View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Latest News

Thursday, August 20, 2026

Esai Uwais Korni | Cara Menulis yang Paling Benar

Esai Uwais Korni




Barusan saya hampir terpengaruh sama metode menulis yang tidak nyaman untuk saya terapkan. Metode menulisnya begini. Pertama, saya harus buat premis tulisan terlebih dahulu. Buat premis ini yang susah. Jadi saya skip. Kedua, saya harus buat ranting-ranting paragraf apa yang mau saya tulis. Kalau buat beginian, saya tahu sedikit. Ketiga, saya harus menulis menyesuaikan premis dan kerangka tulisan tersebut. Nah, ini yang saya gak suka. Dengan ini saya jadi burung di dalam sarang. Gak bebas terbang ke mana-mana. Gak punya imajinasi lagi mau nulis apa.


Saya coba menerapkannya sedikit. Habis itu jijik sendiri sama tulisan yang saya buat itu. Saya memang ditakdirkan untuk menjadi penulis yang asal menulis kayaknya.


Coba kita baca bareng-bareng empat paragraf yang saya buat dengan metode penulisan tadi itu. Di bawah ini.


“Istilahnya, semakin padi berisi semakin condong ke bawah tubuhnya. Mereka yang berpengalaman dan mempunyai pengetahuan yang luas akan terlihat seperti padi yang matang, siap panen, dan yang pasti isinya banyak. Cenderung merendahkan hati merupakan kebiasaan dari mereka yang bijaksana.


Mereka paham bahwa semakin banyak ilmu semakin merasa bodoh sekali dirinya. Bodoh disebabkan bukan mereka yang benar-benar bodoh, melainkan saking banyaknya pengetahuan yang lain yang belum mereka pahami lagi. Orang-orang seperti ini diumpamakan seperti kita yang kehausan tapi yang diminum adalah air laut. Bukan hilang dahaganya, malah bertambah haus jadinya.


Ilmu sedikit dicari kemudian diperoleh dan dipraktekkan lebih mengesankan dibandingkan langsung ilmu banyak yang diidam-idamkan namun tidak satu pun yang dipraktekkannya. Saya menyadari hal ini ketika saya mulai suka dunia literasi. Pas awal saya belajar menulis dulu, saya terburu-buru untuk cepat-cepatan mendapatkan materi penulisan sebanyak-banyaknya. Saya baca semuanya tanpa jeda. Saya melahapnya tanpa satu pun didiskusikan. Ujung-ujungnya semua itu lenyap tak tersisa.


Ilmu sedikit ingin diketahuinya, dicari-cari, ditanyakan satu persatu, dan dipraktekkan secara bertahap, lebih berkesan dibandingkan langsung banyak ilmu yang dibaca namun tidak ada penerapan. Dalam contoh materi kepenulisan, jika materi kepenulisan, metode atau cara menulisnya, dan/atau pengetahuan-pengetahuan lainnya itu masuk semuanya ke otak kita sekaligus, maka yang terjadi bukan kita langsung sanggup produktif menulis, melainkan kita akan pusing sendiri oleh ilmu yang luas tersebut. Sedikit demi sedikit saja belajar caranya menulis agar kita mampu menahan bobotnya praktek menulis yang susah-susah gampang itu. Ibaratnya bayi, mustahil baru lahir langsung bisa berlari. Ibaratnya tumbuhan yang berbuah, mustahil baru menanam besoknya langsung panen. Semuanya bertahap.”


Sumpah, itu paragraf yang kaku banget. Jelas-jelas itu bukan tulisan yang gue banget.


Malam 17 Agustus 2026 saya bertamu ke rumah guru mendiskusikan tentang bagaimana caranya cowok mendapatkan jodohnya. Ini konteksnya teman saya bingung nyari jodoh kok gagal mulu. Ada satu quotes yang terlontar dari diskusi semalam itu yang kurang lebihnya seperti ini: (translate dari bahasa Madura) “Yang penting ikhtiar menjemput jodoh. Tidak malu ngomong secara jujur dan tidak gengsi mengakui kalau suka sama perempuan calon pasangan hidup itu. Seperti apa ikhtiarnya, itu bukan yang utama. Yang utama kan, yang penting kamu punya jodoh”.


Quotes singkat itu memantik daya berpikir saya untuk membelokkannya ke arah dunia kepenulisan. Seperti ini “Yang penting jadi tulisannya. Seperti apa metode menulisnya, itu bukan yang utama. Yang utama kan, yang penting kamu sudah buat tulisan”.


Yang sering terjadi, saya bingung bagaimana caranya saya memulai menulis dan dengan metode apa saya menulis. Saking banyaknya metode menulis yang saya cari-cari di internet sampai saya kebingungan sendiri. Kok banyak, gitu loh. Jadi nge-blank ini otak.


