Oleh Kabut
Yang mengamati kesusastraan Indonesia, sejak masa 1950-an sampai 1980-an, dipastikan mengetahui satu nama yang biasa menimbulkan polemik. Nama yang selalu teringat dengan novel-novel yang laris. Orang-orang mengingat deretan novelnya itu berahi atau hiburan. Yang dituduh bernama Motinggo Busye.
Sejak masa 1950-an, ia tampil sebagai pengarang hebat. Yang ditulisnya adalah naskah drama, cerita pendek, dan novel. Namun, yang selalu terkenang adalah novel-novelnya yang “ngepop”. Di perkembangan perbukuan, novel-novelnya menghasilkan untung besar, bukan pengakuan mutu kesusastraan.
Pada mulanya, ia hadir dalam sastra dengan mendapat beragam perhatian. Nama yang mengejutkan bagi kesusastraan tapi hanya berlangsung sebentar. HB Jassin dan para pengamat sastra mula-mula memuji beberapa tulisannya. Yang ditulis orang-orang asing pun menempatkan Motinggo Busye sebagai pengarang besar. Tahun-tahun berlalu, ia memilih rajin menulis novel-novel yang menghibur, yang diminati ribuan orang. Ia memilih jalan komersial. Yang diinginkan adalah untung. Ia sudah telanjur besar di sastra, memungkinkan bisa merebut laba dalam pasar novel pop yang penuh persaingan. Pembuktian yang tidak terbantah: Motinggo Busye tetap berada dalam daftar teratas.
Ia mendapat kecaman. Namun, dalam industri novel hiburan, ia menemukan kepuasan. Dampak dari ketenaran adalah berlanjutnya Motinggo Busye memasuki dunia perfilman. Ia tetap sosok yang sadar peruntungan. Selama puluhan tahun, ia dianggap panen uang yang tidak ada hentinya. Motinggo Busye tampak (makin) berpisah dari kesusastraan yang dicap “serius”. Konon, ia enggan berdebat. Yang dipilihnya adalah terus menulis novel sampai Kiamat.
Di jalan berbeda, Motinggo Busye tidak cuma meladeni para pembaca dewasa. Yang digarapnya adalah cerita anak, terbit menjadi beberapa buku. Ia menulis dengan mudah. Penerbitan novel-novel anak diusahakan dapat masuk dalam Inpres. Artinya, buku-buku dibeli oleh pemerintah Orde Baru. Penerbit meraih untung besar. Pengarang terdampak panen duit. Jalan itulah yang membuat Motinggo Busye tercatat dalam perkembangan kesusastraan anak di Indonesia.
Yang kita warisi adalah buku berjudul Melati dari Lembah Seputih (1981). Cerita yang digubah Motinggo Busye diterbitkan oleh Rosda, Jakarta. Kita menduga pihak pengarang dan penerbit punya keyakinan buku berhasil dibeli pemerintah dalam jumlah puluhan ribu eksemplar. Akhirnya, buku diedarkan di ribuan perpustakaan yang tersebar di seantero Indonesia. Anak-anak membaca buku cerita, yang di sampulnya ditulis nama pengarang: Motinggo Busye. Apakah anak-anak masa Orde Baru menjadi penggemar buku-buku Motinggo Busye? Kita menjawab itu terjadi. Pengarang yang beruntung! Di industri novel dewasa, ia mendapat banyak penggemar. Kemauan menulis cerita anak pun menghasilkan penggemar. Kita berharap anak-anak masa lalu tidak perlu mengetahui biografi Motinggo Busye. Mereka cukup membaca buku dan mengetahui nama saja yang dicantumkan di sampul depan.
Di novel dewasa, ia selalu saja dianggap membesarkan berahi. Di kesusastraan anak, Motinggo Busye adalah juru cerita bagi rezim Orde Baru. Ia tampak mendukung program-program pemerintah. Jadi, pamrihnya menulis cerita anak adalah keuntungan material, yang dipengaruhi dari pilihan tema dan cara bercerita yang sesuai kepentingan-kepentingan Orde Baru. Pengarang yang memiliki siasat manjur.
Tokoh yang diceritakan bernama Rianti (10 tahun). Ia masih murid di SD. Bagaimana kita mengetahui pengarang mengumbar imajinasi demi kesuksesan pembangunan nasional? Yang dilakukan adalah mengisahkan Rianti hidup dalam keluarga sederhana tapi tinggal di desa yang miskin dan gersang. Keluarganya memutuskan ikut program transmigrasi. Bermula di desa yang beralamat di Jawa, mereka bergerak menuju Sumatra, yang lahannya masih luas. Mereka mengubah nasib melalui transmigrasi. Puluhan keluarga di desa secara sukarela turut transmigrasi yang memberi banyak janji. Yakinlah, pengarang sengaja memberi keunggulan dan kebaikan transmigrasi. Artinya, ia membuktikan kebaikan-kebaikan pemerintah.
