Sunday, July 12, 2026

Esai Nurhadi | Hidup Ini Kurang Asyik Tanpa Mistisisme

Esai Nurhadi 

 


Harusnya saya sudah di rumah sore itu melanjutkan series Renegade Immortal, Tales Of Herding Gods, dan Tomb Of Fallen Gods S3. Tapi seakan tarikan gravitasi sangat kuat di rumah teman saya itu. Atau mungkin itu kodam penunggu yang menarik pantat saya dari bawah karena kebetulan kami sedang menyinggung mereka. Konon katanya kalau mereka sering disebut akan semakin mendekat.


Saya sendiri termasuk orang yang kurang percaya kalau ngomongin hal mistis, tapi juga bukan yang skeptis. Saya nyaman-nyaman saja kalau ngobrolin soal gaib. Dan memang begitulah obrolan sore itu berjalan. Dari yang tadinya cuma basa-basi soal keseharian, perlahan geser ke topik yang lebih mistis.


Teman saya mulai cerita soal pengalaman, katanya dia pernah ditembak jin saat menyaksikan orang kesurupan saat menyetel musik lengser wengi. Bayangkan bagaimana rasanya ditembak jin. Katanya seperti ditekan organ dalamnya dan menjadi sesak. Mungkin pengalaman teman saya itu kalau diceritakan kepada orang lain bakal dikira dia habis makan kecubung. Tapi entah mengapa, di ruang sepetak itu cerita-ceritanya kedengaran masuk akal. Atau minimal masuk ke rasa penasaran saya yang bertanya-tanya tentang dunia gaib itu sendiri.


Kemudian teman saya juga pernah diberi batu oleh tetangganya. Batu bukan sembarang batu—mungkin begitu pikirnya. Setibanya di rumah  dia penasaran sesosok apa penjaga atau kodam batu tersebut. Lantas menantangnya. Dan sesuai harapan. Katanya sesosok kakek tua tiba-tiba duduk di di belakangnya dengan kondisi tubuh yang sangat kurus dan perangainya menyeramkan.


Masih banyak lagi cerita mistis lainnya yang saya dengar dari obrolan sore itu. Tapi setelah dipikir-pikir hidup ini sebenarnya kurang asyik, apalagi era modern ini kalau cuma rasional-rasional saja. Makanya waktu obrolan soal kodam, soal energi yang mendekat kalau dibahas, atau soal firasat yang ternyata beneran kejadian—ada semacam kelegaan. Kelegaan karena dunia ini tidak se-flat itu.


Justru itu alasan kenapa saya—mungkin kebanyakan orang lainnya juga—menyukai atau sekadar penasaran, seperti cerita-cerita pada kultivasi Wang Lin dalam series Renegade Immortal tadi. Tapi minimal lewat cerita itu—atau obrolan sore kami yang mistisisme—saya masih diberi ruang untuk berpikir bahwa hidup ini ternyata misterius; ada kebenaran yang tak dapat dijelaskan oleh bahasa dan angka.


Jadi pada sore itu sementara series-series saya harus tertunda. Bukan karena enggan menonton, tapi mungkin karena saya lagi menyaksikan series dalam versi nyata. Dan entah mengapa hal itu terasa lebih hidup dan menyenangkan. Bagi saya cerita itu sebagai pengingat kecil bahwa hidup ini memang kurang asyik kalau dijalani serba logis. Sesekali, biarkan diri kita merebahkan pada obrolan yang hangat dan ringan. Toh, kalau ternyata itu cuma perasaan akan adanya jin, kodam, dan hantu-hantu lainnya, minimal jadi bahan obrolan seru buat sore-sore berikutnya.


________


Penulis


Nurhadi
 atau biasa dipanggil Albert. Sekarang masih pura-pura belajar di #Komentar. Karyanya pernah dimuat di koran harian Kabar Banten dan Majalah Sastra Kandaga Provinsi Banten. Selebihnya insyallah.

 


2 comments:

Terimakasih telah berkomentar!