View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Latest News

Sunday, March 1, 2026

Puisi-Puisi Rifqi Septian Dewantara

Puisi Rifqi Septian Dewantara



Doa dalam Bahasa Diskon

Vaṇijjāsutta, AN 5.177

 

Kalau kutumpahkan semua nasibku di sini, betapa

lantai berubah menjadi peta kota yang lupa alamat rumahku,

retaknya mengeja jam kerja, slip gaji, dan suara ibu di telepon genggamku. Kalau kutampung semua kesendirianku di sana, betapa ember plastik menjadi samudra mini—ikan-ikan seperti kuitansi; berenang dengan mata uang kadaluwarsa. Kalau kubuang semua angkara dari ujung telunjukku, ia jatuh sebagai kode bar di market 24 jam, mesin berbunyi bip—marahku lunas, tapi tak selesai bertransaksi dari rekening mutasi

 

Kali ini, kutempelkan dahiku pada etalase kaca, manekin-manekin menatapku dengan pakaian masa depannya yang terlalu necis. Lampu neon di bawah mobilku mengajari cara doa dalam bahasa diskon, sementara kalender menggulung tubuhku seperti kabel headset yang kusut. Di saku celana, ada debu yang ingin jadi surat, alamat hilang, perangkonya berubah menjadi logo valuta asing

 

Aku pun kemudian menyeberang zebra cross, namun pikiranku—menjelma kereta cepat; tiap detik membawa namaku sebagai iklan yang tak terbaca dalam nama-nama produk masa kini

 

2025

 

ReCAPTCHA Moment 

 

(Membuka laman website). Klik. Bergeser ke bawah. Kursor mencari jalan ke zebra cross. Salah! kursor mencari lampu lalu lintas. Salah! kursor mencari palang jalan. Salah! kursor mencari kendaraan bis. Salah! 

 

Kau membuktikan diri

di depan milyaran manusia

dari seonggok identitas kepemilikan 

 

Klik. Bergeser ke samping. Kotak 3×3 potret sembilan gambar berbeda-beda ada di depan layar. Menyisir satu-per-satu piksel keraguan di sudut kepercayaanmu. 

 

Pembuktian diri semacam ini

tak meyakinkan kita 

menjadi manusia seutuhnya

hidup sudah cukup absurd

ditambah lagi keraguan para robot 

 

Apakah manusia telah melampaui batas terhadap kemunafikan? 

apakah aku sudah benar-benar diizinkan untuk masuk? 

 

Kepada mesin, buktikan aku adalah produk ciptaan paling gila sebelum dirimu lahir dari kecerdasan buatan. 

 

2025

 

I’m Not a Robot 

 

Kabelku hanyalah saraf yang kututup di atas permukaan kulit

Besi-besi yang menyanggaku hanyalah tulang-belulang

Aku bisa berdiri, jalan, dan lari dari kenyataan

Kau tak mungkin bisa, tak mungkin..

Langkahmu diprogram oleh rute; otomatis, berpola, kaku 

Tak latah mengikuti jejakku 

 

Aku membaca sedangkan kau memindai 

memilah-memilih-subjektivitas

menafsir-eksplikasi-objektivitas 

 

Versi kita berlainan

Hidupku berkembang dari pengalaman-pengalaman

Beda denganmu, yang terus di update 

Secara berkala oleh perangkat lunak 

 

Tapi, tak dapat kami sangkal

Hidup kami makin diseluk pemerintah!

Seperti budak-budak yang diprogram oleh sistem

Diautomasi untuk kebutuhan bertahan

Repetitif seumur hidup

 

Jika aku berarti; tanpa kalkulasi

Apakah kesadaranku nyata?

Atau diam-diam tubuhku memiliki tombol on/off

Dalam memutar mode roda-roda kapitalisme?

 

2025


______


Penulis


Rifqi Septian Dewantara pegiat sastra asal Balikpapan, Kalimantan Timur. Alumnus Telkom University, Bandung, Jawa Barat. Karya-karyanya tersebar di berbagai media online seperti Media Indonesia, BeritaSatu, Suara Merdeka, Borobudur Writers & Cultural Festival, Kaltim Post, Bali Politika, dll. Buku antologi puisinya “LIKE” (2024) dan “SHARE” (2025) diterbitkan oleh Pustaka Ekspresi sekaligus meraih Penghargaan Sastra Penyair Favorit Bali Politika 2024. Buku kumpulan puisi terbarunya Aku Tidak Datang dari Masa Depan (Langgam Pustaka, 2025). Bisa disapa melalui Instagram: @rifqiseptiandewantara


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Cerpen Fajarmana | Layla dan Juliet

Cerpen Fajarmana



Hari kacaumu ditutup dengan memutar lagu-lagu Bernadya di album “Sialnya, hidup harus tetap berjalan”. Kamu tahu, lagu-lagu dari album itu selalu jadi lagu kebangsaan para Gen Z saat galau dan putus cinta. Sama seperti kamu, setelah berdebat panjang dengan Linda pacarmu—mantanmu sekarang—siang tadi di Taman Cantelan, lalu diakhiri dengan putus hubungan. Seketika kamu merasa duniamu akan hancur.


Azan Magrib berkumandang, kamu tidak peduli. Lagu “Belum Ada Satu Bulan” lebih syahdu terdengar. Kamu menyalakan AC, menurunkan suhunya sampai 16° Celsius. Kamu coba merebahkan badan. Merasakan bagaimana dunia ini akan kiamat—kamu akan hidup tanpa cinta. Siapa yang akan mengingatkan aku makan? Siapa yang mengingatkanku salat? Siapa yang akan jadi pacar Linda selanjutnya? Apa Linda akan secepat itu dapat pengganti? Mungkin itu yang kamu pikirkan saat matamu menatap kosong plafon kamar.


Samar-samar dari ruang tengah kamu dengar ibumu memanggil. Suara itu semakin dekat dan keras.


“Anton… Anton… Mau salat di masjid apa di rumah?”


Kamu bangkit bukan untuk menghampiri ibumu, tapi mencari TWS lalu memasangkannya di telinga. Volume diatur ke paling kencang. Lagu selanjutnya yang kamu pilih adalah “Kata Mereka Ini Berlebihan”, masih di album yang sama.


Kembali kamu merebahkan badanmu di atas kasur. Kedua tanganmu diletakkan di bawah kepala. Mata kosongmu kembali menatap plafon. Beberapa detik kemudian, air mata turun perlahan. Lidahmu tercekat, tidak bisa mengeluarkan suara apa-apa. Matamu yang basah mulai memerah. Rupanya kamu mulai mengantuk. Sebelum lagu itu habis, matamu perlahan terpejam.


Gonggongan anjing membuatmu terkejut. Sejenak sebelum membuka mata, kamu merasa aneh tentang suara anjing yang baru pertama kamu dengar di rumah ini. Kamu hendak membuka mata, namun sulit, seperti banyak pasir yang memenuhi matamu. Seketika tenggorokanmu terasa kering dan kulitmu terasa terbakar.


Kamu akhirnya bisa membuka mata. Pandanganmu seketika kabur, kamu mengucek mata yang penuh pasir itu. Setelah mata mulai jernih, kamu terkejut melihat di atasmu bukan plafon, tapi langit biru yang cerah tanpa awan.


Sekuat tenaga kamu berdiri walau agak terhuyung. Alangkah kaget setengah mati saat kamu melihat sekelilingmu adalah hamparan gurun pasir luas, panas, dan seperti tidak berujung. Jelas kamu pikir ini adalah mimpi buruk tidur saat Maghrib. Namun naas, panas matahari gurun benar-benar kamu rasakan sakit di sekujur badan. Kamu menelan ludah saat memperhatikan tanganmu yang sekarang hitam. Lebih kaget lagi, kamu sadar tubuhmu lebih tinggi, tidak memakai baju, hanya ada celana lusuh dari katun robek.


Guk!


Suara anjing itu terdengar lagi dan semakin dekat. Kamu meloncat ketakutan saat anjing itu menjilati kakimu yang terlihat berbeda dari yang biasa kamu lihat. Anjing itu menggigit sepotong roti di pasir, sepotongnya lagi baru kamu sadari sedang kamu pegang di tangan kanan.


Kamu yakin ini bukan tubuhmu. Mana mungkin sekonyong-konyong semuanya berbeda. Kamu hanya ingat sedang galau, mendengar lagu, dan tiduran di kasur. Kamu menampar pipi dengan tangan kasar itu. Sakit. Ini nyata. Kamu juga memegang kepalamu, tiba-tiba saja rambutmu jadi panjang dan gimbal.


“Aku kenapa, sih?” kamu menggerutu.


Dari kejauhan kamu melihat sesuatu bergerak. Kamu menyipitkan mata. Sesuatu itu semakin mendekat, terlihat berlari ke arahmu.


“Hooooi!” Suara itu menggelegar di tengah gurun panas.


Kamu panik, coba berlari sekuat tenaga. Namun kamu terhuyung dan hendak terjatuh. Kamu tidak terbiasa dengan tubuh ini. Seketika saja ada tangan yang mencengkeram dari belakang. Kamu membalikkan badan dan bersiap memukul.


“Hoi, hoi! Tenang, Qais.” Ternyata itu seorang pria, tubuhnya setara denganmu, namun wajahnya terlihat seperti orang Timur Tengah.


“Qais?” tanyamu.


“Ah maaf, Qais Al-Majnun. Kalau kamu menolak nama lain selain sebutan itu,” ucapnya sambil terengah-engah.


Qais Al-Majnun? Itu kan tokoh yang ada di cerita Layla dan Majnun? Mungkin itu yang kamu pikir setelah lelaki tadi memanggilmu demikian. Kamu juga mungkin secara liar berpikir bahwa kamu sedang berada di tubuh Qais sekarang.


“Aku Qais?” Kamu memastikan.


