Friday, December 29, 2023

Cerpen Santama | Bruk, Kebiasaan Sinting, dan Dongeng Pendek

Cerpen Santama



Pernahkah tubuhmu, dalam serangan ganas angin dini hari pada musim pancaroba, di beranda, menggelegak panas dan, bersamaan dengan itu, kepalamu terasa runyam dan luar biasa gatal sehingga, dalam khayalan ganjil yang hanya bakal timbul di diri seorang yang kena tindas, lima detik berikutnya kau merasa akan meledak laksana mercon? Di saat-saat yang kurang beruntung itu, sambil terkatung-katung antara pasrah dan memberontak, kau juga akan membayangkan dirimu dan kawan-kawanmu  yang malang seperti biji-biji jagung siap meletup di bawah tutup panci. 


Petaka itu, yang tak kurang jahanamnya dengan tak sengaja melumat bisul di pantat kekasih, kemungkinan besar, akan tak terjadi bila kau tak punya kawan yang besar mulut dan banyak omong atau, mungkin lebih sesuai dan sedap didengar, punya kebiasaan sinting. Sial sekali Kobong memiliki kawan yang demikian. Penyebabnya adalah, selain tabiat Bruk sulit sekali dihentikan, ocehannya seolah datang dari seorang tua bangka yang kesurupan setan edan. 


Berani sumpah, dengan nafsu yang sulit dikendalikan, di beberapa kesempatan Kobong nyaris memitingnya, mencegah setan edan dalam diri Bruk mengacau terlalu jauh, mencegah tubuh Kobong dan kawan-kawan meledak, atau cekikan tali gantungan, tetapi Tangan Kemanusiaan menahan ide agak brutalnya itu, terlebih Bruk adalah, dan inilah pemicu kondisi dilematis sialan yang berkepanjangan, sumber kelimpahan tongkrongan mereka.


Tentu siksaan itu mudah saja ditepis, seperti menghalau seekor lalat, bahkan tak usah dihiraukan sama sekali, mereka bukan hanya tahu namun bisa dengan enteng melakukannya, masalahnya adalah ada maklumat gawat dari Bruk yang membuat mereka sukar berkutik. Jika seorang saja kedapatan tengah menyumbat liang kuping pada saat ia (kata Bruk) "tengah memberi kuliah", atau "mempertontonkan secara implisit ekspresi mengolokku", terlebih melengos lalu kabur seolah "kena cepirit", Beruk akan dengan legawa "mencabut subsidi rutin atas dua bungkus Surya16, sebotol Anggur Merah di malam Minggu, dan tiga sachet Kapal Api". Dalam cara yang cerdik sekaligus licik, Bruk, dengan sangat telak, menyentuh sisi terlemah mereka dan, sesuai harapannya, menang atas mereka. Boleh jadi, ia, dengan alasan-alasan konyol yang rahasia, berusaha abai atas pikiran bahwa mereka juga menang atas kebiasaan sintingnya, meski mereka pun tak benar-benar yakin memenangkan apa.


"Kobong," celetuk Bruk kemarin malam, mulai menebar penderitaan, bak menggesek tali gantungan terikat di leher-leher Kobong dan kawan-kawannya dengan silet dan mereka hanya diam-diam meringis menyadarinya, "coba katakanlah 'kali ini beri kami dongeng yang mendidik, filosofi eceng gondok di pertemuan selanjutnya saja'."


Kobong menuruti perintah itu.


Minggu pagi yang mendung kejadiannya (aku mulai membaca dongeng yang telah kutulis satu harmal), ketika bermaksud buang tahi di belakang rumahnya yang kumuh, sehabis menyantap seblak sepedas cibiran tetangga atau makian penagih utang, seorang pensiunan mantri sunat yang tua dan kesepian dan punya mata batin memergoki setan yang murung di tepi comberan.


Aku berhenti sejenak, yang memang telah kuperhitungkan jauh sebelum mulai, dan berkata kepada Kobong, "Coba katakanlah, bagaimana ia bisa punya mata batin?" 


Kobong menuruti perintahku.


Kulanjutkan dongeng. Bagaimana bisa ia punya mata batin? Tak seorang pun pernah tahu. Ia sebetulnya telah lebih dahulu memutuskan pensiun dari pekerjaannya jauh sebelum manusia bersepakat untuk menghapuskan sunat sejak dasawarsa terakhir. Punya mata batin sebetulnya amat menyiksa Pensiunan Mantri Sunat, suatu imbas buruk dari kesepakatan lain manusia: menghapuskan segala prosesi pemakaman yang konvensional. Sebagai gantinya, manusia mendirikan tempat khusus bernama Panti Orang Mati, nyaris tersebar di seluruh wilayah, entah bagaimana cara Panti Orang Mati mengurus orang-orang mati, hanya satu hal yang pasti: tanpa memungut sepeser pun biaya, yang inilah alasan bersamanya. Hal tersebut, yang tampaknya tak disadari manusia ketika itu, menyebabkan arwah-arwah banyak bergentayangan, dan bayangkanlah hari-harimu sebagai pemiliki mata batin: kau mungkin akan sikat gigi sambil dipunggungi sosok tanpa kepala yang ditebas serdadu, susah tidur selama seminggu sebab tak sengaja mencium pipi sosok berwajah penuh nanah saat kau melangkah masuk kamar, dan sebagainya dan sebagainya.


Sebelum melanjutkan, aku sejenak mendongak menatap langit-langit, di mana sepasang cicak tengah senggama, membayangkan diriku seorang dukun bijak di hadapan unggun, mengkhidmati angin malam kiriman puncak gunung, mewejang kelompok dan sekalian anak-cucu sembari awas membaca isyarat ganjil di alam raya. Kobong dan kawan-kawanku yang lain, dengan penuh sadar dan terpuji, anteng tak memasang sikap permusuhan, tahu bahwa mereka mesti memasang telinga, tak baik menjadi manusia-manusia yang durhaka.