Padahal ilmu tentang bagaimana caranya menulis itu tidak harus semuanya diterapkan dalam sekali duduk. Gak wajib juga untuk mempraktikkannya, gitu loh. Meskipun saya misalnya bikin-bikin sendiri metode menulis yang nyaman bagi saya, itu gak papa. Lagi pula tidak ada siapa pun yang memaksa saya untuk menulis pakai cara ini atau cara itu. Toh sebenarnya saat saya sedang menulis tidak ada siapa pun yang peduli sama saya ini lagi ngapain.


Begitu juga dengan pembaca. Pembaca maunya saya menulis, bukan maunya saya curhat tentang bagaimana caranya saya menulis. Pembaca bodo amat sama usaha saya ketika saya menulis. Pembaca maunya saya berhasil menulis. Dan ketika saya gagal menulis, pembaca juga bodo amat.


Pembaca butuh bukti bahwa saya mampu menulis, dengan apa? Yaitu dengan cara saya menyelesaikan sebuah tulisan. Bukan cuman bisanya omong kosong doang ngomongnya bisa menulis tapi gak nulis-nulis.


Jadi, saya atau juga kalian yang bercita-cita menjadi penulis yang produktif, gak usah berkoar-koar “saya nulisnya begini, saya nulisnya begitu”. Kecuali jika ditanya. Gak perlu juga menyombongkan diri “saya nulisnya pakai metode ini nih, dan ini metode menulis yang paling baik dan paling benar”. Atau curhat “ini saya nulisnya dah capek banget loh, berbulan-bulan loh, bertahun-tahun loh, baru selesai sekarang”. Taik kucing itu. Toh pembaca juga bodo amat sama curhatan dan keluh-kesah kita.


Pembaca juga gak papa tajam mulutnya dan bukan cuman mengomentari tulisan kita, bahkan menghujatnya juga hak-hak mereka kok. Soalnya kan memang menjadi penulis harus siap dan menerima atas kritik, saran yang membangun, dan hujatan yang merusak mental penulisnya. Tulisan kita disebarluaskan untuk dikomentari. Pasti pembaca punya unek-unek atas bacaannya itu. Sebagian mendiamkannya. Yang lain ada yang sampai buat resensi buku-buku yang telah dibacanya itu. Kemudian dengan resensi itu adakalanya apa yang dikomentari tersebut jadi naik daun. Bahkan ada juga yang terjun payung.


Saya pribadi tidak akan peduli sama omongan pembaca. Itu hak mereka untuk ngomongin tulisan-tulisan saya. Dan saya tidak akan pernah tersinggung atas semua itu. Biarkan yang menanggung malunya adalah tulisan-tulisan saya sendiri. Saya anggap saja tulisan-tulisan saya itu punya jiwa dan mereka mau serang balik atau diam saja, ya terserah yang dihujat itu.


Kan gini. Nulis saja capek, kok malah ngeladenin pembaca. Tambah capek nantinya. Saya pribadi lebih fokus saja sih sama apa yang mau saya kerjakan. Jika misalnya saya ingin menjadi penulis, maka yang perlu saya perhatikan adalah pendisiplinan diri di dalam bidang yang saya geluti ini. Disiplin adalah kunci.


Beberapa minggu ini saya tidak menulis. Memang saya tidak menulis, tapi saya fokus merevisi tulisan-tulisan yang ada di draf yang kemudian ingin saya cetak insyaallah akhir tahun. Belum lagi saya bukan hanya jualan es teh, tapi juga nyambi sebagai penjaga konter. Pastinya saya sedikit waktu untuk menulis dan membaca. Seakan-akan cukup dengan dua alasan ini saya boleh pensiun dini dari dunia kepenulisan. Tapi kenyataannya saya malah semangat untuk membaca dan menulis. Apalagi sekarang internet sudah ada di mana-mana otomatis pengetahuan ada di mana-mana. Jadinya, di sela-sela saya bekerja, saya sesekali baca di Ipusnas. Grup FB kepenulisan juga saya buka mana tahu dapat ilmu baru dari sana.


Saya omongin diri saya sendiri dengan baik-baik, “sesibuk apa sih kamu sampai gak mau baca buku dan gak mau belajar menulis?”. Akhirnya hati saya luluh dan mau belajar menulis dengan lebih semangat lagi.


Bagi saya, sesusah apa pun pekerjaannya pasti gampang jika di-training dan disistem. Pertama kali saya jaga konter, saya gak tahu bagaimana caranya melayani pembeli, bagaimana caranya memasukkan vocer, dan lain sebagainya. Saya juga tidak tahu dompet mana saja untuk uang ini dan itu, dan dompet mana saja untuk uang itu dan ini. Tapi berkat training selama tiga hari, saya bisa kok menjadi karyawan yang disiplin dan lurus.