“Astaga, Majnun! Kamu benar-benar jadi gila karena Layla. Bahkan lupa dirimu sendiri,” jelasnya.


Kamu menelan ludah. Dugaanmu benar, kamu terjebak dalam tubuh Qais di cerita Layla dan Majnun. Kamu mencoba mencerna semua keanehan yang terjadi. Kamu celingak-celinguk, matamu memindai semua yang ada di sekelilingmu. Lelaki itu kembali menepuk pundakmu, kali ini lebih keras.


“Majnun!” hentak pria tadi.


Kamu hanya melongo melihat dia.


“Astaga, Majnun. Melihat kondisimu sekarang saja aku tidak tega. Apalagi harus mengabarkan berita ini.” Mata laki-laki itu jelas memperlihatkan keprihatinan padamu.


“Ada apa?” Kamu gemetar.


“Majnun. Aku tidak tahu ini berita baik atau buruk untukmu, terlebih kamu mungkin masih berduka karena belum lama juga kehilangan orang tuamu, tapi semoga ini akan menghiburmu. Namun aku tidak janji bahwa ini adalah harapan,” ucapnya.


Kamu menelan ludah, ada perasaan tidak enak penuh di pikiranmu. Kamu mengangkat alis, karena lidahmu tercekat tidak bisa bicara apa-apa.


Lelaki itu menghela napas berat.


“Majnun. Ibnu Salam, suami Layla, meninggal kemarin.”


Matamu terbelalak. Seketika kamu ingat ceritanya. Tentu, kisah itu legendaris. Kamu pernah diceritakan bahwa setelah Ibnu Salam meninggal, Layla tetap tidak bisa bertemu Qais karena harus berkabung selama dua tahun—tidak boleh meninggalkan rumah—yang membuat Layla frustrasi, sakit, dan akhirnya meninggal. Kamu menelan ludah yang mungkin sudah kering itu.


“Tapi, Majnun. Kamu tetap tidak bisa menemuinya karena ....”


“Dia harus berkabung selama dua tahun,” kamu menyela.


Lelaki itu mengangguk. Kamu gelisah. Mungkin kamu sekarang berpikir ingin mengubah nasib Qais yang malang ini dengan melanggar semua aturan dan adat yang ada. Matamu menggambarkan harapan, agar Qais bisa bersatu dengan Layla.


“Aku tidak peduli, aku akan tetap menemui Layla sekarang,” ucapmu lantang.


“Tapi ....”


Kamu tidak peduli lagi. Kamu mungkin berpikir bahwa ditinggal Linda saja sangat menyakitkan, apalagi kamu harus menanggung sakit saat jadi Qais ketika mengetahui Layla meninggal. Tentu kamu tidak ingin seperti itu.


Kamu berlari, hendak menghampiri Layla. Walau kamu tidak tahu pasti di mana rumahnya, tapi kamu cukup mengikuti jejak asal lelaki tadi. Kamu berlari sekuat tenaga, melompati batuan, menghindari kaktus, dan menyingkirkan anjing-anjing yang ikut mengejar.


Namun sial, kamu tersandung kakimu sendiri. Kaki panjang yang belum juga kamu kuasai. Kamu terhuyung, menabrak kaktus dan terbentur ke bebatuan tajam di bawahnya. Kamu mulai kehilangan kesadaran.


Bau amis darah mulai kamu rasakan menusuk hidung. Kamu yakin itu berasal dari kepalamu yang bocor terkena bebatuan. Namun, ketika kamu membuka mata, kamu terkejut karena di depanmu ada seorang lelaki yang tertusuk pedang.


Lelaki dengan rambut panjang pirang, memakai topi copolla khas Italia. Dia mengerang kesakitan, sekarat.


Matamu terbelalak kala melihat pangkal pedang itu kamu pegang. Tanganmu gemetar. Kamu menatap sekali lagi lelaki dengan wajah Eropa itu.


“Pergilah ke neraka bersama orang-orang Montague, Romeo.” Lelaki itu jatuh setelah mengucapkan kalimat tadi.


Tubuhmu gemetar. Kamu mungkin mulai merasa bingung karena lelaki tadi menyebut Montague dan Romeo. Jelas, kamu tahu itu berasal dari cerita Shakespeare, yaitu Romeo dan Juliet.


“Apa ini, aku sekarang terjebak di badan Romeo?” kamu menggerutu sambil melihat tangan dan seluruh pakaianmu.


Tebakanmu benar. Di belakangmu, ada peti mati berisi perempuan. Juliet! Ya, itu Juliet. Kamu menghampirinya. Melihat lamat-lamat wajah dan seluruh tubuhnya. Kamu menelan ludah lagi. Pasti kamu berpikir kalau benar Juliet itu sangat cantik.


Kamu teringat sesuatu. Kamu meraba kantong dan menemukan sesuatu mengganjal di sana. Kamu merogoh kantong. Dugaanmu benar. Racun dari apoteker miskin yang dalam cerita Romeo dan Juliet akan menjadi racun pembunuh Romeo dan akhirnya membuat Juliet mati bunuh diri.


Kamu menatap kembali Juliet. Entahlah, kamu mungkin melihat itu Linda. Kamu mungkin kembali berpikir untuk mengubah cerita. Bahwa Romeo akan menunggu Pendeta Laurence datang, menanti Juliet sadar, sehingga Romeo tidak jadi meminum racun dan Juliet pun tetap hidup yang akhirnya akan hidup bahagia di Mantua sesuai rencana awal Juliet dan Pendeta Laurence.


Dengan penuh tekad, kamu membanting racun itu.


“Tidak boleh ada lagi orang menderita karena cinta!” teriakmu.


Benar saja apa yang kamu duga, Pendeta Laurence datang dan langsung menepuk pundakmu.


“Syukur surat yang aku kirim bisa kamu baca.”


Kamu tersenyum. Kamu tahu, dalam cerita asli, Romeo tidak pernah menerima surat itu sehingga terjadi salah paham.


Juliet pun terbangun. Langsung memeluk Romeo. Suasana di situ jadi haru dan menyenangkan. Kamu akhirnya menangis haru mengetahui berhasil membuat happy ending untuk ceritamu—atau cerita Romeo yang kamu rasuki.


Tiba-tiba Lord Capulet, ayah Juliet, datang. Dia langsung terkejut melihat putrinya yang hidup lagi. Dengan cepat menyadari bahwa dia sedang dipermainkan oleh Romeo, Capulet naik pitam. Dia mengeluarkan belati dari pinggangnya, berniat menyerangmu.


Juliet melompat ke arahmu. Memelukmu. Namun Juliet tertusuk belati Capulet. Kamu, Capulet, dan Laurence terkejut dengan hal itu. Capulet berteriak histeris karena tidak sengaja membunuh putrinya. Dia menangis karena harus menerima fakta bahwa anaknya benar-benar mati kali ini.


Kamu gemetar mundur. Pikiranmu makin kacau. Kamu menggeleng tidak percaya dengan apa yang terjadi.


“Anjing! Apaan sih ini!” Kamu berteriak sekencang mungkin.


Dengan frustrasi kamu mengeluarkan belati dari pinggangmu—belati yang seharusnya dipakai Juliet untuk bunuh diri di cerita aslinya. Kamu mengarahkan belati itu ke perutmu, mengangkatnya tinggi-tinggi, dan sekuat tenaga kamu hantamkan ke perutmu.


Kamu terduduk kaget. Keringat dingin mengalir di seluruh badanmu. Kamu bernapas tidak beraturan. Namun kamu melihat seluruh pemandangan kini kembali ke kamarmu. Kamu menghela napas panjang. Kamu bersyukur itu semua hanya mimpi. Mimpi buruk karena tidur saat Maghrib.


Kamu mengambil ponselmu. Mencoba menelepon Linda. Berharap bisa balikan. Agar kisahmu tidak semenyedihkan Layla dan Majnun, juga tidak semengerikan Romeo dan Juliet.


Namun telepon Linda tidak kunjung terhubung. Kamu baru sadar, ada tulisan “Memanggil”. Seketika kamu melihat foto profilnya hilang. Kamu diblok oleh Linda. Kamu menelan ludah. Rasanya, memang kamu, Majnun, dan Romeo harus bernasib sama.


Kamu melihat jam. Pukul 18.52, masih ada waktu untuk salat Maghrib. Kamu niat bertobat dan menenangkan diri.


Kamu berdiri, namun nyeri. Kamu melihat ada beberapa pasir yang menempel di kakimu. Kamu menelan ludah. Dengan pelan dan ragu, kamu membuka bajumu. Di sana, ada bekas luka tusukan.


______


Penulis:

Beberapa orang lebih mengenal nama Fajarmana daripada nama asli saya. Namun di beberapa identitas, saya juga lebih senang dipanggil seperti itu. Saya seorang yang banyak sekali melakukan kegiatan dan memiliki banyak kesukaan: membaca, menulis puisi, menulis naskah drama, menulis cerpen, menulis novel, membuat kopi, bermain musik, dan bermain teater.

