View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Postingan Terbaru

Sunday, April 21, 2024

Novel | Salim Halwa (#6) | Syamiel Dediyev

Novel Syamiel Dediyev 




#6

Pukul 20.00 WIB


Gerimis datang saat kupamit pulang ke Fani. Wajahnya terlihat bahagia. Heran juga, lama-lama sebuah rasa perlahan akan naik tingkat. Dari hanya meminta ditemani, berubah menjadi kawan diskusi setiap hari yang terbumbui oleh rasa yang ada di hati. Namun, harap itu hanya sebuah imajinasi karena realitalah yang membawaku kembali ke titik awal. Hanya bersepakat untuk saling mengisi. Tidak lebih, tidak boleh kurang. Berharap pada sebuah fatamorgana asa. Fani adalah sesuatu yang tinggi dan sulit untuk dimiliki perlu kerja keras dan mendaki.


Kutancap motorku dengan perasaan senang berkalut resah. Resah karena sebentar lagi bertemu wanita yang mungkin sekarang berubah menjadi macan yang galak menunggu mangsa. Di sisi lain Halwa adalah sahabat yang membuka jalanku mengerti tentang arti persahabatan.


"Met malam Awa," sapaku sambil perlahan mendekati dan menyalami kedua orang tua Halwa yang sedang di teras rumah menikmati udara malam.


"Malam amat, jam berapa ini?!" sewot Halwa. Aku sudah menduganya. Wajah manis itu akan berubah menjadi macan.


"Katanya tadi mau menunggu aku jam berapa pun? Ini martabaknya."


"Tapi gak semalam ini dong," jawab Halwa.


"Halwa, buatin kopi buat Salim," surug Umi Halwa akrab.


"Iya Bu sebentar," balas Halwa sambil berdiri perlahan masuk ke rumahnya.


"Nak Salim, kata ayahmu, kamu mau kuliah di Jogja ya?" tanya Umi Halwa.


"Iya, Bu. Insyaallah," jawabku.


"Oh, Halwa juga mau kami kuliahin di Jogja. Pumpung ada kamu, jadi minta sekalian dijagain ya. Umi juga udah bilang ke bapakmu," tambah Umi.


"Tapi awas ya Salim, kalo ada apa-apa kamu tanggung jawab," ujar Abi Halwa dengan serius.


"Ini kopinya, jangan sampai nggak dihabisin," ujar halwa.


"Tumben, baik banget kamu," jawabku dengan perlahan menyeruput kopi buatan halwa.


Agak kaget sepertinya, bada yang aneh dengan kopi ini. Kulihat Halwa sedikit menahan tawa, tapi tetap kuhargai kopi buatannya ketimbang aku mengatakan yang jujur, nanti Umi halwa marah lagi. Pikiranku pun berisi dugaan, "Jangan-jangan dia lupa kasih gula kopi ini. Atau memang sengaja lupa usil juga anak ini, ampun."


"Gimana Dek Salim, kopi buatan Halwa? Soalnya baru pertama kali dia buat."


"Masyaallah enak Bu," sambil kesal kulihat halwa yang menahan tawa.


"Oh, iya, Nak Salim dari mana pulang malam?" tanya Umi Halwa.


"Pacaran... pacaran…," jawab Halwa memotong.


"Enggak Bu. Cuma maen aja, pengen liat Kota Serang malam hari," jawabku.


"Pembohong," potong Halwa dengan kesal.


"Halwa, nggak boleh gitu, Nak," ujar Umi Halwa. ”Tapi, bukannya kalian selama ini...," tanya Umi Halwa lagi.


"Umi, udah mending kita masuk yuk. Bairin aja mereka dulu," ajak Abi Halwa kepada Umi untuk masuk ke dalam rumah.


"Pembohong pasti akan berbohong dan berbohong lagi," ujar Halwa.


"Kamu kenapa? Dari kemarin bilang pembohong-pembohong terus. Coba katakan, maumu apa?" tanyaku kesal.


"Ya pembohong. Katanya cuma jalan biasa, ternyata...," balas Halwa dengan menantang.


"Halwa, jika begini terus, aku akan malas bertemu denganmu," ujarku.


"Ya, wajarlah. Udah ada yang baru, buat apa ya lama, iya kan?" jawab Halwa yang semakin meningkatkan tensi darahku.


"Jadi ini kamu sengaja membuat kopi tanpa gula sama sekali?” tanyaku.


"Ya, karena kamu jahat!" jawab Halwa.


Ya, Tuhan, kenapa dengan kamu ini, Halwa. Dari kemarin selalu ngajak ribut terus. Whats wrong with you?" aku makin kesal ketika di setiap percakapan yang kudengar hanya kata "pembohong” dan ”pembohong”. Aku paling benci jika dituduh pembohong begini. Aku cukup geram.


"Halwa, maumu apa? Aku dan Fani hanya sebatas teman. Toh, kamu juga kemarin jalan dengan Ery aku biasa aja," ujarku.


"Cemburu ya?" tanya Halwa.


"Ya nggaklah. Buat apa aku cemburu. Emang aku ini siapa," jawabku.


