Jumat, 26 November 2021

Cerpen Ikhwanul Hasan | Misteri Gunung Pulosari

 Cerpen Ikhwanul Hasan




Di beranda itu, yang lantainya hanya plester tanpa keramik dan tiang-tiangnya adalah bambu yang sudah rapuh dimakan rayap, dan atapnya cuma pelepah kelapa yang telah mengering dan agak berlubang, cecak-cecak lekat mengawasiku yang kini sedang duduk dan menyandarkan bahuku pada sebuah tiang, sambil menikmati secangkir kopi hitam buatan ibu. Ditemani rintik hujan dan embusan angin yang menjatuhkan dedaunan pohon mahoni. Suasana ini sangat menenteramkan pikiran, namun tak setiap saat diriku bisa menikmati suasana seperti ini. Karena biasanya diriku sibuk berkebun memetik cengkeh di bawah kaki Gunung Pulosari. Memang sebagai anak seorang petani diriku harus selalu siap membantu orang tua bertani dan berkebun. 


Namun karena sore ini hujan, diriku tak diizinkan ibu untuk berangkat memetik cengkeh. Konon katanya Gunung Pulosari tempat biasa aku dan ibu memetik cengkeh merupakan tempat yang angker dan misterius karena sering terjadi kejadian yang tak masuk akal. Padahal Gunung Pulosari adalah tempat yang indah dengan pemandangan kawah belerang yang bebatuannya berwarna kuning keemasan. Belum lama anak Pak Kades tewas dan jasadnya ditemukan oleh warga di sarang Babi di Gunung Pulosari. Semenjak kejadian itu membuat warga makin melarang siapa pun untuk pergi ke Gunung Pulosari tanpa izin dari kuncen yang berjaga, demi keselamatan warga dan menghindari amukan makhluk-makhluk halus yang berdiam diri di gunung itu. Sungguh kejadian yang logis menurutku. 


Karena rasa penasaranku esok hari aku berniat pergi ke Gunung Pulosari ingin mecari kebenaran dengan semua kejadian itu. Desir angin pagi meniup daun-daun pohon mangga yang tertancap tertanam kokoh di halaman rumahku. Halaman yang hanya berupa sebidang tanah sempit dengan tanaman cabai dan kembang menyemak di dekat pagar yang membatasi rumahku dengan jalan. Diriku memandang kepada entah, barangkali ke arah daun-daun yang rontok dan melayang-layang jatuh sebab sesekali angin menerpa tak kenal ampun. Atau barangkali, aku memandang sinar matahari yang semakin terang cahayanya. Kerisauan yang kini sedang aku rasakan di seruang dadaku, hingga membuat paru-paruku sesak serta dengan jantungku berdetak tak kenal jenak, sebetulnya telah aku rasakan kerisauan ini sejak lama karena rasa penasaran yang amat kuat. Dibarengi dengan perasaanku yang tak keruan aku melangkahkan kaki berangkat menuju Gunung Pulosari dengan membawa segala perlengkapan, sengaja aku tak meminta izin kepada ibu dan bapak karena pasti takkan memberiku izin.


Aku berjalan perlahan sambil mencari kebenaran di setiap langkah. Niatku kali ini hanya sekadar mencari tahu apa benar anak Pak Kades tewas di tangan mahluk halus atau karena hewan buas yang berada di hutan. Aku berjalan sendirian memulai langkah dengan rasa percaya mengungkap kebenaran. D isetiap langkah kaki, aku perhatikan pandangan warga begitu dingin terhadapku mereka terlihat bingung ke mana hendaknya diriku akan pergi karena melihat barang bawaanku. Salah seorang warga bertanya. 


“Mau ke mana kamu Nak?” ucap seorang petani yang sedang membawa sebuah cangkul tua.


“Aku hendak pergi ke Gunung Pulosari Pak,” ucapku sambil terus berjalan.


“Pulanglah Nak, pulanglah!” petani itu lantas berlari seperti orang yang ketakutan.


Aku bingung mengapa ia berlari, seperti ada hal yang disembunyikan tentang keadaan di Gunung Pulosari. Lantas ini membuat diriku semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya ada di sana.


Perjalanan memang memakan banyak waktu, butuh sekitar tujuh jam untuk sampai ke puncak Gunung Pulosari. Perjalananku terus dilanjutkan menerobos setiap semak belukar hutan. Namun perjalanan begitu aneh aku merasa sudah lebih tujuh jam berjalan, tetapi tak juga aku sampai di puncak Gunung seolah-olah aku berjalan hanya memutar dan tak menemukan jalan. Aku merasa seperti sudah melewati jalan yang sama. Tentu saja ini membuat hatiku tak keruan, seperti dijejalkan bermacam perasaan yang terus menujah-menubi ke dalamnya hatiku. Sebab hari mulai malam, matahari mulai menjorong ke ufuk barat. Sedang perbekalan hanya disiapkan untuk satu hari perjalanan karena aku yakin bisa menjawab semua kejadian dengan waktu satu hari, tetapi aku belum juga sampai ke tujuan.


