View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Latest News

Sunday, July 5, 2026

Puisi-Puisi Ahmad Supena

Puisi Ahmad Supena




Pasar Lama Serang


Lentera kota mulai dinyalakan di simpang jalan

Namun di pasar lama,waktu seolah enggan berjalan

Bau arang membumbung, beradu dengan aroma malam

Para pedagang setia melarung harapan yang dalam

Dulu makodim berdiri kokoh di utara alun-alun, menjadi saksi

Kini berganti megah dinding mal yang menjanjikan ilusi

Serang bergerak maju, atau mungkin tergesa-gesa?

Meninggalkan jejak lama dalam ingatan yang mulai paksa

Anak-anak urban berkumpul di kafe-kafe bercahaya

Sementara di sudut lain angkot timur-barat masih mengejar biaya

Kota ini bertumbuh dalam dua wajah yang berbeda

Antara merawat warisan atau hanyut digilas roda dunia


Banten 2024-2025



Kasemen


Di bawah langit kasemen yang perlahan berawan

Aliran drainase tersumbat, membawa cemas bagi sang Kawan

Beton-beton jalan mulai dituang membelah desa

Berlomba dengan genangan yang kerap menyisakan siksa


Petani di pelamunan menatap sawah yang kian menjauh

Terhimpit bayang pabrik dan truk-truk yang menderu riuh

Bahasa Jawa Banten sayup-sayup terdengar di pos ronda

Menjadi benteng terakhir identitas yang mulai menua


“Aja klalen batur,” bisik angin di reruntuhan Banten Lama

Mengingatkan tanah ini pernah memimpin dunia utama

Kini, kasemen berjuang di antara debu dan Pembangunan

Mencari keseimbangan di tengah arus modernisasi zaman


Banten 2024-2025



Stasiun Serang


Jalur rel itu membenteng sejak tahun seribu Sembilan ratus

Membelah jantung kota, membawa cerita yang tak pernah putus

Stasiun serang berdiri kokoh dengan dinding tuanya

Menyaksikan ribuan pasang kaki datang dan pergi dari sisinya

Peluit lokomotif melengking memecah keheningan pagi

Membawa kaum komuter yang mengadu Nasib ke ibu kota lagi

Di dalam gerbong, wajah-wajah Lelah saling berhadapan

Memendam mimpi tentang hidup yang lebih berkecukupan


Kereta ini Adalah urat nadi yang menghubungkan masa lalu

Dari zaman colonial hingga serang menjadi provinsi yang baru

Ia melaju konstan, melintasi perlintasan sebidang yang riuh

Mengingatkan kita bahwa perubahan takkan bisa diteduh


Banten 2024-2025


_________


Penulis


Ahmad Supena, dosen di Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia (PBI) FKIP Untirta.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Puisi-Puisi Lukmannul Hakim

Puisi Lukmannul Hakim



Boneka Babi; Bersembunyilah!


Mereka bilang,

kepemimpinan harus diterima.

Kalau tidak,

berbicaralah.

Tetapi mereka memilih

mengirim boneka babi

di tengah malam.

Mereka memilih

membiarkan benda

menggantikan mulutnya.


Aku tidak sedang marah

kepada boneka itu.

Ia hanya kain,

kapas,

dan jahitan.

Yang kutanyakan adalah

siapa tangan

yang selesai meletakkannya

lalu berlari

lebih cepat

daripada nuraninya sendiri.


Katanya,

keputusan ini salah.

Baik.


Kalau salah,

datanglah.

Bawa alasanmu.

Benturkan pikiranmu.

Jangan sembunyikan keberanianmu

di balik pagar,

di balik akun,

di balik bisik-bisik

yang bahkan takut

mendengar suaranya sendiri.

Sebab intimidasi

selalu lahir

dari keberanian

yang kehilangan wajah.

Aku lebih menghormati

lawan

yang berdiri di depan pintu

dan berkata,

"Aku tidak setuju."

Daripada seribu orang

yang melempar simbol,

lalu menghilang

seolah sejarah

tidak punya ingatan.


Boneka babi itu

akan lapuk.

Kapasnya akan mengempis.

Warnanya akan pudar.

Tetapi pengecut

selalu punya cara

mengganti boneka

dengan simbol lain,

mengganti tangan

dengan tangan lain,

mengganti akun

dengan akun lain.

Yang tak pernah mereka ganti

adalah ketakutan.

Dan ketakutan

tidak pernah melahirkan

pemimpin.

Tidak pernah melahirkan

perubahan.

Ia hanya melahirkan

keramaian

yang sibuk bersembunyi.

 

Hari ini

mereka mengirim boneka.

Besok

mereka mungkin mengirim fitnah.

Lusa

mereka mengirim kebencian.


Tetapi selama mereka

tak berani mengirim

nama mereka sendiri,

maka yang sesungguhnya

sedang mereka kubur

bukan kehormatan orang lain

melainkan

harga diri mereka sendiri.


Sudah. 

Tak semestinya ada boneka itu!


Sleman, 20 Mei 2026 



Anak yang Membawa Rumah


Ibu

Kupanggil namamu

Ibu 

Agar tembok-tembok 

Berhenti menjadi suara.


Rumah

Rumah

Rumah-

Ternyata

Bukan dinding.

Ternyata 

Amarah.


Aku lahir 

Di panci yang mendidih,

Di kursi yang patah,

Di mata

Yang lupa memaafkan pagi.


Ayah.

Ayah?

Tak ada.

Yang ada

Hanya bayang

Yang berjalan

Lebih panjang

Daripada tubuhnya sendiri.


Ibu memungut hari.

Hari memungut luka.

Luka memungut ibu.

Lalu

Aku.

Aku di pungut

Oleh harapan.

“Kau saja.”

Kata itu 

Terlalu kecil

Untuk Pundak

Yang belum selesai tumbuh.

Maka aku pergi.


Kota

Membuka mulutnya.

Aku masuk.

Menjadi debu

Di antara ribuan debu.

Keringat.

Keringat.

Keringat.

Upah. 

Upah.

Upah. 

Uang.

Uang bukan uang.

Uang

Adalah beras.

Uang

Adalah obat.

Uang adalah atap

Yang tak lagi bocor.

Tetapi-

Mengapa

Setiap lembar yang kukirim

Selalu Kembali

Menjadi sepi?


Ibu.

Siapa 

Yang mencuri bahagiamu?

Aku mencari

Di dompet.

Tidak ada.

Aku mencari

Di rekening.

Tidak ada.

Aku mencari

Di koper

Yang kubawa pulang.

Tidak ada.

Barangkali

Bahagia

Tak pernah tinggal

Di benda.

Barangkali 

Ia tersesat

Di masa lalu.


Ibu memanggilku.

Bukan namaku.

Harapannya.

Aku menjawab.

Bukan dengan kata.

Dengan kerja.

Kerja.

Kerja.

Kerja.

Hingga telapak tangan

Lebih tua 

Daripada umurku.

Tetapi

Ibu masih berkata,

“Aku ingin Bahagia.”

Aku terdiam

Bahagia.

Bahagia.

Bahagia.

Kata itu

Berputar-putar

Seperti burung

Yang lupa 

Di mana langitnya.


Ibu,

Jika aku menjelma rumah,

Apakah kau akan pulang?

