View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Latest News

Sunday, August 23, 2026

Puisi-Puisi Dewis Pramanas

Puisi Dewis Pramanas




Lagi-Lagi Maafkan Aku!

 

Pada sepasang bola mata yang basah

Tersimpan mutiara kasih

Waktu menjadi saksi penerimaan

Duniamu berputar terbalik

Maafkan aku!

 

Pada wajah setiap pagi tersenyum

Setiap aku membuka mata

Tangan dan kaki tanpa alas

Menerbangkan ribuan harapan

Meski lara kau pikul di punggung itu

Maafkan aku!

 

Pada nada lisanmu nan merdu

Kau mengajarkan indahnya saling

Juga tentang hati selembut kapas

Menerjemahkan cinta tanpa tapi

Terus bertahan lewati nasib

Yang tak manusiawi

Maafkan aku!

 

Teruntuk pemilik hati

Kini jiwaku seperti pohon

Terombang-ambing oleh angin

Satu persatu daunnya gugur

Lagi-lagi maafkan aku

 

Subang, 11 April 2026

 

 

 

Malam Minggu

 

malam ini

dari jarum jam terus berdetak

lampu-lampu kota redup

mereka coba bertahan dari angkuh realita

 

suara bising kendaraan hilir mudik

menjadi pelik paling tuli

deretan gedung menyesakkan paru-paru dunia

sampai kapan?

 

tak ada lagi perempuan sederhana

mencuci pakaian di sungai

tak melihat lagi anak-anak bermain petak umpat

berlarian tertawa lepas

 

justru sekawanan lelaki berpeci sembunyi  dari ruang-ruang obral mulut

bebas menerobos jalan tidur

senyap

 

ada apa?

isi bumi makin porak

sementara aku masih mencari arah

malam ini!

 

Subang, 15 Agustus 2025

 

 

 

Kertas Robek

 

dari riuh suara

menjejak akumulasi luka

berulang-ulang selalu sama

di podium koar-koar merias diri

mereka berbicara atas nama

 

menyusun rancangan paling membela

keutamaan seluruh rakyat

namun, isi perut lebih utama

dibanding isi hati dan kepala

rancangan sekadar wacana 

 

sedang carut marut hidup

semakin melebar

porak poranda amuk semesta di timur

di ujung barat negeri

rakyat ingin berpisah dari naungan pertiwi

para pencetak sumber daya

menggugat bobroknya aturan

 

tanah dan rerumputan di halaman

kini kering tak bersahabat lagi

mata ini menatap tajam

jalan kemakmuran gelap

keadilan sudah terusir

dari tempat yang semestinya

 

Subang, 16 Agustus 2025

 

 

 

Melawan Kenyataan

 

di depan dinding yang pudar

pohon mangga berdiri tegak

menghadap deretan bendera

berkibar tertuip semilir

seperti memberi isyarat

bangkit melawan kenyataan

 

di sepanjang jalan

biasa ramai burung bernyanyi

tetiba hening pagi ini

saat semua orang suka cita

rayakan hari bersejarah

satu sisi di ujung pulau

meratapi kisruh berpisah

 

tampak keramik mengelupas

sebab terus dihantam waktu

sesekali hujan menggenangi

di atas genting yang bocor

kumpulan peristiwa jadi penyebab

langit rumah berhamburan jatuh

 

semua telah menjadi dokumentasi

usah menunggu datang asa

seakan tak percaya lagi proses

meniti masa depan

cukup di mulut saja

menunggu habis

masa yang tersisa

 

Subang, 17 Agustus 2026

 

 

 

Berselancar Kelam

 

Kembali bulir perlahan jatuh di kedua pipi

Seperti mengoyak-nyoyak isi kalbu

Membawaku berselancar kelam

Teringat hal pemicu kepergianmu

Entah berapa lembar lagi

Catatan rindu tentang musim sunyi

Kala itu.

 

Waktu mengulang lagi dan lagi

Tentang pilu menusuk rongga dada

Di saat reranting itu patah

Hadapi peristiwa yang sama

Rapuh.

 

“Kau… mencintaiku dari hal berbeda?”