Aku terus menelusuri jalan setapak, tiba-tiba tampak suatu desa dan terlihat seperti ada sebuah istana yang sangat megah. Saat aku ingin memasuki desa itu, aku terkejut dan dicegah oleh seorang lelaki tua.


“Pulang Nak, belum waktunya kamu berada di sini. Ayah dan ibumu sedang menunggu di rumah,” ujarnya. Jantungku berdebar setelah mendengar kata ayah dan ibu. “Jangan kau lanjutkan perjalananmu, nanti kau akan tersesat dan tak dapat kembali. Jangan lanjutkan perjalan kalian!” perintah lelaki itu. 


Tetapi aku tidak mempedulikan ucapan laki-laki itu aku tetap melanjutkan perjalanan. Benar saja aku sekarang sudah berada tengah hutan di Gunung Pulosari, setelah aku lihat ke belakang desa itu berubah menjadi hutan. Tak ada lagi tanda-tanda kehidupan di sana. Aku berusaha kembali dengan berjalan kaki sampai waktu hampir malam. Tak terasa aku sampai di sebuah kawah belerang. Aku  sejenak beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.


Malam makin larut, udara makin dingin, tetapi aku belum berhasil untuk kembali. Aku terjebak di hutan belantara. Aku merasa ketakutan karena sering mendengar suara babi hutan yang mendengkur dan sesekali melihat bongkahan bola api merah melayang di udara. Aku berusaha mencari jalan keluar, kaki terus melangkah menelusuri jalan setapak ke arah bawah kaki gunung, tetapi yang terjadi aku tetap kembali ke tempat semula, sungguh aneh. Aku  mulai kelelahan dan mengalami hypotermia karena udara yang amat dingin. 


Malam sudah memasuki sepertiganya yang awal, tetapi aku masih tersesat, isyarat ketenangan ketika berangkat ternyata hanya menipu. Kini langit sesak dengan gumpalan asap kawah tebal. Angin berembus kencang menjatuhkan bunga kenanga dan alamanda. Hari mulai pagi suasana sudah mulai agak menghangat dan sinar mentari sudah mulai menembus embun-embun pagi. Aku masih tersesat di tengah hutan. Aku berdoa semoga Tuhan memberikan jalan keluar agar aku selamat. Ketika kaki sudah mulai lemas melangkah dan badan mulai tak kuasa menahan lelah. Di kejauhan terlihat segerombolan orang sedang memotong ranting-ranting pohon.

 

"Tolong ...! Tolong ...! tolong ...!" teriakku. Segerombolan orang tersebut lantas menghampiriku, membantu aku untuk keluar dari hutan. 


“Kang mau pulang?” tanya salah satu warga. 


Aku bersyukur karena masih ada orang di sekitar sini. Walau aku binggung dari mana datangnya orang-orang tersebut, tetapi aku tak peduli yang terpenting aku bisa kembali ke rumah. Aku pun pulang bersama salah satu warga itu . Tak lupa pula mengucapkan terima kasih. Karena jika tak ada beliau, aku mungkin sekarang belum ada di rumah. Kuketuk pintu rumah sambil mengucapkan salam. Tak lama pintu terbuka, wajah ibu dan ayahku terlihat haru. Ibu memelukku sambil bersyukur tak henti-henti. Ibu telah mimpi buruk tentang diriku, kata ayah. Setelah itu ibu menyuruhku untuk beristirahat, aku pun mengiyakannya. Aku pergi ke kamar dan membantingkan tubuhku di atas kasur. Mataku terpejam begitu saja, sungguh melelahkan. Tapi kenapa sedari tadi bulu kudukku berdiri dan badanku bergetar hebat?

Keesokan harinya aku mendengar suara kereta kuda di atas atap rumahku. Tak lama suara ibuku menjerit. Aku seperti mengalami de javu. Di ruang tengah terlihat seseorang lelaki terbaring dibaluti kain putih. Aku lebih merinding ketika mengetahui bahwa seorang yang dibaluti kain putih itu adalah aku.Tubuhku gemetar hebat. Aku lari keluar rumah. Di depan rumah aku dicegat oleh seorang berpakaian bangsawan. Saat aku melihat ke atap rumahku pun memang ada kereta kuda.

“Ikutlah dengan kami, bukankah kau selalu ingin ke puncak Gunung Pulosari?”

Aku terheran-heran. Apakah aku sudah mati?






____

Penulis


Ikhwanul Hasan dilahirkan di Bogor 17 Desember 1998. Saat ini sedang menempuh pendidikan di Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten. Berkegiatan di UKM Belistra dan Kubah Budaya. Cerpennya yang berjudul "Perjalanan" pernah dibukukan oleh Dinas Perpustakaan Provinsi Banten dalam Antologi cerpen Perjumpaan Terakhir. Akun Instagram penulis @Ikhwanuul.










Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com