View AllProses Kreatif

Dakwah

Redaksi

Latest News

Thursday, July 9, 2026

Esai Sulaiman Djaya | Kuasa dan Media

Esai Sulaiman Djaya



Di zaman mutakhir kita saat ini adalah sangat penting untuk memahami sejumlah praktik media yang tak dapat dilepaskan dari interest kekuasaan, politik, dan korporasi, utamanya media-media yang dimiliki dan dikendalikan kaum multinasionalis-imperialis saat ini. 


Media dan opini yang melayani suatu kepentingan dan kekuasaan, pada akhirnya akan melakukan diskriminasi dan penyingkiran atau eksclusi terhadap hal-hal yang tidak menjadi kepentingannya.


Sebagai contoh, ketika suatu kekuasaan dan imperium hendak membentuk suatu citra publik, seketika itu pula, mereka akan mengerahkan media-media yang dimilikinya untuk membentuk ‘keberpihakan’ publik untuk mereka (para elite global). 


Era kita sekarang adalah suatu abad atau sebuah zaman, bila meminjam istilahnya Jacques Derrida saat berbincang dengan Giovanna Borradori, di mana publik yang tidak kritis dan malas berpikir akan sangat rentan dimanipulasi dan dihasut oleh media-media yang mengabdi pada kekuasaan dan tirani demi suatu tujuan strategis dan politis, utamanya dalam kancah politik global.


Jaringan media yang kebetulan dikuasai dan dimiliki suatu kelompok tertentu atau suatu rezim bersama yang bekerja berdasarkan kepentingan yang sama akan tak sungkan-sungkan menjadikan media sebagai instrumen ‘penaklukkan’, di mana opini, keberpihakan, atau sikap massa (publik) digiring sesuai dengan kehendak para pemilik media, entah para pemilik media itu adalah suatu korporasi, kekuasaan, aliansi, atau suatu rezim kekuasaan dan politik.


Kita dapat memberikan contoh kasusnya adalah ketika media-media sosial seperti YouTube, Instagram, Facebook dan lain-lainnya mengangkat (dan atau meng-create) citra publik (simpati bersama) bagi insiden Paris beberapa waktu yang silam, namun pada saat bersamaan mereka ‘tidak mengangkat’ atau meng-create citra publik (simpati bersama) bagi tragedi-tragedi yang lebih parah, semisal agressi terhadap Yaman, Suriah dan apartheid serta kekejian Israel di Palestina.


Salah-satu pemikir kontemporer yang konsen dengan soal ini adalah Noam Chomsky. Dalam salah-satu analisisnya, di antara strategi yang mengabdi pada kekuasaan dan korporasi adalah dengan memasifkan opini atau pun diskursus untuk menyembunyikan ‘masalah’ yang sesungguhnya. 


Noam Chomsky juga menegaskan bahwa media memiliki arti yang sangat penting dalam proses politik, di mana dalam artian negatifnya adalah dalam rangka ‘menguasai’ opini dan sikap publik (massa).


Kita bisa memberikan contoh untuk apa yang dikemukakan Noam Chomsky tersebut, yaitu ketika rezim dan aliansi Zionisme Internasional atau Zion Global (Amerika, Israel dkk) yang kebetulan menguasai lembaga-lembaga penyiaran dan hiburan banyak memasukkan muatan-muatan dan unsur-unsur ideologis yang menjadi kepentingan strategis dan politis mereka melalui media-media yang mereka miliki dan yang mereka siarkan ke seluruh dunia.


Pada tingkatan yang lebih rumit (canggih), media juga sering mereka gunakan sebagai elemen utama dari kontrol sosial yang salah-satu strateginya adalah strategi gangguan, dalam rangka untuk mengalihkan perhatian publik dari isu-isu yang justru penting, yang mana dalam bahasa Noam Chomsky sendiri dicontohkan ketika media “mempertahankan perhatian publik yang dialihkan jauh dari masalah sosial yang nyata yang lebih penting, sehingga terpikat oleh hal-hal yang sebenarnya tidak penting.” 


Apa yang dikemukakan Noam Chomsky tersebut yang menjadi salah satu unsur terpenting dari kontrol sosial yaitu strategi penebaran gangguan yang bertujuan untuk mengalihkan perhatian publik dari isu-isu penting.


Strategi penebaran gangguan ini memang dilakukan tirani atau rezim kekuasaan untuk menjaga agar masyarakat lebih berfokus pada isu-isu “kacangan” (demi pengalihan isu) sehingga melupakan isu-isu krusial yang berhubungan dengan hidup dan kehidupan mereka, yang justru lebih riil dan lebih mendesak bagi kehidupan sehari-hari mereka.


Strategi yang lainnya adalah Strategi Buat Masalah, Kemudian Tawarkan Solusi atau Manajemen Konflik. Metode ini juga disebut “masalah-reaksi-solusi.” Strategi dan metode ini tak lain adalah menciptakan masalah, “sebuah situasi” yang disebut menyebabkan beberapa reaksi pada penonton. 


Contoh dari praktik rezim atau kekuasaan itu adalah: Mengintensifkan kekerasan di perkotaan atau dalam masyarakat urban, atau mengatur serangan berdarah agar masyarakat menjadi para pemohon hukum keamanan dan kebijakan yang merugikan kebebasan. 


Sebenarnya, menciptakan masalah yang dapat menyebabkan rakyat “mengemis” dan memohon pertolongan pada pemerintah sudah tidak menjadi hal baru, karena hampir semua pemerintahan di dunia melakukan hal seperti ini, yang mana dengan strategi dan metode ini, pemerintah menjadi “sinterklas” bagi masalah yang dibuatnya sendiri.


Strategi selanjutnya yang lain adalah Strategi Bertahap, yaitu sebentuk ‘pemaksaan’ penerimaan pada tingkatan yang tidak dapat ‘diterima’, hanya dengan menerapkannya secara bertahap, yang dilakukan secara simultan selama bertahun-tahun dan berturut-turut. 


Kita bisa menyebutkan contohnya yaitu ketika mereka (para elite global) memberlakukan kondisi sosial ekonomi baru (neoliberalisme), sepanjang era 1980-an dan 1990-an, yaitu dengan ‘memaksakan’ penerimaan bagi konsep negara minimal, privatisasi, kerawanan, fleksibilitas, pengangguran besar-besaran, upah, dan tidak menjamin pendapatan yang layak, sehingga tampak begitu banyak perubahan yang telah membawa revolusi jika mereka telah diterapkan sekaligus.


Yang juga acapkali dimainkan adalah teknik dan metode Strategi Menunda atau cara lain untuk dapat menerima keputusan yang tidak populer, agar mendapatkan penerimaan atau persetujuan publik (massa), pada saat penerapannya di masa depan (sesuai dengan target waktu yang mereka rencanakan).


Sementara itu, bila kita lebih jauh mencermati permainan reklame, iklan, dan yang sejenisnya, sebagian besar iklan untuk masyarakat umum menggunakan pidato, argumen, orang dan khususnya intonasi anak-anak, yang seringkali dekat dengan ‘kelemahan’, seakan-akan penonton (publik atau pemirsa) adalah anak kecil atau cacat mental. 


Anak-anak adalah simbol pihak yang lemah, rentan disakiti dan senantiasa menjadi korban. Strategi seperti inilah yang sangat sering diterapkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono, sebagai contohnya, ketika menjadi presiden, dalam rangka mencari simpati rakyat, di mana ia seringkali muncul dan mencitrakan diri seakan-akan sebagai figur lemah dan teraniaya, padahal yang sesungguhnya yang sedang dia (SBY) lakukan adalah menjalankan program peningkatan citra dan simpati rakyat. 


Strategi lain yang sebenarnya klasik tapi masih sering digunakan adalah teknik dan strategi emosional dengan memanfaatkan aspek emosional publik.


Demikian sejumlah contoh strategi ‘manipulasi’, sebagaimana didadar Noam Chomsky dan para analis dan pengkaji media, yang acapkali dimainkan media-media yang menjalankan kepentingan suatu korporasi, rezim kekuasaan dan politik, aliansi, dan yang sejenisnya. 


Mudah-mudahan media yang mendedikasikan dirinya bagi pendidikan dan pencerahan publik lebih setia bekerja sebagai pemberi informasi yang sehat dan sahih, ketimbang sebagai ‘mesin propaganda’ yang menyesatkan dan membodohi rakyat atau masyarakat.


_______


Penulis


Sulaiman Djaya, Peminat Kajian Kebudayaan.



Kirim naskah ke redaksingewiyak@gmail.com


Esai Mela Sri Ayuni | POV Gen Z: Kerja Sambil Cari Kerja

Esai Mela Sri Ayuni




Dewasa ini, waktu membawa anak kelahiran 1997 sampai 2012 menginjak usia produktif. Di mana, kami sudah melalui seuprit perjalanan hidup yang kata mereka, baca: orang kaya, menyenangkan. Ya, menyenangkan. Saking menyenangkannya saya sampai pening, kenapa dari banyak pilihan saya pilih jawab “iya” pada saat malaikat bertanya 77x sebelum saya lahir ke dunia riuh dengan huruf tanpa jiwa. Selang beberapa fase kehidupan, waktu membawa saya untuk bertanggung jawab atas jawaban tersebut. Saya sadar, mungkin ini yang disebut “menyenangkan” kata mereka.


Generasi Z saat ini sedang merajai pasar kerja. Hampir di semua sektor kerja Gen Z berkontribusi di dalamnya. Mulai dari sektor hiburan, perdagangan, instansi pemerintahan, sampai ada yang jadi anggota DPR, contohnya Annisa Mahesa. 


Anak kepala dua ini sedang eksis di dunia kerja. Laman cerita WhatsApp saya pun banjir dengan pemandangan di tempat kerja masing-masing. Yang paling nyentrik status video di depan komputer sembari ditemani minuman dan camilan kesukaan dengan backsound, “Akh, hari yang mantap”. Ada juga yang pakai tulisan “Hasil berangkat jam 7 pulang jam 9 malam”. Namun, ada satu postingan yang membuat saya tertarik untuk menuliskan topik ini, yaitu dengan caption “Udah kerja kerjaannya cari kerja”.


