Saturday, March 28, 2026

Resensi Kabut | Sejak Kecil

Oleh Kabut



Yang bisa diingat dari kesibukan jutaan orang mudik sebelum Lebaran adalah kemacetan dan kelelahan. Kita mesti menggenapi ingatan bila membaca berita kecil mengenai menteri membagi buku kepada anak-anak yang turut dalam lakon mudik akbar di Indonesia. Menteri yang bertugas mengurusi pendidikan itu menginginkan anak-anak selama mudik menjadi pembaca buku. Konon, yang membaca bakal mendapat pengetahuan, selain mampu mengartikan waktu perjalanan dengan berfaedah.

Peristiwa yang tidak terlalu mendapat perhatian menjelang Lebaran. Kita digoda membuat pemaknaan bacaan dan Lebaran. Anak-anak tidak selalu berkaitan uang dan makanan untuk perayaan Lebaran. Di tangan mereka, ada buku-buku yang bersumber dari “kebaikan” pemerintah. Kita penasaran mengenai judul buku dan pengakuan anak-anak yang berhasil bersama buku selama perjalanan menuju kampung halaman.


Kini, Lebaran telah berlalu. Namun, kita mendapat susulan ingatan mengenai bocah dan bacaan. Yang memasuki dan duduk di gedung bioskop mendapat pesan dari film berjudul Na Willa. Film yang sengaja jadwal pemutarannya meramaikan Lebaran. Di film bertokoh anak-anak, para penonton mengetahui Na Willa yang hidup bersama buku. Di kamarnya, ada banyak buku, yang sering dibelikan oleh bapaknya. Yang bertugas membacakan adalah ibu. Beberapa buku berbahasa Inggris. Penonton belum perlu cemburu melihat bocah yang dimanjakan buku-buku berbahasa Inggris. Bocah yang istimewa.


Apakah urusan bocah dan bacaan hanya terpikirkan pada abad XXI, abad yang (terlalu) digital? Kita mendingan membuka ingatan dari silam yang bergelimang cerita di kertas-kertas terjilid. Hari-hari setelah Lebaran, anak-anak mungkin mewujudkan ambisi menghabiskan uang. Mereka ingin senang. Lebaran berdampak gagasan uang. Anak-anak rajin jajan makanan dan minuman, selain mainan. Ada anak-anak mungkin menggunakan uangnya untuk membeli buku-buku baru. Adakah yang berpikiran aneh dengan membeli buku-buku bekas atau lama?


Kita membayangkan ada anak yang dolan ke Solo. Ia menuju Gladak, yang memiliki tempat penjualan buku-buku bekas. Tempat yang sederhana dan sering sepi meski berdekatan Masjid Agung dan Pasar Klewer. Yang berhasil datang dan berbelanja buku-buku bekas berhak mendapat pujian. Perbuatan yang mulia saat tangan-tangan selalu bergawai dan mata terpikat layar bercahaya.


Di situ, ada yang menemukan buku berjudul Seorang Anak Bernama Suwardi Suryaningrat garapan BS Dewantara. Buku tipis yang diterbitkan oleh Intan Pariwara, 1981. Anak-anak yang memegang buku itu mula-mula dijerat pertanyaan mengenai tokoh. Mereka mengenali Ki Hadjar Dewantara tapi kurang mengakrabi Suwardi Suryaningrat. Dua nama milik satu tokoh, yang berpengaruh dalam sejarah politik dan pendidikan di Indonesia. Tokoh yang membawa misi-misi besar, sejak masa kolonial.


Dulu, buku itu bacaan anak-anak dalam asuhan Orde Baru. Rezim yang dipimpin Soeharto, yang serius dalam mengenalkan tokoh-tokoh sejarah melalui buku pelajaran, buku cerita anak, poster, lagu, dan film. Penerbitan buku yang ditulis BS Dewantara itu termasuk yang ingin mengenalkan anak-anak dengan sejarah. Yang dibaca adalah buku biografi yang rasanya novel. Penulis adalah keturunan Ki Hadjar Dewantara. Artinya, tulisan berdasarkan fakta dan ingatan meski boleh menghadirkan yang fiksi.


Jadi, yang dihadapi para pembaca adalah anak yang mengisahkan bapaknya saat masih kanak-kanak. Buku yang memang diharapkan cocok sebagai bacaan anak walau mengandung beban-beban politik, kebudayaan, dan sejarah. Buku tipis yang mudah diselesaikan dalam hitungan menit tapi membuat anak-anak kepikiran macam-macam. Unsur hiburannya sangat sedikit.


Di pembuka, penulis mengingatkan bahwa Suwardi Suryaningrat dilahirkan saat bulan Ramadan. Yang tercatat di sejarah dan diperingati secara nasional di Indonesia, Suwardi Suryaningrat atau Ki Hadjar Dewantara dilahirkan 2 Mei 1899. Tanggal yang dipilih untuk memuliakan pendidikan. 


