Jumat, 01 April 2022

Cerpen Ade Mulyono | Wulan

 Cerpen Ade Mulyono



Pesta pernikahan Edi dan Wulan berlangsung cukup meriah untuk ukuran orang kampung. Para anak muda yang haus tontonan dan hiburan berbondong-bondong menyaksikan organ tunggal di halaman rumah orang tua Edi malam itu. Goyangan cabul dari biduan-biduan seksi berhasil menghipnotis kawula muda yang asyik berjoget dengan melambaikan tangan di atas seperti orang tenggelam di sungai.


Di atas panggung dangdut, sebelum tergoda ikut menyawer biduan-biduan seksi, Edi memberi sambutan dengan penuh percaya diri.


“Aku berjanji tahun depan akan mengundang biduan top dari Jakarta. Asal syaratnya satu, pemilihan bupati periode yang akan datang jangan lupa memilihku. Setuju?”


“Setuju,” jawab warga berjamaah penuh semangat. Mereka tidak peduli apakah ucapan itu benar adanya atau hanya lelucon belaka. Mereka hanya butuh hiburan dan goyangan maut dari biduan-biduan dangdut. Entakkan musik kemudian menggema. Tua-muda kembali  berjoget dan bernyanyi ria mengikuti lirik lagu mesum yang sangat nikmat jika dinyanyikan sambil menggoyangkan pinggulnya: josss.


Edi bisa dikatakan seorang pengusaha yang sukses di Kota Jakarta. Kejayaan hidupnya yang gemilang berhasil melambungkan namanya di kampung halamannya. Alasan tunggal itulah yang membuat orang tua Wulan girang alang kepalang saat Edi menikahi anak gadisnya. Orang tua Wulan tidak peduli meski anak gadisnya belum genap berusia 18 tahun akan bersanding dengan lelaki berusia dua kali lipat dari usia anaknya.


Sementara di ranjang pengantin Wulan sedang menangis memamah kepedihan hatinya. Sambil tersedu-sedu ia menyesali kekhilafannya beberapa bulan yang lalu. Wulan tak habis pikir kenapa Edi memaksa dirinya dengan rayuan tipu muslihat yang terbilang cukup ampuh untuk meyakinkan hati perempuan: mengumbar kata cinta dan berjanji akan menikahinya. Padahal, sebagai seorang yang hidup di kota, berpendidikan pula, seharusnya Edi menikahi seorang perempuan yang setara—duduk sama rendahnya dan berdiri sama tingginya. Tapi Wulan lupa: nafsu bertakhta di atas segala. Kejadian malam itu dirinya tidak berdaya: menyerah tanpa ada perlawanan. 


“Kau cantik sekali, setiap kali aku memandang wajahmu seakan-akan segala keindahan yang ada di langit telah turun ke bumi bersamaan dengan turunnya hujan malam ini,” kata-kata itu meluncur deras dari bibir Edi sebelum memetik bibir Wulan yang merah bata.


“Kau bagai bidadari yang diturunkan ke bumi untuk menguji iman seorang lelaki, Wulan. Aku berjanji akan bertanggung jawab,” bisiknya lagi ke telinga Wulan sambil menelan air ludahnya.


Begitulah bujuk rayu Edi yang tidak bisa menahan gejolak dadanya saat melihat bagian tubuh Wulan yang putih terang sempurna sebentuk bulan purnama. Dalam kuasa keperkasaan otot lelaki, Wulan pasrah membiarkan tubuhnya menahan beban 85 kg berat tubuh Edi, yang dengan leluasa mengibarkan panji-panji kejantanannya. Kejadian itu berlangsung ketika Wulan sedang melakukan pekerjaan rutinnya: merapikan kamar Edi.


Biasanya Edi pulang larut malam. Tapi waktu itu, Edi sudah tiba di kamarnya persis setelah azan Isa berkumandang. Mula-mula Edi menatap Wulan seperti singa lapar melihat domba. Dengan langkah sempoyongan setelah menghabiskan setengah botol vodka dalam sekali tenggak, Edi berhasil meringkus tubuh Wulan yang mungil dan melemparkannya ke atas kasur. Persis seperti melempar bantal guling.


