Sunday, June 14, 2026

Puisi-Puisi Isbedy Stiawan ZS

Puisi Isbedy Stiawan ZS

 



Wangi Terre D’hermes

 

ribuan sapi jantan yang kau kirimkan

tanpa perlu sentuhan tangan

sebab kau sudah tinggi terbang

kucium asam keringat tumpukan

uang yang terlilit di kutang

ataupun celana dalam

                  para jantan

yang terseokseok di jalan  

atau pekerja hingga malam

 

seribuan sapi jantan kau kurbankan

di pagi yang bagiku sangat perih

merawat perasaan, pilu bertumpuk

seperti bukan sapisapi itu jadi kurban

tapi aku yang kelewat tergoda

mana bau apak mana pula wangi tubuh

                      yang berlabuh

menjadi kecewa

luka yang bertalu

 

sementara nun di sana

aku saksikan bintang bagai meteor

wangi Terre d’Hermès berkelebat

serupa cahaya dan petaka

 

Lampung, Kamis 28 Mei 2026; 13.53

 

 

Pesan Orang Tua kepada Anak

 

anakanakku, kau boleh tersenyum sekarang

sebab tak cemas atau khawatir makan siang

gratis, setelah itu dibawa ke puskes karena keracunan

tersenyumlah, sepuasmu anakanakku; seperti bapak

yang mengirim rantang berisi makan siang

tetap menyunggingkan senyum walau tangannya diikat

dan digiring ke ruang — barangkali — sangat mencekam

 

bapak yang mengirim rantangrantang berisi makanan

setiap hari ke sekolah, dan kami — orang tua — selalu

khawatir kalian keracunan, atau gizi tak sepadan

dengan ilmu kesehatan. karena para pemilik dapur

harus menyesuaikan antara upeti dan bahan makanan

sehingga tak bikin dapur kebakaran, para pemasak

berdemo tanpa digaji, para supir mogok alasan BBM

tak terbeli. lalu, selalu dan lagilagi anakku layaknya

simalakama

 

kini, anakanakku, lihatlah bapak berompi oranye itu

tetap tersenyum walau di depan lorong panjang hitam

dan bilik senyap; di situ mungkin ia akan menulis

catatan harian dengan diksi yang tak pernah ditemukan

selama ini,

 

       diksi itu,

        “Tuhan tak tidur

         jalan Tuhan kini di depan

         amat benderang…”

 

3 Juni 2026

 

 

Ia Kini Membayangkan...

 

ia kini membayangkan ribuan ekor sapi

setiap hari masuk ke tubuh saat

berada di bilik yang tak permah diimpikan

selain ribuan ekor sapi, jutaan ton lele

keleparkelepar dalam matanya, gumamnya,

lele tanpa kepala itu senantiasa rindu kembali

menyatu agar bisa berenang di kolam

 

tapi sekarang sudah telanjur. ia dan potongan sapi,

juga badan lele semakin jauh terpisah; "aku

di bilik ini, dan mereka hanya kenangan."

tapi orang lain akan meneruskan, duduk di kursi

yang kutinggal. barangkali menunggu untuk 

menjemputku. "samasama sebagai orang

terbuang dan sakit!" katanya, namun sungguh

itu bukan serapah

 

6 Juni 2026

 

 

 

Nyala Lilin

 

nyala lilin di pucuk bukit tart

pelanpelan redup lalu lampus

oleh gerimis. ini juni baru injak

angka lima di kalender yang

kau pajang di dinding rumah;

warna tembok pun telah kuning

 

tak perlu menangis sebab hujan

sudah basah di kelopak mata

entah untuk alhamdulillah

ataukah astaghfirullah; "tak lama lagi

kau bertahan," bisik yang dekat

di telinga, namun tak kutahu

siapa dia

 

mata kita jadi gelap sejak nyala lilin

padam karena tempias hujan. ini

masih mengawali bulan juni,

bukan puncak dari hari

 

tapi, jangan ada air mata

karena hujan sudah menggenapi

untuk syukur maupun cemas

: tentang waktu yang tak pernah abadi

 

2026

 

 

 

Dari Sela Jemariku

 

di layar telepon genggam itu

wajahnya datang dan berlalu

"aku hanya mengintip dari

sela jemari yang menutup

kelopak mata, aku..." katanya

 

lampu tak terang lebih benderang

di luar sana. telepontelepon kecil

bersuara nyaring untuk memberi

kabar; "sudah kau lihat pesan

 

ini kali, nanti bertumpuk jika telat

melihatnya

 

aku sudah cukup mengintip

dari sela jemariku agar samar

dan aku tak dicambuk murka, katanya

 

2026

 

 

______

 

Penulis

 

Isbedy Stiawan ZS adalah sastrawan Indonesia asal Lampung. Pada 2025, 3 bukunya terbit yakni Kitab Puisi Esai Elegi Galian Tambang,  Kumpulan Puisi Satu Ciuman, Dua Pelukan (Januari 2025), dan Menungguku Tiba (Juni 2025), Kenduri Sumatera (Januari 2026), dan kumpulan esai Noel di Jalur Whoosh, dan Catatan Lain (Februari 2026).

 

Beberapa buku puisinya dinobatkan sebagai buku pilihan Hari Puisi Indonesia, Rainy Days, 5 Besar Badan Bahasa Kemendikbud RI, dan 5 Besar Majalah Tempo.

 

Puisi “79” sebagai juara I Lomba Cipta Puisi Tingkat Asean (2024), dan puisi “Wadas, Apakah Kita Masih Satu Tanah Air”  juara II Lomba Cipta Puisi Esai Asean di Sabah, Malaysia (2025).

 

Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com


Terimakasih telah berkomentar!