Jika aku menjelma uang,

Apakah luka berhenti berbunga?

Jika aku menjelma ayah

Yang tak pernah kaudapat,

Apakah matamu

Akhirnya tertidur?

Atau-

Aku harus menjelma 

Apa?

Aku?

Atau 

bukan aku?


Ibu.

Aku anakmu.

Bukan masa lalumu.

Namun setiap  kali

Kupeluk namamu,

Rumah ikut menangis.

Dan aku sadar-

Ada tangis 

Yang diwariskan.

Ada sepi

Yang tidak selesai dilahirkan.


Aku merantau

Bukan mencari dunia.

Aku hanya mencari 

Sebuah pagi

Yang Ketika pulang nanti

Tak lagi memanggilku

Dengan nama luka. 


Sleman, 03 Juli 2026 


________


Penulis


Lukmannul Hakim, akrab disapa Lukman atau Luckman. Ia sedang mencintai Fisioterapi persiapan masa depan. Pernah menulis puisi dan dimuat di majalah Kandaga Kantor Bahasa Provinsi Banten. ia juga menulis cerpen. Jangan lupa follow Instagram-nya @_Lukmannulhakim16.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Cerpen Sucipte Jamuhur | Rapat Keluarga

Cerpen Sucipte Jamuhur 


Sudah menjadi impian Tar sejak dulu. Berada di tengah-tengah sanak famili. Sebagai keluarga yang tak pernah utuh, mungkin hal inilah yang dibutuhkan. Sangat harus di lakukan, manakala semua anggota pulang kampung dari rantau. Kebetulan pula tidak ada aral melintang. Nah, di sanalah semua anggota keluarga bertemu, entah karena hari raya idul fitri atau memang takdir malang yang mempertemukan mereka_saat pemakaman Amaq.

“Kamu tau hewan apa yang terkuat?” Tanya Tar ke istrinya.

“Pastilah gajah.” Jawab Iwet cepat.

“Salah! Gajah tidak mampu mengangkat beban sepuluh kali lipat dari badannya.”

“Menyesal kujawab.” Iwet kesal sembari menerawang jawaban sebenarnya, sampai ia bosan memeras isi kepalanya untuk berpikir.

Perempuan memang malas menggunakan otaknya. Lebih suka menggunakan perasaan, pikir Tar. Pertanyaan tiba-tiba itu membuat mereka bertengkar kecil. Tidak biasanya ia membangun obrolan dengan cara seprti itu. Ia biasanya mengeluhkan beberapa hal yang tidak ia suka ke istrinya. Seperti biasa, dengan tangkas istrinya malah menyalahkan Tar. Istrinya sejak dulu sering mengulang-ulang sabdanya: leleki cerewet, semua serba dikerjakan, diurusi, dibenahi, diluruskan, ditanggapi, dan lainnya. Laki-laki tidak boleh banyak bicara, yang berbicara itu tindakannya.

“Yang banyak bicara itu perempuan. Di rapat keluarga nanti, kamu harus sering menge-rem. Semua berhak berbicara.” Lanjut Iwet tak mau kalah.

“Lebih baik kamu diam, kumbang tahi!” Cegat Tar.

“Astaga! Jadi menurutmu, aku ini kumbang tahi?” Iwet keberatan dan tak sabar buat bertengkar.

“Iya, itu jawabannya. Hewan terkuat itu kamu. Kamu mampu mengangkat beban sepuluh kali berat badanmu.”

“Maumu apa sebenarnya?”

“Aku bangga punya istri kuat, sayang.” Goda Tar.

Perasaan Iwet campur aduk antara tersanjung atau hendak melepaskan marah yang tertahan. Ia lalu memalingkan wajah dan serta merta terlihat tegang. Sehingga Tar menjawil lembut pipi Iwet yang kembali cerah menahan senyum.

Mobil mereka hampir sampai di batas desa. Kedua anaknya, Bagas dan Feri masih tertidur sebab kelelahan bermain. Sedari berangkat kemarin banyak makan dan bermain. Mereka sudah tidak sabar bermain lumpur di sawah Papuq.

Tahun kemarin, mereka membantu Kakek-nya menanam padi. Bermain di sawah adalah pengalaman yang tidak pernah mereka dapatkan di kota besar. Terlebih sudah ada sepupunya yang juga sesama laki-laki seumuran dan tinggal di rumah Papuq. Mereka semakin antusias. Karena ada teman mereka bermain layangan atau berkubang lumpur di sawah.

Tar juga senang, ada yang bisa mengelola sawah sepeninggal Amaq. Ang kakaknya ada sudah hampir satu tahun lebih menemani Amaq dan Inaq. Ang memutuskan tinggal di kampung setelah lama merantau di Jawa. Bangkrut parah memaksanya menjalani hidup di kampung.

Semenjak menikah delapan tahun lalu, Ang tidak pernah sekalipun pulang. Hanya berkabar melalui telpon. Tar juga senang bisa mempertemukan Bagas dan Feri dengan anak-anak Ang. Juga anak-anak dari kedua adiknya Isne dan Nurme.

Meski tinggal di Kota yang hanya sejarak satu jam perjalanan. Kedua adik perempuan Tar juga tak berat pulang kampung. Berikut suami dan anak-anaknya. Untuk itulah, Tar merasa harus ikut serta pulang kampung memenuhi impian Amaq semasa hidup, menggelar rapat keluarga. Ia ingin seperti orang lain dalam bersaudara: mengobrol banyak, bertukar pikiran, tertawa-tawa, berbagi cerita, makan bersama. Seperti keluarga besar pada umumnya.

Jika saja Amaq tidak meninggal sembilan puluh sembilan hari lalu. Mereka tidak akan bisa bersua. Titah Amaq semasa hidup agar urun rembuk dalam satu suasana, tidak pernah terlaksana.

Amaq sebagaimana orang tua lainnya, selalu berbesar harapan, sekiranya ia bisa melihat anak-anaknya berkumpul dalam satu pandang. Ah, waktu memang perkasa memisahkan kelurga. Anak-anak adalah hasil karya yang menjadi penyejuk pandangan. Namun, harapan meliht merek dalam wujud dewasa tak pernah kabul, impian itu di bawanya ke alam tidur abadi. Semasa hidup ia sering menegur masing-masing mereka saat menelpon (sesekali) agar menyempatkan diri pulang dan berkumpul. Meski hanya sekali.

“Mumpung Amaq masih hidup, nak. Meleng mayit-ku (mayat dengan mata terbelalak), kalau permintaan sederhana Amaq ini, tak sanggup kalian penuhi.” Hal itu telah benar-benar terjadi saat beliau nazak dan ruhnya telah pergi, seakan beliau tahu betul ayat maut dalam laku hidup manusia.

Barangkali ucapan yang acap kali Amaq perdengarkan itu menjadi buah penyesalan. Tidak pada Tar saja, juga pada Isne dan Nurme. Terlebih Ang sebagai anak lelaki tertua. Buah bibir itu terbayar kontan. Konon, perbuatan dan perkataan orang yang sudah tua telah dibisikkan malaikat maut. Terlebih seratus hari sebelum meninggalnya.

