Oleh Encep Abdullah
Orang-orang yang saya sebut mula-mula saat pertama berjumpa seperti makhluk yang sedang tersesat di belantara hutan, bahkan kelihatan ”sakau”. Mereka seperti ingin membabat segala ilalang itu: rasa penasaran akan proses, tujuan, dan hasil. Saya, sebagai mentor, hanya memberi peta, mungkin tidak terlalu banyak ikut campur untuk masuk ke dalam belantara-belantara itu karena akan cukup melelahkan. Kadang, saya suruh mereka mencari penunjuk jalan (guru) yang lain. Sebagian entah pergi ke mana, sebagian lagi masih tetap ingin nyumput di ketiak saya.
Guru, sejauh mana pun, pasti punya kelemahan. Jangan terpaku pada satu guru. Kadang, si guru kurang meng-update dan meng-upgrade ilmu. Jadi, guru perlu banyak cara agar obrolannya bisa nyambung—walau kadang terlalu memaksakan. Saya pun mungkin begitu. Untuk beberapa hal bisa saya ikuti, untuk hal lain mungkin saya abaikan. Saya tak mengerti, apakah memang belum menemukan orang lain selain saya agar dahaga mereka bisa terpuaskan—walau tak mungkin bisa terpuaskan—atau mereka memang malas mencari guru lain, atau memang tidak ada yang klop. Apakah sesulit itu mencari guru?
Adakalanya saya pun perlu mengecas diri. Mungkin sudah sering saya sampaikan hal ini pada tulisan-tulisan yang lalu. Saya perlu uzlah, mungkin lebih nyufi lagi istilahnya tahannuts. Agak ngeri sih istilah ini, padahal saya hanya gelandangan yang masih jauh dari akhlak mahmudah atau akhlakul karimah. Tapi, agenda macam uzlah kan tidak terus-menerus, hanya perlu merenung sekian menit, jam, atau hari untuk merefleksikan keadaan agar ada jalan terang. Maka, kembali riuh dengan orang lain mungkin bagian dari jawaban itu sebelum nanti mengecas diri dengan tahannuts kembali. Ini semata-mata agar melatih jiwa tetap berada dalam keheningan (menuju Allah) meskipun dalam keriuhan (duniawi).
Kembali kepada Heru. Ia adalah sosok anak jalanan dalam dunia BMX freestyle. Tubuh Heru sudah menjelajah banyak negara, banyak tempat. Ia tidak sekadar juga membawa tubuh, melainkan juga jiwa yang iqra. Ia gelisah, jiwanya berkecamuk, pikirannya bertengkar, lalu merenung dan menyimpulkan bahwa ada sesuatu di balik itu. Itulah iqra. Orang yang sudah iqra saya yakin akan mudah untuk menulis. Menulis adalah output dari iqra itu. Maka, lengkaplah sudah Heru menjadi penulis yang mendapat iqra dua kali: membaca dan menulis—seperti yang sering disampaikan Golagong ”menulis adalah membaca dua kali”.
Saya tidak tahu buku apa yang Heru baca. Intinya, ada bakat. Sekarang, ia ingin belajar menulis puisi. Saya selalu yakin, akan mudah orang seperti Heru untuk menjadi penyair. Jiwa perenungnya ada, jiwa filsufnya ada, jiwa iqranya ada, jiwa reflektifnya ada, komplet. Mungkin tinggal membaca banyak referensi saja agar bisa melihat peta para penyair itu seperti apa, biar tidak buta. Menulis kalau sekadar menulis, siapa pun mungkin bisa. Tapi, menulis yang tak sekadar menulis, tidak semua orang bisa. Bahkan, sekalipun saya—seringnya yang penting menulis dan tampak panjang paragrafnya, agak sulit untuk menulis yang terlalu dalam karena butuh kontemplasi yang juga dalam.
Sosok Heru adalah bagian dari tantangan memunculkan penulis baru berbakat di Banten. Apalagi ia influencer. Malah, untuk memberikan dampak yang lebih luas kepada orang lain agar mau membaca dan menulis bisa sangat memungkinkan ketimbang saya. Karena banyak penulis muda yang saya asuh, atmosfernya kurang kuat. Sebagiannya sekadar menulis saja, bukan sebagai kontemplasi, bukan iqra yang iqra. Penjabaran iqra yang iqra, kiranya bisa kita pakai uraian dari K.H. Toto Tasmara yang menurut saya sebagai Muslim cukup mengena. Huruf ”alif” pertama melambangkan bahwa setiap permulaan dimulai dari Allah. Lalu, huruf ”qaf” melambangkan qalbu, bahwa sejatinya setiap yang kita kerjakan harus berasal dari hati. Maka, akan muncul ”ra” sebagai rahmatan lil ’alamin, suatu kebermanfaatan untuk umat. Terakhir ”alif” lagi, bahwa segala hal diakhiri dengan kepasrahan diri kepada Allah. Saya kira, itu ada dalam diri Heru, yang jarang saya temukan pada penulis lain.
Mencari penulis berbakat, apalagi di luar latar belakangnya sebagai akademisi, agak sulit dicari. Mungkin yang kuliah banyak. Akademisi pun banyak. Tapi, banyak juga yang gagap menulis. Maka, sosok seperti Heru menjadi semacam antitesis. Banyak rekan yang saya asuh, mereka adalah guru, sarjana, akademisi, bahkan pembaca buku yang ulung. Saat mereka menulis, saya tidak terlalu kaget. Pada diri Heru, lain lagi. Seperti ada semacam keaslian diri, bahkan kepolosan dan kejujuran diri menilai sesuatu. Pandangannya terhadap sesuatu tampak otentik dan itu yang tidak dimiliki banyak penulis baru, khususnya yang ada di Banten—dalam hal ini saya tidak sedang mengecilkan semangat teman-teman yang memang berada di jalur akademis.
Saat acara bedah buku Heru, Golagong bilang, ”Cep, kalau bisa cari penulis cewek yang punya bakat seperti Heru!”
Ini satu tantangan. Bisa saya temukan, bisa juga tidak. Penulis baru banyak, tapi mencari yang otentik agak susah. Untuk menyebut Banten, saya masih penasaran bahkan ingin ketemu dengan satu sosok penulis muda yang saya kira juga agak ”gila” pikirannya. Ia bernama Santama, asal Anyer. Bisa cari FB-nya dengan nama yang sama. Santama ini agak misterius, agak susah diajak ketemu. Bahkan, uniknya, ia bergabung dengan komunitas-komunitas (online) yang tidak pada umumnya sebagaimana kebanyakan orang Banten. Ia melanglang buana sendiri, belajar otodidak, tidak masuk dalam kelas akademis, tapi bacaanya cukup berbahaya. Tulisannya—cerpennya—otentik, bahkan seakan memberontak terhadap struktur bahasa. Anda bisa baca cerpen-cerpennya di NGEWIYAK. Saya belum menemukan sejauh ini, penulis—sastrawan—muda dari Banten yang menulis cerita macam Santama. Namun, saya belum menemukan cara agar Santama muncul di permukaan kesusastraan Banten.
Mencari bakat penulis di Banten, itu gampang, tapi susah. Kadang juga susah, tapi gampang. Intinya aja deh, liyeeeeur!
Kiara, 17 April 2026
______
Penulis
Encep Abdullah, Dewan Redaksi NGEWIYAK. Kolom ini adalah tempat curhatnya tiap pekan walau sering kali banyak alpanya sejak Indonesia ganti presiden. Buku proses kreatifnya yang sudah terbit antara lain Ihwal Menulis dan Menjadi Penulis (2024).
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!