Senin, 08 November 2021

Karya Siswa | Wadimor | Cerpen Azizah Jihan Madina

 Cerpen Azizah Jihan Madina 




Namaku Wadimor. Umurku 12 tahun. Tidak jarang orang-orang menertawai namaku. Meski begitu, aku tidak masalah dengan orang tua yang memberiku nama ini. Sekarang aku menduduki kelas 7 F. Aku memiliki teman-teman yang hebat. Beberapa dari mereka juga memiliki nama yang unik. Sumiyati, contohnya.



“Oi, Wadimor! Malam ini ada belajar bersama. Kau ingin ikut?” Sumiyati bertanya kepadaku. 


“Siapa saja yang datang?” aku bertanya kembali. 


“Banyak. Yanti, Sriyati, Nurul, Astuti, Santi, Suryanah dan Mata. Berhubung besok ada ujian Matematika,” Sumiyati menjawab sambil menghitung dengan jarinya. 


“Baiklah. Aku ikut.”


Mereka semua orang yang baik. Setiap orang memiliki kemampuan dan kepribadian yang berbeda. Kami melengkapi kekurangan satu sama lain.


Malam itu, aku pergi ke tempat kita biasa bertemu: kantin sekolah. Ya, kantin untuk tempat makan siang. Kami sering berkumpul di situ. 


“Hari ini aku akan mengajar,” Sriyati duduk di kursi kantin dan mulai membuka bukunya, “Buka halaman ...”


Kami menghabiskan waktu hampir tiga jam untuk belajar. Kegiatan belajar bersama itu mulai dari jam tujuh. Astuti pulang lebih awal. Dia tidak diperbolehkan untuk keluar rumah di atas jam sembilan malam. 


“Aku mengantuk,” ujar Yanti sambil menguap.

 

“Aku juga,” Santi berkata dengan muka yang lelah. 


“Sudah jam sepuluh, ya? Aku akan pulang, sampai jumpa esok hari!” Suryanah lalu pergi dari kantin sekolah.


***


Hari ujian telah tiba. Burung berkicauan selagi matahari pagi terbit. Aku bersiap berangkat sekolah, bersalaman ke kedua orang tuaku dan adikku lalu berangkat. Aku sedikit gugup untuk mengerjakan soal-soalnya. Untunglah aku belajar tadi malam bersama teman-temanku.


“Baik anak-anak, ujiannya akan segera dimulai. Dilarang menyontek, dilarang bekerja sama, dilarang melihat catatan. Hanya alat tulis dan kertas ujian yang dibolehkan di meja,” Pak Guru menjelaskan peraturannya. 


Ujian itu berlangsung selama satu setengah jam. Aku menjawab soal yang aku bisa terlebih dahulu, dan mengerjakan yang sedikit sulit di akhir. Semoga aku tidak remedial ujian Matematika kali ini.


“Bagaimana soal tadi? Apakah sulit?” teman yang berada di kelas lain bertanya. 


“Tidak juga,” Mata dengan percaya diri menjawab. 


“Hati-hati nilaimu turun, haha!” Nurul menertawakannya. 


“Tidak mungkinlah. Mata memang pintar,” Sumiyati bercanda dengan menyeringai. 


“Aku sepertinya akan ke perpustakaan membaca buku duluan. Dah!” Santi meninggalkan kami, lalu berlari turun tangga. 


“Hati-hati Santi! Jangan berlarian!” ujarku. 


“Ya, terima kasih Wadimor, aduh!” terdengar suara jatuh. Apakah Santi menabrak seseorang?


Tebakanku benar. Santi menabrak guru killer yang terkenal di sekolah. 


“Maafkan saya, Bu. Saya benar-benar ceroboh dan tidak sengaja,” Santi memohon maaf kepada ibu guru yang barusan dia tabrak. 


“Apakah kamu barusan berlarian di tangga sekolah? Datang ke ruangan saya saat istirahat kedua. Saksi mata juga,” Ibu Guru itu memerintah kami. 


Mengapa kami juga dipanggil? Aku tidak ingin Santi terkena surat peringatan, tetapi aku juga tidak ingin terlibat masalah. 


***


“Kau tidak apa-apa, Santi?” Yanti membantunya berdiri. 


“Secara fisik iya, tetapi secara mental? Mungkin tidak. Aku menabrak ibu guru killer sekolah ini?!” Santi panik. 


“Tenang, Santi. Kita akan membantumu,” Yanti tersenyum.


“Kalian akan datang kan?” Astuti bertanya. 


“Tentu saja. Santi temanku,” Sriyati menjawab. 


“Aku sependapat dengan Sriyati,” ujar Sumiyati.


“Ya, sepertinya kita semua akan datang,” aku ikut memberi pendapat. 


“Tapi bagaimana kita akan menjelaskannya kepada Ibu Guru?” Suryanah bertanya lagi. 


