Senin, 04 Oktober 2021

Karya Guru | Pak Guru Danu | Cerpen Wahyu Arshaka

 Cerpen Wahyu Arshaka



Pagi terasa cepat bergerak, membuat Pak Danu harus cepat-cepat berangkat. Kopi yang dibuatkan istri diteguknya beberapa kali. Sisanya dia simpan dalam tutup saji. Nanti siang akan dia panaskan lagi untuk diminumnya kembali. Bahkan kadang kalau yang tersisa hanya ampasnya, itu pun tidak dia buang, dia akan seduh kembali dengan ditambah sedikit kopi dan gula (bila ada). Ini bukan drama, memang begitulah cara dia berhemat.



Pak Danu terpaksa harus berhemat. Honornya sebagai guru honor hanya tiga ratus ribu. Dulu saat badannya belum rapuh, dia tanpa kenal lelah mencari uang tambahan, dengan cara mencari ikan, jadi tukang ojek, jual sayur sampai jadi petani penggarap dia lakoni. Tapi sekarang usianya sudah di atas lima puluh, mudah lelah, asam urat dan darah tinggi, sudah hinggap di tubuhnya.


Untuk uang tambahan, sekarang dikasih anaknya yang bekerja di pabrik sepatu. Namun uang tambahan itu tak cukup untuk Pak Danu mengakhiri hidup berhematnya. Meskipun begitu, anaknya sudah meminta Pak Danu untuk berhenti saja sebagai guru, tapi Pak Danu menolak, bukan karena dia masih ingin mengabdi dan tetap ikut mencerdaskan bangsa. Tapi demi harapan, yang selama ini tak pernah dia padamkan untuk menjadi seorang pegawai negeri.


“Sudahlah Pak, berhenti saja jadi guru, gaji hanya tiga ratus ribu! Biar nanti Warni tambah deh kalau cuma uang segitu!”


“Wah sayang, Bapak sudah puluhan tahun mengabdi, sebentar lagi akan ada pengangkatan!”


Tapi info akan ada pengangkatan yang sering dia dengar itu, tak kunjung terjadi juga, yang ada adalah seleksi untuk pegawai kontrak. Meski begitu Pak Danu ikutan mendaftar juga. Baginya menyalakan harapan lebih berguna dari pada menebarkan pesimisme, meski dia harus bersaing dengan para honorer yang masih muda, yang belum lama lulus dari perguruan tinggi ternama.


Namun harapannya meredup juga saat mengerjakan soal tes di layar komputer. Tangannya terlihat lambat dan kaku menekan huruf satu pers satu, serta keningnya tampak berkerut saat membaca soal yang terpampang di monitor itu. Hingga akhirnya segala harapan, dia serahkan kepada Tuhan. Berharap Tuhan menghadirkan keajaiban agar jawaban yang diterkanya adalah benar.


Harapannya pun akhirnya kandas, saat melihat nilainya tak layak untuk lulus. Raut mukanya langsung muram, tak bisa menyembunyikan kesedihan yang menikamnya. Sebenarnya ini bukan yang pertama dia melihat nilai tesnya di bawah rata-rata. Namun untuk kali ini dia merasa begitu terpukul. Pada usia senja dan lamanya pengabdian, harusnya dia mendapatkan keberhasilan yang selama ini dinantikan. Ketika harus gagal lagi, entah berapa tahun lagi dia menunggu, untuk mewujudkan mimpinya.


***


Dan pada pagi yang bergegas itu, dia tetap berangkat ke sekolah meski pikirannya merasa kalut. Tapi di rumah juga tidak ada kegiatan, malahan akan membuatnya didera jenuh tak berkesudahan, yang akhirnya bikin kepala pening juga. Kalau di sekolah, paling tidak, dia tidak merasa sendirian menghadapi kegagalan, karena rekan yang tidak lulus, ada juga di sekolah.


