Senin, 13 September 2021

Karya Siswa | Ujian dari Semesta | Cerpen Arini Sahira Ginanjar

 Cerpen Arini Sahira Ginanjar



“Dia pembunuhnya!” seruku sembari menunjuk wajah Ibu. 


“Maksud kamu apa, Nak?” tanya Ibu terheran.


“Ibu kan yang bunuh Ayah?” tanyaku lagi.


“Tidak, Nak. Ibu tidak melakukannya!” 


“Jangan berbohong! Jelas-jelas Ibu yang memegang pisau dan berlumuran darah Ayah!” ujarku memotong penjelasan Ibu. 


***


Hari itu adalah pertama kali aku menjadi detektif. Sekarang aku sudah menyelesaikan lebih dari seratus misteri. Ya, aku seorang detektif perempuan. Namaku Fazalea Senandikala. Orang-orang sering menyebutku “Alea”. Aku tinggal bersama suamiku. Dia juga seorang yang ahli di bidang kriminal. Dia dokter ahli forensik.


Langit kembali menurunkan hujan. Rasa rindu langit terhadap bumi sudah tak tertahan lagi. Rintik hujan itu menyadariku tentang kejadian empat belas tahun yang lalu. 


“Nak angkat jemurannya! Di luar sedang hujan,” suruh Ibu. 


“Bu aku pergi dulu ya. Dadah Ibu ...,” sahutku sambil berlari di tengah rintik hujan yang membasahi bumi. 


“Awas ada motor!”


“Dek, awas..!”


“Minggir, Dek...!”


“Pak, tolong anak itu!”


Kakiku keram seketika. Aku tidak bisa berlari dan menghindar dari kecelakaan akibat motor yang menabrakku. 


Ibuku sangat cemas karena melihatku berbaring lemah di atas kasur rumah sakit dengan tangan yang masih terinfus. 


“Oh, iya Nak. Annin sama Sheren jenguk kamu tuh,” ujar Ibu. 


Dari balik pintu terlihat kain baju berwarna biru muda dan sepatu putih. Aku ingat itu baju favorit temanku, Annin. Suara Annin dan Sheren makin lama makin terdengar dengan jelas. 


“Hai, Le, gimana, udah enakan? Eh, aku masih gak ngerti kenapa kamu bisa ketabrak motor. Cerita dong, cerita ...!” ujar Sheren.


Aku sudah terbiasa dengan sikap-Nya yang selalu cemas jika teman-Nya mempunyai masalah. Waktu menunjukan pukul tujuh malam. Tak terasa aku sudah bercerita satu jam setengah bersama mereka. Ya, aku nyaman bercerita bersama mereka. Mereka selalu membantu dan mendukungku di kala aku sedih maupun senang.


Aku juga curhat tentang masalah yang aku punya beberapa minggu lalu, dan aku sudah lelah dengan masalah yang tak kunjung berhenti. Aku ingin menyerah. Tetapi mereka melarangku. Mereka berkata, “Kalo lagi ngerasa putus asa, istirahat dulu sebentar. Nanti bangkit lagi. Jangan nyerah dulu. Tuhan lagi nguji kamu untuk tetap bertahan. Kalo kamu kuat, pasti Tuhan bakal ngasih kebahagiaan yang enggak pernah kamu bayangin sebelumnya. Kalo kamu nyerah masalahnya enggak bakal selesai. Coba kamu jalanin hari-hari dengan hal-hal positif, pasti masalahnya bakal cepet selesai kok. Sambil intropeksi diri juga, biar lebih baik ke depannya. Allah ngasih masalah pasti ada jalan keluarnya. Allah juga percaya sama kamu, percaya bahwa kamu bisa lewatin masalahnya. Soalnya Allah tahu kamu kuat, Kamu hebat. Jadi jangan disia-siakan kepercayaan itu. Enggak semua masalah bisa selesai sekarang, masih ada besok, dan hari-hari lain. Tapi percaya deh kalo kamu ngejalanin masalahnya, dengan penuh hati dan tulus. Pasti masalahnya cepat selesai dan berlalu. Jadi jangan nyerah ya? Masih banyak soalnya yang sayang sama kamu,” ucap Sheren menanggapi keluh kesahku.


