Thursday, July 9, 2026

Esai Uwais Korni | Fans Karbit Ronaldo

Esai Uwais Korni



Nasi sudah menjadi bubur. Biar enak bubur itu ditambah tempe goreng dipotong kecil-kecil sama tahu bumbu Bali. Saya benar-benar menikmati kedukaan tersebut dengan bentuk ketololan saya yang impulsif.


Jemari tiba-tiba membuat SW tanpa setting privasi terlebih dahulu. Keluarga tahu. Teman tahu. Semua tahu. Saya mendeklarasikan diri bahwa saya sedang berduka atas kekalahan CR7 di laga akbar Piala Dunia terakhirnya melawan Spanyol.


Janji sudah tertulis jelas. Laki-laki dipegang janjinya. Mulai detik ini sampai sebulan kemudian saya tidak boleh buat SW dan PS-an. Itu janji saya.


Pertanda manusia berzakar kemungkinan besar sudah coplok telurnya adalah saat apa yang diucapkannya sebatas tong kosong nyaring bunyinya. Omong kosong tersebut dielu-elukannya. Dia bingung atas jalan pembicaraannya sendiri. Tidak jelas. Mencla-mencle.


Sudah maklum ini tanda kemunafikan. Di mana saat berbicara dia akan penuh dengan tipu muslihat. Dia pembohong. Dia seperti koruptor yang awalnya manis lisan namun akhir-akhirnya seringnya blunder.


Dia penipu. Dia mengkhianati janjinya sendiri. Dia pupuskan harapan orang lain. Amanah sudah menjadi akar yang berpisah dari buminya. Memang pantaslah orang-orang seperti ini diinjak-injak di neraka.


Membaca SW saya sendiri yang blunder itu, saya jadi parno sama bagaimana nanti pandangan teman WA saya terhadap saya. Apalagi ini tentang kejujuran seseorang.


Apakah saya akan membohongi diri sendiri dan orang lain?


Apakah saya akan mengerdilkan janji yang agung itu?


Apakah saya akan mengkhianati amanah tersebut?


Saya sudah pendosa sejak kecil, bahkan mungkin sampai tua nanti. Namun saya sadar diri. Pola pikir bertumbuh, saya rawat semaksimal mungkin. Sampai pada satu kesimpulan, saya tidak akan pernah mengecewakan diri saya sendiri dengan mempunyai tiga sifat kemunafikan di atas.


Saya anti dengan kebohongan. Jika berjanji, betul-betul akan saya laksanakan. Dan amanah yang dibebankan kepada saya, tidak akan saya berkhianat kepada siapa pun itu.


Hasilnya, dalam konteks ini saya akan puasa buat SW selama sebulan. Saya juga puasa main PS selama sebulan.


FOMO atas berita-berita yang saya lihat di reels FB, akhirnya saya putuskan untuk berduka lewat esai singkat ini. Di sana terpajang Neymar kalah melawan Norwegia. Erling Haaland melaju pesat menuju puncaknya. Neymar menangis tersedu-sedu dibuatnya.


Luca Modric tersungkur dijegal Portugal, sedangkan Ronaldo kalah melawan Lamine Yamal.


Dan masih banyak lagi pemain bintang lainnya yang diadu, seperti Messi, Vozinha, Mbappe, dll.


Saya FOMO sebab informasi semua ini bersifat seketika. Saya tidak kenal semua pemain itu secara detail. Saya memainkannya di PS bukan sebab menjadi pendukung fanatik klub. Saya hanya main-main saja. Main terus tahunya.


Saat saya lihat sepak bola di televisi, saya mendukung tim yang lebih dominan. Atau lebih tertarik kepada tim yang banyak pemain bintangnya. Saya fans karbit. Tidak mengenal semua itu secara berlebihan. Hanya suka menonton pertandingan secara keseluruhan, bukan sedetail-detailnya.


Tapi kali ini berbeda.


Ronaldo yang sekarang jauh berbeda dengan Ronaldo yang dulu. Di zaman saya ngerental PS, sudut pandang saya terhadap Ronaldo adalah sosok pemain yang gesit lagi tajam tembakannya. Dia dimainkan. Bukan dicari tahu siapa dia.


Saya fans karbit kagum akhir-akhir ini. Sungguh telat dalam mengidolakannya. Benar-benar telat.


Saya tidak tahu perjalanan karirnya di dalam sepak bola seperti apa. Susahnya dia menghadapi pemain-pemain liga Inggris yang ganas itu, yang seakan-akan berambisi untuk mematahkan kedua kakinya itu.


Di klub yang lain juga sama.


Saya tidak mengikuti satu-satu pertandingannya. Saya, sekali lagi, fans yang FOMO hanya karena Ronaldo sering nongol di beranda reels FB yang menampilkan keteguhan hatinya menerima kekalahan yang tipis itu saat melawan Spanyol di piala dunia tahun ini.


Setidaknya saya tidak akan pernah kecewa atas janji saya tersebut. Janji yang dadakan berjanji. Janji yang benar-benar harus ditepati. Itu disebabkan pura-pura gila di dalam mengidolakan sosok CR7.


Saya sungguhan stop buat SW lagi sebulan penuh. Saya dilarang main PS sebulan penuh. Sekali lagi, laki-laki memang harus diperhatikan betul-betul atas apa yang telah dan akan diucapkannya itu. Saya blunder parah.


Namun meskipun begitu, saya tidak akan merasa kecewa mengidolakannya sekalipun baru-baru ini juga saya mengidolakannya. Mengidolakan seseorang, apakah harus memang dari awal perjuangan?


Ada hikmah di balik itu semua. Adakalanya hal-hal normal di masa kecil akan terasa agung saat kita sudah dewasa. Seperti Ronaldo ini, adalah hal yang biasa-biasa saja di rental PS bagi anak kecil. Namun akan jauh berbeda saat dilihat dari sudut pandang penggemarnya yang dewasa.


Seperti ini pula, hikmahnya adalah jika Portugal memenangkan melawan Spanyol, apakah akan ada esai ini?


Mungkin ini yang dimaksud bahwa apa pun itu pasti ada hikmahnya. Tinggal kita sendiri mau mencari tahu atau mau tidur berselimut tahi. Ah, sudahlah. Fans karbit tak perlu banyak bicara. Nanti blunder lagi.


_______


Penulis


Uwais Korni lahir di kawasan YPPRN dengan nama panggilan Mas Didin. Mulai latihan menulis sejak 2014 sampai seterusnya.


Kirim naskah ke

redaksingewiyak@gmail.com

Terimakasih telah berkomentar!