Diterjemahkan oleh Eka Ugi Sutikno
Kadang-kadang, kita dianugerahi kesempatan untuk melihatnya dalam mimpi.
Sesekali datanglah para Malaikat, dengan lembut, mengepakkan sayap putih mereka yang besar di atas dahi-dahi yang letih, dan meletakkan tangan-tangan sejuk di atas mata yang terpejam. Maka melayanglah jiwa si pemimpi. Ia terbang bangkit dari kelam dan keruhnya musim malam. Ia berlayar menembus awan-awan ungu. Ia melesat melalui hamparan luas cahaya dan udara. Ia terbang melintasi biru tua kubah langit; dan setelah menyapu cakrawala yang jauh, ia pun beristirahat di Negeri Indah di Bawah Matahari Terbenam.
Negeri itu dalam banyak hal serupa dengan negeri kita sendiri. Di sana ada laki-laki dan perempuan, raja dan ratu, orang kaya dan orang miskin; ada rumah-rumah, pepohonan, ladang-ladang, burung-burung, dan bunga-bunga. Di sana ada siang dan malam; panas dan dingin, sakit dan sehat. Jantung para lelaki dan perempuan, anak-anak lelaki dan perempuan, berdenyut sebagaimana di sini. Ada kesedihan yang sama dan kegembiraan yang sama; harapan-harapan yang sama dan ketakutan-ketakutan yang sama.
Seandainya seorang anak dari Negeri itu berdiri di samping seorang anak di sini, kau takkan dapat membedakan keduanya, kecuali dari pakaian yang mereka kenakan. Mereka berbicara dalam bahasa yang sama seperti kita. Mereka tidak tahu bahwa mereka berbeda dari kita; dan kita pun tidak tahu bahwa kita berbeda dari mereka. Ketika mereka datang kepada kita dalam mimpi, kita tak menyadari bahwa mereka adalah orang asing; dan ketika kita pergi ke Negeri mereka dalam mimpi, kita merasa seolah-olah berada di rumah sendiri. Barangkali inilah sebabnya: rumah orang-orang baik berada di dalam hati mereka; dan di mana pun mereka berada, di sanalah mereka menemukan kedamaian.
Negeri di Bawah Matahari Terbenam, selama zaman yang sangat panjang, adalah sebuah Tanah yang menakjubkan dan menyenangkan. Tak ada satu pun di sana yang tidak indah, manis, dan menenteramkan. Baru ketika dosa datang, hal-hal di sana mulai kehilangan keindahan sempurnanya. Namun bahkan sekarang pun, negeri itu tetap merupakan tanah yang ajaib dan menyenangkan.
Karena matahari bersinar dengan kuat di sana, di sepanjang sisi setiap jalan ditanam pohon-pohon besar yang menghamparkan cabang-cabangnya yang rimbun. Dengan demikian para musafir memperoleh naungan ketika mereka melintas. Tugu-tugu penanda jarak di jalan bukanlah batu bisu, melainkan pancuran air yang manis dan dingin, begitu jernih dan bening, sehingga ketika seorang pejalan tiba di sana, ia duduk di bangku batu berukir di sampingnya dan menghela napas lega, sebab ia tahu bahwa di tempat itu ada perhentian dan istirahat.
Ketika di sini matahari terbenam, di sana justru tengah hari. Awan-awan berkumpul dan menaungi Negeri itu dari panas yang menyengat. Maka, untuk sesaat, segala sesuatu pun terlelap.
Jam yang manis dan damai ini disebut waktu Istirahat.
Saat Waktu Istirahat tiba, burung-burung berhenti bernyanyi dan meringkuk rapat di bawah tepi atap rumah yang lebar, atau di dahan-dahan pohon tempat cabang bertemu batang. Ikan-ikan berhenti melesat di dalam air, lalu berdiam di bawah batu-batu, dengan sirip dan ekor yang begitu tenang seakan-akan mereka telah mati. Domba dan ternak berbaring di bawah pepohonan. Para lelaki dan perempuan merebahkan diri di tempat tidur gantung yang disangkutkan di antara pepohonan atau di bawah serambi rumah mereka. Kemudian, ketika matahari tak lagi menyilaukan dengan teriknya dan awan-awan telah mencair dan lenyap, seluruh makhluk hidup pun terjaga kembali.
