View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Latest News

Monday, February 23, 2026

Karya Guru | Pulang Siang | Esai Restu Andika Purnama Indah

Esai Restu Andika Purnama Indah



Dulu, saya kira hanya pelajaran Matematika yang dianggap rumit. Ternyata, setelah menjadi dewasa, hidup tidak sesederhana “saya suka kamu, dan kamu suka saya”. Selesai. Mungkin apa yang dikatakan Chairil Anwar dalam kutipan puisinya yang berjudul Karawang–Bekasi terasa lebih tepat: “Kerja belum selesai, belum apa-apa.”

Menjadi anak-anak memang identik dengan bermain, selain makan dan membuat keributan. Terlebih ketika duduk di bangku SD (Sekolah Dasar). Siang hari, tepatnya pukul dua belas teng, sudah pulang sekolah. Sesegera mungkin kembali ke rumah dan melakukan aktivitas lainnya: bermain (lagi, dan lagi). Menjelang magrib, mengaji di rumah guru ngaji yang juga tetangga di tempat tinggal saya.


Lalu, kapan tidurnya? Kemungkinan besar itu pertanyaan yang muncul dari orang tua. Jawabannya ada dua: tidur siang (setelah pulang sekolah) dan tidur malam (pukul 21.00 sebagai batas maksimal waktu istirahat). Konon, tidur siang sudah menjadi ritual krusial bagi sebagian besar orang tua dahulu, yang diperuntukkan dan diwajibkan bagi anak-anak mereka. Barangkali kebiasaan itu masih berlaku hingga saat ini, begitu pula dengan saya.


Waktu kecil, saya selalu disuruh tidur siang oleh orang tua. Tidak ada kata “tidak”, tidak ada penolakan, apalagi negosiasi. Bagi orang tua saya, tidur siang adalah ritual yang harus dilakukan. Anak ditemani—lebih tepatnya dijaga—hingga terlelap. Jika tidak, akan ada akibatnya: pernah mencoba kabur demi main bersama teman-teman, tapi tidak lama saya terjatuh dan kedua kaki (lutut) saya terluka. Namun, dari situlah saya baru ngeuh ketika beranjak dewasa, tepatnya saat duduk di bangku SMA (Sekolah Menengah Atas): ternyata tidur siang itu mahal.


Sejak SMA, tidur siang menjadi sesuatu yang langka. Dari pagi hingga sore harus belajar tanpa henti. Kalaupun ada jeda, itu hanya saat sekolah mengadakan kegiatan tertentu, barulah terasa angin segarnya. Berbeda ketika di universitas. Jam pembelajaran tidak selalu berurutan. Kadang pagi, siang, atau sore. Ada yang siang hingga sore. Tidak selalu konsisten dari pagi sampai sore seperti masa SD hingga SMA.


Pendidikan di Indonesia mengenal sistem pulang sore hari. Saat ini dikenal dengan istilah full day school, meskipun tidak diterapkan di semua jenjang. Sistem ini lebih banyak diberlakukan di jenjang SMA, meski kini mulai marak pula di SMP. Hampir setara dengan pekerja yang berangkat pagi dan pulang sore, bedanya, siswa tidak digaji. Barangkali sejak awal pendidikan kita memang disetel untuk mencetak karyawan, bukan pemimpin, terlebih pemilik usaha yang mereka bangun sendiri.


Padahal, semua itu bisa saja diwujudkan jika siswa diberi waktu lebih, misalnya pulang siang. Seusai menunaikan ibadah salat Zuhur (bagi umat Islam), mereka bisa menikmati tidur siang. Sore harinya, mereka dapat kembali beraktivitas. Bercengkerama bersama keluarga atau sekadar mager (malas gerak) di rumah pun tidak menjadi persoalan. Itu hak mereka.


Bahkan, ada pula yang memanfaatkan waktu luang dengan berjualan sebagai bentuk usaha untuk belajar berdiri di atas kaki sendiri. Sebagai calon pengusaha yang kelak mampu membuka lapangan pekerjaan tanpa basa-basi. Karena itu, biarkanlah mereka berekspresi sesuai dengan waktu luang yang mereka miliki.


Jika mengingat padatnya waktu pembelajaran di sekolah, sebentar lagi kita akan menyambut bulan Ramadan. Hanya di bulan Ramadan, waktu pembelajaran terasa lebih efektif (bagi saya). Bagaimana tidak, siswa yang biasanya belajar hingga sore hari, kini hanya setengah hari, sampai siang saja. Setidaknya mereka bisa bernapas lega, meski sementara, setelah ditempa tugas, ulangan, dan berbagai tuntutan lain.


Perlu diingat, fokus siswa di sekolah rata-rata hanya mampu bertahan sekitar dua puluh menit. Selebihnya? Pikiran mereka mulai bergentayangan: “Nanti istirahat makan apa, ya?” Barangkali itu salah satu isi kepala mereka.


Bukankah sekolah adalah rumah kedua bagi siswa? Rasa senang dan bahagia seharusnya menjadi sesuatu yang diidam-idamkan dalam pembelajaran. Belajar karena ingin tahu, ingin bisa. Bukan untuk ajang pamer, bukan pula untuk perlombaan menentukan siapa pemenang. Mereka tidak sedang berlomba. Kalaupun ada perlombaan, itu dengan diri sendiri: apakah hari ini lebih baik dari kemarin, atau justru sebaliknya?


Jika ilmu mampu membuat mereka merenung, maka tahap berikutnya adalah penerapan. Melalui proses itulah, barangkali pembelajaran yang bermakna akan benar-benar terasa.


Belajar dari sistem pendidikan luar negeri tentu boleh. Namun, di lapangan perlu dilihat pula bagaimana penerapan yang cocok bagi siswa di Indonesia. Jangan sampai sistem dari luar negeri di-copy paste mentah-mentah ke negeri ini.


Berkaca pada Jepang dan Korea, misalnya. Kedua negara ini dikenal sangat tekun dalam belajar. Saking tekunnya, jam pulang ke rumah bisa hingga larut malam karena adanya jam tambahan les atau bimbel (bimbingan belajar). Namun, tidak sedikit pula kasus hara kiri di Jepang dan bundir (bunuh diri) di Korea. Mungkin mereka lelah karena tekanan persaingan yang begitu berat, atau karena tidak pernah merasakan kebahagiaan dalam prosesnya.


Mengapa kita tidak belajar dari Finlandia, yang dinobatkan sebagai salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia? Waktu belajar di sana fleksibel, hanya sekitar 4–5 jam per hari, dengan waktu istirahat yang cukup panjang di setiap pelajaran. Anak-anak diberi ruang untuk istirahat dan menekuni hobi. Pekerjaan rumah pun sangat minim. Fokus pendidikan lebih ditekankan pada kreativitas, berpikir kritis, dan keseimbangan emosional, bukan semata kemampuan akademik.


Dari sana, pada akhirnya tumbuh rasa bahagia dalam diri anak, terutama dalam proses belajar. Tanpa kekangan, tanpa perundungan, dan tanpa tekanan untuk menjadi peringkat pertama. Barangkali, hal-hal semacam inilah yang sesungguhnya dibutuhkan siswa: belajar karena memang ingin bisa, tanpa tekanan dari siapa pun dan dari mana pun.

______

Penulis

Restu Andika Purnama Indah, lahir di Bandung, 4 Februari 1991. Ia adalah guru di SMAN 3 Kota Serang.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com



Karya Guru | Kejamnya Sistem atau Memang Gurunya yang Tertinggal? | Esai Mega Andini Putri

Esai Mega Andini Putri



Apa yang terbesit di benak kita ketika mendengar atau melihat kata “guru”? Orang pintar? Orang hebat? Sosok yang disegani? Figur yang harus serba bisa? Pribadi yang selalu mengutamakan orang lain? Atau justru seseorang dengan gaji yang imut? Tidak sepenuhnya salah jika penilaian-penilaian itu langsung muncul. Setiap orang memiliki definisinya masing-masing.

Sedikit berbagi pandangan, saya pribadi cukup tertarik pada penafsiran sebuah kata atau konsep yang kerap hadir dalam kehidupan sehari-hari—termasuk kata “guru”—yang kemudian ditinjau dari konteks lain, misalnya dalam konteks agama. Saya ambil contoh dari agama Hindu. Dalam ajaran Hindu, guru “…merupakan simbol bagi suatu tempat suci yang berisi ilmu (vidya) dan juga pembagi ilmu. Seorang guru adalah pemandu spiritual atau kejiwaan bagi murid-muridnya.”

Contoh lain datang dari agama Buddha. Dalam pandangan Buddha, guru “…adalah orang yang memandu muridnya di jalan menuju kebenaran. Murid seorang guru memandang gurunya sebagai jelmaan Buddha atau Bodhisattva.”

Jika ditilik dari definisi-definisi tersebut, guru tampak sebagai sosok yang luar biasa, bahkan disebut sebagai “jelmaan Buddha”. Kata jelmaan di sini, menurut pandangan pribadi saya, dapat dimaknai sebagai seseorang yang seolah diutus secara murni oleh Tuhan, benar-benar memiliki ilmu yang besar, serius, dan bertanggung jawab untuk menyebarluaskan serta mengimplementasikan ilmunya agar berdampak nyata bagi murid-muridnya. Intinya, guru bukanlah orang biasa.

Kilas balik ke masa ketika saya duduk di bangku kelas satu sekolah dasar. Saat itu, profesi guru kerap menjadi dambaan atau cita-cita sebagian anak-anak di generasi saya. Alasannya mungkin terdengar klasik: melihat guru yang mengajar di kelas, atau karena orang tua maupun anggota keluarga berprofesi sebagai guru.

