View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Latest News

Monday, May 25, 2026

Karya Siswa | Humaira Fakhiratur Rofifah | Ke Mana Ayah Pergi?

Cerpen Humaira Fakhiratur Rofifah



Aku melangkah ke sekolah seperti biasa, menyusuri jalan dengan lelah yang diam-diam kupendam. Langkah kakiku akhirnya sampai di gerbang sekolah. Pagi menyapa dengan riuh suara yang hangat. Aku duduk di bangku, menyusun harap di antara buku-buku, menyimak pelajaran yang perlahan tersimpan di memori. Menurutku, sekolah bukan sekadar tempat belajar, melainkan ruang kecil tempat kenangan tumbuh diam-diam.

Waktu terus berputar tanpa suara, hingga tak terasa dentang pulang pun tiba menggema di udara. Langkahku menyusuri jalan bersama teman-teman, disisipi cerita ringan yang mengalir tanpa jeda. Sesampainya di rumah, sebuah kabar tak terduga datang dari ayahku, bahwa aku dan keluarga kecilku akan jalan-jalan ke Pantai Anyer.


Besok pun akhirnya tiba.


“Ayah, kita jadi ke pantai hari ini?” tanyaku sambil berlari kecil menghampiri ayah yang sedang menyiapkan tas.


Ayah tersenyum. “Tentu jadi. Hari ini ayah mau mengajak kalian liburan kecil.”


Ibu keluar dari dapur sambil membawa bekal. “Jangan lupa bawa tikar. Nanti kita akan makan bersama di sana.”


Di perjalanan, suasana mobil penuh tawa.


“Ayah, pantainya masih jauh?” tanyaku sembari melihat ke luar jendela.


“Sebentar lagi,” jawab ayah. “Sabar, tak akan lama kalian lihat laut yang biru dan indah.”


Sesampainya di Anyer, ombak terdengar bergulung pelan.


“Masyaallah, indah sekali …” kata ibu kagum.


Aku dan kedua adikku langsung berlari mendekati air.


“Ayah, lihat! Ombaknya besar!”


Ayah tertawa kecil. “Hati-hati, jangan terlalu jauh.”


Lalu ayah pun mengajak kami membangun istana pasir bersama, sementara ibu menata makanan di atas tikar.


“Ayo makan dulu,” panggil ibu.


Akhirnya kami menikmati makanan sambil bercerita dan tertawa riang. Aku memandang mereka dan merasa hangat di hati. Hari itu bukan hanya tentang liburan ke pantai, tetapi tentang kebersamaan keluarga yang terasa begitu indah.


Senja telah tiba, kami kembali pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, ayah langsung berpamitan untuk kembali ke tempat kerja.


“Tidak semuanya bertahan lama.”


Kata-kata itu ternyata benar adanya. Suasana rumah yang dulu hangat kini mulai berubah. Ayahku mulai bangkrut, ekonomi keluarga tumbang. Rumah ini tidak lagi menenangkan, melainkan ruang yang saling melukai.


“Ayah capek, Bu! Usaha ayah bangkrut!” bentak ayah.


“Lalu kenapa semua dilampiaskan ke kami?” suara ibu mulai bergetar.


Aku keluar perlahan dari kamar.


“Bu … Yah … jangan bertengkar lagi …” kataku pelan.


Ayah mengusap wajahnya kasar. “Kamu belum mengerti keadaan kita sekarang.”


Ibu menunduk. Matanya merah karena menangis.


“Dulu kita makan bersama sambil tertawa,” ucap ibu. “Sekarang tiap hari hanya ada amarah.”


Ayah terdiam beberapa saat. Namun akhirnya, ia mengambil jaketnya.


“Ayah mau keluar dulu.”


“Pergi lagi?” tanya ibu kecewa.


Ayah tidak menjawab. Pintu rumah ditutup keras hingga membuatku tersentak. Aku memandang ibu yang tertunduk lemas di kursi.


“Bu … apa semuanya akan kembali seperti dulu?”


Ibu tersenyum tipis sambil mengusap kepalaku.


“Ibu juga berharap begitu, Nak. Tapi kadang hidup berubah tanpa izin.”


Sebulan sudah ayah pergi meninggalkan kami entah ke mana. Kini, ibulah yang menjadi tulang punggung keluarga. Setiap hari ibu pergi mengajar dan menitipkan kedua adikku kepadaku. Di sela-sela kesibukannya, ibu berusaha menelepon nomor ayahku, berharap notifikasi panggilan berubah menjadi dering dan dijawab. Tak hanya itu, ibu bertanya kepada teman kerja, teman nongkrong, bahkan keluarga pun ikut mencari keberadaan ayahku. Namun, belum juga ada hasil yang menenangkan hatiku, ibu, dan kedua adikku.


“Bu, Ibu tahu ayah sekarang di mana?” tanyaku lirih.


Ibu menghentikan aktivitas di depan laptopnya lalu menggeleng pelan. “Belum ada kabar, Nak.”


“Sudah lama sekali ayah menghilang …”


Ibu tersenyum kecil meski matanya sembab. “Iya … ibu juga terus menunggu.”


“Aku kangen ayah, Bu.”


Ibu memelukku erat. “Ibu juga. Tapi ibu selalu berdoa semoga nanti pintu rumah ini diketuk oleh orang yang kita tunggu selama ini.”


Aku menggenggam erat tangan ibu.


Keesokan harinya, aku kembali ke sekolah. Pagi itu udara masih dingin, tetapi peluh sudah terasa di tengkukku. Namun, ketika di sekolah, aku mendapatkan tambahan beban berupa selembar kertas tunggakan sekolah.


“Nanda, ini surat tunggakan SPP. Berikan ke orang tuamu,” kata Bu Guru.


Aku menerima surat itu dengan tangan gemetar. Dadaku sesak.


Sepulang sekolah, aku hanya diam memandangi kertas itu di teras rumah.


“Kenapa melamun, Nak?” tanya ibu.


Aku ragu menyerahkan suratnya.


“Bu … sekolah menagih SPP lagi.”


Ibu membaca surat itu perlahan lalu menunduk.


“Maaf … ibu belum bisa bayar.”


Aku menggigit bibir menahan tangis. Sejak ayah pergi, ibu bekerja sendiri untuk memenuhi kebutuhanku dan kedua adikku.


Ibu pun memelukku sambil menahan air mata.


“Ibu akan usahakan, Nak.”


Aku hanya mengangguk.


Malam pun tiba. Rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Suara jangkrik terdengar jelas dari halaman belakang. Aku melamun. Aku teringat besok sekolah kembali menagih uang SPP. Aku merasa tidak tega terus melihat ibu memikul semuanya sendiri.


Tiba-tiba aku teringat pada Bibi Ona yang membuat emping di kampung sebelah. Emping buatan bibi terkenal enak, tetapi biasanya hanya dititipkan di warung kecil.


Lamunanku terhenti karena kehadiran ibu.


“Ibu belum tidur?” tanyaku pelan saat melihat ibu keluar membawa segelas teh hangat.


“Belum, Nak. Kenapa masih di luar?”


“Bu, kalau aku bantu jualan emping punya Bibi gimana?”


Ibu langsung menatapku.


“Kamu mau jualan emping sepulang sekolah?”


Aku mengangguk. “Aku ingin bantu ibu. Sejak ayah pergi, ibu kerja keras sendirian.”


Ibu menunduk, matanya mulai berkaca-kaca.


“Kamu enggak perlu memikirkan semua ini, Nak. Kamu fokus belajar saja …”


Ibu menggenggam erat tanganku.


“Maaf … kamu jadi dewasa lebih cepat.”


Aku tersenyum kecil.


“Enggak apa-apa, Bu. Asalkan kita tetap sama-sama.”


“Ibu mengizinkan kamu berjualan, Nak. Tetapi, kamu harus ingat tugas utamamu belajar,” kata ibu dengan tegas.


Setelah mendapatkan izin dari ibu, keesokan harinya sepulang sekolah aku segera pergi ke rumah Bibi Ona dengan penuh harapan.


Aku duduk perlahan. Mataku melihat tumpukan emping yang sedang dijemur di tampah besar. Aku memulai maksud kedatanganku.


“Aku mau bantu jualan emping Bibi keliling kampung setelah pulang sekolah.”


Bibi Ona tampak terkejut.


“Lho, memangnya buat apa? Kamu fokus sekolah saja.”


Aku menarik napas panjang.


“Aku kasihan sama ibu, Bi. Sejak ayah pergi, ibu kerja sendirian. Kadang aku lihat ibu diam-diam nangis kalau malam.”


Suasana mendadak hening. Hingga akhirnya Bibi Ona mengizinkanku untuk berjualan emping miliknya.


“Baiklah. Kalau memang itu keinginanmu, Bibi izinkan. Tapi kamu harus tetap sekolah.”


Aku berpamitan kepada Bibi dan membawa emping yang sudah dikemas.


Di pundakku, sebuah tas kain besar berisi plastik-plastik bening bergoyang seirama langkah kakiku.


“Emping! Emping melinjo asli, Bu! Masih renyah!” teriakku dengan suara nyaring, memecah kesunyian gang.


Setiap hari rutinitasku menjajakan emping dari satu gang ke gang lain di kampung ternyata sudah berlangsung selama satu bulan. Akan tetapi, hari ini berbeda dari biasanya. Saat aku sedang berteduh di bawah pohon melinjo untuk menghitung lembaran ribuan yang lecek, ponselku berdering. Nama ibu muncul di layar. Suaranya terdengar tergesa dan gemetar.


“Assalamualaikum, Nak … cepat pulang,” suara ibu terdengar gemetar di telepon.


“Ada apa, Bu?”


“Ibu … baru dapat kabar tentang ayah.”


Aku terdiam sejenak.


“Ayah kenapa?”


Di seberang telepon, ibu menangis pelan.


Aku menggenggam tas erat-erat.


“Tunggu aku pulang, Bu. Jangan menangis sendirian.”


“Iya … hati-hati di jalan.”


Suara burung yang bersahutan dan deru lalu lalang orang lewat biasanya hanya dianggap angin lalu, tetapi siang itu semuanya terdengar seperti dentum peringatan. Ibu baru saja menelepon dengan suara yang hampir tidak dikenali, gemetar.


Matahari tepat berada di atas kepala, memancarkan panas yang membakar. Namun, keringat yang mengucur di pelipis bukan karena suhu yang menyengat, melainkan karena aku takut berita buruk menimpa ayahku.


Sampai di rumah …


“Aku pulang, Bu …” kataku pelan sambil menerobos pintu rumah.


Namun suasana rumah ramai. Beberapa keluarga dari pihak ayah duduk di ruang tamu sambil berbisik-bisik. Aku melangkah pelan melewati mereka. Tatapan mereka terasa asing dan membuat dadaku sesak. Di sudut ruangan, ibu hanya diam menunduk sambil menggenggam ujung bajunya erat-erat.


