Sabtu, 11 September 2021

Cerpen Ken Hanggara | Anjing Tak Bertuan

  Cerpen Ken Hanggara



Seekor anjing duduk di depan gedung apartemen bobrokku sore ini. Kupikir tidak ada yang merawat binatang di sini. Lagi pula, itulah aturan yang harus ditaati sebelum pindah kemari: Anda dilarang membawa binatang jenis apa pun masuk dalam gedung, bahkan sekadar membawanya ke lapangan parkir.


Entah siapa orang yang cukup bodoh untuk siap diusir demi seekor anjing.


Anjing itu memiliki kalung, tapi tidak ada nama tertera. Ia duduk di gerbang masuk, yang berbatasan dengan tempat parkir. Para penghuni mayoritas tak memiliki kendaraanAndai suatu malam halaman parkir menampung mobil para tamu yang kebetulan harus menginap, tempat itu tetap tampak luas.


Aku sendiri ada mobil bekas, dan hampir pasti tak akan kubawa ke bengkel sampai ia benar-benar rusak. Selain aku dan sedikit penghuni atau tamu, tak ada yang melewati lorong samping gedung dan area parkir. Sesekali sepasang kekasih yang entah berasal dari mana yang memarkir mobil, tapi aku tahu mereka tidak sesering itu keluar. Karena tidak ada mobil lain selain yang kuperhatikan sejak tadi pagi di tempat parkir, kupikir belum lama seseorang datang membawa anjing ini dan ia bukan penghuni bermobil.


“Tunggu sampai pengelola gedung melihatmu duduk di sini, Bung,” begitu kataku pada si anjing, yang mendadak berdiri, hingga membuatku sedikit kaget. Ia tidak terlihat marah, kalau memang ingin menggigitku. Ia justru terlihat sangat antusias, dan lucunya, ia mengikutiku.


Aku tidak terlalu nyaman dibuntuti seekor anjing. Ada trauma kecil dari masa lalu akibat dikejar anjing yang mendapatkan sakit akibat peluru plastik dari pistol mainan temanku. Aku saat itu kurus dan tak tahu apa-apa soal anjing, kecuali bahwa hewan itu menyukai tulang. Jadi aku lari sekuat tenaga, lari dan terus lari, dan untunglah anjing itu berhenti mengejarku sebelum tenagaku habis. Karena itulah aku tak pernah memelihara anjing atau berdekatan dengan binatang itu.


Kalaupun ada kesempatan untuk mengubah takdir dari masa laluku, dan aku tidak pernah berlari sedemikian hebat hanya karena takut diserang seekor anjing, aku juga tak mungkin memelihara anjing dalam kondisiku saat ini. Menyewa apartemen bobrok yang memiliki aturan tentang binatang piaraan jelas bukan pilihan yang bagus, tapi jika kau tak memiliki bayaran bagus dan terpaksa menetap di sebuah distrik di mana tak tersedia kamar-kamar sederhana untuk disewa harian, itulah yang terjadi: tak ada anjing dalam hidup. Lagi pula, binatang apa pun hanya akan memberiku beban dan tanggung jawab. Sejujurnya, aku tak siap untuk itu. Mengurus diri sendiri saja merepotkan.


Maka, kuusir anjing itu. Tapi, ia terus membuntuti, bahkan menyejajari langkahku. Jarak pintu depan dan lorong samping apartemen di mana kini diriku berada lumayan jauh, jadi kusempatkan berlari. Anjing itu tak berhenti mengejar seperti anjing dari masa lalu.


“Apa maumu? Siapa pemilikmu?” tanyaku dengan kesal.


Ia hanya menjulur-julurkan lidah, menatap tepat pada mataku dengan tulus. Entah, aku tidak tahu apa tatapan begitu bermakna tulus untuk sebagian besar anjing di muka bumi. Aku tak tahu apakah kesan tulus seseorang atau setiap orang di semesta ini sama persis dengan kesan tulus yang dirasakan seluruh anjing yang pernah hidup. Tapi, itulah yang kupikirkan saat menerima tatapannya.


“Aku tak bisa membawamu masuk. Tunggu di sini sampai pemilikmu datang.” 


Itu yang kubilang sebelum menutup pintu masuk setelah dengan susah payah aku dorong moncong anjing itu dengan sepatuku agar tak lagi mengikuti.


Sore itu, seperti biasa, tak ada sesuatu yang terjadi di dalam gedung, kecuali suara berisik seseorang dari lantai atasku yang bertengkar hebat dengan istrinya. Itu sungguh biasa terjadi. Para penghuni lain terlalu kebal kupingnya, dan aku juga sama tak peduli. Kelak mereka juga akan pindah dari sini.


Namun, pikiranku salah. Sore itu terjadi peristiwa yang tak biasa, karena pengelola gedung tahu keberadaan si anjing tersebut. Lelaki itu entah baru saja datang dari mana; kuduga ia baru kelar berurusan dengan pelacur di tepi pantai, si wanita jalang dengan tato babi di lengan kiri dan bergigi gingsul yang kerap merokok di depan gerbang. Oh, ya, pengelola gedung belum pernah berkeluarga dan tampaknya tak mau terikat dengan istri dan anak-anak, kecuali sesekali membawa wanita bertato kemari, lalu menindihnya di salah satu kamar kosong, atau kadang lelaki itu tak terlihat di sini dan para penghuni lain, seperti diriku, tahu belaka mereka bersenang-senang di tepi pantai, tempat di mana si pelacur itu biasa mencari uang. Tentu saja si pengelola bangunan marah besar melihat si anjing, meski kemarahannya tampak tak terlalu buruk seperti ketika dulu memergoki sepasang kekasih berpesta dengan teman-temannya yang masih muda di lantai teratas dan ia terpaksa mengusir mereka karena cemburu tak pernah terlibat dalam pesta-pesta macam itu.