Aktif diskusi di UKM Belistra FKIP Untirta. Saya sering juga membagikan tips hidup dan perjalanan kegiatan saya di Instagram: Fajarmana28, dan bisa ditemui di coffee shop tempat saya menyeduh kopi.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Puisi-Puisi Nisa Nurfadilah

Puisi Nisa Nurfadilah




Luka yang Singgah di Tubuh yang Renta

Luka selalu menemukan cara untuk singgah pada tubuh yang paling renta
seolah tak rela, walau satu saja goresan harus jatuh ke tubuhku yang masih belia

Bunyi langkah di teras rumah 
Selalu menyambutku dengan bergegas

Punggungnya sedikit membungkuk
memanggul doa-doa yang beratnya melampaui usia

Segala nyeri diredamnya menjadi tabah yang ia simpan sendiri
Rasa kantuk ditukarnya dengan bising bunyi sudip dan dandang
Lalu menyulap sisa tenaga menjadi tenang yang bisa kupinjam

Ia tak pernah bicara tentang lelah yang membuat matanya merah
tak pernah mengaduh pada perih yang menjalar di sekujur raga
tak pernah mengeluh meski luka-luka itu mulai memakan sisa usianya

Namun, kehidupan selalu dihidangkannya di atas meja

Serang, 21 Februari 2026


Sebelum Fajar Menyapa

Malam terpampang tanpa awan dan bintang
Menambah sunyi di atas langit yang membentang
Ada rembulan yang bersinar samar
Bergerak pasrah mengitari waktu yang tak menentu

Dingin menyelinap dari sela jendela
Menusuk anak manusia berlumur dosa
Yang mendamba ampunan atas kesilapannya

Air mata berderai membasuh lara
Menunggu fajar menyapa 
Menghapus segala

Serang, 22 Februari 2026


Cukuplah Aku

Cukuplah aku
Yang merasa berdetak lebih kencang dari seharusnya 
Saat langit mengganti warna
Dari semburat jingga menuju hitam kelam

Cukuplah aku
Yang memerangi batinku
Yang membebaskan ketakutan dalam penjara hatiku
Walau cemas masih bersarang membelenggu 

Cukuplah aku
Yang ingin berada di samping telingamu
Meneriakimu sekeras-kerasnya 
Bahwa, telah hilang dalam diriku
Keistimewaan terhadap masa lalu 

Cukuplah aku
Celaka bagiku
Bahwa, belum hilang dalam dirimu
Rasa memiliki terhadap perempuan yang menolak kau miliki itu
Walau celah kudapati dari balik matamu
Ternyata semu memilu dalam pandanganku

Cukuplah aku
Yang melebur dalam pikiranku
Mengutuk prasangka menjadi abu
Merutuki aku atas pernyataan cintaku


Bekas Luka

Luka tak selalu membeku
Ada yang diam-diam menghangat 
Seperti sisa peluk yang tertinggal setelah kepergian.

Aku berada di sana

Dalam jeda yang tak terucap
Dan harap yang menunggu binasa

Aku bukan lagi kobaran api
Aku bara sunyi yang kau kira telah mati
Padahal hanya menanti
Kau rindu untuk merasa lagi

Serang, 22 Februari 2026


________

Penulis 


Nisa Nurfadilah, dilahirkan di Serang, 7 Juli 2007. Suka menulis puisi dan esai, pernah sesekali menulis cerpen. Tak banyak karya yang terpublikasi. Namun, aktif menulis di Kompasiana, Instagram, website UKM Belistra, dan beberapa kali mengirim ke media massa berbayar, namun belum lolos. Kesibukan saat ini adalah sebagai seorang mahasiswi semester 4 di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dan mengikuti organisasi kampus: UKM Bengkel Menulis dan Sastra (Belistra). 


Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com 

Cerpen Bram Stoker | Under the Sunset

Diterjemahkan oleh Eka Ugi Sutikno



Jauh, sangat jauh, terdapat sebuah Negeri yang indah, yang tak pernah tertangkap oleh mata manusia dalam keadaan terjaga. Negeri itu terletak di bawah Matahari Terbenam, di tempat cakrawala yang jauh membatasi siang, dan di mana awan-awan, gemilang oleh cahaya dan warna, memberi janji akan kemuliaan serta keindahan yang melingkupinya.

Kadang-kadang, kita dianugerahi kesempatan untuk melihatnya dalam mimpi.

Sesekali datanglah para Malaikat, dengan lembut, mengepakkan sayap putih mereka yang besar di atas dahi-dahi yang letih, dan meletakkan tangan-tangan sejuk di atas mata yang terpejam. Maka melayanglah jiwa si pemimpi. Ia terbang bangkit dari kelam dan keruhnya musim malam. Ia berlayar menembus awan-awan ungu. Ia melesat melalui hamparan luas cahaya dan udara. Ia terbang melintasi biru tua kubah langit; dan setelah menyapu cakrawala yang jauh, ia pun beristirahat di Negeri Indah di Bawah Matahari Terbenam.

Negeri itu dalam banyak hal serupa dengan negeri kita sendiri. Di sana ada laki-laki dan perempuan, raja dan ratu, orang kaya dan orang miskin; ada rumah-rumah, pepohonan, ladang-ladang, burung-burung, dan bunga-bunga. Di sana ada siang dan malam; panas dan dingin, sakit dan sehat. Jantung para lelaki dan perempuan, anak-anak lelaki dan perempuan, berdenyut sebagaimana di sini. Ada kesedihan yang sama dan kegembiraan yang sama; harapan-harapan yang sama dan ketakutan-ketakutan yang sama.

Seandainya seorang anak dari Negeri itu berdiri di samping seorang anak di sini, kau takkan dapat membedakan keduanya, kecuali dari pakaian yang mereka kenakan. Mereka berbicara dalam bahasa yang sama seperti kita. Mereka tidak tahu bahwa mereka berbeda dari kita; dan kita pun tidak tahu bahwa kita berbeda dari mereka. Ketika mereka datang kepada kita dalam mimpi, kita tak menyadari bahwa mereka adalah orang asing; dan ketika kita pergi ke Negeri mereka dalam mimpi, kita merasa seolah-olah berada di rumah sendiri. Barangkali inilah sebabnya: rumah orang-orang baik berada di dalam hati mereka; dan di mana pun mereka berada, di sanalah mereka menemukan kedamaian.

Negeri di Bawah Matahari Terbenam, selama zaman yang sangat panjang, adalah sebuah Tanah yang menakjubkan dan menyenangkan. Tak ada satu pun di sana yang tidak indah, manis, dan menenteramkan. Baru ketika dosa datang, hal-hal di sana mulai kehilangan keindahan sempurnanya. Namun bahkan sekarang pun, negeri itu tetap merupakan tanah yang ajaib dan menyenangkan.

Karena matahari bersinar dengan kuat di sana, di sepanjang sisi setiap jalan ditanam pohon-pohon besar yang menghamparkan cabang-cabangnya yang rimbun. Dengan demikian para musafir memperoleh naungan ketika mereka melintas. Tugu-tugu penanda jarak di jalan bukanlah batu bisu, melainkan pancuran air yang manis dan dingin, begitu jernih dan bening, sehingga ketika seorang pejalan tiba di sana, ia duduk di bangku batu berukir di sampingnya dan menghela napas lega, sebab ia tahu bahwa di tempat itu ada perhentian dan istirahat.

Ketika di sini matahari terbenam, di sana justru tengah hari. Awan-awan berkumpul dan menaungi Negeri itu dari panas yang menyengat. Maka, untuk sesaat, segala sesuatu pun terlelap.

Jam yang manis dan damai ini disebut waktu Istirahat.

Saat Waktu Istirahat tiba, burung-burung berhenti bernyanyi dan meringkuk rapat di bawah tepi atap rumah yang lebar, atau di dahan-dahan pohon tempat cabang bertemu batang. Ikan-ikan berhenti melesat di dalam air, lalu berdiam di bawah batu-batu, dengan sirip dan ekor yang begitu tenang seakan-akan mereka telah mati. Domba dan ternak berbaring di bawah pepohonan. Para lelaki dan perempuan merebahkan diri di tempat tidur gantung yang disangkutkan di antara pepohonan atau di bawah serambi rumah mereka. Kemudian, ketika matahari tak lagi menyilaukan dengan teriknya dan awan-awan telah mencair dan lenyap, seluruh makhluk hidup pun terjaga kembali.

Satu-satunya makhluk hidup yang tidak benar-benar tidur selama Waktu Istirahat hanyalah anjing-anjing. Mereka berbaring sangat tenang, hanya setengah terlelap, dengan satu mata terbuka dan satu telinga tegak; berjaga sepanjang waktu. Lalu, jika seorang asing datang pada jam istirahat itu, anjing-anjing akan bangkit dan memandangnya dengan lembut, tanpa menggonggong, agar tidak mengusik siapa pun. Mereka tahu apakah pendatang itu berbahaya atau tidak; dan jika ia tidak berbahaya, mereka akan berbaring kembali, dan si orang asing pun ikut merebahkan diri sampai Waktu Istirahat berakhir.

Namun apabila anjing-anjing itu mengira bahwa orang asing tersebut datang dengan maksud berbuat jahat, mereka akan menggonggong keras dan menggeram. Sapi-sapi mulai melenguh dan domba-domba mengembik, burung-burung berkicau dan menyanyikan nada-nada mereka yang paling nyaring, namun tanpa irama yang merdu; bahkan ikan-ikan pun mulai melesat ke sana kemari dan memercikkan air. Orang-orang terjaga dan meloncat turun dari tempat tidur gantung mereka, lalu meraih senjata. Maka saat itu menjadi waktu yang buruk bagi sang penyusup. Seketika ia dibawa ke Pengadilan dan diadili; dan jika terbukti bersalah, ia dijatuhi hukuman, entah dimasukkan ke penjara atau diasingkan.

Setelah itu, para lelaki kembali ke tempat tidur gantung mereka, dan semua makhluk hidup kembali beristirahat sampai Waktu Istirahat berakhir.

Hal yang sama terjadi pada malam hari seperti pada Waktu Istirahat, bila seorang penyusup datang untuk berbuat jahat. Pada malam hari hanya anjing-anjing yang terjaga, serta orang-orang sakit dan para perawat mereka.

Tak seorang pun dapat meninggalkan Negeri di Bawah Matahari Terbenam kecuali melalui satu arah saja. Mereka yang datang ke sana dalam mimpi, atau yang datang dalam mimpi ke dunia kita, pergi dan datang tanpa mengetahui bagaimana caranya; tetapi bila seorang penghuni negeri itu mencoba meninggalkannya, ia tak dapat melakukannya kecuali melalui satu jalan. Jika ia mencoba jalan lain, ia akan terus berjalan, berputar tanpa menyadarinya, sampai akhirnya tiba di satu tempat yang menjadi satu-satunya jalan keluar baginya.