Bibir ini bergumam

Menyisakan renungan

Elegi perjalanan

 

Subang, 26 Juli 2026

 

 

 

______

 

Penulis

 

Dewis Pramanas, lahir di Subang, 1 Maret 1987. Saat ini ia mengajar di SD Negeri Ciberes, Subang. Hobi menulis puisi dan membaca buku membawanya aktif bergiat di berbagai komunitas literasi daring. Buku puisi tunggalnya berjudul Perindu Hujan (2021) sementara karya-karya puisinya juga termuat di sejumlah media daring. Baginya, menulis adalah ruang untuk membebaskan imajinasi dan menyuarakan keresahan hati.

Instagram: @dewispramanas


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com



Cerpen Sumala Djaya | Bara di Wajah Ayah

Cerpen Sumala Djaya

 


Gadis itu sering meminjamkan buku paket kepada Angga bila ada pekerjaan rumah (PR). Ia juga suka melarang Angga jika hendak membolos. Karena perhatian gadis itu, Angga jatuh hati padanya. Dialah Rochilah. Ketulusan hati dan keikhlasannya membukakan hati yang tertutup. Tapi Angga tak pernah punya keberanian untuk mengatakan cinta kepadanya.

 

Pada hari yang terik ketika liburan sekolah, angin berembus kian kemari meskipun mentari bersinar begitu terik. Burung-burung gereja melintasi angkasa seraya mendendangkan lagu sambil bercanda dengan kawanan burung lainnya. Angga tersenyum lebar. Ia tak mampu menyembunyikan perasaan bahagianya karena hendak berkunjung ke rumah kakak sepupu Rochilah, Layla.

 

Setelah berganti pakaian dan merasa cukup matang untuk pergi sendirian, ia pun berangkat. Sesampainya di rumah Layla, ia langsung berkenalan. Ternyata Layla adalah gadis yang mudah bergaul, terbuka, dan tentu saja ramah. Angga merasa nyaman berbincang dengan Layla. Ia seperti mendapatkan dorongan spiritual saat berdiskusi dengan Layla.

 

"Setelah aku membaca buku harianmu, aku mempunyai nalar bahwa kamu menyukai adik sepupuku," ungkap Layla.

 

"Aku memang menyukainya. Tapi aku tak punya cukup nyali untuk menyatakannya," jawab Angga.

 

"Kamu kan laki-laki. Gentle sedikit dong! Kamu hanya akan menyiksa diri jika seperti ini terus. Apa kamu tak menyesal jika ada yang merebutnya?" lanjut Layla.

 

"Mudah-mudahan saja aku bisa," ucap Angga.

 

"Harus bisa!"

 

Ia tergugah dengan semangat Layla yang begitu besar. Ternyata Layla memedulikannya. Layla tak ingin Angga menyiksa dirinya dengan cinta yang sia-sia.

 

Langit perlahan mulai gelap. Mentari tenggelam tersaput mega, sedangkan bulan begitu memancarkan cahayanya yang teduh kala itu. Burung-burung yang semula bercanda sambil mencari makan di rawa pun berterbangan satu per satu untuk pulang. Angga pun memutuskan untuk pulang.

 

***

 

Angga duduk di atas kasur yang masih tergelar di lantai kamarnya. Kertas surat, buku harian, serta catatan-catatan yang lainnya masih tergeletak di lantai. Ia menyandarkan tubuhnya pada tembok sambil memandangi sudut gelap kamar. Dilihatnya sosok gadis anggun berdiri mengenakan gaun berwarna merah jambu. Seketika ia terlempar ke alam fantasinya sendiri.

 

Beberapa jam kemudian ia beranjak dari kamarnya yang berantakan. Raut kusam dan tubuh yang kerempeng membuatnya terlihat seperti orang yang sedang sakit. Duduklah ia di teras rumahnya sembari melihat orang yang lalu-lalang di jalan. Terbersit dalam benaknya untuk pergi ke rumah Rochilah. Akhirnya ia pun benar-benar pergi ke rumah gadis itu.

