Esai Afrian Rahardyaning Pangestu
Kita Tidak Kekurangan Penghafal Pancasila
Setiap bulan Juni, bangsa Indonesia kembali memperingati
Bulan Bung Karno. Seminar kebangsaan digelar, diskusi tentang Pancasila
diselenggarakan, kutipan-kutipan Bung Karno kembali memenuhi media sosial, dan
berbagai pihak berlomba-lomba menunjukkan kecintaannya kepada Pancasila. Namun
di tengah kemeriahan tersebut, ada sebuah pertanyaan yang layak diajukan secara
jujur: mengapa semakin sering Pancasila dibicarakan, semakin sulit pula
menemukan wujudnya dalam kehidupan sehari-hari? Jangan-jangan masalah terbesar
bangsa ini bukan karena rakyatnya tidak hafal Pancasila, tapi karena terlalu
banyak orang yang hafal Pancasila dan merasa tidak perlu mengamalkannya.
Faktanya, hampir seluruh rakyat Indonesia mengenal
Pancasila. Anak-anak sekolah menghafalnya sejak usia dini. Mahasiswa
mempelajarinya di bangku kuliah. Pegawai mengikuti berbagai pelatihan tentang
nilai-nilai kebangsaan. Bahkan, banyak orang mampu menjelaskan makna setiap
sila dengan cukup baik. Namun persoalannya bukan terletak pada pengetahuan.
Persoalannya terletak pada perilaku. Sebab, sebuah bangsa tidak akan menjadi
lebih baik hanya karena rakyatnya hafal nilai-nilai yang baik. Sebuah bangsa
menjadi lebih baik ketika nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari. Di sinilah letak ironi yang sering kita abaikan. Kita hidup di
negara yang kaya akan teori tentang Pancasila, tetapi sering kali miskin dalam
praktik Pancasila.
Pancasila Hebat di Pidato, Lemah di Perilaku
Jika kita mau jujur, banyak persoalan bangsa ini justru
menunjukkan betapa lebarnya jarak antara apa yang kita ucapkan dan apa yang
kita lakukan. Sila pertama berbicara tentang Ketuhanan Yang Maha Esa, tetapi
kebohongan, penipuan, dan korupsi masih menjadi masalah yang terus berulang.
Sila kedua berbicara tentang kemanusiaan yang adil dan beradab, tetapi
penghinaan, perundungan, fitnah, dan ujaran kebencian semakin mudah ditemukan,
terutama di media sosial. Sila ketiga berbicara tentang persatuan Indonesia,
tetapi masyarakat semakin mudah terpecah hanya karena perbedaan pilihan
politik, organisasi, atau kelompok tertentu. Sila keempat mengajarkan
musyawarah dan kebijaksanaan, tetapi ruang publik sering kali berubah menjadi
arena saling menyerang, di mana setiap orang merasa paling benar dan enggan
mendengarkan pendapat orang lain. Sementara sila kelima berbicara tentang
keadilan sosial, tetapi masih banyak orang yang lebih sibuk memperjuangkan
kepentingan pribadi daripada memikirkan kepentingan bersama.
Kondisi ini menunjukkan bahwa masalah bangsa ini bukan
kekurangan teori, melainkan kekurangan keteladanan. Kita terlalu sering
berbicara tentang nilai-nilai luhur, tetapi terlalu jarang menunjukkan
nilai-nilai luhur itu dalam tindakan nyata. Akibatnya, Pancasila terdengar
sangat indah ketika dibacakan dalam upacara, tetapi menghilang ketika
berhadapan dengan kepentingan pribadi, jabatan, kekuasaan, atau keuntungan
sesaat.
Jangan Jadikan Pancasila sebagai Dekorasi Nasional
Salah satu kesalahan terbesar yang mungkin sedang terjadi
adalah menjadikan Pancasila sekadar simbol. Pancasila cuma dipasang di dinding
sekolah, kantor pemerintahan, ruang rapat, dan berbagai tempat lainnya.
