View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Latest News

Sunday, June 28, 2026

Esai Ma’rifat Bayhaki | Kepengrajinan dalam Novel "Yuki": Ketika Pesan Berusaha Mengalahan Cerita

Esai Ma'rifat Bayhaki



Kemahiran berbahasa adalah satu dari sekian modal yang mesti dimiliki oleh pengarang. Kendati penting, justru ia kerap diabaikan. Banyak pengarang lebih terobsesi pada persoalan pesan yang ingin disampaikan, alih-alih memperhatikan konstruksi—bentuk cerita yang akan disajikan. Sebuah cerita tidak dikenang semata karena suaranya, melainkan bagaimana cara ia menyuarakannya. Saya tentu tidak ingin menyaksikan sebuah naskah yang penuh dengan pesan moral, tetapi kehilangan daya estetiknya bernasib tragis di tangan pembaca kritis.

Barangkali kepekaan semacam ini mesti dijadikan pijakan ketika membaca novel YUKI. Pada halaman awal kita disodorkan dengan kegelisahan yang nyata. Narator ingin berbicara tentang manusia modern yang terjebak dalam rutinitas, ketakutan, dan keterbatasan. Dari hal itu ia menawarkan gagasan sederhana, manusia harus “naik kelas”. Tentunya frasa ini lebih dari perpindahan status sosial di permukaan, ia juga menyimpan pergulatan dan pendalaman batin yang berlapis—kokoh.

Namun, sayangnya sang narator dalam cerita “Yuki” tampak terjebak untuk memastikan gagasan “naik kelas” ini bersarang di benak pembaca. Hasrat tersebut demikian dominan sehingga hampir setiap bab lebih berhungsi sebagai medium penyampaian pesan daripada ruang bagi cerita untuk tumbuh secara organik. Akibatnya, pembaca lebih sering dihadapkan pada penegasan ide dibanding pengalaman estetik yang lahir dari perkembangan cerita.

Jumlah tokoh yang relatif sedikit sesungguhnya bisa diolah sedemikian rupa untuk membangun karakter yang utuh dan dinamis . Alih-alih melakukan itu, tokoh Yuki  lebih sering hadir sebagai corong gagasan pengarang daripada menjadi manusia fiksional yang hidup, memiliki kehendak, konflik, dan perkembangan psikologisnya sendiri. Yuki lebih sering tampil sebagai figur yang telah mengetahui jawaban atas persoalannya ketimbang menjadi manusia yang sedang berproses.

Hal itu juga berlaku pada tokoh lain dalam novel ini. Misalnya tokoh Pak Arif—mentor Yuki yang perannya sentral dalam cerita ini. Lagi-lagi narator berperan terlalu dominan. Sehingga tokoh Pak Arif menjadi terkesan ajaib. Ia bisa tiba-tiba hadir di momen penting hidup Yuki bahkan mampu mengetahui segala hal dan permasalahan yang dialami Yuki. Hal itu nampak jelas saat Pak Arif mengetahui jika Danu memberikan kunci berkarat pada Yuki. Bahkan dengan hafalnya ia menjabarkan manfaat dari kunci berkarat itu pada Yuki, kendati Pak Arif tidak benar-benar hadir dalam peristiwa itu. Pada persoalan ini sepertinya sang naraotor harus berhati-hati.

Pergulatan batin yang seharusnya menjadi jantung sebuah novel justru berlangsung singkat. Proses sebab akibat yang diharapkan cair, luwes, dinamis, dramatis, dan memukau menjadi terkesan ajaib. Pemaknaan setiap tokoh luput dari pandangan sang narator. Saya kehilangan jejak dalam usaha menggali sebab Yuki memaknai lorong tempat kerjanya mengerikan, pemaknaan kunci berkarat dari masing-masing tokoh. Bahkan tokoh Pak Arif terkesan sangat bijaksana tanpa celah. Barangkali hal ini mesti dijelaskan, tidak digantung begitu saja.

Beralih pada persoalan alur, novel ini bergerak dengan tempo yang terlampau tergesa-gesa. Perpindahan antarruang berlangsung begitu cepat sehingga setiap tempat kehilangan kesempatan untuk meninggalkan jejak dalam ingatan pembaca. Adegan demi adegan silih berganti, tetapi tidak memberi cukup waktu bagi suasana untuk mengendap ataupun bagi konflik untuk memperoleh bobot emosional. Alur akhirnya lebih menyerupai rangkaian perpindahan peristiwa daripada perjalanan batin yang tumbuh secara perlahan.

Barangkali, apabila diolah dengan kepengrajinan yang lebih tekun, ruang dalam YUKI tidak hanya berfungsi sebagai latar tempat peristiwa berlangsung. Ruang memiliki kemungkinan estetik yang jauh lebih luas. Ia dapat menjadi penanda zaman, penyimpan ingatan, bahkan menghadirkan gema batin para tokohnya. Dalam karya sastra yang matang, ruang tidak pernah benar-benar diam. Ia ikut mengarahkan suasana, membangun ketegangan, dan sesekali berbicara melalui kesunyian yang diciptakannya.

Kita dapat belajar dari Robohnya Surau Kami. Cerpen itu tidak semata-mata berkisah tentang sebuah surau, melainkan menjadikan surau sebagai pusat kesadaran cerita. Bangunan itu bukan lagi sekadar lokasi, tetapi sebuah simbol yang memanggul sejarah, keyakinan, kegelisahan, sekaligus ironi manusia. Surau memperoleh “suara” karena pengarang berhasil menanamkan pengalaman batin ke dalam ruang tersebut. Pembaca tidak hanya melihat sebuah bangunan, melainkan merasakan denyut kehidupan yang bersemayam di dalamnya.

Kemungkinan semacam itu sesungguhnya juga terbuka bagi YUKI. Sayangnya, ruang-ruang yang dihadirkan masih cenderung bersifat fungsional. Kantor, rumah, jalan, atau tempat-tempat yang disinggahi tokoh lebih sering menjadi wadah berlangsungnya peristiwa daripada turut membentuk kesadaran tokoh dan menghidupkan atmosfer cerita. Padahal, apabila ruang diberi kedalaman simbolik dan psikologis, ia akan menjadi unsur naratif yang bekerja secara diam-diam, memperkaya makna tanpa perlu dijelaskan secara panjang lebar oleh narator. Di situlah sastra menunjukkan kekuatannya, bukan melalui banyaknya penjelasan, melainkan melalui kemampuan membuat benda-benda yang bisu menjadi fasih berbicara.