"Aku nggak yakin kalau kamu nggak punya hubungan dengan Fani. Sebatas teman? Nggak mungkin," ujar Halwa seperti mendesakku.


"Awa, kamu boleh percaya aku atau tidak, terserah!" jawabku kesal.


"Tapi, kamu suka sama dia kan?" tanya Halwa.


"Kalau aku suka sama Fani kenapa?" jawabku tanpa sadar aku sudah mengeluarkan kalimat yang fatal. Waduh berabe ini urusan, bisikku dalam hati.


"Akhirnya, benar kan firasatku, kamu pembohong!" jawab Halwa kesal dan langsung masuk ke dalam rumah sembari membanting pintu.


"Awa denger aku dong, kamu jangan salah paham," ujarku.


Tak sedikit pun kata jawab terdengar dari mulutnya. Macan itu akhirnya benar-benar marah. Tiba-tiba, dia keluar dengan kesal hanya karena ingin mengambil martabak yang masih berada di teras rumah sambil berkata "Ribut sama kamu bikin lapar". Sekali lagi dia masuk ke rumah tak mau menoleh.


Malam ini sepertinya malam kelabu. Entah kenapa mulut ini tidal bisa dijaga sedikit. Akhirnya, sebuah kalimat terlontar tanpa aku berpikir panjang. Pasti hari-hari berikutnya menjadi hari yang kelam penuh konflik.


"Halwa ada apa denganmu?" bisik hatiku dengan pilu.


Aku pamit dan berucap di depan pintu, entah ada atau tidak ada manusia di belakangnya.


"Apakah ini akhir dari persabatan kita?"

 

(Bersambung)


Friday, April 19, 2024

Puisi-Puisi Muhammad Asqalani eNeSTe

Puisi Muhammad Asqalani eNeSTe




Rama

 

ia telah membelah hutan dengan kebenaran

ketika Barata datang dengan nampan airmata

memintanya kembali bersampan ke istana

berpesta dengan hamba sahaya dan tunawisma

 

tapi Sinta, yang memberikannya cinta pengembara

memeluk Humbaba, pohon besar untuk hati yang kecil

mereka tetap memeluk belukar, menjawab cicit burung

juga aung serigala betina

 

bagi Rama, kutuk tak pernah punya tampuk

ketika Laksamana berhasil membujuk

namun dewi iblis membuat mereka terpuruk

Sinta ambuk, dalam peluk Rahwana yang busuk

 

neraka telah disebar, cerita Ramayana terbakar.

 

Kubang Raya, Maret MMXXIV





Perjalanan Rama

  

terhadap jalan berliku, ia merasa kaku, terhadap jalan berbelok,

 ia merasa jorok, terhadap jalan menanjak, ia merasa berak,

terhadap jalan menurun, ia merasa ngungun.

 

terhadap jalan licin, ia merasa bacin, terhadap jalan berlubang,

ia merasa terbuang, terhadap jalan becek, ia meresa perek.

 

terhadap jalan berbahaya, ia merasa aman, Tuhan ada di mana-mana,

           membimbingnya ke negeri yang jauh, tanpa ada lagi ngeri.

 

Kubang Raya, Februari MMXXIV




Rama---Rama

 

Rama pergi ke hutan kelam tanpa takut hantu yang kejam,

bertahun-tahun ia mencari Tuhan, ternyata ia temukan di atas tubuh

rama-rama.

 

yang terbang mengitari danau, tubuhnya biru di atas air yang biru,

menghilang di bawah langit biru, tanpa perasaan haru biru.

 

kini rama tahu, jenggotnya yang panjang dari stupa ke stupa,

               dari stepa ke stepa, step demi step, stop demi stop,

membuatnya merasa tidak lebih mulia dari rama-rama.

 

ia percaya hantu, ia yakini Tuhan, ia melihat tahun-tahun kelupas,

juga hutan-hutan dengan pohon ranggas, kini ia tak lagi buas, tak lebih Rama,

ingin jadi rama-rama.

 

Kubang Raya, Februari MMXXIV




Sinta

 

sebab abuku tak kau temui dalam teratai,

pujalah langit malam paling dingin di atas danau.

 

lelaki kesepian itu, adalah seseorang yang kadung menelan kutuk.

        jiwanya busuk, terputuk dalam tumpuk sesal.

 

puja pula ikan, dewi-dewi kayangan, ingatan yang timbul tenggelam

di antara insang, amis perempuan yang menelurkan kuning dendam.

 

aku berendam, dalam dongeng ibumu yang dalam;

saat waktu beku, ia justru mencair, mengalir dari lidah tanpa ujung pangkal,

melesat ke gendang telingamu, ia jadi genderang perang; perangai laki-laki

hidup melawan sangai perempuan mati.

 

Kubang Raya, Februari MMXXIV



_______


Penulis

Muhammad Asqalani eNeSTe. Kelahiran Paringgonan, 25 Mei 1988. Menulis puisi sejak 2006. Adalah Pemenang II Duta Baca Riau 2028. Buku puisinya yang terbaru adalah Ikan-ikan Kebaikan Terbang dari Sungai ke Langit Lengang. Ia mengikuti Residensi Seniman Riau 2023. Adalah salah satu emerging di Balige Writers Festival (BWF) 2023. Sehari-hari ia bekerja sebagai Mentor Menulis Puisi di Asqa Imagination School (AIS). IG: @muhammadasqalanie.


Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com


Cerpen Kiki Sulistyo | Seperti Fiksi

Cerpen Kiki Sulistyo




Pada suatu hari ada selembar bulu burung melayang-layang di beranda. Tak ada siapa-siapa di beranda itu. Burung yang selembar bulunya terlepas itu juga tak terlihat.


Di beranda lain ada seorang anak sedang menatap matahari. Mukanya dihadapkan lurus-lurus ke arah matahari pukul sembilan pagi. Beranda menghadap timur sehingga siapa saja yang ada di sana pukul sembilan pagi akan langsung terpapar sinar matahari. Akan tetapi, mata anak itu terbuka dan terus terbuka seakan tak sedikit pun merasa silau. Ia memang tidak merasa silau, sebab di bagian atas wajahnya, di mana mestinya terletak sepasang mata, hanya ada sepasang rongga.

     
Karena tak bermata ia tak bisa melihat burung. Meski begitu telinganya baik-baik saja sehingga ia bisa mendengar kehadiran burung. Burung adalah binatang suara. Anak itu menoleh ke arah suara seakan tindakan itu ada gunanya. Sesaat kemudian ia mencium bau kebebasan. Bau itu membuat kedua tangannya mendapat tenaga, dan tanpa sepenuhnya disadari tangannya mulai berkepak-kepak. Interval awal: satu kepak per setengah menit, lantas makin lama interval makin sempit, sampai tiga kepak per detik. Anak itu membayangkan badannya terangkat dari kursi, dan ia pun melesat ke arah matahari. Di udara terbuka kakinya diluruskan, tangannya terentang, tubuhnya melayang-layang.

    
Dari beranda rumah lain seseorang melihat sesuatu melayang di angkasa. Orang ini sangat tua. Ia sedang berjemur, membiarkan sinar matahari meresap ke dalam tulang-tulangnya. Melihat sesuatu melayang ia segera memicingkan mata, memajukan tubuhnya untuk bisa melihat dengan lebih jelas. Mengertilah ia bahwa yang melayang-layang di kejauhan itu bukan burung, bukan pula layang-layang. Itu adalah pesawat pengintai tanpa awak. Segera orang tua itu berdiri dengan susah payah, lantas berjalan terhuyung-huyung masuk rumah untuk mengambil senapan.

    
Sambil melangkah di jalan permukiman ia mengamat-amati pesawat pengintai. Ia melewati gang, rumah-rumah, dan tangsi yang sedang penuh prajurit. Tiba di lapangan ia merasa jarak tembaknya sudah cukup. Maka ia mulai membidik.

    
Seorang perempuan yang sedang duduk di beranda rumah dekat lapangan berseru kepadanya: “Apa yang akan kau tembak, Bapa Tua?”

    
Bapa Tua batal menembak. “Itu pesawat pengintai. Musuh sedang mengamat-amati kita. Jadi aku harus menembaknya.”

    
“Kenapa Bapa Tua tak melapor ke tangsi saja?”

    
“Aku takut pesawat itu keburu hilang. Karena tujuan pesawat itu adalah untuk mengintai, pasti pesawat itu akan sebentar saja berada di sana.”       

    
“Oh, begitu. Bapa Tua pasti sudah rabun, apa yakin dapat menembak pesawat itu dengan tepat?”

    
“Sekali prajurit tetap prajurit. Aku penembak jitu di masa perang.”

    
Perempuan itu bangkit dari kursi, mendekati Bapa Tua. Ia meletakkan sebelah telapak tangannya di atas mata untuk melindungi pandangannya dari sinar matahari. Ia tak melihat apa-apa.

    
“Aku tak melihat apa-apa, Bapa Tua.”

    
“Itulah bedanya orang biasa dengan prajurit,” jawab Bapa Tua sambil kembali membidik.

    
Dzlep!

    
Bunyi letusan senapan. Beberapa orang yang sedang berada di dekat lapangan menoleh ke sumber bunyi. Namun, cuma sesaat. Setelah itu mereka melanjutkan kehidupan mereka.

    
Selembar bulu burung melayang-layang. Bapa Tua dan perempuan itu memperhatikan. Bulu burung didorong angin ke arah beranda. Di beranda, bulu burung melayang-layang seperti tak memahami hukum gravitasi. Bapa Tua dan perempuan itu masih memperhatikan bulu burung dan tak menyadari di dekat mereka sudah berdiri seorang anak.

    
“Kenapa Opa menembak saya?” tanya anak itu. Bapa Tua terkinjat.

    
“Aku tidak menembakmu. Aku menembak pesawat pengintai. Bagaimana mungkin kau ada di atas sana?”

    
Melihat anak itu, si perempuan menunduk, menyentuh kepala anak tak bermata itu dengan telapak tangan kirinya. Kepala itu tak punya rambut. “Oh, anak yang sengsara. Bagaimana kalau Ibu buatkan makanan untukmu?”