Sebenarnya apa pun yang kamu unggah ke media sosial ini merupakan sepotong dari ceritamu yang kamu izinkan untuk diketahui orang lain. Artinya, sudah hasil sortir sendiri. Tapi tidak bisa berbohong juga, tulisan-tulisan seperti itu menggambarkan kalau dunia kerja sudah menyita waktu Gen Z untuk terus bekerja.


Fenomena Gen Z kerja sambil cari kerja ternyata bukan hal yang baru. Ternyata ini sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Banyak dari mereka yang sudah memiliki pekerjaan tetapi di HP-nya memiliki aplikasi pencari kerja seperti LinkedIn, Glints, Jobstreet, dan lainnya. Tidak berhenti sampai di situ, sosial media yang Gen Z miliki tetap follow akun informasi lowongan kerja. Agar tidak tertinggal unggahan terbaru pekerjaan yang sedang dibuka. Tetap apply secara online.


Sesuai pengalaman saya pada tahun lalu, saya sudah memiliki pekerjaan. Namun di belakang itu saya terus saja lamar di beberapa tempat kerja lain. Sering ada panggilan wawancara langsung. Pada satu waktu di daerah Tangerang, saya mendapatkan panggilan kerja. Dikarenakan saya datang sendiri, saya memberanikan diri untuk berkenalan dengan pelamar lain, sesama Gen Z. Sambil menunggu panggilan masuk ruangan tes, kami sedikit mengobrol lebih jauh. Dua orang tersebut perempuan dari daerah berbeda. Setelah diketahui, ternyata mereka berstatus karyawan di tempat lain. 

(1) Perempuan bekerja di pabrik makanan. 

(2) Sedang bekerja di minimarket.


Pada saat itu, saya tidak memberi tahu latar belakang saya. Saya cukup menyimak sedikit dari mereka, sesekali saya melemparkan pertanyaan di sela obrolan, “Kamu udah kerja. Kenapa cari kerja?” Dia menjawab, 

(1) “Pekerjaanku yang sekarang capek. Berangkat pagi buta pulang malam.” 

“Oh, iya ya. Gak bisa lihat matahari terbit atau tenggelam.” 

“Kalo kamu?” 

(2) “Gue mau dipindahin ke cabang baru di Bali. Gue gak mau jauh sama ibu.”


Tidak sedikit manusia seperti perempuan-perempuan di atas. Terkadang kebutuhan menjadi alasan terbesar untuk bertahan. Walau sambil berbohong izin tidak masuk kerja karena sakit atau ada keperluan keluarga. Padahal mau interviu kerja di belakang. Karena Gen Z cukup percaya diri dengan kemampuannya. Dan berpikir kalau Gen Z bisa mendapatkan yang lebih baik dari ini. Keluar dari kebijakan perusahaan yang tidak masuk akal, atasan yang tidak manusiawi yang bikin gak betah berlama-lama. Lalu mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik. Ini hanya sampel, saya yakin masih banyak karyawan-karyawan lainnya di luar sana yang merasakan seperti kejadian tersebut. Gen Z mah simpel, kalau tidak bisa mengubah dari dalam, maka kita yang keluar “Jalan-jalan”. Hidup Gen Z!


Budaya kerja menentukan sejauh mana karyawan bertahan dalam pekerjaan. Maka dari itu, banyak dari Gen Z mencari side job. Mereka bekerja paruh waktu. Dari pagi sampai sore di pekerjaan utama, sore sampai malam menjadi pekerja part time. Ini antisipasi untuk pekerjaan utama. Apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti pemutusan hubungan kerja, PHK secara sepihak. Dari situ, Gen Z butuh cadangan pekerjaan untuk tetap stabil dalam mengurus keuangan.


Kalau berbicara tentang mencari kerja walau sudah memiliki pekerjaan, saya jadi teringat kalam dari Gus Baha, seorang ulama dari kalangan Islam tradisional. Beliau berkata, “Sebanyak apa pun gaji yang kalian miliki, tak akan mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupmu. Karena yang akan mencukupi kebutuhanmu itu hanya rahmat Allah.” Tentu, saya sepakat dengan pernyataan tersebut. Sebanting tulang apa pun kita mencari uang, tetap yang akan mencukupi kebutuhan kita itu rahmat Allah. Misalnya saya, seorang fasilitator anak. Kata teman saya gaji saya tidak cukup untuk mencukupi hidup sebulan. Tapi yang sebenarnya terjadi, dia pun sering meminjam uang kepada saya. Dalam hati saya bergumam, “Katanya gaji gue kecil, gak cukup buat hidup sebulan. Tapi lu tetap minjem duit ke gue.” Justru di sini ada peran Allah di dalamnya. Yang membuat tidak mungkin di mata manusia, sehingga mungkin di mata Allah.


Dari kejadian di atas, hal yang bisa kita pelajari yaitu: Gen Z selain mengejar uang, ia juga fokus kepada kenyamanan lingkungan kerja dan kehidupan pribadi. Sesuai dengan slogan kerja Gen Z yang berbunyi “Work life balance”. Di samping membutuhkan uang buat ngopi, Gen Z juga butuh menjaga kesehatan mental agar tetap waras. Datang di tempat kerja sebelum waktunya dan pulang tepat waktu. Tenggo: jarum panjang ke angka dua belas pas, teng langsung go, pulang. 


Buat orang-orang yang gak pulang tenggo jangan tanya “Kenapa pulang awal?” Ya jelas. Gen Z capek. Mau pulang. Istirahat. Lagian kerjaan Gen Z sudah selesai. Gak kayak Anda, jam kerja malah dipake makan. Jam kerja malah dipake ngobrol. Giliran jam pulang dipake kerja. Biar apa? Biar keliatan kerja, hah? Dasar Anda kolot!


________


Penulis


Mela Sri Ayuni, penulis lepas.



redaksingewiyak@gmail.com 

Esai Uwais Korni | Fans Karbit Ronaldo

Esai Uwais Korni



Nasi sudah menjadi bubur. Biar enak bubur itu ditambah tempe goreng dipotong kecil-kecil sama tahu bumbu Bali. Saya benar-benar menikmati kedukaan tersebut dengan bentuk ketololan saya yang impulsif.


Jemari tiba-tiba membuat SW tanpa setting privasi terlebih dahulu. Keluarga tahu. Teman tahu. Semua tahu. Saya mendeklarasikan diri bahwa saya sedang berduka atas kekalahan CR7 di laga akbar Piala Dunia terakhirnya melawan Spanyol.


Janji sudah tertulis jelas. Laki-laki dipegang janjinya. Mulai detik ini sampai sebulan kemudian saya tidak boleh buat SW dan PS-an. Itu janji saya.


Pertanda manusia berzakar kemungkinan besar sudah coplok telurnya adalah saat apa yang diucapkannya sebatas tong kosong nyaring bunyinya. Omong kosong tersebut dielu-elukannya. Dia bingung atas jalan pembicaraannya sendiri. Tidak jelas. Mencla-mencle.


Sudah maklum ini tanda kemunafikan. Di mana saat berbicara dia akan penuh dengan tipu muslihat. Dia pembohong. Dia seperti koruptor yang awalnya manis lisan namun akhir-akhirnya seringnya blunder.


Dia penipu. Dia mengkhianati janjinya sendiri. Dia pupuskan harapan orang lain. Amanah sudah menjadi akar yang berpisah dari buminya. Memang pantaslah orang-orang seperti ini diinjak-injak di neraka.


Membaca SW saya sendiri yang blunder itu, saya jadi parno sama bagaimana nanti pandangan teman WA saya terhadap saya. Apalagi ini tentang kejujuran seseorang.


Apakah saya akan membohongi diri sendiri dan orang lain?


Apakah saya akan mengerdilkan janji yang agung itu?


Apakah saya akan mengkhianati amanah tersebut?


Saya sudah pendosa sejak kecil, bahkan mungkin sampai tua nanti. Namun saya sadar diri. Pola pikir bertumbuh, saya rawat semaksimal mungkin. Sampai pada satu kesimpulan, saya tidak akan pernah mengecewakan diri saya sendiri dengan mempunyai tiga sifat kemunafikan di atas.


Saya anti dengan kebohongan. Jika berjanji, betul-betul akan saya laksanakan. Dan amanah yang dibebankan kepada saya, tidak akan saya berkhianat kepada siapa pun itu.


Hasilnya, dalam konteks ini saya akan puasa buat SW selama sebulan. Saya juga puasa main PS selama sebulan.


FOMO atas berita-berita yang saya lihat di reels FB, akhirnya saya putuskan untuk berduka lewat esai singkat ini. Di sana terpajang Neymar kalah melawan Norwegia. Erling Haaland melaju pesat menuju puncaknya. Neymar menangis tersedu-sedu dibuatnya.


Luca Modric tersungkur dijegal Portugal, sedangkan Ronaldo kalah melawan Lamine Yamal.


Dan masih banyak lagi pemain bintang lainnya yang diadu, seperti Messi, Vozinha, Mbappe, dll.


Saya FOMO sebab informasi semua ini bersifat seketika. Saya tidak kenal semua pemain itu secara detail. Saya memainkannya di PS bukan sebab menjadi pendukung fanatik klub. Saya hanya main-main saja. Main terus tahunya.


Saat saya lihat sepak bola di televisi, saya mendukung tim yang lebih dominan. Atau lebih tertarik kepada tim yang banyak pemain bintangnya. Saya fans karbit. Tidak mengenal semua itu secara berlebihan. Hanya suka menonton pertandingan secara keseluruhan, bukan sedetail-detailnya.


Tapi kali ini berbeda.


Ronaldo yang sekarang jauh berbeda dengan Ronaldo yang dulu. Di zaman saya ngerental PS, sudut pandang saya terhadap Ronaldo adalah sosok pemain yang gesit lagi tajam tembakannya. Dia dimainkan. Bukan dicari tahu siapa dia.


Saya fans karbit kagum akhir-akhir ini. Sungguh telat dalam mengidolakannya. Benar-benar telat.


Saya tidak tahu perjalanan karirnya di dalam sepak bola seperti apa. Susahnya dia menghadapi pemain-pemain liga Inggris yang ganas itu, yang seakan-akan berambisi untuk mematahkan kedua kakinya itu.