Pada bagian lain narator memilih mendeskripsikan tindakan-tindakan Yuki alih-alih membiarkan pembaca menyaksikan tindakan itu berlangsung di hadapan mereka. Kecenderungan ini muncul berulang kali dalam beberapa bab sehingga perlahan mengikis daya hidup cerita. Alih-alih menghadirkan pengalaman, narator justru menyajikan kesimpulan. Pembaca diberi tahu apa yang dirasakan, dipikirkan, dan dilakukan Yuki, tetapi jarang diberi kesempatan untuk menemukan semua itu melalui peristiwa yang berkembang secara organik.

Bagi saya, pilihan semacam ini merupakan salah satu kelemahan paling mendasar dalam novel ini. Sebab, hakikat fiksi bukanlah menyampaikan gagasan secara langsung, melainkan membiarkan gagasan itu lahir dari benturan antartokoh, dari gestur yang sederhana, dari dialog yang ritmis, bahkan dari kesunyian yang sengaja dibiarkan bekerja. Seperti yang dikatakan Ernest Hemingway mengenai show, don't tell. Seorang pengarang tidak dituntut menjelaskan segala sesuatu kepada pembaca, melainkan menghadirkan dunia yang memungkinkan pembaca sampai pada kesimpulannya sendiri.

Sastra kehilangan daya estetiknya ketika terlalu bernafsu menjelaskan. Setiap penjelasan yang berlebihan sesungguhnya adalah bentuk ketidakpercayaan pengarang terhadap kekuatan cerita yang sedang dibangunnya. Padahal, cerita yang baik selalu memiliki keberanian untuk menyembunyikan sebagian maknanya, sebab sastra tidak bekerja dengan

cara menggurui, melainkan dengan cara menggerakkan pengalaman batin pembacanya. Ia tidak berkhotbah dari atas mimbar, tetapi mengajak pembaca berjalan perlahan memasuki ruang-ruang makna yang sengaja tidak seluruhnya diterangi. Justru dalam ruang yang remang-remang itulah sastra menemukan daya pikatnya.

Kausalitas yang berupaya dibangun narator belum sepenuhnya memperoleh kedalaman dramatik. Penjelajahan Yuki terhadap krisis eksistensialnya berlangsung terlalu tergesa-gesa sehingga perkembangan psikologis tokoh terasa lebih sebagai pernyataan daripada pengalaman. Pembaca diberi tahu bahwa Yuki hidup dalam ketakutan dan merasa tidak bahagia, tetapi cerita tidak menyediakan rangkaian peristiwa yang cukup untuk membenarkan perasaan tersebut.

Sepanjang novel, Yuki justru tampil sebagai pribadi yang relatif utuh. Ia mampu menjalankan pekerjaannya dengan baik, berani mengemukakan pendapat di hadapan kolega, bahkan beberapa kali menjadi sosok yang menawarkan solusi bagi orang lain. Kegagalan yang dialaminya pun tidak pernah benar-benar menjelma menjadi titik balik yang mengguncang kesadarannya. Setiap hambatan segera dilewati tanpa meninggalkan bekas psikologis yang berarti. Akibatnya, jarak antara apa yang dikatakan narator mengenai Yuki dan apa yang benar-benar diperlihatkan cerita menjadi semakin lebar.

Pada akhirnya, persoalan Yuki terasa lebih banyak hidup di dalam bahasa narator daripada di dalam dunia yang sedang dibangun novel ini. Kecemasan itu disebutkan berulang kali, tetapi jarang memperoleh bentuk konkret melalui tindakan, konflik, atau pengalaman traumatik yang mampu mengendap dalam ingatan pembaca. Padahal, luka batin dalam sastra tidak selalu harus hadir sebagai tragedi besar. Rutinitas yang berulang, ruang kerja yang menyesakkan, relasi sosial yang dingin, atau kegagalan-kegagalan kecil yang terus menumpuk pun dapat berubah menjadi teror eksistensial apabila diolah dengan kesabaran estetik.

Di sinilah kelemahan paling mencolok novel ini. Rutinitas yang semestinya menjadi sumber kecemasan manusia modern tidak pernah benar-benar menjelma sebagai ancaman yang menghimpit kehidupan Yuki. Ia hanya hadir sebagai gagasan yang diucapkan narator, bukan sebagai pengalaman yang dialami pembaca. Ketika rasa takut lebih banyak dikatakan daripada dihadirkan, konflik kehilangan bobot dramatiknya, dan perjalanan eksistensial Yuki pun berakhir sebagai konsep yang menarik, tetapi belum sepenuhnya meyakinkan secara artistik.

Kendati demikian, YUKI tetap layak diapresiasi sebagai karya perdana yang berhasil diselesaikan. Bukankah, naskah yang baik adalah naskah yang selesai ditulis. Mekipun penyelesaian sebuah karya bukanlah akhir dari proses kreatif, melainkan awal bagi pengarang untuk mengasah kepengrajinan estetiknya. Pada percobaan berikutnya, tentu kelonggaran semacam ini tidak berlaku.

Salah satu hal yang paling menarik dari novel ini ialah keberanian pengarang bereksperimen dengan bahasa yang puitis, liris, dan berirama. Kalimat seperti, “Rambut hitamnya bergelombang, menebar bayang-bayang gelap di atas bahu, sementara mata cokelatnya menahan kilau api kecil yang tak pernah padam,” memperlihatkan ikhtiar pengarang menghadirkan keindahan melalui pilihan kata yang imajinatif. Cara bertutur semacam ini menjadi strategi yang efektif untuk membangun suasana sekaligus memperhalus pengalaman emosional pembaca sehingga narasi tidak sekadar menyampaikan peristiwa, melainkan juga menghadirkan rasa

Namun, bahasa puitis selalu menuntut kedisiplinan estetik. Keindahan tidak lahir semata-mata dari limpahan metafora atau rangkaian kata-kata yang indah, melainkan dari ketepatan memilih diksi dan kecermatan menempatkannya dalam konteks. Demikian pula dengan penggunaan tanda baca yang bukan sekadar perangkat gramatikal yang mengatur jeda. Ia merupakan bagian dari estetika yang membentuk ritme, mengatur tempo, memberi tekanan, bahkan mengarahkan emosi pembaca. Perpaduan antara diksi yang cermat akan melahirkan kalimat yang tidak hanya enak dibaca, tetapi juga memiliki daya pukau yang bertahan lebih lama dalam ingatan.