“Ada apa, Bu?”


Ibu hanya diam menunduk.


Bibi mendekat perlahan.


“Nak … kamu harus sabar, ya.”


“Memang ada apa?” tanyaku cemas.


Bibi menarik napas panjang.


“Ayahmu … menikah lagi.”


Aku langsung terdiam.


“Apa …?”


“Iya …” jawab bibi lirih.


Aku menatap ibu yang matanya sembab karena menangis.


“Jadi … semua ini benar, Bu?”


Ibu mengangguk pelan tanpa berkata-kata.


“Ayah keterlaluan!” bentakku dengan mata berkaca-kaca. “Tega sama ibu, aku, dan adik-adikku!”


Ibu langsung memelukku.


“Sudah, Nak … ini adalah jawaban dari doa-doa kita, meskipun pahit.”


Akhirnya aku mengerti. Ayah tidak sedang membangun keluarga baru. Ia hanya sedang mengganti kami dengan versi yang menurutnya lebih baik.


Aku mengeluarkan ponsel, menghapus kontak bernama “Ayah”. Setelah menarik napas panjang, perlahan aku menekan tombol hapus. 


_____

Penulis

Humaira Fakhiratur Rofifah, lahir di Pandeglang, 16 Maret 2012. Hobi menggambar & menulis. Siswa SMPIT Syifa Fikriya.


Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com



Saturday, May 23, 2026

Resensi Kabut | Minggu Bertanda Seru

Oleh Kabut



Di sebaran sastra dunia, yang dibaca anak dan remaja, muncul nama para tokoh. Nama-nama yang akan selalu dikenang sepanjang masa. Semua itu nama asing. Soalnya, kita membaca cerita anak yang memukau berasal dari negara-negera di Eropa dan Amerika Serikat. Sastra anak mereka mendunia cepat melalui pelbagai cara. Yang terpenting melalui kolonialisme. Artinya, Eropa yang datang ke Asia atau Indonesia turut “mengenalkan” sastra yang bertumbuh di Eropa selama ratusan tahun. Datanglah cerita-cerita anak di Nusantara, yang semula berbahasa asing. Beberapa diterjemahkan dalam bahasa Melayu, Sunda, Jawa, dan lain-lain.


Nama-nama para tokoh terus teringat. Buku-buku cerita anak dari Eropa dan Amerika Serikat yang terpenting terbit dan laku, sampai sekarang. Bagaimana sastra anak yang bertumbuh di Indonesia? Kita saja tidak mampu membuat daftar 100 pengarang, yang meramaikan sastra anak di Indonesia. Usaha menyebut judul buku-buku pun sangat sulit. Lantas, nama para tokoh yang dibuat pengarang dalam bukunya gampang dilupakan. Nama-nama yang sulit tenar dan menjadi referensi bagi anak-anak. Pengecualian tentu terjadi. 


Di majalah Bobo, 5 Agustus 1989, tersaji iklan yang mengembalikan ingatan kita kepada tokoh yang hidup dalam cerita. Tokoh yang sempat berkuasa pada masanya. Siapa? Yang hidup pada masa 1980-an dan 1990-an mengingat tokoh cerita itu bernama Lupus.


Yang ditulis dalam iklan: “Oom dan tante butuh teman buat si kecil? Dan, oom dan tante sebegitu sibuk sampai tak ada waktu mencarikan teman buat si kecil? Atau, tak sempat lagi mendongeng kala si kecil menjelang tidur?” Iklan yang berlagak pintar. Buktinya, pengajuan tiga pertanyaan, yang sudah disiapkan jawabannya. Jawaban yang benar, tidak mungkin salah. Iklan yang berisi pertanyaan dan jawaban. Kita membaca kalimat jangan dianggap memerintah, boleh disebut jawaban: “Hadirkan ‘Lupus Kecil’ saat ini juga.” Iklan buku yang tidak lucu. Iklan untuk kaum dewasa, yang diminta beli buku untuk anak kecil. Pada babak sebelumnya, Lupus ditampilkan sebagai remaja. Lantas, dihidupkanlah Lupus yang masih kecil.


Apa keunggulan dari cerita yang dibuat oleh Hilman dan Boim? Iklan di majalah Bobo diupayakan mujarab. Penerbit ingin seri Lupus saat masih kecil laris seperti seri Lupus sebelumnya. Jadi, keterangan yang mengandung kebenaran dan kesejatian diberikan: “Lupus Kecil adalah cerita Lupus yang masih kelas satu SD. Berisikan pengalaman dan kejadian yang pasti dialami pula oleh putra-putri anda. Tentu si kecil senang berteman dengan lupus. Mereka tak berjarak. Mereka punya hobi yang sama, seperti nonton TV, main sepeda, makan siomai, atau sembunyi di kolong tempat tidur.” Ingatlah, yang diceritakan adalah bocah-bocah masa 1980-an atau berlatar Orde Baru. Jangan membayangkan bocah-bocah dalam cerita itu masih bisa ditemukan dalam abad XXI.


Kita buktikan dengan membuka buku berjudul Lupus Kecil: Pingsan Together. Hilman dan Boim Lebon belum kapok menghibur pembaca. Buku diterbitkan Gramedia, 2003. Namun, Lupus bukan lagi murid kelas satu SD. Ia menjadi tokoh yang bertumbuh. Yang harus diperhatikan: Lupus adalah murid kelas empat SD dan Lulu berada di kelas tiga.


Kita menikmati satu cerita yang mengakibatkan tawa selama belasan menit. Apa yang dipilih dalam buku berukuran kecil dan tipis, yang dihiasi ilustrasi apik? Kita memilih yang berjudul “Kerja di Hari Minggu? Oh, No!” Judul yang sangat tidak menarik tapi dijamin lucunya.


Mami, Lupus, dan Lulu di rumah. Mereka mau mendefinisikan Minggu yang berbeda dari biasanya. Kebetulan, Papi tidak ada di rumah. Maka, rumah itu nasibnya ditentukan tiga orang. Minggu bukan untuk bermalas-malasan atau mencari hiburan sepuasnya. Apa yang terjadi? Kita membaca sambil capek tertawa.


Lupus dan Lulu protes, tidak ingin hari Minggu hancur maknanya sebagai hari libur. Namun, setiap protes mendapat jawaban paling benar dari Mami, yang sulit banget digugat meski mendatangkan seribu jin. Kita mengutip omongan Mami yang dahsyat: “Ingat, sekali Mami canangkan wajib belajar sembilan tahun, eh sori, jadi ngaco deh. Sekali Mami canangkan kerja hari ini, ya kalian harus kerja. Titik!” Aneh, Mami bilang titik tapi yang terlihat adalah tanda seru. 


Mami yang tidak mungkin kejam tapi tidak berniat menjadi komedian. Yang dikatakan: “Kalo menolak, kalian akan dihukum cambuk! Bukan, kalian dihukum untuk bikin cambuk sebanyak-banyaknya, lalu dijual ke pasar!” Mami yang mahir berlogika dan berbahasa. Tujuannya ketertiban dan kepatuhan dalam rumah.


Mereka berhasil kerja bakti, membersihkan beberapa ruangan. Tugas paling penting adalah menyingkirkan dan membuang barang-barang yang menyesaki beberapa ruang. Barang-barang itu dianggap tidak berguna, tidak boleh menjadikan rumah terasa sempit. Membuang hukumnya wajib sesuai ketentuan yang dibuat Mami. Kita membayangkan tiga orang itu benar-benar merusak makna libur pada hari Minggu. Mereka malah menggerakkan tubuh, berdebat, dan pesta keringat. Apakah itu masih bisa terjadi pada masa sekarang?


Yang dikatakan Mami cocok dengan yang terjadi di banyak rumah. Mami menjelaskan secara tegas: “Tapi, kalian pernah nggak merasa, kadang kita susah mencari sesuatu, misalnya mencari martil, gunting kuku, silet, atau benda-benda kecil lainnya? Kenapa? Karena di tempat-tempat yang semestinya berisi barang-barang itu, kini sudah terisi benda-benda lain. Di dapur saja, yang mestinya cuma ada perabot dapur, sekarang juga diisi barang-barang bekas. Rantai sepeda, kursi patah, kaleng bekas oli. Nah, tujuan kita ini adalah mengenyahkan semua benda-benda yang tidak pada tempatnya, dan semua benda yang kita anggap tidak penting lagi bagi kita!” Pidato itu ditambahi janji bahwa Lupus dan Lulu bila berhasil dalam pengenyahan itu bakal mendapat ganjaran yang menarik.


Jam-jam berlalu. Beberapa ruang berhasil dibersihkan dari barang-barang. Yang tampak, ruang-ruang menjadi longgar, tidak sesak dan berantakan lagi. Namun, kerja belum selesai. Sore, Papi pulang bawa cerita. Mereka bakal mendapat rezeki asal Papi bisa mengambil sertifikat tanah. Pokoknya, Papi sedang berbisnis yang menguntungkan. Syaratnya harus ada sertifikat. Di rumah, ia berusaha mengambilnya. Suasana yang berubah di rumah membuatnya kagum sekaligus khawatir. Rumah dalam kondisi rapi, bersih, dan indah. Minggu yang unik.


Di kamar, Mami mengatakan bahwa tidak mungkin ada sertifikat. Papi menjawab enteng: “Memang karena Papi nggak menyimpannya di sana. Di kamar kita sudah penuh barang. Sempit. Baju di mana-mana. Bedak-bedak Mami bertebaran. Jadinya, surat-surat itu Papi simpan di rak dapur. Di sana kan kosong.” Omongan itu menimbulkan gegeran. Minggu menjadi panik.


Papi gagal menemukan. Yang terjadi: “Hei, ke mana surat-surat itu? Dan, ke mana barang-barang koleksi Papi lainnya? Setang sepeda tua, mesin tik tua, oh, itu semua barang-barang yang nanti bakalan mahal…. Bundel-bundel majalah pada ke mana? Rak sepatu peninggalan zaman revolusi. Itu kan kenang-kenangan dari seorang pahlawan yang tak dikenal?”


Panik. Mami segera memerintah Lupus dan Lulu bekerja lagi. Mereka dipaksa mengambil lagi barang-barang yang dibuang di bak sampah. Barang-barang itu punya Papi, koleksi untuk kelak dijual. Lupus dan Lulu yang lelah berani protes. Mami tidak bisa disalahkan dan dikalahkan. Iming-iming yang diberikan agar patuh: “Nanti hadiahnya dobel.” Keluarga yang bikin pembaca tertawa. Kalimat yang terindah sebagai penutup cerita: “Akhirnya, rumah Lupus kembali seperti sedia kala.” 


Cerita yang mengesankan. Kita memang tidak memberi perhatian besar kepada Lupus dan Lulu gara-gara ocehan yang seru itu milik Mami dan Papi. Tetap saja cerita bisa dinikmati anak-anak yang membutuhkan tawa agar hari-harinya tidak menyiksa dan menjemukan.


