Saturday, March 7, 2026

Resensi Kabut | 16 Halaman

Oleh Kabut



Yang biasa diingat para pembaca buku anak-anak di Indonesia: cerita dan gambar (berwarna). Maka, mereka memilih buku-buku dari penerbit besar, yang memiliki kemampuan dana dan penggunaan mesin cetak yang ampuh. Pembuatan buku cerita anak menggunakan ilustrasi berwarna memang mahal. Konon, buku sesuai impian anak memang mengharuskan ilustrasi yang indah. Ukuran besar dan warna-warni menjadikan anak-anak terpikat. Buku pun disenangi anak-anak meski bapak dan ibunya mesti berani boros.

Apakah buku yang bermutu memang ditentukan ilustrasi berwarna, jenis kertas, dan model cetaknya? Di Indonesia, “kemewahan” buku untuk anak-anak masih terus diributkan berkaitan uang dan dampaknya. Kini, “kemewahan” makin bertambah gara-gara penerbit-penerbit besar berani bersaing. Akhirnya, anggaran yang besar lumrah dalam perayaan buku anak di Indonesia.


Namun, ada para pembaca yang memiliki memori sederhana (saja). Memori yang merujuk Pustaka Jaya. Apakah penerbit itu pantas diakui memenuhi keinginan anak atau selera pasar buku anak? Sejak masa 1970-an, ratusan judul buku anak sudah diterbitkan. Faktanya mendapat ribuan pembaca. Yang sedang kita masalahkan adalah Pustaka Jaya dan “kemewahan” buku cerita anak. Penerbit itu susah masuk golongan yang mau menuruti “kemewahan” walau tetap selalu menjaga mutu.


Pada masa 1983, Pustaka Jaya menerbitkan buku berjudul Putri Darma Ayu. Cerita ditulis oleh M Saribi Afn. Ilustrasi dibuat oleh Adam Brata. Tipis. Pembaca hanya mendapat 16 halaman. Istimewanya, gambar atau ilustrasinya warna-warni. Bagi penerbit, suguhan itu membedakan dengan terbitan masa 1970-an, yang seringnya ilustrasi cuma hitam dan putih. Apakah penerbit sudah punya kekuatan dana besar dan berani bersaing di industri buku anak yang dikuasai kelompok penerbit Gramedia? 


Yang pasti, perubahan-perubahan mulai terjadi. Pustaka Jaya tetap ingin mengadakan bacaan baru, bukan sekadar perlahan menjadi nostalgia. Namun, pihak-pihak yang bernostalgia dengan edisi-edisi lama lebih kuat ketimbang kemunculan pembaca baru untuk buku-buku terbitan masa 1990-an.


Di buku berjudul Putri Damar Ayu, ilustrasi-ilustrasi memang dicetak berukuran besar dan warna-warni. Apesnya, pemilihan huruf malah terjadi “kesalahan”. Huruf dalam buku tampak berukuran kecil dan rapat, yang akibatnya dapat menghambat anak-anak yang membaca. Mengapa “kecil” itu bermasalah? Penata letak buku mungkin sedang mengirit ruang. Pembaca boleh menuduhnya belum handal. 


Yang dibaca adalah cerita rakyat. Anak-anak membaca asal-usul (penamaan) tempat, yang biasanya disampaikan secara lisan, dari generasi ke generasi. Pada saat dikatakan, anak-anak yang mendengarnya perlu membayangkan warna pakaian, warna alam, warna benda, warna binatang, dan lain-lain. Kemampuannya berimajinasi mengesahkan “keterlibatan”, yang membuat cerita lisan memancarkan pesona dalam waktu yang lama.


Pada suatu saat, cerita rakyat dijadikan tulisan. Penerbit yang mengadakan bacaan anak hanya berisi tulisan saja berarti berani tidak laku. Terbitnya cerita anak secara tertulis yang digenapi ilustrasi berwarna menempatkan anak-anak sebagai pembaca yang (masih) berimajinasi tapi tetap membedakan kesan-kesan bila menikmatinya secara lisan.


Kita membaca perjalanan Pangeran Wiralodra dan Ki Tinggil. Mereka bergerak dari Bagelen. Cerita diupayakan ringkas, dimulai dengan pesan diperoleh dalam mimpi: “Cucuku, pergilah ke hutan di tepi Sungai Cimanuk. Bangunlah kampung di sana dengan segala tenaga. Jangan cepat putus asa. Engkau akan memperoleh kebahagiaan di hari depan.” Orang bermimpi mendapat pesan. Kalimat-kalimat yang keramat, yang menentukan nasib suatu tempat. Semua itu hanya dapat terwujud melalui perjalanan. Anak-anak membayangkan perjalanan para tokoh yang jauh dan penuh teka-teki. 


