mengingat saya memang lahir dan tumbuh dalam kubu budaya patriarki, dan akan sangat sulit menyangkal kontradiksi setiap pendapat atau pemikiran hanya dengan satu nyawa.  


Yang suka saya bantah juga soal pemaksaan tengka di lingkungan, ketika seringnya dipaksa untuk abhithek (membantu keberlangsungan acara di dapur tetangga). Saya sering menolak dengan alasan karena masih muda dan belum berkeluarga, jadi masih bukan waktunya. Mengingat tradisi seperti itu dilakukan secara balas-membalas antartetangga, artinya kalau si A membantu di acara si B maka jika si B menggelar acara, juga wajib dibantu oleh si A. Begitu pun sebaliknya. Dan semestinya beberapa orang yang terdapat dalam satu keluarga cukup perwakilan 1--2 orang saja yang datang. Kecuali kalau seluruhnya diundang. Tapi sekalipun seluruhnya diundang, tetap saja rasanya sangat terganggu atas pemaksaan itu. Lagi-lagi saya masih muda dan belum berkeluarga, tentu ada banyak aktivitas menarik yang bisa dilakukan selain harus abhithek


Abhithek dalam pandangan saya adalah keharusan membantu dalam urusan dapur tetangga setiap menjelang hingga berlangsungnya acara, terutama bagi perempuan dewasa yang sudah berkeluarga. Karena perempuan yang sudah berkeluarga merupakan awal dari melekatnya tengka. Tapi interaksi dengan tetangga dan interaksi dengan aroma dapur beserta pengenalan terhadap kegiatan di dalamnya, justru harus dilatih dari sekarang, kata ibu. "Ta' kera jhung burungan" artinya dalam hemat saya yaitu, mau tidak mau kita (sebagai perempuan) tidak akan terlepas dari itu. Makanya harus dimulai dari sekarang. 


Setelah persoalan abhithek, saya akan kembali ke tempat tidur lagi. Tetap berawal dari kebiasaan buruk tadi. Akan tetapi terjadi dalam waktu dan masalah yang berbeda. Dari dulu setiap pagi tugas saya hanya bersih-bersih di rumah. Tapi sebelum melaksanakan tugas paten itu, biasanya diawali dari tempat tidur-ke meja makan-ke meja belajar. Bersih-bersih belakangan. Saya harus sarapan pagi-pagi banget untuk menetralisasi asam lambung, beda dengan di kos, kalau di rumah harus lekas-lekas bangun karena punya tugas wajib. Pun kalau di rumah bisa langsung siap makan. Dari meja makan langsung beralih ke meja belajar karena suasana pagi sangat mendukung bagi otak yang masih fresh untuk dibawa jalan-jalan ke dalam bacaan. Baru setelah itu bersih-bersih. 


Karena setiap hari berlangsung demikian, ibu saya tiba-tiba ada rasa jengkel. Mungkin karena melihat usia saya yang semakin matang, tapi belum juga ada kesadaran untuk membantu melakukan aktivitas di dapur. Sampai suatu waktu, ia membangunkan saya dari tidur sambil marah, dengan melontarkan kata-kata yang membekas selama dua hari di hati saya. Sumpah. "Pas bile se semma'a ka depor?" sulit menemukan bahasa yang sifat dan pengertiannya sama ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, karena hanya lebih tajam dan ngena diungkapkan dengan bahasa Madura. Jika diterjemah secara gamblang ke dalam bahasa Indonesia tentu tidak sesuai dengan maksud pernyataannya. Pada intinya, bahasa tersebut bersifat teguran berbalut sindiran, kapan bisa memenuhi kodrat wanita seutuhnya? Yang menurut perspektif patriarki tempat wanita salah satunya adalah di dapur. Padahal sebenarnya kodrat wanita di luar itu.


Sebenarnya ini persoalan bahasa--yang jika dipandang dari segi hermeneutik merupakan kalimat yang sifatnya sarkasme, dan saya rasa tidak cukup jika hanya paham soal makna dari kalimat itu saja, akan tetapi juga perlu menelusuri sebab-akibat munculnya kalimat tersebut, terutama dari konteks sosiokulturalnya, atau pengaruh lain di luar dirinya. Kemudian saya akan menarik benang dekonstruksi sebagai upaya untuk tidak mencari pembenaran sepihak. 


