View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Postingan Terbaru

Tuesday, September 19, 2023

Proses Kreatif | Apa Itu Premis?

Oleh Encep Abdullah



Beberapa tahun lalu saya pernah belajar menulis skenario film pendek. Di sana, sang mentor, Mbak Achi, mengatakan bahwa hal paling penting menulis skenario adalah menulis premis. Menurutnya, premis yang menarik bisa mencuri perhatian produser. Hanya dengan premis, seseorang bisa dikontrak dan berlanjut menulis skenario film utuh. 


Namanya orang awam, saya hanya melongo mendengar itu. Sejak pertama kali belajar menulis, saya tidak kepikiran bikin premis—secara tertulis. Ada juga, saya pernah mengajari para murid tentang premis mayor, premis minor, dan simpulan dalam materi silogisme kategoris. Namun, saya tidak gunakan itu dalam konsep menulis cerita—dalam hal ini menulis cerpen.


Saya pernah mencoba menulis novel remaja. Nah, ini beda lagi. Setiap bab, saya bikin catatan, bisa berupa subjudul atau catatan kecil yang nanti akan dikembangkan. Saya tidak melabelinya dengan premis. Saya tulis, ya tulis saja.  Sampai akhirnya cerita itu tak kunjung kelar. Sepertinya saya memang tidak cocok jadi penulis yang terkonsep premisnya secara tertulis. Saya sadar dan hal itu benar-benar tidak saya lakukan dalam menulis cerpen. 


Dalam menulis cerpen, saya kerahkan seluruhnya pada imajinasi saya dari kalimat pertama yang saya tulis. Saya tidak tahu ceritanya seperti apa. Saya tidak memberikan batas atau benang merahnya karena memang tidak saya desain premisnya dari awal. Semua bergerak begitu saja. Bagi saya, dalam hal ini, menulis premis sebelum menulis cerpen itu tidak penting. Yang penting adalah bagaimana mengolah bahasa, memilih sudut pandang, dan membangun konflik. Untuk penjelasan ini, Anda bisa baca tulisan saya Cara Sederhana Menulis Cerpen.


Kadang-kadang, meski menulis tanpa premis, benang merah cerita tiba-tiba muncul saat pertengahan cerita. Saya sering kali tidak tahu mau ke mana alurnya. Ending-nya seperti apa. Seperti yang disampaikan Ahmad Fuadi, dulu waktu bertemu di Jakarta, bahwa menulis adalah seni menjawab pertanyaan. Barangkali bisa dengan pertanyaan apa, mengapa, bagaimana, atau kalau kata Sunlie Thomas Alexander, bisa juga dengan jika.   


Saya punya teman, namanya Durohim. Dia pakar premis. Setiap kali menulis cerpen, wajib diawali premis. Saat saya baca, cerpennya biasa-biasa saja. Ada juga teman saya yang lain, Durahman. Dia bukan penulis yang gemar menulis premis bahkan tidak tahu apa itu premis, tapi cerpennya oke. 


Barangkali untuk penulis cerpen seperti saya, barangkali juga Aveus Har, sang penulis novel, menulis sebuah premis bukan perkara penting dan butuh. Saya, Aves Har, atau mungkin kawan lain yang tidak menulis premis, bukan berarti kepalanya kosong. Mungkin bedanya, isi kepalanya lebih ngacak, tidak terstruktur layaknya penulis yang mengawalinya dengan menulis premis terlebih dahulu yang mereka punya batasan cerita. 


Pertanyaannya, mana yang lebih hebat, penulis yang menulis tanpa premis atau penulis yang menulis dengan menulis premis terlebih dahulu? 


Penulis hebat tentu saja bisa menulis tanpa harus menulis premis. Penulis ”premis” juga hebat bila bisa membangun ceritanya dengan baik. Jadi, bukan masalah premisnya, itu hanya teknis, intinya ada pada eksekusinya. Kalau kamu, iya kamu, sudah menulis banyak premis, ceritanya kagak jadi-jadi pula. Biar ada manfaat, mending dibukukan saja: Kumpulan Premis Cerpen yang Gagal Menjadi Cerpen.


Karena bukan penganut "mazhab" penulis premis, saya memang kurang begitu merasakan faedahnya. Namun, belakangan ini, saya sedang mencoba menerapkannya. Bukan karena apa-apa. Dulu saya punya waktu luang, saya bisa mengerahkan segala pikiran saya dalam cerita. Sejak menikah dan punya anak, saya harus bagi-bagi waktu. Bagaimana bisa pikiran saya dibagi kalau tidak terkonsep. Kepala saya penuh dengan suara token, rengekan anak minta jajan, ocehan istri. Saya perlu catatan khusus untuk menulis agar pikiran saya terpusat dan bisa konsen ke sana. Nanti, hasilnya seperti apa, Wallahu a'lam


Jadi, apa itu premis?


Kiara, 19 September 2022


_______

Penulis


Encep Abdullah, penulis yang memaksa bikin kolom ini khusus untuknya ngecaprak. Sebagai Dewan Redaksi, ia butuh tempat curhat yang layak, tak cukup hanya bercerita kepada rumput yang bergoyang atau kepada jaring laba-laba di kamar mandinya. Buku proses kreatif terbarunya berjudul Diet Membaca, Ketiban Inspirasi (Maret 2023). 


Sunday, September 17, 2023

Esai Encep Abdullah | Tradisi NU Itu Candu

Oleh Encep Abdullah



Ini lucu. Lebih tepatnya menarik. Saya orang Muhammadiyah—dibesarkan di lingkungan dan keluarga Muhammadiyah, apalagi Bapak saya tokoh Muhammadiyah dan mantan Pimpinan Cabang Muhammadiyah—, tapi kebagian jatah membahas tokoh besar NU, guru bangsa, Hadratusyekh K.H. M. Hasyim Asy’ari dalam kajian Mingguan Komunitas Menulis Pontang Tirtayasa (13 Sept 2023). Jujur, sudah lama saya ingin baca biografi beliau. Namun, belum kesampaian. Barangkali Tuhan memberikan jalan lewat kajian ini yang menurut saya waktunya pas dengan kondisi saya saat ini yang juga sedang gandrung ber-NU di kompleks perumahan. Saya tidak tahu banyak tentang sejarah dan asal-usul organisasi besar ini, juga pendirinya. Namun, ritual-ritual gerakan Islam Tradisional sebagiannya sudah sering saya jalankan. Mau tidak mau. Dan, ternyata tradisi Islam konservatif ini bikin candu. Saya harus hati-hati. Nanti ketagihan. 


Membaca buku tipis K.H. Hasyim Asy’ari Biografi Singkat 1871-1947 karya M. Rifai (Garasi, 2009) setebal 148 halaman ini membuka jalan pikiran saya yang ”terbayang-bayang” apa sih sebenarnya yang NU mau. Kenapa sih harus tetap berpegang teguh berpegang prinsip umat Muslim harus tetap berziarah, tahlil, haul, dsb. Selama ini saya hanya mendengar dari para alim ulama saja, kurang begitu tahu secara detail tertulis kenapa Sang Kiai—saya sebut ini saja berikutnya seperti dalam filmnya—bertahan dengan pikirannya.


Muasal dari semua itu sebenarnya adalah keruntuhan Islam di Timur Tengah, tergulingnya Khalifah Utsmaniyah. Lalu, Arab Saudi mencanangkan diadakannya Muktamar Khilafah agar Negara Arab menjadi Khalifah Islamiyah tunggal yang berisi paham gerakan pembaharuan Islam yang dikenal dengan Wahhabi, diambil dari pendirinya, Muhammad ibn Abdul Wahhab. Gerakan antisyirik, anti-khurafat dan anti-bid’ah. Melarang ziarah kubur, baca kitab barzanji, juga meminggirkan mazhab empat, menggusur berbagai petilasan sejarah Islam. Kebanyakan umat Islam, terutama di Indonesia, kebanyakan sedang mengalami “mabuk” dengan apa yang disebut pembaruan Islam tersebut. 


Dalam rapat di Surabaya yang dihadiri para tokoh kaum tradisional, diputuskan untuk mengutus K.H. Wahab Hasbullah dan Syekh Ghonaim (warga negara Mesir sebagai penasihat) ke Arab Saudi. Delegasi itu berangkat ke Hijaz dengan membawa surat keberatan apa yang sudah dilayangkan oleh Raja Arab Saudi kala itu, Abdul Aziz bin Saud. Delegasi ini bernama “Jam’iyah Nahdhatul Ulama” yang didirikan pada 16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926. Pemerintah Arab Saudi membalas surat keberatan “Jam’iyah Nahdhatul Ulama” tentang gerakan Islam Modern tersebut. Berikut balasannya.


...


"Adapun kebebasan seseorang dalam mengikuti mazhabnya, maka bagi Allah segala puji dan anugerahnya, memang umat Islam bebas merdeka dalam segala urusan, kecuali dalam hal-hal yang terang diharamkan oleh Allah dan tidak ditemui pada seseorang satu dalil pun yang menghalalkan amalannya, tidak terdapat dalam Al-Quran, tidak terdapat dalam al-Sunnah, tidak terdapat dalam mazhab orang-orang salaf yang shaleh dan tidak terdapat pula pada fatwa para imam mazhab yang empat. Apa saja yang sesuai dengan semua itu, kami mengamalkannya, melaksanakannya dan membantu pelaksanaannya. Sedang apa saja yang bertentangan dengan hal-hal tersebut, maka tidak wajib taat kepada makhluk yang bermaksiat kepada Allah. 


Dan pada hakikatnya apa yang kami laksanakan hanyalah ajakan untuk kembali kepada Al-Quran, al-Sunnah dan ini pula agama yang diturunkan Allah. Dan kami, berkat kemurahan Allah, tetap berjalan di atas jalan orang kuno yang shaleh, yang permulaan mereka adalah para sahabat Nabi Muhammad Saw. Sedang pada penutupnya adalah para imam yang empat."



Dari sinilah organisasi NU bermula meskipun pada awal-awal Sang Kiai tidak langsung memutuskan resmi berdiri karena banyak pertimbangan, salah satunya adalah timbul perpecahan umat. Namun, beliau istikharah dan memohon arahan juga dari Kiai Khalil Bangkalan. Lalu, resmilah NU menjadi organisasi Islam.