Dulu, perjalanan sangat membutuhkan keberanian, selain kekuatan yang besar. Ketabahan pun wajib dimiliki agar perjalanan tidak sia-sia dan ditimpa banyak masalah. Ilustrasi yang dicetak adalah dua tokoh berjalan kaki, bukan naik kuda. Artinya, mereka berjalan yang menghasilkan keringat. Lihatlah, tokoh-tokoh berjalan tanpa alas kaki. Konon, mereka belum mengenal sandal atau sepatu.


Di suatu tempat, Wiralodra bertemu sosok tua, berharap mendapat keterangan mengenai hutan di tepi sungai yang sedang dicarinya. Penjelasan yang diberikan malah menghasilkan ucapan sosok tua: “Kau orang asing di sini. Ini bukan daerahmu. Aku tak mau memberikan keterangan padamu. Kembalilah ke tanah asalmu. Kembalilah segera.” Kata-kata itu secara cepat memicu kemarahan. Yang terjadi, Wiralodra mengamuk yang menghancurkan tempat dan memaksa sosok tua melarikan diri. Anak-anak yang pembaca agak mendapat pelajaran: omongan dapat menimbulkan pertengkaran. Salah paham antara dua pihak berdampak kerusakan. Namun, yang aneh, Wiralodra mudah marah. Apakah itu gara-gara lelah selama perjalanan dan harapan yang terlalu besar. Pembaca diminta sepakat dengan ilustrasi tokoh yang marah, menampilkan wajah yang dikuasai kebencian dan permusuhan. Gambar yang sulit dikatakan apik. 


Marah itu tidak baik. Maka, ada kesempatan memberi nasihat kepada Wiralodras sekaligus diharapkan dimengerti oleh anak-anak yang membacanya. Pesan yang jelas: jangan mudah marah.


Petunjuk baru diperoleh agar Wiralodra dan Ki Tinggil. Perjalanan dilanjutkan lagi. Akhirnya, tempat itu berhasil ditemukan. Yang disampaikan pengarang: “Mereka berdua segera bekerja keras membuka hutan. Berminggu-minggu, berbulan-bulan, tidak mengenal lelah.” Pada saat membaca kata-kata mengenai bekerja, anak-anak tidak melihat gambar para tokoh menggunakan alat. Bagaimana semuanya dapat diwujudkan? Pokoknya anak-anak dianjurkan mengandalkan imajinasi, bukan ilustrasi warna-warni.


Pekerjaan mereka dapat dianggap berhasil. Anak-anak membaca keterangan: “Dukuh kecil itu berkembang. Mula-mula sebagai tempat orang singgah melepaskan lelah. Lama-kelamaan, banyak orang yang tertarik pindah dan menetap di situ. Karena tanahnya subur, segala yang ditanam berhasil baik.” Perjalanan yang jauh. Perjalanan yang menuai kebaikan. Anehnya, ilustrasi yang terdapat dalam buku tidak menampilkan orang berjumlah banyak yang menetap di dukuh. Yang tampak bukanlah rumah atau perkebunan. Ilustrator mungkin tidak mampu atau melewatkannya. Para pembaca boleh kecewa.


Kejutan berada di akhir, tampilnya tokoh yang disebut putri yang cantik. Gambar yang ditampilkan memang sosok cantik berambut panjang. Anak-anak tidak diharuskan mengetahui asalnya atau kepentingannya. Sosok itu bernama Endang Darma Ayu yang dianggap “pintar, berilmu, dan sakti”. Pembaca dianjurkan mengaguminya.


Wiralodra tergoda untuk menantang kesaktian putri cantik. Yang dibaca anak-anak adalah cerita rakyat. Jadi, yang dibutuhkan bukan percakapan panjang dua tokoh. Mereka bersepakat untuk saling membuktikan kesaktian. Perlawanan antara lelaki dan perempuan. Apakah itu bakal imbang dan menguak kehormatan? Pertaruhannya: bila Wiralodra kalah maka menjadi hambar tapi bila menang berhak menjadikan Endang Darma Ayu sebagai istri. Anak-anak yang membaca tidak usha bingung bahwa adu kesaktian mengandung pertaruhan. 


Kemenangan diraih Wiralodra. Namun, apa yang didapatkannya? Suara yang terdengar: “Dinda akui, kesaktian kanda jauh melebihi saya. Saya menyerah. Tetapi, saya pun tidak mau menjadi istri kakanda. Jika kanda tetap mencintai saya, kenanglah nama saya.” Akhir yang kurang seru. 


Yang dipentingkan dalam buku cerita (16 halaman) memuat beberapa ilustrasi adalah paragraf nama: “Konon, itulah sebabnya daerah itu kemudian disebut Dermayu, untuk mengenang nama Endang Darma Ayu. Sekarang, Dermayu kita kenal sebagai Indramayu, di daerah Cirebon.” Anak-anak yang membacanya lega atau setengah kecewa? 


_________


Penulis


Kabut, penulis lepas.



redaksingewiyak@gmail.com



Terimakasih telah berkomentar!