Apa saja jika tersistem itu enak. Gak ada drama di sana.


Menulis juga sama. Jika menulis itu disistem kapan mulainya dan kapan selesainya, maka gak drama di sana. Gak ada tuh nantinya capek menulis, bosen menulis, bingung mau menulis apa, dan lain sebagainya. Itu cuman banyak alasan bagi penulis yang malas.


Capek menulis kan bisa berhenti dulu. Bosen menulis, ya cari hiburan di luar. Bingung mau menulis apa, ya belajar hal baru.


Dengan sistem seperti ini, saya baru tahu bahwa selama ini saya penulis yang pemalas. Soalnya saya menulis ya menulis saja. Tidak ada sistem tertentu ketika saya belum menulis. Tidak ada sistem tertentu ketika saya sedang menulis. Tidak ada sistem tertentu ketika saya sudah menulis. Sebab, kembali ke paragraf di awal tadi, saya orangnya tidak enakan kalau fokus ke satu metode.


_______


Penulis


Uwais Korni lahir di kawasan YPPRN dengan nama panggilan Mas Didin. Mulai latihan menulis sejak 2014 sampai seterusnya.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com

Esai Afrian Rahardyaning Pangestu | Ketika Media Sosial Menjadi Kitab Suci Manusia

Esai Afrian Rahardyaning Pangestu


Pada zaman dulu, banyak orang bertanya kepada orang tua, guru, ulama, atau membaca buku sebelum mereka mengambil kesimpulan. Hari ini? Banyak orang cukup membuka media sosial. Apa yang viral dianggap benar. Apa yang sering muncul dianggap fakta. Apa yang diucapkan influencer dianggap hukum kehidupan. Seolah-olah algoritma telah naik pangkat menjadi nabi, dan halaman "For You Page" berubah menjadi kitab suci baru.

Yang lebih menyedihkan, banyak orang tidak lagi bertanya, "Apakah ini benar?" Mereka hanya bertanya, "Berapa juta views-nya?" Padahal lalat itu datang berbondong-bondong ke tempat sampah dan banyaknya lalat yang datang ke tempat sampah, tidak pernah menjadi bukti bahwa tempat itu bersih.

Media sosial memang luar biasa. Media sosial bisa menjadi ladang ilmu, dakwah, bisnis, bahkan silaturahmi. Tetapi, ketika manusia menyerahkan cara berpikirnya kepada algoritma media sosial, maka saat itulah masalah dimulai. Algoritma tidak peduli mana yang benar. Algoritma hanya peduli mana yang membuat orang berhenti menggulir layar. Oleh sebab itu, kemarahan lebih laku daripada ketenangan. Sindiran lebih laris daripada nasihat. Gosip lebih disukai daripada fakta. Pamer lebih ramai daripada kesederhanaan. Lama-kelamaan, standar hidup manusia pun ikut berubah.

A. Ketika Pernikahan Diukur dengan Isi Rekening

Salah satu contoh yang paling nyata adalah cara sebagian orang memandang laki-laki. Di media sosial, tidak sulit menemukan konten yang menghina laki-laki bergaji UMR. Ada yang berkata, "Gajinya cuma setara biaya makan dan grooming anjing." Ada yang terang-terangan mengatakan guru honorer atau laki-laki bergaji kecil tidak pantas menikah.          

Standar yang dibangun semakin aneh. Katanya laki-laki baru layak menikah kalau sudah bergaji dua digit, punya mobil, rumah sendiri, bisnis yang sukses, investasi saham bluechip, properti, bahkan mampu mengajak istri liburan ke luar negeri. Kalau belum punya semua itu, ya jangan menikah. Seolah-olah akad nikah adalah proses rekruitmen CEO perusahaan multinasional.

Padahal pernikahan adalah ibadah, bukan pameran aset. Yang lebih ironis, ada persepsi bahwa menikah di Kantor Urusan Agama (KUA) itu tidak masalah selama pengantinnya kaya, punya rumah, mobil, bisnis besar, atau pekerjaan bergaji tinggi. Namun, kalau menikah di KUA karena kondisi ekonomi sederhana, sebagian orang justru memandang rendah.

Betapa kacaunya cara berpikir seperti itu. KUA bukan simbol kemiskinan. KUA adalah tempat akad yang sah, sederhana, dan penuh keberkahan. Yang membuat pernikahan mulia bukan gedungnya, tetapi akadnya. Bukan dekorasinya, tetapi niatnya.

