Kamis, 23 September 2021

Esai Yudi Damanhuri | Dari Don Quixote sampai Anniesa Hasibuan

  Esai Yudi Damanhuri



Karya sastra tercipta atas serangkaian peristiwa yang terbungkus dalam suatu cerita dan tentunya tidak akan pernah lepas dari dunia kehidupan sang pengarang. Terlepas dari diktum Roland Barthes dalam The Death Of Author (Routledge, 1977) dan apologi dari salah seorang Sastrawan Indonesia Maman S. Mahayana Pengarang Tidak Mati (Nuansa, 2012), penulis akan mengajak pembaca berselancar ke dalam dua fragmen yang berbeda, antara fiksi dan nonfiksi, perbedaan masa dan kemiripan kejadian.


Sebuah karya sastra yang berbentuk novel, Don Quixote karangan Miguel de Cervantes Saveedra (1547-1616) menceritakan bangsawan tua asal Spanyol yang terobsesi menjadi seorang ksatria hebat. Berangkat dari kegemarannya membaca buku-buku roman Abad Pertengahan, ia sering berimajinasi—atau berkehendak—menjadi ksatria yang hidup ratusan tahun sebelumnya. Abad pertengahan ditandai dengan jatuhnya Imperium Romanum (Kekaisaran Roma) tahun 476 hingga awal Renaisans, abad ke-14. Pada zaman itu, ksatria pergi ke medan tempur mengenakan baju besi, helm perang terbuat dari besi dan bersenjatakan pedang atau tombak. 


Don Quixote berlaku layaknya seorang ksatria yang mengenakan baju besi, pedang tua warisan sang nenek moyang, dan topi panci yang akan bertualang diiringi seorang pengawal Sancho Panza, tetangganya di kampung, La Mancha. Tekadnya luhur: membela dan menegakkan kebenaran serta keadilan bagi orang-orang tertindas di mana pun. Ia ingin menjadi ksatria yang pahlawan. Hero! 


Hal tersebut jelas menjadi sebuah paradoks bagi Don Quixote yang hidup pada abad ke-17 dengan segala kesehariannya. Barangkali karena rasa jemu yang tinggal dalam lingkup kemiskinan, menjalani keseharian yang itu-itu saja dan berujung pada depresi atau stres. Ada keinginan sebuah perubahan dalam dirinya untuk menjalani hari baru, untuk memerankan seseorang yang lain dalam dirinya yang jelas-jelas sangat bertentangan dengan apa yang ada sebelumnya. Selain berpikiran dan berprilaku aneh, dampak kemiskinan bisa menghasilkan kebodohan.


Sementara itu, bukan hanya kemiskinan yang acap kali membuat beragam hal menjadi sulit diterima oleh logika kita. Pun sebaliknya, orang-orang yang berlimpahan harta sering kali ingin dilihat sebagai ksatria sebagaimana Don Quixote, dari penentangan ketidakadilan, melawan korupsi juga hal yang tak remeh temeh diaku mampu oleh seseorang yang merasa mampu. Fakta yang terjadi, orang yang menentang ketidakadilan jadi tidak adil, orang yang melawan korupsi jadi pelaku korupsi, orang yang merasa mampu melakukan sesuatu ternyata tak mampu barang berbuat suatu apa, dan seterusnya, dan sebagainya. Menilik dari senarai kisah dan fakta tersebut, penulis melakukan sebuah komparasi dengan sebuah fragmen yang pernah menjadi berbagai sorotan media beberapa tahun ke belakang.


Anniesa Hasibuan adalah istri dari Andika Surachman, pemilik PT First Anugerah Karya Wisata (First Travel). First Travel semula adalah biro perjalanan wisata, didirikan Anniesa atas uang hasil menggadaikan rumah orang tua. Ia beroleh modal untuk membayar pengacara dan mendirikan biro perjalanan wisata di bawah payung CV First Karya Utama pada 1 Juli 2009. Pada waktu itu layanannya hanya wisata domestik dan internasional untuk perorangan dan perusahaan. Hingga pada 2010 bermetamorfosis menjadi PT First Anugerah Karya Wisata, yang khusus menangani perjalanan umroh dan haji, dan termurah se-Indonesia. Bahkan jauh di bawah harga yang sudah ditetapkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.


Tarif murah menjadi senjata bagi perusahaannya untuk memboyong berbagai orang dari kalangan bawah sampai menengah mendaftarkan diri untuk menikmati jasa layanan tersebut. Alih-alih—entah apa yang ada di kepala Anniesa & suami—memberikan tarif murah, dan tidak semua pelanggan yang ingin menikmati pelayanan jasanya berangkat ke Tanah Suci menjadi hanya sebuah basa-basi yang berujung janji-janji yang tak tertepati.


Dalam pada itu, karier Anniesa melejit, hedonisme dalam kesehariannya beredar di media sosial. Bahkan, kredibilitasnya dalam dunia permodelan, diakui mancanegara. Di situs Elle, Anniesa bersama rancangannya disebut sebagai pencetak sejarah. Dalam suatu wawancara pada sebuah media, semenjak dahulu ia bermimpi berpelesir ke Bali, Lombok, hingga ke luar negeri. Lalu mimpi-mimpi itu menjadi kenyataan, bermunculanlah foto-foto mereka berdua sedang menjajaki negara-negara Eropa dengan segala pakaian yang berbandrol "mahal".


Bulan Agustus menjadi sejarah bagi kedua pasangan ini, selain menjadi bulan yang sakral bagi rakyat Indonesia. Terbongkarlah sudah, drama yang selama ini tersembunyi di balik segala kemewahan yang melimpah dari tempat tinggal hingga pakaian yang mahal. Walhasil, mereka menjadi tahanan atas kasus penipuan.


Barangkali seperti halnya kisah Don Quixote, Anniesa dan suami, ingin menjadi sesuatu yang lain, sesuatu yang ingin diperankan, dan menjadi pahlawan bagi berbagai umat di Indonesia dengan memasang tarif murah atas jasa layanan perusahaannya memberangkatkan orang-orang ke Tanah Suci, tapi malah berujung euforia kesenangan dunia yang diraih secara instan tanpa melihat atau memedulikan—barangkali lupa—kepada orang-orang yang ingin menikmati jasa pelayanannya. Ternyata segalanya hanya jauh panggang dari api. Kesuksesan yang diraih dengan cara-cara yang tak mulia akan terbongkar jua. Sebagaimana peribahasa Sunda yang sampai saat ini relevan “Hirup kudu ngaragap awak.” 



__

Penulis

Yudi Damanhuri, aktivis Tanpa Batas.




Kirim naskahmu ke

redaksingewiyak@gmail.com