Lalu, apa alasan saya sendiri ingin menjadi guru kala itu? Sejujurnya, saya tidak memiliki referensi dan motivasi yang kuat. Kemungkinan besar alasannya tidak jauh berbeda dari alasan-alasan klasik tersebut: guru dipandang sebagai sosok yang dihormati, disegani, bahkan ditakuti oleh murid-muridnya; guru terlihat sangat pintar—“kok bisa, ya, ngajarin Matematika yang, ya Allah, susah banget!”; iming-iming diangkat menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) karena orang tua kebetulan guru PNS; atau alasan eksternal lain yang membentuk pola pikir, “Udah jadi guru aja, kamu kan perempuan. Cocoknya jadi guru. Pulangnya siang, nggak sampai sore. Nanti kalau sudah berkeluarga masih bisa ngurus anak.”

Namun, kita semua tahu bahwa menjadi guru tidak semudah menjentikkan jari. Tidak ada proses instan seperti, “Wah, sudah dewasa nih, langsung bisa jadi guru.” Standar minimal yang saya ketahui, seseorang yang ingin menekuni profesi guru di Indonesia wajib menempuh pendidikan formal Strata 1 (S1) selama kurang lebih empat tahun, mempelajari berbagai disiplin ilmu dan SKS yang berfokus pada pendidikan, anak, serta jurusan yang dipilih.

Bahkan kini terdapat standar tambahan: seorang guru wajib memiliki sertifikat pendidik melalui Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang ditempuh selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Hal ini ditegaskan melalui regulasi pemerintah, yakni berdasarkan UU No. 14 Tahun 2005 dan Permendikbudristek No. 19 Tahun 2024, yang menyatakan bahwa guru wajib memiliki sertifikat pendidik sebagai bukti profesionalisme.

Walaupun saat ini saya belum berada pada standar tersebut, mungkin nanti. Kembali pada pembahasan standar minimal menjadi guru, itulah proses yang saya jalani sejak kuliah pendidikan pada tahun 2019 hingga kini mengajar di sekolah dasar, sembari berupaya terus meningkatkan dan memperbarui ilmu pengetahuan yang berkembang dari waktu ke waktu.

Saya sendiri belum lama menyandang status sebagai “guru”. Namun sebelumnya, saya memiliki pengalaman terjun langsung mengajar di beberapa sekolah dasar saat masih kuliah, tepatnya ketika mengikuti PPLSP (Pengenalan Pendidikan Lapangan Satuan Pendidikan) yang diutus oleh kampus, serta magang bersertifikat di bawah naungan Kemendikbudristek. Dengan kata lain, saya tidak sepenuhnya “buta” terhadap hiruk pikuk dunia pendidikan dan sekolah.

Menariknya, sejak awal perjalanan saya menuju profesi guru—bahkan ketika sudah duduk di bangku kuliah keguruan—saya tidak memiliki motivasi yang benar-benar ngena. Apakah karena alasan klasik masa kecil, dorongan eksternal, atau justru karena tidak ada alasan sama sekali. Hingga akhirnya saya lulus dan memperoleh gelar S.Pd (Sarjana Pendidikan). Saya merasa bangga, karena untuk meraih gelar ini banyak hal yang harus dilalui: sakit fisik dan mental, kehabisan uang, kehabisan waktu, kebingungan menghadapi skripsi, dan problem lain yang tidak mungkin saya jabarkan satu per satu.

Saat itu, pikiran saya sederhana: yang penting lulus, lalu melamar menjadi guru. Saya belum benar-benar memikirkan apakah saya sudah layak mengajar, bagaimana masa depan saya, tantangan dan beban profesi guru, atau bagaimana sistem dan kebijakan negara memperlakukan profesi ini, mulai dari upah minimum hingga profesionalisme.

Dengan dorongan dan sedikit paksaan dari orang tua, saya memberanikan diri melamar pekerjaan. Motivasi saya masih setengah-setengah, penuh keraguan, dan belum sepenuhnya yakin.

Saya pun menyusun CV (Curriculum Vitae) sebaik mungkin, memuat riwayat pendidikan, pengalaman, serta keterampilan yang bisa “dijual”. Tidak butuh waktu lama, saya mendapat panggilan dari salah satu sekolah dasar swasta yang cukup terkenal dan bereputasi baik untuk mengikuti tes microteaching dan tes pengetahuan.

Tes microteaching merupakan metode latihan untuk meningkatkan keterampilan dasar calon guru, dengan sasaran penguasaan empat kompetensi utama: pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial. Prosesnya menyerupai pembelajaran nyata, hanya saja dilakukan dalam waktu dan jumlah siswa yang terbatas. Tujuannya agar calon guru lebih siap menghadapi pembelajaran sesungguhnya.

Sayangnya, keberuntungan belum berpihak pada saya. Entah karena persiapan yang kurang matang atau kemampuan yang belum memadai, saya dinyatakan tidak lolos. Saya sempat sedih dan bertanya-tanya, mengingat saya telah mencantumkan berbagai keterampilan dan sertifikat pendukung. Namun, saya memilih melanjutkan langkah.

Beberapa minggu kemudian, saya kembali mendapat panggilan dari sekolah lain. Kali ini saya mempersiapkan diri dengan lebih serius: memahami materi, menyiapkan media dan modul ajar, melengkapi berkas, serta—yang terpenting—mempersiapkan mental dan komitmen. Singkat cerita, saya diterima sebagai asisten guru di kelas rendah.

Waktu berjalan. Saya belajar banyak hal: karakter murid, dinamika rekan kerja, sistem sekolah, hingga lingkungan kerja. Pada tahun ajaran baru, saya dipercaya menjadi guru kelas tinggi sekaligus menjabat sebagai humas sekolah. Awalnya saya senang, merasa dipercaya meskipun masih fresh graduate. Saya berpikir jabatan ini akan menjadi ruang belajar dan pengembangan diri, terlebih karena saya memiliki keterampilan yang memadai.

Dalam menjalankan peran sebagai guru kelas dan jabatan fungsional ini, saya termasuk orang yang idealis dan totalitas. Prinsip saya sederhana: jika sudah memegang amanah profesi, maka harus dijalani dengan sungguh-sungguh.

Namun, di titik tertentu, kejenuhan muncul. Saya merasa telah bekerja maksimal, tetapi tidak mendapatkan apresiasi yang sepadan. Bayangkan, sebagai pemegang jabatan ini, saya hanya menerima honor puluhan ribu rupiah per bulan. Bagi saya, ini bukan sekadar tidak layak, tetapi juga bentuk eksploitasi.

Ketika saya mencoba menuntut hak secara wajar, respons yang saya terima justru manipulatif. Saya dicap tidak bersyukur, rakus, dan hanya mengejar uang. Dalih yang digunakan selalu sama: ikhlas, amal jariyah, balasan Tuhan. Padahal ini dunia profesional, input dan output seharusnya seimbang.

Sebagai guru kelas, problem lain pun bermunculan: konflik dengan orang tua murid, dinamika tidak sehat dengan rekan kerja, hingga rasa iri terhadap kerja profesional yang saya lakukan. Saya mulai bertanya-tanya, mengapa justru mereka yang bekerja biasa-biasa saja, tidak disiplin, bahkan minim dedikasi, kariernya tampak lancar tanpa masalah?

Puncaknya terjadi ketika program PPG tahun 2025 bergulir. Saya menyaksikan rekan-rekan yang secara praktik di lapangan minim kompetensi justru terpanggil PPG. Masuk kelas tidak tuntas, metode mengajar seadanya, anak-anak kelas tinggi belum bisa membaca, kasus bullying dan pelecehan seksual yang luput dari perhatian, semua itu nyata. Namun mereka tetap diakui sebagai calon guru profesional.

Lebih ironis lagi, mereka yang bukan berlatar pendidikan keguruan bisa mengajar, mengikuti PPG, bahkan menyetarakan ijazah hanya dalam satu tahun. Sementara saya, lulusan murni PGSD yang menempuh pendidikan empat tahun, justru masih merasa kurang dan terus belajar.

Di titik inilah saya muak, bukan pada profesi guru, melainkan pada sistem. Sistem yang longgar, tidak adil, dan plin-plan. Sistem yang lebih mementingkan administrasi dibanding kualitas.

Saya sangat mendukung jika ke depan kompetensi guru diperketat dan kesejahteraan ditingkatkan. Gaji layak harus sejalan dengan standar profesional yang tinggi. Jangan menuntut bayaran mahal tanpa nilai yang pantas dibayar.

Harapan saya sederhana: ciptakan sistem yang tegas, adil, dan konsisten. Jika saya pun dinilai belum layak menjadi guru, saya siap mundur. Biarlah profesi ini diisi oleh mereka yang benar-benar kompeten, profesional, dan layak mendidik generasi bangsa.

Kabupaten Serang, 17 Februari 2026

______

Penulis

Mega Andini Putri, akrab disapa Mega, lahir di Serang pada 18 Mei 2001. Saat ini ia aktif mengajar sebagai guru di sekolah dasar swasta dan juga menekuni dunia content creator.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Sunday, February 22, 2026

Puisi-Puisi Sulaiman Djaya

Puisi-puisi Sulaiman Djaya 




Bukit Kecil 


21 Agustus 2025 

hujan telah pulang 

ke haribaan kenangan 

ke lubuk keheningan

dan selagi senja berteduh, 


ku-dengarkan saja 

arus sungai bersenandung. 

Angin yang berlari 

adalah hatiku 

mencandai kepolosanmu. 

 

Mungkin cinta seperti cuaca 

membasah mata 

merebahkan tubuh rinduku 

di serimbun sudut tahun. 

Segala kenangan 


berpacu dan beradu

ke jantung sepiku. 

Dan selagi waktu 

belum menjadi maut 

kupahami nasib 


seumpama kota-kota 

yang berganti 

puing-puing sejarah. 

Perang, pertikaian 

kerakusan dan keserakahan 


yang menyamar 

sebagai bisnis 

dan perdagangan 

di bilik-bilik pemilihan suara 

para penipu berkedok konstitusi. 


