Kamis, 09 September 2021

Esai Arip Senjaya | Atas Nama Condro

 


Saya tidak tahu bagaimana cara menuliskan condro ini, apakah ditulis candra dan dibaca condro atau memang ia ditulis condro saja. Yang penting di sini bukan cara menulisnya, tapi bagaimana saya memahami kata tersebut.


Ketika saya S-2 di UGM, teman saya bernama Marjaka menyebut saya memang pantas masuk Fakultas Filsafat, karena sudah ada condronya. Nama saya Arip, menurut dia dari arif, dari bijaksana, dari wisdom, dan itu adalah ciri bahwa saya orang filsafat karena filsafat mengajarkan kebijaksanaan. Dia sendiri mengatakan bahwa memang sudah merupakan condro pula dia masuk filsafat karena namanya adalah Marjaka, S.E. (Sarjana Ekonomi) yang jika ditulis dengan cara lama, gelar ditulis sebelum nama, maka akan terbaca sebagai Semarjaka (S.E., Marjaka). Semar itu sendiri adalah representasi dari kearifan Jawa dan karena itu tesisnya berjudul Ontologi Semar.


Atas nama condro, teman saya itu merasa mesti meninggalkan bidang S-1 yang S.E. (Sarjana Ekonomi) dan bahkan S.T. (Sarjana Teknik) dan banting setir ke arah ontologi.Rupanya sejak S-1 dia sudah memiliki gejala kebingungan, kuliah di dua bidang berlainan. Saya sendiri mengambil judul Ontologi Bahasa dan bukan karena bahasa itu mengandung nama saya tetapi karena panggilan linieritas karier karena saya mengajar di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Untirta. Itu pun mungkin sejenis condro, atau tidak pantas disebut condro sama sekali!


Yang benar-benar bisa disebut condro mungkin seperti minat saya pada Filsafat Ilmu. Dosen kami, Pak Zainal Abidin Bagir, mengingatkan saya pada berbagai pelajaran saat saya SMA. Saya belajar di kelas Biologi dan mengenal sains saat itu, khususnya biologi dan fisika. Maka, sudah menjadi condro saya masuk Biologi saat SMA karena kelak saya akan bertemu Pak Bagir. Jadi, condro tidak berkaitan dengan linieritas di masa depan seperti karier saya sebagai dosen pendidikan bahasa dan sastra, tapi dengan masa lalu yang pernah saya kerjakan. Lagi pula kalau benar-benar cari linieritas mestinya saya kuliah S-2 di bidang pendidikan bahasa dan sastra lagi seperti yang diselenggarakan oleh UPI, UNJ, UNY, dan lain sebagainya.


Beberapa hari yang lalu saya mendapat kiriman poster kegiatan dari seorang penyair pencinta Imam Khomaeni, sebuah jadwal peluncuran buku karangan Habib Ali Al-Jufri Kemanusiaan Sebelum Keberagamaan dan ternyata pembicara utamanya adalah Pak Haidar Bagir yang adalah kakaknya Pak Zainal. Lagi-lagi saya bertemu si condro demi menyadari pentingnya masa lalu sebagai penentu kemudian sebab wajah Pak Haidar mengingatkan saya pada cemerlangnya wajah Pak Zainal. Mungkin juga Pak Zainal itu meminati filsafat ilmu karena condro dari kakaknya yang mencintai teknologi (alumnus ITB 1982 sebelum ke Harvard University tahun 1990). Tapi saya tak pernah melihat ketertarikan Pak Zainal sepanjang kuliah Filsafat Ilmu pada isu-isu agama seperti sang kakak (mungkin karena integritas beliau terhadap materi kuliah, sehingga menjaga diri dari intermezzo atau belokan-belokan yang terlalu jauh dari tema diskusi).


Nah, suatu hari saya membeli buku Jaring-Jaring Kehidupan Pritjof Capra, dan saya yakin kini saya membelinya karena di bawah sadar saya pernah tertanam gambar jaring-jaring kehidupan dalam pelajaran-pelajaran Biologi, sehingga saya percaya bahwa buku tersebut pasti akan menggunakan kata ‘alam’, ‘hewan’, ‘tumbuhan’, ‘manusia’, ‘organisme’ dan berbagai kata selingkung ‘jaring-jaring’ lainnya. Membeli buku pun rupanya dorongan condro. Ketika saya pertama kali membacanya, saat itulah saya pertama kali membaca diskusi krusial tentang ekologi pada bab-bab awal. Dan saya setuju bumi sudah rusak. Tapi karena saya tidak pernah punya latar belakang belajar ekologi, maka tema ini tidak menantang saya untuk memikirkannya lebih jauh hingga buku Capra itu terbengkalai. Seharusnya waktu SMA, ilmu biologi yang diajarkan kepada kami itu mengangkat tema-tema ekologis, bukan?


Tapi, ketika suatu hari saya masuk S-3 di Unpad dan belajar dengan Prof. Aquarini, berkali-kalilah saya mendengar kata ekofeminisme dari profesor bidang kajian gender tersebut yang membuat saya membuka lagi buku Capra yang sisi-sisinya mulai menghitam karena saya biarkan terbengkalai di rak dan ditekuni debu-debu belaka. Barulah saya sadar bahwa condro itu membimbing saya ke masa lalu sekaligus membantu saya memahami hari ini, dan hari ini akan menyiapkan condro buat masa depan. Ingin rasanya saya bertemu Marjaka dan memeluknya untuk mengucapkan terima kasih, bahwa ia pun merupakan condro saya untuk memahami condro itu sendiri pada jarak waktu yang begini jauh (kami kuliah tahun 2008—masya Allah, belasan tahun sudah saya belajar filsafat condro!).


