Puisi Isbedy Stiawan ZS
Wangi
Terre D’hermes
ribuan
sapi jantan yang kau kirimkan
tanpa
perlu sentuhan tangan
sebab
kau sudah tinggi terbang
kucium
asam keringat tumpukan
uang
yang terlilit di kutang
ataupun
celana dalam
para jantan
yang
terseokseok di jalan
atau
pekerja hingga malam
seribuan
sapi jantan kau kurbankan
di
pagi yang bagiku sangat perih
merawat
perasaan, pilu bertumpuk
seperti
bukan sapisapi itu jadi kurban
tapi
aku yang kelewat tergoda
mana
bau apak mana pula wangi tubuh
yang berlabuh
menjadi
kecewa
luka
yang bertalu
sementara
nun di sana
aku
saksikan bintang bagai meteor
wangi
Terre d’Hermès berkelebat
serupa
cahaya dan petaka
Lampung,
Kamis 28 Mei 2026; 13.53
Pesan
Orang Tua kepada Anak
anakanakku,
kau boleh tersenyum sekarang
sebab
tak cemas atau khawatir makan siang
gratis,
setelah itu dibawa ke puskes karena keracunan
tersenyumlah,
sepuasmu anakanakku; seperti bapak
yang
mengirim rantang berisi makan siang
tetap
menyunggingkan senyum walau tangannya diikat
dan
digiring ke ruang — barangkali — sangat mencekam
bapak
yang mengirim rantangrantang berisi makanan
setiap
hari ke sekolah, dan kami — orang tua — selalu
khawatir
kalian keracunan, atau gizi tak sepadan
dengan
ilmu kesehatan. karena para pemilik dapur
harus
menyesuaikan antara upeti dan bahan makanan
sehingga
tak bikin dapur kebakaran, para pemasak
berdemo
tanpa digaji, para supir mogok alasan BBM
tak
terbeli. lalu, selalu dan lagilagi anakku layaknya
simalakama
kini,
anakanakku, lihatlah bapak berompi oranye itu
tetap
tersenyum walau di depan lorong panjang hitam
dan
bilik senyap; di situ mungkin ia akan menulis
catatan
harian dengan diksi yang tak pernah ditemukan
selama
ini,
diksi itu,
“Tuhan tak tidur
jalan Tuhan kini di depan
amat benderang…”
3
Juni 2026
Ia
Kini Membayangkan...
ia
kini membayangkan ribuan ekor sapi
setiap
hari masuk ke tubuh saat
berada
di bilik yang tak permah diimpikan
selain
ribuan ekor sapi, jutaan ton lele
keleparkelepar
dalam matanya, gumamnya,
lele
tanpa kepala itu senantiasa rindu kembali
menyatu
agar bisa berenang di kolam
tapi
sekarang sudah telanjur. ia dan potongan sapi,
juga
badan lele semakin jauh terpisah; "aku
di
bilik ini, dan mereka hanya kenangan."
tapi
orang lain akan meneruskan, duduk di kursi
yang
kutinggal. barangkali menunggu untuk
menjemputku.
"samasama sebagai orang
terbuang
dan sakit!" katanya, namun sungguh
itu
bukan serapah
6
Juni 2026
Nyala
Lilin
nyala
lilin di pucuk bukit tart
pelanpelan
redup lalu lampus
oleh
gerimis. ini juni baru injak
angka
lima di kalender yang
kau
pajang di dinding rumah;
warna
tembok pun telah kuning
tak
perlu menangis sebab hujan
sudah
basah di kelopak mata
entah
untuk alhamdulillah
ataukah
astaghfirullah; "tak lama lagi
kau
bertahan," bisik yang dekat
di
telinga, namun tak kutahu
siapa
dia
mata
kita jadi gelap sejak nyala lilin
padam
karena tempias hujan. ini
masih
mengawali bulan juni,
bukan
puncak dari hari
tapi,
jangan ada air mata
karena
hujan sudah menggenapi
untuk
syukur maupun cemas
:
tentang waktu yang tak pernah abadi
2026
Dari Sela Jemariku
di layar telepon genggam itu
wajahnya datang dan berlalu
"aku hanya mengintip dari
sela jemari yang menutup
kelopak mata, aku..." katanya
lampu tak terang lebih benderang
di luar sana. telepontelepon kecil
bersuara nyaring untuk memberi
kabar; "sudah kau lihat pesan
ini kali, nanti bertumpuk jika telat
melihatnya
aku sudah cukup mengintip
dari sela jemariku agar samar
dan aku tak dicambuk murka, katanya
2026
______
Penulis
Isbedy Stiawan ZS adalah
sastrawan Indonesia asal Lampung. Pada 2025, 3 bukunya terbit yakni Kitab
Puisi Esai Elegi Galian Tambang, Kumpulan
Puisi Satu Ciuman, Dua Pelukan (Januari 2025), dan Menungguku Tiba
(Juni 2025), Kenduri Sumatera (Januari 2026), dan kumpulan esai Noel
di Jalur Whoosh, dan Catatan Lain (Februari 2026).
Beberapa buku puisinya
dinobatkan sebagai buku pilihan Hari Puisi Indonesia, Rainy Days, 5 Besar Badan
Bahasa Kemendikbud RI, dan 5 Besar Majalah Tempo.
Puisi “79” sebagai juara
I Lomba Cipta Puisi Tingkat Asean (2024), dan puisi “Wadas, Apakah Kita Masih
Satu Tanah Air” juara II Lomba Cipta
Puisi Esai Asean di Sabah, Malaysia (2025).
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!