Jumat, 03 Desember 2021

Cerpen Bamby Cahyadi | Hal yang Paling Mengerikan dalam Hidup Ini adalah Menyadari Dirimu Hantu

 Cerpen Bamby Cahyadi




Dia tidak tahu mulai kapan dia menjadi hantu. Saat ini dia baru menyadari dirinya bukan manusia bernyawa lagi. Pada awalnya dia memang agak sulit menerima kenyataan bahwa dirinya telah mati dan menjelma hantu.


Mula-mula dia menduga kalau dia sekadar bermimpi pada saat tertidur. Dia terbangun di kamar apartemennya. Seperti biasa dengan gerakan malas karena masih mengantuk dia membuka kelopak matanya, menggeliatkan tubuhnya, lantas duduk termenung di tubir ranjang sambil meremas rambutnya yang berantakan. Sebenarnya dia bukan meremas rambutnya, lebih tepat dia menjambaknya. 

Menjambak rambut telah menjadi kebiasaannya untuk mengenyahkan rasa sakit kepala yang selalu menyergap setiap dia bangun tidur. Tapi ada yang aneh, pagi ini tidak ada rasa sakit kepala yang biasanya hinggap di rongga kepalanya yang terkadang membuat kepalanya terasa berdentam. 

Pagi ini kepalanya terasa ringan dan nyaman. Dia berusaha memastikan dengan menggeleng-gelangkan kepalanya. Membuat gerakan mematahkan leher ke kanan ke kiri. Ya, kepalanya memang terasa sangat enteng, tak ada rasa nyeri di bagian tengkuk leher, tak ada rasa mencengkeram di bagian belakang kepalanya. Dia benar-benar gembira menyadari pagi ini sakit kepalanya mendadak lenyap sebelum dia menenggak minimal dua butir pil parasetamol, atau minum kopi hitam panas seperti kebiasaannya.

Dia beranjak dari ranjang menuju kamar mandi yang terletak di samping kamar tidur. Pintu kamar mandi tidak tertutup. Begitulah kebiasaan buruknya, dia kerap lupa menutup pintu kamar mandi, atau pintu lemari. Bahkan beberapa kali dia lupa menutup dan mengunci pintu apartemennya.

Pernah pada suatu malam petugas keamanan mengetuk pintu unit apartemennya dengan ketukan yang sangat keras, betapa terkejutnya dia ketika terbangun daun pintu sudah terbuka. Dia pikir petugas keamanan yang membuka pintu itu.

“Betapa kurang ajar kelakuan petugas keamanan itu, membuka pintu tanpa izinku,” batinnya kesal.

Rupanya petugas keamanan datang ke unit apartemennya untuk memberitahu pintu unit apartemennya belum tertutup dengan sempurna. Betapa malunya dia telah berprasangka buruk kepada petugas keamanan itu.

“Mbak, pintu unitnya tidak tertutup,” kata petugas keamanan ketika dia muncul di hadapan petugas itu.

“Oh, ya ampun! Terima kasih, Pak. Saya lupa nutup pintunya,” ujarnya spontan menyadari keteledorannya.

“Siap! Mohon lebih hati-hati lagi, takutnya ada orang yang tidak bertanggungjawab masuk dan ambil barang berharga di sini,” kata petugas keamanan itu tegas.

Dia mengakui bahwa dia seorang yang agak pelupa pada hal-hal praktis dalam hidupnya untuk tidak mengatakan dia adalah orang yang teledor, gadis yang ceroboh. Keteledoran yang apabila dia renungkan saat suasana hatinya sedang baik adalah sesuatu yang bisa berdampak buruk terhadap dirinya. Dia bayangkan akibat kelalaian menutup dan mengunci pintu apartemennya mungkin saja mengundang seseorang masuk ke unitnya dan mengambil barang-barang berharga yang ada di kamarnya.

Bukankah seseorang bisa melakukan tindak kejahatan atau perbuatan kriminal karena ada niat dan kesempatan? Duh, membayangkan seseorang menyelinap ke kamarnya, lalu orang tersebut mengambil barang-barang berharga miliknya membuat dia bergidik. Apalagi kalau seseorang itu seorang laki-laki dan juga mengambil koleksi pakaian dalam miliknya. Membayangkan pakaian dalamnya diambil oleh laki-laki dan dipergunakan untuk sesuatu yang tidak senonoh dia menjadi mual.