Pada beberapa bagian, YUKI berhasil memperlihatkan potensi tersebut. Meskipun belum sepenuhnya konsisten, tampak bahwa narator memiliki kepekaan terhadap musikalitas bahasa dan keberanian untuk tidak sekadar bercerita, melainkan juga menciptakan pengalaman membaca yang estetis. Potensi inilah yang, apabila terus diasah melalui pembacaan yang luas dan latihan menulis yang tekun, dapat menjadi kekuatan utama pengarang pada karya-karya berikutnya. Tabik.

Tanara, 28 Juni 2026

 _______

Penulis

Ma'rifat Bayhaki, redaktur pelaksana NGEWIYAK.

 

Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com

 

Berita | Bedah Novel "Yuki" Jadi Ajang Silaturahmi dan Diskusi Sastra di Markas #Komentar


NGEWIYAK.com, KAB. SERANG – Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa (#Komentar) kembali menghidupkan tradisi diskusi sastra melalui kegiatan bedah novel Yuki (Bebaskan Diri, Naik Kelas) karya Sukron yang diterbitkan Penerbit #Komentar (Juni 2026). Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (28/6/2026) di Markas #Komentar, Kampung Pasar Sore, RT/RW 004/001, Desa Singarajan, Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang, dipandu oleh moderator Mela Sri Ayuni.

Selain membedah karya sastra, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi dan temu kangen para pengurus serta anggota Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa yang telah lama tidak berkumpul dan berdiskusi bersama.


Ketua #Komentar, Sul Ikhsan, mengaku bersyukur karena kegiatan diskusi akhirnya dapat kembali digelar setelah cukup lama vakum.


"Saya sangat senang, setelah sekian lama rumah yang bernama #Komentar ini hidup kembali dan mengadakan kegiatan diskusi. Namun yang paling penting, kita masih terus membaca dan menulis meskipun lama tidak berkumpul," ujarnya.


Sementara itu, pendiri sekaligus pengasuh #Komentar, Encep Abdullah, menyambut baik terbitnya novel Yuki. Menurutnya, Sukron menjadi salah satu penulis baru asal Pontang-Tirtayasa yang patut diapresiasi karyanya oleh kawan-kawan komunitas. 


"Budaya diskusi sastra di Pontang-Tirtayasa harus kembali digalakkan, harus tetap ada, meskipun untuk saat ini agak susah dilakukan rutin tiap pekan. Namun, kehadiran Sukron dengan novel "Yuki"-nya, menjadi satu jembatan ruang diskusi ini hadir kembali. Semoga kegiatan ini bisa mengecas kembali motivasi kawan-kawan komunitas yang barangkali sudah lama tidak menulis," ujar Encep.



Novel Yuki mengisahkan perjalanan seorang perempuan muda yang berjuang melepaskan diri dari tekanan hidup, rasa takut, dan belenggu rutinitas. Di tengah tuntutan dunia kerja, pendidikan, dan lingkungan sosial, Yuki berusaha berdamai dengan masa lalunya serta menemukan keberanian menentukan arah hidupnya.


Pemantik diskusi, Ma'rifat Bayhaki, menilai novel ini memiliki bahasa yang puitis dan emosional, namun konflik psikologis Yuki belum tergambar kuat karena lebih banyak diceritakan daripada dihadirkan melalui pengalaman tokohnya.

"Kendati demikian, Yuki tetap layak diapresiasi sebagai karya perdana yang berhasil diselesaikan. Bukankah, naskah yang baik adalah naskah yang selesai ditulis? Meskipun penyelesaian sebuah karya bukanlah akhir dari proses kreatif, melainkan awal bagi pengarang untuk mengasah kepengrajinan estetiknya," tegas Bayhaki.


Tidak hanya berdiskusi tentang isi buku, isu penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam dunia kepenulisan pun tak luput dibahas. Narasumber dan peserta terlibat perdebatan hangat mengenai kebolehan, kemakruhan, hingga keharaman penggunaan AI dalam proses kreatif menulis.



Penulis novel, Sukron, sebenarnya dijadwalkan hadir dalam bedah buku tersebut. Namun, ia berhalangan datang karena agenda kampus yang mendadak. Ketidakhadirannya sempat menimbulkan kekecewaan di kalangan peserta, meski situasi tersebut berada di luar kendali penulis. Meski demikian, diskusi tetap berlangsung hangat, interaktif, dan berakhir dengan lancar hingga selesai.


Melalui kegiatan ini, Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa berharap tradisi membaca, menulis, dan berdiskusi sastra terus tumbuh sehingga mampu melahirkan semakin banyak penulis dan karya sastra dari wilayah Pontang-Tirtayasa.



(Redaksi)

Puisi-Puisi Rosul Jaya Raya

Puisi Rosul Jaya Raya




Perdamaian Perdamaian


Dia menjorokkanmu ke kolam penuh ikan-ikan tertawa, kamu basah oleh gelembung-gelembung tawa yang meletus


Dia menjemur tubuhmu sampai kering di sinar matahari.


Sebelum kamu keluar menyerang dari Kuda Troya, dia tahu kamu ada di dalam, "cilukba!" kamu terkejut sampai kencing di celana


Dia mengirim lindu ke dadamu dan dada Kuda Troyamu. 


