Cerpen Andria Septy
Pada hari suci Saraswati tahun lalu, perempuan itu
bertekad meningkatkan kemampuan berbahasa asing. Sependek
ingatannya, ia paling benci mata pelajaran Bahasa Inggris. Seorang pemuda
mengenalnya, sewaktu mengenyam pendidikan menengah pertama di Desa K. Bahkan,
ia akui keahliannya dalam menyontek yang dipersiapkan semalam suntuk. Ia bangga dengan masa muda yang mendebarkan ketika mulai
mendeteksi kata-kata busuk dari orang-orang busuk. Kenakalan remaja paling
berani yang dilakukannya; merajah lengan mulus nan ranum ketika libur
semesteran. Betul. Ia berpura-pura menjadi anak kuliahan. Kala itu, tidak
begitu ketat pengawalan dalam dunia pertatoan. Telah terwakilkan dengan tinggi
dan wajahnya yang amat matang. Mulanya, perempuan itu bertato demi sok gaul,
tanpa benar-benar tahu makna. Perempuan Bali kelahiran Kalimantan itu kerap
disapa Metha.
Beberapa kawan meledek dan merecoki pikiran Metha. Ia menjawab dengan tanpa bersikap dongkol, kenapa mesti cari makna? Toh, tato ini sebenarnya untuk meningkatkan rasa percaya diriku. Beberapa kawan cowoknya tak sanggup berkata apa.
Semuanya serba pertama, ketika Metha jatuh cinta dengan tato dan (kelak) menjadi amor (anak motor). Termasuk pengenalannya pada dunia maya yang fana. Dunia ketika ia getol menjadi sesosok berkepala batu. Lingkungan sekitar Maya membentuk tabiatnya menjadi liar.
Di hari ulang tahunnya, perempuan itu menambah tato
serigala pada lengan kiri atas. Pemuda itu tahu betul, tato Casper di lengan
kanan telah menemani masa-masa remaja. Ide soal tato serigala muncul, lantaran
hewan itu dipercaya membawa keberuntungan. Ia berkontemplasi, ingin berhasil
dalam perkuliahan, pekerjaan dan berpenghidupan. Itulah hari terakhir, ia
menjadi agak filosofis. Lantas beralih identitas menjadi amor (anak
motor-red).
***
Ini kejujuran hati si pemuda Desa K.
Si amor Metha kerap
membuatnya gelisah dengan foto-foto diri bak supermodel. Si pemuda betah
berjam-jam demi memantau Metha pamer paha, bahu mulus dan bibir merah jambu. Ia
rajin mengunggah foto di Story Instagram per dua jam. Si pemuda
merasakan perubahan dalam hidup gara-gara kecanduan dengan Meta dan
Metha. Pertanyaan demi pertanyaan berdansa riang di kepala pemuda itu.
Mengapa ia tak mencoba berkenalan ulang? Terkait respons dan segala macam urusan
belakang. Hal terpenting keberanian, tukasnya dalam hati.
Si pemuda itu pun dilanda kecemasan menahun. Ia menyempatkan diri ke puncak bukit belakang rumah sepulang dari seremonial foto keluarga. Ia memperoleh gelar "Sarjana Pendidikan" dan wisuda siang tadi. Biasanya, ia bermenung di bukit kunang-kunang itu sambil membawa tumblr berisi kopi. Desir alamiah yang dinanti; sepoi angin menyapa ilalang. Gigitan nyamuk membuatnya tersadar, ia seperti pungguk merindukan bulan. Namun, lembayung senja membikin kecemasan pudar. Seharusnya, ia berkarya bikin konten yang tadinya sebagai pekerjaan sampingan.
Ah, otaknya buntu-sebuntu-buntunya. Ia gundah akan
ketiadaan ide meracik karya mutakhir dan pikirannya tertuju selalu ke Si Geg.