 

Sesampainya di depan rumah Rochilah, diketuknya daun pintu yang tertutup seraya mengucapkan salam. Tak seorang pun membalas salamnya. Ia memberi salam untuk kesekian kali dan sedikit mengeraskan suara. Akhirnya Rochilah pun membuka pintu rumahnya. Rochilah pasti akan menyuruhnya masuk, pikirnya. Namun belum sempat ia membuka mulut untuk menyapa, Rochilah mengusirnya.

 

"Pasti kamu habis main-main tak keruan. Lebih baik kamu pulang!"

 

Mulanya ia mengira Rochilah akan senang dengan kedatangannya. Mungkin Rochilah merasa terganggu dengan kedatangannya, atau ia memang datang di saat yang tidak tepat. Ia merasa terpukul sekali atas perlakuan Rochilah yang mengusirnya tanpa alasan. Akhirnya ia pulang menanggung rasa kecewa.

 

Di rumah, Angga langsung membanting tubuhnya di atas tempat tidur. Dipejamkan matanya untuk tidur, namun kegelisahan hadir dan bergelayut dalam pikirannya. Diambilnya selembar kertas dan pena yang tergeletak di lantai kamar. Ditulislah apa yang berkecamuk dalam pikirannya pada selembar kertas itu.

 

Untukmu Selalu

 

Tak apalah kau usir aku dari rumahmu, asal jangan kau usir aku dari ingatanmu. Jujur, aku menyukaimu karena kau mau membimbingku meskipun aku tak pernah memedulikanmu.

Banyak cara aku tempuh agar dapat menemuimu, tapi kau mengusirku. Tidak adakah rasa rindu di hatimu seperti aku yang sangat merindukanmu?

Tahukah bahwa engkau akan selalu menjadi hal indah yang akan selalu aku ingat? Biarlah hari-hari terus berganti karena cinta sejati tak akan pernah mati.

 

Aku yang selalu mengagumimu.

 

***

 

Ia berjalan gontai membelah pagi yang berkabut seraya bernyanyi kegirangan. Dilihatnya Rochilah duduk di depan kios. Ia ingin memberikan surat yang ditulisnya semalam. Ah, biar jadi catatan pribadi saja, pikirnya. Akhirnya ia lebih memilih bergabung dengan kawan-kawannya di gang sekolah untuk nimbrung merokok dan menghirup kopi. Teman-temannya sering mencarinya jika ia tidak sekolah. Meskipun suka nimbrung makan seenaknya, ia juga sangat bijak.

 

Di dalam kelas, kerjanya hanya termangu memandangi Rochilah. Ia berharap akan ada yang menyampaikan isyarat cintanya kepada Rochilah.

 

"Aku biarkan bayangmu mengisi malam-malamku, sebagaimana cinta ini hanya bayang bagiku. Mungkin aku memang pengecut karena tak sampai kuasa mengatakan cinta padamu. Jika hanya dalam mimpi kau dapat kucumbui, maka biarlah aku tetap terlelap. Telah aku torehkan semua rasa, namun selalu saja engkau mengabaikannya."

 

Meski ia duduk terdiam, hati dan pikirannya terus berkecamuk. Tak satu pelajaran pun yang disampaikan oleh gurunya yang ia catat. Ia hanya berkutat dengan pikiran-pikiran kacaunya.

 

***

 

Dari pengeras suara kantor sekolah, terdengar jelas wali kelas memanggilnya untuk ke ruang TU (Tata Usaha).

"Kesalahan apa yang aku perbuat?" pikirnya. Ia keluar dari kelas. "Kenapa aku disuruh ke kantor, ya? Mudah-mudahan saja tidak ada masalah yang serius," gerutunya kemudian.

 

Pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung mendapatkan jawaban terus menghampiri. Ditatapinya kantor sekolah setajam pisau. Lalu ia beranjak dari tempat duduk. Ia hendak menghadap wali kelasnya di kantor itu.

 

Wali kelasnya tengah menunggu sambil membaca koran. Tampak kursi kosong di depan meja yang sudah tentu disediakan untuk Angga.

 

"Kamu tahu kenapa dipanggil ke mari?" tanya wali kelasnya membuka perbincangan.

