View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Postingan Terbaru

Rabu, 30 November 2022

Puisi Jawa Banten | Encep Abdullah

Puisi Jawa Banten Encep Abdullah




Jereh 


jereh bu guru,

"urip iku kudu mengkenen"

jereh pak guru,

"urip iku kudu mengkonon"

jereh wong tue,

"urip iku aje mengkenen, aje mengkonon"


jereh bu guru, 

"nurut sire ning emak"

jereh pak guru, 

"nurut sire ning abah"

jereh wong tue 

"nurut sire ning guru"


jereh bu guru, 

"rajin sire belajar ning umah" 

jereh pak guru, 

"aje akeh maen ML ning umah"

jereh wong tue,

"belajar sing rajin ning sekolahan"


jereh bocahe

"mbuh temen!"


Pontang, November 2022



Nok, Ampurane


nok, emak ende ampurane

lamun weteng nok ore wareg-wareg

badane ore lemu-lemu

sekabeh pade larang

ore kejagan


bape wis gering-geringan

rumase badane loyo

wis tue akeh penyakite


nok, emak ende ampurane

spp sekole nok urung dibayar-bayar

emak semet-semet kekoreh ning sor kasur

nyeser-nyeser ning tetangge


nok, ende doane saos

menawi emak teteg

ngadepi urip sing ngederegdeg


Pontang, November 2022


________


Penulis


Encep Abdullah, penulis sing doyan mangan endog.



Kirim naskah

redaksingewiyak@gmail.com


Senin, 28 November 2022

Karya Siswa | Bintang dari Angkasa | Cerpen Kezia Talita Kanne

Cerpen Kezia Talita Kanne



Aku membuka mata, menyambut datangnya hari baru. Hari ini sangat tenang. Atau bisa dibilang sunyi. Sesunyi perasaanku yang kini sudah bukan aku. Aku merasa diri ini bukanlah aku lagi. Kini aku adalah Sultan dari Kesultanan Angkasa.


Atau dikenal rakyat sebagai Sultan Lingkaran. Mereka menganggapku sebagai orang yang sempurna dan ideal tanpa noda. Walau jauh dalam diriku, aku hanyalah seorang manusia biasa. Namun biarlah mereka beranggapan demikian.


Cahaya matahari menyeludup masuk melalui celah jendela kamarku. Cahayanya hangat dan lembut seperti pelukan ibu. Perasaan yang timbul setiap aku merasakan hangatnya matahari, membuatku menangis dalam hati layaknya bocah cengeng yang lemah. Aku membencimu, Bu.


Namun, di antara semua itu aku lebih mementingkan ekspresi wajahku di hadapan rakyat dan orang-orang di sekitarku. Aku harus terlihat sangat dan berkuasa. Tak boleh banyak berekspresi pokoknya! Jujur aku tak tahan jika harus terus begini. Rasanya alis cokelat indahku tertarik, saraf mata biruku menegang, dan ini membuatku tampak lebih tua. Tapi inilah aku, aku Sultan Salendro Angkasa.


***


“Walau aku benci cahaya matahari pagi, tapi aku tidak pernah menolak berendam di air hangat. Walau sama-sama hangat, kehangatan keduanya berbeda bagiku. Entah mengapa, tampaknya aku lebih menyukai hal bersifat sementara ketimbang hal tahan lama,” dalam benakku sembari menikmati hangatnya aliran air bak mandi.


Suasana pagiku hari ini sangat tenang. Setenang dan sesempurna suara pohon di hutan yang tertiup angin. Setidaknya begitulah yang kukira sampai kloninganku yang ceria merusak ketenangan batin ini.


“Kang Mas,” seru adik kembarku sembari berlari merangkul leherku.


“Ada apa Adipati?” ucapku sembari melepaskan rangkulannya yang menurutku lebih mirip cekikan.


“Aku hanya tidak sabar untuk kunjungan dari R.A. dan Sultan Pangestu.” 


“Kau hanya membuat kepalaku kelebihan muatan.”


“Ayolah Kang Mas, santai saja. Ini akan mudah, semuanya sudah kuatur.” 


“Kau memang adik terbaik di seluruh semesta, Adipati Ethes Angkasa.”


“Tentu. Selain adikmu, aku juga akan selalu mengabdi padamu selaku Adipati.” 


Kami berdua tersenyum satu sama lain.


***


“Kang Mas, bagaimana kalau kita mengenakan batik motif sama?” usul Ethes kepadaku.


“Boleh juga, sekali-sekali kita tampak seperti kembar sungguhan. Motif apa yang memanggilmu, Ethes?”


“Motif yang banyak lingkaran itu lucu juga, lumayan berwarna namun tak begitu mencolok.”


“Maaf, Adipati. Apakah motif yang Anda maksud adalah motif sarimanganti?” 


“Iya, yang di pinggirnya terdapat bentuk setengah lingkaran.”


“Baiklah Adipati, mari saya bantu kenakan.”


***


Jam menunjukan pukul 10.45. Seharusnya kereta mereka akan sampai sebentar lagi. Benar saja, suara tapak kaki kuda semakin lama, semakin terdengar jelas. Dari sana turunlah seorang pria paruh baya bertubuh gemuk dan berjanggut mengenakan pakaian mewah. Ya, dia adalah Sultan Pangestu. Dari pintu sebelahnya keluarlah seorang wanita cantik berambut panjang berwarna brunette, mata yang sangat indah bagai biji bunga matahari, dan kulit putih pucat seperti tengkorak.


“Selamat datang Sultan Pangestu dan Raden Ajeng Nilla Pangestu!” sambutku. 


“Terima kasih sudah menyambut kami di sini, Yang Mulia dan Adipati,” ucapnya sembari mengulurkan tangan.


“Suatu kehormatan pula bagi kami atas perkenanan Anda untuk datang kemari,” ucapku sembari menjabat tangannya.


“Mari saya antar kalian berkeliling di taman kami,” ucap Ethes sembari menuntun jalan.


***


“Tanaman kalian sangat terawat dengan baik ya,” ucap Sultan Pangestu tiba-tiba. 


“Terima kasih atas apresiasinya, Yang Mulia. Para pekerja kami sangat telaten dalam merawat tanaman di sini. Sepertinya tahun ini mereka akan naik gaji sebagai apresiasi atas kerja keras mereka ”


“Maaf, Yang Mulia, apakah boleh saya menanyakan rahasia tanaman Anda pada petugas kebun?” tanya Nilla tiba-tiba.


“Tentu, Raden. Kami dengan senang hati akan memberikan bahan yang biasa kami gunakan.”


“Terima kasih, Tuan.”


“Padinya juga tumbuh dengan baik.”


“Bagaimana tanaman kalian dapat tumbuh dengan baik? Di Jepang, tanaman yang tumbuh tidak sesubur ini.”


"Itu karena kondisi alam yang berbeda. Indonesia terletak di garis khatulistiwa. Membuat Indonesia memiiki iklim tropis dan disebut sebagai negara ‘agraris’. Juga dikenal dengan nama ‘zambrut khatulistiwa’," jawab Ethes.


“Omong-omong, kenapa tidak ada orang lain selain kita di sini?”


"Mereka, khususnya umat Muslim, Hindu, dan Khatolik sedang bersiap untuk ibadah jam dua belas siang nanti."


“Aku baru tahu kalau ada agama lain selain Shinto dan Buddha.”


