Senin, 06 September 2021

Karya Guru | Di Masa Itu | Ummu Mafruhah

 Oleh Ummu Mafruhah





Setiap diri kita tentu memiliki latar belakang hidup masing-masing, memiliki keluarga, lingkungan, dan kebiasaan yang dapat membentuk pribadi kita di masa mendatang. Begitupun dengan diri saya. Terlahir di kampung Laban, Tirtayasa. Mayoritas warganya banyak yang merantau, menjadi TKW di Arab Saudi, serta bekerja serabutan. 


Saat usia saya baru beranjak dua bulan, orang tua memutuskan untuk hijrah, transmigrasi ke Maluku, tepatnya di Ternate. Kota ini adalah kota yang penuh dengan kenangan. Meskipun saya dan orang tua tinggal di sana hanya lima tahun, tapi ada kesan yang begitu dalam, udara yang begitu sejuk, tanah yang subur, air selokan yang begitu jernih dan keramahan alam lainnya. Namun di balik itu semua, ada ketakutan yang menyelimuti, terutama ketika bertemu dengan penduduk asli, seolah tak terima jika ada pendatang yang tinggal di sana. Tak jarang Kai sering dikejar anjing-anjing hutan milik mereka, hingga membuat kami ketakutan. 


Belum lagi masih teringat satu peristiwa sejarah. Kala itu, ada tragedi yang teramat mengerikan, yakni bentrok antarumat beragama, di wilayah Poso, juga di Ternate. Namun saat itu, ketika pembantaian semakin dekat terdengar, kami segera berkemas kembali pulang ke Banten. Singkat cerita, kami sekeluarga merasa sangat bersyukur dapat kembali pulang dengan selamat, meskipun di Ternate masih ada keluarga kakek yang memilih untuk bertahan dalam pengungsian. Alhamdulillah setelah cukup lama kami tinggal di Banten, sampailah surat yang memberi kabar bahwa keluarga kakek di Ternate dalam keadaan baik-baik saja meskipun keadaan di sana saat itu sangat mencekam.


Kami tinggal di kampung Laban, memulai kehidupan baru. Disambut bahagia oleh semua keluarga. Kami adalah keluarga yang sangat sederhana, tak jarang makanan sehari-hari yang sering kami temui adalah nasi campur terasi dan bawang goreng, atau jika kondisi sedang tak ada, nasi dan garam pun sudah terasa nikmat, apalagi dengan campuran minyak jelantah. Bagi kami menu makanan yang dinanti adalah saat momen Lebaran karen di hari Lebaran, setidaknya kami bisa menikmati aneka makanan yang enak. 


Untuk nonton TV,  kami dijadwal, hanya boleh seminggu sekali, itu pun hanya di malam minggu.  Di hari lainnya, kami mendapatkan pengawasan ketat untuk belajar. Paling senang kalau minggu pagi, saya suka kabur dari tugas nyuci sepatu dan seragam sekolah karena pengin nonton kartun Dragon Ball. Tapi, tetap saja tugas mencuci sudah kewajiban, tidak bisa diganggu gugat.


Uang jajan saya waktu SD sebesar Rp150, itu lumayan bisa dapat es kenyot satu, permen, dan kerupuk harga Rp50. Semakin naik kelas jajannya naik juga per Rp50 sampai Rp100. Kadang saya juga tidak dapat uang jajan sama sekali karena ibu tidak punya uang. Untuk menyiasatinya saya sering pergi ke sawah dan sungai.


Waktu itu ada dorongan yang besar untuk belajar berenang. Saya bertanya-tanya kepada teman yang sudah mahir berenang, tentang cara mereka berenang. Akhirnya mereka bilang, “Kalau mau bisa berenang, kamu harus menginjak kotoran kerbau dulu, sebanyak-banyaknya”. Tak ayal, saat itu juga kami berangkat ke bedeng, tempat di mana banyak  kerbau berlumpuran.


Saat melihat kotoran kerbau, saya dan teman-teman langsung menginjak kotoran kerbau yang masih hangat. Ah, rasanya sedap. Satu demi satu kotoran kerbau itu kami injak-injak, sampai kaki kami penuh dengan kotoran. Dirasa cukup, kami segera kembali ke sungai dan menceburkan diri ke sungai. Alhasil kami ngap-ngapan hampir tenggelam. Alhamdulillah, sungai saat itu tak terlalu dalam, jadi dengan susah payah kami bisa menepi. Namun, saat itu bagi kami, mungkin kami kurang banyak menginjak kotoran kerbaunya, atau memang masih harus latihan lagi. Tapi setidaknya setelah momen injak kotoran kerbau itu, kami lebih semangat belajar berenang sampai bisa.


Saya dan teman-teman sering ke sawah untuk mencari keong, ikan, belut dan sayuran sawah, yang hasilnya kami makan atau kami jual. Begitu juga ke sungai, saya paling senang mencari ikan keting, sepat bloso watu, udang bago, remis, kijing dll. Wah, pokoknya dua kegiatan ini tuh paling menyenangkan dan tidak bisa dilupakan, apalagi saat kita jaring ikan, yang dapat malah ular, sering kena lintah, dan kejepit yuyu.