 

"Tidak, Pak," jawab Angga.

 

"Ya jelas tak tahulah, wong belum Bapak kasih tahu kok!" ucap wali kelasnya.


Angga menjadi geram.

 

"Memangnya kenapa ya, Pak?" tanya Angga menundukkan kepala.

 

"Tidak apa-apa kok. Bapak hanya ingin memberitahumu bahwa rapotmu tidak akan Bapak serahkan sampai kamu mau memanggil orang tuamu ke mari," tutur wali kelasnya.

 

"Pasti ada masalah serius ya, Pak?"

 

"Ah, tidak juga. Bapak hanya ingin mengobrol dengan orang tuamu. Kamu masih punya orang tua, kan?"

 

"Masih, Pak!"

 

"Kalau begitu, pulanglah. Bapak tunggu di sini sampai kamu dan orang tuamu datang."

 

Angga keluar dari kantor itu. Ia berjalan dengan perasaan tertampar. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh wali kelasnya. Ia juga tak tahu harus berkata apa pada orang tuanya. Setelah berpikir cukup matang dan tekadnya sudah bulat, akhirnya ia pun pulang diantarkan temannya.

 

Sesampainya di rumah, ia tidak melihat bapak atau ibunya. Dicarinya kedua orang tuanya di sawah dan ladang belakang rumah, tapi tetap tidak ada. Ke mana mereka? batinnya. Ia duduk menopangkan tangan di atas lututnya. Dilihatnya kakaknya baru pulang dari pasar, lalu disampaikannya kepada kakaknya bahwa bapak harus segera ke sekolah untuk mengambil rapotnya.

 

"Ya, nanti aku sampaikan," ucap kakaknya.

 

Angga pun berpamitan kembali ke sekolah. Sekolah sudah tampak sepi. Angga duduk di teras kantor. Berjam-jam ia duduk menerawang dalam alam bawah sadarnya.


"Kok melamun sih, Ga?" ucap seorang bapak-bapak.

 

"Eh, Mamang. Bakso buat siapa, Mang?" tanya Angga.

 

"Buat Bapak Kepala Sekolah," jawab si Mamang.

 

Ternyata bapak-bapak itu adalah mamang tukang bakso langganannya yang suka mangkal di depan sekolah.

 

"Sebenarnya ada masalah apa sampai Bapak disuruh ke mari?" tanya bapaknya. Angga terperanjat. Bapaknya sudah ada di sampingnya.

 

"Tidak tahu, Pak," ungkap Angga.

 

"Ya sudah, ayo kita ke dalam."

 

Mereka berdua masuk ke kantor.

 

"Selamat pagi, Pak," Bapaknya menyalami.

 

"Oh, ya. Selamat pagi, silakan duduk, Pak," jawab wali kelasnya.

 

"Kiranya ada masalah apa ya, Pak, sampai saya disuruh ke mari? Apa anak saya membuat ulah lagi?" lanjutnya.

 

"Sebenarnya tidak juga. Hanya yang lebih menyesalkan ialah ia harus tinggal kelas," ungkap si wali kelas.

 

Wajah bapaknya seperti mengeluarkan api.

 

____________

 

Penulis

 

Sumala Djaya, adalah anak petani yang menggeluti dunia tuli menulis di kamarnya sendiri (Belajar Secara Otodidak). Karyannya berupa puisi dan cerpen dipublikasi di media lokal dan nasional. Anak ke empat dari lima bersaudara, tinggal di Kragilan, bagian timur dari Kabupaten serang, Banten.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail .com


Saturday, August 22, 2026

Resensi Kabut | Buku dan Godaan Kemajuan

Oleh Kabut



Pada hari yang tidak ada janjian, seorang menteri “terpaksa” menjawab dengan cepat dan singkat. Jawaban yang terekam kamera. Maka, tayangan yang beredar membuat orang-orang memiliki alasan mencipta guyonan yang mengandung ejekan. Yang dibahas adalah buku dan pengarang (Barat). Menteri itu menganjurkan agar anak-anak membaca buku-buku yang digarap oleh para pengarang Barat. Ia justru kebablasan menilai buku garapan orang Indonesia. Menteri yang seolah memihak bacaan-bacaan dari Barat.


