Esai Afrian Rahardyaning Pangestu
Yang Diperdagangkan Dunia Bukan Cuma Dolar
Para pembaca yang baik hati. Setiap
kali rupiah melemah terhadap dolar Amerika, kita selalu mengulang kebiasaan
yang sama. Kita menyalahkan The Fed, perang dagang, konflik geopolitik, harga
minyak, atau kebijakan pemerintah. Semua penjelasan itu benar. Namun, karena
terlalu sering diulang, kita lupa bertanya tentang sesuatu yang jauh lebih
mendasar: apa sebenarnya yang diperdagangkan dunia? Apakah benar dunia hanya
memperjualbelikan mata uang, atau sesungguhnya yang diperdagangkan adalah
sesuatu yang jauh lebih mahal daripada uang itu sendiri?
Ekonom akan mengatakan bahwa nilai
tukar dipengaruhi inflasi, suku bunga, produktivitas, neraca perdagangan, dan
arus modal. Tidak ada yang salah dengan penjelasan itu. Tetapi ada satu hal
yang sering luput dari pembicaraan: mengapa modal memilih datang ke suatu
negara, lalu meninggalkan negara yang lain? Mengapa investor bersedia menyimpan
miliaran dolar di satu tempat, tetapi ragu menaruh sejuta dolar di tempat lain?
Jawabannya tidak berhenti pada angka. Jawabannya berakhir pada satu kata yang
tidak bisa dicetak oleh bank sentral: kepercayaan.
Bank Indonesia Mencetak Rupiah, Tetapi Tidak Bisa
Mencetak Kepercayaan
Ada kesalahpahaman yang selama ini
kita warisi. Kita mengira Bank Indonesia mencetak nilai rupiah.
Sesungguhnya tidak. Bank Indonesia mencetak uangnya, tetapi tidak bisa mencetak
nilainya. Nilai rupiah lahir dari keyakinan bahwa masyarakat yang menggunakannya
memiliki sistem yang dapat dipercaya, di mana hukum ditegakkan tanpa pandang
bulu, perjanjian dihormati, pejabat tidak menjual kebijakan yang merugikan
rakyat, data negara tidak direkayasa, dan korupsi bukan budaya. Ingat, mesin
percetakan uang mampu menghasilkan miliaran lembar rupiah, tetapi tidak ada
satu pun mesin di dunia yang mampu mencetak kepercayaan.
Di sinilah letak ironi yang sering
kita abaikan. Kita sibuk menghitung cadangan devisa, tetapi lupa menghitung
cadangan integritas. Kita bangga ketika investasi masuk, tetapi diam ketika
kejujuran keluar dari kehidupan sehari-hari. Padahal investasi datang mengikuti
kepercayaan, dan kepercayaan mengikuti karakter.
Investor Tidak Pernah Membeli Rupiah
Kita sering berkata bahwa investor membeli rupiah,
membeli saham Indonesia, membeli obligasi negara, atau membeli proyek-proyek
strategis. Kalimat itu sebenarnya belum lengkap. Yang pertama kali mereka beli bukanlah aset, tetapi keyakinan bahwa aset tersebut berada di
tangan masyarakat yang dapat dipercaya.
Mereka tidak bertanya berapa
banyak rumah ibadah yang berdiri di negeri ini. Mereka bertanya apakah kontrak
akan ditepati. Mereka tidak menghitung berapa banyak ceramah agama yang
disiarkan setiap hari. Mereka menghitung apakah pengadilan dapat menghadirkan
kepastian hukum. Mereka tidak melihat seberapa panjang doa kita. Mereka melihat
seberapa pendek jalan menuju suap.
Kalimat tersebut mungkin terdengar
sinis, tetapi pasar memang tidak mengenal basa-basi. Pasar hanya mengenal
risiko. Dan risiko terbesar dalam ekonomi bukanlah inflasi. Risiko terbesar
adalah hilangnya kepercayaan.
Kita adalah Bangsa Religius, Tetapi Kenapa Kepercayaan
Masih Mahal?
Para pembaca yang baik hati. Ini
adalah paradoks yang semestinya membuat kita gelisah. Indonesia adalah salah
satu bangsa paling religius di dunia. Rumah ibadah berdiri megah. Pengajian,
kebaktian, dharma, dan berbagai kegiatan keagamaan berlangsung hampir setiap
hari. Namun, pada saat yang sama, indeks persepsi korupsi masih menjadi
pekerjaan rumah, praktik suap belum benar-benar hilang, manipulasi data masih
terjadi, dan kebohongan sering kali dianggap sekadar kecerdikan.