Si pengelola marah karena tidak bisa menemukan siapa si pembawa anjing tersebut. Tak seorang pun mengaku setelah kami, para penghuni yang berjumlah dua belas orang, dikumpulkan, disuruh berbaris di tempat parkir selaiknya murid-murid sial yang tidak patuh pada guru, sementara tak seorang pun mengusulkan cara lain yang lebih normal. Misalnya, menanyai kami di tempat masing-masing, tak mengumpulkan kami di bawah sini.


Sementara kami berbaris menunggu keputusan si pengelola bangunan, anjing sial itu tak henti menatap mataku, meski jarak kami lumayan aman; ia duduk di dekat keran air rusak, dekat ruang kecil tempat sapu dan pengki dan tong sampah lama disimpan. Itu adalah area yang jarang disentuh manusia, bahkan sama sekali tak disentuh sejak empat tahun terakhir, ketika aku pertama kali datang kemari. Entahlah.


Selagi si pengelola mengoceh panjang lebar tentang kebenciannya pada binatang apa pun, aku malah menatap balik mata anjing tersebut. Bola mata seekor binatang yang terlihat bening dan tulus. Apbenar setiap anjing di seluruh dunia sepakat jenis tatapan begitu bermakna tulus?


Sepasang suami istri yang sering bertengkar diizinkan kembali, karena pengelola percaya bukan mereka yang memelihara anjing diam-diam. Menurutnya, mereka terlalu sibuk dengan urusan rumah tangga, jadi tidak akan sempat memelihara anjing.


Perhatikan perbedaannya: memelihara anjing diam-diam di sini berbeda dengan membawa anjing diam-diam ke sini. Sungguh berlebihan jika dirimu percaya seseorang menipu si pengelola hanya demi menyembunyikan anjing sebagai teman, dan sekaligus mendapat uang sewa murah demi bertahan hidup di kota yang kejam. Tapi, menurutku, itu tidak mungkin. Aku tahu penghuni di sini bukan jenis orang yang sesabar, sesadar, dan seteliti itu. Lihat wajah-wajah mereka. Hiruplah napas dalam-dalam dan kau akan dapati bau orang-orang yang tidak punya kesadaran yang baik untuk menyembunyikan anjing, kecuali semua anjing di seluruh dunia dilahirkan sediam dan setenang batu.


Nyaris tiap penghuni di sini orang-orang yang gemar mabuk sampai melebihi batas tertentu dan tak jarang mereka harus menginap di penjara atau rumah sakit di saat-saat yang sial. Aku tahu betul, karena meski tidak peduli pada mereka, aku adalah pengamat dan pendengar yang disiplin. Segala hal yang ganjil pasti akan tertangkap oleh mata dan telingaku, walau kadang terlambat.


Karena belum juga ada yang mengaku, si pengelola apartemen itu bersumpah tak akan ragu menembak mati anjing tersebut nanti malam. Ia memberi peringatan terakhir, lalu kami diperbolehkan bubar.


Seorang di antara kami menyeletuk, 


“Mungkin di tepi pantai tadi ia tak mendapat yang diharapkannya. Jadi kini melampiaskan kekesalannya pada sesuatu. Anjing yang malang.”


“Bukankah lelaki menyedihkan itu memang selalu begitu?” sahut tetanggaku yang lain.


“Oh, ya?”


“Ya. Kau tak dengar cerita-cerita lucu dari mulut pelacur itu? Lagi pula tiap malam ia juga selalu mengoceh karena kemampuannya yang payah, sementara hasratnya terlalu besar. Kalian yang tinggal di lantai-lantai atas mana tahu? Sungguh, aku iba pada lelaki itu. Sampai kapan ia begitu?”


Aku tak menanggapi omongan tersebut, begitupun beberapa penghuni lain. Kami berjalan hingga berpisah lantai masing-masing. Sejak kembali ke tempatku, aku sangat penasaran. Anjing itu ditembak? Mungkin benar terwujud. Mungkin sekadar gertakan. Jika anjing itu ditembak mati, tak akan ada yang bermasalah di sini. Tak akan ada yang peduli.


Esoknya aku tak mendengar ocehan si pengelola yang kerap sesumbar akan hal-hal yang kadang tak sesuai fakta; contohnya tentang si pelacur gingsul yang konon katanya kerap merindukannya. Pagi itu aku menjumpainya dengan wajah masam, tanpa omong kosong apa pun tentang anjing, bahkan tanpa sepatah kata.


Di pagi yang sama, aku tak mendengar pertengkaran dari atas. Entah pria itu pergi ke mana. Mungkin ke tempat selingkuhannya. Anjing itu juga tak ada. Mungkin anjing itu milik si selingkuhan, yang dibawa kemari, entah oleh apa. Tak ada yang tahu, dan lagi-lagi, tak ada yang peduli.


Kehidupan di apartemen kembali ke jalur lama: terlingkupi ketidakpedulian sampai kiamat terjadi dan menghancurkan seluruh semesta. 


Gempol, 2020--2021



______

Biodata Penulis 

Ken Hanggara, lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis cerpen, novel, esai, puisi, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-hara (2018). Segera terbit buku kumpulan cerpen terbarunya berjudul Pengetahuan Baru Umat Manusia.