Kalau musim panen tiba, kami ramai-ramai ke sawah, seperti sedang berlomba, siapa cepat dia dapat banyak padi. Orang tua saya selalu bilang kalau mau sesuatu harus bisa usaha sendiri, termasuk memanen padi, masih ingat waktu kelas 3 SD di bulan Ramadan, saya dan kakak saya disuruh orang tua untuk memanen padi yang jaraknya lumayan jauh. Karena kalau mau beli baju Lebaran, kami harus mau membantu orang tua. Akhirnya kami berdua pinjam sepeda ke tetangga. Sampai di sana, kami mulai memilih padi yang bagus karena kondisi gabah banyak yang rusak. Sejenak beristirahat melepas lelah, saya paling suka naik pohon ambon, sambil menikmati angin dan melihat hamparan pesawahan dari atas pohon.


Terkumpullah satu karung padi yang akan kami bawa pulang, saya yang duduk di belakang sambil memegang karung padi, dan teteh mengemudi sepeda. Di tengah perjalanan, rantai sepeda putus. Kami sedih dan takut juga karena sepeda ini dapat pinjem. Akhirnya kami berjalan kaki sambil dorong sepeda. Rasanya itu nano-nano karena sedang puasa, lelah, haus, takut, campur jadi satu. Tapi alhamdulillah sepeda bisa dibetulkan sama bapak. Kami tinggal menggilas padi dan membawanya ke pabrik gabah untuk dijual, uangnya untuk beli baju Lebaran, senang sekali bisa usaha dari keringat sendiri.


Selain ke sawah, kegiatan rutin saya lakukan saat Ramadan adalah berdagang. Saya mulai berdagang dari kelas 2 SD. Saya sering keliling dan membawa buah-buahan ke madrasah. Sambil menunggu guru datang, biasanya saya  keliling ke kelas dulu. Nah, kalau siang harinya saya berangkat sendiri ke pasar untuk belanja timun dan sebangsanya. Menjelang sore, saya mulai menggelar dagangan dan menyiapkan semuanya sendiri, sampai selepas magrib saya baru membereskan semuanya, dan bersiap untuk Tarawih di masjid. 


Selain jualan timun yang dibuat recoh, kadang saya keliling kampung untuk jualan balok es batu, uang yang terkumpul akan dibelikan baju juga, sebagai tambahan dari memanen padi. Tak ada kata malu saat berjualan, karena kondisi dan arahan orang tua yang mengharuskan anak-anaknya belajar hidup mandiri. Selain jualan di kampung, saya juga pernah jualan buah di pasar, menemani bapak atau kadang berdua dengan teteh, karena bapak nyambi kuliah juga. Kalau bulan Agustus, saat momen 17-an, setelah mengikuti upacara, saya ganti kostum baju biasa untuk membantu ibu jualan es di lapangan.


Ada satu kisah yang masih lekat dalam ingatan, dulu waktu kelas 3 SD, saya dan kedua sepupu, bermain di atas pohon panggang. Hari itu Jumat, sekitar pukul sebelas lewat, saya sengaja menakut-nakuti dan berlari duluan sambil berteriak ”Serenkuh ana wewe!” Sontak kedua sepupu saya ikut lari di belakang saya, tapi anehnya, malah saya yang ada di belakang mereka. Saya hanya lari di tempat. Kedua sepupu saya bengong saling berpandangan, sedangkan saya meminta tolong, karena merasa ada yang aneh. Saat saya tengok belakang, ternyata rok saya ada yang menarik, tapi tak ada wujudnya. Betul-betul pengalaman yang menakutkan kala itu, dan cerita ini masih sering kita ulang saat berkumpul di kampung.


Di lain cerita, saya sangat gemar memanjat pohon dan bermain bola atau permainan olah fisik lainnya, seringnya teman-teman menjadikan saya ketua dalam berbagi permainan, karena mungkin sikap tomboi dan keberanian yang mirip lelaki. Sampai pernah saat acara class meeting di SMP. Karena kelompok laki-laki kekurangan pemain, saya dipanggil untuk ikut pertandingan sepak bola antarkelas, tentu langsung saya tolak.


Julukan tomboi itu sudah tidak asing di telinga, apalagi saya memang senang dengan kegiatan olahraga, pramuka dan pencak silat. Dari dulu salah satu cita-cita saya ingin menjadi atlet pencak silat, namun rupanya tak berjodoh, hanya sampai tingkat kabupaten saja kiprah saya dalam persilatan. 


Begitulah sekelumit kisah saya di masa kecil, pengalaman yang tak akan mampu terulang kembali. Namun memberikan kesan dan dampak yang panjang dalam kehidupan. Betapa saya sangat bersyukur bisa menikmati masa kecil penuh dengan suka dukanya. 


Dalam hidup yang mungkin kami rasa pahit, justru seringnya mengajarkan kami untuk menjadi pribadi yang kuat dan tangguh. Menerima segala bentuk ketetapan Allah itu memang butuh perjuangan, tapi setidaknya ketika kami menemukan manisnya hidup di kemudian hari, kami tak menjadi lupa diri untuk banyak bersyukur atas karunia-Nya. 


Semoga kisah ini dapat membawa kebaikan untuk penulis dan pembaca Budiman. Buanglah yang keruh, ambillah yang jernihnya. 


MASA LALU ADALAH SEJARAH, HARI INI ADALAH ANUGERAH, DAN MASA DEPAN ADALAH MISTERI.


5 April 2021



Penulis

Ummu Mafruhah, guru ponpes SMP-SMA IT Darussalam Pipitan.