Sunday, March 1, 2026

Cerpen Fajarmana | Layla dan Juliet

Cerpen Fajarmana



Hari kacaumu ditutup dengan memutar lagu-lagu Bernadya di album “Sialnya, hidup harus tetap berjalan”. Kamu tahu, lagu-lagu dari album itu selalu jadi lagu kebangsaan para Gen Z saat galau dan putus cinta. Sama seperti kamu, setelah berdebat panjang dengan Linda pacarmu—mantanmu sekarang—siang tadi di Taman Cantelan, lalu diakhiri dengan putus hubungan. Seketika kamu merasa duniamu akan hancur.


Azan Magrib berkumandang, kamu tidak peduli. Lagu “Belum Ada Satu Bulan” lebih syahdu terdengar. Kamu menyalakan AC, menurunkan suhunya sampai 16° Celsius. Kamu coba merebahkan badan. Merasakan bagaimana dunia ini akan kiamat—kamu akan hidup tanpa cinta. Siapa yang akan mengingatkan aku makan? Siapa yang mengingatkanku salat? Siapa yang akan jadi pacar Linda selanjutnya? Apa Linda akan secepat itu dapat pengganti? Mungkin itu yang kamu pikirkan saat matamu menatap kosong plafon kamar.


Samar-samar dari ruang tengah kamu dengar ibumu memanggil. Suara itu semakin dekat dan keras.


“Anton… Anton… Mau salat di masjid apa di rumah?”


Kamu bangkit bukan untuk menghampiri ibumu, tapi mencari TWS lalu memasangkannya di telinga. Volume diatur ke paling kencang. Lagu selanjutnya yang kamu pilih adalah “Kata Mereka Ini Berlebihan”, masih di album yang sama.


Kembali kamu merebahkan badanmu di atas kasur. Kedua tanganmu diletakkan di bawah kepala. Mata kosongmu kembali menatap plafon. Beberapa detik kemudian, air mata turun perlahan. Lidahmu tercekat, tidak bisa mengeluarkan suara apa-apa. Matamu yang basah mulai memerah. Rupanya kamu mulai mengantuk. Sebelum lagu itu habis, matamu perlahan terpejam.


Gonggongan anjing membuatmu terkejut. Sejenak sebelum membuka mata, kamu merasa aneh tentang suara anjing yang baru pertama kamu dengar di rumah ini. Kamu hendak membuka mata, namun sulit, seperti banyak pasir yang memenuhi matamu. Seketika tenggorokanmu terasa kering dan kulitmu terasa terbakar.


Kamu akhirnya bisa membuka mata. Pandanganmu seketika kabur, kamu mengucek mata yang penuh pasir itu. Setelah mata mulai jernih, kamu terkejut melihat di atasmu bukan plafon, tapi langit biru yang cerah tanpa awan.


Sekuat tenaga kamu berdiri walau agak terhuyung. Alangkah kaget setengah mati saat kamu melihat sekelilingmu adalah hamparan gurun pasir luas, panas, dan seperti tidak berujung. Jelas kamu pikir ini adalah mimpi buruk tidur saat Maghrib. Namun naas, panas matahari gurun benar-benar kamu rasakan sakit di sekujur badan. Kamu menelan ludah saat memperhatikan tanganmu yang sekarang hitam. Lebih kaget lagi, kamu sadar tubuhmu lebih tinggi, tidak memakai baju, hanya ada celana lusuh dari katun robek.


Guk!


Suara anjing itu terdengar lagi dan semakin dekat. Kamu meloncat ketakutan saat anjing itu menjilati kakimu yang terlihat berbeda dari yang biasa kamu lihat. Anjing itu menggigit sepotong roti di pasir, sepotongnya lagi baru kamu sadari sedang kamu pegang di tangan kanan.


Kamu yakin ini bukan tubuhmu. Mana mungkin sekonyong-konyong semuanya berbeda. Kamu hanya ingat sedang galau, mendengar lagu, dan tiduran di kasur. Kamu menampar pipi dengan tangan kasar itu. Sakit. Ini nyata. Kamu juga memegang kepalamu, tiba-tiba saja rambutmu jadi panjang dan gimbal.


“Aku kenapa, sih?” kamu menggerutu.


Dari kejauhan kamu melihat sesuatu bergerak. Kamu menyipitkan mata. Sesuatu itu semakin mendekat, terlihat berlari ke arahmu.


“Hooooi!” Suara itu menggelegar di tengah gurun panas.


Kamu panik, coba berlari sekuat tenaga. Namun kamu terhuyung dan hendak terjatuh. Kamu tidak terbiasa dengan tubuh ini. Seketika saja ada tangan yang mencengkeram dari belakang. Kamu membalikkan badan dan bersiap memukul.


“Hoi, hoi! Tenang, Qais.” Ternyata itu seorang pria, tubuhnya setara denganmu, namun wajahnya terlihat seperti orang Timur Tengah.


“Qais?” tanyamu.