Betapa bahagianya ketika kamu dan dia menautkan jari kelingking; seribu matanya lenyap—mata yang mengintipmu ketika tengah tidur, makan, sampai berak—


Dia tetap menjorokkanmu ke kolam itu; bedanya kini kamu, dia, dan ikan-ikan tertawa sama-sama, kamu dan dia basah dan menjemur diri sama-sama


Kamu dan dia berada dalam Kuda Troya yang sama, menandatangani lindu yang akan dikirim sama-sama 


Sama-sama mengasah pisau untuk menusuk seribu mata jahil yang nanti mengintipmu dan dia.


Juni 2026



Apa Iya Kita Adalah Tai?


Kamu yakin Tuhan menjahit hujan dan tanah sambil minum kopi. Prok prok prok simsalabim. Jadilah kamu. 


Selalu ada kemungkinan lain bukan? 


Mungkin saja Tuhan sedang buang hajat sehabis makan (maha) tahu pedas. Abrakadabra ngeden dikit. Keluarlah kamu.


Boleh jadi bukan? Dadamu bercerobong, memuntahkan asap polusi. “Tai kau!” hardikmu.


Kamu tak setuju imajinasiku. Kamu hanya setuju kemungkinan aku memang tai. 


Bukankah hidup kita seperti tai di sungai hayat? Terombang-ambing ikut arus. Setiap ruang. Setiap waktu. Setiap Tuhan mengolah kita jadi pupuk.


Apa iya kita adalah tai?


Juni 2026



Tiada Mampus yang Lebih Indah Selain Mampus di Pelukanmu


Aku akan mencintaimu sampai mampus

Tak ada anjir di antara kami

Tak ada anjay untuk selain kamu

Rindu adalah bestie-ku  

Puisi cinta emakku tercinta

Dana ngedate bapakku tersayang

Cincin kawin mimpi basahku

Banting badan pahlawanku kepagian

Gapapa saat-saatku goblok 

Sampai aku mampus di pelukanmu


Juni 2026



Komedi


Di kantor pemerintahan, politisi menulis materi komedi tanpa terganggu kisruh-rusuh di luar. 


Teriak orang-orang pakai toa masuk telinganya; keluar lewat pantat bersama kentut.


Kepalanya ngos-ngosan mencari punch line. 


Komedi berangkat dari keresahan bukan? Sang politisi resah akan kursi yang ia duduki kakinya hampir patah. Ia ingin menaikkan pajak orang-orang yang teriak-teriak di luar untuk beli kursi baru. 


Demi Negara! Akhirnya selesai juga. 


Sang politisi stand up comedy di depan orang-orang. Ia melempar bit, tidak lucu. Melempar bit berkali-kali, tetap tidak lucu.


Orang-orang ngantuk. 


Sampai sang politisi meleleh di atas panggung. Orang-orang tertawa sangat nyaring. 


Juni 2026



Kenapa Kamu Nulis Puisi?


Lebih baik fokus jualan gorengan

kecuali puisi dibuat bungkus gorengan


Ini bukan soal keuntungan komersial

ini soal istana jiwa (kataku dengan 

suara gelora sambil menahan bunyi 

perut dan dompet)


Kenapa Kamu Nulis Puisi?


Puisi bisa menyeretmu diborgol polisi

puisi tak bisa dijadikan alat sogok


Yang penting kata-kata bangkit dari kubur

menghantui polisi (kataku bermuka masam di balik jeruji; aku kangen 

kontrakan bobrok dan senyum pacar)


Kenapa Kamu Nulis Puisi?


Pacarmu lamat-lamat menjauhimu

puisi tak bisa ditukar dimsum mentai


Demi kebudayaan dan kemanusiaan

cinta nomor sekian (kataku sambil

meringkuk dan menangis di pojokan)


Kenapa Kamu Nulis Puisi?


Padahal puisimu jelek dan empuk

dilahap hulubalang-hulubalang sastra itu


Aku menulis puisi sambil minum kopi 

untuk diri sendiri (kataku sambil

mengutuk makhluk-makhluk 

rambut gondrong dan bau badan itu)


Kenapa Kamu Nulis Puisi?


Tanyaku pada diri sendiri

(tak ada habis-habisnya sampai

lupa aku belum mandi dan cukur rambut

sebelum menjual puisi yang tak laku-laku) 


Juni 2026


______

Penulis


Rosul Jaya Raya, penulis kelahiran Bekasi 2002, berdarah Madura, kini berdomisili di Surabaya. Masuk daftar 10 Emerging Writers Ubud Writers and Readers Festival 2025. Beberapa cerpennya memenangkan lomba kepenulisan cerpen. Bisa dihubungi di Instagram @rosuljayaraya24.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com



Cerpen Yulizar Lubay | Kursi Roda

Cerpen Yulizar Lubay

 


A.

Aku suka rumah sakit. Dulu, rasa suka itu muncul karena kusangka rumah sakit adalah tempat penyembuhan. "Ada lambang ularnya," kataku kepada Bapak.

"Itu lambang kesehatan," Bapak menjawab pasti tanpa mau ditanya lagi.

"Bukan. Itu lambang bahwa penggoda Adam-Hawa masih berkeliaran di dunia," Ibu berkata datar dengan amarah terpendam.

Bapak menampar ibu dengan tatapan yang tajam.

Dan seiring waktu berjalan, aku yakin bahwa rumah sakit adalah tempat yang dimaksudkan dan diartikan ibuku.

B.

Bapak punya tiga istri. Ibu adalah istrinya yang pertama dan aku adalah anak perempuan semata wayang mereka.

Aku tidak tahu bagaimana cara Bapak membagi waktu dan kasih sayang. Kadang ia datang ke rumah membawa banyak uang, kadang tidak datang sama sekali selama berbulan-bulan. Tapi setiap kali datang, Bapak selalu tampak kelelahan. Wajahnya berminyak dan napasnya mudah sesak.

C.

Cara Bapak meninggal tidaklah aneh. Suatu pagi, saat aku berumur dua puluh enam tahun, ia meninggal karena darah tinggi dan serangan jantung. Aku tidak bisa mengingat hari itu dengan jelas. Rumah sakit yang dulu kusukai, telah berubah menjadi tempat yang bau dan menjengkelkan.

