Selasa, 29 Maret 2022

Proses Kreatif | Kenapa Jadi Ngomongin Fiersa Besari?

Oleh Encep Abdullah



Ada penulis yang mati-matian jualan buku sendiri, tapi tetap tidak laku. Ada penulis yang tidak begitu antusias menjual buku, mau dibeli atau tidak, ia tak peduli. Ada penulis yang memang ia ciptakan pasarnya sendiri dan bukunya laris. Ada juga penulis yang tak tahu-menahu bagaimana teknis dan mekanisme penjualan bukunya, tim marketingnya yang sibuk agar bukunya sampai kepada banyak pembaca, lalu ada yang laku, ada pula yang gagal. Ada juga yang tak diduga, di luar perkiraan.


Penjualan buku Fiersa Besari, misalnya, laris karena sebelumnya orang-orang diakrabkan dengan lagunya yang berjudul "Waktu yang Salah". Yang gokil adalah selama lagu itu berkeliaran di telinga banyak orang dan viral, saat itu Fiersa sedang sibuk mendaki beberapa gunung. Selama beberapa bulan ia menonaktifkan media sosial--ia sedang mengobati luka cinta dari seorang perempuan. Selepas agenda itu, ia pulang ke tanah kelahirannya, Kota Bandung, ia kaget lagunya banyak dinyanyikan orang. Setelah lagunya viral itu, ia menulis buku. Lalu, bukunya masuk rak best seller dalam waktu yang cukup lama.


Ini sebuah keberuntungan. Langka sekali kasus yang dialami macam Fiersa Besari ini. Ia tak menyangka setelah turun gunung ia mendadak jadi artis. 


Saya tidak mau berdebat masalah kualitas tulisan Fiersa Besari ya. Silakan itu urusan Saudara mau baca atau tidak. Sesama musisi, saya pernah bermimpi, kesuksesan saya bisa seperti itu. Sukses di bidang musik. Juga di bidang menulis. Mau mana dulu yang mengantarkan saya jadi selebriti, itu tak penting. Namun, tentu saja kekurangan saya sangat banyak dibandingkan dengan Fiersa. 


Selain musisi dan penulis buku, ia dikenal jago bikin quotes di media sosial dan banyak kata-katanya dibagikan orang. Ia juga anak gunung. Beberapa perjalanannya menaiki gunung ia posting di media sosialnya. Banyak orang kepo, ingin tahu bagaimana tutorial naik gunung, ingin tahu informasi tentang lokasi tersebut. Tentu, ia punya banyak wujud: anak gunung, musisi, konten kreator, penulis. Satu orang saja suka pada satu wujudnya, bisa mengantarkan orang itu menuju wujud Fiersa yang lain. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.


Saya pribadi lebih senang mengikuti proses kreatifnya bermusik, kesederhanaannya hidup, dan belajar bagaimana percaya diri berbicara di depan kamera. Satu-dua hal bisa saya tiru. Namun, untuk jadi Fiersa berat rasanya. Saya tidak bisa mengikuti seorang Fiersa dan segala keberuntungannya itu. Meskipun saya juga tahu, ia tidak akan bisa mengikuti seorang Encep dan segala keberuntungannya.


Proses hidup saya adalah proses Encep. Namun, yang saya ambil sesuatu dari Fiersa adalah intensitasnya berkarya, baik menulis, bermusik, maupun membuat konten. Tentu semuanya yang saya lihat, ia lakukan dengan totalitas, meski kadang sesuatu yang ia punyai terbatas dan ala kadarnya. 


Tugas saya sebagai penulis tentu saja harus terus ...


Tugas saya sebagai penulis saat ini ingin fokus belajar salat dengan benar, salat dengan khusyuk, belajar iqro lagi sama anak saya. Soal berkarya dan segala keberuntungan, saya serahkan kepada Allah Swt.


Hanya itu yang dapat saya sampaikan.


Billahi taufiq walhidayah, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Kiara, 29 Maret 2022


________

Penulis

Encep Abdullah, penulis yang maksa bikin kolom ini khusus untuknya ngecaprak. Sebagai Dewan Redaksi, ia butuh tempat curhat yang layak, tak cukup hanya bercerita kepada rumput yang bergoyang atau kepada jaring laba-laba di kamar mandinya.