“Gini deh, siapa sih yang mau hidupnya sedih terus? Kita pasti pernah ngalamin sedih. Semua orang pasti pernah ngalamin rasa sedih, ingin menyerah, dan yang paling pasti, bahagia. Jangan sedih terus. Larut dalam kesedihan juga enggak baik. Jangan terlalu dipikirin. Itu malah bikin kamu sedih terus. Kamu tahu enggak sih? Aku benar-benar kagum sama kamu yang kuat bertahan sampai sini, aku harap kamu enggak bakal berhenti di tengah-tengah ya! Kamu juga masih punya kita, yang selalu ada buat kamu. Kita enggak bakal ke mana-mana, masih nemenin kamu juga. Siapa sih yang enggak mau temenan sama anak yang hebat dan kuat kayak kamu? Kamu juga banyak yang dukung kok. Kamu masih punya ibu yang selalu nemenin kamu, dan ajarin kamu kalo kamu enggak bisa. Ibu kamu juga selalu kasih semangat ke kamu kan? Kamu juga masih punya Ayah yang selalu hibur kamu kalo kamu sedih. Selalu dukung kamu. Selalu lakuin apa pun buat kamu. Kamu juga punya kakak yang selalu kasih kamu hadiah, selalu hibur kamu. Enggak semua orang punya kebahagiaan itu kan? Jadi, ayo mulai sekarang harus bisa bersyukur dan selalu kasih yang terbaik buat mereka dan diri kamu sendiri," jelas Annin menanggapi.


“Le, kami pulang dulu ya!” 


Lamunanku tersadar oleh suara halus yang diucapkan oleh Annin. Banyak sekali hal yang harus aku syukuri di dunia ini. Keluarga, teman, dan diriku sendiri. Aku, Annin, dan Sheren ingin melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia. Aku sangat senang dan bersyukur mempunyai teman seperti mereka. Mereka selalu mendukungku di saat aku susah maupun senang.


Itu percakapan pada masa sila. Kini usiaku enam belas tahun. Rencananya besok aku akan berkunjung ke tempat tinggal Annin dan Sheren. Aku sudah rindu sekali dengan mereka. Sekarang aku mau membeli beberapa bingkisan untuk mereka. 


Bruk! Kunci mobilku jatuh. Aku mengambilnya. Aku melihat buku berwarna abu-abu yang sudah berdebu di bawah meja. Buku itu bertulisan “open me”. Aku pun mengambilnya.


Lembar demi lembar aku buka. Lembar pertama berisi perkenalan. 


Hai! Namaku Sarah. Umurku delapan tahun. Aku tinggal bersama ayah kandung dan ibu tiriku. Ibu tiriku sangat kejam kepadaku. Beliau sering memerintahku untuk mencuci pakaian, membelikannya makanan dengan uang jajanku. Tetapi aku harus tetap berysukur karena enggak semua orang punya keluarga kayak aku. Aku senang menulis dan membaca. Eh, aku disuruh untuk membeli burger tanpa saus untuk Ibu tiriku. Dadah! Segitu dulu ya dariku. 


– Sarah, 12 Juli 1990

 

Aku sangat terkejut setelah membaca cerita Sarah. “Apakah dia pernah tinggal di sini?" "Apakah rumah dia dekat sini?" "Apa dia masih hidup? Atau dia sudah meninggal?" Berbagai pertanyaan muncul di otakku. Aku meninggalkan buku abu di sebelah tempat tidurku untuk membeli bingkisan. Di toko bingkisan aku melihat ada baju berwarna biru muda. Aku ingat itu pemberian dari Annin untukku. Tetapi saat aku pindah rumah, baju itu hilang. Dan aku lupa, di mana aku menyimpannya.