“Itu juga merupakan dampak dari letak Indonesia yang strategis. Dulu saat zama nenek moyang, banyak sekali pedagang luar negeri yang singgah dan menetap di Hindia Belanda. Beberapa di antaranya ada yang mengajarkan ajaran lain di luar Kejawen dan Hindu. Semenjak itu Indonesia memiliki enam agama yang diakui.


“Yang Mulia dan Adipati sangat kaya akan pengetahuan, saya kagum.”


“Kami ikut senang dapat membantu Anda untuk mengenal ‘Ibu Pertiwi’ lebih dalam lagi.”


“Terima kasih, Yang Mulia.”


“Sepertinya, kalian sudah akrab, bagaimana jika salah itu dari kalian saya jodohkan dengan Nilla? Kau mau kan Nak?”


“Kehendak Ayah, hamba terima.”


“Bagaimana Tuan-Tuan? Apakah kalian berkenan?”


“Saya perkenankan Ethes untuk menikah dengan Raden,” ucapku tiba-tiba. 


"Tapi Kak ..."


“Baiklah, mari kita bicarakan ini saat makan malam. Untuk sekarang Ethes akan mengantar kalian ke kamar tamu.”


“Kami permisi, Tuan.”


***


Aku terdiam membiarkan pikiranku bergerak dengan bebas. Kini pikiranku daripada benang. Aku memikirkan jawaban yang akan kulontarkan pada Adipati. Aku tahu dia pasti akan bertanya kenapa aku menyuruhnya. Dari dalam paviliun, aku menatap ‘ibuku’ yang perlahan meredup.


“Bu, bagaimana caraku menyampaikan pada ‘bayanganku’mengenai penyakitku? Aku hanya ingin membuatnya risau. Aku hanya ingin dia bahagia,” ucapku sembari menitikkan air mata sembari melihat ke arah ‘ibu’. 


Pikiranku semakin liar seliar harimau di hutan. Hingga aku tersesat dalam hutan pikiranku sendiri. Benar saja, beberapa waktu kemudian Ethes datang dengan raut kesal. Alisnya naik diiringi dengan dahinya yang mengerut.

 

“Kang Mas, kenapa kau menjodohkanku dengannya? Aku ini adipatimu yang harus selalu di sisimu. Aku ini bayanganmu Kang Mas!” ucapnya dengan nada meninggi.


“Justru itu aku menjodohkan kamu dengannya. Aku perintahkan kau Adipati Ethes Angkasa untuk menjaga dan mencintai Raden Nilla sama seperti pengabdianmu pada kerajaan ini.”


“Baik, Kang Mas. Hamba akan menyanggupinya.”


“Juga, berjanjikah kau akan memajukan kerajaan ini jika tiba saatnya aku tenggelam.”


“Apa maksud dari perkataan Kang Mas?” 


“Nanti kau akan tahu. Berjanjilah padaku.” 


“Baiklah Kang Mas, saya berjanji.”


Matahari tenggelam, bulan bergulir. Tak terasa hari pernikahan Ethes dan Nilla semakin dekat. Dengan waktu yang tersisa, kami menghabiskan tawa dan air mata bersama. Terkadang dalam sela pembicaraan, aku memberikan wejangan sebagai penuntun pikirannya.


“Ingatlah selalu wejanganku, Ethes.” 


"Nggih Kang Mas, saya berjanji."


***


Dari dalam tempat peristirahatanku, aku menatap cahaya bulan yang terpantul di cermin. Di tengah ramainya kota, bulan tetap bersinar dengan sunyi nan tenang. Sembari bersandar di jendela, aku kembali tenggelam dalam lautan pikiranku.


“Bisakah aku tetap hidup sampai bibit baru kerajaan ini lahir?” 


“Aku ingin melihatnya bahagia.”


“Besok, aku harus melepasnya di altar. Semoga aku masih dapat menikmati kengahatan ‘ibu’ agar dapat melihat senyumannya,” ungkapku pada sang rembulan.


***


‘Ibu’ datang lagi. Dengan cahayanya yang seakan lebih terang dan hangat. Hari ini kerajaan lebih terasa hidup. Namun dengan ketenangan yang sama, semua orang tersenyum menyaksikan pernikahan Ethes dan Nilla. Cincin ditukar, janji diucap. Pernikahan mereka berjalan lancar. Kini Raden Ajeng Nilla Pangestu telah resmi menjadi Raden Ayu Nilla Pangestu Angkasa. Aku tersenyum melihat ‘bayanganku’ tersenyum. Mereka semua tersenyum. Kini kerajaan ini sudah membaik. Aku bersyukur dapat membawa cahaya kembali di kesultanan ini. Inikah saat yang tepat untuk menyerahkan kesultanan ini pada Ethes?


“Kang Mas, mari makan,” ucap Ethes, membuyarkan lamunanku. “Kang Mas, kemarilah. Aku sudah membuatkan Rebeg kesukaanmu.”

 

“Iya, aku ke sana.”


“Bagaimana rasanya, Kang Mas?”


“Rasa gurih kuahnya alami walau tanpa santan. Lezat sekali! Perpaduan kuah dan rempahnya terserap sampai ke seluk beluk daging sapi ini.”


“Terima kasih atas pujiannya, Kang Mas.”


Kami semua tertawa sembari menikmati prasmanan. Aku sungguh bahagia hari ini.


***


Petang menjelang. Kini suasana kembali sepi. Hanya pikiranku yang ramai. Hari ini sebenarnya melelahkan, namun menyenangkan. Di hari bahagia ini, aku ingin tenggelam dengan matahari. Aku tak kuat jika harus selalu terbit. Perlahan raga ini melayu, pandangan ini mulai meredup. Begitu tenang dan sunyi. Aku tenggelam dengan matahari dan menerbitkan Ethes sebagai matahari baru bagi Kesultanan Angkasa. Setiap pagi aku selalu tersenyum padanya di depan cermin. Menjaganya dalam bayangan dan menyinari tidur lelapnya setiap malam.


“Kuserahkan kesultanan ini padamu, Ethes Angkasa. Bawalah kesultanan ini setinggi angkasa,” ucapku yang kini tinggal bersama ibu dan ayah di angkasa baru. Akulah bintang dari Angkasa.


________


Penulis


Kezia Talita Kanne, lahir di Serang, 27 September 2008. Siswa SMP Mardi Yuana Serang. Ia tinggal di TCP Blok M7/51.


Kirim naskah ke 

redaksingewiyak@gmail.com


Jumat, 25 November 2022

Puisi-Puisi Ngadi Nugroho

Puisi Ngadi Nugroho




Labirin Suara


Ketika penyesalan lumpuh di otakmu. Hanya melahirkan kata-kata mandul. Tetap saja ribuan mulut-mulut pemabuk kamu jadikan ayat suci. Seharusnya pinggirkan dulu jiwamu di perempatan. Sambil jongkok menghitung waktu untuk kembali berjalan. 


Dan malam menjadi mimbar-mimbar tuhan yang paling durjana di matamu. Kamu perlahan mengamini seribu luka. Kamu masukkan dalam bejana. Kamu pukul dengan beringas. Hingga bersuara sumbang. Ah betapa lelah hari-harimu. Memahat tubuhmu serupa batu.