Andai saja hari ini saya banyak menanam kebaikan, meski saya tidak benar-benar paham untuk apa, seperti membeli buku dan membacanya meski tidak segera mengerti, belajar bahasa Arab (meskipun di kelas online), membeli majalah Tempo edisi cetak dari mamang koran yang makin kesepian pembeli, menghafal ayat-ayat pilihan Al-Qur'an untuk kebutuhan jadi imam di musala perumahan, menghafal hadis-hadis pendek untuk kultuman, membaca berbagai kitab terjemahan demi meningkatkan diri dalam takwa, belajar kajian gender atas nama disertasi, dan bermacam hal lainnya, dengan belajar pada condro ini saya percaya semua akan menjadi kebaikan di masa depan. Jadi, masa depan itu merupakan sebuah perwujudan dari aneka masa lalu dari lain-lain waktu dan jarak, yang terjalin sebagai kesadaran terhadap segala yang pernah saya lewati. Jika berbagai benih kebaikan tak semuanya tumbuh di kebun masa depan, mungkin ada condro yang disebabkan benih kebusukan: saya malas di masa lalu, saya banyak iseng di masa lalu, saya tak serius di masa lalu, saya menabung maksiat alih-alih amal saleh. Hidup di Bumi merupakan condro untuk Akhirat. Surga atau Neraka kita siapkan sejak di Bumi. Orang beriman mesti membaca masa depan paling depan.


Saya ingat waktu S-2 itu, hampir setiap hari Marjaka menawarkan saya bepergian agar saya tahu Yogyakarta. Kini saya menyesal, saya tak pernah mau diajak ke mana pun kecuali dua tempat, Pantai Parangkusumo dan Makam Raja-raja Imogiri, sehingga ketika suatu hari saya dipercaya teman-teman dosen di Untirta untuk memandu mereka berwisata di Yogyakarta saya angkat tangan karena sumpah saya tidak sangat paham tempat-tempat penting dan menarik di Yogyakarta. Kemalasan berbuah ketidaktahuan, ketidaktahuan berbuah olok-olok. “Buat apa kuliah di UGM kalau tidak tahu Yogyakarta!” Nasi sudah menjadi bubur…. Di Bumi sudah kita diajari kalimat penting ini agar sadar di Akhirat nanti kita tak bisa kembali jadi sebutir nasi jika sudah dibikin bubur oleh api Neraka.


Bersamaan dengan ingatan pada kemalasan saya pergi ke mana-mana sepanjang di Yogyakarta, saya ingat betapa rajinnya saya keluar-masuk Perpustakaan Filsafat dan FIB, sampai-sampai rasanya dua perpustakaan itu seperti perpustakaan saya sendiri sehingga saya hafal tata letak buku dan aroma keduanya. Di kedua perpustakaan ini saya pernah menyiapkan segala kebaikan yang tidak semua saya petik buahnya sekarang. Saya percaya, benih itu akan tumbuh tapi buah yang manis tidak akan sebanyak daun kerajinan saya pada saat yang bersamaan. Buah itu akan selalu tiba pada saatnya, sedikit-sedikit, berpindah-pindah ranting dan cabang, dan esai ini adalah salah satu buah yang saya maksud.


Dan mungkin teori condro itu dapat dipahami tidak secara sistematik, tapi holistik dalam arti segala yang dirasa sebagai manisnya kesadaran tidak diawali melalui tahapan, tapi melalui keterjaringan keseluruhan, bahwa buah yang matang bukan datang sebagai tahapan dari benih-ke-buah, tapi dari suatu proses bersamaan dan keseluruhan. Buah adalah kenyataan benih, daun, pohon, ranting, akar, juga tanah yang dipijaknya; hal yang sama berlaku pada daun sebagai kenyataan akar, dahan, dan lain-lain yang hadir bersamanya. Karenanya, condro itu tentang masa lalu, tapi ia adalah masa lalu yang baru bermakna di saat terasa manisnya hidup. Dan ini membuktikan bahwa kepahitan lebih banyak saya rasakan.


Bukan pahit sebagai pribadi, tapi pahit sebagai warga negara yang belum bisa berbuat apa pun untuk mencegah korupsi, plagiarisme, pelecehan seksual, juga kedunguan yang bertakhta di singgasana-singgasana kekuasaan; juga pahit sebagai umat beragama yang selalu merasa disalahkan mereka yang menganggap diri lebih saleh; pahit sebagai pegawai pemerintah yang harus netral sebagaimana UU No 5 2014 tentang ASN menekankan hal itu; dan aneka kepahitan lain yang kadang-kadang membuat saya lupa bakat saya sendiri: mengarang. Ketika saya kembali mengarang esai macam sekarang, saya tahu saya sedang tersenyum manis. Cogito ergo senyum, atau tersenyum ergo sum mungkin benih pikiran saya untuk menghibur diri dari kangennya membicarakan cogito ergo sum Descartes lagi bersama teman-teman sejalan dan secondro. Karena pada filsafat dan pemikiran dalam arti luas, hal-hal negatif yang jadi konsekuensinya masih bisa dicegah oleh budi dan nalar. Korupsi, plagiarisme, kesalehan yang menyombongkan diri, adalah jenis-jenis yang selalu merupakan wujud dari keterlambatan mencegah itu.


Atas nama condro, saya mengira ilmu itu baik, tapi yang lebih baik adalah punya ilmu tentang ilmu macam Filsfat Ilmu. Dan yang lebih baik dari keduanya adalah punya budi dengan Yang Mahailmu.




Penulis
Arip Senjaya, dosen Filsafat Ilmu di Untirta.