Friday, February 2, 2024

Puisi-Puisi Imam Budiman

Puisi Imam Budiman



Melahirkan Kaidah Semantik

dalam Tiga Cabang Terpisah


Ilmu Bayan


yang terkembang di kepala menjelma

kebun bunga di liuk lidah para pendoa.

ihwal yang tersimpan—juga sembunyi

bagai sepasang perumpamaan mencari

hubungan dan pembenaran di baris ini.

ia menyerupakan dan diserupakan

berlainan rupa dalam rukun klasik

mencari kesamaan sifat yang baik.

meski harus tersisihkan

atau terbuang sama sekali.


Ilmu Ma’ani


lantaran sebuah kondisi dan penekanan

yang memaksanya percaya kepada ilusi

ia nyaris terjebak kepada muslihat jahat.

suatu perintah atau larangan—sekadar

panggilan yang redam dari kebisingan.

menyesuaikan satu hal kepada hal lain

—tetapi, makna mengedipkan mata.


Ilmu Badi


bagaimana sebentang pukau dirumuskan

kepada diksi—rumpun lafaz, juga bunyi.

yang memenuhi isi kepala dan kitab suci.

dua yang kembar tetapi berlainan watak

dia yang serupa menjelma di baris akhir

 —semoga masih mencintai puisi.


2023



Membaca Kaidah Gazwah di Perbatasan


[mendaras sebab]


pada awal tahun kedelapan, musim belum usai

beralih di timur al-karak, saat para bayi yang

dilahirkan di perbatasan jazirah belum tuntas

menetek dari puting susu ibunya, dua ratus ribu

serdadu bizantium dan tiga ribu pasukan muslim

bersitatap dari kejauhan ketika sungai yordan

semakin menguarkan terik dalam zirah.

al-haris bukanlah bul-bul milik sulaiman agung

yang mungkin saja segera mengepakkan sayap

menghindar saat tajam pedang milik syurahbil

menyentuh lehernya. adakah kejahatan paling

keji selain menghabisi nyawa seorang

tak bersenjata, tak berdaya, dalam

sebuah upaya diplomasi?


[mendaras akibat]


berapa harga keduabelah tangan, jafar tak sempat

menghitung lubang di dada serta menggotong

kedua tangannya yang tanggal kepada tuhan.

sepasang sayap terpasang menggantikannya.

apakah kerja penyair hanya menulis puisi

ibnu rawahah menjawab dengan sekian

luka tusukan tombak dan panah,

sabetan pedang, serta tetes darah

yang tumbuh menjadi saksi

di tanah pertempuran.

bagaimana cinta anak kepada ayahnya, zaid melepas

nasab karena titah ilah, lalu di tahun yang rumit itu

ia menyerahkan sepenuh diri dalam pekik takbir

serta ringkik kuda terakhir, mati berbahagia

dan mulia sebagai seorang martir.

2023


________


Penulis


Imam Budiman, kelahiran Samarinda, Kalimantan Timur. Biografi singkat tentang dirinya termaktub dalam buku: Apa dan Siapa Penyair Indonesia (Yayasan Hari Puisi Indonesia, 2017); Ensiklopedia Penulis Sastra Indonesia di Provinsi Banten (Kantor Bahasa Banten, 2020); dan Leksikon Penyair Kalimantan Selatan 1930–2020 (Tahura Media, 2020). 


Beberapa karyanya tersebar di berbagai media cetak nasional seperti: Tempo, Media Indonesia, Republika, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Nusa Bali, Majalah Sastra Kandaga, dll. Pemenang terbaik pertama dalam sayembara cerita pendek pada perhelatan Aruh Sastra 2015 dan Sabana Pustaka 2016.


Pada tahun 2017 mendapat Penghargaan Student Achievement Award, kategori buku sastra pilihan, dari Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta serta ia meraih beasiswa kuliah singkat Klinik Menulis Fiksi di Tempo Institute tahun 2018.


Buku kumpulan puisinya: Kampung Halaman (2016) serta Salik Dakaik; Mencari Anak dalam Kitab Suci (2023). Saat ini, mengabdikan diri sebagai Guru Bahasa dan Sastra Indonesia serta Ketua Tim Perpustakaan—Literasi Pesantren Madrasah Darus-Sunnah Jakarta.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com