Selasa, 22 Maret 2022

Proses Kreatif | Kok, Cowok Suka Nulis Puisi

 Oleh Encep Abdullah



"Pak, saya nggak suka bikin puisi. Kan kebanyakan anak perempuan yang suka puisi dan nulis puisi."


Ini pertama kali saya mendengar pernyataan dari seorang murid laki-laki. Saya mendadak bertanya dalam hati, "Loh, kok bisa begitu?"


Sependek pengalaman saya menjadi seorang tenaga pengajar, ada benarnya yang dia katakan. Saya sering mengajak murid laki-laki lomba menulis. Di ruang itu dia sering terlihat paling tampan. Karena hanya dia satu-satunya lelaki dari hampir 30-40 peserta.


Bagi sebagian orang (awam), mungkin lelaki yang menulis puisi itu lelaki yang "gelay" dan dianggap "cowok apakah" ih "jijay". Saya mencoba kembali ke masa sekolah. Tak usah puisi, kita ibaratkan menulis umum, buku diary, misalnya, yang dijual di "pedagang kelontong" zaman saya kecil, kebanyakan dijual buat cewek. Ada gemboknya segede gembok kapal. Kalau kuncinya hilang, nangis. 


Zaman sekolah, saya menulis diary di komputer. Jujur, saya malu sendiri kalau nulis di buku (kalau di buku seringnya corat-coret lagu Peterpan). Di komputer pun sembunyi-sembunyi, tidak mau terlihat lagi nulis sama orang tua. Kok, saat saya nulis, saya merasa seperti cewek, suka curhat-curhat begituan. Pokoknya fix merasa seperti itu karena kebanyakan cewek yang punya diary. Nah, setelah saya mengingat itu, apa yang disampaikan murid saya itu, mungkin sama dengan apa yang pernah saya rasakan waktu itu. Maka, saya tak menyalahkannya.


Zaman kuliah, pikiran tentang cewek bahwa ia suka sekali dengan puisi, ternyata saya menemukan titik yang tidak relevan. Saya pernah beberapa kali ngirim puisi ke si doi, namun tak pernah direspons. Saya punya teman, lalu dia bilang begini, "Jangan samakan semua perempuan seperti apa yang kamu lakukan kepada perempuan lain. Bisa jadi cewek yang ini lebih suka dikasih martabak daripada puisi. Makanya dia tidak pernah membalas puisimu". Makjleb!


Pikiran saya selama ini berubah. Dulu saya mengira semua perempuan itu suka puisi. Ternyata no. Dulu saya mengira laki-laki punya diary itu aneh, laki-laki yang nulis puisi itu baperan. Ternyata juga no. Saya sudah mulai PD punya diary, saya ceritakan kepada teman-teman. Tapi, bukan buku diary berkover Hello Kitty ya. Saya menulis di komputer dan ber-password. Sejak belasan tahun lalu, kata sandi masih sama. Namun, isinya tidak pernah saya tambah karena sudah berubah cara berpikir. Saya anggap sudah selesai. Dokumen itu jejak sejarah awal-awal saya suka menulis, jadi saya jadikan artefak hidup saja. Kalau rindu, saya tengok lagi.


Walaupun katanya perempuan suka menulis diary, belum tentu tulisannya berkualitas. Pengalaman saya mengajar 10 tahun lebih, setiap kali membukukan karya anak-anak, dada saya malah bergetar karena goresan tangan murid laki-laki. Ada beberapa nama yang punya potensi menulis sesuatu yang puitis dan filosofis: Umar, Amir, Abdullah, Rustoni, Alif, Ayub, Riswanda, Bani. 


Mereka menulis di luar kewajaran rekan yang lain. Zaman sekolah, saya masih menulis sesuatu yang "receh", sedangkan beberapa nama di atas itu menulis sesuatu yang bisa jadi 20 tahun kemudian untuk saya bisa seperti mereka.


Saya selalu bertanya "Apa yang kamu baca sehingga bisa menulis di luar kewajaran teman seusiamu?" Mereka jawab "Bacaan." Nah, wajar saya tidak bisa menulis, wong bacaan saya nol zaman sekolah itu. Baca sih baca tapi, tidak seserius mereka. Baru ada rangsangan-rangsangan sedikit dari buku-buku orang tua.


Beberapa hari yang lalu, saya cukup terperanga membaca tulisan Bani, anak murid saya yang kini sudah kelas 3 SMA. Saya mengajarnya bertahun-tahun, tapi saya baru tahu kalau dia punya bakat menulis yang indah. Saya menyesal baru tahu dia seperti ini di ujung waktu yang sebentar lagi akan berakhir. Dia salah satu murid yang jarang ada di kelas. Jarang mengerjakan tugas saya. Saat menulis cerita untuk buku akhir sekolah, mata saya berkaca-kaca. Seandainya dia ikut ekskul menulis dengan saya, banyak langkah agar dia bisa menjadi penulis hebat di usianya yang belia. Namun, saya tidak bisa berbuat apa-apa, selain memanjatkan doa, memanjatkan kata-kata. Saya ucapkan di hadapannya, di hadapan kawan-kawannya.


"Kelak kamu akan menjadi orang besar!"


Kata-kata itu muncul spontan dari bibir saya, bukan untuk menjatuhkan yang lain atau tidak mendoakan yang lainnya. Namun, sebagai bentuk rasa kagum saya kepada seorang lelaki muda yang menulis di luar batas kewajarannya, penuh hikmah, indah, puitis, filosofis. Mungkin Anda penasaran tulisannya sepeti apa, cukup saya yang tahu.


Nah, sampai di sini sudah jelas. Menulis puisi atau apa pun itu, punya buku diary bergembok atau apa pun itu, laki-laki sama seperti perempuan, ia butuh banyak cerita tentang kehidupan, tentang gejala dan hikmah yang ada di dalam semak belukarnya. Bahkan, sebagian besar penyair kenamaan kita adalah seorang lelaki: Rendra, Chairil, Sapardi, Sutardji, Wiji Thukul.


Kiara, 22 Maret 2022


______

Penulis

Encep Abdullah, penulis yang maksa bikin kolom ini khusus untuknya ngecaprak. Sebagai Dewan Redaksi, ia butuh tempat curhat yang layak, tak cukup hanya bercerita kepada rumput yang bergoyang atau kepada jaring laba-laba di kamar mandinya.