Kita jangan mengatakan bahwa agama
gagal mencetak orang-orang menjadi baik.
Justru yang jauh
lebih menyakitkan adalah mengapa ajaran tentang amanah cuma sebatas berhenti di
mimbar, tetapi tidak sampai ke ruang kerja?
Sebab agama yang hanya hidup dalam
ritual akan menghasilkan masyarakat yang rajin beribadah. Tetapi, agama yang
hidup dalam akhlak akan menghasilkan masyarakat yang dapat dipercaya. Dan dalam
ekonomi modern, kepercayaan adalah mata uang yang nilainya bahkan lebih tinggi
daripada dolar.
Korupsi Tidak Mencuri Uang Negara
Kita sering mengatakan bahwa
korupsi merugikan keuangan negara. Hal itu memang benar. Tetapi, kerugian
terbesar bukanlah angka yang hilang dari kas negara. Korupsi mencuri sesuatu
yang jauh lebih mahal, yaitu: reputasi.
Sekali sebuah negara dikenal
sebagai tempat yang mudah disuap, sulit dipercaya, atau lemah penegakan hukumnya,
maka biaya ekonomi langsung meningkat. Semua kontrak bisnis membutuhkan
pengamanan. Semua investasi meminta jaminan tambahan. Semua orang mulai saling
curiga. Biaya ketidakpercayaan membengkak, dan pada akhirnya seluruh rakyatlah
yang membayarnya melalui harga kebutuhan yang lebih mahal, lapangan kerja yang
lebih sedikit, dan pertumbuhan ekonomi yang semakin lambat.
Korupsi bukan sekadar kejahatan
hukum. Korupsi adalah metode tercepat untuk membombardir masa depan suatu
bangsa dan negara.
Harga Kejujuran Sedang Turun
Para pembaca yang baik hati. Barangkali
ini adalah masalah yang sesungguhnya. Kita tidak lagi merasa terganggu oleh
kebohongan-kebohongan kecil. Suap berubah nama menjadi uang terima kasih.
Pungutan liar menjadi uang peduli. Manipulasi laporan dianggap sebagai
kreativitas administrasi. Menyontek menjadi kerja sama antarpelajar. Janji
politik yang diingkari dianggap sebagai hal yang lumrah. Kita mengubah istilah
agar hati tidak merasa bersalah.
Padahal setiap kali kebohongan dinormalisasi,
maka harga kejujuran turun sedikit demi sedikit. Dan ketika harga kejujuran
turun, maka biaya untuk membangun kepercayaan menjadi naik sedikit demi
sedikit.
Lalu tanpa kita sadari, ekonomi
ikut membayar tagihannya.
Rupiah Mengikuti Sesuatu yang
Tidak Pernah Masuk Neraca
Para pembaca yang baik hati. Saya
tidak sedang mengatakan bahwa nilai tukar rupiah ditentukan semata-mata oleh
moral masyarakat. Ekonomi jauh lebih rumit daripada itu. Ada kebijakan moneter,
perdagangan internasional, produktivitas, dan dinamika global yang tidak bisa
diabaikan.
Namun ada satu kenyataan yang
sering terlupakan. Semua faktor itu hanya bisa bekerja optimal apabila ditopang
oleh kepercayaan. Dan kepercayaan tidak lahir dari pidato. Kepercayaan lahir
dari akhlak, dari amanah yang dijaga ketika tidak ada yang melihat, dari
kejujuran yang tetap dipilih meski ada kesempatan untuk berbuat curang, dan dari
rasa malu yang masih hidup ketika seseorang tergoda mengambil sesuatu yang
bukan haknya.
Mungkin karena itu, setiap kali kita melihat angka
dolar naik terhadap rupiah, maka kita jangan cuma bertanya apa yang sedang
terjadi di Washington. Tanyakan juga apa yang sedang
terjadi di dalam diri kita. Sebab sejarah mengajarkan kita tentang satu hal
yang sering terlupakan, yaitu bangsa-bangsa yang dulunya besar, mereka tidak
runtuh ketika mereka kehabisan uang. Mereka runtuh ketika mereka kehabisan
orang-orang yang dapat dipercaya.
Kita semua harus menyadari bahwa ketika
kepercayaan kehilangan harga, maka yang terjadi adalah nilai mata uang pun ikut
kehilangan nilainya.
______
Penulis
Afrian Rahardyaning Pangestu, guru Matematika, IPA, dan IPS untuk murid SMP serta SMA.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com