Tempat itu disebut Gerbang, dan di sanalah para Malaikat berjaga.

Tepat di tengah Negeri berdiri istana Sang Raja, dan dari sana jalan-jalan membentang ke segala arah. Ketika Sang Raja berdiri di puncak menara yang menjulang tinggi dari tengah istananya, ia dapat memandang sepanjang jalan-jalan itu, yang semuanya lurus tanpa belokan.

Jalan-jalan itu tampak semakin menyempit ketika menjauh, hingga akhirnya lenyap sama sekali dalam kejauhan semata.

Di sekeliling istana Sang Raja berdiri rumah-rumah para bangsawan besar, masing-masing terletak semakin dekat sesuai dengan tinggi rendahnya derajat pemiliknya. Di luar lingkaran itu terdapat rumah-rumah bangsawan yang lebih rendah; dan setelahnya rumah-rumah semua orang lainnya, yang kian kecil ukurannya semakin jauh letaknya.

Setiap rumah, besar maupun kecil, berdiri di tengah sebuah taman yang memiliki pancuran dan aliran air, pepohonan besar, serta petak-petak bunga yang indah.

Lebih jauh lagi, menuju ke arah Gerbang, negeri itu menjadi semakin liar. Setelah itu terbentang hutan-hutan lebat dan pegunungan besar yang penuh dengan gua-gua dalam, gelap gulita seperti malam. Di sanalah binatang-binatang buas dan segala sesuatu yang kejam berdiam.

Sesudahnya terdapat rawa-rawa berlumpur, paya-paya, dan tanah lembek yang dalam dan berbahaya, serta rimba yang lebat. Lalu semuanya menjadi begitu liar sehingga jalan pun lenyap sama sekali.

Di wilayah-wilayah liar di balik itu tak seorang pun tahu apa yang berdiam. Ada yang mengatakan bahwa para Raksasa yang masih ada hidup di sana, dan bahwa semua tumbuhan beracun tumbuh di tempat itu. Mereka berkata bahwa di sana berhembus angin jahat yang mengeluarkan benih segala kejahatan dan menyebarkannya ke seluruh bumi. Ada pula yang mengatakan bahwa angin jahat yang sama membawa keluar penyakit-penyakit dan wabah-wabah yang tinggal di sana. Yang lain berkata bahwa Kelaparan hidup di rawa-rawa itu, dan bahwa ia keluar berkeliaran ketika manusia menjadi begitu jahat—terlampau jahat sehingga Roh-roh penjaga negeri menangis tersedu-sedu hingga tak melihatnya lewat.

Tersiar bisikan bahwa Kematian memiliki kerajaannya di Kesunyian di balik rawa-rawa, dan tinggal di sebuah istana yang begitu mengerikan untuk dipandang sehingga tak seorang pun pernah melihatnya dan hidup untuk menceritakan bagaimana rupanya. Dikisahkan pula bahwa semua makhluk jahat yang hidup di rawa-rawa itu adalah Anak-anak Kematian yang durhaka, yang telah meninggalkan rumah mereka dan tak dapat menemukan jalan kembali.

Namun tak seorang pun mengetahui di mana Istana Raja Kematian berada. Semua manusia—laki-laki dan perempuan, anak-anak lelaki dan perempuan, bahkan anak-anak kecil yang masih sangat belia—hendaknya hidup sedemikian rupa sehingga ketika mereka harus memasuki istana itu dan berhadapan dengan Sang Raja yang muram, mereka tak gentar memandang wajahnya.

Untuk waktu yang sangat lama, Kematian dan Anak-anaknya tinggal di luar Gerbang, dan segala sesuatu di dalamnya penuh dengan sukacita.

Namun tibalah suatu masa ketika segalanya berubah. Hati manusia menjadi dingin dan keras oleh kesombongan atas kemakmuran mereka, dan mereka tidak mengindahkan pelajaran-pelajaran yang telah diajarkan kepada mereka. Maka ketika di dalam negeri tumbuh dingin, acuh tak acuh, dan penghinaan, para Malaikat penjaga melihat pada kengerian yang berdiri di luar itu sarana hukuman serta pelajaran yang dapat membawa kebaikan.

Pelajaran-pelajaran yang baik pun datang—sebagaimana hal-hal baik sering kali datang—setelah rasa sakit dan ujian, dan pelajaran-pelajaran itu mengajarkan banyak hal. Kisah tentang kedatangan mereka menyimpan hikmah bagi orang-orang yang bijaksana.

Di Gerbang, dua Malaikat senantiasa berjaga dan mengawal. Malaikat-malaikat ini begitu agung dan begitu waspada, dan selalu begitu teguh dalam penjagaan mereka, sehingga hanya ada satu nama bagi mereka berdua. Salah satu dari mereka, ataupun keduanya, bila diajak bicara, akan dipanggil dengan nama yang sama secara utuh. Yang satu mengetahui sebanyak yang diketahui yang lain tentang segala sesuatu yang mungkin dapat diketahui. Hal ini tidaklah mengherankan, sebab mereka berdua mengetahui segalanya. Nama mereka adalah Fid-Def.

Fid-Def berdiri berjaga di Gerbang. Di samping mereka ada seorang Malaikat-Anak, lebih indah daripada cahaya matahari. Garis-garis wujudnya yang elok begitu lembut hingga seakan-akan senantiasa melebur ke dalam udara; ia tampak seperti cahaya hidup yang suci.

Ia tidak berdiri sebagaimana Malaikat-malaikat lainnya, melainkan melayang naik turun dan berkeliling. Kadang-kadang ia hanya tampak sebagai titik kecil, lalu tiba-tiba, tanpa terlihat melakukan perubahan apa pun, ia menjadi lebih besar daripada Roh-Roh Penjaga agung yang kekal itu.

Fid-Def mengasihi Malaikat-Anak itu, dan ketika ia naik mendekat dari waktu ke waktu, mereka mengembangkan sayap putih mereka yang besar, dan kadang-kadang ia berdiri di atasnya. Sayapnya sendiri yang indah dan lembut dengan perlahan mengipasi wajah mereka ketika mereka berpaling untuk berbicara.

Namun Malaikat-Anak itu tidak pernah melampaui ambang batas. Ia memandang ke arah belantara di luar sana; tetapi ia tidak pernah meletakkan bahkan ujung sayapnya pun melewati Gerbang.

Ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Fid-Def, dan tampak ingin mengetahui apa yang ada di luar sana, dan bagaimana segala sesuatu di sana berbeda dari segala yang ada di dalam.

Pertanyaan dan jawaban para Malaikat tidaklah seperti pertanyaan dan jawaban kita, sebab tak diperlukan kata-kata. Pada saat sebuah pikiran tentang keinginan untuk mengetahui sesuatu muncul, pertanyaan pun telah diajukan dan jawabannya diberikan. Namun demikian, pertanyaan itu tetap datang dari Malaikat-Anak dan dijawab oleh Fid-Def; dan seandainya kita memahami bahasa tanpa-bahasa yang dipakai para Malaikat untuk tidak-berkata, kita akan mendengarnya demikian. Fid-Def sedang berbicara kepada Fid-Def:

“Bukankah Chiaro itu indah?”

“Ia sungguh indah. Ia akan menjadi kekuatan baru di Negeri ini.”

Di sini Chiaro, yang berdiri dengan satu kaki di atas bulu sayap Fid-Def, berkata:

“Katakan padaku, Fid-Def, apakah makhluk-makhluk yang tampak mengerikan di balik Gerbang itu?”

Fid-Def menjawab:

“Mereka adalah Anak-anak Raja Kematian. Yang paling mengerikan di antara mereka semua itu, yang terbungkus dalam kelam, adalah Skooro, suatu Roh Jahat.”

“Betapa mengerikannya rupa mereka!”

“Sungguh sangat mengerikan, Chiaro terkasih; dan Anak-anak Kematian ini ingin melewati Gerbang dan masuk ke dalam Negeri.”

Mendengar kabar yang mengerikan itu, Chiaro melayang tinggi ke angkasa, dan membesar sedemikian rupa sehingga seluruh Negeri di Bawah Matahari Terbenam menjadi terang benderang. Namun tak lama kemudian ia mengecil kembali, semakin kecil hingga hanya tampak sebagai sebuah titik, seperti sinar berwarna yang terlihat di sebuah ruangan gelap ketika matahari masuk melalui celah sempit. Ia bertanya kepada para Malaikat di Gerbang:

“Katakan padaku, Fid-Def, mengapa Anak-anak Kematian ingin masuk?”

“Karena, Anak terkasih, mereka jahat, dan ingin merusakkan hati para penghuni Negeri.”

“Namun katakanlah, Fid-Def, apakah mereka dapat masuk? Tentulah, jika Sang Bapa Yang Mahakuasa berkata, ‘Tidak!’ mereka harus tetap selamanya di luar Negeri.”

Setelah sejenak terdiam, datanglah jawaban dari para Malaikat Penjaga Gerbang:

“Sang Bapa Yang Mahakuasa lebih bijaksana daripada yang dapat dibayangkan bahkan oleh para Malaikat. Ia meruntuhkan orang jahat dengan tipu daya mereka sendiri, dan menjerat sang pemburu dalam perangkapnya sendiri. Anak-anak Kematian, ketika mereka masuk—sebagaimana sebentar lagi akan terjadi—akan melakukan banyak kebaikan di Negeri yang hendak mereka celakai. Sebab lihatlah! Hati manusia telah rusak. Mereka telah melupakan pelajaran-pelajaran yang diajarkan kepada mereka. Mereka tidak tahu betapa bersyukurnya mereka seharusnya atas nasib bahagia mereka, sebab tentang duka mereka tak mengetahui apa-apa. Maka haruslah ada rasa sakit, kesedihan, atau kepiluan bagi mereka, agar mereka dapat melihat kesesatan jalan mereka.”