Dia tahu ada orang-orang yang memiliki kelainan atau berperilaku menyimpang terutama kaum laki-laki. Mereka terobsesi dengan benda-benda milik lawan jenisnya, misalnya pakaian dalam perempuan. Kelainan itu dikenal sebagai fetish, Fetisisme.

Menurut artikel yang pernah dibacanya di Wikipedia dan beberapa portal berita, Fetisisme berasal dari kata fetishism yang artinya 'benda sakti', adalah kepercayaan terhadap adanya kekuatan sakti dalam benda tertentu dan segala kegiatan untuk mempergunakan benda-benda sakti dalam ilmu gaib. Biasanya istilah ini digunakan untuk menunjukkan dorongan seksual yang ditujukan kepada benda-benda yang memiliki jenis kelamin berlawanan, misalnya seorang laki-laki yang tertarik pada pakaian dalam, sepatu, kaus kaki, rambut perempuan, dan lain-lain. Melalui benda nonseksual, benda mati, atau bagian dari tubuh seseorang, pengidap fetisisme akan mendapatkan kenikmatan seksual, baik saat melakukan kontak fisik maupun saat melihat benda tersebut.

Aduhai, membayangkan bra dan celana dalamnya dipakai seseorang untuk perbuatan yang tidak pantas tentu saja dia bergidik dan mual.

Seperti biasa sebelum masuk ke kamar mandi dia mengambil handuk yang tergantung di rak khusus terbuat dari bahan nirkarat untuk menggantung handuk. Rak itu menempel di bidang dinding di samping pintu kamar mandi. Pada saat dia hendak menarik handuk dari rak gantungan, benda itu tidak bisa digapainya. Dia seperti menggenggam udara. Dia coba melakukannya berkali-kali handuk itu tidak bisa dipegang olehnya. 

“Astaga apa yang terjadi denganku?” teriaknya panik. Jantungnya seperti memompa darah melewati pembuluh-pembuluh dengan kecepatan yang menakjubkan. Jantungnya memompa adrenalin.

Saat itu kepanikan mengusainya. Dia panik, benar-benar panik! Lantas dia berusaha bersikap tenang dengan menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan perlahan-lahan melalui celah bibir dan hidung. Perasaannya agak sedikit tenteram setelah tiga kali melakukan olah pernapasan seperti itu. Menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan membuat debar jantungnya yang berdegup cepat dan tak keruan menjadi melambat dengan ritme normal, sehingga menimbulkan rasa tenang.

“Tenang. Tenanglah. Aku nggak apa-apa?”

“Hmm, sepertinya ini hanyalah mimpi.”

“Ya, ini pasti adegan mimpi!”

Dia sering bermimpi seperti itu, di dalam mimpi dia bermimpi, saat dia menyadari bahwa dirinya berada di alam mimpi biasanya untuk kembali ke alam kesadaran, dia menendang tembok dinding kamar keras-keras, atau melakukan usaha membangunkan diri secara paksa. Serupa orang yang menyadari dirinya tenggelam lalu berusaha menahan napas dan buru-buru menggapai permukaan air. 

Yang tak pernah dia lakukan ketika bermimpi buruk adalah membaca ayat-ayat dari kitab suci. Meskipun dia seorang yang beragama, entah kenapa untuk hal-hal tertentu dia tidak menggunakan isi kitab suci agama sebagai usaha untuk bertindak, umpamanya berdoa ketika mimpi buruk.

Sejujurnya dia adalah seorang yang sangat suka pada saat kondisi tertidur dan bermimpi. Mimpi adalah bunganya tidur. Dia pun sangat percaya bahwa tidur adalah kematian kecil.
Sebagai seorang yang gemar membaca buku-buku fiksi maupun nonfiksi, dia pernah membaca sebuah buku tentang misteri tidur, dia lupa siapa penulis buku itu. Menurut buku itu, tidur terdiri atas lima tahapan. Tahap pertama merupakan masa transisi antara kondisi sadar dan kondisi tidur. Tahap kedua, seseorang mulai masuk ke kondisi tidur yang sebenarnya adalah fase tidur panjang. Tahap ketiga, kondisi tidur semakin nyenyak dan gelombang otak mulai melambat. Tahap keempat, yaitu tidur sangat dalam, dan fase terakhir di mana terjadi gerakan bola mata yang cepat dan hanya berlangsung beberapa detik. Kita sering menyebutnya tahap ini sebagai mimpi.

