Sunday, March 1, 2026

Puisi-Puisi Nisa Nurfadilah

Puisi Nisa Nurfadilah




Luka yang Singgah di Tubuh yang Renta

Luka selalu menemukan cara untuk singgah pada tubuh yang paling renta
seolah tak rela, walau satu saja goresan harus jatuh ke tubuhku yang masih belia

Bunyi langkah di teras rumah 
Selalu menyambutku dengan bergegas

Punggungnya sedikit membungkuk
memanggul doa-doa yang beratnya melampaui usia

Segala nyeri diredamnya menjadi tabah yang ia simpan sendiri
Rasa kantuk ditukarnya dengan bising bunyi sudip dan dandang
Lalu menyulap sisa tenaga menjadi tenang yang bisa kupinjam

Ia tak pernah bicara tentang lelah yang membuat matanya merah
tak pernah mengaduh pada perih yang menjalar di sekujur raga
tak pernah mengeluh meski luka-luka itu mulai memakan sisa usianya

Namun, kehidupan selalu dihidangkannya di atas meja

Serang, 21 Februari 2026


Sebelum Fajar Menyapa

Malam terpampang tanpa awan dan bintang
Menambah sunyi di atas langit yang membentang
Ada rembulan yang bersinar samar
Bergerak pasrah mengitari waktu yang tak menentu

Dingin menyelinap dari sela jendela
Menusuk anak manusia berlumur dosa
Yang mendamba ampunan atas kesilapannya

Air mata berderai membasuh lara
Menunggu fajar menyapa 
Menghapus segala

Serang, 22 Februari 2026


Cukuplah Aku

Cukuplah aku
Yang merasa berdetak lebih kencang dari seharusnya 
Saat langit mengganti warna
Dari semburat jingga menuju hitam kelam

Cukuplah aku
Yang memerangi batinku
Yang membebaskan ketakutan dalam penjara hatiku
Walau cemas masih bersarang membelenggu 

Cukuplah aku
Yang ingin berada di samping telingamu
Meneriakimu sekeras-kerasnya 
Bahwa, telah hilang dalam diriku
Keistimewaan terhadap masa lalu 

Cukuplah aku
Celaka bagiku
Bahwa, belum hilang dalam dirimu
Rasa memiliki terhadap perempuan yang menolak kau miliki itu
Walau celah kudapati dari balik matamu
Ternyata semu memilu dalam pandanganku

Cukuplah aku
Yang melebur dalam pikiranku
Mengutuk prasangka menjadi abu
Merutuki aku atas pernyataan cintaku


Bekas Luka

Luka tak selalu membeku
Ada yang diam-diam menghangat 
Seperti sisa peluk yang tertinggal setelah kepergian.

Aku berada di sana

Dalam jeda yang tak terucap
Dan harap yang menunggu binasa

Aku bukan lagi kobaran api
Aku bara sunyi yang kau kira telah mati
Padahal hanya menanti
Kau rindu untuk merasa lagi

Serang, 22 Februari 2026


________

Penulis 


Nisa Nurfadilah, dilahirkan di Serang, 7 Juli 2007. Suka menulis puisi dan esai, pernah sesekali menulis cerpen. Tak banyak karya yang terpublikasi. Namun, aktif menulis di Kompasiana, Instagram, website UKM Belistra, dan beberapa kali mengirim ke media massa berbayar, namun belum lolos. Kesibukan saat ini adalah sebagai seorang mahasiswi semester 4 di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dan mengikuti organisasi kampus: UKM Bengkel Menulis dan Sastra (Belistra). 


Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com 

Terimakasih telah berkomentar!