“Santi memang bersalah, tetapi dia sedang berburu-buru ke perpustakaan. Sekarang waktu membacanya habis dan kita hanya memiliki waktu lima menit sebelum istirahat pertama habis. Saat istirahat kedua, kita sudah dipanggil ke ruangan ibu guru. Bilang saja Santi sedang terburu-buru ke perpustakaan untuk mengembalikan buku atau semacamnya,” Mata yang jenius menjelaskan dengan santai. 


“Ya, benar juga,” Sumiyati sependapat dengannya. Aku dan yang lain hanya menganggukkan kepala. 


Waktu istirahat telah habis. Setelah dua jam mendengarkan pelajaran membosankan, aku dan teman-temanku pergi ke ruang guru untuk menyeselaikan masalah Santi ini.


Kami mendiskusikannya dengan Ibu Tukul. Dia mengajar pelajaran IPS kelas 9. Aku tidak bisa berhenti tertawa membayangkan ekspresi lega Santi saat Ibu Tukul tidak memberinya surat peringatan. Nurul tidak akan pernah berhenti membicarakannya. 


Menurutku Ibu Tukul adalah orang yang baik. Dia hanya sangat ekstra disiplin dan tegas dibanding guru lain. Ibu Tukul juga lulus kuliah S-2 di luar negeri. Aku tidak tahu apakah aku akan pernah menjadi sehebatnya.


***


Sepulang sekolah, aku merebahkan diri dikasur dan menonton serial TV kesukaanku di laptop. Adikku terus melompat-lompat dikasur. Otomatis aku merasa terganggu. Aku akhirnya mengalah dan pindah ke sofa di depan TV.


Sekitar empat jam kemudian aku keluar rumah dan bermain basket. Aku juga mengajak Suryanah yang rumahnya tidak jauh dariku. Dia sangat hebat dalam bermain basket. 


Beberapa notifikasi pesan muncul ke ponselku. Dari grup kelas. Ketua kelas kami, Yanti memberi tahu bahwa hasil ujian Matematika akan diumumkan besok. Apakah aku akan mendapat nilai bagus? Atau sebaliknya?


“Wadimor, aku yakin hasil nilaimu akan memuaskan,” Suryanah tiba-tiba mengatakan itu kepadaku. 


“Kau yakin?” aku menyeringai. 


“Tentunya,” Suryanah menjawab dengan senyuman.


***


“Mohon tenang dan duduk, anak-anak,” guru Matematika kami mulai percakapan dan akan mengumumkan hasil ujian kemarin. 


Setelah beberapa nama teman kelasku dipanggil, ini giliranku. 


“… Sumiyati 75, Wadimor 97 dan itu nilai tertinggi,” ujar guru Matematika. 


Suryanah benar. Walaupun bukan nilai sempurna, ini sudah sangat bagus. 


Banyak orang yang mengucapkan selamat kepadaku. Mata juga. Dia mendapatkan nilai tertinggi kedua di kelas, 95. 


“Sumiyati, kamu tidak sedih mendapat nilai kecil?” teman di luar kelas bertanya. 


“Untuk apa aku sedih? Justru ini bagus sekali. Sebelumnya aku membawa nilai rata-rata kelas sangat rendah!” Sumiyati tertawa. Yang lain juga ikut tertawa.


Hebat sekali dia. Mendapat nilai yang rendah, pas-pasan, tetapi tetap tersenyum. Tidak meneteskan sedikit pun air mata, tidak sekalipun merasa sedih. 


“Selamat, Wadimor. Skormu lebih tinggi dari skorku,” Sriyati sang bintang kelas yang biasanya mendapat nilai tinggi di semua mata pelajaran (bahasa Inggris adalah pengecualian, Sumiyati selalu mendapat peringkat pertama) memberiku kata selamat, seperti dia menyerahkan tahtanya.


***


Banyak kabar baik hari ini. Nilai ujian Matematikaku menjadi yang tertinggi di kelas, ibu memasak sup ayam favoritku, dan adik tidak melompat-lompat di kasur. Oh ya, ayah juga membelikanku buah mangga. 


Aku bertemu kembali dengan teman-teman di lapangan. Tapi, tidak semuanya bermain basket. Ada yang makan, ada yang mengobrol, ada yang membicarakan buku novel, dan lain lain. Sore ini kami hanya bersantai. Tidak melakukan hal yang serius. Melakukan hobi favorit kami. Sangat damai. Aku menyukai suasana ini. Melihat matahari terbenam ke barat bersama orang-orang yang kucintai. 


Langit biru itu sekarang menjadi gelap. Sudah tidak ada burung berkicauan. Aku pulang ke rumah, lalu memakan makan malamku di meja bersama ayah, ibu dan adik. Lezat sekali masakan ibu. Aku akan menanyakan resepnya kapan-kapan.



__

Azizah Jihan Madina adalah siswa SMP IT Boarding School Nurul Fikri Serang.







Kirim tulisanmu ke

redaksingewiyak@gmail.com