Puisi Najibur Rohman
Ciremai
adalah
ilusi yang menyentuh rel
dalam
acak kerikil dan debu, batang-batang pohon tumbuh
setelah
rantas, menghijau
pada
jendela kaca dhuha
apa
yang tertangkap oleh gerbong ini
hanyalah
solilokui bunyi besi
dan
tempaan angin lembap,
seakan-akan
jarak begitu jauh
mengiringi
kangen yang menembus atap
aku
datang, katamu, seperti lengkung
yang
menari di atas jembatan tua,
rumah-rumah
dusun dalam monokrom,
persinggahan
burung atau belalang
sebelum
ke bebukitan
di
Cikampek, suara telah pulang dari tepi
langit
menyampaikan pesan
tentang
kemana perjalanan dilanjutkan
dan di
halte mana kita bisa sejenak berhenti
untuk
melindungi punggung dari tetes hujan
di rute
terakhir,
ketika
peron-peron mulai ditinggalkan
derai
kisah perlahan raib
ke
selatan.
Fort Willem I
yang
tersisa dari barak ingatan ialah kue putih
yang
dihidangkan di meja makan residen
untuk
seorang noni cantik yang menggerutu
karena
pesta dansa diadakan mendadak
sementara
ia bermimpi dalam anggun Waltz
tembakan
yang menjulang dengan iringan bariton
mematahkan
gerimis hari itu, dan peperangan
telah
dimenangkan sekali lagi.
tapi
nasib tak pernah konstan.
peluru
bisa lepas kendali
dan
seluruh jendela tertutup
selamanya.
di
antara lorong-lorong merah bata
sebuah
volkswegen terparkir lama
pada
jam ke-17
cuaca
menjadi sentimentil.
lalu
gerbang seperti berdetak:
"bagaimanapun
luka lama masih tersimpan di sana".
Pati Ayam
ketika
laut melemparnya ke pegunungan
kijing-kijing
itu beterbangan
dan
mesin waktu menemukannya terkapar
di
antara sulur palawija
di atas
tungku pembaringan
saat
teluk sudah mengeram
para
tabib mengiris-iris tulang naga
sebagai
persembahan kepada kehidupan
bagi
fajar yang berulangkali melintang
sebongkah
batu menjadi penuntun pengetahuan
dan
mungkin kita telah menerima
jejak
rumah yang tiada kekal
untuk seekor moluska terakhir
yang meresap ke tanah, menggali
panas,
dan lalu keluar sebagai prasejarah
hari
setelah bumi menulis puisi
kita
hadir sebagai tamu abadi.
Ninja
Pelarian
- Itachi
sekilas
kau teringat
tentang
kasih manja ibumu sepulang akademi
dan
kata-kata bajik ayahmu
sebelum
tebasan pamungkas
pada
malam itu
tak ada
pengampunan yang tersisa
dari
kilatan kusanagi
dan
pusaran merah sharingan
menelan
dosa seorang diri
kecuali pada adikmu tersayang
yang kau simpan sebagai musuh
dalam pertarungan terakhir
('Sasuke, Tuhan memberkati
persaudaraan kita', katamu,
dan sebelum ajal datang
kau lepaskan amaterasu
untuk menjadi miliknya
sebagai gejolak api hitam
yang tak bisa dipadamkan)
saat
gagak-gagak pergi
kebenaran
masih saja tersembunyi
dalam
perjalanan hidup ini,
berjalan
sendiri sedemikian sunyi.
Deforestasi
daun
terbakar, duri berjatuhan
tersungkur
dalam galian
bukit
kehijauan, terhapus
dalam
potret kamera
air
gemericik, pergi
ke luar jendela
tanah
kering, cacing merambat
ke pipa-pipa baja
ikan
meloncat dari lumpur
meninggalkan telur-telur
musim
memukul angin
berkejaran dalam cuaca
simfoni
pudar, mesin berputar
membelah kasar
jutaan
biji, menanti basah
dalam
ribuan bulan.
Siang Hari di Bus Kota
ada paras karam
disiram debu jalanan
dan poster-poster kampanye jadi benalu
di tubuh pepohonan
di sepanjang perjalanan
jarak menjadi jejak
beringsut dalam isi dompet
di tanggal pungkasan
Baratayudha
di Kurusetra, pasir pekat darah
teriakan-teriakan merayap
dalam gemeretak dendam
dan janji setia
semenjak panah pertama
setiap siang adalah kengerian
setiap malam adalah kecemasan
perjamuan dan kutukan silih berganti
dan angin begitu tua
di akhir cerita
Proposal
pada latar belakang
kau tak perlu tertipu masa lalu
sebab masa kini adalah kehidupan baru
pada rumusan masalah,
pertanyaan datang
dengan penuh pertimbangan
memaksamu pergi
mencari jawaban
pada pustaka lama,
kau melihat masa lalu sebagai kebajikan
yang menjadi pedoman
dan sebuah metode memandumu
menemukan arah samar
dalam hipotesis, terimalah
bahwa mungkin kau benar
dan mungkin kau salah
karena segala dugaan
hanya bisa luruh
dengan tatap mata.
Menjelang Vonis
sebelum palu terakhir menyentuh meja
hakim mendapati tersangka
bersimpuh dan bertanya:
apakah keadilan sudah diperiksa?
M. Najibur
Rohman, lahir di Rembang, 1986, dan kini bermukim di Semarang. Sejumlah
puisinya terbit di media cetak dan daring serta tergabung dalam antologi
bersama, antara lain, Surga di Kepala Menjadi Ombak (2025), Antologi
Puisi Progo 9 (2024), Gambang Semarang (2020),
Sesapa
Mesra Selinting Cinta (2019), dan When the Days were Raining (2019).
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!