Pemahaman kaum modernis yang mengusung kembali (langsung) ke Al-Quran dan As-Sunah sangat bertentangan dengan paham Sang Kiai. Dalam kalangan NU, pintu ijtihad tertutup. Bagi kalangan modernis pintu ijtihad masih terbuka. Tentu perkara urusan ijtihad ini bukan perkara main-main, aturannya sangat ketat. Menurut Rifai, Sang Kiai tegasnya, untuk mempelajari ajaran Islam, tidak langsung mengambil dari sumber aslinya, Al-Quran dan Hadis, melainkan mencari dahulu beberapa pendapat ulama termasyhur dari abad pertengahan yang terkodifikasi dalam kitab kuning. Kemudian dicocokkan dengan sumber aslinya, yaitu Al-Quran dan Hadis. Tujuannya adalah untuk menjaga agar jangan sampai umat Islam salah dalam menafsirkan kedua sumber ajaran Islam itu. Apa yang hendak dipesankan beliau dengan tata cara pemahaman keagamaan demikian tidak lain adalah untuk menjaga sikap kesombongan kita dengan menganggap gampang dalam memahami dan menafsirkan Al-Quran dan Hadis. Sang Kiai dan Muslim tradisionalis yang lain mengakui taklid sebagai salah satu metode untuk mencari jawaban permasalahan hukum. Hal ini karena ijtihad tidak dapat diterima jika hanya berdasarkan pertimbangan pikiran.


Rifai juga menambahkan bahwa Sang Kiai juga dalam hal ini lebih memilih model dakwah yang dicontohkan oleh Wali Songo. Toleransi religius, misalnya, telah mengakomodasi proses pertukaran dan pembaruan yang menciptakan keunikan warna Islam dalam kehidupan masyarakat Jawa. Saling pengertian dalam beragama ini telah membawa suatu harmoni sebagai elemen penting dalam kehidupan religius santri, yakni ajaran Sunni yang telah dimodifikasi, yang tidak menghambat adat setempat. Oleh, sebab itu biar bagaimana pun memang tidak akan pernah bisa menyatu dari segi ideologi yang diusung modernis dan tradisionalis karena beda pandangan. Namun Sang Kiai, menyadari itu, perbedaan adalah rahmat. Sikap toleransi harus dijaga. Beliau akan marah bila paham tradisionalis ini dihalangi. Namun, beliau punya sikap toleransi yang tinggi. Intinya, selagi tidak mengganggu, jalan masing-masing, maka kaum tradisonal tidak akan menyingsingkan baju. Pesan Sang Kiai: ”Berjuanglah demi Islam dan lawanlah mereka yang mengotori ajaran-ajaran Al-Qur‘an dan sifat-sifat Tuhan, lawanlah mereka yang mencari ilmu pengetahuan yang tidak memiliki landasan serta merusak iman. Jihad untuk membawa mereka kembali ke jalan yang benar dalam hal ini merupakan kewajiban. Mengapa kamu sekalian tidak menyibukkan diri untuk mengetahui tugas tersebut? Wahai kamu sekalian! Orang-orang yang tidak beriman tengah merajalela di seluruh negeri ini. Maka siapa di antara kamu yang akan tampil melawan mereka dan membimbing mereka ke jalan yang baik.”


Barangkali persoalan-persoalan itu di zaman sekarang sudah meredam. Untuk apa terus menerus ribut. Dan, orang-orang yang meributkan itu biasanya orang awam atau orang yang baru belajar. Itu pun terjadi pada saya. Saya tidak mempermasalahkan bagaimana praktik ibadah dan tradisi yang berjalan di masyarakat sekitar perumahan saya. Namun, kadang, ada sebagian dari mereka yang tidak memahami latar belakang saya dan psikologis saya. Tapi, saya tidak menganggap mereka memusuhi saya begitu juga sebaliknya. Pelan-pelan saya bilang bahwa saya orang Muhammadiyah agar mereka juga bisa memahami latar belakang saya. Lamat-lamat, sejak hidup di kompleks perumahan, saya juga sambil belajar dan memahami hakikat ber-NU. Bahkan, ada yang sering berbisik mengajak saya ikut Dlailan, Ziarah, Zikir Manakib. Duh, bukannya menolak. Jiwa saya masih bergejolak untuk ikut semua tradisi NU. Saya masih menjaga marwah Muhammadiyah saya. Karena saya tahu, tradisi NU itu bikin candu. Selama saya hidup di perumahan, saya bisa hafal sedikit demi sedikit Surah Yasin, Marhaban(an), dan belajar doa yang agak panjang, tentu saja makanan dan jamuan yang berlimpah. Dan, yang membuat saya berterima kasih adalah, saya jadi lebih dekat dengan nama Syekh Abdul Qadir al-Jaelani, Syekh Nawawi al-Bantani, serta beberapa ulama NU dan ulama sufi lainnya yang pada akhirnya saya ikut berziarah, lebih tepatnya menziarahi pemikiran mereka lewat buku dan kajian diskusi. 


Hal itu juga yang dikritik dalam buku Rifai, jangan sampai warga NU hanya gemar tabur bunga, menziarahi kuburan, melainkan juga menziarahi pemikiran para tokohnya—juga ulama pada umumnya. Dari sini juga, saya terketuk menziarahi pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari. Oleh sebab itu, membaca kembali tentang siapa beliau, bagaimana perjuangan dan pemikirannya, merupakan sesuatu yang sangat perlu kiranya. Dengan itu, yang menurut Rifai, kita bisa menghormati jasa pahlawan bukan sekadar seremoni, upacara, dan tabur bunga, melainkan mendialektikakan pemikirannya dan mengontekstualisasikannya dengan kondisi sekarang, di mana persoalan rasa kebangsaan dan persatuan malah semakin terus diuji dan semakin berat. Di satu sisi, globalisasi membanjiri kita dari luar dan di sisi lain, persoalan keadilan dan kesejahteraan masih menjadi persoalan mendasar bangsa ini. 


Dari segala pemikiran Sang Kiai terkait pendidikan, tasawuf, fikih-hadis, dan jiwa nasionalis, saya kepincut dengan jiwa pendidikan dan nasionalis beliau. Beliau sangat cinta sekali kepada ilmu. Beliau juga menulis banyak kitab, salah satu bukunya yang terkenal Adabul Alim Walmutaalim. Berisi tentang keutamaan ilmu dan ulama dan keutamaan belajar ilmu dan mengajarkan ilmu, akhlak seorang murid, akhlak seorang pelajar terhadap gurunya, akhlak pelajar terhadap pelajarannya, akhlak seorang guru, akhlak guru ketika mengajar, akhlak guru terhadap murid, akhlak pelajar dengan buku-buku sebagai alat ilmu dan yang berhubungan dengan cara memperolehnya. Yang paling menarik adalah pada bab yang terakhir itu, salah satunya saya baca “Jika seorang pelajar tidak berkeberatan, dianjurkan untuk meminjamkan bukunya kepada temannya yang dianggap tidak akan mencederai akad pinjaman.” Pesan ini kadang berkebalikannya di dunia saya saat ini, banyak peminjam buku yang malah tidak mengembalikannya, malah mencederai buku tersebut hingga rusak. Sudah rusak, tidak dikembalikan pula.


Sesuatu yang tak kalah penting dari segala jasa beliau untuk bangsa ini ada maklumat ”Resolusi Jihad” yang dicetuskan pada 22 Oktober 1945—yang kini menjadi Hari Santri. Hal ini juga untuk menjawabi pertanyaan Soekarno saat itu terkait bagaimana ”hukum membela tanah air”. Fatwa beliau yang mengatakan bahwa Indonesia yang diproklamasikan Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945 berdasarkan Pancasila secara fikih sah hukumnya. Oleh karena itu, beliau memerintahkan umatnya untuk membela Indonesia, karena membela Indonesia berarti membela Islam. Hal itu memiliki momentum ketika Belanda bersama sekutunya datang kembali ke Indonesia hendak menjajah kembali. ”Resolusi Jihad ” menjadi pemantik perjuangan arek-arek Suroboyo dan sekitarnya dengan panglimanya Bung Tomo untuk melakukan perlawanan atas penjajah yang berada di Surabaya. Ketika itu, banyak santri -santri dan umat K.H. Hasyim Asy’ari yang turut serta dan gugur menjadi syuhada. Peristiwa ini ditandai kemudian hari sebagai Hari Pahlawan, yaitu pada 10 November 1945, sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa para pahlawan.


Lalu, apa bentuk jihad kita hari ini? 


Persoalan-persoalan khilafiyah hanya persoalan sepersekian persen dari persoalan besar lainnya yang jauh lebih penting. Persoalan besar itu berupa kesehatan, kemiskinan, pendidikan, generasi umat yang harus cerdas dan melek ilmu pengetahuan. Semua itu jalan jihad. Dalam kitab Adabul Alim Walmutaallim, K.H. Hasyim mengutip riwayat Muadz Bin Jabal yang berkata “Pelajarilah ilmu, karena mempelajarinya adalah suatu kebajikan, mencarinya adalah suatu ibadah, mendiskusikannya adalah tasbih, membahasnya adalah jihad, menyerahkannya adalah upaya pendekatan diri kepada Allah Swt. dan mengajarkannya kepada orang yang tidak berilmu adalah shadaqah.” 


Apa yang sedang saya dan teman-teman komunitas saya lakukan, menulis dan membaca, juga bagian dari jihad: JIHAD LITERASI. Dan ingat, ada yang jauh lebih berat. Dalam hadits dikatakan bahwa jihad paling berat adalah perang melawan hawa nafsu. Inilah jihad yang paling besar dalam pandangan Islam. Pikiran hawa nafsu dan setan itu digambarkan oleh Syekh Abdul Qadir al-Jaelani seperti kecintaan pada makanan dan minuman, kecintaan pada keluarga dan kerabat, kecintaan pada hewan-hewan seperti kuda dan lain sebagainya. Juga termasuk di dalamnya ialah riya' (pamer), sum'ah (senang pujian) dan syuhrah (popularitas). Juga dikatakan oleh Haedar mengutip penyair besar Jalaluddin Rumi yang mengatakan bahwa “hawa nafsu merupakan induk dari segala berhala.” Mari berjihad! Takbir!


13 September 2023



________


Penulis 

Encep Abdullah, Redaksi NGEWIYAK.


redaksingewiyak@gmail.com


Lapak Buku | "Kurikulum Pendidikan" Karya Irwan Maulana


Judul: Kurikulum Pendidikan

Penulis: Irwan Maulana

Penerbit: #Komentar

Terbit: Okt 2023

Tebal: vi + 186 hlm.

Ukuran: 14 cm x 20 cm 

Harga: Rp80.000



Kurikulum memiliki peranan penting dalam pendidikan. Dalam kegiatan pendidikan, kurikulum tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar mengajar sebab kurikulum pasti berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar. Tujuan dalam kurikulum ini harus disesuaikan dengan tujuan pendidikan nasional dan juga tujuan pendidikan dari lembaga pendidikan tersebut.  Hal ini juga sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai kegiatan tertentu. Oleh karena itu, penting bagi lembaga pendidikan untuk mengetahui dan memahami tujuan pendidikan yang dimasukkan ke dalam kurikulum. Buku ini sangat layak dijadikan referensi bagi setiap lembaga pendidikan.



