Kamis, 23 September 2021

Cerpen John W. Jakes | Cerita Paling Seram

Cerpen John W. Jakes



Ini ruangan yang sangat biasa. Ada empat dinding, langit-langit, dan lantai. Tetapi ini ruangan baru bagi Thompson karena ia tidak pernah melihat sebelumnya. Ia berdiri santai, mengamati ruangan tersebut. Ada sebuah meja di tengah-tengah ruangan. Meja itu berwarna abu-abu, tetapi Thompson tidak dapat mengenali terbuat dari apa meja itu. Seorang Bapak Tua berjanggut tipis duduk di balik meja tersebut. Sebuah lilin menyala di wadah yang terbuat dari kuningan di atas meja.



"Permisi," ujar Thompson.


Bapak Tua itu melihat Thompson. Ia menatap Thompson lama sekali. Malah, Thompson sampai tidak ingat kapan Bapak Tua itu tidak melihatnya.


"Kau suka cerita horor, baiklah," kata Bapak Tua itu. "Makanya kau ke sini. Semua orang di dunia ini menyukai cerita horor yang seru setidaknya sekali seumur hidup."


"Ya," ujar Thompson dengan kelegaaan samar, "kurasa itu alasanku ke sini."


"Baik," kata Bapak Tua itu. Tangannya menggapai ke bawah meja. Ke mana, Thompson tidak tahu. Tidak kelihatan begitu saja. Tidak ada tarikan laci. Lalu tangannya muncul lagi, memegang sebuah kartu berwarna putih. Lalu kedua tangan itu menghilang lagi. Kali ini kedua tangan itu memegang pulpen yang ujungnya terbuat dari besi saat muncul kembali. Ada tinta di dalam pulpen itu. Tinta itu bersinar dengan kilau kebiruan dalam cahaya lilin.


"Nama?" kata Bapak Tua.


"James Thompson."


"Lahir?"


"Tiga Maret, sembilan belas nol dua. Apakah ini penting?"


Bapak Tua itu tampak kesal. "Tentu saja. Kami harus mencatat semua data, agar kau bisa menjadi anggota penuh."


"Anggota penuh apa?" tanya Thompson. Ia memperhatikan bahwa pulpen itu tampak selalu penuh tintanya.


"Klub Buku Horor, tentu saja," jawab Bapak Tua. Ia menggores kartunya dengan pulpen, menulis semua informasi yang Thompson berikan. Lalu Bapak Tua menaruh kartu dan pulpennya di bawah meja. Kedua tangannya kembali kosong.


"Semuanya sudah diurus," ujar Bapak Tua. "Kau sudah diterima."


"Benarkah?" kata Thompson nyaring. Ia mulai heran apakah keanggotaan klub ini eksklusif. Lilinnya terus menyala, tetapi ukurannya tetap sama.


"Hm, buku jenis apa yang ada di sini? Maksudku, bisakah kau beri tahu beberapa judulnya? Dracula, Frankenstein, atau semacamnya?"


Bapak Tua tertawa lagi, kali ini seperti mengomeli anak kecil yang sangat bodoh. "Oh, tidak, Tuan Thompson. Kami menyajikan kisah horor sungguhan dan nyata. Kami tidak pernah menggunakan produk bekas."


Kedua tangan Bapak Tua itu ke bawah meja lagi. Thompson heran apakah ini semacam permainan. Kedua tangan itu kembali ke atas meja membawa sebuah buku. Bukunya tipis, ukurannya sekitar tiga puluh sentimeter persegi. Sampulnya berwarna putih. Jari-jari Bapak Tua meraba sampul buku yang telah diletakkan di atas meja.


"Kulit manusia," kata Bapak Tua dengan ceria. "Sampul yang sangat bagus."


"Hmm … ya," ujar Thompson. Ia melirik sampul itu. Dengan huruf balok di sampul itu tertulis, Cerita Paling Seram di Dunia. Dengan huruf yang lebih kecil, di sudut kanan bawahnya, tertulis, James Thompson, 3 Januari 1953.


"Oh, itu, kan, hari ini," ujar Thompson.


Bapak Tua melambai. "Sebuah formalitas. Kami selalu mencatat di buku ketika ada anggota baru yang bergabung. Agar tidak hilang."


"Oh," ujar Thompson. "Apakah aku ... baru saja mulai membaca?"


Bapak tua itu menggelengkan kepalanya dan ia bangun dari duduknya. Ia mengambil buku itu dengan salah satu tangannya, dan tangan yang satunya memegang lilin. "Aku akan mengantarmu ke salah satu ruang baca kami. Kami menyediakan ruang baca istimewa untuk digunakan para anggota kami."


Thompson tidak berkomentar. Ia mengikuti Bapak Tua itu. Mereka masuk melalui sebuah pintu masuk di salah satu dinding yang tidak pernah Thompson lihat sebelumnya. Tetapi pintu itu ada di sudut yang redup, sulit untuk melihat dengan jelas.


Mereka berjalan menuruni lorong yang panjang. Di setiap sisi lorong terdapat pintu-pintu yang tertutup. Cahaya lilin menciptakan bentuk-bentuk bayangan yang bergerak di dinding.


"Jeritan apa itu?" tanya Thompson, sedikit bingung. "Kedengarannya berasal dari balik pintu-pintu ini."


"Benar," jawab si Bapak Tua. "Ini adalah Klub Buku Horor, kau tahu. Semua anggota kami memiliki minat yang aktif dalam bacaan mereka. Mereka berpartisipasi. Mereka ketakutan. Ini sungguh buku yang horor, bukan?"


