Saturday, February 14, 2026

Resensi Kabut | Pelajaran di Halaman

Oleh Kabut





Berbahagialah keluarga yang tinggal di rumah dengan memiliki lahan di depan, samping, dan belakang. Ada yang menyebut halaman atau pekarangan. Maka, rumah itu memenuhi beberapa kaidah sehat, indah, dan sejuk. Mengapa rumah itu selalu diimajinasikan berada di desa? Konon, lahan di desa masih luas. Gagasan tanah dan rumah masih mengikuti petunjuk-petunjuk leluhur, berbeda dengan nalar di kota. Konon, rumah-rumah di kota telah meninggalkan ajaran lama. Akibatnya, banyak rumah tanpa pekarangan.

Di desa, kebun-kebun kosong pun masih ada, yang membuat suasana kehidupan mengesankan hijau dan tenteram. Maka, rumah-rumah berpekarangan mengartikan anugerah tanaman atau pohon. Rumah memiliki pengertian yang “bertumbuh”. Yang menghuni memiliki kaitan-kaitan dekat dengan alam, tak sekadar tanaman atau pohon. Di situ, ada pula beragam binatang. 

Yang sedang kita pikirkan adalah rumah, belum masalah arsitekturnya. Cerita yang dibaca berjudul Mengatur Taman, bukan Mengatur Pekarangan atau Mengatur Halaman. Apakah itu cerita? Kita yang membaca judul dapat tersesat menganggapnya makalah atau buku berisi petunjuk-petunjuk. Yang jelek adalah pilihan kata: “mengatur”. Dulu, rezim Orde Baru mencipta tata kehidupan sering menggunakan istilah: aturan, peraturan, mengatur, dan lain-lain. Jadi, pembuatan judul adalah “kesalahan” yang sulit dimaafkan oleh para pembaca.

Penulis cerita bernama Nilasartika. Yang menerbitkan adalah Cypress, Jakarta, 1985. Yang membuat gambar-gambar bernama Ipe Maaruf. Ingat, yang kita baca adalah cerita. Anak-anak yang membacanya mudah menyelesaikan. Cerita yang singkat, cuma 39 halaman. Artinya, tidak semua halaman berisi kata-kata. Beberapa halaman, dipasang gambar-gambar yang besar. Pada suatu masa, buku menjadi koleksi di perpustakaan yang berada di Solo. Buku yang hanya menghuni sebentar, berlanjut menjadi barang rongsokan dan dagangan di pasar buku bekas. Namun, kita yang membaca masih berhak memberinya arti meski tidak terlalu penting bagi Indonesia abad XXI, yang sedang mendapat beragam perintah dari rezim Prabowo-Gibran.

Pada mulanya, pembaca ikut merasakan yang dialami tokoh bernama Ina. Pulang dari sekolah saat siang. Sewajarnya sinar matahari terasa panas. Ina pulang berjalan kaki. Yang ditulis pengarang: “Peluhnya mengalir. Baju seragamnya basah.” Matahari memberi kesan panas. Apakah di pinggir jalan tidak ada pohon-pohon seperti kekhasan desa? Pengarang mungkin lupa dalam meyakinkan pembaca mengenai latar tempat. 

Ina pulang sendirian. Pembaca tidak usah mencari-cari kalimat bahwa Ina mengobrol bersama teman-teman. Yang suka menuntut boleh menanyakan: “Sekolah seperti apa?” Kita biasanya mengetahui anak-anak SD yang pulang sekolah berbarengan jalan kaki atau naik sepeda onthel. Di cerita, SD itu pasti istimewa, yang muridnya sangat sedikit. Namun, kitab oleh menduga pengarang tidak mau bertambah repot bila memiliki banyak tokoh dalam cerita.

Di jalan, Ina melamun. Jalan itu tidak dilewati mobil, truk, atau bis. Yang diceritakan adalah suasana di desa. Maka, kita membayangkan jalan desa yang belum dihajar modernisasi. Jalan itu sepi. Ina bisa melamun tandanya ia tidak menjadi gangguan bagi pengguna jalan yang lain. Pembaca mendingan berimajinasi bahwa selama berjalan, Ina tidak bertemu siapa-siapa, termasuk teman atau tetangga.

Pengarang bercerita: “Ia teringat sudut halaman rumahnya yang sejuk. Tempat ia bermain bersama bonekanya. Ia selalu bermain di bawah pohon ceri. Pohon itu tumbuh rimbuh di sudut halaman rumah.” Lamunan yang indah saat Ina merasakan panas matahari. Yang sejuk cuma di halaman rumahnya? Jalan yang dilaluinya tidak sejuk. Sekali lagi, pembaca jangan suka menyalah-nyalahkan pengarang. Yang sering menyalahkan dan mengejek berdampak sulitnya kemajuan dalam kesusastraan anak di Indonesia.