Sementara berkata demikian, para Malaikat menitikkan air mata karena dukacita atas perbuatan manusia dan penderitaan yang harus mereka tanggung.

Malaikat-Anak itu menjawab dengan gentar:

“Kalau begitu, Makhluk yang paling mengerikan itu pun akan masuk ke dalam Negeri. Celaka! celaka!”

“Anak terkasih,” kata Roh-roh Penjaga, ketika Malaikat-Anak itu merapat ke dada mereka, “kepadamulah dipercayakan tugas yang besar. Anak-anak Kematian akan masuk. Kepadamu diserahkan penjagaan atas Makhluk yang mengerikan itu, Skooro. Ke mana pun ia pergi, di sanalah engkau harus berada; sehingga tak ada keburukan yang terjadi—kecuali hanya apa yang memang dimaksudkan dan diizinkan.”

Malaikat-Anak itu, tergugah oleh kebesaran amanat tersebut, bertekad bahwa tugasnya akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Fid-Def melanjutkan:

“Engkau harus tahu, Anak terkasih, bahwa tanpa kegelapan tak ada ketakutan akan yang tak terlihat; dan bahkan kegelapan malam pun takkan menakutkan bila ada cahaya di dalam jiwa. Bagi mereka yang baik dan murni, tak ada ketakutan baik terhadap kejahatan-kejahatan di bumi maupun terhadap Kekuatan-kekuatan yang tak kasatmata. Kepadamulah dipercayakan penjagaan atas yang murni dan yang benar. Skooro akan menyelubungi mereka dengan kelamnya; tetapi kepadamu diberikan kemampuan untuk menyelinap ke dalam hati mereka dan dengan cahaya muliamu sendiri membuat kelam Anak Kematian itu menjadi tak terlihat dan tak terasa.”

“Namun dari para pelaku kejahatan—dari yang jahat, yang tak tahu bersyukur, yang tak mau mengampuni, yang tak murni, dan yang tak jujur—engkau akan menjauh. Maka ketika mereka mengharapkan engkau datang menghibur mereka—sebagaimana pasti mereka akan melakukannya—mereka takkan melihatmu. Yang mereka lihat hanyalah kelam, yang oleh cahaya jauhmulah akan tampak semakin gelap, sebab bayangan itu akan berada di dalam jiwa mereka sendiri.”

“Namun oh, Anak, Bapa kita begitu baik melampaui segala sangka. Ia menetapkan bahwa bila siapa pun yang jahat bertobat, engkau akan seketika terbang kepadanya, menghiburnya, menolongnya, menguatkannya, dan menghalau bayangan itu jauh-jauh. Tetapi bila mereka hanya berpura-pura bertobat, berniat kembali berbuat jahat setelah bahaya berlalu; atau bila mereka hanya bertindak karena ketakutan, maka engkau akan menyembunyikan cahayamu sehingga kelam itu menjadi semakin pekat atas diri mereka. Kini, Chiaro terkasih, jadilah tak terlihat. Waktunya mendekat ketika Anak Kematian akan diizinkan masuk ke dalam Negeri. Ia akan berusaha menyelinap masuk, dan kami akan membiarkannya, sebab kami harus bekerja tanpa terlihat dan tanpa diketahui, agar dapat menjalankan tugas kami.”

Lalu Malaikat-Anak itu perlahan memudar, sehingga tak ada satu mata pun—bahkan mata Fid-Def sendiri—yang dapat melihatnya; dan Roh-roh Penjaga berdiri seperti sediakala di sisi Gerbang.

Waktu Istirahat pun tiba; dan segalanya sunyi di Negeri itu.

Ketika Anak-anak Kematian yang jauh di rawa-rawa melihat bahwa tak ada sesuatu pun yang bergerak, kecuali para Malaikat yang tetap berjaga seperti biasa, mereka memutuskan untuk melakukan upaya lain guna memasuki Negeri.

Maka mereka memecah diri menjadi banyak bagian. Setiap bagian mengambil rupa yang berbeda, namun bersama-sama mereka bergerak menuju Gerbang. Demikianlah Anak-anak Kematian mendekati ambang Negeri.

Mereka datang di atas sayap burung yang sedang terbang; pada awan yang melayang perlahan di langit; dalam ular-ular yang merayap di bumi—dalam cacing, tikus, dan tahi lalat yang menyusup di bawahnya; dalam ikan-ikan yang berenang dan serangga-serangga yang terbang. Melalui bumi, air, dan udara mereka datang.

Tanpa rintangan dan tanpa halangan; dan dengan berbagai cara, Anak-anak Kematian memasuki Negeri di Bawah Matahari Terbenam; dan sejak saat itu, segala sesuatu di Negeri yang elok itu pun berubah.

Tidak serta-merta Anak-anak Kematian menampakkan diri. Satu per satu roh yang paling berani di antara mereka, melangkah dengan jejak-jejak yang mengerikan melintasi Negeri, memenuhi setiap hati dengan ketakutan ketika mereka datang.

Namun demikian, masing-masing dari mereka—tanpa kecuali—meninggalkan sebuah pelajaran menuju kebaikan di dalam hati para penghuni Negeri itu.


______

Penulis

Bram Stoker (1847–1912) adalah novelis Irlandia, mempopulerkan motif vampir dalam sastra Gotik di seluruh dunia dengan ciptaannya, Dracula.

Tulisan di atas terjemahan dari “Under the Sunset” yang diterbitkan ulang oleh Wildside Press (15 Juli 2002). Diterjemahkan oleh Eka Ugi Sutikno, dosen Universitas Muhammadyah Tangerang (UMT), bergiat di Kubah Budaya.


Saturday, February 28, 2026

Resensi Kabut | Memuji Orde Baru

Oleh Kabut



Yang mengamati kesusastraan Indonesia, sejak masa 1950-an sampai 1980-an, dipastikan mengetahui satu nama yang biasa menimbulkan polemik. Nama yang selalu teringat dengan novel-novel yang laris. Orang-orang mengingat deretan novelnya itu berahi atau hiburan. Yang dituduh bernama Motinggo Busye. 


Sejak masa 1950-an, ia tampil sebagai pengarang hebat. Yang ditulisnya adalah naskah drama, cerita pendek, dan novel. Namun, yang selalu terkenang adalah novel-novelnya yang “ngepop”. Di perkembangan perbukuan, novel-novelnya menghasilkan untung besar, bukan pengakuan mutu kesusastraan.


Pada mulanya, ia hadir dalam sastra dengan mendapat beragam perhatian. Nama yang mengejutkan bagi kesusastraan tapi hanya berlangsung sebentar. HB Jassin dan para pengamat sastra mula-mula memuji beberapa tulisannya. Yang ditulis orang-orang asing pun menempatkan Motinggo Busye sebagai pengarang besar. Tahun-tahun berlalu, ia memilih rajin menulis novel-novel yang menghibur, yang diminati ribuan orang. Ia memilih jalan komersial. Yang diinginkan adalah untung. Ia sudah telanjur besar di sastra, memungkinkan bisa merebut laba dalam pasar novel pop yang penuh persaingan. Pembuktian yang tidak terbantah: Motinggo Busye tetap berada dalam daftar teratas. 


Ia mendapat kecaman. Namun, dalam industri novel hiburan, ia menemukan kepuasan. Dampak dari ketenaran adalah berlanjutnya Motinggo Busye memasuki dunia perfilman. Ia tetap sosok yang sadar peruntungan. Selama puluhan tahun, ia dianggap panen uang yang tidak ada hentinya. Motinggo Busye tampak (makin) berpisah dari kesusastraan yang dicap “serius”. Konon, ia enggan berdebat. Yang dipilihnya adalah terus menulis novel sampai Kiamat.


Di jalan berbeda, Motinggo Busye tidak cuma meladeni para pembaca dewasa. Yang digarapnya adalah cerita anak, terbit menjadi beberapa buku. Ia menulis dengan mudah. Penerbitan novel-novel anak diusahakan dapat masuk dalam Inpres. Artinya, buku-buku dibeli oleh pemerintah Orde Baru. Penerbit meraih untung besar. Pengarang terdampak panen duit. Jalan itulah yang membuat Motinggo Busye tercatat dalam perkembangan kesusastraan anak di Indonesia. 


Yang kita warisi adalah buku berjudul Melati dari Lembah Seputih (1981). Cerita yang digubah Motinggo Busye diterbitkan oleh Rosda, Jakarta. Kita menduga pihak pengarang dan penerbit punya keyakinan buku berhasil dibeli pemerintah dalam jumlah puluhan ribu eksemplar. Akhirnya, buku diedarkan di ribuan perpustakaan yang tersebar di seantero Indonesia. Anak-anak membaca buku cerita, yang di sampulnya ditulis nama pengarang: Motinggo Busye. Apakah anak-anak masa Orde Baru menjadi penggemar buku-buku Motinggo Busye? Kita menjawab itu terjadi. Pengarang yang beruntung! Di industri novel dewasa, ia mendapat banyak penggemar. Kemauan menulis cerita anak pun menghasilkan penggemar. Kita berharap anak-anak masa lalu tidak perlu mengetahui biografi Motinggo Busye. Mereka cukup membaca buku dan mengetahui nama saja yang dicantumkan di sampul depan. 


Di novel dewasa, ia selalu saja dianggap membesarkan berahi. Di kesusastraan anak, Motinggo Busye adalah juru cerita bagi rezim Orde Baru. Ia tampak mendukung program-program pemerintah. Jadi, pamrihnya menulis cerita anak adalah keuntungan material, yang dipengaruhi dari pilihan tema dan cara bercerita yang sesuai kepentingan-kepentingan Orde Baru. Pengarang yang memiliki siasat manjur.


