Thursday, June 11, 2026

Esai Afrian Rahardyaning Pangestu | Bulan Bung Karno: Kenapa Pancasila Saat Ini Menjadi Isapan Jempol Belaka?

Esai Afrian Rahardyaning Pangestu



Kita Tidak Kekurangan Penghafal Pancasila

 

Setiap bulan Juni, bangsa Indonesia kembali memperingati Bulan Bung Karno. Seminar kebangsaan digelar, diskusi tentang Pancasila diselenggarakan, kutipan-kutipan Bung Karno kembali memenuhi media sosial, dan berbagai pihak berlomba-lomba menunjukkan kecintaannya kepada Pancasila. Namun di tengah kemeriahan tersebut, ada sebuah pertanyaan yang layak diajukan secara jujur: mengapa semakin sering Pancasila dibicarakan, semakin sulit pula menemukan wujudnya dalam kehidupan sehari-hari? Jangan-jangan masalah terbesar bangsa ini bukan karena rakyatnya tidak hafal Pancasila, tapi karena terlalu banyak orang yang hafal Pancasila dan merasa tidak perlu mengamalkannya.

 

Faktanya, hampir seluruh rakyat Indonesia mengenal Pancasila. Anak-anak sekolah menghafalnya sejak usia dini. Mahasiswa mempelajarinya di bangku kuliah. Pegawai mengikuti berbagai pelatihan tentang nilai-nilai kebangsaan. Bahkan, banyak orang mampu menjelaskan makna setiap sila dengan cukup baik. Namun persoalannya bukan terletak pada pengetahuan. Persoalannya terletak pada perilaku. Sebab, sebuah bangsa tidak akan menjadi lebih baik hanya karena rakyatnya hafal nilai-nilai yang baik. Sebuah bangsa menjadi lebih baik ketika nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Di sinilah letak ironi yang sering kita abaikan. Kita hidup di negara yang kaya akan teori tentang Pancasila, tetapi sering kali miskin dalam praktik Pancasila.

 

Pancasila Hebat di Pidato, Lemah di Perilaku

 

Jika kita mau jujur, banyak persoalan bangsa ini justru menunjukkan betapa lebarnya jarak antara apa yang kita ucapkan dan apa yang kita lakukan. Sila pertama berbicara tentang Ketuhanan Yang Maha Esa, tetapi kebohongan, penipuan, dan korupsi masih menjadi masalah yang terus berulang. Sila kedua berbicara tentang kemanusiaan yang adil dan beradab, tetapi penghinaan, perundungan, fitnah, dan ujaran kebencian semakin mudah ditemukan, terutama di media sosial. Sila ketiga berbicara tentang persatuan Indonesia, tetapi masyarakat semakin mudah terpecah hanya karena perbedaan pilihan politik, organisasi, atau kelompok tertentu. Sila keempat mengajarkan musyawarah dan kebijaksanaan, tetapi ruang publik sering kali berubah menjadi arena saling menyerang, di mana setiap orang merasa paling benar dan enggan mendengarkan pendapat orang lain. Sementara sila kelima berbicara tentang keadilan sosial, tetapi masih banyak orang yang lebih sibuk memperjuangkan kepentingan pribadi daripada memikirkan kepentingan bersama.

 

Kondisi ini menunjukkan bahwa masalah bangsa ini bukan kekurangan teori, melainkan kekurangan keteladanan. Kita terlalu sering berbicara tentang nilai-nilai luhur, tetapi terlalu jarang menunjukkan nilai-nilai luhur itu dalam tindakan nyata. Akibatnya, Pancasila terdengar sangat indah ketika dibacakan dalam upacara, tetapi menghilang ketika berhadapan dengan kepentingan pribadi, jabatan, kekuasaan, atau keuntungan sesaat.

