Oleh Kabut
Pemberian mata pelajaran sejarah di SD pernah mencipta keruwetan. Yang belajar sejarah melalui PSPB dan PMP menemukan pengulangan atau tumpang tindih. Beberapa hal bermunculan tanpa ada janji kesepakatan untuk sama. Murid akan bingung bila menemukan perbedaan, yang semuanya tercantum dalam buku pelajaran. Keinginan mengetahui sejarah ditambah “berat” dan “samar” saat belajar IPS.
Soeharto ingin jutaan anak di seantero Indonesia melek atau mengerti sejarah. Maksudnya, sejarah membekali mereka agar menjadi manusia-Pancasila atau manusia-pembangunan nasional. Maka, sejarah yang dipelajari diharuskan sesuai kepentingan penguasa. Murid-murid yang belajar sejarah bertujuan makin cinta tanah air, selain kebiasaan mendoakan arwah para pahlawan saat upacara di halaman sekolah. Sejarah tidak cukup hanya dengan gambar atau poster pahlawan di dinding kelas.
Anak-anak yang sedang menyusun masa depannya alias cita-cita diharapkan mengetahui masa lalu. Artinya, masa lalu yang tokoh-tokohnya dewasa. Mereka belajar sejarah bukan bertemu tokoh yang masih anak-anak atau remaja. Babak-babak sejarah di Nusantara memberi ruang terbesar untuk kaum dewasa yang berani bersenjata dan berdiplomasi. Sejarah yang berat itu dipelajari anak-anak dengan ingatan yang menggumpal tanpa ada jaminan sedang merawat kebenaran.
Yang mengingat masa Orde Baru mengetahui bahwa buku-buku pelajaran yang digunakan di sekolah-sekolah membawa misi ideologis. Di pelajaran sejarah, penguasa berhak menentukan hal-hal yang dipelajari dan hal-hal yang dihilangkan atau disembunyikan. Pokoknya, sejarah sangat penting dan berguna dalam menentukan persatuan dan kesatuan, yang ujung-ujungnya membenarkan demokrasi Pancasila dan pembangunan nasional. Murid-murid belajar sejarah memberi bobot atas martabat penguasa dan stabilitas politik, yang kadang mendapat gangguan dari pihak-pihak yang menggugat sejarah dan ingin melakukan pelurusan sejarah. Apakah itu mengartikan penguasa main-main dan berani membuat kebohongan dalam pelajaran sejarah?
Kita masih dapat menemukan buku mengajarkan sejarah tapi bukan buku pelajaran. Apa yang ingin kita simak dari buku lawas? Buku itu memuat sejarah dalam bentuk puisi. Murid-murid SD mendapat suguhan yang berbeda dalam bahasa dan cara ungkap dalam usaha mengerti sejarah. Bagaimana bila yang membaca sejarah itu malah terpeleset dalam imajinasi?
Pembuktian dengan membuka buku berjudul Sejarah Indonesia dalam Puisi susunan M Badari Tamam dan kawan-kawan. Ingat, yang menyusun bukan cuma satu orang tapi beberapa orang. Anehnya, nama-nama yang lain tidak dicantumkan. Kerja penulisan yang kolektif, mengesankan pengajaran sejarah lewat puisi mengandung keseriusan ketimbang halaman-halaman buku pelajaran sesuai kurikulum buatan pemerintah.
Buku diterbitkan Tiga Serangkai, Solo, 1984. Buku disusun dan diterbitkan untuk dibaca murid-murid kelas V di SD. Bagaimana bila murid-murid kelas 1, 2, dan 3 ingin membacanya? Maka, mereka akan menemukan kesulitan meski mengusung penasaran. Apakah murid kelas IV dan VI boleh membacanya? Para penyusun sudah mempertimbangkan puisi-puisi dapat dimengerti bagi murid-murid yang lancar membaca dan mulai tergoda imajinasi. Pada saat membaca, mereka dianjurkan mencari keterangan lanjutan di buku pelajaran atau meminta penjelasan guru. Bagi yang berminat sejarah, beberapa hal dalam puisi dapat disokong dengan bacaan-bacaan yang tersedia di perpustakaan.
Penerbitan buku bisa untuk dibaca saja atau digunakan sebagai bahan saat mengikuti lomba deklamasi. Kita menduganya melalui gambar di sampul depan. Lihatlah, murid SD yang rambutnya berpita sedang beradegan membaca puisi. Di belakang, kita melihat gambar candi, yang disebut sebagai peninggalan sejarah. Ada juga gunung dan kibaran bendera merah-putih.
Yang disampaikan oleh para penyusun buku: Dengan membaca buku ini/ Berarti membaca dan menghayati puisi/ Sekaligus mengkaji budaya bangsa/ Budaya agung sepanjang masa// Buku ini kami persembahkan/ Kepada seluruh bangsa Indonesia/ Apalagi dalam masa pembangunan/ Ikut membantu mencerdaskan bangsa. Pengantar itu mengandung kutipan-kutipan dari UUD 1945 dan GBHN. Jadi, anak-anak yang membaca jangan mengira dapat hiburan. Puisi-puisi yang dibacanya serius, yang menjelaskan Indonesia, dari masa ke masa. Yang tidak diremehkan adalah kemampuan membumbui imajinasi, yang membedakannya dari buku pelajaran.
