Sunday, July 12, 2026

Puisi-Puisi Rafif Abbas Pradana

Puisi Rafif Abbas




Perhitungan


Lelahnya aku menghitung jarak

antara lahir dan pulang,

yang tak pernah bersua

dalam satu lintasan.


Masing-masing memiliki ejaannya sendiri.

Kucoba mengejanya

sepanjang perjalanan hitung,

yang mungkin takkan usai,

meski sebuah jembatan

terus ingin dibangun.


Jembatan itu membentangkan

seluruh tubuhnya,

dari satu tepi

menuju tepi paling sunyi.


Jalan-jalan pun terhubung

menuju pulang,

sementara hitungan

tetap belum selesai.



Puisiku


Puisiku, kubagi setengah persen

dari tubuhku yang merana,

karena salah ditakdirkan mengisi spasi

antarbait puisiku yang saling menolak,

saling memberontak untuk mengeja pulang.


Sudah sebaiknya bait-bait puisiku

kusalingkalikan dengan kata-kata

yang membesar melebihi tubuhnya,

kukalikan lagi dengan bayang-bayang

yang saling meminjam wajah,

hingga menjadi baris berujung jarum

yang menusuk tubuhku dan terbaring.


Sementara judul puisiku

tak pernah mewakili

tubuh-tubuh puisiku,

apalagi hasil perhitungannya.



Terlalu Matematik


Aku terlalu matematik

Buat kamu yang tak sanggup

Menjadi penyebut

Di dalam doa seperempat malam

Sebelum ibu menawar harga

Dan aku menghitung

Sisa-sisa pembagian.



Aku Lirik 


Aku menghitung

Berapa senjaku akan datang,

Padahal tali telah diikatkan

Di antara kepala dan tubuhku.


Sampai aku menjerit dalam perhitungan,

Atas semua yang telah dilalui.

Hitam memutih dalam kekaburan,

Yang tak sempat menyebut bilangan

Di sela-sela puisi terakhirku.


Akhirnya bait terakhir dibanjiri

Darah yang menempel di lantai,

Sebagai artefak

Yang mengingatku

Sebagai aku lirik.



Demi 


Demi puisiku, aku bersumpah

Tidak ada Tuhan selain aku.

Bahkan dewa pun sulit mengeja namaku,

Apalagi umatku yang rajin berdzikir

Sepanjang puisiku terbentang,

Dari neraka sampai surga yang dijanjikan.


Hitunglah berapa bilangan yang kuberikan,

Kalikan apa yang telah kaudapatkan,

Bagikan kepada mereka yang mengemis,

Yang selalu memohon pecahan pujian.

Lalu hitung kembali

Apa yang telah kudustakan

Kepada umatku.



Aku Ingin 


Aku ingin bunuh diri

Biar menjadi pecahan

Dari hasil perhitungan

Sejak lahir

Sampai pulang.



Puisiku Ketujuh 


Setelah semua hitungan selesai,

ternyata aku

masih menjadi sisanya.



______


Penulis


Rafif Abbas Pradana, lahir di Bekasi pada 25 Oktober 2004. Ia merupakan mahasiswa Pendidikan Sejarah di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta). Aktif menulis esai, puisi, serta artikel kesejarahan. Saat ini, ia menjabat sebagai Kepala Divisi Kajian Unit Kegiatan Mahasiswa Bengkel Menulis dan Sastra (Belistra) periode 2026.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com




Terimakasih telah berkomentar!