(2025) 


Sungai Setapak


Jalan panjangmu 

setapak rimbun usiaku

ranting-ilalang 

ditinggalkan musim. 

Dari mana mesti kutulis 

kegembiraan manusia, 

jika bukan keindahan 

kejujuranmu 

menerjemahkan hidup 


yang memang bukan 

jadwal dunia mesin. 

Gerimis, serakan kamboja 

tiba-tiba kubaca 


sebagai serpihan kebetulan 

nasib yang bukan kuasaku 

menentu umur. 

Aku pun selalu rindu 

kata paling lugu, ketika bahasa 

hanya jadi senjata 

dan propaganda

penyembah benda-benda 

berkedok agama. 


(2025) 


Ketika Aku Mencintaimu 


Ketika aku mencintaimu 

bunga tumbuh 

dari susunan kalimatku 

cuaca berjatuhan 

di pepohonan senja. 


Ketika aku mencintaimu 

yang semula dilanda nestapa 

tiba-tiba tertawa 

dan bernyanyi gembira. 


Dan ketika aku mencintaimu 

engkau taka da 

dalam perumpamaan 

dan bahasa 

kehilangan kiasannya. 


(2024) 


Pantun 


Rinduku padamu 

tersusun dari roti keju 

cuaca berkabut 

segelas susu 

rimbun pagiku. 


Rinduku padamu 

adalah debur laut 

menabrak syahdu matamu 

bergejolak beruntun 

ke hatiku.  


(2024)


Apa Puisi Itu? 


Bahasa yang jadi seni 

jadi musik

kata-kata yang bernyanyi

harapan dan nasib

yang disyukuri. 


Penyair hidup

dari pengalaman

memahami, membaca, menyimak

semesta, alam, kebetulan

dan mengisahkannya


kepada kekasih 

yang jatuh cinta 

dan kau membacanya

seakan kenyataan

yang kau akrabi. 


(2023) 


______

Penulis


Sulaiman Djaya lahir di Serang, Banten. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di Koran Tempo, Majalah Sastra Horison, Indo Pos, Pikiran Rakyat, Media Indonesia, Majalah TRUST, Majalah AND, Majalah Sastra Kandaga Kantor Bahasa Banten, Rakyat Sumbar, Majalah Sastra Pusat, Jurnal Sajak, Tabloid Kaibon, Radar Banten, Kabar Banten, Banten Raya, Tangsel Pos, Majalah Banten Muda, Tabloid Cikal, Tabloid Ruang Rekonstruksi, Harian Siantar, Change Magazine, Banten Pos, Banten News, bacapetra.co, basabasi.co, biem.co, buruan.co, Dakwah NU, Satelit News, liputan9, simalaba, Jurnal Kajian Dakwah dan Kemasyarakatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan lain-lain. Buku puisi tunggalnya Mazmur Musim Sunyi diterbitkan oleh Kubah Budaya pada tahun 2013. Esai dan puisinya tergabung dalam beberapa Antologi, yakni Wajah Deportan (Antologi Puisi Penulis Muda Lintas Provinsi 2009) Pusat Bahasa Jakarta 2009, Memasak Nasi Goreng Tanpa Nasi (Antologi Esai Pemenang Sayembara Kritik Sastra DKJ 2013), Antologi Puisi Indonesia-Malaysia, Berjalan ke Utara (Antologi Puisi Mengenang Wan Anwar), Tuah Tara No Ate (Antologi Cerpen dan Puisi Temu Sastra IV di Ternate, Maluku Utara Tahun 2011), Sauk Seloko (Bunga Rampai Puisi Pertemuan Penyair Nusantara VI di Jambi Tahun 2012)), Kota, Kata, Kita: 44 Karya Para Pemenang Lomba Cipta Cerpen dan Puisi 2019, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dan Yayasan Hari Puisi, Antologi Puisi ‘NUN’ Yayasan Hari Puisi Indonesia 2015, Yang Tampil Beda Setelah Chairil Anwar - Antologi Puisi Yayasan Hari Puisi Indonesia 2016, dan lain-lain.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com



Cerpen Depri Ajopan | Bertemu Presiden

Cerpen Deprian Ajopan

 

                              

Jurus pertama yang ia lakukan untuk membangunkan putrinya Nadia, ia membuka jendela, sampai cahaya masuk menjilat wajah Nadia. Kalau tidak berhasil, ia menggunakan jurus kedua yang belum pernah gagal, memasukkan speaker besar ke dalam kamar, menghidupkan lagu-lagu agama sekuat-kuatnya. Putrinya yang merasa terganggu bangkit dengan sendirinya dari tempat tidur setelah mendengar musik berdentum-dentum menusuk-nusuk telinganya. Pelan-pelan ia berjalan sempoyongan menuju kamar mandi, meninggalkan tempat tidur yang ia kencingi. Ia mengucek-ngucek mata, sambil menguap lebar. Dan ia melihat dunia yang terang ini masih remang. Lagian mau terlambat ia atau tidak ke sekolah, tidak akan ada guru yang menegurnya. Menurut mereka para guru di sekolah, lebih baik anak itu tidak datang. Ia tidak paham mata pelajaran apa pun yang sudah diterangkan guru berulang kali. Ketika ditanya apa sudah mengerti, ia jawab dengan menggeleng-gelengkan kepala tak peduli. Ketika ditanya guru apa cita-citanya, ia tak pernah menjawab seperti murid lain. Ia juga tidak tahu mapel yang ia sukai, dan tidak bisa menyebut siapa guru favorit yang ia sayangi. Baginya semua guru di situ sama saja, memandangnya sebelah mata, dan menganggapnya tak pernah ada. Kedatangannya hanya mengganggu konsentrasi murid lain ketika belajar. 

   
Ketika guru sedang menerangkan pelajaran, ia sering mondar-mandir, kemudian menyelinap masuk ke bawah meja, duduk santai ia di situ. Ia sentuh kaki kawannya, lalu ia tersenyum-senyum sendiri. Dan tak jarang ia belari ke depan, seperti larinya anak kecil berumur dua tahun. Ia duduk di atas kursi guru, menyentuh bunga di ata meja, dan memegang benda lainnya seperti buku-buku sampai berantakan, membuat hati gurunya mendidih. Kalau disuruh guru duduk, baik cara lembut, atau pun bercampur emosi biar ia takut dan serius mendengar pelajaran, pasti berujung kisruh dan kacau. Ia akan teriak-teriak, mengambil sesuatu yang didapatnya lalu melemparkannya pada guru, kemudian mengambil tasnya berlari pulang sambil menangis tersedu-sedu mengadu pada ibunya. 


* * *

     
Hari itu Bu Dewi, mamanya Nadia dipanggil wali kelas atas perintah kepala sekolah. Ia disuruh datang ke kantor. Ia masuk dengan tubuh terbungkuk-bungkuk menjulurkan tangan ke bawah melintas di depan guru-guru. Ia disuruh duduk di kursi sebelah kanan. Di sampingnya ada wali kelas dan kepala sekolah yang terbatuk-batuk kering, baru mematikan rokoknya. Kepala sekolah menyuruh wali kelas untuk memulai. Pelan-pelan wali kelas berbicara, dan mengawalinya dengan mukadimah singkat seperti seorang pemidato yang terburu-buru dengan hati bergetar. Dengan hati-hati, ia menyampaikan pesan orang-orang tua wali murid terkhusus kelas tiga SD yang satu kelas dengan Nadia. Mereka merasa keberatan atas kehadiran Nadia di sekolah yang mereka anggap perusuh. Wali kelas menyampaikan dengan bibir bergetar, agar secepatnya Nadia dipindahkan ke sekolah lain utuk kenyamanan bersama. Mereka juga bersedia turut membantu untuk memilih sekolah yang tepat buat Nadia yang siap menerima ia apa adanya. Bu Dewi sangat terpukul mendengar pernyataan itu. Selama ini ia tidak pernah komentar tentang kelakuan guru-guru yang agresif terhadap putrinya. 

     
Mengenai putrinya yang selalu dapat ranking terakhir di sekolah, tak pernah sekalipun ia berkoar seperti yang pernah dilakukan wali murid, datang ke sekolah dengan jalan tergopoh-gopoh, marah-marah pada wali kelas seperti baru keserupan setan, karena nilai anaknya jauh menurun dari semester sebelumnya. Begitu juga, mengenai putrinya Nadia yang sering datang berlari-lari kecil sambil menangis mengadu pada ibunya karena telinganya dijewer keras oleh guru di sekolah. Ia tak pernah datang menuntut. Ia juga dapat informasi baru-baru ini, putrinya yang dianggap mengganggu di ruang kelas ternyata sering disuruh keluar, lalu gurunya menutup pintu. Putrinya yang sendirian di luar hanya bisa mengintip ke dalam kelas lewat jendela kaca. Ia sangat bersyukur putrinya bisa sekolah di situ walaupun guru-guru memandangnya sebelah mata. Biar saja putrinya dianggap anak bodoh, yang penting ia tetap mau sekolah. Bagaimana susahnya dulu ia membujuk Nadia supaya mau sekolah, tidak ada seorang pun yang tahu. Ia sendiri yang berjuang keras. Ia sadar tentang putrinya yang banyak sekali kekurangan, tidak seperti anak pintar lainnya, menyebabkan ia didiskriminasi oleh gurunya. Tapi ia tidak terima kalau putrinya dikeluarkan dari sekolah, dan belum tentu juga putrinya mau pindah ke sekolah lain.  Apa pun yang terjadi ia harus melawan. Titik.

     
“Orang tua siapa yang merasa terganggu dengan adanya putriku sekolah di sini, secepatnya pertemukan aku dengan orang itu. Masa kalian tidak bisa mengurus masalah kecil seperti ini. Suruh saja Nadia keluar kalau mengganggu di kelas seperti yang sering kalian lakukan,” kepala sekolah dan wali kelas saling pandang. 