“Ah maaf, Qais Al-Majnun. Kalau kamu menolak nama lain selain sebutan itu,” ucapnya sambil terengah-engah.


Qais Al-Majnun? Itu kan tokoh yang ada di cerita Layla dan Majnun? Mungkin itu yang kamu pikir setelah lelaki tadi memanggilmu demikian. Kamu juga mungkin secara liar berpikir bahwa kamu sedang berada di tubuh Qais sekarang.


“Aku Qais?” Kamu memastikan.


“Astaga, Majnun! Kamu benar-benar jadi gila karena Layla. Bahkan lupa dirimu sendiri,” jelasnya.


Kamu menelan ludah. Dugaanmu benar, kamu terjebak dalam tubuh Qais di cerita Layla dan Majnun. Kamu mencoba mencerna semua keanehan yang terjadi. Kamu celingak-celinguk, matamu memindai semua yang ada di sekelilingmu. Lelaki itu kembali menepuk pundakmu, kali ini lebih keras.


“Majnun!” hentak pria tadi.


Kamu hanya melongo melihat dia.


“Astaga, Majnun. Melihat kondisimu sekarang saja aku tidak tega. Apalagi harus mengabarkan berita ini.” Mata laki-laki itu jelas memperlihatkan keprihatinan padamu.


“Ada apa?” Kamu gemetar.


“Majnun. Aku tidak tahu ini berita baik atau buruk untukmu, terlebih kamu mungkin masih berduka karena belum lama juga kehilangan orang tuamu, tapi semoga ini akan menghiburmu. Namun aku tidak janji bahwa ini adalah harapan,” ucapnya.


Kamu menelan ludah, ada perasaan tidak enak penuh di pikiranmu. Kamu mengangkat alis, karena lidahmu tercekat tidak bisa bicara apa-apa.


Lelaki itu menghela napas berat.


“Majnun. Ibnu Salam, suami Layla, meninggal kemarin.”


Matamu terbelalak. Seketika kamu ingat ceritanya. Tentu, kisah itu legendaris. Kamu pernah diceritakan bahwa setelah Ibnu Salam meninggal, Layla tetap tidak bisa bertemu Qais karena harus berkabung selama dua tahun—tidak boleh meninggalkan rumah—yang membuat Layla frustrasi, sakit, dan akhirnya meninggal. Kamu menelan ludah yang mungkin sudah kering itu.


“Tapi, Majnun. Kamu tetap tidak bisa menemuinya karena ....”


“Dia harus berkabung selama dua tahun,” kamu menyela.


Lelaki itu mengangguk. Kamu gelisah. Mungkin kamu sekarang berpikir ingin mengubah nasib Qais yang malang ini dengan melanggar semua aturan dan adat yang ada. Matamu menggambarkan harapan, agar Qais bisa bersatu dengan Layla.


“Aku tidak peduli, aku akan tetap menemui Layla sekarang,” ucapmu lantang.


“Tapi ....”


Kamu tidak peduli lagi. Kamu mungkin berpikir bahwa ditinggal Linda saja sangat menyakitkan, apalagi kamu harus menanggung sakit saat jadi Qais ketika mengetahui Layla meninggal. Tentu kamu tidak ingin seperti itu.


Kamu berlari, hendak menghampiri Layla. Walau kamu tidak tahu pasti di mana rumahnya, tapi kamu cukup mengikuti jejak asal lelaki tadi. Kamu berlari sekuat tenaga, melompati batuan, menghindari kaktus, dan menyingkirkan anjing-anjing yang ikut mengejar.


Namun sial, kamu tersandung kakimu sendiri. Kaki panjang yang belum juga kamu kuasai. Kamu terhuyung, menabrak kaktus dan terbentur ke bebatuan tajam di bawahnya. Kamu mulai kehilangan kesadaran.


Bau amis darah mulai kamu rasakan menusuk hidung. Kamu yakin itu berasal dari kepalamu yang bocor terkena bebatuan. Namun, ketika kamu membuka mata, kamu terkejut karena di depanmu ada seorang lelaki yang tertusuk pedang.


Lelaki dengan rambut panjang pirang, memakai topi copolla khas Italia. Dia mengerang kesakitan, sekarat.


Matamu terbelalak kala melihat pangkal pedang itu kamu pegang. Tanganmu gemetar. Kamu menatap sekali lagi lelaki dengan wajah Eropa itu.


“Pergilah ke neraka bersama orang-orang Montague, Romeo.” Lelaki itu jatuh setelah mengucapkan kalimat tadi.


Tubuhmu gemetar. Kamu mungkin mulai merasa bingung karena lelaki tadi menyebut Montague dan Romeo. Jelas, kamu tahu itu berasal dari cerita Shakespeare, yaitu Romeo dan Juliet.


“Apa ini, aku sekarang terjebak di badan Romeo?” kamu menggerutu sambil melihat tangan dan seluruh pakaianmu.


