Selasa, 07 September 2021

Proses Kreatif | Penulis Nggak Ada Akhlak

 Oleh Encep Abdullah




Suatu hari Kediman menulis sebuah cerita berjudul Guru Keparat. Tulisannya itu dimuat di salah satu koran ternama yang honornya juga lumayan.


Tak berselang lama, kakaknya Kediman, Kadumin memosting karya adiknya itu ke media sosial.  Di sana, guru silat Kediman membaca judul cerita itu. Cuma baca judul, karena isinya tidak terlihat, postingan foto Kadumin juga buram.


Guru Kediman berkomentar di kolom media sosial Instagram Kadumin,


"Apa-apaan itu yang ditulis oleh adikmu. Maksudnya apa keparat-keparat kepada guru? Nggak punya akhlak. Bikin cerita kok kayak gitu. Coba suruh benahi lagi akhlak adikmu itu. Sama guru kok gitu."


Kadumin yang juga seorang penulis menjawab,


"Maaf, Pak Guru Silat, sebelumnya saya tidak tahu yang dimangsud keparat dalam cerita Kediman itu sebenarnya siapa. Tapi, setahu saya, Kediman menulis cerita itu sah-sah saja. Itu bagian dari proses kreatifnya menulis. Benar tidaknya sang guru yang katanya keparat itu, saya kurang tahu. Bilapun benar, saya sebagai kakaknya yang ganteng dan orang pertama yang membaca tulisannya, rasanya karya Kediman tidak sedang menyudutkan siapa pun. Justru dalam cerita Kediman ini, sosok Guru Keparat adalah guru baik yang memberi banyak pelajaran kepada muridnya, cuma memang bertingkah nyeleneh seperti sosok Gusdur. Keparat di sini bukan sifat guru, tapi nama tokoh si guru: Guru Keparat, walaupun mungkin di perguruan silat Bapak tidak ada guru yang namanya Keparat, ini hanya imajinasi Kediman, hanya fiksi."


"Tetap saja tidak beradab. Tolong ajari adikmu adab yang baik sebelum menulis. Meskipun itu dimuat di media dan berhonor besar, saya sebagai gurunya tidak bangga."


"Maaf, Pak. Apakah Bapak sudah baca ceritanya?"


"Belum."


***

Memang ngeri kalau sudah berbicara adab beradab, akhlak tak berakhlak. Apalagi hanya melihat dari luar pintu, tanpa mau tahu apa isi di dalam rumah.


Kalau adab tak beradab hanya dituding sepihak bukan karena keseluruhan cerita, rasanya "keparat" juga orang-orang menilai itu. Bolehlah kiranya mereka berkomentar banyak, namun dengan syarat sudah membacanya. Itu pun dengan syarat harus membaca dengan benar. Ya, salah satu agar tidak salah tangkap dan salah paham, memang harus membaca dengan benar. Apalagi orang-orang yang berkomentar itu bukan berlatar belakang sastra, tak suka sastra, tak menekuni sastra, tak pernah ngewiyak sedikit pun lembaran sastra, apalagi dengan serius.


Kalau dari hatinya saja sudah condong tidak menyukai sastra atau fiksi, tentu saja berat rasanya Kakak Kediman itu memberikan pencerahan kepada guru silat itu. Karena, isi kepala dan konsep tentang moralitasnya berbeda. Si guru itu menggunakan kacamata realitas, si Kediman menggunakan kacamata imajinasi. Yang si guru lihat adalah kenyataan. Sedangkan, Kediman tidak. Bilapun iya, fiksi yang ditulisnya adalah berangkat dari realitas hidupnya, tapi itu tidak sepenuhnya benar. Kalau penilaian sastra hanya dilihat sebelah mata, misal hanya dari pilihan diksinya, bukan dilihat dari konteksnya, maka akan terjadi kacau-balau. 