_______


Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Friday, May 22, 2026

Berita | Pelatihan Menulis Cerpen SRMA 34 Lebak Bangun Semangat Literasi Siswa


NGEWIYAK.com, LEBAK -- Sekolah Rakyat Menengah Atas 34 Lebak menggelar kegiatan pelatihan menulis cerpen pada Jumat, 22 Mei 2026 pukul 13.30 WIB di Auditorium BPMP Banten. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 100 peserta didik kelas X serta dihadiri oleh 9 guru pendamping.


Pelatihan tersebut menghadirkan Encep Abdullah (pegiat literasi Banten) sebagai narasumber. Ketua pelaksana kegiatan, Ahmad Falih, menyampaikan bahwa kegiatan ini diselenggarakan sebagai upaya meningkatkan kemampuan literasi peserta didik di Sekolah Rakyat.


“Dalam upaya meningkatkan kemampuan literasi peserta didik di Sekolah Rakyat, kami menyelenggarakan kegiatan pelatihan menulis cerpen sebagai wadah pengembangan kreativitas, imajinasi, dan kemampuan menulis cerpen,” ujarnya.


Ia juga berharap kegiatan tersebut dapat memberikan motivasi, wawasan, serta pengalaman berharga bagi para siswa melalui karya-karya narasumber yang telah dimuat di berbagai media nasional. Menurutnya, pelatihan ini menjadi langkah positif dalam membangun semangat literasi sekaligus melahirkan karya-karya tulis inspiratif dari siswa-siswi SRMA 34 Lebak.


Dalam penyampaian materinya, Encep Abdullah mengawali kegiatan dengan membacakan dua cerpen sebagai contoh. Satu cerpen dibacakan oleh seorang siswa, sedangkan satu cerpen lainnya dibacakan langsung oleh narasumber. Peserta tampak antusias menyimak cerita yang disajikan.


Salah satu cerpen yang dibahas adalah Dia Bertanya tentang Tuhan karya Febi Indirani. Menurut Encep, cerpen tersebut memiliki penyajian yang unik dan menarik karena disampaikan sepenuhnya dalam bentuk dialog antara seorang ibu dan anak. Keluguan cerita yang disampaikan membuat peserta beberapa kali tertawa saat menyimaknya.



Selain itu, Encep juga menekankan pentingnya keunikan dalam menulis cerpen. Ia menjelaskan bahwa cerpen harus berbeda dengan jurnal harian. Salah satu caranya ialah menghadirkan pembuka cerita yang menarik serta menggunakan sudut pandang yang tepat agar cerita terasa lebih hidup.


Pada sesi diskusi, beberapa peserta aktif mengajukan pertanyaan. Nur Aulia Putri bertanya tentang cara membuat kalimat yang tepat dan menarik, Kayla Herbiyani menanyakan mengenai pengembangan tokoh dalam cerita, sedangkan Wahyu bertanya tentang penggunaan bahasa dalam penulisan cerpen.


Panitia berharap kegiatan ini tidak berhenti sampai pelatihan saja. Sebagai tindak lanjut, pihak penyelenggara akan menyeleksi siswa-siswi yang memiliki minat dan bakat dalam menulis untuk kemudian mengikuti pertemuan rutin setiap minggu guna mengasah kemampuan serta mengembangkan potensi mereka lebih dalam lagi.


Sementara itu, Novita Sulistyorini selaku guru Bahasa Indonesia sekaligus moderator acara, memberikan kesan positif terhadap pelaksanaan kegiatan yang berlangsung dengan tertib, interaktif, dan mampu membangkitkan semangat siswa dalam dunia literasi dan kepenulisan.



(Redaksi)


Thursday, May 21, 2026

Esai Afrian Rahadyaning Pangestu | Marriage is Scary atau Kita yang Terlalu Naif dalam Memandang Pernikahan?

Esai Afrian Rahadyaning Pangestu


“Marriage is scary.” 


Kalimat ini terdengar seperti keluhan generasi yang setengah sadar, setengah menyangkal. Pernikahan diposisikan seperti jebakan: indah di undangan, melelahkan di kenyataan. Tapi ada satu pertanyaan yang jarang diajukan dengan jujur—benarkah yang menakutkan itu pernikahannya, atau kita sendiri yang masuk tanpa bekal, tanpa arah, dan tanpa akal sehat?


Mari kita buka dengan sedikit kejujuran yang mungkin tidak nyaman: banyak orang menikah bukan karena siap, tapi karena tidak enak. Tidak enak sama orang tua yang terus bertanya, “kapan nyusul?”. Tidak enak sama pasangan karena sudah pacaran terlalu lama.  Tidak enak sama lingkungan karena dianggap “tidak laku.” Akhirnya, pernikahan dijadikan solusi sosial, bukan keputusan eksistensial.


Ada juga yang lebih kreatif, yaitu menikah karena ingin “move on” dengan cara paling mahal berupa resepsi. Ada yang menikah untuk membuktikan bahwa dirinya “baik-baik saja” setelah putus. Bahkan, ada yang menjadikan pernikahan sebagai panggung balas dendam yang sah secara hukum. Ironisnya, semua itu dibungkus dengan kata-kata suci seperti “komitmen” dan “ibadah,” padahal di dalamnya penuh motif yang tidak pernah dibereskan.


Sebagian besar dari kita ini aneh. Untuk membeli ponsel saja kita harus riset berhari-hari, kita bandingkan spesifikasi, baca ulasan sana-sini. Tapi, untuk memilih pasangan hidup—yang akan kita hadapi setiap hari—kita cukup bermodal “nyaman” dan “nyambung.” Seolah dua kata itu cukup untuk menopang puluhan tahun konflik, perubahan, dan realitas hidup.


Lebih absurd lagi, banyak yang merasa siap menikah hanya karena sudah punya pekerjaan tetap. Seakan-akan slip gaji adalah bukti kedewasaan. Padahal, yang sering terjadi justru sebaliknya, di mana finansial mungkin stabil, tapi emosional masih seperti anak kos yang panik saat air galon habis. Pernikahan akhirnya dipenuhi orang-orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri, tapi sudah sibuk menuntut orang lain untuk melengkapinya.


Tidak berhenti di situ. Setelah menikah, kita masih membawa “penyakit lama” yaitu penyakit ketergantungan. Banyak pasangan yang secara legal sudah mandiri, tapi secara psikologis masih bergantung pada orangtua. Setiap konflik kecil, maka langsung berubah menjadi sidang paripurna keluarga. Setiap keputusan harus melewati “persetujuan rida orangtua.” Pernikahan yang seharusnya menjadi ruang untuk dua orang, justru berubah menjadi forum kolektif yang destruktif. Dan di atas semua itu, ada satu tekanan modern yang diam-diam mematikan pernikahan, yaitu standar media sosial. 


Pasangan harus romantis seperti konten viral. Rumah tangga harus terlihat harmonis di feed. Hidup harus estetik, konflik harus disensor. Kita tidak lagi membangun pernikahan untuk dijalani, tapi untuk ditampilkan. Kita sibuk terlihat bahagia, sampai lupa bagaimana cara benar-benar bahagia.


Tidak heran jika kata “cerai” menjadi begitu ringan untuk diucapkan ketika berumah tangga. Ketika terdapat sesuatu yang tidak sesuai ekspektasi, malah langsung ingin keluar kata cerai. Padahal yang keliru bukan selalu pernikahannya, melainkan ekspektasi kita yang dibentuk oleh ilusi dan delusi media sosial. Jadi, kalau hari ini banyak yang bilang “marriage is scary,” mungkin itu bukan peringatan tentang pernikahan. Itu sebenarnya cermin bahwa kita belum cukup serius memahami apa yang sedang kita masuki.


Lantas apa yang bisa dilakukan, tanpa harus kita mengeluh dan menyalahkan keadaan?


Pertama, kita harus berhenti menjadikan pernikahan sebagai pelarian. Menikah tidak akan menyelesaikan luka lama, tidak akan otomatis mendewasakan, dan tidak akan mengisi kekosongan yang kita sendiri tidak pahami. Umpama pernikahan adalah mata air, kalau kita masuk dengan membawa ember bolong, yang terjadi bukan penuh, tapi bocor.


Kedua, perbaiki cara memilih. Jangan hanya jatuh cinta pada versi terbaik seseorang. Semua orang pasti tampak menarik saat belum diuji oleh masalah atau sesuatu yang tidak sesuai keinginan. Yang perlu dilihat justru bagaimana dia marah, bagaimana dia kecewa, bagaimana dia mengambil keputusan saat tidak ada yang ideal, bagaimana dia menghadapi pasangan yang rewel dan bawel. Pernikahan bukan tentang menemukan orang yang menyenangkan saat baik-baik saja, tapi yang tetap waras saat keadaan tidak baik-baik saja.


Ketiga, siapkan diri, bukan sibuk mempersiapkan acara yang mewah. Kebanyakan dari kita lebih serius mempersiapkan dekorasi dan acara resepsi dibanding mempersiapkan mental, fisik, dan ilmu. Lebih pusing memilih katering daripada belajar komunikasi. Padahal yang akan dijalani bukan pesta satu hari, tapi hidup bertahun-tahun.


Keempat, belajar mandiri setelah menikah. Hormat kepada orangtua itu penting, tapi membangun batas itu dewasa. Tidak semua hal perlu dibawa keluar dari rumah tangga. Ada hal-hal yang harus selesai di dalam, oleh dua orang yang memilih untuk bersama.


Kelima, turunkan ekspektasi, naikkan kapasitas. Jangan berharap pasangan selalu sesuai standar kita—apalagi standar yang kita ambil dari medsos. Lebih baik memperbesar kemampuan kita untuk memahami, beradaptasi, dan bertahan.


Pada akhirnya, mungkin pernikahan terkesan “menakutkan”, tapi hanya berlaku bagi mereka yang masuk tanpa persiapan dan tanpa kejujuran. Bagi yang datang dengan kesadaran, maka pernikahan bukan arena horor, melainkan ruang belajar paling intens tentang diri sendiri dan orang lain. Masalahnya, kita sering ingin hasilnya, tapi malas menjalani prosesnya. Dan kalau itu masih jadi kebiasaan, mungkin yang perlu kita takuti bukan pernikahan, melainkan kebiasaan kita sendiri yang gemar mengambil keputusan besar dengan cara yang sangat kecil.


______

Penulis


Afrian Rahadyaning Pangestu adalah guru Matematika, IPA, dan IPS untuk murid SMP serta SMA. 


Kirim naskah ke 

redaksingewiyak@gmail.com


Esai Uwais Korni | AI Sok Tahu!