Di klub yang lain juga sama.


Saya tidak mengikuti satu-satu pertandingannya. Saya, sekali lagi, fans yang FOMO hanya karena Ronaldo sering nongol di beranda reels FB yang menampilkan keteguhan hatinya menerima kekalahan yang tipis itu saat melawan Spanyol di piala dunia tahun ini.


Setidaknya saya tidak akan pernah kecewa atas janji saya tersebut. Janji yang dadakan berjanji. Janji yang benar-benar harus ditepati. Itu disebabkan pura-pura gila di dalam mengidolakan sosok CR7.


Saya sungguhan stop buat SW lagi sebulan penuh. Saya dilarang main PS sebulan penuh. Sekali lagi, laki-laki memang harus diperhatikan betul-betul atas apa yang telah dan akan diucapkannya itu. Saya blunder parah.


Namun meskipun begitu, saya tidak akan merasa kecewa mengidolakannya sekalipun baru-baru ini juga saya mengidolakannya. Mengidolakan seseorang, apakah harus memang dari awal perjuangan?


Ada hikmah di balik itu semua. Adakalanya hal-hal normal di masa kecil akan terasa agung saat kita sudah dewasa. Seperti Ronaldo ini, adalah hal yang biasa-biasa saja di rental PS bagi anak kecil. Namun akan jauh berbeda saat dilihat dari sudut pandang penggemarnya yang dewasa.


Seperti ini pula, hikmahnya adalah jika Portugal memenangkan melawan Spanyol, apakah akan ada esai ini?


Mungkin ini yang dimaksud bahwa apa pun itu pasti ada hikmahnya. Tinggal kita sendiri mau mencari tahu atau mau tidur berselimut tahi. Ah, sudahlah. Fans karbit tak perlu banyak bicara. Nanti blunder lagi.


_______


Penulis


Uwais Korni lahir di kawasan YPPRN dengan nama panggilan Mas Didin. Mulai latihan menulis sejak 2014 sampai seterusnya.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com

Monday, July 6, 2026

Lapak Buku | "Matek Edan" Karya Ihya Dinul Alas dkk.

 



Judul: Matek Edan

Penulis: Ihya Dinul Alas dkk.

Penerbit: #Komentar

Terbit: Agustus 2026

Tebal: 181 hlm.

Ukuran: 14 x 21

Harga: Rp75.000


Matek Edan merupakan antologi puisi dan cerita pendek berbahasa Jawa Banten yang menghimpun karya para penulis yang karyanya terhimpun dalam NGEWIYAK.com periode 2021 s.d. 2026. Buku ini merekam denyut kehidupan masyarakat melalui bahasa daerah yang khas, mengangkat tema kematian, cinta, keluarga, religiusitas, politik, kemiskinan, perempuan, masa kecil, hingga kritik sosial. Setiap karya menghadirkan renungan tentang perjalanan hidup manusia, hubungan dengan Tuhan, serta realitas yang sering luput dari perhatian. Dengan gaya tutur yang puitis, lugas, dan sarat kearifan lokal, buku ini menjadi ruang pelestarian bahasa Jawa Banten sekaligus media penyampaian nilai-nilai kemanusiaan. Matek Edan bukan sekadar kumpulan karya sastra, melainkan cermin kehidupan yang mengajak pembaca merenungkan makna hidup, kematian, cinta, keadilan, dan harapan dalam setiap langkah kehidupan.


Kontak Penerbit:

087771480255 


Karya Siswa | Cerpen Nayla Alhusna | Antara Cinta dan Menunggu

Cerpen Nayla Alhusna



Nayla Alhusna selalu percaya bahwa hidupnya sudah cukup sibuk tanpa perlu memikirkan urusan cinta. Sebagai ketua OSIS, juara olimpiade sains, langganan juara penelitian, pembawa acara dengan suara yang mampu membuat orang-orang terpesona dan murid yang hampir tidak pernah mendapat nilai jelek.


Waktu Nayla biasanya habis untuk rapat, belajar, dan kegiatan sekolah. Bahkan Keysha, sahabatnya sejak kelas sepuluh, sering mengatakan kalau Nayla kemungkinan besar akan menikah dengan buku pelajaran.


"Kalau suatu hari lo pacaran, gue traktir satu kantin." Keysha mengucapkan kalimat tersebut sembari memainkan alisnya. Matanya terlihat menantang Nayla. "Itu ga bakal kejadian." Nayla menghembuskan nafas dengan pelan. Nayla menutup matanya karena merasa ngantuk. 


Keysha memutarkan bola matanya, "Kenapa?" Pertanyaan singkat yang Nayla rasa tak harus ia jawab. "Hey, ketos, gua bertanya loh, jawab dong!" Keysha mengguncangkan bahu Nayla. Nayla membuka matanya, "Gue males." 


"Atau ga ada yang berani?" Keysha tertawa terbahak-bahak setelah mengatakan kalimat yang terdengar sangat jahil. Nafas Nayla memburu. Sekarang, ia terlihat ingin melahap Keysha dengan ganas, "Pergi sana." Keysha pergi dengan tawa yang sangat menggema. Nayla hanya terdiam melihat punggung Keysha. Saat itu Nayla benar-benar yakin bahwa Keysha salah.


Sampai suatu siang, ketika ia berdiri di depan wastafel dekat aula sekolah sambil mencuci stroberi yang dibawanya dari rumah. Jam istirahat pertama baru saja dimulai. Tempat itu cukup sepi. Nayla mematikan keran lalu berbalik badan.Dan hampir menabrak seseorang. 


Jarak mereka begitu dekat hingga Nayla refleks mundur satu langkah. "Oh, maaf." Suara itu membuat Nayla mendongak. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, otak Nayla seperti mengalami error.


Nama yang terletak pada name tag baju seragamnya adalah Panorama Jingga. Satu kata dalam pikiran Nayla, unik. 


Ia langsung ingat tentang rumor atas nama Panorama Jingga. Yang ia ketahui bahwa Panorama Jingga adalah anak basket, anggota paskibra, vokalis band sekolah. Dan pemilik wajah yang terlalu sempurna untuk ukuran manusia biasa. Nala baru pertama kali melihat wajah Panorama secara langsung. Panorama terlihat sedikit bersalah. "Maaf, gua kira wastafelnya kosong." Nayla terdiam sebentar. 


"Oh... engga kok." Tangan Nayla terlihat memegang stroberi dengan erat. Kentara sekali, bahwa ia terlihat sangat gugup. Bagus, sangat bagus. Ketua OSIS kebanggaan sekolah. Pembawa acara handal yang jago improvisasi. Pengisi siaran podcast peserta didik berprestasi, baru saja menjawab seperti NPC. Panorama tersenyum kecil. Ia menunduk sedikit, "Gapapa kan?"


"Iya." Nayla mengalihkan pandangan ke arah lain. "Oke. Maaf ya." Lalu ia pergi begitu saja. Sementara Nayla masih berdiri mematung. Ia terdiam cukup lama. 


"NAYLAAA!" Suara Keysha membuat Nayla tersadar. "Kenapa lo?" Nayla menunjuk ke arah Panorama yang berjalan menjauh. "Itu." Kening Keysha mengernyit keheranan, "Panorama?"


"Iya." Nayla mengangguk pelan. "Kenapa dengan dia? " Keysha terlihat bingung. Sangat bingung. Nayla diam beberapa detik, "Ganteng." Satu kata. Singkat, tapi mampu membuat Keysha terdiam. Mencerna ucapan Nayla. Si Ketos cantik, berprestasi, tidak ada riwayat dekat dengan lelaki manapun. Hari ini sedang memuji seorang lelaki. 


"HAH??" Keysha langsung tertawa sampai hampir jatuh. Hari itu seharusnya menjadi akhir dari cerita. Sayangnya, justru menjadi awal.


Seminggu kemudian sekolah sedang sibuk mempersiapkan pentas seni tahunan. Sebagai ketua OSIS, Nayla jadi orang yang sangat sibuk dan bertugas mengawasi daftar ulang seluruh peserta. Satu per satu siswa datang ke mejanya. Sampai seseorang berhenti tepat di depan kursinya.


"Permisi." Suara itu... Jantung Nayla langsung salah tingkah. Ia kenal. Itu suara Panorama. Datang dengan map berisi formulir peserta. "Oh..." Nayla hanya mengucapkan sepatah kata dengan wajah tersipu malu. 


Panorama terlihat menahan senyum. "Oh doang?" Nayla langsung ingin menghilang. Menghela nafas perlahan. "Maksudnya... silakan."


Panorama menyerahkan formulir. Saat tangan mereka hampir bersentuhan, Nayla refleks menarik tangannya. Panorama mengangkat alis. "Gue nyetrum?"


"Hah?" Nayla memutar otak. Maksud si ganteng ini, apa ya gitu kan. "Refleks banget." Panorama menyilangkan tangan di dada. "Engga kok." Mata sinis nan indah itu, langsung menjawab dengan nada ketus. 


"Syukur." Panorama terlihat acuh tak acuh, namun terdapat senyum tipis di wajahnya. Lalu lagi-lagi senyum itu muncul. Dan ya, lagi-lagi Nayla lupa cara bernapas.


Malam pentas seni akhirnya tiba. Aula sekolah penuh sesak. Sebagian besar murid perempuan tampaknya datang bukan karena acara sekolah, melainkan karena Panorama Jingga.


Saat band Panorama naik ke panggung, teriakan langsung memenuhi ruangan. "PANORAMAAAA!" Teriakkan seorang gadis berambut pendek mampu membuat telinga sakit. 


"I LOVE YOU!" Nah, lagi-lagi ada perempuan berambut panjang, yang teriak disamping Nayla. Tak ayal, ia menutup telinganya. 


"NIKAH SAMA AKU YA!" Nayla langsung menoleh kearah suara dan mengucap sebuah kalimat dalam hatinya, "Aih, nih cewe mimpi banget." Keysha langsung menoleh ke arah Nayla. "Saingan lo banyak."


"Diam." Nayla menyilangkan kedua tangannya di dada, terlihat sinis kepada sang sahabat. Keysha terkekeh pelan, lalu menggelengkan kepala. 