Saya pernah membaca sebuah cerita berjudul Senyum Vagina. Karya ini ditulis oleh Mahdiduri dan masuk dalam buku pilihan Dewan Kesenian Jakarta (buku kumcer), saya lupa itu tahun berapa. Judul cerpennya itu memang "keparat". Apa-apaan itu vagina, kok bisa senyum? Otak liar pembaca berkelebatan membaca judulnya saja. Tentu, saya penasaran. Tak nyana, ternyata isinya tak seperti judulnya. Sudah lama juga saya baca cerita itu, saya lupa ceritanya tentang apa. Tapi, sedikit saya ingat, Vagina adalah nama tokoh seorang anak yang memiliki kelainan mental. Seorang psikiater selalu berusaha agar Vagina bisa sembuh, tidak selalu murung dalam hidupnya. Pada akhirnya psikiater ini berhasil membuat Vagina tersenyum.


Ya elah ... Bung Mahdiduri ketawa-ketiwi saat saya bilang cerpennya itu "kurang ajar". Apakah Mahdiduri dinilai seorang tak beradab dan tak berakhlak saat menulis Senyum Vagina? Tentu saja iya. Eh, tidak. 


Meskipun saya tahu sosok asli Mahdiduri itu memang "keparat", tapi saya tidak menilai cerpennya itu tak beradab-tak berakhlak. Malah ceritanya memberikan sumbangsih akhlak kepada saya bahwa jangan sampai pembaca terkecoh dan berpikir mesum hanya karena membaca diksi yang nakal dalam cerita. Cerita sifatnya bukan nempel pada satu kata. Tapi, lihat dan bacalah secara komprehensif, kontekstual, dan kom-kon yang lain biar jelas, biar terang, biar tidak ada dusta.

 

Kalau saya bandingkan cerita Bung Mahdiduri ini dengan cerita Jangan Main-Main dengan Kelaminmu dan Menyusu Ayah karya Djenar Mahesa Ayu, yang katanya menganut sastra wangi itu, Mahdiduri menurut saya malah lebih wangi, lebih santuy, tanpa harus mengumbar payudara dan kelamin yang benar-benar payudara dan kelamin--saya tidak menyebut bahwa karya Djenar tak ada akhlak ya.


Oh, iya. Kemarin saya juga baca cerita rekan saya Ma'rifat. Dalam cerpennya berjudul Garis-Garis Kuping yang dimuat di laman ngelawak.com,  adegan ceritanya malah sangat norak. Coba perhatikan paragraf berikut.


Halimah mulai lunglai dan tak berdaya saat seluruh tubuhnya dijilati oleh Suduki. Secuil daging Halimah yang masih menyisakan darah dimasuk-sesakkan ular Suduki yang jalang. Ular itu semakin dalam merangsek pada tubuh Halimah. Jeritan-jeritan kesakitan Halimah terdengar serupa desahan-desahan kepuasaan di telinga Suduki yang membuatnya semakin bersemangat menggerogoti tubuh Halimah.


Ular Suduki pun memuncratkan bisa di dalam tubuh Halimah. Mereka terkulai lemas lalu tertidur di atas lantai bambu rumah panggung dengan posisi tubuh Suduki merengkuh utuh tubuh Halimah.


Saya tahu Ma'rifat sudah ngebet kawin. Makanya ia bikin adegan macam itu. Tapi sayang, sekali lagi sayang, narasi yang ia suguhkan itu norak. Tidak punya seni. Adegan-adegan vulgar di sini bukan dari serangkaian isi cerita atau penguat cerita, tapi cuma nafsu si penulisnya. Walaupun begitu, saya tak semena-mena mengatakan Ma'rifat tak beradab pula. Saya cuma bilang norak, no-rak!


Suatu kali Ma'rifat curhat kepada saya, cerpen ini susah sekali dimuat di media, katanya. Saya jawab saja bahwa cerita macam ini tidak disukai redaktur sastra. Saya sendiri pernah soalnya, bahkan dikomentari oleh Redaktur Kompas langsung di depan muka saya. Tapi mungkin beda tema, intinya Ma'rifat dan saya menulis kalimat atau paragraf yang norak, padahal mungkin kami anggap keren. 