Tokoh yang diceritakan bernama Rianti (10 tahun). Ia masih murid di SD. Bagaimana kita mengetahui pengarang mengumbar imajinasi demi kesuksesan pembangunan nasional? Yang dilakukan adalah mengisahkan Rianti hidup dalam keluarga sederhana tapi tinggal di desa yang miskin dan gersang. Keluarganya memutuskan ikut program transmigrasi. Bermula di desa yang beralamat di Jawa, mereka bergerak menuju Sumatra, yang lahannya masih luas. Mereka mengubah nasib melalui transmigrasi. Puluhan keluarga di desa secara sukarela turut transmigrasi yang memberi banyak janji. Yakinlah, pengarang sengaja memberi keunggulan dan kebaikan transmigrasi. Artinya, ia membuktikan kebaikan-kebaikan pemerintah.


Hari perpisahan terjadi. Rianti memerlukan melihat sekolah untuk terakhir kalinya: “Tak ada satu orang pun di sekolah. Pintu kelas Rianti miring karena engsel bawahnya sudah copot. Sekolah sudah ditutup empat bulan yang lalu. Tetapi, papan tulisnya masih ada. Bahkan, di papan tulis itu masih ada tulisan… Airmata Rianti bercucuran. Lalu, dia melihat bangku-bangku di kelasnya. Dilihatnya juga bangku tempat dia duduk dulu.” Ia akan membawa ingatan selama menjadi murid di SD dan warga di desa gersang.


Pemerintah aktif memberi pengumuman dan penjelasan agar orang-orang mau bertransmigrasi, terutama penduduk di Jawa. Kepadatan di Jawa mendingan dikurangi melalui transmigrasi, yang menjamin kesejahteraan. Beragam alasan dapat membenarkan transmigrasi. Motinggo Busye paham kebijakan pemerintah, menaruhnya dalam cerita. Kita membayangkan anak-anak yang membaca ceritanya seperti mendapat penyuluhan. Apakah itu merusak martabat Motinggo Busye, yang dulu tercatat sebagai pengarang agung?


Pembayangan Rianti yang disampaikan kepada ibu saat mau meninggalkan desa menuju tempat yang baru: “Bu, Lembah Seputih itu tanah yang subur. Pemandangannya indah. Ada sungai kecil membelah des aitu. Tidak seperti desa kita ini, Bu, tidak pernah ada hujan turun.” Kita diajak mengingat bahwa pemerintah sangat memberi perhatian kepada rakyatnya agar jangan miskin dan sekarat. Maka, hal penting yang harus diproduksi adalah imajinasi. Adanya program transmigrasi membutuhkan rangkaian imajinasi, yang membuat rakyat penuh harapan dan gembira. 


Perjalanan menggunakan bus, kereta api, dan kapal menimbulkan pengalaman yang istimewa. Rianti melihat kota-kota. Terpukau! Ia memastikan Indonesia itu indah. Selanjutnya, selama berada di atas kapal: “Hanya beberapa jam perjalanan naik kapal melewati Selat Sunda. Selat Sunda ini merupakan laut biru yang indah antara Pulau Jawa dan Sumatra. Rianti duduk bersama kakek, nenek, dan ibu… Indah sekali pemandangan dalam perjalanan berkapal malam itu. Tampak beberapa ekor ikan lumba-lumba melompat-lompat di samping kapal… Oh, indah sekali lembah itu disinari matahari pagi.” Pokoknya, rombongan transmigrasi punya harapan yang besar saat berada di tanah yang baru. Mereka akan bertani dan hidup sejahtera, berbeda dengan penderitaannya selama di desa gersang.


Apakah pengarang cukup mengisahkan kesuksesan transmigrasi? Motinggo Busye terbukti paham kemauan pemerintah. Maka, yang diceritakannya adalah keberhasilan mendirikan koperasi. Di Lembah Seputih, keluarga-keluarga mendapat rumah sederhana. Mereka mengerjakan laha pertanian. Di sana, tanahnya subur. Beberapa tanaman menghasilkan rezeki untuk kebutuhan pokok. Beberapa malah melimpah, yang membuat kegembiraan tercipta.


Mengapa pengarang tampak serius mengunggulkan transmigrasi dan koperasi dalam cerita yang dibaca anak-anak? Ia mungkin sadar kepentingan. Tema yang sesuai kemauan pemerintah memungkinkan buku dapat cetak ulang dalam jumlah yang banyak. Terbukti! Motinggo Busye memang sadar pasar sambil “menumpang” kepentingan rezim Orde Baru. Anak-anak yang membacanya boleh kecewa setelah mendapatkan cerita yang mirip laporan pembangunan nasional. 


Rianti ikut beberapa kegiatan yang ada sekolah dan desa barunya. Rianti yang masih anak mampu mewujudkan tanggung jawab yang besar, termasuk dalam keluarga. Ia mengetahui desa memerlukan koperasi agar hasil bumi dan kebutuhan pokok yang didatangkan dari kota dapat terpenuhi. Rianti yang sengaja dipercepat dewasanya oleh pengarang. Di beberapa kegiatan, Rianti memang bersama kaum dewasa. 


Penjelasan yang sangat serius bila dipelajari anak-anak SD. Perkataan dalam rapat: “Kita dapat subsidi dari pemerintah untuk membangin 21 rumah lagi. Tenaga kita cukup. Bila kita sendiri yang membangun 21 rumah itu secara bergotong royong, kelebihan uangnya bisa kita masukkan untuk kas Koperasi Unit Desa Lembah Seputih. Selama ini uang itu masuk kantor pemborong dari kota bukan?” Koperasi itu bertumbuh cepat, memberi keuntungan kepada para pengurus dan anggotanya. Sempurnalah pengisahan Motinggo Busye bahwa kebijakan pemerintah itu baik dan terbukti. Novel berhasil memberi pujian besar untuk rezim Orde Baru.


_________


Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Friday, February 27, 2026

Dakwah | Keutamaan & Hikmah Puasa Ramadhan

Oleh  Tsaqib Arsalan, S.Pd.



Bulan Ramadhan adalah bulan yang diberkahi dan bulan yang dimana diturunkannya Al-Qur’an. Begitu juga di bulan ini ada salah satu perkara yang diwajibkan oleh syariat kita yang suci ini yaitu berpuasa. 


Sebagaimana Firman Allah ﷻ  di dalam surah Al Baqarah ayat 183 :  


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ


"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (Al Baqarah : 183)

Dan juga di surat yang sama di ayat yang ke 185 : 

 ...فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ ...


"... Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu ...." (Al Baqarah : 185)


Dan juga ditekankan oleh sabda Nabi Muhammad ﷺ bahwa Puasa Ramadhan termasuk salah satu rukun dari lima rukun Islam. 


Disebutkan didalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Umar radiyallahu ‘anhuma:


عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ


"Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 'Islam dibangun di atas lima (tonggak): Syahadat Laa ilaaha illa Allah dan (syahadat) Muhammad Rasulullah, menegakkan shalat, membayar zakat, haji, dan puasa Ramadhan'.” (HR Bukhari)


Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga semata, tetapi juga banyak keutamaan dan hikmah yang didapatkan bagi kaum muslimin yang melaksanakannya. Karena tidaklah syari’at mewajibkan sesuatu kecuali di dalamnya ada maslahat, keutamaan (faadhilah), begitu juga hikmah dibalik kewajiban tersebut. 

Berikut diantara beberapa keutaman puasa Ramadhan :

Menghapus kesalahan-kesalahan kita

Didalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:


عن أبي هُريرةَ رَضِيَ اللهُ عنه أنَّ رَسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم قال : الصَّلَواتُ الخَمسُ، والجُمُعةُ إلى الجُمُعةِ، ورمضانُ  إلى رَمَضانَ؛ مُكَفِّراتٌ ما بينهُنَّ إذا اجتَنَبَ الكبائِرَ  .


"Salat 5 waktu, dari Jumat ke Jumat berikutnya, dan dari Ramadhan ke Ramadhan berikutnya merupakan penghapus dosa-dosa yang dilakukan di antara keduanya apabila dosa-dosa besar dijauhi." (HR Muslim)

Sebab diampunkannya dosa

Rasulullah ﷺ bersabda di dalam hadits yang juga diriwayatkan oleh Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu :


عن أبي هُريرةَ رَضِيَ اللهُ عنه أنَّ رَسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم قال: مَن صامَ رمضانَ إيمانًا واحتسابًا، غُفِرَ له ما تقدَّمَ مِن ذَنبِه 


“Barangsiapa yang berpuasa penuh dengan keimanan dan pengharapan akan pahala, maka diampuni dosa dia yang telah lalu. 
(HR Bukhari & Muslim).


Menjadi sebabnya kita masuk surga


Disebutkan dalam satur riwayat yang diriwayatkan oleh Jabir Radiyallahu ‘anhu: 


عن جابرٍ رَضِيَ اللهُ عنه : أنَّ رَجُلًا سأل رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، فقال: يا رَسولَ اللهِ، أرأيتَ إذا صَلَّيتُ المكتوباتِ، وصُمْتُ رمضانَ، وأحلَلْتُ الحلالَ، وحَرَّمْتُ الحرامَ، ولم أزِدْ على ذلك شيئًا، أأدخُلُ الجَنَّةَ؟ فقال النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: نَعَم .