Istri Ang seperti orang panik dengan persiapan acara doa seratus hari Amaq. Ia tahu Ibu mertuanya tak banyak membantu selain duduk dan berkomentar ini-itu. Meski Inaq telah pikun dan banyak lupa, istri Ang tetap melempar obrolan dan menanggapi arahan Inaq saat masak. Sehingga beberapa orang tetangga berduyun-duyun datang membantunya memasak di halaman samping rumah.

Sedari pagi ia cekatan meracik bumbu dapur dan rela memasak banyak sate pusut kesukaan adik iparnya Tar. Ia tak pedulikan asap kayu bakar memengapkan badannya. Matanya berkali-kali kelilipan abu dan asap tak ia pedulikan. Demi memenuhi harapan Amaq mertua (semasa hidup) dan menjamu keluarga jauh saat rapat keluarga nanti.

Tar dan istrinya begitu menikmati sate pusut buatan iparnya. Sampai-sampai ia tak sadar tusuk sate banyak bereserakan di atas nampan. Acara doa seratus hari telah selesai, beberapa orang tentangga yang hadir telah pulang dan beberapa orang masih duduk mengobrol di berugaq depan.

Disuguhkan banyak makanan membuat Tar lega dan lelahnya selama di perjalanan terbayarkan. Ia merasa layak dijamu seperti itu, meski tak seperti yang ia harapkan. Sejak sampai, ia selalu tertawa oleh tingkah Inaq. Tar cukup terhibur dengan kepikunannya. Ibunya masih percaya_bahkan bersikeras kalau Tar adalah teman kecilnya di Sekolah Dasar dulu.

Tawa yang lama kelamaan menjadi kepedihan. Inaq beberapa kali menyangkal kematian Amaq. Terkadang ia menunjuk Ang sebagai sosok suami. Ang lebih banyak menutup mulut. Mengobrol dengan tamu atau bereramah tamah dengan keluarga yang lain sudah diwakili oleh Tar. Adiknya memang selalu menjadi tumpuan keluarga. Sementara Ang sibuk melakukan banyak hal remeh sejak Tar tiba. Bukan sifatnya yang banyak bicara dan suka mengobrol seperti adiknya.

Sesekali Inaq menangis, sebab Tar terlalu serius menerangkan kejadian sebenarnya. Tar juga sungguh-sungguh menjelaskan bahwa ia adalah anaknya. Juga perihal Amaq-nya (suami kedua Inaq) telah meninggal seratus hari lalu.  Inaq berkilah tak kalah bersikeras, bahwa sosok suaminya masih hidup dan sedang membantu tetangga cuci piring. Di arahkan telunjuknya ke Ang.

Raut muka Tar berubah kesal dan putus asa. Diserahkan Inaq ke istrinya Ang untuk ditemani. Tar lalu beranjak, mengajak beberapa orang yang masih ada di tempat itu, untuk memulai acara inti: rapat keluarga.

“Langsung saja.” Ucap Tar memecah kesunyian.

“Terima kasih telah hadir Ustadz Saepul. Kak Juhari Sarjana Hukum, Tuaq Geli sebagai Kadus, serta adik-adikku : Isne dan Nurme. Juga tak kalah penting Ang, saudara tiri kami.” Ang menunduk tegang dan berkeringat dingin. Bak pesakitan, kedua tangan Ang tersimpul di kempit kedua dengkulnya.

“Sebagai orang beragama, kita tidak bisa menolak keputusan Tuhan. Sebaiknya kita dalam hal ini sepakat dengan hukum agama.” Jelas Tar dan semua terdiam tanda setuju.

“Kita sudah sama tahu, bahwa amaq sudah meninggal seratus hari yang lalu dan ini kewajiban kita membagi warisan. Untuk itu ada rapat keluarga ini. Kita juga tahu bersama bahwa harta benda: sawah dan halaman rumah ini harus di bagi. Kepada siapa? Ya tentu saja kepada kita bereempat: Ang, saya, Isne dan Nurme. Namun, sayangnya. Ang adalah anak tiri dari Bapak kami bertiga, meski kami satu ibu.” Lagi Tar meminta persetujuan dan semuanya terdiam.

“Sebagai saudara tiri, meski paling tua di antara kami. Tapi tindakannya melampaui batas dengan menggadaikan sertifikat sawah dan rumah untuk membayar hutang-hutangnya. Tanpa sepengetahuan saudara yang lain. Ini kejahatan!”. Tar berteriak di kalimat terakhir, semua makin terdiam terutama Ang.

“Harta orang tua kita memang di hasilkan oleh Inaq di luar negeri bertahun-tahun. Tapi ingat. Ini harta gono-gini dari pernikahan Inaq dengan Amaq kami. Bukan dari bapakmu, Ang! Bukan! Meski orang tua setuju kamu cairkan sertifikat hartanya, tapi kamu melupakan kami bertiga. Bukan kamu saja anaknya. Tindakan jahat ini melanggar hukum, terlebih hukum agama, Ang!” Tar membius keadaan dan membuat dirinya satu-satunya yang berbicara.

“Biar kita semua ingat. Bukan kamu saja yang butuh uang, dan berhutang. Aku juga sangat butuh dan harus mengambil warisan bagianku, untuk bayar hutang. Kujelaskan sekali lagi. Harta benda milik orang tua kita, dalam hal ini Inaq. Adalah harta yang beliau dapatkan setelah menikah dengan Amaq kami bertiga : Aku, Isne dan Nurme. Bukan harta yang dihasilkan dari pernikahan Inaq dengan Bapakmu, Ang. Inaq tidak membawa harta apa-apa selain seorang anak. Secara hukum, jatah warisku paling banyak, Isne dan Nurme sedikit karena perempuan.” Semua tetap senyap sebagai tanda pembenaran atas semua perkataan Tar.

“Kamu tau hewan apa yang terkuat?” Tanya Tar tiba-tiba ke istrinya.

Dengan mata basah, dan raut muka ketakutan Iwet menjawab ragu, “kumbang tahi.”

“Salah!” teriak Tar menggebrak meja, Iwet dan beberapa orang terkejut dan semakin menunduk.

“Tar… tardigrada. Itu hewan terkuat di bumi. Dia sanggup tidak makan-minum berbulan-bulan, itupun makannya cuma lumut! Lumut! Hebatnya dia bahkan sanggup hidup di luar angkasa.” Tegas Tar. Beberapa orang bertanya-tanya maksudnya. Kemampuan otak takkan mampu mencerna. Hanya hati dan ingatan yang sanggup memahami maksudnya.

Selama ini Tar merantau di kota besar, bekerja keras agar cekikan lapar bisa mereka tepis. Tar rela kelaparan, hanya makan sayur yang berjatuhan dan terbuang di pasar demi agar kedua orang tuanya, Ang dan kedua adiknya bisa hidup layak di kampung.

Perjalanan pahit itu berlangsung lama, Tar telah membantu keluarganya mengatasi kemiskinan. Setidaknya sebelum Inaq bekerja di luar negeri. Pada akhirnya hidup mereka sedikit lebih baik dan semua bisa menikah. Dengannya Tar mendapat tempat kehormatan, menjadi seseorang yang paling disegani dan perpengaruh dalam keluarga.

Jeda rapat keluarga. Di balik tembok, sembari memegang pundak Ang, Ustadz Saepul mencoba memberikan pandangan supaya Tar diberitahu saja. Sebab inilah waktu yang tepat bagi Tar. Bahwa tidak selayaknya ia menentukan warisan. Sebab anak hasil hubungan tanpa nikah, secara hukum agama tidak berhak menerima warisan sedikitpun.

