Oleh Kabut
Yang pernah membaca buku-buku bertema sejarah pendidikan (Islam) di Indonesia biasanya mengetahui riset yang dibuat oleh A Azra, Steenbrink, Yudi Latif, dan lain-lain. Sejarah itu memuat hal-hal yang turut menentukan pembentukan dan pemuliaan Indonesia, tidak melulu bertujuan dakwah. Di beberapa buku autobiografi dan biografi, kita menemukan para tokoh penting di Indonesia pernah belajar di surau, madrasah, pondok pesantren, dan lain-lain. Mereka bertumbuh di desa-desa yang berada di Sumatra, Jawa, atau Sulawesi. Selanjutnya, mereka bergerak ke pelbagai kota untuk melanjutkan pelajaran di jenjang yang tinggi. Kita malah menyimak capaian-capaian beberapa tokoh yang berhasil kuliah di Eropa, Mesir, atau Amerika Serikat. Mereka bermasa lalu model pendidikan Islam, yang publik memberi persepsi: tradisional atau modern.
Pada abad XXI, masa lalu itu terasa jauh. Yang ingin ditengok adalah desa-desa, yang dulu membesarkan pendidikan dan dakwah. Di situ, tanggung jawab besar diwujudkan untuk kemajuan dan kemuliaan. Maka, yang mau melek sejarah dapat menelusurinya sejak abad XIX. Warisan-warisan institusi pendidikan Islam masih gampang ditemukan dan dipelajari. Yang menginginkan mengetahui dampak kolonialisme dan modernitas, membuka halaman-halaman kajian sejarah yang berlatar awal abad XX. Kita mengingat berbarengan adanya gerakan nasionalisme atau bertumbuhnya ideologi-ideologi, yang menjadi Hindia Belanda bergejolak.
Yang memiliki latar belakang pendidikan di pesantren, surau, atau madrasah memainkan peran beragam saat bergulirnya ide Indonesia. Mereka tampil dengan tulisan dan pidato. Ada yang tergabung dalam perkumpulan, sarekat, atau partai politik. Jadi, ingatan kita sebenarnya bersinggungan dengan ketokohan dan keindonesiaan. Di situ, keislaman dialami dan diejawantahkan dalam keberagaman, yang mendapat pengaruh dari pelbagai sumber, termasuk lokalitas.
Kita kita mengingat cerita, bukan sejarah. Namun, cerita yang dibuat Mansur Samin agak memanggil kita agar kembali menekuni sejarah. Yang disajikan adalah cerita anak, yang tidak memerlukan daftar pustaka atau data-data ilmiah. Mansur Samin berperan sebagai pencerita, yang dipengaruhi pengalaman masa kecil atau kesaksian-kesaksian yang diperolehnya. Cerita terjadi di sebuah desa, yang terdapat di Tapanuli Selatan.
Dulu, Mansur Samin berasal dari situ, lantas bergerak ke Jawa. Ia lama berada di Solo, Jawa Tengah. Ia bersama teman-teman mengadakan beragam acara sastra, termasuk siaran sastra di radio. Puisi-puisi gubahan Mansur Samin yang dimuat di banyak majalah, rata-rata ditulis di Solo. Pada akhirnya, ia tidak hanya menulis puisi. Pada masa Orde Baru, Mansur Samin justru rajin menulis cerita untuk anak dan remaja. Ia mendapatkan keajaiban dari kebijakan Inpres dalam perbukuan yang ditandatangani Soeharto. Di kalangan penulis dan penerbit masa lalu, Mansur Samin mendapat julukan “Raja Buku Inpres”.
Yang kita baca adalah buku cerita berjudul Luhut, yang diterbitkan oleh Indra Press, Jakarta, 1975. Luhut itu nama tokoh, anak yang berusia 10 tahun. Yang beberapa tahun kemarin rajin membaca berita atau menonton berita di televisi mungkin kepikiran Luhut yang ada dalam pusat kekuasaan. Ingat, kita sedang membaca kesusastraan anak, bukan kekuasaan.
Mansur Samin mengisahkan Luhut, Dolok, dan teman-teman. Mereka mengikuti pelajaran ilmu-ilmu umum di SD, pagi sampai siang. Malam hari, anak-anak itu belajar di madrasah, yang bertempat di langgar. Yang kita ikuti adalah cerita di desa. Apakah pembaca ingin membayangkan desa yang indah, rukun, dan makmur? Bagi para pembaca cerita gubahan Mansur Samin, bayangan itu ditunda dulu.