Band mereka mulai bermain. Lampu panggung menyorot Panorama yang berdiri di tengah sambil memegang gitar. Suara penonton perlahan mereda. Lagu pertama selesai. Lagu kedua dimulai.


Lagu yang belum pernah didengar Nayla sebelumnya. "Kalau mata bisa bicara, mungkin hati sudah ketahuan..." Suara Panorama memenuhi aula. "Dari ramai dunia, aku cuma mencari satu tujuan..." Awalnya Nayla hanya menikmati lagu. Sampai ia sadar. Panorama sedang melihat ke arahnya. Bukan sekali, bukan juga hanya dua kali. Melainkan hampir sepanjang bagian lagu itu. Jantung Nayla langsung kacau. Ia buru-buru membuang muka.


"Keysha." Nayla memanggil sahabatnya dengan histeris. "Hm?" Keysha tetap fokus menonton penampilan keren dari band kebanggaan sekolah itu. "Gue mau pulang." Nayla mencolek lengan baju Keysha. 


Keysha memutarkan kedua bola matanya, "Heh, inget ya, lo itu ketua OSIS nya, ketua penyelenggara, lagian belum selesai Nay." Keysha terlihat kesal. "Gue malu." Nala menutup wajahnya dengan gusar. "Kenapa?" Keysha menatap Nayla dengan aneh. 


"Dia liatin gue." Nayla menunjuk kearah panggung. Keysha juga langsung menoleh ke panggung. Lalu menoleh lagi ke Nayla. Lalu menoleh lagi ke panggung. "Nay."


"Apa." Nayla menaikkan wajahnya yang semula tertunduk. "Kayaknya bener deh." Keysha mengucapkan kalimat dengan ambigu. "HAH? MAKSUD LO?" Nayla kebingungan, tak mengerti maksud Keysha. Keysha terlihat tak tertarik untuk menjelaskan. 


Sejak malam itu, sesuatu mulai berubah. Bukan hanya pada Nayla. Tapi juga pada Panorama. Karena tanpa sadar, mereka mulai saling mencari.


Awalnya lewat tatapan. Lalu lewat senyuman. Lalu lewat hal-hal kecil yang tidak pernah mereka akui. Sampai akhirnya rasa penasaran mengalahkan gengsi.


Suatu siang Nayla menghampiri Andika, sahabat Panorama. "Dik." Nayla duduk disamping kursi yang sedang diduduki oleh Andika. Tak ada pemiliknya. Tak masalah kan, kalau ia langsung duduk begitu saja. "Hm?" Andika menjawab sambil membaca buku. "Panorama punya pacar ga?"


Berjingkat kaget. Buku yang sedang dibaca, langsung ditutup. Andika tersenyum seperti menemukan gosip nasional. "Nanya buat siapa?" Alisnya di naik turunkan. Sangat menyebalkan di mata Nayla. "Penelitian."


Andika tak mampu menahan tawanya yang meledak, "Lo kira gue orang bodoh?" Andika terkekeh pelan. 


"Nanya doang." Nayla mengalihkan pandangan. Mukanya merah. Seperti tomat. "Gapunya." Andika menaruh bukunya di meja. Tangannya dilipat di atas meja. Jantung Nayla langsung sedikit lega. Namun Andika melanjutkan.


"Tapi katanya masih gagal move on sama mantannya." Bagaikan serangan petir disiang bolong. Perasaan Nayla langsung jatuh.


Di rumah. Setelah kejadian itu. Nayla terdiam. Ia menatap langit-langit kamar. Disela-sela telepon video dengan sang sahabat. Nayla memecah keheningan. "Key."


"Apa?" Keysha membalas panggilan Nayla dengan nada malas. "Gue mau nyerah." Nayla menghembuskan napas. "Kenapa?" Terlihat di sana, Keysha sangat bingung. Alisnya bertaut. 


"Dia masih gagal move on sama mantannya." Keysha menghela napas panjang. "Nay, Panorama yang bilang?"


"Engga." Nayla menggeleng dibalik ponselnya. "Terus?" Keysha menaikan sebelah alisnya. 


"Katanya." Nayla meringis pelan. "KATA SIAPA?" Nada bicara Keysha terlihat geram. "Andika, sahabatnya Panorama." Nayla langsung diam. "Ya Allah." Keysha pun ikut terdiam. 


Ucapan Andika terus menghantui pikirannya. Sejak saat itu, Nayla mulai menjaga jarak. Mulai menghindar. Mulai pura-pura tidak peduli. Sampai suatu malam ia iseng melihat Notes Instagram. Satu persatu. Mulai dari teman kelas, teman organisasi, teman lomba, dan dia. 


Lagu "Dari Mata".


Jantung Nayla langsung berdetak lebih cepat. Tiba-tiba salah tingkah, mendengar liriknya. "Dari mata, buatku jatuh, jatuh terus, jatuh ke hati." Sekelebat ide cemerlang muncul dalam pikirannya. 


Ting! 


Ia memasang Notes instagram, dengan lagu "Mata ke Hati". Tersenyum bak orang kesurupan. Tidak tahu kenapa ia bisa seperti ini. Sebenernya, ia sengaja memilih lagu itu. Karena lagu itu seolah-olah membalas Notes instagram Panorama. Ya, meskipun ia yakin, bahwa tidak mungkin Panorama akan sadar, bahwa Notes instagram itu Nayla khususkan untuk dirinya. 


Setelah menggunakan perawatan kecantikan. Nayla bersiap untuk tidur. Bahkan tubuhnya sudah menempel dengan kasur. Saat menaruh handphone di samping tubuhnya. 


Ting! 


Muncul notifikasi. Awalnya tak ingin ia gubris. Namun, kenapa tiba-tiba ada hasrat untuk membuka notifikasi tersebut. Tubuhnya terjungkal. Ia bangun dari posisi tidurnya. Duduk tegap. Menatap layar dan tak bergeming. Bola matanya membesar. Pikirannya penuh tanya. 


"HAH? DEMI APA, HAH?" Nayla mengusap kepalanya, mencubit hidung mancungnya. "Sumpah, ini yang DM gua, Panorama?" Nayla menggulirkan layar ponselnya. Berkali-kali ia memencet profil akun instagram Panorama. "Ah, tapi bener kok, ini akunnya Panorama. Masa dia salah kirim pesan sih?" Nayla membaca pesan yang dikirim oleh Panorama. 


"Kok, sorotannya sekilas mirip ya. Apa kebetulan doang?" Itulah isi pesan yang mampu membuat Nayla menjerit-jerit tak karuan. Melompat-lompat di lantai. Memeluk boneka yang ada di sekitarnya. Lalu, berkaca dan menampar pipinya sendiri. 


"Oh, no! Ini beneran kah cuy?" Nayla tersenyum penuh dengan mata berbinar. Kembali duduk di kasur. Dan membalas pesan dari Panorama. 


"Eh, iya, kayak saling bales gitu ya? Hehe." Setidaknya, begitulah pesan yang dikirim oleh Nayla. Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Masih tetap tak ada balasan. "Ah, kayaknya Panorama udah tidur deh. Aduh, aku malu banget." Tak hentinya ia tersenyum. Setelah berpikir bahwa pesannya mungkin akan dibalas besok hari. Nayla bersiap-siap untuk tidur lagi. Matanya sudah ingin tertutup. 


Ting! 


Ia tidak ragu untuk kembali membuka matanya. Dan ya, ternyata Panorama membalas pesannya. Akhirnya, malam itu, pukul sepuluh lewat, mereka melanjutkan obrolan sampai pukul satu dini hari. 


Keesokan harinya. Ia menceritakan  semua kejadian tersebut kepada Keysha. Keysha terlihat tidak percaya, namun setelah melihat chatnya sekilas, ia jadi senyum-senyum sendiri. 


Sejak saat itu perang Notes berlangsung hampir setiap malam. Mereka mulai mengobrol setiap hari. Tentang sekolah, basket, lomba, musik, dan hal-hal receh yang tidak penting. Namun selalu mereka tunggu, sebuah rahasia hati yang tak pernah terungkapkan. 


Sampai suatu malam. Panorama mengirim pesan. "Gue dulu takut sama lo." Nayla tertawa dibalik ponselnya. Lalu mengetikkan sesuatu, "Kenapa?"


"Lo terlalu sempurna." Jawaban Panorama membuat Nayla menautkan alisnya. "Apaan sih." Dengan cepat ia mengirimkan pesan itu kepada Panorama. "Serius." Jawaban singkat yang mampu membuat Nayla keheranan. 


"Terus sekarang?" Lama sekali Panorama mengetik balasan dari Nayla. Sangat lama. Sampai akhirnya muncul balasan. "Sekarang gue suka." Nayla menatap layar selama hampir satu menit. Lalu tersenyum sendiri seperti orang gila. Kemudian, Nayla membalas pesan Panorama dengan sebuah ungkapan juga. 


Dua bulan kemudian. Tepat setelah Nayla purna ketua OSIS, mereka resmi bersama. Dan seluruh sekolah heboh. Story Instagram penuh ucapan duka.


"Turut berduka cita untuk seluruh penggemar Panorama." Perempuan dengan baju motif bunga di profilnya, membuat cerita instagram seperti itu. 


"Aku kalah sama Ketua OSIS." Seorang perempuan dengan baju putih abu-abu, tampak sedang menatap jendela, memposting cerita seperti itu juga. 


"Gapapa, kalahnya sama Nayla." Sebuah komentar singkat dalam postingan perempuan dengan baju putih abu-abu tersebut, membuat Nayla tersenyum. Bukan sombong. Tapi heran saja. 


Bahkan Andika membuat postingan, dengan caption, "Panorama resmi tidak tersedia." Nayla yang melihatnya, tersenyum singkat. Hatinya terasa bahagia. Tak lama, ia membalas pesan dari Panorama. 


Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Suatu malam, Mama Nayla melihat notifikasi. Nama kontak yang tertera adalah kata "Panorama Sayangku" dengan emoji cinta berwarna putih. 


Malam itu juga Nayla dipanggil ke ruang tamu. "Nayla." Mamanya terlihat mengintimidasi Nayla. Nada bicaranya dingin. "Iya Ma." Nayla hanya menunduk saja. 