Semarang, 2022



Jalan Kematian


Pada sepi sebuah sumur. Dia gantungkan tali kegelisahan di urat lehernya. Dijumput dari rasa sesal yang mendalam. Rasa sesal itu seolah tugur. Geming di rahim yang tak perawan. Di pandangnya wajah-wajah itu serupa riak. Ada rembulan yang tiba-tiba jatuh mendekam. Lamat-lamat terdengar isak. Wajahmu pun mulai tak nampak. Hanya cahaya rembulan mengkilat kuning keemasan. Tak ada sesiapa di dalam sana. Kecuali sekadar bayang-bayang. Dan sebuah isak yang masih tergantung di atas sumur saat rembulan rembang.


Semarang, 2022



Untuk Siapa Cintamu yang Malu-Malu


Seperti peri-peri kecil bersayap merah jambu. Tersenyum di depan pintu rumahmu. Mengemasi segala angan yang kamu tembakkan seperti peluru. Selanjutnya membuntalnya sebagai sesajen ayam ingkung dan obo rampenya. Kamu berdoa pada Yang Pemilik Luka agar malam minggu esok tak ada hati yang retak. Di pagar depan rumahmu kamu taburi garam penghalau setan. Kata ibu; garam mujarab ngusir ular welang. Entah ular seperti apa yang di maksud, tetap saja itu kamu lakukan untuk penghalau lelaki hidung belang. 


Di pasar loak kamu mencari baju-baju untuk berkencan. Warna bunga-bunga juga ada cahaya matahari sebagai latarnya. Tak ada yang tahu lelaki seperti apa dalam anganmu. Mungkin lelaki yang bisa menambal luka atau seperti lelaki pembawa suluh saat hatimu gulita. Yang aku tahu setelah kematiannya, cahaya itu adalah jabang bayi kecil yang selalu menyusu di puting payudaramu. Tak ada yang lain selain itu; mengeruk gumpalan batu di hari-harimu. 


Semarang, 2022



Mimpi Masih Menunggumu


Kamu tak harus lemah. Atau seperti dinding-dinding yang memar, setiap pagi memantulkan tangismu di ujung pembaringan kamar. Jendela mulai limbung tertutup tirai ungu. Hari-hari jangan kamu biarkan memucat. Bukankah detik belum benar-benar terkapar menjadi seonggok mayat.


Tepat di jantungmu masih ada nyanyi burung-burung. Tangkaplah dan kurung mereka dalam mimpimu. Sore tak akan bilang permisi. Walau kamu tengah berdiri melamun di depan pintu. Tuhan telah mengayunkan waktu teramat jauh. Dan kamu tinggal menunggu burung-burung itu hinggap di kedua tanganmu. Bukalah jendela kamarmu, langit tak hanya bertirai ungu.


Semarang, 2022


________


Penulis 


Ngadi Nugroho, lahir di Semarang, 28 Juni. Bergerak di dunia sastra dengan beberapa antologi bersama dan sajak-sajaknya dimuat di media massa online. Sajaknya yang masuk dalam beberapa antologi: Pujangga Facebook Indonesia, Progo7, Dunia: Penyair Mencatat Ingatan, Lampion Merah Dadu, Jazirah XI, dll.  Beberapa pula karyanya yang masuk di media online: Umakalada News, Litera.co.id, Suara Krajan.com, Mbludus.com, Kepul, Riausastra, Pronusantara, Negerikertas, Media Indonesia, Majalah Elipsis, Majalah Sastra Santarang, Sumenep news, Potretonline, Tatkala, Harian Haluan, Balipolitika news, Magrib.id, Barisan.co, dll. 


Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com


Cerpen Eki Saputra | Hantu Bertangan Merah

Cerpen Eki Saputra



"Jangan pernah mendekati rel kalau hampir masuk magrib," kata Frangki setengah berbisik padaku. Ia memelankan suaranya di balik buku tulis bergambar artis yang ia tutupkan ke muka, padahal tanpa perlu berbisik suaranya tak pernah sejelas itu di telinga siapa pun, kecuali, mungkin, hanya di telingaku. Itu bukan sesuatu yang luar biasa. Jika aku mampu menerjemahkan yang dia katakan, semata-mata karena aku sudah tiga setengah tahun duduk sebangku dengannya. Aku hafal gerak-gerik bibir sumbingnya dan suara sengaunya. Kupikir ia sama saja dengan orang-orang normal yang kukenal. Namun, ia punya bakat bercerita meyakinkan yang lihai. Salah satu kemampuannya yang mungkin cuma aku yang menyadarinya. 


"Memangnya kenapa?" tanyaku seolah-olah tidak mengerti. Aku sudah paham sekali yang ingin ia katakan. Pasti tentang kereta hantu tengah malam, penculik menyamar jadi pemulung, masinis jadi-jadian, kuntilanak di atas palang, atau pocong di WC dekat stasiun. Setahuku Frangki selalu punya stok cerita seram. Entah dari mana ia mendapat segala kisah mengerikan itu, entah benar atau tidak cerita itu, tapi aku sejujurnya selalu tertarik mendengarkan ceritanya dibandingkan memahami ocehan guru sekolahku yang membuat mulutku tak henti-hentinya menguap. Atau omong kosong teman-temanku yang lain. Mereka pembual besar dan tidak konsisten. Frangki, walau sama-sama pembual, setidaknya ia lebih konsisten. 


"Pokoknya jangan! Itu berbahaya," matanya yang hitam memelotot dengan mimik muka yang tegang. "Katanya suka ada hantu bertangan merah di atas gerbong. Hantu itu ...." 


"Yang duduk di belakang. Berhenti mengobrol!" bentak guru kami tiba-tiba. Kami tak sadar sudah diperhatikan wanita bengis itu sedari tadi. Kami langsung merunduk dan berpura-pura menyimak buku yang wanita itu bacakan. 


Hari itu kebetulan kelas Bu Lina, guru mata pelajaran PPKn. Ia pemegang rekor sebagai guru paling membosankan di SD kami. Ia lebih cocok disebut robot daripada guru. Kerjanya cuma membaca, membaca, dan membaca isi buku cetak. Kalau ia malas mengajar, ia akan memanggil Anita, kawan kami yang sudah dua tahun tidak naik kelas. Kemudian meminta siswi malang itu mengerok leher gajahnya sampai jari muridnya itu bengkak. Satu hal yang pasti, Bu Anita selama di kelas tidak pernah barang sedetik pun meninggalkan kursinya. Kurasa ia punya bokong besi sehingga kalau sudah menempel di kursi, ia tak akan bisa berdiri sampai bel tanda mata pelajaran selesai berbunyi. 


Pokoknya, seingatku, wanita itu terkenal bengis. Kacamata kuda selalu menempel di mukanya. Dan, dari balik kacamata itu, ia bakal mengawasi murid yang dianggapnya berisik, lalu menghukum mereka dengan sadis. Tentu saja saat menghukum murid, ia tak pernah meninggalkan kursinya. Wanita bermuka lonjong dan bertahi lalat sebesar biji kacang tanah di dagu itu akan meminta pelaku keributan maju ke depan kelas. Kemudian ditepuknya bokong murid-murid itu sebanyak jumlah hari dalam seminggu. Untungnya, aku dulu tidak pernah mengalami hal itu. Bukan karena aku bintang di kelas, melainkan Bu Lina adalah istri dari pamanku. Kami masih kerabat dekat. Kalau Bu Lina berani menghukumku, aku tak segan mengadukannya ke Mama, lalu Mama bicara ke Nenek, lalu Nenek pun menegur Paman, dan Paman bertengkar dengan Bu Lina. Demikianlah kemenanganku. Tapi tidak dengan nasib Frangki. Ia rutin dihukum. Hari itu bukan lagi dengan sebatan bokong, melainkan ditepak kuku dengan penggaris kayu sebanyak jumlah murid di kelas kami: tiga puluh tiga orang. 