Aku melihat tubuh Bapak terbaring kaku di ranjang rumah sakit. Mulut dan matanya terbuka lebar ke arah langit-langit kamar seperti seseorang yang sedang telat sadar. Di sekelilingnya, tiga perempuan berdiri sambil menangis dengan cara yang berbeda. Perempuan pertama, ibuku, menangis tanpa suara. Perempuan kedua, menangis dengan bahu terguncang keras, sedangkan perempuan ketiga menangis merdu seperti pelatih paduan suara. Aku berdiri di antara mereka. Dan saat berdiri itulah, tanpa alasan yang jelas, aku memutuskan untuk membenci rumah sakit dan meninggalkan ibuku, selamanya.

D.

Dua minggu setelah kematian Bapak, aku mulai didatangi mimpi buruk. Dalam mimpiku, aku selalu berdiri di lorong panjang rumah sakit. Kadang aku melihat diriku sendiri terbaring di ICU. Kadang aku melihat diriku sendiri berubah menjadi sebatang pohon kamboja.

Di siang hari, aku mencoba melupakan mimpi itu saat bekerja di perpustakaan daerah. Tapi di tengah mengetik laporan mingguan, aroma rumah sakit tiba-tiba menguap dari sela-sela jariku. Aku memejam. Punggung tanganku terasa dingin seperti ditempeli pecahan es batu. Tiba-tiba aku teringat bapakku. Aku membuka mata, lalu melihat semua orang di kantor perpustakaan seperti pasien rumah sakit. Di saat itu aku mulai percaya bahwa setiap manusia adalah pasien rawat jalan. Mereka menolak diinfus, menolak didiagnosa, dan berlebihan mengonsumsi obat bermerek Keinginan.

E.

Embusan angin Minggu sore meniupi wajah Julani, kekasihku, yang sudah lama diterima sebagai pegawai negeri di Dinas Kesehatan.

“Dunia adalah rumah sakit,” kataku kepadanya.

Julani menggeleng sambil tertawa. “Sepertinya penyakit gilamu sedang kambuh.”

"Aku memang belum sembuh."

Kami berdua duduk di taman kota Pagar Bulan, di bangku besi putih yang mungkin baru beberapa bulan dicat ulang. Julani, dengan sepasang mata besar dan rambut hitam sedikit ikal, menatapku dengan pancaran yang sulit diterka, antara rasa cinta dan keinginan untuk menghina.

“Coba pikir,” kataku, “Setiap orang mencari kebahagiaan. Tapi apa yang mereka temukan selain was-was, kesepian, hepatitis, diabetes, dan usus buntu? Mereka sibuk menutupi luka, tapi tak pernah bertanya kenapa luka itu bisa ada."

“Kamu sendiri mencari apa?” tanya Julani dengan sepasang alis lebat terangkat.

“Makna ...” aku menjawab ragu. “Aku ingin tahu kenapa kita harus sakit kalau hidup cuma sementara.”

Julani bungkam sambil meremas jari-jari tangan. “Kamu tahu, dulu aku juga suka rumah sakit,” katanya pelan sebelum menghela napas panjang. “Tapi setelah ibuku meninggal di sana, sekarang aku membencinya.”

Aku memandang Julani. Entah kenapa, aku merasa Julani terlambat memahami sesuatu yang sudah lama kumaknai.

Gerimis tipis turun perlahan. Julani menggandengku pulang.

F.

Foto ibu dan bapak sudah lama kubuang. Foto mereka sudah tidak ada lagi di rumahku.

Aku tidak ingin mengingat mereka lagi, meskipun di kamar, dari pantulan cermin yang terpacak di dinding, wajah mereka tercetak jelas di wajahku. Memandangi cermin itu, sepasang mataku jadi mirip dua bohlam lampu kecil tanpa garansi yang mudah sekali mati.

Aku berbalik badan, melangkah, lalu mengambil buku catatan yang tergeletak di ranjang. Sebatang pena biru melamun di dalamnya. Kuambil pena dan mulai menuliskan tiga kalimat sungsang dan membingungkan: Manusia adalah pasien yang menyamar jadi dokter. Cinta adalah kanker yang sulit diobati. Tuhan adalah dokter yang sering membuat bingung pasiennya.

Suatu sore, aku memperlihatkan catatanku itu kepada Julani. Setelah membacanya dengan mata berair, ia mengeluarkan kalimat yang patut kukagumi, “Kamu harus tidur cukup dan segera minum obat cacing.”

"Tapi bagaimana aku bisa tidur kalau setiap kali memejam, aku selalu melihat ranjang-ranjang putih dan kursi roda?" kataku protes. "Tapi baiklah ...." aku berdehem karena tenggorakanku terasa gatal, "Aku akan segera minum obat cacing."

Julani tertawa puas. Ia memelukku, lalu mencium pipiku dengan gemas.

G.

Gelisah dan cemas telah berhasil mendorongku keluar rumah pada suatu malam yang gerah. Aku berjalan sendirian tanpa tujuan dan berakhir di depan rumah sakit Cinta Kasih tempat bapakku dirawat dan akhirnya meninggal. Aku masuk tanpa berpikir. Seorang satpam menatapku tanpa menanyakan apa-apa.

Karena tidak ditanya, aku lantas berjalan menuju lorong rumah sakit dan baru berhenti saat aku berdiri di depan pintu kamar mayat. Di kaca pintunya yang sedikit buram, aku bisa melihat bayanganku sendiri. Bayangan yang mengenakan jas dokter. Aku tersenyum, lalu mengangguk kepada bayangan itu.

Aku membuka pintu kamar mayat yang mungkin lupa dikunci. Maksudku, aku tidak ingat benar apakah pintunya dikunci atau aku sendiri yang telah merusak kuncinya. Yang jelas, ruang kamar mayat itu nyaris kosong kalau saja tidak ada satu meja dan secarik kain mori yang menutupi sesuatu. Aku mendekat untuk menarik kain itu, dan aku menemukan kursi roda.

Kursi roda itu masih baru. Aku sempat mendengar si kursi roda menghela napas dan memanggil namaku.

Aku tidak kaget, dan malah tersenyum senang, menganggap hal itu lelucon yang buruk dari sejumput takdir yang digariskan untukku.