Batu kerikil dan partikel debu membersamai si pemuda
sewaktu bekerja paruh waktu sebagai pengemudi perjalanan. Ia mesti setangguh Si
Geg yang tidak dapat berbahasa Bali itu. Ia terpana ketika Si Geg berucap
gamblang di sosial media, duit-lah agamanya sekarang. Perempuan itu berangkat
ke kota demi sesuap nasi. Tahu-tahu, menjadi pemaki tulen. Curhatan Metha di
sosial media itu dicatat oleh si pemuda.
***
Hari ini, pemuda itu bertandang ke usaha lampau di pusat
keramaian. Lebih tepatnya, menyengajakan diri melamar pekerjaan di kafe bekas
milik Ayah Geg. Di sisi lain, semacam perasaan heroik teruntuk kata-kata
pengangguran yang bakal hilang segera. Barista semacam cita-cita masa kecil
yang semenyenangkan roti gandum dan teh manis hangat pagi hari. Setibanya di
skena kafe ia mendadak loyo. Perempuan fotogenik itu terlihat sedang asyik
bercakap mesra dengan sosok berkumis tipis. Si kemayu bersandar di lengan lelaki
itu sewaktu di depan elevator. Sang pemuda tercekat seraya membatin, optimis
saja, barangkali menemui pemilik kafe di lantai atas. Sungguh. Wangi lembut
parfumnya itu, membuat kami para cowok menjadi kepayang. Ia tahu betul. Metha
dikenal sebagai sosok bergaya elite, di tengah ekonomi sulit.
Tersiar kabar, ia siap disewa menemani pria-pria
kesepian. Perempuan yang fasih berbahasa Banjar itu tak pernah menampik. Ia
mengikuti saja arah kehidupan membawanya. Hingga berbulan-bulan, si pemuda
mencari celah bertemu. Tetapi belum ada perubahan signifikan karena Metha sok
‘pura-pura tak kenal’. Pemuda itu Metha anggap hanya ‘Maya’.
Sependek ingatannya, Metha sejak dulu lumayan
berkepribadian keras. Terutama soal suara-suara perempuan yang diacuhtakacuhkan.
Metha berang bukan main, ketika pendapat para perempuan, apa pun latar
belakangnya, disepelekan bahkan tak dianggap.
“Ah,
perempuan itu cuma pemanis. Sudah
jelas dari gestur tubuhnya, simpanan pejabat.”
Kala itu, kepalanya seperti akan meledak. Hidungnya
kembang kempis ingin segera menimpali. Namun sangking kesalnya, ia hanya
menangis. Si Geg berusaha santai di kafe terselubung yang menjual miras. Lagu
Mirasantika-Rhoma Irama mengalun deras. Sederas cinta Geg pada kariernya
yang penuh ketidakpastian.
***
Si pemuda memperoleh pekerjaan sebagai asisten barista.
Gaji pertama telah ia belikan gaun merah jambu untuk Metha. Ia bermaksud
mengirim gaun itu, ke kafe tempat Geg menjadi pramusaji. Sedihnya, si hitam
manis itu dimutasi menjadi kasir. Tepatnya, kasir salah satu kafe rekanan dari
kafe tempat si pemuda bekerja. Konon, si perempuan rantau ini membikin seorang
pelanggan keracunan makanan. Bahkan, berhembus kabar, ia sudah menjadi isteri
kedua pejabat birokrat. Jadi, semacam harus dalam pengawasan intensif. Kafe
yang serupa restoran bintang lima itulah tempat cuci uang.