Aku masih ingat. Hari itu, sewaktu kelas kami berakhir, aku tidak langsung pulang ke rumahku, tetapi justru ikut ke rumah Frangki. Rumahnya memang tidak begitu jauh dari sekolah. Hanya sekitar tiga puluh meter dari gedung sekolah kami kalau melewati jalan aspal. Namun, sangat dekat seandainya meniti jalan pintas. Kira-kira hanya melewati tiga deret bangunan, maka kami sudah menemukan gubuk berdinding papan yang berdiri membelakangi kolam besar. 


Jadi, di situlah habitat Frangki. Bangunan kecil tak berteras dan beratap rumbia. Satu-satunya rumah yang terhindar dari kabel menjuntai. Pekarangannya kering dan tandus, tetapi tampak semarak berkat pola ragam tahi unggas yang mengotori tanah. Meskipun demikian, tempat itu terlihat asri pada bagian belakang. Terdapat rumpun pandan, ketela pohon menjulang, dan rumpun serai yang tumbuh subur di sana. Dan di atas kolam besar itu, sekawanan angsa asyik berenang beriringan dengan sepasang bebek. Mereka melewati teratai bermekaran seperti piringan hijau yang dihiasi bola lampu menyala. Kolam biru pirus itu memantulkan cahaya matahari pukul sebelas siang pada hari Jumat yang damai. 


"Mereka cantik sekali," gumamku, takjub. Aku menunjuk sekawanan angsa dan bebek berenang. 


"Biasa saja," balas Frangki tak bersemangat. Sekilas ia memandangiku seperti kasihan. "Bukan mau sombong, tapi aku melihat mereka setiap hari. Apanya yang cantik coba?" 


"Menurutku ini cantik. Aku jarang melihat yang begini. Ini seperti anime." 


Keningnya mengerut. "Apa itu anime?" 


"Hmm, mama menyebutnya kartun. Tapi abangku bilang itu beda dengan kartun. Intinya animasi, tapi mirip betulan." 


Kerut di keningnya makin banyak. "Aku tidak mengerti. Dari dulu kami tidak punya televisi."

 

Aku tergelak. "Mungkin kamu sesekali perlu ikut aku nonton di rumah." 


"Ogah! Aku lebih suka main daripada melihat kotak sempit itu." 


Dua bebek yang kulihat berenang tadi ternyata sudah naik ke tebing. Mereka terbang pendek. Saling kejar-mengejar. Gara-gara itu debu berkeliaran di udara. Menerbangkan daun-daun kering dari sebatang pohon belimbing di sekitar danau. Membuatku sontak jadi terbatuk-batuk. 


"Andai bisa, aku ingin menyembelih salah satu dari mereka," ujar Frangki, kejam. Mukanya makin merengut lantaran kesal menemukan tahi bebek berlumuran di sebelah sandal jepitnya yang tergeletak di samping pot bunga. Ia buru-buru mengambil serenteng kunci dari bawah pot bunga plastik di dekat sandal itu. 


Ia membuka pintu. Saat akan masuk, ia berhenti sejenak seolah ia tengah berpikir tentang sesuatu. Tak lama kemudian ia menoleh padaku dengan seraut wajah gembira, seakan sudah melupakan tentang tahi bebek di sandalnya tadi dan berkata, "Bagaimana kalau kita main kartu gambaran? Lagi pula Mbak Lusi tidak akan pulang sampai sore. Kita bebas!" 


"Ayo! Siapa takut!" 


*** 


Rumah sederhana itu milik saudarinya. Wanita setinggi gagang sapu yang suka mengomel, begitu julukan Frangki. Ia bilang sangat benci kakaknya. Wanita itu terlampau pelit. Setiap hari cuma memasak nasi dan sambal terasi. Kadang kalau ada uang, ia memasak semur jengkol atau sambal ikan teri. Saat pergi sekolah Frangki tak pernah diberi uang jajan. Abang iparnya pun sebelas dua belas dengan kakaknya: mereka berjodoh karena sama-sama kedekut. 


Sebetulnya aku senasib dengan Frangki. Kami sama-sama tak diberikan uang jajan. Mama rutin menyiapkan bekal nasi goreng dengan lauk telur mata sapi dan sosis. Setiap hari. Itu-itu saja. Mama bahkan menyediakan air mineral baru untuk kuminum. Semua yang masuk ke mulut harus diperhatikan dengan cermat, begitu pesan mama. Apalagi jajan di luar, sudah pasti banyak penyakitnya. Ia mengoceh kalimat itu setiap kali aku minta uang jajan. 


"Kau tidak makan?" tanya Frangki, bingung. Ia melihat isi kotak nasiku seperti belum berkurang sesuap pun. Padahal, sebagian nasi dan lauknya telah kuoper padanya. 


"Aku kenyang. Ambil saja semuanya buatmu." 


"Yang benar? Aku memang sedang lapar nih. Di ketel tinggal kerak saja," ucapnya dengan mulut masih yang terisi penuh. 


"Ambillah kalau begitu. Aku nanti makan sepulang dari sini." 


"Ya, ya, aku tahu, pasti di rumahmu sudah ada makanan yang lebih enak," tukasnya, kemudian minum. 


"Besok-besok ajaklah lagi aku main ke rumahmu. Aku mau ikut makan di sana. Mamamu baik, makanan kalian juga enak-enak," kata Frangki selepas minum. 


Aku mengangguk ragu-ragu, bingung ingin mengiyakan atau tidak. Sebetulnya Mama tak suka kalau aku berteman dengan Frangki. Mama bahkan melarangku mengajak anak itu main lagi ke rumah. Kata Mama, Frangki itu anak kurang baik, kurang adab, kurang sopan, kurang tata krama, kurang segala-galanya. Aku pun tak mengerti, mengapa semua itu jadi penting buat Mama? Mengapa ia repot memikirkan semua itu? Frangki cuma temanku. Ia bukan anak Mama. Ia tak perlu menjadi anak yang seperti Mama inginkan. Ia tak akan betul-betul merugikan mama dengan semua kekurangannya itu. 


"Makannya seperti anjing," kata Mama dengan ekspresi jijik. Padahal, yang kulihat selama ini cuma anak lapar yang makan dengan lahap. Entah kenapa di mata Mama, Frangki terlihat tidak normal. Kata Mama, ia mengambil lauk-pauk macam kuli proyek, ia jorok karena tidak mencuci tangan sebelum makan meskipun pakai sendok, ditambah kukunya pun hitam-hitam dan panjang, ditambah lagi serdawanya yang keras terdengar menjijikkan. Intinya, ia buruk di mata mamaku. 


"Terutama baunya itu sangat mengganggu. Bau pesing," keluh Mama. Ia mengucapkan itu dengan ekspresi bergidik selepas Frangki meninggalkan rumah kami pada hari itu. Mama sembari mengomel lantas mengguyur tangannya dengan air dari keran wastafel, lalu menyemprot sabun antiseptik berkali-kali. Itu karena temanku sempat menyalaminya sebelum pergi. 


"Mamamu sangat baik," ujar Frangki polos. "Beda dengan ibunya Deni, Indri, dan Riki. Ia sangat ramah." 