"Siapa Panorama?" Nayla langsung diam seribu bahasa. Mama menatapnya serius. "Pacar kamu?"


Air mata Nayla mulai menggenang. Tak mampu mengucapkan sepatah katapun. "Mama ga izinin." Mamanya menyilangkan tangan di depan dada. 


"Tapi Ma..." Nayla menatap mamanya penuh harap. "Kamu masih sekolah." Mamanya melihat Nayla dengan tatapan sinis. Pisau pun sepertinya kalah tajam dengan tatapan Mamanya. 


"Nayla tetap belajar." Nayla berusaha membela dirinya. "Mama tau."


"Terus kenapa?" Nayla menghela napas pelan. Menunggu jawaban Mamanya dengan perasaan cemas. Kedua tangannya ia kepal di depan badan. "Mama ga mau fokus kamu pecah." Nayla mulai menangis.


Namun Mama tetap tegas. "Kalau kamu masih lanjut hubungan ini..." Suara Mama terdengar berat. "Mama cabut semua fasilitas dan kegiatan kamu." Nayla membeku.


"Ponsel, les, kegiatan OSIS, lomba-lomba, dan kalau perlu Mama pindahkan sekolah kamu." Nayla terdiam membeku. Tak lagi mampu untuk membantah. Malam itu Nayla menangis sampai tertidur.


Keesokan harinya ia menemui Panorama di tribun basket. Panorama langsung tahu ada sesuatu yang salah. "Sayang."


Nayla tidak sanggup menjawab. "Sayang, kamu kenapa?" Nayla menghela napas. "Mama tau." Panorama langsung diam. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka dekat, tidak ada candaan. Tidak ada senyum. Hanya kesunyian. "Mama ga bolehin kita pacaran." Suara Nayla bergetar. Matanya menahan tangis. 


"Aku ga mau bikin Mama kecewa." Panorama menunduk. Lama. Sangat lama. Lalu mengangkat wajahnya dan tersenyum kecil. Senyum yang justru membuat Nayla semakin ingin menangis. "Gapapa." Panorama mengangguk sedikit untuk meyakinkan Nayla. 


"Sayang..." Nayla menatap inti bola mata Panorama. "Gapapa." Mata Panorama mulai memerah. "Kalau sekarang bukan waktunya" Ia menarik napas panjang. "Ya kita ga bisa maksa." Dan hari itu, mereka berpisah. Bukan karena tidak saling cinta. Bukan karena ada orang lain. Melainkan karena keadaan. Beberapa bulan berikutnya mereka kembali menjadi asing.


Masih satu sekolah. Masih satu koridor. Masih satu kantin. Namun tidak lagi saling menyapa. Kadang mata mereka bertemu. Lalu sama-sama membuang muka.


Sampai hari kelulusan tiba. Di tengah keramaian dan suara tawa teman-teman mereka, Panorama menghampiri Nayla untuk terakhir kalinya. "Semoga lo keterima di kampus impian lo." Nayla tersenyum kecil.


"Semoga band lo sukses." Panorama mengangguk. Lalu berbalik pergi. Namun sebelum benar-benar pergi, ia berhenti. Dan berkata pelan tanpa menoleh. "Kalau nanti kita ketemu lagi..." Nayla terdiam. "Semoga waktunya lebih baik."


Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nayla kembali menangis. Karena ada orang yang tepat. Hanya saja datang di waktu yang belum tepat. Dan mungkin, di suatu tempat, pada suatu waktu yang belum mereka ketahui. Mereka akan kembali, utuh, tanpa berpisah. 


Nayla menatap punggung Panorama yang hilang tertutup oleh tembok sekolah. Nayla tersenyum, "Tunggu aku hadir kembali dalam hidupmu." Nayla berlari menuju gerbang sekolah.


_______


Penulis


Nayla Alhusna adalah siswi berusia 15 tahun yang lahir di Pandeglang pada 22 Juni 2011. Ia memiliki kegemaran membaca buku, menulis, dan menari. Di sela aktivitasnya, Nayla menikmati lagu You're Still the One dari Shania Twain, menyukai warna merah muda, hitam, dan krem, serta menggemari dimsum, pancake, dan susu.

Di bidang akademik dan organisasi, Nayla telah menorehkan berbagai prestasi. Ia berhasil meraih Juara 1 OPSI IPS pada tahun 2024 dan 2025, Juara 2 Vlogger English Festival, serta menjadi Juara 1 seangkatan. Jiwa kepemimpinannya terlihat dari amanah sebagai Sekretaris OSIS SMPN 10 Kota Serang pada masa bakti 2024 dan Ketua OSIS pada masa bakti 2025. Kiprahnya juga mendapat apresiasi sebagai Siswi Inspiratif dalam Podcast Rumah Inspiratif. Dengan semangat untuk terus berkembang, Nayla memegang prinsip hidup, “Dream big, stay humble, and keep shining.”


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com



Sunday, July 5, 2026

Puisi-Puisi Ahmad Supena

Puisi Ahmad Supena




Pasar Lama Serang


Lentera kota mulai dinyalakan di simpang jalan

Namun di pasar lama,waktu seolah enggan berjalan

Bau arang membumbung, beradu dengan aroma malam

Para pedagang setia melarung harapan yang dalam

Dulu makodim berdiri kokoh di utara alun-alun, menjadi saksi

Kini berganti megah dinding mal yang menjanjikan ilusi

Serang bergerak maju, atau mungkin tergesa-gesa?

Meninggalkan jejak lama dalam ingatan yang mulai paksa

Anak-anak urban berkumpul di kafe-kafe bercahaya

Sementara di sudut lain angkot timur-barat masih mengejar biaya

Kota ini bertumbuh dalam dua wajah yang berbeda

Antara merawat warisan atau hanyut digilas roda dunia


Banten 2024-2025



Kasemen


Di bawah langit kasemen yang perlahan berawan

Aliran drainase tersumbat, membawa cemas bagi sang Kawan

Beton-beton jalan mulai dituang membelah desa

Berlomba dengan genangan yang kerap menyisakan siksa


Petani di pelamunan menatap sawah yang kian menjauh

Terhimpit bayang pabrik dan truk-truk yang menderu riuh

Bahasa Jawa Banten sayup-sayup terdengar di pos ronda

Menjadi benteng terakhir identitas yang mulai menua


“Aja klalen batur,” bisik angin di reruntuhan Banten Lama

Mengingatkan tanah ini pernah memimpin dunia utama

Kini, kasemen berjuang di antara debu dan Pembangunan

Mencari keseimbangan di tengah arus modernisasi zaman


Banten 2024-2025



Stasiun Serang


Jalur rel itu membenteng sejak tahun seribu Sembilan ratus

Membelah jantung kota, membawa cerita yang tak pernah putus

Stasiun serang berdiri kokoh dengan dinding tuanya

Menyaksikan ribuan pasang kaki datang dan pergi dari sisinya

Peluit lokomotif melengking memecah keheningan pagi

Membawa kaum komuter yang mengadu Nasib ke ibu kota lagi

Di dalam gerbong, wajah-wajah Lelah saling berhadapan

Memendam mimpi tentang hidup yang lebih berkecukupan


Kereta ini Adalah urat nadi yang menghubungkan masa lalu

Dari zaman colonial hingga serang menjadi provinsi yang baru

Ia melaju konstan, melintasi perlintasan sebidang yang riuh

Mengingatkan kita bahwa perubahan takkan bisa diteduh


Banten 2024-2025


_________


Penulis


Ahmad Supena, dosen di Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia (PBI) FKIP Untirta.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Puisi-Puisi Lukmannul Hakim

Puisi Lukmannul Hakim



Boneka Babi; Bersembunyilah!


Mereka bilang,

kepemimpinan harus diterima.

Kalau tidak,

berbicaralah.

Tetapi mereka memilih

mengirim boneka babi

di tengah malam.

Mereka memilih

membiarkan benda

menggantikan mulutnya.


Aku tidak sedang marah

kepada boneka itu.

Ia hanya kain,

kapas,

dan jahitan.

Yang kutanyakan adalah

siapa tangan

yang selesai meletakkannya

lalu berlari

lebih cepat

daripada nuraninya sendiri.


Katanya,

keputusan ini salah.

Baik.


Kalau salah,

datanglah.

Bawa alasanmu.

Benturkan pikiranmu.

Jangan sembunyikan keberanianmu

di balik pagar,

di balik akun,

di balik bisik-bisik

yang bahkan takut

mendengar suaranya sendiri.

Sebab intimidasi

selalu lahir

dari keberanian

yang kehilangan wajah.

Aku lebih menghormati

lawan

yang berdiri di depan pintu

dan berkata,

"Aku tidak setuju."

Daripada seribu orang

yang melempar simbol,

lalu menghilang

seolah sejarah

tidak punya ingatan.


Boneka babi itu

akan lapuk.

Kapasnya akan mengempis.

Warnanya akan pudar.

Tetapi pengecut

selalu punya cara

mengganti boneka

dengan simbol lain,

mengganti tangan

dengan tangan lain,

mengganti akun

dengan akun lain.

Yang tak pernah mereka ganti

adalah ketakutan.

Dan ketakutan

tidak pernah melahirkan

pemimpin.

Tidak pernah melahirkan

perubahan.

Ia hanya melahirkan

keramaian

yang sibuk bersembunyi.

 

Hari ini

mereka mengirim boneka.

Besok

mereka mungkin mengirim fitnah.

Lusa

mereka mengirim kebencian.


Tetapi selama mereka

tak berani mengirim

nama mereka sendiri,

maka yang sesungguhnya

sedang mereka kubur

bukan kehormatan orang lain

melainkan

harga diri mereka sendiri.


Sudah. 

Tak semestinya ada boneka itu!


Sleman, 20 Mei 2026 



Anak yang Membawa Rumah


Ibu

Kupanggil namamu

Ibu 

Agar tembok-tembok 

Berhenti menjadi suara.


Rumah

Rumah

Rumah-

Ternyata

Bukan dinding.

Ternyata 

Amarah.


Aku lahir 

Di panci yang mendidih,

Di kursi yang patah,

Di mata

Yang lupa memaafkan pagi.


Ayah.

Ayah?

Tak ada.