Aku keluar dari kamar mayat dan memutuskan pulang ke rumah dengan membawa kursi roda di kepala.

H.

Hari berikutnya, aku menceritakan kejadian di rumah sakit itu kepada Julani. Ia berkata heran, “Berhentilah hidup dalam mimpi, Sayangku.”

Aku menggeleng lemah. “Tapi kursi roda itu nyata. Dia bisa bernapas dan memanggil namaku dengan jelas.”

Julani menatapku lama sebelum memegang tanganku. “Kamu harus berhenti mengunjungi rumah sakit. Aku takut kamu berubah ...”

“Berubah jadi?”

“Hantu penasaran.”

"Kita semua memang penasaran."

Entah kenapa, kata penasaran, tiba-tiba berhasil mendorongku untuk mencekik leher Julani.

Julani balas mencekik leherku.

I.

Ingatanku semakin buruk. Aku mulai kehilangan batas antara tidur dan jaga. Kadang di kantor perpustakaan daerah tempatku bekerja, aku mendengar bunyi monitor detak jantung. Kadang di rumah, aku merasa tubuhku terikat selang infus.

Sementara itu di dalam mimpiku yang terakhir, aku melihat Bapak duduk di sofa ruang tamu rumahku. Ia tersenyum mengejekku, lalu berkata, “Tak lama lagi, kamu akan menjadi kursi roda.”

Aku terbangun dengan keringat dingin di dahi. Kakiku terasa kaku.  Aku melihat sekeliling dan mendapati Julani sedang duduk di sampingku.

"Syukurlah kamu bangun. Sudah tiga hari kamu dirawat di rumah sakit Cinta Kasih."

"Bukannya kamu sudah mati kucekik?"

"Tidak, Sayangku. Itu tidak pernah terjadi."

Aku kaget, dan jatuh pingsan lagi.

J.

Jam sembilan pagi, dua minggu setelah keluar dari rumah sakit, aku memutuskan untuk berhenti bekerja. Kusampaikan kepada Kepala Dinas Perpustakaan bahwa aku ingin mencari makna. Ia menatapku seperti menatap pasien yang baru keluar dari ruang psikiatri.

Sejak berhenti bekerja, terutama hari Minggu, aku selalu menghabiskan waktu membaca atau menulis dengan banyak ditemani Julani. Kami sering duduk di ruang tamu rumahku. Aku makin jarang bicara. Julani yang sekarang lebih banyak bicara tentang buruknya cuaca, tentang makan bergizi gratis, dan tentang cinta abadi.

“Kalau dunia adalah rumah sakit, maka apa arti cinta menurutmu?” kata Julani sebelum tersenyum.

Aku berpikir agak lama. "Cinta menurutku ..." aku mencari kalimat yang pas untuk menjawabnya, "... Adalah kanker stadium akhir,” kataku sebelum hidungku mimisan.

Julani tersenyum getir. “Dan siapa yang kamu cintai dan mencintaimu?”

Aku tidak bisa menjawab. Dalam diam, sambil membiarkan darah mengucur dari lubang hidung, aku merasa kanker di tubuhku semakin mengganas.

K.

Ketika hujan reda, pada suatu malam, Julani datang ke rumahku dengan memakai jeans biru gelap dan kaos putih yang ditutupi jaket hitam. Kami duduk di sofa ruang tamu.

Julani membawakan sop daging sapi panas kesukaanku. Ia bangkit, lalu berjalan ke dapur untuk mengambil mangkuk, sendok, dan garpu.

“Nurani .... Sayangku ....” katanya, beberapa menit kemudian sambil membawa sop daging sapi di dalam mangkuk.

Aku ingin menjawab, tapi lidahku sudah tidak tersambung lagi ke otak.

“Kamu di mana?” suara Julani bergetar.

Di mana otakku? Aku menjawab dengan sedikit bergerak.

Mangkuk menjatuhkan diri dari tangan Julani. Sop daging sapi berceceran di lantai. Julani tercengang sebelum menatapku lama, sampai aku tidak tahu lagi siapa yang lebih nyata di antara kami.

“Nurani?” Julani berbisik.

Aku bergerak maju mendekati Julani.

Setelah itu, tidak ada yang pasti mengenai ceritaku ini. Cerita berkembang biak seperti cacing kremi. Ada cerita yang mengatakan bahwa Julani menelepon polisi dan melaporkan bahwa aku hilang diculik orang. Polisi datang dan hanya menemukan kursi roda di ruang tamu rumahku. Ada pula cerita lain yang mengatakan bahwa Julani jatuh sakit setelah aku menghilang. Ia dirawat di Rumah Sakit Jiwa Purnama Dibelah Dua. Di sana, setiap hari, Julani makan dan tidur di kursi roda.

Aku sendiri tidak tahu cerita mana yang benar. Aku bahkan tidak tahu apakah aku masih ada, ataukah aku hanya sebuah kursi roda yang banyak bicara?

Entahlah. Roda berderit. Aku membenci rumah sakit.

Lampung, 2026

________

 Penulis

Yulizar Lubay, fiksionis dan aktor teater di Komunitas Berkat Yakin Lampung.

Instagram: @yulizarlubay


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Saturday, June 27, 2026

Resensi Kabut | Puisi Diwariskan

Oleh Kabut



Para pengarang tua masih bisa disapa di media sosial. Mereka bukan bersembunyi atau menikmati hari-hari dengan kesepian. Maka, kehadiran mereka di media sosial memungkinkan terjadinya kesinambungan nasib dalam sastra. Dulu, mereka mungkin tenar pada masa 1970-an, 1980-an, dan 1990-an. Jarak waktu yang jauh tetap menjadikan mereka terhormat saat rajin tampil di media sosial. Artinya, mereka masih membuat tulisan dan mengabarkan. Beberapa orang tetap menghadiri acara-acara sastra atau berperan sebagai juri. 