     
“Mohon maaf Bu, ini untuk kebaikan kita bersama,” wali kelas mencoba menenangkan suasana yang hampir gaduh dengan kata-katanya yang tenang menyerupai bisikan.

     
“Tidak, ini kebaikan untuk kalian saja, tidak untukku, juga tidak untuk putriku Nadia,” muka Bu Dewi memerah. Ia yang siap melakukan perkelahian jika diperlukan tetap duduk tak tenang di kursinya. Ia menggoyang-goyang kedua kakinya yang kepanasan.

     
“Cobalah mengerti dengan kami Bu, sudah berapa banyak wali murid yang komplain, datang marah-marah, dan mengancam kami. Kalau putri Ibu masih sekolah di sini, anaknya bisa dipindahkan ke sekolah lain. Bagaimana nanti nasib sekolah kami kalau kekurangan murid?” Kali ini kepala sekolah yang berbicara lebih lembut lagi. Cara ia yang  tenang, pertanda ia sangat berpengalaman menghadapi orang seperti Bu Dewi. 

     
“Apa kau bilang, kau suruh aku mengerti dengan kalian, sementara kalian tidak memahami perasaanku yang terluka. Kalau ada wali murid komplain dan mengancam anaknya dipindahkan sekolah, seharusnya kalau kalian pendidik yang bijak tidak mau mengikuti permintaan konyol seperti itu, biarkan saja anaknya berhenti, bukan putriku yang kena sasaran dikeluarkan dari sekolah. Masa kalian mau diatur-atur wali murid. Mana kepribadian kalian sebagai seorang guru, juga sebagai seorang pendidik?” Suara Bu Dewi meninggi. Kepala sekolah tetap tenang, tapi tidak dengan wali kelas itu. Ia yang kelihatan gelisah, posisi duduknya berganti-ganti.

     
“Putriku kan bukan seorang maling, tidak juga melukai anak-anak lain. Tidak pernah merusak fasilitas sekolah. Jadi tidak ada alasan yang sah kalau putriku diberhentikan dari sekolah ini,” dadanya yang mendidih terguncang-guncang, napasnya mendengus-dengus, matanya semakin merah. Kepala sekolah memandang sesaat wali kelas, memberi kode agar jangan dilawan, lebih baik diam saja dulu. Wali kelas yang langsung mengerti bahasa isyarat itu mengikuti perintah atasannya. 

     
“Kalau sampai putriku berhenti, awas kalian akan kulaporkan pada Bapak Presiden. Biar guru macam kalian dipecat,” Bu Dewi menunjuk dua orang itu, lalu bergegas pergi meninggalkan kantor setelah memperbaiki posisi jilbabnya yang bergeser. Ia pergi membawa hati yang perih.        

                                                 
* * *

     
Minggu pagi itu, Bu Dewi memanggil Nadia yang sedang bermain dengan teman-temannya di lapangan bola. Anak itu datang berlari-lari, langsung dipeluk ibunya yang berurai air mata. 


“Aku tidak akan berhenti memberikan pendidikan yang terbaik untukmu, Nak. Walaupun ayahmu, lelaki keparat itu, sudah pergi meninggalkan kita gara-gara perempuan lain. Setelah besar kau harus membenci ayahmu, Nak. Apa pun alasannya, kau tidak boleh menyayanginya. Ini perintah wajib dari seorang Ibu,” Nadia yang masih berpenampilan kumuh, berbau amis, dan berkeringat meronta-ronta dalam pelukan ibunya yang semakin erat.

     
“Nanti sampai di rumah, kau langsung mandi Nak. Ibu juga bersiap-siap. Setelah itu kita berangkat,” perintah Ibu Nadia yang baru melepaskan pelukan. Nadia tak tahu, ibunya mengajaknya pergi ke mana. Ia mengikuti saja perintah sang Ibu. Mereka berjalan beriringan menuju rumah tua, tempat tinggal mereka berdua. Ibunya memegang erat-erat tangan putrinya.

     
“Hari ini kita ke Jakarta.”

     
“Ngapain ke Jakarta Bu?” 

     
“Mau bertemu presiden.”

     
“Untuk apa?” Bu Dewi tak menjawab. Matanya yang menerawang sudah melihat ia bertemu presiden dalam bayangan.

     

______

Penulis


Depri Ajopan, lahir di Desa Lubuk Gobing, Sumatera Barat, 7 Desember 1989. Karya-karyanya dimuat di berbagai media massa lokal dan nasional serta di media daring. Ia bergiat sebagai anggota Komunitas Suku Seni Riau dan mengajar di Pesantren Basma Darul Ilmi Wassa’dah, Kepenuhan Barat Mulya, Rokan Hulu, Riau.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Puisi-Puisi Yanuar Abdillah Setiadi

Puisi Yanuar Abdillah Setiadi



Buku Paket


Menaruh rasa curiga

akan dijadikan sebagai

barang pajangan semata yang

lama-lama tidak menggoda juga.


Sesekali dibuka hanya

agar Pak Guru yang

budiman tidak naik pitam

lalu meluncurkan kata keras.


Keterpaksaan kadang 

tidak menggugah 

dengan lemah lembut

justru membuat siswa 

semakin cemberut.


Anak-anak, 

aku adalah

taman bermain

di dalam diriku ada berbagai wahana

yang mengasyikan pikiran. 


Itulah goda buku pada bocah 

yang lebih asyik menggenggam telepon

ketimbang buku


Dijamin, setelah tuntas 

bermain dengan kata

kau akan menjadi 

pengelana tangguh.


Purbalingga, 2026 



Balada Pujangga


Aroma kopi menemani

pujangga di meja kerjanya

yang penuh dengan

remah-remah huruf.


Aroma kopi memunguti

satu persatu huruf itu

untuk ditempelkan pada

secarik kertas yang suci.


Ia dan pujangga bersama-sama

menjodohkan huruf agar menjadi 

kata-kata  yang sakinah, mawaddah

wa rahmah dalam haribaan sajak.


Hujan ikut menyaksikan 

pertunjukan tersebut.

Ia menyumbangkan sebuah

musik yang barangkali

bisa menjadi terapi alami

bagi telinga penulis.

Berharap prosesi 

perjodohan huruf

bisa berjalan dengan lebih khidmat.


Purbalingga, 2026 



Kisah Kehidupan di Angkringan


Kepul panas teh

menghalau kepenatan yang

telah menumpuk di kepala 

pekerja kantoran.


Tempe bacem, tahu bacem

memberi isyarat hidup 

pada pengelana malam

bahwa hidup bisa nikmat tanpa

harus mahal.


Sate usus, sate telor puyuh

menegaskan jika dalam hidup

banyak sekali perbedaan 

yang harus kita tusuk menjadi

satu kesatuan agar bisa lebih

enak disantap mata dan cinta.


Ah, kopi juga berceramah jika manis-pahit

itu seperti kesulitan dan kemudahan

yang silih berganti merondai hidup manusia.


Di Angkringan, pelajaran digelar

bahwa kemanusiaan itu masih ada 

selama kita bercengkrama.


Purbalingga, 2026 



Mengelilingi Kota di Malam Hari


Seorang pujangga mengelilingi kota

di malam hari yang dibasuh hujan.

Di sepanjang jalan ia belajar

mengeja puisi dari gerobak abang tukang bakso

yang kecipak kakinya lebih syahdu dari puisi.


Di beberapa titik, ia terbata juga

saat membaca nasib seorang anak yang 

hingga larut malam menemani ibunya berjualan

wedang ronde.


Ia beranikan diri untuk tetap melaju

Betapa sensitif hati dan matanya


Ia kembali tak kuasa membaca berapa porsi

Es Teh yang terjual dari gerobak

nenek tua yang dikerjai oleh hujan.

Sesekali ia juga tersenyum riang

melihat abang penjual mie ayam

mengumbar senyum lantaran hujan

datang menggandeng pembeli.


Setelah berkeliling, pujangga 

kembali ke sajaknya dan menulis.


Betapa mulia mereka yang istikamah

menjemput jejak rezeki

meski hujan datang mengaburkan

langkah kaki rezeki.


Purbalingga, 2026 



Balada Seorang Penulis


Setiap malam ia selalu tengkar

dengan kata-kata yang

sudah menghadangnya di ujung gang.

Penulis sudah menyiapkan pena

barangkali  bisa menikam kata

hingga tidak berdaya.

Kondisi tidak bisa dibaca seenaknya saja.

Ternyata kata datang bergerombol.

Kepala penulis digerumuti huruf.

Ada yang memerah, ada yang bintik

ada pula yang luka dalam.

Pujangga akhirnya mengobati 

lukanya dengan meminum

puisi tiga kali dalam sehari.

Ia pun bisa sembuh dengan lekas

berharap agar pertarungan 

dengan gerombolan kata bisa

digelar kembali.


Purbalingga, 2026


________


Penulis


Yanuar Abdillah Setiadi, lahir di Purbalingga, Januari 2001. Mukim di Desa Timbang, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga. Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Alumnus Pendidikan Bahasa Arab di kampus yang sama. Tiga buku mutakhirnya berjudul Mengaji Pada Alif (2023), Melihat Lebih Dekat (2024). Wajah Purwokerto: Antara Cinta, Suka dan Duka di Kota Satria (2026). Nominator Terminal Award Mojok.co Yogyakarta tahun 2023. Karyanya termuat di berbagai media. Instagram: @yanuarabdillahsetiadi. 


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Cerpen Rosul Jaya Raya | Penangkaran Anak-Anak

Cerpen Rosul Jaya Raya



Tatkala hidupmu bebas menghidu aroma zaman, kamu perlu membaca kisah pilu Kamelia. Hidupnya dalam sekat; andai kata aku tak membawanya kabur, Kamelia tak akan menghidu kebebasan. Apa kamu pikir perbudakan sudah benar-benar terhapus di zaman yang menuhankan prinsip kemanusiaan ini?


