Saturday, July 11, 2026

Resensi Kabut | Matematika dan Puisi

Oleh Kabut




Murid-murid di seantero sekolah sebentar lagi masuk sekolah. Mereka belajar lagi di kelas-kelas dalam hitungan ratusan hari. Masa liburan telah berakhir, yang membuat mereka terhibur dan terbebas dari seribu perintah pendidikan. Apakah mereka memilih libur atau mengalami hari-hari disibukkan beragam mata pelajaran atas nama ilmu? Mereka berada dalam situasi yang tidak keruan berkaitan kebijakan pemerintah, kemauan keluarga, hasrat pribadi, dan lain-lain. Namun, lakon belajar di sekolah terus dilanggengkan di Indonesia. Kita tidak pernah mengetahui terjadi pelarangan belajar atau “mengharamkan” sekolah.


Pada 2026, kita berpikiran tentang mutu pendidikan di Indonesia. Konon, mutu (sangat) menurun akibat pelbagai kebijakan. Ada yang menuduh guru-guru belum mampu membuktikan tanggung jawab. Ada yang sinis bahwa murid-murid memang tidak lagi berminat belajar. Pihak berbeda prihatin atas kegagalan keluarga-keluarga dalam merayakan pendidikan yang menyenangkan. Artinya, urusan belajar atau sekolah tetap mengandung ribuan masalah, yang kita hanya mampu sedikit memberi jawaban belum tentu benar.


Apakah situasi mutakhir berbeda dengan masa lalu? Kita dapat mengetahui dari biografi-biografi yang mengungkan masa belajar di sekolah. Sejak masa kolonial sampai Orde Baru, kita memiliki bab-bab yang pasang dan surut mengenai segala capaian dalam pendidikan di Indonesia. Ada pula yang rontok dan mampet, berakibat pendidikan di Indonesia mustahil berkembang atau maju.


Yang bersabar ingin mengetahui lakon pendidikan kadang memilih membaca novel. Kita tidak wajib melulu membaca Laskar Pelangi atau Negeri 5 Menara. Ada ratusan novel di Indonesia yang bercerita pendidikan. Bagi yang membaca sastra anak pasti menemukan ratusan judul novel yang membawa kita kembali ke masa lalu, yang menguak masalah pendidikan. Di situ, kita membaca biografi anak, mutu sekolah, pribadi guru, peran keluarga, dan lain-lain.


Kini, kita ingin mengenang yang silam melalui novel berjudul Astrid: Rumah Pohon gubahan Djokolelono. Buku berukuran kecil diterbitkan Gramedia, 1987. Artinya, novel mengisahkan anak dan sekolah berlatar masa Orde Baru. Judul yang dibuat tidak mengesankan pendidikan tapi pembaca yang membuka halaman awal sampai akhir mengetahui bahwa pengarang sedang mencipta “percakapan” tentang pendidikan. Yang diceritakan mengaitkan rumah dan sekolah.


Dua tokoh penting yang diceritakan adalah Astrid dan Anto. Mereka masih menjadi murid kelas 6 di SD. Anak-anak yang sudah menghadapi banyak masalah, tidak hanya dipusingkan oleh pelajaran-pelajaran di kelas. Yang pasti, pengarang mementingkan pendidikan. Sorotan yang serius untuk mata pelajaran matematika. Kita pun memiliki pengalaman bahwa matematika itu pelajarang yang sulit. Beberapa murid malah memutuskan membenci dan melawan dengan segala cara. Pokoknya, matematika adalah penderitaan meski beberapa murid sangat menggandrungi gara-gara menyadari kenikmatan dan faedahnya dalam hidup, terutama pada masa depan.


Astrid dan teman-teman kesulitan dalam memahami matematika. Di kelas, ada murid bernama Anto yang dianggap pintar matematika. Padahal, mereka tidak mengetahui bahwa Anto mengalami derita dalam matematika. Maka, cerita yang paling seru adalah murid-murid menanggungkan harapan dan penyesalan disebabkan matematika. Maka, pelajaran di kelas tidak mencukupi. Anak-anak memerlukan mengikuti les agar mengerti matematika. Pengisahan itu mengesankan bahwa matematika memang pelajaran sangat utama dalam pendidikan di Indonesia sekaligus dunia.  