Kontak pemesanan:

0838-2995-8223 (Penulis)
0877-7148-0255
 (Penerbit)

Wednesday, September 13, 2023

Puisi Jawa Banten | Ihya Dinul Alas

Puisi Ihya Dinul Alas



MAlIH RUPA 


Duh gusti

Tulungi kita kien

Kelantar ore ketemu puguh

Krunya anak rabi

Endah wareg 

Lan ibadah kula tenang 


Lamuntah ana dosa sing manjing

Atawa nempel ning badan

Tulung dibersihaken 


Iki mangsa benerbener edan

Ana wong rupane monyet

Ana setan rupane kiyai

Segalane jadi rumek 


Mun pangeran ore nulungi

Kayanekayane kita gah

Ngerupa kiyai


Walantaka,  2023



GONG


Sing endi iki tekane muni gong kien

Saban bengi angger

Sampe ngitung duit salah bae

Bekas subuh dagang cocot

Sampe kopi entek limang gelas 


Jam tembok naboki mata

Tapi ati masih gegerayang muni gong

Bokan ko isuk laka sing nabuh

Jadi melu sepi laka batur gona begadang 


Citerep, 2023


_______


Penulis


Ihya Dinul Alas bernama asli Mamat Safrudin Lahir pada, 7 Agustus 1982. Mengajar di SMA Asy-Syarif Ciruas dan SMA Darrurohman Walantaka, Kota Serang. Akhir-akhir sering absen di kegiatan Kubah Budaya meskipun sebagai awal berdirinya komunitas yang dibanggakannya bersama kelima kawan tongkrongan di DPM (depan pohon mangga) semasa kuliah.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Tuesday, September 12, 2023

Proses Kreatif | Memangkas yang Tak Perlu

Oleh Encep Abdullah



Suatu hari seorang redaktur sastra mengirim pesan WA—tidak saya sebutkan namanya—bahwa cerpen saya terlalu panjang dan harus direvisi. Di media yang digawanginya, cerita pendek yang sesuai kriteria itu maksimal 1000 kata, sedangkan cerpen saya terdapat 1986 kata. Saya memang tidak baca aturan main media tersebut. Saya kirim saja. 


Saya penuhi saja tantangan Mas Redaktur. Saya membuang bagian yang bisa saya buang. Sebenarnya berat sekali membuang kata demi kata. Namun, sekali lagi, ini tantangan. Lalu, saya sudah mentok pada 1060 kata. Sudah nge-blank dan bingung harus membuang bagian mana lagi. Saya baca ulang, sudah tak bisa. 


”Mas, saya sudah mentok,” balas saya.


“Tidak bisa. Harus menghargai kebijakan redaksi.”


”Baik, Mas, saya coba kurangi lagi,” ujar saya.


”Cerpenmu bagus, tapi apa tidak sayang dikurang-kurangi? Bikin baru lagi aja,” katanya.


Waduh, justru saya lagi mandek bikin cerita lagi, malah disuruh bikin yang baru. Saya lebih memilih merevisi kalau memang layak muat. Bagi saya, ini adalah ruang belajar saya. Bagaimana caranya saya bisa memangkas tanpa mengurangi esensi cerita. Kalau dibilang sayang, pasti sayang. Bayangkan saja dari lima halaman menjadi tiga halaman. Namun, apa boleh buat. Pertama, saya pengin cerpen saya dimuat (lagi—setelah sekian lama tidak menulis di media) dan tentu saja dapat honor, haha. Kedua, ini yang lebih penting, menghargai kebijakan redaksi dan menerima tantangannya. 


Saya menyadari bahwa pekerjaan menulis sepatutnya begitu. Kalau tidak memangkas, ya menambah. Itu risiko mengirim karya ke media dengan segala regulasinya. Penulis perlu membaca aturan media tersebut dengan baik. Bisa jadi cerpenmu memang bagus, tapi tidak memenuhi ruang media tersebut—karena sedikit atau terlalu banyak kata. Masih mending redaksi mengabari penulis untuk merevisi, artinya masih ada peluang. Maka, peluang ini bisa dijadikan tantangan. Kecuali, penulis memang idealis, tetap keukeuh bahwa cerita tak bisa diotak-atik lagi.


Begini saja, sebenarnya tak perlu juga penulis harus menunggu koreksian redaktur atau siapa pun. Selepas kita menulis, sepatutnya kita baca lagi. Sekiranya bagian (kata/kalimat) dalam cerita itu dibuang/diubah dan cerita masih utuh, berarti bagian itu penting. Begitu sebaliknya, bila bagian itu dibuang/diubah dan mengubah cerita bahkan menghancurkan cerita, ya jangan dipangkas. Wayahnya jangan malas membaca ulang cerita sendiri. Kita bukan Putu Wijaya yang sekali menulis tidak dibaca ulang. Beliau punya seorang istri yang setia mengeditori tulisan-tulisannya sebelum tulisan itu dikirim ke media. Putu Wijaya punya prinsip ”daripada membaca ulang, lebih baik (waktunya buat) bikin cerita lagi”. Saya mengerti maksud beliau. Ketika beliau mengedit cerita, sama saja beliau bikin cerita baru, belum lagi kalau pengin diedit sana-sini yang pada akhirnya hanya menghabiskan waktu untuk membuat satu cerita yang sebenarnya waktu itu bisa digunakan bikin cerita yang lain.


Pekerjaan memangkas ini bagi sebagian penulis mungkin dianggap pekerjaan yang melelahkan. Namun, merevisi untuk menambahi kata atau kalimat atau paragraf, menurut saya jauh lebih melelahkan. Menambahi berarti membangun cerita baru. Bila bagian baru itu berdiri sendiri dan tidak berhubungan, alur cerita malah makin kabur. Oleh sebab itu, sebagian penulis menjaga alur itu dengan menggunakan jurus kembali kepada ”premis” agar cerita tetap dalam benang merahnya-- walau tidak semua penulis mengawali adonan cerita dengan premis.


Yang menjadi pertanyaan sebenarnya, mengapa beberapa media online itu membatasi jumlah kata/karakter cerita pendek? Bukankah media online bisa lebih fleksibel karena tidak dibatasi ruang layaknya media cetak? 


Saya yakin mereka punya alasan tersendiri. Bisa jadi untuk menjaga marwah Edgar Allan Poe bahwa cerpen adalah cerita yang dibaca sekali duduk. Bisa jadi juga karena menyesuaikan diri dengan zaman. Saat ini, siapa sih yang betah berlama-lama membaca tulisan panjang? Paling cuma kamu, iya kamu, yang notabene memang suka baca. Lebih-lebih saat ini kita hidup dan disuguhkan segala sesuatu dalam porsi yang serbasingkat dan instan. YouTube dan Instagram menyediakan fitur video pendek (Short/Reel) yang mungkin terinspirasi dari TikTok. Sebagian orang juga malas menonton film secara utuh. Mereka lebih senang mencari video reaksi atau ringkasan film tersebut yang bisa ditonton dalam sekali duduk. Namun, tidak segala yang pendek dan instan berarti buruk. Justru pekerjaan memendekkan sesuatu dengan tetap menjaga koridor dan esensi adalah tantangan berat. Itu bukanlah pekerjaan mudah.


Dalam alur kehidupan ini juga sejatinya banyak hal yang lewah, yang sebenarnya bisa kita pangkas, seperti apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa yang kita pikirkan, apa yang kita tulis, apa yang kita bicarakan, dst. Namun, memangkas sesuatu yang lewah itu butuh ilmu dan kerelaan, serta harus tahu esensinya seperti halnya kita memangkas yang tak perlu dalam cerita kita.


Judul tulisan saya ini, setelah saya baca ulang, kok rasa-rasanya mirip judul buku puisi penyair berkebangsaan Jerman Hans Magnus Enzensberger yang berjudul "Coret yang Tidak Perlu" (diterjemahkan Agus R. Sarjono dan Berthold Damshauser, 2010). Tapi tidak apa-apa. Namanya juga penulis. Kadang-kadang suka begitu. Saya kutip saja salah satu puisi Mang Hans--walau entah apa hubungannya dengan tulisan di atas.


Rondeau


Bicara itu gampang


Tapi kata-kata tak bisa dimakan

Maka buatlah roti

Membuat roti itu sulit

Maka jadilah tukang roti


Tapi roti tak bisa dihuni

Maka bangunlah rumah

Membangun rumah itu sulit

Maka jadilah tukang bangunan


Tapi di atas gunung tak bisa dibangun rumah

Maka pindahkanlah gunung

Memindahkan gunung itu sulit

Maka jadilah nabi


Tapi pikiran tak bisa didengar

Maka bicaralah

Bicara itu sulit

Maka jadilah engkau seperti kau adanya


dan teruslah bergumam sendirian,

wahai makhluk tak berguna.


Rondeau: bentuk puisi abad pertengahan, di mana larik tertentu diulang-ulang pada masing-masing bait.


Pipitan, 9 September 2023


_______


Penulis


Encep Abdullah, penulis yang memaksa bikin kolom ini khusus untuknya ngecaprak. Sebagai Dewan Redaksi, ia butuh tempat curhat yang layak, tak cukup hanya bercerita kepada rumput yang bergoyang atau kepada jaring laba-laba di kamar mandinya. Buku proses kreatif terbarunya berjudul Diet Membaca, Ketiban Inspirasi (#Komentar, 2023). 


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com

Monday, September 11, 2023

Karya Siswa | M(asa) | Puisi Nur Soimatul Azia

Puisi Nur Soimatul Azia



M(asa)


Saat tabir sunyi tersingkap mentari 

Ada kilau berbinar menyeruak ke sekujur jiwa

Membakar darah muda yang tiada lelah mencoba

Menggapai cita hingga langit jingga di ujung senja


Waktu terus berjalan

Laksana embun yang menggigilkan

Pagi butaku hingga meluluhlantakkkan jiwa kerontang

Kerontang dari segara cita yang masih belum kugapai


Kepak sayap burung yang berarak di angkasa

Seakan mengajariku tuk terus berjuang

melukis setiap langkahku

Memoleskan warna kehidupanku

Hingga warna asaku merekah dalam damai


Wahai generasi muda

Ambillah kendali tanpa ragu

Berkarya, menebar keyakinan dan harapan di sekelilingmu

Hingga genting dan rintangan dapat dilalui

Dengan kekuatan dan kemantapan hati


Wahai generasi muda harapan bangsa

Raihkan 

Wujudkan

Bunga-bunga pertiwi harapan bangsa


Berjalanlah dengan penuh keberanian

Mimpimu tidak akan pernah mati

Mimpimu akan hidup kembali pada masa tua

Dalam bentuk penyesalan yang amat mendalam


2023


__________


Penulis


Nur Soimatul Azia, siswa SMAN 1 Waringinkurung.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Sunday, September 10, 2023

Lapak Buku | "Rindu Tak Bertepi" Karya Kustiani

 

Judul: Rindu Tak Bertepi

Penulis: Kustiani

Penerbit: #Komentar

Terbit: September 2023

Tebal: x + 88 hlm.

