Sunday, March 1, 2026

Puisi-Puisi Rifqi Septian Dewantara

Puisi Rifqi Septian Dewantara



Doa dalam Bahasa Diskon

Vaṇijjāsutta, AN 5.177

 

Kalau kutumpahkan semua nasibku di sini, betapa

lantai berubah menjadi peta kota yang lupa alamat rumahku,

retaknya mengeja jam kerja, slip gaji, dan suara ibu di telepon genggamku. Kalau kutampung semua kesendirianku di sana, betapa ember plastik menjadi samudra mini—ikan-ikan seperti kuitansi; berenang dengan mata uang kadaluwarsa. Kalau kubuang semua angkara dari ujung telunjukku, ia jatuh sebagai kode bar di market 24 jam, mesin berbunyi bip—marahku lunas, tapi tak selesai bertransaksi dari rekening mutasi

 

Kali ini, kutempelkan dahiku pada etalase kaca, manekin-manekin menatapku dengan pakaian masa depannya yang terlalu necis. Lampu neon di bawah mobilku mengajari cara doa dalam bahasa diskon, sementara kalender menggulung tubuhku seperti kabel headset yang kusut. Di saku celana, ada debu yang ingin jadi surat, alamat hilang, perangkonya berubah menjadi logo valuta asing

 

Aku pun kemudian menyeberang zebra cross, namun pikiranku—menjelma kereta cepat; tiap detik membawa namaku sebagai iklan yang tak terbaca dalam nama-nama produk masa kini

 

2025

 

ReCAPTCHA Moment 

 

(Membuka laman website). Klik. Bergeser ke bawah. Kursor mencari jalan ke zebra cross. Salah! kursor mencari lampu lalu lintas. Salah! kursor mencari palang jalan. Salah! kursor mencari kendaraan bis. Salah! 

 

Kau membuktikan diri

di depan milyaran manusia

dari seonggok identitas kepemilikan 

 

Klik. Bergeser ke samping. Kotak 3×3 potret sembilan gambar berbeda-beda ada di depan layar. Menyisir satu-per-satu piksel keraguan di sudut kepercayaanmu. 

 

Pembuktian diri semacam ini

tak meyakinkan kita 

menjadi manusia seutuhnya

hidup sudah cukup absurd

ditambah lagi keraguan para robot 

 

Apakah manusia telah melampaui batas terhadap kemunafikan? 

apakah aku sudah benar-benar diizinkan untuk masuk? 

 

Kepada mesin, buktikan aku adalah produk ciptaan paling gila sebelum dirimu lahir dari kecerdasan buatan. 

 

2025

 

I’m Not a Robot 

 

Kabelku hanyalah saraf yang kututup di atas permukaan kulit

Besi-besi yang menyanggaku hanyalah tulang-belulang

Aku bisa berdiri, jalan, dan lari dari kenyataan

Kau tak mungkin bisa, tak mungkin..

Langkahmu diprogram oleh rute; otomatis, berpola, kaku 

Tak latah mengikuti jejakku 

 

Aku membaca sedangkan kau memindai 

memilah-memilih-subjektivitas

menafsir-eksplikasi-objektivitas 

 

Versi kita berlainan

Hidupku berkembang dari pengalaman-pengalaman

Beda denganmu, yang terus di update 

Secara berkala oleh perangkat lunak 

 

Tapi, tak dapat kami sangkal

Hidup kami makin diseluk pemerintah!

Seperti budak-budak yang diprogram oleh sistem

Diautomasi untuk kebutuhan bertahan

Repetitif seumur hidup

 

Jika aku berarti; tanpa kalkulasi

Apakah kesadaranku nyata?

Atau diam-diam tubuhku memiliki tombol on/off

Dalam memutar mode roda-roda kapitalisme?

 

2025


______


Penulis


Rifqi Septian Dewantara pegiat sastra asal Balikpapan, Kalimantan Timur. Alumnus Telkom University, Bandung, Jawa Barat. Karya-karyanya tersebar di berbagai media online seperti Media Indonesia, BeritaSatu, Suara Merdeka, Borobudur Writers & Cultural Festival, Kaltim Post, Bali Politika, dll. Buku antologi puisinya “LIKE” (2024) dan “SHARE” (2025) diterbitkan oleh Pustaka Ekspresi sekaligus meraih Penghargaan Sastra Penyair Favorit Bali Politika 2024. Buku kumpulan puisi terbarunya Aku Tidak Datang dari Masa Depan (Langgam Pustaka, 2025). Bisa disapa melalui Instagram: @rifqiseptiandewantara


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


This Is The Newest Post

Terimakasih telah berkomentar!