 

Jangan Jadikan Pancasila sebagai Dekorasi Nasional

 

Salah satu kesalahan terbesar yang mungkin sedang terjadi adalah menjadikan Pancasila sekadar simbol. Pancasila cuma dipasang di dinding sekolah, kantor pemerintahan, ruang rapat, dan berbagai tempat lainnya. Pancasila dibacakan dalam upacara dan dijadikan materi ujian. Namun dalam banyak kasus, Pancasila berhenti sebagai tulisan yang menghiasi ruangan tanpa benar-benar menjadi pedoman hidup. Kita seolah-olah puas ketika melihat lambang Garuda terpajang di tembok, tetapi tidak terlalu peduli apakah nilai-nilai yang dibawanya benar-benar hidup di tengah masyarakat.

 

Padahal Bung Karno tidak merumuskan Pancasila untuk dijadikan pajangan. Pancasila lahir sebagai dasar bagi perilaku berbangsa dan bernegara. Pancasila dirancang untuk menjadi kompas moral yang membimbing arah perjalanan Indonesia. Sayangnya, yang sering terjadi justru sebaliknya. Kita lebih sibuk menjaga simbol-simbolnya daripada menjaga nilai-nilainya. Kita lebih mudah marah ketika lambang negara dihina daripada marah ketika nilai-nilai Pancasila dilanggar dalam kehidupan sehari-hari.

 

Pancasila Tidak Butuh Pembela, Pancasila Butuh Pelaksana

 

Sudah saatnya bangsa ini berhenti berpikir bahwa solusi dari setiap masalah kebangsaan adalah menambah seminar, sosialisasi, atau pelatihan tentang Pancasila. Bangsa ini tidak kekurangan seminar tentang Pancasila. Yang kurang adalah teladan tentang Pancasila. Anak-anak tidak belajar kejujuran dari poster yang ditempel di dinding sekolah. Mereka belajar kejujuran dari orangtua, guru, dan pemimpin yang jujur. Masyarakat tidak belajar keadilan dari slogan-slogan yang indah. Mereka belajar keadilan ketika melihat hukum ditegakkan secara adil tanpa pandang bulu. Persatuan tidak lahir dari spanduk-spanduk bertuliskan "NKRI Harga Mati". Persatuan lahir ketika masyarakat mampu menghormati perbedaan dan tetap bekerja sama meskipun memiliki pandangan yang berbeda.

 

Oleh karena itu, solusi untuk menghidupkan kembali Pancasila sesungguhnya sangat sederhana meskipun tidak mudah. Mulailah dari diri sendiri. Jadikan kejujuran sebagai kebiasaan. Hargai orang lain meskipun berbeda pendapat. Utamakan musyawarah daripada permusuhan. Pedulilah terhadap lingkungan sekitar. Jangan menuntut orang lain menjalankan Pancasila jika kita sendiri belum berusaha menjalankannya. Pancasila tidak akan hidup karena diperdebatkan. Pancasila akan hidup ketika dipraktekkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

 

Jika Bung Karno Masih Hidup Hari Ini


Jika Bung Karno masih hidup dan melihat kondisi bangsa saat ini, mungkin beliau tidak akan bertanya berapa banyak seminar Pancasila yang telah diselenggarakan. Mungkin beliau tidak akan bertanya berapa banyak orang yang hafal lima sila. Mungkin pertanyaan yang beliau ajukan jauh lebih sederhana dan jauh lebih menohok: "Apakah Pancasila sudah hidup dalam perilaku rakyat Indonesia?"

 

Pertanyaan itu seharusnya membuat kita merenung. Sebab ukuran keberhasilan Pancasila bukanlah seberapa sering diucapkan, tetapi seberapa nyata Pancasila terlihat dalam kehidupan masyarakat. Jika Pancasila hanya hidup dalam buku, pidato, dan upacara, tetapi mati dalam perilaku sehari-hari, maka yang sedang kita rayakan setiap Bulan Bung Karno bukanlah kejayaan Pancasila. Yang sedang kita rayakan adalah kebiasaan bangsa ini memuji sesuatu yang belum sungguh-sungguh dijalankannya. Dan itulah alasan mengapa sebagian orang mulai bertanya : apakah Pancasila masih menjadi pedoman hidup bangsa ini, atau perlahan-lahan telah berubah menjadi isapan jempol belaka?

 

______

 

Penulis

Afrian Rahardyaning Pangestu, guru Matematika, IPA, dan IPS untuk murid SMP serta SMA. 

 

Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!