Thursday, July 16, 2026

Esai Afrian Rahardyaning Pangestu | Kurs Dolar Naik, Tapi Kenapa Harga Kejujuran Malah Turun?

Esai Afrian Rahardyaning Pangestu

 


Yang Diperdagangkan Dunia Bukan Cuma Dolar

Para pembaca yang baik hati. Setiap kali rupiah melemah terhadap dolar Amerika, kita selalu mengulang kebiasaan yang sama. Kita menyalahkan The Fed, perang dagang, konflik geopolitik, harga minyak, atau kebijakan pemerintah. Semua penjelasan itu benar. Namun, karena terlalu sering diulang, kita lupa bertanya tentang sesuatu yang jauh lebih mendasar: apa sebenarnya yang diperdagangkan dunia? Apakah benar dunia hanya memperjualbelikan mata uang, atau sesungguhnya yang diperdagangkan adalah sesuatu yang jauh lebih mahal daripada uang itu sendiri?

Ekonom akan mengatakan bahwa nilai tukar dipengaruhi inflasi, suku bunga, produktivitas, neraca perdagangan, dan arus modal. Tidak ada yang salah dengan penjelasan itu. Tetapi ada satu hal yang sering luput dari pembicaraan: mengapa modal memilih datang ke suatu negara, lalu meninggalkan negara yang lain? Mengapa investor bersedia menyimpan miliaran dolar di satu tempat, tetapi ragu menaruh sejuta dolar di tempat lain? Jawabannya tidak berhenti pada angka. Jawabannya berakhir pada satu kata yang tidak bisa dicetak oleh bank sentral: kepercayaan.

Bank Indonesia Mencetak Rupiah, Tetapi Tidak Bisa Mencetak Kepercayaan

Ada kesalahpahaman yang selama ini kita warisi. Kita mengira Bank Indonesia mencetak nilai rupiah. Sesungguhnya tidak. Bank Indonesia mencetak uangnya, tetapi tidak bisa mencetak nilainya. Nilai rupiah lahir dari keyakinan bahwa masyarakat yang menggunakannya memiliki sistem yang dapat dipercaya, di mana hukum ditegakkan tanpa pandang bulu, perjanjian dihormati, pejabat tidak menjual kebijakan yang merugikan rakyat, data negara tidak direkayasa, dan korupsi bukan budaya. Ingat, mesin percetakan uang mampu menghasilkan miliaran lembar rupiah, tetapi tidak ada satu pun mesin di dunia yang mampu mencetak kepercayaan.

Di sinilah letak ironi yang sering kita abaikan. Kita sibuk menghitung cadangan devisa, tetapi lupa menghitung cadangan integritas. Kita bangga ketika investasi masuk, tetapi diam ketika kejujuran keluar dari kehidupan sehari-hari. Padahal investasi datang mengikuti kepercayaan, dan kepercayaan mengikuti karakter.

Investor Tidak Pernah Membeli Rupiah

Kita sering berkata bahwa investor membeli rupiah, membeli saham Indonesia, membeli obligasi negara, atau membeli proyek-proyek strategis. Kalimat itu sebenarnya belum lengkap. Yang pertama kali mereka beli bukanlah aset, tetapi keyakinan bahwa aset tersebut berada di tangan masyarakat yang dapat dipercaya.

Mereka tidak bertanya berapa banyak rumah ibadah yang berdiri di negeri ini. Mereka bertanya apakah kontrak akan ditepati. Mereka tidak menghitung berapa banyak ceramah agama yang disiarkan setiap hari. Mereka menghitung apakah pengadilan dapat menghadirkan kepastian hukum. Mereka tidak melihat seberapa panjang doa kita. Mereka melihat seberapa pendek jalan menuju suap.

Kalimat tersebut mungkin terdengar sinis, tetapi pasar memang tidak mengenal basa-basi. Pasar hanya mengenal risiko. Dan risiko terbesar dalam ekonomi bukanlah inflasi. Risiko terbesar adalah hilangnya kepercayaan.

Kita adalah Bangsa Religius, Tetapi Kenapa Kepercayaan Masih Mahal?

Para pembaca yang baik hati. Ini adalah paradoks yang semestinya membuat kita gelisah. Indonesia adalah salah satu bangsa paling religius di dunia. Rumah ibadah berdiri megah. Pengajian, kebaktian, dharma, dan berbagai kegiatan keagamaan berlangsung hampir setiap hari. Namun, pada saat yang sama, indeks persepsi korupsi masih menjadi pekerjaan rumah, praktik suap belum benar-benar hilang, manipulasi data masih terjadi, dan kebohongan sering kali dianggap sekadar kecerdikan.