Tatkala aku melempar tanya pada Kamelia soal hunian masa kecilnya, yang akan kamu dengar bukan rumah romantis; dimanja ayah dan ibu; disayang saudara dan kerabat; penuh canda dan tawa; atau hal lainnya yang menunjukkan keluarga cemara. Niscaya kamu akan nanap lalu terenyuh pada masa kecil Kamelia. Tapi, walau pilu, ini penting aku ceritakan padamu, agar kamu menolong kami untuk membebaskan kawan-kawannya yang masih terperangkap dalam perbudakan dan pencucian otak paling horor.


***


Di sepotong hari, keberadaan kami yang tengah bersembunyi di rumahku kepergok oleh Ronald dan istrinya, Maryam. Ada dua pengawal membersamai mereka. Tubuh dua pengawal itu tegap—otot-otot kekar mereka tersembunyi di balik pakaian. 


"Kamelia, ayo pulang! Jangan berteman orang asing. Bahaya. Kau akan dijahatinya," kata Ronald pada Kamelia. Ronald mencengkeram pergelangan tangannya. 


Tahukah kamu, yang aku harapkan kala itu tak terjadi. Kamelia masih jadi budak yang mematuhi tuannya. Kamelia tak berontak. Aku gelebah; tak membuncah tindakan apik untuk menyelamatkan Kamelia. Hanya bergeming. Andaikan aku berteriak meminta tolong warga, aku yang bisa-bisa dihajar karena dituduh menculik Kamelia—baru sehari Kamelia bersamaku lantas keesokan harinya Ronald dan Maryam datang menjemputnya. 


Beruntung saat itu, aku gegas memacu mobil. Mobilku berhasil membuntuti mobil Ronald dan Maryam sampai melalui jalan yang membelah hutan jati. Tanpa disadari oleh mereka bahwa aku membuntuti. Aku melihat mobil mereka berbelok ke arah hunian besar berpagar tinggi. Hunian itu nian megah. Anomali bukan? Karena berdiri di hutan jati, sementara rumah-rumah lainnya nun di luar hutan jati. 


Sepekan aku menginap di rumah kawan; yang dekat kawasan hutan jati itu. Karena sering bolak-balik ke hutan, aku beralasan hendak meneliti pokok-pokok jati. Aku kehabisan akal bagaimana cara menyelamatkan Kamelia. Mustahil. Tak ada celah senoktah pun. 


Aku pernah menyamar jadi kurir, dan sekadar berhasil masuk ke dalam hunian nian megah itu yang terdiri dari beberapa hunian mewah: 6 bangunan berjejer di sana; 3 rumah di sebelah barat dan 2 rumah ditambah sebuah gedung pelatihan di sebelah timur; sementara penangkaran binatang terletak di belakang kompleks hunian mewah itu. Tapi aku tak bersitatap dengan Kamelia. Belum lagi cara untuk membawanya kabur dari sana mustahil, karena hunian itu dijaga ketat oleh para satpam. 


Kamu tahu mengapa Ronald dan Maryam bisa demikian kaya hingga punya beberapa hunian itu? Kamu akan tahu jawabannya selepas nanti aku ceritakan. 


Di sana, aku menatap anak-anak bermuka lugu tengah bermain di halaman kompleks itu. Seorang bocah perempuan—kira-kira berumur delapan tahun—menghadapkan kepalanya ke pokok mangga; menangkupkan mata pada tangan; menghitung mundur dari angka sepuluh. Sementara bocah lainnya mencari tempat bersembunyi. Mereka tampak ceria. Padahal, tanpa mereka sadari, mereka sedang terkurung di kandang budak. Mereka seperti Kamelia kecil yang tengah menyongsong kesengsaraan di masa depan. 


Pokok mangga itu di sebelah barat; di sekitarnya adalah hamparan taman; di tengah taman itu ada kolam ikan hias yang dikelilingi patung. Sementara di sebelah timurnya adalah gedung pelatihan yang ukurannya lebih besar dari rumah-rumah di sana. Bocah-bocah itu sekejap lagi akan masuk ke gedung pelatihan, menyusul orang-orang dewasa yang tentu sudah di dalam. Kala itu, aku tak tahu banyak soal hunian horor di sana; tak tahu kalau Kamelia sedang terikat di gudang gelap: tangan dan kakinya dirantai, diancam dengan brutal, dipukuli balok, bahkan Kamelia menyantap makanannya seperti binatang. Aku tahu semuanya selepas Kamelia berkisah padaku. 


Tatkala hampir putus asa bagaimana cara menyelamatkan Kamelia, aku melihat postingan di media sosial bahwa Sirkus Garong akan pentas sebulan setengah lagi, di kota Z. Aku menambun rencana untuk membawa Kamelia kabur. Kami tak akan kabur ke rumahku yang dahulu—rumah itu akan aku sewakan sebagai kos. Aku akan memboyong Kamelia ke kampung halaman, tapi sebelum itu aku mesti cari tahu bagaimana caranya Ronald dan Maryam bisa melacak keberadaan Kamelia. 


Kemudian, aku memasuki tenda sirkus yang berdiri di lapangan; tenda-tenda kecil dan lapak-lapak para pedagang melingkunginya. Aku membayar tiket masuk 50 ribu. Aku nanap dan terenyuh ketika menatap para pemain sirkus itu berakrobat, atas apa yang dialami di belakang penampilan luar biasa itu: tatkala latihan di hunian horor. Dan untung saja Kamelia ikut tampil. Aku kira Kamelia masih dikerangkeng di gudang gelap. 


Kamelia menari dengan empat gadis lainnya—wajah mereka tak dihias jadi badut seperti para lelaki. Lalu Kamelia dan dua pemain lain bergelantung pada dua tali yang terangkat. Lalu dua tali itu berputar-putar dan Kamelia berakrobat. Lalu ketika dua tali itu terangkat lebih tinggi dan berayun-ayun, Kamelia melompat; jungkir balik hingga tangannya berhasil meraih tangkapan kawannya yang bergelantung pada dua tali lain. Jantungku berkedut-kedut menyaksikan tiga pemain yang saling melompat; jungkir balik, menangkap, berputar-putar, menari-nari, pada tali-tali itu. 


Pada waktu jam istirahat pentas Sirkus Garong itu, aku keluar dari tenda sirkus. Dari luar tenda, mataku tak henti-hentinya mengekor ke arah tenda, berharap Kamelia keluar. Tatkala Kamelia tak kunjung timbul, aku masuk ke dalam tenda; beralasan pada para penjaga kalau ada barangku tertinggal di dalam. Sayangnya, salah seorang penjaga membuntutiku yang tengah berpura-pura mencari barang. Aku tak bisa bergerak banyak kala itu, maka aku sekonyong keluar dengan hasil nihil—tak menatap sama sekali sosok Kamelia. Lantas, tatkala sekejap kemudian aku keluar dari tenda sirkus, Kamelia juga keluar menuju suatu tempat. Pada akhirnya kami berjumpa. 


"Percayalah, Kamelia. Kamu akan aman denganku."


"Kau bohong. Kau mau menjahati saya."


"Tidak Kamelia. Cepatlah, pliiisss. Aku berniat menolongmu. Waktu kita tak banyak." 


"Saya takut." 


Air mata Kamelia berlelehan, napasnya terpegat-pegat. "Hiks-hiks-hiks. Tuan Ronald akan kasih siksaan lebih kejam, hiks-hiks, kalau aku ketangkap lagi, hiks-hiks." Suaranya terpatah-patah. Jiwaku jadi tersayat-sayat. 


"Aku punya tempat aman. Kita akan bersembunyi. Tenang saja. Kamu tak akan disiksa dan ketemu Ronald lagi."


"Tidak mau, Gumilang. Hiks-hiks-hiks. Saya harus mengabdi pada Tuan dan Nyonya, hiks-hiks." 


"Itu bukan pengabdian, itu perbudakan Kamelia. Ayo waktu kita tak banyak. Sebelum ada orang suruhan Ronald melihat kita. Aku sudah siapkan ini," aku menyodorkan pakaian, kerudung, dan masker. "Tinggalkan bajumu. Gegas pakai ini. Kamu harus menyamar." 


Aku keluar dari toilet perempuan itu. Untung saja detik itu, tak ada orang lain di sana selain kami. Syukurlah, Tuhan mengulurkan tangan-Nya pada kami. 


***


Selepas kamu tahu siasat aku membebaskan Kamelia, akan aku ceritakan masa kecil pilu Kamelia yang sudah tercuci otaknya hingga demikian lugu. Aku harap kamu fokus membaca kisah ini. Lantas ketika selesai membacanya, aku minta tolong padamu untuk membantu kami menyelamatkan kawan-kawan Kamelia yang masih terperangkap dalam perbudakan dan pencucian otak paling horor. 


Dalam batok kepala Kamelia dan kawan-kawannya, sejak kecil hingga kini, hal biadab yang menjangkiti mereka adalah suatu kewajaran. Mereka terus berlatih semaksimal mungkin, agar tak beroleh hardikan dan siksa: cambukan, pukulan, tendangan, setruman, dan lainnya dari Ronald atau Maryam. 


Jikalau terjadi kecelakaan ketika latihan seperti yang pernah dialami salah seorang kawan Kamelia bernama Sekar, sampai bikin kaki Sekar lumpuh, maka masa depan Sekar seolah tanpa arti karena tak bisa lagi menyuguhkan penampilan terbaik pada Ronald dan Maryam. Sekar merutuki diri sendiri di sisa hayatnya sampai kelak berangkat ke surga. Betul Sekar terbebas dari bermacam hardikan dan siksaan—Sekar tak akan latihan dan tampil lagi—tapi kebebasan itu justru jadi hukuman paling pahit bagi Sekar. Entitasnya bagaikan telah fana; lebur.