Jika problematika di awal tadi saya larikan ke feminis, saat ini saya juga akan bawa lari ke psikoanalisis. Awalnya Id saya yang bekerja, karena sempat merespons dengan jengkel juga. Kemudian beralih pada superego yang bekerja, mengingat posisi saya sebagai anak, rasanya harus mengaku salah atas ketidaksadaran tadi, pilihannya yaitu diam meski bahasa tersebut cukup membekas. Di sisi lain karena mungkin perasaan lagi cenderung sensitif maka diam dan membatasi interaksi dengan ibu menjadi sedikit penawar untuk meredam goresan kalimat itu. Yang terakhir, seharusnya gantian ego bekerja, (solusinya apa?) Sekalipun saya tahu bagaimana menghubungkan cara kerja keduanya sehingga akan ketemu titik terang solusinya, tentu sangat tidak mudah mengaplikasikan selama bekas-bekas itu tidak hilang. 


Bisa jadi saya memiliki masalah psikis sehingga jembatan neurotik terbangun, memberi jalan dan kemudahan pada hati untuk menerima sesuatu yang buruk. Seandainya ibu saya menegur dengan kalimat yang sedikit lebih pengertian, tentu tidak akan membekas apa-apa, pun tidak akan memperkokoh neurosis dalam diri saya. Jadi, keadaan mental akan sedikit terganggu ketika menangkap perkataan-perkataan yang tanpa dipikir itu. Meski Carl Gustav Jung (2022:125) mengatakan bahwa makna dan rancangan suatu masalah sepertinya memang tidak terletak pada pemecahannya, melainkan pada upaya kita menghadapinya tanpa henti. Tetap saja kita harus melalui tahap penyembuhan diri dengan cara menangkap cahaya kesadaran sepanjang jalan gelap nan lengang, demi mengembalikan damai keadaan semula.


Maka alangkah bersyukur di era sekarang berkembang pesat pendidikan, utamanya parenting. Orang tua harus siap belajar sebelum siap punya anak. Karena pembentukan karakter anak tergantung dari bagaimana cara orang tua mendidik. Pengaruh lingkungan mungkin hanya 25%. "Kalau cuma ngomong siapa pun bisa", barangkali begitu kata orang tua yang suka meledak-ledak sejauh pengalamannya mengurus anak. Saya tahu itu tidak mudah. 


Soal pengendalian emosional, saya sendiri sangat kurang. Barusan saya meletakkan nasi goreng di meja belajar. Jelas bukan tempatnya. Tak lama kemudian nasi goreng tersebut dikerumuni semut, malah semutnya yang saya marahi. Nah, bisa jadi sikap saya ini terbentuk ketika alam bawah sadar merekam saat betapa seringnya melihat tetangga memarahi ayam yang buang kotoran di terasnya, atau bisa jadi karena sebelum itu saya bertengkar dengan pacar, sehingga semut mendapat tampiasnya. Jadi, belum tentu saya sebaik asumsi yang tertulis di atas. Toh ini cuma berbagi. Intinya ada kesadaran dulu, karena sadar akan memicu perubahan. Pastinya apa yang saya katakan it can be right, it can be wrong (Bisa benar bisa salah). 


Eh, tapi bukan berarti ibu saya setidakpengertian itu. Ibu saya pengertian banget kok, buktinya sering membelikan makanan kesukaan saya, campor. Hanya saja kalau dibilang minim pengetahuan soal sebab-akibat rusaknya psikologis anak, mungkin iya. karena selama ini penerapannya sesuai dengan apa yang ia dapat dari sejauh pengalaman yang terlihat dan terjadi di zamannya. Dari awal saya hanya mengkaji tentang bahasa ibu ketika marah, cenderung blak-lakan, tanpa disadari hal itu rentan mengganggu keadaan psikis saya.        


_______

Penulis


Ita Puspita Sari, lahir di Sumenep, 01 Januari 2002. Tulisannya dimuat di beberapa media. Aktif di Sanggar Seni Damar Mesem. Dan Aktif sebagai petani KALENTENG (Kompolan Kesenian Lenteng). Bisa disapa melalui WA: 081998429468, ig: @ipuspitata, e-mail: itapuspitasariii01@gmail.com.