Deskripsi awal memang memikat: “Sekeliling tampak bukit-bukit kecil. Di sana, tumbuh hutan lebat, semak belukar dan lalang luas. Di beberapa lembah, terlihat pepohonan dunia: manggis, nangka, duku, dan mangga. Di ujung lembah, ada ladang sayur. Di lekuk tebing, mengalir sebuah sungai kecil. Sepanjang tepi sungai, terhampar luas. Di situ, tumbuh padi sedang menguning. Di suatu lembah yang agak landai tampak berbaris beberapa rumah dan gubuk. Sederet rumah dan gubuk beratap seng, berdinding papan. Lainnya beratap ijuk dan berdinding bambu. Itulah desa Malumbo. Jauh dari kota di daerah Tapanuli Selatan.” Kata-kata yang memudahkan kita melihat desa, tempat yang sekarang makin dikangeni.
Semula, imajinasi desa yang membuat kita jeda dari ruwetnya kota dan zaman yang terlalu teknologis. Yang diceritakan Mansur Samin itu masa lalu. Penerangan bersumber listrik adalah kelaziman. Di desa, anak-anak yang berjalan saat malam memerlukan obor dari belarak atau bambu. Mereka berjalan denga menyadari gelap. Obor itu menerangi tapi tidak dijamin selalu menyala atau terang. Anak-anak yang memiliki malam, bukannya takut malam yang berwajah gelap.
Biasanya, Luhut dan teman-teman berjalan bareng menuju madrasah. Di perjalanan, ada yang bersenandung atau ngobrol. Bergerak untuk iman dan ilmu. Yang mereka pelajari di madrasah adalah kitab suci dan ilmu-ilmu agama, yang berbeda dengan ilmu-ilmu dipelajari saat belajar di SD, pagi sampai siang. Yang mengajar di madrasah adalah Ali Ahmad dan Mukmin. Dua sosok yang bertugas mengajar agama sekaligus membentuk kepribadian anak-anak, yang bersumber Islam.
Pokok cerita adalah hubungan Luhut dan Dolok. Sejak awal sampai akhir, Mansur Samin menjadikan dua tokoh itu sering terlibat dalam masalah-masalah. Mengapa itu diutamakan ketimbang muatan dakwah? Mansur Samin mengerti situasi kesusastraan Indonesia. Ia pun mengamati perkembangan dakwah. Misi berdakwah dalam cerita anak boleh diwujudkan tapi tidak boleh keterlaluan.
Yang suka berulah adalah Dolok. Buku untuk mengaji milik Luhut disembunyikan. Di hadapan teman-teman, Dolok sering menghina Luhut. Anak-anak itu dalam persaingan gengsi. Luhut memilih kalem atau tahu diri. Dolok malah kebablasan. Ia memang anak dari keluarga kaya. Bukti yang paling jelas adalah ayahnya memiliki radio.
Setiap kenakalan Dolok yang diketahui guru biasanya mendapat hukuman. Namun, Dolok sulit kapok. Ia mengulangi dan mengulangi tanpa rasa malu. Yang fatal, Dolok menghajar Luhut. Peristiwa itu diketahui teman-teman. Dolok merasa yang paling kuat dan berkuasa. Teman-teman mendapat ancaman. Akibatnya, Dolok makin sombong.
Yang terbaca khas cerita anak. Pengarang menyajikan pergaulan anak-anak, keinginan belajar agama, dan pembentukan kepribadian. Pembaca yang cermat sebenarnya menemukan beberapa hal yang maksudnya berdakwah. Mansur Samin tidak gampang memanjangkan agar mirip khotbah. Yang terpenting adalah dua tokoh yang akhirnya berubah. Dolok itu pembenci dan pendendam. Luhut memilih mengalah meski dicap penakut. Pada akhirnya, perkelahian dan perdebatan membuat hubungan keduanya membaik di akhir cerita.
Kita menyimak dulu sebab perubahan-perubahan yang terjadi pada Luhut. Pada suatu hari, ia dihajar Dolok. Tubuh terluka. Beruntung, ia diselamatkan oleh tetangga. Yang terjadi, ia diajari pencak silat tapi diam-diam. Bulan-bulan berlalu, akhirnya Luhut mampu membela diri saat dihajar Dolok. Kekalahan dan luka dialami Dolok. Masalah belum berakhir. Dolok makin dendam, mengajak teman-temannya untuk mengeroyok Luhut.
Pelajaran yang diterima Luhut dari tetangga atau guru pencak silat: “Harus membela yang lemah. Harus menegakkan keadilan dan kebenaran. Harus sopan dalam pergaulan. Hormat kepada guru. Berbakti kepada orang tua. Tunduk kepada peraturan yang berlaku. Menjalankan ajaran agama dengan sungguh-sungguh. Tidak boleh memamerkan kehebatan diri pribadi. Tidak boleh berbuat sewenang-wenang. Tidak boleh mencemarkan kehormatan orang lain.” Pelajaran itu dipahami dan diamalkan. Di akhir cerita, Luhut dan Dolok saling minta maaf. Mereka pun berteman, yang menjadikan lakon di desa itu indah, bukan lagi perkelahian dan saling benci.
_______
Penulis
Kabut, penulis lepas.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com
.jpg)
Terimakasih telah berkomentar!