Frangki tidak tahu. Mama selalu saja pintar menyembunyikan ketidaksukaannya pada siapa pun. Di depan Frangki sebelumnya, Mama justru tidak sekalipun membahas segala kekurangan temanku itu. Ia bersikap ramah dan memperlakukannya sangat baik, begitu keibuan. Tetapi setelah temanku itu pergi, sikapnya berubah drastis. Mama mendadak seperti dua orang yang berbeda. 


"Lain kali tidak usah terlalu akrab dengan anak itu. Dia bukan orang baik," ucap Mama sembari mengeringkan tangannya dengan kain lap. Sejenak kemudian dilemparkannya kain lap bermotif kotak-kotak itu ke lantai, lalu ditekannya dengan kaki, dilapkan ke bekas air yang memercik dari ujung jari-jarinya tadi. 


"Namanya Frangki," sahutku tidak suka. 


"Ya, siapa pun namanya Mama tidak mau peduli. Aku kenal keluarganya. Dia anaknya warga pendatang itu, kan?" 


"Bukan, Frangki tinggal dengan kakaknya. Ibunya sudah meninggal dan bapaknya menikah lagi," kataku mencoba meluruskan. Mama tidak tahu apa-apa tentang temanku. 


"Anak malang. Pantas saja tidak terurus," selorohnya. Selanjutnya ia berkata lagi seraya menepuk kedua bahuku, "Tapi An, anak begitu biasanya punya pengaruh jelek. Pasti kurang dididik. Jangan terlalu akrab dengan dia." 


Ini menyedihkan. Saat Mama diam-diam mengejeknya, sementara Frangki terang-terangan memuji Mama di hadapanku. Ia bilang terkesan kebaikan mamaku. Ia bilang Mama begitu mirip dengan almarhumah emaknya di kampung asalnya. Ia bilang sungguh aku ini beruntung karena punya rumah yang bagus, Mama yang baik, dan makanan yang lezat. Lama-kelamaan aku jadi bingung, sebenarnya yang buruk itu Frangki atau Mama? 


***


"Sore ini kamu mau menemaniku ke rel kereta?" ajaknya di tengah permainan kartu gambaran. Kami bermain adu jagoan. Kartu gambaran siapa yang tertelungkup (bagian gambarnya terbalik), maka dialah yang kalah. 


"Buat apa?" 


"Melihat hantu bertangan merah. Yang aku bilang saat di kelas tadi." 


"Bukannya kamu bilang tadi berbahaya?" 


"Itu kan baru sekadar cerita. Aku pikir kita perlu membuktikannya." 


"Aku tidak bisa. Mama pasti marah kalau aku pulang sore-sore. Ini saja dia pasti sedang mencariku." 


"Ya sudah. Kalau begitu aku pergi sendirian saja nanti." 


"Memangnya kamu berani?" 


"Agak takut, tapi kudengar kalau menengok hantu tangan merah di gerbong keempat, dan dia melambai, terus kita melemparinya dengan batu dilumuri air garam, kita nanti akan dilemparinya balik dengan uang seratus ribuan. Aku tidak percaya, tapi tidak ada salahnya dicoba. Urusan lempar-melempar itu mudah. Kebetulan garam di toples dapur masih banyak." 


"Gila kamu!" balasku. Kami bertos, mengadu kartu gambaran. Kartu Franki jatuh terbalik dan punyaku tidak. Ia kalah. Aku langsung mengambil kartunya. 


"Bagaimana kalau itu bohong?" tanyaku setelah memungut kartu milik Frangki yang kalah. Aturan dalam permainan kami, siapa kalah main "setepuk", maka kartunya jadi milik pemenang. 


"Tidak masalah. Aku cuma rugi garam. Mau lanjut main lagi?" Ia mengangkat alis. Telapak tangannya sudah siap dengan kartu baru tertempel. Kartu bergambar karakter mirip iblis. 


"Is, dasar nekat! Ayo main lagi!" 


"Dengar, aku janji, kalau aku dapat uang itu, kamu akan kutraktir makan siomay sepuasnya." 


"Kuharap begitu. Walaupun aku tak makan siomay soalnya aku alergi kacang tanah." 


"Halah! Dasar lemah! Kenapa orang kaya banyak pantangannya? Aku dari dulu makan apa saja bisa. Andai kursi dan meja bisa dimakan tentu sudah habis kumakan." 


"Asal jangan tahi yang dimakan." 


"Tempoyak itu kupikir mirip tahi. Jadi anggaplah aku sudah pernah makan tahi." 


"Sudah! Ayo main sekali lagi sebelum aku pulang." 


"Ya! Satu tepukan terakhir." 


***


Aku sama sekali tidak menyangka jika hari itu akan menjadi ingatan paling berharga tentang Frangki. Aku tidak menyangka permainan kami selamanya berakhir sejak hari itu. Aku menyesal tidak melarangnya berangkat sendirian ke sana. Ingatan tentang petang mengerikan itu hingga detik ini masih menghantuiku setiap malam. Meski sudah dua puluh tahun lalu berlalu. Masih terbayang bagaimana detik-detik saat bunyi beduk panjang itu ditabuh bertalu-talu dari masjid. Kemudian sang marbut menyebut-nyebut nama Frangki. 


"Kasihan sekali," ucap Bu Lina sore itu. Bu Lina kebetulan sedang lewat di depan rumah kami. Mama hanya ikut-ikutan mengulangi ucapan Bu Lina. Tidak tampak ia turut berduka mendengar kabar itu. 


Bu Lina mengatakan sahabatku yang malang itu meninggal karena tersenggol kereta. Beberapa orang di tempat kejadian bahkan menyaksikan sendiri saat ia mengejar salah satu gerbong kereta yang tengah melintas. Tangannya seakan mau menggapai-gapai sesuatu. Sebab itulah ia jatuh terjerembab dan kepalanya menghantam roda kereta hingga mati tergilas di tempat. 


"Lin, itu muridmu juga, kan? Masih sekelas dengan Andi?" 


"Iya, Mbak. Makanya aku tidak heran kalau meninggalnya sampai begitu. Dia ini memang bebal kalau di sekolah." 


Mama spontan langsung menoleh ke arahku yang masih belum percaya mendengar kabar buruk itu. "Apa kata Mama, kan? Anak itu tidak baik. Dia memang nakal. Untung kamu sudah Mama peringatkan!" 


Aku menahan tangis. Tangis kehilangan; tangis kebencian pada Mama dan semua orang dewasa. Orang dewasa tidak pernah tahu apa-apa. 

 

________

Penulis

Eki Saputra (1997) lahir di Prabumulih, Sumatera Selatan. Emerging Writer di Ubud Writers & Readers Festival 2021. Aktivis lingkungan dan penulis lepas. Seorang penikmat karya sastra dan film pendek. Baru-baru ini ia menerbitkan novel berjudul Kepada Siapa Ilalang Bercerita (2022). 


Kirim naskah ke 

redaksingewiyak@gmail.com


Kamis, 24 November 2022

Berita | Gus Ulil Hadiri Tadarus Wayang Santri Lesbumi Jember


NGEWIYAK.com, JEMBER -- Lesbumi PCNU Jember dan Pesantren Nurul Islam Jember sukses menggelar Tadarus Wayang Santri bersama Ki Dalang Ompong Sudarsono dari Temanggung Jawa Tengah. Tadarus tersebut digelar dua sesi, pada sesi pertama Rabu malam (23-11-2022) bersama para santri jenjang SMP-SMA yang dihadiri oleh Pengasuh Pesantren Nurul Islam, K.H. Muhyidin Abdussomad dan Ketua Lakspesdam PBNU, Gus Ulil Absar Abdalah. Dari kedua tokoh nasional tersebut terpancar rasa senang dan bangga melihat santri di era milenial masih antusias belajar warisan budaya leluhur nusantara.