Ukuran: 14 cm x 20 cm 

Harga: Rp40.000



Pada satu ketika, cinta telah menggerakkan orang untuk melakukan hal yang dahsyat dan tak terbayangkan. Karena cinta, seorang ibu merelakan segalanya demi kebahagiaan anaknya. Karena cinta, seorang yang tidur nyenyak akan terbangun, membuang kantuk, menanggalkan selimut, berwudu, lalu salat malam.  Lebih dari itu, karena cinta kepada Tuhannya, manusia rela memberikan sebagian harta yang diperolehnya dengan susah payah dan kelelahan, dia ikhlaskan untuk bersodaqoh. Bahkan, karena ingin meraih cinta dan ridho-Nya, orang berani mengur-bankan nyawa, berjihad membela agama Allah. 

Kustiani menunjukkan kematangan dalam memilih dan merangkai kata. Dari segi pemilihan tema jauh lebih kaya dan beragam. Di dalamnya semakin tampak keluasan cakrawala wawasannya. Lebih dari itu, kefasihan dalam mengungkapkan gagasan jauh lebih mengalir dan menyejukkan. Buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca. Di dalamnya, kita akan belajar banyak tentang teknik membangun kefasihan dalam melahirkan gagasan, membangun tema, serta memberi imajinasi pada komposisi. 

Kontak pemesanan:
087771480255

Lapak Buku | "Gerbang Cinta Sang Pujangga" Karya Yanti Mandalliyana

 


Judul: Gerbang Cinta Sang Pujangga

Penulis: Yanti Mandalliyana

Penerbit: #Komentar

Terbit: September 2023

Tebal: x + 169 hlm.

Ukuran: 14 cm x 20 cm 

Harga: Rp55.000



Cinta identik dengan perasaan kasih sayang dan suka. Semua orang tentu pernah merasakan cinta. Cinta tentunya ada pada masing-masing pribadi, namun cara mengungkapkan sebuah cinta juga akan berbeda-beda. 


Begitulah karya cipta Bu Yanti Mandalliyana ini. Cintalah yang menggerakkan beliau untuk terus dan terus berkarya. Tanpa lelah, tanpa henti. Cinta dan ketulusannyalah yang menjadi energi terkuat untuk melahirkan inspirasi dan imajinasi yang lahir tanpa jeda, seperti air mengalir. Seratus enam puluh tujuh judul puisi akrostik yang dihimpun dalam Gerbang Cinta Sang Pujangga ini. 


Dari segi kualitas, bahasa dan isi pada antologi ini, Bu Yanti Mandalliyana menunjukkan kematangan dalam memilih dan merangkai kata. Dari segi pemilihan tema jauh lebih kaya dan beragam. Di dalamnya semakin tampak keluasan cakrawala wawasannya. Lebih dari itu, kefasihan dalam mengungkapkan gagasan jauh lebih mengalir dan menyejukkan.


Kontak Pemesanan:
087771480255



Saturday, September 9, 2023

Puisi-Puisi Jun Desember

Puisi Jun Desember




Cintaku Terlalu Puisi


Cintaku terlalu puisi

Tertulis di halaman hati

Kita menyatu di antara kata-kata

Sebagai kalimat dan alinea


Cintaku terlalu puisi

Jauh darimu adalah spasi 

Jeda panjang penuh rindu

Dalam bait waktu


Cintaku terlalu puisi

Syarat makna dan arti

Meski tak terucap

Tapi kau tau hatimu kudekap


Cintaku terlalu puisi

Ingin kau baca berulangkali

Dari kata ke kata kemudian kalimat utuh

Seutuh cintaku kepadamu 


(2020)



Menyeduh Hujan


Sore ini

Kenangan terus diputar

Seperti sebuah lagu

Nyaring di kepala


Hujan

Tak melulu tentang air yang jatuh dari langit

Tapi juga air yang turun dari mata

Lengkap dengan mendung dan rintiknya


Sore ini

Aku menyeduh hujan

Dari air mataku sendiri

Ditemani sepiring rindu

Dan sepotong sepi


(2020)



Rintik Rindu 


Ketika hujan 

rintik dan rindu berpuisi

Di bawah rindang pohon atau bangku taman

Di jalan-jalan sepi atau lorong kenangan


Aku duduk di dalam kamar

Rintik dan rindu menulis sajak

Di bawah mataku yang sembab

Tentangmu yang pergi tanpa sebab


Rintik rinduku

Merangkai kalimat-kalimat sendu

Di bawah rindangnya masalalu

Di bawah hujan yang tak kunjung reda


(2020)



Selamat Tidur, Puisi


Selamat tidur puisi

Semoga mimpi indah

Besok kita buka lembaran baru lagi

Hari ini sudah cukup


Maaf, aku sering merepotkanmu

Dengan kepedihan-kepedihanku

Aku tak bermaksud membawamu ke dalam dukaku


Terima kasih puisi

Sudah menjadi tempat mencurahkan isi hati

Ruang untuk pulang

Dermaga untuk berlabuh setelah lelah berlayar di laut air mata


Selamat tidur

Besok kita ketemu lagi

Di meja yang sama 

Dengan luka yang sama


(2020)



Setelah Membaca Puisi


Setelah membaca puisi

Kau melihat langit yang mendung

Beberapa menit lagi hujan turun 

Rintik kemudian menjadi deras


Setelah membaca puisi

Kau mendengar seorang meneriakkan namamu

Dalam riuhnya sepi

Berkali-kali


Setelah membaca puisi

Kau merasakan sebuah desir

Menyusup ke dalam tubuhmu

Menyentuh dasar hatimu


Setelah membaca puisi

Kau akan menemukan aku

Terbaring memeluk rindu

Sendirian, di tengah deras hujan 


(2020)


________


Penulis


Jun Desember, lahir di Cirebon, Jawa Barat, 27 Desember 1996. Puisi-puisinya pernah dimuat di berbagai media online dan bisa ditemukan dalam buku antologi.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Friday, September 8, 2023

Info Lomba | Baca Puisi Tingkat Nasional Piala HB Jassin (DL 3 Okt 2023)

 



NGEWIYAK.com, JAKARTA -- Lomba Baca Puisi Tingkat Nasional Piala HB Jassin 2023 resmi digelar!


Ikuti syarat dan ketentuan Lomba Baca Puisi di bawah ini.

Syarat dan Ketentuan


1. Warga negara Indonesia, berusia minimal 18 tahun pada tanggal 11 Agustus 2023.

2. Mengirimkan video pembacaan puisi dengan teks, membacakan salah satu puisi yang disediakan panitia pada tautan pendaftaran.


Persyaratan pembuatan video:


1. Menampilkan seluruh tubuh pembaca dengan pakaian bebas dan sopan, tidak bertentangan dengan nilai dan budaya Indonesia.

2. Penampilan baca puisi tidak diperkenankan diiringi ilustrasi suara atau musik apa pun.

3. Video mode: landscape (posisi horizontal).

4. Video baca puisi harus dalam sekali pengambilan gambar dengan kualitas gambar 1080P dan tidak diedit.

5. Durasi maksimal 7 menit.

6. Peserta wajib menyebutkan judul puisi dan pencipta puisi pada awal video.

7. Kualitas video menampilkan gambar dan suara yang jelas.


Ketentuan pengiriman video:


1. Video dikirimkan dalam format mp4 dengan resolusi 1080P.

2. Penamaan file video: Nama_AsalKota_JudulPuisi. 

Contoh: (Fitri-Azahri_Bekasi_WajahKita)

3. Pengiriman video maksimal 1 kali.

4. Video diunggah pada saat mengisi form pendaftaran melalui tautan https://bit.ly/Pialahbjassin_BacaPuisi 2023.

5. Pengisian formulir dan pengiriman video diperpanjang sampai 3 Oktober 2023.

6. Pemenang Pertama Lomba Baca Puisi Piala HB Jassin tahun 2022 tidak diperkenankan mengikuti kembali.

7. Tautan Teks Puisi
https://bit.ly/BacaPuisi2023


10 orang Finalis terpilih akan tampil secara langsung di depan Juri pada babak Final, untuk penentuan Juara 1, Juara 2, Juara 3, dan 7 Finalis Terbaik.


Seluruh biaya transportasi dan akomodasi sepenuhnya ditanggung oleh peserta.


Hadiah untuk pemenang:

Juara 1: Rp15.000.000

Juara 2: Rp12.000.000

Juara 3: Rp10.000.000


7 Finalis Terbaik

Masing-masing mendapatkan Rp4.000.000 


*pajak ditanggung pemenang


Sumber: IG PDS HB Jassin 

Thursday, September 7, 2023

Esai Nurhadi | Menjenguk Kembali "Manusia Indonesia" Mochtar Lubis

Oleh Nurhadi



Seandainya tidak ada kajian setiap minggu di #Komentar (Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa), saya mungkin tidak akan mengetahui isi buku yang kontroversial itu—melainkan sebatas kutipan-kutipannya. Buku itu berjudul Manusia Indonesia karya Mochtar Lubis. Saya membacanya dengan perlahan. Bagi saya, setiap fenomena dalam tulisannya seperti tanda tanya yang harus "siap" secara mental. Bumbunya cukup sulit ditebak. Tapi, hal itu yang membuat saya semakin penasaran. Kemudian mencoba terbiasa dengan gejolak emosi dari ceramahnya itu.


Mochtar Lubis bagi saya adalah pujangga yang membawa napas ke-Indonesiaan menjadi diskursus sampai hari ini. Dan bisa kita lihat pada kata pengantarnya—oleh Jakob Oetomo—yang telah memantik, bahkan kontroversial, di sebagian orang. Ia adalah Margono Djojohadikusumo, ayah dari Prof. Soemitro Djojohadikusumo. Dikatakan Pak Margono ini sampai datang ke kantor Jakob bekerja hanya untuk menyampaikan protes terhadap ceramah Mochtar Lubis itu. Ia menghubungkan aristrokrasi dan feodalisme. Menurutnya aristokrasi jangan saja dilihat dari sisi negatifnya, tapi juga menunjuk ke sikap dan budi mulia.


