Senin, 13 September 2021

Karya Siswa | Toleransi dalam Beragama | Cerpen Syaodah Afinan

 Cerpen Syaodah Afinan



***

Pagi hari yang cerah di SD Bina Bangsa, terdengar suara anak-anak yang berlarian, bermain, dan ada pula yang bersiap-siap untuk melaksanakan upacara. Di saat sedang upacara, terlihatlah seorang anak yang manis. Ia termenung sendiri sambil melamun. Ada orang menyapa pun ia hanya melirik. Setelah itu melamun kembali. Anak tersebut bernama Lani. 


Lani dikenal sebagai orang yang sangat pendiam, tidak akrab, dan tidak toleransi. Namun di sisi lain, ia anak yang sangat cerdas. Semua nilai rapor yang ia dapatkan berwarna hijau. Oleh sebab itu, ia selalu mendapat penghargaan dari sekolah. Sekarang, Lani naik ke kelas 1 SMP. Akan tetapi, sifat Lani tidak pernah berubah. Dari dulu hingga sekarang, begitu saja sifatnya, membuat orang yang ingin berteman dengannya tambah kesal kepadanya. 


"Kring...!" Bel berbunyi. Semua anak langsung berlarian dan  berbaris di lapangan termasuk Lani. Di saat sedang berbaris, tiba-tiba Lani terjatuh karena ada anak yang tak sengaja menyenggolnya.


"Eh, maaf, Lani, aku nggak sengaja. Mari biar aku bantu," kata anak tersebut sambil menjulurkan tangannya.


"Ih..., nggak usah! Aku bisa sendiri kok!" bentak Lani.


Melihat hal tersebut, akhirnya teman dari anak tersebut berkata,


"Heh, Lani, orang mau bantu juga. Kamu tuh ya seharusnya bersyukur ada orang yang masih mau menolong kamu!"  


Lani tidak menghiraukan perkataan temannya. Ia pun kembali berdiri seperti tidak ada masalah apa-apa. Akhirnya, upacara pun dimulai hingga selesai.

 

Setelah usai pelaksanaan upacara, anak-anak dengan rapi memasuki kelasnya masing-masing. Begitu pula dengan bapak dan ibu guru. Guru kelas VII itu bernama Bu Lia. Beliau dikenal sebagai guru yang ceria.


"Assalamualaikum, anak-anak!" salam Bu Lia.


"Waalaikumussalam, Bu," jawab anak-anak serempak.


Setelah menjawab salam, anak-anak langsung melihat ke arah pintu. Di sana ada seorang anak yang sedang berdiri malu-malu di depan pintu, Bu Lia pun memanggil anak tersebut. Anak baru itu berjalan dengan pelan sambil malu-malu.


"Nah, anak-anak, sekarang kalian kedatangan teman baru. Silakan perkenalkan namanya ya," kata Bu Guru Lia senyum melihat anak itu.


"Hai, teman-teman! Perkenalkan namaku Renita Isabella Kristiani, biasa dipanggil Renita. Aku tinggal di perumahan Permata Hijau Blok A Tiga Lima Belas. Umurku tiga belas tahun. Oh, iya, agamaku Kristen. Salam kenal teman-teman," kata anak tersebut memperkenalkan dirinya.

 

Semua anak langsung kaget ketika anak tersebut berkata bahwa ia menganut agama Kristen. Melihat hal itu, akhirnya Bu Lia pun menjelaskan,


"Kenapa kalian bengong? Kaget kah? Nggak apa-apa. Mulai sekarang kalian mempunyai teman yang berbeda agama sama kalian. Akan tetapi, bukan berarti kalian tidak menghormatinya. Kalian harus tetap menghormatinya dan saling bersikap toleransi ya," kata Bu Guru Lia yang membuat anak-anak menganggukkan kepala mereka.


"Baiklah, sekarang kamu boleh duduk di ...," mata Bu Lia langsung mencari kursi yang kosong. Kemudian mata Bu Lia berhenti pada deretan bangku di belakang. Di sebelah kursi Lani terdapat kursi yang kosong. Bu Lia pun langsung tersenyum,"Itu dia kursinya. Renita sekarang boleh duduk di samping Lani ya," kata Bu Lia sambil menunjukkan kursi yang kosong.