Esai Uwais Korni


Tidak instan penulis-penulis dahulu di dalam mempelajari kepenulisan. Sebagian buku jika dibaca sekarang malah kesannya banyak typo. Tapi tetap menjadi mahakarya yang layak dibaca soalnya di zaman itu memang sedikit yang mendedikasikan diri sebagai penulis. Berbeda dengan sekarang yang banyak muda-mudi tergiur menjadi penulis entah sebab kesurupan setan apa. Bagaimanapun ikhbar tentang mitos penulis itu kayak-kayak layak sekali masyhur dan sukses secara finansial begitu mewabah bak virus Korona.


Terkait buku-buku yang banyak kesalahan dan tidak luput dari kekurangan, jika itu yang dimaksudkan adalah buku-buku lawas maka sekumpulan buku klasik tersebut masih dinikmati sebagai peninggalan yang bisa diambil hikmahnya. Itu tidak menutup kemungkinan bahwa ada juga buku-buku bagus di zaman itu. Saya tidak menggeneralisasikan bahwa yang lawas pasti banyak keluputannya.


Yang klise bagi saya, misalnya, cerita Layla Majnun. Entah itu termasuknya legenda atau sebatas karangan fiksi, namun secara penceritaan itu sangat gampang diambil kesimpulan. Ini menurut sudut pandang saya yang tidak begitu tertarik dengan buku yang bertele-tele oleh majas. Soalnya point penting dari Layla Majnun hanyalah cowok yang depresi sebab patah hati. Tidak lebih daripada itu.


Cuman beberapa bab saya baca. Kemudian kebosanan menjalar ke waktu pembacaan saya atas buku tadi. Soalnya itu buku masuknya tema bucin yang sebelas dua belas dengan Dilan. Bagi saya seharusnya itu bukan termasuk buku mahakarya. Saya pertegas lagi, soalnya buku tersebut majasnya juga alay dan kesannya diperpanjang bukan dengan pembahasan inti melainkan dengan kalimat-kalimat syair.


Saya memaklumi buku-buku Arab klasik memang sering dijumpai berwujud syair. Ada soalan yang menjadi pembeda antara syair Arab dengan syair kita. Kalau syair Arab sangat ketat di dalam pengetahuannya. Ada bab dan sub-bab bagaimana caranya menulis syair yang baik dan benar. Permasalahannya adalah membuat syair tidak semudah membuat puisi. Syair kental dengan diksi singkat yang sesuai dengan format irama sekaligus bagaimana sekiranya pembacaan huruf akhirnya sama. Sedangkan puisi sebatas perdebatan tanpa akhir terkait bagaimana sekiranya esensi puisi menyesuaikan dengan keberlangsungan zaman. Kesimpulannya, puisi itu dinamis sedangkan syair itu “dogmatis”.


Alhasil, jika tingkat kesukaran menulis syair begitu tinggi maka intensitas di dalam pembuatannya juga tidak kaleng-kaleng. Tidak seperti saat saya menulis esai ini yang saya tulis sambil rebahan. Format dalam bersyair itulah yang menjadi overthinking para penulisnya. Bukan sekadar formatnya, melainkan ditambah pusing lagi dengan pemilihan diksinya bagaimana sekiranya sesuai dengan format yang ada.


Berbeda dengan syair Arab zaman sekarang yang istilahnya lebih modern dan dapat beradaptasi dengan puisi-puisi pada umumnya. Syair Arab tempo dulu tidak mentolerir adanya kehilangan format kepenulisan itu. Maka, datangnya Al-Qur’an yang kelihatannya kok bernada tapi dilihat-lihat kok tidak ada kesamaan dengan syair Arab masa itu menjadi busur tajam yang tembus ke jantung pujangga Arab, bahwa ternyata memang benar adanya Al-Qur’an itu bukan buatan Muhammad SAW.


Konteks syair sudah dijelaskan secara terperinci yang kesimpulannya, penyair itu amat diagung-agungkan di antara alasannya adalah cara membuat syair sendiri itu sangat susah. Bahkan di zaman sekarang pun AI tidak dapat membuat syair klasik. Saya jamin itu.


Ada ilmu bersyair di pesantren namanya Ilm Bahr atau Ilm Arud. Gampangnya, ilmu ini tentang bagaimana caranya bersyair yang baik dan benar. Itu sama seperti ilmu-ilmu permusikan. Perbedannya, Ilm Arud hanya soal irama dan bagaimana sekiranya kata menyesuaikam irama yang dibuat tadi. Di dalam puisi ada kesamaan dalam bentuknya. Contoh pada rumusan A-A-B-B. Namun untuk syair lebih kompleks untuk sekadar menyamakan huruf terakhir perlariknya.


Kenapa saya yakin bahwa AI tidak akan sanggup membuat syair Arab klasik? Sungguh keyakinan saya terkait ini seratus persen, bahkan lebih. Soalnya, AI itu sekumpulan data dan untuk membuat tulisan yang sesuai dengan data hanya dimampukan AI saat menulis teks berbahasa Indonesia dan bahasa lain yang gampang sintaksisnya. Bahasa Arab itu susah. Ilmu bahasa Arab sendiri ada 10 macam, dan setiap macam tadi kompleksitasnya sudah mampu membuat rambut kita beruban.


Bahasa Indonesia typo sedikit saja kita bisa memahaminya. Jangankan kita, AI pun bisa membaca dan mengoreksi typo teks bahasa kita ini. Saking gampangnya bahasa Indonesia, AI mudah sekali merevisi tulisan-tulisan kita yang salah dalam segi tatanan kebahasaannya itu. Bahkan dapat juga mengubahnya menjadi bermajas. AI adalah pujangganya bahasa Indonesia yang profesionalitasnya di atas rata-rata. Namun AI tetaplah AI. Karya AI, sebagus apa pun itu tetap bukan mahakarya yang layak dihargai.


Misalnya minta tolong ke AI. Buatkan tujuh paragraf yang tiap satu paragraf berisi minimal 5 kalimat dan maksimal 10 kalimat dengan tiap semua itu ada majasnya atau permisalannya yang majasnya tadi bagus dan tidak lebay, dengan tema: Pujian kepada Kang Encep sebab telah menjadi pendidik yang mengajarkan kami di dalam latihan menulis, dan tidak lupa tentang komunitas kepenulisannya itu yang telah melahirkan tidak sedikit penulis-penulis baru.


Ini hasilnya AI ya, berikut (sampai oke, itu tanda selesainya “mahakarya AI” hasil dari prompt di atas:


Di tengah riuhnya kesibukan dunia, Kang Encep hadir bak oase di padang pasir yang tandus bagi kami yang dahaga akan ilmu. Beliau tidak sekadar memberikan teori, tetapi juga menyalakan pelita di dalam pikiran kami yang sebelumnya masih tertutup kabut ketidaktahuan. Setiap kalimat yang meluncur dari lisannya ibarat benih unggul yang disemaikan ke lahan jiwa yang subur. Kami merasa beruntung karena beliau menuntun langkah kami dengan kesabaran setegar karang yang tak goyah diterjang ombak. Kehadirannya adalah mercusuar yang memandu kapal-kapal kecil kami menemukan arah di tengah samudra literasi yang luas.


Komunitas kepenulisan yang beliau bangun tumbuh subur seperti pohon yang akarnya menghunjam dalam ke tanah idealisme. Di tempat ini, ide-ide liar kami yang semula hanya bergentayangan seperti debu akhirnya menemukan bentuk dan wadahnya. Kang Encep merangkul setiap anggota layaknya seorang nakhoda yang memastikan seluruh awaknya sampai ke dermaga impian dengan selamat. Ruang diskusi ini menjelma menjadi kawah candradimuka tempat kami ditempa agar tulisan kami mampu melampaui batas cakrawala. Tanpa dedikasi beliau, mungkin komunitas ini hanyalah sekumpulan kertas kosong yang tak bermakna.


Banyak penulis baru yang lahir dari rahim komunitas ini berkat tangan dingin sang guru yang luar biasa. Ibarat seorang pemahat ulung, Kang Encep mampu melihat potensi mahakarya yang tersembunyi di balik bongkahan batu kasar milik para pemula. Beliau mengasah kreativitas kami dengan sentuhan yang halus namun tajam, sehingga setiap kata yang kami tulis kini memiliki ruh. Keberhasilan kawan-kawan yang telah menerbitkan buku adalah cermin dari bagaimana beliau membimbing kami dengan penuh ketulusan. Kini, jejak-jejak pena kami mulai membekas di atas kertas sejarah yang akan dibaca oleh banyak orang di masa depan.


Dalam setiap sesi latihan menulis, Kang Encep selalu menekankan bahwa kata-kata adalah senjata yang lebih ampuh daripada pedang manapun. Beliau mengajarkan kami untuk menyusun diksi sehalus sutra namun memiliki kekuatan yang mampu menggetarkan nurani pembaca. Analogi yang beliau berikan selalu tepat sasaran, bagaikan anak panah yang melesat menuju pusat target tanpa pernah meleset. Kami belajar bahwa menulis adalah proses memanusiakan diri sendiri melalui untaian aksara yang jujur dan bermartabat. Berkat bimbingan beliau, kami tidak lagi takut menghadapi lembaran putih yang menantang kreativitas kami.


Atmosfer kekeluargaan yang beliau ciptakan membuat komunitas ini terasa seperti rumah kedua yang hangat bagi para pembelajar. Persaingan sehat di antara kami tumbuh mekar bak bunga-bunga yang saling bersaing menampilkan keindahan warna tanpa harus saling menjatuhkan. Kang Encep berperan sebagai perekat yang menyatukan perbedaan pendapat menjadi harmoni yang begitu indah untuk didengar dan dirasakan. Setiap kritikan yang beliau berikan terasa seperti embun pagi yang menyejukkan sekaligus membersihkan noda pada draf tulisan kami. Kami merasa aman dalam naungan komunitas ini karena tahu ada sosok pemimpin yang selalu menjaga iklim kreativitas tetap stabil.


Pencapaian komunitas ini dalam mencetak penulis baru bukan sekadar angka, melainkan bukti nyata dari sebuah dedikasi yang tak pernah padam. Ibarat fajar yang perlahan menyingsing, keberhasilan rekan-rekan kami memberikan harapan bagi siapa pun yang baru saja menapaki dunia kepenulisan. Kang Encep tidak pernah menuntut kami untuk menjadi salinannya, justru beliau membiarkan gaya bahasa kami tumbuh bebas seperti liuk pohon bambu yang diterpa angin. Beliau adalah kompas yang menjaga orientasi kami agar tidak tersesat dalam kerumitan tata bahasa yang membosankan. Kini kami sadar bahwa setiap orang memiliki cerita yang layak untuk diabadikan dalam bentuk tulisan yang berkelas.


Terima kasih kami ucapkan kepada Kang Encep yang telah menjadi suluh di tengah kegelapan keraguan kami selama ini. Ilmu yang beliau bagi bagaikan aliran sungai yang tak henti-hentinya memberi kehidupan bagi ekosistem literasi yang kami bangun bersama. Semoga komunitas ini terus berkembang menjadi raksasa yang menaungi ribuan penulis baru dengan dedikasi yang tidak pernah luntur oleh waktu. Kami akan terus merawat ingatan tentang setiap pelajaran berharga yang telah beliau tanamkan di relung hati terdalam kami. Akhir kata, beliau bukan sekadar pendidik, melainkan arsitek yang telah membangun pondasi impian kami dengan sangat kokoh.