Terik matahari memasuki jendelaku. Terik itu menyinari mukaku. Aku membuka karena bunyi alarm. Entah kenapa aku malas bangun, padahal bunyi alarm itu sangat keras. Aku bergegas untuk kembali menjalankan profesiku bersama suamiku. Musim hujan masih tak kunjung hilang. Rintik demi rintik berjatuhan membasahi tempat tinggal manusia, bumi. 


Perutku terasa lapar. Aku dan suami makan di Restoran Padang. Restoran Padang ini dekat dengan kantorku. Mungkin membutuhkan lima ratus meter lagi untuk sampai di kantorku. 


"Mas rendangnya satu porsi lagi ya," ucapku. 


Suamiku kebingungan karena aku telah menghabiskan dua piring nasi dan dua porsi rendang. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa selapar ini, padahal aku telah memakan bubur tadi pagi. 


Jam menunjukan pukul dua belas petang. Itu menunjukan bahwa aku harus pulang. Oh, iya aku punya janji untuk bertemu dengan Annin dan sheren. Mobilku melaju ke arah Bandung untuk menemui Sheren. Satu jam setengah perjalananku. Akhirnya aku sampai di rumah Sheren. 


"Bagaimana kabarmu?" tanya Sheren, "Gimana, Le? Benar kan kataku? Kamu bisa. Orang aku yakin kok, kamu anak yang hebat, kuat lagi. Nanti kalo ada apa-apa kasih tahu aku ya. Aku siap kok dengerin curhatan kamu," tambahnya lagi. 


Kami berbincang kurang lebih dua jam setengah. 


"Oh, iya Le, Annin lagi pergi ke Jogjakarta. Kemarin aku lihat dari instagramnya," ujar Sheren ketika aku ingin keluar dari rumahnya. Yah, sayang sekali. Padahal aku ingin sekali bertemu dengan Annin. Ya sudahlah tidak apa-apa, masih ada besok.


Pulang dari rumah Sheren, aku melanjuti untuk membaca buku abu-abu milik Sarah. Lembar kedua berisi,


Aku senang, aku bahagia memiliki ibu seperti ibu tiriku. Dia tadi tidak menyuruhku untuk menyuci pakaiannya. Aku harus bersyukur. Sebab, aku dianugerahi oleh Allah kebahagiaan yang belum tentu aku miliki. Tetapi aku rindu Ayah. Ayah pergi ke luar kota kemarin malam.

 --Sarah, 13 Juli 1990 


Setelah membaca lembar kedua dari buku abu milik sarah, aku sadar bahwa semua orang punya kebahagiannya masing-masing. 


Lembar ketiga segera aku buka. 


Loh, aku terheran. Sudah tidak ada lagi tulisan di sana. Aku membuka lembaran demi lembaran untuk mencari tulisan Sarah. Ternyata ada di lembar 43.


Aku capek. Aku capek disuruh-suruh dan di caci-maki oleh ibu tiriku. Aku ingin sekali hidup seperti dulu, bersama inu kandung dan ayah kandungku. Aku sakit, Aku Demam. Tetapi ibu tiriku tidak merawatku sama sekali. Ayah sedang keluar kota. Aku sedih. Sahabatku meninggalkanku saat ayahku diberhentikan dari pekerjaannya. Yang aku punya sekarang cuman ayahku dan Allah yang selalu mendengarkan keluh kesahku.  

--Sarah, 29 Juli 1990


Aku membaca lembaran berikutnya. 


Aku sudah capek dengan semua ini. Uang jajanku habis. Ibu tiriku mengambil uang jajanku. Aku sangat sedih. Sangat sedih. Tetapi aku teringat kata-kata ibuku dulu, "Sarah, kamu jangan sedih-sedih terus. Ibu selalu ada buat kamu. Jangan pernah merasa sendiri. Karena Allah dan Ibu selalu ada di sini. Ibu yakin, kamu bakal sukses". Aku sangat rindu kepada Ibu. Ia sangat sayang kepadaku. 