Sementara pada sesi kedua Kamis pagi (24-11-2022) tadarus wayang digelar di depan 500-an siswa MI Unggulan Nurul Islam. Kesempatan tersebut tidak disia-siakan oleh para siswa, semuanya terkesima dengan penampilan Ki Dalang Ompong Sudarsono yang memberikan ruang pada anak-anak untuk lebih dekat berinteraksi dengan wayang-wayang yang dibawanya. 


"Saya sangat bahagia melihat ratusan anak-anak rebutan ingin pegang dan main wayang. Saya ikhlas meski wayang rusak pun tidak jadi soal, wayang bisa dibuat tapi transformasi pengetahuan atau local wisdom jauh lebih penting," ujar Ki Dalang Ompong Sudarsono.


Serangkaian kegiatan Tadarus Wayang Santri bertempat di Aula SANI Nuris dalam rangka upaya pelestarian seni wayang, dengan tema “Ngaji Seni Wayang sebagai Jalan Dakwah Lewat Budaya di Era Digital”. Tadarus wayang tersebut dihadiri para budayawan serta pemerhati wayang dari Jember dan Lumajang.


Acara Tadarus Wayang Santri ini dimulai pukul 19.30 dengan penampilan pembuka Grup Musik Kolaborasi Hadrah dan Gamelan, Nuris Van Java dengan persembahan Lagu Tanah Airku, Al-I’tiraf, dan Man Ana. Dilanjutkan pembacaan puisi oleh Muhammad Lefand dari Lesbumi PCNU Jember. Lalu, menuju acara inti, Tadarus Wayang Santri, Ki Ompong Sudarsono mengajak para santri untuk bersalawat. Menariknya, selama dua jam lebih, santri tampak antusias mengikuti acara sampai dengan selesai. 



Cak Siswanto, selaku Ketua Lesbumi PCNU Jember sekaligus Dosen Universitas Jember tersebut menyampaikan bahwa pentingnya warisan budaya bangsa untuk dilestarikan. 


“Santri harus mengerti, mengenali, dan melestarikan seni wayang di tengah arus modernisasi yang kiat pesat,” tambahnya.


Ki Dalang Ompong Sudarsono sosok yang unik dan bersahaja khas santri. Hampir empat bulan beliau keliling nusantara, menggelar pertunjukkan wayang hingga ke pelosok kampung. Setelah road show Timur Jawa, beliau menuju wilayah Matraman hingga kembali ke Jawa Tengah. Semoga wayang terus bergema di nusantara dan dunia.


(Redaksi)


Senin, 21 November 2022

Karya Siswa | Damai Itu Indah | Cerpen Nadia Faiz

Cerpen Nadia Faiz




Suatu hari di pagi yang cerah, suara ayam berkokok dan burung bersiul, memenuhi indra pendengaranku. Seolah membangunkanku agar bersiap untuk beraktivitas. Di kampung, kami terbiasa untuk salat bersama di masjid, mayoritas penduduk kampung kami beragama Islam.


Seperti pada pagi-pagi biasanya, masyarakat memulai aktivitasnya masing-masing. Ibu-ibu yang menyiapkan keperluan keluarganya, bapak-bapak bersiap untuk bekerja, dan anak-anak bersiap ke sekolah, termasuk aku.

 

Sesampainya di sekolah, aku mendapati kelas kami yang sedang heboh karena berita bahwa akan ada murid baru di kelas kami. Anak-anak kelasku mulai menebak wujud baru di kelas kami. Lalu setelah guru memberi izin anak baru memasuki ruang kelas, kami begitu terkejut bahwa anak baru di kelas kami adalah anak perempuan, namun tidak memakai kerudung dan memakai kalung salib di lehernya.

 

Pemandangan itu sangat baru dan asing bagi kami, karena kampung kami masih kental dengan keislamannya, tepatnya di kampung Dukuh dekat hutan Garut. Anak perempuan itu bernama Lucy, ia pindahan dari kota. Ia pindah ke kampung mengikuti kedua orang tuanya.

 

Kedua orang tua Lucy merasa jenuh berada di kota karena asap polusi di mana-mana dan kriminalitas yang semakin meninggi. Mereka rindu dengan suasana kampung yang tenteram, sejuk, dan masih segar belum tercemari asap kendaraan yang memenuhi jalanan. Maka kedua orang tua Lucy pun memutuskan untuk meninggalkan kota dan menetap di kampung.

 

Karena perbedaan agama, ia tidak mendapatkan teman. Suatu hati teman sekelasku, Dinda, membagikan oleh-oleh yang ia beli dari kota untuk kami. Semua anak di kelas mendapat oleh-oleh tersebut kecuali Lucy.

 

Lucy yang melihat kejadian itu memasang raut wajah masam dan terlihat sedang menahan tangis, air mata yang ditahannya tak bisa lagi dibendung saat melihat Dinda yang lewat di depan mejanya begitu saja dengan sikap takacuhnya.


Aku yang melihat kajadian itu pun langsung menghampiri tempat duduk Lucy dan membagi oleh-oleh yang kudapat dari Dinda untuk kami nikmati bersama. Setelah pulang sekolah aku pun mengajak Dinda untuk berbincang. Aku menegur perbuatan yang Dinda lakukan terhadap Lucy di kelas dan memberi tahu bahwa perbuatannya dapat melukai perasaan seseorang.


“Dinda, mengapa kamu tidak memberikan oleh-oleh kepada Lucy, sementara kamu memberikan semua anak kelas oleh-oleh?” tanyaku.


“Biarkan saja, toh dia juga berbeda dengan kita. Dia tidak memakai kerudung, dia juga tidak salat seperti kita,”jawab Dinda.


“Lucy memang tidak berkerudung seperti kita, dia juga tidak salat seperti kita, walau begitu dia satu bangsa  dengan kita. Kamu masih ingat kan semboyan bangsa dan maknanya?” tanyaku.


“Ingat, semboyan bangsa kita Bhineka Tunggal Ika kan? Maknanya berbeda-beda tetapi tetap satu jua,” balas Dinda.


“Nah berbeda-beda yang dimaksud ialah berbeda agama, etnis, kebudayaan, ras dan lain sebagainya. Jadi Meskipun Lucy berbeda dengan kita, namun kita tidak boleh membeda-bedakan Lucy,” jawabku.


“Benar juga apa yang kamu katakan. Aku tidak berpikir panjang, nanti aku akan meminta maaf kepadanya. Terima kasih telah mengingatkan dan menegurku,” ujar Dinda.


“Tentu, itu juga merupakan tugas kita untuk saling mengingatkan,” jawabku.


Namun kejadian itu tidak dapat diputarbalikan atau pun dibatalkan, kejadian itu menjadi luka dihati Lucy dan terekam jelas di memori Lucy. Ia menjadi tidak percaya diri untuk bertemu teman-temannya.


Besoknya Lucy pun memutuskan tidak masuk kelas. Dinda yang ingin meminta maaf kepada Lucy pun bingung karena Lucy tidak masuk tanpa keterangan.


Aku dan Dinda pun merasa cemas mengingat apa yang terjadi kemaren. Begitu pulang kami pun memutuskan untuk ke rumah Lucy. Begitu sampai di rumah Lucy, kami pun dihidangkan jamuan oleh ibu Lucy. Kami meminta izin untuk menemui Lucy.