Yang ada

Hanya bayang

Yang berjalan

Lebih panjang

Daripada tubuhnya sendiri.


Ibu memungut hari.

Hari memungut luka.

Luka memungut ibu.

Lalu

Aku.

Aku di pungut

Oleh harapan.

“Kau saja.”

Kata itu 

Terlalu kecil

Untuk Pundak

Yang belum selesai tumbuh.

Maka aku pergi.


Kota

Membuka mulutnya.

Aku masuk.

Menjadi debu

Di antara ribuan debu.

Keringat.

Keringat.

Keringat.

Upah. 

Upah.

Upah. 

Uang.

Uang bukan uang.

Uang

Adalah beras.

Uang

Adalah obat.

Uang adalah atap

Yang tak lagi bocor.

Tetapi-

Mengapa

Setiap lembar yang kukirim

Selalu Kembali

Menjadi sepi?


Ibu.

Siapa 

Yang mencuri bahagiamu?

Aku mencari

Di dompet.

Tidak ada.

Aku mencari

Di rekening.

Tidak ada.

Aku mencari

Di koper

Yang kubawa pulang.

Tidak ada.

Barangkali

Bahagia

Tak pernah tinggal

Di benda.

Barangkali 

Ia tersesat

Di masa lalu.


Ibu memanggilku.

Bukan namaku.

Harapannya.

Aku menjawab.

Bukan dengan kata.

Dengan kerja.

Kerja.

Kerja.

Kerja.

Hingga telapak tangan

Lebih tua 

Daripada umurku.

Tetapi

Ibu masih berkata,

“Aku ingin Bahagia.”

Aku terdiam

Bahagia.

Bahagia.

Bahagia.

Kata itu

Berputar-putar

Seperti burung

Yang lupa 

Di mana langitnya.


Ibu,

Jika aku menjelma rumah,

Apakah kau akan pulang?

Jika aku menjelma uang,

Apakah luka berhenti berbunga?

Jika aku menjelma ayah

Yang tak pernah kaudapat,

Apakah matamu

Akhirnya tertidur?

Atau-

Aku harus menjelma 

Apa?

Aku?

Atau 

bukan aku?


Ibu.

Aku anakmu.

Bukan masa lalumu.

Namun setiap  kali

Kupeluk namamu,

Rumah ikut menangis.

Dan aku sadar-

Ada tangis 

Yang diwariskan.

Ada sepi

Yang tidak selesai dilahirkan.


Aku merantau

Bukan mencari dunia.

Aku hanya mencari 

Sebuah pagi

Yang Ketika pulang nanti

Tak lagi memanggilku

Dengan nama luka. 


Sleman, 03 Juli 2026 


________


Penulis


Lukmannul Hakim, akrab disapa Lukman atau Luckman. Ia sedang mencintai Fisioterapi persiapan masa depan. Pernah menulis puisi dan dimuat di majalah Kandaga Kantor Bahasa Provinsi Banten. ia juga menulis cerpen. Jangan lupa follow Instagram-nya @_Lukmannulhakim16.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Cerpen Sucipte Jamuhur | Rapat Keluarga

Cerpen Sucipte Jamuhur 


Sudah menjadi impian Tar sejak dulu. Berada di tengah-tengah sanak famili. Sebagai keluarga yang tak pernah utuh, mungkin hal inilah yang dibutuhkan. Sangat harus di lakukan, manakala semua anggota pulang kampung dari rantau. Kebetulan pula tidak ada aral melintang. Nah, di sanalah semua anggota keluarga bertemu, entah karena hari raya idul fitri atau memang takdir malang yang mempertemukan mereka_saat pemakaman Amaq.

“Kamu tau hewan apa yang terkuat?” Tanya Tar ke istrinya.

“Pastilah gajah.” Jawab Iwet cepat.

“Salah! Gajah tidak mampu mengangkat beban sepuluh kali lipat dari badannya.”

“Menyesal kujawab.” Iwet kesal sembari menerawang jawaban sebenarnya, sampai ia bosan memeras isi kepalanya untuk berpikir.

Perempuan memang malas menggunakan otaknya. Lebih suka menggunakan perasaan, pikir Tar. Pertanyaan tiba-tiba itu membuat mereka bertengkar kecil. Tidak biasanya ia membangun obrolan dengan cara seprti itu. Ia biasanya mengeluhkan beberapa hal yang tidak ia suka ke istrinya. Seperti biasa, dengan tangkas istrinya malah menyalahkan Tar. Istrinya sejak dulu sering mengulang-ulang sabdanya: leleki cerewet, semua serba dikerjakan, diurusi, dibenahi, diluruskan, ditanggapi, dan lainnya. Laki-laki tidak boleh banyak bicara, yang berbicara itu tindakannya.

“Yang banyak bicara itu perempuan. Di rapat keluarga nanti, kamu harus sering menge-rem. Semua berhak berbicara.” Lanjut Iwet tak mau kalah.

“Lebih baik kamu diam, kumbang tahi!” Cegat Tar.

“Astaga! Jadi menurutmu, aku ini kumbang tahi?” Iwet keberatan dan tak sabar buat bertengkar.

“Iya, itu jawabannya. Hewan terkuat itu kamu. Kamu mampu mengangkat beban sepuluh kali berat badanmu.”

“Maumu apa sebenarnya?”

“Aku bangga punya istri kuat, sayang.” Goda Tar.

Perasaan Iwet campur aduk antara tersanjung atau hendak melepaskan marah yang tertahan. Ia lalu memalingkan wajah dan serta merta terlihat tegang. Sehingga Tar menjawil lembut pipi Iwet yang kembali cerah menahan senyum.

Mobil mereka hampir sampai di batas desa. Kedua anaknya, Bagas dan Feri masih tertidur sebab kelelahan bermain. Sedari berangkat kemarin banyak makan dan bermain. Mereka sudah tidak sabar bermain lumpur di sawah Papuq.

Tahun kemarin, mereka membantu Kakek-nya menanam padi. Bermain di sawah adalah pengalaman yang tidak pernah mereka dapatkan di kota besar. Terlebih sudah ada sepupunya yang juga sesama laki-laki seumuran dan tinggal di rumah Papuq. Mereka semakin antusias. Karena ada teman mereka bermain layangan atau berkubang lumpur di sawah.

Tar juga senang, ada yang bisa mengelola sawah sepeninggal Amaq. Ang kakaknya ada sudah hampir satu tahun lebih menemani Amaq dan Inaq. Ang memutuskan tinggal di kampung setelah lama merantau di Jawa. Bangkrut parah memaksanya menjalani hidup di kampung.

Semenjak menikah delapan tahun lalu, Ang tidak pernah sekalipun pulang. Hanya berkabar melalui telpon. Tar juga senang bisa mempertemukan Bagas dan Feri dengan anak-anak Ang. Juga anak-anak dari kedua adiknya Isne dan Nurme.

Meski tinggal di Kota yang hanya sejarak satu jam perjalanan. Kedua adik perempuan Tar juga tak berat pulang kampung. Berikut suami dan anak-anaknya. Untuk itulah, Tar merasa harus ikut serta pulang kampung memenuhi impian Amaq semasa hidup, menggelar rapat keluarga. Ia ingin seperti orang lain dalam bersaudara: mengobrol banyak, bertukar pikiran, tertawa-tawa, berbagi cerita, makan bersama. Seperti keluarga besar pada umumnya.

Jika saja Amaq tidak meninggal sembilan puluh sembilan hari lalu. Mereka tidak akan bisa bersua. Titah Amaq semasa hidup agar urun rembuk dalam satu suasana, tidak pernah terlaksana.

Amaq sebagaimana orang tua lainnya, selalu berbesar harapan, sekiranya ia bisa melihat anak-anaknya berkumpul dalam satu pandang. Ah, waktu memang perkasa memisahkan kelurga. Anak-anak adalah hasil karya yang menjadi penyejuk pandangan. Namun, harapan meliht merek dalam wujud dewasa tak pernah kabul, impian itu di bawanya ke alam tidur abadi. Semasa hidup ia sering menegur masing-masing mereka saat menelpon (sesekali) agar menyempatkan diri pulang dan berkumpul. Meski hanya sekali.

“Mumpung Amaq masih hidup, nak. Meleng mayit-ku (mayat dengan mata terbelalak), kalau permintaan sederhana Amaq ini, tak sanggup kalian penuhi.” Hal itu telah benar-benar terjadi saat beliau nazak dan ruhnya telah pergi, seakan beliau tahu betul ayat maut dalam laku hidup manusia.

Barangkali ucapan yang acap kali Amaq perdengarkan itu menjadi buah penyesalan. Tidak pada Tar saja, juga pada Isne dan Nurme. Terlebih Ang sebagai anak lelaki tertua. Buah bibir itu terbayar kontan. Konon, perbuatan dan perkataan orang yang sudah tua telah dibisikkan malaikat maut. Terlebih seratus hari sebelum meninggalnya.

Istri Ang seperti orang panik dengan persiapan acara doa seratus hari Amaq. Ia tahu Ibu mertuanya tak banyak membantu selain duduk dan berkomentar ini-itu. Meski Inaq telah pikun dan banyak lupa, istri Ang tetap melempar obrolan dan menanggapi arahan Inaq saat masak. Sehingga beberapa orang tetangga berduyun-duyun datang membantunya memasak di halaman samping rumah.

Sedari pagi ia cekatan meracik bumbu dapur dan rela memasak banyak sate pusut kesukaan adik iparnya Tar. Ia tak pedulikan asap kayu bakar memengapkan badannya. Matanya berkali-kali kelilipan abu dan asap tak ia pedulikan. Demi memenuhi harapan Amaq mertua (semasa hidup) dan menjamu keluarga jauh saat rapat keluarga nanti.

Tar dan istrinya begitu menikmati sate pusut buatan iparnya. Sampai-sampai ia tak sadar tusuk sate banyak bereserakan di atas nampan. Acara doa seratus hari telah selesai, beberapa orang tentangga yang hadir telah pulang dan beberapa orang masih duduk mengobrol di berugaq depan.

