Esai Afrian Rahardyaning Pangestu
A. Ketika Ajaran Tuhan Dijual
dalam Paket Premium dan VIP
Para pembaca yang baik hati.
Penulis mohon maaf jika judulnya terkesan tajam.
Penulis hanya ingin menyampaikan bahwa banyak fenomena
yang patut membuat kita gelisah tentang wajah masyarakat hari ini. Pengajian
tumbuh di mana-mana, majelis taklim semakin ramai, ceramah agama memenuhi media
sosial nyaris tanpa jeda, tetapi dalam waktu yang sama, masyarakat justru
tampak semakin rapuh menghadapi godaan zaman. Korupsi tetap merajalela, judi
online menghancurkan keluarga, pinjaman berbunga mencekik rakyat kecil, budaya
konsumtif makin liar, dan generasi muda semakin mudah kehilangan arah hidup.
Saat ini, kita hidup di tengah ledakan simbol agama, tapi
kita malah mengalami krisis kedalaman iman. Di titik itulah muncul pertanyaan
yang tidak nyaman, tapi penting diajukan, yaitu: jangan-jangan sebagian dakwah
kita hari ini lebih sibuk memproduksi suasana religius daripada membangun keteguhan
akidah dan akhlak umat.
Kita ketahui bersama bahwa majelis taklim yang dahulu
identik dengan kesederhanaan, kemudian perlahan berubah menjadi industri
spiritual modern.
Pengajian tidak hanya digelar di masjid atau musala, tapi
pengajian dipindahkan ke ballroom hotel, aula pusat perbelanjaan, gedung mewah,
atau kafe estetik dengan tata cahaya dramatis, musik lembut, kamera
profesional, dan promosi media sosial yang sangat rapi. Sang ustaz, gus, atau
habib tampil layaknya figur publik yang disambut gegap gempita. Jamaah berebut
mengabadikan momen, panitia sibuk membangun citra acara, sementara isi dakwah
sering kali dikalahkan oleh suasana emosional dan sensasional yang diciptakan oleh
sang tokoh agama.
Yang paling mengkhawatirkan bukan soal tempat atau
teknologinya, tetapi arah dakwah yang perlahan bergeser mengikuti keinginan
pasar. Anak muda yang sedang patah hati, kehilangan arah hidup, mengalami
masalah rumah tangga, atau sedang rapuh secara mental, semua itu menjadi
sasaran empuk bagi industri majelis taklim ini.
Mereka datang mencari ketenangan, lalu disuguhi ceramah
yang lembut, menyentuh, dan penuh kata-kata motivasi tentang hijrah, move on,
asmara, jodoh, atau luka batin. Jamaah dibuat menangis bersama, merasa damai
sesaat, lalu pulang dengan perasaan lega sementara. Minggu depan mereka datang
lagi untuk mencari sensasi spiritual yang sama.
Agama akhirnya diperlakukan seperti obat penenang
emosional, yang dikonsumsi untuk meredakan kegelisahan sesaat, bukan untuk
membangun keteguhan hidup berdasarkan ilmu dan iman.
B. Dari Majelis Ilmu, Berubah Menjadi
Panggung Euforia Keagamaan
Para pembaca yang baik hati.
Fenomena ini menjadi semakin problematis ketika ukuran
keberhasilan dakwah mulai bergeser dari kualitas ilmu menuju popularitas.
Sebagian ustaz, gus, habib lebih dikenal karena gaya bicara yang soft
spoken, wajah teduh bahkan ganteng, penampilan good looking, atau
potongan ceramah yang viral di medsos dan YouTube, dibanding kedalaman
pemahaman agamanya.
Pengajian berubah menjadi atraksi pencitraan tokoh agama.
Ada tokoh agama yang ceramah di hotel mewah dengan jenis-jenis tiket yang
berjenjang mulai dari tiket reguler, tiket premium, hingga tiket VIP dan VVIP.
Ada yang bicara tentang kesederhanaan sambil menikmati gemerlap cahaya
popularitas yang sangat menguntungkan sekaligus menyilaukan.
Ada pula jamaah yang lebih sibuk mengejar foto bersama
tokoh agama dibanding memahami dalil dan makna pengajian yang disampaikan. Ada
pula tokoh agama yang “kejar setoran” dengan berfokus pada banyak-banyakan jamaah
demi mendapatkan endorsement atau jadi brand ambassador suatu
produk.
Di titik ini, budaya pengidolaan tokoh agama tumbuh
sangat subur. Gelar “habib”, “gus”, atau “ustaz muda” sering kali membuat
seseorang diperlakukan seolah tidak boleh dikritik. Padahal dalam Islam, ukuran
kebenaran bukanlah popularitas, garis keturunan, jumlah pengikut di media
sosial, dan jumlah subscriber YouTube, tetapi berlandaskan dalil dari
Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Tidak ada manusia yang maksum selain Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam. Tapi sayangnya, masyarakat kita terlalu mudah silau oleh
simbol kesalehan. Bahasa Arab dianggap sudah pasti alim. Tangisan di panggung
dianggap sudah pasti tulus. Popularitas dianggap tanda keberkahan. Padahal
semua itu belum tentu benar.
Akibatnya, dakwah menjadi kehilangan kekuatan ilmiah yang
sehat. Jamaah tidak lagi didorong untuk memahami agama secara mendalam, tetapi
cukup dibuat terharu dan dibuat seolah-olah merasa dekat dengan Tuhan. Padahal
agama bukan soal suasana hati.