***

Satu tahun telah berlalu dengan lambat seperti jalannya keong. Wulan masih merawat ingatan malam itu yang membuat matanya bengkak dihantam tangis berulang kali. Perasaan bersalah, jengkel, penyesalan, dan marah telah mengaduk-aduk hatinya. Tapi tidak ada yang bisa dilakukan selain berdamai dengan keadaan.


Kini angin kehidupan telah berembus. Angin sepoi-sepoi yang dulu meninabobokan masa remajanya yang diliputi bahagia bertabur bunga, sekarang telah berganti menjadi amuk badai. Setelah menikah dengan Edi, bukan hanya masa remajanya yang direnggut, melainkan juga kebahagiaannya yang berangsur padam.


Setelah menyandang gelar istri, seiring bergulirnya waktu akhirnya Wulan sadar, bahwa kehormatan perempuan tidak terletak pada kulitnya yang putih nan mulus. Bukan pada buah dadanya yang besar seperti semangka. Juga bukan pada tubuhnya yang langsing, melainkan pada pikirannya yang modern dalam memandang haluan hidup. Supaya dapat memperoleh kebahagiaannya sendiri tanpa perlu mengemis di bawah kuasa kaki seorang lelaki yang disebut suami.


Malam itu baru saja Wulan kena marah oleh suaminya. “Kenapa kamu bodoh sekali. Pembicaraan politik semacam ini pun tidak tahu. Itu sebabnya aku malu memperkenalkanmu pada kolegaku,” bentak Edi sebelum melampiaskan kemarahannya dengan melucuti pakaian istrinya itu.


Setelah selesai melampiaskan kemarahannya, Edi duduk di sofa. Menyalakan sebatang Malboro merah kesukaannya. Kemudian menyandarkan kepalanya dan mulai mengingat-ingat riwayat pendidikan istrinya, maka bertambah remuk saja hati Edi seperti membanting tubuhnya sendiri ke lantai sekeras-kerasnya.


“Apa jadinya jika kolegaku tahu jika istriku tidak mempunyai ijazah,” pikir Edi sambil menyemburkan asap rokok ke langit atap kamarnya.


Edi mulai menyesali perbuatannya dulu saat menggagahi tubuh anak bau kencur yang kepandaiannya hanya beberes rumah sambil menunggu gajian. Akibat dari perbuatan yang menuruti kemaluannya ia akan menjadi seorang ayah. Wulan hamil. Tidak ada cara lain yang harus ditempuh selain menikahinya. Dengan begitu namanya tetap suci dan wangi. Mengingat ia berhasrat maju sebagai calon bupati di daerahnya. Menurutnya itu penting sebagai modal politik. Citra harus dikemas supaya tidak ada cacat di masyarakat.


Sepanjang malam itu, Edi mulai membandingkan Wulan dengan Elsi—perempuan yang menjadi selingkuhannya selama enam bulan ini. Bagi Edi kedua perempuan itu ibarat Corie dan Rapiah dalam cerita roman Abdoel Moeis, yang pernah dibacanya sewaktu remaja. Dengan alasan apa pun Edi lebih mencintai dan menginginkan hidup berdampingan dengan Elsi. Perempuan muda, lincah, dan berwawasan luas yang menyandang gelar sarjana ekonomi telah memenjarakan hatinya.


“Ah, andai saja Wulan tak bunting, mungkin nasibku jauh lebih bahagia daripada hidup bersama perempuan kampung!” gerutu hati Edi sambil menyemburkan asap rokok ke arah Wulan yang bersembunyi di balik selimut.


***

Usia pernikahan Edi dan Wulan telah memasuki tahun ke dua. Tetapi kebahagiaan rumah tangga keduanya bagai panggang jauh dari api. Secuil pun kebahagiaan tidak tampak baik pada wajah Edi maupun air muka Wulan saat keduanya berada di rumah. Itu sebabnya Edi lebih suka mencari sumber kebahagiaan di rumah perempuan selingkuhannya. Tidak sehari dua hari Edi meninggalkan Wulan, malahan pernah seminggu penuh Edi tidak menginjakkan kakinya ke rumah. Wulan sebaliknya, sangat bahagia jika Edi tidak berada di rumah.