Dia yakin dirinya sedang bermimpi. Rasanya berengsek sekali menyadari dia bermimpi sakit kepala yang kerap menghantam kepalanya mendadak sirna, lantas dalam mimpi itu dia tidak bisa menggenggam benda yang bernama handuk. Padahal menurut teori mimpi, mimpi hanya berlangsung beberapa detik. Tetapi dia merasakan mengapa mimpi kali ini terasa begitu nyata, lama dan mendebarkan?

Dia melirik jam digital di atas meja rias. Jam digital menunjukkan pukul 07.45. 

“Sialan, aku telat bangun!” umpatnya sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

“Tapi aku kan masih bermimpi? Artinya aku masih tertidur.”

“Aku harus bangun, harus bangun, aku nggak mau menikmati kembang tidur dengan kondisi aneh seperti ini,” batinnya lagi dengan perasaan gusar. 

Dia menghampiri dinding kamar. Dinding kamarnya bercat warna krem tua. Tak ada gambar, pigura foto, atau lukisan yang tergantung di dinding kamarnya. Dia menyukai suasana yang polos dan minimalis. 

Di dalam kamarnya selain terdapat ranjang dengan ukuran sedang, sebuah lemari kayu jati dengan dua pintu untuk menyimpan pakaian, tas, aksesoris, perhiasan, dan koper. Di dalam lemari ada sebuah laci khusus menyimpan koleksi pakaian dalam miliknya. Di kamar terdapat meja rias dengan cermin berbentuk oval di atasnya. Di meja rias yang terletak di pojok kamar ada sebuah vas bunga dengan sekuntum bunga mawar segar kesukaannya. Di bagian bawah meja rias terdapat laci-laci yang dia gunakan untuk menyimpan koleksi buku-buku, seperti novel dan diktat kuliah.

Di ruang utama terdapat sebuah sofa panjang, dua sofa ukuran kecil dan meja tamu kecil, di hadapannya terdapat sebuah LCD TV 43 inchi yang menempel di dinding, sebuah meja belajar yang di atasnya terdapat laptop dan sebuah ponsel, meja belajar dilengkapi dengan kursi kerja beroda. Di samping meja belajar terdapat sebuah kulkas berukuran tidak terlalu besar. Masih di ruang utama di dekat pintu menuju balkon terdapat area dapur dengan kitchen set seperti kompor dengan tabung gas portabel di atasnya dilengkapi alat penyedot asap, rice cooker, toples gula dan bumbu-bumbu lainnya, rak gantung tertutup untuk barang pecah-belah, dan sebuah wastafel untuk mencuci piring dan gelas.

Dia mulai menetap di apartemen ini ketika dia diterima di sebuah universitas negeri ternama di Kota Depok. Semula dia bermaksud menyewa kamar kos di dekat kampus, namun kerabat ayahnya yang tinggal di Amerika mengabarkan, bahwa ia mempunyai unit apartemen di Kalibata, Jakarta Selatan, yang tidak ditempati. Memang, dia harus naik Commuter Line alias KRL dari stasiun kereta dekat dari apartemennya ini dengan menempuh waktu perjalanan kurang lebih 15 menit ke stasiun di mana kampusnya berada. Letak stasiun KRL pun hanya 300 meter dari apartemennya, dan setelah sampai di stasiun KRL kampus dia bisa langsung turun dan naik bus kampus berwarna kuning ke fakultasnya.

Setelah mempertimbangkan harga sewa kamar kos di Depok dan sewa unit apartemen tidak terlalu berbeda jauh, juga di apartemen ini tersedia fasilitas umum sangat komplit dan unit apartemennya pun sudah dilengkapi dengan furnitur, dia memutuskan untuk menempati unit apartemen saja ketimbang ngekos di Depok. Dia hanya mengganti warna cat kamar dan beberapa bagian kertas pelapis dinding agar beraksen minimalis. Pun apabila keluarganya datang ke Jakarta, mereka tidak perlu repot-repot menginap di hotel, cukup bergabung dengannya di apartemen ini. Unit apartemennya memiliki dua kamar tidur. Kamar yang lain ukurannya lenih kecil dijadikan tempat menyimpan koleksi sepatu, pakaian kotor sebelum masuk ke tukang londri, dan dijadikan semacam gudang bersihlah.

