Saturday, May 30, 2026

Resensi Kabut | Bocah Menulis Indonesia

Oleh Kabut


Indonesia yang penuh kejutan setiap hari dipicu oleh beragam omongan yang disampaikan presiden, menteri, dan para pejabat (sangat) penting. Kita mula-mula terkejut tapi perlahan mulai terbiasa. Apakah terkejut masih akan terus terjadi? Yang masih berdebar mendingan berdoa. Yang takut boleh sembunyi di gua-gua terpencil.

Kejutan-kejutan itu mendapat tanggapan dari para tokoh melalui tayangan-tayangan di media sosial. Anehnya, keramaian yang tercipta tidak menjamin berkurangnya kejutan di Indonesia. Yang bikin geleng-geleng kepala, anak-anak mulai ikutan mengomentari kejutan-kejutan di Indonesia. Mereka bermunculan di beragam tayangan, yang membuat kita tertawa. Artinya, tanggapan terhadap kebijakan-kebijakan disajikan melalui omongan bersifat humor atau lagu-lagu yang bergelimang tawa. Anak-anak mengerti lakon Indonesia. Mereka tidak membuat esai untuk dimuat di koran atau majalah. Yang mereka lakukan adalah bersikap di depan kamera, lantas disuguhkan di media sosial. 

Kita kadang berharap anak-anak mengisahkan hal-hal lain saja ketimbang bersinggungan politik. Namun, kesadaran politik telah menular. Akibatnya, anak-anaknya yang suka membuat tayangan tergoda ikut membuat tanggapan atau mencipta hiburan yang mengingatkan publik bahwa Indonesia itu “negara seribu kejutan”.   

Pada masa lalu, anak-anak yang melek politik atau situasi sosial bisa bercakap bareng keluarga atau teman-teman. Di situ, mereka berharap terus memuliakan Indonesia meski bersedih atas hal-hal buruk. Anak-anak menggunakan bahasa yang sederhana, belum dicampuri istilah-istilah asing seperti yang biasa diucapkan para pengamat politik dan kaum intelektual. Pada saat anak-anak tidak berkata-kata, garapan gambar bisa menyatakan yang dipikirkannya tentang Indonesia. 

Apakah anak-anak di seantero di Indonesia tetap percaya bahwa puisi bakal ikut mengubah nasib Indonesia? Dulu, kita mengingat puisi-puisi gubahan M Yamin, Sutan Takdir Alisjahbana, Chairil Anwar, Rendra, Taufiq Ismail, Wiji Thukul, dan lain-lain memberi warna dalam arus pembentukan dan pemuliaan Indonesia. Puisi-puisi memang tak kentara bila menjadikan Indonesia berharap terang dan girang. Yang biasa bermunculan adalah puisi-puisi yang ingin menyelamatkan Indonesia. Kita punya catatan tentang puisi-puisi gubahan anak, yang mengalir dalam pemaknaan Indonesia, dari masa ke masa? Jawaban yang susah.

Pada 2004, terbit buku berjudul Untuk Bunda dan Dunia. Buku terbitan DAR! Mizan itu berisi puisi-puisi gubahan Abdurahman Faiz. Pada saat terbit, penggubah puisi berumur 8 tahun. Indonesia mendapat persembahan buku puisi dari anak. Pada masa-masa sebelumnya, terbit beberapa “puisi anak” tapi yang menulis adalah orang-orang dewasa. Mereka membuat puisi untuk dibaca anak-anak. Faiz muncul sebagai penggubah puisi anak, yang dibaca oleh anak. Kaum dewasa pun boleh membaca sambil melacak tautan-tautan puisi dan kondisi Indonesia.

Judul buku terbaca sederhana. Para pembaca tidak mengira bakal bertemu puisi-puisi yang membuktikan anak berhak menanggapi masalah-masalah besar dan mengejutkan di Indonesia. Ia dalam keluguan sekaligus keberanian. Bagaimana ia mampu menulis puisi yang mendokumentasi dan mengiringi lakon Indonesia? Ia mungkin rajin membaca koran, menonton televisi, atau mendengar omongan dari kaum dewasa. Yang pasti, ia melihat dan merasakan Indonesia yang belum membahagiakan. Bagi yang penasaran atas puisi-puisinya sedikit mendapat keterangan. Faiz itu anak dari pengarang yang terkenal di Indonesia: Helvy Tiana Rosa.

Penjelasan tercantum dalam buku: “Dari dua puluh sajak Faiz yang ditulisnya mulai Juli 2001 hingga November 2003 ini, 8 mengenai ibu dan ayahnya, 7 tentang situasi sosial, dan 5 tentang tokoh masyarakat.” Yang menulis puisi dilahirkan di Jakarta, 15 November 1995. Ia hadir dalam suasana setengah abad Indonesia merdeka. Anak itu bertumbuh dengan rangsang sastra dalam keluarga. Yang dilakukannya adalah membuat tulisan: “Tapi, kalau menulis sajak, ia memilih layer telepon genggam yang kecil untuk menaruh larik-larik sajaknya.” Cara yang berbeda dari nostalgia kita mengenai penggubah puisi: yang menulis di kertas atau menggunakan mesin tik. Faiz mengalami zaman yang bergerak cepat dengan beragam benda-benda ajaib.