"Baik, Bu," jawab Renita.

 

Anak-anak yang lain bingung, "Bisakah Lani bergaul dengannya?"  Itulah yang dipikirkan anak-anak. Mereka tahu bahwa Lani sangat sulit untuk bergaul. Dengan malu-malu, akhirnya Renita pun duduk di sebelah Lani. Keheningan pun terjadi di antara mereka. Namun, dengan percaya diri, akhirnya Renita pun angkat bicara sambil menjulurkan tangannya.


"Hai, nama kamu siapa?" tanyanya membuat Lani melirik padanya. Sebenarnya Lani tidak ingin bicara, namun akhirnya ia pun berbicara.


"Namaku Lani Rohadatul ‘Aisyi," jawab Lani dengan nada yang kurang bersemangat. Melihat hal tersebut, Renita pun hanya menganggukkan kepalanya, pertanda bahwa ia sudah tahu nama teman sebangkunya.


Pelajaran pun tak terasa sudah selesai. Bel istirahat berbunyi kembali. Anak-anak berlarian ke kantin. Di saat anak anak keluar kelas, tiba-tiba ada anak yang mendekati Renita.


"Hai, Renita, perkenalkan namaku Siva. Salam kenal ya. Oh, iya, kamu mau ke kantin nggak?" tanya Siva yang ingin mengajak Renita ke kantin.


"Oh, iya, salam kenal juga. Kamu duluan aja, aku belum laper," jawab Renita. 


Mendengar jawaban Renita, Siva pun pergi ke luar kelas. Setelah semuanya keluar, akhirnya Renita pun bertanya kembali kepada teman sebangkunya karena melihat Lani hanya bengong.


"Lani, kamu nggak jajan?" tanya Renita.


"Nggak!" jawabnya dengan sangat singkat.


"Hm ... kamu kenapa sih kayaknya nggak akrab banget sama teman-teman?" tanyanya lagi.


Mendengar ocehan tersebut, akhirnya Lani pun menjawab dengan kesal.


"Ih ... kenapa sih kamu nanya melulu. Aku nggak mau sama teman-teman. Mereka semua jahat!" ujar Lani dengan sedikit meneteskan air matanya. Akhirnya ia pun keluar kelas. Melihat hal ini Renita langsung kaget. Dalam hatinya ia berkata, "Apa yang terjadi dengan Lani?"


Di dalam kamar mandi, Lani meneteskan air mata tak bisa menahan sedih. Ia pun keluar dari toilet dan tak terasa bel berbunyi kembali.

 

Anak-anak langsung berlarian ke dalam kelas. Dari dalam kelas, Renita hanya menunggu kedatangan Lani. Tampak dari luar kelas, Lani sedang menuju ke dalam kelas. Renita kaget melihat mata Lani yang berkaca-kaca seperti habis menangis. Ia merasa sangat bingung, tak sadar bahwa Lani telah di sampingnya. Ia pun angkat bicara.


"Lani kamu kenapa sih?" tanya Renita dengan pelan. 


Lani hanya melirik dan menjawab, "Sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahas masalah ini!" jawab Lani dengan tegas.


"Oh, oke, baiklah," jawab Renita pelan. Bu Guru pun datang dan langsung mengajarkan materi kali ini. Bel pulang pun berbunyi kembali.


"Lan, aku pulang bareng kamu ya!" ajak Renita sambil memasukkan bukunya ke dalam tas. Namun, Lani hanya melirik saja setelah itu ia langsung memasukkan bukunya kembali. Mereka pun keluar kelas bersama.


"Beneran kamu mau pulang bareng aku?" tanya Lani sebelum keluar gerbang.


"Mau banget dong!" seru Renita dengan semangat.


Dalam hati Lani, ia berkata, "Mengapa dia senang berteman denganku. Aku ini kan anak yang tak pantas ditemenin. Apakah ini pertanda bahwa aku ingin memiliki teman? Apakah Allah memberikan kesempatan kedua kepadaku agar aku bisa menghapus cerita yang lalu?"


Lima menit sudah mereka berjalan bersama dalam keheningan. Sebelum belok ke kompleks perumahannya, Renita melambaikan tangannya kepada Irina yang menyapanya dengan tersenyum. Sedangkan Lani hanya tersenyum tipis. 


