Senin, 20 September 2021

Sosok Inspiratif | Miftahul Islam | Penggagas Forum Mahasiswa Pontang-Tirtayasa


Miftahul Islam, dilahirkan 16 Oktober 1992 di Desa Pegandikan, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang. Kesehariannya mengabdi sebagai guru Bahasa Indonesia dan Jaseng di SMP Negeri 1 Ciruas. Miftah adalah alumnus FKIP Pendidikan Bahasa Indonesia Untirta. Di tanah kelahirannya, ia mendirikan sebuah organisasi primordial: Forum Mahasiswa Pontang-Tirtayasa (FMP).


Semasa berkuliah, Kang Miftah (sapaan akrabnya) adalah seorang aktivis muda dengan segudang pengalaman berorganisasi. Hal ini dibuktikan dengan beberapa organisasi yang pernah diikutinya dan menduduki posisi penting di dalannya: Ketua BEM FKIP Untirta (2015), Anggota Kehormatan Ikatan Mahasiswa Keguruan dan Ilmu Pendidikan Seluruh Indonesia (IMAKIPSI) (2015--2017), Ketua Bidang Sosial dan Keagamaan IKA FKIP Untirta (2019--sekarang) dan masih banyak pengalaman lainnya.


Berangkat dari keresahannya akan ketiadaan suatu wadah organisasi untuk menaungi mahasiswa Pontang-Tirtayasa dalam berkegiatan, terlebih pada masa itu ia merasa banyak orang-orang yang memandang “sebelah mata” para mahasiswa Pontang-Tirtayasa, Kang Miftah--bersama beberapa temannya-- menggagas organisasi FMP.  Kang Miftah bermaksud membuat "rumah" untuk saling menyalurkan dan mengembangkan potensi yang ada dalam diri mahasiswa Pontang-Tirtayasa.


Untuk lebih jelasnya, Redaksi berkesempatan ngobrol santai dengan Kang Miftah selaku pendiri Forum Mahasiswa Pontang--Tirtayasa yang dideklarasikan 11 September 2017 tersebut. Berikut jawaban yang beliau sampaikan dengan renyah bin gurih.



1. Apa sih hal urgen yang melatarbelakangi Kang Miftah mendirikan FMP?


Sekurang-kurangnya ada dua alasan fundamental yang melatarbelakangi pendirian FMP. Pertama, pada saat itu, belum ada organisasi yang menaungi mahasiswa asal daerah Pontang dan sekitarnya yang berkuliah di Untirta. Sedangkan jika melihat daerah-daerah lain, sudah ada sebuah organisasi primordial di Untirta yang mengakomodir mahasiswa-mahasiswa asal daerahnya masing-masing. Kedua, daerah Pontang dan sekitarnya dianggap oleh orang-orang kampus sebagai daerah yang tertinggal. Mahasiswa dari daerah lain bahkan tidak mengenal nama daerah di sekitar Pontang seperti Tirtayasa (tempat Sultan Ageng Tirtayasa hidup dan dimakamkan--padahal nama kampus Untirta mencatut nama Sultan Ageng Tirtayasa), Tanara (Tempat kelahiran dan tinggalnya Syekh Nawawi al-Bantani--seorang ulama termasyhur yang namanya sangat tidak asing bagi kalangan Muslim di Indonesia, bahkan dunia). Mahasiswa daerah lain mengenal kita sebagai "Orang Pontang" yang terkenal sebagai "Orang yang mandi-cuci-baju-buang-kotoran di sungai". Hal itulah yang kemudian menjadikan FMP secara eksistensi disebut sebagai organisasi yang menaungi mahasiswa-mahasiswa asal Pontang--meskipun secara domisili bertempat tinggal di luar sekitar Pontang.



2. Apakah sekarang FMP sudah mempunyai komisariat lain selain di Untirta, Kang?


Alhamdulillah FMP sekarang sudah terbentuk empat komisariat: Untirta, ITERA, UIN Banten dan UPG. 



3. Biasanya kegiatan di FMP tuh seperti apa ya Kang?


Ada banyak kegiatan yang sering diadakan oleh FMP, seperti kegiatan sosial, pengabdian, kajian-kajian, kelas intelektual dan lain-lain.



4. Terakhir, adakah pesan yang ingin disampaikan kepada pemuda Pontang-Tirtayasa khususnya para mahasiswa mengenai pergerakan mahasiswa dan aktualisasi diri sebagai mahasiswa untuk mengembangkan potensi yang daerahnya?


Yang namanya mahasiswa sejatinya adalah agent of change di mana ia merupakan sosok pembawa perubahan. Oleh karena itu, penting bagi seorang mahasiswa untuk berbaur dengan masyarakat. Apalagi dengan adanya kata "mahasiswa" yang melekat kepada dirinya harus menunjukan bahwa ia adalah kaum intelektual. Ia harus mampu mengimplementasikan ilmu yang sudah ia dapatkan selama duduk di bangku perkuliahan. Contohnya jika ia merupakan mahasiswa dibidang pendidikan, ia bisa mengimplementasikan ilmunya untuk kemajuan pendidikan di daerahnya tersebut, seperti ia bisa membuat suatu program yang bertujuan mencerdaskan para generasi yang ada di daerahnya itu. Kemudian sebagai pemuda, ia juga harus bisa menyesuaikan diri akan keadaan yang ada di masyarakat dan cepat tanggap akan isu-isu yang beredar di sekitar masyarakat.



(Anggun Tirta Rani, Tukang Nanya di Ngewiyak)