Ok.


Coba kita bikin puisinya dengan prompt ini. Ubahlah hasil kamu tadi menjadi puisi singkat. Lima bait saja. Tiap satu larik isinya 4 kata saja. Berikut hasilnya:


KANG ENCEP SANG PELITA


Kang Encep sang pelita,

Tuntun kami penuh setia.

Komunitas lahirkan jiwa baru,

Tulisan mengalir bagai air.

Karya abadi selamanya tumbuh.


Ok.


Sedangkan saya yakin jika AI tidak akan pernah mampu menuliskan satu syair utuh saja. Apa alasannya? Syair itu berbeda dengan puisi. Dari yang awalnya kalimat utuh menjadi puisi, itu masih dengan shorof atau morfologi yang sama. Sedangkan kalimat berbahasa Arab jika diubah menjadi syair itu sama artinya menyengaja untuk typo. Kenapa saya katakan menyengaja typo? Satu yang mendasari hal tersebut adalah syair itu memang merusak kalimat yang sudah jelas menjadi sepotong-sepotong kata yang secara morfologinya tidak sesuai dengan sintaksis pada umumnya. Syair adalah bentuk pemberontakan dari kalimat yang klise. Jadi, kenapa pujangga Arab suka bersyair dan malakah atau kemampuan bersyair sangat dipuji-puji jika berada di jiwa seseorang? Alasannya ya itu, susah buatnya.


Coba ya saya tanyakan ke AI. Apakah kamu bisa menulis syair klasik Bahasa Arab yang sesuai dengan ilmu arud? Kalau bisa, coba buatkan satu larik saja tema sesuai dengan kemampuanmu dan apa maumu. Arudnya yaitu mustafilun failun mustafilun failun. Jadi, arud itu pencocokan teks. Kayak di puisi ada kesamaan A-A-B-B. Gitu. Berikut hasilnya:


Tentu, saya bisa menyusunnya. Dalam tradisi sastra Arab, pola *Mustaf'ilun Fā'ilun Mustaf'ilun Fā'ilun* merupakan salah satu bentuk dari *Bahr al-Basit*.


Berikut adalah satu bait syair yang saya susun dengan pola tersebut (meteran *Bahr al-Basit*):


**Mustaf'ilun Fā'ilun Mustaf'ilun Fā'ilun**

*Ahlul 'ulūmi ka-nūrin fī dayājīhā*

(Artinya: Para pemilik ilmu itu bagaikan cahaya di tengah kegelapan malamnya).


**Analisis Arud (Wazan):**

 * **Ahlul 'ulū** (Mustaf'ilun)

 * **min ka-nū** (Fā'ilun)

 * **rin fī dayā** (Mustaf'ilun)

 * **jīhā** (Fā'ilun)


Apakah Anda ingin saya membuatkan bait selanjutnya untuk melengkapi syair tersebut?


Ok. Tetap sama. AI bodoh dalam bersyair. Itu pun masih ngotot dan sok tahu bahwa “Tentu, saya bisa menyusunnya”. Tampak kedunguannya tampak mentereng dengan pendetailannya atas penjelasan yang dibuat-buatnya itu. Ini definisi dari sudahlah bodoh gak sadar sama kebodohannya sendiri. Haha.


Nah, dari esai yang saya buat ini ada pembelajaran yang sangat berharga bagi saya. Saya menulis esai ini sekali duduk. Sekali pembuatan. Mulai dari sebelum subuh dan selesainya habis subuhan. Bahwa, typo dalam menulis itu sangatlah normal, apalagi jika tidak dibantu sama AI. Dan bentuk ketidaktahuan penulis merupakan hal yang patut disyukuri, soalnya penulis yang tidak tahu akan berusaha mencari tahu. Bukan malah sok tahu seperti AI itu.


______


Penulis 


Uwais Korni lahir di kawasan YPPRN dengan nama panggilan Mas Didin. Mulai latihan menulis sejak 2014 sampai seterusnya. Masih belum punya buku tunggal secara resmi. Alumni Klinik Menulis ke #6.

Esai Sulaiman Djaya | Ironi Teologis Pesta Babi

Esai Sulaiman Djaya


Sebagai Muslim, saya sebenarnya merasa malu ketika menonton film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita. Bagaimana tidak. Di film itu, aktor utama perampasan lahan, perusakan ekologi, aktor utama dan otak intelektual pengusiran dan penindasan terhadap masyarakat adat adalah seorang "haji". 


Padahal, Muhammad Rasulullah sendiri adalah tokoh dan simbol suci yang "memerangi" perampasan, penghisapan atas nama dagang dan ekonomi, "memerangi" penindasan segelintir elite Quraisy, hingga menghapus perbudakan dan rasialisme yang memberhalakan bahwa Arab lebih mulia ketimbang Ajam. 


Salib Merah yang menjadi simbol resistensi dalam film itu adalah perlawanan terhadap seorang "haji". Di sana seorang "Muslim" menjadi penindas dan zalim, laku yang justru bertentangan dengan esensi monoteisme Islam yang melarang penindasan dan perampasan. Seorang "haji" yang menjadi pelaku kolonialisme dengan dukungan negara atau rezim yang berkolusi dengan swasta (korporasi) yang dibekingi militer (aparatus kekerasan negara) atas nama transisi energi dan ketahanan pangan. 


Masalahnya adalah: kenapa klaim-klaim dan jargon-jargon transisi energi, ketahanan pangan dan hilirisasi itu malah menyingkirkan ruang hidup dan kehidupan banyak masyarakat adat, merusak dan menghancurkan ekologi hingga bahkan tak berdampak pada kesejahteraan rakyat Indonesia. 


Di sinilah timbul pertanyaan: pembangunan untuk siapa? Pertumbuhan ekonomi untuk siapa? Ketika rakyat tetap saja miskin di saat kegiatan dan aktivitas ekonomi ekstraktif yang menguras dan mengeksploitasi sumber daya alam dan menghancurkan hutan itu sedemikian banyak.  


Kekerasan dan penindasan oleh kekuatan modal yang melihat hutan hanya sebagai komoditas, bukannya kehidupan dan ruang hidup, secara sosial-budaya, pun tak kalah mengerikan. 


Sudah tentu, ketika buldoser dan ribuan ekskavator menggusur hutan adat, yang digusur dan  dihancurkan tak cuma pepohonan atau hutan itu sendiri, tapi juga memori kolektif dan sistem pengetahuan sosial-ekologis tradisional masyarakat adat Papua, yang sebelumnya mereka jaga dan mereka wariskan secara turun temurun. 


Selain tentu saja kehidupan itu sendiri yang dihancurkan, sebab hutan adalah ruang dan ekosistem kehidupan yang di dalamnya hidup beragam makhluk, hingga penyedia bagi keberlangsungan kesehatan pernapasan hidup kita. 


Keserakahan memang tidak beragama sekaligus bisa menjangkiti siapa saja yang mendaku beragama. Sebab keserakahan hanya mengenal uang dan kekuasaan. 


Film dokumenter Pesta Babi sesungguhnya tak sekadar kritik sosial-politik, tapi juga keprihatinan ekologis hingga menyingkap tabir kesesatan paradigma rasionalitas modern yang memandang alam sebagai objek semata. 


Meski judul film itu sendiri diambil dari praktik ritual sakral masyarakat adat di Papua, namun secara semantik dan metaforis bisa dibaca sebagai pesta para elit yang menjelma para babi. Para elite yang kerap mengumbar klaim atas nama rakyat dan pembangunan nasional, namun sesungguhnya demi memenuhi ketamakan dan keserakahan seglintir pemilik modal. 


Rakyat dan masyarakat adat digusur dan disingkirkan dengan menggunakan jargon-jargon pembangunan proyek "ekstraktif" strategis nasional, pertumbuhan ekonomi dan yang sejenisnya, tapi pada saat yang sama kemiskinan tidak pernah berkurang. 


Praktik ritual sakral Pesta Babi itu sendiri bagi masyarakat adat di Papua merupakan simbol relasi atau hubungan manusia dengan alam lingkungan (ekologi) yang khidmat, lambang solidaritas komunal, dan terutama penghormatan terhadap kehidupan. 


Sementara dalam film dokumenter Pesta Babi kita akan menyimpulkan bahwa judul film itu adalah metafora kolonialisme modern, yang ironisnya dilakukan elite yang kerapkali bicara atas nama rakyat. Elite yang berkolaborasi dengan korporasi dan menggunakan militer untuk mengintimidasi rakyat dan masyarakat adat yang melakukan perjuangan dan perlawanan untuk mempertahankan hak-hak mereka.


Kalau kita telisik lebih dalam, film Pesta Babi sebenarnya tanpa sadar menyingkap inti krisis hubungan manusia modern dengan alam lingkungannya. Tak sekadar soal konflik agraria atau kolonialisme yang dilakukan elite korporasi yang serakah. 


Film itu juga menggambarkan bagaimana manusia modern yang arah pikirannya digerakkan rasionalitas instrumental menjadi makhluk yang destruktif bagi alam dan kehidupan karena memandang alam tak lebih sebagai objek dan komoditas yang bisa dieksploitasi untuk mendapatkan keuntungan. 


Contohnya dapat kita lihat pada aktivitas dan proyek ekstraktif atas nama Proyek Strategis Nasional (PSN), yang sesungguhnya proyek segelintir elite korporasi (swasta). 


Di mata keserakahan manusia-manusia modern yang berparadigma rasionalitas instrumental itu, hutan Papua dianggap tak berpenghuni dan kosong. Padahal di sana ada masyarakat adat, ada keanekaragaman hayati, ada flora fauna, ada kehidupan, yang eksistensi dan keberadaannya atau kelestariannya juga akan menentukan kelestarian hidup kita di masa depan. 


Yang menjadi ironi adalah ketika rezim atau negara menjadi pemberi stempel atau kolaborator keserakahan segelintir elit korporasi itu, negara malah menjadi monster bagi pemilik sejati kedaulatan itu sendiri, yaitu rakyat dan masyarakat. 


Itulah dosa ekologis dan politis negara, ketika negara menjadi alat kepentingan bagi keserakahan segelintir elite korporasi yang justru menggusur dan menyingkirkan rakyat dan masyarakat sebagai pemilik sejati kedaulatan. 


Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita menyodorkan fakta tak terbantahkan kepada kita, adanya relasi atau kongkalikong antara kekuasaan negara (rezim), militer (aparatus kekerasan negara), dan korporasi, dalam ambisi ekstraktif gila-gilaan yang bernama Proyek Strategis Nasional (PSN)  –yang dilaksanakan dan dijalankan dengan menggunakan moncong senjata (kekerasan dan paksaan), bukan atas dasar persetujuan dan kepercayaan masyarakat (rakyat). 