Kita mulai mengingat sejarah melalui bait-bait yang mengisahkan Sultan Agung. Kita membayangkan murid-murid masa lalu mudah membacanya dan sedikit demi sedikit mengerti setelah membandingkan dengan isi dalam buku pelajaran sejarah. Yang terbaca: Mataram Islam di Jawa/ Dipimpin oleh Sultan Agung/ Melawan Kompeni di Batavia/ Yang dipimpin JP Coen// Tahun seribu enam ratus dua delapan/ Sultan Agung mengirim pasukan/ Untuk menumpas Kompeni-Belanda/ Yang berada di Batavia… Terjadilah pertempuran seru/ Korban jatuh satu per satu/ Para pejuang kita/ Tidak takut menghadapi Belanda// Tentara Mataram/ Bersenjatakan golok, tombak, dan pedang/ Belanda menggunakan senapan dan Meriam/ Tentu saja tidak seimbang// Setelah Bahu Reksa gugur/ Pasukan Mataram mundur/ Turunlah semangat pasukan Mataram/ Mereka mundur dari pertempuran/ Atas kekalahan ini/ Sultan Agung tidak putus asa/ Dipersiapkannya pasukan yang memadai/ Untuk menggempur Batavia.
Bait-bait itu bisa dimengerti murid sebagai perang. Sejak dulu, sejarah adalah perang dan perang. Sejarah tanpa perang berarti tidak seru dan heroik. Sejarah tanpa pengorbanan dan kematian rasanya hambar. Murid-murid yang membaca puisi menyadari bahwa menang dan kalah ditentukan persenjataan. Di Jawa atau Nusantara, teknologi persenjataan masih sederhana. Kekalahan itu lumrah. Senjata yang dibawa Eropa sangat mematikan dan membingungkan bagi yang terbiasa menggunakan senjata tradisional dengan kekuatan-kekuatan gaib. Artinya, sejarah bisa dipelajari dalam pengertian teknologi Barat yang mengalahkan warisan para leluhur di Nusantara. Padahal, murid-murid bisa mendapat cerita bahwa persenjataan tradisional di Nusantara dibuat melalui upacara dan pantangan-pantangan.
Kita melanjutkan membaca puisi mengenai Barat yang datang, akhirnya berkuasa di Indonesia, selama ratusan tahun. Ingat, kita membayangkan seperti murid SD sedang membaca sejarah yang menimbulkan kekaguman atas kekuatan Barat tanpa meremehkan perlawanan-perlawanan bumiputra. Yang pasti, Barat memang mencipta kolonialisme yang menyebabkan sejarah memerlukan heroisme, yang biasanya tampak melalui pembuatan taman makam pahlawan dan penamaan jalan-jalan.
Sejarah yang dimulai di Maluku. Anak-anak yang membaca wajib melihat peta jika tidak ingin tersesat. Sejarah yang ruwet tapi menantang imajinasi: Selanjutnya/ Tahun seribu lima ratus dua puluh satu/ Bangsa Spanyol tiba di Maluku/ Dari Philipina melalui Kalimantan Utara// Kemudian/ Tahun seribu lima ratus sembilan enam/ Belanda mengadakan pendaratan/ Dipimpin oleh Cornelis de Houtman// Sejak saat itu/ Orang-orang Eropa/ Berdatangan ke Indonesia/ Khususnya ke Maluku// Bangsa Barat/ Menanamkan pengaruhnya/ Kepada masyarakat/ Yang kebudayaannya berbeda// Agama Kristen dan Katolik mereka sebarkan/ Di beberapa tempat di Indonesia/ Akibatnya agama itu mulai berkembang/ Ke pelosok negara// Dari bangsa Barat itulah/ Huruf latin dikenal oleh bangs akita/ Masyarakat kita mengenal sekolah/ Yang mengajarkan ilmu yang berguna.
Babak sejarah itu tidak sepenuhnya berisi kesalahan Barat yang mengadakan kolonialisme. Mengapa penjajahan masih memungkinkan memberi “berkah” bagi Nusantara? Anak-anak disadarkan tentang adanya sekolah dan penggunaan huruf latin, akibat dari kolonialisme. Artinya, sejarah itu sulit dilihat sekadar hitam dan putih. Artinya, murid-murid yang selesai membaca buku dianjurkan membuat obrolan bareng guru atau ahli sejarah agar mereka memiliki petunjuk yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Buku agak tebal yang diterbitkan Tiga Serangkai mengajarkan sejarah dengan bentuk puisi, yang diberi penomoran. Murid-murid sebaiknya membaca pelan-pelan atau dicicil, tidak perlu langsung menyelesaikan 462 nomor atau bait. Yang nekat membacanya akan kelelahan, belum tentu mengerti sejarah dan mampu membuat ingatan-ingatan. Di beberapa halaman, para pembaca sempat melihat gambar-gambar yang ikut merayakan imajinasi sejarah walau mutunya jelek.
Murid-murid SD yang berhasil khatam buku Sejarah Indonesia dalam Puisi agaknya beruntung ketimbang yang terpaksa membaca buku-buku IPS, PSPB, dan PMP yang sering membosankan dan membebani gara-gara dihajar oleh ujian. Sejarah yang dipuisikan itu seru ketimbang sejarah yang diukur dengan nilai dan kenaikan kelas.
_________
Penulis
Kabut, penulis lepas.
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!