Renita pun menghilang memasuki rumahnya, sedangkan Lani masih terus berjalan dengan membawa rasa bersalah karena telah membentak orang yang tidak bersalah padanya. Tanpa berpikir panjang, ia pun langsung pulang menuju rumahnya. Sesampainya di rumah, ia pun memberikan salam kepada ibunya dan langsung masuk kamar.


Tak biasanya, hari itu Lani terlihat begitu senang. Ia merasa memiliki teman yang peduli padanya. Beda dengan teman-teman sebelumnya. Di saat sedang melamun memikirkan temannya, tiba-tiba ada suara ketukan pintu kamarnya. Ia pun bergegas untuk membukanya.


"Ibu? Ada apa Ibu mengetuk pintu kamarku?" tanya lani kebingungan.


"Itu ada teman kamu, tapi Ibu tidak mengenalinya," jawab Ibu. 


Lani bingung. Akhirnya tanpa berpikir panjang, ia pun langsung bergegas menuju ke pintu depan. Tampaklah seorang anak yang sedang menunggu.


"Renita?" Lani kaget bukan kepalang karena Renita ke rumahnya.


"Hai, Lani! Boleh nggak aku main ke rumah kamu. Di sana sepi," kata Renita dengan nada sedih. Sebenarnya Lani tidak ingin memiliki teman. Kasihan juga bila Renita tidak memiliki teman. Dengan terpaksa, Lani pun mengizinkan Renita. Mata Renita berbinar-binar tanda senang. Mereka pun masuk rumah dan menuju kamar.

 

"Kenapa kamu main ke rumahku? Kenapa kamu tidak main ke rumah yang lain?" tanya Lani setelah memasuki kamar.


"Nggak apa-apa. Aku cuma mau main aja. Kenapa emang? Apa kamu nggak suka?" ujar Renita dengan sedikit nada sedih mendengar pertanyaan Lani. Ia pun meneteskan air matanya.


"Nggak kok. Aku cuma nanya," sahut Lani. 


Lama-lama air mata Lani semakin menderas.


"Lani, kamu kenapa nangis? Coba aku mau kamu cerita sama aku. Sebenarnya kamu kenapa?" tanya Renita sambil menggenggam tangan Lani. Dengan suara yang pelan, akhirnya Lani pun menceritakan kejadian yang selau membuat ia sedih dan tidak ingin bergaul dengan teman-temannya.

 

"Sebenarnya dulu aku adalah seorang anak yang sombong karena aku bisa tahu ini itu dibanding dengan teman-temanku. Orang-orang selalu memujiku dan berteman denganku. Dari situlah aku merasa bahwa aku orang yang paling hebat dibanding yang lain. Namun, lama-lama sifatku ini semakin menjadi-jadi. Akhirnya teman-teman di kelas pun menjauhiku. Aku pun selalu dihina dengan sebutan si Sombong. Aku sangat sedih. Akhirnya, dari situlah aku tak memiliki teman dan aku selalu menyendiri tanpa bergaul dengan siapa pun. Di situlah aku merasa bahwa aku adalah seorang anak yang tak pantas memiliki teman."


Penjelasan Lani membuat Renita sedih. Akhirnya Renita pun memeluk Lani dan berkata,"Sudah, yang lalu tak usah diingat. Sekarang ada aku kok. Aku janji nggak bakal menghianatimu. Aku mau kok berteman dengan kamu apa pun alasannya," jawab Renita yang membuat Lani menangis tambah deras. Senang bukan kepalang yang dirasakan Lani.


Akhirnya Lani memiliki teman. Di saat sedang menangis, tiba-tiba suara azan pun berkumandang.


"Allahu Akbar Allahu Akbar ...."


Lani pun tersadar dari tangisannya. Ia pun langsung berkata kepada Renita,


"Re, aku mau salat dulu ya," ucap Lani sebelum keluar kamar untuk mengambil air wudu.


"Oh, iya, silakan. Aku tunggu di sini ya," sahut Renita.

 

Saat Lani melaksanakan salat, Renita hanya melihat gerak-gerik yang ia tak pahami. Selesai salat, Lani pun berdoa, "Ya Allah. Hamba sangat bersyukur kepadamu karena Engkau memberi kesempatan kepada hamba untuk memiliki teman. Hamba akan selalu bersyukur ya Allah. Ya Allah lindungilah hamba dari godaan setan. Amin ...."