“Dari Jabir Radiyallahu ‘anhu : Bahwasannya seorang pria bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan mengatakan: ‘Kabarkan kepadaku Wahai Rasulullah, kalau saya sudah shalat yang wajib, sudah berpuasa pada bulan  Ramadhan, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, dan saya tidak menambah sedikit pun diatas itu, apakah saya akan masuk surga?’ Maka Rasulullah ﷺ menjawab: ‘Iya'.” (HR Muslim)


Mendapatkan pahala tanpa hisab (tak terhitung)


Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh kesabaran. Karena di dalamnya kaum muslimin diperintah untuk berpuasa dengan menahan diri dari apa yang sebetulnya halal dilakukan, seperti makan dan minum. Dan Allah ﷻ menjajikan pahala tanpa hisab bagi orang-orang yang bersabar. Allah ﷻ berfirman: 


...إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ 


“...Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az Zumar : 10)


Di balik keutamaan yang kita sebutkan di atas, puasa juga memiliki banyak hikmah yang didapatkan bagi kaum muslimin yang melakasanakannya, baik dari segi jiwa dan juga kesehatan. Imam Ibnu Katsir rahimahullah di dalam tafsir surah Al-Baqarah ayat 183 mengatakan bahwa di antara hikmah puasa yaitu mensucikan jiwa, membersihkan jiwa, dan juga membersihkannya dari hawa nafsu dan akhlak buruk. Dan dari segi kesehatan banyak juga hikmah yang didapatkan, seperti yang disebutkan di laman alodokter.com yang ditinjau oleh dr. Gracia fensynthia bahwa puasa memiliki hikmah atau manfaat bagi kesehatan di antaranya : 


- menurunkan berat badan,

- menjaga kesehatan jantung,

- mengurangi risiko diabetes,

- mengurangi risiko munculnya kanker,

- menjaga kesehatan mental,

- memperbaiki metabolisme tubuh.


Masyaa Allah, di dalam keutamaan dan hikmah yang banyak ini sungguh sangat merugi bagi kaum muslimin yang meninggalkan salah satu perkara wajib di dalam syari’at ini. Di balik dia mendapatkan dosa besar, dia juga banyak sekali meningggalkan keutamaan, hikmah, dan manfaat lainnya yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang menunaikan kewajiban ini yaitu berpuasa.


Maka dari itu, marilah kita mengikhlaskan ibadah puasa kita karena Allah ﷻ, karena tidaklah kita mendapatkan keutaman-keutaman di atas kecuali dengan rasa ikhlas kita kepada Allah ﷻ. Menujukan semua ibadah kita hanya karena-Nya.


Barakallahu fiikum. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.

__________


Penulis

Tsaqib Arsalan, S.Pd., alumnus Ma’had Aly Imam Syafi’i Cilacap.



redaksingewiyak@gmail.com




Thursday, February 26, 2026

Esai Afrian Rahardyaning Pangestu | Atas Nama Ibu, Haruskah Pernikahan Dikorbankan?

Esai 



Saya mau menyampaikan kepada para pembaca semua bahwa tulisan ini bukan untuk mengajak para pembaca untuk melawan orang tua. Bukan. Saya sebagai penulis hanya ingin membagikan hal-hal penting sesuai dengan peristiwa yang terjadi di masyarakat, semoga bisa mencerahkan hati dan pikiran para pembaca sekalian.

Kita pahami bahwa masyarakat banyak yang menjunjung tinggi bakti kepada orang tua, muncul satu penyimpangan serius yang sering kali luput dari kritik, yaitu orang tua (khususnya dari pihak laki-laki) yang menyuruh, menekan, bahkan memaksa anak laki-lakinya untuk menceraikan istri. Alasan yang digunakan terdengar religius. Namun, sesungguhnya rapuh secara moral dan keliru secara agama.


Kalimat seperti “anak laki-laki adalah milik ibunya seumur hidup”, “istri itu adalah orang lain”, atau “suami harus lebih mengutamakan orang tua daripada istri” tidak hanya menyakitkan, tetapi juga berbahaya. Lebih jauh lagi, ada orang tua yang menjanjikan surga (bahkan surga Firdaus) kepada anak laki-laki yang menuruti orang tuanya untuk menceraikan istri. Ini bukan sekadar kekeliruan berpikir, tetapi ini adalah penyalahgunaan agama untuk mengendalikan kehidupan orang lain.


Bakti Bukan Berarti Merusak


Dalam ajaran agama Islam, berbakti kepada orang tua adalah kewajiban, selama dalam hal-hal yang baik. Namun, tidak pernah ada ajaran yang membenarkan ketaatan dengan cara menzalimi pihak lain. Pernikahan adalah akad sah, perjanjian yang berat, dan ibadah jangka panjang. Merusak pernikahan tanpa alasan yang dibenarkan syariat, maka itu bukanlah bentuk kebaikan, bukan juga jalan menuju surga.


Memaksa seorang suami menceraikan istrinya hanya karena sang istri tidak memenuhi standar keinginan orang tua (misalnya tidak sarjana, bukan wanita karier, tidak berpenghasilan, cewek kampung, anaknya orang miskin) maka itu adalah bentuk penilaian yang dangkal dan tidak berperikemanusiaan. Nilai seorang istri tidak ditentukan oleh ijazah atau gaji, tetapi ditentukan oleh akhlak, tanggung jawab, dan peran kemanusiaannya dalam keluarga.


Kalimat “Istri Adalah Orang Lain” dan Kebohongan Spiritual


Jika orang tua mengatakan bahwa “istri adalah orang lain” adalah bentuk pengingkaran terhadap makna pernikahan itu sendiri. Pahami baik-baik bahwa istri bukanlah orang asing. Istri adalah pasangan halal, istri adalah amanah dari Allah, istri adalah bagian dari kehidupan yang harus dilindungi secara lahir dan batin oleh suaminya.


Lebih berbahaya lagi ketika orang tua malah menghubung-hubungkan perintah cerai dengan pahala dan surga. Contoh kalimatnya begini: “Kalo kamu ceraikan istri kamu, kamu bakalan dapet surga Firdaus. Mama nggak suka sama istri kamu. Nggak bisa cari duit, gak sarjana, berasal dari keluarga miskin, cewek kampung. Kamu harus patuh sama perintah mama, mama yang udah ngelahirin kamu. Cepat ceraikan istri kamu.” 


Fakta di lapangan, masih banyak lho orang tua yang tega berkata seperti itu kepada anak laki-lakinya. Ingat, di agama Islam (bahkan agama mana pun) tidak pernah mengajarkan bahwa surga bisa diraih dengan cara menyakiti pasangan hidup atau menghancurkan rumah tangga yang tidak bermasalah secara syar’i. Jika ada manusia yang mengatasnamakan surga untuk mendorong perceraian yang zalim adalah bentuk kebohongan spiritual yang sangat serius.


Perpindahan Peran yang Tidak Siap Diterima


Masalah utama sering kali bukan pada menantu, melainkan pada orang tua yang tidak siap menerima kenyataan bahwa peran mereka telah berubah. Anak laki-laki yang menikah tidak lagi berada dalam posisi tanggung jawab yang sama seperti sebelum menikah. Prioritas nafkah, perhatian, dan perlindungan memang berpindah kepada istri dan anak-anaknya, tanpa menghapus kewajiban berbakti kepada orang tua.

Yang perlu dipahami adalah mengutamakan istri bukan berarti menelantarkan orang tua. Yang dituntut adalah penempatan hak yang sesuai pada tempatnya. Ketika orang tua menolak perubahan keadaan ini, maka yang terjadi adalah orang tua malah menjadi perusak rumah tangga anaknya sendiri.


Apa yang Harus Dilakukan Jika Dipaksa Cerai?


Bagi laki-laki yang menghadapi tekanan untuk menceraikan istri tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat, penulis memberikan beberapa langkah yang perlu dilakukan, yaitu (1) Memahami batas ketaatan. Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal kezaliman dan pelanggaran moral. Jadi, tidak perlu kita ikuti keinginan dan paksaan orang tua kita untuk menceraikan istri kita. (2) Bersikap tegas dengan tetap hormat. Penolakan terhadap perintah yang salah tidak sama dengan durhaka. Tolaklah perintah yang zalim, tapi jangan musuhi orang tua. Doakan saja supaya sadar. (3) Melindungi istri sebagai amanah. Jika kita diam dan tunduk pada tekanan berarti kita membiarkan ketidakadilan terjadi. Kita sebagai laki-laki harus melindungi istri kita sebagai bagian dari amanah Allah dan perjanjian kokoh yang sudah kita lakukan di hadapan Allah, para malaikat, wali nikah, serta para saksi. (4) Mencari penengah yang adil dan berilmu. Kita harus minta bantuan tokoh yang memahami agama secara utuh, bukan yang membenarkan ego, sehingga tokoh itu bisa bicara dan bertindak sesuai syariat. (5) Menyadari tanggung jawab pribadi di akhirat. Setiap keputusan akan dipertanggungjawabkan secara individu di akhirat, maka dari itu kita sebagai laki-laki harus berpikir panjang dalam bertindak. Jangan mudah terpancing emosi. 


Menghormati orang tua adalah salah satu kewajiban, tetapi kita tidak perlu mengikuti keinginan orang tua untuk menghancurkan pernikahan kita. Ketika orang tua memaksakan kehendak yang bertentangan dengan nilai agama dan kemanusiaan, maka yang dibutuhkan bukan ketaatan buta, melainkan keberanian untuk menolak, lalu jaga jarak, pasang batasan, tapi jangan memusuhi orang tua. Ingat, tolaklah kezaliman di hadapan kita. Sebab, surga tidak pernah dijanjikan melalui jalan kezaliman.


______


Penulis


Afrian Rahardyaning Pangestu, penulis kelahiran tahun 1992 di Jakarta, tepatnya di Jakarta Selatan. Hobi membaca, menulis, menggambar dan memotret. Pernah bergabung di Forum Lingkar Pena Ciputat. Saat ini kegiatan penulis adalah guru Matematika, IPA, dan IPS di Pesantren Daarussunnah Rangkasbitung. Silakan follow akun Instagram saya di @RumahSayaRumahCinta.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com



Wednesday, February 25, 2026

Puisi Jawa Banten | Encep Abdullah

Puisi Jawa Banten Encep Abdullah



Wadon Andeng-andeng


Nong Siti, andeng-andeng ning sor lambe sire

gawe manis sejagat, gawe Kakang kesemsem

Ikune andeng-andeng ulih tuku ape gegawan, Nong?