    
Anak tak bermata menggeleng. Bapa Tua terus menatap bulu burung yang masih melayang-layang di beranda. Ia mengokang lagi senapannya, lantas kembali mengamat-amati angkasa. “Pesawat pengintai itu sudah jatuh. Aku berhasil menembaknya!” seru Bapa Tua. Saat itu dari jauh terdengar seruan-seruan. Pasti seruan-seruan itu berasal dari tangsi prajurit.

    
“Berarti tadi Bapa Tua menembak bulu burung itu,” ucap perempuan.

    
“Aku tidak menembak burung. Aku menembak pesawat pengintai!”

    
“Aku tak mengatakan Bapa Tua menembak burung. Aku bilang Bapa Tua menembak bulu burung.”

    
“Bukan. Opa menembak saya,” bantah anak tak bermata.

    
“Bicara apa kalian. Apa yang aku tembak adalah pesawat pengintai. Bagaimana mungkin kalian tidak percaya?” kata Bapa Tua.

    
Tiba-tiba anak tak bermata berjalan ke beranda. Langkahnya lurus. Tak sedikit pun kakinya tersandung. Baginya segala benda tersusun dari suara. Semesta adalah planet suara, karenanya seluruh geraknya cukup mengikuti tempo suara agar ia tak keluar tempo yang akan menyebabkan ia bisa tersandung dan jatuh. Hanya orang yang tak paham suara yang bisa tersandung dan jatuh.

    
Di beranda, anak tak bermata berdiri menghadap Bapa Tua dan si perempuan. Persis di atasnya bulu burung melayang-layang.

     
“Opa. Tembaklah saya.” Tiba-tiba anak tak bermata berkata setelah enam koma enam menit berlalu dalam tabla yang bisu. Tatapannya lurus ke arah Bapa Tua, sebagaimana ia menatap matahari, seakan Bapa Tua dan matahari adalah benda yang sama.

    
Bapa Tua ragu-ragu. Ia menoleh ke si perempuan seperti mencari persetujuan. Sementara, matahari bagai laba-laba perak merangkak ke barat. Jaring-jaring sinarnya merebahkan bayangan benda-benda.

    
“Kau tahu anak itu siapa?” tanya Bapa Tua.

    
“Aku tidak tahu.”

    
“Apakah aku harus menuruti permintaannya?”   

    
“Kalau aku jadi Bapa Tua, aku akan menuruti permintaannya.”

    
“Tapi ini bukan eksekusi mati. “

    
“Memang betul ini bukan eksekusi mati. Tapi Bapa Tua, tidakkah Bapa merasa kejadian hari ini berbeda dengan hari-hari biasa?”

    
Bapa Tua berpikir-pikir sejenak. Ia mencoba mengingat apa yang dikerjakannya sebelum ia duduk di beranda dan melihat pesawat pengintai. Namun, ia sudah lupa. Ia mencoba merentang ingatannya ke hari kemarin, tapi ia tetap tak bisa mengingat apa-apa. Bapa Tua mengangguk-angguk.

    
“Betul juga. Aku lupa apa yang aku lakukan tadi. Aku juga tidak ingat apa yang aku lakukan kemarin,” kata Bapa Tua.

    
“Apakah Bapa Tua ingat siapa nama Bapa Tua?”

    
Bapa Tua kembali berpikir-pikir. “Aku tidak ingat. Apakah kau ingat?”

    
Si perempuan menggeleng. “Aku juga tidak ingat.”

    
“Kenapa bisa begitu?” tanya Bapa Tua. “Kenapa kau bisa berpikir soal itu sementara aku tidak? Lagi pula aku baru sadar, aku juga tidak mengenalmu!” seru Bapa Tua.

    
Si perempuan menatap Bapa Tua. Matanya berbinar-binar. Di mata itu terpantul jaring laba-laba.

    
“Ayo. Tembaklah saya!” kembali anak tak bermata berseru, mengembalikan pikiran Bapa Tua. Saat itu terdengar bunyi tambur bertalu-talu. Itu pasti bunyi dari arah tangsi.

    
Sekonyong-konyong Bapa Tua menodongkan senapan ke arah si perempuan.

    
“Kenapa kau bisa berpikir soal itu sementara aku tidak?” Bapa Tua mengulang pertanyaannya, ditambah kalimat: “Kau yang akan kutembak!”

    
Si perempuan bergerak mundur sambil menjawab: “Sebab aku mengetahui, Bapa Tua!”

    
“Mengetahui apa?”

    
“Bahwa jauh dari sini ada seseorang tengah duduk menghadap meja kerjanya dan merancang semua kejadian ini?”

    
“Aku tidak mengerti maksudmu.”

    
“Bapa Tua, orang itu sudah merancang agar Bapa Tua tak menembak anak itu. Maka dari itu aku meminta Bapa Tua menembaknya seakan Bapa Tua adalah prajurit yang sedang melaksanakan eksekusi mati. Tindakan itu berada di luar rancangan dan karena itu akan mengacaukan rancangannya. Setelah itu kita bisa bebas. Tidak maukah Bapa Tua bebas? Tidak maukah Bapa Tua mengetahui siapa sebetulnya diri Bapa Tua, bagaimana masa lalu dan semua peristiwa yang sudah Bapa Tua alami?”