"Begitukah?" Thompson merasakan bulu kuduknya mulai berdiri. Tiba-tiba keheranan baru menyerangnya. "Apakah itu satu-satunya buku yang kau bawa?"


"Ya," jawab Bapak Tua itu. "Kami membuat banyak edisi. Ini cerita yang paling seram di dunia, kau mengerti. Yang paling seram yang pernah diketahui seseorang. Oleh karena itulah semua anggota kami membacanya."


Lorong itu tampak panjang tak berkesudahan. Pintu-pintu berlalu. Jeritan-jeritan semakin samar, jeritan-jeritan baru muncul menggantikan. "Kapan tempat ini tutup?" tanya Thompson.


"Aku berada di sini setiap saat," kata si Bapak Tua. "Anggota baru selalu berdatangan. Mereka biasanya tinggal cukup lama. Bukunya sangat menarik."


"Pasti," ujar Thompson.


Akhirnya mereka tiba di sebuah pintu. Bapak Tua itu berhenti. Ia terlihat menarik pintu itu dan pintunya terbuka, padahal tidak ada pegangan pintu. Ia mempersilakan Thompson masuk.


Di ruang baca itu terdapat sebuah kursi dan sebuah meja. Di atas meja terdapat sebatang lilin yang belum dinyalakan. Si Bapak Tua menyalakan lilin itu dari lilin yang dibawanya.


"Sederhana," ujar Bapak Tua, menjelaskan ruangannya. "Tetapi berfungsi. Kau hanya perlu menikmati sebuah cerita horor."


"Oh, terima kasih," Thompson tergagap. Bapak tua itu meletakkan bukunya di meja. "Apakah ... hm ... apakah aku perlu membayar atau memberi tip?" tanya Thompson canggung.


"Oh, tidak. Para Pendiri sudah mengurusnya."


"Hm, para pendiri. Masih hidupkah?"


"Oh, tentu."


"Pasti mereka menyukai cerita horor, membuat tempat seperti ini."


"Mereka memang menyukainya," Bapak Tua meyakinkan Thompson. "Baiklah, semoga kau suka bukunya."


Bapak Tua itu berjalan keluar dan menutup pintu. Thompson mengatakan, "Baiklah," sebanyak dua kali, melihat bahwa tidak ada yang mendengar, ia tertawa kecil dan duduk di kursi. Ia mengambil buku itu, bulu kuduknya berdiri sekali lagi. Ia pun mulai membaca.


Ceritanya sangat pendek. Ia menyelesaikannya hampir sekejap mata. Dan cerita ini memang benar-benar seram. Terlalu seram malah. Ia menutup bukunya dan bangkit. Wajahnya terasa sangat pucat. Ia pergi menuju pintu. Ia berusaha membukanya. Pintunya tidak mau terbuka.


"Bapak," panggilnya. "Bapak, Pak." Ia berteriak memanggil Bapak Tua itu dan tidak berhenti untuk memikirkan teriakan-teriakan lainnya yang terdengar di lorong. Ia berharap Bapak Tua itu datang, dan akhirnya datang.


Suara Bapak Tua terdengar melalui pintu, "Ya?"


"Aku tidak suka buku ini," kata Thompson.


Bapak Tua tidak berkata apa-apa.


"Dan pintunya terkunci. Aku mau keluar."


"Tidak bisa."


"Apa maksudmu tidak bisa? Lagipula tempat macam apa ini?" nada bicaranya mengancam, marah, dan lemah.


"Kau sudah menjadi anggota sekarang." Ini sudah final.


Thompson merasa Bapak Tua itu sudah pergi. Ia berteriak, "Bapak! Pak!" Tidak ada jawaban. Thompson kembali ke meja. Perutnya mulas. Ia membuka buku itu. Ia membaca lagi ceritanya. Ia tidak tahan untuk tidak membacanya. Ada semacam daya pikat pada buku itu. Ia mulai melihat horor yang sesungguhnya dalam cerita itu.


Setelah membaca lagi untuk yang kelima kali, ia mulai menjerit. Semua orang menjerit. Jadi, mengapa ia tidak? Lagi pula, ia terhanyut dalam cerita itu, perutnya terasa dingin. Lilinnya terus menyala, tetapi ukurannya tetap sama.


Matanya menunjukkan tatapan ekspresi kemarahan ketika seluruh makna dari apa yang ia baca memenuhi pikirannya. Kemudian ia menjerit, dan terus menjerit ....


Ia menjerit dan membaca secara bergantian. Dan setiap kali ia membaca, ceritanya semakin seram. Keseraman cerita horor ini terlalu luas untuk direnungkan.


Ia tidak merasa lapar, haus, atau mengantuk. Ceritanya terlalu seram.


Thompson berhenti menjerit dan membuka bukunya lagi, mungkin untuk ribuan kalinya. Ia sudah mengantisipasinya sekarang, mengantisipasi jeritan yang akan ditimbulkan.


Lilinnya terus menyala. Thompson membaca cerita dari buku bersampul kulit manusia yang bertuliskan namanya itu. Dia membaca dengan sangat cepat. Ceritanya sangat pendek.


Kau sudah mati.

 

___

Ket:

Naskah asli berjudul The Most Horrible Story karya John W. Jakes dan diterjemahkan oleh Nisa Khoiriyah dengan judul Cerita Paling Seram.



Biodata
















Penerjemah bernama lengkap Nisa Khoiriyah, atau lebih akrab disapa Icha. Lahir di Pandeglang dan berdomisili di Cilegon. Karya-karya terjemahannya sudah diterbitkan oleh penerbit BasaBasi dan Bhuana Ilmu Populer (BIP) Gramedia.