Ketahuilah, Kamelia kecil dan kawan-kawannya tak bisa baca-tulis. Mereka tak pernah disekolahkan Ronald dan Maryam. Tentu saja, anak-anak yang terdidik adalah ancaman bagi suami-istri itu. Jikalau mereka mencerup pendidikan, tak menutup kemungkinan kelak saat dewasa mereka akan memberontak pada Ronald dan Maryam. Maka, suami-istri itu tak pernah mengajarkan ilmu apa pun pada mereka, kecuali doktrin-doktrin jahanam yang memenjarakan pikiran mereka. 


"Putriku yang cantik. Kau harus latihan lebih keras. Ingat ya, apabila penonton terhibur dengan penampilanmu, kau akan dapat pahala. Dan pahala itu yang akan bawa kamu ke surga: tempat paling indah yang didamba setiap manusia," kata Ronald suatu waktu pada Kamelia kecil. Perkataan serupa itu tentu saja disampaikan pada kawan-kawannya. 


Bagaimana bisa Kamelia kecil dan kawan-kawannya sekolah, sebab untuk keluar hunian saja mereka dilarang. Hidup mereka terisolasi dan tersekat. Mereka tak tahu bagaimana ihwal dunia luar. Ronald dan Maryam juga melenyapkan seantero akses ke dunia luar: televisi, radio, buku, koran, majalah, dan ponsel. Hari-hari mereka sekadar ditandaskan dengan latihan berleret-leret agar kelak jadi pemain sirkus andal ketika dewasa. Tak peduli rasa nyeri sekujur tubuh, karena memang tubuh mereka dipaksa gigih; tahan; lincah; dan lihai. 


Di sepenggal hari, Kamelia kecil dan kawan-kawannya mendapati Mas Hendrik hendak berangkat ke surga. Mobil ambulans membawa orang yang sudah berusia 38 tahun itu; yang telah pensiun sebagai pemain Sirkus Garong. Menurut keyakinan mereka: mobil ambulans adalah kendaraan ke surga—ini termasuk doktrin dari Ronald dan Maryam. Sejak itu mereka tak pernah melihat Mas Hendrik lagi. Mas Hendrik seorang yang sungguh berbelas asih pada anak-anak. Mereka nestapa dan Kamelia kecil merasa kehilangan bagian hidupnya—ibarat perasaan seseorang yang kewafatan salah satu keluarganya. Sampai kapan pun Kamelia terus merindukan Mas Hendrik yang selalu melontarkan lelucon-lelucon untuk menghiburnya di masa kecil. Tatkala suara sirine ambulans meraung-raung, mereka dan orang-orang dewasa akan mengeriap lalu memeluk orang yang sebentar kemudian dibawa mobil dari surga tersebut. 


"Anak-anakku, Mas Hendrik sudah senyum di surga. Ia sudah sedekah sangat besar untuk umat manusia. Ia mendonorkan ginjal, jantung, paru-paru, pankreas, dan hati. Suatu saat ketika pensiun, akan tiba giliran kalian. Gapailah surga anak-anakku," kata Maryam di hadapan mereka suatu waktu. 


Pada akhirnya, tak akan terpetik keinginan untuk kabur, karena sejak kecil Kamelia berpandangan begitulah cara manusia menjalani hidup. Kamelia seperti kawan-kawannya yang tak ingin mengecewakan Ronald dan Maryam. Dengan segenap cara meski bikin fisik dan psikis Kamelia menderita, Kamelia harus menyenangkan hati Ronald dan Maryam. Itulah tujuan hidupnya. Tak kepalang bungahnya apabila Kamelia berhasil menampilkan atraksi atau berlatih dengan benar, yang bikin Ronald dan Maryam mengulas senyum. Dan akan menerima segenap hardikan dan siksaan dengan tabah, jikalau Kamelia berbuat teledor ketika menampilkan atraksi atau tak berlatih dengan baik. 


Kamelia kecil dan kawan-kawannya tak tahu siapa ayah dan ibu mereka. Mulanya mereka bersyak wasangka Ronald dan Maryam yang melahirkan mereka. Sampai mereka sering kedatangan bayi-bayi baru yang jebrol dari para pemain sirkus dewasa. Bayi-bayi itu jebrol dari hubungan paksa para pemain sirkus dewasa, sebelum beberapa tahun kemudian mereka pensiun, lalu berangkat ke surga dengan ditransplantasikan organ-organ dalam mereka. Ronald dan Maryam mengiktikadkan: meski mereka tak lahir dari rahim Maryam, suami-istri itu akan menyayangi mereka selayaknya ayah dan ibu. Akhirnya mereka berkesimpulan kalau Ronald dan Maryam bukan ayah dan ibu mereka; mereka yakin ayah dan ibu mereka sedang menanti di surga. Kelak mereka juga akan tabah menerima paksaan (bersenggama) untuk memproduksi bayi-bayi, lalu jadi ayah dan ibu, lalu.... 


Aku yakin sekarang kamu tahu alasannya mengapa Ronald dan Maryam bisa punya kendali penuh pada Kamelia hingga mudah saja mereka membawa pulang Kamelia dari rumahku ke hunian horor itu. 


Kini, aku dan Kamelia sedang mengumpulkan bukti-bukti bersama lembaga-lembaga perlindungan anak dan perempuan dan hak asasi manusia soal Sirkus Garong dan hunian horor itu. Ya, selepas alat pelacak seukuran cip yang melekat di punggung Kamelia aku hancurkan hingga mereka tak akan mendeteksi keberadaan kami, aku resmi menikahi Kamelia agar dirinya sah secara hukum di bawah naunganku; tak kembali ke tangan Ronald dan Maryam lagi—meski sukar juga mengurus tetek bengek administrasi ke negara sebab Kamelia tak punya kartu keluarga dan akta kelahiran. 


Maukah kamu menolong kami? Aku mohon, kami perlu bantuan banyak pihak. Perbudakan ini terjadi di dekat kami; di sekitarmu; di negara ini. Dan ini bukan kisah fiksi. Sekurang-kurangnya, viralkan kisah ini di segenap akun media sosialmu. 


Surabaya, 20 Mei 2025


_______


Pemulis


Rosul Jaya Raya, penulis kelahiran Bekasi 2002, berdarah Madura, kini berdomisili di Surabaya. Masuk daftar 10 Emerging Writers Ubud Writers, and Readers Festival 2025. Beberapa kali memenangi lomba kepenulisan cerpen. Bisa dihubungi di Instagram @rosuljayaraya24. 


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Saturday, February 21, 2026

Resensi Kabut | Liburan dan Indonesia

Oleh Kabut



Yang pernah menjadi murid masa Orde Baru pasti ingat tugas yang diberikan para guru setelah ujian dan sebelum penerimaan rapor. Tugas yang menyenangkan bagi yang suka bercerita. Namun, tugas itu mengganggu bagi anak-anak yang ingin bermain dan liburan sepenuhnya tanpa kepikiran membuat tulisan. 


Maka, karangan-karangan yang dibuat murid-murid SD masa lalu biasanya bertema liburan. Kita mengingat cerita-cerita yang hampir sampai. Yang terkenal adalah berlibur ke rumah nenek dan kakek. Artinya, anak meninggalkan rumahnya, berpisah dari bapak dan ibunya. Ia menuju desa atau kota, tempat tinggal kakek dan neneknya. Mereka liburan kadang ditemani bapak dan ibu. Keseruan bila mereka “terbebas” dari bapak dan ibu yang suka mengatur dan memerintah.


Apa yang menyenangkan dalam liburan? Kita membuka lagi halaman-halaman kenangan. Liburan dengan pergi ke kebun binatang itu biasa. Yang menuju pantai atau tempat wisata hanya terkesan sesaat. Mengapa liburan di desa biasanya lebih menakjubkan ketimbang di kota? Dua tempat itu punya misteri yang berbeda. Konon, misteri yang paling banyak terdapat di desa. Artinya, murid yang berlibur semula berada di kota. Ia menuju desa dengan anggapan-anggapan yang bakal menguak beragam perbedaan. Adanya perbedaan belum tentu mencipta keselarasan. Yang gagal menyesuaikan diri malah terlibat dalam konflik dan kekacauan.


Jadi, kita yang mau mengumpulkan hasil tulisan ribuan murid di seantero Indonesia terduga menemukan pola dan selera yang sama: liburan. Mereka bercerita secara urut. Banyak yang ingin dimasukkan dalam cerita agar menjadi panjang sesuai permintaan guru. Apakah ada hal-hal yang akan dinilai bermutu? Yang rajin membaca lekas menemukan kejenuhan. Pembaca berhadapan dengan klise-klise. Padahal, selama puluhan tahun, tugas mengarang melulu tentang liburan. Pada masa sekarang, keinginan menulis bertema liburan masih berlaku pada murid-murid di SD dan SMP.


Kita tidak bisa membuat larangan. Murid-murid mau membuat karangan saja sudah patut diberi penghargaan. Yang menyusun tugas itu memerlukan tenaga, ingatan, imajinasi, dan lain-lain. Ada beberapa murid yang memilih meniru saja tulisan temannya dengan sedikit perubahan. Yang membikin kita penasaran: guru-guru betah dan mampu menyelesaikan semua cerita yang dikumpulkan oleh murid-muridnya? Kita memiliki dugaan jelek bahwa guru asal-asalan memberi nilai. Guru punya banyak kesibukan, yang tidak mungkin menghabiskan jam-jamnya untuk membaca cerita buatan anak yang ditulis tangan. Bayangkan jika tulisan-tulisan tangan itu jelek dan amburadul. Maka, yang membaca akan tersiksa dan kelelahan.