Bima, Nisyfu Sya’ban 1447 H

_______

Penulis

Sucipte Jamuhur, kelahiran Lombok Tengah dan menetap di Kabupaten Bima sekitar tambak garam teluk Bima. Aktif di organisasi dan komunitas literasi dan konservasi lingkungan hidup disamping mengajar di salah satu SMP, ia juga berbisnis kedai kopi dan membangun entitas dan ruang kreativitas bersama pemuda-pemudi di kedai kopi tersebut.

 

Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Sunday, June 28, 2026

Esai Ma’rifat Bayhaki | Kepengrajinan dalam Novel "Yuki": Ketika Pesan Berusaha Mengalahkan Cerita

Esai Ma'rifat Bayhaki



Kemahiran berbahasa adalah satu dari sekian modal yang mesti dimiliki oleh pengarang. Kendati penting, justru ia kerap diabaikan. Banyak pengarang lebih terobsesi pada persoalan pesan yang ingin disampaikan, alih-alih memperhatikan konstruksi—bentuk cerita yang akan disajikan. Sebuah cerita tidak dikenang semata karena suaranya, melainkan bagaimana cara ia menyuarakannya. Saya tentu tidak ingin menyaksikan sebuah naskah yang penuh dengan pesan moral, tetapi kehilangan daya estetiknya bernasib tragis di tangan pembaca kritis.

Barangkali kepekaan semacam ini mesti dijadikan pijakan ketika membaca novel Yuki karya Sukron yang diterbitkan Penerbit #Komentar, Juni 2026. Pada halaman awal kita disodorkan dengan kegelisahan yang nyata. Narator ingin berbicara tentang manusia modern yang terjebak dalam rutinitas, ketakutan, dan keterbatasan. Dari hal itu ia menawarkan gagasan sederhana, manusia harus “naik kelas”. Tentunya frasa ini lebih dari perpindahan status sosial di permukaan, ia juga menyimpan pergulatan dan pendalaman batin yang berlapis—kokoh.

Namun, sayangnya sang narator dalam cerita Yuki tampak terjebak untuk memastikan gagasan “naik kelas” ini bersarang di benak pembaca. Hasrat tersebut demikian dominan sehingga hampir setiap bab lebih berfungsi sebagai medium penyampaian pesan daripada ruang berbagi cerita untuk tumbuh secara organik. Akibatnya, pembaca lebih sering dihadapkan pada penegasan ide dibandingkan dengam pengalaman estetik yang lahir dari perkembangan cerita.

Jumlah tokoh yang relatif sedikit sesungguhnya bisa diolah sedemikian rupa untuk membangun karakter yang utuh dan dinamis. Alih-alih melakukan itu, tokoh Yuki  lebih sering hadir sebagai corong gagasan pengarang daripada menjadi manusia fiksional yang hidup, memiliki kehendak, konflik, dan perkembangan psikologisnya sendiri. Yuki lebih sering tampil sebagai figur yang telah mengetahui jawaban atas persoalannya ketimbang menjadi manusia yang sedang berproses.

Hal itu juga berlaku pada tokoh lain dalam novel ini. Misalnya tokoh Pak Arif—mentor Yuki yang perannya sentral dalam cerita ini. Lagi-lagi narator berperan terlalu dominan sehingga tokoh Pak Arif menjadi terkesan ajaib. Ia bisa tiba-tiba hadir di momen penting hidup Yuki bahkan mampu mengetahui segala hal dan permasalahan yang dialami Yuki. Hal itu tampak jelas saat Pak Arif mengetahui jika Danu memberikan kunci berkarat kepada Yuki, bahkan dengan hafalnya ia menjabarkan manfaat dari kunci berkarat itu pada Yuki, kendati Pak Arif tidak benar-benar hadir dalam peristiwa itu. Pada persoalan ini sepertinya sang narator harus berhati-hati.

Pergulatan batin yang seharusnya menjadi jantung sebuah novel justru berlangsung singkat. Proses sebab akibat yang diharapkan cair, luwes, dinamis, dramatis, dan memukau menjadi terkesan ajaib. Pemaknaan setiap tokoh luput dari pandangan sang narator. Saya kehilangan jejak dalam usaha menggali sebab Yuki memaknai lorong tempat kerjanya mengerikan, pemaknaan kunci berkarat dari masing-masing tokoh, bahkan tokoh Pak Arif terkesan sangat bijaksana tanpa celah. Barangkali hal ini mesti dijelaskan, tidak digantung begitu saja.

Beralih pada persoalan alur. Novel Yuki bergerak dengan tempo yang terlampau tergesa-gesa. Perpindahan antar-ruang berlangsung begitu cepat sehingga setiap tempat kehilangan kesempatan untuk meninggalkan jejak dalam ingatan pembaca. Adegan demi adegan silih berganti, tetapi tidak memberi cukup waktu bagi suasana untuk mengendap ataupun bagi konflik untuk memperoleh bobot emosional. Alur akhirnya lebih menyerupai rangkaian perpindahan peristiwa daripada perjalanan batin yang tumbuh secara perlahan.

Barangkali, apabila diolah dengan kepengrajinan yang lebih tekun, ruang dalam Yuki tidak hanya berfungsi sebagai latar tempat peristiwa berlangsung. Ruang memiliki kemungkinan estetik yang jauh lebih luas. Ia dapat menjadi penanda zaman, penyimpan ingatan, bahkan menghadirkan gema batin para tokohnya. Dalam karya sastra yang matang, ruang tidak pernah benar-benar diam. Ia ikut mengarahkan suasana, membangun ketegangan, dan sesekali berbicara melalui kesunyian yang diciptakannya.

Kita dapat belajar dari cerpen Robohnya Surau Kami karya AA Navis. Ceritanya tidak semata-mata berkisah tentang sebuah surau, melainkan menjadikan surau sebagai pusat kesadaran cerita. Bangunan itu bukan lagi sekadar lokasi, tetapi sebuah simbol yang memanggul sejarah, keyakinan, kegelisahan, sekaligus ironi manusia. Surau memperoleh “suara” karena pengarang berhasil menanamkan pengalaman batin ke dalam ruang tersebut. Pembaca tidak hanya melihat sebuah bangunan, melainkan merasakan denyut kehidupan yang bersemayam di dalamnya.

Kemungkinan semacam itu sesungguhnya juga terbuka bagi Yuki. Sayangnya, ruang-ruang yang dihadirkan masih cenderung bersifat fungsional. Kantor, rumah, jalan, atau tempat-tempat yang disinggahi tokoh lebih sering menjadi wadah berlangsungnya peristiwa daripada turut membentuk kesadaran tokoh dan menghidupkan atmosfer cerita. Padahal, apabila ruang diberi kedalaman simbolik dan psikologis, ia akan menjadi unsur naratif yang bekerja secara diam-diam, memperkaya makna tanpa perlu dijelaskan secara panjang lebar oleh narator. Di situlah sastra menunjukkan kekuatannya, bukan melalui banyaknya penjelasan, melainkan melalui kemampuan membuat benda-benda yang bisu menjadi fasih berbicara.