Hari perpisahan terjadi. Rianti memerlukan melihat sekolah untuk terakhir kalinya: “Tak ada satu orang pun di sekolah. Pintu kelas Rianti miring karena engsel bawahnya sudah copot. Sekolah sudah ditutup empat bulan yang lalu. Tetapi, papan tulisnya masih ada. Bahkan, di papan tulis itu masih ada tulisan… Airmata Rianti bercucuran. Lalu, dia melihat bangku-bangku di kelasnya. Dilihatnya juga bangku tempat dia duduk dulu.” Ia akan membawa ingatan selama menjadi murid di SD dan warga di desa gersang.
Pemerintah aktif memberi pengumuman dan penjelasan agar orang-orang mau bertransmigrasi, terutama penduduk di Jawa. Kepadatan di Jawa mendingan dikurangi melalui transmigrasi, yang menjamin kesejahteraan. Beragam alasan dapat membenarkan transmigrasi. Motinggo Busye paham kebijakan pemerintah, menaruhnya dalam cerita. Kita membayangkan anak-anak yang membaca ceritanya seperti mendapat penyuluhan. Apakah itu merusak martabat Motinggo Busye, yang dulu tercatat sebagai pengarang agung?
Pembayangan Rianti yang disampaikan kepada ibu saat mau meninggalkan desa menuju tempat yang baru: “Bu, Lembah Seputih itu tanah yang subur. Pemandangannya indah. Ada sungai kecil membelah des aitu. Tidak seperti desa kita ini, Bu, tidak pernah ada hujan turun.” Kita diajak mengingat bahwa pemerintah sangat memberi perhatian kepada rakyatnya agar jangan miskin dan sekarat. Maka, hal penting yang harus diproduksi adalah imajinasi. Adanya program transmigrasi membutuhkan rangkaian imajinasi, yang membuat rakyat penuh harapan dan gembira.
Perjalanan menggunakan bus, kereta api, dan kapal menimbulkan pengalaman yang istimewa. Rianti melihat kota-kota. Terpukau! Ia memastikan Indonesia itu indah. Selanjutnya, selama berada di atas kapal: “Hanya beberapa jam perjalanan naik kapal melewati Selat Sunda. Selat Sunda ini merupakan laut biru yang indah antara Pulau Jawa dan Sumatra. Rianti duduk bersama kakek, nenek, dan ibu… Indah sekali pemandangan dalam perjalanan berkapal malam itu. Tampak beberapa ekor ikan lumba-lumba melompat-lompat di samping kapal… Oh, indah sekali lembah itu disinari matahari pagi.” Pokoknya, rombongan transmigrasi punya harapan yang besar saat berada di tanah yang baru. Mereka akan bertani dan hidup sejahtera, berbeda dengan penderitaannya selama di desa gersang.
Apakah pengarang cukup mengisahkan kesuksesan transmigrasi? Motinggo Busye terbukti paham kemauan pemerintah. Maka, yang diceritakannya adalah keberhasilan mendirikan koperasi. Di Lembah Seputih, keluarga-keluarga mendapat rumah sederhana. Mereka mengerjakan laha pertanian. Di sana, tanahnya subur. Beberapa tanaman menghasilkan rezeki untuk kebutuhan pokok. Beberapa malah melimpah, yang membuat kegembiraan tercipta.
Mengapa pengarang tampak serius mengunggulkan transmigrasi dan koperasi dalam cerita yang dibaca anak-anak? Ia mungkin sadar kepentingan. Tema yang sesuai kemauan pemerintah memungkinkan buku dapat cetak ulang dalam jumlah yang banyak. Terbukti! Motinggo Busye memang sadar pasar sambil “menumpang” kepentingan rezim Orde Baru. Anak-anak yang membacanya boleh kecewa setelah mendapatkan cerita yang mirip laporan pembangunan nasional.
Rianti ikut beberapa kegiatan yang ada sekolah dan desa barunya. Rianti yang masih anak mampu mewujudkan tanggung jawab yang besar, termasuk dalam keluarga. Ia mengetahui desa memerlukan koperasi agar hasil bumi dan kebutuhan pokok yang didatangkan dari kota dapat terpenuhi. Rianti yang sengaja dipercepat dewasanya oleh pengarang. Di beberapa kegiatan, Rianti memang bersama kaum dewasa.
Penjelasan yang sangat serius bila dipelajari anak-anak SD. Perkataan dalam rapat: “Kita dapat subsidi dari pemerintah untuk membangin 21 rumah lagi. Tenaga kita cukup. Bila kita sendiri yang membangun 21 rumah itu secara bergotong royong, kelebihan uangnya bisa kita masukkan untuk kas Koperasi Unit Desa Lembah Seputih. Selama ini uang itu masuk kantor pemborong dari kota bukan?” Koperasi itu bertumbuh cepat, memberi keuntungan kepada para pengurus dan anggotanya. Sempurnalah pengisahan Motinggo Busye bahwa kebijakan pemerintah itu baik dan terbukti. Novel berhasil memberi pujian besar untuk rezim Orde Baru.
_________
Penulis
Kabut, penulis lepas.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!