Ironisnya, sebagian laki-laki yang sedang berjuang membangun karier justru diberi cap "mokondo" hanya karena belum mapan menurut standar media sosial. Padahal tidak semua laki-laki yang sedang merintis adalah pemalas atau ingin bergantung pada perempuan. Banyak di antara mereka sedang bekerja keras, menabung, belajar, dan memperbaiki diri agar kelak mampu menjadi suami dan ayah yang bertanggung jawab. Media sosial sering kali menghapus proses, lalu hanya memuja hasil. Padahal setiap rumah besar yang berdiri hari ini pernah dimulai dari sebidang tanah kosong.

B. Kenapa Sih Menilai Manusia Seperti Menilai Barang?

Yang paling menyakitkan adalah ketika harga seorang laki-laki ditentukan oleh angka di rekeningnya. Bukan lagi akhlaknya. Bukan lagi agamanya. Bukan lagi tanggung jawabnya. Yang dihitung hanya saldo. Kalau rekening tebal, semua kekurangan seolah menghilang. Kalau rekening tipis, semua kebaikan dianggap tidak ada. Padahal manusia bukan barang di etalase mal yang ditempeli label harga. Kalau kekayaan menjadi satu-satunya ukuran, berarti kita sedang membangun pasar, bukan keluarga.

Dalam Islam memang tidak salah jika seorang perempuan menginginkan calon suami yang mampu secara finansial. Itu adalah hak si perempuan. Kemampuan memberi nafkah merupakan salah satu aspek penting dalam rumah tangga. Namun, hak itu jangan berubah menjadi kesombongan. Sebelum perempuan bertanya, "Apakah dia kaya?", ada baiknya bertanya kepada diri sendiri, "Apakah aku juga sedang memantaskan diri?"

Kalau menginginkan pasangan berkualitas, maka jadilah pribadi yang berkualitas. Kalau menginginkan pasangan yang saleh, maka perbaikilah diri. Kalau menginginkan pasangan yang bertanggung jawab, belajarlah menjadi pribadi yang juga bertanggung jawab. Pernikahan bukan hanya soal mencari orang terbaik. Pernikahan juga tentang menjadi orang yang layak bagi pasangan yang diharapkan.

Ingat, cermin adalah benda yang tidak pernah berbohong. Kalau kita hanya sibuk menuntut kualitas orang lain, tapi kita lupa memperbaiki kualitas diri kita, itu sama saja seperti ingin membeli pesawat, tapi ditukar pakai beras ketan. Keinginan boleh tinggi, tetapi harus diiringi usaha untuk memantaskan diri.

C. Uang Bisa Dicari Bersama Kok

Banyak pasangan sukses hari ini memulai hidup dari nol. Ada yang tinggal di kontrakan kecil, mengendarai motor bekas, tidur di kasur yang biasa saja, makan tahu tempe bihun ginseng jawa. Namun, mereka bertahan karena saling percaya serta saling menguatkan satu sama lain. Uang bisa dicari bersama. Bisnis bisa dibangun bersama. Rumah bisa dicicil bersama. Mobil bisa dibeli nanti. Liburan ke luar negeri bisa direncanakan kemudian. Tetapi akhlak yang baik? Kejujuran? Tanggung jawab? Rasa takut kepada Allah? Semua itu bukanlah barang yang bisa dibeli ketika rekening sudah penuh.

Orang miskin bisa saja belajar bisnis dan berhasil membangun bisnis yang sukses. Tapi, orang yang terbiasa berdusta akan sulit menjadi jujur hanya karena hartanya bertambah. Orang yang kasar tidak otomatis menjadi lembut ketika membeli mobil baru. Orang yang tidak bertanggung jawab tidak berubah menjadi suami yang baik hanya karena gajinya naik. Kita harus pahami bahwa akhlak adalah fondasi dan uang hanyalah bangunan. Ketika kita membangun rumah megah di atas pondasi yang rapuh, maka kita sedang menunggu waktu untuk runtuh.

D. Ketika Algoritma Menggantikan Agama

Sebenarnya masalah terbesar media sosial bukan sekadar membuat orang kecanduan. Masalah yang sebenarnya adalah ketika media sosial mulai menentukan standar benar dan salah. Kalau banyak yang bilang laki-laki miskin tidak pantas menikah, kemudian orang ikut percaya. Kalau banyak yang bilang harga diri perempuan ditentukan banyaknya perhiasan dan pesta mewah, maka orang ikut percaya. Kalau banyak yang bilang laki-laki wajib kaya sebelum menikah, lalu orang ikut mengamini tanpa bertanya apakah ukuran itu sesuai dengan nilai agama atau hanya tren sesaat.

Padahal kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah "like". Kalau seluruh dunia sepakat mengatakan matahari terbit dari barat, maka faktanya matahari tetap terbit dari timur. Kebenaran tidak berubah hanya karena mayoritas orang melakukan atau mengikuti sesuatu.