Penulis memberi pengertian bahwa waktu kelahiran mengesankan religiositas dalam kedirian anak yang lahir dalam alur keningratan di Jogjakarta. Bapaknya adalah sosok penting di Pakualaman, yang mewujudkan cita-cita kebudayaan dalam kondisi tunanetra. Jadi, Suwardi Suryaningrat dalam pengasuhan bapaknya yang memiliki keistimewaan. Pada masa kecil, pengajaran Islam dan Jawa membentuk biografi yang kokoh.


Kita membaca kutipan mengenai bapak yang memberi petunjuk pada Suwardi Suryaningrat: “Di, mulai besok, engkau harus belajar mengaji dan belajar membaca huruf Jawa. Aku sudah mengundang dua orang guru. Pada tiap hari Senin, engkau harus belajar membaca dan menulis huruf Jawa, sedang hari Kamis engkau mengaji (Al Quran).” Anak itu menurut, memasuki hari-hari yang belajar.


Suwardi Suryaningrat tidak selalu belajar. Harinya-harinya pun girang saat bermain bareng teman-teman. Yang bersamanya tidak selalu anak-anak bangsawan. Ia justru suka bergaul dan bermain dengan anak-anak di kampung atau kalangan jelata. Kesadaran “kerakyatan” telah terbentuk sejak kecil. Ia ingin menghormati sesama tanpa dalil darah kebangsawanan. Maka, ia lumrah menjadi tokoh yang berpihak pada rakyat. Ia belajar dari nasihat bapaknya: “Bangsawan ataupun ulama itu sekadar pakaian, di hadapan Tuhan, pakaian itu akan ditanggalkan, ilmu dan amallah yang menjadi penilaian.” 


Anak-anak yang membaca biografi atau cerita masa kecil Suwardi Suryaningrat mudah kagum. Mereka memang sedang memasuki dunia tokoh yang terkenal dalam pendidikan dan kebudayaan, yang mendapat kemuliaan sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Yang agak membingungkan, anak-anak yang membaca kurang mengetahui sisi-sisi pinggiran dari anak yang bernama Suwardi Suryaningrat. Yang dijejalkan justru sejarah kekuasaan di Jawa, yang digunakan penulis untuk menguatkan latar sejarah untuk kemunculan pemikiran dan gerakan yang diadakan Suwardi Suryaningrat atau Ki Hadjar Dewantara. Jadinya, anak-anak yang ingin mengenali lebih dekat justru dilelahkan oleh uraian sejarah yang rumit. 


Pada akhirnya, para pembaca sampai pada babak perubahan yang dialami Suwardi Suryaningrat yang memasuki gejolak modernitas. Yang ditulis oleh BS Dewantara mengenai kakek dan bapaknya: “Pangeran Suryaningrat sangat bangga atas kemajuan pendidikan Suwardi yang diterima di rumahnya. Tetapi, dia masih ingin meningkatkan lebih tinggi lagi kepandaian putranya yang cerdas itu. Berusahalah Pangeran Suryaningrat memasukkan Suwardi ke sekolah Belanda, yaitu sekolah dasar dinamakan Europeesch Lagere School (ELS). Usahanya ternyata berhasil.” 


Anak itu memang masuk di ELS, 1896. Namun, selama belajar di sekolah, ia menghadapi banyak masalah, terutama diskriminasi dari anak-anak Eropa. Suwardi Suryaningrat mendapat perundungan. Yang dilakukan adalah “membalas” atau melawan melalui perkelahian dan keilmuan. 


BS Dewantara menerangkan: “Pada hari-hari pertama Suwardi duduk di antara anak-anak Belanda di ELS, wajarlah ia mengalami perasaan aneh dan canggung. Namun, semangatnya untuk maju pesat mendorong usahanya untuk dengan cepat menyesuaikan diri dengan keadaan. Hari demi hari, bertambahlah ilmu pengetahuan Suwardi dan kecerdasannya terarah pula. Pengalaman pergaulannya pun bertambah, demikian juga pengenalannya terhadap manusia-manusia baru di sekelilingnya.” Babak anak yang mulai menyadari dunia, yang ia berani hadir sebagai kekuatan perubahan. 


Ia merasakan dampak-dampak pendidikan modern bercitarasa Eropa. Semua yang dipelajari selama kanak-kanak dipadukan dalam pembentukan cita-cita. Suwardi Suryaningrat menjadi sosok yang mengarah pembaharuan dalam situasi kolonial dan kepentingan memajukan bumiputra.


Masalah inilah yang membuat anak-anak yang membaca buku memberikan pujian. Kita menaruh kutipan yang cukup penting: “Setelah belajar dari pengalamannya mengajar anak-anak para hamba sahaya dan anak-anak kampung, sangat terasa oleh Suwardi bahwa mendidik itu merupakan kegiatan yang sangat menarik dan menyenangkan. Setelah lulus dari ELS pada tahun 1904, maka Suwardi melanjutkan pendidikannya ke Kweekschool, yaitu sebuah sekolah pendidikan guru, di Jogjakarta.” Sejak itulah kita mulai memahami misi besar pendidikan, yang berhasil diwujudkan oleh Ki Hadjar Dewantara. Semuanya sudah ditentukan dan dibentuk sejak kecil.


_______


Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Terimakasih telah berkomentar!