Sampai di depan rumah, Ina terkejut, tidak melamun lagi. Mengapa? Yang dilihatnya adalah Pak Amat menebas pohon ceri. Padahal, adegan sebelumnya adalah Ina ingin cepat sampai rumah dan bermain sekaligus berteduh di bawah pohon ceri. Pengarang sengaja ingin menciptakan “tiba-tiba”. Pembaca mengira Ina sedih dan timbul konflik.

Cerita yang ditulis justru menolak konflik-konflik. Ibunya berhasil memberi keterangan, yang mudah dimengerti. Ibu yang berpengetahuan dan sabar: “Ina, pohon ceri itu tumbuh makin lama makin besar. Akarnya akan membahayakan rumah kita.” Ina mendengarkan, tergoda bertanya. Ina masih murid SD, boleh bertanya macam-macam: “Mengapa, Ibu? Bukankah rumah kita akan bertambah teduh seperti rumah nenek?” Ia mendapatkan pengalaman, yang digunakan dalam membuat pertanyaan.

Ibu tidak kehabisan kata-kata. Ibu pun tampil seperti guru: “Tapi kau ingat, ubin rumah nenek retak-retak oleh akar pohon ceri. Jika pohon itu dibiarkan bertambah besar, akarnya akan membongkar rumah kita. Lagi pula daun-daunnya yang kering selalu mengotori halaman. Halaman muka rumah kita sempit. Ibu ingin mengatur halaman itu menjadi taman bunga yang indah dan mungil.” Pembaca yang usil menuduh tokoh ibu dalam cerita tergabung dalam Dharma Wanita atau PKK, yang memiliki misi mulia bertema pekarangan atau taman di lingkungan rumah.

Ibu bercerita secara jelas dan apik mengenai beragam tanaman di taman: cabai, terung, tomat, kacang, dan bumbu-bumbuan. Ada pula pohon pepaya. Keuntungan: “Pohon pepaya itu dapat dipetik hasilnya jika telah berbuah. Sekarang pohon itu sedang berbunga. Pucuk daunnya yang muda dapat dimakan untuk lalap.” Ibu yang bertanggung jawab dalam mengurusi rumah dan merawat pengetahuan. Ina sangat beruntung memiliki ibu yang cerdas sekaligus bijak.

Ina berusaha mengerti tapi sedikit kecewa: “Aku tak akan mendengar lagi kicau burung ketilang dan pipit di pohon ceri.” Jawaban tetap ada berdasarkan fakta dan pengalaman. Kecewa itu ditumpas: “Burung-burung itu akan pindah  ke pohon jambu di muka jendela kamarmu, Ina. Burung-burung itu akan menikmati buah salam yang masak di belakang rumah kita. Sebentar lagi, pohon mangga kita berbuah.” Pembaca sangat penasaran dengan rumah dan lingkungannya. Rumah itu “impian” bagi orang-orang yang hidup di Kawasan permukiman padat di pelbagai kota.

Percakapan itu mengingatkan Ina dengan pelajaran IPA di sekolah. Di rumah, ia tetap saja kepikiran pelajaran. Ina terduga murid yang pintar, santun, dan patriotik. Di rumah, ibunya adalah guru, selain bapak dan tetangga yang diminta membantu mengurus halaman. Ina tidak melulu berhadapan buku pelajaran.
Pada saat mengurus taman, yang digunakan adalah pupuk kendang, bukan pupuk yang dibuat di pabrik. Pupuk itu mendapat penjelasan, yang membuat Ina bertambah pintar. Jadi, Ina mendapat pelajaran banyak: tanaman, binatang, pupuk, dan lain-lain. 

Apakah pembaca harus kagum dengan pengetahuan ibu? Kita membaca yang disampaikan pengarang: “Bangsa kita memiliki pertanian yang sangat luas. Ibu kira ternak di negara kita tidak cukup banyak untuk menghasilkan pupuk kendang bagi tanah pertanian kita yang luas di negeri ini. Oleh sebab itu pemerintah mendirikan pabrik Pusri (Pupuk Sriwijaya). Kau tahu, Ina, di mana letak pabrik itu?” Akhirnya, kesempurnaan terjadi: Ina teringat pelajaran IPS. Ina berhasil menjawab: “Di Palembang.” Jawaban diperoleh dari buku pelajaran. 

Kita membuktikan bahwa buku cerita itu bergelimang pelajaran. Beruntunglah anak-anak yang membaca buku cerita. Mereka sebenarnya sedang membaca buku pelajaran yang menyamar.

_______

Penulis


Kabut, penulis lepas.


Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

This Is The Newest Post

Terimakasih telah berkomentar!