Cerpen Humaira Fakhiratur Rofifah
Waktu terus berputar tanpa suara, hingga tak terasa dentang pulang pun tiba menggema di udara. Langkahku menyusuri jalan bersama teman-teman, disisipi cerita ringan yang mengalir tanpa jeda. Sesampainya di rumah, sebuah kabar tak terduga datang dari ayahku, bahwa aku dan keluarga kecilku akan jalan-jalan ke Pantai Anyer.
Besok pun akhirnya tiba.
“Ayah, kita jadi ke pantai hari ini?” tanyaku sambil berlari kecil menghampiri ayah yang sedang menyiapkan tas.
Ayah tersenyum. “Tentu jadi. Hari ini ayah mau mengajak kalian liburan kecil.”
Ibu keluar dari dapur sambil membawa bekal. “Jangan lupa bawa tikar. Nanti kita akan makan bersama di sana.”
Di perjalanan, suasana mobil penuh tawa.
“Ayah, pantainya masih jauh?” tanyaku sembari melihat ke luar jendela.
“Sebentar lagi,” jawab ayah. “Sabar, tak akan lama kalian lihat laut yang biru dan indah.”
Sesampainya di Anyer, ombak terdengar bergulung pelan.
“Masyaallah, indah sekali …” kata ibu kagum.
Aku dan kedua adikku langsung berlari mendekati air.
“Ayah, lihat! Ombaknya besar!”
Ayah tertawa kecil. “Hati-hati, jangan terlalu jauh.”
Lalu ayah pun mengajak kami membangun istana pasir bersama, sementara ibu menata makanan di atas tikar.
“Ayo makan dulu,” panggil ibu.
Akhirnya kami menikmati makanan sambil bercerita dan tertawa riang. Aku memandang mereka dan merasa hangat di hati. Hari itu bukan hanya tentang liburan ke pantai, tetapi tentang kebersamaan keluarga yang terasa begitu indah.
Senja telah tiba, kami kembali pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, ayah langsung berpamitan untuk kembali ke tempat kerja.
“Tidak semuanya bertahan lama.”
Kata-kata itu ternyata benar adanya. Suasana rumah yang dulu hangat kini mulai berubah. Ayahku mulai bangkrut, ekonomi keluarga tumbang. Rumah ini tidak lagi menenangkan, melainkan ruang yang saling melukai.
“Ayah capek, Bu! Usaha ayah bangkrut!” bentak ayah.
“Lalu kenapa semua dilampiaskan ke kami?” suara ibu mulai bergetar.
Aku keluar perlahan dari kamar.
“Bu … Yah … jangan bertengkar lagi …” kataku pelan.
Ayah mengusap wajahnya kasar. “Kamu belum mengerti keadaan kita sekarang.”
Ibu menunduk. Matanya merah karena menangis.
“Dulu kita makan bersama sambil tertawa,” ucap ibu. “Sekarang tiap hari hanya ada amarah.”
Ayah terdiam beberapa saat. Namun akhirnya, ia mengambil jaketnya.
“Ayah mau keluar dulu.”
“Pergi lagi?” tanya ibu kecewa.
Ayah tidak menjawab. Pintu rumah ditutup keras hingga membuatku tersentak. Aku memandang ibu yang tertunduk lemas di kursi.
“Bu … apa semuanya akan kembali seperti dulu?”
Ibu tersenyum tipis sambil mengusap kepalaku.
“Ibu juga berharap begitu, Nak. Tapi kadang hidup berubah tanpa izin.”
Sebulan sudah ayah pergi meninggalkan kami entah ke mana. Kini, ibulah yang menjadi tulang punggung keluarga. Setiap hari ibu pergi mengajar dan menitipkan kedua adikku kepadaku. Di sela-sela kesibukannya, ibu berusaha menelepon nomor ayahku, berharap notifikasi panggilan berubah menjadi dering dan dijawab. Tak hanya itu, ibu bertanya kepada teman kerja, teman nongkrong, bahkan keluarga pun ikut mencari keberadaan ayahku. Namun, belum juga ada hasil yang menenangkan hatiku, ibu, dan kedua adikku.