Pada bagian lain narator memilih mendeskripsikan tindakan-tindakan Yuki alih-alih membiarkan pembaca menyaksikan tindakan itu berlangsung di hadapan mereka. Kecenderungan ini muncul berulang kali dalam beberapa bab sehingga perlahan mengikis daya hidup cerita. Alih-alih menghadirkan pengalaman, narator justru menyajikan kesimpulan. Pembaca diberi tahu apa yang dirasakan, dipikirkan, dan dilakukan Yuki, tetapi jarang diberi kesempatan untuk menemukan semua itu melalui peristiwa yang berkembang secara organik.

Bagi saya, pilihan semacam ini merupakan salah satu kelemahan paling mendasar dalam novel ini. Sebab, hakikat fiksi bukanlah menyampaikan gagasan secara langsung, melainkan membiarkan gagasan itu lahir dari benturan antartokoh, dari gestur yang sederhana, dari dialog yang ritmis, bahkan dari kesunyian yang sengaja dibiarkan bekerja. Seperti yang dikatakan Ernest Hemingway mengenai show don't tell. Seorang pengarang tidak dituntut menjelaskan segala sesuatu kepada pembaca, melainkan menghadirkan dunia yang memungkinkan pembaca sampai pada kesimpulannya sendiri.

Sastra kehilangan daya estetiknya ketika terlalu bernafsu menjelaskan. Setiap penjelasan yang berlebihan sesungguhnya adalah bentuk ketidakpercayaan pengarang terhadap kekuatan cerita yang sedang dibangunnya. Padahal, cerita yang baik selalu memiliki keberanian untuk menyembunyikan sebagian maknanya, sebab sastra tidak bekerja dengan cara menggurui, melainkan dengan cara menggerakkan pengalaman batin pembacanya. Ia tidak berkhotbah dari atas mimbar, tetapi mengajak pembaca berjalan perlahan memasuki ruang-ruang makna yang sengaja tidak seluruhnya diterangi. Justru dalam ruang yang remang-remang itulah sastra menemukan daya pikatnya.

Kausalitas yang berupaya dibangun narator belum sepenuhnya memperoleh kedalaman dramatik. Penjelajahan Yuki terhadap krisis eksistensialnya berlangsung terlalu tergesa-gesa sehingga perkembangan psikologis tokoh terasa lebih sebagai pernyataan daripada pengalaman. Pembaca diberi tahu bahwa Yuki hidup dalam ketakutan dan merasa tidak bahagia, tetapi cerita tidak menyediakan rangkaian peristiwa yang cukup untuk membenarkan perasaan tersebut.

Sepanjang novel, Yuki justru tampil sebagai pribadi yang relatif utuh. Ia mampu menjalankan pekerjaannya dengan baik, berani mengemukakan pendapat di hadapan kolega, bahkan beberapa kali menjadi sosok yang menawarkan solusi bagi orang lain. Kegagalan yang dialaminya pun tidak pernah benar-benar menjelma menjadi titik balik yang mengguncang kesadarannya. Setiap hambatan segera dilewati tanpa meninggalkan bekas psikologis yang berarti. Akibatnya, jarak antara apa yang dikatakan narator mengenai Yuki dan apa yang benar-benar diperlihatkan cerita menjadi semakin lebar.

Pada akhirnya, persoalan Yuki terasa lebih banyak hidup di dalam bahasa narator daripada di dalam dunia yang sedang dibangun novel ini. Kecemasan itu disebutkan berulang kali, tetapi jarang memperoleh bentuk konkret melalui tindakan, konflik, atau pengalaman traumatik yang mampu mengendap dalam ingatan pembaca. Padahal, luka batin dalam sastra tidak selalu harus hadir sebagai tragedi besar. Rutinitas yang berulang, ruang kerja yang menyesakkan, relasi sosial yang dingin, atau kegagalan-kegagalan kecil yang terus menumpuk pun dapat berubah menjadi teror eksistensial apabila diolah dengan kesabaran estetik.

Di sinilah kelemahan paling mencolok novel Yuki. Rutinitas yang semestinya menjadi sumber kecemasan manusia modern tidak pernah benar-benar menjelma sebagai ancaman yang menghimpit kehidupan Yuki. Ia hanya hadir sebagai gagasan yang diucapkan narator, bukan sebagai pengalaman yang dialami pembaca. Ketika rasa takut lebih banyak dikatakan daripada dihadirkan, konflik kehilangan bobot dramatiknya, dan perjalanan eksistensial Yuki pun berakhir sebagai konsep yang menarik, tetapi belum sepenuhnya meyakinkan secara artistik.

Kendati demikian, Yuki tetap layak diapresiasi sebagai karya perdana yang berhasil diselesaikan oleh Sukron. Bukankah, naskah yang baik adalah naskah yang selesai ditulis? Penyelesaian sebuah karya bukanlah akhir dari proses kreatif, melainkan awal bagi pengarang untuk mengasah kepengrajinan estetiknya. Pada percobaan berikutnya, tentu kelonggaran semacam ini tidak berlaku.

Salah satu hal yang paling menarik dari novel ini ialah keberanian Sukron sebagai pengarang bereksperimen dengan bahasa yang puitis, liris, dan berirama. Kalimat seperti, “Rambut hitamnya bergelombang, menebar bayang-bayang gelap di atas bahu, sementara mata cokelatnya menahan kilau api kecil yang tak pernah padam,” memperlihatkan ikhtiar pengarang menghadirkan keindahan melalui pilihan kata yang imajinatif. Cara bertutur semacam ini menjadi strategi yang efektif untuk membangun suasana sekaligus memperhalus pengalaman emosional pembaca sehingga narasi tidak sekadar menyampaikan peristiwa, melainkan juga menghadirkan rasa

Namun, bahasa puitis selalu menuntut kedisiplinan estetik. Keindahan tidak lahir semata-mata dari limpahan metafora atau rangkaian kata-kata yang indah, melainkan dari ketepatan memilih diksi dan kecermatan menempatkannya dalam konteks. Demikian pula dengan penggunaan tanda baca yang bukan sekadar perangkat gramatikal yang mengatur jeda. Ia merupakan bagian dari estetika yang membentuk ritme, mengatur tempo, memberi tekanan, bahkan mengarahkan emosi pembaca. Perpaduan antara diksi yang cermat akan melahirkan kalimat yang tidak hanya enak dibaca, tetapi juga memiliki daya pukau yang bertahan lebih lama dalam ingatan.

Pada beberapa bagian, Yuki berhasil memperlihatkan potensi tersebut. Meskipun belum sepenuhnya konsisten, tampak bahwa Sukron memiliki kepekaan terhadap musikalitas bahasa dan keberanian untuk tidak sekadar bercerita, melainkan juga menciptakan pengalaman membaca yang estetis. Potensi inilah yang, apabila terus diasah melalui pembacaan yang luas dan latihan menulis yang tekun, dapat menjadi kekuatan utama pengarang pada karya-karya berikutnya. Tabik.

Tanara, 28 Juni 2026

 _______

Penulis

Ma'rifat Bayhaki, redaktur pelaksana NGEWIYAK.