Sekali lagi, saya merasa prihatin dan malu ketika menonton film dokumenter Pesta Babi besutan Dandhy Laksono dan Cypri Jehan Paju Dale itu, ketika mayoritas "kolonialis mutakhir" itu adalah mereka yang mendaku sebagai Muslim, padahal Islam menentang perampasan sepihak dan penindasan.


____________


Penulis


Sulaiman Djaya, penyair dan salah satu pegiat Sekolah Rumi.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com



Sunday, May 17, 2026

Puisi-Puisi Fileski Walidha Tanjung

Puisi Fileski Walidha Tanjung




Empat Peluru untuk Sebuah Pagi  

 

Tragedi Trisakti terjadi pada tanggal 12 Mei 1998. Peristiwa penembakan mahasiswa ini berlangsung di depan kampus Universitas Trisakti, Jakarta, saat aksi demonstrasi menuntut reformasi dan turunnya Presiden Soeharto dari kekuasaan Orde

Pagi mengunyah trotoar seperti kitab yang kehilangan huruf-huruf.
Empat peluru beterbangan dari mulut besi, seperti gagak mabuk meminum matahari.
Asap berdoa dengan lidah solar, sementara gedung-gedung menua dalam sekali nafas.
Di jembatan, angin menggantung jas almamater seperti kulit domba yang disalib pasar.

Ibu-ibu menjahit ketakutan pada kantong beras yang bocor.
Radio memamah pidato, lalu muntah menjadi abu di selokan.
Langit Jakarta memelihara petir seperti singa kurus yang lapar suara.
Dan jalan raya—seekor ular tua—berganti kulit di bawah sepatu demonstran.

Di negeri ini, cermin belajar berdusta dari istana.
Pohon-pohon menunduk seperti jamaah yang kehilangan kiblat hujan.
Darah menetes perlahan dari papan reklame, merah seperti mawar di mulut algojo.
Seseorang meniup peluit dari rongga malam, lalu kota berubah menjadi kitab ratapan.

Empat tubuh rebah, tetapi tembok-tembok mulai bermimpi.
Kuburan membuka jendela bagi burung-burung yang lama dibungkam.
Dan pagi itu, matahari tampak letih,
seperti malaikat yang semalaman mengangkut reruntuhan nurani.

(terinspirasi Tragedi Trisakti dan runtuhnya Orde Baru)

 

Perempuan yang Menjahit Luka dengan Cahaya

Ia berjalan di lorong rumah sakit seperti bulan yang tersesat di perut badai.
Lampu minyak gemetar di tangannya, kecil seperti doa yang disembunyikan para pengungsi.
Kasur-kasur berkarat mengerang seperti kapal pecah di laut garam.
Tubuh manusia berbau alkohol, darah, dan mazmur yang lupa nada.

Perempuan itu menjahit luka dengan benang cahaya.
Jarumnya seekor burung bangau yang mematuki nanah sejarah.
Di luar jendela, perang mengunyah rumput dan nama-nama bayi.
Namun matanya tetap teduh seperti sumur tua di tengah padang pasir.

Ia tahu: dunia sering memandikan senjata dengan susu ibu.
Ia tahu: rumah-rumah ibadah kadang lebih dingin daripada kamar mayat.
Maka ia memeluk demam seperti memelihara rusa yang patah kaki.
Dan malam, seekor anjing hitam, tidur di bawah langkahnya.

Orang-orang menyebutnya penyembuh.
Padahal ia hanya perempuan yang memungut serpihan langit dari lantai rumah sakit.
Sementara kota-kota sibuk membangun menara dari tulang dan statistik,
ia diam-diam mengajari cahaya agar tidak membenci manusia.

(terinspirasi Florence Nightingale)

 

Jakarta Terbakar dan Tuhan Menutup Mata

Api menjilat etalase seperti lidah serigala yang lapar emas.
Jakarta berubah menjadi kitab hangus yang dibaca angin dengan suara gemetar.
Di jalan-jalan, ban-ban terbakar seperti matahari kecil yang dikutuk asap.
Dan langit menggantung rendah, hitam seperti paru-paru para buruh.

Perempuan-perempuan berlari membawa bayi dan kenangan.
Kaca-kaca pecah seperti doa yang dilempar dari mulut kelaparan.
Di sudut kota, seorang lelaki mencium televisi rusak seperti mencium makam ayahnya.
Sementara toko-toko roboh pelan, seperti gajah tua yang kehabisan hutan.

Jakarta menjadi hutan tanpa burung.
Gedung-gedung menari dengan tulang api di jendela mereka.
Orang-orang menjarah beras, mie instan, dan rasa takut.
Seolah perut lebih suci daripada kitab-kitab hukum.

Di atas semuanya, langit diam.
Terlalu banyak asap memasuki tenggorokan malaikat.
Dan Tuhan—barangkali—sedang memalingkan wajah-Nya sebentar,
agar manusia melihat sendiri rupa haus yang dipeliharanya berabad-abad.

(terinspirasi Kerusuhan Mei 1998)

 

Bizantium dan Laut yang Berdoa

Laut membuka mulut birunya seperti rahib tua yang kehilangan lonceng.
Bizantium berganti nama, lalu burung-burung camar mabuk oleh gema menara.
Kota itu mengenakan mahkota baru dari garam dan pedang.
Sementara ombak mencatat sejarah dengan kuku-kuku air.

Di pelabuhan, rempah-rempah tidur bersama bau darah dan dupa.
Kapal-kapal datang seperti ayat yang diterjemahkan badai.
Dan kubah-kubah menjulang, emas seperti mata singa di padang gurun kitabiah.
Namun lorong-lorong tetap menyimpan tikus, pelacur, dan roti basi.

Konstantinopel—nama itu seperti lonceng dilempar ke dada samudra.
Anak-anak memungut kerang sambil mendengar perang tumbuh di kejauhan.
Para saudagar menimbang sutra seperti menimbang dosa sendiri.
Sedang laut, diam-diam, belajar mengeja doa dari reruntuhan kapal.

Sebab setiap imperium hanyalah pasir yang diberi bendera.
Dan angin selalu lebih tua daripada singgasana.
Malam turun perlahan di atas menara-menara marmer,
seperti burung gagak yang membawa surat dari langit yang kelelahan.

(terinspirasi lahirnya Konstantinopel)

 

Reggae Terakhir di Nafas Bob Marley

Suara itu keluar dari paru-paru yang penuh asap kolonial.
Reggae berputar seperti roda doa di gang-gang Jamaika.
Rambut gimbal menggantung bagai akar pohon yang menolak tunduk pada badai.
Dan gitar memerah seperti matahari yang dicelupkan ke sungai ganja.

Ia bernyanyi untuk tanah yang diperas hotel dan peluru.
Untuk anak-anak hitam yang tidur di bawah poster wisata tropis.
Untuk laut Karibia yang mulai berbau solar dan kesepian.
Sementara hotel-hotel meminum pantai dengan sedotan kapitalisme.

Tubuhnya kurus seperti salib bambu di ladang tebu.
Namun suaranya tetap tumbuh dari retakan trotoar dan penjara.
Burung-burung reggae beterbangan dari tenggorokannya, hijau seperti daun yang memberontak.
Dan dunia menari, meski borgol masih bercahaya di pergelangan sejarah.

Ketika nafas terakhirnya jatuh ke bumi,
langit Jamaika mendadak terasa seperti drum pecah.
Angin meniupkan nyanyian ke rambut laut,
sementara bulan berjalan pincang membawa irama yang yatim.

(terinspirasi wafatnya Bob Marley)

 

Dia yang Mengajari Indonesia Bernyanyi

Ia memungut nada dari selokan, dari becak, dari suara bambu dipukul hujan.
Lalu menyimpannya di dada seperti petani menyimpan benih pada musim paceklik.
Kota-kota kolonial berdiri pucat seperti roti basi di meja penjajah.
Namun lagu-lagunya tumbuh liar seperti ilalang di rel kereta.

Burung-burung gereja, azan subuh, peluit kereta, dan suara ibu menanak nasi—
semuanya berubah menjadi sungai bunyi di tangannya.
Ia mengajari negeri ini bernyanyi tanpa harus menjadi istana.
Sebab musik paling jujur sering lahir dari dapur dan luka.

Di malam-malam perang, biola menangis seperti pohon ditebang diam-diam.
Radio-radio tua memuntahkan mars dan rindu ke kamar-kamar sempit.
Dan jalan-jalan yang lapar tetap hafal bait-baitnya,
seperti pengemis hafal aroma roti dari rumah orang kaya.

Kini suaranya telah menjadi hujan di atas kota-kota tua.
Anak-anak menyanyikannya tanpa tahu siapa yang pertama menanam nada itu.
Padahal ia hanya lelaki yang memelihara cahaya kecil di tenggorokan bangsanya,
ketika dunia sibuk menjual kebisingan sebagai kemajuan.

(terinspirasi kelahiran Ismail Marzuki)

Madiun, pertengahan Mei 2026 


______

Penulis


Fileski atau Walidha Tanjung Files, lahir di Madiun, 21 Februari 1988, adalah penulis, musikus, penyair, dan pendidik Seni Budaya. Karyanya berupa puisi, prosa, dan esai telah dimuat di berbagai media nasional. Beberapa penghargaan yang diraih, antara lain Anugerah Hescom eSastera Malaysia, Gempita Awards, Undagi Balai Bahasa Jawa Timur 2026 dan Guru Penulis dalam Peta Sastra Kebangsaan di Salihara, Jakarta, 2024. Aktif menulis dan penggerak literasi, ia juga founder Negeri Kertas serta tim devisi pengembang SDM di Forum TBM Jawa Timur.   


Kirim naskah ke

redaksiingewiyak@gmail.com


Puisi-Puisi Dewis Pramanas

Puisi Dewis Pramanas 



Aku Belum Pernah Setakut Ini!


Suara pujian Tuhan menggema

Saat fajar membuka cahayanya 

Aku seperti air langit jatuh perlahan 

Terperangkap genangan 

Mengepung dari segala arah


Lidah kelu

Jantung berdetak kencang

Kedua kaki jatuh tertunduk 

Ketika layar terpampang 

Alur proses kepergian 


Tuhan

Jujur aku belum pernah setakut ini

Menjelang merebahkan tubuh

Gelisah menyerbu isi kepala

Perihal jadwal telah ditentukan 

Menunggu panggilan 


Tuhan 

Jujur aku belum pernah sepilu ini

Reka ulang pemberian kasih

Namun diri semakin menjauh

Jarang kening ini menyentuh bumi

Hanya berulang alpa 


Dunia membuatku silau

Akan semua titipan-Mu

Menjalar di kalbu menjadi candu 

Sehingga gelap merajam pikiran 

Tak bisa membendung 

Kemelut dosa menumpuk


Aku termenung bersama ribuan sesal

Sesungguhnya waktu ialah pengingat 

Seperti pagi berganti malam 

Awal pasti ada akhir

Kemana aku ‘kan berpijak?