Kenangan itu terbaca lagi saat kita membuka buku berjudul Berlibur di Kampung Halaman Kakek gubahan Umi Zubaedah. Buku diterbitkan oleh Effhar Coy, 1976. Dulu, buku masuk dalam koleksi perpustakaan Putera Harapan, SD Cakraningratan, Surakarta. Buku yang mendapat stempel perpustakaan, yang berarti boleh dibaca murid-murid. Apakah buku itu dibaca atau termasuk yang digemari murid-murid? Di bagian belakang, kita menemukan lembaran keterangan peminjaman. Ternyata, lembaran itu kosong. Buku belum pernah dipinjam secara resmi oleh murid. Kita menduga buku pernah dibaca di ruang perpustakaan tanpa dibawa pulang selama beberapa hari. Maklum saja nasib buku cerita anak di perpustakaan. Maksudnya, banyak buku yang tidak bermutu. Murid-murid tidak menyukainya itu wajar.


Pengarang bercerita Sutanto dan Sutanti. Mereka bersaudara, masih belajar di SD, beda kelas. Mereka bergembira dengan kabar kedatangan kakek. Yang mereka impikan adalah ikut pulang ke kampung halaman kakek. Keluarga tinggal di Semarang. Kampung halaman kakek di Kebumen. Jarak yang jauh sudah menimbulkan imajinasi kegembiraan dan petualangan. Mereka berlibur setelah penerimaan rapor, yang hasilnya bagus.


Yang diceritakan adalah tokoh-tokoh terbaik, yang inginnya ditiru para pembaca. Kita mendapat perkenalan tokoh: “Sutanti memang anak yang soleh, yang selalu ingat kepada Tuhan. Ia adalah salah seorang murid yang ingin mematuhi apa yang tertulis pada dinding rumah sekolahnya, yang berbunyi: bertakwa, belajar, dan bekerja. Semboyan yang selalu harus tertanam pada setiap pelajar dalam alam pembangunan. Sutanti adalah seorang murid teladan. Ia selalu ingat kepada Tuhan, ia selalu tekun belajar, ia selalu rajin berlatih dalam kepramukaan, dan ia selalu tak mengabaikan pekerjaan di rumah, membantu dan meringankan beban ibunya.” Anak-anak yang membacanya boleh “menyerah” sejak awal. Tokohnya sempurna. Pengarang semestinya sadar bila memberi tokoh yang sempurna itu membebani pembaca.


Perjalanan terjadi dengan naik bus. Dua anak itu kaget sekaligus gembira. Pengalaman naik bus dengan rute yang jauh memberi kejutan-kejutan. Kita mengingat bus yang mencipta memori publik. Pada masa lalu, naik bus itu tidak mudah. Di terminal, biasa berkeliaran para calo dan pencopet. Pengalaman berada di terminal itu menyibak bobroknya Indonesia. Yang berada dalam bus belum dijamin nyaman. 


Pada saat melewati beberapa tempat, Kakek menyempatkan bercerita sejarah. Sutanto dan Sutanto sebagai cucu yang menghormati kakek, mendengar beragam cerita kepahlawanan, yang sangat diperlukan oleh rezim Orde Baru dalam menegakkan patriotisme. Kita percaya bahwa cerita itu makin membuat anak-anak jenuh. Membacanya malah mendapatkan nasihat-nasihat dan pengulangan tentang pelajaran sejarah, yang disampaikan secara menjemukan di sekolah. Apakah anak-anak harus selalu menjadi sasaran untuk mengawetkan dan membesarkan sejarah yang diperalat penguasa?


Kita mengutip yang terlihat selama perjalanan: “Di tapal batas kota Magelang, bus melewati kompleks AKABRI, yakni Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.” Tempat yang sangat penting bagi Soeharto yang berkuasa oleh kekuatan Golkar dan tentara. Yang disampaikan kakek: “Tempat itu tak ubahnya dengan kawah condrodimuko bagi sang satria Gatotkaca. Tempat itu untuk penggemblengan para satria, calon-calon prajurit pengawal nusa dan bangsa Indonesia. AKABRI dapat juga disebut sebagai lambing kesatuan perjuangan para teruna angkatan bersenjata.” Apa yang menarik dari cerita yang dibuat Umi Zubaedah?


Yang wajib diketahui para pembaca, kakek adalah veteran, sosok yang mengetahui babak perjuangan di Indonesia. Veteran yang terus berusaha dalam hidup, tidak mau menjadi beban negara. Sosok kakek yang diceritakan: “Membuka usaha sendiri di rumahnya. Yakni, jual beli besi tua. Banyak para pandai besi menjadi langganan. Persediaan besi tua dengan segala macam bentuk dan ukuran, tertimbun di halaman depan dan samping.”


Sutanto dan Sutanti berhasil sampai kampung halaman kakek. Halaman-halaman untuk pengalaman mereka tersisa sedikit. Kita belum terlalu penting untuk menceritakan ulang. Yang sudah kita temukan dari buku cerita adalah hal-hal yang dipentingkan oleh pemerintah. Tokoh-tokoh yang dihadirkan dalam cerita menjadi juru bicara untuk mengajak anak-anak yang membacanya berpikiran berat dan besar tentang Indonesia. Yakinlah, cerita yang kurang menghibur! Temanya tentang liburan tapi membuat pembaca tidak memiliki ketertarikan.


________


Penulis 


Kabut, penulis lepas.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Friday, February 20, 2026

Dakwah | Puasa Ramadhan: Jalan Menuju Cinta Allah

Oleh Ust. Izzatullah Abduh, M.Pd.



Bismillah walhamdulillah washsholatu wassalamu la rasulillah.


Ibadah puasa adalah jargonnya amalan di bulan Ramadhan. Ia bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan ibadah paling prioritas yang wajib kita beri perhatian besar.


Tidak ada puasa yang Allah wajibkan atas umat ini selain puasa di bulan Ramadhan. Bahkan Allah menjadikannya sebagai salah satu rukun, pondasi utama bangunan Islam.

Perintah Puasa dalam Al-Qur’an

Allah ﷻ berfirman:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ۝ أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Yaitu) beberapa hari yang tertentu (hari-hari Ramadhan).” (QS. Al-Baqarah: 183–184)


Dan Allah tegaskan lagi:


شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang haq dan batil). Maka barangsiapa di antara kamu menyaksikan bulan itu, hendaklah ia berpuasa.” (QS. Al-Baqarah: 185)


Bahkan Rasulullah ﷺ menegaskan kedudukannya sebagai rukun Islam:


بُنِيَ الإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الْبَيْتِ

“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Karena itu, jamaah sekalian, jadikanlah puasa kita sebagai ibadah yang berkualitas. Bukan hanya menghasilkan pahala besar, tetapi juga mendatangkan cinta Allah.


Dalam hadits qudsi Allah berfirman:


وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ

“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan atasnya.” (HR. Bukhari)


Bayangkan… ketika kita berpuasa kurang lebih 12 jam setiap hari, kita sedang mengerjakan ibadah yang paling Allah cintai—karena ia adalah kewajiban.


Artinya, selama itu pula kita berada dalam suasana ibadah, dalam limpahan rahmat dan dicintai Allah.


Lebih dahsyat lagi, bahwa jika Allah telah mencintai seorang hamba, cinta itu diumumkan di langit.


Rasulullah ﷺ bersabda:


إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ: إِني أحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ، فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، ثُمَّ يُنَادِي فِي أَهْلِ السَّمَاءِ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ

“Sesungguhnya jika Allah mencintai seorang hamba, Allah memanggil Jibril: ‘Sesungguhnya Aku mencintai si Fulan, maka cintailah dia.’ Maka Jibril pun mencintainya. Lalu Jibril menyeru kepada penduduk langit: ‘Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah dia.’ Maka penduduk langit pun mencintainya. Kemudian diletakkanlah baginya penerimaan di bumi.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Subhanallah… berita cinta Allah itu menjadi “headline” di langit.


Kemudian secara normal, Ramadhan berlangsung 29 atau 30 hari. Jika kita berpuasa penuh, maka kita mendapatkan pahala sebanyak hari yang kita jalani.


Namun ternyata, ada orang-orang yang “menang banyak” — yaitu mereka yang dermawan, yang berbagi buka puasa.


Rasulullah ﷺ bersabda:


مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Barangsiapa memberi makan untuk berbuka kepada orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)


Bayangkan jika seseorang memberi makan 10 orang setiap hari, maka 30 hari ... betapa berlipat-lipat pahala puasanya.


Benarlah dahulu para sahabat berkata:


يَا رَسُولَ اللَّهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ وَالدَّرَجَاتِ الْعُلَى

“Wahai Rasulullah, orang-orang yang memiliki harta telah pergi dengan membawa pahala dan derajat yang tinggi.” (HR. Muslim)


Rasulullah ﷺ kemudian bersabda:


ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ

“Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki.” (HR. Muslim)


Artinya karunia Allah itu tidak bisa digugat oleh makhluq. Allah berikan sesuai kehendak-Nya kepada siapa yang Dia mau. Dan Allah Maha Luas Pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. 


Jika belum mampu berbagi, maka jangan berkecil hati. Niatkanlah. Perbanyaklah niat kebaikan di bulan Ramadhan. Karena sungguh Allah Maha Pemurah. Niat baik itu dicatat dan dinilai sebagai suatu ibadah yang berpahala kebaikan.


Rasulullah ﷺ bersabda:


مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً

“Barangsiapa berniat melakukan kebaikan namun belum melakukannya, maka Allah mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Maka jangan pernah meremehkan niat baik. 


Ahirnya... Ramadhan bukanlah sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah momentum meraih cinta Allah.


Puasa adalah ibadah wajib — dan kewajiban adalah amalan yang paling Allah cintai.


Maka mari kita jalani Ramadhan dengan:

- Puasa yang berkualitas

- Hati yang penuh niat baik

- Semangat berbagi sesuai kemampuan

- Harapan besar untuk dicintai Allah


Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang dicintai-Nya, yang namanya disebut di langit, dan diterima di bumi. Aamiin.