Disuguhkan banyak makanan membuat Tar lega dan lelahnya selama di perjalanan terbayarkan. Ia merasa layak dijamu seperti itu, meski tak seperti yang ia harapkan. Sejak sampai, ia selalu tertawa oleh tingkah Inaq. Tar cukup terhibur dengan kepikunannya. Ibunya masih percaya_bahkan bersikeras kalau Tar adalah teman kecilnya di Sekolah Dasar dulu.

Tawa yang lama kelamaan menjadi kepedihan. Inaq beberapa kali menyangkal kematian Amaq. Terkadang ia menunjuk Ang sebagai sosok suami. Ang lebih banyak menutup mulut. Mengobrol dengan tamu atau bereramah tamah dengan keluarga yang lain sudah diwakili oleh Tar. Adiknya memang selalu menjadi tumpuan keluarga. Sementara Ang sibuk melakukan banyak hal remeh sejak Tar tiba. Bukan sifatnya yang banyak bicara dan suka mengobrol seperti adiknya.

Sesekali Inaq menangis, sebab Tar terlalu serius menerangkan kejadian sebenarnya. Tar juga sungguh-sungguh menjelaskan bahwa ia adalah anaknya. Juga perihal Amaq-nya (suami kedua Inaq) telah meninggal seratus hari lalu.  Inaq berkilah tak kalah bersikeras, bahwa sosok suaminya masih hidup dan sedang membantu tetangga cuci piring. Di arahkan telunjuknya ke Ang.

Raut muka Tar berubah kesal dan putus asa. Diserahkan Inaq ke istrinya Ang untuk ditemani. Tar lalu beranjak, mengajak beberapa orang yang masih ada di tempat itu, untuk memulai acara inti: rapat keluarga.

“Langsung saja.” Ucap Tar memecah kesunyian.

“Terima kasih telah hadir Ustadz Saepul. Kak Juhari Sarjana Hukum, Tuaq Geli sebagai Kadus, serta adik-adikku : Isne dan Nurme. Juga tak kalah penting Ang, saudara tiri kami.” Ang menunduk tegang dan berkeringat dingin. Bak pesakitan, kedua tangan Ang tersimpul di kempit kedua dengkulnya.

“Sebagai orang beragama, kita tidak bisa menolak keputusan Tuhan. Sebaiknya kita dalam hal ini sepakat dengan hukum agama.” Jelas Tar dan semua terdiam tanda setuju.

“Kita sudah sama tahu, bahwa amaq sudah meninggal seratus hari yang lalu dan ini kewajiban kita membagi warisan. Untuk itu ada rapat keluarga ini. Kita juga tahu bersama bahwa harta benda: sawah dan halaman rumah ini harus di bagi. Kepada siapa? Ya tentu saja kepada kita bereempat: Ang, saya, Isne dan Nurme. Namun, sayangnya. Ang adalah anak tiri dari Bapak kami bertiga, meski kami satu ibu.” Lagi Tar meminta persetujuan dan semuanya terdiam.

“Sebagai saudara tiri, meski paling tua di antara kami. Tapi tindakannya melampaui batas dengan menggadaikan sertifikat sawah dan rumah untuk membayar hutang-hutangnya. Tanpa sepengetahuan saudara yang lain. Ini kejahatan!”. Tar berteriak di kalimat terakhir, semua makin terdiam terutama Ang.

“Harta orang tua kita memang di hasilkan oleh Inaq di luar negeri bertahun-tahun. Tapi ingat. Ini harta gono-gini dari pernikahan Inaq dengan Amaq kami. Bukan dari bapakmu, Ang! Bukan! Meski orang tua setuju kamu cairkan sertifikat hartanya, tapi kamu melupakan kami bertiga. Bukan kamu saja anaknya. Tindakan jahat ini melanggar hukum, terlebih hukum agama, Ang!” Tar membius keadaan dan membuat dirinya satu-satunya yang berbicara.

“Biar kita semua ingat. Bukan kamu saja yang butuh uang, dan berhutang. Aku juga sangat butuh dan harus mengambil warisan bagianku, untuk bayar hutang. Kujelaskan sekali lagi. Harta benda milik orang tua kita, dalam hal ini Inaq. Adalah harta yang beliau dapatkan setelah menikah dengan Amaq kami bertiga : Aku, Isne dan Nurme. Bukan harta yang dihasilkan dari pernikahan Inaq dengan Bapakmu, Ang. Inaq tidak membawa harta apa-apa selain seorang anak. Secara hukum, jatah warisku paling banyak, Isne dan Nurme sedikit karena perempuan.” Semua tetap senyap sebagai tanda pembenaran atas semua perkataan Tar.

“Kamu tau hewan apa yang terkuat?” Tanya Tar tiba-tiba ke istrinya.

Dengan mata basah, dan raut muka ketakutan Iwet menjawab ragu, “kumbang tahi.”

“Salah!” teriak Tar menggebrak meja, Iwet dan beberapa orang terkejut dan semakin menunduk.

“Tar… tardigrada. Itu hewan terkuat di bumi. Dia sanggup tidak makan-minum berbulan-bulan, itupun makannya cuma lumut! Lumut! Hebatnya dia bahkan sanggup hidup di luar angkasa.” Tegas Tar. Beberapa orang bertanya-tanya maksudnya. Kemampuan otak takkan mampu mencerna. Hanya hati dan ingatan yang sanggup memahami maksudnya.

Selama ini Tar merantau di kota besar, bekerja keras agar cekikan lapar bisa mereka tepis. Tar rela kelaparan, hanya makan sayur yang berjatuhan dan terbuang di pasar demi agar kedua orang tuanya, Ang dan kedua adiknya bisa hidup layak di kampung.

Perjalanan pahit itu berlangsung lama, Tar telah membantu keluarganya mengatasi kemiskinan. Setidaknya sebelum Inaq bekerja di luar negeri. Pada akhirnya hidup mereka sedikit lebih baik dan semua bisa menikah. Dengannya Tar mendapat tempat kehormatan, menjadi seseorang yang paling disegani dan perpengaruh dalam keluarga.

Jeda rapat keluarga. Di balik tembok, sembari memegang pundak Ang, Ustadz Saepul mencoba memberikan pandangan supaya Tar diberitahu saja. Sebab inilah waktu yang tepat bagi Tar. Bahwa tidak selayaknya ia menentukan warisan. Sebab anak hasil hubungan tanpa nikah, secara hukum agama tidak berhak menerima warisan sedikitpun.

Bima, Nisyfu Sya’ban 1447 H

_______

Penulis

Sucipte Jamuhur, kelahiran Lombok Tengah dan menetap di Kabupaten Bima sekitar tambak garam teluk Bima. Aktif di organisasi dan komunitas literasi dan konservasi lingkungan hidup disamping mengajar di salah satu SMP, ia juga berbisnis kedai kopi dan membangun entitas dan ruang kreativitas bersama pemuda-pemudi di kedai kopi tersebut.

 

Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Sunday, June 28, 2026

Esai Ma’rifat Bayhaki | Kepengrajinan dalam Novel "Yuki": Ketika Pesan Berusaha Mengalahkan Cerita

Esai Ma'rifat Bayhaki



Kemahiran berbahasa adalah satu dari sekian modal yang mesti dimiliki oleh pengarang. Kendati penting, justru ia kerap diabaikan. Banyak pengarang lebih terobsesi pada persoalan pesan yang ingin disampaikan, alih-alih memperhatikan konstruksi—bentuk cerita yang akan disajikan. Sebuah cerita tidak dikenang semata karena suaranya, melainkan bagaimana cara ia menyuarakannya. Saya tentu tidak ingin menyaksikan sebuah naskah yang penuh dengan pesan moral, tetapi kehilangan daya estetiknya bernasib tragis di tangan pembaca kritis.

Barangkali kepekaan semacam ini mesti dijadikan pijakan ketika membaca novel Yuki karya Sukron yang diterbitkan Penerbit #Komentar, Juni 2026. Pada halaman awal kita disodorkan dengan kegelisahan yang nyata. Narator ingin berbicara tentang manusia modern yang terjebak dalam rutinitas, ketakutan, dan keterbatasan. Dari hal itu ia menawarkan gagasan sederhana, manusia harus “naik kelas”. Tentunya frasa ini lebih dari perpindahan status sosial di permukaan, ia juga menyimpan pergulatan dan pendalaman batin yang berlapis—kokoh.

Namun, sayangnya sang narator dalam cerita Yuki tampak terjebak untuk memastikan gagasan “naik kelas” ini bersarang di benak pembaca. Hasrat tersebut demikian dominan sehingga hampir setiap bab lebih berfungsi sebagai medium penyampaian pesan daripada ruang berbagi cerita untuk tumbuh secara organik. Akibatnya, pembaca lebih sering dihadapkan pada penegasan ide dibandingkan dengam pengalaman estetik yang lahir dari perkembangan cerita.

Jumlah tokoh yang relatif sedikit sesungguhnya bisa diolah sedemikian rupa untuk membangun karakter yang utuh dan dinamis. Alih-alih melakukan itu, tokoh Yuki  lebih sering hadir sebagai corong gagasan pengarang daripada menjadi manusia fiksional yang hidup, memiliki kehendak, konflik, dan perkembangan psikologisnya sendiri. Yuki lebih sering tampil sebagai figur yang telah mengetahui jawaban atas persoalannya ketimbang menjadi manusia yang sedang berproses.

Hal itu juga berlaku pada tokoh lain dalam novel ini. Misalnya tokoh Pak Arif—mentor Yuki yang perannya sentral dalam cerita ini. Lagi-lagi narator berperan terlalu dominan sehingga tokoh Pak Arif menjadi terkesan ajaib. Ia bisa tiba-tiba hadir di momen penting hidup Yuki bahkan mampu mengetahui segala hal dan permasalahan yang dialami Yuki. Hal itu tampak jelas saat Pak Arif mengetahui jika Danu memberikan kunci berkarat kepada Yuki, bahkan dengan hafalnya ia menjabarkan manfaat dari kunci berkarat itu pada Yuki, kendati Pak Arif tidak benar-benar hadir dalam peristiwa itu. Pada persoalan ini sepertinya sang narator harus berhati-hati.