“Sial. Seharusnya kamu tidak usah pulang,” kata Wulan dengan napas yang naik turun saat mendengar klakson mobil milik Edi sore itu. Dengan gerakan cepat Wulan bangkit dari tempat tidurnya dan langsung mengenakan pakaiannya yang tercecer di lantai. Segera saja Wulan melayangkan pandangannya dari balik hordeng. Benar saja Edi telah pulang. Wulan menyaksikan sendiri saat satpam penjaga rumah tergopoh-gopoh setengah berlari sambil mengancing seragam kerjanya ketika membukakan gerbang pintu untuk majikannya.


“Kenapa lama sekali,” bentak Edi kepada pegawainya itu.


Kemudian dengan langkah cepat Wulan menghampiri pramusiwinya. Di hadapan wajah pegawainya Wulan mengepalkan telapak tangannya sambil mendelik.


“Apa kabarmu, Mas?” sapa Wulan dengan senyum mengembang usai merapikan tempat tidurnya.


“Baik. Cantik sekali kamu hari ini. Oh, ya, besok aku keluar kota ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Mungkin empat hari tidak pulang.”


Betapa girangnya Wulan mendengar kabar itu. “Sebulan pun tak apa kamu tidak pulang,” balas Wulan dalam hati.


***


Malam itu sesudah makan malam seperti biasa sepasang suami istri itu sibuk dengan dunianya masing-masing. Kebisuan di antara keduanya tidak berlangsung lama. Tepat pukul 10 malam, Edi menghampiri Wulan dan menarik lengannya. Padahal Wulan sedang khusuk meninabobokan anaknya.


“Bi, tidurkan Raka, ya,” kata Wulan memberi komando pada pramusiwinya.


Setelah masuk kamar tepatnya di atas ranjang tidurnya, Edi dan Wulan seperti kesurupan. Keduanya bergumul layaknya sepasang kekasih yang sudah berbulan-bulan tidak bertemu. Keduanya sama-sama ingin memperlihatkan permainan terbaiknya.


Edi berulang kali memagut bibir Wulan sambil membayangkan perempuan yang sedang dalam kuasa pelukannya itu ialah Elsi. “Kamu cantik sekali, El,” ujar Edi dalam hati. “Sungguh aku tak sabar menunggu hari esok. Aku suka sekali bagian atas tubuhmu yang barusan kamu kirim ke WhatsApp-ku. Aku merindukanmu sayang,” ujarnya lagi dalam hati.


“Andai saja kamu tidak pulang Mas, tentu malam ini aku akan kembali menyerahkan tubuhku untuk seseorang yang kucintai seperti malam kemarin,” bisik Wulan dalam hatinya sambil membayangkan wajah  suaminya ialah wajah Andi.


Setelah pergumulan yang meletihkan, setelah Wulan selesai mengerami tubuh suaminya, ia membalikkan badannya. Seketika itu juga Wulan memejamkan matanya sambil merenungi apa yang baru saja terjadi. Pikirannya mulai gentayangan. Wulan kembali mengais-ngais masa remajanya yang cemerlang. Kisah cintanya bersama Andi yang dipertemukan atas dasar persamaan nasib telah melekat dalam hatinya. Cukup lama keduanya menjalin cinta hingga keduanya sama-sama bekerja di rumah Edi: Wulan sebagai pembantu, sementara Andi menjadi satpam.


“Andai saja dulu kita menolak tawaran Ibu Edi untuk bekerja di rumah yang baru dibangunnya di Jakarta, mungkin kita sudah hidup sebagai sepasang suami istri. Maafkan aku telah mengkhianati cintamu yang tulus. Betapa tegarnya hatimu Mas telah merelakanku kawin dengan Edi setelah aku dinodai olehnya. Untuk menebus kesalahanku setiap Edi tidak di rumah aku menuruti permintaanmu seperti yang kita lakukan tadi sore,” kata Wulan dalam hatinya. Tanpa disadari air matanya tumpah menyeberangi pipinya.


“Apakah sebaiknya aku kawin lari saja. Mungkinkah ini bukan ranjang pengantin terakhirku,” pikir Wulan.



_________

Biodata Penulis

Ade Mulyono, lahir di Tegal. Tulisan dimuat di sejumlah media. Penulis buku Lautan Cinta Tak Bertepi (2018), Dehumanisasi Pendidikan (2021), Namaku Bunga (2022). 




Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com