E. Kita Harus Kembali Menjadi Manusia yang Berpikir

Jika media sosial sudah terlalu berisik, maka kita jangan ikut berteriak. Belajarlah kembali mendengar suara hati dan petunjuk agama. Ada beberapa langkah yang bisa kita dilakukan.

Pertama, jadikan agama sebagai standar utama daripada kita menjadikan media sosial sebagai referensi hidup. Tidak semua yang viral di media sosial itu layak ditiru.

Kedua, berhenti menilai manusia hanya dari penghasilannya. Lihat juga akhlak, tanggung jawab, etos kerja, serta kesungguhannya dalam memperbaiki diri.

Ketiga, bagi laki-laki, jangan menjadikan kritik di media sosial sebagai alasan untuk berhenti berjuang. Terus tingkatkan ilmu, keterampilan, penghasilan, dan kemampuan memberi nafkah. Ikhtiar memperbaiki kondisi ekonomi adalah bagian dari tanggung jawab.

Keempat, bagi perempuan, memiliki standar dalam memilih pasangan adalah hak kalian. Tapi, bangunlah standar yang adil dan realistis. Jika kalian para perempuan menginginkan pasangan yang berkualitas, maka teruslah meningkatkan kualitas diri dalam ilmu, akhlak, kedewasaan, dan tanggung jawab.

Kelima, hentikan budaya mempermalukan orang yang sedang merintis kehidupan. Hari ini seseorang mungkin masih bergaji UMR, tetapi lima tahun lagi bisa menjadi pemimpin perusahaan. Sebaliknya, orang yang hari ini bergelimang harta, maka bisa jadi dia akan kehilangan semua hartanya. Roda kehidupan terus berputar, sedangkan karakter dan amalan ibadah seringkali menetap.

Keenam, bangun rumah tangga dengan pola pikir "bertumbuh bersama", bukan "menikmati hasil jadi". Okelah kita bisa menikah dengan orang sudah siap mental, fisik, ilmu, bahkan pengalaman. Tapi, yang namanya pernikahan itu bukan kontrak untuk mencari investor, melainkan perjanjian untuk saling membantu menuju kehidupan yang lebih baik, walau kita menikah dengan orang yang sudah punya ilmu dan pengalaman.

Kita semua harus sadar dan paham bahwa media sosial hanyalah cermin yang memantulkan apa yang sering kita lihat. Masalahnya, banyak orang lupa bahwa cermin tidak pernah menentukan siapa diri kita. Yang menentukan adalah nilai yang kita pegang. Kita jangan biarkan algoritma lebih dipercaya daripada agama. Kita jangan biarkan isi rekening lebih dihormati daripada akhlak. Jangan biarkan pesta pernikahan lebih dimuliakan daripada akadnya.

Sebab, ketika media sosial telah menjadi kitab suci manusia, maka manusia tidak lagi mencari kebenaran. Mereka hanya mencari validasi. Dan ketika validasi menjadi tujuan hidup, maka yang terjadi adalah orang miskin akan terus merasa hina, sedangkan orang kaya akan terus merasa kurang sehingga akhirnya menindas yang lemah, dan yang paling berbahaya adalah manusia yang perlahan lupa bahwa di hadapan Allah, yang paling mulia bukanlah yang paling banyak hartanya, melainkan yang paling bertakwa.


______

Penulis

Afrian Rahardyaning Pangestuguru Matematika dan Bahasa Inggris. Pernah menjadi guru IPA dan IPS juga.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


 


Wednesday, August 19, 2026

Cerdek Rois Rinaldi | Dibakta Mabur Sèwu Kêlawa

Cerdek Rois Rinaldi



Mêsin bor tua karatan milikakên banyu ngêbêbicaki bêbancik. Rêmbês niku banyu mêlêbêt ming lêmah ngêdamêl kobakan alit. Kados aboté dunia ing pêningal kula, langit ngêgantung èndèp, kêlawu lan abot, anggané ayun mêlêdogakên mèga, sêmêntawis botên gèrèk dados udan gêmêrêcêk; kados utahé banyu mata wong wadon sing lara ati.


Tindak kula abot, ngan awak mayêng lumaku kados wèntên sêwiji-wiji sing narik saking lor, damêl kula mingo ming arah niku.


“Galèmah kolêm niku,” kula ngêhulêng sêmbari murugi dêdalan bècèké kolêm gêde gênah kula lan rèncang-rèncang siram dan wudu.


Ngênani banyu jêriji-jêriji kula, kêrasa atis kêbina-bina tumêka ngêrambat ming jatiné balung. Luwih atis malih waktos mungup sios wayangan saking banyu lêbah tumibané cahya bolham limang watt.


“Marsyad?” ringrang lan mangmang pêningal kula kari-kari kêkatonên wong sing sampun kirangan sêkini ning pundi wèntêné.  