    
“Maksudmu sekarang ini kita ada dalam kendali orang lain? Seperti di dalam fiksi?”

    
“Betul, Bapa Tua. Saat ini orang itu sudah mulai masuk ke bagian akhir. Jadi, ayo tembak anak itu sekarang, supaya rancangannya berantakan. Kita perlu bebas, Bapa Tua. Kita perlu merdeka!”

    
Bapa Tua ragu-ragu. Ia mendongak dan mengamat-amati angkasa. “Apakah orang itu melihat kita dari atas sana?” tanya Bapa Tua.

    
“Ah, Bapa Tua. Ayo, waktu kita tidak banyak. Tembak anak itu!”

    
Bapa Tua merasa tertekan. Tak ada yang bisa dilakukannya lagi. Ia mengarahkan moncong senapan ke anak tak bermata, dan mulai membidik.

    
Dzlep!

    
Dari moncong senapan meluncur seekor burung. Burung itu melesat cepat ke arah anak tak bermata. Akan tetapi bidikan Bapa Tua meleset. Burung meluncur ke atas kepala anak tak bermata dan mengenai bulu burung yang masih melayang-layang.

    
Burung dan bulu burung bergulung-gulung, menyatu, membentuk gumpalan.

    
Seperti fiksi.

______

Penulis 

Kiki Sulistyo lahir di Ampenan, Lombok. Ia telah meraih beberapa penghargaan: Kusala Sastra Khatulistiwa (kategori puisi) 2017; Tokoh Seni TEMPO (Sastra-Puisi) 2018 dan 2021; serta Penghargaan Sastra Kemendikbudristek (kategori puisi) 2023. Kumpulan cerpennya yang terbaru berjudul Musik Akhir Zaman (Indonesia Tera, 2024).


Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com 

 


Monday, April 15, 2024

Karya Siswa | Puisi Adelia Rahma Savitri

Puisi Adelia Rahma Savitri




Kisah Selepas Kemarau


Dalam lipatan waktu, 

semesta jauh merindu pada gerisik bisik 

daunan kering yang berserak jatuh dari reranting


Angin menampar daun jendela

Membawa puisi yang masih rumpang

menyisakan tanya, melingkar di atas kepala


“Bukankah hujan ini milik kita?”


Kamu membisu di seberang jalan

Bening matamu menusuk perasaan

Yang kuredam mati-matian


Rintik kian deras berjatuhan

Namun punggungmu menjauh

Hingga jemari tak sanggup merengkuh


Kini kubiarkan sisa-sisa perasaan itu 

berlabuh pada dermaga teduh,

tak lagi menyelami hatimu yang tak acuh


Tangerang, 2024


________


Penulis


Adelia Rahma Savitri, lahir di Tangerang pada 25 November 2005, bersekolah di SMA Negeri 6 Tangerang, tinggal di Buaran Indah, Kota Tangerang.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Friday, April 12, 2024

Cerpen Tin Miswary | Ada Sepeda di Depan Mimbar

Cerpen Tin Miswary



Ketika petang kian redup dan matahari tenggelam sempurna di belakang ufuk, Logo bergegas mengambil sepeda tuanya. Dia mulai mengayuh sepeda jengki merk Phoeniex buatan Tiongkok yang telah berkarat itu menuju arah barat dan lalu berbelok ke utara. Dia berpapasan dengan banyak orang yang menuju masjid dengan terburu-buru. Logo tak peduli. Dia terus mengayuh bersama jala di bahu dan keranjang kecil mirip guci dari anyaman bambu tersangkut di setang sepeda. Logo menekan pedal menggunakan gaya otot kakinya agar roda itu terus berputar. Sesekali ia mengembus asap putih dari mulutnya yang serupa malam.


Sejak menceraikan istrinya yang mengidap gangguan jiwa, Logo hidup sendiri. Dia tidak punya anak meski telah menikah puluhan tahun. Orang kampung menuduh istrinya sebagai perempuan terkutuk sebab di masa kecilnya ia berulang kali diperkosa ayah kandungnya. Peristiwa itu terjadi setelah ibu perempuan itu mengidap gangguan jiwa dan meninggal ditabrak truk serdadu yang sedang memburu pemberontak. Saat itu ibunya mengadang truk yang sedang memasuki kampung dengan begitu beringasnya. Serdadu yang dilanda amarah tentu tak ambil pusing pada sosok yang ada di hadapan mereka. Perempuan itu mati seketika. Dan kematian-kematian seperti itu hanyalah kejadian biasa di ujung Sumatera ini.


Sejak kematian ibunya, istri Logo pun menjadi mangsa hubungan inses oleh ayah kandungnya. Cerita-cerita itu baru diketahui setelah Logo menikahi perempuan yang sejak awal sudah terlihat aneh itu. Konon pernikahan mereka adalah hukuman dari tokoh adat setelah keduanya ditemukan bercumbu di sebuah gubuk pinggiran tambak, tempat Logo biasa memancing. 