Kita membaca puisi yang berjudul “Tujuh Luka di Hari Ulangtahunku”. Faiz menulisnya pada tanggal 15 November 2003. Apa yang bisa kita ingat tentang 2003? Faiz memberi dokumentasi melalui puisi: Sehari sebelum ulangtahunku/ aku terjatuh di selokan besar/ ada tujuh luka membekas, berdarah/ aku mencoba tertawa, malah meringis// Sehari sebelum ulangtahunku/ negeriku masih juga begitu/ lebih dari tujuh luka membekas/ kemiskinan, kejahatan/ korupsi di mana-mana/ pengangguran, pengungsi/ jadi pemandangan yang meletihkan mata/ menyakitkan hati. Kita kagum mengetahui anak yang semestinya berbahagia dalam ulang tahun malah membuat renungan Indonesia. Ia terbukti peka dan berani menyatakan pendapat, yang termaktub dalam UUD 1945. 

Ia membahasakan Indonesia terluka, sama dengan tubuhnya yang terluka. Namun, luka Indonesia itu lebih menyakitkan. Bagaimana cara menyembuhkan luka Indonesia. Faiz percaya bahwa luka di tubuhnya akan bisa sembuh. Yang dipikirkannya adalah Indonesia akan terus terluka, sakit yang tidak pernah sembuh. Tragis!

Bait-bait yang bisa membuat kita merinding membayangkan anak mengisahkan Indonesia: Tapi ada yang seperti lucu/ di negeriku/ orang yang ketahuan berbuat jahat/ tidak selalu dihukum/ namun orang baik bisa dipenjara// Pada ulang tahunku yang kedelapan/ aku berdiri di sini dengan tujuh luka/ sambil membayangkan Indonesia Raya/ dan selokan besar itu// Tiba-tiba aku ingin menangis. Kita menduga ia menangis untuk Indonesia, tidak sekadar menangisi tubuh yang terluka. Ia sangat mencintai Indonesia. Diri yang bertambah umur bukan meraih bahagia sepenuhnya tapi dibikin mewek oleh kenyataan-kenyataan di Indonesia. Faiz yang menangis mungkin agak terhibur bila mendapat hadiah dari keluarga dan teman. Apakah ia menginginkan hadiah itu Indonesia yang makmur dan demokratis?

Faiz tidak memikirkan dirinya sendiri. Pada masa bertumbuh, ia belajar mengerti orang lain. Di keluarga, ia pasti sudah mengetahui peran dan dampak. Di Indonesia, ia mulai mengerti perbedaan peran yang “diperebutkan” demi pelbagai misi. Maka, ia menulis puisi yang berjudul; “Siapa Mau Jadi Presiden?” Puisi ditulis pada 2003. Siapa yang sedang berkuasa di Indonesia?

Puisi buatan Faiz bisa menjadi rekaman silam sekaligus kita baca berulang setiap hajatan demokrasi, yang biasanya dijanjikan setiap lima tahun. Faiz menulis: menjadi presiden itu/ berarti melayani/ dengan segenap hati/ rakyat yang meminta suka/ dan menyerahkan jutaan/ keranjang dukanya/ padamu. Ingatlah, yang menulis adalah anak. Ia ingin mengenali presiden. Yang dipikiran adalah tugas, bukan seribu cara untuk menjadi presiden. Faiz belum memasalahkan hajatan demokrasi yang boros duit, pamer kebohongan, bersaing curang, dan membodohkan rakyat. 

Yang sedang rajin mengungkapkan protes dan kritik kepada presiden dengan masa jabatan 2024-2029 boleh mengutip puisi gubahan Faiz. Puisi yang sangat cocok bila dibaca lagi. Kita boleh merekam saat membaca puisi, yang nantinya diunggah di media sosial. Kita mungkin hanya mengetik ulang, diedarkan ke pelbagai saluran agar mendapatkan pembaca. Apakah kita menanti Faiz yang sudah bertambah umur untuk membaca puisinya? Puisi ini memberi sentuhan berbeda dari arus kritik yang bermunculan di Indonesia. Puisi yang lugu dan lugas tapi mengadung keberanian.

Pada 2003, Faiz menulis puisi yang berjudul “Kepada Koruptor”. Puisi yang akan awet, bertahan lama di Indonesia. Pada saat korupsi masih terus terjadi, puisi tetap penting dibaca meski tidak menyelesaikan masalah. Puisi yang semestinya dibaca para koruptor: Gantilah makanan bapak/ dengan nasi putih, sayur dan daging/ jangan makan uang kami. Ia mengetahui pelaku korupsi sering bapak-bapak ketimbang ibu-ibu. Padahal, jumlah koruptor di Indonesia terus meningkat. Ibu-ibu yang masuk daftar koruptor pun bertambah. 

Apa yang diingatkan Faiz? Pemahaman korupsi melalui makanan. Faiz saat menulis puisi belum digegerkan MBG. Maka, ia memberi ajakan yang sopan agar koruptor makan nasi putih, sayur, dan daging. Perbuatan “makan uang rakyat” dianggap jahat. Perbuatan yang menghancurkan Indonesia. Peringatan yang lain: Telah bapak saksikan/ orang-orang miskin memenuhi/ seluruh negeri/ tidakkan menggetarkan bapak? Kita membayangkan puisi ini sering dibaca di KPK atau Kejaksaan Agung. Kita pun menanti Faiz yang sudah dewasa membuat puisi-puisi bertema korupsi mumpung Indonesia sulit bahagia.


____


Penulis


Kabut, penulis lepas.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


Terimakasih telah berkomentar!