Di media sosial, nama-nama penting dan besar dari masa lalu terhubung dengan pengarang-pengarang muda atau kaum pembaca. Saling sapa dan berdebat di media sosial memastikan sastra tetap ramai. Kita menyatakan ramai setelah masa koran dan majalah makin kehilangan pesona. Yang menyimak media sosial kadang kelelahan dengan ribut sastra, melebihi kabar-kabar publikasi puisi, cerita pendek, atau esai. Ribut yang berkepanjangan kadang menyita perhatian ketimbang bertepuk tangan atas penerbitan buku-buku sastra.


Nama dari masa lalu yang masih rajin bersastra: Handrawan Nadesul. Kita bisa menemuinya di media sosial. Sosok yang terus menulis dan menerbitkan buku-buku. Ia berprofesi sebagai dokter tapi namanya kondang sebagai pengarang. Di media sosial, ia tak cuma akrab dengan teman-teman yang tua. Ia terhubung kaum muda. 


Siapa ingat buku-buku Handrawan Nadesul dari masa lalu? Ia telah memberi persembahan yang penting dalam perkembangan sastra di Indonesia. Yang terbaca untuk mengetahui Handrawan Nadesul adalah buku berjudul Kunang-Kunang, diterbitkan oleh Aries Lima, Jakarta, 1976.


Di halaman awal, tercantum keterangan: “Puisi anak-anak tidak selalu berarti puisi yang ditulis oleh anak-anak. Tetapi, dapat pula lahir dari mereka yang tidak lagi pantas disebut anak-anak.” Yang menulis puisi bernama Handrawan Nadesul, sosok dewasa yang sudah terbukti mahir menggubah sastra. Mengapa ia turut menulis puisi-puisi untuk dibaca anak-anak?


Keterangan yang sedikit menjawab: “Tiada lain, kecuali mencoba menghayati kembali dunia kanak-kanak yang pernah dialami, ditambah pengalaman bergaul dengan anak-anak serta dunianya yang segar dan menyenangkan.” Kita menduga Handrawan Nadesul sudah tidak ingat pernah membuat buku untuk anak-anak. Apakah ia masih menyimpan Kunang-Kunang atau mengumumkan di media sosialnya? Para pengarang tenar biasanya jarang mengumumkan pernah menjadi penulis buku anak-anak, yang cap Inpres. 


Apakah puisi-puisi yang ditulis Handrawan Nadesul mudah dibaca murid-murid di SD? Kita tidak wajib membuktikan. Dulu, yang membaca mungkin menganggap puisi itu apik. Membaca tanpa kepastian mengerti. Yang ditulis Handrawan Nadesul adalah puisi berjudul “Angin, Datanglah ke Kamarku”. Anak-anak membaca sebait saja: angin, kuingin kau tetap mendesis di celah daun/ menari di tangkai bunga/ melambai di pantai samudera/ berapakah sejuk kau kirimkan dalam puputmu?/ menebarkan embun sepanjang malam/ benarkah tak berhingga jauh rumahmu/ kuingin kau singgah ke kamarku/ bila kuingat di mana ibuku. Siapa yang sekali baca lekas mengerti tentang angin, kamar, dan manusia? Ingatlah, puisi ini ditulis oleh orang yang dewasa, bukan anak-anak. Di larik terakhir, pembaca merasakan kesedihan. Angin menjadi penghibur, bukan selesai dimengerti melalui ungkapan “kabar angin”. Di situ, ada sosok yang mengingat ibu. Apa kaitan angin dan ibu?


Pada masa 1970-an, yang menghebohkan adalah puisi. Di Indonesia, kejutan-kejutan diberikan Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, Remy Sylado, dan lain-lain. Puisi dalam polemik yang tidak selesai. Mereka yang ikut ribut adalah kaum dewasa. Mereka mungkin tidak membaca puisi yang ditulis oleh Handrawan Nadesul. Artinya, ada usaha menyuguhkan puisi yang “memberat” saat anak-anak membuka dan membacanya sebelum tidur atau di sela-sela belajar di sekolah.


Kita memilih puisi yang berjudul “Baju yang Dulu Kau Sukai Bila Aku Memakainya”. Di bawah puisi, tampak gambar seorang gadir dan bunga-bunga. Dulu, anak-anak yang membaca puisi terbantu adanya gambar. Yang ditulis: baju yang dulu kerap kupakai/ setiap kali hari minggu kau tuntun aku ke kebun bunga/ kini telah koyak-koyak semuanya/ biar mala mini kupasang kancing-kancingnya lagi/ agar bisa kupakai kembali/ pada hari ulangtahunmu nanti. Baju menandai kasih. Baju yang mengikat hubungan terindah. Pada baju, ada upaya merajut kenangan dan persembahan. Anak-anak mampu membacanya. Apakah mereka mungkin bisa menggerakkan imajinasi sampai jauh? Kita mengandaikan puisi itu terbaca oleh murid SMP atau SMA saja.


Kita masih menemukan puisi yang istimewa. Puisi yang mengajak pembacanya merenung tentang kematian. Apakah anak-anak sulit terhibur atau tertawa di hadapan puisi-puisi gubahan Handrawan Nadesul? Buku itu kebanyakan mengumbar sedih. Yang menulis mungkin sedang menghayati duka ketimbang mencipta panen tawa.


Judul puisi yang panjang sudah tergesa memberi pesan: “Seorang Ayah Bermain Gitar di Hadapan Anak-Anaknya Sebelum Esok Paginya Ia Menjalani Hukuman Matinya.” Yakinlah, anak-anak bengong melihat judul puisi yang panjang. Di buku pelajaran atau lomba, mereka terbiasa menemukan judul-judul puisi yang pendek. 


Puisi yang mendingan menjadi bacaan para mahasiswa untuk mendapat apresiasi. Puisi boleh digunakan dalam tugas mata kuliah pengkajian puisi. Namun, Handrawan Nadesul mengarahkan itu bacaan anak. Kita yang dewasa ikut membaca: kupetikkan untukmu sebuah lagu/ tentang bulan dan matahari/ yang bersinar dalam matamu/ dengarkanlah sampai berakhir syair laguku/ sebab sesungguhnya akan berapakah panjang mala mini/ mengukur bening di sinar matamu. Sekali lagi, puisi yang tidak mengajak pembaca tersenyum atau bersukacita. Yang dinikmati adalah imajinasi kematian. 