Kami mengetuk pintu kamar Lucy. Dan Lucy membuka pintu.


“Ngapain kalian ada di sini?” tanya Lucy dengan nada kesal.


“Aku mau meminta maaf atas apa yang aku lakukan kepadamu saat di kelas kemarin. Aku sungguh menyesal atas apa yang aku lakukan kepadamu,” jawab Dinda.


Lucy yang tadinya sangat kesal itu, menghela na napas begitu mendengar permintaan maaf dari Dinda. Lucy merasa pemintaan maaf Dinda begitu tulus, ia pun menerima permintaan maaf itu.


“Iya, tidak apa-apa Dinda, aku maafkan, tetapi lain kali jangan seperti itu lagi, perbedaan pasti akan selalu terjadi,” jawab Lucy.


“Benar, syukurlah kalian sudah berbaikan, meski kita tidak memiliki perbedaan baik perbedaan agama, etnis, budaya, tetapi kita ini tetap satu, Indonesia,” balasku.

 

Kami pun tertawa bersama dan tampak semakin akrab. Anak-anak lain yang menjauhinya pun kini mendekat dan mulai membuka diri kepada Lucy.

 

Beberapa bulan kemudian, Ramadan pun tiba. Sekolah kami mengadakan acara pesantren kilat, meski Lucy tidak berpuasa seperti kami, tapi Lucy tidak makan atau pun minum di depan kami. Saat beristirahat, ia juga tidak jajan atau pun membawa bekal. Kedekatan kami dan Lucy pun semakin erat, Lucy juga selalu menghormati budaya-budaya yang ada di kampung kami.


(Cerita ini adalah Pemenang III Lomba Cipta Cerpen Tingkat SMP se-Kota Serang yang diadakan oleh MGMP Kota Serang dalam Semarak Bulan Bahasa 2022).


______

Penulis

Nadia Faiz, siswa SMPN 14 Kota Serang.




Kirim naskah ke

redaksi ngewiyak@gmail.com

Jumat, 18 November 2022

Puisi-Puisi Raudhotul Jannah

Puisi Raudhotul Jannah

 



Yang Kita Punya Hanya Sepotong Senja


Barangkali yang kita punya 

hanya sepotong senja

yang dipinjami Tuhan  

– sebab iba pada orasi kita.

Dibawanya alunan malam

sendu-merdu, melenakan.


Sayu-sayup kita lupa

kita di sini untuk apa? Kita lupa

pada jiwa muda

yang menjadikan kita api

yang siap membakar pagar besi,

pada tetes keringat

yang masih menggenang di ketiak

yang sesak terimpit kanan kiri,

pada megafon kerontang

kehabisan suara, kehilangan kata-kata,

dan pada gedung setengah jadi 

di pelupuk mata.


Malam semakin merdu. 

Semburat jingga mengajakku berdansa,

“ah, apa aku harus pulang?”, 

meninggalkan kerumunan, duduk tenang

menyantap semangkuk esai

kurang garam – kurang matang

yang besok harus dikumpulkan?

Tapi, aku ingat lagi aku di sini untuk apa.


Barangkali yang kita punya

hanya sepotong senja 

– bukan gedung indah yang megah.

Cukup sepotong seelok senja

yang dilukis Tuhan

agar kita tak melupa

bahwa ia juga punya seruan.


Ciwaru, 9 November 2022


Di Kota Rindu


Di taman rasa kota hatiku

Rinduku masih berbunga meski telah hilang aroma, 

meski kelopaknya hilang warna. Tangkainya masih berdaun 

meski tak lagi tangkas, meski tak lagi rimbun.


Di kota rasa taman hatiku

Rindumu mulai berdebu. Butiran tebal berwarna abu-abu 

turun dengan deras merayumu. Meski begitu, 

kau tetap meracau merindukanku disela batuk-batukmu. 


Sangkala, bisakah kupinjam kamu? 

sebelum warna tamanku jadi kehilangan warna

digilas deru asap cerobong tinggi, menyisakan abu-abu di mata

dan kenangan kita sewaktu muda


Sangkala, sore nanti pinjami aku. Akan kusiram bunga rinduku 

yang layu, kurawat rindumu yang sakit paru-paru. 

Kini taman kenangku tak lagi ada di kotaku. 

Hanya ada bunga dihujani debu. Rasa dibasahi rindu. 


Cilegon, 9 Juni 2022



Sesiut Angin Senja


Di keharuman rambut yang memutih

akan tersisakah cintamu? 


Pada kelesapan jiwa, ketukan sunyi

akan seluas apakah gugusan rindumu? 


Ah, Tuhan

Pada kelopak-kelopak raga yang tertanggal

akankah dosa-dosa tertinggal? 


Serang, 10 Agustus 2021



________

Penulis


Raudhotul Jannah, perempuan yang akrab dipanggil Rara ini sedang berkuliah di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Rara lahir di Cilegon, 3 Januari 2002. Beralamat di Jl. Sunan Kudus, Link. Ciluit, Kel. Deringo, Kec. Citangkil, Kota Cilegon, Banten. Aktif berkegiatan di Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia (HMJ PBI) dan UKM Bengkel Menulis dan Sastra (Belistra) FKIP Untirta.

  

Kirim karya ke

redaksingewiyak@gmail.com


Senin, 14 November 2022

Karya Siswa | Bahasa Pemersatu | Puisi Leisya Kirana Sukma

Puisi Leisya Kirana Sukma




Bahasa Pemersatu


Dari Sabang hingga Merauke

Dari pesisir hingga tanah yang terjajak

Dari langit biru menuju jingga

Terdengar sahutan orang yang berpijak

Apakah engkau mendengar apa yang mereka ungkapkan?


Di Aceh terdengar logat tamiang

Di Padang terlantunkan bahasa urang awak

Di Serang bertutur bahasa babasan

Di Jawa tertitah bahasa krama inggil

Di Kalimantan bergema bahasa dayak


Negeri dengan seribu satu bahasa

Negeri dengan keunikannya yang berbeda

Penghubung antar suku bangsa

Dengan bahasa yang satu, bahasa Indonesia


28 Oktober ... engkau diikrarkan sebagai pemersatu bangsa

Mempersatukan putra putri daerah

Dengannya kita dapat saling menyapa

Perbedaan tak menjadi halangan

Untuk saling bercakap antar sesama


Engkau disorakkan satu bahasa

Engkau dibanggakan rakyat Indonesia

Kami bangga berbahasa Indonesia

Kami bangga menjadi bagian dirimu


2022


(Puisi di atas adalah Pemenang II Lomba Cipta Puisi Tingkat SMP se-Kota Serang)


________

Penulis

Leisya Kirana Sukma, dilahirkan di Serang, 24 Oktober 2008. Kini duduk di bangku kelas VIII H di SMPN 14 Kota Serang. Tinggal di Taktakan Perum Drangong Resident, Kota Serang. 


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com



Sabtu, 12 November 2022

Resensi Sapta Arif | Menyesap Wangi Cinta dalam Sejarah Kretek Indonesia

Oleh Sapta Arif




Judul: Gadis Kretek

Penulis: Ratih Kumala

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama 

Cetakan: VI, 2022

ISBN: 978-979-22-8141-5

Tebal: 275 halaman


Tak mau kalah dengan karya suaminya—Eka Kurniawan, Gadis Kretek garapan Ratih Kumala membuat gebrakan. Terbit pertama kali bulan Maret 2012. Buku yang telah mengalami enam kali cetak ulang ini segera dialih-wahanakan menjadi film serial di Netflix. Kamila Andini dan Ifa Isfansyah didaulat sebagai sutradara. Tidak tanggung-tanggung, artis sekaliber Dian Sastrowardoyo, Ario Bayu, Putri Marino, hingga Arya Saloka digaet untuk memerankan tokoh-tokoh garapan Ratih.


