Selasa, 07 Juni 2022

Proses Kreatif | Ngoceh ISBN Lagi

 Oleh Encep Abdullah



Saat ada kabar bahwa ISBN limited edition itu, saya memang mengelus dada, menarik nafas dalam-dalam. Ini saya katakan untuk kedua kalinya. Jadi begini, ada kawan/klien yang ngotot, pokoknya bukunya kudu ber-ISBN. Saya hanya bisa menyampaikan apa yang sudah menjadi "ketentuan" Perpusnas (yang pernah ditulis oleh Pak Bambang Trim) terkait buku-buku yang berhak mendapatkan ISBN itu. Namun, beberapa orang berpikir ulang, "Ngapain gue nerbitin tanpa ISBN". Padahal informasi yang saya berikan sangat jelas. Dan, saya yakin mereka masih bingung karena mungkin mereka baru tahu atau memang tidak tahu atau malah tidak mau tahu--bagi yang belum tahu silakan cari tahu sendiri. Boleh juga baca tulisan saya sebelum ini.


Sebenarnya saya cukup kaget dengan postingan kawan di FB. Kok bisa dia segampang itu menerbitkan buku ber-ISBN, malah dia berencana bikin antologi puisi. Saya baca ulang lagi terkait penerbitan buku keroyokan macam itu. Ada banyak pertanyaan di kepala saya. Kok bisa dia mudah mendapatkan ISBN, padahal buku antologi puisi merupakan salah satu yang katanya cukup susah untuk mendapatkan itu. Jangankan keroyokan, buku kumpulan karya sendiri saja sulit untuk dapat ISBN. 


Saya sedikit berprasangka begini dan begitu. Pertama, kawan saya itu bisa jadi dekat dengan orang dalam, maka bisa dipermudah--padahal baru kemarin penerbitnya berdiri. Kedua, dia memang cetak banyak bahkan hingga ribuan layaknya penerbit mayor (tapi dari mana Perpunas tahu kalau penerbit cetak segini dan segitu? Dari medsos?). Ketiga, penerbitnya punya website khusus. Keempat, nama penerbitnya tidak berbau komunitas (kenapa penerbit saya sulit mendapatkan ISBN, bisa jadi karena nama penerbit saya berbau komunitas, yang katanya ISBN tidak akan keluar untuk buku-buku komunitas yang dicetak terbatas, padahal tidak semua buku yang dicetak itu dari komunitas saya, wong kebanyakan dari luar). Kelima, qadarullah, yowis kalau memang itu kehendak Tuhan.


Kalau Anda ingin mencetak buku dan ngotot ber-ISBN, tapi buku Anda itu tidak masuk kategori yang di-ISBN-kan, saya sarankan pindah ke penerbit sebelah itu, nanti saya kirim nomornya. Saya yakin Anda akan diminta cetak banyak. Siap-siap modal yang gede. Kalau Anda punya uang sedikit dan cuma cetak beberapa biji, dan ngotot mau dapat ISBN, mungkin pikiran Anda perlu dijernihkan. Sudah cetak sedikit, banyak komplen pula. Haha ... Banyak yang begitu. Serius. Tapi, saya tidak sejahat itu, insyaallah dilayani dengan baik, kalau perlakuan Anda juga baik dan sopan. Ada juga yang sopan, tapi dusun. Banyak gaya pengin cetak ribuan. Eh, sudah dapat ISBN, batal cetak. Ngilang lagi orangnya. Ya, sudahlah, mungkin belum rezeki. Saya doakan orang itu sukses dan kaya.


Setiap buku, kami daftarkan sesuai prosedur. Bila memang Perpusnas tidak mengeluarkan, ya mau apa. Kepada Anda-Anda yang masih ngotot terus pengin naik pangkat/jabatan dengan pakai jurus ISBN ini, monggo ke penerbit sebelah atau datangi penerbit-penerbit besar atau yang bisa memublikasikan bukumu itu dengan luas. Cari segala cara agar Anda bisa mendapatkan banyak kepuasan. Dengan modal yang besar, tentu hasilnya lebih memuaskan buat Anda. Kadang yang paling menyebalkan sebaliknya, modal kagak ada, tulisan kagak bagus-bagus amat, cetak cuma dua biji, mulut ngebacot terus, buku pengin cepet jadi, dikasih info terkait ISBN yang limited edition ikut sewot. Duh! Saya tidak memaksakan kalau memang tidak mau diterbitkan. Makanya, sejak awal sudah terbuka terkait ini.


Bagi saya perubahan sistem ini lumayan membuat "bingung" karena saya perlu menjelaskan detail agar orang-orang paham, agar orang-orang tak kemaruk dan "gila" ISBN. Tugas saya hanya memberi info sekadarnya. Saya selalu percaya, ada Allah yang bisa mengetuk pikiran dan hati mereka biar paham.


Bagi Anda yang mau menerbitkan buku di penerbit #Komentar, tetap kami gunakan prosedur untuk didaftarkan ke Perpusnas, siapa tahu Anda beruntung dapat nomor ISBN. Kalau sampai satu-dua minggu tak kunjung nongol, yowis. Solusinya kami gunakan QRCBN (pengganti barcode ISBN) dan itu hanya aplikasi pembaca identitas isi buku, bukan aplikasi resmi dari Perpusnas dan tidak ada hubungannya dengan Perpusnas.


Untuk beberapa contoh kover original dan berbarcode QRCBN bisa dicek sampuloriginalkomentar.blogspot.com. Untuk publikasi identitas dan penjualan buku bisa dicek komentarkomunitas.blogspot.com atau laman FB Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa. 


Kami membantu apa yang bisa kami bantu meskipun dengan segala keterbatasan kami dan juga tentu sesuai dompet Anda. Berkarya tak harus dihalangi dengan urusan ISBN. Buku tanpa ISBN bukan berarti ilegal. ISBN hanya nol sekian persen penambah imun saja untuk terus berkarya. Selebihnya penambah imun itu adalah iman yang aman. Itu ada dalam diri Anda. Amin. 


Kiara, 7 Juni 2022


_____

Penulis


Encep Abdullah, penulis yang maksa bikin kolom ini khusus untuknya ngecaprak. Sebagai Dewan Redaksi, ia butuh tempat curhat yang layak, tak cukup hanya bercerita kepada rumput yang bergoyang atau kepada jaring laba-laba di kamar mandinya. Buku kolom proses kreatifnya yang sudah terbit Buku Tanpa Endors dan Kata Pengantar (#Komentar, April 2022, ber-ISBN dong!).