Subang, 17 Februari 2026



Rindu di Fase Paling Lama


Menyeberangi rindu 

Kini sudah berbatas status

Tak bisa lagi menukar peristiwa

Sebab waktu memenggal rasa

Semua berbeda 


Deburan kasih 

Bermanuver di kalbu

Menyimpan dua kemungkinan 

Yang tak bisa diterka

Tetapi ikhlas akan temukan nasibnya 

Di penghujung masa


Perjalanan masih panjang  

Di sana kita terbaring sendiri 

Menepi di bawah tanah

Pada fase paling lama 

Sampai nanti 


Subang, 16 Februari 2026



Membaca Logika 


Dari ruang berbeda

Jiwa acap kali memilah 

Antara imajinasi dan realita 

Yang berseberangan logika 

Termenung adalah refleksi 

‘Tuk membaca denting waktu


Dari banyak peristiwa kemarin 

Dan membuka hari ini

Di sini aku diserbu senyuman

Jabat tangan oleh orang-orang 

Yang disatukan tradisi 

Namun hati mereka berupa tanda tanya


Pada cerita-cerita bahagia 

Dalam mihrab kebersamaan 

Layaknya gerombolan bunglon

Mereka asyik berbincang 

Bebas mengatur wajah


Subang, 22 Maret 2026



Menurunkan Nalar


Semburat cahaya pagi 

Menyala

Kabut mengepung belantara 

Burung-burung bergurau 

Menceritakan masa kecil 

Mereka lupa akan duka


Siang yang terik 

Menjadi sejarah kelam 

Gergaji menumbangkan pohon-pohon 

Asap membumbung ke udara

Gersang 


Kau berubah menjadi buas

Bahkan lebih buas dari raja hutan

Setelah diiming-imingi gaya hidup 

Gengsi telah gadaikan marwah 

Menurunkan nalar 


Subang, 22 Maret 2026



Perisai Berdebu


Ia perisai aksara

mulai kering terkuras kerumitan 

entah berapa lama bertahan?

menyirami harapan 

dari peliknya dunia 


Ia memiliki nurani 

namun seolah digoyahkan arus komersil 

sebab realita merongrong pikiran

wajahnya kusut diacak-acak tuntutan 


Sementara gerombolan benalu melekat 

berserakan di ruang risau 

sepatu kebanggaan telah lusuh 

berdebu 


Ia tetap bertahan 

dari deras perubahan 

terus menerangi  

tak lekang oleh zaman 


Subang, 13 Oktober 2025


______


Penulis


Dewis Pramanas, Lahir di Subang,1 Maret 1987. Hobi menulis puisi dan membaca buku membawanya aktif bergiat di berbagai komunitas literasi daring. Buku puisi tunggalnya berjudul Perindu Hujan (2021). Sementara karya-karya puisinya juga termuat di sejumlah media daring. Baginya, menulis adalah ruang untuk membebaskan imajinasi dan menyuarakan keresahan hati.

Instagram: @dewispramanas 


Kirim naskah ke

redaksiingewiyak@gmail.com

Cerpen Abror Y Prabowo | Boneka Hitam Corzo

Cerpen Abror Y Prabowo



Aku terjebak dalam kubangan darah. Bau amisnya begitu menusuk. Seolah menggenang tepat di lubang hidungku. Di atas meja kaca yang pecah, sebatang jarum suntik masih melekat di ujung nadi seorang lelaki. Matanya terbuka. Bibirnya menyeringai seperti senyuman bayi yang baru saja terlepas dari puting susu ibunya. Tapi dada itu sudah tak bergerak lagi. Tak ada napas. Tak ada sisa hidup.


Aku bergegas menyentuh bibirku. Lipstikku masih utuh. Seharusnya aku sudah mati sejak tadi. Tapi mungkin malaikat maut sedang malas mengangkut dua nyawa sekaligus, sehingga ia pilih meninggalkanku. Atau barangkali, ia sedang ingin bermain-main terlebih dahulu sebelum benar-benar mencabut selembar nyawaku.


Aku tersentak saat pintu tiba-tiba digedor. Suara sepatu-sepatu berat terseret di lantai. Sesosok tubuh besar seketika berdiri tepat di ambang pintu. Pandanganku masih belum sepenuhnya terbuka. Luka lebam bersarang tepat di bawah kelopak mataku. Tapi aku bisa dengan mudah memastikan. Dari caranya menghempaskan asap cerutu, aku tahu, ia adalah Corzo. Suami tercintaku. 


“Kau masih hidup rupanya?” suaranya terdengar lebih mirip tekanan ketimbang ungkapan kekhawatiran. Tapi aku tak menolak dengan apa pun yang ia katakan. Aku sudah terbiasa dengan perangainya. Aku tahu persis bagaimana caranya berkata-kata. Bahkan kalimat-kalimat yang jauh lebih buruk dari itu pun sudah terlampau sering kuterima.


Aku terdiam. Hanya ada dua pilihan sekarang. Berkata jujur dan mati di tangannya. Atau berbohong dan tetap mati di tangannya dengan cara lebih pelan. 


“Aku tidak tahu, Corzo.” 

Tak ada jawaban lain yang bisa kusampaikan kecuali mengatakannya demikian.  Kulihat ia mendengus sembari menyemburkan asap cerutu. Matanya menatap ke arah mayat Rozando Sobre yang tergeletak di atas meja dengan beberapa luka tusuk di dadanya. Dengan sekali jentikan jari, ia memberi isyarat kepada salah seorang anak buahnya untuk memeriksa mayat itu. Sementara ia sendiri tetap mengawasi dari tempatnya berdiri. Setelah beberapa saat, seorang anak buah itu lantas membalas dengan isyarat kedua tangan tersilang. Sebuah tanda bahwa nyawa di tubuh telah melayang. 


Ah, Rozando Sobre, seorang cecunguk yang paling dibanggakannya, sekaligus paling rakus. Setiap sentuhannya kurasakan bagai duri yang menancap. Dingin. Pedih, sekaligus memuakkan. Aku ingin tertawa, tapi dadaku terasa sesak. 


Di hadapanku, Corzo mendesah. Ia melangkah ke arahku dengan pandangan dingin dan menusuk. Dalam sekejap, tangannya yang kasar telah mencengkeram erat daguku. 


“Siapa yang membunuhnya?” 


Suaranya terdengar pelan tapi terasa sangat mengancam. Dengan posisi rahang yang masih berada di dalam cengkeramannya, aku menikamkan tatapan padanya. Sesaat pandangan kami beradu. Aku ingin berteriak, bahwa dunia inilah yang telah membunuhnya. Atau mungkin sedikit berpura-pura melengkingkan suara sembari meneteskan air mata lalu berkata dengan nada terbata-bata, bahwa lelaki itu telah membunuh dirinya sendiri. Namun aku tahu, semua alasanku tak akan pernah bisa diterima. 


“Aku tak tahu,” jawabku sambil menahan rasa takut yang merayap di jantungku.


Mendengar jawabanku, dengan segera ia melepaskan cengkeramannya dan mendorongku ke sofa. Lantas secepat kilat ia menarik pistol yang terselip di balik jasnya yang mengkilap. Aku menutup mata. Kurasakan sepucuk besi dingin itu melekat tepat di keningku. Aku tak ingin melihat. Aku tak ingin menyaksikan takdirku berakhir dengan begitu buruk. Kupejamkan mataku rapat-rapat. Namun suara tembakan tak juga meledak. Saat aku perlahan membuka mata, Corzo telah pergi. 


Tak lama, pintu sudah didobrak lagi. Kali ini tiga orang anak buahnya berperawakan tinggi besar datang. Tak sedikit pun dari mereka mengurai senyuman. Mereka mengangkat tubuh Rozando Sobre dari atas meja. Lalu memasukkannya ke dalam kantong hitam. Membawa pergi dengan sebuah troli seperti yang banyak dijumpai di supermarket. 


Mataku melata memandang ke langit-langit. Di luar jendela cahaya senja memucat. Dari ketinggian lantai tujuh belas apartemen, mobil-mobil yang merayap di jalanan kulihat seperti berjalan sangat lambat. Apakah sebaiknya aku melompat dari ketinggian ini dan mati mengenaskan? Entahlah. Di mataku, senja semakin tampak muram bagai selembar kain kelabu yang dibentangkan. Aku menghela napas dan membiarkan semua cahaya berlalu. 


***


Dunia tak pernah memberiku banyak pilihan, kecuali ketidakberdayaan dan kehampaan dalam jiwa yang terasa kian kerontang. Sejak kecil, sejak kedua orang tuaku tewas berpelukan di dalam kamar, aku sudah menuntun diriku sendiri menyusuri lorong-lorong gelap kota ini. Kubiarkan diriku bersekutu dengan sampah dan debu. Dan saat beranjak dewasa, entah berapa lelaki yang telah melumatku. Aku tak ingin mengingatnya lagi.


Keindahan yang kubayangkan dengan menerima pinangan Corzo justru membuatku meringkuk tak berdaya di dalam istananya. Lambat laun aku kehilangan diri sendiri dan merasa tak lebih sekadar boneka hitam baginya. Ia begitu meyakini bahwa cinta adalah kepemilikan mutlak. Kesetiaan tak ubahnya ketundukan tanpa syarat. 


Kulihat pintu apartemen masih tertutup rapat. Tapi aku tahu, tak lama lagi ia pasti kembali. Aku sangat paham bagaimana caranya berpikir. Ia tak akan pernah membiarkanku begitu saja hidup tanpa hukuman. Barangkali, di tepi jendela istananya, ia sedang menyusun rencana untuk menggelar upacara bagi kematianku. 


Aku bergegas meraih jaket kulit hitam yang tergantung di balik pintu. Tak lupa kuselipkan sebilah belati ke dalam saku. Aku tak tahu harus menuju ke mana. Namun satu hal yang pasti, aku tak boleh terlalu lama tinggal di sini. 


Aku melangkah keluar. Udara malam menyapu wajahku. Langit tampak seperti kanvas yang dipenuhi coretan arang berwarna hitam. Jalanan lengang. Hanya sesekali kendaraan melaju kencang meninggalkan jejak suara aneh di belakang. Lampu-lampu redup. Beberapa tak henti berkedip-kedip. 


Aku menyusuri lorong gelap dengan langkah cepat. Aroma kencing dan bau bacin menyeruak. Aku butuh tempat berlindung sementara. Atau mungkin sekadar ruang gelap untuk menampung cerita. Dan aku tahu, ada seseorang yang tinggal di pinggiran kota. Kuharap ia masih peduli padaku. 


“Kau merasa terbuang dari duniamu yang gemerlap, Sonya?” 