 

Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com

 

Berita | Bedah Novel "Yuki" Jadi Ajang Silaturahmi dan Diskusi Sastra di Markas #Komentar


NGEWIYAK.com, KAB. SERANG – Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa (#Komentar) kembali menghidupkan tradisi diskusi sastra melalui kegiatan bedah novel Yuki (Bebaskan Diri, Naik Kelas) karya Sukron yang diterbitkan Penerbit #Komentar (Juni 2026). Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (28/6/2026) di Markas #Komentar, Kampung Pasar Sore, RT/RW 004/001, Desa Singarajan, Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang, dipandu oleh moderator Mela Sri Ayuni.

Selain membedah karya sastra, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi dan temu kangen para pengurus serta anggota Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa yang telah lama tidak berkumpul dan berdiskusi bersama.


Ketua #Komentar, Sul Ikhsan, mengaku bersyukur karena kegiatan diskusi akhirnya dapat kembali digelar setelah cukup lama vakum.


"Saya sangat senang, setelah sekian lama rumah yang bernama #Komentar ini hidup kembali dan mengadakan kegiatan diskusi. Namun yang paling penting, kita masih terus membaca dan menulis meskipun lama tidak berkumpul," ujarnya.


Sementara itu, pendiri sekaligus pengasuh #Komentar, Encep Abdullah, menyambut baik terbitnya novel Yuki. Menurutnya, Sukron menjadi salah satu penulis baru asal Pontang-Tirtayasa yang patut diapresiasi karyanya oleh kawan-kawan komunitas. 


"Budaya diskusi sastra di Pontang-Tirtayasa harus kembali digalakkan, harus tetap ada, meskipun untuk saat ini agak susah dilakukan rutin tiap pekan. Namun, kehadiran Sukron dengan novel Yuki-nya, menjadi satu jembatan ruang diskusi ini hadir kembali. Semoga kegiatan ini bisa mengecas kembali motivasi kawan-kawan komunitas yang barangkali sudah lama tidak menulis," ujar Encep.



Novel Yuki mengisahkan perjalanan seorang perempuan muda yang berjuang melepaskan diri dari tekanan hidup, rasa takut, dan belenggu rutinitas. Di tengah tuntutan dunia kerja, pendidikan, dan lingkungan sosial, Yuki berusaha berdamai dengan masa lalunya serta menemukan keberanian menentukan arah hidupnya.


Pemantik diskusi, Ma'rifat Bayhaki, menilai novel ini memiliki bahasa yang puitis dan emosional, namun konflik psikologis tokoh Yuki belum tergambar kuat karena lebih banyak diceritakan daripada dihadirkan melalui pengalaman tokohnya.

"Kendati demikian, novel Yuki tetap layak diapresiasi sebagai karya perdana yang berhasil diselesaikan. Bukankah, naskah yang baik adalah naskah yang selesai ditulis? Penyelesaian sebuah karya bukanlah akhir dari proses kreatif, melainkan awal bagi pengarang untuk mengasah kepengrajinan estetiknya," tegas Bayhaki.


Tidak hanya berdiskusi tentang isi buku, isu penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam dunia kepenulisan pun tak luput dibahas. Narasumber dan peserta terlibat perdebatan hangat mengenai kebolehan, kemakruhan, hingga keharaman penggunaan AI dalam proses kreatif menulis.



Penulis novel, Sukron, sebenarnya dijadwalkan hadir dalam bedah buku tersebut. Namun, ia berhalangan datang karena agenda kampus yang mendadak. Ketidakhadirannya sempat menimbulkan kekecewaan di kalangan peserta, meski situasi tersebut berada di luar kendali penulis. Meski demikian, diskusi tetap berlangsung hangat, interaktif, dan berakhir dengan lancar hingga selesai.


Melalui kegiatan ini, Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa berharap tradisi membaca, menulis, dan berdiskusi sastra terus tumbuh sehingga mampu melahirkan semakin banyak penulis dan karya sastra dari wilayah Pontang-Tirtayasa.



(Redaksi)

Puisi-Puisi Rosul Jaya Raya

Puisi Rosul Jaya Raya




Perdamaian Perdamaian


Dia menjorokkanmu ke kolam penuh ikan-ikan tertawa, kamu basah oleh gelembung-gelembung tawa yang meletus


Dia menjemur tubuhmu sampai kering di sinar matahari.


Sebelum kamu keluar menyerang dari Kuda Troya, dia tahu kamu ada di dalam, "cilukba!" kamu terkejut sampai kencing di celana


Dia mengirim lindu ke dadamu dan dada Kuda Troyamu. 


Betapa bahagianya ketika kamu dan dia menautkan jari kelingking; seribu matanya lenyap—mata yang mengintipmu ketika tengah tidur, makan, sampai berak—


Dia tetap menjorokkanmu ke kolam itu; bedanya kini kamu, dia, dan ikan-ikan tertawa sama-sama, kamu dan dia basah dan menjemur diri sama-sama


Kamu dan dia berada dalam Kuda Troya yang sama, menandatangani lindu yang akan dikirim sama-sama 


Sama-sama mengasah pisau untuk menusuk seribu mata jahil yang nanti mengintipmu dan dia.


Juni 2026



Apa Iya Kita Adalah Tai?


Kamu yakin Tuhan menjahit hujan dan tanah sambil minum kopi. Prok prok prok simsalabim. Jadilah kamu. 


Selalu ada kemungkinan lain bukan? 


Mungkin saja Tuhan sedang buang hajat sehabis makan (maha) tahu pedas. Abrakadabra ngeden dikit. Keluarlah kamu.


Boleh jadi bukan? Dadamu bercerobong, memuntahkan asap polusi. “Tai kau!” hardikmu.


Kamu tak setuju imajinasiku. Kamu hanya setuju kemungkinan aku memang tai. 


Bukankah hidup kita seperti tai di sungai hayat? Terombang-ambing ikut arus. Setiap ruang. Setiap waktu. Setiap Tuhan mengolah kita jadi pupuk.


Apa iya kita adalah tai?


Juni 2026



Tiada Mampus yang Lebih Indah Selain Mampus di Pelukanmu


Aku akan mencintaimu sampai mampus

Tak ada anjir di antara kami

Tak ada anjay untuk selain kamu

Rindu adalah bestie-ku  

Puisi cinta emakku tercinta

Dana ngedate bapakku tersayang

Cincin kawin mimpi basahku

Banting badan pahlawanku kepagian

Gapapa saat-saatku goblok 

Sampai aku mampus di pelukanmu


Juni 2026



Komedi


Di kantor pemerintahan, politisi menulis materi komedi tanpa terganggu kisruh-rusuh di luar. 


Teriak orang-orang pakai toa masuk telinganya; keluar lewat pantat bersama kentut.


Kepalanya ngos-ngosan mencari punch line. 


Komedi berangkat dari keresahan bukan? Sang politisi resah akan kursi yang ia duduki kakinya hampir patah. Ia ingin menaikkan pajak orang-orang yang teriak-teriak di luar untuk beli kursi baru. 


Demi Negara! Akhirnya selesai juga. 


Sang politisi stand up comedy di depan orang-orang. Ia melempar bit, tidak lucu. Melempar bit berkali-kali, tetap tidak lucu.


Orang-orang ngantuk. 


Sampai sang politisi meleleh di atas panggung. Orang-orang tertawa sangat nyaring. 


Juni 2026



Kenapa Kamu Nulis Puisi?


