Minggu, 05 September 2021

Puisi Isbedy Stiawan ZS | Kota-Kota yang Ngaceng | Dari Masa Lalumu | Seorang Pelayan Turut Menari | Pada Hari Ketigabelas | Seperti Orang Kapal

Puisi Isbedy Stiawan ZS














KOTA-KOTA YANG NGACENG

                           : jokpin


Kota-kota yang ngaceng dan 

bersinar di balik kain 

sarungmu. Meski 

sembunyi tapi aroma amis 

oleh cahaya yang tak pernah 

mati seakan menggoda. Aku betina 

yang menerka-nerka di dalam

kain sarung. Seribu kota tegak

ya, kota-kota yang mencari 

pasangan untuk bercinta


Di balik kain sarung yang berkibar

serupa bendera di tiang halaman

rumah, terbayang kota-kota impian

sangat ngaceng untuk kucintai 

habishabisan. Kota yang menjelma

sebab paras perempuan. Tegak 

dan kaku


      begitu tajam dan sangat dingin


Kanal yang berpinak saling pagut

membawaku ke dalam luka

dan percintaan dari seorang 

kesepian


              Kota-kota akan hidup 

walau dikunci dan tak seorang pun

dilarang masuk ke balik sarungmu

menjilati kesunyian


2018-2020


Catatan: Jokpin, sapaan akrab penyair Joko Pinurbo, penyair asal Yogyakarta ini dikenal salah satu kumpulan puisi “Di Bawah Kibaran Sarung” (penerbit IndonesiaTera, 2001)




DARI MASA LALUMU


Pergilah dan kenanglah jika ada

yang bisa diingat. Sebab kini 

kau adalah busur, kau akan

menentukan untuk menancapkan

kaki di mana; apakah tubuhmu luka

memar, ataupun gembur segar. Aku

tidak lagi bisa meletakkan mata

angin di depanmu. Segala 

maya! 


Kau sendiri mengarahkan langkah,

mata busur, jarak dengan matahari 

atau bulan. Sesukamu dan cermat 

bukankah kau tak mau sekarat?


Di lain tempat kau memulai

usah ingat masa silam

karena bukan lagi milikmu


Aku sudah membuat jejak 

arah jalan ada di dirimu;

          kau kini menancapkan kaki 

          di mana kau mau, dan mata angin

          yang engkau inginkan


   : persis di depan matamu


Aku hanya menikmati

di sini. Dari masa lalumu



SEORANG PELAYAN TURUT MENARI


Laki-laki itu tak lupa kapan 

ia datang ke kedai itu. Lalu

selembar kertas masih bersih

dan sebuah pulpen diletakkan 

di meja, dekat kertas. Tak lama

tangannya meraih pena, menari

di lembar kertas


Dan seorang pelayan turut 

menari. Naik ke dalam kertas 

milik lakilaki itu. Puisi menari

tarian di dalam puisi 


       Secangkir kopi hangat 

melepaskan asap di sana, kata-kata

menggumpal jadi gumpalan bola 

terbang. Ruang bau asap, penuh 

oleh kalimat; dari jalan-jalan 

sampai keheningan


Di meja tumpukan baris tumpah 

baju lakilaki itu basah. Ia lupa

di rumah tak ada yang mau

mencuci dan mengeringkan


Tiada perempuan menunggu 

menjemur bajunya, membawa 

puisinya ke pasar lelang



PADA HARI KETIGABELAS


Pada hari ketigabelas 

bulan yang basah selalu

kau antarkan payung 

kau ingin rambutku 

tak kuyup; di hari yang 

mestinya mataku cahaya 

rambutku rapi bagai padi 

sebelum dipanen


Di hari ketigabelas itu 

usai berkencan malam 

ruang amat kelam

(lampu mati, di negeri ini

seperti jadi langganan)

aku pamit ke lain kota

kau datang bawakan 

payung, langit mendung

lalu rinai

        lalu hujan 

             lalu menderas


Aku mabuk karena Cinta


“Aku sakit oleh luka,

hibur aku satu lagu.”


1 Maret 2021



SEPERTI ORANG KAPAL


Adakah yang tersisa dari jejakmu 

di sebaris jalan dikerubungi belantara,

ilalang rangas, licin dan ancaman macet

sebelum kau sampai puncak itu


Ia mengekal pada dirimu 

ia merayumu jadi puisi 

ia ingin dibebaskan, 

                   bukan lagi orang penjara


Ayo, bebaskan dia

seperti kau bebaskan 

hewan dan pepohonan


           Jadi teman perjalanan

seperti orang kapal itu 

yang menulis puisi laut 

— di lautan, selama berlayar —

untuk merayakan hidup


Di depanmu air terjun 

kenapa kau ngungun?



____

Penulis

ISBEDY STIAWAN ZS, lahir dan sampai kini menetap di Tanjungkarang, Lampung. Ia menulis puisi, cerpen, esai, dan karya jurnalistik. Saat ini sudah merampungkan trilogi buku puisi bertema kematian, kritik, dan pandemi covid yakni Burungburung dan Kisah Lain, Buku Tipis untuk Kematian (siap diterbitkan basabasi Yogyakarta), dan Musim Kabung