Hari-hari yang ramai dengan celotehan para pengarang, pembaca, dan pengamat buku anak sejenak menjadi hiburan yang (tidak) bermutu. Polemik buku muncul tanpa tulisan-tulisan panjang, tak ada seminar, dan omongan tandingan yang serius. Jadi, kita memang ditakdirkan hanya mengikuti “gegeran” perbukuan tak melebihi selusin hari.


Kita tidak mau ikut-ikutan bikin ruwet meski masih berhak membahas bacaan anak. Yang dilakukan adalah membaca buku anak, yang terbitan awalnya seratusan tahun yang lalu. Menteri dan para pemberi tanggapan mungkin belum pernah mengetahui atau membacanya. Kita sedang berusaha mengingat dan memuliakan bacaan lama, yang diniatkan sebagai bacaan anak di Nusantara, akhir abad XIX.


Buku yang terkenang berjudul Sobat Anak-Anak gubahan Lie Kim Hok. Namanya tidak mengesankan sebagai pengarang dari Barat atau Eropa. Dulu, buku itu penting untuk bacaan sedikit anak di Nusantara yang sudah berkemampuan membaca dalam aksara Latin. Anak-anak yang sudah mendapatkan dampak sekolahan atau mendapat didikan istimewa agar melek-baca. Buku lawas diterbitkan lagi oleh Buku Katta, 2026. Kita membutuhkan waktu penantian yang panjang saat perdebatan mutu buku anak di Indonesia tidak pernah selesai. Buku yang diterbitkan Zending Press pada 1884 itu berbahasa Melayu, yang memberi kita bujukan-bujukan sejarah, tidak selalu harus berpikiran bacaan mutakhir, abad XXI. Keberanian menerbitkan ulang seperti “tantangan” agar kita tidak meremehkan yang lama.


Lie Kim Hok, pengarang yang banyak terpengaruh dari buku-buku Barat, tak melupa memiliki rujukan kuat untuk segala cerita dari Tiongkok. Ia pun mengerti arus cerita yang mengakar dan bertumbuh di Nusantara. Yang paling kentara, ia memiliki perhatian yang besar atas kesusastraan di Barat. Maka, ia mengolah pengaruh-pengaruh melalui garapan tulisan dan kepentingan menerbitkan buku-buku. Sosok yang memiliki peran ganda: pengarang dan penerbit. Ia pun sibuk dalam terbitan surat kabar, yang memungkinkan beredarnya beragam pengaruh. Pada akhir abad XIX, ia meyakini bahwa surat kabar dan buku mengesahkan modernitas di Nusantara.


Ia moncer dalam kesusastraan yang digerakkan kaum peranakan Tionghoa. Novel-novel ditulis untuk santapan kaum dewasa. Namun, Lie Kim Hok pun serius dan rela dalam mengadakan bacaan untuk anak-anak. Peran yang sebenarnya berpengaruh besar dalam sejarah dan perkembangan bacaan anak di Indonesia, dari masa ke masa. Maka, Buku Katta yang menerbitkan ulang sengaja memberi tanda seru agar kita tidak kelamaan menanggapi ocehan menteri tentang buku anak dan Barat.


Buku berjudul Sobat Anak-Anak berisi puisi dan cerita (pendek). Lie Kim Hok memberi persembahan pada anak-anak yang sudah mengalami perubahan nasib dalam laju keaksaraan. Mereka menjadi pembaca yang istimewa. 


Kita membaca puisi berjudul “Si Piin dan Si Praja”. Bacaan mengandung percakapan, yang menguak masalah pelajaran dan permainan bagi anak-anak. Yang disampaikan Piin pada Praja: Selamanya belajar saja/ Selamanya duduk bekerja/ Apa begitu mestinya orang?/ Jangan bodoh kau, Praja!/ Tinggal itu buku di meja/ Kita main sekarang. Pada akhir abad XIX, benda bernama buku dan peristiwa orang belajar ilmu-ilmu kadang dianggap aneh. Mereka dituduh “menghabiskan” waktu. Yang membaca buku, yang kehilangan dunia senang-senang.


