Jumat, 18 November 2022

Puisi-Puisi Raudhotul Jannah

Puisi Raudhotul Jannah

 



Yang Kita Punya Hanya Sepotong Senja


Barangkali yang kita punya 

hanya sepotong senja

yang dipinjami Tuhan  

– sebab iba pada orasi kita.

Dibawanya alunan malam

sendu-merdu, melenakan.


Sayu-sayup kita lupa

kita di sini untuk apa? Kita lupa

pada jiwa muda

yang menjadikan kita api

yang siap membakar pagar besi,

pada tetes keringat

yang masih menggenang di ketiak

yang sesak terimpit kanan kiri,

pada megafon kerontang

kehabisan suara, kehilangan kata-kata,

dan pada gedung setengah jadi 

di pelupuk mata.


Malam semakin merdu. 

Semburat jingga mengajakku berdansa,

“ah, apa aku harus pulang?”, 

meninggalkan kerumunan, duduk tenang

menyantap semangkuk esai

kurang garam – kurang matang

yang besok harus dikumpulkan?

Tapi, aku ingat lagi aku di sini untuk apa.


Barangkali yang kita punya

hanya sepotong senja 

– bukan gedung indah yang megah.

Cukup sepotong seelok senja

yang dilukis Tuhan

agar kita tak melupa

bahwa ia juga punya seruan.


Ciwaru, 9 November 2022


Di Kota Rindu


Di taman rasa kota hatiku

Rinduku masih berbunga meski telah hilang aroma, 

meski kelopaknya hilang warna. Tangkainya masih berdaun 

meski tak lagi tangkas, meski tak lagi rimbun.


Di kota rasa taman hatiku

Rindumu mulai berdebu. Butiran tebal berwarna abu-abu 

turun dengan deras merayumu. Meski begitu, 

kau tetap meracau merindukanku disela batuk-batukmu. 


Sangkala, bisakah kupinjam kamu? 

sebelum warna tamanku jadi kehilangan warna

digilas deru asap cerobong tinggi, menyisakan abu-abu di mata

dan kenangan kita sewaktu muda


Sangkala, sore nanti pinjami aku. Akan kusiram bunga rinduku 

yang layu, kurawat rindumu yang sakit paru-paru. 

Kini taman kenangku tak lagi ada di kotaku. 

Hanya ada bunga dihujani debu. Rasa dibasahi rindu. 


Cilegon, 9 Juni 2022



Sesiut Angin Senja


Di keharuman rambut yang memutih

akan tersisakah cintamu? 


Pada kelesapan jiwa, ketukan sunyi

akan seluas apakah gugusan rindumu? 


Ah, Tuhan

Pada kelopak-kelopak raga yang tertanggal

akankah dosa-dosa tertinggal? 


Serang, 10 Agustus 2021



________

Penulis


Raudhotul Jannah, perempuan yang akrab dipanggil Rara ini sedang berkuliah di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Rara lahir di Cilegon, 3 Januari 2002. Beralamat di Jl. Sunan Kudus, Link. Ciluit, Kel. Deringo, Kec. Citangkil, Kota Cilegon, Banten. Aktif berkegiatan di Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia (HMJ PBI) dan UKM Bengkel Menulis dan Sastra (Belistra) FKIP Untirta.

  

Kirim karya ke

redaksingewiyak@gmail.com