Kita jangan mengatakan bahwa agama gagal mencetak orang-orang menjadi baik.

Justru yang  jauh lebih menyakitkan adalah mengapa ajaran tentang amanah cuma sebatas berhenti di mimbar, tetapi tidak sampai ke ruang kerja?

Sebab agama yang hanya hidup dalam ritual akan menghasilkan masyarakat yang rajin beribadah. Tetapi, agama yang hidup dalam akhlak akan menghasilkan masyarakat yang dapat dipercaya. Dan dalam ekonomi modern, kepercayaan adalah mata uang yang nilainya bahkan lebih tinggi daripada dolar.

Korupsi Tidak Mencuri Uang Negara

Kita sering mengatakan bahwa korupsi merugikan keuangan negara. Hal itu memang benar. Tetapi, kerugian terbesar bukanlah angka yang hilang dari kas negara. Korupsi mencuri sesuatu yang jauh lebih mahal, yaitu: reputasi.

Sekali sebuah negara dikenal sebagai tempat yang mudah disuap, sulit dipercaya, atau lemah penegakan hukumnya, maka biaya ekonomi langsung meningkat. Semua kontrak bisnis membutuhkan pengamanan. Semua investasi meminta jaminan tambahan. Semua orang mulai saling curiga. Biaya ketidakpercayaan membengkak, dan pada akhirnya seluruh rakyatlah yang membayarnya melalui harga kebutuhan yang lebih mahal, lapangan kerja yang lebih sedikit, dan pertumbuhan ekonomi yang semakin lambat.

Korupsi bukan sekadar kejahatan hukum. Korupsi adalah metode tercepat untuk membombardir masa depan suatu bangsa dan negara.

Harga Kejujuran Sedang Turun

Para pembaca yang baik hati. Barangkali ini adalah masalah yang sesungguhnya. Kita tidak lagi merasa terganggu oleh kebohongan-kebohongan kecil. Suap berubah nama menjadi uang terima kasih. Pungutan liar menjadi uang peduli. Manipulasi laporan dianggap sebagai kreativitas administrasi. Menyontek menjadi kerja sama antarpelajar. Janji politik yang diingkari dianggap sebagai hal yang lumrah. Kita mengubah istilah agar hati tidak merasa bersalah.

Padahal setiap kali kebohongan dinormalisasi, maka harga kejujuran turun sedikit demi sedikit. Dan ketika harga kejujuran turun, maka biaya untuk membangun kepercayaan menjadi naik sedikit demi sedikit.

Lalu tanpa kita sadari, ekonomi ikut membayar tagihannya.

Rupiah Mengikuti Sesuatu yang Tidak Pernah Masuk Neraca

Para pembaca yang baik hati. Saya tidak sedang mengatakan bahwa nilai tukar rupiah ditentukan semata-mata oleh moral masyarakat. Ekonomi jauh lebih rumit daripada itu. Ada kebijakan moneter, perdagangan internasional, produktivitas, dan dinamika global yang tidak bisa diabaikan.

Namun ada satu kenyataan yang sering terlupakan. Semua faktor itu hanya bisa bekerja optimal apabila ditopang oleh kepercayaan. Dan kepercayaan tidak lahir dari pidato. Kepercayaan lahir dari akhlak, dari amanah yang dijaga ketika tidak ada yang melihat, dari kejujuran yang tetap dipilih meski ada kesempatan untuk berbuat curang, dan dari rasa malu yang masih hidup ketika seseorang tergoda mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Mungkin karena itu, setiap kali kita melihat angka dolar naik terhadap rupiah, maka kita jangan cuma bertanya apa yang sedang terjadi di Washington. Tanyakan juga apa yang sedang terjadi di dalam diri kita. Sebab sejarah mengajarkan kita tentang satu hal yang sering terlupakan, yaitu bangsa-bangsa yang dulunya besar, mereka tidak runtuh ketika mereka kehabisan uang. Mereka runtuh ketika mereka kehabisan orang-orang yang dapat dipercaya.

Kita semua harus menyadari bahwa ketika kepercayaan kehilangan harga, maka yang terjadi adalah nilai mata uang pun ikut kehilangan nilainya.

______
Penulis

Afrian Rahardyaning Pangestu, guru Matematika, IPA, dan IPS untuk murid SMP serta SMA.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com



This Is The Newest Post

Terimakasih telah berkomentar!