Barakallahu fikum.


________


Penulis


Izzatullah Abduh, M.Pd.,  Kepsek Imam Nawawi Islamic School & Mudir TAFISA Boardingschool Pondok Cabe Tangerang Selatan.



redaksingewiyak@gmail.com 


Thursday, February 19, 2026

Unduh Buku | "Hari Pembalasan yang Mustahil" (Karya Pilihan NGEWIYAK Vol. III - Ken Hanggara dkk.)


KLIK UNDUH BUKU

 


Judul: Hari Pembalasan yang Mustahil

Kategori: Karya (Puisi & Cerpen) Pilihan NGEWIYAK Vol. III

Penulis: Ken Hanggara dkk.
Penerbit: #Komentar

Terbit Ebook: Februari 2026

Tebal: x + 230 hlm.

QRCBN:  62-157-8675-533


Buku ini berisi 13 penyair dan 13 cerpenis Indonesia yang dinobatkan sebagai karya terbaik NGEWIYAK per tiap bulan. Karya-karya yang masuk dalam buku ini termuat dalam periode Maret 2025--Maret 2026. Puisi dan cerpen dalam "Hari Pembalasan yang Mustahil" menyodorkan berbagai tema dan daya ucap khas penulisnya. Oleh sebab itu, kiranya buku ini dapat menjadi referensi bacaan yang bergizi bagi pecinta kesusastraan.

Penulis:

Malkan Junaidi, Ken Hanggara, Muhammad Asqalani eNeSTe, Tin Miswary, F. A Lillah, Dody Widianto, llham Wahyudi, Sucipte Jamuhur, Arip Senjaya, Armin Karam, Yogarta Awawa Prabaning Arka, Muhammad Faisal Akbar, Alexander Robert Nainggolan, A. Muhaimin DS, Adi Prasatyo, Santama, Esti Rusia, Khairul A. El Maliky, Zajima Zan, Sigit Candra Lesmana, Muhammad Sholeh, Arshatta, Yuditeha, Selendang Sulaiman, Heri Haliling, Polanco S. Achri, Palito


Catatan:

[Buku tidak dikomersilkan]

Esai Rafif Abbas Pradana | R

Esai Rafif Abbas Pradana



Ngomong “R” itu seperti mustahil diucapkan lewat mulut saya. Entah kenapa saya ingin sekali mengeluarkan huruf ”R” ketika bercakap. Walaupun saya berusaha keras, suara itu tetap samar-samar, seperti tertahan di ujung lidah, lalu jatuh sebelum benar-benar terdengar. Katanya sih kalau tidak bisa ngomong ”R” itu cadel. Dan takdir ini yang saya terima dalam diri saya, walaupun kadang hati kecil saya masih bertanya-tanya, kenapa harus saya?

Hal itu sebenarnya tidak menjadi hambatan besar dalam kehidupan sehari-hari. Saya masih bisa bercakap dengan percakapan biasa saja. Saya masih bisa makan dengan nyaman. Saya masih bisa tertawa bersama teman-teman, bahkan saya masih bisa berbicara di depan kantor dewan perwakilan rakyat. Namun, yang menjadi hambatan justru ada di dalam diri saya sendiri: rasa tidak percaya diri. Saya sering kali tidak yakin terhadap apa yang saya ucapkan. Artinya, saya sendiri ragu apakah kebenaran itu benar-benar akan didengar oleh mereka. Karena saya masih cadel, bahkan kadang belibet. Suara saya terlalu samar-samar, ditambah gugup, ditambah jarak dan pagar yang tinggi. Jadi tidak sampai benar-benar ke kuping mereka.


Namun anehnya, saya teringat pada aktivis ’98 dengan baris puisinya yang sangat terkenal, “hanya satu kata: lawan”, yaitu Wiji Thukul. Ia juga dikenal cadel seperti saya. Tapi ketika membaca puisi, ia begitu percaya diri, begitu nikmat, begitu lantang. Dalam sajaknya itu, penggalan “hanya satu kata” selalu membuat diri saya terdiam. Kata itu seperti mengetuk dada saya pelan-pelan. Lalu datang kata berikutnya: “lawan”. Bagaimana saya melawan semuanya, sementara musuh saya hanya satu huruf: ”R”? Dan malangnya, saya tidak bisa menghapus huruf ”R” itu dari deretan abjad. Ia ada di banyak kata. Ia ada di banyak kalima, bahkan ada di nama saya sendiri. Maka yang bisa saya lawan bukan hurufnya, melainkan hati saya yang selalu menolak takdir ini.

Saya terus mengungkapkan ekspresi saya apa adanya. Tidak lagi terlalu memaksakan diri untuk terdengar sempurna. Biarkan diri saya seperti ini. Sejak kecil, saya sudah terbiasa dengan ledekan. Waktu SD, saya sering ditanyai, “Bisa nggak ngomong ‘ular melingkar-melingkar di atas pagar’?” Kalimat itu seperti jebakan yang sengaja disiapkan untuk saya. Sampai suatu ketika, teman-teman bertanya lagi dengan nada menantang. Saya terdiam. Saat mencoba mengucapkannya, suara saya terdengar cadel, tidak seperti yang mereka harapkan. Mereka tertawa. Tertawa keras. Tertawa yang sampai sekarang masih saya ingat suaranya.


Berulang kali saya bertanya, apakah saya sedang terjebak dalam ketidakadilan dunia atau saya yang belum bisa menerima kekurangan? Kenapa mereka selalu mengejek? Apa sebenarnya yang mereka inginkan dari saya? Lalu, saya sadar, mungkin jawabannya sederhana: mereka butuh tawa. Dan saya kebetulan menjadi bahan yang mudah.


Saya paham banyak kata berakhir dengan huruf ”R”. Setiap berbicara, saya sering merasa tidak becus. Lidah saya seperti tidak patuh pada keinginan saya. Begitulah hidup saya, bahkan sampai kuliah pun saya masih mendapatkan hal serupa, walau dalam bentuk yang lebih halus. Tidak lagi terang-terangan ditertawakan, tapi cukup dengan senyum yang tertahan atau candaan yang dibungkus rapi.


Saya sudah beberapa kali banting tulang agar bisa mengucapkan ”R” dengan jelas. Dari minum air bekas cucian beras sampai makan pedas, semua pernah saya coba. Katanya bisa membantu. Katanya bisa melatih lidah. Sudah saya lakukan berkali-kali, namun tidak ada hasil yang berarti. Saya latihan di depan cermin, mengulang-ulang kata yang sama sampai lelah sendiri. Tapi tetap saja, suaranya samar. Sepertinya cadel ini memang akan menjadi teman saya seumur hidup.


Ketika saya berbicara di depan gedung DPR, saya tetap berbicara dengan lantang walau dengan gaya cadel saya. Memang terdengar lucu ketika orang cadel berbicara penuh semangat. Orang bisa saja tertawa. Namun pertanyaannya, apakah suara saya benar-benar didengar melewati pagar setinggi itu? Apalagi jaraknya jauh. Apalagi suara saya tidak sejelas yang lain. Kadang saya merasa seperti berbicara ke ruang kosong.


Akhirnya, saya menuliskannya lewat media sosial. Saya pikir tulisan mungkin bisa lebih tajam daripada suara saya. Tapi, lagi-lagi saya ragu. Pengikut saya baru ratusan. Apakah suara saya berarti? Atau memang selama ini saya hanya buang-buang tenaga berbicara?


Namun, satu hal yang saya sadari: hati saya sendiri mendengar suara itu. Dan itu cukup. Buktinya, saya mulai bisa berdamai dengan diri saya bahwa saya adalah manusia cadel. Walau begitu, tangan saya masih sering bergetar ketika berbicara di depan umum. Ada trauma yang belum benar-benar hilang.


Saya masih ingat ketika membaca puisi Kartini saat lomba di SD. Saat saya membacakan puisi itu, semua tertawa serentak. Sejak saat itu, setiap kali saya berdiri di depan banyak orang, tangan saya gemetar. Mungkin tubuh saya belum lupa pada peristiwa itu. Mungkin masa lalu memang tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berubah menjadi getaran di tangan dan rasa takut yang tiba-tiba datang.


Tapi, masa lalu juga yang membentuk saya hari ini. Apa yang saya alami sekarang adalah hasil dari perjuangan seorang anak yang dulu di-bully karena tidak bisa mengucapkan ”R”. Lelahnya berbicara di tengah ejekan. Lelahnya mencoba membuktikan bahwa isi kepala tidak diukur dari satu huruf yang sulit diucapkan.


Walau ”R” tidak pernah benar-benar saya ucapkan dengan jelas, saya masih bisa mengucapkan ”L” dalam keseharian. Setiap ingin mengucapkan ”R”, mulut saya justru mengeluarkan ”L” di telinga orang lain. Saya pernah berpikir, nama saya Rafif berarti terdengar seperti Lafif. Pelafalan ”L” ini memang agak mirip ”R”, walau tetap samar-samar seperti yang saya bilang tadi. Karena itu, saya lebih nyaman dipanggil Abbas. Tidak ada huruf ”R” di sana. Tidak ada perlawanan kecil di ujung lidah. Rasanya lebih tenang.


Dan mungkin, perlawanan terbesar saya bukan melawan huruf ”R”. Bukan melawan tawa orang-orang. Bukan melawan pagar tinggi gedung kekuasaan. Perlawanan terbesar saya adalah menerima diri saya sendiri. Karena hanya satu kata yang benar-benar saya butuhkan sekarang: “terima”.


Serang, 15 Februari 2026


______

Penulis

Rafif Abbas Pradana, dilahirkan di Bekasi, 25 Oktober 2004. Merupakan mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta). Aktif menulis esai, puisi, serta artikel kesejarahan.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com