"Kenapa kau tampak menyedihkan?" tanya Pensiunan Mantri Sunat bermaksud membuka percakapan, ia mendapati perut buncitnya mendadak tak lagi mendesak ingin berak. 


Setan itu bercerita kemudian kepada Pensiunan Mantri Sunat bahwa ia mengalami nasib yang teramat buruk: ia kehilangan gairahnya dalam mengemban tugas langit (mengobral hasutan sampai kiamat) karena kini manusia telah lebih setan dari setan itu sendiri.


"Itulah," katanya, dengan nada yang agak bergetar, "yang membuat saya merasa terpuruk dan sia-sia, wahai Pak Tua."


Pensiunan Mantri Sunat, yang kelewat lugu itu, bahkan belum sepenuhnya mengerti permasalahan yang menimpa si entitas gaib, tetapi Setan sekonyong-konyong merengek memohon dibunuh saja olehnya (ia mungkin lupa bahwa ia tak bisa mampus sebelum Israfil meniup sangkakala), dan seketika itu juga Pensiunan Mantri Sunat merasa amat iba. Didorong suatu spirit humanis yang samar dan tak sepenuhnya ia mengerti, ia merasa ingin menolong makhluk itu dan membebaskannya dari kemuraman hidup.


"Tapi jangankan membunuhmu," kata Pensiunan Mantri Sunat kemudian sadar akan keterbatasannya, "sekadar menyunatmu saja sepertinya mustahil, Kawanku, itu pun seandainya kau memiliki sesuatu yang, maaf, bisa kupotong. Seumur-umur, aku bahkan belum pernah menyunat seekor anjing sekalipun, kalau kau mau tahu."


Jika Pensiunan Mantri Sunat dianugerahi kemampuan menyunat Setan, ia pikir ia akan melakukannya dengan memotong habis kelamin (seandainya ada dan bentuknya persis seperti yang dimiliki lelaki) makhluk yang ditemuinya pagi itu, yang akan jadi tindakan teramat fatal dan malapraktik terencana yang mengerikan, sekaligus Kebangkitan Sunat. Ia pikir itu gagasan yang teramat konyol sehingga membuatnya geli sendiri, tetapi seketika Pensiunan Mantri Sunat merasa bersalah dengan perasaannya itu, demi kemalangan Setan, sehingga ia kembali menguasai diri dan kembali kepada raut murungnya.


Di tengah keputusasaannya (meski sungguh ia agak tersentuh oleh sebutan "Kawanku" yang diucapkan Pensiunan Mantri Sunat), Setan terkenang kembali perkataan kakeknya, dahulu sekali. 


"Tahukah Pak Tua," katanya, "kakek saya pernah berkata kepada saya: Masa kerjaku sekarang, Cucuku, masih menyenangkan karena manusia saat ini lumayan masih manusia, tapi kelak masa kerjamu tak menarik karena manusia akan lebih setan dari kita."


Saat itu Setan kecil tentu saja masih teramat bodoh untuk memahami ucapan futuristis kakeknya itu, ia lantas meraung-raung seperti deru motor balap Valentino Rossi: dari dua matanya yang sebesar jeruk pondok itu meleleh cairan kuning seperti kencing unta atau kambing. 


"Hei, aduh, berhentilah menangis," hibur Pensiunan Mantri Sunat.


Sejak saat itulah ada suatu perasaan lain yang menyelinap diam-diam dalam diri Setan, tiba-tiba ia tak lagi sepenuhnya merasa bosan dan melarat, sungguh ia berterima kasih kepada langit karena telah membukakan jalan pertolongan melalui Pensiunan Mantri Sunat. Dua makhluk beda substansi yang moyangnya punya riwayat percekcokan cukup serius di hadapan Tuhan itu kelak menjalin semacam pertemanan: sebuah relasi yang sebetulnya timpang dan menyalahi kodrat dan tak menguntungkan salah satu pihak, kalau saja Pensiunan Mantri Sunat tak alangkah lugunya.


Ia mengakhiri kesenangannya yang sinting. Kau tahu, tak tanggung-tanggung kelicikannya itu, dan aku, secara pribadi, hanya bisa membalasnya diam-diam, mengoloknya dalam hati yang meradang, tepat saat ia tengah mengoceh. Peduli setan apa yang kauomongkan, jawabku dalam hati, sebelum lantas membayangkan aku mencengkeram bibirnya yang seperti sepasang lintah itu, lalu meminjam tabiat seorang majikan angkuh yang setolol keledai penyakitan, berkata membentak-bentak: sialan, kau. Berhenti menganggap dirimu orang beradab, atau membayangkan dirimu sebagai profesor yang terdampar di daerah orang-orang primitif dan barbar. Sialan, kau. Tentu saja suara hati dan gagasanku tak berfaedah, sebab Bruk sama sekali tak punya kemampuan seorang wali. Di tengah kebiasaan sintingnya, aku suka berkhayal membedaki wajahnya dengan tahi kerbau, lalu sambil berbinar mengaraknya ke pasar-pasar, dan akan lebih menyenangkan sekali seandainya ia bersedia dikawinkan dengan babi ternak.


Ia terus mengoceh. Kami mengangguk-angguk, palsu dan bodoh, di bawah kekang kelicikan yang kuat mencengkeram kami punya kelemahan.


______


Penulis


Santama lahir dan tinggal di Kab. Pandeglang. Aktif di FB dengan akun: @Santama.


Kirim naskah ke


redaksingewiyak@gmail.com