Warisan Mochtar Lubis ini sebenarnya telah ada pendahulunya. Pembahasan "Manusia Indonesia" telah dibicarakan pada 1984 di Palembang saat diadakan Seminar Nasional Ilmu-Ilmu Sosial dengan tema “Kualitas Manusia dalam Pembangunan”—itulah yang tercatat dalam penelitian Joko Wicoyo. Masih pada sumber yang sama, hal itu juga pernah diungkap dalam pidatonya Presiden Soeharto. 


Presiden Soeharto mempertanyakan dalam membentuk manusia berkualitas itu apa saja yang diperlukan, mana saja yang bakal dijadikan prioritas, apa yang diperhatikan dalam mengembangkannya, bagaimana kebijaksaan dan dampaknya, dan bagaimana tolok-ukur keberhasilannya itu. Tentu pertanyaan itu tidaklah mudah bagi kita, mengingat Indonesia bukanlah satu individu, ras, budaya, keyakinan, dan golongan. Banyak sekali perbedaan yang ada pada Indonesia. Dan perbedaan itulah yang coba dikemas oleh Lubis sebagai watak manusia Indonesia.


Meski pertanyaan Soeharto itu kurang atau tidak sama sekali relevan jika disodorkan oleh pandangan Mochtar. Namun, kesederhanaannya daripada Soeharto yang formal-objektif membuat kita seakan melihat lebih dekat terkait watak manusia Indonesia, yakni (1) munafik atau hipokrit, yang di antaranya menampilkan dan menyuburkan sikap "asal Bapak senang" atau ABS, (2) enggan dan segan bertanggung jawab atas perbuatannya, (3) bersikap dan berperilaku feodal, (4) percaya takhayul, (5) artistik, berbakat dalam seni, dan (6) lemah watak atau karakternya.


Manusia Mochtar Lubis


Mengutip buku Jurnalisme dan Politik di Indonesia karya David T. Hill bahwa, Mochtar Lubis bukanlah seorang politisi partai, makelar kekuasaan, atau ideolog. Bukan juga seorang akademisi atau sarjana. Akan tetapi, sebagai perantara budaya yang fasih, pengarang pemenang penghargaan, dan wartawan terkenal secara internasional—seorang "budayawan" dalam arti luas—ia adalah salah satu juru bicara paling berpengaruh di negerinya dan memerintahkan ketenaran publik, demikian sepanjang hampir selama masa hidup dewasanya.


Mochtar Lubis lahir di Padang kota pelabuhan gudang di Sumatra Utara pada 7 Maret 1922. Beliau anak keenam dari pasangan Husein Lubis dan istrinya Siti Madinah Nasution. Ayahnya Mochtar Lubis merupakan seorang bangsawan dengan gelar ningrat Raja Pandapotan dan Anggota Majelis Pengadilan atau Namora-Natoras (Para Bangsawan atau Tetua). 


Pendidikan Mochtar Lubis muda berawal dari minatnya menjadi dokter, kemudian pada 1935, ia justru mendaftar Sekolah Ekonomi yang didirikan oleh S.M. Latif di Kayutanam. Di sana Lubis bergabung dalam Indonesia Muda, suatu gerakan nasionalis. Ketika lulus dari Kayutanam pada 1939, ia telah menjadi seorang yang nasionalis tulen. Lubis telah diselimuti gagasan nasionalis seperti Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Soekarno. 


Mengutip Kompas, Lubis telah melewati beberapa lika-liku zaman dan barangkali telah kenyang menelan asam-garam kehidupannya sebagai wartawan. Ia bergabung dengan media Antara yang didirikan oleh Adam Malik dan ditugaskan sebagai penghubung antara koresponden asing yang masuk ke Jawa. Kemudian pada 1949 Mochtar bersama Hasjim membentuk surat kabar, yaitu Harian Indonesia Raya. Sejak itu, ia dikenal sebagai koresponden perang. Akibatnya, pada 1961 Mochtar Lubis dibui oleh rezim Orde Baru. 


Setelah bebas dari penjara pada 1966, Mochtar Lubis kembali menerbitkan media rintisannya itu pada 1968. Ia menginvestigasi kasus korupsi di Pertamina yang saat itu memiliki utang luar negeri 2,3 miliar dollar Amerika Serikat. Letjen Ibnu Sutowo selaku pimpinan Pertamina kemudian diberhentikan oleh Presiden Soeharto. 


Kemudian peristiwa lainnya di tahun 1974 telah pecah saat pagebluk malari, kemudian datangnya Perdana Menteri Jepang, Tanaka. Saat itu, banyak media yang meliput terkait kerusuhan yang terjadi, seperti terbakarnya Pasar Senen. Soeharto kemudian menginstruksikan untuk menutup sejumlah surat kabar, salah satunya yaitu Harian Indonesia Raya yang dipimpin oleh Mochtar Lubis.


Kiritik Sinkretisme


Seperti yang sudah disinggung di atas, Mochtar Lubis mendikotomi enam watak atau sifat manusia Indonesia. Di antaranya, setidaknya menurut saya, itu sering tampak di permukaan, yakni hipokrit atau munafik. Sebab, menurut saya itulah puncak dari sebuah masalah, uniknya terjadi sinkretisme, menggabungkan dua unsur di dalam perilakunya sebagai manusia. Dan itu dilakukan secara ekstrem atau bertolak belakang atas nilai dan idealismenya. 


"Kemaksiatan" tadi memberikan kesan bahwa manusia Indonesia itu tidak bisa dipercaya tanpa syarat. Itulah yang digambarkan oleh Mochtar Lubis. Agar lebih jelasnya, begini, ada seorang calon presiden yang dikenal puritan, mulutnya selalu keluar ayat-ayat Tuhan, di sisi yang lain justru ia melipat identitasnya itu dengan identitas yang sama sekali kontra. Ia datang ke dukun-dukun, meminta kepada laut dan pohon agar bisa tujuannya tercapai. Mochtar Lubis sendiri mengatakan itu “ngeri”. Sinismenya itu apakah diterima dalam menjelaskan manusia Indonesia tersebut?


Jelas tidak semuanya diterima. Demikian itu telah mereaksi dari beberapa pihak. Seperti, jika kita masih mengingat sosok Pak Margono yang berada di muka tulisan ini. 


Selanjutnya dalam buku Manusia Indonesia, karya Mochtar Lubis, Wirawan menyampaikan bahwa pernyataan-pernyataan Lubis hanyalah didasarkan pada pengamatan pribadi, dan tidak didasarkan pada suatu studi atau penelitian yang khusus dilakukan untuk itu sehingga dikhawatirkan dapat mengundang salah persepsi dari mereka yang tidak memahami secara dalam pemikiran Lubis. 


Lebih lanjut Wirawan menilai Lubis tidak konsisten dalam berargumentasi terkait kepribadian manusia Indonesia. Kontradiksinya sebagai manusia Indonesia yang bermalas-malasan berlawan dengan terampil pada tangan dan jarinya; ingin cepat sukses dan kaya berlawan dengan sabar.


Memang dalam ceramahnya itu, Lubis menyampaikan beberapa sifat-sifat positif manusia Indonesia. Seperti lemah lembut, sopan, penuh kasih sayang, artistik atau terampil, dan murah senyum. Masih dari sumber yang sama, Hanifah dalam komentarnya menempatkan Lubis sebagai “Dokter Masyarakat” yang telah berhasil melakukan diagnosis terhadap penyakit-penyakit yang diidap manusia Indonesia. 


Masalahnya tinggal pada mencari obat bagi penyakit-penyakit tersebut, dan obat harus dicari dari dalam tubuh manusia Indonesia sendiri, tidak harus mencari resep-resep dari luar. Hal ini terutama mengingat kala itu sudah terindikasikan bahwa pada masa mendatang jejaring interaksi yang bernuansa global akan menjadi hal yang tidak bisa dihindarkan adanya.


Manusia Pancasila


Terdapat segmen yang menurut saya menarik untuk dibicarakan dan melihatnya itu sebagai refleksi. Manakala Lubis bertanya kepada auidens tentang siapa manusia Indonesia itu. Bagaimana tampanganya, rupanya, dan seterusnya. Sampai pada titik bahwa manusia Indonesia dapat dilihat dari tingkah lakunya yang berdasarkan dengan lima sila Pancasila: ketuhanan, kemanusiaan, keadilan sosial, kerakyatan, persatuan Indonesia.


Pernah sewaktu ketika saya mengikuti kuliah Pancasila, materi yang disampaikan itu tentang Sejarah dan Kesaktian Pancasila. Dosen itu bilang bahwa Pancasila adalah rumus tahapan bagi kehidupan bangsa Indonesia. Artinya, untuk mencapai nirwana atau Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, harus melewati sila-sila sebelumnya yang diawali dengan Ketuhanan Yang Maha Esa.


Setelah dipikir-pikir justru saya kurang puas dengan argumen seperti itu. Justru demikian adalah paradoks, bagaimana dengan sila pertama Pancasila yang mengatakan Ketuhanan Yang Maha Esa, siapa yang benar-benar akan menjamin orang meyakini sila pertama. Menurut saya, Panacasila adalah penegasan dan tawaran kepada dunia untuk menggambarkan identitas Indonesia itu sendiri. 


Dengan kata lain terciptanya Pancasila merupakan jaminan dari negara dalam urusan agama dan menjalankannya; memiliki hak untuk berserikat atau bersatu dengan kesamaan minat, pikiran, dan ideologi; dan memiliki status yang sama dihadapan publik—terutama di hadapan hukum sebagaimana asas equality before of the law.  


Ambisi dari Pancasila itu rupanya melahirkan manusia Pancasila, yang mencakup dari segala rupa ajaran agama dan aliran kebatinan, cita-cita emansipasi manusia oleh berbagai bentuk ideologi. Namun apakah manusia Pancasila itu benar-benar ada? Bagaimana dengan data statistik yang mengatakan kepada kita tentang kualitas hidup masyarakat di Indonesia yang masih jauh dari kata layak? 


Kemudian bagaimana banyaknya penyakit rasuah di setiap instansi? Pemangku jabatan dan penegak hukum yang ugal-ugalan? Penyakit sosial seperti narkoba, pergaulan bebas, dan kekerasan dalam rumah tangga? Juga bagaimana dengan kualitas pendidikan kita saat ini. Terdidik tapi sulit mencari pekerjaan. Pengajar honorer yang kurang sejahtera. Kurikulum pendidikan yang kerap digonta-ganti?


Ditambah lagi dengan konsekuensi modernisasi, keterhubungan, dan kertegantungan terhadap dunia luar telah menjangkiti manusia Indonesia. Baik yang berada di kota maupun di pelosok, semua berpotensi menjadi modern. Dan itu memiliki dampaknya sendiri, misalnya mencium tangan dianggap problematik dan kuno, tapi ciuman lambe di tempat umum dianggap romantis. Pakaian compang-camping alias telanjang berdalih kebebasan dan kesetaraan gender. Pintar tapi bermental teknis, pikiran dan jiwanya seolah hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar dan industri. 


