Esai Nurhadi
Harusnya saya sudah di rumah sore itu melanjutkan series Renegade Immortal, Tales Of Herding Gods, dan Tomb Of Fallen Gods S3. Tapi seakan tarikan gravitasi sangat kuat di rumah teman saya itu. Atau mungkin itu kodam penunggu yang menarik pantat saya dari bawah karena kebetulan kami sedang menyinggung mereka. Konon katanya kalau mereka sering disebut akan semakin mendekat.
Teman saya mulai cerita soal pengalaman, katanya dia
pernah ditembak jin saat menyaksikan orang kesurupan saat menyetel musik
lengser wengi. Bayangkan bagaimana rasanya ditembak jin. Katanya seperti
ditekan organ dalamnya dan menjadi sesak. Mungkin pengalaman teman saya itu
kalau diceritakan kepada orang lain bakal dikira dia habis makan kecubung. Tapi
entah mengapa, di ruang sepetak itu cerita-ceritanya kedengaran masuk akal.
Atau minimal masuk ke rasa penasaran saya yang bertanya-tanya tentang dunia gaib
itu sendiri.
Kemudian teman saya juga pernah diberi batu oleh
tetangganya. Batu bukan sembarang batu—mungkin begitu pikirnya. Setibanya di
rumah dia penasaran sesosok apa penjaga
atau kodam batu tersebut. Lantas menantangnya. Dan sesuai harapan. Katanya
sesosok kakek tua tiba-tiba duduk di di belakangnya dengan kondisi tubuh yang
sangat kurus dan perangainya menyeramkan.
Masih banyak lagi cerita mistis lainnya yang saya dengar
dari obrolan sore itu. Tapi setelah dipikir-pikir hidup ini sebenarnya kurang
asyik, apalagi era modern ini kalau cuma rasional-rasional saja. Makanya waktu
obrolan soal kodam, soal energi yang mendekat kalau dibahas, atau soal firasat
yang ternyata beneran kejadian—ada semacam kelegaan. Kelegaan karena dunia ini
tidak se-flat itu.
Justru itu alasan kenapa saya—mungkin kebanyakan orang
lainnya juga—menyukai atau sekadar penasaran, seperti cerita-cerita pada
kultivasi Wang Lin dalam series Renegade
Immortal tadi. Tapi minimal lewat cerita itu—atau obrolan sore kami yang
mistisisme—saya masih diberi ruang untuk berpikir bahwa hidup ini ternyata misterius;
ada kebenaran yang tak dapat dijelaskan oleh bahasa dan angka.
Jadi pada sore itu sementara series-series saya harus
tertunda. Bukan karena enggan menonton, tapi mungkin karena saya lagi
menyaksikan series dalam versi nyata. Dan entah mengapa hal itu terasa lebih hidup
dan menyenangkan. Bagi saya cerita itu sebagai pengingat kecil bahwa hidup ini
memang kurang asyik kalau dijalani serba logis. Sesekali, biarkan diri kita
merebahkan pada obrolan yang hangat dan ringan. Toh, kalau ternyata itu cuma
perasaan akan adanya jin, kodam, dan hantu-hantu lainnya, minimal jadi bahan
obrolan seru buat sore-sore berikutnya.
________
Penulis
Nurhadi atau biasa
dipanggil Albert. Sekarang masih pura-pura belajar di #Komentar. Karyanya
pernah dimuat di koran harian Kabar Banten dan Majalah
Sastra Kandaga Provinsi Banten. Selebihnya insyallah.

Nice!
ReplyDeletenice goreng
Delete