“Bu, Ibu tahu ayah sekarang di mana?” tanyaku lirih.
Ibu menghentikan aktivitas di depan laptopnya lalu menggeleng pelan. “Belum ada kabar, Nak.”
“Sudah lama sekali ayah menghilang …”
Ibu tersenyum kecil meski matanya sembab. “Iya … ibu juga terus menunggu.”
“Aku kangen ayah, Bu.”
Ibu memelukku erat. “Ibu juga. Tapi ibu selalu berdoa semoga nanti pintu rumah ini diketuk oleh orang yang kita tunggu selama ini.”
Aku menggenggam erat tangan ibu.
Keesokan harinya, aku kembali ke sekolah. Pagi itu udara masih dingin, tetapi peluh sudah terasa di tengkukku. Namun, ketika di sekolah, aku mendapatkan tambahan beban berupa selembar kertas tunggakan sekolah.
“Nanda, ini surat tunggakan SPP. Berikan ke orang tuamu,” kata Bu Guru.
Aku menerima surat itu dengan tangan gemetar. Dadaku sesak.
Sepulang sekolah, aku hanya diam memandangi kertas itu di teras rumah.
“Kenapa melamun, Nak?” tanya ibu.
Aku ragu menyerahkan suratnya.
“Bu … sekolah menagih SPP lagi.”
Ibu membaca surat itu perlahan lalu menunduk.
“Maaf … ibu belum bisa bayar.”
Aku menggigit bibir menahan tangis. Sejak ayah pergi, ibu bekerja sendiri untuk memenuhi kebutuhanku dan kedua adikku.
Ibu pun memelukku sambil menahan air mata.
“Ibu akan usahakan, Nak.”
Aku hanya mengangguk.
Malam pun tiba. Rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Suara jangkrik terdengar jelas dari halaman belakang. Aku melamun. Aku teringat besok sekolah kembali menagih uang SPP. Aku merasa tidak tega terus melihat ibu memikul semuanya sendiri.
Tiba-tiba aku teringat pada Bibi Ona yang membuat emping di kampung sebelah. Emping buatan bibi terkenal enak, tetapi biasanya hanya dititipkan di warung kecil.
Lamunanku terhenti karena kehadiran ibu.
“Ibu belum tidur?” tanyaku pelan saat melihat ibu keluar membawa segelas teh hangat.
“Belum, Nak. Kenapa masih di luar?”
“Bu, kalau aku bantu jualan emping punya Bibi gimana?”
Ibu langsung menatapku.
“Kamu mau jualan emping sepulang sekolah?”
Aku mengangguk. “Aku ingin bantu ibu. Sejak ayah pergi, ibu kerja keras sendirian.”
Ibu menunduk, matanya mulai berkaca-kaca.
“Kamu enggak perlu memikirkan semua ini, Nak. Kamu fokus belajar saja …”
Ibu menggenggam erat tanganku.
“Maaf … kamu jadi dewasa lebih cepat.”
Aku tersenyum kecil.
“Enggak apa-apa, Bu. Asalkan kita tetap sama-sama.”
“Ibu mengizinkan kamu berjualan, Nak. Tetapi, kamu harus ingat tugas utamamu belajar,” kata ibu dengan tegas.
Setelah mendapatkan izin dari ibu, keesokan harinya sepulang sekolah aku segera pergi ke rumah Bibi Ona dengan penuh harapan.
Aku duduk perlahan. Mataku melihat tumpukan emping yang sedang dijemur di tampah besar. Aku memulai maksud kedatanganku.
“Aku mau bantu jualan emping Bibi keliling kampung setelah pulang sekolah.”
Bibi Ona tampak terkejut.
“Lho, memangnya buat apa? Kamu fokus sekolah saja.”
Aku menarik napas panjang.