Marsyad mêlayu gêdabrusan, ampir botên ambêkan dèwèkè, kari-kari Bunyai ngawé-ngawé tangan têngêné saking pêpaga griyan. Pupu Marsyad sêgêdé gêdêbong niku nabrak lêlinggir balok sing ngêlonjor. Badan buntêké kêbangbing ming kolêm.


Kêpuyuh-puyuh kula ning riku ngatonakên.


Sarung irêngé sing kêlinyar lan kandêl mêlêndung kados layar kapal gêdé ahèng.  Ning riku, dèwèkané anggané buta sêgara.


Kula ngèkèk ulêng.


“Marsyad?” ngêhuleng malih kula. “Gusti Pêngéran! Niku kêdadosan sêngèn.”


Sampun pating liwat pirang-pirang taun têbihé sêdantên sing wèntên ning riki, kula waruh malih diantêbakên kêlawan botên wèntên wong setugêl-tugêl acan. Sêsêk ambêkan kula. Kêlipun kula alok lan kêplok, sêmentawis Marsyad kêlaranên?


“Ning pundi Marsyad sêniki?” gêgêtun kula. “Malêr lêmutah dèwèkané?”


Rumasa kula maring salah antrah, linggar saking niku kôlêm noli ngintè lêlurung gênah kula sêngèn ngimbik-imbik ayun nonton Angling Dharma ning Tv Proyek lan nyawang kula maring têbihé dêdalan tonggoh kari-kari èling maring sios waktos kula nangis karna botên uning kêpêripun carané nyabut talês têlês.


Mêlaku lan mêlaku kula têkang gêgêdêr sikil noli lirèn linggih ning tragtag majlis. Wèntên kêkarèn uni adzân ngêgurat ning kuta. Wèntên arum pirang-pirang kitab kuning murag ning traso waktos jêlgêdêg wong katah ubar-abir dados wêwayang ning adêp kula, ning wit-witan, ning lawang griya Abahyai


“Mang Bustomi?” kula kados ngingali wong lanang niku malih ing antawise wayangan ubar-abir.


Kula noli ingêt siyos pêrkawis sing botên munasabah najan sêtuhuné kêdadosan napa-napa sing botên bangkit kula wani nyêtuhukakên.


Waktos niku, kula lagi kêtungkul ngumbah ning jogan Bunyai, alon tindaké Mang Bustomi mandêg ning arêp lawang. Rainé kados dibarèt mangmang, ngan saking jêjêg sikilé kêtingalan botên karsa kêpundur najan sêdêpa. Bunyai sing lagi ngêpé rêngginang ning têtampah gagé mêlêbêt ming soro sêsampuné mirêng Mang Bustomi ngênda izin kanggé mêtuki Abahyai. 


Abahyai noli medal, linggih ning ambèn gêdé. Mang Bustomi dikèn lungguh ning ambèn alit sing wènten ning sêbrang gênahé Abahyai. Gigiré rada ngêbungkuk, tangané dilêmpit kêdik ning pêpangkon.


Kula ngêbilas sios mangkok, nôli sios cèndok. Sêdantên kula damêl lambat, karna karsa ayun uning; ngêjantrêng kula mêndêt mirêng obrolan sêkaroné. 


“Ampura Abahyai, kula ngênda izin ayun ngalih mondok,” cépé Mang Bustomi kêliwat ètès, botên wèntên sêwijil timun acan kêpirêng gêtêr ing uni pêngucapé.


“Ning kéné baé. Bantôni Abah nguruk batur-baturira,” cépé Abahyai têtêg ajèr.


Mang Bustomi, santri 16 taun niku, kêliwat jlingêr, malah luwih jlingêr najan diadêpakên sèrèng santri-santri dawuk.
Mang Bustomi unggal dados badal lamun Abahyai wèntên hajat mêdal saking pondok. Botên sêmbrang-sêmbrang, cêcêpêngané Mang Bus niku Tafsîr al-Jalâlain. Unggal dèwèké ngêwiyak ilab tumêka ilab, nyurahé wong niku bèntès. Kitab tafsir al-Qur’an sing dipêdamêli Jalâluddîn al-Mahallî lan ditêrasakên sèrèng muridé, Jalâluddîn as-Suyûthî niku kados iqra dijabar-jèri piyambake sembari nèngglèngakên êndas lan nguyup kopi irêng.


Dados, munasabah Abahyai ngênda Mang Bus napik mêdal saking pondok.
Ngan malak-mandar, Mang Bus ngisungi jawab sing damêl ati ngêdêpêpês.


“Ampura...” dèwèkané narik ambêkan gêdé, “anggané dêdaharan, unggal dintên ning riki kula dahar tahu lan témpé. Sepisan-pisan kula karsa dahar daging ning liyan gênah.”