Penikmat sastra Indonesia tentu sudah tidak sabar menantikan film ini. Apalagi, tokoh Jeng Yah (Dasiyah) akan diperankan oleh aktris cantik nan berkarakter: Dian Sastrowardoyo. Sementara itu, tokoh Soeraja akan diperankan oleh Ario Bayu. Mengingat ketenaran dua aktor ini, serta track record Kamila Andini dan Ifa Isfansyah dalam menggarap film, penikmat sastra tentu berharap alih wahana novel ini bisa menyuguhkan tayangan yang berkualitas.


Menyesap Cinta Beraroma Sejarah Indonesia


Konflik dalam novel ini dimulai sejak paragraf pertama. Bermula Soeraja yang sekarat, tiba-tiba mengigau nama “Jeng Yah”. Kejadian ini sempat membuat geger istri Soeraja, sekaligus menciptakan tanda tanya besar bagi Lebas, Karim, dan Tegar—tiga anak Soeraja. Keluarga ini diceritakan telah membangun dinasti perusahan kretek terbesar di Indonesia. Mengusung nama kretek “Djagad Raja”, nama ini sarat akan sejarah, konflik, hingga rahasia besar.


Ratih dengan piawai membuat dua alur besar dalam buku ini. Pertama, alur konflik antartokoh. Dimulai dari kisah cinta segi tiga antara Idroes Moeria, Roemaisa, dan Soejagad. Dilanjutkan kisah cinta nan pilu antara Soejagad dengan Jeng Yah “Si Gadis Kretek”. Dikisahkan, saat Indonesia tengah berjuang melawan penjajahan Jepang, Idroes muda memiliki ambisi mengembangkan pabrik kretek rumahan. Hal ini mendapatkan dukungan dari tambatan hatinya, Roemaisa. Idroes diceritakan sebagai pemuda yang gigih, ulet, dan ambisius. Lalu, Roemaisa—putri seorang Juru Ketik Belanda—bersetia menemani suaminya dalam getir kehidupan di jelang dan pasca kemerdekaan. Sedangkan Soejagad muda—bakal mertua Soeraja, sejak awal digambarkan sebagai tokoh antagonis dalam bahtera kehidupan cinta Idroes Moeria dan Roemaisa. Akhirnya, Idroes merintis Rokok Kretek Merdeka, sedangkan Soejagad merintis Rokok Kretek Proklamasi dengan ikon gambar Bapak Proklamator kita, Soekarno.


Persaingan Idroes dan Soejagad kian kental. Baik dalam usaha kretek hingga dalam menggaet Soeraja sebagai menantu. Ya, Seoraja yang awalnya diceritakan dekat dengan Jeng Yang, membelot lantaran keadaan yang genting pasca pemberontakan G30S PKI. Pemuda yang belajar banyak dunia kretek dari Soejagad dan kekasihnya ini, akhirnya menikah dengan Purwanti—putri Soejagad. Kisah cinta yang rumit ini berupaya diurai Ratih menggunakan dua pendekatan sudut pandang. Pertama pengisahan sudut pandang orang ketiga. Kedua, pengisahan sudut pandang orang pertama melalui suara tokoh.


Alur kedua, berkaitan dengan sejarah perkembangan kretek yang mewarnai manis getirnya sejarah Indonesia. Dari masa perjuangan kemerdekaan hingga masa-masa genting saat PKI merajalela. Ratih menyimbolkan hal tersebut melalui beragam hal. Mulai dari nama ikon rokok kretek yang dipakai. Pada awal kemerdekaan Indonesia, pembaca dikenalkan oleh dua ikon yang bersaing. Yaitu, rokok kretek “Merdeka” dengan kertas papier warna merah yang menyombolkan semangat kemerdekaan. Lainnya, rokok kretek “Proklamasi” dengan ikon Soekarno yang sedang merokok.


Seperti novel yang beririsan dengan sejarah Indonesia lainnya, Ratih tak luput menyisipkan bagaimana gejolak kehidupan tokoh pada masa-masa genting. Yaitu ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) bergerak hingga saat masa penumpasannya. Di sinilah puncak konflik cinta nan pilu antara Jeng Yah dengan Soeraja. Kisah cinta yang kelak menyimpan rahasia besar perusahaan Rokok Kretek Djagad Raja.


Realisme Sejarah yang Romantik


Sebagai penulis yang meniupkan napas realisme pada novelnya, Ratih berupaya memotret kejadian-kejadian yang mewarnai sejarah perkembangan Indonesia. Alih-alih memberikan gambaran yang teliti pada setiap detail cerita, Ratih justru kerapkali menyisipkan nilai-nilai sejarah di berbagai tubuh novel. Mulai dari kisah Haji Djamari yang dikenal sebagai penemu rokok asal Kudus pada abad ke-19. Kisah ini diceritakan oleh Soeraja pada kekasihnya—saat dengan Jeng Yah. Tak luput juga dia menyinggung lokasi geografis kota M beserta nilai sejarahnya dari kuliner dan nama jalan.


Yang paling ikonik dari novel ini tentu saja sosok Jeng Yang sebagai Gadis Kretek. Nama ini dibaptiskan oleh Idroes Moeria saat mendapati putrinya mampu melinting dengan cita rasa yang enak. Jeng Yah diceritakan merekatkan lintingan kreket dengan air ludahnya yang manis. Melalui tokoh Soeraja yang ahli dalam bercerita, Ratih menitiskan semangat juang Rara Mendut dalam tokoh Gadis Kretek. Penggambaran wataknya—Roro Mendut dengan Jeng Yah—pun begitu identik. Roro Mendut dikenal sebagai sosok gadis yang berpendirian teguh yang tidak sungkan untuk menolak setiap pinangan laki-laki yang diberikan kepadanya. Diceritakan, suatu ketika Roro Mendut tak memiliki harta karena seluruh kekayaan di kadipatennya—Pati—telah dirampas Mataram. Ia pun tidak kehabisan akal. Berbekal kecantikan dan kemolekannya, Rara Mendut mencari uang dengan menjual rokok yang dia rekatkan dengan ludahnya dan telah dia hisap. Hal inilah yang dititiskan Ratih Kumala pada sosok Jeng Yah alias “Si Gadis Kretek”.


Keteguhan hati Roro Mendut menitis pada keteguhan hati Jeng Yah untuk bangkit. Setelah mendapatkan kabar pernikahan Soeraja, ia sempat mengisap kretek baru yang sedang naik daun produksi Soeraja dan Soejagad (mertuanya). Tanpa pikir panjang, ia pun melabrak prosesi pernikahan itu dengan cara memukul semprong ke kepala Soeraja hingga menyisakan bekas luka permanen. Bekal luka yang menyimpan rahasia besar perusahaan Djagad Raja. Rahasia soal apa? Silakan baca novelnya! 


________


Penulis


Sapta Arif, penulis berkarya d(ar)i Ponorogo. Menjadi redaktur esai di lensasastra.id. Buku terbarunya Bulan Ziarah Kenangan.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com