Satu-satunya makhluk hidup yang tidak benar-benar tidur selama Waktu Istirahat hanyalah anjing-anjing. Mereka berbaring sangat tenang, hanya setengah terlelap, dengan satu mata terbuka dan satu telinga tegak; berjaga sepanjang waktu. Lalu, jika seorang asing datang pada jam istirahat itu, anjing-anjing akan bangkit dan memandangnya dengan lembut, tanpa menggonggong, agar tidak mengusik siapa pun. Mereka tahu apakah pendatang itu berbahaya atau tidak; dan jika ia tidak berbahaya, mereka akan berbaring kembali, dan si orang asing pun ikut merebahkan diri sampai Waktu Istirahat berakhir.
Namun apabila anjing-anjing itu mengira bahwa orang asing tersebut datang dengan maksud berbuat jahat, mereka akan menggonggong keras dan menggeram. Sapi-sapi mulai melenguh dan domba-domba mengembik, burung-burung berkicau dan menyanyikan nada-nada mereka yang paling nyaring, namun tanpa irama yang merdu; bahkan ikan-ikan pun mulai melesat ke sana kemari dan memercikkan air. Orang-orang terjaga dan meloncat turun dari tempat tidur gantung mereka, lalu meraih senjata. Maka saat itu menjadi waktu yang buruk bagi sang penyusup. Seketika ia dibawa ke Pengadilan dan diadili; dan jika terbukti bersalah, ia dijatuhi hukuman, entah dimasukkan ke penjara atau diasingkan.
Setelah itu, para lelaki kembali ke tempat tidur gantung mereka, dan semua makhluk hidup kembali beristirahat sampai Waktu Istirahat berakhir.
Hal yang sama terjadi pada malam hari seperti pada Waktu Istirahat, bila seorang penyusup datang untuk berbuat jahat. Pada malam hari hanya anjing-anjing yang terjaga, serta orang-orang sakit dan para perawat mereka.
Tak seorang pun dapat meninggalkan Negeri di Bawah Matahari Terbenam kecuali melalui satu arah saja. Mereka yang datang ke sana dalam mimpi, atau yang datang dalam mimpi ke dunia kita, pergi dan datang tanpa mengetahui bagaimana caranya; tetapi bila seorang penghuni negeri itu mencoba meninggalkannya, ia tak dapat melakukannya kecuali melalui satu jalan. Jika ia mencoba jalan lain, ia akan terus berjalan, berputar tanpa menyadarinya, sampai akhirnya tiba di satu tempat yang menjadi satu-satunya jalan keluar baginya.
Tempat itu disebut Gerbang, dan di sanalah para Malaikat berjaga.
Tepat di tengah Negeri berdiri istana Sang Raja, dan dari sana jalan-jalan membentang ke segala arah. Ketika Sang Raja berdiri di puncak menara yang menjulang tinggi dari tengah istananya, ia dapat memandang sepanjang jalan-jalan itu, yang semuanya lurus tanpa belokan.
Jalan-jalan itu tampak semakin menyempit ketika menjauh, hingga akhirnya lenyap sama sekali dalam kejauhan semata.
Di sekeliling istana Sang Raja berdiri rumah-rumah para bangsawan besar, masing-masing terletak semakin dekat sesuai dengan tinggi rendahnya derajat pemiliknya. Di luar lingkaran itu terdapat rumah-rumah bangsawan yang lebih rendah; dan setelahnya rumah-rumah semua orang lainnya, yang kian kecil ukurannya semakin jauh letaknya.
Setiap rumah, besar maupun kecil, berdiri di tengah sebuah taman yang memiliki pancuran dan aliran air, pepohonan besar, serta petak-petak bunga yang indah.
Lebih jauh lagi, menuju ke arah Gerbang, negeri itu menjadi semakin liar. Setelah itu terbentang hutan-hutan lebat dan pegunungan besar yang penuh dengan gua-gua dalam, gelap gulita seperti malam. Di sanalah binatang-binatang buas dan segala sesuatu yang kejam berdiam.
Sesudahnya terdapat rawa-rawa berlumpur, paya-paya, dan tanah lembek yang dalam dan berbahaya, serta rimba yang lebat. Lalu semuanya menjadi begitu liar sehingga jalan pun lenyap sama sekali.
Di wilayah-wilayah liar di balik itu tak seorang pun tahu apa yang berdiam. Ada yang mengatakan bahwa para Raksasa yang masih ada hidup di sana, dan bahwa semua tumbuhan beracun tumbuh di tempat itu. Mereka berkata bahwa di sana berhembus angin jahat yang mengeluarkan benih segala kejahatan dan menyebarkannya ke seluruh bumi. Ada pula yang mengatakan bahwa angin jahat yang sama membawa keluar penyakit-penyakit dan wabah-wabah yang tinggal di sana. Yang lain berkata bahwa Kelaparan hidup di rawa-rawa itu, dan bahwa ia keluar berkeliaran ketika manusia menjadi begitu jahat—terlampau jahat sehingga Roh-roh penjaga negeri menangis tersedu-sedu hingga tak melihatnya lewat.