Sêmîngêb! Ngêjumbul kula mirêng niku omongan Mang Bus.


“Wantèn!” cépé kula ning jêro ati sêmbari
ngêrasa godong waru pada mandêg ambêkan lan angin cêp kinjêng ning pêpojok jogan. Rasané waktos kêliwat dawa lan têbih murugi liyan nasabé nasib kanggé bocah pondok sing luwih dawuk telung taun saking kula puniku.


“Lamun mêngkonon,” ngucap Abahyai, “lunganên!”


Mang Bustomi botên obah botên usik, têmungkul dèwèkané.


“Ngan ìngêtên,” cépé Abahyai malih, uniné luwih abot. “Ilmunira ora bakal bêrkah.”


“Nikutah sing naminé sêpata?” ngêdidisi kula maring sios omongan wong-wong sêngèn, sing cépéné lamun kênang sêpata, botên bakal sêlamêt uripé.


Pirang-pirang taun sêsampuné kêdadosan niku, Nadzi, rèncangan sêkamaré Mang Bus, botên wèntên udan botên wèntên angin, sanja ning griya kula. Sêdèrèngé Nadzi kêbujêng ngêjêjêgakên lêlungguh linggihé ning hambal, kula gèrèk nakèni kabar Mang Bus.


“Mang Bustomi saiki èdan. Ngamukan,” cépé Nadzi kêtingalan kêtuwon.


“Sêpata iku, sêkêcap mingkêm, ya, Zi?”


“Sêpata?”


Ingêtan ming Mang Bustomi mandêg ing pêmugasané pêrtakènan Nadzi, karna ing sor kobong baris kêtêlu saking ambing wètan, sios wayangan kados uwit cukul lan ngêgêdéni. Wayangan niku ngêrubuhakên sêsaka lan ngêgabrugakên gribig, kari-kari mata kula kêlilipan, wit niku ngêjinis dados bocah lanang sêsarungan sanglur ijo ngênggé kaos oblong putih lan kopyah irêng putur.


Ngêjumbul kula ayun mêlayu ngêlungani, ngan botên kuasa kados kênang oyod mingmang. Kadosé sampun têbih mêlayu kula, malah pêadêp-adêp kêlawan bocah niku.


“Sampun kula nyana, andika bakal rawuh,” cépéné, sêmbari mêlengos boten makul.


“Bakal rawuh?” têtakèn kula glagapên.


“Kêlalèn tah maring janjiné andika?” têtakèn bocah lanang niku.


Nindak sêtindak rongtindak dèwèkané, mȇdêki kula luwih pêdêk malih. “Kêlalèn?” taken bocah niku mindoni.


“Andika?” gȇgȇtun kula kȇpȇrusut tȇtaken karna wèntȇn sios tanda sing kula kȇnal. Niku bocah têlulas taun sing kêdahé sampun botên ning riki.


“Sampun tebih linggar andika? Sampun bungah ninggal kula piyambak ning riki?”


Kula kados kêtêlak ambêkan mirȇng omong bocah niku. Ringrang dadosé ningali mata lan alis sing sami irȇng lan marongé. Kula kêpundur rong tindak, kȇpundur malih tȇlung tindak. Langit plèas sanglur lan kêliré waktos angin kȇbȇk kêbul munggah saking lêmah anyȇb. Ningali kula maring langit ngilari dedalan kangge nuturi wayah, ngan kirangan sêniki subuh ijo, sipêng anta, atanapi magrib gȇdé. Kula botên bangkit ngêbêntênakên sing mêncorong niku sêrngéngé atanapi wulan.  


Bocah niku dèhèm kari-kari dèwèké dados
sêwu wayangan mawur ming angin dados sêwu kêlawa mabur ngidêri kula kados kêdung kali musêr. Pirang-pirang sêwîwi irêng ngêgulung kula ing sêpêlêbêté pusêran.


Kula dibakta mabur nêmbus saban-saban gênah sing kirangan napa naminé. Bot
ên wèntên kawitan sing bangkit ditutur lan botên wèntên pêmugasan sing bangkit dipurugi. Gênah-gênah niki mung liwat kados wayangan kabur ing sêpêlêbêt peningal. Lurung suwung cahya sing wau ngêrèncangi alon-alon ngiyêp, tumêka sing kari ngan bêrêrêt ngêwêngku kula.


Sewu kêlawa mabur nguculakên, kula piyambak mêlaku ning lêlurung waktus sios cahya ngêbêr saking sabêtan
sorban putih sing disampirakên ning pundak têngên sios lanang. Pundak niku nunduk lan matané nuju maring kitab sing kêwiyak ing pêpangkon. Pêngucapé kêlawan ngati-ati ngêlafadakên nadhom Alfiyah Ibnu Malik sing unggal kula aba waktos sêngèn ning pondok.