****


Tidak ada yang tahu persis kenapa orang-orang memanggilnya dengan Logo, nama yang sama sekali janggal, apalagi di kampung yang baru dilanda perang. Namun, sepertinya dia sangat betah dipanggil demikian. Tak sekali pun muncul protes ketika nama itu disebut di hadapannya. Dia senantiasa tersenyum, mengangguk ketika dirinya dipanggil Logo, menggunakan fonem khas untuk membedakannya dengan logo (simbol).


Di kampung itu, Logo tergolong sangat miskin. Gubuknya terbuat dari tepas dengan atap rumbia. Bahkan dia tidak memiliki tanah. Gubuk itu dibangun di bekas tanah peninggalan mendiang Ampon Leman yang lari meninggalkan kampung puluhan tahun lalu, ketika revolusi sosial meletus di seluruh negeri. Ampon Leman dituduh sebagai kaki tangan Belanda sehingga dia pun diusir dan lalu hilang tanpa jejak. Sebagian besar tanah peninggalannya dikuasai mendiang Keuchik Amin yang kemudian dibagi-bagi kepada masyarakat kampung. Ayah Logo yang merupakan pendatang di kampung itu tidak mendapat bagian. Namun, selepas kematian Keuchik Amin, Nek Fatimah, seorang warga kampung yang tidak memiliki anak mewariskan tanah miliknya seluas lima ratus meter kepada Logo yang kala itu sudah mulai beranjak dewasa.


Meskipun Logo hidup dalam kemiskinan dan hanya mengandalkan hasil tangkapan ikan di tambak utara kampung, namun seumur hidupnya dia tidak pernah mendapatkan zakat di kampung itu.


"Orang-orang yang tidak salat apalagi memancing ikan di waktu Magrib haram menerima zakat," kata Teungku Malem suatu hari.


Apa yang dikatakan Teungku Malem ini memang benar, Logo memang tidak pernah terlihat salat di masjid atau pun menasah. Setiap Magrib tiba dia sudah bersiap-siap menuju utara kampung untuk memancing dan menjala ikan-ikan di sana.


Di kampung itu tidak ada yang berani membantah fatwa Teungku Malem. Dia tokoh agama paling disegani dan bahkan ditakuti. Orang-orang percaya kalau Teungku Malem seorang wali, bisa menghilang, pandai terbang dan kebal senjata. Menurut cerita yang tersebar, di masa perang dia pernah melewati batalyon tentara dengan Vespa yang melaju kencang. Tiba-tiba dia disetop tentara.


"Ini kawasan militer, Teungku harus pelan-pelan di sini," kata seorang tentara.


Karena Teungku telah melanggar maka Teungku harus kami hukum, lanjut si tentara sembari memandang tajam ke arah Teungku Malem yang masih duduk di atas Vespa putih kesayangannya.


"Cepat turun dan hitung terali pagar ini sampai habis!" teriak si tentara.


Perlahan Teungku Malem turun dari Vespa sembari memandang terali besi yang terpasang di pagar batalyon itu dari ujung ke ujung.


"Semuanya?" tanya Teungku Malem.


"Ya!" sahut si tentara.


Mulailah Teungku Malem menghitung dan menyentuh terali itu satu per satu dengan tangannya. Ajaibnya, satu per satu terali yang disentuh Teungku Malem menjadi bengkok.


"Cukup! Cukup!" teriak si tentara setelah melihat pemandangan tak lazim itu.


"Ini belum habis saya hitung, Pak. Masih banyak," jawab Teungku Malem.


"Sudah cukup!" si tentara membentak Teungku Malem dan meminta orang tua itu untuk segera meninggalkan batalyon. 


***


Logo memarkir sepedanya di pinggiran tambak, di sebuah gubuk kecil yang sering dijadikan tempat istirahat. Dia meletakkan keranjang ikan mirip guci di atas pematang tambak yang sudah mulai lembap. Logo menurunkan jala dan mulai berjuang menangkap ikan yang sedang bermain riang. Sebelumnya Logo tidak pernah membawa jala ke tambak itu. Dia hanya membawa pancing yang terbuat dari belahan bambu berukuran kecil untuk menangkap ikan-ikan di sana. Namun, setelah bertemu Tauke Madi, si pemilik tambak, Logo diizinkan membawa jala agar tangkapannya bisa lebih banyak.


"Yang penting kamu tidak mengambil bandeng dalam tambakku ini. Selain itu boleh kamu ambil, apalagi mujair yang sering menghabiskan makanan ikan-ikanku. Kamu boleh mengambil mujair sepuasmu. Besok kamu boleh bawa jala, tapi ingat, jangan ambil bandeng!" kata Tauke Madi beberapa hari lalu.


Sejak saat itulah Logo mulai membawa jala. Ketika bandeng tak sengaja masuk ke dalam jala, Logo akan melepaskannya kembali ke dalam tambak.


Ikan mujair yang didapatkan Logo akan dijual kepada orang-orang di kampung untuk membeli beras. Dia hanya menyisakan sedikit untuk dimakannya sendiri. Ketika dia sudah mulai bosan dengan mujair dia akan menjual semuanya untuk membeli telur atau ikan asin. Tapi, sejak bercerai dengan istrinya, Logo lebih suka mengisi perutnya dengan mi goreng di kedai Kak Bed. Bahkan ketika perutnya sudah mulai penuh dia sering tidur di balai kedai itu.