Kawasan apartemen ini sangat luas. Luasnya 12 hektare, dengan 18 tower dan secara keselurahan terdapat 11.500 unit. Masing-masing tower terdiri atas 22 lantai, termasuk dua lantai di bawah tanah untuk areal parkiran, lantai unit niaga di lantai dasar, dan lantai atap di bagian paling atas tower. 

Semua tower dinamai nama-nama bunga yang berada di Indonesia. Kawasan apartemen ini terhampar dari arah timur mata angin ke arah barat mata angin. Di bagian arah timur terdapat 10 tower dan di bagian arah barat terdapat 8 tower. Apartemen ini adalah yang terbesar, tersibuk, dan terpadat di Jakarta Selatan.

Tower-tower di bagian timur dinamai kawasan Kalibata City Residences ada 10 tower, secara alfabetis terdiri atas tower Akasia, Borneo, Cendana, Damar, Ebony, Flamboyan, Gaharu, Jasmine, Kemuning, dan Herbras. Di kawasan ini terdapat sebuah mal di basement di antara tower Flamboyan dan Kemuning, Kalibata City Square Mall namanya, juga terdapat dua lapangan basket sekaligus futsal. Kawasan ini sangat sibuk dan ramai sekali oleh berbagai usaha perniagaan.

Tower-tower di bagian barat dinamai kawasan Green Palace ada 8 tower terdiri atas tower Lotus, Mawar, Nusa Indah, Palem, Raffles, Sakura, Tulip, dan Viola. Di kawasan Green Palace ini terdapat fasilitas kolam renang, lintasan untuk berolahraga atau jogging track di dalam areal kolam renang. Ada lapangan basket, dan lapangan tenis juga. Kawasan Green Palace lebih tenang kondisinya ketimbang kawasan Kalibata City Residences. Oleh karena itu di kawasan ini terdapat unit yang luas dijadikan sekolah swasta dan kawasan pendidikan. Terlepas dari itu orang-orang menyebut kedua kawasan apartemen ini sebagai Kalcit, kependekan dari Kalibata City.

Dia tinggal di tower Tulip lantai 18, tower yang berada di bagian barat. Posisi unit apartemennya memiliki pemandangan kolam renang. Dia sangat suka berdiri berlama-lama di balkon ketika senggang sambil memandangi kolam renang yang indah dengan warna air biru di bawah sana dan tower-tower lain yang menjulang mengelilingi kolam renang bagaikan melihat tebing-tebing yang curam mengepung kolam renang serupa danau mini di dasar lembah.

Alasan lain dia memilih apartemen ini sebagai tempat tinggalnya pun terdengar sederhana. Yaitu mudah mencari tempat makan, restoran, warung, kafe, minimarket, tempat cuci baju, akses transportasi, salon, klinik kecantikan, apotek, praktik dokter, dan semuanya dengan harga terjangkau. Perpaduan beberapa hal itu, menurutnya, tidak bisa dia temui di kawasan kos-kosan atau apartemen lain di Jakarta atau Depok.

Kembali pada situasi dia sekarang. Dia harus bangun, jangan sampai mimpi buruk ini menahannya.

“Baiklah, akan kutendang keras-keras dinding kamar ini agar aku tersadar dan terbangun dari mimpi buruk sialan ini,” umpatnya sambil menatap dinding kamarnya, “semoga dinding ini cukup kuat,” batinnya.

Apa yang terjadi selanjutnya adalah dia tidak berhasil menendang dinding. Alih-alih kakinya menendang dinding dan membuat dia tersentak bangun, malah kakinya terperosok masuk ke dalam dinding beton itu. Dia agak sempoyongan dan tubuhnya hampir terjatuh. Malah tubuhnya bisa menerabas dan lolos begitu saja melewati dinding kamar menuju ruang kamar lain di sebelahnya. Dia serupa angin yang menembus kelambu.