Jawaban yang diberikan: Selamanya saja bermain/ Selamanya tak kerja lain/ Apa patut orang begitu?/ Jangan bodoh kau, In!/ Kerjaan kita mesti berjalan/ Simpan kaleci itu. Yang tidak boleh terlupa adalah paduan selaras: belajar dan bekerja. Orang yang ingin maju tentu “bernafsu” belajar dan memiliki ketekunan dalam bekerja. Ia tidak mau dikutuk bodoh. Ia melawan godaan kemalasan. Piin ingin mencipta hidup yang seru tapi Parja selalu menganggap bermain itu kesenangan tiada tanding. 


Penentu dari “dunia lama” dan “dunia baru” dalam puisi gubaha Lie Kim Hok adalah buku. Anak-anak pada abad XIX yang membaca puisi itu menjadi saksi atas perubahan besar yang terjadi di Nusantara. Mereka diakrabkan dengan buku-buku. Mereka memiliki peran terhormat sebagai pembaca buku. Di tangan, ada buku. Di atas meja, ada buku. Kaum buku berkembang di Nusantara, yang membedakan mereka dengan keriuhan “kaum lisan”. Jadi puisi mengenai buku itu cocok untuk anak-anak yang perlahan gandrung buku menjelang pergantian abad. Yang menjadi bukti dan indah adalah akhir puisi: Si Piin lantas simpan kalecinya/ Ke dalam saku bajunya/ Sembari tertawa/ Ia lantas ambil bukunya/ Terus duduk dekat sobatnya/ membaca buku berdua. Peristiwa mereka, peristiwa yang menakjubkan, yang membuat Nusantara berubah dalam beragam pengaruh, terutama pengaruh dari Barat. Dua anak yang beruntung saat Nusantara ingin berpindah dari gelap menuju terang.


Kita berganti membaca cerita yang berjudul “Tenu Kain”. Tokoh yang diceritakan adalah anak perempuan bernama Saeni. Cerita yang khas Nusantara berlatar abad XIX. Lie Kim Hok bertugas merekam zaman, menghadirkan manusia-manusia dalam cerita yang sederhana tapi “menerangkan” lakon hidup yang berpijak semangat. Kita yang membaca cerita tanpa mengetahui nama pengarang mungkin menyangka ada kecondongan dalam masalah agama dan gender. 


Yang ditulis Lie Kim Hok: “Anak perempuan dari Haji Usman ada satu anak yang suka sekali sama pelajaran. Si Saeni namanya anak itu. Ibu bapaknya sayang sekali sama dia karena saban hari si Saeni itu suka bekerja, suka belajar ini dan itu. Kalau ibunya kata apa-apa, selamanya ia menurut, tidak sekali ia tahu bantahan. Baik sekali si Saeni itu, sobatku orang lain juga sayang sama dia. Tempo si Saeni sudah besar sedikit, ibunya panggilin dia satu perempuan yang bisa sekali menenun kain. Perempuan itu mesti menjadi gurunya si Saeni. Ia ajarin si Saeni tenun kain.” Anak-anak yang membaca buku garapan Lie Kim Hok merasa mendapat contoh atau panuta. Saeni yang suka belajar dan bekerja makin terpuji gara-gara kepatuhan dan sifat-sifat baik. Yang pasti Saeni berhasil melawan malas. Ia berada dalam takdir keberuntungan setelah rajin belajar dan bersungguh-sungguh dalam kerja. 


Buku lama yang terbit lagi belum tentu segera mendapat perhatian dan pembahasan orang-orang di Indonesia, yang setiap hari terbujuk ribut-ribut. Kita semestinya berani mengajukan buku berjudul Sobat Anak-Anak dalam adu pemahaman mengenai buku, anak, modernitas, kolonialisme, dan keindonesiaan. Buku itu referensi yang menakjubkan saat kita mau menepi sebentar dari kehebohan politik dan kelinglungan kebijakan perbukuan di Indonesia.



_______



Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com