Keterangan yang tercantum di halaman awal: “Dengan beberapa puisi di sini, mudah-mudahan dapat menarik perhatian adik-adik. Juga bagi mereka yang menyukai puisi dan berminat belajar menulis puisi, barangkali kumpulan ini bisa membantu sekadarnya.” Yang benar-benar belajar dari buku ini mungkin terbujuk menulis puisi-puisi yang sedih, murung, duka, atau suram. Konon, semua itu masih bisa “membenarkan” bahwa puisi itu “indah”.


Buku berjudul Kunang-Kunang masih ada. Dulu, yang menulisnya mungkin kepikiran bakal dibaca anak dan cucu. Jadi, ia sebenarnya sedang membuat warisan. Kita menduga ikhtiar menulis buku dan warisan itu ditentukan waktu. Yang turut berpengaruh adalah situasi sastra dan lakon anak-anak abad XXI. Puisi-puisi dalam buku berjudul Kunang-Kunang itu pengalaman bercap anak-anak yang terjadi saat hidup belum terlalu meriah dengan gawai. Pada masa 1970-an, anak-anak masih mengakrabi alam. Maka, puisi-puisi gubahan Handrawan Nadesul adalah dokumentasi sekaligus pembuatan warisan.


_______


Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Berita | Wujudkan Kabupaten Gemilang, Diperpusip Gelar Pemilihan Duta Baca 2026


NGEWIYAK.com, KAB. TANGERANG  – Pemerintah Kabupaten Tangerang melalui Dinas Perpustakaan dan Arsip sukses menyelenggarakan Grand Final Pemilihan Duta Baca Kabupaten Tangerang Tahun 2026. Acara puncak yang berlangsung meriah ini digelar pada Selasa (23/6) bertempat di Ruang Bioskop Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Tangerang, sebagai langkah strategis dalam menjaring figur inspiratif yang akan menjadi motor penggerak literasi di masyarakat.

Pemilihan Duta Baca tahun ini mengusung misi penting untuk meningkatkan minat baca dan indeks literasi masyarakat secara berkelanjutan. Melalui program ini, Dinas Perpustakaan dan Arsip berupaya melahirkan role model positif dari putra-putri terbaik daerah yang mampu bertindak sebagai mitra strategis perpustakaan dalam mengampanyekan pentingnya membaca serta belajar sepanjang hayat (lifelong learning).

Rangkaian seleksi berjalan sangat ketat dan kompetitif. Dimulai sejak masa pendaftaran pada 22 Mei hingga 11 Juni 2026, ajang ini berhasil menarik minat 36 peserta dari berbagai latar belakang di wilayah Kabupaten Tangerang. Pada tahap awal, para peserta diwajibkan mengunggah berkas administrasi, portofolio kegiatan literasi, daftar koleksi bahan bacaan pribadi, hingga video profil yang memuat visi, misi, serta program kerja inovatif mereka.

Setelah melalui seleksi berkas dan tes tertulis yang komprehensif, jumlah peserta mengerucut menjadi 20 orang. Guna membekali para calon penggerak ini, Dinas Perpustakaan dan Arsip menyelenggarakan sesi pembekalan intensif pada 17 Juni 2026. Dalam sesi tersebut, hadir dua narasumber dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI), yakni Endy Santoso, S.S., M.Hum. dan Alfa Husna. Keduanya memberikan wawasan mendalam mengenai dinamika pengembangan budaya literasi, optimalisasi fungsi perpustakaan sebagai pusat belajar masyarakat, serta taktik membangun gerakan literasi berbasis komunitas yang berkelanjutan.



Pasca-pembekalan, kompetisi berlanjut ke babak penyaringan berikutnya yang menyisakan 15 finalis terbaik untuk melaju ke panggung Grand Final. Di hadapan dewan juri, ke-15 finalis mempresentasikan visi, misi, dan program kerja unggulan mereka secara lugas. Penilaian komprehensif ini akhirnya menyaring 6 finalis teratas untuk masuk ke fase puncak, yaitu unjuk bakat literasi dan sesi wawancara mendalam.

Proses penilaian ketat dari awal hingga akhir dikawal langsung oleh dewan juri ahli, yakni Endy Santoso, S.S., M.Hum. dan Alfa Husna dari Perpusnas RI. Pada sesi wawancara final, komposisi juri diperkuat oleh kehadiran Kang Andri, perwakilan Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Perpusnas RI yang ditugaskan khusus di lokus Kabupaten Tangerang, guna memastikan aspek sosiologis dan kesiapan aksi lapangan para finalis dinilai secara objektif.

"Dengan terpilihnya Duta Baca Kabupaten Tangerang Tahun 2026, kami menaruh harapan besar agar mereka dapat menjadi motor penggerak perubahan yang nyata di tengah masyarakat. Kehadiran para duta ini diharapkan mampu mengakselerasi minat baca, memajukan dunia literasi, serta mendorong kualitas pendidikan di Kabupaten Tangerang demi mewujudkan visi besar daerah menjadi Kabupaten yang Gemilang," ungkap Panitia Penyelenggara Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Tangerang.

Berdasarkan keputusan final dewan juri, Mutiara Azroli resmi dinobatkan sebagai Juara 1 Duta Baca Kabupaten Tangerang 2026, disusul oleh Fitri Anisa Kusumastuti sebagai Juara 2, dan Abdul Muhi sebagai Juara 3.

Berikut adalah daftar lengkap pemenang Pemilihan Duta Baca Kabupaten Tangerang 2026:

Juara 1: Mutiara Azroli
Juara 2: Fitri Anisa Kusumastuti
Juara 3: Abdul Muhi
Harapan 1: Anisah Saputri
Harapan 2: Putri Ainun Nadilah
Harapan 3: Mas Agung Laksana Putra

Melalui penobatan ini, para pemenang secara resmi mengemban amanah untuk bersinergi bersama pemerintah daerah, komunitas, dan pegiat literasi dalam memperluas jangkauan akses bacaan serta menumbuhkan ekosistem masyarakat gemar membaca di seluruh penjuru Kabupaten Tangerang.


(Redaksi)