Malam itu ketika hendak melempar jala ke dalam tambak, Logo dikejutkan dengan suara Tauke Madi. 


"Go, tunggu dulu!" 


Tauke Madi muncul dalam remang-remang suasana Magrib. Dia berlari-lari kecil ke arah Logo.


"Aku minta maaf, mulai malam ini kamu jangan lagi menangkap mujair di sini."


Mendengar suara Tauke Madi, Logo hanya diam seraya melirik ke arah lelaki yang berusia lebih tua beberapa tahun darinya. Laki-laki yang telah memberinya makan bertahun-tahun.


"Aku minta maaf," laki-laki itu mencoba mengulang ucapannya, "akhir-akhir ini bandengku banyak yang mati. Harga di pasaran juga sangat murah. Sementara aku tidak punya usaha lain."


Logo masih terdiam dan hanya mendengar ucapan itu tanpa memberi respons.


"Karena itu, mulai besok kamu jangan lagi mengambil mujair di sini. Aku akan menjualnya sendiri untuk menutupi kerugianku."


Tauke Madi memandang wajah Logo yang terlihat sedih.


"Aku harap kamu bisa memaklumi keadaanku sekarang.'


Lelaki itu menutup pembicaraan sembari menepuk bahu Logo yang masih berdiri kebingungan di tepian tambak.


Setelah Tauke Madi pergi dari hadapannya, Logo mulai menggulung jala. Senter bulat di kepalanya masih menyala menembusi genangan air yang sesekali beriak diembus angin. Dia menyangkut kembali keranjang mirip guci di setang sepeda yang diparkirnya di pinggir gubuk. Dia mengambil sebatang gudang garam dalam saku celana pendeknya dan lalu membakar lintingan tembakau itu dengan tangan bergetar. Asap pun mengepul dan lalu burai diembus angin malam yang semakin dingin.


***


Rintik gerimis manja mulai turun. Aroma mi goreng basah buatan Kak Bed yang begitu menggoda mulai menusuk hidung beberapa orang yang masih duduk di kedai itu. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Tak lama kemudian beberapa piring mi campur telur dihidangkan kepada  mereka yang telah menunggu bersama gerimis yang terus menitik. Satu per satu melahap makanan itu dengan nikmat dan lalu beranjak pulang menembus gerimis yang belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.


Saat Kak Bed mulai berkemas menutup kedainya, dari arah barat muncul sosok bersepeda dengan lampu di kepala yang masih menyala. Dia memarkir sepedanya di depan kedai yang mulai sepi. Kak Bed tampak sibuk memasukkan belanga ke dalam peti kayu yang dilengkapi gembok. Saat itulah Logo berdiri dan menunjuk ke arah rak kayu berdinding kaca yang ada di hadapannya. Kak Bed yang sudah mengerti kembali mengeluarkan belanga dan meletakkannya di atas kompor.


"Pedas?" tanya Kak Bed.


Logo hanya mengangguk dan lalu duduk di sebuah bangku yang terbuat dari bambu, tempat biasa dia melahap gorengan Kak Bed yang cukup terkenal di kampung itu. Konon Kak Bed menggunakan biji ganja sebagai penyedap masakan. Namun, sayangnya kabar angin tersebut tidak pernah bisa dibuktikan oleh siapa pun, termasuk oleh Teungku Malem yang terkenal keramat.


"Banyak dapat ikan malam ini?" tanya Kak Bed sembari sesekali memukul belanga besinya dengan sodet agar gilingan tepung berwarna kuning itu tidak lengket. Logo memberi kode dengan telapak tangan terbuka bersama lima jari yang berdiri tegak sambil menggerakkannya ke kiri dan kanan. Melihat gerakan tangan Logo, Kak Bed hanya tersenyum dan kembali mengaduk mi hingga matang. Setelah menghabiskan makanan yang belum dingin itu, Logo kembali menaiki sepeda menuju arah selatan dan lalu hilang dalam malam yang semakin kelam.


***


"Sudah lama Logo tidak terlihat di kampung."


"Ya, aku juga tidak melihatnya beberapa hari ini."


"Apa mungkin dia tenggelam di tambak?"


Beberapa orang yang sedang bersantai di kedai Kak Bed malam itu saling bertanya tentang keberadaan Logo.


"Logo sepertinya sudah meninggalkan kampung," sela Kak Bed di tengah gemuruh suara para pelanggannya,"dia sudah tidak punya pengharapan lagi di kampung kita ini," lanjut Kak Bed.


"Maksudmu?" seorang warga mencoba bertanya.


"Ya, kalian kan tahu dia tidak punya pekerjaan lain selain menangkap ikan. Aku dapat kabar Tauke Madi melarang Logo menangkap ikan di sana. Kalian juga tahu dia tidak mendapat zakat di kampung kita."


Suasana hening sejenak. Terlihat raut kebingungan di wajah orang-orang yang sedang terlibat pembicaraan itu.