Pancasila dibacakan dalam upacara dan dijadikan materi ujian. Namun dalam
banyak kasus, Pancasila berhenti sebagai tulisan yang menghiasi ruangan tanpa
benar-benar menjadi pedoman hidup. Kita seolah-olah puas ketika melihat lambang
Garuda terpajang di tembok, tetapi tidak terlalu peduli apakah nilai-nilai yang
dibawanya benar-benar hidup di tengah masyarakat.
Padahal Bung Karno tidak merumuskan Pancasila untuk
dijadikan pajangan. Pancasila lahir sebagai dasar bagi perilaku berbangsa dan
bernegara. Pancasila dirancang untuk menjadi kompas moral yang membimbing arah
perjalanan Indonesia. Sayangnya, yang sering terjadi justru sebaliknya. Kita
lebih sibuk menjaga simbol-simbolnya daripada menjaga nilai-nilainya. Kita
lebih mudah marah ketika lambang negara dihina daripada marah ketika
nilai-nilai Pancasila dilanggar dalam kehidupan sehari-hari.
Pancasila Tidak Butuh Pembela, Pancasila Butuh Pelaksana
Sudah saatnya bangsa ini berhenti berpikir bahwa solusi
dari setiap masalah kebangsaan adalah menambah seminar, sosialisasi, atau
pelatihan tentang Pancasila. Bangsa ini tidak kekurangan seminar tentang
Pancasila. Yang kurang adalah teladan tentang Pancasila. Anak-anak tidak
belajar kejujuran dari poster yang ditempel di dinding sekolah. Mereka belajar
kejujuran dari orangtua, guru, dan pemimpin yang jujur. Masyarakat tidak
belajar keadilan dari slogan-slogan yang indah. Mereka belajar keadilan ketika
melihat hukum ditegakkan secara adil tanpa pandang bulu. Persatuan tidak lahir
dari spanduk-spanduk bertuliskan "NKRI Harga Mati". Persatuan lahir
ketika masyarakat mampu menghormati perbedaan dan tetap bekerja sama meskipun
memiliki pandangan yang berbeda.
Oleh karena itu, solusi untuk menghidupkan kembali
Pancasila sesungguhnya sangat sederhana meskipun tidak mudah. Mulailah dari
diri sendiri. Jadikan kejujuran sebagai kebiasaan. Hargai orang lain meskipun
berbeda pendapat. Utamakan musyawarah daripada permusuhan. Pedulilah terhadap
lingkungan sekitar. Jangan menuntut orang lain menjalankan Pancasila jika kita
sendiri belum berusaha menjalankannya. Pancasila tidak akan hidup karena
diperdebatkan. Pancasila akan hidup ketika dipraktekkan secara konsisten dalam
kehidupan sehari-hari.
Jika Bung Karno Masih Hidup Hari Ini
Jika Bung Karno masih hidup dan melihat kondisi bangsa
saat ini, mungkin beliau tidak akan bertanya berapa banyak seminar Pancasila
yang telah diselenggarakan. Mungkin beliau tidak akan bertanya berapa banyak
orang yang hafal lima sila. Mungkin pertanyaan yang beliau ajukan jauh lebih
sederhana dan jauh lebih menohok: "Apakah Pancasila sudah hidup dalam
perilaku rakyat Indonesia?"
Pertanyaan itu seharusnya membuat kita merenung. Sebab
ukuran keberhasilan Pancasila bukanlah seberapa sering diucapkan, tetapi
seberapa nyata Pancasila terlihat dalam kehidupan masyarakat. Jika Pancasila
hanya hidup dalam buku, pidato, dan upacara, tetapi mati dalam perilaku
sehari-hari, maka yang sedang kita rayakan setiap Bulan Bung Karno bukanlah
kejayaan Pancasila. Yang sedang kita rayakan adalah kebiasaan bangsa ini memuji
sesuatu yang belum sungguh-sungguh dijalankannya. Dan itulah alasan mengapa sebagian
orang mulai bertanya : apakah Pancasila masih menjadi pedoman hidup bangsa ini,
atau perlahan-lahan telah berubah menjadi isapan jempol belaka?
______
Penulis
Afrian Rahardyaning Pangestu, guru Matematika, IPA, dan IPS untuk murid SMP serta
SMA.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!