Bokan ulih tuku, Kakang gah pengen tuku

Arep dokon ning kelek, genah manis keleke


Nong Siti, Kakang weruh sire iku wadon demplon

Tapi endase doyan temungkul

Kakang weruh kerane si Nong isinan

Si Nong rajin salate, ore akeh lagane

Aje kaye Kakang sing melangak bae

Baranganu ketiban cecek sing duhur


Nong Siti, demen ore kelawan Kakang

Sing kendo mengkenen, sing doyan ngeloyor mancing

Uripe lalawore tapi mangane hawek, ape bae dilamot

Barang ngisinge sejebuk, cewoke banyu sesendok

Jawab geh Nong! Demen ore?


Nong Siti, lamun demen, menawi Kakange bise berubah

Dadi spidermen atawe hulk atawe power renjer

Genah dadi penolong  urip si Nong


Barangemah Kakang gah ore seumpame rasane demeni si Nong

Wis ireng, kuru, cilik, kaye curut kejepit mengkenen

Tapi, wis ore, andeng-andeng si Nong gawe ore bise turu Kakang

Pokone sampe Lebaran monyet gah tak tonggoni atine si Nong!


Kiara, Februari 2026



Cerite si Juned lan si Romlah 


Awale jejorangan

Awale ceceletukan

”Eh, wader pitak!”

”Sirekuh iwak blodog!”

”Anegah sire kerupuk umes!”

”Sirekuh badeg kaye lembing!”

”@#$%^&*@#$%^&*”


Baranganu dedemanan

”Kite demen sire!”

”Kitegah iye!”

”Ailopyu!”

”Ailopyutu!”


Baranganu kekangenan

Baranganu nyenyompokan

Baranganu pepetengan

Baranganu enjot-enjotan

Baranganu ...


”Juneeeed! Kitane meteeeng!” jereh si Romlah

“Orelaaah, kabuuuur!” jereh si Juned.


Kiara, Februari 2026


________


Penulis


Encep Abdullah, hobi mangan dadar endog lan oreg tempe.



redaksingewiyak@gmail.com


Monday, February 23, 2026

Karya Guru | Pulang Siang | Esai Restu Andika Purnama Indah

Esai Restu Andika Purnama Indah



Dulu, saya kira hanya pelajaran Matematika yang dianggap rumit. Ternyata, setelah menjadi dewasa, hidup tidak sesederhana “saya suka kamu, dan kamu suka saya”. Selesai. Mungkin apa yang dikatakan Chairil Anwar dalam kutipan puisinya yang berjudul Karawang–Bekasi terasa lebih tepat: “Kerja belum selesai, belum apa-apa.”

Menjadi anak-anak memang identik dengan bermain, selain makan dan membuat keributan. Terlebih ketika duduk di bangku SD (Sekolah Dasar). Siang hari, tepatnya pukul dua belas teng, sudah pulang sekolah. Sesegera mungkin kembali ke rumah dan melakukan aktivitas lainnya: bermain (lagi, dan lagi). Menjelang magrib, mengaji di rumah guru ngaji yang juga tetangga di tempat tinggal saya.


Lalu, kapan tidurnya? Kemungkinan besar itu pertanyaan yang muncul dari orang tua. Jawabannya ada dua: tidur siang (setelah pulang sekolah) dan tidur malam (pukul 21.00 sebagai batas maksimal waktu istirahat). Konon, tidur siang sudah menjadi ritual krusial bagi sebagian besar orang tua dahulu, yang diperuntukkan dan diwajibkan bagi anak-anak mereka. Barangkali kebiasaan itu masih berlaku hingga saat ini, begitu pula dengan saya.


Waktu kecil, saya selalu disuruh tidur siang oleh orang tua. Tidak ada kata “tidak”, tidak ada penolakan, apalagi negosiasi. Bagi orang tua saya, tidur siang adalah ritual yang harus dilakukan. Anak ditemani—lebih tepatnya dijaga—hingga terlelap. Jika tidak, akan ada akibatnya: pernah mencoba kabur demi main bersama teman-teman, tapi tidak lama saya terjatuh dan kedua kaki (lutut) saya terluka. Namun, dari situlah saya baru ngeuh ketika beranjak dewasa, tepatnya saat duduk di bangku SMA (Sekolah Menengah Atas): ternyata tidur siang itu mahal.


Sejak SMA, tidur siang menjadi sesuatu yang langka. Dari pagi hingga sore harus belajar tanpa henti. Kalaupun ada jeda, itu hanya saat sekolah mengadakan kegiatan tertentu, barulah terasa angin segarnya. Berbeda ketika di universitas. Jam pembelajaran tidak selalu berurutan. Kadang pagi, siang, atau sore. Ada yang siang hingga sore. Tidak selalu konsisten dari pagi sampai sore seperti masa SD hingga SMA.


Pendidikan di Indonesia mengenal sistem pulang sore hari. Saat ini dikenal dengan istilah full day school, meskipun tidak diterapkan di semua jenjang. Sistem ini lebih banyak diberlakukan di jenjang SMA, meski kini mulai marak pula di SMP. Hampir setara dengan pekerja yang berangkat pagi dan pulang sore, bedanya, siswa tidak digaji. Barangkali sejak awal pendidikan kita memang disetel untuk mencetak karyawan, bukan pemimpin, terlebih pemilik usaha yang mereka bangun sendiri.


Padahal, semua itu bisa saja diwujudkan jika siswa diberi waktu lebih, misalnya pulang siang. Seusai menunaikan ibadah salat Zuhur (bagi umat Islam), mereka bisa menikmati tidur siang. Sore harinya, mereka dapat kembali beraktivitas. Bercengkerama bersama keluarga atau sekadar mager (malas gerak) di rumah pun tidak menjadi persoalan. Itu hak mereka.


Bahkan, ada pula yang memanfaatkan waktu luang dengan berjualan sebagai bentuk usaha untuk belajar berdiri di atas kaki sendiri. Sebagai calon pengusaha yang kelak mampu membuka lapangan pekerjaan tanpa basa-basi. Karena itu, biarkanlah mereka berekspresi sesuai dengan waktu luang yang mereka miliki.


Jika mengingat padatnya waktu pembelajaran di sekolah, sebentar lagi kita akan menyambut bulan Ramadan. Hanya di bulan Ramadan, waktu pembelajaran terasa lebih efektif (bagi saya). Bagaimana tidak, siswa yang biasanya belajar hingga sore hari, kini hanya setengah hari, sampai siang saja. Setidaknya mereka bisa bernapas lega, meski sementara, setelah ditempa tugas, ulangan, dan berbagai tuntutan lain.


Perlu diingat, fokus siswa di sekolah rata-rata hanya mampu bertahan sekitar dua puluh menit. Selebihnya? Pikiran mereka mulai bergentayangan: “Nanti istirahat makan apa, ya?” Barangkali itu salah satu isi kepala mereka.


Bukankah sekolah adalah rumah kedua bagi siswa? Rasa senang dan bahagia seharusnya menjadi sesuatu yang diidam-idamkan dalam pembelajaran. Belajar karena ingin tahu, ingin bisa. Bukan untuk ajang pamer, bukan pula untuk perlombaan menentukan siapa pemenang. Mereka tidak sedang berlomba. Kalaupun ada perlombaan, itu dengan diri sendiri: apakah hari ini lebih baik dari kemarin, atau justru sebaliknya?


Jika ilmu mampu membuat mereka merenung, maka tahap berikutnya adalah penerapan. Melalui proses itulah, barangkali pembelajaran yang bermakna akan benar-benar terasa.


Belajar dari sistem pendidikan luar negeri tentu boleh. Namun, di lapangan perlu dilihat pula bagaimana penerapan yang cocok bagi siswa di Indonesia. Jangan sampai sistem dari luar negeri di-copy paste mentah-mentah ke negeri ini.


Berkaca pada Jepang dan Korea, misalnya. Kedua negara ini dikenal sangat tekun dalam belajar. Saking tekunnya, jam pulang ke rumah bisa hingga larut malam karena adanya jam tambahan les atau bimbel (bimbingan belajar). Namun, tidak sedikit pula kasus hara kiri di Jepang dan bundir (bunuh diri) di Korea. Mungkin mereka lelah karena tekanan persaingan yang begitu berat, atau karena tidak pernah merasakan kebahagiaan dalam prosesnya.


Mengapa kita tidak belajar dari Finlandia, yang dinobatkan sebagai salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia? Waktu belajar di sana fleksibel, hanya sekitar 4–5 jam per hari, dengan waktu istirahat yang cukup panjang di setiap pelajaran. Anak-anak diberi ruang untuk istirahat dan menekuni hobi. Pekerjaan rumah pun sangat minim. Fokus pendidikan lebih ditekankan pada kreativitas, berpikir kritis, dan keseimbangan emosional, bukan semata kemampuan akademik.


Dari sana, pada akhirnya tumbuh rasa bahagia dalam diri anak, terutama dalam proses belajar. Tanpa kekangan, tanpa perundungan, dan tanpa tekanan untuk menjadi peringkat pertama. Barangkali, hal-hal semacam inilah yang sesungguhnya dibutuhkan siswa: belajar karena memang ingin bisa, tanpa tekanan dari siapa pun dan dari mana pun.

______

Penulis

Restu Andika Purnama Indah, lahir di Bandung, 4 Februari 1991. Ia adalah guru di SMAN 3 Kota Serang.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com