Jumat, 03 September 2021

Puisi Louise Glück | Kereta Chicago | Telur | Hari Bersyukur | Ragu | Sepupu dan Bulan April

Puisi Louise Glück

Kereta Chicago

 

Kendaraan yang berada di depanku

Bergerak payah: tapi si Tuan bertengkorak

Gundul yang bersandar lengan itu berada di muka. Sementara si anak

Mendapatkan kepalanya berada di tungkai ibu lalu terlelap. Racun itu

Menggantikan udara.

Lalu mereka duduk–seperti lumpuh yang mendahului maut

Dan memaku. Jejaknya melekuk ke selatan.

Aku melihat selangkangan si perempuan itu bergetar … kutu yang mengakar di rambut bayi.




















Puisi Louise Glück


Telur

 

I

Dengan mobil semuanya pergi.

Tertidur di mobil lalu lelap

Seperti malaikat di pemakaman bukit pasir,

Menghilang. Daging untuk sepekan

Sudah membusuk, kacang polong

Terkekeh di polongnya: kami

Mencuri. Lalu di Edgartown

Aku mendengar perutku

Yang menggulung di tempat tidur bayi …

Mencuci sempak di Atlantik

Menyentuh lautan matahari

Seperti cahaya yang memancar

Yang ingin menelan air.

Setelah Edgartown

Kami melintas ke arah yang berbeda.

 

II

Di kejauhan

Tangan laki-laki yang besar itu adalah alat pembersih

Yang berkerumun, si pemakan daging,

Dan si pemangsa.  Di bawahnya yang

Menetes putih, melucuti

Tongkat sihirnya yang terbuka,

Aku melihat banyak lampu

Menyatu di dalam gelasnya.

Obat Dramamine. Kau biarkan dia

Merampokku. Tapi

Berapa lama? Berapa lama?

Aku melihat alat dapur dari masa silam

Tubuhku meregang seperti sebuah robekan

Kertas.

 

III

Selalu saja aku merasakan laut di malam hari

Yang menghempas hidupku. Oleh

Ceruknya jaring

Di teluk ini, dan seterusnya. Berbahaya.

Dan seterusnya, mati rasa

Dari kebasan arak bourbon

Napasmu

Aku menyimpul …

Di seberang pantai itu ikan

Berdatangan. Tanpa kulit,

Tanpa sirip, rumah tangga

Yang telanjang dari tengkorak mereka

Yang tak berubah, menumpuk

Bersama sampah-sampah lain.

Sekam, sekam. Banyak bulan

Yang bersiul dengan mulut mereka,

Melalui karang yang terengah-engah.

Bongkahan daging. Lalu terbang

Seperti banyaknya planet, apitan cangkang

Dentingan yang membabi buta

Dari gelombang Veronika …

Benda itu

Menetas. Lihat. Tulang-tulangnya

Membungkuk memberi jalan.

Gelap. Gelap.

Ia membawa semangkuk tangkapan

Dari potongan-potongan bayi.




Puisi Louise Glück


Hari Bersyukur


 

Di setiap ruang yang diliputi bocah

Tanpa nama Selatan Yale itu,

Ia adalah adik perempuanku yang bernyanyi Fellini

Lalu menelepon

Sementara kami terus memindahkan sepatu botnya yang terbuang

Atau duduk lalu mabuk. Di luarnya, di suhu

Dua puluh derajat, seekor kucing liar

Merumput di halaman rumah kami,

Yang sedang mencari sampah. Ia menggores ember.

Tak ada suara lain.

Tapi terus menyiapkan makanan pelipur

Dan melimpah itu di dekat kompor. Ibuku

Menggenggam tusuk sate.

Aku melihatnya menyelipkan kulit

Seolah ia rindu masa muda, sementara potongan bawang

Mengaburi salju di atas maut yang bercabang.




Puisi Louise Glück


Ragu


 

Hidup ini hanya untuk menatapmu dan

Menyisikanku. Perkelahian itu

Seperti ikan tangkapan dalam diriku. Melihatmu berdenyut

Di dalam sirupku. Melihatmu ketika lelap. Dan hidup untuk menatap

Semua, ya semua yang memerah

Sampah. Sudah selesai?

Persoalan ini menghidupiku.

Kau hidup di dalam diriku. Ganas.

Cinta, bahkan kau tak menginginkanku.




Puisi Louise Glück


Sepupu dan Bulan April


 

Di bawah biru langit, di tengah sayur rhubarb yang berjongkok di halaman belakang

Sepupuku terkekeh bersama bayinya yang menepuk

Bagian kepala botaknya. Dari jendela ini aku meraih selasih,

Kilau silika, cokelat sienna yang melewati brokat tanah

Rempah tarragon dan berhenti di bawah naungan pigura

Garasi. Kipas zamrud

Yang gugup rimpang meluncur di lutut sepupuku

Ketika ia membungkuk menaikturunkan bayinya.

Aku merajut sweter untuk anak keduanya.

Seperti, bermil-mil turun demi makan malam, tak mendengar kasur goyangnya

Bersama murka lalu mengira ini adalah waktu agar ia terbaring dan terkunci tantrum …

Oh, seperti gerak di kedalaman tubuhnya yang hinggap. Di antara ungu

Azalea, yang mengelilingi seluruh taman

Kini, bersama anak laki-lakinya ia melalui apa yang aku jedakan

Untuk menangkap, di fase kuncup dini, di atas rumput yang tumbuh.



________


Penulis



Louise Glück lahir di New York tanggal 22 April 1943. Ia mendapatkan anugerah Nobel Sastra tahun 2020. Beberapa puisi di atas diterjemahkan dari buku Firstborn (1968).



Penerjemah 


Eka Ugi Sutikno yang kini aktif di Kubah Budaya, menjadi anggota Kabe Gulbleg, dan mengajar di Universitas Muhammadiyah Tangerang.