Tebakanmu benar. Di belakangmu, ada peti mati berisi perempuan. Juliet! Ya, itu Juliet. Kamu menghampirinya. Melihat lamat-lamat wajah dan seluruh tubuhnya. Kamu menelan ludah lagi. Pasti kamu berpikir kalau benar Juliet itu sangat cantik.


Kamu teringat sesuatu. Kamu meraba kantong dan menemukan sesuatu mengganjal di sana. Kamu merogoh kantong. Dugaanmu benar. Racun dari apoteker miskin yang dalam cerita Romeo dan Juliet akan menjadi racun pembunuh Romeo dan akhirnya membuat Juliet mati bunuh diri.


Kamu menatap kembali Juliet. Entahlah, kamu mungkin melihat itu Linda. Kamu mungkin kembali berpikir untuk mengubah cerita. Bahwa Romeo akan menunggu Pendeta Laurence datang, menanti Juliet sadar, sehingga Romeo tidak jadi meminum racun dan Juliet pun tetap hidup yang akhirnya akan hidup bahagia di Mantua sesuai rencana awal Juliet dan Pendeta Laurence.


Dengan penuh tekad, kamu membanting racun itu.


“Tidak boleh ada lagi orang menderita karena cinta!” teriakmu.


Benar saja apa yang kamu duga, Pendeta Laurence datang dan langsung menepuk pundakmu.


“Syukur surat yang aku kirim bisa kamu baca.”


Kamu tersenyum. Kamu tahu, dalam cerita asli, Romeo tidak pernah menerima surat itu sehingga terjadi salah paham.


Juliet pun terbangun. Langsung memeluk Romeo. Suasana di situ jadi haru dan menyenangkan. Kamu akhirnya menangis haru mengetahui berhasil membuat happy ending untuk ceritamu—atau cerita Romeo yang kamu rasuki.


Tiba-tiba Lord Capulet, ayah Juliet, datang. Dia langsung terkejut melihat putrinya yang hidup lagi. Dengan cepat menyadari bahwa dia sedang dipermainkan oleh Romeo, Capulet naik pitam. Dia mengeluarkan belati dari pinggangnya, berniat menyerangmu.


Juliet melompat ke arahmu. Memelukmu. Namun Juliet tertusuk belati Capulet. Kamu, Capulet, dan Laurence terkejut dengan hal itu. Capulet berteriak histeris karena tidak sengaja membunuh putrinya. Dia menangis karena harus menerima fakta bahwa anaknya benar-benar mati kali ini.


Kamu gemetar mundur. Pikiranmu makin kacau. Kamu menggeleng tidak percaya dengan apa yang terjadi.


“Anjing! Apaan sih ini!” Kamu berteriak sekencang mungkin.


Dengan frustrasi kamu mengeluarkan belati dari pinggangmu—belati yang seharusnya dipakai Juliet untuk bunuh diri di cerita aslinya. Kamu mengarahkan belati itu ke perutmu, mengangkatnya tinggi-tinggi, dan sekuat tenaga kamu hantamkan ke perutmu.


Kamu terduduk kaget. Keringat dingin mengalir di seluruh badanmu. Kamu bernapas tidak beraturan. Namun kamu melihat seluruh pemandangan kini kembali ke kamarmu. Kamu menghela napas panjang. Kamu bersyukur itu semua hanya mimpi. Mimpi buruk karena tidur saat Maghrib.


Kamu mengambil ponselmu. Mencoba menelepon Linda. Berharap bisa balikan. Agar kisahmu tidak semenyedihkan Layla dan Majnun, juga tidak semengerikan Romeo dan Juliet.


Namun telepon Linda tidak kunjung terhubung. Kamu baru sadar, ada tulisan “Memanggil”. Seketika kamu melihat foto profilnya hilang. Kamu diblok oleh Linda. Kamu menelan ludah. Rasanya, memang kamu, Majnun, dan Romeo harus bernasib sama.


Kamu melihat jam. Pukul 18.52, masih ada waktu untuk salat Maghrib. Kamu niat bertobat dan menenangkan diri.


Kamu berdiri, namun nyeri. Kamu melihat ada beberapa pasir yang menempel di kakimu. Kamu menelan ludah. Dengan pelan dan ragu, kamu membuka bajumu. Di sana, ada bekas luka tusukan.


______


Penulis:

Beberapa orang lebih mengenal nama Fajarmana daripada nama asli saya. Namun di beberapa identitas, saya juga lebih senang dipanggil seperti itu. Saya seorang yang banyak sekali melakukan kegiatan dan memiliki banyak kesukaan: membaca, menulis puisi, menulis naskah drama, menulis cerpen, menulis novel, membuat kopi, bermain musik, dan bermain teater.

Aktif diskusi di UKM Belistra FKIP Untirta. Saya sering juga membagikan tips hidup dan perjalanan kegiatan saya di Instagram: Fajarmana28, dan bisa ditemui di coffee shop tempat saya menyeduh kopi.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Terimakasih telah berkomentar!