--Sarah 14 Juli 1990


Tak terasa air mataku terjatuh saat membaca tulisan milik Sarah.  Aku lupa dengan semua karunia yang telah Allah beri kepadaku. Aku lupa untuk bersyukur atas nikmat Allah yang Allah kasih kepadaku dan hamba-hamba-Nya yang lain.


Lembar selanjutnya, terdapat foto Sarah dan seorang wanita. Aku tidak tahu pasti itu siapa. Tetapi hatiku berkata, itu foto Sarah dengan ibu kandungnya. Wajah Sarah sangat cantik, berkulit putih, tinggi, dan berhidung mancung. Wanita satunya yang kusangka ibu kandung Sarah, bermuka seperti Sarah, tapi bedanya alis wanita itu tebal, dan Sarah tidak. Di situ mereka tampak bahagia dengan memakai sepatu yang sama, sepatu putih. 


Lembar selanjutnya berisi, 


Aku sudah tidak kuat lagi. Kemarin aku pergi ke rumah sakit tanpa sepengetahuan ibu tiriku. Ternyata aku masih mempunyai uang tabungan yang aku simpan di gudang beberapa tahun lalu. Kata dokter, aku terkena penyakit demam tifoid. Aku tidak bisa membeli obat-obatan untuk sembuh. Aku hanya bisa berdoa agar aku lekas sembuh. Mudah-mudahan ibu tiriku tidak menyuruhku menyuci baju dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Agar aku bisa beristirahat dan lekas sembuh. 


--Sarah, 21 Juli 1990


Aku tidak berani untuk membuka lembar selanjutnya. Aku takut. Aku cemas. Dan aku memutuskan untuk melanjutkan membaca besok.


Hari ini aku bangun pagi. Jam biru itu menunjukan pukul lima pagi. Aku segera salat dan mandi untuk beraktivitas seperti biasa. Kata asistenku hari ini ada kasus pembunuhan di sekitar taman. Dan aku akan ke TKP pagi ini. Mudah-mudahan kasusnya cepat selesai. 


Sampailah aku di tempat TKP. Ternyata umur korban sangat muda. Korban berusia delapan tahun dengan bekas pukulan di sekitar pinggul dan leher. Diketahui nama korban adalah Vina Viveelea, anak kecil yang tinggal bersama ibunya. Masih diselidiki siapa ibunya. 


Enam jam berlalu.


"Le, nama ibunya, Bu Sarah. Ini nomor yang bisa di hubungi.” 


Pikiranku langsung tertuju kepada Sarah yang mempunyai buku abu-abu itu. Asistenku menghubungi ibu dari Vina, Sarah. Sarah Sedang menuju rumah sakit karena sebentar lagi mayat anaknya akan dimakamkan.


Setelah pemakaman selesai, Bu Sarah menghampiriku.


“Terima kasih,” ujar Bu Sarah.


Seiring bayangan Bu Sarah menjauh, aku menjawab, “Sama-Sama”. 


Setelah pemakaman selesai. Aku dan anak buahku membawa barang bukti dari tempat TKP. Berupa kalung berwarna putih bersih dan sepatu dengan percikan lumpur. Aku akan menyelidiki siapa yang membunuh anak kecil itu. 


Di perjalanan pulang aku memikirkan banyak hal, apakah Bu Sarah adalah anak delapan tahun yang menulis di buku abu-abu itu? Setelah sampai rumah, aku bergegas untuk membaca buku itu lagi. Lembar selanjutnya berisi,


Aku sangat sedih, kemarin ayahku mengabariku. Katanya ia akan pulang lima tahun lagi. Aku harus bersabar. Aku juga senang. Badanku sudah mendingan hari ini. Dan ibu tiriku kemarin membelikanku obat-obatan. Sepertinya aku sudah sembuh.  


--Sarah,  01 Agustus 1990


Aku sudah tidak cemas. Karena sarah sudah sembuh. Tetapi aku masih penasaran. Apakah Ibu dari almarhumah Vina adalah Sarah yang menulis buku ini?


Aku pun membaca lembar berikutnya. 