Tersiar bisikan bahwa Kematian memiliki kerajaannya di Kesunyian di balik rawa-rawa, dan tinggal di sebuah istana yang begitu mengerikan untuk dipandang sehingga tak seorang pun pernah melihatnya dan hidup untuk menceritakan bagaimana rupanya. Dikisahkan pula bahwa semua makhluk jahat yang hidup di rawa-rawa itu adalah Anak-anak Kematian yang durhaka, yang telah meninggalkan rumah mereka dan tak dapat menemukan jalan kembali.
Namun tak seorang pun mengetahui di mana Istana Raja Kematian berada. Semua manusia—laki-laki dan perempuan, anak-anak lelaki dan perempuan, bahkan anak-anak kecil yang masih sangat belia—hendaknya hidup sedemikian rupa sehingga ketika mereka harus memasuki istana itu dan berhadapan dengan Sang Raja yang muram, mereka tak gentar memandang wajahnya.
Untuk waktu yang sangat lama, Kematian dan Anak-anaknya tinggal di luar Gerbang, dan segala sesuatu di dalamnya penuh dengan sukacita.
Namun tibalah suatu masa ketika segalanya berubah. Hati manusia menjadi dingin dan keras oleh kesombongan atas kemakmuran mereka, dan mereka tidak mengindahkan pelajaran-pelajaran yang telah diajarkan kepada mereka. Maka ketika di dalam negeri tumbuh dingin, acuh tak acuh, dan penghinaan, para Malaikat penjaga melihat pada kengerian yang berdiri di luar itu sarana hukuman serta pelajaran yang dapat membawa kebaikan.
Pelajaran-pelajaran yang baik pun datang—sebagaimana hal-hal baik sering kali datang—setelah rasa sakit dan ujian, dan pelajaran-pelajaran itu mengajarkan banyak hal. Kisah tentang kedatangan mereka menyimpan hikmah bagi orang-orang yang bijaksana.
Di Gerbang, dua Malaikat senantiasa berjaga dan mengawal. Malaikat-malaikat ini begitu agung dan begitu waspada, dan selalu begitu teguh dalam penjagaan mereka, sehingga hanya ada satu nama bagi mereka berdua. Salah satu dari mereka, ataupun keduanya, bila diajak bicara, akan dipanggil dengan nama yang sama secara utuh. Yang satu mengetahui sebanyak yang diketahui yang lain tentang segala sesuatu yang mungkin dapat diketahui. Hal ini tidaklah mengherankan, sebab mereka berdua mengetahui segalanya. Nama mereka adalah Fid-Def.
Fid-Def berdiri berjaga di Gerbang. Di samping mereka ada seorang Malaikat-Anak, lebih indah daripada cahaya matahari. Garis-garis wujudnya yang elok begitu lembut hingga seakan-akan senantiasa melebur ke dalam udara; ia tampak seperti cahaya hidup yang suci.
Ia tidak berdiri sebagaimana Malaikat-malaikat lainnya, melainkan melayang naik turun dan berkeliling. Kadang-kadang ia hanya tampak sebagai titik kecil, lalu tiba-tiba, tanpa terlihat melakukan perubahan apa pun, ia menjadi lebih besar daripada Roh-Roh Penjaga agung yang kekal itu.
Fid-Def mengasihi Malaikat-Anak itu, dan ketika ia naik mendekat dari waktu ke waktu, mereka mengembangkan sayap putih mereka yang besar, dan kadang-kadang ia berdiri di atasnya. Sayapnya sendiri yang indah dan lembut dengan perlahan mengipasi wajah mereka ketika mereka berpaling untuk berbicara.
Namun Malaikat-Anak itu tidak pernah melampaui ambang batas. Ia memandang ke arah belantara di luar sana; tetapi ia tidak pernah meletakkan bahkan ujung sayapnya pun melewati Gerbang.
Ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Fid-Def, dan tampak ingin mengetahui apa yang ada di luar sana, dan bagaimana segala sesuatu di sana berbeda dari segala yang ada di dalam.
