Esai Rafif Abbas Pradana
Hal itu sebenarnya tidak menjadi hambatan besar dalam kehidupan sehari-hari. Saya masih bisa bercakap dengan percakapan biasa saja. Saya masih bisa makan dengan nyaman. Saya masih bisa tertawa bersama teman-teman, bahkan saya masih bisa berbicara di depan kantor dewan perwakilan rakyat. Namun, yang menjadi hambatan justru ada di dalam diri saya sendiri: rasa tidak percaya diri. Saya sering kali tidak yakin terhadap apa yang saya ucapkan. Artinya, saya sendiri ragu apakah kebenaran itu benar-benar akan didengar oleh mereka. Karena saya masih cadel, bahkan kadang belibet. Suara saya terlalu samar-samar, ditambah gugup, ditambah jarak dan pagar yang tinggi. Jadi tidak sampai benar-benar ke kuping mereka.
Namun anehnya, saya teringat pada aktivis ’98 dengan baris puisinya yang sangat terkenal, “hanya satu kata: lawan”, yaitu Wiji Thukul. Ia juga dikenal cadel seperti saya. Tapi ketika membaca puisi, ia begitu percaya diri, begitu nikmat, begitu lantang. Dalam sajaknya itu, penggalan “hanya satu kata” selalu membuat diri saya terdiam. Kata itu seperti mengetuk dada saya pelan-pelan. Lalu datang kata berikutnya: “lawan”. Bagaimana saya melawan semuanya, sementara musuh saya hanya satu huruf: ”R”? Dan malangnya, saya tidak bisa menghapus huruf ”R” itu dari deretan abjad. Ia ada di banyak kata. Ia ada di banyak kalima, bahkan ada di nama saya sendiri. Maka yang bisa saya lawan bukan hurufnya, melainkan hati saya yang selalu menolak takdir ini.
Saya terus mengungkapkan ekspresi saya apa adanya. Tidak lagi terlalu memaksakan diri untuk terdengar sempurna. Biarkan diri saya seperti ini. Sejak kecil, saya sudah terbiasa dengan ledekan. Waktu SD, saya sering ditanyai, “Bisa nggak ngomong ‘ular melingkar-melingkar di atas pagar’?” Kalimat itu seperti jebakan yang sengaja disiapkan untuk saya. Sampai suatu ketika, teman-teman bertanya lagi dengan nada menantang. Saya terdiam. Saat mencoba mengucapkannya, suara saya terdengar cadel, tidak seperti yang mereka harapkan. Mereka tertawa. Tertawa keras. Tertawa yang sampai sekarang masih saya ingat suaranya.
Berulang kali saya bertanya, apakah saya sedang terjebak dalam ketidakadilan dunia atau saya yang belum bisa menerima kekurangan? Kenapa mereka selalu mengejek? Apa sebenarnya yang mereka inginkan dari saya? Lalu, saya sadar, mungkin jawabannya sederhana: mereka butuh tawa. Dan saya kebetulan menjadi bahan yang mudah.
Saya paham banyak kata berakhir dengan huruf ”R”. Setiap berbicara, saya sering merasa tidak becus. Lidah saya seperti tidak patuh pada keinginan saya. Begitulah hidup saya, bahkan sampai kuliah pun saya masih mendapatkan hal serupa, walau dalam bentuk yang lebih halus. Tidak lagi terang-terangan ditertawakan, tapi cukup dengan senyum yang tertahan atau candaan yang dibungkus rapi.
Saya sudah beberapa kali banting tulang agar bisa mengucapkan ”R” dengan jelas. Dari minum air bekas cucian beras sampai makan pedas, semua pernah saya coba. Katanya bisa membantu. Katanya bisa melatih lidah. Sudah saya lakukan berkali-kali, namun tidak ada hasil yang berarti. Saya latihan di depan cermin, mengulang-ulang kata yang sama sampai lelah sendiri. Tapi tetap saja, suaranya samar. Sepertinya cadel ini memang akan menjadi teman saya seumur hidup.
Ketika saya berbicara di depan gedung DPR, saya tetap berbicara dengan lantang walau dengan gaya cadel saya. Memang terdengar lucu ketika orang cadel berbicara penuh semangat. Orang bisa saja tertawa. Namun pertanyaannya, apakah suara saya benar-benar didengar melewati pagar setinggi itu? Apalagi jaraknya jauh. Apalagi suara saya tidak sejelas yang lain. Kadang saya merasa seperti berbicara ke ruang kosong.
Akhirnya, saya menuliskannya lewat media sosial. Saya pikir tulisan mungkin bisa lebih tajam daripada suara saya. Tapi, lagi-lagi saya ragu. Pengikut saya baru ratusan. Apakah suara saya berarti? Atau memang selama ini saya hanya buang-buang tenaga berbicara?
Namun, satu hal yang saya sadari: hati saya sendiri mendengar suara itu. Dan itu cukup. Buktinya, saya mulai bisa berdamai dengan diri saya bahwa saya adalah manusia cadel. Walau begitu, tangan saya masih sering bergetar ketika berbicara di depan umum. Ada trauma yang belum benar-benar hilang.
Saya masih ingat ketika membaca puisi Kartini saat lomba di SD. Saat saya membacakan puisi itu, semua tertawa serentak. Sejak saat itu, setiap kali saya berdiri di depan banyak orang, tangan saya gemetar. Mungkin tubuh saya belum lupa pada peristiwa itu. Mungkin masa lalu memang tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berubah menjadi getaran di tangan dan rasa takut yang tiba-tiba datang.
Tapi, masa lalu juga yang membentuk saya hari ini. Apa yang saya alami sekarang adalah hasil dari perjuangan seorang anak yang dulu di-bully karena tidak bisa mengucapkan ”R”. Lelahnya berbicara di tengah ejekan. Lelahnya mencoba membuktikan bahwa isi kepala tidak diukur dari satu huruf yang sulit diucapkan.
Walau ”R” tidak pernah benar-benar saya ucapkan dengan jelas, saya masih bisa mengucapkan ”L” dalam keseharian. Setiap ingin mengucapkan ”R”, mulut saya justru mengeluarkan ”L” di telinga orang lain. Saya pernah berpikir, nama saya Rafif berarti terdengar seperti Lafif. Pelafalan ”L” ini memang agak mirip ”R”, walau tetap samar-samar seperti yang saya bilang tadi. Karena itu, saya lebih nyaman dipanggil Abbas. Tidak ada huruf ”R” di sana. Tidak ada perlawanan kecil di ujung lidah. Rasanya lebih tenang.
Dan mungkin, perlawanan terbesar saya bukan melawan huruf ”R”. Bukan melawan tawa orang-orang. Bukan melawan pagar tinggi gedung kekuasaan. Perlawanan terbesar saya adalah menerima diri saya sendiri. Karena hanya satu kata yang benar-benar saya butuhkan sekarang: “terima”.
Serang, 15 Februari 2026
______
Penulis
Rafif Abbas Pradana, dilahirkan di Bekasi, 25 Oktober 2004. Merupakan mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta). Aktif menulis esai, puisi, serta artikel kesejarahan.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!