“Aku kasihan sama ibu, Bi. Sejak ayah pergi, ibu kerja sendirian. Kadang aku lihat ibu diam-diam nangis kalau malam.”
Suasana mendadak hening. Hingga akhirnya Bibi Ona mengizinkanku untuk berjualan emping miliknya.
“Baiklah. Kalau memang itu keinginanmu, Bibi izinkan. Tapi kamu harus tetap sekolah.”
Aku berpamitan kepada Bibi dan membawa emping yang sudah dikemas.
Di pundakku, sebuah tas kain besar berisi plastik-plastik bening bergoyang seirama langkah kakiku.
“Emping! Emping melinjo asli, Bu! Masih renyah!” teriakku dengan suara nyaring, memecah kesunyian gang.
Setiap hari rutinitasku menjajakan emping dari satu gang ke gang lain di kampung ternyata sudah berlangsung selama satu bulan. Akan tetapi, hari ini berbeda dari biasanya. Saat aku sedang berteduh di bawah pohon melinjo untuk menghitung lembaran ribuan yang lecek, ponselku berdering. Nama ibu muncul di layar. Suaranya terdengar tergesa dan gemetar.
“Assalamualaikum, Nak … cepat pulang,” suara ibu terdengar gemetar di telepon.
“Ada apa, Bu?”
“Ibu … baru dapat kabar tentang ayah.”
Aku terdiam sejenak.
“Ayah kenapa?”
Di seberang telepon, ibu menangis pelan.
Aku menggenggam tas erat-erat.
“Tunggu aku pulang, Bu. Jangan menangis sendirian.”
“Iya … hati-hati di jalan.”
Suara burung yang bersahutan dan deru lalu lalang orang lewat biasanya hanya dianggap angin lalu, tetapi siang itu semuanya terdengar seperti dentum peringatan. Ibu baru saja menelepon dengan suara yang hampir tidak dikenali, gemetar.
Matahari tepat berada di atas kepala, memancarkan panas yang membakar. Namun, keringat yang mengucur di pelipis bukan karena suhu yang menyengat, melainkan karena aku takut berita buruk menimpa ayahku.
Sampai di rumah …
“Aku pulang, Bu …” kataku pelan sambil menerobos pintu rumah.
Namun suasana rumah ramai. Beberapa keluarga dari pihak ayah duduk di ruang tamu sambil berbisik-bisik. Aku melangkah pelan melewati mereka. Tatapan mereka terasa asing dan membuat dadaku sesak. Di sudut ruangan, ibu hanya diam menunduk sambil menggenggam ujung bajunya erat-erat.
“Ada apa, Bu?”
Ibu hanya diam menunduk.
Bibi mendekat perlahan.
“Nak … kamu harus sabar, ya.”
“Memang ada apa?” tanyaku cemas.
Bibi menarik napas panjang.
“Ayahmu … menikah lagi.”
Aku langsung terdiam.
“Apa …?”
“Iya …” jawab bibi lirih.
Aku menatap ibu yang matanya sembab karena menangis.
“Jadi … semua ini benar, Bu?”
Ibu mengangguk pelan tanpa berkata-kata.
“Ayah keterlaluan!” bentakku dengan mata berkaca-kaca. “Tega sama ibu, aku, dan adik-adikku!”
Ibu langsung memelukku.
“Sudah, Nak … ini adalah jawaban dari doa-doa kita, meskipun pahit.”
Akhirnya aku mengerti. Ayah tidak sedang membangun keluarga baru. Ia hanya sedang mengganti kami dengan versi yang menurutnya lebih baik.
Aku mengeluarkan ponsel, menghapus kontak bernama “Ayah”. Setelah menarik napas panjang, perlahan aku menekan tombol hapus.
_____
Penulis
Humaira Fakhiratur Rofifah, lahir di Pandeglang, 16 Maret 2012. Hobi menggambar & menulis. Siswa SMPIT Syifa Fikriya.