Kurang dari sepuluh menit, jam menunjukkan pukul tujuh
belas. Jam di mana biasanya Metha berada di belakang meja kasir. Selama tiga
bulan ini, si pemuda sudah cukup punya informasi terkait manungsa itu. Manungsa
cantik yang pembawaannya elegan. Pengikut sosial media menjuluki ia Angsa
Cantik. Seharusnya seekor angsa yang ia jadikan tato, bukan serigala atau
Casper. Metha gemar mengenakan pakaian-pakaian minimalis. Si pemuda pastikan,
perasaan yang ia miliki bukan semata instan. Apalagi berahi. Ia tahu sejak
lama, Metha bekerja sebagai pemandu hiburan malam. Tadinya, Si Geg sosok yang
polos dan lempeng. Bahkan si pemuda mengikuti tulisan-tulisannya terkait
soal ekologis. Bagi Metha; sungai, laut, hutan, sawah dan gunung diibaratkan
sesosok perempuan. Lelaki mana yang bisa hidup tanpa wanita? Bahkan jikalau
terasing dan diasingkan, perempuan masih bisa bertahan. Namun, keberadaan
perempuan terlampau diperlakukan tak semestinya. Tulis Metha dalam blog
yang si pemuda ingat betul. Kata-kata itu beririsan dengan ucapan neneknya dulu
sewaktu kecil.
Semasa kecil, si pemuda memimpikan diri menjadi seperti
Don Quixote, atau Pangeran Cilik yang terasing di planet. Semua impiannya
dirayapi seribu satu pertanyaan. ‘Kau ini apa’ bertebaran di ranting pohon
bunga Jakaranda dan Tabebuya.
Si pemuda tak punya senjata apa-apa, selain keahlian
menyeduh kopi dan menyetir mobil. Seduhannya pun termasuk kategori junior di
kancah dunia perbaristaan. Sejak lulus sekolah, si pemuda mencari tahu,
apa gerangan kekhawatiran dan kegemaran perempuan itu. Ia suka foto, kopi dan
kafe. Ia benci belajar tata bahasa. Suka jatuh cinta sama orang yang membuat
kopi enak. Pria idaman Metha, maksimal seperti Mikael Jasin, atau minimal kayak
Ayahnya yang militan.
Makanya, pemuda itu nyemplung sebagai barista karena
ingin menaklukkan Metha.
Perempuan pecinta rupiah dan dolar itu bersimbah darah di
bawah pohon Tabebuya. Iblis mana yang melakukan ini! Si Geg terakhir
kali terlihat bersama si pria berkumis tipis. Si pemuda yakin betul, si rakus
gembul itulah pembunuhnya! Tinta di atas kertas itu masih basah dan bercampur
darah segar. Semua kertas-kertas bertuliskan bahasa Prancis. Identitas barunya
terkuak lewat kertas surat, yang barangkali seribu lembar. Si pemuda
menyusunnya satu persatu dan ia kumpul dalam stopmap plastik. Betapa pohon itu
pohon yang kami rawat bersama sosok yang ia yakini sebagai kembaran Metha. Ada
nama si pemuda tertera di pohon yang penuh bercak darah. Bahkan masih sedikit
basah disamping bau anyir yang menyerebak.
Asisten barista itu tak paham mengapa semacam diarahkan
ke tempat kejadian perkara. Ia yakin perempuan ini hanya doppelganger
Metha. Simpel. Mayat itu tak bertato Casper. Si pemuda gagal paham, mengapa semua mata elang mereka
tertuju padanya. Mereka tak percaya kata-katanya satu pun. Ah, kesaksiannya
hanya dianggap angin lalu. Padahal, si pemuda mengantongi beberapa bukti yang
mengarah ke manusia bau tanah, suami siri sendiri.
Gn. Kelua, April 2026
______
Penulis
Andria
Septy, lahir di Samarinda,
Kalimantan Timur. Ia adalah satu dari 7 Emerging Writers di Makassar
International Writers Festival tahun 2022. Pada tahun 2024, residensi dan
pameran ‘Youth of Today’ Jogja Fotografis Festival di Yogyakarta. Ia
penulis puisi, novel dan tutor. Menerbitkan novel Calista’s Conflict
(Stiletto Indie Book, 2016). Buku
kumpulan puisinya Tata Laras Gema Rima (Basabasi, 2025).
Instagram:
@senoritaandriasepty_
Facebook: Andria Septy
Blog Pribadi: www.theasenorita.blogspot.com
Tautan
karya-karya saya: linktr.ee/karyaandriasepty
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com











