Puisi Rafif Abbas
Perhitungan
Lelahnya aku menghitung jarak
antara lahir dan pulang,
yang tak pernah bersua
dalam satu lintasan.
Masing-masing memiliki ejaannya sendiri.
Kucoba mengejanya
sepanjang perjalanan hitung,
yang mungkin takkan usai,
meski sebuah jembatan
terus ingin dibangun.
Jembatan itu membentangkan
seluruh tubuhnya,
dari satu tepi
menuju tepi paling sunyi.
Jalan-jalan pun terhubung
menuju pulang,
sementara hitungan
tetap belum selesai.
Puisiku
Puisiku, kubagi setengah persen
dari tubuhku yang merana,
karena salah ditakdirkan mengisi spasi
antarbait puisiku yang saling menolak,
saling memberontak untuk mengeja pulang.
Sudah sebaiknya bait-bait puisiku
kusalingkalikan dengan kata-kata
yang membesar melebihi tubuhnya,
kukalikan lagi dengan bayang-bayang
yang saling meminjam wajah,
hingga menjadi baris berujung jarum
yang menusuk tubuhku dan terbaring.
Sementara judul puisiku
tak pernah mewakili
tubuh-tubuh puisiku,
apalagi hasil perhitungannya.
Terlalu Matematik
Aku terlalu matematik
Buat kamu yang tak sanggup
Menjadi penyebut
Di dalam doa seperempat malam
Sebelum ibu menawar harga
Dan aku menghitung
Sisa-sisa pembagian.
Aku Lirik
Aku menghitung
Berapa senjaku akan datang,
Padahal tali telah diikatkan
Di antara kepala dan tubuhku.
Sampai aku menjerit dalam perhitungan,
Atas semua yang telah dilalui.
Hitam memutih dalam kekaburan,
Yang tak sempat menyebut bilangan
Di sela-sela puisi terakhirku.
Akhirnya bait terakhir dibanjiri
Darah yang menempel di lantai,
Sebagai artefak
Yang mengingatku
Sebagai aku lirik.
Demi
Demi puisiku, aku bersumpah
Tidak ada Tuhan selain aku.
Bahkan dewa pun sulit mengeja namaku,
Apalagi umatku yang rajin berdzikir
Sepanjang puisiku terbentang,
Dari neraka sampai surga yang dijanjikan.
Hitunglah berapa bilangan yang kuberikan,
Kalikan apa yang telah kaudapatkan,
Bagikan kepada mereka yang mengemis,
Yang selalu memohon pecahan pujian.
Lalu hitung kembali
Apa yang telah kudustakan
Kepada umatku.
Aku Ingin
Aku ingin bunuh diri
Biar menjadi pecahan
Dari hasil perhitungan
Sejak lahir
Sampai pulang.
Puisiku Ketujuh
Setelah semua hitungan selesai,
ternyata aku
masih menjadi sisanya.
______
Penulis
Rafif Abbas Pradana, lahir di Bekasi pada 25 Oktober 2004. Ia merupakan mahasiswa Pendidikan Sejarah di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta). Aktif menulis esai, puisi, serta artikel kesejarahan. Saat ini, ia menjabat sebagai Kepala Divisi Kajian Unit Kegiatan Mahasiswa Bengkel Menulis dan Sastra (Belistra) periode 2026.
Kirim naskah ke
redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!