“Les matematika yang diadakan di sekolah Astrid memang berlangsung dari jam empat sore sampai setengah tujuh,” tulis Djokolelono. Kita membayangkan anak-anak menyadari waktu untuk bermain atau bersungguh-sungguh belajar matematika. Astrid mengalami kebingungan dalam memutuskan ikut les atau melakukan yang lain. Ia sadar bahwa pengetahuan matematikanya rendah. Ikut les dapat membuatnya tidak terlalu bodoh. Namun, ikut les matematika tetap memberi siksa dan bertumbuhnya masalah-masalah.


Di mata guru dan teman-teman, Anto diakui pintar matematika. Mereka tidak mengetahui bahwa pengetahuan matematika Anto itu diremehkan oleh bapaknya. Anto dianggap masih bodoh, belum mampu menguasai hal-hal terpenting dalam matematika. Jadi, keributan dan salah paham terjadi gara-gara matematika. Bapak sangat menuntut Anto agar pintar matematika. Tuntutan berdasarkan keinginan bapak agar kelak Anto menjadi ahli dalam elektorinika. Yang sangat menuntut adalah bapak, bukan guru atau kurikulum. Anto merasakan penderitaan berbarengan teman-teman mengakuinya yang terpintar matematika di kelas.


Pada mulanya, Astrid kesulitan berakraban dengan Anto. Masalah matematika perlahan mampu membuat mereka berteman yang akrab. Astrid ingin paham matematika. Anto diminta menjadi “pengajar”. Anto yang disangka “sombong” perlahan terungkap sedang mengalami penderitaan. Matematika membuat dua murid saling mengerti kehidupan, yang merujuk sekolah dan rumah. Astrid menjadi anak yang memiliki penasaran dan berusaha membuktikan tanggung jawab. Anto ingin memiliki kepribadian tapi selalu kesulitan dalam aturan keluarga dan pergaulan di sekolah.


Di sela berpusing matematika dan menghadapi masalah keseharian, Astrid dan Anto sama-sama menyukai sastra, terutama puisi. Astrid mampu menggubah puisi. Kita mengutip seperti yang terdapat dalam novel: rumah pohon/ rumah di atas pohon/ di atas pohon ada rumah/ pohon di atas rumah/ kami memohonkan rumah/ kami merumahkan pohon/ pohon kami rumahkan/ rumah kami pohonkan. Puisi ditulis berkaitan dengan pengalaman mengetahui kebiasaan Anton berada di rumah pohon. Astrid menjadi saksi sekaligus turut dalam pengalaman di rumah pohon.


Anto mengaku kesulitan dalam matematika. Ia takut kepada keinginan dan perintah bapak. Anto sebenarnya menyukai sastra, ingin menjadi penulis, bukan ahli elektronika. Maka, ia membuktikan selera dan kepekaan sastra dengan menulis puisi. Mutunya berbeda dari tulisan Astrid. Pembaca menduga bahwa puisi dapat menjadi pembebasan atau hiburan ketimbang selalu menderita.


Puisi yang ditulis Anto: Saat air matamu menitik meniti pipi/ pipi yang sepi dari sinar ceria/ kulihat di beningnya yang bagai berlian/ sejuta cerita duka sejuta cerita duka/ kulihat di beningnya yang bagai berlian/ bekunya sejuta tawa bekunya sejuta tawa/ kulihat di beningnya yang bagai berlian/ berlalu pelan perjalanan usia di awal senja/ kulihat di beningnya/ kau menangis bukan buat dirimu/ kisah yang terpampang bukan kisahmu/ iba di hatimu bukan ibamu/ kulihat di beningnya/ bayang-bayang wajahku/ sendiri. Puisi yang apik, bersumber dari pengalaman dalam keluarga.


Matematika menjadikan Astrid dan Anto akrab. Puisi sempat memicu salah paham tapi memberi harapan bagi mereka dalam menikmati hari-hari yang tidak selalu cerah. Maka, Anto memutuskan tekun menulis puisi dan menuruti hasrat menjadi pengarang. Sikap yang berlawanan dengan tuntutan bapak. Astrid tampil menjadi saksi dan berani membuktikan tanggung jawab atas masalah yang menimpa keluarga Anto. Pembaca diajak mengagumi kepribadian Astrid. Perhatian terhadap Anto memunculkan dilema-dilema pendidikan yang menautkan rumah dan sekolah. Jadi, kita yang membaca novel gubahan Djokolelono sedikit mengerti mengenai anak-anak yang tidak harus dipaksa pintar matematika dan memiliki hak merayakan hidup melalui puisi.


_______


Penulis


Kabut, penulis lepas.



Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com 


This Is The Newest Post

Terimakasih telah berkomentar!