Sementara itu, di utara kampung Teungku Malem sedang terlibat pembicaraan dengan Tauke Madi di sebuah balai, tempat biasa Teungku Malem mengisi pengajian.


"Sudah beres Teungku Haji. Sudah saya sampaikan. Saya juga tidak mau masuk neraka hanya gara-gara memberi makan orang tak sembahyang," kata Tauke Madi dengan nada pelan.


Mendengar penjelasan Tauke Madi, Teungku Malem yang terlihat sudah sangat sepuh itu hanya tersenyum sambil mengangguk.


Keesokan harinya orang-orang kampung dihebohkan dengan penemuan sepeda tua bermerk Phoenix yang terparkir tepat di depan mimbar. Pada tongkat yang tersandar di mimbar tersangkut jala dan keranjang mirip guci. Namun, kehebohan itu segera buyar setelah Kak Bed berteriak dan berlari ke arah masjid. Mendengar teriakan itu orang-orang pun berlarian ke arah kedai Kak Bed. Dalam kebingungan itu mereka menemukan Teungku Malem bersimbah darah, di tempat mereka biasa menikmati mi goreng beraroma ganja.


Bireuen, Maret 2024


_________


Penulis


Tin Miswary, pemulung buku bekas. Berdomisili di Bireuen, Aceh. Alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry pada Konsentrasi Pemikiran dalam Islam. Menulis di beberapa media cetak seperti Jawa Pos, Suara Merdeka, Harian Bhirawa, Harian Singgalang, Harian Serambi Indonesia, Harian Aceh, Harian Pikiran Merdeka, Harian Rakyat Aceh, Harian Analisa, Harian Waspada, Tabloid Modus, Majalah Santunan dan beberapa media online seperti kompas.id, magrib.id, bacapetra.co, sastramedia.com, hidayatullah.com, republika online, dan mojok.co. Menjadi kolumnis di beberapa media online lokal di Aceh, di antaranya AceHTrend.com. Sudah menerbitkan lima buku: (1) Habis Sesat Terbitlah Stres (Padebooks, 2017), (2) Syariat dan Apa Taa: Fenomena Sosial Keagamaan Pasca Konflik Aceh (Padebooks, 2018) dan (3) Demokrasi Kurang Ajar (Zahir Publishing, 2019); (4) Senandung Jampoek (Kawat Publishing, 2020); dan (5) Islam Mazhab Hamok (Bandar Publishing, 2020). Saat ini sedang menyelesaikan penulisan buku keenam dengan judul Wahhabi di Mata Ulama Dayah.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Puisi-Puisi Sulaiman Djaya

Puisi Sulaiman Djaya



Kepada Para Penyair 


Betapa gila mereka

Yang menulis puisi

Di zaman ini


Sedikit yang membaca

Kecuali sesama mereka. 

Meratapi nasib sendiri


Dengan dalih estetika

Kemarahan tersamar

Beralibi kesenian. 


Betapa tidak masuk akal

Mereka yang bersikeras

Membela metafora


Yang tak dimengerti

Para penggemar aplikasi

Abad mesin ini.


(2023)



Sitar


Aku suka November yang lahir dari bilangan jidat rambutmu: musim yang meriah, girang cuaca dan hati yang bernyanyi karena rindu. Aku suka caramu menyebut namaku, derai tawamu umpama hidup yang tak bisa dihitung.


Bila saja tak ada puisi, niscaya sepi jadi belati menikam diri. Dan kau, perempuan yang dijumpai mataku, adalah nafas nafas tahun usiaku. Betapa selalu menyenangkan setiap kali suaramu menggema dari sajak sajak yang kau baca di punggung malam.


(2022)


________


Penulis


Sulaiman Djaya lahir di Serang, Banten. Menulis esai dan fiksi. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di Koran Tempo, Majalah Sastra Horison, Indo Pos, Media Indonesia, Majalah TRUST, Majalah AND, Majalah Sastra Pusat, Jurnal Sajak, Tabloid Kaibon, Radar Banten, Kabar Banten, Banten Raya, Tangsel Pos, Majalah Banten Muda, Tabloid Cikal, Tabloid Ruang Rekonstruksi, Harian Siantar, Change Magazine, Banten Pos, dan lain-lain. Buku puisi tunggalnya Mazmur Musim Sunyi diterbitkan oleh Kubah Budaya pada tahun 2013. Esai dan puisinya tergabung dalam beberapa antologi, yakni Memasak Nasi Goreng Tanpa Nasi (Antologi Esai Pemenang Sayembara Kritik Sastra DKJ 2013), antologi puisi Indonesia-Malaysia, Berjalan ke Utara (Antologi Puisi Mengenang Wan Anwar), Tuah Tara No Ate (Antologi Cerpen dan Puisi Temu Sastra IV di Ternate, Maluku Utara Tahun 2011), Sauk Seloko (Bunga Rampai Puisi Pertemuan Penyair Nusantara VI di Jambi Tahun 2012)), Kota, Kata, Kita: 44 Karya Para Pemenang Lomba Cipta Cerpen dan Puisi 2019, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dan Yayasan Hari Puisi, dan lain-lain.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com