Aku sedih. Ternyata selama ini ibu tiriku mempunyai penyakit yang bisa berakibat fatal. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku pun menghubungi Ayah. Dan pagi tadi teman Ayah datang ke rumah untuk mengirim uang yang Ayah kasih untukku dan ibu tiriku. Mudah-mudahan ibu tiriku lekas sembuh. 


--Sarah, 3 Agustus 1990


Aku mempunyai firasat buruk, tapi aku harus tetap berpikir jernih.


Lembar berikutnya aku baca. 


Dua orang yang aku sayang telah meningalkanku. Yang pertama adalah ibu kandungku. Yang kedua adalah ibu tiriku. Ibu tiriku meninggal dunia tiga hari yang lalu. Sekarang aku ada di rumah Ayah. Tetapi aku senang. Akhirnya, aku bertemu dengan Ayah. Aku sangat rindu dengannya. 


--Sarah, 10 Agustus 1990 


Aku terkejut. Ternyata firasatku benar. Waktu menunjukan pukul tujuh malam. Aku harus segera pergi karena aku memiliki acara dengan suamiku.


Pagi yang cerah. Aku akan mengunjungi Bu sarah untuk berbincang dengannya. Tak lupa aku membawa buku abu-abu itu. Di perjalanan aku membuka lembaran selanjutnya. 


"Hah? Kok?"


Aku terkejut. Sudah tidak ada tulisan dari Sarah. 


"Bu sudah sampai," ujar supirku, menyelamatkanku dari berbagai pertanyaan tentang Sarah pemilik buku abu-abu itu. 


Aku memulai pertanyaan pertama, apakah akhir-akhir ini ibu atau Vina ada masalah dengan seseorang? Tentu ada. Waktu aku berumur delapan tahun. Ibu tiriku mempunyai penyakit yang membutuhkan biaya sangat mahal. Aku tidak tahu harus apa. Akhirnya Ayah kandungku memberikan uang melalui temannya karena pada saat itu beliau sedang di luar kota. Sudah tujuh hari proses pengobatan ibu tiriku. Tapi,  Allah berkata lain. Ibu tiriku meninggal. 


Ibu kandungku meninggal saat aku berumur lima tahun. Setelah itu aku tinggal di kota ini bersama ayah kandungku. Saat umurku sepuluh tahun, Ayah meninggal. Dan aku terpaksa harus membayar utang-utang Ayahku dan menafkahi hidupku sendiri.  


Untung saja rumah ini menjadi milikku. Pada saat itu aku juga baru tahu bahwa Ayah meminjam uang untuk pengobatan ibu tiriku. Uang itu sangat besar jumlahnya. Sekitar Rp900.000.000,00. Sampai sekarang uutang itu belum terbayar. 


Kemarin aku diancam, "Jika tidak bayar, aku akan membunuh anakmu," ujarnya.


Aku terkejut. Sepertinya dugaanku benar bahwa yang menulis buku abu-abu itu adalah Sarah, ibu dari almarhumah Vina. 


Dua hari berlalu. Setelah para tersangka di Wawancara. Ternyata orang yang membunuh anak Ibu Sarah adalah orang yang menagih utang kepada Ibu Sarah. Aku kasihan dengannya. Akhirnya aku melunasi utang-utang itu. 


Setelah kasus ini selesai. Ibu sarah menghampiriku. Ia berterima kasih kepadaku karena telah membayar utang almarhum. Aku berbincang dengan Ibu Sarah. Aku menanyakan tentang buku abu-abu itu.


“Iya Dek. Itu buku milik Ibu. Ibu meninggalkan buku itu entah di mana. Dan Ibu tidak tahu kenapa buku itu ada di rumah kamu,” ujar Bu Sarah. Aku pun mengembalikan buku itu kepadanya.



___

Biodata Penulis

Arini Sahira Ginanjar, siswa kelas VIII SMP Islam Boarding School Nurul Fikri Serang. 




Kirim karyamu ke

redaksingewiyak@gmail.com