Bil jarri wat tanwini wan nida wa al

# wa musnadin lil ismi tamyizun hashal


Mântul uni nadzom niku ning lêlurung, ngêrambat maring saban-saban pênêjané ingêtan, ngêrangkul badan kula sing kêlawan gêgêdêr murugi.


Ngêjantrêng kula sêmbari lungguh waktos sampun ning adêpan wong lanang sing saking uwané mencorong cahya.


“Abahyai?”


Abahyai mésêm. “Bungah tâh urip sira, Mang?” têtakèn Abahyai nutup kitab noli nyawang maring kula kados nyawangé kurma atub maring Siti Maryam sing lagi mêtêng gêdé Nasi Isa.  


“Dunia sêjabané pondok iku kêrêng, ngarumas sing kuduné dikêduwèni sira.”


Pêngandikané Abahyai èmpêr kados gênah niki, botên jelas napa darat apa sêgara, botên ngêdêrêbèni watês tandês. Botên wèntên lawang, botên wèntên jêndêla. Kirangan unèn-unèn napa gêdabrusan, kirangan rawuh saking rêrungkad gunung atanapi ombak.  


Kula nunduk lan mêrêm, pira-pirang kula mirêng Abahyai tetakèn:

 
“Bungah tah urip sira, Mang?”


“Bungah tah urip sira, Mang?”


S
êwu kêlawa, sêwiwiné nêrungkub kula malih, mêlèk kula ngan Abahyai sampun botên wèntên ning gênah. Mabur sêwu kêlawa, mabur kula ing sêpêlêbêté. Layap-layap adzan kêpirêng waktos kilat lampu putih pucêt ngiyêp. Sewu kêlawa murag dados wayangan, noli ngêjinis dados bocah telulas taun.


Bocah niku ngadêg ajèr ning lêbah têngên ranjang kula.


“Mang, kula niki andika lan sêniki sampun wayah kanggé andika mantuk maring kula,” cépéné. “Têbih dêdalan sing Mamang lampahi botên damêl bungah.” 


Mêlèk mêrêm mata kula karna rai bocah niku wulah walih sèrèng rai Ibu. Pirang-pirang mêlèk mêrêm kula ningali, rupiné ênggih niku sêtuhuné Ibu, nguculakên tangané saking ngêrangkul badan kula sing ngêgojod ning ranjang rumah sakit. 


“Èdan tâh kula niki, Ibu?” têtakèn kula, ampir nyêrah. “Kula sampun pêgêl.”


Ibu gidêg bari mèsêm lan nyêcêpi banyu mili ning pojok sêkaro matané sing ngêdêliyêr.


“Kêlipun kulané, Bu?” tètakèn malih kula.


“Aja wêdi, sira ora kêlipèn-kêlipèn,” têgêsé pêngucap Ibu kêliwat ngimânakên.

 

Banten, 1439 Hijriyah

 

Monday, August 17, 2026

Karya Siswa | Puisi-Puisi Muhammad Radeska Sari

Puisi Muhammad Radeska Sari

 



Kehilangan

 

Tuhan

Di mana Engkau ketika aku kesusahan?

Apakah Engkau meninggalkanku?

Aku tersesat di hutan

Aku ketakutan menghadap kengerian

Apakah semua yang kuhadapi ini kenyataan?

Atau ilusi semata?


Tuhan

Tolong jemput aku ke jalan-Mu

Luruskan niatku

 

(Rokan Hulu 2026)

 


Perantara

 

Hari-hari berlalu dengan cepat

Tubuh hancur berkeping-keping

Tiada tempat untuk bersinggah

Hanya kepada-Mu aku berharap

Dengan perantara 5 tetes air

Yang turun dari langit suci

Semoga dengannya

Aku mendapat ketenangan yang abadi

 

(Rokan Hulu 2026)

 

 

Buah Perbuatan

 

Tuhan

bukuku basah diterjang banjir

Tulisannya basah tak terbaca

Tuhan kenapa di saat seperti ini

Kau tak ada di sini?

Bisikan angin berhembus

membawa pesan yang sunyi

 

(Rokan Hulu 2026)

 

 

Jadilah Manusia

 

Semakin lama hidup

Semakin terusir akal

Semakin lama hidup

Semakin didahulukan hasrat

Semakin tinggi pangkat

semakin besar rakusnya

Selayaknya hewan

Yang tak memiliki rasa puas

Banyak manusia yang ingin jadi hewan

Ia tak tahu hewan saja enggan jadi manusia

 

(Rokan Hulu 2026)

 

______


Penulis

Muhammad Radeska Sari kelas XI IPS 4 MA Basma Darul I’lmi Wassa’adah.


Kirim naskah ke

redaksi ngewiyak@gmail.com