Apakah itu tujuan dari modernisasi? Apakah itu yang diajarkan oleh Pancasila? Persoalan ini Saya serahkan kepada saudara-saudara. 


________

Penulis

Nurhadi atau biasa dipanggil Albert. Sekarang lagi pura-pura belajar di #Komentar. Karyanya pernah dimuat di koran harian Kabar Banten dan Majalah Sastra Kandaga Provinsi Banten. Selebihnya insyallah.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com



Wednesday, September 6, 2023

Puisi Jawa Banten | Nursiyah Faa

Puisi Nursiyah Faa



SELISIH DINE LEBARAN


Uwong-uwong, deweke ngedemeni negeri

Tekang ngendeki.

Demene tekang kepati-pati

—Tekang mati

Tekang dunye rakyat diendaki

Segale bende dipajaki

Sekabeh dijokoti

Tekang perkare sambel terasi ning bagasi

Dikurek-jokoti

Ning uwong sing ngakuni demen negeri

Hobine ngebiri devisa negeri.


Uwong-uwong sing ngakune demen kepati-pati ning negeri

Sing ayu molek iki

Kebisane dandan ngenggo anggaran

Apelah makne dedalan sing mulus

Lamun badan pemimpine mambu perengus?

Udutah mengkonon tuan-tuan lan puan-puan

Sing mulie dodok ning duhur jabatan?


Apelah makne pendidikan

Mun bise mah rakyat dolog bae

Mun pinter gawe berabe ning jagat negeri

Wong dicemiringe kuh mau kaen


Uwong-uwong sing ngakune demen tekang mati

Ning negeri sing ramah iki

Teger luwih agame sing suci

Dibeloki kepentingan cecurut babi

Tiap taun lake peragate ngemulai tanggal

Teropong-teropong anggaran belanje

Berlabelaken agame

Sedolog iku anak-anak bangse

Ngedeleng, ngitung dine

—Langit-langit negeri 

Peteng kerurub segale kebul.


Kibin, April 2023



CATETAN AWAL MARET


Sembarang Februari

Udan ngeriyek 

Kali banjir lan jembatan kelem

Kite wedi nyebrangi

Ure kedeleng endi dedalan melaku

Endi dedalan banyu

Sekabeh dedalan kerurub banyu


Saban dine udan ngeriyek

Banyu mili sing udik ning ilir

Sawah-sawah kelem

Pari-pari kenang bebeluk

Gabah-gabah bosok ure keipe

Beras-beras munjuk ning deduhuran

Wong musakat pade bebentingan


Serang, Maret 2023



KIYAI GEDE — GEDE DOANE


Winginane dese kite rame

Wong gagah nyambangi umah

Kiayi gede – gede doane

Sembarang bocah polodan 

Tekang wong tue sing melakune imbit-imbitan

Melu ngimplo umah kiayi


Mangke ceramah kiayi

Iki tamu duwe cite-cite mulie

Ngemakmuraken rakyat

Segale hadarot diaturaken

Diaminaken sekabeh uwong

Dibageni teke siji

Cangkir siji-siji

Kalender sing wis parek peragat taune

Siji-siji wong disalami

Tembekan iki salaman karo salah siji pejabat negeri

Wingi-winginane embuh temen arep salaman

Salam be ure nyampe.


Siji-siji uwong-uwong sing embuh uwonge

Ngedadak dadi santri

Marek ning kiayi

Ngaku-ngaku duwe cite-cite kang mulie

—Mulie kanggo kalangan dewek.


Serang, Agustus 2023



TRIK DADI POLITIKUS SUKSES


Kanggo uwong-uwong sing mentereng jabatane

Ning pemerintahan

Aje ure kelingan wewisuh lamun tes memangan 

Embokan kedeleng cobroke 


Lamun tah memangan aje hawek dipangan dewek

Bagi-bagi teke semet genah si A si B 

Gonah kerase dedularanane

Gonah ane ape-ape kuh ditulungi


Lamun ane sing ngegeyan 

Aje ure kelingan jaluk tambahan

Aje duwe sipat ure enakan

Diporodibe sekabeh los temen

Bakale tekang begah


Aje wedi lamun ane laporan sing embuh-embuh

Diobrolaken be ure pape

Jalur leluran duit luwih licin lan wangi


Lamun jabatan wis arep peragat

Gagi ngembil ancang-ancang

Ngudag wong-wong melarat

Santuni sekabeh

Bangse duit seket mah wong siji moal entek pekaye

Aje ure kelingan sesanje ning sesepuh, ulame

Jukut karomahe


Los temen modal kampanye gede

Tenang be lamun dadi pasti untunge luweh gede


Serang, Agustus 2023


_______


Penulis

Nursiyah Faa, ibu rumah tangga beranak siji.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Info Lomba | Menulis Esai Sastra HB Jassin (DL 3 Okt 2023)

 


NGEWIYAK.com, JAKARTA -- Lomba Cipta Esai Sastra Tingkat Nasional Piala HB Jassin 2023 resmi digelar!


Ikuti syarat dan ketentuan Lomba Cipta Esai Sastra Tingkat Nasional di bawah ini.


Tema Esai


Tema Utama Esai: 

"Sastra Indonesia Masa Kini"


Sub Tema:


- Menduniakan Sastra Indonesia

- Kritik Sastra Kontemporer

- Jakarta dan Kesusastraannya

- Tokoh di Balik Kesusastraan Indonesia

- Masa Depan Kesusastraan Indonesia

- Sastra dan Kecerdasan Buatan


Kriteria Penilaian


- Kreativitas atas gagasan yang diciptakan

- Kesesuaian judul dengan sub tema dan isi karya esai

- Keaslian karya

- Kejelian dan ketajaman pembahasan


Syarat dan Ketentuan


- Terbuka untuk umum, dalam negeri dan luar negara Indonesia, berusia minimal 18 tahun pada tanggal 11 Agustus 2023.


- Tiap peserta mengirimkan maksimal 1 esai dengan memilih salah satu tema yang telah disediakan.


Kriteria Penulisan Esai


- Tulisan berbahasa Indonesia

- Tulisan minimal 1200 kata dan maksimal 1500 kata (tidak termasuk daftar referensi) 

-Menggunakan kertas A4 dengan margin 3,3,3,4 Jenis font Arial ukuran 12 dan spasi 1,5

- Judul menggunakan huruf kapital cetak tebal

- Nama penulis dan email dicantumkan di bawah judul tanpa cetak tebal

- Kutipan menggunakan sitasi langsung dan ditulis dalam daftar referensi pada halaman terakhir

- Tulisan belum pernah dipublikasikan

- Tulisan merupakan hasil karya sendiri, bukan saduran atau plagiat


Ketentuan Pengiriman Esai


- Tulisan dikirim dalam format .Pdf

- Penamaan file esai: Nama Lengkap Tanggal Lahir_Asal Kota/Negara


Contoh: SharfinaMaharani_120196_Batam


-Pengiriman tulisan maksimal 1 kali

-Tulisan diunggah pada saat mengisi form pendaftaran melalui tautan

https://bit.ly/Pialahbjassin_Esai2023


-Pengisian formulir dan pengiriman esai diperpanjang sampai 3 Oktober 2023


Sepuluh peserta terpilih akan melakukan presentasi esai di depan juri secara online (Jadwal akan diinformasikan menyusul).


Berdasarkan hasil penilaian presentasi esai, juri akan menentukan Juara 1, Juara 2, dan Juara 3.


Seluruh biaya transportasi dan akomodasi sepenuhnya ditanggung oleh peserta.


Hadiah untuk Pemenang


Juara 1 : Rp15.553.500

Juara 2 : Rp12.961.250

Juara 3 : Rp10.369.000


Unduh pamflet 


________________

Lomba lainnya:


Baca puisi 

Musikalisasi Puisi Tingkat SMA


Sumber: 

FB Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin

IG PDS HB Jassin


Tuesday, September 5, 2023

Proses Kreatif | Menulis dan Segala Pergerakannya

 Oleh Encep Abdullah



Belakangan ini saya berdaptasi dengan sesuatu yang baru. Terutama perubahan aktivitas di pagi hari. Saban hari--bahkan Minggu--tak ada waktu leha-leha. Dulu, saya masih bisa tiduran santuy sebelum berangkat kerja. Kali ini susah. Saya harus bersiap-siap mengantar anak ke sekolah. Tentu saja saya wajib siap ganteng setiap pagi. Dan, terus menerus begitu. Hal ini ternyata membuat hidup saya bermakna. Tidur di pagi hari--sesuai pengalaman pribadi--efeknya buruk sekali. Bahkan, dulu pernah seharian selonjoran di kamar. Keluar saat salat. Makan juga kadang dirapel hanya sekali.


Aktivitas terus-menerus macam itu bikin otak saya bego. Kalau tidak diimbangi dengan membaca buku dan menulis, saya bisa makin payah. Benar memang kata ulama, yang bisa bikin hidup berfaedah itu salah satunya kurangi tidur. Terutama di waktu-waktu seperti pagi dan sore. Yang dianjurkan adalah siang hari--sebelum atau selepas salat Zuhur.


Kali ini saya bisa tidur siang lebih luang karena ada jam tidur siang yang diberikan oleh sekolah. Namun, namanya juga kuli tinta, kadang waktu-waktu luang ini digunakan untuk menulis dan urusan penerbitan buku.


Saya yakin ini memang skenario Tuhan agar saya bisa hidup lebih baik. Saya sangat menyadari itu. Tuhan tahu bahwa saya juga harus tetap bekerja dan menghabiskan waktu untuk kemaslahatan umat dalam urusan menulis dan perbukuan.


Sebelumnya saya ditawari teman untuk mengajar (lagi) di sekolahnya, tapi setelah saya pikir-pikir, buat apa. Waktu luang saya tidak mau habis hanya di dalam kelas. Saya punya dua raga: pendidik dan penulis. Justru, saat ini, saya merasa nikmat sekali berada di zona ini. Saya bisa banyak berpikir dan berevaluasi diri, terkait hidup dan kekaryaan.


Saat ini, saya selektif melakukan sesuatu yang dirasa benar-benar berfaedah. Di SMK, saya merasa perlu membenahi cara berpikir anak-anak tentang salat. Saya fokus di situ dulu. Di SMP-SMA (ponpes), saya mulai bergeliat lagi agar anak-anak memulai kembali membaca buku dan menulis--sebelumnya mati suri karena saya sibuk dan sedang mager memotivasi anak-anak. Saya tidak bisa menyamakan dua tempat ini karena akar masalahnya berbeda. Di komunitas menulis, saya sudah serahkan kepada Sul Ikhsan, selaku ketua baru. Tapi, tetap saya pantau perkembangannya.