Dalam gaya bahasa, Ma'rifat okelah, saya akui bagus. Tapi, adegan macam itu malah merusak isi cerita. Sesuatu yang sebenarnya tidak penting untuk ditunjukkan. Saya yakin Anda sebagai pembaca juga mengamini itu. Jujur sajalah. Kalau tidak setuju, silakan buat sanggahan pernyataan saya, nanti dimuat di laman ngewiyak.com tanpa penolakan sedikitpun. 


Saya pun memberi saran kepada Ma' rifat agar harus jeli dalam menulis adegan dewasa. Jangan ditulis kalau cuma unek-unek nafsu pribadi, bukan unek-unek si tokoh dalam cerita itu. Ma'rifat mengangguk-ngangguk mendengar petuah saya. Entah, pada akhirnya apakah ia bisa selamat atau tidak dengan serangan nafsunya itu. Semoga si guru Kediman itu tidak membaca cerita si Ma'rifat ini. Kalau ia baca, pasti bakal berkoar-koar,


"Tak beradab kamu Ma'rifat.  Tak bermoral! Tak ada akhlak! Siapa gurumu?"


"Encep Abdullah," jawab Ma'rifat.


Kalau Ma'rifat ditanya begitu dan dijawab begitu saya kutuk ia jadi tahi, haha ... eh jangan ding, saya kutuk ia jadi penulis top dunia dan mendapatkan Nobel Sastra tahun 2060. Haha ... amin.


Kalau ingat dulu, saya juga pernah dianggap sableng karena menulis cerita berjudul Sup Jempol Kaki Ustaz yang dimuat di Lampung Post pada 2013. 


"Kok, bisa ya kamu kepikiran menulis cerita itu?" 


"Kamu orang aneh!"


"Kamu gendeng!" 


"Kamu gila!"


"Kamu nggak waras!"


Blablabla.


Mereka hanya menilai kegilaan dari judul dan cerita tanpa tahu proses lahirnya cerita itu. Waktu itu dalam kepala saya berkelebatan sosok kiai, bahkan ada bapak saya sendiri yang seorang ustaz. Tapi, bagaimana cara saya mengungkapkan imajinasi saya saat saya tahu bahwa ada kisah seorang santri rela minum air kobokan bekas makan kiai, rela makan apa pun hasil dan bekas tangan kiai, yang katanya itu berkah. Nah, narasi-narasi ini lama-lama makin mengusik. Saya berimajinasi tingkat tinggi bagaimana kalau ada orang yang saking ingin mendapatkan keberkahan kiai, sekalian makan jempol kakinya. Dan blablabla. Maka jadilah cerita itu.


Kalau dilihat dari judul apa yang saya tulis di Lampung Post itu, guru Kediman itu pasti akan bilang bahwa judulnya kurang ajar, tak beradab, tak ada akhlak, masa jempol kiai disup, dusun, ngelunjak. Tapi, apakah saya harus ngotot menjelaskan kepadanya tentang proses kreatif cerita ini bahwa karya ini terlahir karena blablablabla. Tentu saja tidak, bukan, untuk apa?


Sehebat apa pun penjelasan saya, selama orang-orang itu tak mengerti bagaimana sebuah karya tercipta, bagaimana sastra bekerja, kata-kata saya hanya akan menjadi buih di lautan. 


Kalau kau sebagai penulis memang takut dibilang tak beradab, tak ada akhlak, dan blablabla, berkaryalah dengan biasa-biasa saja. Berkaryalah sesuai alur normatif.  Ingat, ada yang lebih penting, patuhi protokol "per-adab-an" dan "per-akhlak-an" dalam menulis sastra, ya!


Tabik.


Kiara, 6 September 2021



Penulis

Encep Abdullah, penulis yang maksa bikin kolom ini khusus untuknya ngecaprak. Sebagai Dewan Redaksi, ia butuh tempat curhat yang layak, tak cukup hanya bercerita kepada rumput yang bergoyang atau kepada jaring laba-laba di kamar mandinya. Tak menutup kemungkinan, ia juga menerima curhatan penulis yang batinnya tersiksa untuk dimuat di kolom ini.





Kirim karyamu ke

redaksingewiyak@gmail.com