Pertanyaan dan jawaban para Malaikat tidaklah seperti pertanyaan dan jawaban kita, sebab tak diperlukan kata-kata. Pada saat sebuah pikiran tentang keinginan untuk mengetahui sesuatu muncul, pertanyaan pun telah diajukan dan jawabannya diberikan. Namun demikian, pertanyaan itu tetap datang dari Malaikat-Anak dan dijawab oleh Fid-Def; dan seandainya kita memahami bahasa tanpa-bahasa yang dipakai para Malaikat untuk tidak-berkata, kita akan mendengarnya demikian. Fid-Def sedang berbicara kepada Fid-Def:
“Bukankah Chiaro itu indah?”
“Ia sungguh indah. Ia akan menjadi kekuatan baru di Negeri ini.”
Di sini Chiaro, yang berdiri dengan satu kaki di atas bulu sayap Fid-Def, berkata:
“Katakan padaku, Fid-Def, apakah makhluk-makhluk yang tampak mengerikan di balik Gerbang itu?”
Fid-Def menjawab:
“Mereka adalah Anak-anak Raja Kematian. Yang paling mengerikan di antara mereka semua itu, yang terbungkus dalam kelam, adalah Skooro, suatu Roh Jahat.”
“Betapa mengerikannya rupa mereka!”
“Sungguh sangat mengerikan, Chiaro terkasih; dan Anak-anak Kematian ini ingin melewati Gerbang dan masuk ke dalam Negeri.”
Mendengar kabar yang mengerikan itu, Chiaro melayang tinggi ke angkasa, dan membesar sedemikian rupa sehingga seluruh Negeri di Bawah Matahari Terbenam menjadi terang benderang. Namun tak lama kemudian ia mengecil kembali, semakin kecil hingga hanya tampak sebagai sebuah titik, seperti sinar berwarna yang terlihat di sebuah ruangan gelap ketika matahari masuk melalui celah sempit. Ia bertanya kepada para Malaikat di Gerbang:
“Katakan padaku, Fid-Def, mengapa Anak-anak Kematian ingin masuk?”
“Karena, Anak terkasih, mereka jahat, dan ingin merusakkan hati para penghuni Negeri.”
“Namun katakanlah, Fid-Def, apakah mereka dapat masuk? Tentulah, jika Sang Bapa Yang Mahakuasa berkata, ‘Tidak!’ mereka harus tetap selamanya di luar Negeri.”
Setelah sejenak terdiam, datanglah jawaban dari para Malaikat Penjaga Gerbang:
“Sang Bapa Yang Mahakuasa lebih bijaksana daripada yang dapat dibayangkan bahkan oleh para Malaikat. Ia meruntuhkan orang jahat dengan tipu daya mereka sendiri, dan menjerat sang pemburu dalam perangkapnya sendiri. Anak-anak Kematian, ketika mereka masuk—sebagaimana sebentar lagi akan terjadi—akan melakukan banyak kebaikan di Negeri yang hendak mereka celakai. Sebab lihatlah! Hati manusia telah rusak. Mereka telah melupakan pelajaran-pelajaran yang diajarkan kepada mereka. Mereka tidak tahu betapa bersyukurnya mereka seharusnya atas nasib bahagia mereka, sebab tentang duka mereka tak mengetahui apa-apa. Maka haruslah ada rasa sakit, kesedihan, atau kepiluan bagi mereka, agar mereka dapat melihat kesesatan jalan mereka.”
Sementara berkata demikian, para Malaikat menitikkan air mata karena dukacita atas perbuatan manusia dan penderitaan yang harus mereka tanggung.
Malaikat-Anak itu menjawab dengan gentar:
“Kalau begitu, Makhluk yang paling mengerikan itu pun akan masuk ke dalam Negeri. Celaka! celaka!”
“Anak terkasih,” kata Roh-roh Penjaga, ketika Malaikat-Anak itu merapat ke dada mereka, “kepadamulah dipercayakan tugas yang besar. Anak-anak Kematian akan masuk. Kepadamu diserahkan penjagaan atas Makhluk yang mengerikan itu, Skooro. Ke mana pun ia pergi, di sanalah engkau harus berada; sehingga tak ada keburukan yang terjadi—kecuali hanya apa yang memang dimaksudkan dan diizinkan.”