Seperti hari-hari biasanya, Pak Danu di kantor terlihat ngobrol-ngobrol sesama rekan guru. Kali ini tentang tes pegawai kontrak kemarin yang dinilainya tidak adil, yang membuat mereka yang sudah tua harus bersaing dengan anak muda yang masih belum lama lulus kuliah. Baginya tentu saja yang muda masih segar otaknya, sedangkan yang sudah tua agak lama untuk mencerna. Begitulah keluh-kesah yang terdengar, hingga kemudian beralih membahas utang negara, tapi untunglah sebelum lanjut memanas karena beda kubu. Bel masuk sudah berbunyi.


Pak Danu melangkah pelan menuju ruang kelas yang ada di pojok, kelas yang anak-anaknya sulit ditertibkan. Di setiap kelas memang selalu ada anak yang suka bikin onar, tapi untuk kelas yang ada di pojok, mayoritas memang anaknya suka buat gaduh dan sulit menangkap pelajaran. Walau sudah di sekolah menengah pertama dan mau lulus, masih banyak anak yang tidak bisa perkalian apalagi pembagian. Ini sering membuat Pak Danu merasa kesal.


Dulu di zaman orde baru, murid-muridnya begitu menghormatinya. Melihatnya sedang berjalan di selasar menuju ruang kelas saja, mereka langsung bergegas duduk di tempat masing-masing. Ketika sedang proses belajar, semua tampak tenang terdiam, ada yang memperhatikan ada juga yang melamun, sesekali terdengar celetukan yang membuat suasana terasa cair.


Kini, Pak Danu sudah duduk saja, masih ada yang hilir mudik, ngobrol bahkan bercanda. Begitu juga saat proses belajar mengajar, Pak Danu akan sibuk berusaha menertibkan kelas, omongannya sama sekali tidak digubris. Kalau sudah kelelahan, Pak Danu menggebrak meja, hanya beberapa saat terdiam, selanjutnya masih saja terdengar anak yang mengobrol.


Tak hanya bikin gaduh, soal nyontek pun mereka bisa terang-terangan. Segala teguran bahkan ancaman dapat nilai jelek tak mereka gubris. Untuk soal ini Pak Danu punya strategi, dia bikin soal yang berbeda untuk anak-anak yang suka dimintai contekan, akhirnya anak-anak yang berusaha belajar ini terhindar dari gangguan anak-anak pembuat gaduh, hingga mereka menuliskan jawaban sesukanya tanpa dipikir.


Dan kali ini begitu juga, kegaduhan terdengar meski Pak Danu sudah hadir di muka kelas, diminta diam, hanya beberapa orang yang menurut. Namun meski dengan rasa kesal yang terasa mengganjal di hati, Pak Danu memulai pelajarannya juga, dia berdiri dan mulai menulis di papan tulis tentang trigonometri.


Baru sesaat, sudah terdengar suara ngobrol disusul suara tawa dari belakang. Pak Danu hafal suara itu, suara Barza. Anaknya memang biang onar, bahkan dia pernah bolos dan nongkrong di prapatan. Pak Danu menghampirinya. Barza dan kawan-kawannya langsung berlarian, dan Barza sambil menoleh kearah Pak Danu dia mengepalkan tangan dan mengacungkan jari tengahnya dengan penuh rasa bangga.


Mengingat kejadian itu, rasa kesalnya makin menggurita. Pak Danu coba menghela napas untuk meredakannya. Tapi suara tawa Barza membuat rasa kesal Pak Danu meledak. Tanpa pikir panjang dia menghampiri Barza dan melayangkan telapak tangannya. Seketika suasana kelas menjadi sepi sesaat, lalu beberapa kali terdengar anak bergumam.


“Mampus lo!” 


***


Masih pagi, sebelum bel berbunyi. Seorang polisi memberikan surat panggilan untuk Pak Danu. Orang tua Barza melaporkan penganiyayaan anaknya. Pak Danu hanya bisa duduk terdiam, dia berucap akan datang besok pagi, meskipun dia bingung apa yang harus dilakukan. Karena dalam bayangannya hari-hari ke depan akan terasa berat dan memerlukan banyak uang.