Aku tersenyum melihat lelaki tua itu masih ada. Sosoknya masih sama. Tubuhnya terlihat semakin renta dari sebelumnya tapi sama sekali tak mengurangi keramahannya kepada siapa saja. 


“Aku merindukanmu, Qreny. Kupikir kau sudah mati dimangsa anjing-anjing jalanan.” 

“Mendekatlah kemari.”


Ia melempar gelas-gelas kertas bekas kopi ke dalam kobaran api yang menyala di tong sampah. Setelahnya kulihat ia duduk mendekati api itu seraya menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya untuk mengusir hawa dingin yang mengendap.


“Sudah tidak ada anjing di sini. Mereka semua sudah habis kumakan,” katanya seraya terkekeh. Bayangan tubuhnya yang bungkuk berguncang-guncang dalam terpaan cahaya. Ia beringsut membuka sedikit ruang agar aku bisa duduk di sampingnya. Ia tampak masih asyik membolak-balik telapak tangan di atas tong sampah yang terbakar. Di tengah malam di kota ini, orang-orang di sepanjang jalan sering kali menggunakan cara ini untuk mengusir hawa dingin. Tanpa sadar aku pun mengikutinya. Kurasakan kehangatan perlahan mengalir. 


Di lorong inilah aku tumbuh. Bersahabat dengan tikus dan kecoa. Siang hari aku bekerja di sebuah restoran cepat saji. Dan setelah senja pergi aku bekerja menemani para lelaki menenggak whisky atau sekadar bir di klub-klub malam. Di sanalah aku bertemu Corzo yang lantas membawaku ke dalam kehidupannya. Kehidupan yang sesngguhnya tak lebih terang dari kehidupanku sebelumnya. 


Sebuah apartemen mewah dibelinya secara khusus untukku di pusat kota agar sewaktu-waktu bisa mengunjungiku. Ia memintaku untuk memanggilnya suami. Tapi celakanya tak sekali pun ia pernah menggauliku. Ia hanya memperlakukanku serupa boneka. Dihias. Disentuh. Tapi tak pernah benar-benar dimiliki. Setiap kali ia puas bermain-main, berikutnya ia akan memanggil orang lain untuk menggantikannya. Sementara ia sendiri duduk menonton dari atas sofa. Ah, sungguh di dalam dunianya yang pincang, aku hanyalah boneka mainan yang bisa diaturnya begitu rupa.


Sering aku justru merasa iba padanya. Tapi aku tak pernah berani mengatakannya. Aku hanya diam dan membayangkan, bahwa ia sendirilah yang telah menuntaskan segala percumbuan. Sampai akhirnya aku menjadi terbiasa dengan pergumulan yang ganjil. Mungkin karena itulah, ia memiliki banyak anak buah. Hampir semua dari lelaki yang menjadi pembantunya memiliki ciri dan bentuk tubuh yang sama. Berperawakan besar dan kekar. Selain membantu urusan bisnisnya, tentu juga demi membantunya dalam urusan lain. 


***


Hari ini adalah hari ketiga pelarianku. Terpaksa aku benar-benar harus meninggalkan kota keparat ini ketika kutemukan tubuh Qreny telah meringkuk di dalam bak sampah dengan tubuh bersimbah darah. Aku tak sempat menangis, kecuali segera menuju stasiun dan melompat ke dalam kereta. Aku hanya ingin segera pergi sejauh-jauhnya meninggalkan neraka. 


Sepanjang perjalanan aku merasa seolah semua mata menatapku. Aku merasa mereka seperti mengenaliku. Apakah mereka memang anak buah Corzo? Ah, tidak mungkin semua orang di kota ini adalah orang-orang bayaran Corzo, pikirku. 


Sesampai di kota terakhir, tepat setelah langit benar-benar gelap sempurna, aku melangkah keluar menuju deretan penginapan kumuh yang tak jauh dari stasiun. Resepsionisnya, seorang wanita tua dengan mata cekung dan bibir yang selalu mengapit sebatang rokok. Ia menyerahkan kunci kamar kepadaku dengan mimik wajah yang tampak keras dan kaku.


"Kamar nomor dua belas. Samping tangga." ucapnya singkat tanpa menatapku.


Di kamar sempit berdebu dengan bau toiletnya yang busuk, aku menyalakan lampu. Cahayanya yang redup menciptakan bayangan tubuhku serupa makhluk aneh di dinding. Sebuah cermin retak menempel di sudut ruangan. Aku berkaca. Wajahku masih tampak sama. Namun bekas luka lebam di bawah kelopak mata membuatku sedikit tampak berbeda. 


Sejenak aku terkenang kembali pada pertemuan pertamaku dengan Corzo. Sebelumnya aku tak pernah tertarik dengan lelaki. Aku hanya bekerja menemani mereka minum lantas menerima bayaran. Itu saja. Tapi rasanya, Corzo berbeda. Ia sama sekali tak pernah menyentuhku. Hanya berbincang, seraya menenggak berbotol-botol minuman. Berkali-kali aku harus lari ke toilet untuk menusuk rongga mulutku sendiri dengan telunjuk. Membiarkan segala cairan di dalam perut tumpah dan larut ke kloset. 


Sejak saat itu aku sering bertemu dengannya di tempat yang sama, pada jam-jam yang juga kurang lebih sama. Ada kerinduan merayap tatkala ia tak tampak bertandang. 

Membuatku kehilangan gairah untuk menemani lelaki lainnya. Ingin aku meneleponnya, tapi aku tak pernah tahu bagaimana cara menghubunginya. Ia selalu menolak saat aku meminta nomor telepon padanya. 


“Tidak perlu kau mencariku. Aku yang akan datang padamu,” ujarnya. 


Dan benar saja, ia selalu datang tanpa pernah memberi tahu. Aku menyambutnya seperti seorang kekasih yang telah begitu lama merindu. Selanjutnya seperti biasa, bersamanya aku tenggelam dalam botol-botol minuman yang terkadang memicu keliaranku. Aku ingin ia bergerak melumat bibirku, menggigit leherku, atau menyeretku ke dalam pelukan dan menggelepar dalam desahan. Tapi ia tak pernah melakukan.


“Kau mencintaiku?” tanyaku saat ia memintaku menjadi istri simpanan.


Ia tersenyum tipis. 


“Tak ada yang bisa memisahkan kita, kecuali kematian,” katanya.


Seketika aku merasa bagai terbang di langit. Melayang-layang. Mengambang bersama bintang-bintang yang bertebaran. Kata-katanya terasa membuaiku dalam bayangan keindahan. Menghantui hingga aku pura-pura mengangguk malu menerima permintaannya itu. Ia membawaku tenggelam dalam janji yang akhirnya terlambat kusadari. Rupanya aku tak pernah memiliki ataupun dimiliki. 


Lalu tiba-tiba saja Rozando Sobre mendobrak pintu apartemenku. Wajahnya begitu haus dan sungguh keparat. Sebelum aku sempat berteriak, hantaman tangannya yang besar lebih dulu mendarat di wajahku. Membuatku terpental dan kehilangan setengah kesadaran. Selanjutnya sebilah belati melekat di leherku. Kurasakan napasnya yang busuk mendengus-dengus serupa anjing. 


“Sekali kau berteriak, nyawamu melayang, Manis.”


Setelah selesai, ia segera duduk di atas meja. Mengikat salah satu lengannya dengan tali pinggang dan menyuntikkan cairan ke dalam nadinya. Di saat itulah aku menemukan peluang. Sebilah belati yang tergeletak kusambar dan segera kutancapkan berulang-ulang ke tubuhnya. Darah membuncah. Menggenang di lantai. Dan satu tikaman terakhir di dadanya berhasil membuatnya rebah. Jarum suntik masih melekat di lengannya. 


Mendadak ketukan keras di pintu mengguncang keheningan. Dadaku berdetak. Aku meraih belati dari dalam saku jaket. Aku harus bersiap dengan segala kemungkinan buruk. Begitu pintu kubuka, sebuah hentakan keras melemparkanku ke lantai.


“Kau pikir bisa lari dariku?” 


Belati terlempar cukup jauh. Corzo melangkah pelan seolah malaikat yang datang mengabarkan kematian. Tangannya begitu kuat mencengkeram. Membuatku kesulitan bernapas. 


“Aku tidak takut mati, Corzo. Aku bukan bonekamu lagi. Aku mau bebas!”


Dia mendekatkan wajahnya. Segaris senyum terasa sinis. Bengis. 


“Kau tidak akan pernah bebas.”


“Aku rela mati untuk kebebasanku sendiri.”


“Walau tubuhmu bernapas, tapi sebenarnya kau sudah mati.” 


Kudengar Corzo tertawa. Tawa yang terdengar sangat pahit. Tapi apa yang diucapkannya memang benar. Tak ada lagi jalan kebebasan untukku. Aku hanyalah mayat hidup yang berjalan menyusuri lorong-lorong gelap dan pengap. Kemana pun aku pergi, aku akan selalu kembali padanya lagi. Berharap ia mencumbuku sembari membiarkannya menusukkan jarum suntik menembus kulitku. Membuatku melayang dengan sayap boneka berwarna hitam. Melenggang di langit. 


Saat aku kembali meringkuk di balik dinding apartemen lantai tujuh belas, sepasang mata malaikat berkilat. Mungkin ia tengah menunggu saat yang tepat untuk mencabut nyawaku yang sejatinya telah sekarat. 


Aku tersenyum. Bersiap menyambut kebebasanku.


Yogyakarta, 2024


______


Penulis 


Abror Y Prabowo, lahir di Gunung Kidul, 15 Desember 1978. Menyelesaikan pendidikan tinggi di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni. Terlibat aktif di Kelompok Sastra Pendapa Yogyakarta dan Teater Kita. Menginisiasi berdirinya komunitas Ketika Teater Indonesia pada 2025 di Yogyakarta dengan menulis naskah monolog “Hanya Orang Gila yang Bilang Negeri Ini Baik-Baik Saja”. Menulis karya sastra berupa puisi, cerpen dan naskah drama, juga artikel seni-budaya yang dimuat di Kompas, Solopos, Kedaulatan Rakyat, Bernas, Suara Merdeka, Majalah Gong, juga beberapa media online.  Beberapa karya cerpen terangkum dalam buku antologi bersama. Buku antologi tunggal karya naskah dramanya adalah “Karikatur dari Negeri Retak” terbitan Araska Publisher dengan kata pengantar Indra Tranggono (sastrawan Indonesia) dan Raudal Tanjung Banua (sastrawan Indonesia). Buku antologi naskah drama lainnya, “Lolong Gincu Sih” terbitan Akar Indonesia. Hingga sekarang penulis banyak terlibat aktif dalam proses kreatif teater, baik sebagai aktor, sutradara ataupun penulis naskah dan juga kegiatan sastra. Selain aktif di bidang seni dan budaya, saat ini juga bekerja sebagai wirausaha di Yogyakarta.


Kirim naskah ke

redaksiingewiyak@gmail.com