Lebih baik fokus jualan gorengan

kecuali puisi dibuat bungkus gorengan


Ini bukan soal keuntungan komersial

ini soal istana jiwa (kataku dengan 

suara gelora sambil menahan bunyi 

perut dan dompet)


Kenapa Kamu Nulis Puisi?


Puisi bisa menyeretmu diborgol polisi

puisi tak bisa dijadikan alat sogok


Yang penting kata-kata bangkit dari kubur

menghantui polisi (kataku bermuka masam di balik jeruji; aku kangen 

kontrakan bobrok dan senyum pacar)


Kenapa Kamu Nulis Puisi?


Pacarmu lamat-lamat menjauhimu

puisi tak bisa ditukar dimsum mentai


Demi kebudayaan dan kemanusiaan

cinta nomor sekian (kataku sambil

meringkuk dan menangis di pojokan)


Kenapa Kamu Nulis Puisi?


Padahal puisimu jelek dan empuk

dilahap hulubalang-hulubalang sastra itu


Aku menulis puisi sambil minum kopi 

untuk diri sendiri (kataku sambil

mengutuk makhluk-makhluk 

rambut gondrong dan bau badan itu)


Kenapa Kamu Nulis Puisi?


Tanyaku pada diri sendiri

(tak ada habis-habisnya sampai

lupa aku belum mandi dan cukur rambut

sebelum menjual puisi yang tak laku-laku) 


Juni 2026


______

Penulis


Rosul Jaya Raya, penulis kelahiran Bekasi 2002, berdarah Madura, kini berdomisili di Surabaya. Masuk daftar 10 Emerging Writers Ubud Writers and Readers Festival 2025. Beberapa cerpennya memenangkan lomba kepenulisan cerpen. Bisa dihubungi di Instagram @rosuljayaraya24.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com



Cerpen Yulizar Lubay | Kursi Roda

Cerpen Yulizar Lubay

 


A.

Aku suka rumah sakit. Dulu, rasa suka itu muncul karena kusangka rumah sakit adalah tempat penyembuhan. "Ada lambang ularnya," kataku kepada Bapak.

"Itu lambang kesehatan," Bapak menjawab pasti tanpa mau ditanya lagi.

"Bukan. Itu lambang bahwa penggoda Adam-Hawa masih berkeliaran di dunia," Ibu berkata datar dengan amarah terpendam.

Bapak menampar ibu dengan tatapan yang tajam.

Dan seiring waktu berjalan, aku yakin bahwa rumah sakit adalah tempat yang dimaksudkan dan diartikan ibuku.

B.

Bapak punya tiga istri. Ibu adalah istrinya yang pertama dan aku adalah anak perempuan semata wayang mereka.

Aku tidak tahu bagaimana cara Bapak membagi waktu dan kasih sayang. Kadang ia datang ke rumah membawa banyak uang, kadang tidak datang sama sekali selama berbulan-bulan. Tapi setiap kali datang, Bapak selalu tampak kelelahan. Wajahnya berminyak dan napasnya mudah sesak.

C.

Cara Bapak meninggal tidaklah aneh. Suatu pagi, saat aku berumur dua puluh enam tahun, ia meninggal karena darah tinggi dan serangan jantung. Aku tidak bisa mengingat hari itu dengan jelas. Rumah sakit yang dulu kusukai, telah berubah menjadi tempat yang bau dan menjengkelkan.

Aku melihat tubuh Bapak terbaring kaku di ranjang rumah sakit. Mulut dan matanya terbuka lebar ke arah langit-langit kamar seperti seseorang yang sedang telat sadar. Di sekelilingnya, tiga perempuan berdiri sambil menangis dengan cara yang berbeda. Perempuan pertama, ibuku, menangis tanpa suara. Perempuan kedua, menangis dengan bahu terguncang keras, sedangkan perempuan ketiga menangis merdu seperti pelatih paduan suara. Aku berdiri di antara mereka. Dan saat berdiri itulah, tanpa alasan yang jelas, aku memutuskan untuk membenci rumah sakit dan meninggalkan ibuku, selamanya.

D.

Dua minggu setelah kematian Bapak, aku mulai didatangi mimpi buruk. Dalam mimpiku, aku selalu berdiri di lorong panjang rumah sakit. Kadang aku melihat diriku sendiri terbaring di ICU. Kadang aku melihat diriku sendiri berubah menjadi sebatang pohon kamboja.

Di siang hari, aku mencoba melupakan mimpi itu saat bekerja di perpustakaan daerah. Tapi di tengah mengetik laporan mingguan, aroma rumah sakit tiba-tiba menguap dari sela-sela jariku. Aku memejam. Punggung tanganku terasa dingin seperti ditempeli pecahan es batu. Tiba-tiba aku teringat bapakku. Aku membuka mata, lalu melihat semua orang di kantor perpustakaan seperti pasien rumah sakit. Di saat itu aku mulai percaya bahwa setiap manusia adalah pasien rawat jalan. Mereka menolak diinfus, menolak didiagnosa, dan berlebihan mengonsumsi obat bermerek Keinginan.

E.

Embusan angin Minggu sore meniupi wajah Julani, kekasihku, yang sudah lama diterima sebagai pegawai negeri di Dinas Kesehatan.

“Dunia adalah rumah sakit,” kataku kepadanya.

Julani menggeleng sambil tertawa. “Sepertinya penyakit gilamu sedang kambuh.”

"Aku memang belum sembuh."

Kami berdua duduk di taman kota Pagar Bulan, di bangku besi putih yang mungkin baru beberapa bulan dicat ulang. Julani, dengan sepasang mata besar dan rambut hitam sedikit ikal, menatapku dengan pancaran yang sulit diterka, antara rasa cinta dan keinginan untuk menghina.

“Coba pikir,” kataku, “Setiap orang mencari kebahagiaan. Tapi apa yang mereka temukan selain was-was, kesepian, hepatitis, diabetes, dan usus buntu? Mereka sibuk menutupi luka, tapi tak pernah bertanya kenapa luka itu bisa ada."

“Kamu sendiri mencari apa?” tanya Julani dengan sepasang alis lebat terangkat.

“Makna ...” aku menjawab ragu. “Aku ingin tahu kenapa kita harus sakit kalau hidup cuma sementara.”

Julani bungkam sambil meremas jari-jari tangan. “Kamu tahu, dulu aku juga suka rumah sakit,” katanya pelan sebelum menghela napas panjang. “Tapi setelah ibuku meninggal di sana, sekarang aku membencinya.”

Aku memandang Julani. Entah kenapa, aku merasa Julani terlambat memahami sesuatu yang sudah lama kumaknai.

Gerimis tipis turun perlahan. Julani menggandengku pulang.

F.

Foto ibu dan bapak sudah lama kubuang. Foto mereka sudah tidak ada lagi di rumahku.

Aku tidak ingin mengingat mereka lagi, meskipun di kamar, dari pantulan cermin yang terpacak di dinding, wajah mereka tercetak jelas di wajahku. Memandangi cermin itu, sepasang mataku jadi mirip dua bohlam lampu kecil tanpa garansi yang mudah sekali mati.

Aku berbalik badan, melangkah, lalu mengambil buku catatan yang tergeletak di ranjang. Sebatang pena biru melamun di dalamnya. Kuambil pena dan mulai menuliskan tiga kalimat sungsang dan membingungkan: Manusia adalah pasien yang menyamar jadi dokter. Cinta adalah kanker yang sulit diobati. Tuhan adalah dokter yang sering membuat bingung pasiennya.