Malaikat-Anak itu, tergugah oleh kebesaran amanat tersebut, bertekad bahwa tugasnya akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Fid-Def melanjutkan:
“Engkau harus tahu, Anak terkasih, bahwa tanpa kegelapan tak ada ketakutan akan yang tak terlihat; dan bahkan kegelapan malam pun takkan menakutkan bila ada cahaya di dalam jiwa. Bagi mereka yang baik dan murni, tak ada ketakutan baik terhadap kejahatan-kejahatan di bumi maupun terhadap Kekuatan-kekuatan yang tak kasatmata. Kepadamulah dipercayakan penjagaan atas yang murni dan yang benar. Skooro akan menyelubungi mereka dengan kelamnya; tetapi kepadamu diberikan kemampuan untuk menyelinap ke dalam hati mereka dan dengan cahaya muliamu sendiri membuat kelam Anak Kematian itu menjadi tak terlihat dan tak terasa.”
“Namun dari para pelaku kejahatan—dari yang jahat, yang tak tahu bersyukur, yang tak mau mengampuni, yang tak murni, dan yang tak jujur—engkau akan menjauh. Maka ketika mereka mengharapkan engkau datang menghibur mereka—sebagaimana pasti mereka akan melakukannya—mereka takkan melihatmu. Yang mereka lihat hanyalah kelam, yang oleh cahaya jauhmulah akan tampak semakin gelap, sebab bayangan itu akan berada di dalam jiwa mereka sendiri.”
“Namun oh, Anak, Bapa kita begitu baik melampaui segala sangka. Ia menetapkan bahwa bila siapa pun yang jahat bertobat, engkau akan seketika terbang kepadanya, menghiburnya, menolongnya, menguatkannya, dan menghalau bayangan itu jauh-jauh. Tetapi bila mereka hanya berpura-pura bertobat, berniat kembali berbuat jahat setelah bahaya berlalu; atau bila mereka hanya bertindak karena ketakutan, maka engkau akan menyembunyikan cahayamu sehingga kelam itu menjadi semakin pekat atas diri mereka. Kini, Chiaro terkasih, jadilah tak terlihat. Waktunya mendekat ketika Anak Kematian akan diizinkan masuk ke dalam Negeri. Ia akan berusaha menyelinap masuk, dan kami akan membiarkannya, sebab kami harus bekerja tanpa terlihat dan tanpa diketahui, agar dapat menjalankan tugas kami.”
Lalu Malaikat-Anak itu perlahan memudar, sehingga tak ada satu mata pun—bahkan mata Fid-Def sendiri—yang dapat melihatnya; dan Roh-roh Penjaga berdiri seperti sediakala di sisi Gerbang.
Waktu Istirahat pun tiba; dan segalanya sunyi di Negeri itu.
Ketika Anak-anak Kematian yang jauh di rawa-rawa melihat bahwa tak ada sesuatu pun yang bergerak, kecuali para Malaikat yang tetap berjaga seperti biasa, mereka memutuskan untuk melakukan upaya lain guna memasuki Negeri.
Maka mereka memecah diri menjadi banyak bagian. Setiap bagian mengambil rupa yang berbeda, namun bersama-sama mereka bergerak menuju Gerbang. Demikianlah Anak-anak Kematian mendekati ambang Negeri.
Mereka datang di atas sayap burung yang sedang terbang; pada awan yang melayang perlahan di langit; dalam ular-ular yang merayap di bumi—dalam cacing, tikus, dan tahi lalat yang menyusup di bawahnya; dalam ikan-ikan yang berenang dan serangga-serangga yang terbang. Melalui bumi, air, dan udara mereka datang.
Tanpa rintangan dan tanpa halangan; dan dengan berbagai cara, Anak-anak Kematian memasuki Negeri di Bawah Matahari Terbenam; dan sejak saat itu, segala sesuatu di Negeri yang elok itu pun berubah.
Tidak serta-merta Anak-anak Kematian menampakkan diri. Satu per satu roh yang paling berani di antara mereka, melangkah dengan jejak-jejak yang mengerikan melintasi Negeri, memenuhi setiap hati dengan ketakutan ketika mereka datang.
Namun demikian, masing-masing dari mereka—tanpa kecuali—meninggalkan sebuah pelajaran menuju kebaikan di dalam hati para penghuni Negeri itu.
______
Penulis
Bram Stoker (1847–1912) adalah novelis Irlandia, mempopulerkan motif vampir dalam sastra Gotik di seluruh dunia dengan ciptaannya, Dracula.
Tulisan di atas terjemahan dari “Under the Sunset” yang diterbitkan ulang oleh Wildside Press (15 Juli 2002). Diterjemahkan oleh Eka Ugi Sutikno, dosen Universitas Muhammadyah Tangerang (UMT), bergiat di Kubah Budaya.

Terimakasih telah berkomentar!