Pergulatan batin yang seharusnya menjadi jantung sebuah novel justru berlangsung singkat. Proses sebab akibat yang diharapkan cair, luwes, dinamis, dramatis, dan memukau menjadi terkesan ajaib. Pemaknaan setiap tokoh luput dari pandangan sang narator. Saya kehilangan jejak dalam usaha menggali sebab Yuki memaknai lorong tempat kerjanya mengerikan, pemaknaan kunci berkarat dari masing-masing tokoh, bahkan tokoh Pak Arif terkesan sangat bijaksana tanpa celah. Barangkali hal ini mesti dijelaskan, tidak digantung begitu saja.

Beralih pada persoalan alur. Novel Yuki bergerak dengan tempo yang terlampau tergesa-gesa. Perpindahan antar-ruang berlangsung begitu cepat sehingga setiap tempat kehilangan kesempatan untuk meninggalkan jejak dalam ingatan pembaca. Adegan demi adegan silih berganti, tetapi tidak memberi cukup waktu bagi suasana untuk mengendap ataupun bagi konflik untuk memperoleh bobot emosional. Alur akhirnya lebih menyerupai rangkaian perpindahan peristiwa daripada perjalanan batin yang tumbuh secara perlahan.

Barangkali, apabila diolah dengan kepengrajinan yang lebih tekun, ruang dalam Yuki tidak hanya berfungsi sebagai latar tempat peristiwa berlangsung. Ruang memiliki kemungkinan estetik yang jauh lebih luas. Ia dapat menjadi penanda zaman, penyimpan ingatan, bahkan menghadirkan gema batin para tokohnya. Dalam karya sastra yang matang, ruang tidak pernah benar-benar diam. Ia ikut mengarahkan suasana, membangun ketegangan, dan sesekali berbicara melalui kesunyian yang diciptakannya.

Kita dapat belajar dari cerpen Robohnya Surau Kami karya AA Navis. Ceritanya tidak semata-mata berkisah tentang sebuah surau, melainkan menjadikan surau sebagai pusat kesadaran cerita. Bangunan itu bukan lagi sekadar lokasi, tetapi sebuah simbol yang memanggul sejarah, keyakinan, kegelisahan, sekaligus ironi manusia. Surau memperoleh “suara” karena pengarang berhasil menanamkan pengalaman batin ke dalam ruang tersebut. Pembaca tidak hanya melihat sebuah bangunan, melainkan merasakan denyut kehidupan yang bersemayam di dalamnya.

Kemungkinan semacam itu sesungguhnya juga terbuka bagi Yuki. Sayangnya, ruang-ruang yang dihadirkan masih cenderung bersifat fungsional. Kantor, rumah, jalan, atau tempat-tempat yang disinggahi tokoh lebih sering menjadi wadah berlangsungnya peristiwa daripada turut membentuk kesadaran tokoh dan menghidupkan atmosfer cerita. Padahal, apabila ruang diberi kedalaman simbolik dan psikologis, ia akan menjadi unsur naratif yang bekerja secara diam-diam, memperkaya makna tanpa perlu dijelaskan secara panjang lebar oleh narator. Di situlah sastra menunjukkan kekuatannya, bukan melalui banyaknya penjelasan, melainkan melalui kemampuan membuat benda-benda yang bisu menjadi fasih berbicara.

Pada bagian lain narator memilih mendeskripsikan tindakan-tindakan Yuki alih-alih membiarkan pembaca menyaksikan tindakan itu berlangsung di hadapan mereka. Kecenderungan ini muncul berulang kali dalam beberapa bab sehingga perlahan mengikis daya hidup cerita. Alih-alih menghadirkan pengalaman, narator justru menyajikan kesimpulan. Pembaca diberi tahu apa yang dirasakan, dipikirkan, dan dilakukan Yuki, tetapi jarang diberi kesempatan untuk menemukan semua itu melalui peristiwa yang berkembang secara organik.

Bagi saya, pilihan semacam ini merupakan salah satu kelemahan paling mendasar dalam novel ini. Sebab, hakikat fiksi bukanlah menyampaikan gagasan secara langsung, melainkan membiarkan gagasan itu lahir dari benturan antartokoh, dari gestur yang sederhana, dari dialog yang ritmis, bahkan dari kesunyian yang sengaja dibiarkan bekerja. Seperti yang dikatakan Ernest Hemingway mengenai show don't tell. Seorang pengarang tidak dituntut menjelaskan segala sesuatu kepada pembaca, melainkan menghadirkan dunia yang memungkinkan pembaca sampai pada kesimpulannya sendiri.

Sastra kehilangan daya estetiknya ketika terlalu bernafsu menjelaskan. Setiap penjelasan yang berlebihan sesungguhnya adalah bentuk ketidakpercayaan pengarang terhadap kekuatan cerita yang sedang dibangunnya. Padahal, cerita yang baik selalu memiliki keberanian untuk menyembunyikan sebagian maknanya, sebab sastra tidak bekerja dengan cara menggurui, melainkan dengan cara menggerakkan pengalaman batin pembacanya. Ia tidak berkhotbah dari atas mimbar, tetapi mengajak pembaca berjalan perlahan memasuki ruang-ruang makna yang sengaja tidak seluruhnya diterangi. Justru dalam ruang yang remang-remang itulah sastra menemukan daya pikatnya.

Kausalitas yang berupaya dibangun narator belum sepenuhnya memperoleh kedalaman dramatik. Penjelajahan Yuki terhadap krisis eksistensialnya berlangsung terlalu tergesa-gesa sehingga perkembangan psikologis tokoh terasa lebih sebagai pernyataan daripada pengalaman. Pembaca diberi tahu bahwa Yuki hidup dalam ketakutan dan merasa tidak bahagia, tetapi cerita tidak menyediakan rangkaian peristiwa yang cukup untuk membenarkan perasaan tersebut.

Sepanjang novel, Yuki justru tampil sebagai pribadi yang relatif utuh. Ia mampu menjalankan pekerjaannya dengan baik, berani mengemukakan pendapat di hadapan kolega, bahkan beberapa kali menjadi sosok yang menawarkan solusi bagi orang lain. Kegagalan yang dialaminya pun tidak pernah benar-benar menjelma menjadi titik balik yang mengguncang kesadarannya. Setiap hambatan segera dilewati tanpa meninggalkan bekas psikologis yang berarti. Akibatnya, jarak antara apa yang dikatakan narator mengenai Yuki dan apa yang benar-benar diperlihatkan cerita menjadi semakin lebar.

Pada akhirnya, persoalan Yuki terasa lebih banyak hidup di dalam bahasa narator daripada di dalam dunia yang sedang dibangun novel ini. Kecemasan itu disebutkan berulang kali, tetapi jarang memperoleh bentuk konkret melalui tindakan, konflik, atau pengalaman traumatik yang mampu mengendap dalam ingatan pembaca. Padahal, luka batin dalam sastra tidak selalu harus hadir sebagai tragedi besar. Rutinitas yang berulang, ruang kerja yang menyesakkan, relasi sosial yang dingin, atau kegagalan-kegagalan kecil yang terus menumpuk pun dapat berubah menjadi teror eksistensial apabila diolah dengan kesabaran estetik.

Di sinilah kelemahan paling mencolok novel Yuki. Rutinitas yang semestinya menjadi sumber kecemasan manusia modern tidak pernah benar-benar menjelma sebagai ancaman yang menghimpit kehidupan Yuki. Ia hanya hadir sebagai gagasan yang diucapkan narator, bukan sebagai pengalaman yang dialami pembaca. Ketika rasa takut lebih banyak dikatakan daripada dihadirkan, konflik kehilangan bobot dramatiknya, dan perjalanan eksistensial Yuki pun berakhir sebagai konsep yang menarik, tetapi belum sepenuhnya meyakinkan secara artistik.

Kendati demikian, Yuki tetap layak diapresiasi sebagai karya perdana yang berhasil diselesaikan oleh Sukron. Bukankah, naskah yang baik adalah naskah yang selesai ditulis? Penyelesaian sebuah karya bukanlah akhir dari proses kreatif, melainkan awal bagi pengarang untuk mengasah kepengrajinan estetiknya. Pada percobaan berikutnya, tentu kelonggaran semacam ini tidak berlaku.

Salah satu hal yang paling menarik dari novel ini ialah keberanian Sukron sebagai pengarang bereksperimen dengan bahasa yang puitis, liris, dan berirama. Kalimat seperti, “Rambut hitamnya bergelombang, menebar bayang-bayang gelap di atas bahu, sementara mata cokelatnya menahan kilau api kecil yang tak pernah padam,” memperlihatkan ikhtiar pengarang menghadirkan keindahan melalui pilihan kata yang imajinatif. Cara bertutur semacam ini menjadi strategi yang efektif untuk membangun suasana sekaligus memperhalus pengalaman emosional pembaca sehingga narasi tidak sekadar menyampaikan peristiwa, melainkan juga menghadirkan rasa

Namun, bahasa puitis selalu menuntut kedisiplinan estetik. Keindahan tidak lahir semata-mata dari limpahan metafora atau rangkaian kata-kata yang indah, melainkan dari ketepatan memilih diksi dan kecermatan menempatkannya dalam konteks. Demikian pula dengan penggunaan tanda baca yang bukan sekadar perangkat gramatikal yang mengatur jeda. Ia merupakan bagian dari estetika yang membentuk ritme, mengatur tempo, memberi tekanan, bahkan mengarahkan emosi pembaca. Perpaduan antara diksi yang cermat akan melahirkan kalimat yang tidak hanya enak dibaca, tetapi juga memiliki daya pukau yang bertahan lebih lama dalam ingatan.

Pada beberapa bagian, Yuki berhasil memperlihatkan potensi tersebut. Meskipun belum sepenuhnya konsisten, tampak bahwa Sukron memiliki kepekaan terhadap musikalitas bahasa dan keberanian untuk tidak sekadar bercerita, melainkan juga menciptakan pengalaman membaca yang estetis. Potensi inilah yang, apabila terus diasah melalui pembacaan yang luas dan latihan menulis yang tekun, dapat menjadi kekuatan utama pengarang pada karya-karya berikutnya. Tabik.

Tanara, 28 Juni 2026

 _______

Penulis

Ma'rifat Bayhaki, redaktur pelaksana NGEWIYAK.

 

Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com