Jumat, 15 April 2022

Puisi-Puisi Maulidan Rahman Siregar

 Puisi Maulidan Rahman Siregar




Aku Mencintaimu Tapi Aku Masih Miskin


Tidak pernah terbayangkan sebelumnya

bahwa aku akan menjadi sadboy

dan hidup dalam tahun-tahun panjang

dengan cara mencintaimu setiap detik

sambil terus istiqomah bekerja

memasak sajak dan menikam waktu

yang kemudian jadi namamu


cinta padamu jualah yang membuatku

kurang tidur & kurang makan

cinta padamu jualah yang menyelamatkan


pada setiap perjuangan ini

Tuhan sepertinya sedang piknik, cintaku

tapi yakinku, doaku selalu menuju


dalam sesak separah ini

apakah masih boleh aku meminta 

kepulanganmu, kekasih?


sungguh, dalam gigil sesakit ini

berkelumit segala di luar tubuhku


dalam apa pun, sungguh

aku selalu melihat dirimu


menyalib tubuh miskinku


2021



Aku Sayang Kamu Tapi Kau Sudah Meninggal


Ke pusar waktu

kuhantam-hantam seluruhku

hingga yang tersisa hanya

sekelumit mau

aku adalah keping -keping peluru

diremuk sesuatu yang kemudian lalu

tinggal kau kokang saja itu senjata

arahkan tepat ke bagian muka

hingga aku jadi tinggal nama

tapi aku tidak akan mati

tak pernah ingin mati

sebab seluruhku adalah waktu

sekeping datang sekeping lalu

dan berhitunglah hingga hitungan ketiga

aku sudah muncul dalam tiada

dan menjadi kamu

menjadi waktu

menjadi apa yang kau sebut ingatan

menjadi kekal

menjadi lampu malammu


2021



Orang Mati


Orang mati,

lagi,

hari ini

lalu-lalang di beranda

seperti angin tua

orang mati,

lagi,

hari ini

dan jutaan stiker

emoticon dan seikat sajak

mengiringi kepergiannya

orang mati,

lagi,

hari ini

dan lampu tidurmu

masih terang menyala

akhir-akhir ini

pagi memang makin jarang

kelihatan

dan kau tarik lagi selimutmu

dan kau bunuh lagi segala

yang kau mau

orang mati,

lagi,

hari ini

dan jenazahnya memanggil

namamu

lekas-lekas kau menutup kuping

lekas-lekas kau sembunyi

ke dalam seribu tahun ketakutanmu


2021



Sedih Sekali Rasanya


Kematian datang bersama orang yang tak kukenal, ayah dan ibu sudah selesai duluan

bilik ini, ruangan sempit ini, sedih sekali rasanya

di sampingku seseorang sudah selesai duluan

handphone sialan ini berbunyi

untuk urusan apa lagi?

aku sudah tak merasakan apa-apa lagi saat tubuhku digotong,

tapi yang menyenangkan: tak ada tangis

aku tak didatangi oleh orang-orang yang tak kukenal, selain mereka yang menggotongku ini

sudah pukul berapa ini

ambulans kenapa belum datang?

sayup, komunikasi itu terbuai di udara

di ujung jauh, masih ada suara tivi yang berisik

orang merokok dekat tulisan dilarang merokok

dan seorang satpam yang panik -ia sudah ingin pulang-

ambulans datang

bunyinya sudah hilang duluan

tubuhku dimasukkan ke dalam

ada beberapa yang ikut serta

sebagian lagi, tinggal

di dalam bangsal sialan itu, masih ada 1-2 yang tak dapat oksigen

"sudah ada kabar dari keluarga?"

"dia anggota keluarga terakhir, ..."

hanya angin dan bunyi napas orang yang tak kukenal di sampingku, seingatku, tak ada yang menuntunku mengucap syahadat, tak apa

ambulans sialan ini musiknya juga tak ada

"ayolah, aku butuh lagu untuk menemaniku menuju tiada, jazz atau dreampop mungkin..." mereka rasanya tiada mendengar

tanah sudah dilubangi seukuran tubuhku sesampainya ambulans di pemakaman, benar-benar seukuran tubuhku,

"ayo cepat turunkan, kita harus cepat balik lagi menuju rumah sakit, di sana masih banyak yang membutuhkan kita..."

"tapi ini mayat tidak mau dikuburkan, om. badannya memberat, tak bisa digerakkan."

lalu aku mendengar bunyi doa, dalam sekali doanya...

tubuhku dikubur di samping liang kubur yang sudah diberi kode kalau akan ada yang dimasukkan lagi setelah ini, aku sedih tapi untuk apa

2021



_________

Penulis

Maulidan Rahman Siregar, lahir di Padang, 3 Februari 1991. Bekerja dan menetap di Padangpariaman. Puisinya tersebar di beberapa media, massa. Buku puisinya yang telah terbit, Tuhan Tidak Tidur Atas Doa Hamba-Nya yang Begadang dan Menyembah Lampu Jalan.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com