Di rumah, saya fokus berbenah diri dengan sering-sering bermain dan bercanda dengan anak-istri. Yang paling rumit adalah menghadapi anak-anak. Tidak lain hanya persoalan kesabaran. Melatih sabar ini luar biasa. Seperti halnya harus sabar ketika sedang menulis agar tidak terburu-buru ingin cepat selesai. Maka, salah satu latihannya dengan ibadah salat yang khusyuk. Di sini saya bisa berlatih bagaimana agar tidak ingin lekas-lekas selesai salatnya. Kudu sabar sampai benar-benar tenang. Kalau sudah tenang, baru beranjak dari sajadah.


Di sela-sela itu, saya juga mulai kembali menulis puisi. Saya harus kembali berlatih bersabar agar tidak menulis yang sekadar selesai. Saya menyelami diri. Kata-kata apa yang seharusnya saya lontarkan. Kenapa saya harus menuliskan ini dan itu. Untuk apa semua ini?


Nah, itulah pertanyaan mendasar yang menurut saya hadir dalam setiap sanubari penulis. Ada yang menjawab A, B, C, dan sebagainya. Jawaban-jawabannya bisa tampak idealis dan pragmatis. Namun, tak ada jawaban yang membuat saya tercengang selain dari perjumpaan kemarin. Saya bermain ke tempat saudara saya yang seorang pelukis.


Saat ditanya kenapa dia melukis dan untuk apa semua ini dia kerjakan? Jawaban saudara saya, "sebagai saksi di hadapan Tuhan".


Saya tertegun sejenak. Dia bilang kepada saya bahwa jalan saya dan dia sama. Dia melukis, saya menulis. 


"Karya-karya kita akan menjadi saksi di hadapan Tuhan," ujarnya.


Saya tidak tahu, kenapa kali ini dada saya cukup sesak mendengar itu. Saya becermin lagi, apakah karya-karya yang saya tulis mendekatkan diri saya kepada Dia, atau malah sebaliknya? -- Di sini saya tidak berbicara tema karena tema bisa apa saja, semua punya potensi untuk kebaikan.


Saudara saya itu bukan pelukis beken. Juga tidak menghasilkan banyak uang dari melukis. Dia bilang bahwa dia tidak mencari apa-apa. Dia hanya bergerak sesuai dengan apa kata hatinya. Dia melukis karena dia memang cinta melukis. 


"Yang saya lakukan hanya bergerak. Selagi manusia bergerak, masa iya Tuhan membiarkan manusia hidup dalam kesengsaraan. Tuhan tidak pelit. Saya sedang berlomba dengan guru saya, siapa yang paling banyak 'saksinya' kelak di hadapan Tuhan. Yang bisa saya lakukan adalah melukis maka saya melukis," ujarnya.


Semakin malam obrolan makin berat. Beban di kepala saya juga makin berat. Sepulang dari situ, toh, saya tidak harus juga kan mendadak menjadi Jalaluddin Rumi? Saya tetaplah Encep Abdullah. Saya masih berproses menjadi. Hanya, orientasinya saja berbeda. Sebelumnya, orientasi menulis saya adalah uang, popularitas, dan tetek bengek urusan dunia lainnya, kini ... ya ... masih sama. Haha. 


Dunia tidak bisa saya tinggalkan begitu saja karena ini fasilitas dari Tuhan. Tapi, yang saya perlu benahi adalah membunuh makhluk dalam diri saya, yaitu kesombongan. 


Saat ini, saya kerap menyaksikan banyak orang di sekitar saya, mereka bergerak melakukan perubahan. Sebagian tidak banyak omong, langsung aksi, memberikan contoh dari diri sendiri. Sebagian lagi banyak bicara, tapi nol aksi. Sebagian lagi, uzlah, mengurung diri, menyepi diri. Untuk apa Tuhan menyuguhkan semua ini di hadapan saya bila cuma-cuma. Tuhan menyuruh saya "membaca tanda-tanda".  


Kita telah saksikan seribu tanda-tanda

Biskah kita membaca tanda-tanda?

...


Beri kami kearifan membaca tanda-tanda

Karena ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan

akan meluncur lewat sela-sela jari

Karena ada sesuatu yang mulanya tak begitu jelas

tapi kini kami mulai merindukanya.


(Puisi Taufik Ismail "Membaca Tanda-Tanda")


Kiara, 5 September 2023


_______


Penulis


Encep Abdullah, penulis yang memaksa bikin kolom ini khusus untuknya ngecaprak. Sebagai Dewan Redaksi, ia butuh tempat curhat yang layak, tak cukup hanya bercerita kepada rumput yang bergoyang atau kepada jaring laba-laba di kamar mandinya. Buku proses kreatif terbarunya berjudul Diet Membaca, Ketiban Inspirasi (Maret 2023). 


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Monday, September 4, 2023

Karya Siswa | Merdeka Menggapai Cita | Puisi M. Rajaa Ghathfaan

Puisi M. Rajaa Ghathfaan



Merdeka Menggapai Cita


Secercah cahaya dari bumantara yang memancar

Indah kepada sang semesta

Alam yang begitu elok menyapa 

Diiringi kicauan burung yang meriuhi


Entah sudah mentari yang ke berapa 

Begitu berat mendamba sebuah kebebasan

Diam di hembusan angin yang membisu 

Mematung di deburan ombak yang menderu


Aku hanya bisa menggoreskan beberapa aksara tentang keleluasaan, merdeka dan berkarya

Harus sejauh apakah aku harus berlari 

Untuk menggapai kebebasan dalam berkarya


Saat itu titik ide-ide terbelenggu

Keleluasaan terkubur


Sudah lama sekali merindukan keleluasaan untuk mengutarakan ide-ide

Sudah lama sekali merindukan kebebasan untuk menggapai impian


Saat ini

Batasan pemikiran dan aturan yang kaku

Telah tergantikan dengan pemikiran

Dan aturan yang terbuka


Ide-ide yang terbelenggu sudah tak terpenjara

Keleluasaan yang terkubur sudah bangkit kembali

Maka dari itu  

Marilah kita memulai mentari pagi yang lebih baik ini 

Dengan cakrawala yang lebih terbuka


2023


_____


Penulis


M. Rajaa Ghathfaan, siswa SMAN 1 Ciruas.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com

Karya Siswa | Pewaris Karya | Puisi Kinanda Aura Zulkarnain

Puisi Kinanda Aura Zulkarnain




Pewaris Karya 


Dunia mewariskan sebentang lantai 

Dari puncak gunung sampai ke garis pantai 

Berukir aksara diselimuti debu 

Antik; kusam, dan abu-abu 


Mataku yang menemukannya yang tak dihirau bagaikan udara

Sebuah ubin retak di atas tubuh bumi 

Tak diinjak namun pun tak diasuhi


Ku memungutnya; lempengan, serpihan

Kubaca di permukaannya, pudaran tinta tulisan 

Dan kuseru, "Ah sayangnya!

Sayangnya sang penulis! Ekspresi jiwanya tak dihiraukan!"  


Dengan pena baru, kutebalkan ukirannya

Diperjelas, diperindah 

Lalu kupajang 

Antara lautan orang lalu lalang


"Lihatlah! Lihatlah!" 

 Namun mereka berpaling, layaknya buta huruf 

"Lihatlah! Lihatlah!" Namun mereka bersiul layaknya tunarungu 


Bertanya-tanya, benakku bertanya-tanya

Tidakkah mereka memiliki mata? 

Tidakkah mereka dapat memahami? 

Hingga seorang awam menghampiri


Untuk apa memamerkan hal seperti ini? 

Sudah beribu kami melihat yang identik 

Sama saja kau memasang sehelai daun 

Cantik kala langka, biasa kala rimbun


Paham mengguyur akal pikirku

Orang itu, kerumunan itu, manusia itu 

Tiada apresiasi di hatinya terhadap seniman 

Dianggapnya karya di sekitar, dari alam yang beri warisan  


Pilu membasahi hatiku

Seraya ubin kembali kutaruh

Di tempat sebelum 

Kembali mengoleksi debu


Hendaknya ku berdiri

Namun figur di seberang buatku terhenti 

Menyapu warna dengan satu kuas 

Di atas satu ubin ibarat kanvas 


Tanpa pikir tanpa peduli melukis dan mewarnai

Tak acuh akan penonton terpaku pada lukisannya; monoton


Di sini lain, seorang penyair 

Mengalun aliran nada bak air 

Dengan ketukan kaki pada ubin 

Mengaduk musiknya dengan angin 


Dari segala arah, prismatik rona harmoni 

Perlahan, bumi dihias seni 

Ditulis, dilukis, dinyanyikan 

Diukir, dipahat, diabadikan 


"Kalau begitu, kan kuikuti 

Langkah yang berjejak kreasi

Kan kuhias seluruh permukaan bumi

Hingga dekornya tak sanggup orang tak acuhi!" 


Meninggalkan satu, kupungut ubin yang lain

Murni; jernih akan emosi

Dengan penaku, diri menulis, sehingga

Seseorang menoleh dan tersadar


Manusia mewariskan sebentar lantai 

Dari puncak gunung sampai ke garis pantai

Bersipu bianglala, bertulis tinta jiwa, beriringkan melodi

Antik; bercorak budaya luhur dan kini


2023


______


Penulis


Kinanda Aura Zulkarnain, siswa SMAN 1 Kramatwatu.


redaksingewiyak@gmail.com


Sunday, September 3, 2023

Esai Sul Ikhsan | Dunia Simulasi dan Jual Beli Simbol

Esai Sul Ikhsan



Belum lama ini, saya hijrah ke Jakarta, menjadi guru di sekolah Islam lumayan elite. Ada cerita menarik—terutama bagi saya—saat pertama kali menginjakkan kaki di pintu gerbang sekolah itu. Seorang satpam laki-laki mencegat saya dan katanya tidak menerima bentuk penawaran produk apa pun yang bakal saya jual. Mulanya saya bingung. Namun, setelah melirik dandanan saya waktu itu—kemeja biru polos, celana bahan, dan sepatu pantofel yang kebesaran—saya jadi sadar. Alih-alih dipandang sebagai seorang guru, saya agaknya lebih mirip sales yang menjual barang-barang sekolahan. Saat saya menyebutkan maksud, barulah ia meminta maaf dan bercerita bahwa belakangan ini sering datang sales yang dandannya tak jauh beda dengan saya memaksa menawarkan perabotan sekolah.


