Senin, 03 Januari 2022

Sosok Inspiratif | Imam Tantowi | Pimred Patron.id




Imam Tantowi, dilahirkan di Pandeglang, 14 Juni 1988. Ia meraih gelar strata satunya di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Ibnu Chaldun, Jakarta tahun 2014.


Adapun riwayat kariernya, Pendamping di BPUN/Ansor Provinsi Banten (2012--2013), Pendamping di Yayasan SDB Kabupaten Serang (2013--2014), Staff FKPT di Provinsi Banten (2014--2015), Sekretaris Desa di Desa Mekarjaya (2015--2016), Tenaga Ahli Pusat di Kemendagri (2016--2017) dan akhirnya menjadi Redaktur di Patron.id (2017--sekarang).


Alhamdulillah Redaksi pun berkesempatan mewawancarai beliau. Yuk, kita simak penjelasannya!



___

1. Apa yang melatarbelakangi Kak Imam menggagas media Patron?


Awalnya saya merasa miris. Sebab kebanyakan orang justru memilih meniti karier menjadi wartawan di perusahaan media tertentu ketimbang mendirikan dan menjadi pemilik perusahaan media hasil gagasannya sendiri.



2. Adakah alasan tertentu kenapa dinamakan Patron?


Alasannya simpel. Namanya terdengar menyenangkan dan juga berasal dari bahasa Yunani.



3. Sejauh ini, media digital tumbuh begitu pesat. Terus apa yang menjadi pembeda atau ciri khas Patron dengan platform media lain?


Tidak ada. Karena semuanya juga berpegang teguh pada UU Pers Nomor 40 Tahun 1999, yang berbeda, mungkin hanya kepemilikannya saja, karena jarang sekali kader Nahdliyin struktur memilih jalan hidup bidang ini meskipun nafasnya jelas seperti yang diteladani oleh sosok Mahbub Djunaidi.



4. Sebagai Pimpinan Redaksi Patron, bagaimana tanggapan Kak Imam dengan perkembangan media digital dewasa ini?


Saya menyambutnya dengan senang melihat semakin hari banyak tumbuh berkembang media digital. Dengan demikian, menurut saya, keberadaannya akan sedikit meminimalisir peredaran informasi hoaks.



5. Apa saja yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan media digital, terutama jurnalisme?


Soal jurnalisme saya kira semuanya punya rumusan yang tidak jauh berbeda, menjaga 5 W + 1 H, menjaga autentisitas narasumber, mengambil angel yang berbeda, tapi lebih jauh dari itu kita diberikan ruang kreativitas melalui rubrik-rubrik kita.



6. Kira-kira, pesan apa yang hendak Kak Imam sampaikan kepada pembaca NGEWIYAK maupun Patron?


Kepada kerabat Patron (pembaca Patron) dan pembaca NGEWIYAK, membaca dan berkarya adalah aktivitas yang sama-sama membutuhkan kerja tenaga, pemikiran dan waktu, tapi dengan itulah insyallah kita hidup akan menjadi tenang.





(Penyaji Pertanyaan, Ray Ammanda)