Sejak itu dia tahu dirinya telah mati dan kini menjadi hantu. Ini bukan mimpi inilah kenyataan yang harus dia hadapi. Dia telah menjelma hantu.

Dia menjadi seorang hantu? Kedengarannya agak ganjil menyebutnya seorang. Diksi "orang" hanya tepat dimaknai sebagai manusia yang masih bernyawa. Mungkin lebih tepat menyebutnya sesosok hantu berbentuk perempuan muda yang mengenakan kaus berwarna biru toska dan dibalut celana jins berwarna biru yang sudah belel warnanya.

Meskipun pakaiannya tidak terlalu minim, dadanya yang sedikit menonjol membuat kausnya terenggang ketat. Dia memakai sepatu model sport modern berwarna merah cerah yang semuanya masih menempel sempurna di tubuhnya. Begitulah wujudnya sebagai hantu. Sebentar, dari aroma tubuhnya menguar wewangian parfum yang menyenangkan dari Boss Nuit Pour Femme nan sensual. Parfum yang dia semprotkan pada tubuh dan kausnya sebelum dia menjadi hantu. Dia ingat parfum itu hadiah dari seseorang, tetapi siapa? Dia lupa untuk saat ini.

Dia berpakaian, bersepatu, dan beraroma parfum yang dia kenakan saat dirinya mati, begitu asumsinya. Penasaran, dia melirik melalui celah kaus, dia memakai bra warna apa? Baiklah bra warna hitam berenda kesukaannya. Celana dalam? Sedikit menurunkan ritsleting celana jins dilihatnya celana dalam senada dengan warna bra: hitam, dengan model g-string. Tentu betapa seksinya dia.

Dalam kondisi seperti ini saja–berwujud hantu–dia bersyukur masih mengenakan pakaian yang cukup layak. Bagaimana apabila dia telanjang? Membayangkannya saja membuat dia betul-betul merasa malu. 

Dia pun bersyukur ketika masih hidup secara fisik dia memiliki wajah yang cantik, begitu kata orang-orang. Wajah dengan dagu kecil, pipi yang bercahaya, dan hidung kecil manis yang sedikit melengkung dengan mata besar dan cokelat, warna cokelat yang berkilau hampir keemasan serta bulu mata yang lentik indah. Cantik bukan? Tapi menyedihkan, dia sekarang sesosok hantu. Dia benar-benar ingin menangis.

Sebagai hantu dia baru menyadari wujudnya tidak bisa dengan sengaja menyentuh atau memegang suatu benda apalagi memindahkan benda tersebut. Tapi dia bisa duduk pada bidang padat seperti di atas ranjang, kursi, atau di lantai. Kelak, setelah melalui tahap panjang yang melelahkan dia bisa menyentuh benda, memegangnya, dan memindahkannya. Bahkan dia bisa merasuki tubuh manusia dengan energi tubuh yang lemah.

Para hantu harus mempelajarinya secara serius teknik-teknik memindahkan benda, karena dibutuhkan kemauan, kesabaran, kerja keras, dan stamina yang mumpuni untuk itu. Pada kenyataannya menjadi hantu tidaklah mudah. Dia katakan para hantu karena kelak dia tidak sendirian sebagai hantu.

Hingga kini dia tak tahu, dia pun tak ingat, apakah dia mati saat tertidur atau sesuatu yang lebih menyedihkan penyebabnya. Sesuatu yang lebih mengenaskan menimpanya dan membuat dirinya mati. Lantas sesuatu hal terjadi begitu saja padanya, dia terbangun di ranjang apartemennya seolah-olah sedang bermimpi dan ternyata bukan mimpi. Kondisi ini menegaskan bahwa saat ini dia adalah hantu sejati.

Dia terdiam sejenak, dan berpikir. Langkah berikutnya ialah sebagai hantu dia harus melakukan apa? 


Jakarta, 11-11-2011






___
Penulis

Bamby Cahyadi, lahir di Manado 5 Maret 1970. Ia hanya menulis cerita pendek. Kesehariannya ia bekerja di industri Food and Beverages. Telah menerbitkan empat buku kumpulan cerpen dan sedang menanti kelahiran buku kumcer kelimanya yang berjudul Seminar Mengatasi Keluhan Pelanggan penerbit DIVA Press 2022.











Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com