Oleh Kabut
Konon, para presiden di Indonesia sangat mementingkan pendidikan. Maka, diadakan kementerian yang mengurusi pendidikan. Kita ingat menteri pertama adalah Ki Hadjar Dewantara. Di Indonesia, tercatat belasan orang pernah menjadi menteri yang bertanggung jawab dalam pendidikan.
Kita tidak punya ingatan lengkap atas segala prestasi dan kegagalan yang diraih para menteri, sejak masa kekuasaan Soekarno sampai Prabowo Subianto. Yang jelas, ada beragam kebijakan pendidikan pada setiap rezim. Biasanya terjadi gejolak, yang menimbulkan polemik.
Kini, kita mengetahui masalah pendidikan tidak hanya diurusi kementerian pendidikan. Buktinya, ada pembuatan sekolah yang berada di naungan kementerian lain. Yang memerintah adalah Prabowo. Artinya, ada kepentingan besar, yang kita tidak mudah paham. Pokoknya, pendidikan adalah tema yang sangat besar. Kita biasanya mengecilkan hanya masalah sekolah.
Beberapa hari yang lalu, orang-orang meributkan berita mengenai mantan menteri yang mendapat tuntutan hukuman dipenjara selama belasan tahun dan denda triliunan rupiah. Orang-orang mengingat lagi sosoknya saat menjadi menteri, yang mendapatkan perintah-perintah dari presiden. Kita sebenarnya tidak terlalu paham tapi mengingat saja bahwa kebijakan-kebijakan pendidikan di Indonesia sering sangat berisiko.
Bagaimana cara kita mengetahui lakon pendidikan di Indonesia? Ada yang menyimaknya melalui berita-berita. Ada yang memilih mengikuti pergosipan agar merasakan heboh dan kengawuran. Bagi yang serius, membaca beragam dokumen dan buku dimaksudkan agar pemetaan masalah-masalah pendidikan menjadi agak terang, tidak terus-terusan gelap atau absurd. Di Indonesia, banyak pengamat pendidikan yang biasa memberi tulisan atau omongan. Namun, pendidikan di Indonesia jarang sekali menggembirakan dan mendapat tepuk tangan.
Yang tidak ingin dipusingkan data-data, memilih membaca cerita-cerita bertema pendidikan. Artinya, membaca cerita pendek atau novel akan memberi asupan dalam memikirkan pendidikan meski dipengaruhi imajinasi. Apa salahnya imajinasi dalam membaca dan menilai pendidikan di Indonesia, dari masa ke masa?
Yang sedang terbuka dan terbaca adalah buku cerita berjudul Delman Paman Giran yang ditulis oleh Ni Luh Swandari, diterbitkan Aries Lima, Jakarta, 1980. Buku yang tipis, yang menguak soal-soal pendidikan, terutama berlatar masa Orde Baru. Dulu, yang memerintah bernama Soeharto. Menteri-menteri yang bekerja pada masa Orde Baru, yang teringat: Nugroho Notosusanto, Daoed Joesoef, dan Fuad Hassan. Apakah masih ada nama-nama lain? Tiga orang itu menjadi menteri dengan keistimewaan melek sastra dan rajin membuat tulisan-tulisan, selain berpidato.
Masalah yang disajikan pengarang berkaitan uang. Yang diceritakan adalah bocah bernama Dirman, yang lulus SD dan berharap menjadi murid di SMP. Impiannya: “Aku pergi sekolah naik sepeda! Pakai sepatu dan membawa tas sekolah!” Bapak dan ibunya senang dengan semangat belajar Dirman. Kenyataannya, keluarga itu miskin. Impian sempat membikin tangis dan kecewa.
Yang disampaikan bapak kepada Dirman yang berairmata: “Tak usah berputus asa, Dirman. Ayah masih berusaha agar kau memperoleh sebuah sepeda untuk bersekolah di kota. Jangan khawatir, ayah tetap akan berusaha, Dirman. Kau harus bisa bersekolah agar kelak menjadi orang pandai, tidak seperti ayahmu. Ayah hanya bisa membaca dan menulis saja. Kau harus lebih pandai dari ayah. Tetapi, bersabarlah. Mudah-mudahan, Tuhan memberi rezeki untuk kita. Mudah-mudahan ayah bisa membelikan sebuah sepeda untukmu.” Dirman tidak bertumbuh pada masa kekuasaan Joko Widodo. Kita ingat bila selama sepuluh tahun Joko Widodo sering bagi-bagi sepeda. Bayangkan bila tokoh dalam cerita itu bertemu dengan Joko Widodo. Yang terjadi, Joko Widodo selaku presiden bertanya dan Dirman menjawab. Hasilnya adalah hadiah berupa sepeda.