Lagi-lagi Renita bingung sedang apa Lani. Namun, ia kemudian paham bahwa setiap orang mempunyai Tuhan kepercayaan sendiri dan memiliki perbedaan cara memuji Tuhan mereka masing-masing. Renita juga bangga telah mambuat Lani bahagia. Ia berjanji tak akan mengkhianati Lani.

 

Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Mata Lani dan Renita langsung mengarah pada pintu.


"Assalamualaikum. Lani, ayo makan! Sekalian ajak temannya, ya!" ajak Ibu Lani.


”Waalaikumusalam, Bu. Oke. Ayo, Re, kita makan!"


"Terima kasih banyak, Tante, Lani," ucap Renita.


"Sama-sama Nak," jawab Ibu Lani dengan senyumannya yang manis. Akhirnya mereka pun keluar kamar dan segera menuju ruang makan. Di sana telah tersedia sayur asem dan tempe goreng yang masih hangat.


"Wah, Tante, ini kan makanan kesukaanku. Hm, kayaknya enak nih, yummy...!" puji Renita dengan semangat.


"Allhamdulillah. Ayo dimakan, Nak," sahut Ibu Lani dengan senyumannya yang khas. Renita pun menganggukkan kepalanya. Lani hanya tersenyum bahagia melihat makanan ibunya dipuji. Akhirnya mereka pun makan bersama. Setelah makan, Ibu Lani pun mengambil piring kotor. Melihat hal tersebut, Renita pun bangkit dari tempat duduk dan berkata,


"Tante, aku aja yang nyuci piring. Kan tadi Tante yang masak. Ayolah, Tante, aku mohon, biar aku aja ya?" pinta Renita.


"Alhamdulillah. Terima kasih banyak, Nak. Nanti boleh dibantu sama Lani juga ya!" jawab Ibu Lani yang membuat Renita senang.


"Oke Tante," sahut Renita dengan semangat.

 

Akhirnya, Ibu Lani pun beristirahat di kamarnya. Lani dan Renita mencuci piring.


"Terima kasih banyak ya, Renita. Akhirnya aku mengerti bahwa ternyata di luar sana banyak orang yang baik seperti kamu. Aku sangat bersyukur kepada Allah. Allah telah memberikan kesempatan kepadaku agar aku memiliki teman. Meskipun kamu berbeda agama, namun apa salahnya aku berteman denganmu. Kata ibuku kita harus saling menghormati meskipun berbeda agama. Aku senang sekali," ucap Lani yang membuat Renita tersenyum.


"Aku juga ingin banget berteman sama kamu dan aku juga senang kalau kamu selau bahagia. Bener apa kata ibu kamu kalau kita harus saling menghormati walau berbeda agama," sahut Renita yang hampir menyelesaikan cuciannya. Mereka pun tertawa bersama di sela-sela mencuci piring.

 

Setelah Renita pulang dan berjanji akan main ke rumahnya lagi, ia pun merasa senang. Saking senangnya, ia langsung loncat ke kasur dan dalam hati nya berkata,"Alhamdulillah ya Allah. Hamba sangat senang sekali memiliki teman yang begitu perhatian pada hamba. Dia lah orang yang tepat di sisi hamba. Terima kasih karena Engkau telah memberikan yang tepat ya Allah.”

 


___

Biodata Penulis















Syaodah Afinan, lahir di Cirebon, 21 Mei 2007. Siswa kelas 1 SMP di Al Madinah Islamic Centre KKMB, Serpong. Ayahnya bernama Rudi Suruso Suherman dan Ibunya bernama Uti. Teman-teman mengenalnya sebagai anak pendiam dan sulit bergaul. Prestasi yang pernah didapatkan yaitu peringkat ke-2 pada kelas 4 SD,  juara 1 lomba mewarnai setingkat sekolah Jepang Jakarta, juara 1-2 dalam lomba mewarnai di tempat mengaji. Cita-citanya ingin menjadi seorang hafidzah. Syaodah merupakan peserta pelatihan menulis dalam acara #Komentar Masuk Sekolah.



Kirim karyamu ke

redaksingewiyak@gmail.com