Senin, 20 September 2021

Karya Guru | Shasi | Cerpen Euis Damarwati

 Cerpen Euis Damarwati



Sejak usia lima tahun, Shasi harus rela tinggal berdesakan di Rumah Singgah milik Pemda. Kini gadis itu sudah berumur sepuluh tahun jalan dua bulan dan duduk di kelas empat SD Mentari di Jakarta Timur. Shasi yang anak yatim piatu itu belum pernah merasakan kasih sayang utuh dari kedua orang tuanya. Ketika masih dalam kandungan, ayahnya entah ke mana dan ibunya telah tiada karena sakit.


Saat Shasi berusia lima tahun, ibunya berpulang. Sejak itulah ia ditampung di Rumah Singgah yang kebetulan dikelola beberapa orang tetangganya sampai sekarang. Shasi merasa betah berada di Rumah Singgah itu namun kerinduannya akan sosok seorang ayah terutama ibu membuatnya sedih.


Tugas Shasi selain bersekolah, juga merawat rumah dan membersihkannya sehingga nyaman dihuni dan dikunjungi. Setelah itu, Shasi hanya membaca buku dan majalah di Ruang Baca yang ada di Rumah Singgah itu. Meski ia harus berkali-kali membacanya sampai bosan. Masalahnya, belum ada lagi buku atau majalah baru yang disumbang oleh warga.


Untuk mengatasi kerinduannya kepada sosok ibu atau ayah, gadis cilik berjilbab itu memelihara tiga ekor kucing di halaman Rumah Singgah. Bahkan beberapa ekor kucing liar yang kadang lewat, ia berikan air minum atau sekadar makanan juga. Ia rela bila harus menyisakan jatah makannya buat kucing-kucing liar itu. Adapun tiga ekor kucingnya sudah mendapat jatah makan dari para pengelola Rumah Singgah itu.


Meski hidup serba prihatin, namun sungguh Shasi merasa bersyukur bisa ditampung di sana. Toh, ia pun rajin bekerja sehingga semua urusan menjadi lebih cepat selesai. Ia juga rajin beribadah sehingga predikat anak baik melekat erat padanya.


Sampai suatu ketika datanglah ujian itu. Sepulang sekolah, ia mendapati bangunan Rumah Singgahnya telah roboh. Beberapa alat berat dan petugasnya tampak masih sibuk meratakan bangunannya. Shasi terkejut dan bergegas menghampiri para induk semangnya yang tampak menangis di sudut rumah. Hanya satu yang ia cemaskan yakni nasib adik-adiknya! Maksudnya, si Ama, Ami , dan Amo, kucing peliharaannya. Tentu saja ketiganya ada dan tampak berada di dekat mereka. Shasi segera memeluk ketiga kucingnya dan membawanya masuk ke rumah tetangga sebelahnya.


Ujian yang teramat berat. Rumah Singgah itu dirobohkan petugas karena bersengketa dengan pihak lain. Ada pun mereka diminta pindah ke Bekasi. Di kota itu sudah ada bangunan kosong menantinya. Yang membuat mereka sedih adalah karena hal itu begitu mendadak. Tanpa ada secuil pun surat pemberitahuan.


Tetapi hidup harus terus berjalan. Mereka semua pindah ke Bekasi dan Rumah Singgah yang baru pun mereka tempati. Bangunannya lebih luas dan tertata namun entah mengapa Shasi tidak betah di sana. Teman-temannya pun demikian. 


Shasi menitipkan ketiga ekor kucingnya kepada tetangga sebelah rumah lamanya yakni Ustaz Farid dan istrinya sebab memindahkan hewan tidak bisa asal. Harus dipersiapkan dengan baik supaya mereka tidak sakit atau stres. Inilah cara yang baik, tidak seenak napsunya saja. Bagaimana pun hewan tak sama dengan manusia.


“Ini kandang buat si Ama dan kawan-kawannya, Shasi. Akhirnya kita bisa membelinya sekaligus tiga, syukurlah!” kata Mama Dedeh, salah satu induk semangnya.


“Terima kasih, Mama,” Shasi bergegas membawa kandang-kandang itu ke kamarnya. 


Di sana ia mengalasinya dengan kertas koran dan kain-kain tak terpakai. Di kamar yang mungil namun sangat bersih itu, Shasi tidur sendirian. Biasanya dia sekamar dengan dua kawannya namun sejak ada rencana kucing-kucingnya mau didatangkan ke Rumah Singgah itu, maka dua kawannya pun pindah kamar lain. Toh, di rumah itu kamarnya berjumlah lebih banyak.


Shasi bersemangat bila sudah begitu. Dipelnya berkali-kali lantai semen kamarnya sehingga licin. Hampir tiada secuil pun noda di sana. Benar-benar kamar yang bersih dan nyaman. Dia membayangkan akan merasa betah bila sudah ada ketiga kucingnya nanti.


Shasi dikenal sebagai anak yang baik, penyayang binatang dan tanaman. Pokoknya lingkungan hidup. Dia rela berkorban demi menolong hewan yang kesusahan, bagaimana pun caranya. Ia merasa sunah Nabi adalah menyayangi hewan, khususnya kucing. Bukan hanya kucing, kera kelaparan pun ia tolong. Ia membeli sesisir pisang buat kera itu. Kemudian, seekor anjing yang kehausan pun dia berikan secawan air. Tanaman yang meranggas pun tak terkecuali dia bantu walau dia harus rela merogoh sakunya lebih dalam.


Shasi begitu yakin, dengan bersedekah yang tak hanya kepada manusia, akan membuat hidupnya berkah dan diberi kelancaran rezeki. Padahal Shasi sendiri pun anak yang harus dibantu karena ia seorang yatim piatu.



Penulis














Euis Damarwati, S.S., guru di SMK Global Persada Bekasi dan SMP Assadiyyah Bekasi.