Dirman dianggap pintar dalam pelajaran. Ia pun mudah bergaul dan merayakan hidup dengan bermain. Pada suatu hari, ia terlibat dengan kenakalan bersama teman-temannya. Yang diinginkan adalah membuat kandang burung. Bocah-bocah itu malah melakukan pencurian papan kayu. Para pembaca diajak memahami dunia anak-anak, yang tidak selalu masalah-masalah di sekolah. Di pergaulan, anak-anak belum tentu mengamalkan semua mata pelajaran atau mengerti nasihat-nasihat yang diberikan para guru.
Dirman, Umar, dan Awang itu mencuri papan kayu milik Paman Giran. Tindakan yang merugikan. Bocah-bocah tidak harus berurusan dengan polisi. Mereka masih bisa mendapatkan peringatan, berhak menerima petunjuk-petunjuk bijak setelah pertobatan. Yang disampaikan bapaknya Awang: “Perbuatan kalian sungguh kejam! Paman Giran adalah orang yang baik. Di desa kita, ia sangat disukai karena ia gemar menolong. Kau lihat, Awang, juga kau Dirman dan Umar, betapa Paman Diran bekerja keras untuk mencari uang agar bisa membeli papan kayu jati itu. Mengangkut para pedagang ke kota tak seberapa hasilnya. Lima sampai enam kali Paman Giran mondar-mandir dengan delmannya setiap hari. Kadang-kadang, ada juga penumpang yang tak membayar. Kalau ada penduduk desa kita yang hendak ke kota dan tak memiliki uang, Paman Giran akan menolongnya. Ia akan mengajak orang itu naik delmannya tanpa dipungut bayaran. Camkanlah, apakah perbuatan kalian tidak kejam!”
Yang kita ikuti kisahnya adalah anak-anak. Mereka tidak selalu benar. Maka, pencurian itu memalukan dan “kejam”. Yang harus dilakukan adalah penyadaran, bukan membuat mereka kondang dan jelek di media sosial atau membawanya ke polisi agar menghuni penjara. Kini, masalah anak-anak itu mudah menghebohkan media sosial, berbeda dengan tata cara pengasuhan masa lalu.
Pada suatu hari, Paman Giran menguji pengetahuan Dirman mengenai kuda. Ada niat baik yang ingin diungkapkan Paman Giran tapi memerlukan keberanian dan kepintaran yang dimiliki Dirman. Terbukti. Pada urusan kuda, Dirman memiliki pengetahuan yang baik. Pernyataan Dirman: “Pak guru selalu menerangkan tentang kuda dalam pelajaran ilmu bumi. Itu pelajaran kelas empat, Paman Giran.” Bekerja sebagai tukang delman, Paman Giran memuji Dirman. Ia kagum sekaligus terharu. Paman Giran tidak punya anak. Yang dihadapinya adalah Dirman yang pintar.
Kebaikan-kebaikan akhirnya terwujud. Paman Giran berbuat baik dengan menawarkan tumpangan pada Dirman saat berangkat sekolah ke kota. Siangnya, Dirman pun bisa menumpang lagi delman kembali ke desa. Semula, yang dipikirkan adalah sepeda. Jawaban yang muncul adalah delman. Yang terpenting, Dirman menjadi murid di SMP. Berbarengan dengan segala kebaikan, Dirman pun mendapatkan sepatu dan tas.
Pembaca sedang membaca cerita yang terlarang sedih. Cerita itu ditulis untuk melawan kaum yang pesimis dengan pendidikan di Indonesia. Buku mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah yang memajukan pendidikan. Di cerita, tokoh-tokoh yang berperan sebagai presiden atau pejabat tidak ada. Yang memajukan pendidikan adalah warga desa. Mereka mungkin pernah mendengar penyuluhan atau menyimak pidato-pidato presiden dan menteri yang sangat mementingkan pendidikan.
Dulu, pengutamaan perubahan nasib warga desa memang sangat dipengaruhi pendidikan, yang tidak hanya lulus SD. Dirman menjadi sosok yang diajukan sebagai bukti kemauan belajar dan perwujudan kebaikan-kebaikan warga di desa. Mereka tidak harus memiliki ketergantungan dengan bantuan-bantuan pemerintah, yang rajin membuat slogan dan membuat pengakuan-pengakuan atas beragam keberhasilan dalam pendidikan.
____
Penulis
Kabut, penulis lepas.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!