Namun ternyata bukan hari depan, hari ini pun sudah langsung ada yang mengaku wartawan datang, bertanya tentang kasus kepada beberapa guru kemudian meminta amplop sebelum pulang, sebagai syarat dia nggak nulis berita. Berselang kemudian datang anggota el-es-em, dia menawarkan jasa mengatur perdamaian agar kasusnya tidak berlanjut. Menurutnya demi nama baik Pak Danu, nama baik sekolah dan nama baik negara. Dia meminta uang tiga puluh juta untuk mengatur semuanya.


Pak Danu tidak menyanggupi. Dia memilih akan mengikuti semua proses hukum. Sebagai guru dia merasa harus memberi contoh, kalau semua warga negara harus patuh terhadap hukum. Anggota el-es-em itu langsung terlihat kesal dan mengancam akan melakukan demo agar Pak Danu di pecat.


Pak Danu hanya tersenyum, dia yakin tak ada yang harus dipertahankan dari hidup selain kebenaran.


***


Setelah minum kopi, rencananya Pak Danu akan datang ke kantor polisi memenuhi panggilan. Tapi tiba-tiba ke rumahnya banyak yang datang, bekas murid-muridnya saat masih zaman orde baru dulu. Ada Dayat, sekarang dia menjadi seorang tentara yang berdinas di Pontianak, dulu dia suka berkelahi dan pernah mendapat tamparan juga dari Pak Danu.


“Kalau saya dulu nggak bapak tampar, mungkin saya nggak akan pernah sadar dan nggak mungkin juga jadi tentara gini!” ujarnya ditutup dengan derai tawa.


Ada Maya, anak cerdas dan tekun ini sekarang sudah bergelar doktor dan menjadi dosen. Lukman si pendiam, tidak disangka kini menjadi seorang penulis. Lena sekarang adalah dokter spesialis jantung. Madras yang dulu suka berjualan ikan hias kini menjadi pengusaha lobster. Rahman seorang petani, Bayu seorang peternak sapi dan Janes menjadi seorang pengacara.


“Bapak tidak usah datang ke kantor polisi, perkaranya sudah dicabut, kami semua sudah menyelesaikannya, jadi nggak usah khawatir!” ucap Janes.


Pak Danu langsung terdiam, bibirnya tampak gemetar dan air matanya berlinang, lalu air mata itu tumpah, suara tangisnya pun pecah. Istrinya yang duduk di samping berusaha meredakan tangis suaminya.


“Sudahlah Pak, mungkin murid-murid Bapak sekarang ini, nanti juga akan menjadi anak-anak baik seperti mereka ini!” ujar istrinya dengan lirih.


Lalu, tiba-tiba ada dua mobil berhenti di depan rumah, satu mobil membawa karangan bunga dan dari mobil Pajero keluar laki-laki muda berpenampilan necis dengan rambut klimis. 


“Perkenalkan saya Bagas, staf ahlinya Pak Dirmandi, saya diutus mengirimkan karangan bunga ini. Saya yakin dengan adanya karangan bunga ini kasus Bapak tidak akan dilanjutkan, karena orang akan tahu, Bapak adalah gurunya Pak Dirmandi!” ujar laki-laki necis itu dengan penuh semangat.


“Si Dirman?” Madras kaget.


“Iya, sekarang dia jadi politisi. Dulu kan dia naksir kamu Lena!” timpal Janes.


“Ih, males!”


Lantas semua mata langsung tertuju pada karangan bunga yang bertuliskan 


Turut Berduka Atas Matinya Rasa Hormat Siswa kepada Guru

Dari Darmandi, S.T., M.E., M.Pd.


“Ternyata anak menyebalkan ini, sudah sukses pun tetap menyebalkan!” Gumam Pak Danu sambil mengulum senyum.






___

Penulis


Wahyu Arshaka, seorang penulis cerpen dan novel yang menjadi guru di SDIT Al Jihad, Pedes, Karawang. Novel terbarunya yang sudah terbit “Bucin Mencari Cinta”.


(Nama asli Asep Wahyudin. Alamat di Perum Indira, Tegalsawah, Karawang Timur)


FB: Wahyu Arshaka

IG: @warshaka

Twitter: @arshasen





Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com