Puisi Nisa Nurfadilah
Luka yang Singgah di Tubuh yang Renta
Luka selalu menemukan cara untuk singgah pada tubuh yang paling renta
seolah tak rela, walau satu saja goresan harus jatuh ke tubuhku yang masih belia
Bunyi langkah di teras rumah
Selalu menyambutku dengan bergegas
Punggungnya sedikit membungkuk
memanggul doa-doa yang beratnya melampaui usia
Segala nyeri diredamnya menjadi tabah yang ia simpan sendiri
Rasa kantuk ditukarnya dengan bising bunyi sudip dan dandang
Lalu menyulap sisa tenaga menjadi tenang yang bisa kupinjam
Ia tak pernah bicara tentang lelah yang membuat matanya merah
tak pernah mengaduh pada perih yang menjalar di sekujur raga
tak pernah mengeluh meski luka-luka itu mulai memakan sisa usianya
Namun, kehidupan selalu dihidangkannya di atas meja
Serang, 21 Februari 2026
Sebelum Fajar Menyapa
Malam terpampang tanpa awan dan bintang
Menambah sunyi di atas langit yang membentang
Ada rembulan yang bersinar samar
Bergerak pasrah mengitari waktu yang tak menentu
Dingin menyelinap dari sela jendela
Menusuk anak manusia berlumur dosa
Yang mendamba ampunan atas kesilapannya
Air mata berderai membasuh lara
Menunggu fajar menyapa
Menghapus segala
Serang, 22 Februari 2026
Cukuplah Aku
Cukuplah aku
Yang merasa berdetak lebih kencang dari seharusnya
Saat langit mengganti warna
Dari semburat jingga menuju hitam kelam
Cukuplah aku
Yang memerangi batinku
Yang membebaskan ketakutan dalam penjara hatiku
Walau cemas masih bersarang membelenggu
Cukuplah aku
Yang ingin berada di samping telingamu
Meneriakimu sekeras-kerasnya
Bahwa, telah hilang dalam diriku
Keistimewaan terhadap masa lalu
Cukuplah aku
Celaka bagiku
Bahwa, belum hilang dalam dirimu
Rasa memiliki terhadap perempuan yang menolak kau miliki itu
Walau celah kudapati dari balik matamu
Ternyata semu memilu dalam pandanganku
Cukuplah aku
Yang melebur dalam pikiranku
Mengutuk prasangka menjadi abu
Merutuki aku atas pernyataan cintaku
Bekas Luka
Luka tak selalu membeku
Ada yang diam-diam menghangat
Seperti sisa peluk yang tertinggal setelah kepergian.
Aku berada di sana
Dalam jeda yang tak terucap
Dan harap yang menunggu binasa
Aku bukan lagi kobaran api
Aku bara sunyi yang kau kira telah mati
Padahal hanya menanti
Kau rindu untuk merasa lagi
Serang, 22 Februari 2026
________
Penulis
Nisa Nurfadilah, dilahirkan di Serang, 7 Juli 2007. Suka menulis puisi dan esai, pernah sesekali menulis cerpen. Tak banyak karya yang terpublikasi. Namun, aktif menulis di Kompasiana, Instagram, website UKM Belistra, dan beberapa kali mengirim ke media massa berbayar, namun belum lolos. Kesibukan saat ini adalah sebagai seorang mahasiswi semester 4 di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dan mengikuti organisasi kampus: UKM Bengkel Menulis dan Sastra (Belistra).
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!