Suatu sore, aku memperlihatkan catatanku itu kepada Julani. Setelah membacanya dengan mata berair, ia mengeluarkan kalimat yang patut kukagumi, “Kamu harus tidur cukup dan segera minum obat cacing.”

"Tapi bagaimana aku bisa tidur kalau setiap kali memejam, aku selalu melihat ranjang-ranjang putih dan kursi roda?" kataku protes. "Tapi baiklah ...." aku berdehem karena tenggorakanku terasa gatal, "Aku akan segera minum obat cacing."

Julani tertawa puas. Ia memelukku, lalu mencium pipiku dengan gemas.

G.

Gelisah dan cemas telah berhasil mendorongku keluar rumah pada suatu malam yang gerah. Aku berjalan sendirian tanpa tujuan dan berakhir di depan rumah sakit Cinta Kasih tempat bapakku dirawat dan akhirnya meninggal. Aku masuk tanpa berpikir. Seorang satpam menatapku tanpa menanyakan apa-apa.

Karena tidak ditanya, aku lantas berjalan menuju lorong rumah sakit dan baru berhenti saat aku berdiri di depan pintu kamar mayat. Di kaca pintunya yang sedikit buram, aku bisa melihat bayanganku sendiri. Bayangan yang mengenakan jas dokter. Aku tersenyum, lalu mengangguk kepada bayangan itu.

Aku membuka pintu kamar mayat yang mungkin lupa dikunci. Maksudku, aku tidak ingat benar apakah pintunya dikunci atau aku sendiri yang telah merusak kuncinya. Yang jelas, ruang kamar mayat itu nyaris kosong kalau saja tidak ada satu meja dan secarik kain mori yang menutupi sesuatu. Aku mendekat untuk menarik kain itu, dan aku menemukan kursi roda.

Kursi roda itu masih baru. Aku sempat mendengar si kursi roda menghela napas dan memanggil namaku.

Aku tidak kaget, dan malah tersenyum senang, menganggap hal itu lelucon yang buruk dari sejumput takdir yang digariskan untukku.

Aku keluar dari kamar mayat dan memutuskan pulang ke rumah dengan membawa kursi roda di kepala.

H.

Hari berikutnya, aku menceritakan kejadian di rumah sakit itu kepada Julani. Ia berkata heran, “Berhentilah hidup dalam mimpi, Sayangku.”

Aku menggeleng lemah. “Tapi kursi roda itu nyata. Dia bisa bernapas dan memanggil namaku dengan jelas.”

Julani menatapku lama sebelum memegang tanganku. “Kamu harus berhenti mengunjungi rumah sakit. Aku takut kamu berubah ...”

“Berubah jadi?”

“Hantu penasaran.”

"Kita semua memang penasaran."

Entah kenapa, kata penasaran, tiba-tiba berhasil mendorongku untuk mencekik leher Julani.

Julani balas mencekik leherku.

I.

Ingatanku semakin buruk. Aku mulai kehilangan batas antara tidur dan jaga. Kadang di kantor perpustakaan daerah tempatku bekerja, aku mendengar bunyi monitor detak jantung. Kadang di rumah, aku merasa tubuhku terikat selang infus.

Sementara itu di dalam mimpiku yang terakhir, aku melihat Bapak duduk di sofa ruang tamu rumahku. Ia tersenyum mengejekku, lalu berkata, “Tak lama lagi, kamu akan menjadi kursi roda.”

Aku terbangun dengan keringat dingin di dahi. Kakiku terasa kaku.  Aku melihat sekeliling dan mendapati Julani sedang duduk di sampingku.

"Syukurlah kamu bangun. Sudah tiga hari kamu dirawat di rumah sakit Cinta Kasih."

"Bukannya kamu sudah mati kucekik?"

"Tidak, Sayangku. Itu tidak pernah terjadi."

Aku kaget, dan jatuh pingsan lagi.

J.

Jam sembilan pagi, dua minggu setelah keluar dari rumah sakit, aku memutuskan untuk berhenti bekerja. Kusampaikan kepada Kepala Dinas Perpustakaan bahwa aku ingin mencari makna. Ia menatapku seperti menatap pasien yang baru keluar dari ruang psikiatri.

Sejak berhenti bekerja, terutama hari Minggu, aku selalu menghabiskan waktu membaca atau menulis dengan banyak ditemani Julani. Kami sering duduk di ruang tamu rumahku. Aku makin jarang bicara. Julani yang sekarang lebih banyak bicara tentang buruknya cuaca, tentang makan bergizi gratis, dan tentang cinta abadi.

“Kalau dunia adalah rumah sakit, maka apa arti cinta menurutmu?” kata Julani sebelum tersenyum.

Aku berpikir agak lama. "Cinta menurutku ..." aku mencari kalimat yang pas untuk menjawabnya, "... Adalah kanker stadium akhir,” kataku sebelum hidungku mimisan.

Julani tersenyum getir. “Dan siapa yang kamu cintai dan mencintaimu?”

Aku tidak bisa menjawab. Dalam diam, sambil membiarkan darah mengucur dari lubang hidung, aku merasa kanker di tubuhku semakin mengganas.

K.

Ketika hujan reda, pada suatu malam, Julani datang ke rumahku dengan memakai jeans biru gelap dan kaos putih yang ditutupi jaket hitam. Kami duduk di sofa ruang tamu.

Julani membawakan sop daging sapi panas kesukaanku. Ia bangkit, lalu berjalan ke dapur untuk mengambil mangkuk, sendok, dan garpu.

“Nurani .... Sayangku ....” katanya, beberapa menit kemudian sambil membawa sop daging sapi di dalam mangkuk.

Aku ingin menjawab, tapi lidahku sudah tidak tersambung lagi ke otak.

“Kamu di mana?” suara Julani bergetar.

Di mana otakku? Aku menjawab dengan sedikit bergerak.

Mangkuk menjatuhkan diri dari tangan Julani. Sop daging sapi berceceran di lantai. Julani tercengang sebelum menatapku lama, sampai aku tidak tahu lagi siapa yang lebih nyata di antara kami.

“Nurani?” Julani berbisik.

Aku bergerak maju mendekati Julani.

Setelah itu, tidak ada yang pasti mengenai ceritaku ini. Cerita berkembang biak seperti cacing kremi. Ada cerita yang mengatakan bahwa Julani menelepon polisi dan melaporkan bahwa aku hilang diculik orang. Polisi datang dan hanya menemukan kursi roda di ruang tamu rumahku. Ada pula cerita lain yang mengatakan bahwa Julani jatuh sakit setelah aku menghilang. Ia dirawat di Rumah Sakit Jiwa Purnama Dibelah Dua. Di sana, setiap hari, Julani makan dan tidur di kursi roda.

Aku sendiri tidak tahu cerita mana yang benar. Aku bahkan tidak tahu apakah aku masih ada, ataukah aku hanya sebuah kursi roda yang banyak bicara?

Entahlah. Roda berderit. Aku membenci rumah sakit.

Lampung, 2026

________

 Penulis

Yulizar Lubay, fiksionis dan aktor teater di Komunitas Berkat Yakin Lampung.

Instagram: @yulizarlubay


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com