Oleh Encep Abdullah
Saya perlu menghela napas panjang untuk kembali membuka kelas menulis online: WA dan ruang virtual. Meladeni orang-orang tersebut sudah saya sadari perlu waktu dan pelayanan khusus. Saya cek jadwal saya tiga bulan ke depan, sepertinya aman. Selain itu, keterdesakan saya untuk membuka kembali makin membuncah saat beberapa rekan WA saya dan meminta dibuka kembali kelas baru. Tak nyana peminat yang mendaftar lebih banyak dari biasanya. Kadang saya berpikir, mereka ini mencari apa sih?
Pertanyaan yang saya ajukan di atas barangkali tak sepatutnya saya pertanyakan. Toh, harusnya saya tahu karena kalau dipikir-pikir, dulu saya juga begitu. Bedanya, saya belajar sebelum ada WA, sebelum ada AI. Zaman sekarang, banyak peserta kelas menulis yang nakal. Mentok menulis, ujung-ujungnya nyuruh AI. Mereka tidak komitmen dengan "kontrak kerja" yang sudah disepakati bersama di awal.
Oh, iya, saat saya bilang kepada istri kalau saya mau buka kelas menulis online lagi, ia manyun. Istri saya sudah tahu, pasti waktu saya akan terbagi-bagi. Mungkin yang biasanya malam saya ngelonin ia, malah berganti ngelonin HP (karena harus membaca dan membalasi WA teman-teman di grup, seringnya malam hari). Ah, ngurusin beginian kan tidak setiap waktu. Toh, sejak sepuluh tahun terakhir, saya melakoni ini, saya tetap baik-baik saja. Nyatanya istri saya juga tahu segala urusan yang memang menjadi tugas dan pengabdian saya untuk bangsa ini. Anjaaay!
Anda yang mungkin punya bakat dan minat lain pun barangkali akan berpikir sama. Berupaya mencari satu kesibukan lain dari kesibukan lain yang sudah ada. Tentu, semua butuh pertimbangan. Tidak mudah mengasuh orang banyak, beda kepala, bahkan di ruang online yang sebagian besar mungkin tidak tahu karakter aslinya (walaupun sebagian lagi orang yang ikut adalah orang-orang dekat saya).
Untuk awal tahun 2026, mungkin kali pertama peserta overlude. Biasanya saya hanya menampung sepuluh atau belasan peserta. Kali ini tiga puluhan peserta. Mereka saya bagi menjadi tiga kelompok grup: esai, cerpen, dan puisi. Baru kali ini, peserta saya bagi ke dalam grup khusus. Biasanya jadi satu grup, saling belajar bersama. Tapi, saya kira diskusi akan kacau bila tiga genre itu disatukan.
Sebagaimana grup-grup pada umumnya. Ada orang yang aktif, hiperaktif, diam seribu bahasa. Nongol kalau ada maunya doang atau nongol saat jadwal posting karya doang. Ya, saya maklumi kita semua punya kesibukan, yang penting tidak merusak perjanjian dan kesepakatan di awal.
Berkomentar di grup, itu menjadi salah satu latihan menulis. Sayangnya, mereka tak memahami itu. Padahal, sudah disclaimer bahwa kelas ini boleh buat gaya-gayaan berkomentar sok pintar, sok kritis, dan sok-sokan yang lain. Boleh juga menentang, tak setuju, bahkan harus. Anehnya, sebagian malas melakukan ini. Hanya orang-orang tertentu--untuk tidak mengatakan kurang waras--saja yang mau memanfaatkan peluang itu: belajar berdialektika.
Esensi berkomentar, berdiskusi, bagi saya bukan menyoal benar tidaknya pendapat itu, melainkan menguji seberapa mampu kita mengolah, menyajikan, meyakinkan pikiran kepada orang lain. Justru di sana letak keseruannya. Ruang kelas menulis yang saya buat, baik di komunitas luring maupun daring, selalu memberikan ruang dialektika semacam itu. Ada keseruan yang tak bisa dinikmati oleh banyak orang. Hanya orang-orang yang satu frekuensi yang bisa menikmati itu.
Kepada siapa pun yang sedang berada di satu komunitas, khususnya komunitas menulis, manfaatkan ruang itu dengan sebaik-baiknya. Tidak semua orang punya kesempatan semacam itu. Waktu kalian terbatas di sana, ada masa akhir. Jangan menyesal bila masa itu tiba-tiba berakhir, dan teman-teman belum siap bertarung di dunia nyata, di dunia para penulis sebenarnya.
Ini mungkin nasihat yang klise dan mungkin agak menjijikkan. Tapi, toh, kita tetap butuh juga nasihat-nasihat "taik" kayak gini. Nasihat yang sok menggurui.
Semua saya kembalikan kepada Anda yang saat ini sedang berada di medan pertempuran. Teruslah bertarung. Entah bertarung di ruang mana. Entah bersama siapa. Entah menjadi apa.
Sehat-sehat ya!
Kiara, 3 Maret 2026
______
Penulis
Encep Abdullah, Dewan Redaksi NGEWIYAK. Kolom ini adalah tempat curhatnya tiap pekan walau sering kali banyak alpanya sejak Indonesia ganti presiden. Buku proses kreatifnya yang sudah terbit antara lain Ihwal Menulis dan Menjadi Penulis (2024).
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!