Dalam Islam, ibadah dan seluruh praktik keagamaan harus
berdiri di atas petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah. Semangat beragama saja tidak
cukup. Sebab sebesar apa pun antusiasme seseorang dalam beribadah, jika tidak
sesuai tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka amal itu
tertolak. Inilah yang mulai terlupakan ketika agama terlalu sibuk
dipertontonkan sebagai hiburan emosional dan sensasional.
C. Dakwah yang Sibuk Mengurus Soal
Asmara, tetapi Bungkam terhadap Akidah, Riba, dan Judi Online
Ironi terbesar dari sebagian majelis taklim modern adalah
semangat banget membahas tema-tema ringan yang mudah viral, tetapi gugup dan
gagap menyentuh persoalan mendasar yang sedang menghancurkan masyarakat.
Ceramah tentang jodoh, move on, atau percintaan bisa dipenuhi ribuan
anak muda dan pasangan muda. Tetapi, kajian tentang bahaya syirik, bahaya
tahayul, bahaya riba, haramnya judi online, kerusakan moral akibat pinjaman
online, fikih muamalah, atau pentingnya membangun ekonomi syariah, justru sangat
sepi peminat dan minim publikasi.
Padahal kerusakan bangsa hari ini tidak lahir dari
kurangnya seminar motivasi, tapi dari lemahnya aqidah dan rapuhnya tauhid.
Korupsi tumbuh karena manusia tidak takut kepada Allah. Riba dinormalisasi
karena masyarakat lebih percaya pada sistem ekonomi berbasis utang daripada
keberkahan rezeki halal. Judi online merajalela karena manusia ingin kaya
secara instan tanpa kerja keras. Pinjaman online menghancurkan keluarga karena
budaya hidup konsumtif dibiarkan tumbuh tanpa kontrol iman.
Dakwah seharusnya hadir untuk membangun manusia yang kuat
secara akidah dan akhlak. Umat perlu diajarkan bahwa tauhid bukan sekadar
ucapan, tapi fondasi kehidupan. Orang yang benar imannya, maka dia tidak akan
mudah korupsi meski punya kesempatan. Orang yang takut kepada Allah, maka dia tidak
akan memakan riba walaupun terlihat menguntungkan. Orang yang memahami agama
dengan benar, maka dia tidak akan mempertaruhkan keluarganya demi judi online serta
gaya hidup palsu.
Sayangnya, sebagian pengajian hari ini justru lebih sibuk
membangun suasana haru dan suasana nangis-nangisan daripada keberanian moral
dan keteguhan iman. Jama’ah dibuat menangis, tetapi tidak diajak berpikir. Jamaah
hafal kutipan ceramah viral, tapi tidak memahami prinsip dasar akidah. Jamaah
rajin hadir kajian, tetapi tetap mudah tertipu oleh investasi bodong, tetap boros,
tetap malas membaca, dan tetap lemah menghadapi tekanan hidup.
D. Mengembalikan Majelis Taklim
kepada Pembahasan Akidah, Tauhid, dan Perbaikan Umat
Para pembaca yang baik hati.
Mungkin ini sudah saatnya majelis taklim kembali kepada
fungsi utamanya, yaitu membangun umat yang berilmu, berakidah yang lurus, dan
siap menghadapi perubahan zaman. Pengajian tidak boleh hanya menjadi ruang
pelarian emosional bagi masyarakat perkotaan yang sedang lelah hidup. Dakwah
harus kembali menguatkan fondasi akidah, mengajarkan pentingnya mengikuti
Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta membentuk manusia yang jujur, disiplin, serta bertanggung
jawab.
Masjid
dan majelis taklim harus lebih berani membahas persoalan nyata umat, yaitu bahaya
syirik, bahaya tahayul, bahaya bidah, bahaya riba, bahaya zina, bahaya
pacaran, bahaya judi online, pentingnya menutup aurat, kehancuran moral akibat
pinjaman online, pentingnya ekonomi syariah, kesehatan masyarakat, pendidikan
keluarga, etika bisnis secara Islam, hingga pentingnya membangun generasi yang
kuat jasmani serta rohani. Anak muda perlu diajarkan bahwa hijrah bukan sekadar
perubahan penampilan atau suasana hati, tetapi perubahan cara berpikir dan cara
hidup sesuai syariat.
Masyarakat juga harus berhenti mengidolakan tokoh agama
secara berlebihan. Ustaz harus dihormati karena ilmunya, bukan dipuja seperti
selebritis. Dakwah yang sehat adalah dakwah yang menghidupkan ilmu, bukan menghidupkan
fanatisme buta. Sebab, ketika agama terlalu sibuk mengejar popularitas, maka yang
lahir hanyalah keramaian spiritual yang mudah viral, namun rontok dalam menghadapi
ujian kehidupan.
Pada akhirnya, agama bukan sekedar merasa damai di dalam
ruangan ber-AC sambil mendengarkan ceramah percintaan dan nangis-nangis manja. Agama
adalah petunjuk hidup yang berisi ilmu, ketaatan, keberanian moral, dan
keteguhan iman. Jika majelis taklim gagal membangun semua itu, maka yang
tersisa hanyalah industri yang memperdagangkan kesalehan, yang terlihat ramai
di permukaan, tapi miskin ilmu untuk mendidik umat.
Penulis
Afrian Rahardyaning Pangestu adalah guru Matematika dan Bahasa Inggris di sebuah pesantren. Pernah menjadi guru IPA dan IPS juga. Hobi membaca, menulis, menggambar, dan fotografi.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com