Aktivitas simpul-menyimpul itu ternyata lumrah kita temui di banyak hal setiap hari. Laki-laki dianggap gagah kalau ia merokok. Remaja dikira gaul kalau memakai baju bermerek. Perempuan dicap bengal kalau berpakaian kurang bahan. Atau orang menganggap saleh orang lain yang berpiama, berpeci, berjanggut panjang, bercelana cingkrang, berjidat hitam, bercadar, berkerudung hingga mata kaki, dan status WA penuh selebaran Islami. 


Oleh karena persoalan itu, kebanyakan manusia kini berbondong-bondong mencitrakan diri menjadi sesuatu yang telah didefinisikan masyarakat. Bodo amat hati semulia apa, kepala secerdas apa, karakter sebijak apa, iman sekuat apa, ibadah serajin apa. Selama ini berjalan-jalan di muka bumi ini dengan jubah dan kopiah dengan sedikit ceramah di media sosial mereka, ia tak sulit untuk dijuluki sebagai orang-orang bertakwa. Lebay sih, tapi begitulah kenyataanya bukan?


Sialnya, fenomena di atas kadang kala dianggap sebagai sesuatu yang lazim, sesuatu yang memang begitulah seharusnya, begitulah kenyataannya. Kalau kita tak mau disebut urakan, berdandanlah yang rapi. Kalau kita mau ganteng, putihkanlah wajah kita dan pakailah garnier! Kalaulah kita punya waktu untuk menelisik secara saksama, kondisi demikian pada akhirnya melahirkan dunia yang melampaui kenyataan, jauh dari apa yang terjadi sebenarnya, meminjam istilah Jean Bouldiard, hiperreality.


Hiperreality oleh Bouldiard katanya disebabkan oleh produksi terus-menerus pikiran imajiner terhadap sebuah realitas tanpa menghadirkan realitas itu sendiri secara esensial. Sederhananya, kalau kita pakai permisalan orang saleh ini, ia akan dianggap begitu karena pakaian yang dikenakan mengarah pada definisi kesalehan, bukan menyoal hal yang esensial, yakni keimanan dan ketakwaannya yang asli. Orang yang tak memakai pakaian saleh itu, tak masuk kategori saleh meskipun ibadahnya ulet, sedekahnya rajin, lisannya baik, pikirannya bersih, hatinya mulia. Yang esensial-esensial itu lama-lama disingkirkan ke pinggir dan diangkatlah ke permukaan sebentuk simbol-simbol imajiner. Itulah yang oleh Bouldiard disebut sebagai "simulakra" alias dunia simulasi.


Dalam dunia simulasi terkandung tiga komponen yang kemudian membentuk dunia yang melampaui kenyataan itu. Tiga komponen itu ialah tanda, penanda, dan petanda. Tanda ialah sesuatu yang membentuk dan mengandung makna, penanda yakni media, dan petanda merupakan makna itu sendiri. Untuk membentuk tanda saleh, kita menggunakan kopiah, jubah, dan semodelnya sebagai penanda. Maka, jika kita mengenakan penanda-penanda itu dalam keseharian kita, kita tak dipelak dijuluki sebagai orang saleh sebagai petandanya. Dalam kasus ini, terdapat manipulasi tanda di mana pakaian-pakaian sebagai penanda kesalehan dipelintir sebagai petanda, makna saleh itu sendiri.


Akhirnya, pertanyaan pentingnya, mengapa Bouldiard kemudian mempermasalahkan itu? Bukankah bagi kita hal semacam itu ialah biasa, sesuatu yang seharusnya memang begitu?


Di titik itu masalahnya. Simulasi tanda kemudian membawa masyarakat pada ketidaksadaran akan adanya simulasi dan kontrol makna. "Simulakra" mengontrol kita dengan cara menjebak kita untuk percaya bahwa simulasi itu nyata. Yang terjadi, kita kemudian terus-menerus mengonsumsi simbol yang semula ditujukkan bagi sesuatu yang esensial, kebutuhan hidup, menjadi gaya hidup. Kita membeli simbol untuk bisa ikut dalam definisi masyarakat lantaran masyarakat lebih fokus pada konsumsi simbol ketimbang penggunaanya.


Masyarakat lebih memilih produk bermerek untuk disebut gaul ketimbang kegunaannya. Memilih bekerja jadi PNS untuk disebut terhormat ketimbang esensi pekerjaannya. Membeli banyak hal untuk dianggap “sesuatu yang menakjubkan” alih-alih kebermanfaatannya. 


Oleh kapitalisme, fenomena ini kemudian difasilitasi dengan kehadiran drugstore alias pasar bebas yang buka 24 jam, dengan seperangkat kemudahannya, dengan gegap-gempitanya, yang terus-menerus menarik kita pada konsumerisme. Menggenjot kita untuk terus membeli, membeli, membeli, check out tanpa berpikir lebih jauh untuk apa kita membeli barang itu.


Seperti Tuan Crab yang mencintai Nyonya Puff dalam Spongebob Squarepants episode "Krusty Love". Tuan Crab terus-menerus menyuruh Spongebob untuk membeli barang yang menurutnya dibutuhkan oleh Nyonya Puff. Crab menganggap bahwa barang-barang yang dibelinya itu ialah sebagai sebuah simbol cintanya. Perilaku Tuan Crab dalam episode itu amatlah mirip dengan kita setiap hari. Kita terus membeli untuk membuktikan sesuatu dengan simbol-simbol yang kita beli. 


Akhirnya, berbagai spanduk dan tampilan berkilau yang tak mengedepankan hal-hal esensial itu mendistorsi alam pikiran kita dan yang paling mengerikan, membangun jarak sosial dalam kehidupan masyarakat kita. Kita bakal berbondong-bondong membeli simbol-simbol untuk memenuhi pengakuan masyarakat sebagai kelompok tertentu. Oleh karenanya, mereka yang tak mampu membeli simbol-simbol itu bakal berada di luar definisi, di luar pengakuan masyarakat kita. 


Intinya ialah, sudahkah Anda ngiler dengan sarung BHS di Shopee hari ini?


______

Penulis


Sul Ikhsan, Pemred NGEWIYAK.


Friday, September 1, 2023

Puisi-Puisi Dzunnurain

Puisi Dzunnurain




Doa Penyair untuk Nisa


Di sini bersemayam dalam pengabdian

selendang bidadari

sinar matanya bagai bidadari

memikat hati yang tergoda


Aksara indah tercipta di bibirnya

pesona tersirat dalam senyuman

dalam lembutnya tersimpan kekasih

begitu tulus tiada terperi


Berkelana dalam golombang kehidupan

tegar mengarungi badai dan pasang

simbol kekuatan

ketabahan yang tiada terkalahkan


Genggaman tangannya lembut merangkul

memberi hangat pada jiwa yang lelah

sekuntum bunga mawar di rambutnya

pesona dan keagungan terpadu dalam selaras


Hati yang lembut penuh pengertian

menyemai cinta

damai dan pengharapan

di setiap langkahnya

teladan penuh inspirasi

berjuta makna terpancar dari dirimu

dalam puisi ini

doa dan syukur mengalir atas hadirmu yang menghiasi hidupku


Malang 2023



Ode Perempuan yang Bersemayam dalam

Sajak


Di hamparan dunia yang luas terhampar

mengemulai cahaya dalam gelap yang mengabur

tersirat keindahan yang tak terperikan

sisi perempuan mempesona tiada tara


Kekuatan raganya tersembunyi begitu saja

lembut kasihnya mengalir bagai lautan

bijaksana hatinya menghadapi badai

teguh pendiriannya tak tergoyah oleh tantangan


Wajahnya mencermin sinar matahari

senyumnya menghiasi alam semesta

kerlip matanya bagai baintang-bintang gemilang

mengajak mimpi dan harapan berkumpul menjadi satu


Di setiap bait sajak ini

bersemayam dalam indahnya hati

mengajarkan tentang arti kehidupan


Malang 2023



Meja Panjang Pak Marito


Seperti helai emas terang

tersapu angin lembut

kata yang tersemat menghanyutkan hati

tersimpan rahasia yang tak terbaca oleh siapa pun


Di meja panjang rumah pak marito

suaraku tersungkam bisu

berbisik dalam dialog yang mengutip

kenangan masa lalu

cerita antara pertemuan senja

sampai kokok ayam bersua

menjadikan cerita ini berusaha untuk berenergi


Dalam senyapnya, ia tersembunyi dalam misteri

harapan dan kebahagiaan itu

telah kutulis dalam buku yang kamu berikan kemarin


Sebuah puisi hidup sungguh indah dan mengagumkan

biarlah puisi ini menjadi kehidupan yang tak terlupakan

kini, kamu hadir mewarnai indahnya dunia dengan kata sederhana


Malang 2023



Ketika Lirik Cinta Tercipta


Di awal agustus kita bertemu dalam senyum

aku dan kamu, kisahnya terkenang

seperti jasa pahlawan yang mempertahankan kemerdekaan

demi anak cucu kita di masa depan


Di setiap senyummu bunga-bunga mekar

sangsaka yang berkibar

menari-nari angin, berpadu dalam relung hati

lirik cinta tercipta dalam tiap tatapan

seakan kira dalam pelukan kata


Kemilau bintang mengiringi langka kita

seiring langit malam yang berbisik indah

kisah dua insan

dalam impiannya telah terwujud


Aku dan kamu

seperti bait-bait syair

berirama dalam rasa yang mengalun seirama

bersama di setiap detik waktu yang berlalu

abadi dalam kisah asmara


Rasa cinta yang tumbuh

menghiasi keningnya

memancarkan cerah di langit senja

satu kata, satu rasa, satu cinta yang menyatu

aku dan kamu selalu bersama


Malang 2023


________

Penulis


Muhammad Dzunnurain, Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unisma. Aktif di beberapa organisasi intra dan ekstra kampus, di antaranya Himpunan Mahasiswa Jurusan (English Student Association), LPM Fenomena (FKIP), Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) Malang Raya, PMII Rayon Al-Kindi, Forum Komunikasi Mahasiswa Sumenep (FKMS). Beberapa karya puisinya telah dimuat di media online dan cetak: Majalah Sidogiri Edisi 179, Antologi Nulis Bareng (Mahir Nulis) Patah (2022), Warta Universitas Surabaya Edisi 335, 338, dan 339, Koran Harian Bhirawa (2022), Nolesa Berimbang dan Mencerdaskan (2022), Negeri Kertas Jurnal Sastra dan Seni Budaya (2022), Gerakan Sadar Membaca Rumah Baca.id (2022), Rumah Literasi Sumenep (2022), Tiras Times (2022), Riau Sastra (2023), Terminal Mojok (2023), NGEWIYAK (2023), Koran Suara Merdeka (2023), Jawa Pos Radar Banyuwangi (2023). 



Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com