Sunday, May 10, 2026

Puisi-Puisi M. Najibur Rohman

Puisi Najibur Rohman

 



Ciremai

 

adalah ilusi yang menyentuh rel

dalam acak kerikil dan debu, batang-batang pohon tumbuh

setelah rantas, menghijau

pada jendela kaca dhuha

 

apa yang tertangkap oleh gerbong ini

hanyalah solilokui bunyi besi

dan tempaan angin lembap,

seakan-akan jarak begitu jauh

mengiringi kangen yang menembus atap

 

aku datang, katamu, seperti lengkung

yang menari di atas jembatan tua,

rumah-rumah dusun dalam monokrom,

persinggahan burung atau belalang

sebelum ke bebukitan

 

di Cikampek, suara telah pulang dari tepi

langit menyampaikan pesan

tentang kemana perjalanan dilanjutkan

dan di halte mana kita bisa sejenak berhenti

untuk melindungi punggung dari tetes hujan

 

di rute terakhir,

ketika peron-peron mulai ditinggalkan  

derai kisah perlahan raib

ke selatan.

 

 

Fort Willem I


yang tersisa dari barak ingatan ialah kue putih

yang dihidangkan di meja makan residen

untuk seorang noni cantik yang menggerutu

karena pesta dansa diadakan mendadak

sementara ia bermimpi dalam anggun Waltz

 

tembakan yang menjulang dengan iringan bariton

mematahkan gerimis hari itu, dan peperangan

telah dimenangkan sekali lagi.

 

tapi nasib tak pernah konstan.

peluru bisa lepas kendali

dan seluruh jendela tertutup

selamanya.

 

di antara lorong-lorong merah bata

sebuah volkswegen terparkir lama

 

pada jam ke-17

cuaca menjadi sentimentil.

 

lalu gerbang seperti berdetak:

"bagaimanapun luka lama masih tersimpan di sana".

 

 

Pati Ayam


ketika laut melemparnya ke pegunungan

kijing-kijing itu beterbangan

dan mesin waktu menemukannya terkapar

di antara sulur palawija

 

di atas tungku pembaringan

saat teluk sudah mengeram

para tabib mengiris-iris tulang naga

sebagai persembahan kepada kehidupan

 

bagi fajar yang berulangkali melintang

sebongkah batu menjadi penuntun pengetahuan

dan mungkin kita telah menerima

jejak rumah yang tiada kekal

            untuk seekor moluska terakhir

            yang meresap ke tanah, menggali panas,

            dan lalu keluar sebagai prasejarah

 

hari setelah bumi menulis puisi

kita hadir sebagai tamu abadi.

 

 

Ninja Pelarian


            - Itachi

 

sekilas kau teringat

tentang kasih manja ibumu sepulang akademi

dan kata-kata bajik ayahmu

sebelum tebasan pamungkas

pada malam itu

 

tak ada pengampunan yang tersisa

dari kilatan kusanagi

dan pusaran merah sharingan

menelan dosa seorang diri

           

            kecuali pada adikmu tersayang

            yang kau simpan sebagai musuh

            dalam pertarungan terakhir

 

('Sasuke, Tuhan memberkati

persaudaraan kita', katamu,

dan sebelum ajal datang

kau lepaskan amaterasu

untuk menjadi miliknya

sebagai gejolak api hitam

yang tak bisa dipadamkan)

           

saat gagak-gagak pergi

kebenaran masih saja tersembunyi

 

dalam perjalanan hidup ini,

berjalan sendiri sedemikian sunyi.

 


Deforestasi


daun terbakar, duri berjatuhan

tersungkur dalam galian

bukit kehijauan, terhapus

dalam potret kamera

air gemericik, pergi

            ke luar jendela

tanah kering, cacing merambat

            ke pipa-pipa baja

ikan meloncat dari lumpur 

            meninggalkan telur-telur

musim memukul angin

            berkejaran dalam cuaca

simfoni pudar, mesin berputar

            membelah kasar

jutaan biji, menanti basah

            dalam ribuan bulan.

 

 

Siang Hari di Bus Kota

 

ada paras karam

disiram debu jalanan

dan poster-poster kampanye jadi benalu

di tubuh pepohonan

 

di sepanjang perjalanan

jarak menjadi jejak

beringsut dalam isi dompet

di tanggal pungkasan

 

Baratayudha

 

di Kurusetra, pasir pekat darah

teriakan-teriakan merayap

dalam gemeretak dendam

dan janji setia

semenjak panah pertama

 

setiap siang adalah kengerian

setiap malam adalah kecemasan

perjamuan dan kutukan silih berganti

dan angin begitu tua

di akhir cerita

 

 

Proposal

 

pada latar belakang

kau tak perlu tertipu masa lalu

sebab masa kini adalah kehidupan baru

 

pada rumusan masalah,

pertanyaan datang

dengan penuh pertimbangan

memaksamu pergi

mencari jawaban

 

pada pustaka lama,

kau melihat masa lalu sebagai kebajikan

yang menjadi pedoman

dan sebuah metode memandumu

menemukan arah samar

 

dalam hipotesis, terimalah

bahwa mungkin kau benar

dan mungkin kau salah

karena segala dugaan

hanya bisa luruh

dengan tatap mata.

 

 

Menjelang Vonis

 

sebelum palu terakhir menyentuh meja

hakim mendapati tersangka

bersimpuh dan bertanya:

apakah keadilan sudah diperiksa?

 

______


Penulis


M. Najibur Rohman, lahir di Rembang, 1986, dan kini bermukim di Semarang. Sejumlah puisinya terbit di media cetak dan daring serta tergabung dalam antologi bersama, antara lain, Surga di Kepala Menjadi Ombak (2025), Antologi Puisi Progo 9 (2024), Gambang Semarang (2020), Sesapa Mesra Selinting Cinta (2019), dan When the Days were Raining (2019).


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


This Is The Newest Post

Terimakasih telah berkomentar!